Anda di halaman 1dari 11

ENVIROSAN : VOL.

1 NOMOR 1, JUNI 2018 31

STUDI IDENTIFIKASI PENCEMARAN LOGAM


TIMBAL (Pb) DAN MERKURI (Hg) DI UDARA AMBIEN PADA LOKASI INDUSTRI PENGGUNA
BAHAN BAKAR BATUBARA DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG

Churchil Febrion, Ujang Sirojul Falah


Universitas Kebangsaan

ABSTRAK

Konversi energi bahan bakar minyak (BBM) menjadi batubara untuk sektor industri di kabupaten bandung telah
menimbulkan dampak pencemaran udara terhadap lingkungan. Jumlah pengguna batubara di kabupaten bandung sekira 147
industri, dengan tingkat konsumsi sekira 84.000 ton/bulan. Pembakaran batubara unit pembangkit uap (boiler) menghasilkan
limbah abu dasar (bottom ash) dan abu terbang (fly ash), dari penelitian sebelumnya diketahui bahwa abu batubara
mengandung silika, oksida logam dan logam berat diantaranya logam Mangan, Timbal, Merkuri, Tembaga, Seng, Nikel,
Kromium, Kobalt dan lain-lain.
Dari hasil penelitian terhadap kadar logam berat Timbal (Pb) dan Merkuri (Hg) dengan metoda grab sampling selama 24 jam
dikawasan industri tekstil Majalaya, diketahui bahwa kadar timbal di lokasi up wind adalah 0,41 µg/m3, lokasi site : 0,31
µg/m3, dan lokasi downwind : 5,87 µg/m3. Pada lokasi downwind diketahui telah melewati nilai bakumutu udara ambien
berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999 untuk logam timbal yaitu sebesar 2,0 µg/m3. Untuk logam berat
merkuri (Hg) dari ketiga lokasi penelitian sudah terdeteksi keberadaannya, namun belum ada baku mutu yang
mempersyaratkan nilainya. Nilai rata-rata kadar merkuri (Hg) adalah sebagai berikut : up wind 0,04 µg/m3; site 0,03 µg/m3 ;
down wind 0.17 µg/m3

Kata kunci : batubara, pembangkit uap (boiler), abu dasar

ABSTRACT
Energy conversion of fuel oil ( BBM ) into the coal to the industrial sector in the district of Bandung has an impact of air
pollution on the environment . The number of coal users in approximately 147 industrial districts of Bandung , with a
consumption rate of approximately 84,000 tonnes / month . Burning coal in a steam generating unit ( boiler ) generates waste
bottom ash ( bottom ash ) and fly ash ( fly ash ) , from previous studies it is known that coal ash contains silica , metal oxides
and heavy metals including metal Manganese , Lead , Mercury , Copper , zinc , Nickel , Chromium , Cobalt etc.
From the results of research on levels of heavy metals Lead ( Pb ) and mercury ( Hg ) by grab sampling method for 24 hours
at Majalaya region 's textile industry , it is known that the levels of lead in upwind location is 0.41 μg/m3 , the location of
site: 0.31 μg/m3 , and downwind locations : 5.87 μg/m3 . At the location of this wind has been passed down the value of the
ambient air (based on Government Regulation No. . 41, 1999) for lead metal is equal to 2.0 μg/m3 . For the heavy metal
mercury ( Hg ) from three study sites had been detected , but there is no quality standard that requires its value . The average
value of the levels of mercury ( Hg ) is as follows : 0.04 μg/m3 wind up ; site of 0.03 μg/m3 ; 0:17 wind down μg/m3

Keywords : coal, steam generator (boiler), bottom ash

Seiring dengan terjadinya pengalihan pemakaian bahan


PENDAHULUAN bakar minyak (solar, atau residu/IDO) menjadi batubara
pada hampir 147 kegiatan/usaha (BPLH Kabupaten
Di Kota Cimahi, lokasi industri tekstil terkonsentrasi di Bandung, 2012), dengan menggunakan batubara sebagai
sekitar Leuwigajah dan Cibaligo. Sedangkan di wilayah energi alternatif, maka konsumsi batubara semakin
Kota Bandung terkonsentrasi di sekitar Gedebage. meningkat.. Adapun konsumsi batubara untuk unit
Dewasa ini banyak indutri tekstil di wilayah Kabupaten pembangkit boiler di wilayah Kabupaten Bandung adalah
Bandung telah mengganti sumber tenaga pada sekitar 84 ribu ton perbulan.
pembangkit uap/boiler dari minyak, Industrial Diesel Oil
(IDO).
Penggunaan batubara sebagai sumber energi pengganti adalah antara 1000 – 5000 ton perbulan (bottom ash dan
BBM, di satu sisi sangat menguntungkan, namun di lain fly ash). Penggunaan bahan bakar batubara untuk
pihak justru akan menambah masalah baru untuk pembangkit uap (boiler) pada industri tekstil di
lingkungan hidup sekitar, diantaranya emisi gas buang Kabupaten Bandung saat ini sangat banyak, hal ini dapat
dan abu batubara yang merupakan hasil samping menyebabkan emisi gas buang hasil pembakaran
pembakaran batubara. Dari sejumlah pemakaian batubara batubara semakin meningkat. Kualitas udara di wilayah
akan dihasilkan abu batubara sekitar 2-10% tergantung industri tersebut akan cenderung menurun, seiring
dari jenis feed yang digunakan, apakah low calory atau dengan emisi gas buang yang dihasilkan.
high calory (Munir, M, 2008). Dari total konsumsi Partikel-partikel tersebut antara lain adalah : karbon
batubara di atas, maka diperkirakan abu yang dihasilkan dalam bentuk abu atau fly ash (C), debu-debu silika
CHURCHIL FEBRION ¹, UJANG SHIROJUL FALAH ² : [ STUDI IDENTIFIKASI PENCEMARAN LOGAM
TIMBAL (Pb) DAN MERKURI (Hg) DI UDARA AMBIEN PADA LOKASI INDUSTRI PENGGUNA
BAHAN BAKAR BATUBARA DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG] 31
ENVIROSAN : VOL.1 NOMOR 1, JUNI 2018 32

(SiO2), debu-debu alumina (Al2O3) serta logam berat


seperti tembaga (Cu), timbal (Pb), cadmium (Cd),
Tabel 1.1 : Hasil analisis logam untuk uji sifat
merkuri (Hg) dan arsen (As) adalah sebagian dari zat
toksisitas lindian contoh limbah
toksik yang dihasilkan dari limbah tersebut, yang
hasil pembakaran batubara dari
masing-masing memicu keracunan, gagal ginjal, dan
tiga perusahaan *).
kanker. Unsur beracun menyebabkan penyakit kulit,
gangguan pencernaan, paru- paru dan penyakit kanker
otak.
Konsentrasi abu dasar/abu terbang
(Tim Riset USU, 2006); Abu terbang merupakan salah
satu jenis partikulat yang dapat diklasifikasikan dalam
Para Per
debu. Hal ini karena biasanya abu terbang dipengaruhi Satua Po
No. mete usa
oleh gaya gravitasi bumi. Abu terbang (fly ash) yang n we
r Perusaha haa Ambang
dihasilkan dari sisa pembakaran batubara, dikategorikan r
an kimia n batas **)
oleh Kementerian Lingkungan Hidup RI, sebagai bahan pla
tek
beracun dan berbahaya (B3). nt
stil
Sehubungan dengan meningkatnya jumlah industri tekstil
Arse
di wilayah Kabupaten Bandung yang menggunakan 0,0 0,0
1 n mg/L 0,06 5,0
bahan bakar batubara, maka jumlah limbah abu terbang 7 4
(As)
juga akan meningkat. Seiring dengan hal tesebut, maka
Bari
apabila pihak industri tidak mengelola sistem emisi 13, 23,
2 um mg/L 18,63 100,0
cerobong dengan baik, kemungkinan besar abu terbang 52 1
(Ba)
tersebut akan terbawa ke udara ambien, dan akan
Kad
menyebabkan pencemaran udara di sekitar wilayah
miu 0,1
industri tersebut. Hal ini lah yang melatar belakangi 3 mg/L 0,41 tt 1,0
m 9
penulis untuk melakukan penelitian terhadap adanya
(Cd)
kemungkinan teremisiskannya logam berat timbal (Pb)
Kro
dan merkuri (Hg) dari abu terbang (fly ash) hasil
miu 0,8
pembakaran batubara kedalam udara ambien di wilayah 4 mg/L tt tt 5,0
m 8
lokasi studi.
(Cr)
Dari hasil penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian
Teknologi Mineral & Batubara (Suseno, T, 2010), abu Tem
0,7
5 baga mg/L 6,47 tt 10,0
hasil pembakaran batubara diketahui mengandung unsur- 9
(Cu)
unsur logam beracun berdasarkan hasil pemeriksaan
terhadap 3 buah contoh abu yang diambil dari tiga Tim
24, 31,
perusahaan pemakai batubara (Tabel 1.1). 6 bal mg/L 37,6 5,0
8 9
(Pb)
Mer
7 kuri mg/L tt tt tt 0,2
(Hg)
Pera
8 k mg/L tt tt tt 5,0
(Ag)
Sen
2,5
9 g mg/L tt tt 50,0
3
(Zn)
Sele
niu 0,1 0,1
10 mg/L 0,09 10,0
m 4 0
(Se)
Sumber : Suseno. T, 2010

CHURCHIL FEBRION ¹, UJANG SHIROJUL FALAH ² : [ STUDI IDENTIFIKASI PENCEMARAN LOGAM


TIMBAL (Pb) DAN MERKURI (Hg) DI UDARA AMBIEN PADA LOKASI INDUSTRI PENGGUNA
BAHAN BAKAR BATUBARA DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG] 32
ENVIROSAN : VOL.1 NOMOR 1, JUNI 2018 33

senyawa karbon), fly ash (partikel debu). dan juga


partikel-partikel yang terhambur ke udara sebagai bahan
pencemar udara. Partikel-partikel tersebut antara lain
TINJAUAN PUSTAKA adalah : Karbon dalam bentuk abu atau fly ash (C), Debu-
debu silika (SiO2), debu-debu alumia (Al2O3 ) dan Oksida-
Batubara oksida besi (Fe2O3 atau Fe3O4 ) .Berikut ini adalah alat
Indonesia memiliki tantangan terberat di bidang sumber pengendali pencemaran udara yang lazim digunakan di
daya energi yaitu menipisnya cadangan minyak industri, diantaranya : Gravity Settler, (Cyclone), Wet
Indonesia yang hanya tinggal 12 tahun lagi. Scrubber, Fabric Filter.
(Prabowo Subianto, dalam Indonesian Young Leader
Forum, 2013) Partikulat
Sumber energi minyak bumi dan gas bumi merupakan Partikulat adalah bentuk dari padatan atau cairan dengan
energi utama di Indonesia dikarenakan lebih praktis dan ukuran molekul tunggal yang lebih besar dari 0.002 µm
efisien. Penimbunan lanau dan sedimen lainnya, bersama tetapi lebih kecil dari 500 µm yang tersuspensi di
dengan pergeseran kerak bumi (dikenal sebagai atmosfer dalam keadaan normal. Partikulat dapat berupa
pergeseran tektonik) mengubur rawa dan gambut yang asap, debu dan uap yang dapat tinggal di atmosfer dalam
seringkali sampai ke kedalaman yang sangat dalam. waktu yang lama. Partikulat merupakan jenis pencemar
Batubara merupakan batuan sedimen yang dapat yang bisa bersifat primer ataupun sekunder tergantung
terbakar, berasal dari tumbuh-tumbuhan (komposisi dari aerosolnya. Partikulat terdiri dari beberapa jenis
utama karbon, hidrogen, dan oksigen), berwarna coklat berdasarkan distribusi partikelnya, antara lain: PM 2.5
sampai hitam, sejak pengendapannya terkena proses (2.5 µm), PM 10 (10 µm), PM 100 / TSP (Total
kimia dan fisika yang mengakibatkan terjadinya Suspended Particulate) (≤100 µm).
pengkayaan kandungan karbonnya. (Wolf, 1984). Salah
satu industri yang mengalami hal tersebut adalah industri METODOLOGI PENELITIAN
tekstil di Propinsi Jawa Barat, karena industri ini sangat
tergantung pada bahan bakar solar atau residu untuk Rancangan penelitian yang dilakukan dalam Studi
kegiatan produksinya. Secara umum batubara Identifikasi Pencemaran Logam Timbal (Pb) dan
diklasifikasikan sebagai berikut (rank) : Peat (gambut), Merkuri (Hg) di Udara Ambien pada Lokasi Industri
Lignite , (brown coal/batubara coklat), Sub-bituminous , Pengguna Bahan Bakar Batubara di Wilayah Kabupaten
(Bitumen menengah), Bituminous, Anthracite. Komposisi Bandung, merupakan penelitian yang bersifat kuantitatif,
Batubara lazimnya di gunakan dua jenis analisa di yaitu dengan melakukan pengambilan sampel udara
laboratorium, yaitu analisa proksimat dan ultimat. Pada ambien di lokasi industri dengan menggunakan alat High
dasarnya metode pembakaran batuabara pada unit boiler Volume Sampler dan melakukan pengujian kadar zat
terbagi 3 (tiga), yaitu pembakaran lapisan tetap (fixed pencemar, logam berat di laboratorium dengan
bed combustion), pembakaran batubara serbuk menggunakan alat Spektrofotometer Serapan Atom
(pulverized coal combustion /PCC), dan pembakaran (SSA).Pengambilan data awal adalah kegiatan yang
lapisan mengambang (fluidized bed combustion / FBC). dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya materi
(Imam Budiraharjo, Teknologi Pembakaran Pada logam berat dalam partikulat pembakaran batubara,
PLTU Batubara, 2009). dengan tujuan sebagai pembanding (reference) dengan
data yang diperoleh setelah dilakukan percobaan. Untuk
Karakterisasi Polutan itu langkah yang perlu dilakukan dalam pengambilan
Polutan-polutan penting yang dihasilkan dari proses data awal ini adalah identifikasi unsur bahan B-3 (logam
pemakaran batubara antara lain adalah : SO2, NOx, CO, berat Pb, Hg) yang terkandung dalam abu batubara.
dan material partikulat. Selain itu ada bahan polutan lain Metode sampling yang digunakan : Metode sampling
yang disebut udara beracun. Ia adalah polutan yang mengacu kepada SNI 19-7119.3-2005, tentang cara uji
sangat berbahaya meskipun jumlahnya hanya sedikit partikel tersuspensi total menggunakan peralatan High
dihasilkan oleh pembakaran batubara. Volume Air Sampler (HVS) dengan metode gravimetri.
Unsur beracun menyebabkan penyakit kulit, gangguan Interval dan frekuensi sampling yang dilakukan mengacu
pencernaan, paru- paru dan penyakit kanker otak. Air kepada Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1999,
sungai tempat buangan limbah apabila digunakan tentang pemantauan kualitas udara ambien, selama 24
masyarakat secara terus menerus, gejala penyakit itu biasa jam, dengan interval 1 (satu) jam untuk satu kali
akan tampak setelah bahan beracun terakumulasi dalam sampling.
tubuh manusia. Masyarakat pada umumnya hanya Pengujian dilaboratorium :
mengetahui bahwa pemakaian batubara sebagai bahan Pengujian yang dilakukan adalah terhadap hasil sampling
bakar dapat menimbulkan polutan yang mencemari udara yang telah dilakukan di lapangan dengan menggunakan
berupa CO (karbon monoksida), NOx (oksida-oksida instrument Atomic Absorption Spektrofotometer (AAS).
nitrogen), SOx (oksida-oksida belerang), HC (senyawa- Adapun metode pengujian mengacu kepada SNI 19-

CHURCHIL FEBRION ¹, UJANG SHIROJUL FALAH ² : [ STUDI IDENTIFIKASI PENCEMARAN LOGAM


TIMBAL (Pb) DAN MERKURI (Hg) DI UDARA AMBIEN PADA LOKASI INDUSTRI PENGGUNA
BAHAN BAKAR BATUBARA DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG] 33
ENVIROSAN : VOL.1 NOMOR 1, JUNI 2018 34

HASIL DAN PEMBAHASAN


menggunakan AAS. Sedangkan untuk pengujian mercury
(Hg), mengacu kepada Standard Method APHA-AWWA
– 3500-Hg. Ruang lingkup dalam penelitian ini dibatasi Tabel 4.1 : Data analisa untuk total partikulat /TSP
pada : Wilayah studi berada di kawasan industri tekstil di lokasi Up Wind -1 (UW-01)
pengguna batubara di Kecamatan Majalaya. sampel
berada di kawasan Industri Majalaya, Desa Majalaya, PENG
JENIS
Desa Padaulun – Kecamatan Majalaya. N UKUR
PENGA
Analisis data O AN
MATAN
Data yang diperoleh dari pengujian konsentrasi 1 2 3 4 5 6 7 8
logam berat di hitung berdasarkan rumus Waktu 10. 13. 15. 16. 18. 19,
1 09.30 12.18
berikut : (WIB) 40 58 2 35 40 50
C Pb,Hg = (Ct – Cb) x Vt x S/St Temperat 33, 32, 29, 28, 24, 22,
29,9 34,2
2 ur (0C) 8 8 6 5 7 7
V
Kelembab 49, 48, 53, 53, 68, 77,
57,7 46,9
( ) ] 3 an (%) 0 3 1 7 7 1
Cer Cer Cer Cer Cer Cer
Cerah Cerah
4 Cuaca ah ah ah ah ah ah
Kode Tekanan
70 70 70 70 70 70
Titik Titik Sampel Udara 704,1 702,5
No Kategori 3,7 1,6 1,8 1,9 3,7 4,3
Sampling Koordinat 5 (mmHg)
Flow Rate
2 Titik Jl. Raya LS : 07° HVS
1,0 1,0 1,0 1,0 1,2 1,2 1,2 1,2
tengah Laswi 02’ 58,3” (m3/menit
kawasa Kec. BT : 107° Site - 01 6 )
n Majalaya 44’ 30,3” Kecepatan 0,8 0,9 0,5 0,0 0,1 0,0
0,0 - 0,4 -
7 Angin - - - - - -
Industri . 2,6 0,6
(m/detik) 3,7 1,4 1,3 1,8 0,6 0,6
(Site) Jl. Raya LS : 07° Sel Sel Sel
Laswi 03’01,6” Arah Selatan ata Barat ata
Bar
ata
Bar Bar
Site - 02 at at at
Kec. BT : 107° 8 Angin n n n
Majalaya 44’ 57,7” Berat TSP
1,4 2,4 3,4 2,2 1,4 0,8 1,4 2,6
3 Arah Jl. Idris LS : 07° 9 (mg)
hilir No 99, 03’ 39,6” 1 Konsentrasi
26 44 63 41 21 12 21 39
angin Rancajig BT : 107° DW - 01 0 TSP (µg/m3)
(Down ang,. 44’ 41,9”
Wind) Majalaya Sumber : Hasil Analisis Laboratorium
Jl. Ranca LS : 07°
jigang 03’40,2”
DW - 02
Kec. BT : 107°
Majalaya 45’ 01,9”

CHURCHIL FEBRION ¹, UJANG SHIROJUL FALAH ² : [ STUDI IDENTIFIKASI PENCEMARAN LOGAM


TIMBAL (Pb) DAN MERKURI (Hg) DI UDARA AMBIEN PADA LOKASI INDUSTRI PENGGUNA
BAHAN BAKAR BATUBARA DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG] 34
ENVIROSAN : VOL.1 NOMOR 1, JUNI 2018 35

Rumus Grafik 4.2 : Kadar TSP di titik Up wind -2


Data Simbol Nilai
perhitungan berdasarkan waktu sampling
Kode sampel
Flowrate Grafik Waktu vs Konsentrasi TSP
sampling 1 250 (µg/Nm3)
(L/menit)
Data Lapangan

Lama
sampling t 60 200
(menit)

Konsentrasi TSP µg/Nm3


29,9 = 302,9 T kelvin = T1
Suhu (0C) T1
K + 273 K
150 151
Elevasi (m) h on
Tekanan se
P1 0.926447368 118 nt
(atm) 114
100 104 ra
96 s…
Kadar TSP 83
C1 74
(mg/L)
Berat TSP 1,4 = 1400 50 51 52 56
m 42
(mg) µg 36
29 31
V= 18 24
Volume
(flowrate x
udara pada V1 60 0
lama
Perhitungan

T1 (L)
sampling)
Volume
(P1 x V1)/T1 Waktu sampling (WIB)
udara pada T 54,688 =
V2 = (P2 x
standar 54,6876 m3 Sumber : Analisis berdasarkan MS-Excel
V2)/T2
(250C) (L)
V2 = (P1 x
Grafik 4.3 : Kadar TSP di titik Site 01
V1 x T2)/(T1
x P2)
berdasarkan waktu sampling
Konsentrasi
TSP (µg/m3)
C 26 C = m/V2 250 Konsentrasi TSP
Tabel 4.3 : Rekap data TSP di titik Up Wind-01 (µg/Nm3)
berdasarkan waktu sampling : 200
Sumber : Hasil Perhitungan
150 K
Kosentrasi TSP (µg/Nm3)

o
Grafik 4.1 : Kadar TSP di titik Up wind - 01 berdasarkan n
waktu sampling
100 s
84
e
Grafik Waktu vs Konsentrasi TSP
250 (µg/Nm3) 50 52 n…
43 35
30 2621
16 211319 16
200 114 7 10
Konsentrasi TSP µg/Nm3

0
12.20
15.15
18.05
21.10
00.10
03.00
06.00
09.05

150 150
Kon
124 sent
Waktu Sampling (WIB)
100 106 113 rasi Sumber : Hasil analisis
96
80 TSP
(…
63 63
50 44 41 39 37
26 21 21
12
0
09.30
10.40
12.18
13.58
15.2
16.35
18.40
19,50
21,11
22,36
00.05
01.35
03.05
04.42
06.18
07.42

Waktu sampling (WIB)


Sumber : Analisis berdasarkan MS-Excel

CHURCHIL FEBRION ¹, UJANG SHIROJUL FALAH ² : [ STUDI IDENTIFIKASI PENCEMARAN LOGAM


TIMBAL (Pb) DAN MERKURI (Hg) DI UDARA AMBIEN PADA LOKASI INDUSTRI PENGGUNA
BAHAN BAKAR BATUBARA DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG] 35
ENVIROSAN : VOL.1 NOMOR 1, JUNI 2018 36

Grafik 4.4 : Kadar TSP di titik Site - 02

Kosentrasi TSP (µg/Nm3)


berdasarkan waktu sampling Konsentrasi TSP (µg/Nm3)
350
250
Konsentrasi TSP (µg/Nm3)

308
300
Kosentrasi TSP (µg/Nm3)

200 271
250

223 227 Kon


150 155
sent
Kon 200 202
193 190 rasi
sen 185 TSP
tras 170 172
(µg/
100 99 98 i 150 152 153 Nm
TSP 144
3)
(µg 126
59 /… 103
50 51 52 51 50 100
42 Bak
37 34
27 30 26 u
23 21 59
50 Mut
- u
TSP
09.3012.3015.3018.3021.3000.3003.3006.30
(µg/
0 Nm

09.30
11.00
12.30
14.00
15.30
17.00
18.30
20.00
22.45
00.15
01.50
03.30
04.50
06.20
07.50
09.50
Waktu Sampling (WIB) 3)

Sumber : Hasil analisis Waktu Sampling (WIB)

Grafik 4.5 : Kadar TSP di titik Down Wind - 01


berdasarkan waktu sampling
Sumber : Hasil analisis
Grafik 4.7 : Kadar logam berat di lokasi Up Wind-01
400 Konsentrasi TSP
350
(µg/Nm3) 343 Grafik Konsentrasi Logam Berat vs
Waktu Sampling
Ko di Lokasi Up Wind - 01
300
Kosentrasi TSP (µg/Nm3)

292
274 284 ns 2,50
en
kosentrasi logam berat (µg/m3)

250 243
228 227 tr
212 204 2,00
200 as
189 183 i
150 160 160
141 139 T… 1,50 Konse
ntrasi
100 110 Pb
(µg/N
1,00 0,95 0,96 m3)
Konse
50 0,76 0,79
0,78 ntrasi
0,55 Hg
0 0,50 (µg/N
0,42
0,35 0,33 0,31 m3)
0,22 0,27
0,15
0,14 0,15
0,12
0,00
09.30
10.40
12.18
13.58

16.35
18.40
19.50
21.11
22.36
00.05
01.35
03.05
04.42
06.18
07.42
15.2

Waktu Sampling (WIB)


Sumber : Hasil analisis Waktu sampling (WIB)

Grafik 4.6 : Kadar TSP di titik Down Wind - 02


Sumber : Hasil analisis
berdasarkan waktu sampling

CHURCHIL FEBRION ¹, UJANG SHIROJUL FALAH ² : [ STUDI IDENTIFIKASI PENCEMARAN LOGAM


TIMBAL (Pb) DAN MERKURI (Hg) DI UDARA AMBIEN PADA LOKASI INDUSTRI PENGGUNA
BAHAN BAKAR BATUBARA DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG] 36
ENVIROSAN : VOL.1 NOMOR 1, JUNI 2018 37

Grafik 4.8 : Kadar logam berat di lokasi Up Wind- 4.1.3.1 Kadar logam berat
02 Pb dan Hg di titik Site 02
(Site-02)

Grafik Konsentrasi Grafik 4.9 : Kadar logam berat di lokasi Site-02


Logam Berat vs Waktu Grafik Konsentrasi Logam Berat vs
2,50 Sampling Waktu Sampling
di Lokasi Site - 02
di Lokasi Up Wind -02 2,50
kosentrasi logam berat (µg/m3)

2,00

Kon
2,00
sen

kosentrasi logam berat (µg/m3)


1,50
tras
i Pb Kons
1,00 (µ… 1,50 entra
si Pb
0,77 (µg/
0,62
0,59 Nm3
0,50 )
0,35 0,38 0,310,42
0,32 0,25
1,00
0,22
0,19 0,25 0,18 0,22 Kons
0,00 0,03
0,02 entra
0,65 0,65 si Hg
02.40
09.10
11.50
14.50
17.50
20.40
23.40

05.40

0,55 0,53 (µg/


0,50 0,47 0,46 Nm3
0,45
0,35 0,33 0,38 )
Waktu sampling (WIB) 0,32 0,30
0,29
0,24
0,23
0,17
Sumber : Hasil analisis
0,00
Grafik 4.8 : Kadar logam berat di lokasi Site-01
09.30
11.00
12.30
14.00
15.30
17.00
18.30
20.00
22.45
00.15
01.50
03.30
04.50
06.20
07.50
09.50
Waktu sampling (WIB)
Grafik Konsentrasi Logam Berat vs
Waktu Sampling
di Lokasi Site 01
2,50

Sumber : Hasil analisis

2,00
kosentrasi logam berat (µg/m3)

K
on
1,50 se
ntr
asi
Pb

1,00 g/
N
m
3)
0,50 0,54

0,31 0,30
0,23 0,27
0,20
0,26
0,13 0,17
0,09 0,09
0,08 0,12
0,08 0,09
0,00 0,02

Waktu sampling (WIB)

Sumber : Hasil analisis

CHURCHIL FEBRION ¹, UJANG SHIROJUL FALAH ² : [ STUDI IDENTIFIKASI PENCEMARAN LOGAM


TIMBAL (Pb) DAN MERKURI (Hg) DI UDARA AMBIEN PADA LOKASI INDUSTRI PENGGUNA
BAHAN BAKAR BATUBARA DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG] 37
ENVIROSAN : VOL.1 NOMOR 1, JUNI 2018 38

Grafik 4.10 : Kadar logam berat di lokasi Down


Wind - 01 Grafik Konsentrasi Logam Berat
vs Waktu Sampling
di Lokasi Down Wind -02
8,00
Rata Rata Rata
Nama rata Rata rata 7,00 7,07
No
Lokasi TSP Pb Hg

kosentrasi logam berat (µg/m3)


(µg/m3) (µg/m3) (µg/m3) 6,00 6,02
Up
wind -
5,00
1 01 65 0.45 0.04
4,55
Up
4,00 4,07
wind -
K
2 02 68 0.36 0.04 o
3,24
Site - 3,00 2,98 3,10 ns
3 01 25 0.19 0.02 2,49 en
2,33 tr
Site - 2,00 2,00 2,10
as
4 02 54 0.43 0.04 1,62 1,47
1,65 i
Down 1,32 P…
1,00 1,08
wind -
5 01 212 8.8 0.16
0,00
Down
wind -
6 2 180 2.94 0.17
Baku Waktu sampling (WIB)
7 mutu 230 2 -

Grafik Konsentrasi Logam Berat vs Waktu Grafik 4.11 : Kadar logam berat di lokasi Down
Sampling Wind - 02
di Lokasi Down Wind -01
80,00 Tabel 4.21 1 = Very Unstable
74,43
: Kadar logam berat : 4 2 = Moderately Unstable
70,00
kosentrasi logam berat (µg/m3)

Atmospheric
Konse
Condition ntrasi
60,00
Category Pb 3 = Slight unstable
(µg/N
50,00 m3)
Konse
40,00 ntrasi
Hg
Grafik 4.14 : Dispersi partikulat PT. Serayu Jaya
33,72
30,00 (µg/N
m3)

20,00 Baku
mutu 3D Plot
Pb
10,00 (µg/N
8,10 Concentr
4,27 m3) ation
2,36
1,48 2,60
1,50 1,85
1,53
1,32
0,90 2,60
2,52
0,00 0,86 0,74 1000

500-
Wind
500 1000
velocity
Waktu sampling (WIB) 1
0-
0 500
15
1,5
0,2
0

Sumber : Hasil analisis

Distance downwind

CHURCHIL FEBRION ¹, UJANG SHIROJUL FALAH ² : [ STUDI IDENTIFIKASI PENCEMARAN LOGAM


TIMBAL (Pb) DAN MERKURI (Hg) DI UDARA AMBIEN PADA LOKASI INDUSTRI PENGGUNA
BAHAN BAKAR BATUBARA DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG] 38
ENVIROSAN : VOL.1 NOMOR 1, JUNI 2018 39

parrtikulat dari kegiatan transportasi, sebab yang


dipantau adalah kualitas udara ambien yang terpapar
oleh emisi industri pengguna batubara.
DIFFUSION OF POINT-
SOURCE POLLUTION Pelaksanaan sampling udara dilakukan pada 6 (enam)
USING A GAUSSIAN lokasi berbeda dengan katogeri : 2 (dua) titik arah hulu
1000 DISTRIBUTION angin (up wind); 2 (dua) titik kawasan industri (site); 2
900
(dua) titik arah hilir angin (down wind), hal ini
Concentration (mmg/m3)

800 dimaksudkan agar diperolehnya data yang valid dan


700 representatif, mengingat udara sebagai fluida bereda
600
dengan air sifatnya. Pola dispersi polutan di udara
ambien dipengaruhi oleh aspek geografis, klimatologis
500
dan meteorologis setempat (Endrayana Putut, - ITS ,
400 2010).
300 Menurut Snell (1981) dan Ross (1972) potensi
pencemaran udara dari kegiatan pembakaran batubara
200
untuk 190 juta ton akan mengemisikan polutan
100
(partikulat, NOx,SOx) sebesar 2,3 juta ton (1,21%),
0 sejalan dengan ini, untuk konsumsi batubara di majalaya
sebesar 17760 ton/bln (BPLH Kab. Bandung, 2012)
Distance from source (km) dapat diprediksi jumlah polutan untuk kawasan tersebut
sebesar 215 ton/bln. Adapun batubara (feed) yang
Sumber : Surfer 9.0 digunakan adalah kelas menengah ke bawah dengan nilai
kalori <5250Kkal/kg (lignite B, ASTM, spesifications for
Gambar 4.3 : Peta lokasi sampling emisi PT. solid fuel). Berdasarkan artikel yang diterbitkan oleh
Serayu Jaya dan Kontur Isopleth Departemen Teknologi Informasi Unitomo bahwa dari
pembakaran batubara untuk PLTU berkapasitas 1.000
MW abu 320.000 ton yang mengandung 400 ton racun
logam berat, seperti arsenik, kadmium, merkuri, dan
timah. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Pustekmira Bandung bahwa dari abu batubara
terkandung Pb sebesar 37,6 mg/L (industri kimia), 24,8
mg/L (industri tekstil) dan 31,9 mg/L (power plant) . atas
dasar tersebut, pada penelitian ini dihasilkan data sebagai
berikut nilai TSP tertinggi 151 µg/m3, kadar Pb : 0,77
µg/m3 dan kadar Hg 0,08 µg/m3. Lokasi up wind 2 ini ke
arah hulunya belum ada kegiatan industri dan masih
Sumber : Google Earth dan Surfer 9,0 didominasi dengan kegiatan pertanian. Lokasi site-01
PEMBAHASAN dan site 02 berada di kawasan industri dengan selisih
jarak diantara keduanya adalah ± 400 m, yang berada di
Prinsip penentuan lokasi pengambilan contoh udara sekitar kawasan industri tekstil majalaya, sepanjang jalan
ambien dalam penelitian ini mengacu kepada SNI 19- Laswi – Majalaya. Pada lokasi site-01 nilai TSP tertinggi
7119.6-2005, yang perlu diperhatikan adalah bahwa data adalah 84, kadar Pb: 54 µg/m3 , kadar Hg : 0,08 µg/m3,
yang diperoleh harus dapat mewakili daerah yang sedang sedangkan pada lokasi site-02 nilai TSP tertinggi adalah
dipantau, dan memenuhi persyaratan sebagai lokasi studi. 155, kadar Pb: 0,65 µg/m3 , kadar Hg : 0,08 µg/m3.
adapun persyaratan lokasi tersebut diantaranya : Berdasarkan data hasil penelitian di atas, untuk
a. Area / lokasi sampling terbuka dan tidak terhalangi parameter TSP, Pb dan Hg masih berada di bawah baku
oleh bangunan tinggi atau pepohonan yang dapat mutu kualitas udara ambien, hal ini dimungkinkan karena
merubah konsentrasi polutan karena terjadi dispersi partikulat di lokasi tersebut terbawa angin dan
absorpsi/adsorpsi konsentrasi. menuju arah down wind (hilir angin), sehingga tingkat
b. Lokasi sampling terhindar dari gangguan fisika pencemaran kearah down wind akan semakin besar.
yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran, Lokasi down wind – 01 dan – 02 berada sekira 1,2 Km
misalnya dekat incenerator domestik maupun ke arah selatan kawasan industri, dengan selisih jarak
komersial serta gangguan listrik akibat jaringan antara keduanya ± 0,4 Km. Untuk lokasi down wind 01,
listrik tegangan tinggi (sutet) diperoleh kadar TSP tertinggi (pukul 04.50 WIB) adalah
c. Untuk pemantauan kualitas udara ambien jarak 343 µg/m3, kadar Pb: 74,43 µg/m3, kadar Hg : 0,32
minimal dari ruas jalan raya adalah 15 meter, µg/m3, sedangkan pada lokasi down wind - 02 nilai TSP
dengan tujuan untuk menghindari penambahan
CHURCHIL FEBRION ¹, UJANG SHIROJUL FALAH ² : [ STUDI IDENTIFIKASI PENCEMARAN LOGAM
TIMBAL (Pb) DAN MERKURI (Hg) DI UDARA AMBIEN PADA LOKASI INDUSTRI PENGGUNA
BAHAN BAKAR BATUBARA DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG] 39
ENVIROSAN : VOL.1 NOMOR 1, JUNI 2018 40

tertinggi (pukul 03.30 WIB) adalah 308, kadar Pb: 6,02 merkuri (Hg) dari ketiga lokasi penelitian sudah
µg/m3 , kadar Hg : 0,24 µg/m3. Tingginya nilai TSP terdeteksi keberadaannya, namun belum ada baku mutu
dilokasi down wind ini disebabkan dispersi partikulat yang mempersyaratkan nilainya. Nilai rata-rata kadar
dari kawasan industri penggun batubara. Hal ini sejalan merkuri (Hg) adalah sebagai berikut : up wind 0,04
dengan jurnal penelitian yang ditulis oleh John G. µg/m3; site 0,03 µg/m3 ; down wind 0.17 µg/m3 .
Farmer, Lorna J Eades dan Margaret C.Graham (1999) Disimpulkan bahwa tingkat pencemaran udara di
pada “The Lead Content and Isotopic Composition Of kawasan industri Majalaya pengguna batubara dalam
British Coal and Their Implication for past and Present, kondisi tercemar sedang dimana kadar partikulat (TSP),
Release of Lead to The UK Environment” yang yaitu rata-rata 212 dan 180 µg/m3 telah mendekati nilai
menyatakan bahwa terdapat konsentrasi timbal (Pb) yang baku mutu untuk parameter partikulat sebesar 230 µg/m3
signifikan, pada lingkungan di Inggris Raya, yang Dari segi ekonomi, konversi bahan bakar minyak (bbm)
disebabkan oleh industri pengguna batubara dan ke batubara untuk kalangan industri di kawasan industri
penggunaan bensin yang mengandung timbal (Pb). Nilai Majalaya membawa angin segar bagi pengusaha, dimana
TSP tertinggi berada pada pada pukul 03.30 WIB, hal ini harganya relatif murah dan terjangkau, tetapi dapat
disebabkan karena rendahnya suhu dan tingginya membawa dampak yang buruk terhadap lingkungan,
kelembapan pada jam tersebut, dimana partikulat yang khususnya pencemaran udara dimana nilai total
diemisikan pada siang hari akan menuju angkasa dan partikulat (TSP) dan logam berat berat(Pb/Hg) yang
terakumulasi dilapisan atmosfer terbawah (stratosfer), tinggi akan menurunkan kualitas lingkungan di wilayah
seiring dengan menurunya suhu dan meningkatnya tersebut.
kelembaban, maka partikulat tersebut akan turun kembali Debu batubara mengandung zat-zat kimia yang dapat
ke bumi, sehingga nilai TSP pada, malam hari akan lebih mengakibatkan terjadinya penyakit paru-paru, Untuk
besar daripada siang hari. Untuk mendukung validitas lebih memperdalam dampak- /pengaruh logam berat
pengukuran, penulis menggunakan data sekunder dari terhadap kesehatan masyarakat, perlu kiranya dilakukan
emisi cerobong industri (PT. Serayu Jaya), dan penelitian lanjutan khususnya pemeriksaan kesehatan
menggunakan pendekatan dispersi gausssian, software bagi karyawan / operator boiler batubara maupun
surfer 9.0, dimana dari tabel 4.1.5.2 diperoleh data masyarakat sekitar kawasan industri pengguna batubara.
bahwa pada distribusi partikulat tertinggi akan berada
pada jarak 250 m dari sumber (source) polutan yaitu DAFTAR PUSTAKA
195,3 µg/m3. Apabila dibandingkan dengan pengukuran
partikulat pada site 02 : 155 µg/m3, maka nilai ini
mendekati teori dispersi gaussian. Penelitian kadar Zannaria N.D, (2008), Studi Karakteristik Kimia
logam berat timbal (Pb) dan merkuri (Hg) dari udara Paparan Partikulat Terspirasi di kota Bandung,
ambien di lokasi kawasan industri pengguna batubara ini Tesis Program Magister Teknik Lingkungan,
Institu Teknologi Bandung.
dilakukan dengan metode sesaat (grab sampling)
sehingga belum dapat dijadikan acuan bahwa hasil Sutra, D.E, (2009), Analisis Paparan Debu Terespirasi
penelitian ini menggambarkan kondisi pencemaran yang di Penambangan Kapur Padalarang- Jawa
sesungguhnya, melainkan hanya gambaran sesaat pada Barat, Tugas Akhir Strata Satu, Universitas
waktu sampling dilakukan. Untuk mengetahui kondisi Indonesia, diunduh pada 21 Juni 2013
yang mendekati sebenarnya, perlu dilakukan pemantauan
Mukono (1997), Pencemaran Udara dan Pengaruhnya
terhadap kualitas udara ambien di wilayah studi paling
Terhadap Gangguan Saluran Pernafasan.
sedikit 5 – 10 tahun, sehingga kecenderungan perubahan
kondisi lingkungan dapat terlihat dengan jelas. Fardiaz, (1992), Polusi Air dan Udara

Soedomo, (2000), Pencemaran Udara


KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian studi identifikasi BPLH Kabupaten Bandung (2011), Laporan Status
Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Bandung,
pencemaran logam timbal (Pb) dan merkuri (Hg) di
Buku jilid 1 dan 2.
udara ambien pada lokasi industri pengguna bahan bakar
batubara di kawasan industri Majalaya Kabupaten SNI 19-7119.3-2005, Cara Uji Partikel Tersuspensi
Bandung dapat diambil kesimpulan bahwa : kualitas Total Menggunakan Peralatan High Volume Air
udara ambien di arah hilir angin (down wind) telah Sampler (HVAS) dengan Metoda Gravimetri.
tercemar oleh logam berat dengan rata rata kandungan
timbal (Pb) 5,87 µg/m3 sedangkan untuk lokasi arah SNI 19-7119.6-2005, Penentuan Lokasi Pengambilan
Contoh Uji Pemantauan Kualitas Udara Ambien.
hulu angin (up wind) adalah 0,41 µg/m3 dan dilokasi
industri (site) adalah 0,31 µg/m3 masih dibawah baku SNI 19-7119.4-2005, Cara Uji Kadar Timbal (Pb)
mutu yang dipersyaratkan oleh Peraturan Pemerintah No Dengan Metoda Destruksi Basah Menggunakan
41 tahun 1999 sebesar 2,0 µg/m3. Untuk logam berat Spektrofotometer Serapan Atom.

CHURCHIL FEBRION ¹, UJANG SHIROJUL FALAH ² : [ STUDI IDENTIFIKASI PENCEMARAN LOGAM


TIMBAL (Pb) DAN MERKURI (Hg) DI UDARA AMBIEN PADA LOKASI INDUSTRI PENGGUNA
BAHAN BAKAR BATUBARA DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG] 40
ENVIROSAN : VOL.1 NOMOR 1, JUNI 2018 41

SNI 19-7119.6-2005, Penentuan Lokasi Pengambilan


Contoh Uji Pemantauan Kualitas Udara Ambien.

Lenore S.Clesceri et al. “Standard Methods for the


th
Examination of Water and Waste Water”, 20
Edition, 1998, Methode 3500-Hg ( Determination
of Mercury by Atomic Absorption
Spectrophotometer)

John G. Farmer, Lorna J Eades and Margaret C.Graham


(1999), The Lead Content and Isotopic
Composition Of British Coal and Their
Implication for past and Present, Release of Lead
to The UK Environment, diunduh pada 20
Nopember 2013

CHURCHIL FEBRION ¹, UJANG SHIROJUL FALAH ² : [ STUDI IDENTIFIKASI PENCEMARAN LOGAM


TIMBAL (Pb) DAN MERKURI (Hg) DI UDARA AMBIEN PADA LOKASI INDUSTRI PENGGUNA
BAHAN BAKAR BATUBARA DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG] 41