Anda di halaman 1dari 14

REFLEKSI KASUS April, 2019

NEURODERMATITIS SIRKUMSKRIPTA

Disusun Oleh:

NAMA : Muhammad Aqsha Mahmud


NIM : N 111 17 157

PEMBIMBING KLINIK
dr. Asrawati Sofyan, Sp. KK, M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA PALU
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2019
STATUS PASIEN

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN

RSUD UNDATA PALU

I. IDENTITAS PASIEN
1) Nama Pasien : Ny. LM
2) Umur : 72 Tahun
3) Jenis Kelamin : Perempuan
4) Alamat :Lagarutu
5) Agama : Kristen
6) Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
7) Tanggal Pemeriksaan : 15 April 2019

II. ANAMNESIS
1) Keluhan Utama : Gatal pada punggung kaki sebelah kanan
2) Riwayat penyakit sekarang :
Seorang perempuan berumur 72 tahun datang ke poli kulit
dan kelamin RSUD Undata dengan keluhan gatal pada punggung
kaki sebelah kanan sejak 3 minggu yang lalu. Awalnya muncul
kemerahan pada kulit dibagian punggung kaki sebelah kanan dan
disertai dengan kulit terasa tebal. Gatal dirasakan semakin
bertambah sehingga pasien seringkali tidak tahan dan akhirnya
menggaruk-garuk daerah yang gatal sehingga daerah yang gatal
terkadang sampai luka. Pasien merasakan daerah yang gatal lama-
kelamaan menjadi terasa tebal dan bersisik akibat pasien sering
menggaruknya.
Sebelumnya pasien sudah pernah berobat ke poli kulit dan
kelamin RSUD Undata dengan keluhan yang sama, pasien diberikan
obat berupa salep yang dioleskan pada daerah yang gatal, setelah
menggunakan salep tersebut pasien mengaku keluhan membaik
namun setelah obat habis keluhan dapat muncul kembali.
Pasien merasakan keluhan gatal menjadi semakin bertambah
apabila pasien sedang beristirahat.
3) Riwayat penyakit dahulu:
Pasien belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya,
riwayat alergi makanan (-), hipertensi (-), DM (disangkal), riwayat
merokok (-).
4) Riwayat penyakit keluarga:
Tidak ada keluarga pasien yang mengalami penyakit serupa
dengan pasien.
5) Riwayat sosial dan kebiasaan:
Pasien seorang perempuan yang pekerjaan sehari-harinya
sebagai ibu rumah tangga dan tinggal bersama anaknya
dilingkungan tempat yang kurang bersih.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Status Generalis
1. Keadaan umum : Sakit ringan
2. Status Gizi : Baik
3. Kesadaran : Composmentis

Tanda-tanda Vital
TD : 140/90 mmHg
Nadi : 80 kali/menit
Respirasi : 20 kali/menit
Suhu : 36,50 C

Status Dermatologis
Ujud Kelainan Kulit :
1. Kepala : tidak terdapat ujud kelainan kulit
2. Leher : tidak terdapat ujud kelainan kulit
3. Ketiak : tidak terdapat ujud kelainan kulit
4. Dada : tidak terdapat ujud kelainan kulit
5. Punggung : tidak terdapat ujud kelainan kulit
6. Perut : tidak terdapat ujud kelainan kulit
7. Selangkangan : tidak terdapat ujud kelainan kulit
8. Ekstremitas Atas : tidak terdapat ujud kelainan kulit
9. Ekstremitas bawah : terdapat plak hiperpigmentasi unilateral,
disertai erosi sirkumstrip pada dorsum pedis
dextra, dengan likenifikasi unilateral.

IV. GAMBAR

Gambar 1: Lesi berupa plak hiperpigmentasi disertai erosi sirkumstrip pada dorsum pedis
dextra, dengan likenifikasi.
V. RESUME
Seorang perempuan berumur 72 tahun datang ke poli kulit dan
kelamin RSUD Undata dengan keluhan gatal pada punggung kaki sebelah
kanan sejak 3 minggu yang lalu. Awalnya muncul kemerahan pada kulit
dibagian punggung kaki sebelah kanan dan disertai dengan kulit terasa tebal.
Gatal dirasakan semakin bertambah sehingga pasien seringkali tidak tahan
dan akhirnya menggaruk-garuk daerah yang gatal sehingga daerah yang
gatal terkadang sampai luka. Pasien merasakan daerah yang gatal lama-
kelamaan menjadi terasa tebal dan bersisik akibat pasien sering
menggaruknya. Sebelumnya pasien sudah pernah berobat ke poli kulit dan
kelamin RSUD Undata dengan keluhan yang sama, pasien diberikan obat
berupa salep yang dioleskan pada daerah yang gatal, setelah menggunakan
salep tersebut pasien mengaku keluhan membaik namun setelah obat habis
keluhan dapat muncul kembali. Pasien merasakan keluhan gatal menjadi
semakin bertambah apabila pasien sedang beristirahat.
Pasien belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya, riwayat
alergi makanan (-), hipertensi (-), DM (disangkal), riwayat merokok (-).
Tidak ada keluarga pasien yang mengalami penyakit serupa dengan pasien.
Pasien seorang perempuan yang pekerjaan sehari-harinya sebagai ibu rumah
tangga dan tinggal bersama anaknya dilingkungan tempat yang kurang
bersih.
Pasien datang dengan keadaan umum sakit ringan, status gizi baik,
dan kesadaran compos mentis. Hasil pemeriksaan dermatologis didapatkan
ujud kelainan kulit berupa plak hiperpigmentasi unilateral, disertai erosi
sirkumstrip pada dorsum pedis dextra, dengan likenifikasi unilateral.

VI. DIAGNOSIS KERJA


Neurodermatitis sirkumskripta (liken simpleks kronikus).
VII. DIAGNOSIS BANDING
1. Liken planus
2. Psoriasis
3. Dermatitis atopik

VIII. ANJURAN PEMERIKSAAN


Histopatologi

IX. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.

X. PENATALAKSANAAN
Non medikamentosa:
1. Mencegah garukan pada daerah yang gatal
2. Hindari stress psikologis
3. Istirahat yang cukup
4. Menjaga kebersihan kulit, dan menjaga kelembapan kulit agar kulit tidak
kering.

Medikamentosa:
 Topikal: Desoksimetason oint 0,25% (2x1)
 Sistemik : Loratadin tab 10 mg (1x1)
Methylpredinisolone tab 4 mg (2x1)

XI. PROGNOSIS

Quo ad vitam : ad bonam

Quo ad fungtionam : ad bonam

Quo ad cosmetikam : dubia ad bonam

Quo ad sanationam : dubia ad bonam


PEMBAHASAN

Seorang perempuan berumur 72 tahun datang ke poli kulit dan kelamin


RSUD Undata dengan keluhan gatal pada punggung kaki sebelah kanan sejak 3
minggu yang lalu. Awalnya muncul kemerahan pada kulit dibagian punggung kaki
sebelah kanan dan disertai dengan kulit terasa tebal. Gatal dirasakan semakin
bertambah sehingga pasien seringkali tidak tahan dan akhirnya menggaruk-garuk
daerah yang gatal sehingga daerah yang gatal terkadang sampai luka. Pasien
merasakan daerah yang gatal lama-kelamaan menjadi terasa tebal dan bersisik
akibat pasien sering menggaruknya. Sebelumnya pasien sudah pernah berobat ke
poli kulit dan kelamin RSUD Undata dengan keluhan yang sama, pasien diberikan
obat berupa salep yang dioleskan pada daerah yang gatal, setelah menggunakan
salep tersebut pasien mengaku keluhan membaik namun setelah obat habis keluhan
dapat muncul kembali. Pasien menyangkal keluhan gatal menjadi semakin
bertambah apabila pasien sedang berkeringat ataupun bertambah berat apabila
pasien menggunakan detergen untuk mencuci.

Pasien belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya, riwayat alergi
makanan (-), hipertensi (-), DM (disangkal), riwayat merokok (-). Tidak ada
keluarga pasien yang mengalami penyakit serupa dengan pasien. Pasien seorang
perempuan yang pekerjaan sehari-harinya sebagai ibu rumah tangga dan tinggal
bersama anaknya dilingkungan tempat yang kurang bersih.Pasien datang dengan
keadaan umum sakit ringan, status gizi baik, dan kesadaran compos mentis.

Dari anamnesis Neurodermatitis sirkumskripta penderita merasakan sagat


gatal biasanya timbul pada waktu tidak sibuk dan penderita merasa nyaman bila
digaruk dan apabila gatal muncul penderita sulit menahan untuk tidak digaruk.
Penderita merasa enak bila digaruk, setelah luka baru hilang rasa gatalnya untuk
sementara. Pada pemeriksaan fisik dijumpai lesi biasanya tunggal,awalnya berupa
plak eritematosa,sedikit edematosa, lambat lau edema dan eritema menghilang,
bagian tengah berskuama dan menebal, likenifikasi dan ekskoriasi, sekitarnya
hiperpigmentasi, batas dengan kulit normal tidak jelas. Pemeriksaan penujang yaitu
dilakukan pemeriksaan histopalogik dengan gambaran histopatologik:
ortokeratosis, hipergranulosis, akantosis dengan rete ridges memanjang teratur.
Pada pasien ini datang berobat dengan keluhan gatal dirasakan semakin bertambah
sehingga pasien seringkali tidak tahan dan akhirnya menggaruk-garuk daerah yang
gatal sehingga daerah yang gatal terkadang sampai luka. Dan hasil pemeriksaan
fisik didapatkan ujud kelainan kulit berupa plak hiperpigmentasi unilateral, disertai
erosi sirkumstrip pada dorsum pedis dextra, dengan likenifikasi unilateral.
Sehingga pasien didiagnosis dengan Neurodermatitis sirkumskripta (liken simpleks
kronikus).

Liken simpleks kronikus adalah penebalan kulit dengan skala variabel yang
timbul sekunder karena garukan atau gosokan berulang-ulang. Peradangan kulit
kronis, gatal, sirkumskrip, ditandai dengan kulit tebal dan garis kulit tampak lebih
menonjol (likenifikasi) menyerupai kulit batang kayu, akibat garukan atau gosokan
yang berulang-ulang karena berbagai rangsangan pruritogenik.
Liken simpleks kronikus atau Neurodermatitis sirkumskripta merupakan
proses yang sekunder ketika seseorang mengalami sensasi gatal pada daerah kulit
yang spesifik dengan atau tanpa kelainan kulit yang mendasar yang dapat
mengakibatkan trauma mekanis pada kulit yang berakhir dengan likenifikasi.
Penyakit ini biasanya timbul pada pasien dengan kepribadian yang obsessif, dimana
selalu ingin menggaruk bagian tertentu dari tubuhnya.
Semua kelompok umur mulai dari anak-anak sampai dewasa dapat terkena
penyakit ini. Kelompok usia dewasa 30 – 50 tahun paling sering mengalami keluhan
neurodermatitis. Secara umum neurodermatitis dapat terjadi pada laki-laki dan
wanita, tetapi lebih sering dilaporkan terjadi pada wanita pada umur pertengahan
Individu. Neurodermatitis jarang terjadi pada anak-anak, karena neurodermatitis
merupakan penyakit yang bersifat kronis dan dipengaruhi oleh keadaan emosi dan
penyakit yang mendasarinya. Dilihat dari ras dan suku bangsa, Asia terutama ras
mongoloid lebih sering terkena penyakit ini kemungkinan karena faktor protein
yang dikonsumsinya berbeda dengan ras dan suku bangsa lainnya.
Penyebab liken simpleks kronikus belum diketahui secara pasti. Namun ada
berbagai faktor yang mendorong terjadinya rasa gatal pada penyakit ini, faktor
penyebab dari liken simpleks kronikus dapat dibagi menjadi dua yaitu:
1. Faktor Eksterna
a. Lingkungan
Faktor lingkungan seperti panas dan udara yang kering dapat berimplikasi
dalam menyebabkan iritasi yang dapat menginduksi gatal. Suhu yang tinggi
memudahkan seseorang berkertingat sehingga dapat mencetuskan gatal, hal
ini biasanya menyebabkan liken simpleks kronikus pada anogenital.
b. Gigitan serangga
Gigitan serangga dapat menyebabkan reaksi radang dalam tubuh yang
mengakibatkan rasa gatal.

2. Faktor Interna
a. Dermatitis atopik
Asosiasi antara liken simpleks kronikus dan ganguan atopik telah banyak
dilaporkan, sekitar 26 % sampai 75 % pasien dengan dermatitis atopik
terkena liken simpleks kronikus.
b. Psikologis
Keluhan utama ialah gatal berulang. Pasien akan mengeluh gatal yang
hilang timbul terutama saat sore hari. Rasa gatal memang tidak terus
menerus, biasanya pada waktu tidak sibuk, bila muncul sulit ditahan untuk
tidak digaruk. Penderita merasa enak bila digaruk; setelah luka, baru hilang
rasa gatalnya untuk sementara (karena diganti dengan rasa nyeri). Lesi
biasanya tunggal, pada awalnya berupa plak eritematosa, sedikit edema,
lambat laun edema dan eritema menghilang, bagian tengah berskuama dan
menebal, likenifikasi dan ekskoriasi; sekitarnya hiperpigmentasi, batas
dengan kulit normal tidak jelas. Gambaran klinis dipengaruhi juga oleh
lokasi dan lamanya lesi akibat digaruk. Letak lesi dapat timbul dimana saja,
tetapi yang biasa ditemukan adalah di scalp, tengkuk, samping leher, lengan
bagian ekstensor, pubis, vulva, skrotum, perianal, paha bagian medial, lutut,
tungkai bawah lateral, pergelangan kaki bagian depan, dan punggung kaki.
Gatal juga dapat bertambah pada saat pasien mengalami stress psikologis.

Pada pasien muda, keluhan gatal umumnya kurang dirasakan karena tidak
begitu mengganggu aktivitasnya, akan tetapi keluhan gatalnya sangat dirasakan
seiring bertambahnya usia dan faktor pemicu stressnya. Kelainan kulit yang terjadi
bisa berupa eritem, edema, papul, likenifikasi (bagian yang menebal), kering,
berskuama atau hiperpigmentasi. Ukuran lesi bervariasi, berbatas tidak tegas dan
bentuk umumnya tidak beraturan. Lesi pada setiap individu pasien berbeda. Tidak
ada penjelasan yang tegas mengenai berapa lama lesi pada neurodermatitis
terbentuk.
Lesi tergantung dari sering dan lamanya pasien mengalami keluhan gatal
dan menggaruknya. Dari pemeriksaan efloresensi, lesi tampak likenifikasi berupa
penebalan kulit dengan garis-garis kulit yang semakin terlihat, terlihat plak dengan
ekskoriasi serta sedikit eritematosa (memerah) dan edema. Pada lesi yang sudah
lama, lesi akan tampak berskuama pada bagian tengahnya, terjadi hiperpigmentasi
(warna kulit yang digaruk berubah menjadi kehitaman) pada bagian lesi yang gatal,
bagian eritema dan edema akan menghilang, dan batas lesi dengan bagian kulit
normal semakin tidak jelas.
Diagnosis neurodermatitis ditegakkan berdasarkan anamnesa pasien
mengenai riwayat dan perjalanan penyakitnya dan gambaran lesi dari kulitnya yang
khas. Perlunya pemeriksaan lanjut digunakan untuk membedakan diagnosis yang
memiliki kesamaan dalam morfologi maupun efloresensinya. Dari anamnesis,
keluhan utama dari pasien biasanya ialah gatal-gatal pada kulit lokal yang terjadi
sudah lama. Bisa disertai dengan riwayat alergi ataupun riwayat penyakit yang
mendasarinya (diabetes mellitus) atau tidak. Dari pemeriksaan efloresensi bisa
terlihat gambaran likenifikasi berupa penebalan kulit dengan garis-garis kulit yang
semakin terlihat, terlihat plak dengan ekskoriasi serta sedikit eritematosa
(memerah) dan edema. Pada lesi yang sudah lama, lesi akan tampak berskuama
pada bagian tengahnya, terjadi hiperpigmentasi (warna kulit yang digaruk berubah
menjadi kehitaman) pada bagian lesi yang gatal, bagian eritema dan edema akan
menghilang.
Penjelasan mengenai munculnya pruritus yang disebabkan oleh allergen
atau penyakit dasar yang menyebabkan gatal hingga terjadinya neurodermatitis
merupakan terapi non medika mentosa terbaik untuk pasien guna mencegah
timbulnya keluhan gatal berulang. Perlu dijelaskan kepada penderita bahwa
garukan akan memperburuk keadaan penyakitnya, oleh karena itu harus dihindari.
Selain penjelasan diatas, mengurangi paparan terhadap allergen yang memicu
terjadinya pruritus juga berguna untuk mengurangi keadaan gatal berulang.
Diagnosis banding dari Neurodermatitis ialah :
Liken Planus Psoriasis Dermatitis Atopik

Anamesis Penderita Penderita merasakan Penderita merasakan


merasakan gatal- gatal sampai merah kulitnya kering dan
gatal pucat gatal saat
beristirahat, udara
panas, dan
berkeringat

Pemeriksaa Gambaran papul Didapatkan plak Didapatkan plak


n Fisik poligonal, datar, eritematosa diliputi hiperpigmentasi,
eritematosa sampai skuama putih hiperkeratosis,
violaseus dan disertai titik-titik likenifikasi, erosi,
kadang ada perdarahan menutupi dan skuama.
umbilikasi disertai sebagian besar area
skuama lekat, tipis tubuh, umumnya
dan transparan. simetris.
Pemeriksaa Pemeriksaan - Histopatologi Pemeriksaan kadar
n histopatologik k: igE serum dan uji
Penunjang dengan gambaran hiperkeratosi kulit.
s,
kerusakan basal
parakeratosis
epidermal , akantosis
keratinosit dan - Fenomena
likenoid interface tetesan lilin:
lymphocytic skuama
reaction berubah
menjadi
warna putih
ketika
digores
dengan
pinggiran
kaca objek
- Fenomena
Auspitz:
skuama putih
akan
meninggalka
n bintik-
bintik
perdarahan
ketika
digores
dengan
pinggiran
kaca objek

Terapi medikamentosa yang dapat diberikan ialah dengan pemberian obat


sesuai gejala. Untuk mengurangi rasa gatal dapat diberikan antipruritus dan
kortikosteroid topikal atau intralesi. Antipruritus dapat berupa antihistamin yang
mempunyai efek sedatif (contoh: hidroksizin, difenhidramin, prometazin) atau
tranquilizer. Dapat pula diberikan secara topikal krim doxepin 5% dalam jangka
pendek (maksimum 8 hari). Kortikosteroid yang dipakai biasanya berpotensi kuat,
Ada pula yang mengobati dengan UVB dan PUVA. Perlu dicari kemungkinan ada
penyakit yang mendasarinya, bila memang ada harus juga diobati.
Prognosis untuk neurodermatitis bervariasi, tergantung dari penyebab gatal
dan status psikologi dari pasien. Perbaikan pada neurodermtitis dapat sempurna jika
diperoleh dasar penyakit yang menyebabkan gatalnya dan mengobati penyakit yang
mendasari. Penyakit ini bersifat kronis dan setelah sembuh dengan pengobatan
biasanya residif.
Komplikasi dari neurodermatitis dapat terjadi bila tidak adanya control dari
kebiasaan menggaruk untuk keluhan gatalnya. Komplikasinya bisa berupa
perubahan warna pada kulit yang permanen, terdapatnya bekas luka akibat garukan
sampai terjadinya ulkus karena seringnya pasien menggaruk.
DAFTAR PUSTAKA

1. Fitzpatrick TB, Johnson RA. Wolff K, Polano MK, Suumons D. Color Atlas
and Synopsis of Clinical Dermatology: Common and Serious Disease. Section
15: Skin Signs of Immune, Autoimmune, and Rheumatic Diseases-systemic
Amyloidosis. New York: McGraw-Hill. Ed 3. Page 42-45.
2. Sularsito SA, Djuanda S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin .5th.ed. Penerbit
FKUI, Jakarta 2015. p. 183-185.
3. Siregar RS. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit 2nded. Penerbit buku
kedokteran EGC, Jakarta,2013.p.135-7
4. Murtiastuti D, Ervianti E, Agusni I, et al. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin.
2nded. Airlanggga Universityy Press, Surabaya, 2010. p 117-8