Anda di halaman 1dari 14

REFLEKSI KASUS Agustus , 2018

DERMATITIS ATOPIK

Disusun Oleh:

Nama : Irani Nur Ramadhani


NIM : N 111 15 054

Pembimbing Klinik:

dr. Seniwaty Ismail, Sp.KK., FINSDV

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2018

1
STATUS PASIEN
BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
RSUD UNDATA PALU

A. IDENTITAS PASIEN
1. Nama : Ny. S
2. Umur : 51 tahun
3. Alamat : Tatura
4. Jenis kelamin : Perempuan
5. Pekejaan : Wiraswasta
6. Agama : Islam
7. Tanggal pemeriksaan : 16 Agustus 2018

B. ANAMNESIS
1. Keluhan utama :
Gatal - gatal

2. Riwayat penyakit sekarang :


Pasien datang dengan keluhan gatal – gatal. Gatal dirasakan sejak
2 minggu yang lalu. Gatal muncul pada kedua lengan bawah, terutama
pada lipatan siku dan daerah punggung tangan serta pergelangan tangan
yang kemudian muncul di daerah leher berupa bintik – bintik berwarna
merah pada kulit. Gatal muncul tiba – tiba tanpa diketahui penyebab
sebelumnya. Gatal tidak dipengaruhi oleh suhu, makanan yang
dikonsumsi, ataupun bahan kosmetik. Gatal cenderung berkurang setelah
diolesi minyak tawon atau digaruk. Bagian yang sudah sembuh
meninggalkan bekas berwarna kehitaman.

2
3. Riwayat penyakit terdahulu :
- Pasien sudah mengalami hal yang sama sebanyak 2 kali, pertama kali
muncul di usia 49 tahun secara tiba – tiba dan biasanya sembuh dengan
sendirinya dalam beberapa hari .
- Sebelumnya pasien dicurigai alergi terhadap sabun detergen sehingga
pasien menghentikan penggunaan sabun tersebut, namun ternyata tidak
ada perubahan.
- Riwayat Asma bronkial (-), Rhinitis alergi (-)

4. Riwayat penyakit keluarga :


- Di rumah pasien tidak ada yang mengalami hal yang sama, namun
pasien mengaku ibu pasien pernah mengalami hal yang sama

C. PEMERIKSAAN FISIK
 Status Generalis
1. Keadaan umum
 Kesadaran : Compos mentis
 Status gizi : Gizi baik
 Derajat sakit : Ringan
2. Tanda vital
 Tekanan darah : 110/70 mmHg
 Respirasi : 20 x/menit
3. Kepala : Tidak terdapat ujud kelainan kulit.
4. Leher : Terdapat plak papular eritematosa
5. Dada : Tidak terdapat ujud kelainan kulit
6. Perut : Tidak terdapat ujud kelainan kulit.
7. Genitalia : Tidak terdapat ujud kelainan kulit.
8. Ekstremitas atas :

3
Regio fleksural cubiti : Terdapat makula eritema, bentuk tidak teratur,
difus
Carpal dan dorsal palmar : Makula hiperpigmentasi, dan skuama halus di
pinggir lesi
9. Punggung : Tidak terdapat ujud kelainan kulit.
10. Bokong : Tidak terdapat ujud kelainan kulit.
11. Ekstremitas bawah : Tidak terdapat ujud kelainan kulit.

 Status Dermatologis
1. Lokalisasi : Lipatan siku, punggung tangan, pergelangan
tangan , dan leher
2. Ujud kelainan kulit : Terdapat makula eritema, makula hipopigmentasi,
papul, dan skuama halus

D. GAMBAR

Gambar 1. Pada regio cubiti terdapat makula eritema yang berbentuk tidak
teratur , dan difus

4
Gambar 2. Pada region dorsal palmar dan ventral carpal tampak makula
hiperpigmentasi dengan skuama halus di sekitar lesi, tidak
teratur, difus

Gambar 3. Pada region ventral cervical tampak plak papular eritematous

5
E. RESUME
Pasien perempuan berumur 51 tahun datang ke Poli Kesehatan Kulit dan
Kelamin RSUD Undata Palu dengan keluhan pruritus. Awalnya tampak makula
eritema yang disertai pruritus pada fleksural cubiti bilateral, dorsal palmar, carpal,
dan juga di daerah ventral cervical . Keluhan dirasakan sejak 2 minggu yang lalu.
Pruritus muncul secara tiba – tiba tanpa diketahui faktor pencetusnya. Pasien
sudah 2 kali mengalami hal yang sama dan biasanya sembuh dalam beberapa hari.
Terdapat riwayat yang sama pada ibu pasien.
Pemeriksaan kondisi umum didapatkan kesadaran composmentis, status gizi
baik, dan derajat sakit ringan. Dari pemeriksaan tanda vital didapatkan tekanan
darah 110/70 mmHg dan pernapasan 20 kali/menit. Pemeriksaan fisik didapatkan
tanda makula eritema pada fleksural cubiti bilateral, makula hiperpigmentasi
disertai skuama halus di dorsal palmar serta carpal, dan plak papular eritema di
daerah ventral cervical.

F. DIAGNOSIS BANDING
1). Dermatitis atopik
2). Dermatitis Kontak Alergi (DKA)
3). Dermatitis Seboroik

F. ANJURAN PEMERIKSAAN
1) Patch Test
2) Prick Test
3) Immunoglobulin
4) Pemeriksaan leukosit darah

G. DIAGNOSIS KERJA
Dermatitis Atopik

6
H. PENATALAKSANAAN
 Non medikamentosa
1. Menjaga higiene dan sanitasi kulit, khususnya di bagian lesi
2. Meminta pasien untuk menghindari faktor-faktor pencetus.
3. Meminta pasien menggunakan pelembab kulit, misalnya sabun pelembab,
krim pelembab dll, karena dermatitis atopic menyebabkan kulit menjadi
kering.
4. Menghindari keringat berlebihan dengan menghindari penggunaan
pakaian yang tidak menyerap keringat contohnya pakaian berbahan katun.

 Medikamentosa
1. Pengobatan sistemik
 Metilprednisolon tab 4 mg 2 x1
 Cetirizine tab 10 mg 1x1
2. Pengobatan topikal
 Desoxymethason 0,25 %

I. PROGNOSIS
1. Quo ad vitam : ad bonam
2. Quo ad cosmeticam : ad bonam
3. Quo fungsional : ad bonam
4. Quo ad sanationam : ad bonam

7
PEMBAHASAN

Pasien perempuan berumur 51 tahun datang ke Poli Kesehatan Kulit dan


Kelamin RSUD Undata Palu dengan keluhan pruritus. Awalnya tampak makula
eritema yang disertai pruritus pada cubiti, dorsal palmar, carpal, dan juga di
daerah ventral cervikal. Keluhan dirasakan sejak 2 minggu yang lalu. Pruritus
muncul secara tiba – tiba tanpa diketahui faktor pencetusnya. Pasien sudah 2 kali
mengalami hal yang sama dan biasanya sembuh dalam beberapa hari. Terdapat
riwayat yang sama pada ibu pasien.

Pemeriksaan kondisi umum didapatkan kesadaran composmentis, status gizi


baik, dan derajat sakit ringan. Dari pemeriksaan tanda vital didapatkan tekanan
darah 110/70 mmHg dan pernapasan 20 kali/menit. Pemeriksaan fisik didapatkan
tanda makula eritema pada cubiti, makula hipopigmentasi disertai skuama halus
di dorsal palmar serta carpal, dan plak papular eritema di daerah ventral cervical.
Setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, didapatkan diagnosis
banding dermatitis atopic, dermatitis kontak alergi, dermatitis seboroik, dan
skabies. Pemeriksaan yang dianjurkan pada kasus ini adalah uji tempel pada
kulit, tes kulit, immunoglobulin, dan pemeriksaan leukosit darah. Uji tempel pada
kulit dilakukan dengan cara aplikasi epikutan aeroallergen yakni menggunakan
tungau debu rumah pada penderita atopic. Tes kulit dadakan pada penderita
atopik akan menunjukkan hasil positif yang diikuti oleh kenaikan mencolok
histamin dalam plasma serta aktivasi eosinofil. Dilakukan pemeriksaan kadar IgE
pada penderita D.A. dengan hasil terjadinya peningkatan IgE pada 80 sd 90%
penderita. Tinggi rendahnya IgE tidak berkaitan atau tidak mengalami fluktuasi
baik pada saat eksaserbasi, remisi maupun pengobatan. Pemeriksaan jumlah
limfosit pada penderita D.A. dalam batas normal. Kadar eosinofil pada penderita
D.A. sering meningkat seiring meningkatnya IgE, sedangkan leukosit PMN
berdasarkan uji nitro blue tetrazolium (NBT) berada dalam batas normal.

8
Dermatitis atopik (DA) adalah peradangan kulit kronis residif disertai gatal
yang umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak, sering berhubungan
dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada penderita atau
keluarganya. Kelainan kulit berupa papul gatal, yang kemudian mengalami
ekskoriasi dan likenifikasi, distribusinya di lipatan (fleksural). Dermatitis atopi
cenderung diturunkan. Lebih dari seperempat anak dari seorang ibu yang
menderita atopi akan mengalami D.A. Risiko mewarisi D.A lebih tinggi bila ibu
yang menderita D.A dibandingkan ayah.(1)

Dermatitis atopic dapat disebabkan oleh faktor endogen yang lebih berperan
sebagai faktor predisposisi dan faktor eksogen berperan sebagai faktor pencetus.
Faktor endogen meliputi: faktor genetic, hypersensitivitas tipe 1 (IgE mediated)
dan disfungsi sawar kulit. Sedangkan faktor eksogen meliputi: trauma fisika-
kimia-panas, bahan iritan, alergi debu, tungau debu rumah.(2,3)

Gejala utama penderita D.A. adalah pruritus yang dapat hilang timbul
sepanjang hari, tetapi umumnya lebih hebat pada malam hari. Akibat dari garukan
pasien timbul ujud kelainan kulit berupa papul, likenifikasi, eritema, erosi,
eksoriasi, eksudari dan krusta. Dermatitis atopic terbagi atas Dermatitis Atopik
pada Anak (2 bulan sd 2 tahun) dengan lesi yang biasanya meluas ke tempat lain
yaitu ke leher, pergelangan tangan lengan dan tungkai, dermatitis atopik pada
anak (Usia 2 sd 10 tahun). Predileksinya di lipat silku, lipat lutut, pergelangan
tangan bagian fleksor, kelopak mata dan leher, dan dermatitis atopik pada remaja
dan dewasa, predileksi terdapat di pergelangan tangan, tungkai bawah, lengan dan
leher. (1,3,5)

Kriteria diagnostik D.A. sekurang-kurangnya harus memiliki 3 kriteria mayor


dan 3 kriteria minor:

9
1. Kriteria Mayor
a. Pruritus
b. Dermatitis di muka atau ekstensor pada bayi dan anak
c. Dermatitis fleksura pada dewasa
d. Dermatitis kronis atau residif (Menahun dan kambuhan)
e. Riwayat atopic pada penderita atau keluarga
2. Kriteria Minor
a. Xerosis (kulit kering)
b. Infeksi kulit (S. aureus dan virus herpes simplek)
c. Dermatitis non sfesifik pada tangan dan kaki
d. Iktiosis
e. Ptiriasis alba
f. Keratosis pilaris (bintil keras di siku/ lutut)
g. Hiperliniar palmar (garis telapak tangan lebih jelas)
h. Dermatitis di papilla mamae
i. White dermografisme dan delayed blanch respon
j. Gatal bila berkeringat
k. Perjalanan penyakit dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan atau
emosi
l. Tes kulit alergi tipe dadakan positif
m. Kadar IgE di dalam serum meingkat
n. Hipersensitif terhadap makanan
o. Intoleran terhadap wol dan pelarut lemak
p. Konjuntivitis berulang
q. Muka pucat atau eritem
r. Orbita menjadi gelap
s. Aksentuasi perifolikular
t. Kelitis
u. Keratokonus (1,3,4)

10
Penatalaksanaan dari dermatitis atopik terbagi atas 2, yaitu
penatalaksanaan non medikamentosa dan medikamentosa. Prinsip
penatalaksanaan non medikamentosa adalah Prinsip dari terapi non
farmakologis adalah mengingatkan pasien untuk menghindari faktor pencetus
seperti makanan yang membuat alergi, bahan-bahan iritan, suhu, stress emosi
dan lain lain. Penatalaksaan secara medika mentosa terdiri atas topikal dan
sistemik.
a. Hidrasi Kulit
Tipe kulit pada penderita D.A. yang kering dan rentan menjadi pintu
masuk allergen dapat dicegah dengan memberikan pelembab. Bisa
menggunakan krim hidrofilik urea 10% yang ditambahkan hidrokortison
1% di dalamnya. Setelah mandi, kulit di lap kemudian gunakan emolien
sebagai pelembab.
b. Kortikosteroid
Digunakan sebagai antiinflamasi lesi kulit. Pada bayi gunakan steroid
berpotensi rendah seperti hidrocortison 1%-2,5%. Pada anak dan dewasa
gunakan steroid potensi menengah seperti triamsinolon kecuali muka dan
genitalia tetap pakai potensi rendah. Bila penyakit telah terkontrol gunakan
secara intermiten 2x seminggu dengan steroid potensi paling rendah. Pada
lesi akut yang basah, dikompres dulu dengan larutan burowi atau
permanganas kalikus 1:5000.
c. Imunomodulator topical
- Takrolimus
Bekerja sebagai penghambat aktivasi sel dalam D.A seperti sel
langerhans, sel T dan sela Mas. Sediaan bentuk salep 0.03% untuk anak
usia 2-15 tahun dan untuk dewasa 0.03% atau 0.1%. Pada pengobatan
jangka panjang tidak ada efek samping kecuali rasa terbakar setempat.
- Pimekrolimus

11
Cara kerja hampir sama dengan takrolimus. Sediaan yang dipakai adalah
konsentrasi 1% , aman pada anak dan dapat dipakai pada kulit sensitive 2x
sehari.
d. Preparat Ter
Memiliki efek sebagai anti pruritus dan anti inflamasi pada kulit. Diapakai
pada lesi kronis dengan sediaan salep hidrolik misalnya yang mengandung
likuor karbonis detergen 5%.
e. Antihistamin
Tidak dianjurkan karena berpotensi kuat menimbulkan sensitisai pada kulit.
Pemakaian krim doksepin 5% dalam jangka pendek dapat mengurangi
gatal tanpa sensitisasi.
Pengobatan sistemik
a. Kortikosteroid
Digunakan dalam jangka pendek, dosis rendah, atau di tapering
kemudian diganti dengan steroid topical. Obat ini hanya digunakan untuk
pengendalian eksaserbasi akut.
b. Antihistamin
Digunakan untuk mengurangi rasa gatal hebat terutama malam hari.
Gunakan antihistamin dengan efek sedative seperti difenhidramin,
hidroksisin agar pasien bisa istirahat dan tidak menggaruk. Pada kasus sulit
gunakan doksepin hidroklorid 10-75 mg/ oral/ 2x sehari untuk 10 hari.
c. Anti infeksi
Untuk bakteri S.aureus dapat diberikan eritromisin, asitromisin atau
kaltromisin. Untuk infeksi virus dapat gunakan asiclovir 3x400
mg/hariselama 10 hari.

12
d. Interferon

IFN-ɤ bekerja menekan respon IgE dan menurunkan fungsi dan

proliferasi sel TH2. IFN-ɤ rekombinan dapat menurunkan jumlah eosinofil

total.
e. Siklosporin
Digunakan jika D.A. sulit diobati dengan cara konvensional.
Siklosporin merupakan imunosupresif kuat terutama bekerja pada sel T
akan terikat pada cyclophilin menjadi suatu kompleks yang akan
menghambat calcineurin sehingga transkripsi sitokin ditekan. (1,3,5)

13
DAFTAR PUSTAKA

[1] Djuanda, A. Ilmu Penyakit Kulit Kelamin. Edisi ketujuh. Jakarta: FK UI.2016

[2] Baratawijaya, K.G. Imunologi Dasar. Jakarta: FK UI.2010

[3] Leung DYM, Eichenfield LF, Boguniewicz M. Atopic Dermatitis (Atopic


Eczema). In: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS,
David J. Leffell DJ, editors. Fitzpatrick’s Dermatology in General
Medicine, VII ed. New York: McGraw-Hill; 2008. p. 146-158.

[4] Siregar, R.S. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit Edisi 2. Jakarta:
EGC. 2003

[5] Piliang, M. Dermatitis Atopic. Disease Management Project. Diakses pada


17agustus 2018 http:// www.clevelandclinicmeded.com/medicalpubs.
2012.

14