Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN HOME VISIT DOKTER KELUARGA

Berkas Pembinaan Keluarga


Puskesmas Krian No.RM : 0010262

Nama Pembimbing : dr. Ratna Dewi Rahmawati


Nama Dokter Muda : Muhammad Ridwan Fauzi, S.Ked
Tanggal kunjungan pertama kali 3 Mei 2017

KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA


Nama Kepala Keluarga : Tn. A
Alamat lengkap : Dsn. Jatisari, Ds. Jatikalang, Kec. Krian, Kab.
Sidoarjo
Bentuk Keluarga : Nuclear Family

No Nama Kedudukan L/P Umur Pendidikan Pekerjaan Pasien Ket


dalam (tahun) Puskesmas
keluarga (Y/T)
1 Tn. A Kepala L 39 SMA Swasta T
keluarga
(Ayah pasien)
2 Ny. S Ibu Pasien P 38 SMA Buruh T
Pabrik
3 An. A Kakak pasien P 13 SMP Pelajar T

4 An. F Pasien L 7 SD Pelajar Y Demam Berdarah


Dengue
Tabel 2. Daftar anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah
Sumber : Keterangan Keluarga

27
BAB I
HASIL KUNJUNGAN

II. Status Pasien


Identitas Pasien
Nama : An. F
Umur : 7 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Pelajar
Pendidikan : SD
Agama : Islam
Alamat : Dsn. Jatisari, Ds. Jatikalang, Kec. Krian, Kab. Sidoarjo
Suku : Jawa
Tanggal periksa : 29 April 2017
Tanggal home visite : 3 Mei 2017

Anamnesis
III. Keluhan utama : Panas

IV. Riwayat penyakit sekarang :


Pasien datang ke IGD dengan keluhan panas sejak 2 hari. Panas
dirasakan terus-menerus, semakin meninggi setiap harinya. Keluhan
disertai dengan menggigil dan nyeri kepala berdenyut.. Pasien juga
mengeluh nyeri pada otot badan dan sendi. Nyeri terasa seperti ditusuk-
tusuk. Nyeri terutama dirasakan di tangan dan kaki. Nyeri tidak memberat
atau berkurang dengan aktifitas ataupun istirahat. Selain itu pasien juga
mengeluh mual. Mual dirasakan terus - menerus, semakin memberat ketika
makan. Pasien tidak mengeluh muntah, keluar darah dari hidung, nyeri ulu
hati, ataupun keluar bintik merah di tangan dan kaki. Nafsu makan
berkurang. BAB terakhir 3 hari yang lalu. BAK lancar, berwarna jernih,
tidak nyeri.

28
1. Riwayat penyakit dahulu:
- Riwayat sakit seperti ini : Disangkal
- Riwayat kelahiran : Lahir normal di bidan, dengan BBL
3,3 kg
- Riwayat ASI : Mendapatkan ASI sampai usia
6 bulan
- Riwayat imunisasi : Lengkap, bekas BCG (+)
- Riwayat asma : Disangkal
- Riwayat alergi obat/makanan : Disangkal
- Riwayat kejang : Disangkal
2. Riwayat pengobatan :
Pasien tidak pernah mengkonsumsi obat untuk mengurangi keluhannya.
3. Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan serupa
V. Riwayat kebiasaan
VI. Makan : Pasien sehari – harinya makan 3 kali sehari (nasi,
sayur, tahu, tempe), terkadang makan daging ayam
dan ikan.
VII. Kebersihan badan : Mandi 2x sehari
VIII. Olah raga : 1 minggu sekali

IX. Riwayat sosial ekonomi


Pasien merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Pasien tinggal
di rumah bersama dengan kedua orang tua, kakak kandung, kakak ipar,
dan dua keponakan. Ayah pasien bekerja sebagai buruh pabrik dan ibu
bekerja sebagai IRT.
Rumah pasien terletak di desa, kondisi rumah yang kecil dan
banyak perabotan. Lingkungan di sekitar rumah kurang bersih, terdapat
tanah kosong yang ditumbuhi rumput liar dan sampah yang dibuang
warga setempat di tanah kosong tersebut. Rumah berukuran 12x7 m2
dan letaknya berdekatan dengan rumah tetangga. Ventilasi rumah

29
kurang, cahaya matahari kurang, hanya dapat masuk dari sisi kiri dan
depan rumah. Rumah pasien terletak berdekatan dengan sungai dan pada
daerah rumah pasien tidak ada tempat pembuangan sampah, jadi sampah
dibakar di tanah kosong.
Kondisi air sumur di daerah tempat tinggal pasien keruh , berwarna
kecoklatan. Air sumur hanya digunakan untuk mandi dan mencuci
pakaian, sedangkan untuk minum dan masak memakai air isi ulang.
X. Riwayat Gizi.
Pasien sehari-hari makan 3 kali sehari dengan nasi dan lauk-pauk seadanya
seperti sayur, tempe, tahu terkadang ayam dan ikan
Anamnesis Sistem
1. Kulit : warna kulit sawo matang, kulit gatal (-), ptekie (+)
2. Kepala : sakit kepala (+), pusing (+), rambut kepala tidak rontok,
luka pada kepala (-), benjolan/borok di kepala (-)
3. Mata : pandangan mata berkunang-kunang (-), penglihatan
kabur (-),
4. Hidung : tersumbat (-), mimisan (-)
5. Telinga : pendengaran berkurang (-), berdengung (-), keluar cairan (-)
6. Mulut : sariawan (-), mulut kering (-), lidah terasa pahit(-)
7. Tenggorokan : sakit menelan (-), serak (-)
8. Pernafasan : sesak nafas (-), batuk lama (-), mengi (-),
batuk darah (-)
9. Kadiovaskuler : berdebar-debar (-), nyeri dada (-)
10. Gastrointestinal : mual (+), muntah (-), diare (-), nafsu makan
menurun (+) , nyeri perut (-), terakhir BAB 3 hari yang
lalu.
11. Genitourinaria : BAK lancar
12. Neuropsikiatri : Neurologik : kejang (-), lumpuh (-)
Psikiatrik : emosi stabil, mudah marah (-)
13. Muskuloskeletal : nyeri sendi dan otot (+), kesemutan pada kaki (-)
14. Ekstremitas : Atas : bengkak (-), sakit (-)

30
Bawah : bengkak (-), sakit (-)
a. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum
Cukup, kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6), kesan gizi lebih
2. Tanda Vital dan Status Gizi
Tanda Vital
Nadi : 90 x/menit, reguler, isi cukup, simetris
Pernafasan : 18 x/menit
Suhu : 38,8 ºC
Tensi : 120/70 mmHg
Status gizi ( Kurva NCHS ) :
BB : 60 kg
TB : 152 cm
IMT = BB = 60 = 25,97
(TB)2 (1,52)2
BMI < 18,5 = Kurang
BMI 18,5 – 23,9 = Normal
BMI 25 – 26,9 = Gemuk (gizi lebih)
BMI ≥27 = Obesitas
Status gizi Gemuk
3. Kulit
Warna : Sawo matang, ikterik (-), sianosis (-), ptekie (+)
Kepala : Bentuk normocephal, tidak ada luka, rambut tidak mudah
dicabut, atrofi m. temporalis (-), makula (-), papula (-),
nodula (-), kelainan mimik wajah/bells palsy (-).
4. Mata
Konjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor (3mm/3mm), reflek
kornea (+/+), warna kelopak (coklat kehitaman), katarak (-/-),
radang/conjunctivitis/uveitis (-/-)

31
5. Hidung
Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-), deformitas hidung (-),
hiperpigmentasi (-), sadle nose (-)
6. Mulut
Bibir pucat (-), bibir kering (-), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-), tepi
lidah hiperemis (-), tremor (-)
7. Telinga
Nyeri tekan mastoid (-), sekret (-), pendengaran berkurang (-), cuping
telinga dalam batas normal
8. Tenggorokan
Tonsil membesar (-), pharing hiperemis (-)
9. Leher
JVP tidak meningkat, trakea ditengah, pembesaran kelenjar tiroid (-),
pembesaran kelenjar limfe (-), lesi pada kulit (-)
10. Thoraks
Simetris, retraksi interkostal (-), retraksi subkostal (-)
- Cor :I : ictus cordis tak tampak
P : ictus cordis tak kuat angkat
P : batas kiri atas :SIC II 1 cm lateral LPSS
batas kanan atas :SIC II LPSD
batas kiri bawah :SIC V 1 cm lateral LMCS
batas kanan bawah :SIC IV LPSD
batas jantung kesan tidak melebar
A: BJ I–II intensitas normal, regular, bising (-)
- Pulmo: depan dan belakang)
I : pengembangan dada kanan sama dengan kiri
P : fremitus raba kiri sama dengan kanan
P : sonor/sonor
A: suara dasar vesikuler (+/+)
suara tambahan rhochi(-/-), whezing (-/-)

32
11. Abdomen
I : dinding perut datar
P : supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tak teraba
P : timpani seluruh lapang perut
A : peristaltik (+) normal
12. Sistem Collumna Vertebralis
I : deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-)
P : nyeri tekan (-)
P : NKCV (-)
13. Ektremitas: palmar eritema(-/-) hiperemi pada jari (-),atrofi otot (-/-)
akral dingin oedem Ptekie
+ + - -
+ + - -

14. Sistem genetalia: dalam batas normal


15. Pemeriksaan Neurologik
Fungsi Luhur : dalam batas normal
Fungsi Vegetatif : dalam batas normal
Fungsi Sensorik : dalam batas normal
Fungsi motorik :
K 5 5 T N N RF N N RP - -
5 5 N N N N - -
16. Pemeriksaan Psikiatrik
Penampilan : sesuai umur, perawatan diri cukup
Kesadaran : kualitatif tidak berubah; kuantitatif compos mentis
Afek : appropriate
Psikomotor : normoaktif
Proses pikir : bentuk : realistik
isi : waham (-), halusinasi (-), ilusi (-)
arus : koheren

33
Insight : baik
b. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan test rumple leed : tidak dilakukan
Pemeriksaan darah lengkap di Puskesmas Barengkrajan
Hasil pemeriksaan
No. Pemeriksaan
29 April’17 2 Mei’17
1. Hb 15,6 gr/dl -
2. PCV 43 % -
3. Trombosit 55.000 160000
4. Leukosit 10.000 -
5. Widal 1/80 -

c. Resume
Pasien datang ke IGD dengan keluhan panas sejak 2 hari. Panas
dirasakan terus-menerus, semakin meninggi setiap harinya. Keluhan
disertai dengan menggigil dan nyeri kepala berdenyut.. Pasien juga
mengeluh nyeri pada otot badan dan sendi. Nyeri terasa seperti ditusuk-
tusuk. Nyeri terutama dirasakan di tangan dan kaki. Nyeri tidak memberat
atau berkurang dengan aktifitas ataupun istirahat. Selain itu pasien juga
mengeluh mual. Mual dirasakan terus- menerus, semakin memberat ketika
makan. Nafsu makan berkurang.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum cukup, kesadaran
compos mentis (GCS E4V5M6), kesan gizi lebih. Tanda vital T:120/70
mmHg, N: 90x/menit, RR: 18 x/menit, S:38,8 0C, BB: 60 kg, TB: 152 cm,
status gizi lebih. Pada pemeriksaan fisik, di dapatkan ptekie di ekstrimitas
superior dan inferior. Pada pemeriksaan darah lengkap didapatkan trombosit
55.000.

d. Penatalaksanaan

34
Non farmakologi
1. Bed Rest
Agar virus penyebab Demam Berdarah Dengue tersebut tidak
semakin merajalela didalam tubuh penderita, maka akan sangat penting
untuk menjaga kondisi tubuh. Untuk menjaga tubuh agar tetap
berstamina, maka akan sangat penting apabila penderita istirahat secara
cukup, selain istiharat yang cukup, penderita tidak diperkenankan
untuk melakukan aktivitas yang berat dan menguras banyak tenaga.
2. Minum air putih yang banyak
Pada penderita penyakit demam berdarah biasanya mereka akan
mengalami dehidrasi karena banyak kehilangan cairan, gejala dehidrasi
ini ditandai dengan rasa haus yang berlebihan, maka dari itu agar
penderita tidak mengalami dehidrasai berikan minum air sebanyak-
banyaknya hingga tidak terasa haus lagi, air yang baik untuk penderita
demam berdarah adalah air putih atau air mineral.
3. Mengkonsumsi sari buah yang bisa mempercepat produksi trombosit,
misalnya : sari jambu merah, sari buah naga, dan sari kurma.

Farmakologi
Tidak ada terapi spesifik. Terapi bersifat suportif. Tindakan paling
penting adalah pemeliharan volume cairan sirkulasi.
Perhimpunan Dokter Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) bersama
dengan divisi penyakit tropik dan infeksi dan divisi hematologi dan
onkologi klinik FK UI telah menyusun protokol penatalaksanaan DBD
pada pasien dewasa berdasarkan kriteria :
– Protokol 1 : Penanganan tersangka (probable) DBD dewasa tanpa
syok
– Protokol 2: Pemberian cairan pada tersangka DBD dewasa di ruang
rawat
– Protokol 3 : Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan hematokrit
>20%
– Protokol 4 : Penatalaksanaan perdarahan spontan pada DBD dewasa
– Protokol 5 : Tatalaksana sindrom syok Dengue pada dewasa

Protokol 1 (tersangka DBD tanpa syok)

35
Pemeriksaan di UGD
Indikasi rawat inap :
1. DBD dengan syok, disertai atau tidak dengan perdarahan.
2. DBD dengan perdarahan masif dengan atau tanpa syok.
3. DBD tanpa perdarahan masif dengan:
· Hb, Ht normal dengan trombosit <100.000/mm
· Hb, Ht yang meningkat dg trombositopenia <150.000/mm3
Protokol 2 (tersangka DBD di ruang rawat)
• Pasien DBD tanpa perdarahan spontan dan masif, tanpa syok.
• Diberikan cairan kristaloid.
• Kebutuhan cairan perhari:

1500 + {20 x (BB dlm kg – 20)}


Contoh BB 55 kg:
1500 + {20 x (55 – 20)} = 2200 ml
Protokol 3 ( DBD dengan Ht > 20%)
• Peningkatan Ht > 20% tubuh mengalami defisit cairan 5%.
• Pada keadaan ini terapi awal berikan infus cairan kristaloid 6-7
ml/kgBB/jam dievaluasi setelah 3-4 jam.
• Bila membaik, kurangi menjadi 5 ml/kgbb/jam, evaluasi setelah 2 jam.
• Bila membaik, kurangi menjadi 3 ml/kgbb/jam.
• Infus dihentikan setelah 24-48 jam.
• Jika setelah pemberian 6-7ml/kgbb/jam kondisi tidak membaik (Ht &
nadi meningkat, tekanan nadi turun <20mmHg, produksi urin
berkurang, naikkan menjadi 10ml/kgbb/jam, evaluasi setelah 2 jam.
• Bila membaik turunkan 5 ml/kgbb/jam, bila memburuk naikkan
menjadi 15 ml/kgbb/jam.
• Bila memburuk, lakukan tatalaksana syok.

Protokol 4 (Perdarahan spontan pada DBD)


• Perdarahan spontan dan masif adalah : epistaksis yang tak terkendali,
perdarahan Saluran cerna, saluran kencing, otak atau tersembunyi
sebanyak 4-5 ml/kgbb/jam.
• Pemberian cairan tetap seperti keadaan DBD tanpa syok lannya.
• Pemeriksaan tanda vital (TD, TN, Pernafasan) dan jumlah urin
sesering mungkin.

36
• Pemeriksaan Hb, Ht, Trombosit sebaiknya diulang tiap 4-6 jam.
• Heparin diberikan apabila ada tanda Koagulasi Intravaskular
Deseminata (KID).
• Tranfusi komponen darah sesuai indikasi.
• Pemberian FFP bila di dapat defisiensi faktor-faktor pembekuan.
• Pemberian PRC bila Hb < 10 g/dl.
• Pemberian Trombosit bila perdarahan spontan dan masif, trombosit <
100.000 dengan atau tanpa KID.

Protokol 5 (Tatalaksana SSD)


• Angka kematian meningkat 10 x lipat di bandingkan dengan penderita
DBD tanpa renjatan, dan renjatan dapat terjadi karena keterlambatan
mendapatkan pertolongan/pengobatan, dan penatalaksanaan yang
kurang tepat.
• Cairan kristaloid tetap pilihan utama, ditambah oksigenasi 2-4
L/menit.
• Periksa darah perifer lengkap, hemostasis, Analisis Gas Darah,
elektrolit, ureum dan kreatinin.
• Fase awal : guyur cairan kristaloid 10-20 ml/kgbb dan dievaluasi
setelah 15-30 menit.
• Jika membaik cairan diberikan 7 ml/kgbb/jam.
• Bila dalam 1-2 jam tetap stabil, cairan diberikan 5 ml/kgbb/jam, bila
1-2 jam keadaan tetap stabil turunkan menjadi 3 ml/kgbb/jam.
• Bila 24-48 jam paska syok teratasi tanda-tanda vital dan hematokrit
tetap stabil, infus harus dihentikan.
• diuresis diusahakan 2 ml/kgbb/jam.
• Bila fase awal belum teratasi cairan ditingkatkan menjadi 20-30
ml/kgbb/jam, evaluasi 20-30 menit.
• Bila belum teratasi lihat Ht, bila nilai Ht meningkat berarti kebocoran
plasma masih berlangsung – pilihan terapi cairan koloid.
• Bila Ht turun berarti ada perdarahan, lakukan tranfusi darah segar 10
ml/kgbb.
• Cara pemberian cairan koloid sebaiknya kita harus mengetahui sifat-
sifat cairan tsb.
• Pemberian koloid mula-mula di berkan dengan tetesan cepat 10-20
ml/kgbb/jam dievaluasi setelah 10-30 menit.

37
• Bila belum membaik pasang kateter vena sentral untuk memantau
kecukupan cairan, naikkan cairan sampai maksimum 30 ml/kgbb
(maksimal 1-1,5 L/hari).
• Bila belum teratasi , koreksi gangguan asam basa, elektrolit,
hipoglikemi, anemia, KID dan infeksi sekunder.
• Bisa diberikan inotropik atau vasopresor apabila tekanan vena sentral
penderita sudah sesuai dengan target tetapi renjatan tetap belum
teratasi.

Cairan
NaCl 0,9%
Larutan kristaloid isotonis yang merupakan cairan IV pilihan
pertama untuk resusitasi cairan, mengandung 95-105 mmol/L. Peringatan :
pemberian dalam jumlah besar dapat menyebabkan acidosis
hyperchloraemic dimana kondisi ini dapat membingungkan penetapan
kondisi asidosis metabolic sehingga perlu dimonitoring kadar klorida atau
laktat dalam darah. Jika terjadi acidosis hyperchloraemic ganti cairan
infuse dengan infuse RL.
Ringer Laktat
Mengandung 131 mmol/L Na dan 115mmol/L Cl dengan
osmolaritas 273mOsm/L. Kontraindikasi : tidak untuk pasien dengan
hiponatremia berat, pasien gagal hati danpasien dengan DM yang
menggunakan metformin meningkatkan resiko asidosis laktat.
Koloid
Larutan gelatin-based, dextran-based, atau starch-based. Diberikan
untuk pasien dengan syok hipotensi. Kontraindikasi : reaksi alergi seperti
demam, menggigil.

e. Patient centered diagnosis


 Diagnosis primer : Demam Berdarah Dengue
 Diagnosis sekunder :
- Demam Dengue

38
- Demam tifoid
 Diagnosis social ekonomi dan budaya :
1). Kondisi lingkungan dan rumah yang kurang bersih.
2). Rendahnya pengetahuan tentang penyakit.
3). Rendahnya tingkat ekonomi.

B. Identifikasi Kehidupan Keluarga melalui APGAR score


Adaptation
Dalam menghadapi masalah selama ini pasien selalu mendapatkan
dukungan dan nasehat dari keluarganya dan petugas kesehatan. Orang tua
pasien selalu memberikan motivasi dan dukungan pada pasien terutama ketika
pasien sakit dan harus mendapat pengobatan segera secara teratur. Penderita
dan keluarga yakin penyakitnya bisa sembuh total bila ia mematuhi aturan
pengobatan sampai sakitnya benar-benar sembuh.

Partnership
Orang tua pasien mendukung dalam upaya pengobatan dan
meyakinkannya bahwa ia bisa sembuh.
Growth
An. F sadar bahwa penyakitnya dapat disembuhkan, ia harus bersabar,
mendengarkan petunjuk dari dokter, dan menggunakan obat yang telah diberi.
Affection
An. F merasa hubungan kasih sayang dan interaksinya dengan ayah
dan ibu baik.
Resolve
An. F merasa puas dengan kebersamaan dan waktu yang ia dapat dari
kedua orang tuanya.

Sering/se Kadang- Jarang/


APGAR An. F terhadap keluarga
lalu kadang tidak

39
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke 
keluarga saya bila saya menghadapi masalah

P Saya puas dengan cara keluarga saya 


membahas dan membagi masalah dengan saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya 


menerima dan mendukung keinginan saya
untuk melakukan kegiatan baru atau arah
hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga saya 
mengekspresikan kasih sayangnya dan
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll
R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya 
membagi waktu bersama-sama
Total poin : 10

Kesimpulan :
Fungsi keluarga dalam menghadapi penyakit yang diderita An.F berjalan
dengan baik sehingga membantu dalam kesembuhan.

C. Identifikasi Masalah Sosial Ekonomi melalui Komponen SCREEM


SUMBER PATHOLOGY KET
Sosial Interaksi sosial yang baik antar anggota keluarga, juga dengan -
saudara partisipasi mereka dalam masyarakat cukup
Cultural Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, hal ini dapat -
dilihat dari pergaulan sehari-hari baik dalam keluarga maupun
di lingkungan, banyak tradisi budaya yang masih diikuti.
Religius Pemahaman agama cukup. Penerapan ajaran agama baik, hal +
ini dapat dilihat dari pasien dan orang tua menjalankan sholat.
Sering mengikuti acara keagamaan, pengajian, dll
Ekonomi Ekonomi keluarga ini tergolong menengah kebawah, untuk -
kebutuhan primer sudah bisa terpenuhi, meski belum mampu

40
mencukupi kebutuhan sekunder karena ekonomi tidak
memadai, diperlukan skala prioritas untuk pemenuhan
kebutuhan hidup.
Edukasi Pendidikan anggota keluarga kurang terutama tentang +
kesehatan diri sendiri dan lingkungan. Terutama dalam hal
mengatur makanan sehari – hari (makanan sehat)
Medical Dalam mencari pelayanan kesehatan keluarga ini biasanya -
menggunakan puskesmas karena letaknya dekat. Selain karena
pelayanan kesehatan yang tidak terlalu jauh, pasien juga dapat
menggunkan BPJS sehingga biaya yang dikeluarkan tidak
terlalu mahal.

Kesimpulan :
Pasien dan keluarga mempunyai masalah dalam fungsi patologis,
yaitu edukasi (pendidikan ibu dan ayah pasien masih kurang memadai).
Kurangnya edukasi berpengaruh terhadap lingkungan rumah yang kurang
sehat. Kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya memenuhi syarat sanitasi
akan memicu Aedes aegypti bersarang di sekitar kehidupan keluarga ini.

D. Karakteristik Demografi Keluarga


Alamat lengkap : Dsn. Jatisari, Ds. Jatikalang, Kec. Krian, Kab. Sidoarjo
Bentuk Keluarga : Nuclear Family

Diagram 1. Genogram Keluarga Tn. A

41
Keterangan:

: pasien

Sumber : Data Primer, 3 Mei 2017


Kesimpulan :
Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh
virus Dengue dari genus Flaviviridae. Demam Berdarah Dengue ditularkan ke
manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue,
sehingga dapat disimpulkan Demam Berdarah Dengue bukan penyakit karena
keturunan.

E. Faktor Pelayanan Kesehatan


Setiap kali sakit pasien selalu berobat ke puskesmas, hal ini
dikarenakan jarak antara rumah pasien dan puskesmas tidak terlalu jauh. Saat
menderita Demam Berdarah Dengue pasien dirawat inap di Puskesmas
Barengkrajan. Pasien mendapat informasi yang cukup tentang penyakitnya saat
dirawat disana.
Hal-hal yang terkait dengan penyuluhan atau tindakan promosi tentang
penyakit Demam Berdarah Dengue belum maksimal dilaksanakan di Dusun
Tambak Watu.

F. Perilaku Pasien
1. Faktor perilaku keluarga
Yang dimaksud dengan sehat oleh keluarga ini adalah terhindar dari
penyakit. Keluarga ini sangat mengetahui bahwa kesehatan sangatlah
penting, dengan tubuh yang sehat mereka dapat melakukan aktifitas dan
pekerjaan secara optimal. Cara menjaga kesehatan menurut keluarga ini

42
adalah dengan makan-makanan yang sehat dan bersih, istirahat yang
cukup. Walaupun makanan keluarga ini terbilang sederhana tapi keluarga
ini berusaha memasak sendiri agar tidak membeli makanan sembarangan.
Di rumah yang mereka tempati terdapat ruang tamu, kamar tidur, satu
ruangan untuk dapur, dan satu kamar mandi. Untuk mandi dan mencuci
baju menggunakan air dari sumur. Sedangkan untuk memasak, sehari-hari
keluarga ini membeli air dari luar karena air sumur berwarna kecoklatan.
2. Faktor non perilaku
Dilihat dari segi ekonomi keluarga ini termasuk menengah kebawah.
Terdapat kamar tidur yang cukup luas, ventilasi yang cukup, dan kamar
mandi cukup bersih.

G. Faktor Lingkungan Pasien


1. Gambaran Lingkungan
Pasien bertempat tinggal di desa dengan jarak antar rumah
yang berdempetan. Terdapat banyak sampah dan kotoran berserakan di
luar rumah dan tanah kosong di samping rumah. Pada tanah kosong
banyak ditumbuhi tanaman liar, serta banyak warga yang membuang
sampah disana. Tempat tinggal pasien bisa dikatakan belum memenuhi
kriteria sehat.
Sumber air yang digunakan sehari-hari untuk mandi dan mencuci
berasal dari air sumur. Air sumur berwarna keruh kecoklatan. Letak sumur
kurang dari 10 meter dari jamban. Masyarakat sekitar memiliki jamban di
masing-masing rumah, namun limbahnya mereka buang ke sungai melalui
pipa. Gambaran keadaan rumah pasien dapat dilihat sebagai berikut :
Pasien tinggal di rumah milik orang tua yang berukuran 10x7 m2.
Terdapat 3 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 ruang makan, 1 musholla, 1 kamar
mandi. Jarak antar rumah sekitar 40 cm. Ventilasi cukup banyak dan besar

43
untuk menjaga kelembapan, suhu dan kenyamanan. Rumah pasien tidak
didapatkan tempat perkembang biakanan nyamuk. Juga tidak didapatkan
jentik nyamuk. Pasien menguras bak mandi setiap minggu. Perabotan di
dalam rumah banyak. Dinding rumah terbuat dari batu bata.
2. Denah Rumah
Rumah pasien berukuran 10x7 m2. Terdapat 5 buah jendela yang
berukuran 30x100 meter cm pada depan rumah dan 30x60 cm pada
samping ruang tidur, setiap hari jendela yang dibuka. Pencahayaan alami
di dalam rumah cukup. Kebersihan di dalam rumah cukup. Pintu rumah
berukuran 50x100 cm dan selalu tertutup.

Keterangan :
: Jendela
: Pintu

44
H. Identifikasi Masalah Berdasarkan Teori Blum
1. Masalah : Demam Berdarah Dengue
2. Faktor resiko
a. Lingkungan
Kebersihan lingkungan tempat tinggal sekitar yang kurang bersih.
b. Perilaku
Membuang sampah sembarangan.
c. Pengetahuan
Pengetahuan yang kurang tentang penyakit Demam Berdarah Dengue.
d. Pelayanan Kesehatan
Belum maksimalnya tindakan promosi tentang penyakit Demam
Berdarah Dengue.

I. Diagram Permasalahan Pasien

(Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan


yang ada dengan faktor-faktor resiko yang ada dalam kehidupan
pasien)

Faktor Pengetahuan
Kurangnya pengetahuan
tentang DBD pada penderita
dan keluarga.

Faktor Lingkungan:
Lingkungan tempat Faktor Pelayanan
tinggal pasien DBD Kesehatan:
berdekatan dengan Belum maksimalnya
tanah kosong yang Tn. A promosi tentang
kurang bersih. 39 tahun
penyakit DBD yang
sampai di sasaran.

Faktor Perilaku:
Kurangnya kepedulian
pasien terhadap kebersihan
lingkungan. 45
BAB VI

BAB II
PEMBAHASAN

1. Masalah aktif :

Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan


oleh nyamuk (mosquito-borne) dari family Flaviviridae seperti Aedes aegypti,
Aedes albopictus, dan beberapa spesies Aedes lainnya
 Lingkungan sekitar yang kurang bersih (terdapat tanah kosong di
samping rumah yang banyak ditumbuhi tanaman liar, digunakan
sebagai tempat pembuangan sampah, banyak sampah plastik, sampah
kaleng, dan terdapat genangan air).
 Pengetahuan yang kurang mengenai Demam Berdarah Dengue.
 Belum maksimalnya promosi tentang penyakit Demam Berdarah
Dengue dari kader.
 Kurangnya kepedulian pasien terhadap kebersihan lingkungan.

2. Faktor resiko :
a. Tingkat pengetahuan tentang Demam Berdarah Dengue yang masih
kurang disekitar lingkungan.
b. Lingkungan tempat tinggal yang dekat dengan tanah kosong yang kotor.
c. Satu lingkungan dengan penderita yang menderita Demam Dengue.

46
d. Kurangnya menjaga kebersihan.

A. Penjelasan, Konseling Dasar dan Pendidikan Pasien


Diberikan penjelasan yang benar mengenai penyakit Demam Bedarah
Dengue. Pasien Demam Berdarah Dengue dan keluarganya perlu tahu tentang
penyakit, pengobatannya, pencegahan dan penularannya. Sehingga persepsi
yang salah dan merugikan bisa dihilangkan. Hal ini bisa dilakukan melalui
konseling setiap kali pasien kontrol dan melalui kunjungan rumah baik oleh
dokter maupun oleh petugas Yankes.
Beberapa persepsi yang harus diluruskan yaitu :
a. Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit yang menular
melalui gigitan nyamuk.
b. Penyakit Demam Berdarah Dengue dapat sembuh dengan pemberian
cairan dan asupan makanan yang adekuat.
c. Lingkungan yang bersih dapat mengurangi tempat perkembang biakan
nyamuk penyebab Demam Berdarah Dengue.
Maka pasien harus diberi pengertian untuk terus mengupayakan
kesembuhannya melalui program pengobatan, pola makan yang dianjurkan oleh
dokter dan menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah terjadinya penyakit
tersebut.

B. Faktor Lingkungan
Parameter faktor lingkungan yang mendukung terjadinya penularan penyakit
Demam Berdarah Dengue meliputi faktor lingkungan fisik dan non fisik. Faktor
lingkungan fisik yang berperan terhadap timbulnya penyakit Demam Berdarah
Dengue misalnya, cuaca, kepadatan larva dan nyamuk dewasa, lingkungan
didalam dan diluar rumah, lingkungan disekitar rumah, ketinggian tempat tinggal.
Pada faktor lingkungan fisik yang mempengaruhi penyakit pada pasien
adalah cuaca yang saat ini dalam musim penghujan dan lingkungan sekitar rumah

47
yang kurang baik karena rumah pasien berdekatan dengan sungai besar yang
terkadang dibuat untuk membuang sampah.
Selain faktor lingkungan fisik, terdapat faktor lingkungan non fisik seperti
kebiasaan menyimpan air serta mobilitas masyarakat yang semakin meningkat.
Dalam hal ini tidak ditemukan adanya masalah, karena keluarga pasien tidak
memiliki kebiasaan menyimpan air ditempat lain selain kamar mandi.

C. Pengetahuan tentang Demam Berdarah Dengue


Menurut KEPMENKES No 581/MENKES/SK/VII/1992 tentang
Kebijakan Nasional pengendalian Demam Berdarah Dengue, pemberantasan
Demam Berdarah Dengue dapat dilakukan melalui peningkatan ilmu
pengetahuan serta peningkatan perilaku hidup sehat dan kemandirian dalam
pengendalian Demam Berdarah Dengue. Beragamnya tingkat pengetahuan,
sikap, dan perilaku dapat menjadi penghambat tindakan pengendalian Demam
Berdarah Dengue (Depkes, 2011).
Pengetahuan ditujukan untuk mengetahui cara pencegahan, gejala dan
tanda, serta penanganan penyakit Demam Berdarah Dengue agar keluarga
dan dirinya sendiri tidak terjangkit Demam Berdarah Dengue. Pengetahuan
seseorang tentang kesehatan dapat mempengaruhi perilaku kesehatannya
sebagai hasil dari intermediate impact, yang selanjutnya akan meningkatkan
indikator kesehatan (Farida & Anugerahwati, 2012).
Pada keluarga pasien didapatkan pengetahuan mengenai demam berdarah
dengue yang rendah.

D. Perilaku Lingkungan Hidup bersih dan Sehat


Kondisi lingkungan berperan besar dalam perkembang biakan nyamuk
Aedes, terutama apabila terdapat banyak kontainer penampungan air hujan
yang berserakan dan terlindung dari sinar matahari, apalagi berdekatan
dengan rumah penduduk (Soegijanto, 2004).
Keberadaan kontainer sangat berperan dalam kepadatan vektor
nyamuk Aedes, karena semakin banyak kontainer akan semakin banyak

48
tempat perindukan dan akan semakin padat populasi nyamuk Aedes. Semakin
padat populasi nyamuk Aedes, maka semakin tinggi pula resiko terinfeksi
virus Demam Berdarah Dengue dengan waktu penyebaran lebih cepat
sehingga jumlah kasus penyakit Demam Berdarah Dengue cepat meningkat
yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya kejadian luar biasa penyakit
Demam Berdarah Dengue (Fathi, 2001)
Pada pasien ini, lingkungan disekitar rumah kurang bersih. Tanah
kosong di samping rumah banyak ditumbuhi tanaman liar dan sampah.
Banyak warga yang membuang sampah di tanah kosong dengan alasan akan
membakar sampah di tanah kosong tersebut. Hal ini dikarenakan tidak adanya
petugas pengangkut sampah di daerah tersebut. Namun, masih banyak
sampah yang berserakan dan didapati adanya genangan air di sebagian
sampah plastik dan botol.
3Intervensi dalam bentuk Giant Chart

3.1 Tabel Prioritas Jalan Keluar

No Masalah Efektivitas Efesiensi Hasil


M I V C P = MxIxV
C
1 Lingkungan sekitar 4 3 4 4 12
yang kurang sehat

2 Pengetahuan yang 3 3 2 2 9
kurang mengenai
Demam Berdarah
Dengue

3 Kurangnya tindakan 4 4 4 3 21,3


dari kader untuk
melakukan promosi
dalam pencegahan
Demam Berdarah
Dengue

49
Keterangan :
P : Prioritas jalan keluar
M : Magnitude, besarnya masalah yang bisa diatasi apabila solusi ini
dilaksanakan (turunnya prevalensi dan besarnya masalah lain)
I : Implementasi, kelanggengan selesainya masalah
V : Vulnerability, sensitifnya dalam mengatasi masalah
C : Cost, biaya yang diperlukan

50
Tabel 3. Rencana Kegiatan Memberikan Penyuluhan Mengenai Alur Pencegahan Demam Berdarah Dengue

Kebutuhan
Volume Rincian Tenaga
No Kegiatan Sasaran Target Lokasi Jadwal
Kegiatan Kegiatan Pelaksana
Pelaksanaan
 LCD

 Microfon
Materi bisa Dokter,
1x 1. Penyuluhan
 Laptop
diterima 2. Tanya jawab petugas
3 bulan
1 Penyuluhan Ibu PKK penyuluha 3. Membagikan Balai desa
Sekali  Kursi
seluruh Puskesmas,
n tiap desa leaflet
 Meja
peserta kader

 Reward
2 Evaluasi Penderita Penurunan 1 bulan Pendataan pasien Puskesma Petugas Sebulan  Buku

Demam angka setelah dengan Demam s puskesmas sekali  Alat tulis

Berdarah kejadian penyuluha Berdarah Dengue  Kalkulator

Dengue Demam n
 Komputer
Berdarah

Dengue di

51
Puskesmas

Krian

52
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Segi Biologis :
 An. F (7 tahun), menderita penyakit Demam Berdarah Dengue
 Beberapa tetangga mengalami Demam Berdarah Dengue
2. Segi Psikologis :
 Hubungan antara anggota keluarga terjalin cukup akrab
 Pengetahuan akan Demam Berdarah Dengue yang kurang.
 Tingkat kesadaran terhadap penyakit di keluarga cukup baik
sehingga pasien segera diberikan penanganan pertama.
3. Segi Sosial :
 Tidak ada masalah dari segi sosial
4. Segi fisik :
 Lingkungan sekitar tempat tinggal yang kurang bersih.

B. SARAN
1. Untuk masalah lingkungan tempat tinggal yang kurang bersih dilakukan
langkah-langkah :
o Promotif : edukasi pada keluarga pasien dan tetangga dilingkungan
sekitar untuk menjaga kebersihan.
o Preventif :
1. Pengaturan makanan dengan komposisi seimbang, konsumsi air
sumur tidak dilakukan, dan tidak jajan sembarangan.
2. Berolah raga secara teratur
3. Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan
o Kuratif : Medikamentosa dan non Medikamentosa
o Rehabilitatif : Meyakinkan Nn. L bahwa kondisi tubuhnya akan pulih
seperti sebelum sakit Demam Berdarah Dengue.
2. Untuk masalah persepsi mengenai penyakit Demam Berdarah Dengue,
dilakukan langkah-langkah :

53
o Promotif :
1. Memberikan edukasi mengenai Demam berdarah Dengue mulai
dari cara pencegahan hingga pengobatan yang dapat dilakukan.
2. Memberikan motivasi kepada kader jumantik untuk bekerja secara
maksimal.

54
DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, U.F. 2010. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Universitas Indonesia-


Press. Jakarta.
Anugerahwati, N., Farida, I., 2012. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang
Penyakit DHF dengan Prevalensi DHF. Jurnal Ilmiah Keperawatan STIKES
Hang Tuah Suarabaya. Vol 3, No. 2:67-77
Depkes RI 2011. Modul Pengendalian Demam Berdarah Dengue. pppl.depkes.go.id/
asset/ download/management%20DBD all.pdf. Diakses pada tanggal 15 Agustus
2016.
Fathi, Keman, S., Wahyuni, C.U., et al., 2005. Peran Faktor Lingkungan dan Perilaku
Terhadap Penularan Demam Berdarah Dengue di Kota Mataram. Jurnal
Kesehatan Lingkungan. Vol. 2, No. 1:1-10

55
LAMPIRAN