Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS


(ANAK BERBAKAT)
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Matakuliah Pendidikan
Anak Berkebutuhan Khusus
Dosen Pengampu Matakuliah: Aditia Eska Wardana, M.Pd.

Disusun Oleh:

Kelompok

Gita Widia H 1631611046


Silfa Fatmawati 1631611053
Gisha Restu Rillah 1631611063
Ika Mei Oktaviani 1631611066
Nur Anisa 1631611071
Yusi Yulistiani 15316110

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUKABUMI
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjakan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat
beliaulah kami dapat menyelesaikan makalah ini. Berdasarkan mata kuliah yang kami ampu,
makalah ini kamu beri judul ” Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (Anak Berbakat)”.
Dalam proses pembelajaran anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................

DAFTAR ISI...................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................

A. Latar Belakang ...................................................................................

B. Rumusan Masalah ..............................................................................

C. Tujuan .................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN

A. Hakikat Anak Berbakat dan Keberbakatan ..................................


B. Karakteristik Anak Bebakat ............................................................
C. Klasifikasi Anak Berbakat ...............................................................
D. Penyebab Anak Memeiliki Keberbakatan/ Anak Berbakat ..........
E. Layanan Pendidikan Bagi Anak Berbakat .....................................
F. Permasalahan yang dialami Anak Berbakat ..................................

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan .........................................................................................

B. Saran....................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap individu yang dilahirkan ke dunia memiliki perbedaan kemampuan atau
potensi yang berbeda walaupun beberapa diantaranya memiliki persamaan dalam hal-
hal tertentu. Dalam proses pembelajaran individu-individu yang memiliki perbedaan
tersebut berkumpul menjadi satu. Selama proses pendidikan akan terlihat anatara
individu atau anak didik yang memiliki kemampuan normal dan anak didik yang
memiliki kemampuan diatas rata-rata atau disebut dengan anak berbakat. makalah ini
akan dibahas mengenai anak yang memiliki kemampuan diatas rata-rata atau anak yang
berbakat.
Kecerdasan istimewa dan bakat istimewa merupakan kategori yang termasuk
kedalam pendidikan luar biasa. Kesulitan belajar merupakan suatu keadaan dalam
proses belajar mengajar dimana anak tidak dapat belajar sebagaimana mestinya.
Kesulitan belajar pada dasarnya adalah suatu gejala yang nampak dalam berbagai
maninvestasi tingkah laku, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kesulitan
belajar anak tentu saja tidak boleh di diamkan begitu saja karena hal ini sangat
menghambat anak dalam memperoleh prestasi selain itu apabila hal ini di diamkan ini
akan lebih menghambat anak untuk belajar ke depannya.
Kesulitan dalam belajar dapat disebabkan karena beberapa faktor, yaitu faktor
internal (diri anak) dan juga faktor eksternal (dari luar). Faktor internal ini bisa
disebabkan karena anak mempunyai perbedaan dengan anak yang lainnya dan sering
juga disebut anak dengan kebutuhan khusus. Dalam hal ini kebutuhan khusus bukan
berarti anak mempunyai kekurangan saja. Anak yang memiliki kecerdasan diatas rata-
rata atau anak berbakat juga termasuk anak yang berkebutuhan khusus atau sering
disebut dengan anak Gifted atau anak Superior.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu hakikat anak berbakat dan keberbakatan?
2. Apa saja karakteristik anak berbakat?
3. Apa saja klasifikasi anak berbakat?
4. Apa penyebab anak memiliki keberbakatan?
5. Apa saja layanan pendidikan bagi anak berbakat?
6. Apa saja permasalahan yang dialami oleh anak berbakat?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakikat Anak Berbakat dan Keberbakatan


Anak berbakat dan keberbakatan dapat diartikan berdasarkan dua hal, yaitu pengertian
berdasarkan pendekatan dengan faktor tunggal (berpatokan pada IQ) atau pengertian
berdasarkan pendekatan dengan faktor jamak (bersifat multidimensi). Menurut Terman dalam
Bandi Delphie pengertian berbakat atau keberbakatan adalah anak yang memiliki intelegensi
tinggi yang sifatnya genetis/keturunan. Sedangkan pengertian anak berbakat dan keberbakatan
berdasarkan faktor jamak adalah anak yang tidak semata-mata ditentukan oleh faktor genetis,
tetapi juga hasil perpaduan faktor lingkungan. Dalam pengertian lain (Milgram, R. M.)
(1991:10) anak berbakat adalah mereka yang memiliki skor IQ 140 atau lebih (Terman) diukur
dengan instrument stanford binet (Guilford) Mempunyai kreativitas tinggi, kemampuan
memimpin dan kemampuan dalam seni drama, seni musik, seni tari, dan seni rupa
(Marland,1972).
Selain hal di atas, penjelasan mengenai anak berbakat juga dapat dijelaskan bahwa anak
berbakat adalah mereka yang mampu mencapai prestasi tinggi, yang disebabkan karena
kemampuan-kemampuan yang unggul pada diri individu (dalam Nia Sutisna). Berdasarkan
pernyataan tersebut juga dapat dipahami bahwa keberbakatan seseorang merupakan
kemampuan yang dibawa sejak lahir secara alamiah. Sedangkan factor lingkungan hanya
sebagai wadah atau wahana yang menunjang berkembanganya keberbakatan anak, sehingga
anak berbakat sangat berperan didalamnya. Prestasi yang tinggi, kemampuan yang unggul
dihasilkan dari proses interaksi yang terjadi secara terus-menerus, secara fungsional antara
kemampuan, bakat, karakteristik individu yang dibawa sejak lahir dan yang didapat dari
interaksi dengan lingkungannya dimana individu itu berada.Berbakat atau keberbakatan
memiliki berbagai macam istilah seperti gifted, superior, genius, fast, learner, bright, talend,
unggul, istimmewa, cerdas, berbakat, anak yang kreatif dan sebagainya.
Berbeda dengan yang dikemukakan oleh Terman dan Guilford, kali ini secara konsep
anak berbakat terbagi menjadi anak berbakat yang umum dan khusus. Anak berbakat yang
umum ditunjukkan dengan kemampuan dalam kecerdasannya diatas rata-rata. Anak berbakat
yang umum terindikasi oleh intelegensi yang tinggi dan menumpukkan prestasi di sekolah yang
sangat menonjol. Sedangkan anak berbakat khusus terindikasi unggul pada tes prestasi atau tes
bakat dalam satu bidang atau lebih, seperti fisika, sains, dan sebagainya.
B. Karakteristik Anak Berbakat
Berbagai macam penjelasan mngenai pengertian anak berbakat berikut ini adalah
kategori atau karakteristik yang dimiliki anak berbakat dalam Bandi Delphie 2006
(Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus:139) antara lain:
1. Mempunyai kemampuan intelektual atau mempunyai intelegensi yang menyeluruh,
mengacu pada kemampuan berpikir secara abstrak dan mampu memecahkan masalah
secara sistematis dan masuka akal. Kemampuan ini dapat diukur pada anak maupun
orang dewasa dengan tes psikometrik berkaitan dengan prestasi umumnya dinyatakan
dengan skor IQ.
2. Kemampuan intelektual khusus, mengacu pada kemampuan yang berbeda dalam
matematika, bahasa asing, music, atau ilmu pengetahuan alam.
3. Berpikir kreatif atau berpikir murni menyeluruh. Umumnya mampu berpikir untuk
memecahkan permasalahan yang tidak umum dan memerlukan pemikiran tinggi.
Pikiran kreatif menghasilkan ide-ide yang produktif melalui imajinasi, kepintarannya,
keluwesannya, dan bersifat menakjubkan.
4. Mempunyai bakat kreatif khusus, bersifat orisinil dan berbeda dengan oranglain.

Dari keempat kategori anak berbakat yang telah dikemukakan diatas, maka anak
berbakat adalah mereka yang mempunyai kemampuan-kemmpuan yang unggul dalam segi :
inteektual, teknik, estetika, akademik, social, fisik,, psikomotor, dan psikososial.

C. Klasifikasi Anak Berbakat


Anak yang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata dapat diklasifikasikan menjadi tiga
kelompok, seperti dikemukakan oleh Sutratinah Tirtonegoro (1984; 29) yaitu; Superior, Gifted
dan Genius. Ketiga kelompok anak tersebut memiliki peringkat ketinggian intellegnsi yang
berbeda.
1. Genius
Genius ialah anak yang memiliki kecerdasan luar biasa, sehingga dapat
menciptakan sesuatu yang sangat tinggi nilainya. Intelligence Quotien-nya (IQ)
berkisar antara 140 sampai 200. Anak genius memiliki sifat-sifat positif sebagai
berikut; daya abstraksinya baik sekali, mempunyai banyak ide, sangat kritis, sangat
kreatif, suka menganalisis, dan sebagainya. Di samping memiliki sifat-sifat positif juga
memiliki sifat negatif, diantaranya; cenderung hanya mementingkan dirinya sendiri
(egois), temperamennya tinggi sehingga cepat bereaksi (emosional), tidak mudah
bergaul, senang menyendiri karena sibuk melakukan penelitian, dan tidak mudah
menerima pendapat orang lain.
2. Gifted
Anak ini disebut juga gifted and talented adalah anak yang tingkat
kecerdasannya (IQ) antara 125 sampai dengan 140. Di samping memiliki IQ tinggi,
juga bakatnya yang sangat menonjol, seperti ; bakat seni musik, drama, dan ahli dalam
memimpin masyarakat. Anak gifted diantaranya memiliki karakteristik; mempunyai
perhatian terhadap sains, serba ingin tahu, imajinasinya kuat, senang membaca, dan
senang akan koleksi.
3. Superior
Anak superior tingkat kecerdasannya berkisar antara 110 sampai dengan 125
sehingga prestasi belajarnya cukup tinggi. Anak superior memiliki karakteristik sebagai
berikut; dapat berbicara lebih dini, dapat membaca lebih awal, dapat mengerjakan
pekerjaan sekolah dengan mudah dan dapat perhatian dari teman-temannya. James H.
Bryan and Tanis H. Bryan (1979; 302) mengemukakan bahwa karakteristik anak
berbakat itu (gifted) meliputi; physical, personal, and social characteristics. Pada
Intinya bahwa anak berbakat memiliki kemampuan yang tinggi jika dibandingkan
dengan anak-anak pada umumnya.
Hasil studi lain menemukan bahwa “Anak-anak berbakat memiliki karakteristik
belajar yang berbeda dengan anak-anak normal. Mereka cenderung memiliki kelebihan
menonjol dalam kosa kata dan menggunakannya secara luwes, memiliki informasi yang
kaya, cepat dalam menguasai bahan pelajaran, cepat dalam memahami hubungan antar
fakta, mudah memahami dalil-dalil dan formulaformula, tajam kemampuan
analisisnya, membaca banyak bahan bacaan (gemar membaca), peka terhadap situasi
yang terjadi di sekelilingnya, kritis dan memiliki rasa ingin yang sangat besar”
(Renzuli, 1979, Fahrle dkk.; 1985, Galagher, 1985, Maker; 1982) dalam Nandi
Warnandi.

D. Penyebab Anak Memiliki Keberbakatan/ Anak Berbakat

Definisi menurut USOE (United States Office of Education), anak berbakat adalah anak
yang dapat membuktikan kemampuan berprestasinya yang tinggi dalam bidang-bidang seperti
intelektual, kreatif, artistik, kapasitas kepemimpinan atau akademik spesifik dan mereka yang
membutuhkan pelayanan atau aktivitas yang tidak sama dengan yang disediakan di sekolah
sehubungan dengan penemuan kemampuan-kemampuannya (Hawadi, 2002).
Keterbakatan anak dipengaruhi faktor-faktor berikut:
1. Faktor Hereditas
Hereditas adalah faktor yang diwariskan dari orang tua, meliputi kecerdasan, kreatif
produktif, kemampuan memimpin, kemampuan seni dan psikomotor. Dalam diri seseorang
telah ditentukan adanya faktor bawaan yang ada setiap orang, dan bakat bawaan tersebut juga
berbeda setiap orangnya. U. Branfenbrenner dan Scarr Salaptek menyatakan secara tegas
bahwa sekarang tidak ada kesangsian mengenai faktor genetika mempunyai andil yang besar
terhadap kemampuan mental seseorang.
Namun demikian faktor biologis juga tidak dapat diingkari, faktor biologis yang belum
bersifat genetik yang berpengaruh pada intelegensi adalah faktor gizi dan neurologik.
Kekurangan nutrisi dan gangguan neurologik pada masa kecil dapat menyebabkan
keterbelakangan mental. Studi dari Terman terhadap orang-orang yang memiliki IQ tinggi
menunjukkan keunggulan fisik seperti: tinggi, berat, daya tarik dan kesehatan, dibandingkan
mereka yang intelegensinya lebih rendah.

2. Faktor Lingkungan

Stimulasi, kesempatan, harapan, tuntutan, dan imbalan akan berpengaruh pada proses
belajar seorang anak. Penelitian tentang individu-individu berbakat yang sukses menunjukkan
masa kecil mereka di dalam keluarga memiliki keadaan sebagai berikut:
1. Adanya minat pribadi dari orang tua terhadap bakat anak dan memberikan dorongan
Orangtua sebagai panutan
2. Ada dorongan dari orangtua untuk menjelajah
3. Pengajaran bersifat informal dan terjadi dalam berbagai situasi, proses belajar awal
lebih bersifat eksplorasi dan bermain
4. Keluarga berinteraksi dengan tutor/mentor
5. Ada perilaku-perilaku dan nilai yang diharapkan berkaitan dengan bakat anak dalam
keluarga
6. Orangtua menjadi pengamat latihan-latihan, memberi pengarahan bila diperlukan,
memberikan pengukuran pada perilaku anak yang dilakuakn dengan terpuji dan
memenuhi standard yang ditetapkan
7. Orangtua mencarikan instruktur dan guru khusus bagi anak
8. Orantua mendorong keikutsertaan anak dalam berbagai acara positif di mana
kemampuan anak dipertunjukkan pada khalayak ramai
Anak-anak yang disadari memiliki potensi perlu dikembangkan, perlu memiliki keluarga yang
penuh rangsangan, pengarahan, dorongan, dan imbalan-imbalan untuk kemampuan mereka.
Penelitian lain menunjukkan bahwa kelompok budaya atau etnik-etnik tertentu
menghasilkan lebih banyak anak-anak berbakat walaupun tingkat sosial ekonominya berbeda.
Hal ini dikaitkan dengan mobilitas sosial dan nilai yang tinggi pada prestasi di dalam bidang-
bidang tertentu yang ada dalam kelompok budaya dan etnik tertentu yang menjadi kontribusi
dalam keberbakatan. Jadi lingkungan memiliki pengaruh yang banyak terkait bagaimana
genetik anak diekspresikan dalam kesehariannya. Faktor keturunan lebih menentukan rentang
dimana seseorang akan berfungsi, dan faktor lingkungan menentukan apakah individu akan
berfungsi pada pencapaian lebih rendah atau lebih tinggi dari rentang tersebut.

E. Layanan Pendidikan Bagi Anak Berbakat


1. Kurikulum

Selain masalah kriteria dan prosedur identifikasi, perhatian khusus kepada anak
berbakat melibatkan beberapa dimensi lain, seperti dikemukakan oleh Dedi Supriadi (1992;
11) yaitu; “Perancangan kurikulum, penyediaan sarana pembelajarannya, model perlakuannya,
kerjasama dengan keluarga dan pihak luar, serta model bimbingan dan konselingnya”.
Kurikulum berdiferensiasi bagi anak berbakat mengacu pada penanjakan kehidupan
mental melalui berbagai program yang akan menumbuhkan kreativitasnya serta mencakup
berbagai pengalaman belajar intelektual pada tingkat tinggi. Dilihat dari kebutuhan
perkembangan anak berbakat, maka kurikulum berdiferensiasi memperhatikan perbedaaan
kualitatif individu berbakat dari manusia lainnya. Dalam kurikulum berdiferensiasi terjadi
penggemukan materi, artinya materi kurikulum diperluas atau diperdalam tanpa menjadi lebih
banyak. Secara kualitatif materi pelajaran berubah daalam penggemukan beberapa konsep
esensial dari kurikulum umum sesuai dengan tuntutan bakat, perilaku, keterampilan dan
pengetahuan serta sifat luar biasa anak berbakat.
Dengan demikian, kurikulum pendidikan seyogyanya bisa mengakomodasi dimensi
vertikal maupun horisontal pendidikan anak. Secara vertikal, anak-anak berbakat harus
dimungkinkan untuk menyelesaikannya pendidikannya lebih cepat. Secara horisontal,
disediakan program pengayaan (enrichment), dimana siswa berbakat dimungkinkan untuk
menerima materi tambahan, baik dengan tugas-tugas maupun sumber-sumber belajar
tambahan, baik dengan tugas-tugas maupun sumber-sumber belajar tambahan.

2. Model Pembelajaran
Untuk layanan pendidikan terhadap anak berbakat ini ada beberapa model yang dapat
digunakan, yaitu; pengayaan, percepatan, dan segregasi. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh
Philip E. Veron (1979; 142) sebagai berikut; “Acceleration, segregation, and enrichment”.
Sedangkan David G. Amstrong and Tom V. Savage (19883; 327) mengemukakan dua model,
yaitu; “Enrichment and acceleration”. Penjelasan dari mode-model di atas adalah sebagai
berikut :
1. Pengayaan (enrichment)
Dalam model enrichment ini anak mendapatkan pembelajaran tambahan sebagai
pengayaan. Pengayaan ini dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu sebagai berikut :
a. Secara vertikal;
Cara ini untuk memperdalam salah satu atau sekelompok mata pelajaran tertentu.
Anak diberi kesempatan untuk aktif memperdalam ilmu Pengetahuan yang
disenangi, sehingga menguasai materi pelajaran secara luas dan mendalam.
b. Secara horizontal;
Anak diberi kesempatan untuk memperluas pengetahuan dengan tambahan atau
pengayaan yang berhubungan dengan pelajaran yang sedang dipelajari.
2. Percepatan (scceleration)
Secara konvensional bagi anak yang memiliki kemampuan superior dipromosikan
untuk naik kelas lebih awal dari biasanya. Dalam percepatan ini ada beberapa cara yang
dapat dilakukan, yaitu sebagai berikut :
a. Masuk sekolah lebih awal/sebelum waktunya (early admission), misalnya sebelum
usia 6 tahun, dengan catatan bahwa anak sudah matang untuk masuk Sekolah Dasar.
b. Loncat kelas (grade skipping) atau skipping class, misalnya karena kemampuannya
luar biasa pada salah satu kelas, maka langsung dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi
satu tingkat (dari kelas satu langsung ke kelas tiga).
c. Penambahan pelajaran dari tingkatan di atasnya, sehingga dapat menyelesaikan
materi pelajaran lebih awal.
d. Maju berkelanjutan tanpa adanya tingkatan kelas. Dalam hal ini sekolah tidak
mengenal tingkatan, tetapi menggunakan sistem kredit. Ini berarti anak berbakat
dapat maju terus sesuai dengan kemampuannya tanpa menunggu teman-teman yang
lainnya.
3. Segregasi
Anak-anak berbakat dikelompokkan ke dalam satu kelompok yang disebut “ability
grouping” dan diberi kesempatan untuk memperoleh pengalaman belajar yang sesuai
dengan potensinya. Mengenai sistem penyelenggaraan pendidikan, selain yang telah
dikemukakan di atas, ada beberapa sistem dalam pendidikan bagi anak berbakat, yaitu;
Sekolah khusus, Kelas khuus, dan Terintegrasi dalam kelas regular atau normal dengan
perlakukan khusus. Model pertama dan ke dua nampaknya banyak mengundang kritik,
karena cenderung eksklusif dan elit, sehingga bisa menimbulkan kecemburuan sosial.
Kedua sistem ini hanya bisa dilakukan untuk bidang-bidang tertenu saja.
Model yang kini populer adalah sistem dimana anak-anak berbakat diintegrasikan
dalam kelas reguler atau normal. Cara ini mempunyai banyak keuntungan bagi
perkembangan psikologis dan sosial anak. Hal yang menyulitkan adalah bagaimanakah
perhatian diberikan secara berbeda melalui apa yang disebut “pengajaran yang
diindividualisasikan”, yaitu settingnya kelas tetapi perhatian diberikan kepada individu
anak. Konsekwensinya perlu kurikulum yang fleksibel, yaitu kurikulum yang
berdiferensiasi, yang bisa mengakomodasi anak-anak biasadan anak berbakat.
Pada dasarnya penyelenggaraan pendidikan anak berbakat menyangkut bagaimana
anak-anak diperlakukan di sekolah melalui sistem pengelompokkan. Sistem
pengelompokkan bermacam-macam, tetapi intinya ada dua, yaitu pengelompokkan
homogen dan heterogen. Dasar pengelompokkan bisa berupa jenis kelamin, tingkat
kemampuan belajar, atau minat-minat khusus pada mata pelajaran tertentu.
Fahrle, Duffi dan Schulz (1985) dalam DediSupriadi (1992; 23) mengemukakan
bahwa program pendidikan untuk anak-anak berbakat harus memberikan kepada anak-
anak dua macam pengalaman yang bernilai sosial. Pertama mereka harus memiliki
kesempatan untuk bergaul secara luas dan wajar dengan teman-teman sebayanya. Kedua
program pendidikan untuk anak-anak berbakat harus menyediakan peluang kepada peserta
didik untuk secara intelektual tumbuh bersama rekan-rekan sebayanya.

Sistem manapun yang dipilih, penyelenggara harus tetap berpegang pada prinsip
bahwa pendidikan itu tidak boleh mengorbankan fungsi sosialisasi nilai-nilai budaya
(toleransi, solidaritas, kerja sama) kepada anak. Program pendidikan untuk anak-anak
berbakat tidak identik dengan perlakuan yang eksklusif dan elitis, melainkan semata-mata
supaya untuk memberikan peluang kepada anak didik untuk berkembang sesuai dengan
potensi yang dimilikinya. Dalam layanan pendidikan bagi anak berbakat, khususnya pada
jenjang sekolah dasar di Indonesia saat ini adalah sistem yang terpadu, yakni anak-anak
berbakat masuk ke sekolah yang samaadian mereka diperlakukan dengan system
pengajaran yang dindividualisasikan, yakni sistem yang memberikan perhatian secara
individual kepada setiap siswa dalam kelas biasa. Dengan demikian yang diperlukan dalam
layan pendidikan bagi anak berbakat khususnya pada sekolah dasar, bukanlah sekolah,
kelas, ataupun kurikulum khusus, melainkan modifikasi kurikulum dan sarana
pendukungnya agar sesuai dengan kebutuhan anak-anak berbakat.

F. Permasalahan yang di alami anak berbakat

Kerentanan (vulnerability) anak berbarkat terletak dalam tingkat kemungkinan yang


lebih tinggi akan ketegangan emosional dan konflik sosial yang memerlukan tingkat adaptasi
yang tinggi agar tidak mengganggu kesehatan mental dan berfungsinya secara umum.
Kerentanan ini tampak pada semua anak berbakat, tetapi kebanyakan dari mereka mampu
menggunakan kekuatan intelektual unggul mereka untuk penyesuaian diri secara efektif.
Namun, sebagian dari mereka kurang berhasil dalam penyesuaian diri ini disebabkan oleh
konflik yang mereka alami.
Menurut Utami Munandar, 2009 mengemukaakn ada tiga faktor yang menyebabkan
anak berbakat dalam keadaan rentan merupakan ciri kepribadian yang dapat menimbulkan
kesulitan, menyebabkan ketegangan bagi anak berbakat yaitu:
1. Karakteristik kepribadian yang menyebabkan kerentanan anak berbakat ialah:
a. Perfeksionisme
Dorongan dalam untuk mencapai kesempurnaan membuat siswa berbakat tidak putus
asa dengan prestasinya yang tidak dapat memenuhi tujuan-tujuan pribadinya. Dorongan akan
kesempurnaan ini dapat menyebabkan anak berbakat hanya mau memilih kegiatan tertentu jika
ia yakin akan bisa berhasil. Kritik terhadap diri sendiri yang berlebih dan taraf aspirasi yang
tidak realitis membuat banyak anak berbakat diliputi rasa tidak mampu.
b. Kepekaan yang berlebihan (supersensitivity)
Sistem saraf yang super sensitif dari anak berbakat membuatnya lebih peka dalam
pengamatan, menanggapi dirinya dan lingkungannya secara analitis dan kritis, sehingga ia
menjadi mudah tersinggung dan diliputi perasaan seperti dikucilkan. Anak kecil yang berbakat
sering digambarkan sebgai anak yang hiperraktif dan perhatiannya mudah beralih
c. Kurang keterampilan sosial
Ada anak berbakat yang sulit menyesuaikan dirinya dengan lingkungn sosialnya,
mereka lebih banyak menyendiri dan dapat dihinggapi rasa kesendirian dn kesunyian. Di lain
pihak ada pula anak berbakat yang ingin populer dan menjadi pimpinan, hal ini dapat mengarah
kekecenderungan untuk mendominasi kelompoknya.
Sosialisasi dini dari anak berbakat sagat penting bagi perkembangan mereka sebagai
pemimpin masa depan. Mereka memerlukan bimbingan orang dewasa untuk membantu
mereka belajar bagaimana berperanserta sebagai anggota kelompok, disamping juga memenuhi
kebutuhan pribadi mereka.
2. Kondisi lingkungan yang dapat menyulitkan anak berbakat ialah:
a. Isolasi Sosial
Karena kurang memahami ciri-ciri dan kebutuhan anak berbakat, orang dewasa dalam
sikap dan perilaku mereka dapat menunjukkan sentimen atau penolakan terhadap anak
berbakat. Demikian pula kelompok sebaya dapat memberi tekanan terhadap anggota
kelompokyang menyimpang dari mayoritas, yang kreatif dan berbakat. Kondisi ini dapat
menyebabkan anak berbakat mengalami isolasi sosial.
b. Harapan yang tidak realistis
Harapan atau tuntutan yang tidak realistis terhadap anak berbakat dari pihak orang tua
atau orang dewasa lainnya dapat terjadi karena dua hal:
1) Kecenderungan untuk menggeneralisasi sehingga anak
berbakat diharapkan/dituntut menonjol dalam semua bidang.
2) Pelibtan ego orang tua atau guru terhadap keberhasilan anak (ingin merasa bangga atas
prestasi anak)
c. Tidak tersedia pelayanan pendidikan yang sesuai
Ketidakpedulian terhadap kebutuhan anak berbakat dan penolakan terhadap hak-hak
mereka menyebabkan masyarakat kurang memberikan kesempatan pendidikan yang sesuai
bagi anak berbakat. Akibat dari keterlantaran ini ialah bahwa siswa berbakat harus
menyelesaikan pendidikan formal mereka dalam sekolah yang lebih menekankan konformitas
terhadap “yang rata-rata”. Dalam iklim sosial ini anak “berbeda”, hal ini dapat mempunyai
dampak negatif terhadap kesehatan mentalnya maupun terhadap pertumbuhan dan
perkembangannya secara menyeluruh.
Terkait dengan masalah anak berbakat Ohio’s State Board of Education telah
melakukan penelitian, yang hasilnya menunjukkan bahwa :
1) Banyak anak berbakat mengalami “drop out” dari sekolah, karena tidak memperoleh
layanan akademik atau pembelajaran yang dibutuhkan.
2) Anak berbakat yang tidak mendapatkan tantangan, atau stimulasi yang dapat
mengembangkan potensinya cenderung kurang siap menerima tantangan, tugas-tugas
sekolah yang lebih tinggi.
3) 85% anak berbakat mengalami “underaciver” karena mereka tidak memperoleh
layanan pendidikan yang diharapkan.
4) Mereka sering mengalami rasa bosan, kurang bersemangat, frustasi, rasa marah, dan
merasa kurang berharga.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Anak berbakat adalah mereka yang mampu mencapai prestasi tinggi, yang
disebabkan karena kemampuan-kemampuan yang unggul pada diri individu.
Berdasarkan pernyataan tersebut juga dapat dipahami bahwa keberbakatan seseorang
merupakan kemampuan yang dibawa sejak lahir secara alamiah. Sedangkan factor
lingkungan hanya sebagai wadah atau wahana yang menunjang berkembanganya
keberbakatan anak, sehingga anak berbakat sangat berperan didalamnya.
Karakteristik anak berbakat adalah mereka yang mempunyai kemampuan-
kemmpuan yang unggul dalam segi intelektual, teknik, estetika, akademik, social,
fisik,, psikomotor, dan psikososial. Adapun anak yang dapat diklasifikasikan menjadi
tiga kelompok, seperti : Superior, Gifted dan Genius. Ketiga kelompok anak tersebut
memiliki peringkat ketinggian intellegnsi yang berbeda.
B. Saran