Anda di halaman 1dari 59

MINI PROJECT

ANALSIS PROGRAM TB DI PUSKESMAS KELURAHAN


CIPINANG MELAYU TAHUN 2017

Disusun oleh:
dr. Yohan Parulian Sinaga

PUSKESMAS KELURAHAN CIPINANG MELAYU

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


JAKARTA TIMUR

2017

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Tuberkulosis merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang


penting di tingkat global, regional, nasional, maupun lokal. TB diperkirakan sudah
ada di dunia sejak 5000 tahun sebelum masehi. Sekitar sepertiga penduduk dunia
telah terinfeksi oleh bakteri Mycobacterium tuberkulosis. Pada tahun 1995,
diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh
dunia. Sebesar 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia, terjadi pada
negara-negara berkembang.

Indonesia menduduki peringkat ketiga di antara 22 negara di dunia yang


memiliki beban penyakit TB tertinggi. Menurut laporan surveilans TB tahun 2015
total penemuan kasus TB sebanyak 330.729 pada tahun 2015 dengan angka
keberhasilan pengobatan sebesar 84%. Sisanya 16% pasien adalah pasien yang
tidak menyelesaikan pengobatan dengan alasan meninggal, pindah tempat tinggal,
tidak melanjutkan pengobatan, penyakit kebal terhadap OAT yang diberikan.
Dengan rata-rata lebih dari 300.000 pasien yang diobati per tahunnya, maka
terhitung sejak tahun 2012 Indonesia telah berhasil menyelamatkan nyawa lebih
dari 1 juta nyawa.

Penyakit TB tidak hanya menyerang orang dewasa tapi juga menyerang


anak-anak. Penularan penyakit TB pada anak biasanya didapatkan dari orang
dewasa yang terkena penyakit TB. Namun demikian, penularan TB pada anak
dapat dicegah sedini mungkin. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian
imunisasi sejak anak lahir hingga usia 2 bulan. Sekitar 75% pasien TB adalah
kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun).
Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu
kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan
tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Jika ia meninggal akibat TB, maka
akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Setiap satu kasus penyakit TB

2
yang tidak diobati dapat menularkan kepada 10-15 orang selama satu tahun.
Namun penyebaran kuman TB dapat dicegah dengan memberdayakan
masyarakat, salah satunya adalah dengan membuat kegiatan atau lomba yang
sifatnya mengedukasi masyarakat tentang penyakit TB.

Salah satu program Puskesmas Kelurahan Cipinang Melayu Jakarta Timur


pada tahun 2017 adalah Penguatan Pembangunan Kesehatan melalui UKM (
Upaya Kesehatan Masyarakat) yaitu pemberantasan Penyakit Menular, salah
satunya adalah penyakit TB. Berdasarkan laporan tahunan pencapaian SPM
Puskesmas Kelurahan Cipinang Melayu pada tahun 2016, untuk pencapaian Case
Detection Rate TB hanya sebesar 18.4 % dan pada tahun 2017 sebesar 24%,
seharusnya pencapaian tujuan dan target CDR sebesar >70%. Hal ini menandakan
belum optimalnya penemuan kasus TB yang pada akhirnya berdampak pada
keberhasilan penanganan kasus TB di wilayah Kelurahan Cipinang Melayu.

Selain penemuan kasus baru, strategi pengendalian TB adalah dengan


pengobatan kasus TB karena dapat memutuskan rantai penularan. Pada 1995
WHO meluncurkan strategi pengendalian TB untuk diimplementasikan secara
internasional, disebut DOTS (Direct Observed Treatment Short-course). Sejak
tahun 1995, Program Nasional TB mengadopsi strategi DOTS sebagai strategi
nasional dan sekarang dikembangkan menjadi strategi yang lebih akseleratif yaitu
TOSS TB (Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh). Perubahan strategi
dari penemuan pasif promotif menjadi aktif, intensif dan masif melalui : 1)
penemuan berbasis keluarga dan masyarakat pada populasi khusus ( lapas, pondok
pesantren, asrama, perumahan padat penduduk dan kumuh); 2) Peningkatan
jejaring layanan dengan melibatkan Rumah Sakit dan Klinik swasta dikenal
Public-Private Mix (PPM); 3) Peningkatan kolaborasi layanan di fasyankes (TB
HIV, TB DM, TB Gizi).

Penyakit TB dapat dicegah dan disembuhkan, tingkat keberhasilan


pengobatan TB sensitif obat sebesar 84%. Sedangkan kasus TB yang kebal obat
hanya 51%. Pengobatan penyakit TB kebal obat memerlukan waktu lebih lama

3
dan menyebabkan efek samping serta memerlukan pembiayaan berlipat ganda
dibandingkan pengobatan TB yang masih sensitif obat. Untuk mencegah TB
MDR pemerintah mendorong seluruh pemberi pelayanan TB pemerintah dan
swasta memberikan pelayanan TB standar serta meningkatkan kewaspadaan
dengan penemuan kasus TB secara dini dan memastikan pelayanan TB berkualitas
untuk mencegah kejadian TB resistan obat. Selain itu juga mengajak seluruh
masyarakat dan keluarga untuk mendukung pasien dalam menjalani pengobatan
TB sampai tuntas.

Pemantauan dan evaluasi merupakan salah satu fungsi manajemen yang


vital untuk menilai keberhasilan pelaksanan program penanggulangan TB.
Pemantauan yang dilakukan secara berkala dan kontinu berguna untuk mendeteksi
masalah secara dini dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan, agar
dapat dilakukan tindakan perbaikan segera. Selain itu evaluasi berguna untuk
menilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya telah
tercapai pada akhir suatu periode waktu. Evaluasi dilakukan setelah suatu periode
waktu tertentu, biasanya setiap 6 bulan hingga 1 tahun. Dalam mengukur
keberhasilan tersebut diperlukan indikator dan standar. Hasil evaluasi berguna
untuk kepentingan perencanaan program dan perbaikan kebijakan program
penanggulangan TB.

B. RUMUSAN MASALAH

Dengan latar belakang tersebut sebuah studi evaluasi telah dilakukan


untuk menjawab masalah penelitian sebagai berikut:

1. Sejauh mana tujuan dan target penemuan kasus tuberkulosis (TB) yang
telah ditetapkan di Puskesmas Cipinang Melayu?

2. Apakah faktor-faktor yang menghambat dan faktor yang mendukung


program penemuan kasus TB di Puskesmas Cipinang Melayu?

4
C. TUJUAN KEGIATAN

1. Tujuan Umum

Mengevaluasi pencapaian tujuan dan target program penemuan kasus


TB di Puskesmas Cipinang Melayu.

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi faktor yang menghambat dan faktor yang


mendukung program penemuan kasus TB di Puskesmas Cipinang
Melayu.

b. Memberikan saran/ rekomendasi untuk perbaikan implementasi


strategi dan penelitian lanjutan

c. Mampu menyusun rencana kegiatan/ plan of action pemecahan


suatu masalah.

D. MANFAAT PENELITIAN

1. Bagi Penulis

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan penulis


lebih mendalam tentang program penanganan TB, mampu menganalisis
hambatan-hambatan yang timbul serta alternatif pemecahan masalah
pelaksanaan penemuan kasus tuberkulosis di wilayah kerja Puskemas
Cipinang Melayu.

2. Bagi Puskesmas

Laporan ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan


pertimbangan bagi perumusan kebijakan program kesehatan di
Puskemas Cipinang Melayu.

3. Bagi Masyarakat
Mensosialisasikan kepada masyarakat tentang penyakit
tuberkulosis dan pentingnya mendapatkan pengobatan sampai tuntas,

5
meningkatkan peran serta masyarakat dalam pencapaian masyarakat
bebas tuberkulosis.

E. METODOLOGI

Dalam pelaksanaan mini project ini dilakukan beberapa langkah atau


tahapan. Langkah awal dilakukan dengan menentukan suatu topik masalah dari
upaya kesehatan di Puskesmas yang masih perlu ditingkatkan atau diperbaiki.
Dari suatu topik masalah ini kemudian dianalisis dengan mengumpulkan data
yang diperlukan. Data yang diambil merupakan data primer maupun data
sekunder Puskemas Cipinang Melayu. Data primer diperoleh dari hasil
wawancara dengan kepala puskesmas dan penanggung jawab program Puskemas
Cipinang Melayu. Data sekunder diperoleh dari data laporan evaluasi program TB
Puskemas Cipinang Melayu periode Januari – Desember 2017. Data yang
diperoleh kemudian dianalisa secara deskriptif dengan metode pendekatan sistem
dengan melihat fungsi manajemen yang bertujuan mengetahui permasalahan
secara menyeluruh. Identifikasi masalah dilakukan dengan pembuatan fish bone
yang kemudian dikonfirmasi dengan pelaksanaan penemuan kasus TB untuk
menentukan penyebab masalah yang paling mungkin. Pemecahan masalah
dilakukan dengan metode kriteria Matriks untuk kemudian ditentukan alternatif
pemecahan masalahnya yang selanjutnya dijabarkan dalam PoA (Planing of
Action).

6
BAB II
GAMBARAN UMUM

A. DATA GEOGRAFI
1. Gambaran Umum
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta Nomor
1227 Tahun 1989 tentang Penyempurnaan Lampiran Keputusan Gubernur
Prov. DKI Jakarta tentang Pemecahan, Penyatuan, Penetapan Batas,
Perubahan Nama Kelurahan yang Kembar Nama dan Penetapan Luas
Wilayah Kelurahan di DKI Jakarta, ditetapkan bahwa Kelurahan Cipinang
Melayu mempunyai luas + 252,79 Ha, dengan batas-batas sebagai berikut :

☼ Sebelah Utara : berbatasan dengan Saluran Jatiluhur Tarum Barat


☼ Sebelah Timur : berbatasan dengan Kali Curug dan Bekasi
☼ Sebelah Selatan : berbatasan dengan jalan untuk pendaratan pesawat
terbang dan pilar batas wilayah Propinsi DKI
Jakarta - Jawa Barat Nomor : 111 s/d 119, dan
Kelurahan Halim Perdanakusuma.
☼ Sebelah Barat : berbatasan dengan Kali Cipinang Kelurahan Kebon
Pala

B. DATA DEMOGRAFI

1. Kependudukan
Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun
1999 tentang Pedoman Penyelenggaraan Penduduk, dapat disampaikan
proses dan mobilisai penduduk.

7
a. Data Penduduk
Data penduduk di wilayah kelurahan Cipinang Melayu Kota
Administrasi Jakarta Timur pada tahun 2016 berjumlah 49.267
orang.

b. Jumlah RT/RW

No RW RT Keterangan
1 01 12 Pemukiman
2 02 11 Pemukiman
3 03 14 Pemukiman (daerah banjir)
4 04 9 Pemukiman (daerah banjir)
5 05 11 Pemukiman tidak tertata
6 06 11 Perum Kodam Jaya (AD)
7 07 12 Perum Waringin Permai (AU)
8 08 9 Perum Curug Indah (AU)
9 09 9 Perumahan
10 010 7 Perumahan
11 011 9 Perumahan
12 012 12 Perumahan
13 013 9 Perumahan
135

c. Data Penduduk menurut Pekerjaan


No Jenis 2016

1 Tni polri/pns/swasta 22.513


2 Tani 11
3 Pedagang 731
4 Nelayan -
5 Pensiunan 1.026
6 Pertukangan 124
7 Pengangguran 3.255

8
8 Fakir miskin 4.598
9 Lain-lain 2.311

Jumlah 34.569

d. Data penduduk menurut KK dan Jenis Kelamin

KK WNI
No RW
Pria Wanita Jumlah Pria Wanita Jumlah

1 01 973 220 1.193 1.877 1.766 3.643

2 02 891 185 1.076 1.767 1.691 3.458

3 03 1.011 255 1.266 2.117 1.992 4.109

4 04 958 181 1.139 1.715 1.871 3.586

5 05 1.334 361 1.695 2.521 2.467 4.988

6 06 1.846 501 2.347 3.233 2.772 6.005

7 07 686 117 803 1.431 1.571 3.002

8 08 671 115 786 1.416 1.497 2.913

9 09 994 251 1.245 2.234 1.898 4.132

10 10 786 127 913 1.628 1.843 3.471

11 11 714 107 821 1.448 1.554 3.002

12 12 826 121 947 1.447 1.673 3.120

13 13 983 248 1.231 1.961 1.877 3.838

JUMLAH 12.673 2.789 15.462 24.795 24.473 49.267

9
2. Prasarana dan Sarana Umum
a. Sarana Kesehatan

No Jenis sarana kesehatan 2016

1 Rumah Sakit 1
2 Puskesmas 1
3 Klinik 24 jam 5
4 Rumah bersalin 2
5 Apotek -
6 Dokter Praktek 2
7 Bidan Swasta 8

Jumlah 19

b. Sarana Olah Raga

No Jenis sarana lapangan Jumlah


1 Bulu tangkis 6
2 Bola voli 4
3 Tenis 2
4 Basket 3
5 Sepak Bola 1

Jumlah 16

c. Sarana Ibadah
No Jenis sarana kesehatan Jumlah

1 Masjid 22
2 Musholla 29
3 Gereja 6

10
Jumlah 57

d. Pendidikan Negeri
Tingkat Jumlah
No Pendidikan Gedung Guru Murid

1. TK - - -
2. SD 8 95 3728
3. SLTP 1 41 1008
4. SMU 1 42 749
5. Perg. Tinggi - - -

Jumlah 10 178 5.485

e. Pendidikan Swasta
Tingkat Jumlah

No Pendidikan Gedung Guru Murid

1. TK 17 66 632
2. SD 5 15 2338
3. SLTP 2 70 128
4. SMU 2 79 461
5. Perg. Tinggi 2 275 2300

Jumlah 21 505 5859

f. Kegiatan sosial lainnya


 BKB ( Bina Keluarga Balita ) : 09 Kelompok
 PAUD : 09 Kelompok
 BKR ( Bina Keluarga Remaja ) : 1 Kelompok

11
 BKL ( Bina Keluarga Lansia ) : 10 Kelompok
 UP2KS : 4 Kelompok
 PSN : 15 Kelompok
 RW Siaga : 13 RW

g. Kelembagaan Kelurahan

No Organisasi Anggota

1 Kader Pembangunan 25
2 Tim Penggerak PKK 35
3 Kader PKK 165
4 Kader Kesehatan 102
5 Kader PPKB RW 13
6 PKB Kelurahan 2

Jumlah 342

12
PETA KELURAHAN CIPINANG MELAYU, KECAMATAN MAKASAR
KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR

: Daerah Banjir

13
3. PUSKESMAS KELURAHAN CIPINANG MELAYU
a. Kebijakan Mutu
Memberikan pelayanan terbaik yang berorientasi pada
kepuasan pelanggan dengan meningkatkan sumber daya manusia
yang mampu bersaing di dukung dengan sarana dan prasarana yang
berbasis teknologi melalui perbaikan berkesinambungan sesuai
peraturan yang berlaku.
b. Visi
Menjadi Puskesmas terbaik kebanggaan masyarakat Jakarta.
c. Misi
1) Meningkatkan sumber daya manusia yang mampu bersaing
2) Meningkatkan mutu pelayanan yang berorientasi pada kepuasan
pelanggan
3) Meningkatkan sarana dan prasarana sesuai standar mutu yang
berbasis teknologi
4) Menciptakan lingkungan kerja yang harmonis
5) Menjalin kerja sama lintas sektoral yang harmonis dan efektif
d. Nilai – Nilai
1) Integritas
2) Profesional
3) Disiplin
4) Akuntabel
5) Sinergi
e. Kepegawaian
Keadaan jumlah pegawai Puskesmas Kelurahan Cipinang
Melayu antara lain: 3 orang dokter umum, 1 orang dokter gigi, 3
orang perawat, 1 orang perawat gigi, 3 orang bidan, 1 orang petugas
gizi, 1 orang apoteker, 1 orang analis kesehatan, 1 orang petugas
kesehatan lingkungan, 2 orang petugas administrasi, 1 orang
satpam, 1 orang petugas pembersih.

14
4. Surveilans
a. Laporan kematian
Jumlah kematian yang tercatat pada laporan adalah 89 orang
dengan data-data menurut penyebab penyakit sebagai berikut:
REKAPITULASI KEMATIAN BERDASARKAN PENYAKIT DAN UMUR TAHUN 2016
JENIS
SEBAB KEMATIAN GOLONGAN UMUR TOTAL
KELAMIN
NO
25
0-7 8 - 28 5- 15 -
KODE ICD X NAMA 1-4 - >45 Lk Pr
hari hari 14 24
44

2 A 16 Tersangka TBC 0 0 0 0 0 0 0 1 2 3

3 A.15.1-16.2 TBC lainnya 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1

JUMLAH 0 0 0 0 0 5 100 45 60 105

b. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat / Promkes


Frekuensi dan jumlah pengunjung penyuluhan luar gedung
Puskesmas Kelurahan Cipinang Melayu 2016.

No Program Frekuensi Jumlah pengunjung

1 KIA 20 240

2 TB 3 78

c. Pencapaian SPM tahun 2016 dan 2017


1 Indikator SPM Target Pencapaian

1 Penemuan penderita baru 100% 18,4%


TBC BTA positif

2 Penemuan penderita baru 100% 24%


TBC BTA positif

15
5. Kegiatan peningkatan kesehatan masyarakat
1. Penanggulangan Penyakit Menular (P2 TBC)
a. Data kasus TB Paru tahun 2016
Tahun Tahun Tahun
No Jumlah Kasus
2014 2015 2016

1. Bta Positif 21 22 20

2. Bta Negatif Ro Positif 23 24 19

3. Kambuh 1 1 13

4. Ekstra Paru 1 1 2

5. Mantoux 13 10 4

Total 59 58 58

b. Pemakaian Obat Anti Tuberkulosa ( OAT ) 2016


- FDC I : 22 paket
- FDC II : 13 paket
- Kategori anak : 04 paket
*) FDC : Fixed Doots Combination

c. Hasil Pengobatan Penderita TB Paru 2016


- BTA (+) : 20 orang
- BTA (-) RO (+) : 19 orang
- Kambuh : 13 orang
- Ekstra Paru : 2 orang
- Anak : 4 orang
- Sembuh : 38 orang
- DO : - orang
- Meninggal : - orang
- Dirujuk ke RS : 2 orang
- Gagal : 1 orang

16
- Pindah : 1 orang
- Pengobatan Lengkap : 59 orang
- Succes Rate : 20 orang
- Conversi Rate : 90 %

d. Case Detektion Rate ( CDR ) Tahun 2016


Jumlah Perkiraan Kasus
CDR = Penderita TB (+) X 100%
Perkiraan suspek
29
= × 100%
158
= 18,4
e. Case Detektion Rate ( CDR ) Tahun 2017
Jumlah Perkiraan Kasus
CDR = Penderita TB (+) X 100%
Perkiraan suspek
55
= × 100%
227
= 24.22

17
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penyakit Tuberkulosis

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh

kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang

paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya2. Patogenesis tuberkulosis

paru ada 2, yaitu tuberkulosis primer dan tuberkulosis post primer. Pada

tuberkulosis primer, penularan tuberkulosis paru terjadi karena kuman dibatukkan

atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara. Bila partikel

infeksius ini terisap oleh orang sehat, ia akan menempel pada jalan napas atau

paru-paru. Bila kuman menetap di jaringan paru, ia bertumbuh dan berkembang

biak dalam sitoplasma makrofag. Kuman yang bersarang di jaringan paru-paru

akan membentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil dan disebut afek primer.

Dari afek primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus

(limfangitis lokal), dan diikuti pembesaran kelenjar getah bening hilus

(limfadenitis regional). Sarang primer + limfangitis lokal + limfadenitis regional

disebut kompleks primer. Kuman yang dorman pada tuberkulosis primer akan

muncul bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis

dewasa (tuberkulosis post-primer). 6

B. Penularan

Sumber penularan adalah penderita dengan TB BTA positif, yang dapat

menularkan TB kepada orang disekelilingnya, terutama kontak erat. Pada waktu

18
batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet

nuclei (percikan dahak). Sekali batuk dapat dikeluarkan 3000 droplet. Umumnya

penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang

lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari

langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam

dalam keadaan yang gelap dan lembab. 2,7

Penularan umumnya terjadi dalam ruangan dengan ventilasi kurang. Orang

dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernafasan.

Setelah itu kuman TB dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya, melalui

sistem peredaran darah dan sistem limfe. Daya penularan seorang pasien

ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi

derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut.

Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh

konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Karena

proses terjadinya infeksi oleh kuman TB biasanya secara inhalasi, maka TB paru

merupakan manifestasi klinis yang paling sering dibandingkan organ lainnya. 2,7

Resiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak.

Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan resiko penularan

lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. Resiko penularan setiap

tahunnya ditunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu

proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. ARTI sebesar

1%, berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun.

19
ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. Infeksi TB dibuktikan dengan

perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif. 2

Adapun resiko menjadi sakit TB hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB

akan menjadi sakit TB. Dengan ARTI 1%, diperkirakan diantara 100.000

penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang)

akan menjadi sakit TB setiap tahun. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA

positif. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB

adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya infeksi HIV/AIDS dan

malnutrisi (gizi buruk). HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang

terinfeksi TB menjadi sakit TB. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas

sistem daya tahan tubuh seluler (cellular immunity), sehingga jika terjadi infeksi

penyerta (oportunistic), seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan

menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang

terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah pasien TB akan meningkat, dengan

demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula. 2

Lingkungan hidup yang sangat padat dan pemukiman diwilayah

perkotaan kemungkinan besar telah mempermudah proses penularan dan berperan

sekali atas peningkatan jumlah kasus TB. Sudah dibuktikan bahwa lingkungan

sosial ekonomi yang baik, pengobatan yang teratur dan pengawasan minum obat

ketat berhasil mengurangi angka morbiditas dan mortalitas di Amerika selama

1950 – 1960. 6,8

20
C. Penemuan dan Gejala Klinis Pasien TB

Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek, diagnosis,

penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. Penemuan pasien merupakan

langkah pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB. Penemuan dan

penyembuhan pasien TB menular, secara bermakna akan dapat menurunkan

kesakitan dan kematian akibat TB, penularan TB di masyarakat dan sekaligus

merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat.

Strategi penemuan pasien TB yang diberlakukan DEPKES RI dilakukan secara

pasif dengan promosi aktif. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di unit

pelayanan kesehatan; didukung dengan penyuluhan secara aktif, baik oleh petugas

kesehatan maupun masyarakat, untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka

pasien TB.

Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu

atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur

darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan

menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang

lebih dari satu bulan. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada

penyakit paru selain TB, seperti bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker

paru, dan lain-lain. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi,

maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala tersebut diatas, dianggap

sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan

dahak secara mikroskopis langsung. 2

21
Pemeriksaan Dahak Mikroskopis

Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai keberhasilan

pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak untuk

penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang

dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-Pagi-

Sewaktu (SPS) 2:

• S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung

pertama kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk

mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua.

• P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah

bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK.

• S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat menyerahkan

dahak pagi.

Pemeriksaan Biakan

Peran biakan dan identifikasi M.tuberkulosis pada penanggulangan TB khususnya

untuk mengetahui apakah pasien yang bersangkutan masih peka terhadap OAT

yang digunakan. Selama fasilitas memungkinkan, biakan dan identifikasi kuman

serta bila dibutuhkan tes resistensi dapat dimanfaatkan dalam beberapa situasi 2:

1. Pasien TB yang masuk dalam tipe pasien kronis

2. Pasien TB ekstraparu dan pasien TB anak.

22
3. Petugas kesehatan yang menangani pasien dengan kekebalan ganda.

Pemeriksaan Tes Resistensi

Tes resistensi tersebut hanya bisa dilakukan di laboratorium yang mampu

melaksanakan biakan, identifikasi kuman serta tes resistensi sesuai standar

internasional, dan telah mendapatkan pemantapan mutu (Quality Assurance) oleh

laboratorium supranasional TB. Hal ini bertujuan agar hasil pemeriksaan tersebut

memberikan simpulan yang benar sehinggga kemungkinan kesalahan dalam

pengobatan MDR dapat di cegah. 2

D. Diagnosis TB paru

Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari, yaitu

sewaktu - pagi - sewaktu (SPS). Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan

dengan ditemukannya kuman TB (BTA). Pada program TB nasional, penemuan

BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama.

Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan

sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. 2

Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto

toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB

paru, sehingga sering terjadi overdiagnosis. Gambaran kelainan radiologik Paru

tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit. Untuk lebih jelasnya lihat alur

prosedur diagnostik untuk suspek TB paru.

23
Gambar 2.1. Alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru 2

24
Diagnosis TB ekstra paru.

Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya kaku kuduk

pada Meningitis TB, nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis), pembesaran kelenjar

limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus)

pada spondilitis TB dan lain-lainnya. Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan

sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis TB yang

kuat (presumtif) dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. Ketepatan

diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan

ketersediaan alat-alat diagnostik, misalnya uji mikrobiologi, patologi anatomi,

serologi, foto toraks dan lain-lain 2

E. Pengobatan

Dalam kegiatan pokok Program Pemberantasan TB Paru dikenal 2

komponen, yaitu komponen diagnosis dan komponen pengobatan. Pada

komponen diagnosis meliputi deteksi penderita di poliklinik dan penegakkan

diagnosis secara laboratorium, sedangkan komponen pengobatan meliputi

pengobatan yang cukup dan tepat serta pengawasan menelan obat setiap hari

terutama pada fase awal. 9

Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah

kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah

terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. Paduan obat anti tuberkulosis yang

dipakai program sesuai dengan rekomendasi WHO berupa OAT jangka pendek

25
yang terdiri dari 4 kategori. Setiap kategori terdiri dari 2 fase pemberian yaitu fase

awal/intensif dan fase lanjutan/intermiten. Adapun perincian OAT program adalah

sebagai berikut 2,9

Tabel 2.1 Regimen Terapi OAT 2,4,9,10,11

No. Kategori OAT Keterangan

1. I 2HRZE/4H3R3 - Penderita baru BTA (+)

- Penderita baru BTA (-)/Ro (+) yang


sakit berat

- Pendeerita ekstra paru berat

2. II 2HRZES/HRZE/ - Kambuh (relaps) BTA (+)

5H3R3E3 - Gagal (failure) BTA (+)

3. III 2HRZ/4H3R3 - Penderita baru BTA (-)/Ro (+)

- Penderita ekstra paru ringan

4. IV - H seumur hidup - Penderita dengan TB kronis

- Obat yang masih - Penderita dengan MDR - TB

sensitif + Quinolon

5. Sisipan HRZE - Bila penderita oleh K I dan K II pada


akhir fase awal/intensif masih BTA (+)

OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam

jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan gunakan

OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-

KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. Untuk menjamin kepatuhan

pasien menelan obat agar dicapai kesembuhan dan mencegah resistensi serta

26
mencegah drop out/lalai, dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly

Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). 2

Program Nasional Penanggulangan TB di Indonesia menggunakan panduan OAT


13,14
:

Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3

Kategori 2 : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3

Kategori 3 : 2 HRZ/4H3R3

Dosis Kategori 1

TAHAP INTENSIF TAHAP LANJUTAN


BB SELAMA 2 BULAN
SELAMA 4 BULAN
Penderita
(Kg) TIAP HARI TIAP HARI 3 X SEMINGGU
TABLET 2 FDC TABLET 2 FDC
TABLET 4 FDC
R150+H75 R150+H150
R150+H75+Z400+E275

30 -37 2 tablet 2 tablet 2 tablet

38 -54 3 tablet 3 tablet 3 tablet

55 -70 4 tablet 4 tablet 4 tablet

>71 5 tablet 5 tablet 5 tablet

27
Dosis Kategori 2 ( 2HRZES/HRZE/5H3R3E3)

TAHAP INTENSIF

BERAT SELAMA 3 BULAN TAHAP LANJUTAN 3


BADAN X SEMINGGU

SELAMA 5 BULAN
TIAP HARI TIAP HARI

2 BULAN 1 BULAN

30 -37 2 tab 4 FDC 2 Tab 4 FDC 2 Tab 4 FDC

+ 2 ml Strepto + 2 Tab Etambutol

38 -54 3 Tab 4 FDC 3 Tab 4 FDC


3 tab 4 FDC
+ 3 Tab Etambutol
+ 3 ml Strepto
55 -70 4 Tab 4 FDC 4 Tab 4 FDC

4 tab 4 FDC + 4 Tab Etambutol

>71 + 4 ml Strepto 5 Tab 4 FDC 5 Tab 4 FDC

+ 5 Tab Etambutol
5 tab 4 FDC

+ 5 ml Strepto

Tabel 2.2 Efek Samping Obat Anti Tuberkulosis 10,12

Nama Obat Efek Samping

1. Isoniazid (INH) Neuritis perifer, ikterus, hipersensitivitas, mulut kering,


nyeri epigastrik, tinitus, retensio urine dan
methemoglobinemia

2. Rifampisin Ikterus, flu-like syndrome, syndrome Redman, nyeri

28
epigastrik, reaksi hipersensitivitas, dan supremi imunitas

3. Etambutol Neuritis optik, gout, artralgia, anoreksia, mual muntah,


disuria, malaise dan demam

4. Pirazinamid Gangguan hati, gout, artralgia, anoreksia, mual muntah,


disuria, malaise dan demam

5. Streptomisin Hipersensitivitas, vertigo, tuli, gangguan fungsi ginjal

Sebagian besar penderita TB dapat menyelesaikan pengobatan tanpa efek

samping. Namun sebagian kecil dapat mengalami efek samping. Oleh karena itu

pemantauan kemungkinan terjadinya efek samping sangat penting dilakukan

selama pengobatan. Pemantauan efek samping obat dapat dilakukan dengan cara :

 Menjelaskan kepada penderita tanda-tanda efek samping

 Menanyakan adanya gejala efek samping pada waktu penderita mengambil

OAT.

Efek samping OAT dapat dibedakan menjadi efek samping berat dan efek

samping ringan.

 Efek samping berat yaitu efek samping yang dapat menjadi sakit serius.

Dalam kasus ini maka pemberian OAT harus dihentikan dan penderita

harus segera dirujuk ke UPK spesialistik.

 Efek samping ringan yaitu hanya menyebabkan sedikit perasaan yang

tidak enak. Gejala-gejala ini sering dapat ditanggulangi dengan obat-

obatan simptomatik atau obat sederhana, tetapi kadang-kadang menetap

untuk beberapa waktu selama pengobatan. Dalam hal ini pengobatan OAT

dapat diteruskan.

29
Tabel 2.3 Efek Samping Berat OAT dan Penatalaksanaannya 2

Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan

dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. Pemeriksaan dahak secara

mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam

memantau kemajuan pengobatan. Laju Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk

memantau kemajuan pengobatan karena tidak spesifik untuk TB. Untuk

memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak dua

kali (sewaktu dan pagi). Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen

tersebut negatif. Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif, hasil

pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif. 2

30
Penilaian hasil pengobatan seorang penderita dapat dikategorikan kepada:

sembuh, pengobatan lengkap, gagal, defaulted (lalai berobat), meninggal, dan

pindah (transfer out). 2

 Sembuh : Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan

pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu

pemeriksaan follow-up sebelumnya

 Pengobatan Lengkap : Adalah pasien yang telah menyelesaikan

pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau

gagal.

 Gagal : Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali

menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.

 Default (Putus berobat) : Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-

turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.

 Meninggal : Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena

sebab apapun.

 Pindah: Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03

yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui.

Pengelolaan Logistik

Pengelolaan logistik Penanggulangan Tuberkulosis merupakan

serangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan kebutuhan, pengadaan,

penyimpanan, pendistribusian, monitoring dan evaluasi. 2

1). Jenis logistik program nasional penanggulangan tuberkulosis

31
Logistik penanggulangan tuberkulosis terdiri dari 2 bagian besar yaitu

logistik Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan logistik lainnya. UPK dalam hal ini

puskesmas menghitung kebutuhan tahunan, triwulan dan bulanan sebagai dasar

permintaan ke Kabupaten/Kota. 2

a. Logistik OAT 2.

Program menyediakan paket OAT dewasa dan anak, untuk paket OAT

dewasa terdapat 2 macam jenis dan kemasan yaitu :

• OAT dalam bentuk obat kombinasi dosis tetap (KDT) / Fixed Dose Combination

(FDC) terdiri dari paket Kategori 1, kategori 2 dan sisipan yang dikemas dalam

blister, dan tiap blister berisi 28 tablet.

• OAT dalam bentuk Kombipak terdiri dari paket Kategori 1, kategori 2, dan

sisipan, yang dikemas dalam blister untuk satu dosis, kombipak ini disediakan

khusus untuk pengatasi efek samping KDT.

b. Logistik non OAT 2

• Alat Laboratorium terdiri dari: Mikroskop, slide box, pot sputum, kaca sediaan,

rak pewarna dan pengering, lampu spiritus, ose, botol plastik bercorong pipet,

kertas pembersih lensa mikroskop, kertas saring, dan lain lain.

• Bahan diagnostik terdiri dari: Reagensia Ziehl Neelsen, eter alkohol, minyak

imersi, lysol, tuberkulin PPD RT 23 dan lain lain.

32
• Barang cetakan seperti buku pedoman, formulir pencatatan dan pelaporan serta

bahan KIE.

2). Pengelolaan obat anti tuberkulosis

a. Perencanaan Kebutuhan Obat

Rencana kebutuhan Obat Anti Tuberkulosis dilaksanakan dengan

pendekatan perencanaan dari bawah (bottom up planning). Perencanaan

kebutuhan OAT dilakukan terpadu dengan perencanaan obat program lainnya

yang berpedoman pada 2 :

• Jumlah penemuan pasien pada tahun sebelumnya,

• Perkiraan jumlah penemuan pasien yang direncanakan,

• Buffer-stock (tiap kategori OAT),

• Sisa stock OAT yang ada,

• Perkiraan waktu perencanaan dan waktu distribusi (untuk mengetahui estimasi

kebutuhan dalam kurun waktu perencanaan)

F. Pedoman kerja Puskesmas dalam P2TB paru 4

a. Penatalaksanaan P2TBC

1. Penemuan penderita.

2. Pengobatan

b. Peningkatan sumber daya manusia

33
Pelatihan tenaga yang terkait dengan program P2TBC

c. Monitoring dan evaluasi

1. Supervisi

2. Pertemuan monitoring :

Evaluasi pengobatan melalui evaluasi klinik dan bakteriologik

d. Promosi

Advokasi, kemitraan dan penyuluhan.

G. Pemantauan dan Evaluasi Program P2TB

Keberhasilan pelaksanaan program pemantauan dilaksanakan secara

berkala dan terus menerus, untuk dapat segera mendeteksi bila ada masalah dalam

pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan, supaya dapat dilakukan tindakan

perbaikan segera. Evaluasi dilakukan setelah suatu jarak-waktu (interval) lebih

lama, biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun. Dengan evaluasi dapat dinilai sejauh

mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya dicapai. Dalam

mengukur keberhasilan tersebut diperlukan indikator. Hasil evaluasi sangat

berguna untuk kepentingan perencanaan program. 2

Masing-masing tingkat pelaksana program (UPK, Kabupaten/Kota,

Propinsi, dan Pusat) bertanggung jawab melaksanakan pemantauan kegiatan pada

wilayahnya masing-masing. Seluruh kegiatan harus dimonitor baik dari aspek

masukan (input), proses, maupun keluaran (output). Cara pemantauan dilakukan

34
dengan menelaah laporan, pengamatan langsung dan wawancara dengan petugas

pelaksana maupun dengan masyarakat sasaran. Dalam pelaksanaan monitoring

dan evaluasi, diperlukan suatu sistem pencatatan dan pelaporan baku yang

dilaksanakan dengan baik dan benar. 2

Dalam Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, salah satu

komponen penting dari survailans yaitu pencatatan dan pelaporan dengan maksud

mendapatkan data untuk diolah, dianalisis, diinterpretasi, disajikan dan

disebarluaskan untuk dimanfaatkan. Data yang dikumpulkan pada kegiatan

survailans harus valid (akurat, lengkap dan tepat waktu) sehingga memudahkan

dalam pengolahan dan analisis. Data program Tuberkulosis dapat diperoleh dari

pencatatan di semua unit pelayanan kesehatan yang dilaksanakan dengan satu

sistem yang baku. Formulir-formulir yang dipergunakan dalam pencatatan TB di

Unit Pelayanan Kesehatan/UPK (Puskesmas, Rumah Sakit, BP4, klinik dan dokter

praktek swasta dll) dalam melaksanakan pencatatan antara lain 2 :

• Daftar tersangka pasien (suspek) yang diperiksa dahak SPS (TB.06).

• Formulir permohonan laboratorium TB untuk pemeriksaan dahak (TB.05).

• Kartu pengobatan pasien TB (TB.01).

• Kartu identitas pasien TB (TB.02).

• Register TB UPK (TB.03 UPK)

• Formulir rujukan/pindah pasien (TB.09).

35
• Formulir hasil akhir pengobatan dari pasien TB pindahan (TB.10).

• Register Laboratorium TB (TB.04).

Untuk menilai kemajuan atau keberhasilan penanggulangan TB digunakan

beberapa indikator. Indikator penanggulangan TB secara Nasional ada 2 yaitu:

Angka Penemuan Pasien baru TB BTA positif (Case Detection Rate = CDR) dan

Angka Keberhasilan Pengobatan (Success Rate = SR). 2

Disamping itu ada beberapa indikator proses untuk mencapai indikator

Nasional tersebut di atas, yaitu 2 :

• Angka Penjaringan Suspek

• Proporsi Pasien TB Paru BTA positif diantara Suspek yang diperiksa dahaknya

• Proporsi Pasien TB Paru BTA positif diantara seluruh pasien TB paru

• Proporsi pasien TB anak diantara seluruh pasien

• Angka Notifikasi Kasus (CNR)

• Angka Konversi

• Angka Kesembuhan

• Angka Kesalahan Laboratorium

Untuk mempermudah analisis data diperlukan indikator sebagai alat ukur

kemajuan (marker of progress). Indikator yang baik harus memenuhi syarat-syarat

36
tertentu seperti: sahih (valid), sensitif dan Spesifik (sensitive and specific), dapat

dipercaya (realiable), dapat diukur (measureable), dapat dicapai (achievable)

Analisa dapat dilakukan dengan membandingkan data antara satu dengan

yang lain untuk melihat besarnya perbedaan, dan melihat kecenderungan (trend)

dari waktu ke waktu.

37
BAB IV

ANALISIS MASALAH

A. KERANGKA BERPIKIR PENDEKATAN MASALAH

Pemecahan masalah menggunakan kerangka pemikiran pendekatan sistem


sebagai berikut :

LINGKUNGAN :
OUT
Fisik, Kependudukan, Sosial Budaya, Ekonomi dan Kebijakan

INPUT : PROSES :
P1 OUTPUT OUTCOME
Man P1
Money P3
Method
Material
machine

Gambar 1. Kerangka pemikiran pendekatan sistem (Hartoyo, 2009)

Masalah adalah kesenjangan antara harapan atau tujuan yang ingin dicapai
dengan kenyataan yang sesungguhnya sehingga menimbulkan rasa tidak puas.
Permasalahan yang timbul terdapat pada outcome dimana hasil kegiatan tidak
sesuai Standar Pelayanan Minimal. Dengan demikian didapatkan ciri-ciri masalah
sebagai berikut :

 Menyatakan hubungan dua atau lebih variabel


 Dapat diukur
 Dapat diatasi (Hartoyo, 2009)

Urutan dalam siklus pemecahan masalah adalah sebagai berikut :

38
1. Identifikasi/ invetarisasi masalah
Menetapkan keadaan sepesifik yang diharapkan, yang ingin dicapai,
menetapkan indikator tertentu sebagai dasar pengukuran kinerja, misalnya
SPM. Langkah berikutnya, mempelajari keadaan yang terjadi dengan
menghitung atau mengukur hasil pencapaian. Yang terakhir membandingkan
kedaan nyata yang terjadi, dengan keadaan tertentu yang diinginkan atau
indikator tertentu yang sudah ditetapkan.
2. Penentuan prioritas masalah
Penyusunan peringkat masalah lebih baik dilakukan oleh banyak orang dari
pada satu orang saja. Beberapa metode yang dapat digunakan antara lain :
Hanlon, Delbeq, CARL, Pareto, dll.
3. Penentuan penyebab masalah
Penentuan penyebab masalah digali berdasarkan data atau kepustakaan
dengan curah pendapat. Penentuan penyebab masalah hendaknya tidak
menyimpang dari masalah tersebut.
4. Memilih penyebab yang paling mungkin
Penyebab masalah paling mungkin harus dipilih dari sebab-sebab yang
didukung oleh data atau konfirmasi.
5. Menentukan alternatif pemecahan masalah
Seringkali pemecahan masalah dapat dilakukan dengan mudah dari penyebab
yang sudah diidentifikasi. Jika penyebab sudah jelas maka dapat langsung
pada alternatif pemecahan masalah.
6. Penetapan pemecahan masalah terpilih
Setelah alternatif pemecahan masalah ditentukan, maka dilakukan pemilihan
pemecahan terpilih. Apabila dikemukakan beberapa alternatif maka
digunakan Hanlon kualitatif untuk menentukan pemecahan terbaik.
7. Penyusunan rencana penerapan
Rencana penerapan pemecahan masalah dibuat dalam bentuk POA (Plan Of
Action atau Rencana Kegiatan)
8. Monitoring dan Evaluasi

39
Ada dua segi pemantauan yaitu apakah kegiatan penerapan pemecahan
masalah yang sedang dilaksanakan sudah diterapkan dengan baik dan
menyangkut masalah itu sendiri, apakah permasalahan sudah dapat
dipecahkan.

1.IDENTIFIKASI
MASALAH

7.Monitoring & 2.Penentuan


Evaluasi Prioritas Masalah

6.Penetapanpemecahan 3.Penentuan
masalah terpilih Penyebab Masalah

5.Menentukan 4. Memilih Penyebab


Alternatif yang Paling Mungkin
Pemecahan Masalah

Gambar 2. Diagram Analisis Masalah (Hartoyo, 2009)

B. KEGIATAN YANG BERMASALAH


Pada wawancara mendalam yang dilakukan kepada narasumber
didapatkan beberapa masalah. Masalah ini selanjutnya akan dilakukan analisis
untuk menentukan kemungkinan penyebab masalah dengan metode pendekatan
sistem (Input, Proses, Lingkungan, dan Output) yang akan dilakukan diwilayah
kerja Puskesmas Cipinang Melayu.

40
C. ANALISIS MASALAH

Analisi masalah berdasarkan pendekatan sistem di wilayah kerja


Puskesmas Cipinang Melayu adalah sebagai berikut :

1. Analisi Penyebab Masalah


a. Analisi Input
Kemungkinan penyebb masalah melalui pendekatan input meliputi
5M (Man, Money, Method, Material, Machine ) yang akan dibahas seebagai
berikut :
Tabel 2
Analisis Input
INPUT KELEBIHAN KEKURANGAN

1. 1. Pelatihan P2TB hanya


Man diperoleh 1 orang petugas
TB yaitu pelaksana program
2. Petugas TB memiliki tugas
rangkap sebagai petugas
kusta dll sehingga petugas
TB tidak bias maksimal
dalam menjalankan
tugasnya
3. Keterlibatan posyandu
maupun kader TB secara
khusus masih kurang.
4. Belum adanya dukungan
dari pemangku kebijakan
setempat untuk mengatasi
masalah ini yaitu kelurahan,
RW dan RT

Money 1. Adanya dana yang di 1. Belum ada anggaran


turunkan secara khusus khusus yang ditujukan
oleh lembaga oleh dinas kesehatan
kemanusiaan Global fund setempat untuk
melalui PKPU untuk para peningkatan kegiatan
kader TB P2TB
2. Dukungan anggaran dari
pemerintah setempat
untuk mendukung

41
kegiatan penjaringan
suspek TB masih sangat
kurang.

Method 1. Penjaringan suspek TB 1. Active Case Finding


sudah dilakukan di (ACF) atau penjaringan
fasilitas pelayanan kasus oleh masyarakat
kesehatan (Passive Case sudah terlaksana namun
Finding, PCF) hasilnya perlu
dimaksimalkan.
2. Penjaringan kasus secara
aktif hanya melalui
Contact Survey terhadap
anggota keluarga dan
tetangga yang dicurigai TB
3. Ada beberapa MoU antara
lembaga kemanusiaan
dengan Puskesmas yang
tidak berjalan (penyediaan
mobile rontgen)
Material 1. Ruangan dan kelengkapan
TB masih terbatas
2. Kelengkapan peralatan
laboratorium yang masih
kurang, terutama reagent
yang dibutuhkan untuk
menunjang penegakkan
diagnosis TB
Machine 1. Konsultasi dan kontrak 1. Pencacatan mengenai data
awal antara pasien TB pasien dan perkembangan
dengan petugas TB sudah klinis belum berjalan
berjalan dengan baik dengan baik, pencatatan
masih dilakukan secara
manual.
2. Data atau informasi
tentang TB tidak
digunakan utuk
perencanaan, melainkan
hanya sekedar untuk
dilaporkan ke tingkat
administrasi yang lebih
atas.
3. Pelaporan kepada kepala
puskesmas belum
dilakukan secara berkala
sehingga koordinasi belum

42
berjalan secara efektif
secara bottom up, baik di
internal Puskesmas
maupun secara eksternal
(Kelurahan)

b. Analisi Proses
Tabel 3
Analisi Proses Penyebab Masalah
PROSES KELEBIHAN KEKURANGAN
P1 1. Data atau informasi
(Perencanaan) tentang TB tidak
digunakan utuk
perencanaan, melainkan
hanya sekedar untuk
dilaporkan ke tingkat
administrasi yang lebih
atas.
P2 1. Adanya kegiatan 1. Rendahnya pengetahuan
(Pelaksanaan & pelayanan kesehatan dan kesadaran
Penggerakan) untuk masyarakat masyarakat akan
meliputi posyandu penyakit TB
sehingga memungkinkan 2. Ketidakpatuhan
untuk menjaring pasien penderita TB untuk
TB di lapangan. menjalankan setiap
prosedur pengobatan.
3. Kurangnya peran PMO
sehingga pasien TB
kurang mendapatkan
4. Peran kader TB belum
sepenuhnya maksimal.
Hanya sebagian kader
saja yang betul-betul
concern pada tugas
yang ada.
5. Kegiatan home visite
belum dapat
dimaksimalkan.
6. Proses screening oleh
kader TB belum
dilaksanakan sesuai
dengan harapan dan

43
tidak ada evaluasi atau
masukan secara
langsung dari dinas
terkait akan perihal
tersebut.

P3 1. Pelaporan disampaikan 1. Kurang maksimal


(Pengawasan secara rutin ke Dinkes fungsi pengawasan,
Penilaian & & diperoleh feedback penilaian &
Pengendalian) yang baik pengendalian oleh oleh
koordinator program.
2. Evaluasi & feedback
bulanan dilakukan
secara rutin oleh Kepala
Puskesmas &
koordinator program
belum terlaksana secara
baik

c. Analisis Lingkungan
Tabel 4
Analisis Lingkungan
LINGKUNGAN KELEBIHAN KEKURANGAN
Kelurahan Terdapat kader 1. Kurangnya jumlah kader TB
Posyandu disetiap RW terutama di wilayah dengan
angka kejadian TB tertinggi
2. Kurangnya pengetahuan dari
pemangku kebijakan dan
masyarakat tentang kesehatan
(khususnya masalah TB paru)
serta dampaknya pada
produktifitas daerah tersebut.
3. Kerjasama lintas sektoral seperti
kelurahan, PKK,UPK swasta,
dll belum berjalan secara efektif.

d. Outcome
Hasil kegiatan cakupan penemuan kasus TB paru sesuai Pedoman
Nasional Pengendalian Tuberkulosis Depkes RI di wilayah kerja Puskesmas
Cipinang Melayu bulan Januari – Desember 2017 belum mencapai target 70%.

44
3. Rumusan Kemungkinan Penyebab Masalah
Berdasarkan analisis input, proses dan lingkungan di atas, rumusan
kemungkinan penyebab masalah tidak tercapainya target CDR (Case Detection
Rate) TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Cipinang Melayu adalah sebagai
berikut.

a. Pelatihan P2TB hanya diperoleh 1 orang petugas TB yaitu pelaksana


program.
b. Petugas TB memiliki tugas rangkap.
c. Keterlibatan posyandu maupun kader TB secara khusus masih kurang.
d. Belum adanya dukungan dari pemangku kebijakan setempat
e. Belum ada anggaran khusus yang ditujukan oleh dinas kesehatan
setempat untuk peningkatan kegiatan P2TB
f. Dukungan anggaran dari pemerintah setempat untuk mendukung
kegiatan penjaringan suspek TB masih sangat kurang.
g. Active Case Finding (ACF) atau penjaringan kasus oleh masyarakat
sudah terlaksana namun hasilnya perlu dimaksimalkan.
h. Penjaringan kasus secara aktif melalui Contact Survey terhadap anggota
keluarga dan tetangga yang dicurigai TB belum berjalan maksimal
i. Ada beberapa MoU antara lembaga kemanusiaan dengan Puskesmas
yang tidak berjalan (penyediaan mobile rontgen)
j. Ruangan dan kelengkapan TB masih terbatas
k. Kelengkapan peralatan laboratorium yang masih kurang, terutama
reagent yang dibutuhkan untuk menunjang penegakkan diagnosis TB
l. Pencacatan mengenai data pasien dan perkembangan klinis belum
berjalan dengan baik, pencatatan masih dilakukan secara manual.
m. Data atau informasi tentang TB tidak digunakan utuk perencanaan,
melainkan hanya sekedar untuk dilaporkan ke tingkat administrasi yang
lebih atas.

45
n. Pelaporan kepada kepala puskesmas belum dilakukan secara berkala
sehingga koordinasi belum berjalan secara efektif secara bottom up, baik
di internal Puskesmas maupun secara eksternal (Kelurahan)
o. Data atau informasi tentang TB tidak digunakan utuk perencanaan,
melainkan hanya sekedar untuk dilaporkan ke tingkat administrasi yang
lebih atas.
p. Rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan penyakit TB
q. Ketidakpatuhan penderita TB untuk menjalankan setiap prosedur
pengobatan.
r. Kurangnya peran PMO sehingga pasien TB kurang mendapatkan
s. Peran kader TB belum sepenuhnya maksimal. Hanya sebagian kader saja
yang betul-betul concern pada tugas yang ada.
t. Kegiatan home visite belum dapat dimaksimalkan.
u. Proses screening oleh kader TB belum dilaksanakan sesuai dengan
harapan dan tidak ada evaluasi atau masukan secara langsung dari dinas
terkait akan perihal tersebut.
v. Kurang maksimal fungsi pengawasan, penilaian & pengendalian oleh
oleh koordinator program.
w. Evaluasi & feedback bulanan dilakukan secara rutin oleh Kepala
Puskesmas & koordinator program belum terlaksana secara baik
x. Kurangnya jumlah kader TB terutama di wilayah dengan angka kejadian
TB tertinggi
y. Kurangnya pengetahuan dari pemangku kebijakan dan masyarakat
tentang kesehatan (khususnya masalah TB paru) serta dampaknya pada
produktifitas daerah tersebut.
z. Kerjasama lintas sektoral seperti kelurahan, PKK,UPK swasta, dll belum
berjalan secara efektif.
Dari rumusan kemungkinan masalah seperti di atas, dapat
digambarkan dalam diagram fish bone sebagai berikut

46
MONEY
MAN
a. a. Belum ada anggaran khusus dari dinas kesehatan.
1. Pelatihan P2TB hanya diperoleh pelaksana program.
b. Dukungan anggaran dari pemerintah setempat
2. Petugas TB memiliki tugas rangkap. INPUT masih sangat kurang.
3. Keterlibatan posyandu dan kader TB masih kurang.
4. Belum adanya dukungan dari pemangku kebijakan
setempat

MATERIAL METHODE
a. Ruangan dan kelengkapan TB terbatas 1. Active Case Finding (ACF) hasilnya perlu
b. Kelengkapan peralatan laboratorium kurang, terutama reagent dimaksimalkan.
2. Contact Survey belum berjalan maksimal
3. MoU antara lembaga kemanusiaan dengan
Puskesmas yang tidak berjalan (penyediaan mobile
MACHINE : Pencacatan belum berjalan dengan baik rontgen)
Data atau informasi tentang TB hanya sekedar untuk dilaporkan ke
tingkat administrasi yang lebih atas. Koordinasi belum berjalan
secara efektif.

Tercapainya
Data atau informasi tentang TB tidak digunakan utuk 1. Kurang maksimal
fungsi Target CDR
perencanaan, melainkan hanya sekedar untuk dilaporkan ke P1 pengawasan,
tingkat administrasi yang lebih atas. penilaian &
TB paru
pengendalian oleh 70%
oleh koordinator
1. Rendahnya pengetahuan dan kesadaran program. 1. Kurangnya jumlah kader TB
masyarakat akan penyakit TB 2. Evaluasi &
feedback bulanan
terutama di wilayah dengan angka
2. Ketidakpatuhan penderita TB dilakukan secara kejadian TB tertinggi
3. Kurangnya peran PMO rutin oleh Kepala 2. Kurangnya pengetahuan dari
4. Peran kader TB belum sepenuhnya P2 Puskesmas &
koordinator
pemangku kebijakan dan masyarakat
maksimal. program belum tentang kesehatan (khususnya
5. Kegiatan home visite belum dapat terlaksana secara masalah TB paru) serta dampaknya
baik pada produktifitas daerah tersebut.
dimaksimalkan.
3. Kerjasama lintas sektoral seperti
6. Proses screening oleh kader TB belum
PROSES P3 kelurahan, PKK,UPK swasta, dll
dilaksanakan sesuai dengan harapan LINGKUNGAN
belum berjalan secara efektif.

47
4. Penyebab Masalah Paling Mungkin
Setelah melakukan konfirmasi kepada petugas P2TB dan karyawan
Puskesmas Cipinang Melayu, maka berdasarkan analisis penyebab masalah di atas
didapatkan penyebab masalah yang paling mungkin yaitu :

a. Pelatihan P2TB hanya diperoleh 1 orang petugas TB yaitu pelaksana


program.
b. Petugas TB memiliki tugas rangkap.
c. Keterlibatan posyandu maupun kader TB secara khusus masih kurang.
d. Belum adanya dukungan dari pemangku kebijakan setempat
e. Data atau informasi tentang TB tidak digunakan utuk perencanaan,
melainkan hanya sekedar untuk dilaporkan ke tingkat administrasi yang
lebih atas.
f. Rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan penyakit TB
g. Ketidakpatuhan penderita TB untuk menjalankan setiap prosedur
pengobatan.
h. Kurangnya peran PMO sehingga pasien TB kurang mendapatkan
i. Peran kader TB belum sepenuhnya maksimal. Hanya sebagian kader saja
yang betul-betul concern pada tugas yang ada.
j. Evaluasi & feedback bulanan dilakukan secara rutin oleh Kepala
Puskesmas & koordinator program belum terlaksana secara baik
k. Kurangnya jumlah kader TB terutama di wilayah dengan angka kejadian
TB tertinggi
l. Kurangnya pengetahuan dari pemangku kebijakan dan masyarakat tentang
kesehatan (khususnya masalah TB paru) serta dampaknya pada
produktifitas daerah tersebut.
m. Kerjasama lintas sektoral seperti kelurahan, PKK,UPK swasta, dll belum
berjalan secara efektif.

48
BAB V
PEMECAHAN MASALAH

A. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH


Setelah diperoleh daftar penyebab maalah paling mungkin, langkah
selanjutnya adalah membuat alternatif pemecahan masalah sebagai berikut
Tabel 5
Daftar Alternatif Pemecahan Masalah
No . MASALAH PEMECAHAN MASALAH
1. Pelatihan P2TB hanya diperoleh 1 Perlu dilakukan pelatihan P2TB pada
orang petugas TB yaitu pelaksana pegawai di Puskesmas, tidak hanya
program. penanggung jawab program, namun
pegawai puskesmas lain yang dirasa
memiliki potensi untuk dilatih sebagai
petugas TB.
2. Petugas TB memiliki tugas rangkap. Permasalahan TB seharusnya dapat
diprioritaskan berdasarkan laporan dan
evaluasi tahunan permasalahan di
Puskesmas. Sehingga petugas TB
seharusnya tidak memiliki tugas
rangkap. Kurangnya jumlah pegawai di
Puskesmas menjadi akar permasalahan
adanya tugas rangkap, sehingga perlu
dievaluasi kembali tentang potensi SDM
yang mungkin masih dapat dilibatkan.
3. Keterlibatan posyandu maupun kader Posyandu dilibatkan secara khusus oleh
TB secara khusus masih kurang. pemerintah setempat untuk menjalankan
fungsinya sebagai Pos pelayanan
penanggulangan TB. Perlu adanya
dukungan dan fasilitasi kebutuhan baik
oleh pemerintah maupun swasta,
sehingga fungsi posyandu dapat lebih di
optimalkan.
4. Belum adanya dukungan dari Membuat advokasi disertai dengan data/
pemangku kebijakan setempat informasi yang baru tentang pencapaian
program penanggulangan TB di daerah
untuk meyakinkan para pengambil
keputusan anggaran pada Pemda dan
DPRD, sebab pada kenyataannya
dengan meningkatnya jumlah penderita
TB pada suatu wilayah akan mengurangi

49
tingkat produktifitas penduduk, yang
pada akhirnya berpengaruh pada
pencapaian pembangunan suatu daerah.
5. Rendahnya pengetahuan dan Meningkatkan pengadaan penyuluhan
kesadaran masyarakat akan penyakit tentang masalah TB Paru dan membuat
TB media promosi deteksi dini TB Paru

6 Ketidakpatuhan penderita TB untuk Meningkatkan pengadaan penyuluhan


menjalankan setiap prosedur dan konsultasi tentang prosedur terapi
pengobatan. dan permasalahan mengenai TB Paru
yang sering ditemukan.
Mengikutsertakan peran tokoh
masyarakat, tokoh agama serta para
tertua adat dalam meningkatkan
kedisiplinan pasien didalam
menjalankan pengobatan TB.
7 Kurangnya peran PMO sehingga Meningkatkan pengadaan penyuluhan
pasien TB kurang mendapatkan dan konsultasi tentang pentingnya peran
PMO sebagai kunci keberhasilan terapi
TB Paru
8 Evaluasi & feedback bulanan Perlu dilaksanakan evaluasi program
dilakukan secara rutin oleh Kepala secara rutin minimal setiap bulan,
Puskesmas & koordinator program sehingga pelaksanaan dan pencapaian
belum terlaksana secara baik program TB dapat terus dimonitor
perkembangannya. Bila terdapat kendala
dalam pelaksanaan program TB maka
evaluasi dapat berfungsi untuk
pertimbangan pengambilan keputusan
cepat oleh kepala puskesmas.
9 Kurangnya jumlah kader TB terutama Perlunya merekrut kader-kader TB
di wilayah dengan angka kejadian TB terutama diwilayah dengan angka
tertinggi kejadian penyakit TB yang tinggi.
Puskesmas perlu membangun
komunikasi ke instansi terkait mengenai
pentingnya penambahan jumlah kader
TB, dengan harapan instansi tersebut
dapat memberikan dukungan dan
bantuan untuk pelaksanaan penambahan
jumlah kader.

B. PRIORITAS PEMECAHAN MASALAH


Setelah menemukan alternatif pemecahan masalah, maka selanjutnya
dilakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah. Penentuan prioritas

50
alternatif pemecahan masalah dapat dilakukan dengan menggunakan metode
Kriteria Matriks. Untuk mencari penyelesaian masalah sebaiknya memenuhi
kriteria sebagai berikut :
1. Efektifitas program,
Yaitu menunjuk pada kemampuan program mengatasi penyebab masalah
yang ditemukan. Makin tinggi kemampuan, makin efektif cara penyelesaian
tersebut.
2. Efesiensi program,
Yaitu menunjuk pada pemakaian sumber daya, bila cara penyelesaian dengan
biaya (cost) yang kecil, maka cara tersebut disebut efesien

Untuk mengukur efektifitas pemecahan masalah, terdapat bebrapa pedoman,


yaitu :

1. Berdasarkan besarnya penyebab masalah/ Magnitude


Semakin besar atau semakin banyak penyebab masalah yang dapat
diselesaikan, maka semakin efektif. Kriteria ini bernilai 1-5, semakin banyak
penyebab masalah yang dapat diselesaikan, maka semakin besar nilainya.
(semakin mendekati 5).
2. Berdasarkan pentingnya cara pemecahan masalah/ Importancy.
Semakin penting cara penyelesaian dalam mengatasi penyebab masalah maka
semakin efektif. Kriteria ini bernilai 1-5, semakin penting cara penyelesaian
dalam mengatasi masalah maka nilainya semakin mendekati 5.
3. Berdasarkan sensitifitas cara penyelesaian masalah/ Vulnerability
Semakin sensitif cara penyelesaian masalah maka semakin efektif. Kriteria ini
bernilai 1-5, semakin sensitif cara penyelesaian dalam mengatasai masalah
maka nilainya semakin mendekati nilai 5.
4. Berdasakan biaya dalam menyelesaikan masalah/ Cost
Kriteria ini bernilai 1-5, nilai mnedekati 1 bila biaya (sumber daya) yang
digunakan semakin kecil. Sebaliknya mendekati nilai 5 bila biaya (sumber
daya) maikn besar.

51
Berdasarkan penjelasan di atas, matriks prioritas penyelesaian
masalah untuk mengatasi maslah tidak tercapainya target CDR TB Paru di
wilayah kerja Puskesmas Cipinang Melayu adalah sebagai berikut.

Tabel 6
Matriks Prioritas Pemecahan Masalah Tidak Tercapainya Target CDR TB
Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Cipinang Melayu 2017
No. Nilai Kriteria Hasil Akhir
Prioritas pemecahan Masalah (MxIxV)/C Prioritas
M I C V
1. Perlu dilakukan pelatihan
P2TB pada pegawai di
3 4 4 3 9 8
Puskesmas, tidak hanya
penanggung jawab program,
namun pegawai puskesmas lain
yang dirasa memiliki potensi
untuk dilatih sebagai petugas
TB.
2. Permasalahan TB seharusnya
dapat diprioritaskan
4 4 4 4 16 6
berdasarkan laporan dan
evaluasi tahunan permasalahan
di Puskesmas. Sehingga
petugas TB seharusnya tidak
memiliki tugas rangkap.
Kurangnya jumlah pegawai di
Puskesmas menjadi akar
permasalahan adanya tugas
rangkap, sehingga perlu
dievaluasi kembali tentang
potensi SDM yang mungkin
masih dapat dilibatkan.
3. Posyandu dilibatkan secara
khusus oleh pemerintah
5 5 5 5 25 5
setempat untuk menjalankan
fungsinya sebagai Pos
pelayanan MANDIRI
penanggulangan TB. Perlu
adanya dukungan dan fasilitasi
kebutuhan baik oleh
pemerintah maupun swasta,
sehingga fungsi posyandu

52
dapat lebih di optimalkan.
4. Membuat advokasi disertai
dengan data/ informasi yang
5 4 2 5 50 2
baru tentang pencapaian
program penanggulangan TB
di daerah untuk meyakinkan
para pengambil keputusan
anggaran pada Pemda dan
DPRD, sebab pada
kenyataannya dengan
meningkatnya jumlah penderita
TB pada suatu wilayah akan
mengurangi tingkat
produktifitas penduduk, yang
pada akhirnya berpengaruh
pada pencapaian pembangunan
suatu daerah.
5. Meningkatkan pengadaan
penyuluhan tentang masalah
TB Paru dan membuat media
8
promosi deteksi dini TB Paru 3 3 3 3 9
6. Meningkatkan pengadaan
penyuluhan dan konsultasi
tentang prosedur terapi dan
permasalahan mengenai TB
Paru yang sering ditemukan.
Mengikutsertakan peran tokoh
4
masyarakat, tokoh agama serta 4 4 2 4 32
para tertua adat dalam
meningkatkan kedisiplinan
pasien didalam menjalankan
pengobatan TB.
7 Meningkatkan pengadaan
penyuluhan dan konsultasi
4 4 1 4 64 1
tentang pentingnya peran PMO
sebagai kunci keberhasilan
terapi TB Paru
8 Perlu dilaksanakan evaluasi
program secara rutin minimal
setiap bulan, sehingga
pelaksanaan dan pencapaian
program TB dapat terus
3 4 1 3 36 3
dimonitor perkembangannya.
Bila terdapat kendala dalam
pelaksanaan program TB maka

53
evaluasi dapat berfungsi untuk
pertimbangan pengambilan
keputusan cepat oleh kepala
puskesmas.
9 Perlunya merekrut kader-kader
TB terutama diwilayah dengan
angka kejadian penyakit TB
yang tinggi. Puskesmas perlu
membangun komunikasi ke
4 4 4 3 12 7
instansi terkait mengenai
pentingnya penambahan
jumlah kader TB, dengan
harapan instansi tersebut dapat
memberikan dukungan dan
bantuan untuk pelaksanaan
penambahan jumlah kader.

Setelah melakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan


masalah dengan menggunakan metode Kriteria Matriks, maka didapatkan urutan
prioritas alternatif pemecahan penyebab masalah tidak tercapainya target CDR TB
Paru di wilayah kerja Puskesmas Cipinang Melayu. Berdasarkan prioritas
alternatif pemecahan masalah tersebut didapatkan urutan alternatif pemecahan
masalah sebagai berikut :

1. Meningkatkan pengadaan penyuluhan dan konsultasi tentang pentingnya


peran PMO sebagai kunci keberhasilan terapi TB Paru
2. Membuat advokasi disertai dengan data/ informasi yang baru tentang
pencapaian program penanggulangan TB di daerah untuk meyakinkan para
pengambil keputusan anggaran pada Pemda dan DPRD, sebab pada
kenyataannya dengan meningkatnya jumlah penderita TB pada suatu
wilayah akan mengurangi tingkat produktifitas penduduk, yang pada
akhirnya berpengaruh pada pencapaian pembangunan suatu daerah.
3. Perlu dilaksanakan evaluasi program secara rutin minimal setiap bulan,
sehingga pelaksanaan dan pencapaian program TB dapat terus dimonitor
perkembangannya. Bila terdapat kendala dalam pelaksanaan program TB

54
maka evaluasi dapat berfungsi untuk pertimbangan pengambilan keputusan
cepat oleh kepala puskesmas.
4. Meningkatkan pengadaan penyuluhan dan konsultasi tentang prosedur
terapi dan permasalahan mengenai TB Paru yang sering ditemukan.
Mengikutsertakan peran tokoh masyarakat, tokoh agama serta para tertua
adat dalam meningkatkan kedisiplinan pasien didalam menjalankan
pengobatan TB.
5. Posyandu dilibatkan secara khusus oleh pemerintah setempat untuk
menjalankan fungsinya sebagai Pos pelayanan MANDIRI penanggulangan
TB. Perlu adanya dukungan dan fasilitasi kebutuhan baik oleh pemerintah
maupun swasta, sehingga fungsi posyandu dapat lebih di optimalkan.
6. Permasalahan TB seharusnya dapat diprioritaskan berdasarkan laporan dan
evaluasi tahunan permasalahan di Puskesmas. Sehingga petugas TB
seharusnya tidak memiliki tugas rangkap. Kurangnya jumlah pegawai di
Puskesmas menjadi akar permasalahan adanya tugas rangkap, sehingga
perlu dievaluasi kembali tentang potensi SDM yang mungkin masih dapat
dilibatkan.
7. Perlunya merekrut kader-kader TB terutama diwilayah dengan angka
kejadian penyakit TB yang tinggi. Puskesmas perlu membangun komunikasi
ke instansi terkait mengenai pentingnya penambahan jumlah kader TB,
dengan harapan instansi tersebut dapat memberikan dukungan dan bantuan
untuk pelaksanaan penambahan jumlah kader.
8. Meningkatkan pengadaan penyuluhan tentang masalah TB Paru dan
membuat media promosi deteksi dini TB Paru.
C. RENCANA TINDAK LANJUT KEGIATAN

Setelah menentukan alternatif pemecahan masalah, kemudian dibuat tabel


rencana atau Plan Of Action yang meliputi kegiatan, tujuan, sasaran, waktu, dana,
lokasi, pelaksana, metode dan tolak ukur yang sesuai dengan masalah yang
ditemukan.

55
Tabel 7
Rencana Kegiatan Peningkatan Targert CDR TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Cipinang Melayu

No. Kegiatan Tujuan Sasaran Waktu Dana Lokasi Pelaksana Metode Tolak ukur
1. Meningkatkan Meningkatkan Seluruh November -Spon -posyandu -dokter -ceramah -terdapat
pengadaan pengetahuan masyarakat
s/d sorship lansia -diskusi/ media promosi
penyuluhan masyarakat di wilayah
tentang masalah tentang kerja Desember -PKK RW tanya yang
TB Paru dan penyakit TB Puskesmas
2017 3 jawab dipaparkan
membuat media Paru dan Cipinang
promosi deteksi meningkatkan Melayu atau dibagikan
dini TB Paru dan kesadaran
di posyandu,
TOSS TB masyarakat.
dan
masyarakat.

56
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

1. KESIMPULAN

Program pengendalian TB dengan strategi DOTS telah berjalan di


wilayah kerja Puskesmas Cipinang Melayu,. Tetapi pelaksanaan program
pencapaian cakupan CDR TB paru dengan sistem DOTS tersebut belum
mencapai target yang diharapkan. Penyebab utama adalah partisipasi
masyarakat, dokter, tenaga kesehatan dan elemen lainnya yang masih sangat
rendah dan belum adanya komitmen khusus dari pemerintahan setempat
dalam penemuan dan diagnosis kasus TB.

Penyebab lainnya adalah penjaringan yang telah dilaksanakan dengan


Active Case Finding belum terlaksana secara maksimal dan faktor rendahnya
pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang panyakit TB Paru menjadi
akar permasalahan rendahnya pencapaian program penemuan kasus TB di
Puskesmas Cipinang Melayu.
Setelah melakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah
dengan menggunakan metode Kriteria Matriks, maka didapatkan urutan
perioritas alternatif pemecahan penyebab masalah tidak tercapainya target
CDR TB Paru di wilayah kerja Puskemas Cipinang Melayu :
1. Meningkatkan pengadaan penyuluhan dan konsultasi tentang pentingnya
peran PMO sebagai kunci keberhasilan terapi TB Paru
2. Membuat advokasi disertai dengan data/ informasi yang baru tentang
pencapaian program penanggulangan TB di daerah untuk meyakinkan
para pengambil keputusan anggaran pada Pemda dan DPRD, sebab pada
kenyataannya dengan meningkatnya jumlah penderita TB pada suatu
wilayah akan mengurangi tingkat produktifitas penduduk, yang pada
akhirnya berpengaruh pada pencapaian pembangunan suatu daerah.
3. Perlu dilaksanakan evaluasi program secara rutin minimal setiap bulan,
sehingga pelaksanaan dan pencapaian program TB dapat terus dimonitor
perkembangannya. Bila terdapat kendala dalam pelaksanaan program TB

57
maka evaluasi dapat berfungsi untuk pertimbangan pengambilan
keputusan cepat oleh kepala puskesmas.
4. Meningkatkan pengadaan penyuluhan dan konsultasi tentang prosedur
terapi dan permasalahan mengenai TB Paru yang sering ditemukan.
Mengikutsertakan peran tokoh masyarakat, tokoh agama serta para tertua
adat dalam meningkatkan kedisiplinan pasien didalam menjalankan
pengobatan TB.
5. Posyandu dilibatkan secara khusus oleh pemerintah setempat untuk
menjalankan fungsinya sebagai Pos pelayanan MANDIRI
penanggulangan TB. Perlu adanya dukungan dan fasilitasi kebutuhan baik
oleh pemerintah maupun swasta, sehingga fungsi posyandu dapat lebih di
optimalkan.
6. Permasalahan TB seharusnya dapat diprioritaskan berdasarkan laporan
dan evaluasi tahunan permasalahan di Puskesmas. Sehingga petugas TB
seharusnya tidak memiliki tugas rangkap. Kurangnya jumlah pegawai di
Puskesmas menjadi akar permasalahan adanya tugas rangkap, sehingga
perlu dievaluasi kembali tentang potensi SDM yang mungkin masih dapat
dilibatkan.
7. Perlunya merekrut kader-kader TB terutama diwilayah dengan angka
kejadian penyakit TB yang tinggi. Puskesmas perlu membangun
komunikasi ke instansi terkait mengenai pentingnya penambahan jumlah
kader TB, dengan harapan instansi tersebut dapat memberikan dukungan
dan bantuan untuk pelaksanaan penambahan jumlah kader.
8. Meningkatkan pengadaan penyuluhan tentang masalah TB Paru dan
membuat media promosi deteksi dini TB Paru.

Dengan adanya alternatif pemecahan masalah di atas, diharapkan

mampu meningkatkan pencapaian target CDR TB Paru di wilayah kerja Puskemas


Cipinang Melayu.

58
DAFTAR PUSTAKA

1. Chin, James. Tuberkulosis Dalam: Manual Pemberantasan Penyakit Menular.


ed. 17. Editor Penterjemah: I Nyoman Kandun. American Public Health
Association. 2000.
2. Depkes RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Edisi II.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 2008.
3. Makmur, Suwandi. DOTS (Direct Observed Treatment Shortcourse) Sebuah
Strategi Pemberantasan Tuberkulosis. Dalam: Tuberkulosis Tinjauan
Multidisiplin. Edisi I. Editor: Isa M, Soefyani A, Juwono O dan Budiarti L.Y.
Pusat Studi Tuberkulosis FK Unlam. Banjarmasin, 2001
4. Depkes RI. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan
Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Pedoman Penyakit Tuberkulosis dan
Penanggulangannya. Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 1997
5. Wayan, I. Promosi Penanggulangan Tuberkulosis. Departemen Kesehatan dan
Kesejahteraan Sosial RI. Jakarta. 2000.
6. Depkes RI. Komite Nasional Penanggulangan Penyakit Tuberkulosis Paru di
Indonesia. Prosedur Tetap Penanggulangan TB Paru Nasional Secara
Terpadu. Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 2006
7. Depkes RI. Proyek Kesehatan Keluarga dan Gizi. ARRIME Pedoman
Manajemen Puskesmas. Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 2002.

59