Anda di halaman 1dari 13

BAB I

KONSEP MEDIS

A. Definisi Paraplegia
Paraplegia merupakan paralysis permanen dari tubuh yang disebabkan
oleh luka atau penyakit yang dipengaruhi oleh medulla spinalis. (Sudoyo, dkk.
2006). Paraplegia adalah kondisi di mana bagian bawah tubuh (ekstermitas
bawah) mengalami kelumpuhan atau paralysis yang disebabkan karena lesi
transversal pada medulla spinalis. Paraplegia merupakan kehilangan gerak dan
sensasi pada ekstermitas bawah dan semua atau sebagian badan sebagai akibat
cedera pada torakal atau medulla. Spinalis lumbal atau radiks sakral.
(Smeilzer, Suzanne C, dkk. 2001).
B. Etiologi
Penyebab lesi total transversal medula spinalis meliputi :
1. Cedera Medula Spinalis Akibat Kecelakaan
2. Kista / Tumor: siringomielia, Meningioma, Schwannoma, Glioma,
Sarkoma. Dan tumor metastase.
3. Infeksi : spondilitis tuberkulosa, meningitis atau herpes zoster
4. Kelainan tulang vertebra: Kolaps tulang belakang yang terjadi karena
pengeroposan tulang akibat kanker, osteoporosis atau cedera yang hebat,
Artritis degeneratif (osteoartritis) yang menyebabkan terbentuknya
penonjolan tulang yang tidak beraturan (taji tulang) yang menekan akar
saraf, Stenosis spinalis (penyempitan rongga di sekitar korda spinalis),
sering terjadi pada usia lanjut
5. Hematoma Spinalis.

C. Patofisiologi dan Gejala Klinis


Akibat lesi di medula spnalis dapat terjadi manifestasi:
1. Gangguan fungsi motorik
a. Gangguan motorik di tingkat lesi:. Karena lesi total juga merusak
kornu anterior medula spinalis dapat terjadi kelumpuhan LMN pada
otot-otot yang dipersyarafi oleh kelompok motoneuron yang terkena
lesi dan menyebabkan nyeri punggung yang terjadi secara tiba-tiba.
b. Gangguan motorik di bawah lesi: dapat terjadi kelumpuhan UMN
karena jaras kortikospinal lateral segmen thorakal terputus.
c. Gerakan refleks tertentu yang tidak dikendalikan oleh otak akan tetap
utuh atau bahkan meningkat. Contohnya, refleks lutut tetap ada dan
bahkan meningkat. Meningkatnya refleks ini menyebabkan kejang
tungkai. Refleks yang tetap dipertahankan menyebabkan otot yang
terkena menjadi memendek, sehingga terjadi kelumpuhan jenis
spastik. Otot yang spastik teraba kencang dan keras dan sering
mengalami kedutan.
2. Gangguan fungsi sensorik : karena lesi total juga merusak kornu posterior
medula spinalis maka akan terjadi penurunan atau hilang fungsi
sensibilitas dibawah lesi. Sehingga klien tidak dapat merasakan adanya
rangsang taktil, rangsang nyeri, rangsang thermal, rangsang discrim dan
rangsang lokalis.
3. Gangguan fungsi autonom: karena terputusnya jaras ascenden
spinothalamicus maka klien akan terjadi kehilangan perasaan akan kencing
dan alvi.

D. Pemeriksaan penunjang
1. Laboratorium:
a. Hematology:
1) Hemoglobin dapat menurun karena destruksi sumsum tulang
vertebra atau perdarahan.
2) Peningkatan Leukosit menandakan selain adanya infeksi juga
stress fisik ataupun terjadi kematian jaringan.
b. Kimia klinik:
1) PT / PTT untuk melihat fungsi pembekuan darah sebelum
pemberian terapi antikoagulan. Dapat terjadi gangguan elektrolit
karena terjadi gangguan dalam fungsi perkemihan, dan fungsi
gastrointerstinal.
2) Radiodiagnostik:
a) CT Scan: untuk melihat adanya edema, hematoma, iskemi
dan infark
b) MRI : menunjukkan daerah yang mengalami fraktur, infark,
hemoragik.
c) Rontgen: menunjukkan daerah yang mengalami fraktur, dan
kelainan tulang, gambaran infeksi TB paru.

E. Penatalaksanaan
1. Penatanalaksanaan Medis
a. Obat
1) Metyl prednisolon 30 mg/kb BB, 45 menit setelah bolus selama
23 jam. Hasil optimal bila pemberian dilakukan <8 jam onset.
2) Tambahkan profilaksi stress ukus: Antacid/antagonis H2. Jika
pemulihan sempurna, pengobatan tidak diperlukan
3) Berikan Antibiotik, biasanya untuk menyembuhkan. Jika terjadi
infeksi.
b. Operasi
Dengan menggunakan teknik Harrison roda stabilization (instrument
Harrison) yaitu menggunakan batang distraksi baja tahan karat untuk
mengoreksi dan stabilisasi deformitas vertebra.
2. Penatanalaksanaan Keperawatan
a. Memberikan alat bantu
b. Pemanasan dengan air hangat atau sinar
c. Latihan : disebut dengan Range of Motion (ROM) untuk mengetahui
luas gerak sendi
d. Refleksi Ganda : Penekukan maksimal pada jari kaki keempat.
e. Refleksi Bing : Memberikan rangsangan tusuk pada kulit yang
menutupi metatarsal kelima.
BAB II
KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas klien
Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis
kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan
jam MRS, nomor register, diagnose medis.
2. Keluhan utama
Biasanya didapatkan laporan kelemahan dan kelumpuhan
ekstrimitas, inkontinensia defekasi dan berkemih
3. Riwayat penyakit sekarang
Biasanya terjadi riwayat trauma, pengkajian yang didapat meliputi
hilanya sensibilitas, paralisis, ieus paralitik, retensi urine, hilangnya
refleks.
4. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat infeksi, tumor, cedera tulang belakang, DM,
jantung, anemia, obat antikoagulan, alkohol.
5. Riwayat penyakit keluarga
Mengkaji adanya generasi dahulu yang menderita hipertensi atau
DM.
6. Pola-pola fungsi kesehatan
a) Aktifitas /Istirahat
Kelumpuhan otot (terjadi kelemahan selama syok pada bawah
lesi. Kelemahan umum /kelemahan otot (trauma dan adanya kompresi
saraf).
b) Sirkulasi
Hipotensi, Hipotensi posturak, bradikardi, ekstremitas dingin dan
pucat.
c) Eliminasi
Retensi urine, distensi abdomen, peristaltik usus hilang, melena,
emisis berwarna seperti kopi tanah /hematemesis.
d) Integritas Ego
Takut, cemas, gelisah, menarik diri.
e) Makanan /cairan
Mengalami distensi abdomen, peristaltik usus hilang (ileus paralitik)
f) Higiene
Sangat ketergantungan dalam melakukan aktifitas sehari-hari
(bervariasi)
g) Neurosensori
Kesadaran: GCS
Fungsi motorik: Kelumpuhan, kelemahan
Fungsi sensorik: Kehilangan sensasi / sensibilitas.
Refleks fisiologis: Kehilangan refleks /refleks asimetris termasuk
tendon dalam. Kehilangan tonus otot /vasomotor,
Refleks patologis: munculnya refleks patologis,
Perubahan reaksi pupil, ptosis, hilangnya keringat bagian tubuh yang
terkena karena pengaruh trauma spinal.
h) Nyeri /kenyamanan
Mengalami deformitas, postur, nyeri tekan vertebral.
i) Pernapasan
Pernapasan dangkal, periode apnea, penurunan bunyi napas, ronki,
pucat, sianosis.
j) Keamanan
Suhu yang berfluktasi, jatuh.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Hambatan mobilitas fisik
2. Resiko kerusakan integritas kulit
3. Retensi urine.
4. Konstipasi.
5. Nyeri

C. Intervensi
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
Gangguan mobilitas NOC : NIC :
fisik  Joint Movement : Exercise therapy : ambulation
Active  Monitoring vital sign
Berhubungan dengan :
- Gangguan  Mobility Level sebelm/sesudah latihan dan lihat
 Self care : ADLs respon pasien saat latihan
metabolisme sel
 Transfer performance  Konsultasikan dengan terapi fisik
- Keterlembatan
Setelah dilakukan tentang rencana ambulasi sesuai
perkembangan
tindakan keperawatan dengan kebutuhan
- Pengobatan
- Kurang support selama….gangguan  Bantu klien untuk menggunakan
lingkungan mobilitas fisik teratasi tongkat saat berjalan dan cegah
dengan kriteria hasil: terhadap cedera
- Keterbatasan ketahan  Klien meningkat  Ajarkan pasien atau tenaga
kardiovaskuler dalam aktivitas fisik kesehatan lain tentang teknik
- Kehilangan integritas  Mengerti tujuan dari ambulasi
struktur tulang peningkatan mobilitas  Kaji kemampuan pasien dalam
- Terapi pembatasan  Memverbalisasikan mobilisasi
gerak perasaan dalam  Latih pasien dalam pemenuhan
- Kurang pengetahuan meningkatkan kebutuhan ADLs secara mandiri
tentang kegunaan kekuatan dan sesuai kemampuan
pergerakan fisik kemampuan  Dampingi dan Bantu pasien saat
- Indeks massa tubuh berpindah mobilisasi dan bantu penuhi
diatas 75 tahun  Memperagakan kebutuhan ADLs ps.
percentil sesuai penggunaan alat  Berikan alat Bantu jika klien
dengan usia Bantu untuk memerlukan.
- Kerusakan persepsi mobilisasi (walker)  Ajarkan pasien bagaimana
sensori merubah posisi dan berikan
- Tidak nyaman, nyeri bantuan jika diperlukan
- Kerusakan
muskuloskeletal dan
neuromuskuler
- Intoleransi
aktivitas/penurunan
kekuatan dan stamina
- Depresi mood atau
cemas
- Kerusakan kognitif
- Penurunan kekuatan
otot, kontrol dan atau
masa
- Keengganan untuk
memulai gerak
- Gaya hidup yang
menetap, tidak
digunakan,
deconditioning
- Malnutrisi selektif
atau umum
DO:
- Penurunan waktu
reaksi
- Kesulitan merubah
posisi
- Perubahan gerakan
(penurunan untuk
berjalan, kecepatan,
kesulitan memulai
langkah pendek)
- Keterbatasan motorik
kasar dan halus
- Keterbatasan ROM
- Gerakan disertai nafas
pendek atau tremor
- Ketidak stabilan posisi
selama melakukan
ADL
- Gerakan sangat lambat
dan tidak
terkoordinasi

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
Kerusakan integritas NOC : NIC : Pressure Management
kulit berhubungan Tissue Integrity : Skin and Anjurkan pasien untuk menggunakan
dengan : Mucous Membranes pakaian yang longgar
Eksternal : Wound Healing : primer Hindari kerutan pada tempat tidur
- Hipertermia atau dan sekunder Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih
hipotermia Setelah dilakukan dan kering
- Substansi kimia tindakan keperawatan Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien)
- Kelembaban selama….. kerusakan setiap dua jam sekali
- Faktor mekanik integritas kulit pasien Monitor kulit akan adanya kemerahan
(misalnya : alat yang teratasi dengan kriteria Oleskan lotion atau minyak/baby oil
dapat menimbulkan hasil: pada derah yang tertekan
luka, tekanan,  Integritas Monitor aktivitas dan mobilisasi
restraint) kulit yang baik bisa pasien
- Immobilitas fisik dipertahankan Monitor status nutrisi pasien
- Radiasi (sensasi, elastisitas, Memandikan pasien dengan sabun
- Usia yang ekstrim temperatur, hidrasi, dan air hangat
- Kelembaban kulit pigmentasi) Kaji lingkungan dan peralatan yang
- Obat-obatan  Tidak ada menyebabkan tekanan
Internal : luka/lesi pada kulit Observasi luka : lokasi, dimensi,
- Perubahan status  Perfusi kedalaman luka, karakteristik,warna
metabolik jaringan baik cairan, granulasi, jaringan nekrotik,
- Tonjolan tulang  Menunjuk tanda-tanda infeksi lokal, formasi
- Defisit imunologi kan pemahaman traktus
- Berhubungan dengan dalam proses Ajarkan pada keluarga tentang luka
dengan perbaikan kulit dan dan perawatan luka
perkembangan mencegah terjadinya Kolaburasi ahli gizi pemberian diae
- Perubahan sensasi sedera berulang TKTP, vitamin
- Perubahan status  Mampu Cegah kontaminasi feses dan urin
nutrisi (obesitas, melindungi kulit dan Lakukan tehnik perawatan luka
kekurusan) mempertahankan dengan steril
- Perubahan status kelembaban kulit dan Berikan posisi yang mengurangi
cairan perawatan alami tekanan pada luka
- Perubahan  Menunjuk
pigmentasi kan terjadinya proses
- Perubahan sirkulasi penyembuhan luka
- Perubahan turgor
(elastisitas kulit)

DO:
- Gangguan pada
bagian tubuh
- Kerusakan lapisa
kulit (dermis)
- Gangguan permukaan
kulit (epidermis)

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
Retensi urin NOC: NIC :
berhubungan dengan:  Urinary elimination Urinary Retention Care
Tekanan uretra  Urinary Contiunence - Monitor intake dan output
tinggi,blockage, Setelah dilakukan - Monitor penggunaan obat
hambatan reflek, tindakan keperawatan antikolinergik
spingter kuat selama …. retensi urin - Monitor derajat distensi bladder
DS: pasien teratasi dengan - Instruksikan pada pasien dan
- Disuria kriteria hasil: keluarga untuk mencatat output
- Bladder terasa  Kandung kemih urine
penuh kosong secarapenuh - Sediakan privacy untuk eliminasi
DO :  Tidak ada residu urine - Stimulasi reflek bladder dengan
- Distensi bladder >100-200 cc kompres dingin pada abdomen.
- Terdapat urine  Intake cairan dalam - Kateterisaai jika perlu
residu rentang normal - Monitor tanda dan gejala ISK
- Inkontinensia tipe  Bebas dari ISK (panas, hematuria, perubahan bau
luapan  Tidak ada spasme dan konsistensi urine)
- Urin output bladder
sedikit/tidak ada  Balance cairan
seimbang

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
Konstipasi berhubungan NOC: NIC :
dengan  Bowl Elimination Manajemen konstipasi
o Fungsi:kelemahan otot  Hidration - Identifikasi faktor-faktor yang
abdominal, Aktivitas Setelah dilakukan menyebabkan konstipasi
fisik tidak mencukupi tindakan keperawatan - Monitor tanda-tanda ruptur
o Perilaku defekasi tidak selama …. konstipasi bowel/peritonitis
teratur pasien teratasi dengan - Jelaskan penyebab dan
o Perubahan lingkungan kriteria hasil: rasionalisasi tindakan pada pasien
o Toileting tidak adekuat:  Pola BAB dalam - Konsultasikan dengan dokter
posisi defekasi, privasi batas normal tentang peningkatan dan
o Psikologis: depresi,  Feses lunak penurunan bising usus
stress emosi, gangguan  Cairan dan serat - Kolaburasi jika ada tanda dan
mental adekuat gejala konstipasi yang menetap
o Farmakologi: antasid,  Aktivitas adekuat - Jelaskan pada pasien manfaat diet
antikolinergis,  Hidrasi adekuat (cairan dan serat) terhadap
antikonvulsan, eliminasi
antidepresan, kalsium - Jelaskan pada klien konsekuensi
karbonat,diuretik, besi, menggunakan laxative dalam
overdosis laksatif, waktu yang lama
NSAID, opiat, sedatif. - Kolaburasi dengan ahli gizi diet
o Mekanis: tinggi serat dan cairan
ketidakseimbangan - Dorong peningkatan aktivitas
elektrolit, hemoroid, yang optimal
gangguan neurologis, - Sediakan privacy dan keamanan
obesitas, obstruksi pasca selama BAB
bedah, abses rektum,
tumor
o Fisiologis: perubahan
pola makan dan jenis
makanan, penurunan
motilitas gastrointestnal,
dehidrasi, intake serat
dan cairan kurang,
perilaku makan yang
buruk
DS:
- Nyeri perut
- Ketegangan perut
- Anoreksia
- Perasaan tekanan pada
rektum
- Nyeri kepala
- Peningkatan tekanan
abdominal
- Mual
- Defekasi dengan nyeri
DO:
- Feses dengan darah
segar
- Perubahan pola BAB
- Feses berwarna gelap
- Penurunan frekuensi
BAB
- Penurunan volume feses
- Distensi abdomen
- Feses keras
- Bising usus
hipo/hiperaktif
- Teraba massa abdomen
atau rektal
- Perkusi tumpul
- Sering flatus
- Muntah

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
Nyeri akut berhubungan NOC : NIC :
dengan:  Pain Level,  Lakukan pengkajian nyeri secara
Agen injuri (biologi,  pain control, komprehensif termasuk lokasi,
kimia, fisik, psikologis),  comfort level karakteristik, durasi, frekuensi,
kerusakan jaringan Setelah dilakukan kualitas dan faktor presipitasi
tinfakan keperawatan  Observasi reaksi nonverbal dari
DS: selama …. Pasien tidak ketidaknyamanan
- Laporan secara verbal mengalami nyeri, dengan  Bantu pasien dan keluarga untuk
DO: kriteria hasil: mencari dan menemukan dukungan
- Posisi untuk menahan  Mampu mengontrol  Kontrol lingkungan yang dapat
nyeri nyeri (tahu penyebab mempengaruhi nyeri seperti suhu
- Tingkah laku berhati- nyeri, mampu ruangan, pencahayaan dan
hati menggunakan tehnik kebisingan
- Gangguan tidur (mata nonfarmakologi untuk  Kurangi faktor presipitasi nyeri
sayu, tampak capek, mengurangi nyeri,  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
sulit atau gerakan kacau, mencari bantuan) menentukan intervensi
menyeringai)  Melaporkan bahwa  Ajarkan tentang teknik non
- Terfokus pada diri nyeri berkurang dengan farmakologi: napas dala, relaksasi,
sendiri menggunakan distraksi, kompres hangat/ dingin
- Fokus menyempit manajemen nyeri  Berikan analgetik untuk
(penurunan persepsi  Mampu mengenali nyeri mengurangi nyeri: ……...
waktu, kerusakan proses (skala, intensitas,  Tingkatkan istirahat
berpikir, penurunan frekuensi dan tanda  Berikan informasi tentang nyeri
interaksi dengan orang nyeri) seperti penyebab nyeri, berapa lama
dan lingkungan)  Menyatakan rasa nyeri akan berkurang dan antisipasi
- Tingkah laku distraksi, nyaman setelah nyeri ketidaknyamanan dari prosedur
contoh : jalan-jalan, berkurang  Monitor vital sign sebelum dan
menemui orang lain  Tanda vital dalam sesudah pemberian analgesik
dan/atau aktivitas, rentang normal pertama kali
aktivitas berulang-  Tidak mengalami
ulang) gangguan tidur
- Respon autonom
(seperti diaphoresis,
perubahan tekanan
darah, perubahan nafas,
nadi dan dilatasi pupil)
- Perubahan autonomic
dalam tonus otot
(mungkin dalam rentang
dari lemah ke kaku)
- Tingkah laku ekspresif
(contoh : gelisah,
merintih, menangis,
waspada, iritabel, nafas
panjang/berkeluh kesah)
- Perubahan dalam nafsu
makan dan minum
DAFTAR PUSTAKA

Sudoyo, Aru W dkk. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jarkarta: Departemen
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Smeltzer C, Suzanne, dan Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medical
Bedah Brunner & Suddarth, Edisi 8, Alih Bahasa Agung Waluyo. Jakarta: EGC
Carpenito L. J. 2006. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan
dan pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3. Jakarta: EGC
Wilkinson, J. M. 2009. Buku Saku Diagnosis Keperawatan NANDA NIC NOC, Edisi
9. Jakarta: EGC
NANDA International. 2009. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-
2011. Jakarta: EGC