Anda di halaman 1dari 16

APLIKASI PRINSIP – PRINSIP ETIKA KEPERAWATAN

PADA PASIEN DAN TEMAN SEJAWAT


MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Etika Keperawatan
Dosen Pengajar : Dra. Hj. Tuti Resnawati, M. Pd

Disusun oleh:

Indira Mulya Ranti


Lulu Fauziah Melati
M.Rifky Kusuma Hadi
Siti Miftahul Fauziah
Siti Nanda Masleha
Tika Sandra Dewi

Tingkat : 1B D-III Keperawatan / Semester 2

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANTEN
JURUSAN KEPERAWATAN TANGERANG
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
TAHUN 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami telah menyelesaikan makalah “Aplikasi Prinsip-
Prinsip Etika Keperawatan Pada Pasien dan Teman Sejawat” dalam mata kuliah
Etika Keperawatan ini dengan baik dan tepat waktu.

Makalah ini dapat diselesaikan berkat bantuan, doa dan dukungan dari
beberapa pihak. Oleh karena itu kami mengucapkan terimakasih kepada dosen
pengajar Ibu Dra. Hj. Tuti Resnawati, M. Pd, serta teman-teman yang telah
bekerja sama dalam menyusun dan menyelesaikan makalah ini.

Dengan terselesaikannya tugas makalah ini, maka kami berharap telah


memenuhi tugas Etika Keperawatan dan mendapatkan nilai yang baik. Serta
bermanfaat bagi teman-teman sekalian. Kami menyadari bahwa Makalah ini
masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang
bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan Makalah ini.

Tangerang, 6 Mei 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................... 2
1.3 Tujuan............................................................................................ 2
BAB II KAJIAN TEORI .......................................................................... 3
2.1 Pengertian Etika Keperawatan ...................................................... 3
2.2 Pengertian Kode Etik Keperawatan .............................................. 3
2.3 Tujuan Etika Keperawatan ............................................................ 4
2.4 Fungsi Etika Keperawatan ............................................................ 4
2.5 Prinsip-Prinsip Etika Keperawatan ............................................... 5
BAB III PENUTUP .................................................................................... 12
3.1 Kesimpulan.................................................................................... 12
3.1 Saran .............................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... iii

ii
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Profesi perawat dewasa ini sangat diminati karena bidang pelayanan
kesehatan masyarakat masih banyak membutuhkan tenaga-tenaga kesehatan
profesional yang berkompeten di bidang pelayanan kesehatan. Perawat
termasuk posisi vital dalam dunia pelayanan kesehatan selain dokter.
Menjadi perawat profesional membutuhkan pengetahuan dan keterampilan
khusus. Namun, dalam menjalankan profesinya sebagai perawat, perawat
dituntut memahami dan menerapkan kode etik keperawatan serta hukum
kesehatan yang mengatur relasinya baik terhadap dirinya sendiri maupun
terhadap dokter, tenaga medis yang lain, pasien/klien, dan masyarakat
secara keseluruhan. Tujuan perawat adalah menyelamatkan sesama
manusia. Tugas ini sangatlah mulia sehingga dalam menjalankan tugasnya,
perawat tidak bisa dilepaskan dari kode etik keperawatan dan hukum
kesehatan di manapun perawat itu berada dan bekerja.
Seiring dengan kemajuan zaman, ilmu teknologi, dan informasi yang
semakin canggih. Membuat masyarakat menjadi lebih kritis. Perkembangan
ilmu dan teknologi kesehatan yang semakin maju membuat derajat
kesehatan masyarakat menjadi tinggi. Perkembangan ini diikuti dengan
perkembangan hukum di bidang kesehatan, sehingga secara bersamaan
petugas kesehatan menghadapi masalah hukum terkait dengan aktivitas,
perilaku, sikap, dan kemampuannya dalam menjalankan profesi kesehatan.
Ketika masyarakat merasa tidak puas dengan pelayanan atau apabila
seorang petugas kesehatan melakukan kesalahan yang merugikan pasien,
tidak menutup kemungkinan untuk di meja hijaukan.
Oleh karena itu, berbagai masalah yang timbul dalam pelayanan
kesehatan tersebut, menjadi hal yang perlu diperhatikan dan didukung
pemahaman petugas kesehatan mengenai prinsip-prinsip etika keperawatan
dalam pelayanan kesehatan. Untuk itu dibutuhkan suatu pedoman yang baik

1
dan benar-benar terpercaya tentang sikap dan perilaku yang harus dimiliki
oleh seorang petugas kesehatan, pedoman tersebut adalah kode etik dan
prinsip etika keperawatan.
Dari uraian latar belakang di atas maka penulis merasa tertarik untuk
membuat sebuah makalah dengan judul “Aplikasi Prinsip-prinsip Etika
Keperawatan”.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat disusun rumusan
masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan etika keperawatan?
2. Apa tujuan dari etika keperawatan?
3. Apa fungsi dari etika keperawatan?
4. Apa saja prinsip-prinsip etika keperawatan?

I.3 Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini, yaitu:
1. Untuk memahami pengertian dari etika keperawatan.
2. Untuk memahami tujuan dari etika keperawatan.
3. Untuk memahami fungsi dari etika keperawatan.
4. Mampu memahami dan melaksanakan prinsip-prinsip etika
keperawatan .

2
BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian Etika Keperawatan


Secara etimologis, kata etika berasal dari bahasa Yunani, yaitu “ethos”
yang berarti adat istiadat atau kebiasaan, model perilaku atau standar yang
diharapkan, dan kriteria tertentu untuk suatu tindakan. Konsep etika dapat
dipahami sebagai peraturan atau norma yang digunakan sebagai dasar acuan
perilaku yang dilakukan oleh seseorang. Etika keperawatan menjadi acuan
dasar bagi perawat dalam menjalankan profesinya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa etika keperawatan adalah suatu tindakan
keperawatan yang memiliki standar dan kriteria tertentu yang sesuai dengan
peraturan dan norma yang telah ditetapkan, dapat dinilai dengan baik atau
buruk perilaku seseorang.

2.2 Pengertian Kode Etik Keperawatan


Kelly (1987), dikutip oleh Robert Priharjo, menyatakan bahwa kode etik
adalah salah satu ciri/persyaratan profesi yang memberikan arti penting
dalam penentuan, pertahanan, dan peningkatan standar profesi. Kode etik
keperawatan dapat juga diartikan seperangkat sistem norma, nilai, dan
aturan, baik tertulis maupun tidak tertulis yang berlaku bagi semua anggota
organisasi profesi keperawatan. Kode Etik Perawat Nasional Indonesia
adalah aturan yang berlaku untuk seorang perawat Indonesia dalam
melaksanakan tugas/ fungsi perawat. Kode etik keperawatan menjadi
pedoman para perawat dalam menjalankan peran dan fungsinya sesuai
standar profesi keperawatan yang akan melindungi perawat dan pasien.

3
2.3 Tujuan Etika Keperawatan
Tujuan dari konsep etika keperawatan sebagai berikut :
1. Merekatkan hubungan harmonis antara perawat dan pasien
2. Menyelesaikan segala persoalan yang dialami oleh klien atau pasien
ketika menerima pelayanan dari seorang perawat
3. Melindungi seorang perawat yang diperlakukan secara tidak adil oleh
institusi yang menaunginya
4. Menyinergikan institusi pendidikan yang menekuni keperawatan
dengan produk lulusan yang dihasilkan
5. Memberikan pemahaman kepada masyarakat pengguna tenaga
keperawatan tentang pentingnya sikap profesional dalam melaksanakan
tugas praktik keperawatan.
6. Memberi kesempatan bagi para perawat untuk menerapkan ilmu
pengetahuannya dan prinsip etik keperawatan dalam praktik serta dalam
situasi nyata.

2.4 Fungsi Etika Keperawatan


1. Menunjukkan sikap kepemimpinan dan bertanggung jawab dalam
mengelola asuhan keperawatan
2. Mendorong perawat di seluruh Indonesia agar dapat berperan serta
dalam kegiatan penelitian dalam bidang keperawatan dan menggunakan
hasil penelitian serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
untuk meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan atau asuhan
keperawatan
3. Mendorong para perawat agar dapat berperan secara aktif dalam
mendidik dan melatih pasien dalam kemandirian untuk hidup sehat,
tidak hanya di rumah sakit, tetapi di luar rumah sakit
4. Mendorong para perawat agar bisa mengembangkan diri secara terus-
menerus untuk meningkatkan kemampuan profesional, integritas, dan
loyalitasnya bagi masyarakat luas.

4
Intinya fungsi etika keperawatan adalah agar para perawat mampu
melaksanakan peran dan fungsinya dengan benar dan maksimal sesuai
dengan kebijakan pemerintah kepada masyarakat dalam pelayanan
kesehatan.

2.5 Pinsip-Prinsip Etika Keperawatan


1. Otonomi (Autonomy)
Autonomy berarti mengatur dirinya sendiri, prinsip moral ini sebagai
dasar perawat dalam memberikan asuhan keperawatan dengan cara
menghargai pasien, bahwa pasien adalah seorang yang mampu
menentukan sesuatu bagi dirinya. Perawat harus melibatkan pasien
dalam membuat keputusan tentang asuhan keperawatan yang diberikan
pada pasien.
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu
berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa
dianggap kompeten dan memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih
dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh
orang lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek terhadap
seseorang, atau dipandang sebagai persetujuan tidak memaksa dan
bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak kemandirian dan
kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesional
merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam
membuat keputusan tentang perawatan dirinya.
Aplikasi prinsip moral otonomi dalam asuhan keperawatan ini
contohnya adalah seorang perawat apabila akan menyuntik harus
memberitahu untuk apa obat tersebut, prinsip otonomi ini dilanggar
ketika seorang perawat tidak menjelaskan suatu tindakan keperawatan
yang akan dilakukannya, tidak menawarkan pilihan misalnya
memungkinkan suntikan atau injeksi bisa dilakukan di pantat kanan
atau kiri dan sebagainya. Perawat dalam hal ini telah bertindak
sewenang-wenang pada orang yang lemah.

5
2. Berbuat Baik (Beneficience)
Prinsip beneficience ini oleh Chiun dan Jacobs (1997) didefinisikan
dengan kata lain doing good yaitu melakukan yang terbaik .
Beneficience adalah melakukan yang terbaik dan tidak merugikan orang
lain , tidak membahayakan pasien . Apabila membahayakan, tetapi
menurut pasien hal itu yang terbaik maka perawat harus menghargai
keputusan pasien tersebut, sehingga keputusan yang diambil
perawatpun yang terbaik bagi pasien dan keluarga. Beneficience berarti,
hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan, memerlukan
pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau
kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain.
Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara
prinsip ini dengan otonomi.
Beberapa contoh prinsip tersebut dalam aplikasi praktik keperawatan
adalah, seorang pasien mengalami perdarahan setelah melahirkan,
menurut program terapi pasien tersebut harus diberikan tranfusi darah,
tetapi pasien mempunyai kepercayaan bahwa pemberian tranfusi
bertentangan dengan keyakinanya, dengan demikian perawat
mengambil tindakan yang terbaik dalam rangka penerapan prinsip
moral ini yaitu tidak memberikan tranfusi setelah pasien memberikan
pernyataan tertulis tentang penolakanya. Perawat tidak memberikan
tranfusi, padahal hal tersebut membahayakan pasien, dalam hal ini
perawat berusaha berbuat yang terbaik dan menghargai pasien.

3. Keadilan (Justice)
Setiap individu harus mendapatkan tindakan yang sama, merupakan
prinsip dari justice (Perry and Potter, 1998 ; 326). Justice adalah
keadilan, prinsip justice ini adalah dasar dari tindakan keperawatan bagi
seorang perawat untuk berlaku adil pada setiap pasien, artinya setiap
pasien berhak mendapatkan tindakan yang sama. Prinsip keadilan
dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang lain yang

6
menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini
direfleksikan dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk
terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang
benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.
Tindakan yang sama tidak selalu identik, maksudnya setiap pasien
diberikan konstribusi yang relatif sama untuk kebaikan kehidupannya.
Prinsip Justice dilihat dari alokasi sumber-sumber yang tersedia, tidak
berarti harus sama dalam jumlah dan jenis, tetapi dapat diartikan bahwa
setiap individu mempunyai kesempatan yang sama dalam
mendapatkannya sesuai dengan kebutuhan pasien. (Sitorus, 2000).
Sebagai contoh dari penerapan tindakan justice ini adalah dalam
keperawatan di ruang penyakit bedah, sebelum operasi pasien harus
mendapatkan penjelasan tentang persiapan pembedahan baik pasien di
ruang VIP maupun kelas III, apabila perawat hanya memberikan
kesempatan salah satunya maka melanggar prinsip justice ini.

4. Tidak Merugikan (Nonmaleficience) atau avoid killing


Prinsip avoiding killing menekankan perawat untuk menghargai
kehidupan manusia (pasien), tidak membunuh atau mengakhiri
kehidupan. Thomhson ( 2000 : 113) menjelasakan tentang masalah
avoiding killing sama dengan Euthanasia yang kata lainya tindak
menentukan hidup atau mati yaitu istilah yang digunakan pada dua
kondisi yaitu hidup dengan baik atau meninggal.
Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan
psikologis pada klien. kewajiban perawat untuk tidak dengan sengaja
menimbulkan kerugian atau cidera. Prinsip : Jangan membunuh,
menghilangkan nyawa orang lain, jangan menyebabkab nyeri atau
penderitaan pada orang lain, jangan membuat orang lain berdaya dan
melukai perasaaan orang lain.
Ketika menghadapi pasien dengan kondisi gawat maka seorang
perawat harus mempertahankan kehidupan pasien dengan berbagai cara.

7
Tetapi menurut Chiun dan Jacobs (1997 : 40) perawat harus
menerapkan etika atau prinsip moral terhadap pasien pada kondisi
tertentu misalnya pada pasien koma yang lama yaitu prinsip avoiding
killing, Pasien dan keluarga mempunyai hak-hak menentukan hidup
atau mati. Sehingga perawat dalam mengambil keputusan masalah etik
ini harus melihat prinsip moral yang lain yaitu beneficience,
nonmaleficience dan otonomy yaitu melakukan yang terbaik, tidak
membahayakan dan menghargai pilihan pasien serta keluarga untuk
hidup atau mati. Mati disini bukan berarti membunuh pasien tetapi
menghentikan perawatan dan pengobatan dengan melihat kondisi
pasien dengan pertimbangan beberapa prinsip moral diatas.

5. Kejujuran (Veracity)
Veracity menurut Chiun dan Jacobs (1997) sama dengan truth telling
yaitu berkata benar atau mengatakan yang sebenarnya. Veracity
merupakan suatu kuajiban untuk mengatakan yang sebenarnya atau
untuk tidak membohongi orang lain atau pasien (Sitorus, 2000).
Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan
oleh pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran
pada setiap klien dan untuk meyakinkan bahwa klien sangat mengerti.
Prinsip veracity berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk
mengatakan kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi akurat,
komprensensif, dan objektif untuk memfasilitasi pemahaman dan
penerimaan materi yang ada, dan mengatakan yang sebenarnya kepada
klien tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan dirinya
selama menjalani perawatan. Walaupun demikian, terdapat beberapa
argument mengatakan adanya batasan untuk kejujuran seperti jika
kebenaran akan kesalahan prognosis klien untuk pemulihan atau adanya
hubungan paternalistik bahwa ”doctors knows best” sebab individu
memiliki otonomi, mereka memiliki hak untuk mendapatkan informasi

8
penuh tentang kondisinya. Kebenaran merupakan dasar dalam
membangun hubungan saling percaya.
Perawat dalam bekerja selalu berkomunikasi dengan pasien, kadang
pasien menanyakan berbagai hal tentang penyakitnya, tentang hasil
pemeriksaan laboratorium, hasil pemeriksaan fisik seperti, “berapa
tekanan darah saya suster?”, bagaimana hasil laboratorium saya suster?’
dan sebagainya. Hal-hal seperti itu harusnya dijawab perawat dengan
bener sebab berkata benar atau jujur adalah pangkal tolak dari
terbinanya hubungan saling percaya antar individu dimanapun berada.
Namun demikian untuk menjawab pertanyaan secara jujur diatas
perlu juga dipikirkan apakah jawaban perawat membahayakan pasien
atau tidak, apabila memungkinkan maka harus dijawab dengan jawaban
yang jelas dan benar, misalnya pasien menanyakan hasil pemeriksaan
tekanan darah maka harus dijawab misalnya, 120/80 mmHg, hasil
laboratorium Hb 13 Mg% dan sebagainya.
Prinsip ini dilanggar ketika kondisi pasien memungkinkan untuk
menerima jawaban yang sebenarnya tetapi perawat menjawab tidak
benar misalnya dengan jawaban ; hasil ukur tekanan darahnya baik,
laboratoriumnya baik, kondisi bapak atau ibu baik-baik saja, padahal
nilai hasil ukur tersebut baik buruknya relatif bagi pasien.

6. Menepati Janji (Fidelity)


Sebuah profesi mempunyai sumpah dan janji, saat seorang menjadi
perawat berarti siap memikul sumpah dan janji. Hudak dan Gallo (1997
: 108), menjelaskan bahwa membuat suatu janji atau sumpah
merupakan prinsip dari fidelity atau kesetiaan. Dengan demikian
fidelity bisa diartikan dengan setia pada sumpah dan janji. Chiun dan
Jacobs (1997 : 40) menuliskan tentang fidelity sama dengan keeping
promises, yaitu perawat selama bekerja mempunyai niat yang baik
untuk memegang sumpah dan setia pada janji.

9
Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan
komitmennya terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan
menepati janji serta menyimpan rahasia klien. Ketaatan, kesetiaan,
adalah kewajiban seseorang untuk mempertahankan komitmen yang
dibuatnya. Kesetiaan, menggambarkan kepatuhan perawat terhadap
kode etik yang menyatakan bahwa tanggung jawab dasar dari perawat
adalah untuk meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit,
memulihkan kesehatan dan meminimalkan penderitaan.
Prinsip fidelity menjelaskan kewajiban perawat untuk tetap setia
pada komitmennya, yaitu kewajiban memperatankan hubungan saling
percaya antara perawat dan pasien yang meliputi menepati janji dan
menyimpan rahasia serta caring (Sitorus, 2000 : 3). Prinsip fidelity ini
dilanggar ketika seorang perawat tidak bisa menyimpan rahasia pasien
kecuali dibutuhkan, misalnya sebagai bukti di pengadilan, dibutuhkan
untuk menegakan kebenaran seperti penyidikan dan sebagainya.
Penerapan prinsip fidelity dalam praktik keperawatan misalnya,
seorang perawat tidak menceritakan penyakit pasien pada orang yang
tidak berkepentingan, atau media lain baik diagnosa medisnya
(Carsinoma, Diabetes Militus) maupun diagnosa keperawatanya
(Gangguan pertukaran gas, Defisit nutrisi). Selain contoh tersebut yang
merupakan rahasia pasien adalah pemeriksaan hasil laboratorium,
kondisi ketika mau meninggal dan sebagainya.

7. Karahasiaan (Confidentiality)
Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien
harus dijaga privasi klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen
catatan kesehatan klien hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan
klien. Tidak ada seorangpun dapat memperoleh informasi tersebut
kecuali jika diijinkan oleh klien dengan bukti persetujuan. Diskusi
tentang klien diluar area pelayanan, menyampaikan pada teman atau
keluarga tentang klien dengan tenaga kesehatan lain harus dihindari.

10
8. Akuntabilitas (Accountability)
Akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa tindakan seorang
profesional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa
terkecuali.

11
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dalam upaya mendorong profesi keperawatan agar dapat diterima dan
dihargai oleh pasien, masyarakat atau profesi lain, maka kita harus
memanfaatkan nilai-nilai dalam menerapkan etika yang disertai dengan
komitmen yang kuat dalam mengemban peran profesionalnya. Dengan
demikian perawat yang menerima tanggung jawab, dapat melaksanakan
asuhan keperawatan secara etis profesional. Sikap etis profesional berarti
bekerja sesuai dengan standar, melaksanakan advokasi, keadaan tersebut
akan dapat memberi jaminan bagi keselamatan pasien, penghormatan
terhadap hak-hak pasien, akan berdampak terhadap peningkatan kualitas
asuhan keperawatan.

3.2 Saran
Berdasarkan uraian dari makalah aplikasi prinsip-prinsip etika
keperawatan , maka penulis ingin memberikan saran sebagai berikut:
1. Dengan adanya makalah ini hendaknya pembaca khususnya mahasiswa
keperawatan lebih memahami tentang prinsip-prinsip etika
keperawatan.
2. Mahasiswa dan perawat dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan
sehari-hari maupun dalam praktik keperawatan.

12
DAFTAR PUSTAKA

Siswanto, Hadi. 2009. Etika Profesi. Yogyakarta: Pustaka Rihama.


Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Etika dan Hukum Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta.
Putri, Trikaloka H. dan Achmad Fanani. 2011. Etika Profesi Keperawatan.
Yogyakarta: Citra pustaka.
Dalami, Ermawati, dkk. 2010. Etika Keperawatan. Jakarta Timur : Trans Info
Media.
http://prinsipnilaidalametikakeperawatan.blogspot.co.id/

iii