Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tubuh manusia tidak mungkin terhindar dari lingkungan yang
mengandung mikroba pathogen disekelilingnya. Mikroba tersebut dapat
menimbulkan penyakit infeksi pada manusia. Mikroba patogen yang ada
bersifat poligenik dan kompleks. Oleh karena itu respon imun tubuh
manusia terhadap berbagai macam mikroba patogen juga berbeda.
Umumnya gambaran biologic spesifik mikroba menentukan mekanisme
imun mana yang berperan untuk proteksi. Begitu juga respon imun
terhadap bakteri khususnya bakteri ekstraseluler atau bakteri intraseluler
mempunyai karakteriskik tertentu pula.
Seperti yang diketahui , AIDS adalah suatu penyakit yang belum
ada obatnya dan belum ada vaksin yang bisa mencegah serangan virus
HIV, sehingga penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang sangat
berbahaya bagi kehidupan manusia baik sekarang maupun waktu yang
datang. Selain itu AIDS juga dapat menimbulkan penderitaan, baik dari
segi fisik maupun dari segi mental. Mungkin kita sering mendapat
informasi melalui media cetak, elektronik, ataupun seminar-seminar,
tentang betapa menderitanya seseorang yang mengidap penyakit AIDS.
Dari segi fisik, penderitaan itu mungkin, tidak terlihat secara langsung
karena gejalanya baru dapat kita lihat setelah beberapa bulan. Tapi dari
segi mental, orang yang mengetahui dirinya mengidap penyakit AIDS
akan merasakan penderitaan batin yang berkepanjangan. Semua itu
menunjukkan bahwa masalah AIDS adalah suatu masalah besar dari
kehidupan kita semua. Dengan pertimbangan-pertimbangan dan alasan
itulah kami sebagai pelajar, sebagai bagian dari anggota masyarakat dan
sebagai generasi penerus bangsa, merasa perlu memperhatikan hal
tersebut.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari AIDS?
2. Apa saja etiologi dari AIDS?
3. Bagaimana patofisiologi AIDS?
4. Apa saja komplikasi dari AIDS?
5. Bagaimana penatalaksanaan AIDS?
6. Bagaimana Manifestasi Klinis dari AIDS?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang dari AIDS?
8. Bagaimana asuhan keperawatan AIDS?
C. Tujuan
1. Mengetahui definisi dari AIDS
2. Mengetahui etiologi dari AIDS
3. Memahami patofisiologi AIDS
4. Mengetahui Komplikasi dari AIDS
5. Mengetahui penatalaksanaan AIDS
6. Mengetahui Manifestasi Klinis dari AIDS
7. Mengetahui pemeriksaan penunjang dari AIDS
8. Mengetahui asuhan keperawatan AIDS

BAB II
MODUL 1
KEKEBALAN TUBUH

A. SKENARIO 2

2
Mrs. A 38 tahun dibawa ke Poliknik Umum RSUP. Dr. Wahidin
Sudirohusodo Makassar, dengan keluhan: penurunan BB, demam sudah
lebih dari 1 bulan, diare kronis, batuk menetap, kelemahan tubuh,
berkeringat malam, hilang nafsu makan, infeksi kulit, dan ada tuberkulosis
paru.
1. Kata kunci :
a. Penurunan Berat badan
b. Diare kronis
c. Batuk menetap
d. Kelemahan tubuh
e. Berkeringat malam
f. Demam lebih dari 1 bulan
g. Nafsu makan
h. Infeksi kulit
i. Tuberkulosis paru
2. Kata/ Problem kunci : HIV-AIDS
3. Klarifikasi Kata kunci
a. Diare Kronis
Diare pada pasien HIV berlangsung miniman 14 hari atau lebih.
Jika diare kurang 14 hari, umunya bisa berulang yang biasanya
dalam sebulan bisa terjadi 2 sampai 3 kali. Diare yang biasanya
terjadi adalah diare sekretorik, berupa cairan tanpa adanya ampas.
b. Batuk menetap
Batuk sendiri dapat disebabkan oleh banyak penyebab mulai dari
elergi, infeksi virus, infeksi bakteri ataupun permasalahan lain pada
saluran pernapasan. Pada penderita HIV sering kali rentang
mengalami infeksi oportunistik salah satunya adalah masalah
saluran pernapasan seperti pneumonia dan apabila berada di negara
tropis dengan endemik infeksi tuberkulosis seperti di indonesia,
mereka yang memiliki kondisi permasalahan pada kekebalan tubuh
lebih rentang untuk terinfeksi. Untuk itu perlu diwaspadai jika

3
batuk berlangsung lebih dari 3 minggu, keluar keringat malam,
berat badan menurun drastis, sesak napas, dan lainnya agar segera
untuk dilakukang pemeriksaan ulang untuk mengatasinya.
c. Demam lebih dari 1 bulan
Salah satu tanda gejala HIV adalah demam yaitu menyerupai
demam pada umumnya, dmana suhu tubuh yang tinggi bisa
berkisar antara 30- 40oC. Demam terjadi ketika tubuh membentuk
antibody dalam melawan virus.
d. Infeksi Kulit
Masalah kulit pada penderita HIV yaitu:
1) Sistem imun akan diserang HIV
Pada tahap pertama pada HIV, pasien dapat megalami gejala
yang menyerupai flu yang disebut penyakit seroconversion.
Penyakit ini dapat meliputi ruang yang tidak gatal, merah dan
berlangsung selama 2-3 minggu. Selama infeksi, sistem imun
menjadi terganggu dan dapat menyebabkan kulit yang merah-
merah dan gatal.
2) Dermatitits seboroik (Peradangan kelenjar minyak pada kulit),
sering terjadi pada bagian tubuh yang berambut yang terlihat
seperti ketombe yang berwarna kekuningan. Kondisi umum
terjadi pada HIV sinptomatis.
e. Tuberkulosis
Hubungan antara kedua penyakit ini berkaitan dengan sisitem
kekebalan tubuh (Imun) yang bertugas untuk melawan infeksi,
HIV merupakan virus yang dapat melemahkan kekebala tubuh
(AIDS). Ini karena HIV membuka pintu bagi infeksi lain untuk
masuk ke tubuh sehingga mudah terkena penyakit, termasuk TB.
Saat terkena HIV, sistem kekebalan tubuh akan melemah sehingga
bakteri penyebab TB yang masuk kedalam tubuh menjadi aktif. Ini
menyebabkan tubuh kesulitan menyerang bakteri tuberkulosis.

4
Jadi, serangan TbB sebenarnya bisa jadi adalah sala satu gejala
infeksi HIV yang terselubung.
4. Pertanyaan dan jawaban Penting :
a. Apa pengertian HIV-AIDS ?
Jawab :
HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficience Virus
sedangkan AIDS adalah singkatan dari Acquired
Immunodeficience Syndrome
b. Apa etiologi HIV-AIDS ?
Jawab :
AIDS disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV)
c. Bagaimana proses terjadinya penularan HIV-AIDS ?
Jawab :
Seseorang dapat terinfeksi HIV hanya melalui aktifitas tertentu
dimana mereka bersentuhan dengan cairan tubuh tertentu.seperti
darah, air mani, cairan preseminal, cairan rektal,cairan vagina dan
ASI ,dapat menularkan HIV
d. Apa manifestasi klinis HIV-AIDS ?
Jawab :
Manifestasi klinis HIV-AIDS
a. Gejala mayor :
1) Berat badan menurun secara drastis
2) Diare > 1 bulan (kronis/berulang)
3) Demam > 1 bulan (kronis/berulang)
4) Infeksi saluran nafas bawah yang parah atau menetap

b. Gejala minor
1) Pembesaran organ hati
2) Kandisiasis oral ditandai dengan lidah kotor berjamur
3) Infeksi THT yang berulang
4) Batuk kronis

5
5) Adanya kelainan kulit
6) Adanya gangguan kesadaran
e. Apa-apa saja pemeriksaan penunjang HIV-AIDS?
Jawab :
Pemeriksaan penunjang HIV-AIDS yaitu
1) Tes-antibody
2) Tes- antigen
3) Hitung sel CD4
4) Pemeriksaan Viral Load (HIV RNA)
5) Tes resistensi (ketebalan terhadap obat)
f. Sebutkan komplikasi HIV-AIDS
Jawab:
1) Tuberkulosis Paru
2) Cytomegalovirus
3) Candidiasis
4) Meningitis
5) Gangguan neurologis
g. Bagaimana cara pencegahan dan penularan HIV-AIDS ?
Jawab :
1) Cara penularan HIV-AIDS ;
a) Hubungan seks yang beresiko
b) penularan lewat jarum suntik
c) transfusi darah
d) penularan HIV melalui ASI
2) Cara pencegahan HIV
a) Menggunakan kondom
b) Hindari penggunaan jarum suntik
c) Hindartcamei obat-obat terlarang
d) Jika positif saat hamil,dapatkan perawatan

6
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Medis
1. Definisi

7
HIV adalah singkatan dari Human Immunodefesiency Virus
sedangkan AIDS adalah sekumpulan gejala atau penyakit yang
disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus
HIV (human immunodeficiency virus) yang termasuk family
retroviridae. AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV (Sudoyo
Aru dkk 2009 dalam Nurarif dan Kusuma).
AIDS ( Acquired Immunodeficiency syndrome) adalah kumpulan
gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh secara
bertahap yang disebabkan oleh infeksi HIV (Jauhar dan Bararah 2013)
Menurut Infeksi HIV adalah infeksi virus yang secara progresif
menghancurkan sel sel darah putih infeksi oleh HIV biasanya
berakibat pada kerusakan sistem kekebalan tubuh secara progresif,
menyebabkan terjadinya infeksi opotunistik dan kanker tertentu
(terutama pada orang dewasa)
2. Etiologi
Menurut Nurarif dan Kusuma (2015). Penyebab kelainan imun
pada AIDS adalah suatu agen viral yang disebut HIV dari kelompok
virus yang dikenal retrovirus yang disebut Lympadenopathy
Associated virus (LAV) atau Human T-Cell Leukemia Virus (HTL-III
yang juga disebut Human T-Celi Lymphotropic Virus (retrovirus).
Retrovirus mengubah asam rebonukleatnya (RNA) menjadi asam
deoksiribunokleat (DNA) setelah masuk kedalam sel pejamu.
Penularan virus ditularkan melalui:
a. Hubungan seksual (anal,oral,vaginal) yang tidak terlindungi (tanpa
kondom) dengan orang yang telah terinfeksi HIV.
b. Jarum suntik/tindik/tato yang tidak steril dan dipakai bergantian.
c. Mendapatkan transfusi darah yang mengandung virus HIV.
d. Ibu penderita HIV positif kepada bayinya ketika dalam kandungan,
saat melahirkan atau melalui air susu ibu (ASI).
3. Patofisiologi

8
HIV tergolong ke dalam kelompok virus yang dikenal sebagai
retrovirus yang menunjukkan bahwa virus tersebut membawa materi
genetiknya dalam asam ribonukleat (RNA) dan bukan dalam asam
deoksiribonukleat (DNA). Virion HIV (partikel virus yang lengkap
yang dibungkus oleh selubung individu ) mengandung RNA dalam inti
berbentuk peluru yang terpancung dimana p24 merupakan komponen
struktural utama. Tombol knop yang menonjol lewat dinding virus
teriri dari atas proteingp120 yang terkait pada protein gp41. Bagian
yang secara selektif berkaitan dengan sel-sel CD4-positif (CD4+)
adalah gp120 dari HIV (Smeltzer & Bare, 2013).
Sel-sel CD4+ mencakup monosit, makrofag dan limfosit T4 helper
(yang dinamakan sel-sel CD4+ kalaun dikaitkan dengan infeksi HIV);
limfosit t4 helper ini merupakan sel yang paling banyak di antara
ketiga sel di atas. Sesudah terikat dengan membran sel T4 helper, HIV
akan menginjeksikan dua utas benang RNA yang identik ke dalam sel
T4 helper. Dengan menggunakan enzim yang dikenal sebagai reverse
transcriptase, HIV akan melakukan pemrograman ulang materi genetik
dari sel T4 (DNA utas-ganda). DNA ini akan disatukan ke dalam
nukleus sel T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian terjadi infeksi
yang permanen.
Siklus replikasi HIV dibatasi dalam stadium ini sampai sel yang
terinfeksi ini diaktifkan. Aktivasi sel yang terinfeksi dapat
dilaksanakan oleh antige, mitogen, sitokin atau produk gen virus
seperti sitomegalovirus, virus Epstein-Barr, herpes simpleks dan
hepatitis. Sebagai akibatnya, pada saat sel T4 yang terinfeksi
diaktifkan, replikasi serta pembentukan tunas HIV akan terjadi dan sel
T4 akan dihancurkan. HIV yang baru dibentuk ini kemudian dilepas ke
dalam plasma darah dan menginfeksi sel-sel CD4+ lainnya.
Infeksi monosit dan makrofag tampaknya berlangsung secara persisten
dan tidak mengakibatkan kematian sel yang bermakna,tetapi sel-sel
inimenjadi reservoir bagi HIV sehingga virus tersebut dapat

9
bersembunyi dari sistem imun dan terangkutb ke seluruh tubuh lewat
sistem ini untuk menginfeksi berbagai jaringan tubuh. Sebagian besar
jaringan ini dapat ,mengandung molekul CD4+ atau memiliki
kemampuan untuk memproduksinya. Replikasi virus akan berlangsung
terus sepanjang perjalanan infeksi HIV; tempat primernya adala
jaringan limfoid. Ketika sitem imun terstimulasi, replikasi virus akan
terjadi dan virus menyebar ke dalam plasma darah yang
mengakibatkan infeksi berikutnya pada sel-sel CD4+ yang lain.Sistem
imun pada infeksi HIV lebih aktif daripada yang diperkirakan
sebelumnya sebagaimana dibuktikan oleh produksi sebanyak dua
milyar limfosit CD4+ perifer akan mengalami “pergantian (turn over)”
setiap 15 hari sekali.
Kecepatan produksi HIV diperkirakan berkaitan dengan status
kesehatan orang yang terjangkit infeksi tersebut. Jika orang tersebut
tidak sedang berperang melawan infeksi yang lain, reproduksi HIV
berjalan dengan lambat. Namun, reproduksi HIV tampakya akan
dipercepat kalau penderitanya sedang meghadapi infeksi lainatau kalau
sistem imunnya terstimulsi. Keadaan dapat menjelaskan periode laten
yang diperlihatkan oleh sebagian penderita sesudah terinfeksi HIV.
Sebagai contoh, serang pasien mungkin bebas dari gejala selama
berpuluh tahn; kendati semkian, sebagian besar orang yang terinfeksi
HIV (sampai 65 %) tetap menderita penyakit HIV atau AIDS yang
simtomatik dalam waktu 10 tahun sesudah orang tersebit terinfeksi
(Price & Wilson, 2014).
Dalam respon imun, limfosit T4 memainkan beberapa peranan
yang penting yaitu, mengenali antigen yang asing, mengaktifkan
limfosit B yang memproduksi antibodi, menstimulasi limfosit T
sitotoksik, memproduksi limfokin dan mempertahankan tubuh
terhadap infeksi parasit (Sherwood, 2014). Kalau fungsi limfosit T4
terganggu, mikroorganisme yang biasanya tidak menimbulkan
penyakit akan memiliki kesempatan untuk menginvasi dan

10
menyebabkan sakit yang serius. Infeksi dan malignansi yang timbul
sebagai akibat dari gangguan sistem imun dinamakan infeksi
oportunistik (Smeltzer & Bare, 2013).
4. Manifestasi klinis
Menurut Nurarif dan Kusuma (2015). Berdasarkan gambaran klinik
(WHO 2006)
Tanpa gejala: fase klinik 1
Ringan : fase klinik 2
Lanjut : fase klinik 3
Parah : fase klinik 4
Fase klinik HIV
Fase klinik 1.
Tanpa gejala, limfa denopati (gangguan kelenjar/pembuluh limfe)
menetap dan menyeluruh.
Fase klinik 2.
Penurunan BB (<10%) tanpa sebab. Infeksi saluran pernafasan atas
(sinusitis, tonsilitis, otitis media, pharyngitis) berulang. Herpes zoster,
infeksi sudut bibir, ulkus ulut berulang, popular pruritic eruptions,
seborrhoic dermatitis, infeksi jamur pada kuku.
Fase klinik 3.
Penurunan BB (>10%)tanpa sebab. Diare kronik tanpa sebab
sampai >1 bulan. Demam menetap (intermitten atau tetap >1 bulan).
Kandidiasis oral menetap. TB pulmonal (baru), plak putih pada mulut,
infeksi bakteri berat misalnya: pneumonia, empiema (nanah dirongga
tubuh terutama pleura, abses pada otot skelet, infeksi sendi atau
tulang), meningitis, bakterimia, gangguan inflamasi berat pada pelvik,
acute necrotizing ulcerative, stomatitis, gingivitis atau periodontitis
anemia yang penyebabnya tidak diketahui (<8 g/dl), neutropenia.
5. Komplikasi
Menurut Brunner & Suddarth (2001). Komplikasi yang mungkin
terjadi mencakup:

11
a. Infeksi oportunis
b. Kerusakan pernapasan atau kegagalan respirasi
c. Sindrom pelisutan dan gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit
d. Reaksi yang merugikan terhadap obat-obatan
6. Penatalaksanaan Medis
Menurut Brunner & Suddarth (2001). Upaya penangan medis
meliputi beberapa cara pendekatan yang mencakup penanganan infeksi
yang berhubungan dengan HIV serta malignansi, penghentian reflikasi
virus lewat preparat antivirus dan penguatan serta pemulihan sistem
imun melalui penguatan preparat imunomodulator.
a. Obat-obatan untuk infeksi yang berhubungan dengan HIV
1) Trimetoprim-sulfametoksazon (TMP-SMZ), merupakan
preparat anti bakteri untuk mengatasi berbagai
mikroorganisme yang menyebabkan infeksi.
2) Pentamidin, suatu antiprotozoa yang digunakan sebagai
preparat alternatif untuk melawan PCP (pneumonia
pneumocystis carinii.
3) Terapi kompleks micobakterium avium (MAC), terapi
kombinasi dengan etambutol, rifampin, klofazimin dan
siprofloksasin.
4) Terapi dengan oktreotid asetat (sandostatin) biasanya
digunakan untuk mengatasi diare yang berat dan kronik.
b. Terapi antiretrovirus
saat ini terdapat empat preparat antiretrovirus yang disetujui oleh
FDA untuk pengobatan infeksi HIV yaitu idovudin, dideoksinosin
atau didanosin, dideoksisitidin dan stafudin obat ini menghambat
kerja enzim reverse transkriptase virus dan mencegah reproduksi
virus.
c. Terapi imunomodulator

12
Merupakan preparat yang memulihkan atau menguatkan sistem
imun yang rusak. Preparat oral alfa-interferon dosis rendah (IVN-
alfa), Interleukin 2, isoprinosin, dietilditiokarbamat (DTC),
lentinan dan granulocite macrophage colony-stimulatin factor (G-
CSF).
7. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang Menurut Brunner & Suddarth (2001).
a. Mendeteksi antigen virus dengan PCR (polimerace chaien
reaction)
b. Tes ELSA memberikan hasil positif 2-3 bulan sesudah infeksi
c. Hasil positif dikomfirmasi dengan pemeriksaan western blot
d. Serelogis: skrinning HIV dengan ELISA, tes western blot,
limfosit T
e. Pemeriksaan darah rutin
f. Pemeriksaan neurologi
g. Tes fungsi paru, bronkoskopi
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Menurut Brunner & Suddarth (2015). Identifikasi faktor resiko
potensial, termasuk riwayat praktik seksual dan penggunaan obat
injeksi/IV. Kaji status fiksik dan psiklogis. Secara keseluruhan gali \
faktor- faktor yang mempengaruhi fungsi sistem imun.
a. Status nutrisi
1) Dapatkan riwayat diet
2) Identifikasi faktor-faktor yang dapat mengganggu asupan oral,
seperti anoreksia, mual, muntah, nyeri oral, atau kesulitan
menelan
3) Kaji kemampuan pasien untuk membeli dan mempersiapkan
makanan
4) Ukur status nutrisi berdasarkan berat badan, pengukuran
antropometrik (pengukuran lipatan kulit trisep), dan nitrogen

13
urea darah (BUN), protein serum, albumin, dan kadar
transferring.
b. Membran kulit dan mukosa
1) Inspeksi adanya lecet, ulserasi, dan infeksi setiap hari
2) Pantau rongga mulut terhadap adanya kemerahan, ulserasi, dan
bercak krem-keputihan (kandidiasis).
3) Kaji adanya eksporiasi dan infeksi pada area perianal
4) Dapatkan kultur luka untuk mengidentifikasi organisme
penginfeksi.
c. Status pernapasan
Pantau batuk, produksi sputum, sesak nafas, ortopnea, dan nyeri
dada dan kaji suara nafas
d. Kaji parameter fungsi paru yang lain (foto rontgen dada, gas darah
arteri, oksimetri denyut nadi, pemeriksaan fungsi pulmonal/paru)
e. Status neorologi
1) Kaji status mental sedini mungkin sebagai data dasar. Catat
tingkat kesadaran orientasi terhadap orang, tempat, dan waktu
serta kejadian kehilangan memori.
2) Pantau defisit sensori, seperti perubahan visual, sakit kepala,
dan kebas serta kesemutan pada ekstremitas
3) Pantau kerusakan motorik seperti perubahan gaya berjalan dan
paresis.
4) Pantau aktivitas kejang
f. Status cairan dan elektrolit
1) Kaji turgor dan kekeringan kulit dan membran mukosa.
2) Kaji dehidrasi dengan mengobservasi peningkatan rasa haus,
penurunan haluaran urine, tekanan darah rendah, nadi lemah
dan cepat, atau mengkaji berat jenis urine.
3) Pantau ketidakseimbangan elektrolit. (studi laboratorium
menunjukkan rendahnya kadar natrium serum, kalium,
megneisum, dan klorida).

14
4) Kaji tanda dan gejala defisit elektrolit, termasuk perubahan
status mental, kedutan otot, denyut nadi tak teratur, mual dan
muntah, serta pernapasan dangkal.
g. Tingkat pengetahuan
1) Evaluasi pengetahuan pasien mengenai penyakit dan
penyebarannya.
2) Kaji tingkat pengetahuan keluarga dan teman
3) Gali reaksi pasien terhadap diagnosis infeksi HIV atau AIDS
4) Gali bagaimana pasien menghadapi penyakit dan stressor
kehidupan mayor di masa lalu
5) Identifikasi sumber-sumber dukungan pasien
2. Diagnosa
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi
sekret.
b. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh
c. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia
d. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan
pengeluaran sekunder karena kehilangan nafsu makan dan diare
e. Perubahan eliminasi (diare) berhubungan dengan peningkatan
motilitas usus
f. Risiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan proses
inflamasi sistem integument

3. Intervensi

No. Diagnosa NOC NIC


1. Bersihan jalan Outocome: 1. Posisikan pasien untk
nafas tidak Status Pernafasan : memaksimalkan ventilasi

15
efektif Kepatenan jalan nafas 2. Motivasi pasien untuk
berhubangan 0410 dengan kriteria bernafas pelan, dalam
dengan hasil : berputar dan batuk
akumulasi 041007 Suara nafas 3. instruksikan bagaimana
sekret tambahan tidak ada agar bisa melakukan batuk
041019 Batuk tidak ada efektif
4. Auskultasi suara nafas,
catat area yang
ventilasinya menurun atau
tidak ada dan adanya
suara tambahan
5. monitor status
pernafasan dan oksigenasi
6. dukung pasien untuk
melakukan napas dalam
tahan selama 2 detik,
bungkukkan ke depan,
tahan 2 detik dan
batukkan 2-3 kali.
7. minta pasien untuk
menarik nafas dalam
bungkukkan ke depan,
lakukan 3 kali atau 4 kali
hembusan (untuk
membuka area glottis)

2. Hipertermi Outcome 1. Pantau suhu dan tanda-


berhubungan Termoregulasi 0800 tanda vital lainnya
dengan dengan kriteria hasil : 2. Monitor warna kulit dan
peningkatan 080015 melaporkan suhu
suhu tubuh kenyamanan suhu tidak 3. monitor asupan dan

16
terganggu keluaran, sadari perubahan
080020 hipertermia tidak kehilangan cairan yang tak
ada dirasakan
080014 dehidrasi tidak 4. Beri obat atau cairan IV
ada (misalnya antipiretik, agen
080007 perubahan warna antibakteri, dan agen anti
kulit menggigil)
5. tutup pasien dengan
selimut atau pakaian
ringan tergantung pada
fase demam
6. Dorong konsumsi
cairan
7. fasilitasi istirahat,
terapkan pembatasan
aktivitas jika diperlukan

8. Pantau komplikasi yang


berhubungan dengan
demam serta tanda dan
gejala kondisi penyebab
demam(misalnya, kejang
penurunan tingkat
kesadaran, status elektrolit
abnormal,
ketidakseimbangan asam
basa, aritmia jantung dan
perubahan abnormalitas
sel)

3. Perubahan Outcome 1. tentukan status gizi

17
nutrisi kurang Status Nutrisi 1004 pasien dan kemampuan
dari kebutuhan dengan kriteria hasil : pasien untuk memenuhi
tubuh a. 100401 Asupan Gizi kebutuhan gizi
berhubungan tidak menyimpang dari 2. identifikasi adanya
dengan rentang normal alergi atau intoleransi
anoreksia 100402 Asupan makanan yang dimiliki
Makanan tidak oleh pasien
menyimpang dari rentang 3. tentukan jumlah kalori
normal 100408 Asupan dan jenis nutrisi yang
Cairan tidak dibuthkan untuk
menyimpang dari rentang memenuhi persyaratan
normal 100403 Energi gizi
tidak menyimpang dari 4. ciptakan lingkungan
rentang normal 100405 yang optimal pada saat
Rasio berat badan/tinggi mengkonsumsi makan
badan tidak menyimpag (misalnya, bersih,
dari rentang normal berventilasi, santai dan
bebas dari bau yang
menyengat)
5. tentukan apa yang
menjadi preverensi
makanan bagi pasien
4. Resiko tinggi Outcome 1. tentukan faktor-faktor
kekurangan Keseimbangan cairan resiko yang mungkin
volume cairan 0601 dengan kriteria menyebabkan
berhubungan hasil : ketidakseimbangan cairan
dengan 060107 keseimbangan 2. periksa turgor kulit
pengeluaran intake dan output dalam dengan memegang
sekunder 24 jam tidak terganggu jaringan sekitar tulang
karena 060116 turgor kulit tidak seperti tang atau tulang
kehilangan terganggu kering, mencubit kulit

18
nafsu makan 060117 kelembaban dengan lembut, pegang
dan diare membran mukosa tidak dengan kedua tangan dan
terganggu lepaskan (dimana, kulit
alan turun dengan cepat
jika pasien terhidrasi
dengan baik)
3. monitor asupan dan
pengeluaran
4. batasi dan alokasikan
asupan cairan
5. cek kembali asupan dan
pengeluaran pada pasien
dengan terapi intrvena
6. kolaborasi pemberian
cairan IV

5. Perubahan Outcome 1. tentukan riwayat diare


eliminasi Eliminasi usus 0501 2. monitor tanda dan gejla
(diare) Dengan kriteria hasil : diare
berhubungan 050101 pola eliminasi 3. anjurkan paien
dengan tidak terganggu menghindari makanan
peningkatan 050129 suara bising usus pedas dan yang
motilitas usus tidak ada menimbulkan gas dalam
050111 diare tidak ada perut
4. identifikasi faktor yang
bisa menyebabkan diare
(misalnya, medikasi,
bakteri dan pemberian
makanan lewat selang)
5. ajari pasien cara
penggunaan obat anti

19
diare secara tepat

6. Risiko Outcome 1. periksa kulit dan selaput


kerusakan Integritas jaringan : kulit lendir terkait dengan
integritas kulit & membran mukosa adanya kemerehan,
berhubungan 1101 dengan kriteria kehangatan ekstrim,
dengan proses hasil : edema, atau drainase.
inflamasi 110103 elastisitas tidak 2. gunakan alat pengkajian
sistem terganggu untuk mengidentifikasi
integumen 110113 integritas kulit pasien yang berisiko
mengalami kerusakan
kulit (misalnya, skala
brenden)
3. monitor wara dan suhu
kulit
4. monitor kulit untuk
adanya kekeringan yang
berlebihan dan
kelembaban
5. dokumentasikan
perubahan membran
mukosa

BAB IV

PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulannya adalah bahwa kita harus waspada terhadap virus
HIV-/AIDS. Makalah di atas juga menjelaskan pengertian, cara penularan
, gejala-gejala dan pencegahannya. Adapun kesimpulan yang dapat penulis

20
simpulkan mengenai makalah ini adalah AIDS ( Acquired
Immunodeficiency syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit akibat
menurunnya sistem kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh
infeksi human Immunodeficiency Virus (HIV)
B. Saran
1. Masyarakat membutuhkan edukasi tentang bahaya penyakit HIV
AIDS dan bagaimana cara penularannya yang benar agar stigma
diskriminasi terhadap ODHA dapat diluruskan. Untuk itu perlu
diadakan seminar dan penyuluhan tentang HIV AIDS serta
diselenggarakannya secara testimonial dari para ODHA untuk
pelajar dan mahasiswa
2. ODHA butuh mendapat perhatian dan dukungan dari masyarakat
dan pemerintah, selain itu dukungan kawan sebaya juga dapat
memberikan semangat hidup bagi penderita HIV AIDS

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Geissler, A. C. (2014). Rencana asuhan


keperawatan edisi 3. Jakarta: EGC.

Mororhead, S., Johnson, M., Maas, Maridean L., & Swanson, E. (2016). Nursing
Outcome Classification (NOC)( Edisi kelima ). Kidlingto: Elsevier.

21
Mororhead, S., Johnson, M., Maas, Maridean L., & Swanson, E. (2016). Nursing
Intervensi Classification (NOC)( Edisi kelima ). Kidlingto: Elsevier.

Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi NANDA & NIC-NOC. Yogyakarta:
Mediaction.

Price, S. A., & Wilson, L. M. (2014). Patofisiologi Konsep Klinis Proses - Proses
Penyakit. Jakarta: EGC.

22