Anda di halaman 1dari 7

1.

Masa nifas (puerperium) adalahmasasetelahkeluarnya placenta sampaialat-


alatreproduksipulihsepertisebelumhamildansecara normal masa nifas berlangsungselama 6
mingguatau 40 hari (Ambarwati, 2010)

2.Periode post natal adalahwaktupenyerahandariselaputdanplasenta


(menandaiakhirdariperiodeintrapartum)
menjadikembalikesaluranreproduktifwanitapadamasasebelumhamil.
Periodeinijugadisebutpuerperium
(Varney, 1997, hal. : 549).

3. Masa nifas adalahmasasesudah persalinan dankelahiranbayi, plasenta, sertaselaput yang


diperlukanuntukmemulihkankembali organ
kandungansepertisebelumhamildenganwaktukuranglebih 6 minggu (Saleha, 2009).

4. Masa nifas ataupuerperiumadalahmasasetelahpartusselesaisampaipulihnyakembalialat-


alatkandungansepertisebelumhamil. Lamanyamasa nifas iniyaitukira-kira 6-8 minggu (Abidin, 2011).

5. Masa nifas adalahmasasesudah persalinan, masaperubahan, pemulihan,


penyembuhandanpengembalianalat-alatkandungan. Proses masa nifas berkisarantara 6 mingguatau
40 hari (Jenny Sr, 2006, hal. : 7).

6. Masa nifas ataupuerperiumdimulaisejak 1 jam setelahlahirnya placenta sampaidengan 6


minggu (42 hari) setelahitu (Saifuddin, 2009).

7. Masa nifas adalahmasadimulaibeberapa jam sesudahlahirnyaplasenta sampai 6minggu


setelah Melahirkan (Pusdiknakes, 2003:003).2.

8. Masa nifas dimulaisetelahKelahiranplasenta danberakhirketikaalat-


alatKandungankembalisepertikeadaansebelumHamil yang berlangsungkira-kira 6 minggu.
(AbdulBari,2000:122).3.

9. Masa nifas merupakanmasaselama PersalinandansegerasetelahKelahiranyangmeliputiminggu-


mingguberikutnyapadawaktu Saluranreproduksi kembalikekeadaantidak Hamil yang Normal(F.Garyc
unningham,Mac Donald,1995:281).4.

10. Masa nifas adalahmasasetelahseorangibuMelahirkanbayi yang


dipergunakanuntuk memulihkankesehatannyakembali yang umumnyamemerlukanwaktu 6- 12
minggu. (Ibrahim C, 1998)

TUJUAN ASUHAN MASA NIFAS

Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan 60%
kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama.

Masa neonatus merupakan masa kritis bagi kehidupan bayi, 2/3 kematian bayi terjadi dalam 4 minggu setelah persalinan dan 60%
kematian BBL terjadi dalam waktu 7 hari setelah lahir. Dengan pemantauan melekat dan asuhan pada ibu dan bayi pada
masa nifas dapat mencegah beberapa kematian ini.
Tujuan asuhan masa nifas normal dibagi 2 yaitu :

Tujuan umum

Membantu ibu dan pasangannya selama masa transisi awal mengasuh anak.

Tujuan khusus

Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun psikologisnya.

Melaksanakan skrining yang komprehensif, Mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu dan
bayinya.

Memberikan pendidikan kesehatan, tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi dan perawatan
bayi sehat.

Memberikan pelayanan keluarga berencana.

(Syaifuddin, 2002, hal. : 122).

Tujuan Perawatan Masa Nifas


Dalam masa nifas ini penderita memerlukan perawatan dan pengawasan yang dilakukan selama ibu tinggal di
rumah sakit maupun setelah nanti keluar dari rumah sakit.
Adapun tujuan dari perawatan masa nifas adalah:
a) Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun psikologi.
b) Melaksanakan skrining yang komprehrnsif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi
komplikasi pada ibu maupun bayi.
c) Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana,
menyusui, pemberian imunisasi pada bayi dan perawatan bayi sehat.
d) Untuk mendapatkan kesehatan emosi.

Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas


a) Mendukung dan memantau kesehatan fisik ibu dan bayi
b) Mendukung dan memantau kesehatan psikologis, emosi, sosial serta memberikan semangat pada ibu
c) Membantu ibu dalam menyusui bayinya
d) Membangun kepercayaan diri ibu dalam peranya sebagai ibu
e) Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga
f) Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan
g) Memberikan konseling pada ibu dan keluarganya mengenai tanda bahaya masa nifas, makan dengan gizi
seimbang dan selalu menjaga kebersihan
h) Memberikan asuhan secara profesional. (https://purnhiawati.wordpress.com/2015/08/12/pengertian-
tujuan-asuhan-masa-nifas/)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/53121/Chapter%20II.pdf?sequence=4&isAllowed=y

A. Masa Nifas

1. Pengertian Nifas

Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan
kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu atau 42
hari, namun secara keseluruhan akan pulih dalam waktu 3 bulan (Anggraini, Y, 2010). Masa Nifas
atau Puerperium adalah masa setelah persalinan selesai sampai 6 minggu atau 42 hari. Asuhan
selama periode nifas perlu mendapat perhatian karena sekitar 60% angka kematian ibu terjadi pada
periode ini (Martalina D., 2012)

2. Tujuan Asuhan Masa

Nifas Menurut Anggraini, Y (2010) tujuan masa nifas antara lain sebagai berikut:

a. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis

b. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila
terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.

c. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan dini, nutrisi, KB, menyusui,
pemberian imunisasi pada bayi dan perawatan bayi sehat.

d. Memberikan pelayanan KB

e. Mendapatkan kesehatan emosi

3. Tahapan Masa Nifas

Menurut Saleha (2009) tahapan yang terjadi pada masa nifas adalah sebagai berikut:

a. Periode Immediate Postpartum


Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam. Pada masa ini sering terdapat
banyak masalah, misalnya pendarahan karena atonia uteri. Oleh karena itu, bidan dengan
teratur harus melakukan pemeriksaan kontraksi uterus, pengeluaran lokia, tekanan darah,
dan suhu. b. Periode Early Postpartum (24 jam – 1 minggu) Pada fase ini bidan memastikan
involusio uteri dalam keadaan normal, tidak ada perdarahan, lokia tidak berbau busuk, tidak
demam, ibu cukup mendapatkan makanan dan cairan, serta ibu dapat menyusui dengan
baik. c. Periode Late Postpartum (1 minggu – 5 minggu) Pada periode ini bidan tetap
melakukan perawatan dan pemeriksaan seharihari serta konseling KB. 4. Peran dan
Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas Menurut Anggraini, Y (2010) peran dan tanggung
jawab bidan dalam masa nifas adalah dengan cara sebagai berikut: a. Mendukung dan
memantau kesehatan fisik ibu dan bayi b. Mendukung dan memantau kesehatan psikologis,
emosi, sosial serta memberikan semangat pada ibu c. Membantu ibu dalam menyusui
bayinya d. Membangun kepercayaan diri ibu dalam perannya sebagai ibu e. Mendukung
pendidikan kesehatan termasuk pendidikan dalam perannya sebagai orang tua Universitas
Sumatera Utara 6 f. Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga g.
Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa nyaman h. Membuat
kebijakan, perencana program kesehatan yang berkaitan dengan ibu dan anak serta mampu
melakukan kegiatan administrasi i. Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan j.
Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan,
mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta mempraktekkan kebersihan
yang aman k. Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan
diagnosa dan rencana tindakan serta melaksanaknnya untuk mempercepat proses
pemulihan, mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama periode
nifas l. Memberikan asuhan secara professional. 5. Kebijakan Program Pemerintah dalam
Asuhan Masa Nifas Kunjungan masa nifas dilakukan paling sedikit empat kali yang bertujuan
untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani
masalah-masalah yang terjadi. Kunjungan dalam masa nifas antara lain : Kunjungan pertama
dilakukan pada 6-8 jam setelah persalinnan yang bertujuan untuk mencegah perdarahan,
mendeteksi dan merawat penyebap lain perdarahan rujuk bila perdarahan berlanjut,
memberi konseling pada ibu atau salah satu keluarga bagaimana mencegah perdarahan
masa nifas karena atonia uteri, pemberian ASI 1 jam setelah Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
berhasil dilakukan, melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir, menjaga bayi tetap
hangat dengan cara mencegah hipotermia. Universitas Sumatera Utara 7 Kunjungan kedua
dilakukan 6 hari setelah persalinan yang bertujuan untuk memastikan involusio uteri
berjalan normal, uterus berkontraksi fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan
abnormal, tidak ada bau, menilai adanya tanda-tanda demam infeksi atau perdarahan
abnormal, memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda
penyulit pada payudara ibu, memberi konseling pada ibu mengenai asuhan pada tali pusat
bayi, menjaga bayi tetap hangat, dan merawat bayi setiap hari. Kunjungan ketiga dilakukan 2
minggu setelah persalinan yang memiliki tujuan yang sama dengan kunjungan ke dua.
Kunjungan ke empat dilakukan 6 minggu setelah persalinan yang bertujuan untuk
menanyakan pada ibu tentang penyakit yang ia atau bayi alami, memberikan konseling
untuk menggunakan KB secara dini (Anggraini, Y. 2010). 6. Perubahan Fisiologis Menurut
Anggraini, Y (2010) secara Fisiologis, seorang wanita yang telah melahirkan akan perlahan-
lahan kembali seperti semula. Alat reproduksi sendiri akan pulih setelah enam minggu. Pada
kondisi ini, ibu dapat hamil kembali. Yang perlu diketahui ibu hamil, keluarnya menstruasi
bukanlah pertanda kembalinya kesuburan, karena sebelum mens datang, pada saat habis
masa nifas, orang bisa saja hamil. Adapun perubahan-perubahan dalam masa nifas adalah
sebagai berikut : 1). Perubahan Alat Reproduksi a. Involusio Uterus Involusio atau
pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum
hamil dengan berat sekitar 60 gram. Universitas Sumatera Utara 8 Proses ini dimulai segera
setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot-otot polos uterus. b. Serviks Segera setelah post
partum bentuk serviks agak menganga seperti corong. Bentuk ini disebabkan oleh korpus
uteri yang dapat mengadakan kontraksi, sedangkan serviks uteri tidak berkontraksi, sehingga
seolaholah pada perbatasan antara korpus dan servik uteri terbentuk semacam cincin.
Serviks mengalami involusio bersama-sama uterus. Setelah persalinan, ostium eksterna
dapat dimasuki 2 hingga 3 jari tangan, setelah 6 minggu persalinan serviks menutup. c. Vulva
dan Vagina Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar
selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut,
kedua organ ini tetap kendur. Setelah 3 minggu akan kembali kepada keadaan tidak hamil,
rugae berangsurangsur muncul dan labia menjadi lebih menonjol. d. Perineum Segera
setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh tekanan
kepala bayi yang bergerak maju. Pada post natal hari ke 5, perineum sudah mendapatkan
kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap lebih kendur dari pada keadaan sebelum
melahirkan. e. Rahim Setelah melahirkan rahim akan mengecil seperti sebelum hamil, rahim
setelah melahirkan teraba keras setinggi 2 jari dibawah pusar, 2 Universitas Sumatera Utara
9 pekan setelah melahirkan rahim sudah tak teraba, 6 pekan akan seperti semula. Akan
tetapi biasanya perut ibu masih terlihat buncit dan muncul garis-garis putih atau coklat
berkelok. 2) Perubahan Sistem Pencernaan Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah
melahirkan, dikarenakan waktu melahirkan alat pencernaan mendapat tekanan yang
menyebabkan kolon menjadi kosong, pengeluaran cairan yang berlebihan pada waktu
persalinan, kurang makan, haemoroid, laserasi jalan lahir. Untuk mengatasi hal tersebut
dapat diberikan makanan mengandung serat dan pemberian cairan yang cukup (Anggraini, Y
2010). 3) Perubahan Tanda-tanda Vital Sesudah partus suhu tubuh dapat naik sekitar 0,5ºC
dari normal dan tidak melebihi 8ºC. Sesudah dua jam pertama melahirkan umumnya suhu
badan akan kembali normal. Denyut nadi umumnya labil dibandingkan dengan suhu tubuh,
sedangkan pernafasan akan sedikit meningkat setelah partus kemudian kembali seperti
keadaan semula. Pada beberapa kasus ditemukan keadaan hipertensi postpartum namun
akan menghilang dengan sendirinya apabila tidak terjadi penyakit-penyakit lain yang
menyertainya dalam setengah bulan tanpa pengobatan (Saleha, 2009). 7. Perawatan
Kebutuhan Dasar Pada Masa Nifas Pada mereka yang melahirkan secara normal, tidak ada
pantangan diet. Dua jam setelah melahirkan perempuan boleh minum dan makan seperti
biasa bila ingin. Kebutuhan nutrisi pada masa menyusui meningkat 25 % yaitu untuk
produksi ASI dan memenuhi kebutuhan cairan yang meningkat tiga kali dari Universitas
Sumatera Utara 10 biasanya. Penambahan kalori pada ibu menyusui sebanyak 500 kkal tiap
hari. Makanan yang dikonsumsi ibu berguna untuk melakukan aktivitas, metabolisme,
cadangan dalam tubuh, proses produksi ASI serta sebagai ASI itu sendiri yang akan
dikonsumsi bayi untuk pertumbuhan dan perkembangannya (Anggraini, Y. 2010). Pada masa
nifas, perempuan sebaiknya melakukan ambulansi dini yaitu beberapa jam setelah
melahirkan, segera bangun dari tempat tidur dan bergerak, agar lebih kuat dan lebih baik.
Gangguan berkemih dan buang air besar juga dapat teratasi. Ibu diminta buang air kecil
(miksi) 6 jam postpartum. Jika dalam 8 jam postpartum belum dapat berkemih atau sekali
berkemih belum melebihi 100 cc maka dilakukan kateterisasi. Akan tetapi, kalau ternyata
kandung kemih penuh, tidak perlu menunggau 8 jam untuk kateterisasi. Penyebab
terjadinya kesulitan berkemih pada ibu postpartum adalah karena berkurangnya tekanan
intraabdominal, otot-otot perut masih lemah, edema dan uretra, dinding kandung kemih
kurang sensitif (Saleha, 2009). Ibu postpartum diharapkan dapat buang air besar (defekasi)
setelah hari kedua postpartum. Jika hari ketiga belum juga BAB maka perlu diberi obat
pencahar per oral atau per rektal. Jika setelah pemberian obat pencahar masih belum bisa
BAB maka dilakukan klisma (huknah). Pada masa postpartum seorang ibu sangat rentan
terhadap infeksi. Oleh karena itu, kebersihan diri sangat penting untuk mencegah terjadinya
infeksi. Kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur, dan lingkungan sangat penting untuk tetap
dijaga. Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air,
daerah sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke Universitas Sumatera Utara 11 belakang
kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Nasihati ibu membersihkan vulva setiap kali
selesai buang air kecil atau besar. Sarankan ibu mengganti pembalut setidaknya dua kali
sehari. Sarankan ibu mencuci tangan sebelum dan sesudah membersihkan daerah
kelaminnya (Anggrainni, Y. 2010). Perawatan payudara dengan melakukan masase pada
payudara dengan mencuci tangan sebelum melakukan masase, menuangkan minyak pada
kedua belah telapak tangan secukupnya dan masase dilakukan (Saleha, 2009). B. Ibu Ibu
adalah sasaran utama pelayanan kebidanan ibu yang sehat akan melahirkan bayi yang sehat.
Masalah kesehatan dimulai sejak terjadinya konsepsi bayi, balita yang sehat akan menjadi
modal utama dalam pembentukan generasi yang kuat, berkualitas, dan produktif dimasa
yang akan datang (Soeparman, 2008). Ibu juga sebagai individu juga memberi konstribusi
yang penting bagi kesehatan dan kesejahteraan keluarga di masyarakat. Sebagai wanita ibu
dapat berperan diberbagai sector. Sebagai bagian keluarga maka ibu dan anak yang sehat
merupakan sasaran pelayanan atau asuhan kebidanan di Indonesia (Soeparman, 2008). C.
Konsep Budaya Dalam Kebiasaan Pasca Melahirkan 1. Pengertian Persfektif atau Pandangan
Dalam Khairunnisa (2011) persfektif atau cara pandang, yang merupakan pandangan dari
sudut satuan bahasa sebagaimana satuan itu berhubungan dengan yang lain. Universitas
Sumatera Utara 12 2. Konsep Sosial Budaya Budaya bukan hal yang statis melainkan bersifat
dinamis dan selalu berubah. Praktik budaya yang diingat individu dan praktik dari negara
atau tempat asal mereka sering kali berbeda dari praktik yang sedang terjadi di tempat yang
sama pada saat ini (Varney, dkk, 2006). Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup
pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum dan istiadat (menurut EB. Taylor).
Sedangkan menurut Selo Soemardjan Soelaeman Soemadi adalah semua hasil karya, rasa
cipta, masyarakat yang berfungsi sebagai tempat berlindung, kebutuhan makanan dan
minum, pakaian dan perhiasan (Syafrudin 2009). Sistem nilai budaya adalah konsepsi-
konsepsi tentang nilai yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar anggota masyarakat,
dan berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi sikap mental, cara berfikir, dan tingkah laku
mereka. Sistem nilai budaya tersebut adalah hasil pengalaman hidup yang berlangsung
dalam kurun waktu yang lama, sehingga menjadi kebiasaan yang berpola. Sistem nilai
budaya yang sudah berpola itu meliputi segala aspek nilai kehidupan masyarakat. Kehidupan
masyarakat adalah pola kehidupan yang berkelompok dalam bentuk-bentuk tertentu
(Muhammad, 2008 dalam Sitorus, R.F 2011). Kebudayaan maupun adat istiadat dalam
masyarakat indonesia ada yang menguntungkan, dan ada pula yang merugikan bagi status
kesehatan ibu hamil, ibu bersalin maupun nifas (Syafruddin, 2009). Faktor yang paling
mempengaruhi status kesehatan masyarakat terutama bagi ibu hamil, bersalin, dan nifas
adalah lingkungan juga pendidikan dari masing-masing dari kaum ibu tersebut dan
seandainya mengetahui dan Universitas Sumatera Utara 13 memahami hal-hal yang
mempengaruhi status kesehatan terhadap hal itu, maka diharapkan masyarakat tidak
melakukan kebiasaan atau adat istiadat yang merugikan kesehatan khususnya bagi ibu nifas
(Syafruddin, 2009). D. Pandangan Suku Batak Karo Tentang Kebiasaan Pasca Melahirkan 1.
Suku Batak Karo di Sumatera Utara Masyarakat Karo sendiri menempati dataran tinggi Karo
dan disebut sebagai Taneh Karo. Pengertian dari Taneh Karo sebenarnya bukan hanya
mencakup orang Karo yang berdiam di daerah Kabupaten Karo sekarang saja. Melainkan
mencakup juga orang-orang Karo yang sudah lama berdiam atau menetap di daerah-daerah
garis besar Karo, jauh sebelum Belanda menjajah wilayah asli suku Karo seperti Kabupaten
Deli Serdang, Langkat, Simalungun, Dairi, Aceh Tenggara, Kotamadya Binjai dan Ibukota,
Medan bahkan tidak menutup kemungkinan di berbagai tempat di kepulauan Nusantara ini.
Seluruh perpaduan suku Karo diikat oleh suatu dialek (bahasa) yang dapat dimengerti mulai
dari Langkat, Deli Serdang dan dataran tinggi Karo sampai ke Tanah Alas (Aceh Tenggara).
Pondasi utama masyarakat Karo adalah adat istiadat yakni tradisi dalam membangun suatu
hubungan, menentukan keputusan-keputusan (runggu) dan melaksanakan hal tertentu
sesuai hukum adat. Adat memiliki sanksi-sanksi supranatural dimana apabila dilanggar maka
akan menimbulkan malapetaka dalam satu atau lain bentuk dan apabila dipatuhi
kewajibankewajibannya tentunya akan menjamin nasib atau tuah yang baik. Adatlah yang
memberikan daya lekat sosial dan norma-norma dan sanksi-sanksi dalam kehidupan sehari-
hari (Ginting Leo Joosten. 2014). Universitas Sumatera Utara 14 2. Kebiasaan Pasca
Melahirkan Menurut beberapa ibu suku Batak Karo yang pernah melahirkan kebiasaan yang
dilakukan adalah : a. Mengolesi kuning las keseluruh badan agar tubuh ibu tetep hangat dan
sehat b. Mengolesi parem keseluruh badan agar tubuh hangat dan sehat c. Melakukan tup
dengan rebusan daun serai dan jeruk purut d. Setiap makan bubur nasi harus menggunakan
sira lada E. Penelitian kualitatif Fenomenologi Fenomenologi diartikan sebagai pengalaman
subjektif atau pengalaman fenomenologikal, suatu studi tentang kesadaran dari perspektif
pokok dari seseorang (Husserl). Istilah fenomenologi sering digunakan sebagai anggapan
umum untuk menunjukkan pada pengalaman subjektif dari berbagai jenis dan tipe subjek
yang ditemui. Dalam arti yang lebih khusus, istilah ini mengacu pada penelitian terdisiplin
tentang kesadaran dari perspektif pertama seseorang (Moleong, 2012). Penelitian kualitatif
adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena
yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Dalam
penelitian kualitatif metode yang biasanya dimanfaatkan adalah wawancara, pengamatan,
dan pemanfaatan dokumen. Penelitian yang memanfaatkan wawancara terbuka untuk
menelaah dan memahami sikap, pandangan, perasaan, dan perilaku individu atau
sekelompok orang (Moleong, 2012).