Anda di halaman 1dari 15

Cerita Rakyat dari Gorontalo : Asal Muasal

Tapatopo, Tuladenggi dan Panthungo


Dahulu, seorang raja yang arif dan bijaksana bernama Raja Tilahunga memerintah di
Kerajaan Bolango. Raja Tilahunga memiliki kegemaran berkelana ke pelosok kerajaan
untuk melihat kehidupan rakyatnya sambil mencari dan membangun lahan-lahan yang
subur agar dapat menjadi mata pencaharian bagi rakyatnya.

Suatu saat, Raja mengajak beberapa pengawal untuk menemaninya berkelana. Karena
perjalanan kali ini cukup jauh, ia meminta para pengawal untuk mempersiapkan segala
macam perbekalan don peralatan.

Kemudian, rombongan itu memulai perjalanan pada pagi hari. Menjelang siang, rombongan
raja sampai di sebuah bukit yang pepohonannya tinggi dan rindang. Raja memerintahkan
para pengawalnya untuk berhenti dan beristirahat.

"Tempat ini sangat nyaman, sebaiknya! kita beristirahat sejenak di sini," kata Raja. Para
pengawal segera beristirahat di bawah pohon-pohon yang rindang. Beberapa pengawal
hendak menyiapkan tempat yang paling nyaman untuk Raja. Namun, raja menolaknya. Ia
ingin bisa berbaur dengan para pengawalnya sebagai teman, karena saat itu mereka bukan
berada di istana.

Raja melepaskan pakaian kerajaan dan meletakkannya di tanah, ini artinya melepaskan
jabatannya sebagai raja dan menjadi rakyat biasa. Sejak saat itulah, daerah itu dinamakan
tapatopo, yang artinya meletakkan jabatan untuk sementara waktu.

Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan. Saat itu, matahari bersinar sangat terik,
sehingga perjalanan terasa melelahkan don rombongan ini mulai merasakan lapar dan
haus.

Di sebuah padang rumput, raja memerintahkan para pengawalnya untuk berhenti.

"Sebaiknya, kita berhenti dulu. Kita makan perbekalan kita," perintah raja.

Semua pengawal merasa senang. Mereka pun membuka bekal dan mulai menyantapnya.
Ketika sebagian pengawal dan Raja selesai makan dan mulai merapikan sampah bekas
sisa makanan, beberapa pengawal lain terus saja makan sekenyang-kenyangnya.

"Lebih baik kalian jangan makan terlalu banyak, sekenyangnya saja. Ingatlah, perjalanan
kita masih jauh. Jangan sampai kita kehabisan bekal." kata Raja berusaha mengingatkan
pengawal-pengawalnya yang masih makan dengan lahapnya.

Seorang pengawal yang bernama Denggi tampak tidak berhenti makan. Bahkan, karena
terlalu rakus Ia merampas sisa bekal makanan temannya yang lain yang sengaja
menyimpan sisa makanan itu. Terjadilah kegaduhan, apa lagi ternyata ia merampas
makanan banyak sekali.
Cerita Rakyat dari Gorontalo Asal Usul Nama Daerah

Raja lalu menasihati Denggi bahwa perbuatannya itu tidak baik. Akhirnya, Denggi mau
mengakui kesalahannya dan minta maaf kepada teman-temannya. Konon, sejak saat itulah
padang rumput itu dinamakan tuladenggi, yang artinya Denggi yang rakus.

Kemudian, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Sampailah rombongan kerajaan ini di


sebuah daerah di tepi Danau Limboto. Daerah itu sangat subur. Raja bermaksud membuka
lahan di sana, Ia pun memerintahkan para pengawalnya untuk mendirikan tenda-tenda dan
menyiapkan peralatan untuk membuka lahan.

Pengawal raja terkejut ketika mereka menemukan tangkai pegangan peralatan kerja
mereka sudah banyak yang patah. Lalu, mereka melaporkan hal ini pada Raja.

"Cepat usahakan untuk memperbaiki tangkai peralatan berkebun itu," perintah Raja.
Tempat itu lalu dinamai "Panthungo, artinya tangkai pegangan alat berkebun.

Mereka lalu menggarap daerah tersebut don menanaminya dengan tanaman palawija.
Daerah itu kini menjadi tempat penghasil palawija dan sayur mayur yang sangat subur.

Setelah lahan telah selesai digarap dan menghasilkan panen yang banyak, Raja dan
rombongannya memutuskan kembali ke kerajaan. Tujuan Raja untuk membuka lahan-lahan
subur dalam perjalanannya kali ini telah tercapai.

Pesan moral dari Cerita Rakyat dari Gorontalo : Asal Usul Nama Daerah adalah
pemimpin harus bersikap ad1l, arif, dan bijaksana, sehingga membawa banyak manfaat
bagi orang lain.
Cerita Rakyat dari Sulawesi Barat : Asal
Muasal Pamboang
Tiga orang pemuda dari kampung Benua, berniat memperluas permukiman dan ladang
penduduk, termasuk membangun pelabuhan agar masyarakat lebih makmur.

Mereka diberi gelar I Lauase, I Lauwella, dan I Labuqang. Gelar tersebut didapat sesuai
dengan bidang yang mereka kerjakan dalam mewujudkan keinginan mereka itu. I Lauase
bertugas membuka hutan menjadi ladang dengan menggunakan wase, yaitu sejenis kapak.
I Lauwella bertugas membabat dan membersihkan wella atau rumput laut di pantai untuk
dijadikan tempat perdagangan. Sementara itu, I Labuqang bertugas meratakan tanah di
pantai yang berlubang-Iubang, karena ulang buqang atau kepiting.

Mereka berencana menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik dan dalam waktu yang
cepat. Dengan demikian, mulailah mereka mengelola lahan tersebut.

"Apa nama yang tepat untuk wilayah kota ini?" ujar I Labuqang.

"Bagaimana kalau Pallayarang Tallu?"" seru I Lauase, "Pallayarang artinya tiang layar. Tallu
artinya tiga. Berarti tiga tiang layar."

Ketiganya menganggap itu nama yang bagus.

Pada suatu hart, datanglah sekitar 7.000 pengungsi yang dipimpin oleh seseorang yang
bernama Puatta Di Karena. Mereka berasal dari wilayah Adolang yang merupakan wilayah
perbatasan dengan Pallayarang Talu. Mereka adalah pengungsi dari Kerajaan
Passokkorang yang telah hancur diserang musuh.

Setelah agak lama menetap di sana, Puatta Di Karena pergi menemui I Lauase dan
mengajaknya bergabung dalam persekutuan Kerajaan Mandan

"Biarkan aku berunding dulu dengan yang lain, datanglah kembali besok," kata I Lauase.
Ternyata, I Lauwase dan I laubuqang tidak setuju.

Keesokan harinya, I Lauase menyampaikan kesepakatan bahwa mereka tidak berminat ikut
bergabung dengan persekutuan itu.

"Bagaimana kalau kami berikan tambo (upah) untuk kalian? Namun, wilayah ini harus
masuk dalam persekutuan," kata Puatta Di Karena.

Dengan pertimbangan, yaitu jika mereka terus-menerus mendapatkan tambo, kehidupan


masyarakatnya akan lebih makmur, ketiganya sepakat menerima tawaran tersebut.

"Kapan kau akan mengantarkan tambo itu kepada kami?" "Seminggu dari sekarang," kata
Puatta Di Karena

Akhirnya, mereka bertiga masuk dalam persekutuan Kerajaan Mandar. Namun, Puata Di
Karena tidak pernah datang memberikan upah tambo. Akhirnya, kata-kata tambo menjadi
bahan pembicaraan masyarakat Pallayarang Talu. Lama-kelamaan nama daerah itu
berubah menjadi daerah Tamboang, dan sekarang sudah berubah menjadi Pamboang.
Dongeng Nusantara : Cerita Rakyat Dari
Papua : Kisah Kucing Karkal dan Burung Puyuh

Dongeng Nusantara Cerita Rakyat Dari Papua Kisah Kucing Karkal dan Burung Puyuh

Disebuah gurun luas serta gersang hanya beberapa tumbuhan yang mampu hidup disana
seperti rumput-rumputan dan jenis tumbuhan kaktus, kehidupan di gurun sangat sulit
khususnya untuk para hewan, mereka harus berjuang mencari makanan yang jumlahnya
terbatas, mencari minum yang hanya berada di oase dan juga mereka harus bersiap-siap
kabur dari para pemangsa. Suatu hari seekor kucing sedang karkal berjalan di bebatuan
mencari makanan, sudah lima hari perutnya tidak diisi namun sang karkarl tidaklah
merasakan lapar yang sangat luar biasa karena dirinya telah terbiasa hidup digurun tanpa
makanan selama 2 minggu. Karkal berjalan menuju sebuah oase yang letaknya tidak jauh
dari tempatnya, sang karkal berharap ada seekor tikus maupun burung yang bisa ia
tangkap disana.

Ketika sang karkal mendekati oase, hal pertama yang dia lakukan adalah mencari tempat
untuk melihat keadaan oase dengan jelas, lalu sang karkal mengincar hewan yang sedang
minum disana setelah mendapatkan calon hewan untuk dimangsa, sang karkal
mengendap-endap di sela-sela rerumputan kering dan ketika posisi sang karkal telah tepat
maka sang karkal langsung menerkamnya. Namun hal itu tidak terjadi karena ketika sang
karkal mengendap-endap sebuah tulang yang dijatuhkan burung vulture dari udara
mengenai kaki belakang sang karkal hingga membuat kaki sang karkal terluka. Hewan
buruannya kaget melihat sang karkal menjerit lalu pergi, sedangkan sang karkal harus
menahan sakit yang dia derita setelah sebuah tulang keras menghantam kaki belakangnya.

Tidak jauh dari oase seekor burung puyuh mendengar jeritan sang karkal, dia memutuskan
untuk melihat apa sebenarnya yang telah terjadi kepada seekor karkal. Ketika sampai sang
burung puyuh itu bertanya “tuan kucing telinga panjang, apa yang terjadi padamu
bagaimana bisa kakimu terluka seperti itu?” sang karkal menjawab “ketika sedang berburu
sebuah tulang jatuh dari langit dan mengenai kaki belakangku, kini aku harus berjalan
dengan 3 kaki karena satu kakiku sulit aku gerakan.” burung puyuh itu merasa kasihan
melihat keadaan karkal, tadinya burung puyuh tidak mau membantunya karena sang
burung tahu bahwa sang karkal sering bermusuhan dengan burung puyuh namun hal itu
tidak membuat burung puyuh meninggalkannya.

Akhirnya burung puyuh memberikan bantuannya kepada sang karkal “Tuan kucing telinga
panjang, apa aku boleh membantumu?” kata sang burung “kau ini sedang mengejekku ya,
aku ini seekor kucing dan kau seekor burung bisa saja aku menangkapmu ketika kau
membantuku.” jelas sang karkal pada burung puyuh, “Hal itu tidak membuatku
mengurungkan niatku membantumu, begini saja tuan telinga panjang selama aku
mengobatimu kita lupakan permusuhan kita dan setelah kau sembuh baru kita boleh
bermusuhan lagi bagaimana kau setuju?” jelas sang burung “baiklah lagipula aku tak
sanggup mengejarmu dengan kakiku yang seperti ini, aku setuju dengan usulanmu.”

Sang burung mengobati luka kaki kucing karkal hingga sembuh dan kini sang karkal
mampu melompat dan berlari seperti biasa “kau telah mengobati lukaku burung yang tak
bisa terbang, hingga aku mampu berburu lagi, wahai burung puyuh tadinya setelah aku
sembuh aku akan langsung menyerangmu namun aku tidak akan melakukan sesuatu hal
baik yang telah kau lakukan padaku meskipun kita adalah musuh, aku akan selalu
mengingat jasamu.” sang kucing itu langsung meninggalkan burung puyuh sambil berlari
dan meloncat-loncat ke bebatuan.

Pesan moral dari Dongeng Nusantara : Cerita Rakyat Dari Papua : Kisah Kucing
Karkal dan Burung Puyuh adalah tolonglah orang lain yang kesusahan walaupun dia
sering berbuat tidak baik terhadap kita. Balaslah kebaikan dengan kebaikan pula.
Asal Usul Burung Cendrawasih

Di daerah Fak-fak tepatnya, pegunungan Bumberi hiduplah seorang perempuan tua


bersama seekor anjing betina. Perempuan tua bersama anjing itu mendapatkan makanan
dari hutan berupa buah-buahan dan kuskus. Hutan adalah ibu mereka yang menyediakan
makanan untuk hidup. Mereka berdua hidup bebas dan bahagia di alam.

Suatu ketika, seperti biasanya mereka berdua ke hutan untuk mencari makan. Perjalanan
yang cukup memakan waktu belum juga mendapatkan makanan. Anjing itu merasa lelah
karena kehabisan tenaga. Pada keadaan yang demikian tibalah mereka berdua pada suatu
tempat yang ditumbuhi pohon pandan yang penuh dengan buah. Perempuan tua itu serta
merta memungut buah itu dan menyuguhkannya kepada anjing betina yang sedang
kelaparan. Dengan senang hati, anjing betina itu melahap suguhan segar itu. Anjing betina
itu merasa segar dan kenyang.

Namun, anjing itu mulai merasakan hal-hal aneh di perutnya. Perut anjing itu mulai
membesar. Perempuan tua itu memastikan bahwa, ternyata sahabatnya (anjing betina) itu
hamil. Tidak lama kemudian lahirlah seekor anak anjing. Melihat keanehan itu, si
perempuan tua itu segera memungut buah pandan untuk dimakannya, lalu mengalami hal
yang sama dengan yang dialami oleh sahabatnya. Perempuan tua itu melahirkan seorang
anak laki-laki. Keduanya lalu memelihara mereka masing-masing dengan penuh kasih
sayang. Anak laki-laki diberi nama: Kweiya.

Setelah Kweiya menjadi besar dan dewasa, dia mulai membuka hutan dan membuat kebun
untuk menanam makanan dan sayuran. Alat yang dipakai untuk menebang pohon hanyalah
sebuah pahat (bentuk kapak batu). Karenannya, Kweiya hanya dapat menebang satu
pohon setiap harinya. Ibunya ikut membantu dengan membakar daun-daun dari pohon
yang telah rebah untuk membersihkan tempat itu sehingga asap tebal mengepul ke langit.
Setiap kali, hutan lebat itu dihiasi dengan kepulan asap tebal yang membumbung tinggi.
Keduanya tidak menyadari bahwa mereka telah menarik perhatian orang dengan
mengadakan kepulan asap itu.

Konon ada seorang pria tua yang sedang mengail di tengah laut terpaku melihat suatu tiang
asap yang mengepul tinggi ke langit seolah-olah menghubungi hutan belantara dengan
langit. Dia tertegun memikirkan bagaimana dan siapakah gerangan pembuat asap misterius
itu. Karena perasaan ingin tahu mendorongnya untuk pergi mencari tempat di mana asap
itu terjadi. Lalu ia pun segera menyiapkan diri dengan bekal secukupnya dan dengan
bersenjatakan sebuah kapak besi, ia pun segera berangkat. Pria itu berangkat bersama
seekor kuskus yang dipeliharanya sejak lama. Perjalanannya ternyata cukup memakan
waktu. Setelah seminggu berjalan kaki, akhirnya ia mencapai tempat di mana asap itu
terjadi.

Setibannya di tempat itu, ternyata yang ditemui adalah seorang pria tampan membanting
tulang menebang pohon di bawah terik panas matahari dengan menggunakan sebuah
kapak batu berbentuk pahat. Melihat itu, ia menghampiri lalu memberi salam: “weing
weinggiha pohi” (artinya selamat siang) sambil memberikan kapak besi kepada Kweiya
untuk menebang pohon-pohon di hutan rimba itu. Sejak itu pohon-pohonpun berjatuhan
bertubi-tubi. Ibu Kweiya yang beristerahat di pondoknya menjadi heran. Ia menanyakan hal
itu kepada Kweiya, dengan alat apa ia menebang pohon itu sehingga dapat rebah dengan
begitu cepat.
Kweiya nampaknya ingin merahasiakan tamu baru yang datang itu. Kemudian ia menjawab
bahwa kebetulan pada hari itu satu tangannya terlalu ringan untuk dapat menebang begitu
banyak pohon dalam waktu yang sangat singkat. Ibunya yang belum sempat melihat pria itu
percaya bahwa apa yang diceritakan oleh anaknya Kweiya memang benar. Dan karena
Kweiya minta disiapkan makanan, ibunya segera menyiapkan makanan sebanyak mungkin.
Setelah makanan siap dipanggilnya Kweiya untuk pulang makan. Kweiya bermaksud
mengajak pria tadi untuk ikut makan ke rumah mereka dengan maksud
memperkenalkannya kepada ibunya sehingga dapat diterima sebagai teman hidupnya.

Dalam perjalanan menuju rumah Kweiya memotong sejumlah tebu yang lengkap dengan
daunnya untuk membungkus pria tua itu. Lalu setibanya di dekat rumah, Kweiya
meletakkan, “bungkusan tebu” itu di luar rumah. Sewaktu ada dalam rumah Kweiya berbuat
seolah-olah haus dan memohon kepada ibunya untuk mengambilkan sebatang tebu untuk
di makannya sebagai penawar dahaga. Ibunya memenuhi permintaan anaknya lalu keluar
hendak mengambil sebatang tebu. Tetapi ketika ibunya membuka bungkusaan tebu tadi,
terkejutlah ia karena melihat seorang pria yang berada di dalam bungkusan itu. Serta-merta
ibunya menjerit ketakutan, tetapi Kweiya berusaha menenangkannya sambil menjelaskan
bahwa dialah yang mengakali ibunya dengan cara itu. Harapan agar ibunya mau menerima
pria tersebut sebagai teman hidupnya, karena pria itu telah berbuat baik terhadap mereka.
Ia telah memberikan sebuah kapak yang sangat berguna dalam hidup mereka nanti. Sang
ibu serta merta menerima baik pikiran anaknya itu dan sejak itu mereka bertiga tinggal
bersama-sama.

Setelah beberapa waktu lahirlah beberapa anak di tengah-tengah keluarga kecil tadi, dan
kedua orang tua itu menganggap Kweiya sebagai anak sulung mereka. Sedang anak-anak
yang lahir kemudian dianggap sebagai adik-adik kandung dari Kweiya. Namun dalam
perkembangan selanjutnya dari hari ke hari hubungan persaudaraan antara mereka
semakin memburuk karena adik-adik tiri dari Kweiya merasa iri terhadap Kweiya.

Pada suatu hari, sewaktu orang tua mereka sedang mencari ikan, kedua adiknya
bersepakat mengeroyok Kweiya serta mengiris tubuhnya sehingga luka-luka. Karena
merasa kesal atas tindakan kedua adiknya itu, Kweiya menyembunyikan diri di salah satu
sudut rumah sambil meminta tali dari kulit pohon “Pogak nggein” (genemo) sebanyak
mungkin. Sewaktu kedua orang tua mereka pulang ditanyakan di mana Kweiya tetapi
kedua adik tirinya tidak berani menceritakan di mana Kweiya berada. Lalu adik bungsu
mereka, yaitu seorang anak perempuan yang sempat menyaksikan peristiwa perkelahian
itu menceritakannya kepada kedua orang tua mereka. Mendengar cerita itu si ibu tua
merasa ibah terhadap anak kandungnya. Ia berusaha memanggil-manggil Kweiya agar
datang. Tetapi yang datang bukannya Kweiya melainkan suara yang berbunyi: “Eek..ek, ek,
ek, ek!” sambil menyahut, Kweiya menyisipkan benang pintalannya pada kakinya lalu
meloncat-loncak di atas bubungan rumah dan seterusnya berpindah ke atas salah satu
dahan pohon di dekat rumah mereka.

Ibunya yang melihat keadaan itu lalu menangis tersedu-sedu sambil bertanya-tanya apakah
ada bagian untuknya. Kweiya yang telah berubah diri menjadi burung ajaib itu menyahut
bahwa, bagian untuk ibunya ada dan disisipkan pada koba-koba (payung tikar) yang
terletak di sudut rumah. Ibu tua itu lalu segera mencari koba-koba kemudian benang
pintalan itu disisipkan pada ketiaknya lalu menyusul anaknya Kweiya ke atas dahan sebuah
pohon yang tinggi di hutan rumah mereka. Keduanya bertengger di atas pohon sambil
berkicau dengan suara: wong, wong, wong, wong, ko,ko, ko, wo-wik!!
Dan sejak saat itulah burung cenderawasih muncul di permukaan bumi di mana terdapat
perbedaan antara burung cenderawsih jantan dan betina. Burung cenderawasih yang
buluhnya panjang di sebut siangga sedangkan burung cenderawasih betina disebut:
hanggam tombor yang berarti perempuan atau betina. Keduanya dalam bahasa Iha di
daerah Onin, Fak-fak.

Adik-adik Kweiya yang menyaksikan peristiwa ajaib itu meresa menyesal lalu saling
menuduh siapa yang salah sehingga ditinggalkan ibu dan kakak mereka. Akhirnya mereka
saling melempari satu sama lain dengan abu tungku perapian sehingga wajah mereka ada
yang menjadi kelabu hitam, ada yang abu-abu dan ada juga yang merah-merah, lalu
mereka pun berubah menjadi burung-burung. Mereka terbang meninggalkan rumah mereka
menuju ke hutan rimba dengan warnanya masing-masing. Sejak itu hutan dipenuhi oleh
aneka burung yang umumnya kurang menarik di bandingkan cenderawasih.

Ayah mereka memanggil Kweiya dan istrinya dan menyuruh mengganti warna buluh,
namun mereka tidak mau. Ayah mereka khawatir buluh yang indah itu justru mendatangkan
mala petaka bagi mereka. Dia berpikir suatu ketika orang akan memburuh mereka
termasuk ketiga anaknya yang lain. Ayah merasa kecewa kerena mereka tidak
mengindahkan permintaan mereka untuk berubah buluh. Kini Ayahnya kesepian dan sedih,
ia melipat kedua kaki lalu, menjemburkan dirinya ke dalam laut dan menjadi penguasa laut
“Katdundur”.
Asal Usul Nama 'Bali'

Pulau Bali

Tahukah nyame Bali bagaimana asal usul nama Bali, tempat berstananya para dewata?
Berikut penjelasan singkatnya. Semoga bisa menambah pengetahuan kita.

Kedatangan seorang Maha Rsi Markandeya abad ke-7 memberikan pengaruh besar pada
kehidupan penduduk Bali. Beliau adalah seorang pertapa sakti di Gunung Raung, Jawa
Timur.
Suatu hari beliau mendapat bisikan gaib dari Tuhan untuk bertempat tinggal di sebelah
timur Pulau Dawa (pulau Jawa sekarang). Dawa artinya panjang, karena memang dulunya
pulau Jawa dan Bali menjadi satu daratan.
Dengan diikuti oleh 800 pengikutnya, beliau mulai bergerak ke arah timur yang masih
berupa hutan belantara. Perjalanan beliau hanya sampai di daerah Jembrana sekarang Bali
Barat karena pengikut beliau tewas dimakan harimau dan ular-ular besar penghuni hutan.
Akhirnya beliau memutuskan kembali ke Gunung Raung untuk bersemedi dan mencari
pengikut baru.
Dengan semangat dan tekad yang kuat, perjalanan beliau yang kedua sukses mencapai
tujuan di kaki Gunung Agung (Bali Timur) yang sekarang disebut Besakih.
Sebelum pengikutnya merabas hutan, beliau melakukan ritual menanam Panca Dhatu
berupa lima jenis logam yang dipercayai mampu menolak bahaya. Perabasan hutan
sukses, tanah-tanah yang ada beliau bagi-bagi kepada pengikutnya untuk dijadikan sawah,
tegalan, rumah, dan tempat suci yang dinamai Wasukih (Besakih).
Di sinilah beliau mengajarkan agama kepada pengiringnya yang menyebut Tuhan dengan
nama Sanghyang Widhi melalui penyembahan Surya (surya sewana) tiga kali dalam sehari,
menggunakan alat-alat bebali yaitu sesajen yang terdiri atas tiga unsur benda: air, api, dan
bunga harum.

Ajaran agamanya disebut agama Bali. Lambat laun para pengikutnya mulai menyebar ke
daerah sekitar, sehingga daerah ini dinamai daerah Bali, daerah yang segala sesuatunya
mempergunakan bebali (sesajen).
Bisa disimpulkan bahwa nama Bali berasal dari kata bebali yang artinya sesajen.
Ditegaskan lagi dalam kitab Ramayana yg disusun 1200SM: "Ada sebuah tempat di timur
Dawa Dwipa yang bernama Vali Dwipa, di mana di sana Tuhan diberikan kesenangan oleh
penduduknya berupa bebali (sesajen)."
Vali Dwipa adalah sebutan untuk Pulau Vali yang kemudian berubah fonem menjadi Pulau
Bali atau pulau sesajen. Tidak salah memang interpretasi ini melihat orang Bali memang
tidak bisa lepas dari sesajen dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya.
Asal Usul Kota Surabaya : Kumpulan Cerita
Rakyat Jawa Timur
Pada zaman dahulu, di sebuah lautan. Hiduplah dua hewan buas yang sama-sama angkuh
dan tidak mau kalah. Kedua hewan tersebut adalah seekor Ikan Hiu dan seekor Buaya.
Mereka sering berselisih dan berkelahi ketika memperebutkan makanan. Karena keduanya
sama-sama kuat, ganas dan sama-sama cerdik. Perkelahianpun berlangsung sangat lama.
Setelah bertarung berkali-kali dan tetap tak bisa saling mengalahkan, Hiu Sura dan Buaya
itu pun mengadakan kesepakatan. Karena, kedua hewan tersebut sudah merasa bosan
dan lelah jika harus berkelahi. Akhirnya, keduanya sepakat mengadakan perjanjian tentang
pembagian area kekuasaan.

Dengan adanya perjanjian tersebut. kedua hewan tersebut tidak pernah berkelahi lagi.
Karena, keduanya sudah sepakat untuk berdamai, dan saling menghormati daerah
kekuasaannya masing-masing. Namun, selang beberapa waktu yang udah cukup lama.
Ikan-ikan yang menjadi mangsa Hiu Sura mulai habis di lautan kekuasaannya. Akhirnya, ia
pun bersembunyi-sembunyi mulai mencari mangsanya di muara sungai agar tidak di
ketahui oleh Buaya. Namun, lama-kelamaan Buaya pun mengetahuin bahwa Hiu Sura
sudah melanggar perjanjiannya.

Cerita Rakyat Surabaya Dongeng Asal Usul Surabaya

Karena ulah Hiu Sura yang melanggar perjanjian. Akhirnya, mengakibatkan pertarungan
yang sangat sengit antara kedua hewan tersebut. mereka saling gigit, menerkam dan
memukul. Buaya mendapat gigitan Sura di ujung ekor sebelah kanan, sehingga ekor
tersebut selalu membengkok ke kiri. Sedangkan Sura tergigit ekornya hingga nyaris putus.

Karena, sudah sama-sama terluka sangat parah. Keduanya menghentikan perkelahian


tersebut. hiu Sura pun mengalah dan kembali ke daerah kekuasaannya. Buaya yang
menahan rasa sakitnya pun merasa menang karena sudah mempertahankan daerah
kekuasaannya.

Setelah perkelahian yang sangat sengit tersebut. kedua hewan itu terluka sangat parah dan
akhirnya keduanya mati.

Pertarungan antara Ikan Hiu yang bernama Sura dengan Buaya ini sangat berkesan di hati
masyarakat Surabaya. Namun ada juga yang berkata surabaya berasal dari kata sura dan
baya.Sura berarti jaya baya berarti selamat jadi surabaya berarti selamat dalam
menghadapi bahaya
Oleh karena itu, nama Surabaya selalu dikait-kaitkan dengan peristiwa ini. Dari peristiwa
inilah kemudian dibuat lambang Kota Madya Surabaya yaitu gambar ikan sura dan buaya.

Pesan moral dari Cerita Rakyat Jawa Timur : Asal Usul Kota Surabaya adalah jangan
selesaikan masalah dengan kekerasan. Cari penyelesaian yang dapat diterima oleh semua
piha
Dongeng dari Jawa Tengah : Asal Muasal Nama
Daerah Magelang
Dahulu kala, Kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Panembahan Senopati merupakan
sebuah kerajaan yang besar dan berjaya. Ketika Panembahan Senopati ingin memperluas
daerahnya, ia meminta pendapat kepada Ki Gede Pemanahan.

Lalu, mereka sepakat untuk membuka hutan di Kedu. Hutan tersebut angker dan hampir
tidak pernah dijamah manusia. Menurut masyarakat, hutan tersebut dikuasai oleh kerajaan
jin dengan rajanya bernama Jin Sepanjang. Untuk menaklukkan Jin Sepanjang, ditunjuklah
Pangeran Purbaya sebagai Senopati perang.

Pangeran Purbaya dan tentara Kerajaan Mataram menggunakan pusaka untuk membuka
hutan tersebut. Ketika hutan telah terbuka, terjadilah pertempuran hebat antara tentara
Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Pangeran Purbaya dan tentara kerajaan Jin.
Kerajaan jin berhasil dipukul mundur. Namun, Raja Jin Sepanjang berhasil melarikan diri.
Raja Jin Sepanjang berniat membalas kekalahannya pada kemudian hari.

Dongeng dari Jawa Tengah Asal Usul Magelang

Sementara itu, hutan Kedu telah diubah menjadi sebuah desa yang berkembang dan
memiliki pemandangan indah. Di desa tersebut hidup sepasang suami istri, yaitu Kyai
Keramat dan istrinya Nyai Bogem. Mereka memiliki seorang putri yang cantik jelita bernama
Rara Rambat yang kemudian menikah dengan salah satu tentara Kerajaan Mataram
bernama Raden Kuning.

Suatu hari, Kyai Keramat kedatangan seorang Iaki-laki bernama Santa yang ingin
mengabdi kepadanya. Dengan senang hati, ia menerima Santa sebagai abdinya. la tidak
mengetahui bahwa Santa adalah jelmaan Raja Jin Sepanjang yang sedang ingin membalas
dendam.

Santa menggunakan kesaktiannya dengan menyebarkan berbagai penyakit. Akibatnya,


masyarakat dilanda wabah penyakit yang aneh dan mematikan. Banyak orang yang
meninggal, begitu juga para tentara.

Hal ini menimbulkan keprihatinan Pangeran Purbaya, sehingga ia segera melaporkannya


kepada Panembahan Senopati. Lalu, Panembahan Senopati bertapa dan mengadakan
kontak dengan Ratu Pantai Selatan. Usai bertapa, Panembahan Senopati menyampaikan
nasihat dari Ratu Pantai Selatan kepada Pangeran Purbaya.
Kemudian, Pangeran Purbaya menemui Kyai Keramat. Alangkah kagetnya Kyai Keramat
ketika diberitahu bahwa abdinya yang bernama Santa adalah jelmaan Raja Jin Sepanjang
yang telah menyebabkan kesengsaraan rakyat. Santa yang mendengar percakapan
Pangeran Purbaya dan Kyai Keramat pun melarikan diri. Kyai Keramat mengejarnya,
sehingga terjadilah pertempuran. Ternyata, kesaktian Santa dapat mengalahkan Kyai
Keramat hingga Kyai Keramat pun gugur.

Pangeran Purbaya sangat sedih dengan kematian Kyai Keramat dan memerintahkan untuk
menguburkan jenazah Kyai Keramat di daerah tersebut. Daerah itu kemudian dinamakan
Desa Keramat.

Mendengar kematian suaminya, Nyai Bogem sangat marah. la mengejar Santa dan
terjadilah perkelahian. Nyai Bogem dapat dikalahkan oleh Santa dan gugur. Pangeran
Purbaya memerintahkan untuk memakamkan jenazah Nyai Bogem di daerah tempat ia
gugur dan menamakan desa tersebut sebagai Desa Bogeman.

Kematian Kyai Keramat dan Nyai Bogem membuat Pangeran Purbaya memerintahkan
Tumenggung Martoyuda untuk menangkap Raja Jin Sepanjang. Namun, ternyata Raja Jin
Sepanjang dapat mengalahkan Tumenggung Mertoyuda. Mertoyuda dimakamkan di daerah
tempat terjadinya pertempuran tersebut yang itu kemudian dinamakan Desa Martoyuda.

Raden Krincing yang merupakan salah satu senopati di Kerajaan Mataram merasa
terpanggil untuk ikut membantu membinasakan Raja Jin Sepanjang. Namun, sayang la pun
tewas. Pangeran Purbaya memerintahkan untuk menguburkan jenazahnya di tempaf
pertempuran tersebut dan menamakan daerah itu dengan Desa Krincing.

Kematian demi kematian membuat Pangeran Purbaya semakin berniat menghancurkan


Santa alias Raja Jin Sepanjang. la memerintahkan pasukannya untuk mengejar Santa.

Santa lari ke dalam hutan menghindari serangan tersebut. Dengan kesaktiannya, Pangeran
Purbaya dapat melihat Santa dari atas sebuah pohon yang tinggi. la segera menyerang
Santa, sehingga terjadilah perkelahian sengit. Ternyata, kesaktian Pangeran Purbaya Iebih
hebat daripada Santa.

Akhirnya Santa tewas di tangan Pangeran Purbaya. Seketika itu juga, langit menjadi gelap-
gulita seiring dengan kematian Raja Jin Sepanjang. Ketika Raja Jin Sepanjang menghilang
dan perlahan-lahan hutan menjadi terang kembali. Daerah tempat Santa tewas tersebut
kemudian diberi nama Desa Sanfan.

Raja Jin Sepanjang menghilang dan menjelma menjadi sebuah tombak. Pangeran Purbaya
tidak berminat terhadap tombak tersebut, karena berasal dari makhluk yang tidak baik. la
memerintahkan untuk menanam tombak tersebut ke dalam tanah. Kini tempat tersebut
dinamakan Desa Sepanjang.

Pertempuran yang dilakukan oleh Pangeran Purbaya dan tentara Mataram dalam melawan
Santa menggunakan strategi gelang. Strategi gelang adalah mengepung musuh dengan
cara melingkar, mengelilingi musuh dengan rapat. Oleh karena itu, Pangeran Purbaya
menamakan daerah ini Magelang.
Catatan dari Dongeng dari Jawa Tengah : Asal Usul Magelang adalah Magelang adalah
salah satu kota yang terletak di provinsi Jawa Tengah. Magelang berada di antara
Semarang Dan Yogyakarta.

Cerita Rakyat dari Yogyakarta : Asal Mula


Gunung Merapi
Konon, Pulau Jawa memiliki tanah yang miring dan tidak rata. Untuk itu, para dewa di
khayangan ingin menyeimbangkan Pulau Jawa dengan meletakkan sebuah gunung di
tengah Pulau Jawa. Akhirnya, diputuskan untuk memindahkan Gunung Jamurdipa yang
letaknya di Pantai Selatan ke daerah sekitar perbatasan Kabupaten Sleman, Boyolali, dan
Klaten.

Di tempat akan diletakkannya Gunung Jamurdipa, tinggallah dua orang empu sakti
pembuat keris bernama Empu Rama dan Empu Pamadi.

Dalam membuat keris, mereka tidak pernah menempa besi menggunakan palu atau
landasan logam, tetapi langsung dengan tangan dan paha mereka sebagai alasnya.

Kemudian, para dewa mengutus Batara Narada dan Dewa Penyarikan untuk menemui
kedua empu tersebut dan meminta mereka untuk pindah dari sana agar tidak tertindih oleh
gunung yang baru.

Kedua utusan khayangan itu turun ke bumi. Mereka menyampaikan pesan para dewa
kepada kedua empu tersebut.

"Terima kasih atas kedatangan kalian, tetapi mohon maaf kami tidak bisa pindah dari sini,
karena jika kami berpindah-pindah itu tidak baik bagi kualitas keris buatan kami," jawab
Empu Rama.

Batara Narada dan Dewa Penyarikan mencoba kembali menasihati kedua empu, "Namun,
jika hal ini tidak kalian dilakukan, Pulau Jawa akan semakin miring:"

Kedua empu sakti ini tetap pada pendirian mereka dan menolak untuk pindah.

Hal ini membuat Batara Narada dan Dewa Penyarikan marah. Terjadilah pertengkaran yang
dilanjutkan dengan pertarungan di antara keempatnya.

Kesaktian Empu Rama dan Empu Pamadi lebih tinggi, Batara Narada dan Dewa
Penyarikan dapat terpukul mundur.

Dewa-dewa di khayangan murka ketika Batara Narada dan Dewa Penyarikan pulang
dengan tangan hampa.

"Kedua empu itu memang keras kepala! Kalau begitu, kita tidak usah memperhitungkan
mereka. Segera tiupkan Gunung Jamurdipa sekarang juga!" perintah Batara Guru.

Dewa Bayu lalu meniup Gunung Jamurdipa, sehingga terempas dan jatuh tepat di atas
perapian kedua empu tersebut. Empu Rama da Empu Pamadi tewas tertindih gunung
tersebut. Perapian tempat kedua empu tersebut kemudian berubah menjadi kawah.
Akhirnya, gunung tersebut disebut dengan Gunung Merapi, karena letaknya persis di lokasi
perapian kedua empu pembuat keris itu.