Anda di halaman 1dari 2

MENYAMBUNG DUA EKOSISTEM

Salah satu lesson learned penting karya Bina Swadaya selama 47 tahun adalah menyambung
dua ekosistem yaitu ekosistem sosial ekonomi modern dan ekosistem masyarakat bawah,
tradisional dan terpinggirkan. Kegiatan ini beranjak dari kenyataan bahwa sejak jaman
kolonial yaitu ketika diundangkan Agrarische Wet 1870 yang ditandai dengan hadirnya
kapitalisme barat berupa perusahaan-perusahaan perkebunan (ondernaming) berdampingan
dengan perekonomian rakyat berupa usaha-usaha kecil tradisional ber teknologi sederhana.
Keberadaan kedua ekosistem itu berjalan berdampingan, kadang-kadang saling melengkapi
tetapi kalau terjadi conflict of interest, yang kecil dan sederhana itu tergusur.

Kepedihan yang dialami multi generasi berabad-abad terkristalisasi dalam semangat


pemberontakan secara sporadis yang kemudian berakumulasi secara nasional menjadi
gerakan politik kemerdekaan. Spiritnya: demi amanat penderitaan rakyat (Ampera).
Harapannya: setelah melampui jembatan emas kemerdekaan terwujudlah masyarakat adil dan
makmur.

Betulkah demikian? Kenyataannya tidak. Dualisme ekonomi dan struktur perekonomian


yang timpang antara perekonomian rakyat dan perekonomian ondernaming (baca
konglomerat) berlanjut. Mengapa? Setelah Indonesia diproklamasikan 17 Agustus 1945, para
pemimpin dan pegiat revolusi kemerdekaan fokusnya tidak untuk mewujudkan amanat
penderitaan rakyat yang laten, karena segera menghadapi berbagai masalah mendesak yang
perlu segera diatasi. Pertama, menyusun sistem dan membentuk pemerintahan. Berbeda
dengan penjajah Inggris yang mewariskan sistem pemerintahan kepada negara bekas terjajah
(Malaysia, India), pemerintah kolonial Belanda tidak berbuat demikian.. Kedua, menghadapi
serangan balik dari militer Belanda yang ingin kembali lagi dan melihat gerakan
kemerdekaan sebagai gerakan pemberontakan yang harus ditumpas dengan aksi polisionil.
Ketiga, terlibat pergaulan internasional sebagai negara baru. Keempat, menghadapi
separatisme yang mau memisahkan diri dari negara kesatuan Republik Indonesia.
Singkatnya, amanat penderitaan rakyat hanya merupakan jargon-jargon pidato yang tidak
pernah diaplikasikan secara serius.

Ketika Pemerintah Orde Baru tampil dengan Akselerasi Modernisasi dalam Program
Pembangunan Jangka Panjang 25 tahun, maka yang mampu berpartisipasi dan
memanfaatkannya adalah mereka yang sudah siap, yaitu sektor ekonomi lapisan atas.
Memang Pemerintah Orde Baru akhirnya sadar bahwa Sektor Perekonomian Rakyat harus
diberdayakam tetapi pendekatan nya melalui sistem proyek dengan durasi terbatas dan
dengan menempatkan sektor perekonomian rakyat sebagai objek bukan subjek. Akibatnya
sudah bisa diduga, yaitu meningkatnya ketidakberdayaan, melemahnya kemandirian Sektor
Perekonomian Rakyat dan melebarnya kesenjangan di Masyarakat.

Menyadari hal ini, Bina Swadaya melakukan kegiatan-kegiatan yang intinya menyambung
dua ekosistem tersebut. Beberapa pengalaman dapat diceritakan disini. Pertama, menjadi
perantara pemasaran petani bawang merah dari Brebes (Jawa Tengah) dan Kuningan (Jawa
Barat) ke Jakarta; membantu pemasaran ternak dari Jawa Tengah (Sukoharjo, Klaten,
Boyolali) ke Jakarta; membantu pengolahan singkong dan pemasaran kepada eksportir di
Bandar Lampung. Kedua, menyelenggarakan program PIR (Perusahaan Inti Rakyat) unggas
di Cimanggis, bertindak sebagai Inti dengan funngsi melatih ratusan peternak, memberikan
kredit berupa one day old chick dan pakan ternak serta melakukan pemasaran. Ketiga,
menjadi penghubung dari proyek PIR perkebunan di Sumatera Barat (di Ophier untuk kelapa
sawit dan di Abaisiat untuk karet). Bina Swadaya dengan dukungan GTZ dari Jerman melatih
para pekebun plasma serta membentuk dan membina Kelompok Petani Kebun sebagai
Plasma siap bekerjasama dengan Inti. Keempat, menjadi promotor Program Perhutanan
Sosial di seluruh Pulau Jawa bekerjasama dengan Perum Perhutani, LSM-LSM lokal dan
Universitas setempat. Hubungan antara Perum Perhutani dengan para petani hutan seolah
seperti hubungan polisi dengan pencuri. Melalui berbagai seminar/lokakarya dengan
dukungan The Ford Foundation, Bina Swadaya merubahnya menjadi hubungan kemitraan
produktif. Perum Perhutani mengembangkan kebijakan membuka diri kepada para petani
hutan untuk memanfaatkan lahan pinggiran hutan ditanami dengan tanaman-tanaman yang
hasilnya bisa dinikmati oleh para petani, dan melatih Polisi Hutan menjadi Pendamping
Petani. Selama program ini berlangsung sekitar 9 tahun hampir tidak terjadi musibah banjir
di wilayah-wilayah tersebut. Kelima, Bina Swadaya bekerjasama dengan Bank Indonesia dan
Bank Rakyat Indonesia dengan dukungan GTZ Jerman, menyelenggarakan program
keuangan mikro bernama Program Hubungan Bank dengan Kelompok Swadaya Masyarakat
(PHBK) di 23 propinsi (dari 27 propinsi yang ada pada waktu itu) melibatkan lebih dari
seribu kantor Bank dan 257 LSM melayani lebih dari 34 ribu KSM dengan anggota 1 juta
orang lebih.

Menyambung dua ekosistem adalah strategi pemberdayaan yang efektif, berlangsung dengan
win-win solution, berdasarkan prinsip-prinsip keadilan dan oleh karenanya mempunyai
prospek berkelanjutan. Secara kreatif pola ini bisa diterapkan di berbagai bidang
pembangunan.

Salam,

Bambang Ismawan