Anda di halaman 1dari 41

7

BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep dasar penyuluhan kesehatan

2.1.1 Pengertian Penyuluhan kesehatan

Penyuluhan kesehatan adalah gabungan berbagai kegiatan dan kesempatan yang

berlandaskan prinsip - prinsip belajar untuk mencapai suatu keadaan dimana

individu, keluarga, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan ingin hidup

sehat atau bagaimana caranya dan melakukan apa yang bisa dilakukan secara

perorangan maupun kelompok dan meminta pertolongan (Depkes RI, 1995).

Menurut Committee President On Penyuluhan Kesehatan (1977) yang dikutip

oleh Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo (1997), penyuluhan kesehatan adalah proses

yang menjembatani kesenjangan antara informasi kesehatan dan praktek

kesehatan, yang memotivasi seseorang untuk memperoleh informasi dan berbuat

sesuatu sehingga dapat menjaga dirinya menjadi lebih sehat dengan menghindari

kebiasaan yang buruk dan membentuk kebiasaan yang menguntungkan kesehatan.

Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara

menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja

sadar, tahu dan mengerti tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang

ada hubungannya dengan kesehatan (Azrul, 1998).


8

Penyuluhan kesehatan adalah proses perubahan perilaku secara terencana pada

diri individu, kelompok atau masyarakat untuk dapat lebih mandiri dalam

mencapai tujuan hidup sehat (Effendy, 1998).

Dalam bidang keperawatan, penyuluhan kesehatan adalah suatu bentuk

intervensi keperawatan yang mandiri untuk membantu klien baik individu,

keluarga, kelompok maupun masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan

melalui kegiatan pembelajaran, yang didalamnya perawat berperan sebagai

perawat pendidik (Suliha, 2002).

Penyuluhan kesehatan adalah upaya merubah perilaku individu, keluarga,

kelompok ataupun masyarakat dalam pencapaian tujuan kesehatan yang optimal

(Notoatmodjo, 2007).

2.1.2 Tujuan Penyuluhan

2.1.2.1 Secara pokok tujuan pendidikan / penyuluhan adalah :

1. Tercapainya perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan

memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat dan berperan aktif dalam upaya

mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.

2. Terbentuknya perilaku sehat individu, keluarga dan masyarakat yang sesuai

dengan hidup sehat baik fisik, mental dan sosial sehingga dapat menurunkan

angka kesakitan dan kematian.


9

2.1.2.2 Secara umum, tujuan dari penyuluhan kesehatan adalah mengubah

perilaku individu / masyarakat dibidang kesehatan (WHO, 1954) yang dikutip

oleh Notoatmodjo (1997). Tujuan ini dapat diperinci lebih lanjut menjadi :

1. Menjadikan kesehatan sebagai sesuatu yang bernilai di masyarakat

2. Menolong individu agar mampu secara mandiri atau berkelompok

mengadakan kegiatan untuk mampu mencapai tujuan hidup sehat.

3. Mendorong pengembangan dan penggunaan secara tepat sarana pelayanan

kesehatan yang ada.

2.1.2.3 Secara operasional tujuan penyuluhan kesehatan diperinci oleh Wong

(1974) yang dikutip Suliha (2002) sebagai berikut :

1. Agar penderita (Individu / Masyarakat) memiliki tanggung jawab yang lebih

besar pada kesehatan, keselamatan lingkungan, dan masyarakatnya.

2. Agar orang melakukan langkah - langkah positif dalam mencegah terjadinya

sakit, mencegah berkembangnya sakit menjadi lebih parah dan mencegah

keadaan ketergantungan melalui rehabilitasi cacat yang disebabkan oleh

penyakit.

3. Agar orang memiliki pengertian yang lebih baik tentang ekstensi dan

perubahan-perubahan sistem dan cara memanfaatkannya dengan efisien dan

efektif.

4. Agar orang mempelajari apa yang dapat dia lakukan sendiri dan bagaimana

caranya tanpa selalu meminta pertolongan kepada sistem pelayanan kesehatan

yang formal.
10

2.1.3 Ruang Lingkup Penyuluhan Kesehatan

2.1.3.1 Sasaran penyuluhan kesehatan menurut Notoatmodjo (2007)

dikelompokkan menjadi 3 yaitu :

1) Penyuluhan kesehatan individual dengan sasaran kelompok

2) Penyuluhan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok

3) Penyuluhan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas.

2.1.3.2 Tempat pelaksanaan penyuluhan kesehatan

1) Di dalam institusi pelayanan

Dapat dilakukan dirumah sakit, puskesmas, rumah bersalin, klinik dan

sebagainya, yang dapat diberikan secara langsung kepada individu maupun

kelompok mengenai penyakit, pencegahan penyakit, pengobatan dan

perawatannya seta peningkatan kesehatan.

2) Di masyarakat

Penyuluhan kesehatan dimasyarakat dapat dilakukan melalui pendekatan edukatif

terhadap keluarga dan masyarakat binaan secara menyeluruh dan terorganisasi

sesuai dengan masalah kesehatan dan keperawatan yang dihadapi oleh

masyarakat.

2.1.4 Materi atau Pesan

Materi yang disampaikan menurut Effendy (1998) sebaiknya yaitu :

1. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti individu, kelompok maupun

masyarakat dalam bahasa keseharian.


11

2. Materi dan yang disampaikan tidak terlalu sulit untuk dimengerti oleh sasaran.

3. Dalam penyampaian materi sebaiknya menggunakan alat peraga untuk

mempermudah pemahaman dan untuk menarik perhatian sasaran.

4. Materi ataupun yang disampaikan merupakan kebutuhan sasaran dalam

masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka hadapi.

2.1.5 Metode Penyuluhan Kesehatan

Metode penyuluhan kesehatan pada dasarnya merupakan pendekatan yang

digunakan dalam proses pendidikan untuk menyampaikan pesan kepada sasaran

penyuluhan kesehatan, yaitu individu, kelompok, keluarga dan masyarakat

(Notoatmodjo, 2007). Dengan adanya pesan tersebut diharapkan masyarakat,

kelompok atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang

lebih baik. Akhirnya pengetahuan tersebut diharapkan dapat berpengaruh

terhadap perilakunya. Dengan kata lain adanya pendidikan / penyuluhan

kesehatan tersebut tersebut diharapkan dapat membawa akibat terhadap

perubahan perilaku sasaran.

Pendidikan kesehatan / penyuluhan juga merupakan proses yang mempunyai

masukan (input) dan keluaran (output). Suatu proses pendidikan kesehatan yang

menuju tercapainya tujuan pendidikan yakni perubahan perilaku. Perubahan

perilaku dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor tersebut disamping faktor

masukannya sendiri juga faktor metode, faktor materi atau pesannya, pendidik

atau petugas yang melakukannya, dan alat - alat bantu / alat peraga pendidikan /

penyuluhan kesehatan.
12

Pendidikan yang dipakai agar mencapai suatu hasil yang Optimal, maka faktor-

faktor tersebut harus bekerja sama yang harmonis. Hal ini berarti bahwa untuk

masukan (sasaran pendidikan) tertentu harus menggunakan cara tertentu pula.

Dibawah ini akan diuraikan beberapa metode pendidikan individu kelompok dan

perorangan.

2. 1. 5.1 Metode Pendidikan Individu (Perorangan)

Dalam pendidikan kesehatan metode pendidikan yang bersifat individual ini

digunakan untuk membina perilaku baru atau membina seseorang mulai tertarik

kepada suatu perubahan perilaku atau inovasi.

Bentuk pendekatan ini adalah :

1. Bimbingan atau penyuluhan

Dengan cara ini kontak antara klien dan petugas lebih intensif. Setiap masalah

yang dihadapi oleh klien dapat diteliti dan dibantu penyelesaiannya. Akhirnya

klien tersebut dengan sukarela dan berdasarkan kesadaran, penuh pengertian

akan menerima perilaku tersebut (mengubah perilaku).

2. Wawancara (Interview)

Cara ini merupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan. Wawancara antara

petugas kesehatan dengan klien untuk menggali informasi mengapa ia tidak tahu

atau belum menerima perubahan, apakah ia tertarik atau tidak terhadap

perubahan, untuk mengetahui apakah perilaku yang sudah atau yang akan
13

diadopsi itu mempunyai dasar pengertian dan kesadaran yang kuat. Apabila

belum maka perlu penyuluhan yang lebih mendalam lagi.

2.1.5.2 Metode Pendidikan kelompok

Dalam mcmilih metode kelompok, harus mengingat besarnya kelompok sasaran

serta tingkat pendidikan formal dan sasaran. Untuk kelompok yang besar,

metodenya akan lain dengan kelompok kecil. Efektifitas suatu metode akan

tergantung pula pada besarnya sasaran pendidikan.

2.1.5.2.1 Kelompok Besar

Yang dimaksud kelompok besar disini adalah apabila peserta penyuluhan itu

lebih dari 15 orang. Metode yang baik untuk kelompok besar itu antara lain :

1. Ceramah

Ceramah adalah suatu cara dalam menerangkan dan menjelaskan suatu ide,

pengertian, atau pesan secara lisan kepada sekelompok sasaran sehingga

memperoleh informasi tentang kesehatan. Metode ini baik untuk sasaran yang

berpendidikan tinggi maupuh rendah. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam

menggunkan metode ceramah :

Persiapan

Ceramah yang berhasil apabila penceramah itu sendiri menguasai materi dari yang

akan diceramahkan harus mempersiapkan diri dengan :

a) Mempelajari materi dengan sistematika yang baik, lebih baik lagi kalau

disusun dalam diagram atau skema.


14

b) Menyiapkan alat-alat bantu pengajaran misalnya, makalah singkat, slide,

transparan, sound sistem, dan sebagainya.

Pelaksanaan

Kunci dari keberhasilan pelaksanaan ceramah adalah apabila penceramah tersebut

dapat menguasai sasaran ceramah. Untuk dapat menguasai sasaran (dalam arti

psikologis), penceramah dapat melakukan hal-hal sebagai berikut :

a. Sikap dan penampilan yang menyakinkan, tidak boleh bersikap ragu-ragu,

dan gelisah

b. Suara hendaknya cukup keras dan jelas

c. Pandangan harus tertuju keseluruh peserta ceramah

d. Berdiri didepan ( dipertengahan ), tidak boleh duduk

e. Menggunakan alat-alat bantu lain (AVA) semaksimal mungkin.

Ciri - ciri :

a. Ada sekelompok sasaran yang telah dipersiapkan

b. Ada ide, pengertian, pesan tentang kesehatan ygng disampaikan

c. Tidak adanya kesempatan bertanya bagi sasaran. Bila ada jumlahnya sangat

terbatas.

d. Mempergunakan alat peraga untuk mempermudah pengertian

Keuntungan :

a. Banyak orang yang dapat mendengarkan atau memperoleh pengetahuan

dibidang kesehatan.

b. Dapat diterima sasaran yang tidak dapat membaca


15

c. Mudah dilaksanakan

d. Mudah mempersiapkan

e. Mudah mengorganisasi

Kerugian :

a. Tidak memberikan kesempatan kepada sasaran untuk berpartisipasi secara

aktif.

b. Cepat membosakan bila ceramahnya kurang menarik

c. Pesan yang disampaikan mudah dilupakan

d. Diberikan hanya satu kali

e. Sering timbul pengertain lain bila sasaran kurang memperhatikan.

2. Seminar

Seminar adalah suatu dimana Sekelompok orng berkumpul untuk membahas

suatu masalah dibawah bimbingan seorang ahli yang menguasai bidangnya.

Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan pendidikan

menengah keatas. Seminar adalah suatu penyajian (presentasi) dari satu ahli atau

beberapa ahli tentang suatu topik yang dianggap penting dan biasanya dianggap

hangat di masyarakat.

Ciri - ciri :

a. Memberikan kesempatan diskusi kepada para pesertanya

b. Menstimulasi partisipasi anggota kelompok secara aktif


16

Keuntungan :

a. Hasilnya dapat dimanfaatkan, karena hasilnya dilaporkan dalam bentuk

tertulis.

b. Dapat mempelajari topik topik secara mendalam

c. Menyajikan bahan dan keterangan baru

d. Memungkinkan terjadinya observasi bebas

Kerugian :

a. Sulit untuk mendapatkan pemimpin seminar yang bermutu

b. Memerlukan sukarelawan untuk menyiapkan bahan ceramah dan laporan

c. Biasanya dilakukan di sebuah perguruan tinggi untuk keperluan penelitian

2.1.5.2.2 Kelompok Kecil

Apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang biasanya kita sebut kelompok

kecil. Metode - metode yang cocok untuk kelompok kecil ini antara lain :

1. Diskusi Kelornpok

Diskusi kelompok adalah pembicaraan yang direncanakan dan telah dipersiapkan

tentang suatu topik pembicaraan 5-20 peserta (sasaran) dengan seorang pemimpin

diskusi yang telah ditunjuk. Dalam diskusi kelompok agar sennua anggota

kelompok dapat bebas berpartisipasi dalam diskusi, maka formasi duduk para

peserta diatur sedmikian rupa sehingga mereka dapat berhadap - hadapan atau

saling memandang satu sama lain, misalnya dalam bentuk lingkaran atau segi

empat. Pimpinan diskusi / penyuluh juga duduk di antara peserta, sehingga tidak

menimbulkan kesan ada yang lebih tinggi. Tepatnya mereka dalam taraf yang
17

sama, sehingga tiap anggota kelompok ada kebebasan / keterbukaan untuk

mengeluarkan pendapat.

Untuk memulai diskusi, pemimpin diskusi harus memberikan pancingan-

pancingan berupa pertanyaan - pertanyaan atau kasus sehubungan dengan topik

yang dibahas. Agar terjadi diskusi yang hidup, pemimpin kelompok harus

mengarahkan dan mengatur sedemikian rupa sehingga semua orang dapat

kesempatan berbicara, sehingga tidak menimbulkan dominasi dari salah seorang

peserta.

Ciri - ciri :

a. Saling mengemukakan pendapat diantara sasaran

b. Dapat membuat topik yang dibicarakan menjadi menarik

c. Membantu peserta untuk mengemukakan pendapat

d. Dapat mengenal dan mengolah masalah yang terkandung dalam topik

e. Menciptakan suasana yang informal

f. Adanya pendapat dari orang-orang yang tidak suka bicara

Keuntungan :

a. Memberikm kemungkinan untuk saling mengemukakan pendapat diantara

peserta.

b. Merupakan pendekatan yang demokratis dalam menyampaikan pendapat dari

tiap-tiap peserta.

c. Dapat mendorong rasa persatuan diantara peserta


18

d. Dapat memperluas pandangan tiap peserta

e. Dapat menghayati kepemimpinan bersama dan membantu mengembangkan

kepemimpinan kelompok.

Kerugiannya :

a. Tidak dapat dipakai dalam kelompok yang besar

b. Peserta dapat informasi yang terbatas

c. Membutuhkan pemimpin diskusi yang terampil agar tidak menyimpang dari

topik pembicaraan.

d. Diskusi dapat menyimpang dari alur topik yang dibicarakan

e. Mungkin dapat dikuasai oleh orang –orang yang pintar berbicara

2. Curah Pendapat (Brain Storming)

Curah pendapat adalah suatu bentuk pemecahan masalah dimana setiap anggota

mengusulkan semua kemungkinan masalah yang terpikirkan oleh masing-masing

peserta dan evaluasi atas pendapat-pendapat tadi dilakukan kemudian.

Metode ini merupakan modifikasi metode diskusi kelompok. Prinsipnya sama

dengan metode diskusi kelompok. Bedanya pada permulaan pemimpin kelompok

memancing dengan satu masalah, kemudian tiap peserta memberikan jawaban-

jawaban atau tanggapan (cara pendapat). Tanggapan atau jawaban - jawaban

tersebut ditampung dan ditulis dalam flipchart atau papan tulis.


19

Semua peserta mencurahkan pendapatnya tidak boleh diberi komentar oleh

siapapun. Baru setelah semua anggota mengeluarkan pendapatnya, tiap anggota

dapat mengomentari, dan akhirnya terjadilah diskusi.

Ciri - ciri :

a. Dapat membangkitkan pikiran yang kreatif

b. Merangsang partisipasi peserta

c. Dapat membangkitkan pendapat-pendapat yang baru

d. Menciptakan suasana yang menyenangkan dalam kelompok.

Keuntungan :

a. Dapat memperoleh pendapat baru

b. Merangsang setiap anggota untuk berperan aktif

c. Dapat menghasilkan reaksi berantai dalam pendapat

d. Tidak menyita banyak waktu

e. Dapat dipakai dalam kelompok besar atau kecil

f. Tidak memerlukan pimpinan yang terlalu formal.

Kerugian :

a. Mudah terlepas dari kontrol.

b. Harus dilanjutkan dengan evaluasi jika diharapkan efektif

c. Mungkin sulit membuat peserta tahu bahwa segala pendapat dapat dliterima

d. Para peserta cenderung untuk mengadakan evaluasi segera setelah suatu

pendapat diajukan.
20

3. Bola Salju (Snow Balling)

Kelompok dibagi dalam pasangan-pasangan (1 pasang 2 orang). Kemudian

dilontarkan suatu pertanyaan atau masalah, setelah lebih kurang 5 menit tiap 2

pasang bergabung menjadi satu. Mereka tetap mendiskusikan masalah tersebut

dan mencari kesimpulannya, kemudian tiap 2 pasang yang sudah beranggotakan 4

orang ini bergabung lagi dengan pasangan lainnya dan demikian seterusnya

akhirnya menjadi diskusi seluruh kelas.

4. Kelompok kecil - kecil (Bruzz Group)

Kelompok Iangsung dibagi menjadi kelompok kecil-kecil kemudian dilontarkan

suatu permasalahan sama / tidak dengan kelompok lain dan masing-masing

kelompok mendiskusikan masalah tersebut. Selanjutnya dicari kesimpulan dari

tiap kelompok tersebut.

5. Role Play (Memainkan Peranan)

Bermain peran adalah memerankan sebuah situasi dalam kehidupan manusia

dengan tanpa diadakan latihan, dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk dipakai

sebagai bahan pemikiran oleh kelompok.

Dalam metode ini beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai pemegang

peranan tertentu untuk memainkan peranan, misalnya sebagai dokter Puskesmas,

sebagai perawat atau bidan, dan sebagainya, sedangkan anggota yang lain sebagai

pasien atau anggota masyarakat. Mereka meragakan misalnya bagaimana interaksi

komunikasi sehari-hari dalam melaksanakan tugas.


21

Ciri - ciri :

a. Peserta mengetahui lebih banyak tentang pandangan yang berlawanan

b. Peserta mempunyai kemampuan untuk memerankan peran yang diberikan

kepadanya

c. Pengaruh emosi dalam permainan akan membantu pengkajian masalah yang

dibahas

d. Membantu peserta memahami masalah yang dibahas

e. Dapat digunakan untuk mengubah sikap

Keuntungan :

a. Dapat menarik perhatian peserta

b. Dapat dipakai pada kelompok yang kecil dan besar

c. Membantu peserta unluk menganalisa situasi

d. Menambah rasa percaya diri pada peserta

e. Membantu peserta menyelami masalah

f. Membanlu peserta mendapatkan pengalaman yang ada pada pemikiran orang

lain.

g. Membangkitkan minat peserta untuk memecahkan masalah

Kerugian :

a. Banyak peserta yang tidak dapat memerankan sesuatu

b. Terbatas hanya pada situasi tertentu

c. Mungkin masalahnya disatukan dengan pemerannya


22

6. Permainan Simulasi (Simulation Game)

Metode ini merupakan gambaran antara role play dengan diskusi kelompok.

Metode simulasi adalah bentuk metode praktek yang sifatnya untuk

mengembangkan ketermpilan peserta belajar (keterampilan mental maupun fisik /

teknis). Metode ini memindahkan suatu situasi yang nyata ke dalam kegiatan atau

ruang belajar karena adanya kesulitan untuk melakukan praktek didalam situasi

yang sesungguhnya. Metode ini memang mirip dengan bermain peran. Tetapi

dalam simulasi, peserta lebih banyak berperan sebagai dirinya sendiri saat

melakukan suatu kegiatan / tugas yang benar-benar akan dilakukannya (Nursidik,

2008).

Pesan - pesan kesehatan disajikan dalam beberapa bentuk permainan seperti

permainan monopoli. Tekhnik / cara memainkannya persis seperti bermain

monopoli dengan menggunakan dadu, gaco (penunjuk arah), selain beberan atau

papan main. Beberapa orang menjadi pemain dan sebagian lagi berperan sebagai

narasumber. Misalnya permainan menggunakan dadu dilakukan dengan

mengocok dadu kemudian melemparnya setelah itu peserta diberi Pertanyaan

sesuai dengan dadu yang muncul (No 1, 2, 3, 4, atau 6) dan melaksanakan apa

yang telah menjadi kesepakatan (Notoatmodjo, 2007).


23

2.1.6 Media Penyuluhan Kesehatan

Menurut Notoatmodjo (2007), media penyuluhan kesehatan dibagi menjadi 3

bagian yaitu :

1. Media cetak

a. Booklet adalah suatu media untuk menyampaikan pesan - pesan kesehatan

dalam bentuk buku baik tulisan maupun gambar.

b. Leaflet adalah bentuk penyampaian informasi atau pesan - pesan kesehatan

melalui lembaran yang dilipat. Isi informasi dapat dalam bentuk kalimat maupun

gambar ataupun kombinasi.

c. Flayer (selebaran) adalah seperti leaflet tapi tidak dalam bentuk lipatan.

d. Flip chart (lembar balik) adalah media penyampaian pesan atau informasi

kesehatan dalam bentuk lembar balik biasanya dalam bentuk buku dimana tiap

lembar (halaman) berisi gambar peragaan dan dibaliknya berisi kalimat sebagai

pesan yang berkaitan dengan pesan tersebut.

e. Rubrik atau tulisan - tulisan pada surat kabar / majalah mengenai bahasan suatu

masalah kesehatan atau hal - hal yang berkaitan dengan kesehatan.

f. Poster adalah bentuk media cetak berisi pesan pesan / informasi kesehatan,

biasanya ditempel ditembok - tembok, ditempat umum atau kendaraan umum.

g. Foto adalah yang mengungkapkan informasi - informasi kesehatan.

2. Media elektronik

a. Televisi adalah penyampaian informasi / pesan melalui media televisi dapat

dalam bentuk sandiwara, sinetron, forum diskusi atau tanya jawab mengenai

masalah kesehatan, pidato (ceramah), dan sebagainya.


24

b. Radio adalah penyampaian informasi / pesan melalui radio dalam bentuk antara

lain obrolan (Tanya jawab), sandiwara radio, ceramah dan sebagainya.

c. Video adalah penyampaian informasi atau pesan - pesan kesehatan yang dapat

melalui video.

d. Slide projector digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi -

informasi kesehatan.

e. Film strip juga dapat diguanakan untuk menyampaikan pesan - pesan

kesehatan.

3. Media papan (Bill Board)

Papan yang dipasang ditempat - tempat umum dapat dipakai / diisi dengan pesan -

pesan atau informasi kesehatan. Media papan ini mencakup juga pesan - pesan

yang ditulis pada lembaran seng dan ditempel pada kendaraan umum.

2.1.7 Proses Penyuluhan Kesehatan

Prinsip utama dalam proses penyuluhan kesehatan adalah proses belajar pada

individu, kelompok, keluarga, dan masyarakat. Apabila proses penyuluhan

kesehatan dilihat sebagai sistem, proses belajar dalam kegiatannya menyangkut

aspek masukan, proses, dan keluaran yang digambarkan dalam Notoatmodjo

(1997) sebagai berikut :

Masukan Proses Keluaran

Latar belakang Kurikulum


Pendidikan Sosial Sumber daya
Budaya Kesiapan fisik Lingkungan belajar
Kesiapan psikologis Sumber daya manusia
Pedoman

Gambar 2.1 Proses belajar


25

1) Masukan dalam penyuluhan kesehatan

Masukan dalam proses penyuluhan kesehatan adalah individu, kelompok,

keluarga dan masyarakat yang akan menjadi sasaran didik.

2) Proses dalam penyuluhan kesehatan

Proses dalam penyuluhan kesehatan merupakan mekanisme dan interaksi yang

memungkinkan terjadinya perubahan perilaku subyek belajar. Faktor - faktor yang

mempengaruhi proses penyuluhan kesehatan yaitu materi atau bahan pendidikan

kesehatan, lingkungan belajar, perangkat pendidikan baik perangkat lunak

maupun perangkat keras, dan subyek.

3) Keluaran dalam penyuluhan kesehatan

Keluaran dalam penyuluhan kesehatan adalah kemampuan sebagai hasil

perubahan perilaku yaitu perilaku sehat dari sasaran didik.

2.1.8 Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Penyuluhan

Menurut Notoatmodjo (2007), faktor - faktor yang mempengaruhi penyuluhan

yaitu :

1. Faktor penyuluh

a. Kurang persiapan

b. Kurang menguasai materi yang akan dijelaskan

c. Penampilan kurang meyakinkan sasaran

d. Bahasa yang digunakan kurang dapat dimengerti oleh sasaran karena terlalu

banyak menggunakan istilah asing

e. Suara terlalu kecil

f. Penampilan materi penyuluhan monoton sehingga membosankan.


26

2. Faktor sasaran

a. Tingkat pendidikan terlalu rendah

b. Tingkat sosial ekonomi terlalu rendah

c. Kepercayaan dan adat istiadat yang telah tertanam sehingga sulit untuk

mengubah.

d. Kondisi tempat tinggal yang tidak mungkin terjadi perubahan perilaku.

3. Faktor Proses dalam Penyuluhan

a. Waktu penyuluhan tidak sesuai dengan waktu yang diinginkan sasaran

b. Tempat penyuluhn dilakukan dekat tempat keramaian sehingga menganggu

proses penyuluhan.

c. Jumlah sasaran yang terlalu banyak

d. Alat peraga dalam memberikan penyuluhan kurang

e. Metode yang digunakan kurang tepat

f. Bahasa yang digunakan sulit dimengerti oleh sasaran.

Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Penyuluhan menurut Effendy (1998)

Yaitu :

a. Faktor klien : motivasi anggota keluarga, usia, pendidikan, keadaan psikologi,

persepsi klien atau anggota keluarga terhadap masalah kesehatan.

b. Faktor komunikasi : kurangnya pemahaman terhadap masalah, rentangnya

bangsa dan kebudayaan, rentangnya sosial dan ekonomi, ketidakmampuan

berkomunikasi secara jelas.

c. Faktor - faktor situasional : lingkungan, waktu, modalitas pengajaran.


27

2.2 Konsep Perilaku

2.2.1 Pengertian Perilaku

Yang dimaksud dengan perilaku manusia, pada hakikatnya adalah tindakan atau

aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas

antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis,

membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang

dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik

yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar

(Notoatmodjo,2003).

Skinner (1938) seorang ahli psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan

respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh

karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme,

dan kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori

“S-O-R” atau Stimulus – Organisme – Respon (Notoatmodjo, 2003).

Menurut Notoatmojo (2003) dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini,

maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu :

1) Perilaku tertutup (Convert behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup

(Convert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian,

persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang

menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.
28

2) Perilaku terbuka (Overt behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka.

Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau

praktek, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.

Jadi perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon seseorang (organisme)

terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan

kesehatan, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2007).

2.2.2 Klasifikasi Perilaku Kesehatan

Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2003) adalah suatu respon seseorang

(organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau

penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan.

Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok

yaitu :

1) Perilaku pemeliharaan kesehatan (Health maintanance)

Adalah perilaku atau usaha - usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga

kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.

2) Perilaku pencarian pengobatan (Health seeking behavior)

Adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit

atau kecelakaan.

3) Perilaku kesehatan lingkungan

Adalah bagaimana seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun

sosial budaya, dan sebagainya.


29

2.2.3 Domain Perilaku

Menurut Beyamin Bloom (1908) seorang ahli psikologi pendidikan seperti dikutip

Notoatmodjo (2003) membagi perilaku itu didalam 3 domain (ranah / kawasan)

yaitu : ranah kognitif (Kognitive domain), ranah affektif (Affective domain), dan

ranah psikomotor (Psychomotor domain).

Menurut Notoatmodjo (2003) dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli

pendidikan dan untuk kepentingan pengukuran hasil, ketiga domain itu diukur

dari :

1. Pengetahuan (Knowlegde)

Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan

penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan tau

kognitif merupakan domain yang penting dalam membentuk tindakan seseorang

(Overt behavior).

Ada enam tingkatan domain pengetahuan yaitu :

1) Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat kembali (Recall) terhadap suatu materi yang

telah dipelajari sebelumnya.

2) Memahami (Comprehension)

Suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui

dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.


30

3) Aplikasi (Applicatioan)

Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari

pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.

4) Analisis (Analysis)

Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam

komponen - komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi dan ada

kaitannya dengan yang lain.

5) Sintesa (Synthesis)

Sintesa menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan

bagian - bagian dalam suatu bentuk keseluruhan baru.

6) Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melaksanakan justifikasi atau

penilaian terhadap suatu materi / objek.

2. Sikap (Attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap

suatu stimulus atau objek (Notoatmodjo, 2003).

Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap mempunyai tiga komponen pokok yaitu :

1) Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek

2) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek

3) Kecenderungan untuk bertindak (Tend to behave)


31

Seperti halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan :

1) Menerima (Receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang

diberikan (objek).

2) Merespon (Responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas

yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

3) Menghargai (Valuing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah

adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.

4) Bertanggung jawab (Responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko

merupakan sikap yang paling tinggi.

3. Praktik atau tindakan (Practice)

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (Overt behavior).

Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan faktor

pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas

dan faktor dukungan (Support).

Praktik ini mempunyai beberapa tingkatan yaitu :

1) Persepsi (Perception)

Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan

diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama.


32

2) Respon terpimpin (Guide response)

Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan

contoh adalah merupakan indikator praktik tingkat kedua.

3) Mekanisme (Mecanism)

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis,

atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka seseorang sudah mancapai

praktik tingkat tiga.

4) Adopsi (Adoption)

Adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya

tindakan itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

2.2.4 Proses Adopsi Perilaku

Menurut penelitian Rogers (1974) seperti dikutip Notoatmodjo (2003)

mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru didalam diri

orang tersebut terjadi proses berurutan yakni :

1. Kesadaran (Awareness)

Orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu.

2. Tertarik (Interest)

Orang mulai tertarik pada stimulus

3. Evaluasi (Evaluation)

Menimbang - nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini

berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.

4. Mencoba (Trial)

Orang telah mulai mencoba perilaku baru


33

5. Menerima (Adoption)

Subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan

sikapnya terhadap stimulus.

Adapun faktor - faktor yang mempengaruhi adopsi perilaku yaitu :

a. Faktor internal : karakteristik individu yang bersangkutan

b. Faktor eksternal : lingkungan fisik, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya.

2.2.5 Asumsi Determinan Perilaku

Spranger membagi kepribadian manusia menjadi 6 macam nilai kebudayaan.

Kepribadian seseorang ditentukan oleh salah satu nilai budaya yang dominan pada

diri orang tersebut. Secara rinci perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi

dari berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan, keinginan, kehendak, minat,

motivasi, persepsi, sikap dan sebagainya.

Namun demikian realitanya sulit dibedakan atau dideteksi gejala kejiwaan

tersebut dipengaruhi oleh faktor lain diantaranya adalah pengalaman, keyakinan,

sarana / fasilitas, sosial budaya dan sebagainya. Proses terbentuknya perilaku

dapat diilustrasikan pada gambar berikut :

Pengetahuan
Persepsi
Pengalaman Sikap
Keyakinan Keinginan Perilaku
Fasilitas Kehendak
Sosio-budaya Motivasi
Niat

Gambar 2.2 Determinan terbentuknya perilaku


34

Beberapa teori lain yang telah dicoba untuk mengungkap determinan perilaku dari

analisis yang mempengaruhi perilaku, khususnya perilaku yang berhubungan

dengan kesehatan, antara lain :

1. Teori Lawrence Green (1980)

Green mencoba menganalisis perilaku manusia berangkat dari tingkat kesehatan.

Bahwa kesehatan seseorang dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yaitu faktor perilaku

(Behavior causes) dan faktor diluar perilaku (Non behavior causes).

Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh :

1. Faktor predisposisi (Predisposing factor), yang terwujud dalam pengetahuan,

sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.

2. Faktor pendukung (Enabling factor), yang terwujud dalam lingkungan fisik,

tersedia atau tidak tersedianya fasilitas - fasilitas atau sarana - sarana kesehatan,

misalnya puskesmas, obat - obatan, alat - alat steril dan sebagainya.

3. Faktor pendorong (Reinforcing factor), yang terwujud dalam sikap dan

perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi

dari perilaku masyarakat.

2. Teori Snehandu B. Kar (1983)

Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan bertitik tolak bahwa perilaku

merupakan fungsi dari :

1. Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan

kesehatannya (Behavior itention).

2. Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (Social support)

3. Adanya atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan

(Accesebility of information).
35

4. Otonomi pribadi orang yang bersangkutan dalam hal mengambil tindakan atau

keputusan (Personal autonomy).

5. Situasi yang memungkinkan untuk bertindak (Action situation).

3. Teori WHO (1984)

WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang berperilaku tertentu

adalah :

1. Pemikiran dan perasaan (thougts and feeling), yaitu dalam bentuk

pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan dan penilaian seseorang terhadap objek

(objek kesehatan).

a. Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.

b. Kepercayaan sering atau diperoleh dari orang tua, kakek, atau nenek.

Seseorang menerima kepercayaan berdasarkan keyakinan dan tanpa adanya

pembuktian terlebih dahulu.

c. Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek.

Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain yang paling dekat.

Sikap membuat seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau objek lain.

Sikap positif terhadap tindakan-tindakan kesehatan tidak selalu terwujud didalam

suatu tindakan tergantung pada situasi saat itu, sikap akan diikuti oleh tindakan

mengacu kepada pengalaman orang lain, sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu

tindakan berdasar pada banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang.

d. Nilai di dalam suatu masyarakat apapun selalu berlaku nilai - nilai yang

menjadi pegangan setiap orang dalam menyelenggarakan hidup bermasyarakat.


36

2. Orang penting sebagai referensi. Apabila seseorang itu penting untuknya,

maka apa yang ia katakan atau perbuat cenderung untuk dicontoh.

3. Sumber - sumber daya (Resources), mencakup fasilitas – fasilitas, uang,

waktu, tenaga dan sebagainya.

4. Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan penggunaan sumber - sumber

didalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup (Way of life) yang

pada umumnya disebut kebudayaan. Kebudayaan ini terbentuk dalam waktu yang

lama dan selalu berubah, baik lambat ataupun cepat sesuai dengan peradaban

umat manusia.

4. Teori Reilly dan Oberman (2002)

Mengemukakan pembelajaran merupakan suatu proses perubahan perilaku yang

berasal dari pengalaman yang prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut :

4.
Pengalaman Pembelajaran Perubahan perilaku

Gambar 2.3 Proses perubahan perilaku

Proses pengalaman dikonsepkan sebagai suatu keterlibatan seseorang secara utuh

melalui kegiatan terus - menerus dalam kehidupan. Mereka mengajukan sebagai

suatu hirarki perilaku yang terdiri dari berbagai tahapan perkembangan yang harus

dilalui untuk memenuhi tujuan pembelajaran dari pengalaman yaitu tahap

pemaparan, partisipasi, identifikasi, penguatan dan tahap penyebaran.

Pembelajaran merupakan proses individu dan merupakan pengalaman yang aktif,

holistik serta melibatkan manusia dan lingkungan seutuhnya. Pembelajaran juga


37

merupakan proses integrasi untuk memasukkan pembelajaran baru ke dalam

bidang persepsi, sehingga menyebabkan reorganisasi bidang tersebut, dan ini

menyebabkan peralihan pengetahuan atau ketrampilan apabila terdapat relevansi

antara makna pengalaman yang lama dengan makna pengalaman yang baru.

5. Teori Kurt Lewin (1951) yang dikutip oleh Nursalam (2002)

Mengungkapkan bahwa proses perubahan perilaku melalui tiga tahap yaitu

1. Pencairan (Unfresing) yaitu adanya motivasi yang kuat untuk beranjak dari

keadaan semula dan berubahnya keseimbangan yang ada.

2. Bergerak (Moving) yaitu bergerak menuju kesadaran baru.

3. Pembekuan (Refreezing) yaitu mencapai tingkat atau tahap yang baru atau

mencapai keseimbangan yang baru.

2.2.6 Bentuk - bentuk perubahan perilaku

Menurut WHO, seperti dikutip Notoatmodjo (2003) perubahan perilaku itu

dikelompokkan menjadi tiga yaitu :

1. Perubahan alamiah (Natural Change), bahwa perilaku manusia selalu berubah

dimana sebagian perubahan itu disebabkan karena kejadian alamiah.

2. Perubahan terencana (Planned change), bahwa perubahan ini terjadi karena

memang direncanakan sendiri oleh objek.

3. Kesediaan untuk berubah (Readdines to change), yang berbeda - beda

meskipun kondisinya sama.


38

2.2.7 Strategi Perubahan Perilaku

Menurut Notoatmodjo (2003) strategi yang digunakan untuk merubah perilku

tersebut juga dikelompokkan menjadi tiga yaitu :

1. Menggunakan kekuatan / kekuasaan atau dorongan.

Dalam hal ini perubahan perilaku dipaksakan kepada masyarakat sehingga mau

melakkan (berperilaku) seperti yang diharapkan. Cara ini dapat ditempuh

misalnya dengan adanya peraturan peraturan yang harus dipatuhi oleh anggota

masyarakat. Cara ini akan menghasilkan perilaku yang cepat, akan tetapi

perubahan tersebut belum tentu akan berlangsung lama karena perubahan perilaku

yang terjadi tidak atau belum didasari oleh kesadaran sendiri.

2. Pemberian Informasi

Dengan memberikan informasi – informasi tentang cara mencapai hidup sehat,

cara memelihara kesehatan, cara menghindari penyakit, dan sebagainya akan

meningkatkan pengetahuan seseorang / masyarakat tentang hal tersebut.

Selanjutnya dengan pengetahuan itu akan menimbulkan kesadaran, dan akhirnya

akan merubah orang berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.

Hasil dari perubahan perilaku dengan cara ini memakan waktu yang lama, tetapi

perubahan yang dicapai akan bersifat langgeng karena didasari pada kesadaran

mereka sendiri (bukan karena paksaan).


39

3. Diskusi dan Partisipasi.

Cara ini sebagai cara peningkatan yang kedua diatas dimana dalam memberikan

informasi - informasi tentang kesehatan tidak bersifat searah saja, tetapi dua arah.

Hal ini berarti masyarakat tidak hanya pasif menerima informasi, tetapi juga harus

aktif berpartisipasi melalui diskusi diskusi tentang informasi.yang diterimanya.

Dengan demikian maka pengetahuan kesehatan sebagai dasar perilaku mereka

diperoleh secara mantap dan lebih mendalam. Dan akhirnya perilaku yang mereka

peroleh akan lebih mantap juga, bahkan merupakan referensi perilaku orang lain.

Diskusi partisipasi ini merupakan salah satu cara yang baik dalam rangka

memberikan informasi - informasi dan pesan - pesan kesehatan.

2.2.8 Pengukuran Perilaku

Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara langsung yakni dengan wawancara

terhadap kegiatan - kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari atau bulan

yang lalu (Recall). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung, yakni

dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden ( Notoatmodjo, 2003).

2.3 Konsep Mobilisasi Dan Teknik Latihan Mobilisasi

2.3.1 Pengertian Mobilisasi

Mobilisasi mula - mula berasal dari ambulasi dini yang merupakan pengembalian

secara berangsur - angsur ke tahap mobilisasi sebelumnya untuk mencegah

komplikasi (Roper, 1996). Mobilisasi dini adalah kebijaksanaan untuk selekas

mungkin membimbing penderita keluar dari tempat tidurnya dan membimbingnya

selekas mungkin berjalan (Soelaiman,1993). Menurut Carpenito (2000),


40

Mobilisasi dini merupakan suatu aspek yang terpenting pada fungsi fisiologis

karena hal itu esensial untuk mempertahankan kemandirian. Dari Kedua definisi

tersebut dapat disimpulkan bahwa mobilisasi dini adalah suatu upaya

mempertahankan kemandirian sedini mungkin dengan cara membimbing

penderita untuk mempertahankan fungsi fisiologis.

Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas, mudah,

teratur, mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan hidup sehat, dan penting untuk

kemandirian (Barbara, 1991).

Mobilisasi secara garis besar dibagi menjadi 2, yaitu mobilisasi secara pasif dan

mobilisasi secara aktif. Mobilisasi secara pasif yaitu: mobilisasi dimana pasien

dalam menggerakkan tubuhnya dengan cara dibantu dengan orang lain secara total

atau keseluruhan. Mobilisasi aktif yaitu: dimana pasien dalam menggerakkan

tubuh dilakukan secara mandiri tanpa bantuan dari orang lain (Priharjo, 1997).

Mobilisasi secara tahap demi tahap sangat berguna untuk membantu jalannya

penyembuhan pasien. Secara psikologis mobilisasi akan memberikan kepercayaan

pada pasien bahwa dia mulai merasa sembuh. Perubahan gerakan dan posisi ini

harus diterangkan pada pasien atau keluarga yang menunggui. Pasien dan

keluarga akan dapat mengetahui manfaat mobilisasi, sehingga akan berpartisipasi

dalam pelaksanaan mobilisasi.


41

2.3.2 Tujuan Mobilisasi

Beberapa tujuan dari mobilisasi menurut Susan J. Garrison (2004), antara lain :

1. Mempertahankan fungsi tubuh

2. Memperlancar peredaran darah sehingga mempercepat penyembuhan luka

3. Membantu pernafasan menjadi lebih baik

4. Mempertahankan tonus otot

5. Memperlancar eliminasi Alvi dan Urin

6. Mengembalikan aktivitas tertentu sehingga pasien dapat kembali normal dan

atau dapat memenuhi kebutuhan gerak harian.

2.3.3 Faktor -Faktor Yang Mempengaruhi Mobilisasi

Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi menurut Barbara Kozier (1995),

antara lain :

1. Gaya Hidup

Gaya hidup seseorang sangat tergantung dari tingkat pendidikannya. Makin tinggi

tingkat pendidikan seseorang akan diikuti oleh perilaku yang dapat meningkatkan

kesehatannya. Demikian halnya dengan pengetahuan kesehatan tentang mobilisasi

seseorang akan senantiasa melakukan mobilisasi dengan cara yang sehat.

2. Proses Penyakit dan Injury

Adanya penyakit tertentu yang diderita seseorang akan mempengaruhi

mobilitasnya, misalnya seseorang yang patah tulang akan kesulutan untuk

mobilisasi secara bebas. Demikian pula orang yang baru menjalani operasi, karena

adanya rasa sakit / nyeri yang menjadi alasan mereka cenderung untuk bergerak
42

lebih lamban. Ada kalanya klien harus istirahat di tempat tidur karena menderita

penyakit tertentu.

3. Kebudayaan

Kebudayaan dapat mempengaruhi pola dan sikap dalam melakukan aktivitas,

misalnya pasien setelah operasi dilarang bergerak karena kepercayaan kalau

banyak bergerak nanti luka atau jahitan tidak jadi.

4. Tingkat energi

Seseorang melakukan mobilisasi jelas membutuhkan energi atau tenaga. Orang

yang sedang sakit akan berbeda mobilitasnya dibandingkan dengan orang dalam

keadaan sehat.

5. Usia dan status perkembangan

Seorang anak akan berbeda tingkat kemampuan mobilitasnya dibandingkan

dengan seorang remaja.

2.3.4 Macam Mobilisasi

1. Mobilisasi penuh

Mobilisasi penuh ini menunjukkan saraf motorik dan sensorik mampu mengontrol

seluruh area tubuh. Mobilisasi penuh mempunyai banyak keuntungan bagi

kesehatan, baik fisiologis maupun psikologis bagi pasien untuk memenuhi

kebutuhan dan kesehatan secara bebas, mempertahankan interaksi sosial dan

peran dalam kehidupan sehari hari.


43

2. Mobilisasi sebagian

Pasien yang mengalami mobilisasi sebagian umumnya mempunyai gangguan

saraf sensorik maupun motorik pada area tubuh. Mobilisasi sebagian dapat

dibedakan menjadi :

a. Mobilisasi temporer yang disebabkan oleh trauma reversibel pada sistem

muskuloskeletal seperti dislokasi sendi dan tulang.

b. Mobilisasi permanen biasanya disebabkan oleh rusaknya sistem saraf yang

reversibel.

2.3.5 Kontra Indikasi Mobilisasi

Pada kasus tertentu istirahat di tempat tidur diperlukan dalam periode tidak terlalu

lama seperti pada pada kasus infark Miokard akut, Disritmia jantung, atau syok

sepsis, kontraindikasi lain dapat di temukan pada kelemahan umum dengan

tingkat energi yang kurang.

2.3.6 Mobilisasi Pada Pasien Pasca Pembedahan Abdomen

Mobilisasi pasca pembedahan yaitu proses aktivitas yang dilakukan pasca

pembedahan dimulai dari latihan ringan diatas tempat tidur (latihan pernafasan,

latihan batuk efektif dan menggerakkan tungkai) sampai dengan pasien bisa turun

dari tempat tidur, berjalan ke kamar mandi dan berjalan ke luar kamar (Brunner &

Suddarth, 1996 ).

Mobilisasi sudah dapat dilakukan sejak 8 jam setelah pembedahan, tentu setelah

pasien sadar atau anggota gerak tubuh dapat digerakkan kembali setelah dilakukan
44

pembiusan regional. Pada saat awal, pergerakan fisik bisa dilakukan di atas tempat

tidur dengan menggerakkan tangan dan kaki yang bisa ditekuk atau diluruskan,

mengkontraksikan otot - otot dalam keadaan statis maupun dinamis termasuk juga

menggerakkan badan lainnya, miring ke kiri atau ke kanan. Pada 12 sampai 24

jam berikutnya atau bahkan lebih awal lagi badan sudah bisa diposisikan duduk,

baik bersandar maupun tidak dan fase selanjutnya duduk di atas tempat tidur

dengan kaki yang dijatuhkan atau ditempatkan di lantai sambil digerak – gerakan

(Brunner & Suddarth, 1996 ). Di hari kedua pasca operasi, rata - rata untuk pasien

yang dirawat di kamar atau bangsal dan tidak ada hambatan fisik untuk berjalan,

semestinya memang sudah bisa berdiri dan berjalan di sekitar kamar atau keluar

kamar, misalnya berjalan sendiri ke toilet atau kamar mandi dengan posisi infus

yang tetap terjaga.

2.3.7 Komplikasi Akibat Tidak Melakukan Mobilisasi

Pasien post operasi pembedahan abdomen yang tidak melakukan mobilisasi

segera, dapat menyebabkan komplikasi post operasi seperti atlektasis, pneumonia

hipostatik dan komplikasi paru lainnya dapat terjadi, gangguan gastrointestinal

dan masalah sirkulasi (Brunner & suddarth, 2001).

2.3.8 Tekhnik Latihan Mobilsasi

Pasien post operasi di harapkan dapat melakukan mobilisasi segera mungkin

dengan 5 latihan yaitu latihan pernafasan diafragma, batuk, latihan tungkai, miring

dan turun dari tempat tidur (Brunner & suddarth, 2001).


45

1. Latihan Nafas Dalam, Batuk dan Relaksasi

Salah satu tujuan dari keperawatan pre operasi adalah untuk mengajar pasien cara

untuk meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum.

Hal ini dapat dicapai dengan memperagakan pada pasien bagaimana melakukan

nafas dalam, nafas lambat (menahan inspirasi secara maksimal, MSI) dan

bagaimana menghembuskan nafas dengan lambat. Pasien diletakkan dalam posisi

duduk untuk memberikan ekspansi paru maksimum. Setelah melakukan latihan

nafas dalam beberapa kali, pasien di instruksikan untuk bernafas dalam - dalam,

menghembuskan melalui mulut, ambil nafas pendek, dan batukkan dari bagian

paru yang paling dalam (Gambar 2.4 dan 2.5). Selain meningkatkan pernafasan

latihan, ini membantu pasien untuk relaksasi.

Gambar 2.4 Latihan penafasan Gambar 2.5 Membebat perut


diafragma ketika batuk

Pada insisi abdomen perawat memperagakan bagaimana garis insisi dapat dibebat

sehingga tekanan diminimalkan dan nyeri terkontrol. Pasien membentuk jalinan

kedua telapak tangannya dengan kuat diletakkan diatas insisi dan bertindak

sebagai bebat yang efektif ketika batuk. Pasien di informasikan bahwa medikasi

diberikan untuk mengontrol nyeri.


46

Tujuan melakukan batuk adalah untuk memobilisasi sekresi sehingga mudah

dikeluarkan. Jika pasien tidak dapat batuk secara efektif, pneumonia hipostatik

dan komplikasi paru lainnya dapat terjadi.

2. Perubahan Posisi dan Gerakan Tubuh Aktif

Tujuan melakukan pergerakan tubuh secara hati - hati pada post operasi adalah

untuk memperbaiki sirkulasi, mencegah stasis vena dan untuk menunjang fungsi

pernafasan yang optimal.

Pasien ditunjukkan bagaimana cara untuk berbalik dari satu sisi ke sisi lainnya

dan cara untuk mengambil posisi lateral. Posisi ini digunakan pada post operasi

(bahkan sebelum pasien sadar) dan di pertahankan setiap 2 jam.

Latihan ekstrimitas meliputi ekstensi dan fleksi lutut dan sendi panggul (sama

seperti mengendarai sepeda selama posisi berbaring miring). Telapak kaki diputar

seperti membuat lingkaran sebesar mungkin menggunakan ibu jari kaki (Gambar

2.6 dan 2.7). Siku dan bahu juga dilatih ROM. Pada awalnya pasien dibantu dan

diingatkan untuk melakukan latihan , selanjutnya di anjurkan untuk melakukan

secara mandiri. Tonus otot dipertahankan sehingga mobilisasi akan lebih mudah

dilakukan.

Gambar 2.6 a. Latihan tungkai Gambar 2.6 b. Latihan tungkai


47