Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Kanker merupakan penyebab kesakitan dan kematian di dunia.
Kanker menjadi urutan kedua penyebab kematian setelah penyakit
kardiovaskuler. Menurut laporan WHO pada tahun 2017, terdapat 14,1
juta kasus dan 8,2 kematian yang disebabkan oleh kanker. Leukimia
merupakan salah satu bentuk dari kenker yang menetapi urutan ke 10
kasus terbanyak pada laki-laki dan urutan ke 11 pada perempuan pada
tahun 2012 diantara jenis kanker lainnya dengan jumlah kasus baru
leukimia sebanyak 265,471 orang (4,7 per 100.000 tahun). Leukimia juga
merupakan kanker yang paling banyak ditemukan diantara jenis kanker
lainnya pada anak setiap 1 juta jumlah penduduk di dunia, terlahur 120
anak menderita kanker darah atau leukimia.
Leukimia merupakan proliferansi sel darah putih yang masih
teratur dalam jaringan pembentuk darah. Leukimia adalah proliferansi
patologin dari sel pembuat darh yang bersifat sistemik dan biasanya
berakhir dengan fatal. Leukimia dikatakan penyakit darah yang disebabkan
terjadinya kerusakan pada pabrik pembuatan sel darah yaitu pada sumsum
tulang.
Leukimia diklasifikasikan berdasarkan tipe sel, baik menurut
maturitas maupun turunan sel. Berdasarkan mutaritas, leukimia dibedakan
atas akut dan kronik. Jika sel ganas tersebut sebagian besar immatur (blast)
maka leukimia diklasifikasikan akut, sedangkan yang didominan, adalah
sel matur makan diklasifikasiakn sebagai leukimia kronik.

B. Rumusan masalah
1. Apa definisi dari Leukimia?
2. Apa saja etiologi dari Leukimia?
3. Bagaimana patofisiologi Leukimia?
4. Apa saja komplikasi dari Leukimia?
5. Bagaimana penatalaksanaan Leukimia?
6. Bagaimana Manifestasi Klinis dari Leukima?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang dari Leukimia?
8. Bagaimana asuhan keperawatan Leukimia?

1
C. Tujuan
1. Mengetahui definisi dari Leukimia
2. Mengetahui etiologi dari Leukimia
3. Memahami patofisiologi Leukimia
4. Mengetahui Komplikasi dari Leukimia
5. Mengetahui penatalaksanaan Leukimia
6. Mengetahui Manifestasi Klinis dari Leukimia
7. Mengetahui pemeriksaan penunjang dari Leukimia
8. Mengetahui asuhan keperawatan Leukimia

2
BAB II

MODUL 3

PERDARAHAN BAWAH KULIT ATAU MEMAR

A. Skenario 2

An. S 3 tahun dibawah sama orang tuanya ke poli klinik anak RSUP Dr.
Wahidin Sudirihusodo Makassar tanda dan gejala berkaitan dengan
netropenia dan trombositopeonia, timbulnya tukak pada membran mukosa,
abses perirektal, pnemonia, septikemia disertai menggigil, demam, tachikardi
dan tachypnea. Trombositopenia menyebabkan perdarahan yang tak
terkontrol.

1. Kata kunci
a. Netropenia
b. Trombositopenia
c. Tukak pada membran mukosa
d. Abses perirektal
e. Pnemonia
f. Septikemia
g. Menggigil
h. Demam
i. Tachikardi
j. Tachipnea
k. Perdarahan yang tak terkontrol

2. Problem kata kunci : Leukimia

3. Klarifikasi kata kunci


a. Netropenia?
Jawab : Netropenia adalah kondisi dimana jumlah dari neutropils
adalah tipe dari sel darah putih juga dikenal sebagai polymorponclear
leucocytes atau PMNS, netropenia mempengaruhi kemampuan tubuh
untuk melawan infeksi. Demam netropenia merupakan suatu sindrom
yang terdiri dari dua gejala, yaitu adanya demam dan netropenia yang
didefinisikan sebagai absolute neutrophils count/ANC <500 sel/mm3,
yang seringkali muncul pada pasien keganasan akibat penyakit
maupun pengobatannya salah satunya adalah leukimia limfoblastik

3
b. Trombositopenia?
Jawab :
Trombositopenia adalah kondisi medis dimana sumsum tulang tidak
menghasilkan trombosit dalam jumlah normal. Ketika sel leukimia
mendesak sumsum tulang, produksi trombosit akan terganggu dan
jumlahnya tidak memadai. Nilai trombosit yang normal adalah
150.000
c. Tukak pada Membran mukosa?
Jawab :
Tukak pada membran mukosa adalah jaringan berbentuk lapisan atau
membran yang melapisi beberapa organ fungsi.
1) Melindungi, melembabkan dan melicinkan lapisan sehingga tidak
kering (pada mukosa mulut, sinus, mata, dan genital).
2) Menangkap kuman, debu, dan kotoran sehingga dapat dibuang oleh
tubuh (mukosa, hidung mulut dan genital).
3) Melicinkan lapisan sehingga mudah terjadi pertukaran udara (pada
mukosa paru-paru).
4) Membantu penyerapan zat-zat nutrisi (pada mukosa usus).
Penyebab tukak pada membran mukosa yaitu dapat menurunkan
perlindungan dinding lambung terhadap asam lambung, meliputi
infeksi, bakteri, veliobakter pylon dan penggunaan obat anti inflamasi
nonsteroid.
d. Pneumonia?
Jawab :
Pnemonia adalah infeksi yang memicu inflamasi pada kantong-
kantong udara disalah satu atau kedua paru-paru.
e. Septikemia ?
Jawab :
Septikemia adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami
keracunan darah akibat bakteri dalam jumlah besar kedalam aliran
darah, sehingga yang berisiko terkena septikimia adalah :
1) Memiliki luka parah atau luka bakar
2) Usia sangat muda (bayi) atau sangat tua
3) Memiliki masalah kekebalan tubuh seperti HIV atau leukimia
f. Demam ?
Jawab :
Demam pada leukimia biasanya lebih dari 38° Celsius yang
berlansung beberapa hari dan sering terjadi. Nantinya deamam ini
akan berimpas pada pembangkakan kelenjar getah bening. Sel kanker
dapat menyebabkan deman karena ada pelepasan zat-zat peradangan

4
(sitokinin inflamasi) sehingga menyebabkan demam. Selain itu
demam juga sering disebabkan karena adanya infeksi akibat kekebalan
tubuh yang menurun.
g. Perdarahan yang tak terkontrol
Jawab :
Ketika pletelet (sel pembeku darah) tidak terproduksi dengan wajar
karena didominasi oleh sel darah putih, amak penderita akan
mengalami perdarahan dijaringan kulit (banyaknya jentik merah
lebar/kecil dijaringan kulit).
4. Pertanyaan penting dan jawaban
a. Apa yang dimaksud dengan leukimia ?
Jawaban :
Leukemia adalah poliferasi sel lekosit yang abnormal, jumlahnya
berlebihan dan dapat menyebabkan anemia, trombisitopeni dan
diakhiri dengan kematian.
b. Sebutkan penyebab dari leukimia !
Jawaban :
Untuk penyebabnya sendiri sampai saat ini masih belum diketahui.
Tetapi kebanyakan telah ditemukan beberapa faktor penyebabnya,
antara lain :
1) Radiasi
Menurut data,
2) Faktor leukemogenik
Maksudnya disini itu karena faktor zat kimia tertentu. Biasanya
racun lingkungan seperti benzena, insektisida.
3) Virus
Virus HTLV (T-cell Laukemia Viruses) merupakan virus
penyebab utama dari ketidaknormalan perkembangan sel darah
putih. Biasanya virus yang menyebabkan ketidaknormalan
perkembangan sel darah putih seperti HTLVI atau II. Virus
lainnya antara lain retrovirus atau virus leukemia feline.
4) Herediter
Heredier yaitu keturunan
c. Jelaskan patofisiologi leukimia !
Jawaban :
Proses patofisiologi leukimia dimulai dari transformasi ganassel induk
hematologis atau turunannya. Proliferasi ganas sel induk ini
menghasilkan sel leukimia dan mengakibatkan hah-hal berikut.
1) Penekanan hematopoiesis normal, sehingga terjadi bone marrow
failure

5
2) Infiltrasi sel leukimia ke dalam organ, sehingga menimbulkan
organomegali.
3) Katabolisme sel meningkat, sehingga terjadi keadaan
hiperkatabolik.
d. Sebutkan tanda dan gejala dari leukimia !
1) Berdasarkan dengan netropenia dan trobositopenia adalah infeksi
berat yang rekuren (lesi yang paling sering muncul dalam rongga
mulut) yaitu timbulnya :
a) Tukak pada membran mukosa
b) Abses perirektal
c) Pnemonia
d) Septikemia disertai menggigil
e) Demam
f) Tachikardi
g) thacipnea
2) Pilek yang tidak sembuh-sembuh
3) Pucat, lesuh mudah terstimulasi
4) Demam dan anoreksia
5) Berat badan menurun
6) Ptechiae (ruam pada kulit) memar tanpa sebab
7) Nyeri pada tulang dan persendian
8) Nyeri abdomen
9) Lumphedenopathy (kelenjar sistem imun yang umumnya
membesar karena infeksi bakteri atau virus, namun beberapa
kelenjar getah bening yang membengkak secara bersamaan dapat
mengindikasikan adanya kanker)
10) Hepatosplenomegali (pembesaran hati)
11) Abnormal WBC
e. Sebutkan komplikasi dari leukimia !
Jawab :
1) Infeksi
2) Perdarahan/koagulasi intravaskuler diseminata (DIC)
3) Disfungsi ginjal
4) Sindrom lisis tumor
5) Deplesi nutrisi
6) Mulositis
7) Depresi dan ansietas

6
f. Bagaimana penanganan dari leukimia ?
Jawab :
1) Kemoterapi
Merupakan pilihan terapi paling umum untuk kasus leukemia.
2) Radioterapi
Tekhnik pengobatan ini menggunakan sinar X untuk
mengancurkan dan menghambat pertumbuhan sel-sel kanker
3) Transplantasi sel induk (stem cell)
Untuk mengganti sumsum tulang yang sudah rusak dengan yang
sehat. Sel-sel induk yang digunakan bisa berasal dari tubuh anda
sendiri atau tubuh orang lain sebagai pendonor.
4) Terapi terfokus
Untuk menyerang bagian-bagian rentang dalam sel-sel kanker
5) Terapi biologis
Untuk membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan
menyerang sel-sel kanker
6) Penantian dengan pengawasan
Ini ditujuksn bsgi penderita leukemia limfatik kronis. Dalam terapi
ini, pengamatan secara seksama dilakukan guna melihat
perkembangan penyakit. Tetapi ini juga dapat dilakukan jika
seseorang sudah terbukti mengidap leukemia limfatik kronis,
namun tidak mengalami gejala yang menunjukkan penyakit
tersebut.

7
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Medis
1. Definisi Leukemia
a. Menurut Handayani & Haribowo, (2008). Leukemia didefinisikan
sebagai keganasan hematologis akibat proses neoplastik yang
disertai gangguan diferensiasi pada berbagai tingkatan sel induk
hematopoietik.
b. Menurut Hasan R dalam Nurarif & Kusuma, (2015). Leukemia
adalah poliferasi sel lekosit yang abnormal, jumlahnya berlebihan
dan dapat menyebabkan anemia, trombisitopeni dan diakhiri
dengan kematian.
c. Menurut Brunnert & Suddarth, (2014). Leukemia adalah
poliferasi yang tidak teratur atau akumulasi sel darah putih
(WBC) disumsum tulang selain itu dijumpai pula proliferasi di
hati dan limpa serta invasi ke organ lain seperti meninges, nodus
limfe, gusi dan kulit.
2. Klasifikasi Leukemia
Menurut Nurarif & Kusuma, (2015), klasifikasi leukimia berdasarkan
maturasi sel dan tipe sel yaitu :
a. Leukemia akut
Leukemia akut adalah keganasan primer sumsum tulang yang
berakibat terdesaknya komponen darah normal oleh komponen
darah abnormal (blastosit) yang disertai dengan penyakit keorgan-
organ lain. Leukemia akut memiliki perjalanan klinis yang cepat,
tanpa pengobatan penderita akan meninggal rata-rata dalam 4-6
bulan.
b. Leukemia Limfositik Akut (LLA); LLA merupakan jenis
leukemia dengan karakteristik adanya proliferasi dan akumulasi
sel-sel patologis dari sistem limfopoetik yang mengakibatkan
organomegali (pembesaran organ dalam ) dan kegagalan organ.
LLA lebih sering ditemukan pada anak-anak (82%) dari pada
umur dewasa (18%). Insiden LLA akan mencapai puncaknya
pada umur 3-7 tahun. Tanpa pengobatan sebagian anak-anak akan
hidup 2-3 bulan setelah terdiagnosis terutama diakibatkan oleh
kegagalan dari sumsum tulang.
c. Leukemia Mielositik Akut; LMA merupakan leukemia yang
mengenai sel stem hematopoetik yang akan berdiferensiasi ke
semua sel mieloid.LMA merupakan leukemia nonlimfositid yang

8
paling sering terjadi. Lebih sering ditemukan pada orang dewasa
(85%) dibandingkan anak-anak (15%).permulaannya mendadak
dan progresif dalam masa 1-3 bulan dengan durasi gejala yang
singkat. Jika tidak diobati, LNLA fatal dalam 3 smpai 6 bulan
d. Leukimia kronik
Leukimia kronik merupakan suatu penyakit yang ditandai
proliferasi neoplastik dari salah satu sel yang berlangsung atau
terjadi karena keganasan hematologi.
1) Leukemia limfositik kronis (LLK): LLK adalah suatu
keganasan klonal limfosit B (jarang pada limfosit T).
Perjalanan penyakit ini biasanya terlahan, dengan akumulasi
progresif yang berjalan lambat dari limfosit kecil yang
berumur panjang. LLK cenderung dikenal sebagai kelainan
ringan yang menyerang individu yang berusia 50-70 tahun
dengan perbandingan 2:1 untuk laki-laki
2) Leukemia granulositik/mielositik kronik (LGK/LMK):
LGK/LMK adalah gangguan mieloproliferatif yang ditandai
dengan produksi berlebihan sel mieloit (seri granulosit) yang
relatif matang. LGK/LMK mencakup 20% leukemia dan
paling sering dijumpai pada orang dewasa usia pertengahan
(40-50 tahun). Abnormalitas genetik yang dinamakan
kromoson philadelphia ditemukan pada 90-95% penderita
LGK/LMK. Sebagian besar penderita LGK/LMK akan
meninggal setelah memasuki fase akhir yang disebut fase
krisis blastik yaitu produksi berlebihan sel muda leukosit,
biasanya berupa mieloblas/promielosit, disertai produksi
noetrofil, trombosit dan sel darah merah yang amat kurang.
3. Etiologi
Menurut Nurarif & Kusuma, (2015), faktor predisposisi yang
menyebabkan terjadinya leukemia yaitu :
a. Faktor Genetik : virus tertentu menyebabkan terjadinya perubahan
struktur gen (Tcell Leukemia _ Lymphoma Virus / HLTV )
b. Radiasi
c. Obat-obat immunosupresif, obat-obat kardiogenik seperti
diethylstilbestrol
d. Faktor herediter, misalnya pada kembar monozigot
e. Kelainan kromososm, misalnya down sindrom.

9
4. Patofisiologis
Faktor pencetus: Sel neoplasma
- Genetik - kelainan kromosom
berproliferasi didalam
- Radiasi - infeksi virus
- Obat-obatan - paparan bahan kimia sumsum tulang

Infiltrasi sumsum tulang Penyebaran ekstramedular Sel enkogen

MII sirkulasi darah MII system limfatik Pertumbuhan berlebihan

Pembesaran hati dan Nodus limfe Kebutuhan nutrisi


limpa meningkat

Limfadenopati Hipermetabolisme
Hepatosplenomegali

Ketidakseimbangan
Penekanan ruang Peningkatan tekanan
nutrisi kurang dari
abdomen intra abdomen
kebutuhan tubuh

Sel normal digantikan Gangguan rasa nyaman


oleh sel kaknker nyeri

Ketidakseimbangan
Depresi produksi Suplai oksigen kejaringan perfusi jaringan perifer
sumsum tulang inadekuat

Resiko perdarahan
Penurunan eritrosit Anemia

Penurunan trombosit Trombositopenia Kecenderungan


perdarahan

Penurunan fungsi Daya tahan tubuh


leukosit menurun Resiko infeksi

Infiltrasi periosteal Kelemahan tubuh

Tukak lunak dan lemah Stimulasi saraf C


(nociceptor)

Fraktur fisiologis
Gangguan rasa nyaman
dan nyeri
Hambatan mobilitas fisik

10
5. Manifestasi klinis
Menurut Nurarif & Kusuma, (2015). Ada beberapa klasifikasi
manifestasi klinik yang sering dijumpai pada penyakit leukemia
diantaranya adalah :
a. Leukemia Limfositik Akut
Gejala klinis LLA sangat bervariasi. Umumnya menggambarkan
kegagalan sumsum tulang. Gejala klinis berhubungan dengan anemia
(mudah lelah, letargi,pusing, sesak, nyeri dada), infeksi dan
perdarahan. Selain itu juga ditemukan anoreksi, nyeri tulang dan
sendi, hipermetabolisme. Nyeri tulang bisa di jumpai terutama pada
sternum, tibia dan femur.
b. Leukemia Mielositik Akut
Gejala utama LMA adalah rasa lelah, perdarahan dan infeksi yang
disebabkan oleh syndrom kegagalan sumsum tulang. Perdarahan
biasanya terjadi dalam bentuk purpura atau petekia. Penderita LMA
dengan leukosit yang sangat tinggi (lebih dari 100 ribu/mm3) biasanya
mengalami gangguan kesadaran, sesak nafas, nyeri dada dan
priapismus. Selain itu juga menimbulkan gangguan metabolisme yaitu
hiperurisemia dan hipoglikemia.
c. Leukemia Limfositik Kronik
Sekitar 25% penderita LLK tidak menunjukkan gejala. Penderita LLK
yang mengalami gejala biasanya ditemukan limfadenopati
generalisata, penurunan berat badab dan kelelahan. Gejala lain yaitu
hilangnya nafsu makan dan penurunan kemampuan latihan atau
olahraga. Demam, keringat malam dan infeksi semakin parah sejalan
dengan perjalanan penyakitnya.
d. Leukemia Granulositik/Mielositik Kronik
LGK memiliki 3 fase yaitu fase kronik, fase akselerasi dan fase krisis
blas. Pada fase kronik ditemukan hipermetabolisme, merasa cepat
kenyang akibat desakan limpa dan lambung. Penurunan berat badan
terjadi setelah penyakit berlangsung lama. Pada fase akselerasi
ditemukan keluhan anemia yang bertambah berat, petekie, ekimosis,
dan demam yang disertai infeksi.
6. Pemeriksaan Penunjang
Nurarif & Kusuma, (2015). Pemeriksaan penunjang pada penyakit
leukemia :
a. Darah tepi: adanya pensitonpenia, limfositosis yang kadang-kadang
menyebabkan gambaran darah tepi monoton terdapat sel blast, yang
merupakan gejala patogonomik untuk leukimia.

11
b. Sumsum tulang: dari pemeriksaan sumsum tulang akan ditemukan
gambaran yang monoton yaitu hanya terdiri dari sel limfopoetik
patologis sedangkan sistem lain terdesak (apabila sekunder).
c. Pemeriksaan lain
- Biopsi limpa (memperlihatkan proliferasi sel leukimia dan sel yang
berasal dari jaringan limfe yang terdesa seperti: limfosit normal dan
RES).
- Kimia darah (asam urat meningkat hipogamaglobinemia)
- Cairan cerebrospinal (terdapat peninggian jumlah sel patologis dan
protein.
- Sitogenik (menunjukkan kelainan kromosom, yaitu kromosom 21
(kromosom piladelpia atau Phi)
7. Pengobatan
a. Transfusi darah bila Hb kurang dari 6g dl
b. Kortikosteroid
c. Sistostatika
d. Imunoterapi
e. Infeksi sekunder dihindarkan atau isolasi
8. Penatalaksanaan
a. Kemoterapi
1) Kemoterapi pada penderita LLA
Pengobatan umumnya terjadi secara bertahap, meskipun tidak
semua fase yang digunakan untuk semua orang.
2) Kemoterapi pada penderita LMA
- Fase induksi ; fase induksi adalah regimen kemoterapi yang
intensif, bertujuan untuk mengeradikasi sel-sel leukemia
secara maksimal sehingga tercapai remisi komplit.
- Fase konsolidasi ; fase konsolidasi dilakukan sebagai tindak
lanjut dari fase induksi. Kemoterapi konsolidasi biasanya
terdiri dari beberapa siklus kemoterapi dan menggunakan
obat dengan jenis dan dosis yang sama atau lebih besar dari
dosis yang digunakan pada fase induksi. Dengan pengobatan
modern, angka remisi 50-75%, tetapi angka rata-rata hidup
masih 2 tahun yang dapat hidup lebih dari 5 tahun hanya
10%.
3) Kemoterapi pada penderita LLK
Derajat penyakit LLK harus ditetapkan karena menetukan strategi
terapi dan prognosis. Salah satu sistem penderajatan yang dipakai
ialah klasifikasi Rai:
- Stadium 0 : limfositosis darah tepi dan sumsum tulang.

12
- Stadium I : limfositosis dan limfadenopati
- Stadium II : limfositosis dsn splenomegali/hepatomegali
- Stadium III: limfositosis dan anemia (Hb<11gr/dl)
- Stadium IV: limfositosis dan trombositopenia <100.000/mm3
dengan/tanpa gejala pembesaran hati, limpa,kelenjar.

Terapi untuk LLK jarang mencapai kesembuhan karena tujuan


terapi bersifat konvensional terutama untuk mengendalikan
gejala. Pengobatan tidak diberikan kepada penderita tanpa gejala
karena tidak memperpanjang hidup. Pada stadium I atau II
pengamatan atau kemoterapi adalah pengobatan biasa. Pada
stadium III atau IV diberikan kemoterapi intensif. Angka
ketahanan hidup rata-rata adalah sekitar 6 tahun dan 25% pasien
dapat hdup lebih dari 10 tahun pasien dengan stadium 0 atau I
dapat bertahan hidup rata-rata 10 tahun sedangkan pada pasien
dengan stadium III atau IV rata-rata dapat bertahan hidup kurang
dari 2 tahun

4) Kemoterapi pada penderita LGK/LMK


- Fase kronik : busulfan dan hidroksiurea merupakan obat pilihan
yang mampu menahan pasien dari gejala untuk jangka waktu
yang lama. Regimen dengan bermacam obat yang intensif
merupakan terapi pilihan fase kronis LMK yang tidak
diarahkan pada tindakan transplantasi sumsum tulang
- Fase akselerasi : sama denga terapi leukemia akut, tetapi respon
sangat rendah
b. Radioterapi
Radioterapi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh
sel-sel leukemia.
c. Transplantasi Sumsum Tulang
Transplantasi sumsum tulang dilakukan untuk mengganti sumsum
tulang yang rusak karens dosis tinngi kemoterapi atau terapi
radiasi.selain itu, transplantasi sumsum tulang berguna untuk
mengganti sel-sel darah ysng rusak karena kanker.
d. Terapi suportif
Terapi suportif berfungsi untuk mengatasi akibat-akibat yang
ditimbulkan penyakit leukemia dan mengatasi efek samping
obat.mislnya transfusi darah untuk penderita leukemia dengan
keluhan anemia, transfusi trombosit untuk mengatasi perdarahan dan
antibiotik untuk mengatasi infeksi.

13
9. Prognosis
Dalam pengobatan moderen, angka remisi nya 50/ 75%, tetapi
angka rata rata hidup masih 2 tahun dan yang dapat hidup lebih dari 5
tahun hanya 10%.

B. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
a. Biodata
Terutama menyerang usia 3-4 tahun.
b. Riwayat penyakit
- Keluhan utama (pucat dan panas)
- RPS (pucat mendadak disertai panas dan pendarahan)
- RPD (antenatal : ibu menderita leukimia, natal dan post natal
c. Aktivity daily life
- Nutris (nafsu makan hilang, penurunan BB)
- Eliminasi (terjadi konstipasi dan diare)
- Istirahat (sering tidur)
- Aktivitas (lemah, lelah, nyeri sendi)
- Kesehatan personal (terganggu)
d. Pemeriksaan
1) Pemeriksaan umum
- Kesadaran : composmentis sampai koma
- Tekanan darah : hipotensi
- Nadi : takikardi dan filiformis
- Suhu : demam sampai dengan hiperpireksia
2) Pemeriksaan fisik
- Wajah : pucat
- Mata : konjungtiva pucat, perdarahan retina, pupil udema
- Hidung : epikstaksia
- Mulut : gusi berdarah, bibir pucat, hipertropi gusi, stomatitis
- Leher : pembesaran kelenjar betah bening, faringitis
- Dada : nyeri tekan pada tulang dada, terdapat efusi pleura
- Abdomen : hepatomegali, spenomefali, limfodenapati
- Skeletal : nyeri tulang dan sendi
- Integumen : purpura, ekimosis, ptekie, mudah memar
2. Diagnosis Keperawatan
a. Risiko infeksi yang berhubungan dengan ketidakefektifan sistem
imun.
b. Intoleran aktivitas yang berhubungan dengan gangguan transpor
oksigen sekunder terhadap berkurangnya jumlah sel darah merah.

14
c. Risiko luka yang berhubungan dengan ketidakadekuatan faktor
pembeku (platelet).
d. Kecemasan yang berhubungan dengan ketidakadekuatan dengan
diagnosa baru dan rencana perawatan.
3. Intervensi keperawatan
a. Diagnosa 1.
Tujuan : mencegah terjadinya infeksi.
1). Kriteria hasil :
 Menunjukkan tidak ada tanda-tanda infeksi.
 Suhu 365°-374°C
 Kultur darah (-)
 Tidak ada tanda infeksi dalam pemeriksaan fisik.

2). Intervensi.

 Monitor TTV tiap 4 jam, jangan memakai termometer rektal


 Cegah konstipasi dan prosedur invasi jaringan, melakukan
injeksi IM, SC, IV.
 Ambil darah melalui ibu jari tidak dengan jarum suntik
 Inspeksi kulit setiap hari pada daerah yang rusak.
 Inspeksi rongga mulut apakah ada candida dan kerusakan pada
lapisan mukosa oral.
 Instruksi keluarga tentang tanda infeksi dan langkah yang
diambil jika ada dugaan infeksi.
 Beri semangat untuk higienis oral
b. Diagnosa 2.
Tujuan : aktivitas anak menjadi meningkat.
1). Kriteria hasil :
 HR, keseimbangan cairan sesuai unsur.
 Keluarga atau anak mengerti tanda-tanda anemia dan
penyebab
 Membentuk ADL yang tepat tanpa bantuan.
2). Intervensi :
 Kaji HR dan urin tiap 4 jam.
 Diskusikan dengan orang tua dan anak tanda anemia dan
tindakan pilihan.
 Berikan transfusi RBC.
 Susunlah periode istirahat.
c. Diagnosa 3.
Tujuan : mencegah luka yang berkelanjutan

15
1). Kriteria hasil :
 Menunjukkan tidak ada tanda-tanda pendarahan dalam
prosedur RS.
 Mempunyai pergerakan sehari.
 Bebas luka dan lingkungan yang bebas.
 Orang tua/ anak secara verbal mengenal tindakan yang
diperlukan ketika jumlah patelet turun.
2). Intervensi :
 Monitor jumlah platelet.
 Inspeksi feses, gusi, emesis, sputum, sekret nassal.
 Minimalkan atau hindari prosedur infasi.
 Cegah konstipasi.
 Sediakan lingkungan yang aman.
 Instruksikan pada klien unruk memodifikasi kegiatan yang
tepat untuk meminimalkan risiko trauma.
d. Diagnosa 4
Tujuan : mengurangi terjadinya kecemasan.
1). Kriteria hasil :
 Orang tua mengungkapkan secara verbal tentang diagnosa.
 Orang tua ikut serta dalam rencana pelaksanaan.
 Orang tua memikirkan spesifik untuk pelaksanaan
keperawatan.

2). Intervensi :

 Buatkan orang tua diagnosa dan tindakan dengan teratur.


 Perkenalkan keluarga kepada keluarga lain dimana anak
mereka mempunyai diagnosa sama dan terapi yang sama.
 Perkuat secara verbal rencana setiap hari.
 Berikan tulisan dan verbal tentang instruksi tindakan yang
dilakukan di rumah.

16
BAB IV

PENUTUP
A. Kesimpulan

Adalah poliferasi sel lekosit yang abnormal, jumlahnya berlebihan dan


dapat menyebabkan anemia, trombisitopeni dan diakhiri dengan kematian.

Leukemia didefinisikan sebagai keganasan hematologis akibat proses


neoplastik yang disertai gangguan diferensiasi pada berbagai tingkatan sel
induk hematopoietik.

B. Saran
Bagi keluarga sebaiknya memahami tatalaksana terapeutik untuk pasien
leukimia agar penyakitnya tidak memasuki stadim lanjut.

17
Daftar Pustaka

Bararah, T., & Jauhar, M. (2013). Asuhan Keperawatan : Panduan Lengkap


Menjadi Perawat Profesional. Jilid 2. Prestasi

Smeltzer, C.S. (2016).Dalam Buku Medikal Bedah Burner & Sudder. Jakarta:
EGC

Handayani, S. & Haribowo, A, S. (2008). Asuhan Keperawatan Pada Klien


Dengan Gangguan sistem Hematologi.

Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi NANDA & NIC-NOC. Yogyakarta:
Mediaction.

18