Anda di halaman 1dari 21

A.

Konsep Dasar Post Partum

1. Pengertian

Post partum/nifas adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah

kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali

seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama 6 minggu

(Reader, 2014).

2. Patofisiologi Post Partum

Dalam masa post partum atau masa nifas, alat-alat genetalia interna

maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan

sebelum hamil. Perubahan-perubahan alat genetalia dalam

keseluruhannya disebut involusi. Disamping involusi terjadi perubahan-

perubahan penting lain yakni memokonsentrasi dan timbulnya laktasi

yang terakhir ini karena pengaruh lactogenic hormone dari kelenjar

hipofisis terhadap kelenjar-kelenjar mamae.

Otot-otot unterus berkontraksi saat post partum, pembuluh-

pembuluh darah dan otot-otot uterus akan terjepit. Proses ini akan

menghentikan perdarahan setelah plasenta lahir. Perubahan-perubahan

yang terdapat pada serviks ialah saat post partum bentuk serviks akan

terbuka seperti corong, bentuk ini disebabkan korpus uteri terbentuk

seperti cincin. Perubahan-perubahan yang terdapat pada endometrium

ialah timbulnya thrombosis, degenarasi dan nekrosis ditempat implantasi

plasenta pada hari pertama endometrium yang kira-kira setebal 2-5 mm

itu mempunyai permukaan yang kasar akibat peepasan desidua dan

selaput janin regenerasi endometrium terjadi dari sisa-sisa sel yang


memakai waktu 2 sampai 3 minggu. Ligament-ligamen dan diafragma

pelvis serta fasia yang merenggang sewaktu kehamilan dan partus setelah

janin lahir berangsur-angsur kembali seperti sedia kala (Reader, 2014).

3. Tujuan Asuhan Masa Nifas

Pada masa nifas ini terjadi perubahan-perubahan fisik berupa

perubahan orga reproduksi, terjadinya proses laktasi, terbentuknya

hubungan antara orang tua dan bayi dengan memberi dukungan. Atas

dasar tersebut perlu dilakukan sesuatu pendekatan antara ibu dan keluarga

dalam manajemen keperawatan.

Adapun tujuan asuhan masa nifas adalah sebagai berikut :

a. Menjaga kesehatan ibu dan bayi fisik maupun psikis

b. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah,

mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi

c. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri,

nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi, kepada bayi dan

perawatan bayi sehat.

d. Memberikan pelayanan KB

Adapun masa nifas diperlukan karena periode ini merupakan

masa kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan 60% kematian ibu

akibat kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian nifas

terjadi 24 jam pertama.

Masa neonates merupakan masa kritis dari kehidupan bayi,

2/3 kematian bayi terjadi dalam 4 minggu setelah persalinan dan 60%

kematian bayi baru lahir terjadi dalam 7 hari setelah lahir dengan
pemantauan melekat dan asuhan pada ibu dan bayi masa nifas dapat

mencegah kematian ini.

4. Perubahan Fisiologis Masa Nifas

Perubahan fisiologis yang terjadi pada masa nifas meliputi :

a. Perubahan system reproduksi

1) Perubahan Uterus

Involusi uteri adalah proses uterus kembali ke kondisi

sebelum hamil. Uterus biasanya berada di organ pelvik pada hari

ke 10 setelah persalinan. Involusi uterus lebih lambat pada

multipara. Penurunan ukuran uterus dipengaruhi oleh proses

autolisis protein intraseluler dan sitoplasama miometrium. Protein

dinding Rahim dipecah diabsorbsi dan kemudian dibuang dengan

air kencing. Hal ini bisa dibuktikan dengan pemeriksaan kadar

nitrogen yang sangat tinggi dalam air kencing ibu. Selama

beberapa hari pertama setelah melahirkan endrometrium dan

miometrium pada tempat plasenta diserap oleh sel-sel granulosa

sehingga selaput basal endrometrium kembali dibentuk.

Proses involusi uterus adalah :

(a) Autolysis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang

terjadi dalam ott uterin. Enzim proteolitik akan memendekan

dan mengecilkan jaringan otot yang telah sempat mengendur

10 kali panjangnya dari semula dan 5 kali lebar dari semula

selama kehamilan, yang diakibatkan dari sel yang mengalami

proses pengecilan.
(b) Terdapat polymorph phagolitik dan macrophages didalam

system vasikuler dan system limphatik.

(c) Efek oksitosin (cara kerja oksitosin)

Penyebab kontraksi dan retraksi otot Rahim sehingga akan

mengompres pembuluh darah yang menyebabkan akan

mengurangi suplai darah ke uterus, proses ini akan

mengakibatkan ukuran Rahim semakin berkurang.

Table 2.1 Proses Involusi Uteri

Diameter Palpasi Berat


No Involusi Uteri
Uterus Serviks uterus
Pada akhir 12,5 cm Lunak 1000 gram
1
persalinan

Pada akhir 7,5 cm 2 cm 500 gram


2
minggu ke 1

Pada akhir 5,0 cm 1 cm 350 gram


3
minggu ke 2

Pada akhir 2,5 cm menyempit 60 gram


4
minggu ke 3

Sumber : Buku Ajar Masa Nifas dan Menyusui tahun 2013

Table 2.2 Tinggi Fundus Uteri dan Involusi Uteri

No Involusi Tinggi Fundus Berat uterus

1 Plasenta lahir Sepusat 1000 gram

7 hari (1 minggu) Pertengahan pusat- 500 gram


2
simpisis

3 14 hari (2 minggu) Tak teraba 350 gram

42 hari (6 minggu) Sebesar hamil 2 50 gram


4
minggu

5 56 hari (8 minggu) Normal 30 gram

Sumber : Buku Ajar Masa Nifas dan menyusui tahun 2013

2) Lochea
Lochea adalah istilah yang diberikan pada pengeluaran

darah dan jaringan yang nekrotik dari dalam uterus selama masa

nifas (farre 2010).

Lochea atau cairan yang keluar dari vagina sesudah

persalinan memiliki beberapa proses perubahan khas.

Jumlah total lochea yang diproduksi 150-450 ml dengan

jumlah rata-rata 225 ml selama 2-3 hari pertama setelah

melahirkan, pengeluaran darah dari vagina tergantung pada

perubahan ambulasi seperti berdiri dan duduk. Hal ini tidak perlu

dikhawatirkan karena masih dianggap normal.

Proses keluarnya lochea terdiri dari 4 tahapan yaitu :

(a) Lochea Rubra (cruenta)

Lochea atau cairan ini muncul pada hari ke 1-4 masa post

partum. Cairan yang keluar merupakan darah segar sisa-sisa

selaput ketuban, sel-sel desuda, verniks kaseosa, lanugo

(rambut bayi) dan sisa meconium (feses janin).

(b) Lochea Sanguinolentra

Cairan ini berwarna merah kecoklatan dan berlendir.

Berlangsung selama hari ke 4-7 pasca persalinan, terdiri atas

darah dan sisa jaringan.

(c) Lochea Serosa

Berwarnah kuning kecoklatan karena mengandung serum,

leukosit dan robekan atau laserasi plasenta. Muncul pada hari

ke 6-14 pasca persalinan.


(d) Lochea Alba

Mengandung leukosit sel desidua, sel epitel, selaput lendir

serviks dan serabut jaringan yang mati. Berlangsung selama 2-

6 minggu pasca persalinan.

3) Serviks

Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus. Warna

serviks sendiri merah kehitaman karena penuh dengan pembuluh

darah. Konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat laserasi

(perlukaan kecil). Karena robekan kecil yang terjadi selama

dilatasi, serviks tidak pernah kembali pada keadaan sebelum

hamil.

Bentuknya seperti corong karena disebabkan oleh korpus

uteri yang mengadakan kontraksi, sedangkan serviks tidak

berkontraksi terdapat perbatasan antara korpus uteri dan serviks

berbentuk cincin.

Muara serviks yang berdilatasi 10 cm pada waktu

persalinan, menutup secara bertahap. Setelah bayi lahir, tangan

masih bisa masuk kedalam rongga rahim, setelah 2 jam dapat

dimasuki 2-3 jari dan pada minggu ke 6 pasca persalinan serviks

menutup.

4) Vulva dan vagina

Vulva dan vagina mengalami penekanan dan peregangan

yang sangat besar selama proses persalinan akan kembali secara

bertahap. Dalam 6-8 minggu post partum. Penurunan hormon


estrogen pada masa pasca persalinan berperan dalam penipisan

mukosa vagina dan hilangnya rugae. Rugae akan terlihat kembali

sekitar minggu ke 4.

b. Perubahan system pencernaan

Biasanya ibu mengalami obsitipasi setelah persalinan. Hal ini

disebabkan karena pada waktunya melahirkan pencernaan mendapat

tekanan yang menyebabkan kolon menjadi kosong, pengeluaran

cairan yang berlebihan saat persalinan (dehidrasi), kurang makan,

haemoroid, dan laserasi jalan lahir.

c. Perubahan system perkemihan

1) Dinding saluran kencing memperlihatkan oedema dan hyperemia.

Kadang-kadang oedema dari trigonum dan menimbulkan obstruksi

dan uretra sehingga terjadi retensio urin.

2) Kandung kencing masa nifas kurang sensitive dan kapasitas

bertambah sehinga kandung kencing penuh.

3) Sisa urin ini dan trauma pada dinding saluran kencing waktu

persalinan memudahkan terjadinya infeksi.

4) Ureter dan pelvisrenalis yang mengalami dilatasi kembali keadaan

sebelum hamil mulai dari 2-8 minggu setelah partus.

d. Perubahan system endokrin

Saat plasenta terlepas dari dinding uterus, kadar Hormon

Chrinonsis Gonadotropin (HCG), Human Plasental Lactogen (HPL),

secara berangsur menurun dan normal setelah 7 hari post partum.

1) Hormon Plasenta
Selama periode pasca persalinan terjadi perubahan hormone

yang signifikan. Pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan

signifikan hormon-hormon yang diproduksi oleh plasenta.

Penurunan hormon Human Plasental Lactogen (HPL), estrogen

dan progesterone serta plasenta enzyme insulinase membalik efek

diabetogenik kehamilan, sehingga kadar gula darah menurun,

Human Chrinonis Ganodoprin (HCG) menurun dan menetap

sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke 7 pasca persalinan dan

sebagai pemenuhan mamae pada hari ke tiga pasca persalinan.

2) Hormon Pituitary

Prolakin darah meningkat dengan cepat, pada wanita tidak

menyusui menurun dalam waktu 2 minggu. Follicle Stimulating

Hormon (FSH) dan Leutinizing Hormon (LH) meningkat pada

fase konsentrasi folikuler pada minggu ke 3 dan Leutinizing

Hoemon (LH) tetap rendah hingga ovulasi terjadi.

3) Hormone Oksitoksin

Oksitoksin dikeluarkan dari kelenjar bawah otak bagian

belakang (posterior), bekerja terhadap otot uterus dan jaringan

payudara. Selama tahap ketiga persalinan, oksitiksin menyebabkan

pemisahan plasenta. Kemudian seterusnya bertindak atas otot yang

menahan kontraksi, mengurangi tempat plasenta dan mencegah

perdarahan. Pada wanita yang memilih menyusui bayinya, isapan

sang bayi merangsang keluarnya oksitoksin dan ini membantu

uterus kembali ke bentuk normal dan pengeluaran air susu.


4) Hormone Pituitary Ovarium

Untuk wanita yang menyusui dan tidak menyusui akan

mempengaruhi lamanya ia mendapatkan menstruasi. Seringkali

menstruasi pertama bersifat anovulasi yang dikarenakan

rendahnya kadar estrogen dan progesteron. Diantara wanita laktasi

sekitar 15% memperoleh menstruasi selama 6 minggu dan 45%

setelah 12 minggu. Diantara wanita yang tidak laktasi 40%

menstruasi setelah 6 minggu, 65% setelah 12 minggu dan 90%

setelah 24 minggu. Untuk wanita laktasi 80% menstruasi pertama

anovulasi dan untuk wanita yang tidak laktasi 50% siklus pertama

menstruasi.

e. Perubahan system muskuloskeletal

1) Dinding perut biasanya pulih kembali setelah 6 minggu

2) Tulang-tulang sendi dan ligamentum kembali dalam waktu sekitar

3 bulan.

f. Perubahan tanda-tanda vita

1) Tekanan darah biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan

darah akan rendah setelah ibu melahirkan karena ada perdarahan

2) Suhu : kembali normal setelah selama persalinan sedikit

meningkat (37,3 Co)

3) Nadi : dalam batas normal, jika lebih 100x/menit abnormal dan

merupakan tanda-tanda infeksi atau terjadi perdarahan infeksi

4) Pernafasan : dalam batas normal

g. Perubahan system kardiovaskular


Segera setelah lahir, kerja jantung mengalami peningkatan 80%

lebih tinggi daripada sebelum persalinan Autotranfusi dan

Uterulasenter. Resistensi pembuluh perifer meningkat karena

hilangnya proses autoplasenter.

Volume darah turun seperti sebelum hamil dan viskositas

meningkat, tonus otot halus pada dinding pembuluh darah meningkat,

cardiac output kembali normal dan tekanan darah kembali stabil

setelah 3 minggu.

h. Perubahan Hematologi

Leukosit saat persalinan meningkat sampai 15.000 dan pada hari

pertama post partum meningkat kembali bisa mencapai 25.000 atau

30.000 Hemoglobin, Hematocrit, Eritricit, mengalami penurunan pada

awal post partum.

i. Perubahan system kelenjar mammae

1) Laktasi

Pada hari kedua post partum sejumlah kolostrum, cairan

yang disekresikan payudara selama lima hari pertama setelah

kelahiran bayi, dapat diperas dari putting susu.

Proses laktasi atau menyusui, kadar estrogen dan

progesterone serum menurun sejak 3 hari pasca persalinan dan

mencapai nilai prakehamilan pada hari ke-7. Proses laktasi timbul

setelah ari-ari atau plasenta lepas. Ari-ari mengandung hormon

penghambat Prolaktin (Hormon Plasenta) yang menghambat

pembentukan ASI.
Setelah ari0ari lepas, hormon plasenta tidak ada lagi

sehingga susupun keluar. ASI keluar 2-3 hari setelah melahirkan

namun, sebelumnya dipayudara suda terbentuk kolostrum yang

bagus sekali untuk bayi, karena mengandung banyak zat kaya gizi

dan antibody pembunuhan kuman (Serri 2009).

2) Kolostrum

Kolostrum banyak mengandung protein, yang sebagian

besar adalah globulin, dan lebih banyak mineral tetapi gula dan

lemak lebih sedikit. Meskipun demikian kolostrum mengandung

Globul lemak agak besar didalam yang disebut korpustel

kolestrum, yang oleh beberapa ahli dianggap merupakan sel-sel

epitel yang telah mengalami degenerasi lemak dan oleh ahli

dianggap sebagai fagosit mononuclear yang mengandung cukup

banyak lemak. Sekresi kolestrum bertahan selama sekitar lima

hari, dengan perubahan bertahap menjadi susu matur. Antibody

mudah ditemukan dalam kolestrum. Kandungan Immunoglobulin

A mungkin akan memberikan perlindungan pada neonates

melawan infeksi enterik (Mitayani 2013).

3) Air Susu

Komponen utama air susu adalah protein, air dan

lemak.protein utama dalam Air Susus Ibu disintesis di dalam

reticulum endoplasmik kasar sel sekretorik alveoli. Asam amino

esensial berasal dari darah, dan asam-asam amino non esensial


sebagian berasal dari darah atau distensi di dalam kelnjar

mammae.

Perubahan yang besar terjadi 30-40 jam post partum antara

lain peninggian mendadak konsentrasi laktosa. Sintesis laktosa

dari glukosa di dalam sel-sel sekretorik alveoli dikatalisis oleh

laktosa sintetis. Beberapa laktosa meluap masuk ke sirkulasi ibu

dan mungkin disekresi oleh ginjal dan ditemukan didalam urin

kecuali jika digunakan glukosa oksidase spesifik dalam pengujian

glikosuria.

Air susu manusia mengandung konsentrasi rendah zat besi.

Tetapi zat besi didalam air susu manusia absorbsinya lebih baik

daripada zat besi didalam susu sapi. Kelenjar mammae, seperti

kelnjar tiroid menghimpun iodium yang muncul dalam air susu

(Reader 2014).

5. Tahap Adaptasi Psikologis Masa Nifas

a. Fase Talking In

Fase ini merupakan fase ketergantungan yang berlangsung dari

hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat ini focus

perhatian ibu terutama pada bayinya sendiri. Kelelahannya membuat

ibu perlu cukup istirahat untuk mencegah gejala kurang tidur, seperti

mudah tersinggung. Hal ini membuat ibu cenderung menjadi pasif

terhadap lingkungannya.

Oleh karena itu, kondisi ini perlu dipahami dengan menjaga

komunikasi yang baik. Pada fase ini, perlu diperhatikan pemberian


ekstra makanan untuk proses pemulihannya, disamping nafsu makan

ibu yang sedang meningkat.

b. Fase Talking Hold

Fase ini berlangsung selama 3-10 hari setelah melahirkan. Fase

ini ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan dan tanggung

jawabnya dalam merawat bayi. Selain itu perasaan yang sangat

sensitive sehingga mudah tersinggung jika komunikasinya kirang hati-

hati. Oleh karena itu ibu memerlukan dukungan karena saat ini

merupakan kesempatan yang baik untuk menerima berbagai

penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga timbul rasa

percaya diri.

c. Fase Letting Go

Fase ini merypakan fase menerima tanggung jawab akan peran

barunya yang berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah

mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Keinginan

untuk merawat diri dan bayinya meningkat pada fase ini.

Ada kalanya ibu mengalami perasaan sedih yang berkaitan

dengan bayinya. Keadaan ini disebut dengan baby blues, yang

disebabkan oleh perubahan perasaan yang dialami ibu saat hamil,

sehingga sulit untuk menerima kehadiran bayinya. Perubahan

perasaan ini merupaka respon alami terhadap rasa lelah yang

dirasakan. Selain itu juga semua perubahan fisik dan emosional

selama beberapa bulan kehamilan.


Post partum blues ini dialami 80% wanita setelah bersalin

merupakan perasaan sedih dan uring-uringan yang melanda ibu dan

timbul dalam jangka waktu dua hari sampai dua minggu pasca

persalinan. Penyebab terjadinya dikarenakan berbagai perubahan yang

terjadi dalam tubuh wanita selama kehamilan da perubahan cara

hidupnya sesudah mempunyai bayi, perubahan hormonal, perubahan

kehilangan secara fisik sesudah melahirkan yang menjurus pada suatu

perasaan sedih.

Namun, penyebab yang sangat menonjol adalah adanya

kekecewaan emosional yang mengikuti rasa puas dan takut yang

dialami kebanyakan wanita selama kehamilan dan persalinan, rasa

takut pada masa nifas, kelelahan karena kurang tidur selama

persalinan, kecemasan ketidakmampuan merawat bayi setelah pulang

dari rumah sakit, dan rasa takut akan tidak menarik lagi bagi suami.

6. Masalah Yang Sering Muncul Pada Masa Nifas Atau Puerperium

a. Masalah Traktus Urinarius

Pada 24 jam pertama pasca persalinan, klien umumnya

menderita keluhan miksi akibat depresi pada reflek aktivitas detrusor

yang disebabkan oleh tekanan dasar vesika urinaria saat persalinan.

Keluhan ini bertambah hebat oleh karena adanya fase diuresis pasca

persalinan, bila perlu retensi urin dapat diatasi dengan melakukan

kateterisasi.

b. Masalah Pencernaan
Sejumlah pasien pasca persalinan mengeluh konstipasi yang

biasanya tidak memerlykan intervensi medis. Bila perlu dapat diberi

obat pencahar supositoria ringan (dulkolax). Haemaroid yang diderita

selama kehamilan akan menyebabkan rasa sakit pasca persalinan dan

keadaan ini memerukan intervensi medis.

c. Nyeri Punggung

Nyeri punggung sering dirasakan pada trimester ketiga

kehmilan dan menetap setelah persalinan pada masa nifas. Kejadian

ini terjadi pada 25% wanita dalam masa puerperium namun keluhan

ini dirasakan oleh 50% dari mereka sebelum kehamilan. Keluhan ini

menjadi semakin hebat bila mereka harus merawat anaknya sendiri.

d. Anemia

Resiko anemia dapat terjadi bila ibu mengalami perdarahan

yang banyak, apalagi sejak masa kehamilan ada riwayat kekurangan

darah.

Dimasa nifas, anemia biasanya menyebabkan Rahim susah

berkontraksi, ini karena darah tidak cukup memberikan oksigen ke

rahim, ibu yang mengidap anemia dengan kondisi membahayakan

apabila mengalami perdarahan post partum, maka harus diberikan

transfusi darah.

e. Perdarahan post partum (haemorhgic post partum/HPP)

Adalah perdarahan yang mengakibatkan kehilangan darah

yang lebih dari 500 cc pada periode pasca persalinan, penyebab

perdarahan post partum biasanya terjadi karena adanya robekan jalan


lahir (serviks, vagina dan perineum), robekan jalan dinding uterus,

inversion uteri dan retensio plasenta, si ibu bisa mengalami syok

hipovelemik, pusing, gelisah, mual, lokia berwarna merah, ekstremitas

teraba dingin, tampak pucat, nadi lemah dan tekanan darah rendah

(serri 2009).

f. Eklamsia dan Pre-eklamsia

Eklamsia dan pre-eklamsia ini biasanya disebut denga

keracunan pada kehamilan. Hal ini ditandai dengan munculnya darah

tinggi, odema atau pembengkakan pada tungkai dan bila diperiksa

hasil laboratorium urinnya terlihat mengandung protein. Dikatakan

eklamsia bila sudah terjadi kejang. Kalau hanya gejala atau tanda-

tandanya saja dikatakan pre-eklamsia. Gangguan ini merupakan

penyebab kematian ibu nomor satu. Penyebab dari eklamsia dan pre-

eklamsia belum dapat diketahui secara pasti.

Selama masa nifas dari hari kesatu sampai 28, ibu harus

mewaspadai munculnya gejala pre-eklamsia. Jika keadaannya

bertambah berat bisa terjadi eklamsia, dimana kesadaran hilang dan

tekanan darah meningkat tinggi sekali. Akibatnya tekanan darah

memicu batuk berdarah. Semuanya ini bisa menyebabkan kematian.

g. Infeksi masa nifas

Pada saat nifas, adanya darah yang keluar merupakan proses

pembersihan Rahim dari sel-sel sisa jaringan, darah, leukosit dan

lainnya. Oleh karena itu pada masa nifas ini belum boleh melakukan

hubungan seksual, dikarenakan jika langsung melakukan hubungan


seksual maka kotoran yang harusnya keluar dari Rahim ibu akan

kembali terbawa kedalam dan akhirnya akan menimbulkan infeksi.

Jika infeksi terjadi, maka ibu kan mengalami gejala demam

tinggi dan nifasnya berbau busuk. Selain itu Rahim bisa menjadi

lembek dan tak berkonsentrasi sehingga bisa terjadi perdarahan.

Meski infeksi ini jarang berakibat fatal, tapi bila terjadi komplikasi

bisa menyebabkan kematian.

7. Kebutuhan Dasar Ibu Nifas

Menurut (Nugroho, 2014) kebutuhan ibu masa nifas adalah :

a. Nutrisi dan cairan

Nutrisi atau gizi adalah zat yang diperlukan oleh tubuh untuk

keperluan matabolisme. Kebutuhan gizi pada masa nifas meningkat

25% karena berguna untuk proses kesembuhan karena setelah

melahirkan dan untuk memproduksi air susu yang cukup untuk bayi.

b. Ambulansi

Ambulasi dini disebut juga dengan early ambulation adalah

kebijakan untuk secepat mungkin untuk berjalan. Klien sudah

diperbolehkan bangun dari tempat tidur setelah 24-48 jam setelah

melahirkan. Kontraindikasi ambulansi dini yaitu pada klien dengan

penyakit misalnya anemia, penyakit jantung, penyakit paru dll.

Keuntungannya ambulansi dini adalah :

1) Klien merasa lebih baik, lebih sehat dan lebih kuat

2) Faal usus dan kandung kemih lebih baik

3) Dapat lebih cepat untuk mengajari ibu untuk merawat bayinya.


c. Eiminasi

1) Miksi

Buang air kecil normal apabila setiap 3-4 jam. Ibu

diusahakan untuk buang air kecil sendiri, bila tidak bisa maka

dilakukan tindakan :

a) Dirangsang dengan air mengalir didekatkan dengan klien.

b) Mengompres air hangat diatas simpisis pubis. Apabila tidak

berhasil maka bisa dilakukan dengan pemasangan kateter

2) Defekasi

Biasanya 1-2 hari setelah melahirkan masih sulit untuk

buang air besar. Jika pasien pada hari ke 3 belum buang air besar

maka diberikan supositoria dan minum air hangat. Agar bisa

buang air besar teratur maka perlu dilakukan diet, pemberian

cairan, serta olahraga.

d. Kebersihan diri

1) Perawatan perineum

Apabila setelah buang air besar atau buang air kecil

perineum dibersihkan secara rutin. Caranya dibersihkan dengan air

sabun yang lembut minimal sekali sehari. Dimulai dari simpisis

sampai anus sehingga tidak terjadi infeksi, ibu juga diberi tahu

untuk mengganti pembalut minimal 4 kali sehari. Aabila ada luka

episiotomy atau laserasi sarankan ibu untuk tidak menyentuh

daerah luka.

2) Perawatan payudara
Menjaga payudara tetap bersih dan kering terutama putting

susu dengan menggunakan BH menyokong payudara.

a) Apabila putting susu lecet, oleskan kolestrum atau ASI yang

keluar pada sekitar putting susu setiap kali menyusui.

Menyusui tetap dilakukan dimulai dari putting yang tisak lecet.

b) Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam,

ASI dikeluarkan dan diminumkan dengan sendok.

c) Untuk menghilangkan nyeri ibu dapat diberikan tablet

analgetik 4-6 jam.

e. Istirahat

Anjurkan ibu untuk istirahat yang cuup untuk mengurangi

kelelahan, istirahat selagi bayi masih tidur. Sehingga dapat

menyediakan waktu untuk istirahat siang hari kira-kira 2 jam dan

malam hari 7-8 jam. Kurangnya istirahat pada ibu masa nifas

mengakibatkan kurangnya kurangnya produksi ASI, memperlambat

involusi yang berakhirnya bisa menyebabkan perdarahan serta

depresi.

f. Senam nifas

Selama kehamilan dan persalinan ibu banyak mengalami

perubahan bentuk fisik seperti dinding perut mengendur, longgarnya

liang senggama dan otot dasar panggul. Untuk mengembalikan ke

keadaan normal dan menjaga kesehatan agar tetap prima, senam nifas

berupa gerakan-gerakan untuk mengencangkan otot, terutama otot-

otot perut yang mengendur akibat kehamilan.


g. Seksual

Secara seksual aman untuk memulai hubungan suami istri

begitu darah merah berhenti dan ibu sudah nyaman serta tidak

merasakan nyeri dapat melakukan hubungan seksual, namun banyak

budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri

sampai masa waktu tertentu misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu

setelah persalinan dan keputusan tergantung pada yang bersangkutan

(Icemi & Wahyi, 2013).

8. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan medis

a. Observasi ketat 2 jam post partum (adanya komplikasi-komplikasi

post partum)

b. 6-8 jam pasca persalinan : istirahat dan tidur tenang, usahakan miring

kanan kiri

c. Hari ke 1-2 memberikan KIE kebersihan diri, cara menyusui yang

benar dan perawatan payudara, perubahan-perubahan yang terjadi

pada masa nifas, pemberian informasi tentang senam nifas

d. Hari ke - 2 : mulai latihan duduk

e. Hari ke - 3 : diperkenankan latihan berdiri dan berjalan.