Anda di halaman 1dari 11

KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF

PENDAHULUAN

Melihat dinamika kepemimpinan dalam dunia dewasa ini telah banyak


mencerminkan dan membicarakan masalah krisis kepemimpinan. Konon sangat
sulilt untuk mencari kader-kader pemimpin pada berbagai tingkatan. Orang pada
zaman sekarang cenderung mementingkan diri sendiri dan tidak atau kurang
perduli pada kepentingan public(masyarakat, bangsa dan negara.

Krisis kepemimpinan ini disebabkan karena makin langkanya kepedulian pada


kepentingan orang banyak,. Sekurang-kurangnya terlihat ada tiga masalah
mendasar yang menandai kekurangan ini. Pertama adanya krisis komitmen.
Kebanyakan orang tidak merasa mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk
memikirkan dan mencari pemecahan masalah bersama, masalah harmoni dalam
kehidupan dan masalah kemajuan dalam kebersamaan. Kedua, adanya krisis
kredibilitas. Sangat sulit mencari pemimpin atau kader Pemimpin yang mampu
menegakkan kredibilitas tanggung jawab. Kredibilitas itu dapat diukur misalnya
dengan kemampuan untukmenegakkan ketika memikul amanah, setia pada
kesepakatan dan janji, bersikap teguh dalam pendirian, jujur dalam memikul tugas
dan tanggung jawab yang dibebankan padanya, kuat iman dalam menolak godaan
dan peluang untuk menyimpang. Ketiga, masalah kebangsaan dan kehidupan
bermasyarakat dan bernegara. Saat ini tantangannya semakin kompleks dan rumit.
Kepemimpinan sekarang tidak cukup lagi hanya mengandalkan pada bakat atau
keturunan (John Adair, 2005 : 5).

Berbagai hal dapat dilihat dari pemimpin yang mengakibatkan ketidakstabilan


yang terjadi secara radikal, yang mengurangi kepercayaan masyarakat,
misalnya korupsi, dan tindakan amoral lainnya. Hal ini sejalan dengan apa yang
dikutip oleh (Sugiono, 2005 : 12), yang mengatakan bahwa seorang pemimpin
yang mempunyai keegoisme yang tinggi, sehingga menyebabkan
ketidakharmonisan yang terjadi antara masyarakat dan pemimpin itu sendiri.

Dengan menaggapi masalah-masalah yang terjadi diatas maka sangat dibutuhkan


figure seorang pemimpin yang mampu untuk menjadi sumber pengharapan dalam
melakukan pembaharuan kepemimpinan yang efektif.
1. Perilaku Kepemimpinan yang Efektif

Pemimpin yang efektif adalah seorang yang tidak hanya bekerja sendiri tanpa
melibatkan siapapun, melainkan mampu memanfaatkan berbagai potensi yang
mengelilinginya. Kepemimpinan efektif bukan sekedar pusat kedudukan atau
kekuatan akan tetapi merupakan interaksi aktif antar komponen yang efektif.
kepemimpinan yang berorintasikan pada : perilaku pemimpin, pengikut, dan antar
hubungan, untuk mencapai tujuan. Terdapat dua variabel utama dari perilaku yang
mempengaruhi efektivitas kepemimpinan yaitu; perilaku dengna orientasi tugas
(task oriented), perilaku dengan orientasi orang (people oriented).

Makin tinggi perilaku perhatian orientasi pada tugas dan pada orang, maka
kepemimpinan makin menjadi efektif. Perilaku gaya kepemimpinan merupakan
cara–cara berinteraksi seorang pemimpin dalam melakukan kegiatan pekerjaan.
Gaya bersikap dan gaya bertindak akan nampak dari cara–cara pemimpin tersebut
pada saat melakukan pekerjaan, antara lain: cara memberikan perintah, cara
memberikan tugas, cara berkomunikasi, cara membuat keputusan, dan sebagainya.
Apabila pemimpin melakukan kegiatan tersebut menempuh dengan cara–cara
tegas, keras, sepihak, mengutamakan penyelesaian tugas, melakukan pengarahan
dan pengawasan ketat, maka gaya kepemimpinan seperti itu cenderung disebut
gaya kepemimpinan berorientasi pada tugas (task oriented).

Sebaliknya apabila pimpinan melakukan kegiatan menempuh dengan cara–cara


lembut, halus, simpatik, interaksi timbal balik, melakukan ajakan, menghargai
pendapat, memperhatikan perasaan, membina hubungan serasi, maka gaya
kepemimpinan ini cenderung disebut gaya kepemimpinan yang berorientasi pada
orang (people oriented). Dalam beberapa penilitian menunjukkan bahwa gaya
pemimpin makin tinggi perhatian pada tugas, maka produktivitas organisasi
makin meningkat. Begitu pula gaya pemimpin makin tinggi perhatiannya pada
orang, maka produktivitas organisasi makin menjadi meningkat.

A. Perilaku Kepemimpinan yang Efektif

Ada tiga jenis perilaku kepemimpinan efektif,yaitu:

1. Perilaku yang berorientasi tugas

Para pemimpin yang efektif tidak menggunakan waktu dan usahanyadengan


melakukan pekerjaan yang sama seperti bawahannya. Sebaliknya, para pemimpin
yang efektif berkonsentrasi pada fungsi-fungsi yang berorientasi padatugas seperti
merencanakan dan mengatur pekerjaan, mengkoordinasikan kegiatan para
bawahan, dan menyediakan keperluan, peralatan dan bantuan teknis yang
dibutuhkan.

2. Perilaku yang berorientasi hubungan


Bagi para pemimpin yang efektif, perilaku yang berorientasi tugas tidakterjadi
dengan mengorbankan perhatian terhadap hubungan antar manusia.Para
pemimpin yang efektif lebih penuh perhatian, mendukung, dan membantu para
bawahan. Perilaku mendukung yang berkorelasi dengan kepemimpinan
yangefektif meliputi memperlihatkan kepercayaan dan rasa percaya, bertindak
ramahdan oerhatian, berusaha memahami permasalahan bawahan,
membantumengembangkan bawahan dan memajukan karier mereka, selalu
memberikaninformasi kepada bawahan, memberikan apresiasi terhadap ide-ide
bawahan, danmemberikan pengakuan atas kontribusi dan keberhasilan bawahan.

3. Kepemimpinan partisipatif

Para pemimpin yang efektif lebih banyak menggunakan supervise kelompok dari
pada mengendalikan tiap bawahan sendiri-sendiri. Pertemuan kelompok
memudahkan partisipasi bawahan dalam mengambil keputusan,memperbaiki
komunikasi, mendorong kerjasama, dan memudahkan pemecahankonflik. Peran
pemimpin dalam pertemuan kelompok yang utama adalah harusmemandu diskusi
dan membuatnya mendukung, konstruktif, dan berorientasi pada pemecahan
masalah

B. Fungsi Kepemimpinan Yang Efektif

Fungsi seorang pemimpin yang efektif adalah:

a. Membantu mencapai sasaran organisasi


b. Menggerakan anggota menuju sasaran tersebut
c. Mewujudkan interaksi dan keterikatan antar individu
d. Memelihara kekuatan dan kohesi anggota.

C. Sifat Kepemimpinan Yang Efektif

Sifat–sifat utama yang dikaitkan dengan kepemimpinan efektif pada dasarnya


yaitu:

1) Kecerdasan : merupakan salah satu sifat pemimpin di mana adanya


kecenderungan bahwa pemimpin lebih cerdas daripada pengikutnya.

2) Kepribadian : merupakan totalitas sikap dan perilaku yaitu berbagai cara


seorang bereaksi dan berinteraaksi dengan orang lain, adalah berkaitan erat
dengan kepemimpinan efektif.

3) Kemampuan : orang mempunyai hubungan positif untuk mengawasi dalam


hirarki organisasi.
Filosofi pola pikir teori perilaku berdasarkan bahwa kepemimpinan berhubungan
dengan perilaku seorang pemimpin dengan mengemukakan bahwa perilaku
spesifik membedakan pemimpin dari bukan pemimpin.

D. Kunci kepemimpinan yang Efektif

Lima kunci kepemimpinan yang efektif:

1. Hadapi tantangan.

Para pemimpin hebat cukup berani untuk menghadapi situasi menantang. Hadapi
dengan terbuka dan jujur. Komunikasi sehari-hari dengan para staf,
menginformasikan mereka berita baik dan buruk serta bagaimana sikap
perusahaan menghadapi tantangan, akan membuat para karyawan merasa bahwa
pemimpinnya mempercayai mereka.

2. Menangkan kepercayaan.

Para karyawan akan lebih loyal dan antusias ketika mereka bekerja dalam
lingkungan yang dijalankan oleh orang-orang yang mereka percaya. Membangun
kepercayaan bisa dilakukan dalam berbagai cara. Menurut Handal, pertama-tama
adalah dengan menunjukkan pada karyawan bahwa kita peduli dengan mereka.
Misalnya, tanyakan karyawan tentang kelulusan anak-anak mereka. Tunjukkan
pada mereka bahwa kita tertarik dengan kesuksesan mereka dan diskusikan jalan
karir dengan mereka secara rutin.

3. Jadilah diri sendiri.

Karyawan dan orang-orang yang terlibat dalam perusahaan kita akan mampu
mengetahui jika kita berpura-pura menjadi orang lain. Hal itu bisa membuat
mereka bertanya-tanya apa kita berpura-pura juga untuk hal lainnnya. “Gunakan
kelebihan dan karakter kepribadian Anda untuk mengembangkan gaya
kepemimpinan,” ujar Handal.

4. Dapatkan rasa hormat.

Ketika membawa diri dengan cara yang etis, maka kita mendapatkan rasa hormat
dari orang-orang di sekeliling. Pelanggan cenderung tidak akan berbisnis dengan
perusahaan jika perusahaan tersebut tidak menghormati nilai-nilai atau
kepemimpinan.

5. Stay curious.

Pemimpin yang baik selalu ingin tahu dan berkomitmen untuk belajar. Mereka
ingin tahu dan selalu mencari ide-ide baru, wawasan, dan informasi.
2. Hambatan Perubahan Dalam Kepemimpiinan Yang Efektif

Hambatan perubahan juga sering muncul dari keengganan individual yang berasal
dari faktor kebiasaan, ketidak siapan, terusiknya rasa aman, kekhawatiran akan
berkurangnya penghasilan dan bertambahnya kerepotan, ketakutan terhadap hal-
hal yang belum dikenali, dan persepsi negatif yang berasal dari informasi
mengenai kegagalan-kegagalan upaya perubahan. Perubahan organisasi bukanlah
hal yang mudah dilakukan.

Ada banyak kendala yang bisa menghadang program-program perubahan. Berikut


hal-hal yang menjadi kendala perubahan dalam organisasi, yakni; kendala-kendala
sistem keorganisasian dan kekuasaan, perbedaan-perbedaan dalam orientasi
fungsional dan struktur organisasi yang mekanistik, kultur organisasi, norma
kelompok, pemikiran kelompok (group think) dan kendala-kendala individual,
seperti ketidak siapan yang mengakibatkan rasa ketidak pastian, kekhawatiran,
dan ketidak amanan.

Berikut hal-hal yang menjadi hambatan dan bagaimana mengatasinya, yakni;

1. Komunikasi Yang Kurang Baik

Komunikasi dalam kepemimpinan melibatkan minimal dua pihak: Pihak yang


memimpin dan pihak yang dipimpin. Komunikasi antara keduanya sangat
menentukan dalam hal ini. Seorang pemimpin sering kali merasa bahwa ia sudah
menyampaikan suatu pesan kepada bawahannya secara jelas. Berarti, bawahannya
harus menjalankannya. Kalau ini terjadi di perusahaan-perusahaan profit, yang
setiap karyawannya digaji, tidak masalah. Bawahan harus berusaha mengerti apa
yang dimaksudkan oleh pemimpinnya. Jika tidak, ia akan dinilai tidak baik, dan
itu akan memengaruhi gajinya. Dalam pelayanan, kita berhadapan dengan orang-
orang yang bekerja dengan sukarela. Bukan bawahan yang berusaha untuk
mengerti. Tetapi, pemimpinlah yang berusaha untuk memahami bawahan, dan
selanjutnya mengomunikasikan dengan jelas dan menarik apa yang menjadi
keinginan atau visinya.

Pedoman yang dikeluarkan oleh buletin Christian Management Association


berikut ini kiranya dapat menolong Anda mengatasi hambatan komunikasi.

1. Berusahalah mendapatkan kepercayaan dari bawahan Anda.

Kredibilitas seorang pemimpin itu penting dan sangat memengaruhi kepercayaan


orang yang dipimpin. Jika seorang pemimpin tidak lebih pintar dari bawahannya,
ia akan mengalami kesulitan dalam memimpin. Jika seorang pemimpin lembaga
kerohanian tidak lebih rohani dari anak buahnya, ia akan dianggap remeh. Intinya,
seorang pemimpin harus memiliki nilai tambah dibandingkan dengan
bawahannya.
2. Komunikasikan secara terbuka.

Keterbukaan dalam berkomunikasi akan menumbuhkan rasa saling percaya di


antara kedua belah pihak. Sampaikanlah bukan saja apa yang Anda perlu
sampaikan, melainkan lebih dari itu. Keterbukaan yang dimaksud tentu bukanlah
tanpa kebijaksanaan. Saya senang dengan orang yang terbuka, tetapi saya lebih
senang dengan orang terbuka yang disertai dengan kebijaksanaan yang dari
Tuhan.

3. Sampaikanlah maksud Anda dengan jelas dan spesifik.

Lebih baik menggunakan satu kalimat yang dapat dimengerti, daripada seribu
kalimat yang sulit dimengerti. Jika Anda berkata kepada bawahan Anda, "Hari ini
kamu bekerja dengan baik." Ungkapan Anda itu malah menimbulkan banyak
pertanyaan, dan bawahan Anda bisa mencurigai Anda. Lebih baik Anda berkata,
"Surat yang kamu ketik ini bersih dan rapi."

4. Komunikasi sebaiknya bersifat interaktif.

Anda hendaknya bersikap sedemikian rupa sehingga orang lain merasa bebas
untuk memberi respons terhadap Anda dan tidak takut untuk menyampaikan
tanggapan, reaksi, gagasan, kritik, atau komentar mereka.

5. Berkomunikasilah secara teratur.

Hubungan dengan bawahan tidak hanya melalui rapat, tetapi juga melalui
pertemuan-pertemuan informal. Salah seorang pemimpin sebuah organisasi
pelayanan selalu menyempatkan diri untuk berbicara dengan bawahannya (mulai
dari tukang sapu sampai wakilnya) secara pribadi. Biasanya, ia menjadwalkan
satu orang setiap hari secara bergiliran.

2. Kurangnya Pemahaman Mengenai Proses Komunikasi

Proses komunikasi berjalan melalui dua jalur, yakni jalur formal (resmi) dan jalur
informal (tidak resmi). Dengan kata lain, komunikasi terjadi melalui apa yang
Anda katakan atau tulis, dan apa yang Anda perlihatkan (sikap, perasaan, nilai
yang dianut).

Yang justru lebih besar pengaruhnya adalah pesan yang diterima secara formal.
Kesan yang ditampilkan seperti kedudukan, sikap, perhatian, kredibilitas,
kesaksian hidup, jauh lebih memengaruhi orang lain ketimbang apa yang kita
bicarakan. Ada ungkapan yang mengatakan, "Pemberita adalah berita itu sendiri."
Ketegangan (Stres)

Seorang pemimpin harus cepat tanggap terhadap stres yang dialaminya sendiri
maupun oleh anak buahnya. Dalam tahap tertentu, stres itu berguna bahkan
diperlukan. Tetapi, stres yang berlebihan akan membuat segalanya kacau balau.

Setiap orang berbeda dalam daya tahan terhadap suatu ketegangan, dan masing-
masing memunyai reaksi yang berbeda terhadap ketegangan. Penyebab
ketegangan dan perbedaan reaksi orang terhadapnya, yakni; Perubahan dalam
pelayanan, Penurunan mutu dalam hubungan, Kurangnya buah-buah pelayanan
kerja, Menyesuaikan dengan lingkungan baru.

Hal-hal yang menyebabkan stres, berikut penjelasannya:

A. Stres skala kecil (kurang baik):

Sering bosan, Sikap apatis, Suka ketiduran, Motivasi kurang, Rasa malas,
Bersikap negative, dan Pikiran tumpul.

B. Stres yang pas (baik):

Timbul semangat, Motivasi besar, Menjadi waspada, Energi tinggi, Analisis


tajam, Persepsi tajam, dan Bersikap tenang.

C. Stres yang tingkat tinggi (kurang baik):

Susah tidur, Mudah tersinggung, Gampang celaka, Kurang nafsu makan,


Hubungan tegang, Salah penilaian, dan Sulit mengambil keputusan.

3. Tidak Memunyai Teman

Orang yang tidak dapat bekerja sama dengan orang lain akan mengalami kesulitan
dalam pelayanan. Seorang pemimpin harus diakui bahwa ia adalah seorang yang
telah menapaki sekian anak tangga untuk mencapai kariernya. Tetapi, jangan lupa,
setelah ia mencapai puncak kepemimpinannya itu, ia pun sampai pada suatu
keadaan sendirian. Kebanyakan orang sungkan berkomunikasi dengannya karena
kedudukannya itu. Orang yang berhubungan dengannya umumnya hanya dalam
suasana formal. Padahal, sebagai seorang manusia, ia membutuhkan sapaan
sebagai seorang sahabat. Akibatnya, ia menjadi kesepian.

4. Kurang Siap Dalam Menghadapi Arus Perubahan

Memang ada suatu bahaya besar, bahwa suatu lembaga rohani akan tetap
meneruskan cara-cara kerja yang sebenarnya sudah ketinggalan zaman, dan
kurang menyadari bahwa perubahan situasi seharusnya dihadapi dengan cara-cara
yang berlainan. Metode hari ini belum tentu cocok untuk yang akan datang. Kita
harus peka terhadap perubahan.

Dunia dan perubahannya sekarang ini berjalan begitu cepat sehingga kalau kita
tidak segera membuat penyesuaian, maka kita akan ketinggalan. Banyak
pemimpin gereja sekarang ini yang cenderung mempertahankan apa yang sudah
menjadi kebiasaan nenek moyang mereka dulu. Memang ada hal-hal tertentu,
seperti doktrin dan beberapa kebijaksanaan lainnya yang tidak berubah. Tetapi,
hal-hal yang menyangkut metode, perlu mengalami perubahan sesuai dengan
perkembangan yang sedang terjadi.

3. Komitmen Pada Perubahan Dalam Kepemimpiinan Yang Efektif

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang membulatkan hati,bertekad


berjerih payah,berkorban dan bertanggung jawab demi mencapai tujuan dirinya
dan tujuan organisasi atau perusahaan yang telah disepakati atau ditentukan
sebelumnya. Terwujudnya nilai-nilai pembaharuan organisasi diperlukan sebuah
komitmen dari para pemimpin, sehingga para pemimpin senantiasa memiliki
tingkat kepekaan terhadap perubahan. Pemimpin tidak hanya dituntut untuk
melaksanakan segala sesuatu secara efektif dan efisien, tetapi juga harus
melaksanakan tugas organisasi dengan benar dan tepat, sesuai dengan gelombang
maupun tantangan masa depan yang menghadang dan mempengaruhi organisasi.

A. Komitmen Pada Perubahan Kepemimpinan

Ada “sepuluh komitmen kepemimpinan” yang diharapkan dari setiap pemimpin,


yaitu :

1. Mencari Peluang yang Menantang

Seorang pemimpin diharapkan berusaha tidak mempertahankan “status quo” atau


“kemapanan yang statis”, tetapi menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi.
Untuk mewujudkan komitmen tersebut diperlukan antara lain:
a. Memperlakukan setiap penugasan sebagai sesuatu yang manggairahkan untuk
mencapai sukses masa depan
b. Memiliki kepedulian untuk mencari strategi untuk mengubah “status quo”
sehingga dapat merencanakan perubahan atau peluang baru.

2. Berani Mencoba dan Bersedia Tanggung Resiko

Pemimpin memiliki tekad yang kuat dan keikhlasan untuk selalu belajar dari
keberhasilan dan kegagalan meski kosekuensinya besar. Pemimpin memandang
pentingnya keberanian untuk bersedia “tanggung resiko” sebagai akibat usaha
untuk lebih maju, sehingga banyak yang meyakini bahwa menjadi pemimpin
adalah hidup dalam alam kehidupan yang penuh resiko.
Nilai yang terkandung dalam kosep ini: Menciptakan mekanisme untuk
menampung ide-ide inovatif, Mulai melakukan percobaan dalam skala kecil,
Membentuk kelompok kerja inovatif, Menghargai setiap pekerjaan, Menganalisis
hasil-hasil percobaan-percobaan, dan embina mental berani mencoba

3. Memimpin Masa Depan

Setiap pemimpin harus menampilkan pribadi yang memancarkan suatu visi atau
pandangan ke depan yang kuat. Tugas pemimpin menciptakan visi yang jelas
demi peningkatan masa depan organisasi dan anggota organisasi.

Prinsip yang diperlukan untuk mengembangkan prinsip ini adalah: Mawas diri
(mengenali diri sendiri), Menetapkan masa depan yang diharapkan, Merancang
apa yang belum pernah dipikirkan orang lain, Melatih intuisi dan ketajaman rasa,
dan Selalu berorientasi ke depan

4. Membina Kesamaan Visi

Yaitu mengkomunikasikan visinya kepada semua pihak yang terkait dengan upaya
mewujudkan visinya. Visi pemimpin merupakan visi bersama dari seluruh
anggota organisasi yang dipimpinnya (shared vision). Langkah yang diperlukan
dalam usaha penyamaan visi diantaranya: Identifikasi pihak yang perlu disamakan
visinya, Mencari dasar-dasar persamaan pandang, dan Mengadakan interaksi yang
intensif untuk untuk menyamakan visi

5. Menggalang Kerjasama

Membina kerjasama adalah meningkatkan keterpaduan potensi organisasi melalui


penyamaan tujuan dan membina saling percaya diantara anggota organisasi.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah: Menciptakan kebersamaan,
Menciptakan peluang interaksi, Menciptakan keterbukaan, Tidak terpaku pada
kegagalan lama, Melibatkan pihak lain dalam setiap proses, dan Mengembangkan
suasana saling perca

6. Memperkuat Mitra Kerja

Pemimpin berkewajiban membagi kekuasaan dan informasi yang dimilikinya agar


semua terlibat dalam proses pembaharuan. Upaya yang dapat dikembangkan:
Mengenal setiap mitra kerja, Mengembangkan kemampuan hubungan antar
pribadi, Melayani pihak lain lebih tulus, Mengembang keleluasaan pihak lain
untuk bertanggung jawab, Mengembangkan keterbukaan informasi bagi semua
pihak, dan Membina kemitraan dengan memberikan dukungan

7. Menunjukkan Keteladanan
Pemimpin berkewajiban membuat orang lain dapat berbuat dengan memberikan
contoh bagi pertumbuhan selanjutnya. Kemungkinan yang dapat dilakukan:
Jangan melewatkan setiap peluang yang ada, Menciptakan lebih banyak peluang
untuk penyebaran visi dan pembaharuan, Memelihara citra pemimpin yang
konsisten dalam merealisasikan visinya, dan Menjadikan setiap peluang sebagai
kesempatan belajar

8. Merencanakan Keberhasilan Bertahap

Pemimpin harus mampu menciptakan keberhasilan kecil secara bertahap dan


berkesinambungan dengan membina komitmen dari semua pihak terkait.
Beberapa hal yang dapat dilakukan: Membuat rencana dengan cermat,
Menciptakan model-model pembaharuan, Menyelesaikan setiap tahapan
pembaharuan dengan tuntas, Memanfaatkan proses, penerimaan inovasi dengan
wajar, dan Memberikan kesempatan untuk bebas memilih

9. Menghargai Setiap Peran Individu

Dalam menghargai setiap peran individu, beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Tetapkan ukuran kinerja, Ciptakan mekanisme pengukuran hasil kerja
pembaharuan, Ciptakan sistim penghargaan yang kreatif, Usahakan keberhasilan
diketahui secara umum, Pantau pembaharu yang berhasil secara benar, dan
Membantu penyebarluasan keberhasilan inovasi

10. Mensyukuri Setiap keberhasilan

Selain mensyukuri keberhasilan, diupayakan agar keberhasilan juga dijadikan


kesempatan emas untuk mendidik dan mengajarkan satu nilai baru pada pihak
lain.
Ada beberapa langkah yang diperlukan, yaitu: Rencanakan keberhasilan sebagai
ajang belajar, Tunjukkan komitmen dengan terlibat secara langsung, dan
Menghargai dan mencintai keberhasilan meski kecil sekalipun.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi komitmen

1. Faktor personal, misalnya usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman


kerja dan kepribadian.

2. Karakteristik pekerjaan, misalnya lingkup jabatan, tantangan dalam pekerjaan,


konflik peran, tingkat kesulitan dalam pekerjaan.

3. Karakteristik struktur, misalnya besar kecilnya organisasi, bentuk organisasi,


kehadiran serikat pekerjan, dan tingkat pengendalian yang dilakukan organisasi
terhadap karyawan.
4. Pengalaman kerja. Pengalaman kerja seorang karyawan sangat berpengaruh
terhadap tingkat komitmen karyawan pada organisasi. Karyawan yang baru
beberapa tahun bekerja dan karyawan yang sudah puluhan tahun bekerja dalam
organisasi tentu memiliki tingkat komitmen yang berlainan.

Kesimpulan

Seorang pemimpin yang efektif harus mempunyai keberanian untuk mengambil


keputusan dan memikul tanggung jawab atas akibat dan resiko yang timbul
sebagai konsekwensi daripada keputusan yang diambilnya Tentunya dalam
mengambil keputusan. Seorang pemimpin harus punya pengetahuan,
keterampilan, informasi yang mendalam dalam proses menyaring satu keputusan
yang tepat. Disamping itu, seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang
dapat mempengaruhi dan mengarahkan segala tingkah laku dari bawahan
sedemikian rupa sehingga segala tingkah laku bawahan sesuai dengan keinginan
pimpinan yang bersangkutan.