Anda di halaman 1dari 13

MINI PROJECT INTERVENSI DARI LOKUS MASALAH PADA

INDIKASI KELUARGA SEHAT


Diajukan Sebagai Salah Satu Persyaratan Dalam Menempuh
Program Dokter Internsip Indonesia

Oleh :
dr. Vonny Riska Rahmawati
Pendamping :
Dr Endah
Wahana :
Puskesmas Gedongan

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


KOTA MOJOKERTO
PROVINSI JAWA TIMUR
2019
BAB 1
LATAR BELAKANG
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyebab kematian dan
kesakitan yang tinggi. Darah tinggi sering disebut juga sebagai The Silen Killer
karena hipertensi merupakan pembunuh tersembunyi yang penyebab awalnya
tidak diketahui atau tanpa gejala sama sekali, hipertensi bisa menyebabkan
berbagai komplikasi terhadap beberapa penyakit lain, bahkan penyebab timbulnya
penyakit jantung, stroke dan ginjal. Di seluruh dunia hipertensi merupakan
masalah yang besar dan serius disamping karena prevalensinya yang tinggi dan
cenderung meningkat dimasa yang akan datang karena tingkat keganasanya yang
tinggi berupa kecacatan permanen dan kematian mendadak. Kehadiran hipertensi
pada kelompok dewasa muda akan sangat membebani perekonomian keluarga,
karena biaya pengobatan yang mahal dan membutuhkan waktu yang panjang
bahkan sampai seumur hidup.
Hipertensi saat ini masih menjadi faktor risiko kematian tertinggi di
seluruh dunia. Data yang dikumpulkan dari berbagai literature menunjukan
jumlah penderita hipertensi dewasa diseluruh dunia pada tahun 2000 adalah 957-
987 juta orang. Prevalensinya diduga akan semakin meningkat setiap tahunya
sampai mencapaiangka 1,56 milyar (60% dari populasi dewasa dunia) pada tahun
2025.(Depkes RI, 2007).
WHO (World Health Organization) menetapkan hipertensi sebagai faktor
risiko nomor tiga penyebab kematian didunia dan bertanggung jawab terhadap
62% timbulnya kasus stroke, 49% timbulnya serangan jantung dan tujuh juta
kematian premature tiap tahunnya.(Depkes RI, 2007).
Di dunia hampir 1 milyar orang atau 1 dari 4 orang dewasa menderita
hipertensi. Tekanan darah tinggi merupakan penyakit kronis yang bisa merusak
organ tubuh manusia. Setiap tahun darah tinggi menjadi penyebab 1 dari 7
kematian (7 juta pertahun) di samping menyebabkan kerusakan jantung, mata,
otak dan ginjal. (Depkes RI, 2007).
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) dari 70% penderita
hipertensi yang di ketahui hanya 25% yang mendapat pengobatan, dan hanya
12,5% yang diobati dengan baik (adequately treated cases) diperkirakan sampai
tahun 2025 tingkat terjadinya tekanan darah tinggi akan bertambah 60%, dan akan
mempengaruhi 1,56 milyar penduduk di seluruh dunia. (Depkes RI, 2007).
Menurut AHA (American Heart Assosiation) di Amerika tekanan darah
tinggi ditemukan satu dari setiap tiga orang atau 65 juta orang dan 285 atau 59
juta orang mengidap hipertensi. Semua orang yang mengidap hipertensi hanya
satu pertiganya yang mengetahui keadaanya dan hanya 61% medikasi, dari
penderita yang mendapat medikasi hanya satu pertiga mencapai target darah yang
optimal/normal. (Depkes RI, 2007).
Data dari The National Health and Nutrition Examination Survey
(NHANES) menunjukan bahwa dari tahun 1999-2000, insiden hipertensi pada
orang dewasa adalah sekitar 29-31% yang berarti terdapat 58-65 juta penderita
hipertensi di Amerika dan terjadi peningkatan 15 juta dari (NHANES tahun 1988-
1991).
Di negara maju, pengendalian hipertensi juga belum memuaskan bahkan
di banyak Negara pengendalian tekanan darah hanya 8% karena menyangkut
banyak faktor daripenderita, tenaga kesehatan, obat–obatan maupun pelayanan
kesehatan. Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP (K) menyatakan hipertensi
sebenarnya merupakan penyakit yang dapat dicegah bila faktor risiko dapat
dikendalikan. Upaya tersebut meliputi monitoring tekanan darah secara teratur,
program hidup sehat tanpa asap rokok, peningkatan aktifitas fisik/gerakan badan,
diet yang sehat dengan kalori seimbang melalui konsumsi tinggi serat, rendah
lemak dan rendah garam. Hal ini merupakan kombinasi upaya mandiri oleh
individu atau masyarakat dan didukung oleh program pelayanan kesehatan yang
ada dan harus dilakukan sedini mungkin.

Prevalensi hipertensi di Indonesia pada daerah urban dan rural berkisar


antara 17-21%. Data secara nasional yang belum lengkap, sebagian besar
penderita hipertensi di Indonesia tidak terdeteksi, sementara mereka yang
terdeteksi umumnya tidak menyadari kondisi penyakitnya. (Depkes RI, 2007).
Hipertensi di Indonesia terdaftar sebagai penyakit pembunuh ketiga
setelah penyakit jantung dan kanker. Hasil survei kesehatan rumah tangga tahun
1995 menunjukan prevalensi penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi di
Indonesia cukup tinggi 83 per 1.000 anggota rumah tangga. Pada umumnya
perempuan lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan dengan pria. Dari
berbagai penelitian epidemiologis yang dilakukan di Indonesia menunjukkan 1,8 –
18,8% penduduk yang berusia 20 tahun adalah penderita hipertensi. Prevalensi di
Sumatera Selatan dari penelitian menunjukan angka 6,3% sampai 9,17 %. Lebih
banyak diderita oleh wanita dibandingkan laki-laki.(Depkes RI, 2007).
Berdasarkan hasil Surveilans rutin penyakit tidak menular (PTM) pada
puskesmas sentinel di Sulawesi Selatan pada tahun 2008, ditemukan sebanyak
99.862 kasus penyakit tidak menular, yang terdiri dari perempuan (50.862) kasus
dan laki-laki (48.449) kasus.
Lima penyakit urutan terbesar ditemukan pada puskesmas sentinel tahun
2008 antara lain hipertensi (57,48%), kecelakaan lalu lintas (16,77%), asma
(13,23%), diabetes mellitus (7,95%), dan osteoporosis (1,20%). (dinkes sul-sel,
2010)

BAB II
ISI
1.1 PERMASALAHAN DI MASYARAKAT
Tingginya angka kematian yang disebabkan akibat penyakit hipertensi di
dunia,khsunya di daerah kerja puskesmas Anabanua masih menjadi permasalahn
pada saaat ini, WHO (World Health Organization) menetapkan hipertensi sebagai
faktor risiko nomor tiga penyebab kematian didunia. Sedangkan berdasarkanhasil
surveilans rutin penyakit tidak menular pada puskesmas di Sulawesi Selatan pada
tahun 2008 di dapatkan penyakit hipertensi menduduki posisi pertama dalam
urutan lima penyakit terbesar yang ditemukan di puskesmas yaitu 57,48%.
Dimana kita ketahui penaganan hipertensi memerlukan waktu yang lama bahkan
dapat sampai seumur hidup. Namun apabila hipertensi tidak ditangani dengan
baik para penderita memiliki faktor risiko untuk teradinya komplikasi seperti
penyakit ginal, penyakit jantung dan stroke.

I. PEMILIHAN INTERVENSI
Berdasarkan permasalahan yang telah disebutkan diatas, maka strategi
pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan
promosi/peyuluhankesehatan ke masyarakat yang bertujuan untuk mengubah
perilaku masyarakat dan pendekatan secara individu kepada masyarakat yang
memiliki risiko tinggi untuk menekan tingginya angka kejadian hipertensi dan
khususnya menekan angkat terjadinya komplikasi akibat hipertensi.

II. PELAKSANAAN
Penyuluhan kesehatan mengenai penyakit hipertensi dan kompilkasi yang
dapat terjadi dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal11 Agustus 2016, bertempat
didesa Kaliang kecamatanDuampanua, kabupaten Pinrang, penyluhan ini diikuti
oleh masyarakat sebanyak 26 orang.
Penyuluhan ini dibawakan oleh dr. Herwin Irawan bersama dengan
anggota bidang promkes PKM Lampa dengan menggunakan media flipchart dan
leaflet. Selama penyuluhan berlangsung, pemateri menyampaikan informasi
mengenai pengertian hipertensi, faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan
teradinya hipertensi, pembagian derajat hipertensi, komplikasi yang dapat teradi
pada penderita hipertensi, dan upaya penyecegahan teradinya hipertensi.
a) Materi Penyuluhan
A. Definisi
Hipertensi merupakan “silent killer” (pembunuh diam-diam) yang secara
luas dikenal sebagai penyakit kardiovaskular yang sangat umum. Dengan
meningkatnya tekanan darah dan gaya hidup yang tidak seimbang dapat
meningkatkan faktor risiko munculnya berbagai penyakit seperti arteri koroner,
gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal. Salah satu studi menyatakan pasien yang
menghentikan terapi anti hipertensi maka lima kali lebih besar kemungkinannya
terkena stroke.(Gunawan, 2001;10)
Hipertensi dianggap sebagai faktor risiko utama stroke, dimana stroke merupakan
penyakit yang sulit disembuhkan dan mempunyai dampak yang sangat luas
terhadap kelangsungan hidup penderita dan keluarganya. Hipertensi sistolik dan
distolik terbukti berpengaruh pada stroke. Dikemukakan bahwa penderita dengan
tekanan diastolik di atas 95 mmHg mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk
terjadinya infark otak dibanding dengan tekanan diastolik kurang dari 80 mmHg,
sedangkan kenaikan sistolik lebih dari 180 mmHg mempunyai risiko tiga kali
terserang stroke iskemik dibandingkan dengan dengan tekanan darah kurang 140
mmHg. Akan tetapi pada penderita usia lebih 65 tahun risiko stroke hanya 1,5 kali
daripada normotensi.(Staessen A Jan, 2003; 1629-1635)
Sasaran pengobatan hipertensi untuk menurunkan morbiditas dan
mortalitas kardiovaskuler dan ginjal. Dengan menurunkan tekanan darah kurang
dari 140/90 mmHg, diharapkan komplikasi akibat hipertensi berkurang.
Klasifikasi prehipertensi bukan suatu penyakit, tetapi hanya dimaksudkan akan
risiko terjadinya hipertensi. Terapi non farmakologi antara lain mengurangi
asupan garam, olah raga, menghentikan rokok dan mengurangi berat badan, dapat
dimulai sebelum atau bersama-sama obat farmakologi. (Staessen A Jan, 2003;
1629-1635)

B. Etiologi
Hipertensi merupakan suatu penyakit dengan kondisi medis yang beragam.
Pada kebanyakan pasien etiologi patofisiologi-nya tidak diketahui (essensial atau
hipertensi primer). Hipertensi primer ini tidak dapat disembuhkan tetapi dapat di
kontrol. Kelompok lain dari populasi dengan persentase rendah mempunyai
penyebab yang khusus, dikenal sebagai hipertensi sekunder. Banyak penyebab
hipertensi sekunder; endogen maupun eksogen. Bila penyebab hipertensi sekunder
dapat diidentifikasi, hipertensi pada pasien-pasien ini dapat disembuhkan secara
potensial.(Soenarta Ann Arieska, 2005; 5-7)
1. Hipertensi primer (essensial)
Lebih dari 90% pasien dengan hipertensi merupakan hipertensi essensial
(hipertensi primer). Literatur lain mengatakan, hipertensi essensial merupakan
95% dari seluruh kasus hipertensi. Beberapa mekanisme yang mungkin
berkontribusi untuk terjadinya hipertensi ini telah diidentifikasi, namun belum
satupun teori yang tegas menyatakan patogenesis hipertensi primer tersebut.
Hipertensi sering turun temurun dalam suatu keluarga, hal ini setidaknya
menunjukkan bahwa faktor genetik memegang peranan penting pada patogenesis
hipertensi primer. Menurut data, bila ditemukan gambaran bentuk disregulasi
tekanan darah yang monogenik dan poligenik mempunyai kecenderungan
timbulnya hipertensi essensial. Banyak karakteristik genetik dari gen-gen ini yang
mempengaruhi keseimbangan natrium, tetapi juga di dokumentasikan adanya
mutasi-mutasi genetik yang merubah ekskresi kallikrein urine, pelepasan nitric
oxide, ekskresi aldosteron, steroid adrenal, dan angiotensinogen. (Soenarta Ann
Arieska, 2005; 5-7)
2. Hipertensi sekunder
Kurang dari 10% penderita hipertensi merupakan sekunder dari penyakit
komorbid atau obat-obat tertentu yang dapat meningkatkan tekanan darah (lihat
tabel 1). Pada kebanyakan kasus, disfungsi renal akibat penyakit ginjal kronis atau
penyakit renovaskular adalah penyebab sekunder yang paling sering.7 Obat-obat
tertentu, baik secara langsung ataupun tidak, dapat menyebabkan hipertensi atau
memperberat hipertensi dengan menaikkan tekanan darah. Obat-obat ini dapat
dilihat pada tabel 1. Apabila penyebab sekunder dapat diidentifikasi, maka dengan
menghentikan obat yang bersangkutan atau mengobati / mengoreksi kondisi
komorbid yang menyertainya sudah merupakan tahap pertama dalam penanganan
hipertensi sekunder. (Soenarta Ann Arieska, 2005; 5-7)
C. Klasifikasi Hipertensi
Ada beberapa klasifikasi dari hipertensi, diantaranya menurut The Seventh
Report of The Joint National Committee on Prevention, Detection, Eveluation,
and Tretment of High Blood Pressure (JNC7) klasifikasi tekanan darah pada
orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal, prahipertensi, hipertensi derajat
1 dan derajat 2 (dilihat tabel 2), menurut World Health Organization (WHO) dan
International Society Of Hypertension Working Group (ISHWG) (dilihat tabel 3).
(Chobanian AV et al 2003 21;289)

Tabel 2. Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC 7


Klasifikasi TDS TDD
Tekanan Darah
(mmHg) (mmHg)
Normal < 120 Da < 80
n
Prehipertensi 120 – 139 At 80 – 89
au
Hipertensi 140 – 159 At 90 – 99
stadium 1
au
Hipertensi ≥ 160 At ≥ 100
stadium 2
au
TDS = Tekanan Darah Sistolik, TDD = Tekanan Darah Diastolik

Tabel 3. Klasifikasi Tekanan Darah World Health Organization


(WHO) dan International Society Of Hypertension Working Group (ISHWG)
Kategori Sistolik Diastolik
(mmHg) (mmHg)
Optimal < 120 D < 80
an
Normal < 130 D < 85
an
Normal tinggi 130 – 139 A 85 – 89
/ tau
pra hipertensi
Hipertensi 140 – 159 A 90 – 99
derajat I tau
Hipertensi 160 – 179 A 100 – 109
derajat II tau
Hipertensi ≥ 180 A ≥ 110
derajat III tau

D. Faktor Risiko Hipertensi


1. Faktor yang tidak dapat diubah/dikontrol
a. Umur
Hipertensi erat kaitannya dengan umur, semakin tua seseorang semakin
besar risiko terserang hipertensi. Umur lebih dari 40 tahun mempunyai risiko
terkena hipertensi. Dengan bertambahnya umur, risiko terkena hipertensi lebih
besar sehingga prevalensi hipertensi dikalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu
sekitar 40 % dengan kematian sekitar 50 % diatas umur 60 tahun. Arteri
kehilangan elastisitasnya atau kelenturannya dan tekanan darah seiring
bertambahnya usia, kebanyakan orang hipertensinya meningkat ketika 50an dan
60an.(Thomas M. Habermann,:2008)

b. Jenis Kelamin
Bila ditinjau perbandingan antara wanita dan pria, ternyata terdapat angka
yang cukup bervariasi. Dari laporan Sugiri di Jawa Tengah didapatkan angka
prevalensi 6,0% untuk pria dan 11,6% untuk wanita. Prevalensi di Sumatera Barat
18,6% pria dan 17,4% perempuan, sedangkan daerah perkotaan di Jakarta
(Petukangan) didapatkan 14,6% pria dan 13,7% wanita.(Thomas M.
Habermann,:2008)
c. Riwayat Keluarga
Menurut Nurkhalida, orang-orang dengan sejarah keluarga yang
mempunyai hipertensi lebih sering menderita hipertensi. Riwayat keluarga dekat
yang menderita hipertensi (faktor keturunan) juga mempertinggi risiko terkena
hipertensi terutama pada hipertensi primer. Keluarga yang memiliki hipertensi dan
penyakit jantung meningkatkan risiko hipertensi 2-5 kali lipat. Jika kedua orang
tua kita mempunyai hipertensi, kemungkunan kita mendapatkan penyakit tersebut
60%.(Thomas M. Habermann,:2008)

d. Genetik
Peran faktor genetik terhadap timbulnya hipertensi terbukti dengan
ditemukannya kejadian bahwa hipertensi lebih banyak pada kembar monozigot
(satu sel telur) daripada heterozigot (berbeda sel telur). Seorang penderita yang
mempunyai sifat genetik hipertensi primer (esensial) apabila dibiarkan secara
alamiah tanpa intervensi terapi, bersama lingkungannya akan menyebabkan
hipertensinya berkembang dan dalam waktu sekitar 30-50 tahun akan timbul tanda
dan gejala.(Thomas M. Habermann,:2008)

2. Faktor yang dapat diubah/dikontrol


a. Kebiasaan Merokok
b. Konsumsi Asin/Garam
c. Konsumsi Lemak Jenuh
d. Penggunaan Jelantah
e. Kebiasaan Konsumsi Minum Minuman Beralkohol
f. Obesitas
g. Olahraga
h. Stres
i. Penggunaan Estrogen

E. Gejala Klinis Hipertensi


Menurut Elizabeth J. Corwin, sebagian besar tanpa disertai gejala yang
mencolok dan manifestasi klinis timbul setelah mengetahui hipertensi bertahun-
tahun berupa.
1. Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah,
akibat tekanan darah intrakranium.
2. Penglihatan kabur akibat kerusakan retina karena hipertensi.
3. Ayunan langkah tidak mantap karena kerusakan susunan syaraf.
4. Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi
glomerolus.
5. Edema dependen akibat peningkatan tekanan kapiler.(Kasper,
Braunwald:2008)
F. Penatalaksanaan Hipertensi
1. Penatalaksanaan Non Farmakologis
Pendekatan nonfarmakologis merupakan penanganan awal sebelum
penambahan obat-obatan hipertensi, disamping perlu diperhatikan oleh seorang
yang sedang dalam terapi obat. Sedangkan pasien hipertensi yang terkontrol,
pendekatan nonfarmakologis ini dapat membantu pengurangan dosis obat pada
sebagian penderita. Oleh karena itu, modifikasi gaya hidup merupakan hal yang
penting diperhatikan, karena berperan dalam keberhasilan penanganan
hipertensi.(Chobanian AV et al,2003; 21;289)
Pendekatan nonfarmakologis diantaranya :
1. Berhenti merokok.
2. Olahraga dan aktifitas fisik
3. Perubahan pola makan
a. Mengurangi asupan garam
b. Diet rendah lemak jenuh
c. Memperbanyak konsumsi sayuran, buah-buahan dan susu rendah
lemak.
4. Menghilangkan stress

III. EVALUASI

Kesimpulan
Penyuluhan kesehatan mengenai penyakit hipertensi dan komplikasi
yang dapat terjadi pada masyarakat, khususnya masyarakat desa Kaliang
sangat penting diadakan guna meningkatkan kesadaran masyarakat
terhadap pentingnya hidup sehat dan pentingnya mencegah terjadinya
komplikasi yang dapat membahayakan.

Saran
 Kegiatan penyuluhan kesehatan mengenai penyakit hipertensi dan
komplikasi yang dapat terjadi, harnya dilaksanakan secara rutin agar
pemahaman masyarakat tentang penyakit hipertensi dan bahayanya dapat
dicegah atau angka keadiannya dapat di turunkan
 Adanya pendataan kepada masyarakat yang memiliki penyakit hipertensi
agar petugas kesehatan dapat meng follow up perkembangan penyakit
pasie.
LAMPIRAN