Anda di halaman 1dari 46

HUBUNGAN ANTARA KELENTUKAN DAN KOORDINASI

MATA TANGAN KAKI TERHADAP KEMAMPUAN


KOORDINASI TENDANGAN DAN PUKULAN
EKTRAKURIKULER PENCAK SILAT
MA AL-ASROR TAHUN 2019

SKRIPSI

Diajukan sebagai syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan

Oleh

Faza Nurul Anamy


148010107

PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS WAHID HASYIM
2019
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi dengan judul : “HUBUNGAN ANTARA KELENTUKAN DAN

KOORDINASI MATA TANGAN KAKI TERHADAP KEMAMPUAN

TENDANGAN DAN PUKULAN DI EKSTRAKURIKULER PENCAK

SILAT MA AL-ASROR TAHUN 2019 yang di susun oleh :

Nama : Faza Nurul Anamy

NIM : 148010107

Telah disetujui oleh dosen pembimbing I dan dosen pembimbing II untuk diajukan

pada Dewan Penguji Proposal Skripsi.

Semarang, 25 Maret 2019

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Lusiana, M.Pd. Catur Wahyu Priyanto, M.Pd

NPP. 10.11.1.0197 NPP. 10.15.1.0327


DAFTAR ISI

Halaman

PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................................ i

DAFTAR ISI .................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ................................................. 1

1.2 Identifikasi Masalah ...................................................... 5

1.3 Pembatasan Masalah ...................................................... 5

1.4 Rumusan Masalah .......................................................... 6

1.5 Tujuan Penelitian ........................................................... 6

1.6 Manfaat Penelitian ......................................................... 6

BAB II LANDASAN TEORI .............................................................. 8

2.1 Deskripsi Teoritik .......................................................... 8

2.2 Kelentukan ..................................................................... 9

2.3 Koordinasi ...................................................................... 13

2.4 Hakikat Ekstrakurikuler ................................................. 14

2.5 Karakteristik ................................................................... 16


2.6 Pendidikan Rekreasi ....................................................... 27

2.7 Kaitan Outbond dengan Pendidikan Rekreasi ............... 33

2.8 Objek Wisata The Pikas Resort And Artventure ........... 35

2.9 Kerangka Berfikir .......................................................... 36

2.10 Penelitian Relevan .......................................................... 37

BAB III METODE PENELITIAN ...................................................... 39

3.1 Desain Penelitian ............................................................ 39

3.2 Latar Penelitian .............................................................. 40

3.3 Data dan Sumber Data Penelitian .................................. 40

3.4 Teknik Pengumpulan Data ............................................. 41

3.5 Keabsahan Data .............................................................. 43

3.6 Teknik Analisis Data ...................................................... 45

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 49


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Olahraga telah menjadi gejala sosial yang telah tersebar di seluruh dunia.

Olahraga telah menjadi sarana rekreasi, pendidikan, prestasi, dan kesehatan.

Olahraga sebagai sarana rekreasi yaitu olaraga yang dilakukan hanya untuk mengisi

waktu luang atau senggang, dan dilakukan dengan penuh kegembiraan. Jadi

segalanya dilakukan dengan santai dan tidak formal, baik itu tempat, sarana,

maupun peraturannya. Hal ini terbukti dari kesadaran setiap orang di dunia untuk

mau berolahraga. Bahkan olahraga juga sudah masuk mata pelajaran yang wajib di

sekolah-sekolah yang ada di seluruh penjuru dunia. Kegiatan olahraga untuk tujuan

pendidikan seperti anak-anak sekolah yang diasuh oleh guru pendidikan jasmani.

Beladiri adalah sistem pertahanan diri manusia yang sudah ada sejak dulukala.

manusia pada masa prasejarah harus mempertahankan kelangsungan hidupnya

dengan melawan binatang ganas dan berburu yang pada akhirnya manusia

mengembangkan ilmu beladiri. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan

zaman. Maksud dan tujuan pelajaran beladiri kepada peserta didik yaitu, agar

peserta didik mengenal olahraga beladiri dan mampu membela dirinya apabila

mendapat gangguan yang membahayakan dirinya.

Pencak silat adalah salah satu dari sekian banyak jenis beladiri yang ada di

dunia. Pencak silat yang mengutamakan beladiri sebetulnya sejak dahulu sudah ada

karena dalam mempertahankan hidupnya manusia harus bertempur, baik manusia


melawan manusia maupun melawan binatang buas. Pada waktu itu orang yang kuat

dan pandai berkelahi mendapat kedudukan yang baik di masyarakat sehingga dapat

menjadi kepala suku atau panglima raja. Lama-kelamaan ilmu berkelahi lebih

teratur sehingga timbul lah suatu ilmu beladiri yang disebut pencak silat.

Teknik yang perlu dikembangkan dalam pencak silat meliputi: (1) langkah dan

pola langkah, (2) sikap pasang dan pengembangan, (3) teknik belaan, (4) teknik

serangan, (5) teknik jatuhan dan, (6) teknik kuncian. Tujuan dari kegiatan

ektrakurikuler pencak silat MA AL-Alsror yaitu untuk mengembangkan bakat dan

minat serta keterampilan peserta didik, sehingga akan timbul kemandirian percaya

diri dan kreatifitas, yang merupakan potensi sumber daya manusia yang perlu

dibina dan dikembangkan. Berawal dari sinilah muncul bibit olahragawan yang

tidak akan habis apabila program olahraga di lembaga pendidikan secara

keseluruhan dapat dilaksanakan sebaik-baiknya.

Kegiatan ekstrakurikuler merupakan suatu kegiatan peserta didik diluar

kegiatan pembelajaran di sekolah yang sangat potensial untuk menciptakan peserta

didik yang kreatif, berinovasi, terampil, berkarakter dan berprestasi. Kegiatan

ekstrakurikuler ini sangat signifikan, karena banyak peserta didik yang berprestasi

merupakan peserta didik yang bisa membagi waktu dengan banyak aktifitas yang

dilakukannya sehingga membuatnya menjadi anak yang cerdas dan berkarakter.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti pada hari senin

tanggal 4 Maret 2019 peneliti bertemu dengan pelatih dikegiatan ektrakurikuler

dengan menanyakan kepada beliau bagaimana pelatih memberikan materi ketika

kegiatan ektrakurikuler, bagaimana keaktifan siswa selama megikuti kegiatan


ektrakuriler, dari pencak silat MA Al-Asror Semarang sebagian besar dari para atlet

pencak silat nya masih terdapat beberapa anak yang memiliki kelentukan, koordinasi

mata tangan dan kaki kurang baik. Seringkali atlet pada saat melakukan pukulan dan

tendangan tidak tepat sasaran, sedangkan dalam pertandingan seorang pesilat dituntut

melakukan serangan ke daerah serang jika meleset maka akan sering terjadi pelanggaran

seperti memukul kepala dan lain-lain. Hal ini terjadi karena seorang pesilat memiliki

kelentukan, koordinasi mata tangan dan kaki yang kurang baik. Banyak nya siswa dalam

ekstrakurikuler pencak silat MA Al-Asror ada 20 atlet dan jadwal nya dilakukan 3 kali

sehari dalam satu minggu.

Dari permasalahan tersebut muncul sebagian besar dari para atlet pencak silat

nya masih terdapat beberapa anak yang memiliki kelentukan, koordinasi mata tangan dan

kaki kurang baik. Seringkali atlet pada saat melakukan pukulan dan tendangan tidak tepat

sasaran, sedangkan dalam pertandingan seorang pesilat dituntut melakukan serangan ke

daerah serang jika meleset maka akan sering terjadi pelanggaran seperti memukul kepala

dan lain-lain. Hal ini terjadi karena seorang pesilat memiliki kelentukan, koordinasi mata

tangan dan kaki yang kurang baik.

Perkembangan kelentukan, koordinasi mata tangan dan kaki sangat berpengaruh dalam

pertandingan pencak silat contoh nya dalam melakukan tendangan tangkapan pukulan dan

lain-lain membutuhkan kelentukan, koordinasi mata tangan dan kaki yang baik maupun

selaras. Koordinasi adalah kemampuan saraf dalam menyesuaikan dan mengatur gerakan

secara simultan pada saat melakukan suatu gerak. Selain itu sebagian besar pelatih pencak

silat kurang memberikan porsi latihan kelentukan sendi panggul. kelentukan sendi panggul

yaitu merupakan poros dalam melakukan tendangan semakin lentuk panggul seorang atlet

maka semakin keras atau jauh jangkauan tendangan yang dihasilkan. Latihan kelentukan

sangat berguna untuk meningkatkan kecepatan dan kelentukan, sehingga akan lebih mudah
untuk mencapai sasaran yang diinginkan. Oleh karena itu, seorang pelatih pencak silat pada

dasarnya dituntut tidak hanya memberikan latihan teknik, taktik dan mental tetapi juga

kelentukan sendi panggul, koordinasi mata, tangan dan kaki juga penting. Selain itu masih

banyak faktor lain yang mempengaruhi.

. Oleh karena besarnya hubungan tiap variabel belum diketahui, maka perlu diadakan

penelitian terlebih dahulu. Sehingga dengan permasalahan tersebut, maka akan dilakukan

penelitian tentang hubungan antara kelentukan dan koordinasi mata tangan kaki terhadap

kemampuan koordinasi tendangan pukulan pada pesilat ekstrakurikuler MA Al-Asror

tahun 2019.

1.2 Indentifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut dapat di identifikasi sebagai

berikut :

1. Siswa belum mampu mengkoordinasikan antara kelentukan dengan

kemampuan koordinasi tendangan dan pukulan

2. Masih banyak siswa yang belum mampu melakukan gerakan koordinasi

mata tangan kaki dengan kemampuan koordinasi tendangan pukulan.

3. Masih banyak siswa yang belum mampu mengkoordinasikan antara

kelentukan dan gerakan koordinasi mata tangan kaki dengan kemampuan

koordinasi tendangan pukulan.

1.3 PembatasanMasalah
Dari latar belakang yang dijelaskan di atas, maka perlu adanya

pembatasanmasalah dalam penelitian ini agar penelitian lebih terfokus dan terarah.

Adapun pembatasan masalahnya sebagai berikut :

1. Peneliti terfokus pada adanya “Hubungan antara kelentukan dan koordinasi

mata tangan kaki terhadap kemampuan koordinasi tendangan dan pukulan

di ekstrakurikuler MA AL-Asror tahun 2019”.

1.4 Rumusan Masalah

Suatu penelitian tidak terlepas dari permasalahan, sehingga perlu kiranya

masalah tersebut di teliti, di analisis dan di pecahkan. Sesuai dengan judul di atas

maka sebagai permasalahan penelitian ini adalah:

1. Adakah hubungan antara kelentukan dengan kemampuan koordinasi

tendangan dan pukulan di ekstrakurikuler pencak silat MA Al-asror

Kota Semarang?

2. Adakah hubungan antara koordinasi mata tangan kaki dengan

kemampuan koordinasi tendangan dan pukulan pencak silat di

ekstrakurikuler MA Al-asror Kota Semarang?

3. Adakah hubungan antara kelentukan dan gerakan koordinasi mata

tangan kaki terhadap kemampuan koordinasi tendangan dan pukulan di

ekstrakurikuler pencak silat MA Al-asror Kota Semarang?

1.5 Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada latar belakang peneliti dan permasalahan di atas, maka tujuan

dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui :


1. Untuk mengetahui hubungan antara kelentukan dengan kemampuan

koordinasi tendangan dan pukulan di ekstrakurikuler pencak silat MA

Al-asror Kota Semarang?

2. Untuk mengetahui kemampuan koordinasi mata tangan kaki dengan

kemampuan koordinasi tendangan dan pukulan di ekstrakurikuler MA

Al-asror Kota Semarang?

3. Untuk mengetahui hubungan antara kelentukan dan koordinasi mata

tangan dan kaki terhadap kemampuan koordinasi tendangan dan

pukulan?

1.6 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dari hasil penelitian ini diantaranya:

1. Manfaat Teoritis

Memberikan perkembangan dan memberikan gambaran tentang hubungan

antara kelentukan dan koordinasi mata tangan dan kaki terhadap

kemampuan koordinasi tendangan dan pukulan bagi peserta ekstrakurikuler

pencak silat.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini dapat dijadikan dasar bagi pengembangan dan

pengelolaan olahraga pencak silat, maka penelitian ini bermanfaat bagi:

1. Siswa

Memberikan kesadaraan pada siswa agar lebih terpacu melakukan

program latihan yang telah diberikan oleh pelatih.

2. Lembaga/Sekolah
Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan

program kegiatan khusus pada kegiatan olahraga pencak silat.

3. Guru dan Pelatih

Sebagai data untuk melaksanakan evaluasi terhadap program latihan

yang telah dilakukan, sekaligus untuk merancang program latihan yang

akan diberikan.
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Deskripsi Teoritik

2.1.1. Hakikat Pencak Silat

Hampir semua daerah di Indonesia terdapat perguruan-perguruan pencak silat

dengan ciri khas dan alirannya masing-masing. Pencak silat memiliki berbagai

nama sesuai daerah masing-masing seperti bersilat, silek, gayong, cekak, dan lain-

lian. Di Indonesia, pencak silat adalah sebuah budaya dan tradisi warisan turun

temurun dari nenek moyang. Pencak silat adalah warisan budaya bangsa Indonesia

yang lahir sejak peradaban manusia di bumi pertiwi. Perkembangan pencak silat

adalah saturumpun dengan kebudayaan melayu. Di Indonesia terdapat lebih dari

800 perguruan pencak silat yang terdapat di beberapa daerah sesuai dengan

adatistiadat setempat (Agung Nugroho, 2001: 4). Pencak silat merupakan sistem

beladiri yang diwariskan oleh nenek moyang sebagai warisan budaya bangsa

Indonesia sehingga perludi lestarikan, dibina, dan dikembangkan (Erwin Setyo

Kriswanto, 2015: 13). Pencak silat merupakan seni beladiri yang berakar pada

rumpun Melayu, merupakan bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia yang harus

dilestarikan keberadaannya (Fekum Ariesbowo, 2008: 3). PB IPSI serta BAKIN

pada tahun 1975 (dalam Mulyono, 2013: 84) mendefinisikan pencak silat sebagai

berikut: Pencak silat adalah hasil budaya manusia Indonesia untuk membela,

mempertahankan eksistensi (kemandiriannya), dan integritasnya (manunggal)

terhadap lingkungan hidup/ala, sekitarnya untuk mencapai keselarasan hidup guna


meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan YangMaha Esa. Di Indonesia, IPSI

(Ikatan Pencak Silat Indonesia) adalah organisasi induk resmi yang menaungi

perguruan-perguran pencak silat di Indonesia, yang didirikan pada tanggal 18 Mei

1948. IPSI didirikan oleh 10 perguruan yang memberikan andil besar dalam upaya

menyatukan perguruan-perguruan di Indonesia dalam sebuah ikatan organisasi.

Kesepuluh perguruan ini diberi penghormatan dengan disebut sebagai 10 perguruan

historis IPSI. 10 perguruan ini adalah KPS Nusantara, Perisai Diri, Tapak Suci,

Phasadja Mataram, Perpi Harimurti, Perisai Putih, Putra Betawi, Setia Hati, Setia

Hati Terate, dan PPSI. Pencak silat tidak hanya suatu ilmu bela diri semata, akan

tetapi memiliki aspek-aspek lain. Menurut Asep Kurnia Nenggala (2006: 46)

Pencak Silat memiliki 4 aspek/unsur yang terkandung di dalamnya, yaitu: beladiri,

seni, olahraga, dan spiritual.

1. Unsur Beladiri

Pencak Silat adalah sebuah sistem pertahanan diri, maka aspek utamanya

adalah beladiri. Unsur beladiri memperkuat manusia untuk membela diri dari

berbagai ancaman dan bahaya dengan teknik dantaktik yang efektif.

2. Unsur Olahraga

Pencak Silat juga menjadi sarana dalam menjaga kebugaran jasmani, di

mana fisik seorang pesilat sangat mempengaruhi ilmu beladiri yang dimilikinya.

Selain untuk mengembangkan kebugaranjasmani, juga untuk mengembangkan

ketangkasan dan prestasi olahraga.

3. Unsur Seni
Unsur seni merupakan wujud budaya dalam bentuk kaidah gerak dan irama

yang tunduk pada keseimbangan, keselarasan, dan keserasian. Pencak Silat

memiliki nilai-nilai estetika yang indah dalam gerakan-gerakan beladirinya.

Sehingga menyenangkan siapapun yang melihatnya.

4. Unsur Spiritual

Unsur spiritual membentuk sikap dan kepribadian luhur dengan menghayati

dan mengamalkan berbagai nilai dan norma adat istiadat yang mengandung makna

sopan santun sebagai etika kalangan pendekar. Sebagian besar aliran maupun

perguruan Pencak Silat khususnya yang ada di Indonesia mengajarkan nilai

ketuhanan sebagai aspek penunjang dalam berlatih, bahkan ada beberapa yang

menjadikan aspek spiritual ini sebagai dasar dan unsur paling utamadalam

keilmuannya. Pencak silat adalah salah satu jenis beladiri/sistem pertahanan diri

didunia yang berasal dari indonesia meskipun ada pula yang menyebutkan negara-

negara rumpun Melayu. Pencak silat adalah satu warisan kekayaan budaya yang

dimiliki bangsa Indonesia yang memiliki empat aspek, yaitu aspek spiritual, aspek

seni, aspek bela diri, dan aspek olahraga. Pencak silat bukan hanya sekedar bela diri

dan sistem pertahanan diri semata. Aspek-aspek dan bahkan pendidikan karakter

yang terkandung didalamnya menunjukkan keunggulannya sebagai sebuah bela

diri. Sebagai contoh bahwa pencak silat mengajarkan untuk menghormati lawan.

Kitakenal sikap pasang, adalah bukan hanya sebagai bagian dari persiapan dalam

penyerangan dan pertahanan, tetapi juga penghormatan kepada lawan, karena

siapapun lawan yang dihadapi tidak boleh dianggap remeh.Pencak silat adalah bela

diri tradisional, namun memiliki teknik-teknik yang sangat mematikan. Walaupun


pencak silat adalah bela diri tradisional, akan tetapi sejak lama pencak silat sudah

mendunia. Eksistensi perguran-perguruan pencak silat Indonesia yang ada di luar

negeri menjadi bukti. Dalam kejuaraan internasional antara lain pada ajang Sea

Games, Kejuaraan Dunia, dan Asian Beach Games.

2.1.1.1. Teknik Dasar Pencak Silat

Pada zaman dahulu, teknik dan jurus pencak silat diciptakan dari hasil

pengamatan lingkungan sekitar sehingga membentuk pola gerak yang mirip dengan

kondisi alam sekitarnya, misalnya dari hasil mengamati binatang yang sedang

berkelahi (Mulyono, 2013: 111). Namun seiring berkembangnya zaman, pencak

silat terutama sebagai beladiri memiliki teknik-teknik dasar atau fundamental.

Menurut Agung Nugroho (2001: 103) teknik dasar adalah fondamen dimana

gerakan-gerakan itu masih mudah dan sederhana. Berkaitan dengan keterampilan

dasar, maka dalam pencak silat ada beberapa teknik dasar. Berikut ini adalah teknik-

teknik dasar pencak silat:

1. Kuda-kuda

Kuda-kuda adalah suatu posisi yang menjadi tumpuan untuk melakukan sikap

pasang, teknik-teknik serangan, dan teknik pembelaandiri (Erwin Setyo Kriswanto,

2015: 43). Kuda-kuda adalah teknik yang memperlihatkan sikap dari kedua kaki

dalam keadaan statis. Teknik ini digunakan untuk mendukung sikap pasang pencak

silat. Kuda-kuda juga digunakan sebagai latihan dasar pencak silat untuk

memperkuat otot-otot kaki. Otot yang dominan dalam melakukan kuda-kuda adalah

quadriceps femoris dan hamstring (Johansyah Lubis, 2004: 18). Kuda-kuda adalah
posisi kaki tertentu sebagai dasar tumpuan untuk melakukan sikap dan gerak serang

bela (Mulyono, 2013: 113).Dari beberapa pendapat di atas disimpulkan bahwa

kuda-kuda adalah sikap dasar sebagai tumpuan dalam melakukan gerakan lain

seperti sikap pasang, serangan, belaan, dll.

Gambar 1. Kuda-kuda Tengah

(Erwin Setyo Kriswanto, 2015: 17)

2. Sikap Pasang

Sikap pasang adalah teknik berposisi siap tempur optimal dalam

menghadapi lawan yang dilaksanakan secara taktis dan efektif (Mulyono,2013:

114). Sikap pasang atau pasangan adalah sikap standar atau sikap permulaan untuk

menghadapi lawan, yang bisa berpola menyerang atau menyambut (Joko Subroto,

1996: 13).Pengertian lain dari sikap pasang adalah sikap taktik untuk

menhadapi lawan yang berpola menyerang atau menyambut (JohansyahLubis,

2004:20). Menurut Erwin Setyo Kriswanto (2015: 37), sikap pasang asalah sikap

awal untuk melakukan serangan atau belaan.Dari pengertian yang dikemukakan

para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa sikap pasang adalah sikap permulaan

atau sikap siap untuk menghadapi lawan.


Gambar 2. Sikap Pasang 1

(Erwin Setyo Kriswanto, 2015: 19)

3. Pola Langkah

Langkah merupakan teknik gerak kaki dalam pemindahan dan pengubahan

posisi untuk mendekati atau menjauhi lawan guna mendapatkan posisi yang lebih

baik atau menguntungkan yang dikobinasikan dan dikoordinasikan dengan sikap

tubuh dan sikap tangan (Johansyah Lubis, 2004: 24). Sedangkan menurut Mulyono

(2013: 116) yang menyebutkan dengan gerak langkah, adalah teknik pemindahan

atau perubahan posisi disertai kewaspadaan mental dan indera secara optimal untuk

mendapatkan posisi yang menguntungkan dalam rangka mendekati atau menjauhi

lawan untuk kepentingan serangan dan belaan. Erwin SetyoKriswanto (2015: 56)

mengemukakan bahwa langkah adalah perubahaninjakan kaki dari satu tempat ke

tempat yang lain. Langkah adalah perpindahan atau gerak kaki dari satu tempat

ketempat lain untuk mendekati atau menjauhi lawan yang memiliki pola-pola

tertentu.
Gambar 3. Bentuk Pola Langkah

(Erwin Setyo Kriswanto, 2015: 38)

4. Belaan

Membela adalah menggerakkan anggota tubuh dari arah lintasan serangan

lawan atau mengalihkan serangan lawan hingga tidak mengenai tubuh/anggota

tubuh (Erwin Setyo Kriswanto, 2015: 77). Belaan adalah upaya untuk mengagalkan

serangan, yang terdiridari dua macam yaitu tangkisan dan hindaran. Tangkisan

adalah suatu teknik belaan untuk mengagaglkan serangan lawan dengan melakukan

tindakan menahan serangan lawan dengan tangan, kaki, dan tubuh.

Sedangkan menurut Mulyono (2013: 123) hindaran adalah upaya menggagalkan

serangan lawan dengan cara menghindari serangan lawantanpa ada kontak dengan

anggota tubuh lawan. Dapat ditarik kesimpulan bahwa belaan adalah upaya

menggagalkan serangan lawan dengan cara menghindari atau dengan

menangkisnya.
Gambar 4. Hindaran Bawah

(Erwin Setyo Kriswanto, 2015: 38)

5. Serangan

Serangan adalah teknik untuk merebut inisiatif lawan dan atau membuat

lawan tidak dapat melakukan serangan atau belaan yang dilakukan secara taktis.

Serangan dapat dikatakan sebagai balaan atau pertahanan aktif (Mulyono, 2013:

118). Menurut Johansyah Lubis (2004: 28), serangan terdiri dari dua jenis, yaitu

serangan tangan dan serangan kaki. Serangan tangan terdiri dari beberapa jenis

seperti: pukulan depan, pukulan samping, pukulansangkol, pukulan lingkar,

tabasan, tebangan, sangga, tamparan, kepret,tusukan, totokan, patukan,

cengkraman, gentusan, sikuan, dan dobrakan. Serangan tungkai dan kaki, terdiri

dari tendangan (tendangan lurus,tusuk, kepret, jejag, gajul, tendangan T/samping,

dll), sapuan, dan dengkulan.

6. Tangkapan

Tangkapan adalah suatu teknik menangkap tangan, kaki, ataupun anggota

badan lawan dengan satu atau dua tangan dan akan dilanjutkan dengan gerakan lain

(Johansyah Lubis, 2004: 43). Tangkapan adalah belaan dengan cara menahan

lengan atau tungkai dari serangan lawan dengan cara ditangkap. Tangkapan

merupakan teknik dan taktik serangan pada jarak jangkau dekat dan sedang yang
dilaksanakan dengan menangkap salah satu komponen tubuh lawan (Erwin Setyo

Kriswanto, 2015: 96). Dari pendapat-pendapat di atas disimpulkan bahwa

tangkapan adalah teknik untuk menangkap anggota tubuh lawan yaitu lengan

ataupun tungkai pada jarak dekat atau sedang.

Gambar 5. Tangkapan Dalam ke Luar

(Erwin Setyo Kriswanto, 2015: 53)

7. Kuncian

Kuncian adalah suatu teknik untuk menguasai lawan atau membuat lawan tidak

berdaya dengan menggunakan kaki, tangan, ataupun anggota badan lainnya yang

diawali dengan teknik tangkapan (Johansyah Lubis, 2004:43).Kuncian adalah

menguasai lawan dengan tangkapan sempurna untuk melumpuhkan lawan agar

tidak berdaya, tidak dapat bergerak, atau untuk melucuti senjata musuh (Erwin

Setyo Kriswanto, 2015: 113).Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan

bahwa kuncian adalah teknik yang diawali atau menggunakan tangkapan untuk

membuat lawan tidak berdaya.


Gambar 6. Kuncian Tangan

(Erwin Setyo Kriswanto, 2015: 60)

8. Jatuhan

Jatuhan adalah teknik dan taktik serangan pada jarak jangkau jauh dan

sedang yang dilaksanakan dengan menggunakan tungkai atau kaki untuk

menjatuhkan lawan (Erwin Setyo Kriswanto, 2015: 104).Menurut Agung Nugroho

(2001: 19) jatuhan adalah adalah usaha menjatuhkan lawan sebagai tindakan lanjut

dari tangkapan, jatuhan terdiri dari dua macam, yaitu langsung dan tidak langsung.

Jatuhan langsung yaitu menghilangkan tumpuan badan lawan dengan cara: sapuan

,sirkel, dan guntingan. Jatuhan tak langsung yaitu jatuhan dari proses tangkapan

yang dilanjutkan dengan ungkitan, kaitan, dorongan, tarikan,dan sapuan atas. Dapat

disimpulkan bahwa jatuhan adalah teknik untuk menjatuhkan lawan dangan cara

langsung yaitu dengan sapuan, sirkel, dan guntingan; dan tak langsung yaitu jatuhan

yang diawali dengan tangkapan dan dilanjutkan dengan ungkitan, kaitan, dorongan,

tarikan, dan sapuan atas.


Gambar 7. Sapuan Rebah

(Erwin Setyo Kriswanto, 2015: 50)

Teknik-teknik di atas adalah teknik-teknik dasar beladiri pencak silat. Meskipun

begitu, tidak semua teknik di atas dapat/boleh digunakan didalam pertandingan

pencak silat. Karena pada pertandingan pencak silat terdapat peraturan yang

sifatnya melindungi pesilat dari cedera yang serius. Sedangkan pada teknik-teknik

dasar di atas terdapat teknik-teknik yang ditujukan untuk beladiri yang sangat

berbahaya bila diterapkan kepada lawan pada pertandingan olahraga pencak silat.

2.1.1.2. Faktor yang Mendukung Pembelajaran

Masnur Muslich (2008: 40) berpendapat bahwa faktor-faktor yang menentukan

keberhasilan suatu proses pembelajaran antara lain kurikulum yang digunakan

sebagai acuan dasarnya, program pengajaran yang dijalankan, guru, kelengkapan

materi pembelajaran, strategi pembelajaran 9 yang dipilih, ketersediaan sumber

belajar dan teknik/bentuk penilaian. Jamil (2014: 85) mengatakan ada beberapa
faktor yang berpengaruh dalam jalannya proses pembelajaran, di antaranya siswa

atau peserta didik, guru atau pendidik, kurikulum, sarana dan prasarana, tenaga

nonpendidik, dan lingkungan. Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan

pembelajaran pencak silat dapat terlaksana dengan baik apabila faktor-faktor

pendukung pembelajarannya juga berjalan dengan baik dan mendukung jalannya

pembelajaran. Faktor-faktor yang mendukung pembelajaran beladiri pencak silat

ada lima faktor, yaitu: Kurikulum, Guru Pendidikan Jasmani, Materi Pembelajaran,

Sumber belajar dan Siswa/Peserta didik.

2.1.2. Kelentukan (Fleksibility)

Kelentukan adalah kemampuan persendian untuk bergerak secara leluasa (Irianto,

2004: 4). Kelentukan sebagai salah satu komponen kesegaran jasmani, merupakan

kemampuan menggerakkan tubuh atau bagian-bagiannya seluas mungkin tanpa

terjadi ketegangan sendi dan cedera otot (Ismaryati, 2006: 101). Sesungguhnya

kelentukan tergantung pada kelentukan otot-otot dan semua pengikat sendi.

“Menurut sistem peregangan bertambah luasnya gerakan maupun kemampuan

sendi berguna untuk meringankan beban yang berat” (Sumosardjuno, 1997:6).

Menurut Ismaryati (2006: 101), kelentukan dibagi menjadi dua macam yaitu

kelentukan dinamis (aktif) dan kelentukan statis (pasif). Kelentukan dinamis adalah

kemampuan menggunakan persendian dan otot secara terus menerus dalam ruang

gerak yang penuh dengan cepat, dan tanpa tahanan gerakan. Kelentukan statis

adalah kemampuan sendi untuk melakukan gerak dalam ruang yang tidak penuh.

Jadi dalam olahraga 18 atletik terutama nomor lompat jauh gaya jongkok,

kelentukan yang dibutuhkan adalah kelentukan dinamis. Menurut Irianto (2004:


68), kualitas kelentukan dipengaruhi oleh stuktur sendi, kualitas otot tendo dan

ligamen, usia, serta suhu. Kelentukan adalah kemampuan persendian, ligamen dan

tendo disekitar persendian, untuk melakukan gerakan seluas-luasnya. Kelentukan

persendian berpengaruh terhadap mobilitas dan dinamika kerja seseorang dan

bermanfaat untuk mengurangi kemungkinan cedera (Irianto, 2004: 68). Hal ini

sesuai bahwa kelentukan penting karena apabila seseorang mengalami kurang luas

gerak dalam persendiannya, maka hal ini akan menimbulkan gangguan kurang

gerak dan mudah menimbulkan cedera serta kurang cepatnya kelenturan gerakan

kita, sehingga aktifitas kita menjadi terbatas serta beban otot menjadi lebih berat.

Kelentukan tubuh dilakukan bertujuan untuk mengukur kelentukan batang tubuh

dan sendi panggul dan hampir semua cabang olahraga. “Dalam memperoleh

kelentukan dilakukan gerakan peregangan yang memungkinkan otot-otot pada

posisi memendek dan posisi memanjang yang maksimal, dan memakai sendi secara

maksimal “(Soedarminto, 1992: 60-61)”. Menurut Harsono (1998) fleksibilitas

sangat penting untuk seluruh cabang olahraga terutama untuk pengembangan

cabang olahraga untuk nomor atletik. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka

dapat disimpulkan bahwa kelentukan adalah kemampuan melakukan gerakan-

gerakan merenggang dan mengatur otot hingga batas tertentu dalam jangka waktu

tertentu.

2.1.3. Koordinasi

2.1.1.3.Hakikat Koordinasi

Menurut Rusli Lutan, dkk (2000: 77), koordinasi adalah kemampuan untuk

melakukan gerakan dengan berbagai tingkat kesukaran dengan cepat dan efisien
dan penuh ketepatan. Koordinasi diperlukan hampir disemua cabang olahraga yang

melibatkan kegiatan fisik, koordinasi juga penting bila berada dalam situasi dan

lingkungan yang asing, misalnya perubahan lapangan pertandingan, peralatan,

cuaca, lampu penerangan, dan lawan yang dihadapi. Tingkatan baik atau tidaknya

koordinasi gerak seseorang tercermin dalam kemampuannya untuk melakukan

suatu gerakan secara mulus, tepat, cepat, dan efisien. Seorang atlet dengan

koordinasi yang baik bukan hanya mampu melakukan suatu keterampilan secara

sempurna, akan tetapi juga mudah dan cepat dalam melakukan keterampilan yang

masih baru baginya.Mengenai indikator koordinasi, Sukadiyanto (2005: 139)

menyatakan bahwa indikator utama koordinasi adalah ketepatan dan gerak yang

ekonomis. Dengan demikian koordinasi merupakan hasil perpaduan kinerja dari

kualitas otot, tulang, dan persendian dalam menghasilkan gerak yang efektif dan

efisien. Dimana komponen gerak yang terdiri dari energi, kontraksi otot, syaraf,

tulang dan persendian merupakan koordinasi neuromuskuler.

2.1.1.4.Koordinasi Mata dan Tangan

Bompa yang dikutip oleh Soleh (2007: 19) mengemukakan bahwa dalam

koordinasi mata-tangan akan menghasilkan timing dan akurasi. Timing berorientasi

pada ketepatan waktu sedangkan akurasi berorientasi pada ketepatan sasaran.

Melalui timing yang baik maka perkenaan tangan dan objek akan sesuai dengan

yang keinginan dalam hal ini perkenaan tangan pada bola, sehingga akan

menghasilkan gerakkan yang efektif. Akurasi akan menentukan tepat dan tidaknya
obyek pada sasaran yang dituju dalam hal ini ketepatan arah dan penempatan bola

pada sasaran. Oleh sebab itu koordinasi mata-tangan sangat penting dalam

kemampuan melakukan servis agar servis bisa tepat pada sasaran yang diinginkan.

Koordinasi mata-tangan sangat dibutuhkan oleh setiap orang dalam mengarahkan

suatu benda menuju sasaran yang akan dicapai. Dengan koordinasi yang baik, maka

suatu benda yang dilemparkan akan berhasil menuju sasaran. Pada dasarnya

koordinasi mempunyai pengertian yang hampir sama, sehingga dapat disimpulkan

koordinasi mata dan tangan merupakan kemampuan mata untuk mengintegrasikan

rangsangan yang diterima dan tangan sebagai fungsi penggerak untuk melakukan

gerakan sesuai yang diinginkan.

2.1.1.5. Koordinasi Mata dan Kaki

Koordinasi mata-kaki merupakan salah satu kemampuan fisik yang sangat

berpengaruh dalam permainan sepak bola. Banyak gerakan-gerakan dalam sepak

bola yang memerlukan koordinasi dan salah satu koordinasi tersebut adalah

koordinasi mata-kaki. Koordinasi tersebut merupakan dasar untuk mencapai suatu

keterampilan yang tinggi dalam bermain sepak bola. Menurut Suharno (1993:61)

“koordinasi adalah kemampuan atlet untuk merangkaikan beberapa unsur gerak

menjadi satu gerakan yang utuh dan selaras”.

2.1.1.6. Koordinasi Mata Tangan dan Kaki

Koordinasi mata tangan dan kaki adalah suatu kemampuan seseorang dalam

mengkoordinasikan mata, tangan, dan kaki dalam merangkai berbagai gerakan


menjadi satu dalam satu satuan waktu secara tepat dan menyeluruh dan tepat dalam

irama gerak yang terkontrol sesuai dengan tujuan.

2.1.4. Hakikat Ekstrakurikuler

Setiap sekolah umumnya memiliki ekstrakurikuler. Sesuai dengan namanya,

ekstrakurikuler diadakan di luar jam sekolah. Menurut Kathy Paterson (2005: 170),

melalui kegiatan ekstrakurikuler, siswa dapat dikenal dari sisi yang sama sekali

berbeda. Ekstrakurikuler adalah kegiatan diluar jam pelajaran yang berupa kegiatan

olahraga, sains, atau kegiatan pengembangan minat dan bakat lain.

2.1.5. Karakteristik Siswa Madrasah Aliyah (MA)

Menurut Sukintaka (1992: 45-46) dalam Rori lanun (2007: 19-20)

karakteristik anak MA umur 16-18 tahun antara lain:

a. Jasmani

1. Kekuatan otot dan daya tahan otot berkembang baik.

2. Senang pada keterampilan yang baik.

3. Anak perempuan posisi tubuhnya akan menjadi baik.

4. Mampu menggunakan energi dengan baik.

5. Mampu membangun rasa semangat mengagumkan.

b. Psikis atau Mental

1. Banyak memikirkan dirinya sendiri.

2. Mental menjadi stabil dan matang.

3. Membutuhkan pengalaman dari segala segi.


4. Sangat senang terhadap hal-hal yang ideal

c. Sosial

1. Sadar dan peka terhadap lawan jenis.

2. Lebih bebas.

3. Berusaha lepas dari lindungan orang dewasa.

4. Senang pada perkembangan sosial.

5. Senang pada masalah kebebasan diri dan berpetualang.

6. Sadar untuk berpenampilan dengan baik.

7. Tidak senang dengan peraturan.

8. Kelompoknya sangat menentukan sikap pribadinya.

d. Perkembangan Motorik Anak akan mencapai pertumbuhan dan

perkembangan pada masa dewasanya, keadaan tubuhnya pun akan

menjadi lebih kuat dan lebih baik.

Pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah terutama pada tingkat

madrasah aliyah (MA) sangat terbatas. Seperti bagi siswa kelas 1 hanya

mempelajari dasar-dasar permainan dalam suatu cabang olahraga, kelas 2

diarahkan pada pemahaman cara melakukan latihan-latihan suatu cabang olahraga

dan untuk Kelas 3 diarahkan pada pemahaman terhadap pola dari strategi

permainan (taktik dan strategi permainan suatu cabang olahraga). Untuk itu guna

memperdalam pengetahuan siswa terhadap suatu cabang olahraga maka sekolah

membuat kebijakan untuk mengadakan ekstrakurikuler, agar siswa dapat

berprestasi dengan baik.

2.2 Kajian Penelitian yang Relevan


Jurnal Penelitian Sridadi (2007) Tes koordinasi mata tangan dan kaki telah

digunakan untuk seleksi calon mahasiswa baru sejak tahun 2007. Saat inites

koordinasi tersebut telah banyak digunakan oleh mahasiswa untuk keperluan

pengambilan data penelitian dalamrangka tugas akhir skripsi. Permasalahannya

tes koordinasi ini sampai saat ini belum ada norma penilaiannya.

Tujuanpenelitian ini adalah menyusun norma penilaian tes koordinasi mata

tangan dan kaki. Metode dalam penelitian iniadalah survey dengan teknik

tes.Populasi penelitian adalah mahasiswa program studi PJKR dan PGSD

angkatantahun 2010 berjumlah 12 kelas. Teknik pengambilan sampel

menggunakan random sampling yakni 25% dari jumlahkelas sehingga

diperoleh sampel 1 kelas PJKR dan 2 kelas PGSD dan berjumlah 165 orang

putra dan 43 orangputri.. Instrumen yang digunakan dalam pengambilan data

adalah tes koordinasi mata tangan dan kaki milik Sridadiyang memiliki

reliabilitas tes 0,86. Data yang diperoleh diolah dan disusun dalam bentuk

klasifikasi atau kategori.Hasil penelitian menggambarkan norma penilaian tes

koordinasi mata tangan dan kaki untuk putra Baik Sekali (48>);Baik (40 – 47);

Cukup (32 – 39); Kurang (24 – 3); Kurang Sekali (< 23), dan putriBaik Sekali

(43>); Baik (37 – 42);Cukup (31 – 36); Kurang (25 – 30); Kurang Sekali (< 24).

Nanda Alfian Mahardhika (2012) Kajian masalah mengenai daya ledak otot

tungkai, kekuatan otot perut dan kelentukan sendi panggul dengan kecepatan

tendangan sabit masih perlu diadakan penelitian. Tujuan penelitian ini untuk

mengetahui hubungan daya ledak otot tungkai,kekuatan otot perut dan

kelentukan sendi panggul dengan kecepatan tendangan sabit pesilat tapak suci.
Penelitian ini menggunakan variabel bebas (daya ledak otot tungkai, kekuatan

otot perut, dan kelentukan sendi panggul) serta variabel terikat (kecepatan

tendangan sabit). Dengan populasi adalah pesilat tapak suci kabupaten klaten,

dengan sampel berjumlah 20 orang dengan teknik pengambilan sampel

purposive sampling. Instrumen daya ledak otot tungkai menggunakan vertical

jump, kekuatan otot perut menggunakan sit-up, kelentukan sendi panggul

menggunakan sit and reach dan kecepatan tendangan sabit dengan menendang

kearah sandsack. Analisis data yang digunakan adalah uji prasyarat analisis,

analisis regresi sederhana dan analisis regresi ganda dengan taraf signifikansi 5

%. Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa (1) daya ledak otot

tungkai mempunyai hubungan yang signifikan dengan kecepatan tendangan

sabit ditunjukan dengan -p 0,000 < α 0,05, (2) kekuatan otot perut ditunjukan

dengan – p 0,000 < α 0,05, (3) kelentukan sendi panggul ditunjukan dengan –p

0,003 < α 0,05. Dapat diambil kesimpulan bahwa ada hubungan yang signifikan

antara daya ledak otot tungkai, kekuatan otot perut, dan kelentukan sendi

panggul dengan kecepatan tendangan sabit pada pesilat tapak suci kabupaten

klaten tahun 2012 ditunjukan dengan –p 0,000 < α 0,05.

Estrie Dwi Pamugar (2016) Anak tunagrahita mempunyai keterbatasan

motorik dalam gerak, menyebabkan anak yang berkebutuhan khusus

mengalami kendala dalam kegiatan pembelajaran. Adapun tujuan penelitian ini

adalah untuk mengetahui koordinasi mata, tangan, dan kaki siswa tunagrahita

kelas atas SLB Negeri 1 Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian

deskriptif menggunakan metode survei dengan instrumen berupa tes


pengukuran koordinasi mata dan tangan, mata dan kaki, serta mata tangan dan

kaki. Subjek penelitian yang digunakan adalah siswa siswa tuna grahita kelas

atas SLB Negeri 1 Yogyakarta yang berjumlah 13 anak. Teknik analisis data

menggunakan deskriptif dengan persentase. Berdasarkan hasil penelitian

diketahui kemampuan koordinsi mata dan tangan siswa tunagrahita kelas atas

SLB Negeri 1 Yogyakarta sebagain besar memiliki kategori yang sangat kurang

dengan persentase 53,84 %. Hasil penelitian tes koordinsi mata dan kaki siswa

tunagrahita kelas atas SLB Negeri 1 Yogyakarta sebagain besar memiliki

kategori yang kurang dengan persentase 46,15 %. Sedangkan hasil penelitian

diketahu Kemampuan tes koordinsi mata tangan dan kaki siswa tunagrahita

kelas atas SLB Negeri 1 Yogyakarta sebagain besar memiliki kategori yang

kurang dengan persentase 46,15 %.

2.3 Kerangka Berfikir

Dalam melakukan serangan seperti tendangan dan pukulan membutuhkan

koordinasi mata tangan dan kaki yang baik sehingga pesilat dapat mengarahkan

serangan dengan tepat sasaran. Koordinasi adalah kemampuan saraf dalam

menyesuaikan dan mengatur gerakan secara simultan pada saat melakukan suatu gerak.

Selain itu untuk mencapai jangkauan yang jauh dan cepat sehingga sampai kesasaran

membutuhkan kelentukan yang baik pula, kelentukan sendi panggul yaitu merupakan poros

dalam melakukan tendangan semakin lentuk panggul seorang atlet maka semakin keras

atau jauh jangkauan tendangan yang dihasilkan, sehingga jika seorang pesilat memiliki

kelentukan, koordinasi mata tangan dan kaki dengan baik maka dalam melakukan pukulan

dan tendangan bisa tepat sesuai sasaran yang diinginkan, dalam pertandingan seorang

pesilat dituntut melakukan serangan ke daerah serang jika meleset maka akan sering terjadi
pelanggaran seperti memukul kepala dan lain-lain. Hal ini terjadi karena seorang pesilat

memiliki kelentukan, koordinasi mata tangan dan kaki yang kurang baik. sehingga menurut

peneliti ada Hubungan antara kelentukan dan koordinasi mata tangan kaki terhadap

kemampuan koordinasi tendangan pukulan.

2.4 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan pada tinjauan pustaka dan kerangka berfikir dapat diajukan

suatu hipotesis yang berbunyi ; ” Ada Hubungan Antara Kelentukan dan Koordinasi

Mata Tangan Kaki Terhadap Kemampuan Koordinasi Tendangan dan Pukulan di

Ekstrakurikuler Pencak Silat MA Al-Asror 2018/2019 ”

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah survey dan test, karena menurut

sugiyono (2015:12) metode survey digunakan untuk mendapatkan data dari tempat

tertentu yang alamiyah bukan (bukan buatan) tetapi peneliti melakukan perlakuan

dalam pengumpulan data, misalnya dengan mengedarkan kuesioner, test,

wawancara terstruktur, dan sebagainya (perlakuan tidak seperti dalam eksperimen).


Test adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk

mengukur ketrampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang

dimiliki oleh individu atau kelompok (suharsimi arikunto, 2006:150)

3.1. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif, adapun desain

penelitian ini adalah “one-shot” model, yaitu model pendekatan yang menggunakan

satu kali pengumpulan data pada “suatu saat”(Suharsimi Arikunto,1998:81).

Seperti digambarkan pada gambar 3.1

Kelentukan (X1) Kemampuan


Koordinasi
Sampel Koordinasi Mata
Tendagan dan
Tangan dan Kaki
Pukulan (Y)
(X2)

Gambar 3.1 desain penelitian

3.2. Populasi Dan Sampel

3.2.1. Populasi

Menurut Sutrisno Hadi (1990:220) bahwa yang dimaksud dengan populasi

adalah seluruh penduduk yang dimaksud untuk diselidiki. Populasi dibatasi

berjumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang

sama.
Karakteristik populasi yaitu: 1) uisa 2) jenis kelamin 3) lokasi atau tempat

latihan. Berdasarkan karakteristik diatas maka populasi dalam penelitian ini adalah

seluruh peserta didik ekstrakurikuler MA AL ASROR tahun 2019 yang berjumlah

20 peserta didik. Masing-masing peserta didik berusia antara 16-18 tahun, dari 20

peserta didik dibagi kedalam tiga kelas, kelas X,XI dan XII. Dengan demikian maka

populasi yang diambil telah memenuhi syarat pupolasi.

3.2.2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah peserta didik ekstrakurikuler pencak

silat MA AL ASROR yang bejumlah 20 peserta didik. Menurut Suharsimi Arikunto

(2006:104) untuk sekedar diingat apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik

diambil semua sehingga penelitian merupakan penelitian populasi. Maka teknik

penarikan sampel yang digunakan adalah purpose sampling.

3.3. Variabel Penelitian

Menurut Suharsimi Arikunto (2002:94) yang dikutip dari Sutrisno Hadi

variabel penelitian adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian

suatu penelitian. Dalam penelitian ini terdapat 2 variabel utama: variabel bebas

(Independen Variabel). Dan variabel terikat (Dependen Variabel).Menurut

sugiyono (2008:61) variabel bebas (independen variabel) adalah variabel yang

mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya, sedangkan

variabel terikat (dependen variabel) merupakan variabel yang dipengaruhi atau

yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.

1. Varibel Bebas
a. Kelentukan

Kelentukan adalah kemampuan persendian untuk bergerak

secara leluasa. Tes kelentukan diukur dengan Sit and Reach (duduk

dan jangkau) dengan satuan centimeter dari Johansyah Lubis (2004:

184)

b. Koordinasi Mata Tangan dan Kaki

Koordinasi mata tangan dan kaki adalah suatu kemampuan

seseorang dalam mengkoordinasikan mata, tangan, dan kaki dalam

merangkai berbagai gerakan menjadi satu dalam satu satuan waktu

secara tepat dan menyeluruh dan tepat dalam irama gerak yang

terkontrol sesuai dengan tujuan. Tes yang dilakukan dengan

melempar, menangkap dan memendang bola ke arah sasaran yang

diberi skor 4, 3, 2 dan 1 selama 30 detik dari Sridadi (2007: 11).

2. Variable Terikat

a. Kemampuan Koordinasi Tendangan dan Pukulan

Untuk mengetahui kemampuan koordinasi Tendangan dan Pukulan.

Tes yang dilakukan Atlet bersiap-siap berdiri di belakang sandsack/target

dengan kedua kaki berada ditengah-tengah garis. Pada saat aba-aba ‘ya’

Atlet melakukan tendangan dan pukulan ke arah sandsack/target pada

sasaran bidang setinggi 15 cm, selama 30 detiksebanyak-banyaknya.

Pelaksanaan dilakukan 3 kali dan diambil waktu yang terbaik dengan

ketinggian sandsack dengan ketinggian 75 cm (putri) dan 100 cm


(putra).Penilaian: Skor berdasarkan jumlah serangan tangan dan kaki

selama 30 detik yang mengenai sasaran dari Johansyah Lubis (2004: 202)

3.4. Teknik Dan Alat Pengumpulan Data

3.4.1. Instrumen Penelitian

Menurut Suharsimi Arikunto (2002; 136) mengatakan bahwa instrumen

penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam

mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam

arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah. Tes yang

digunakan yaitu :

a. Tes Kelentukan

Instrumen Tes Kelentukan dilakukan dengan menggunakan Sit and

Reach atau (duduk dan jangkau). Fasilitas dan Alat yang digunakan

adalah bangku berskala centi meter Johansyah Lubis (2004: 184).

b. Tes Koordinasi Mata Tangan dan Kaki

Instrument Tes Koordinasi Mata Tangan dan Kaki dilakukan dengan

melempar, menangkap dan memendang bola ke arah sasaran yang diberi

skor 4, 3, 2 dan 1 selama 30 detik. Fasilitas dan Alat yang digunakan

adalah 2 buah bola tangan, 1 buah stopwatch dan alat tulis untuk

mencatat hasil dari Sridadi (2007: 11)

c. Tes Koordinasi Kemampuan Tendangan dan Pukulan

Instrument Tes Koordinasi Kemampuan Tendangan dan Pukulan

dilakukan dengan Atlet bersiap-siap berdiri di belakang sandsack/target

dengan kedua kaki berada ditengah-tengah garis. Pada saat aba-aba ‘ya’
Atlet melakukan tendangan dan pukulan ke arah sandsack/target pada

sasaran bidang setinggi 15 cm, selama 30 detiksebanyak-banyaknya.

Pelaksanaan dilakukan 3 kali dan diambil waktu yang terbaik dengan

ketinggian sandsack dengan ketinggian 75 cm (putri) dan 100 cm

(putra). Fasilitas dan Alat yang digunakan sandsack (diharapkan 50

kg)/target (Hand Box), Meteran dan Stopwatch dari Johansyah Lubis

(2004: 202).

3.4.2. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Suharsimi Arikunto (2002:96) data adalah segala fakta dan angka

yang dapat dijadikan bahan untuk menyusun suatu informasi, sedangkan informasi

adalah hasil pengolahan data yang dipakai untuk suatu keperluan. Dalam penelitian

ini pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan tes Kelentukan,

Koordinasi Mata Tangan dan Kaki dan Kemampuan Koordinasi Tendangan dan

Pukulan. Pelaksanaan setiap tes dan pengkuran sebagai berikut :

1) Pelaksanaan Tes Kelentukan

1. Tujuan

Untuk mengetahui kemampuan kelentukan batang tubuh dan sendi

panggul calon atlet pencak silat.

2. Fasilitas dan alat

Bangku berskala cm.

3. Petugas

Pengukur jarak dan pencatat skor

4. Pelaksanaan
Calon atlet duduk dilanta dengan posisi kedua lutut lurus. Didepan

alat sebuah bangku yang berskala cm. kedua tangan dengan jari tangan

lurus ke depan secara perlahan-lahan sejauh mungkin. Tes ini

dilakukan dua kali secara berturut-turut.

5. Penilaian

Skor terbaik dari dua kali percobaan dicatat sebagai skor dalam

satuan cm. hasil yang diperoleh dikonversikan pada tabel norma

berikut.

Tabel 3.4.2.1 Normal untuk usia 15-17 tahun

Kategori Usia Untuk Putra Usia Untuk Putri


15 16 17 15 16 17

Sangat baik >18.0 >19.0 >19.5 >20 >21.0 >22

Baik 16.0- 17.0- 17.0- 17.0- 18.0- 19.0-


17.5 18.5 19.0 19.5 20.5 21.5

Cukup 13.5- 14.0- 14.5- 14.0- 16.0- 17.0-


15.5 16.5 16.5 16.5 17.5 18.5

Kurang 11.5- 12.0- 12.5- 12.5- 12.5- 15.0-


13.0 13.5 14.0 13.5 13.5 16.5

Sangat kurang <11.0 <11.5 <11.5 <12.0 <13.0 <14.5

Tabel 3.4.2.2 Fleksibility Sit and Reach Wanita

Usia Sangat Kurang Cukup Diatas Baik Exellent


Kurang Cukup
18-25 >14 15-16 17-20 20-21 22 <23

26-35 >13 14-17 18-19 20 21-22 <23

36-45 >12 13-16 17 18-19 20-21 <22

46-55 >10 11-14 15-16 17-18 19-20 <21


56-65 >9 10-14 15 16-17 19-19 <20

>66 >9 10-14 15-16 17 18-19 <20

Tabel 2.3.4.2.3. Fleksibility Sit and Reach Laki-Laki

Usia Sangat Kurang Cukup Diatas Baik Exellent


Kurang Cukup
18-25 >11 12-13 14-17 18-19 20-21 <22

26-35 >9 10-12 13-16 17 18-19 <20

36-45 >7 8-11 12-15 16-17 18-19 <20

46-55 >6 7-9 10-13 14-15 16-18 <19

56-65 >5 6-8 9-11 13 14-16 <17

>66 >4 5-7 9-11 12-13 14-16 <17

2) Pelaksanaan Tes Koordinasi Mata Tangan dan Kaki

Tes koordinasi mata tangan dan kaki digunakan adalah sebagai berikut:
Gambar 3.4.2.1 Target lempar dan tendang dalam tes koordinasi mata,

tangan,dan kaki. Sumber. Jurnal Penelitian Sridadi (2007: 11)

1. Bentuk Tes : Melempar, menangkap dan menendang bola ke arah sasaran

yang diberi skor 4, 3, 2, dan 1 selama 30 detik.

2. Tujuan : Mengukur koordinasi mata, tangan, dan kaki.

3. Alat dan Fasiltas :

2 buah bola tangan

1 buah stop watch

Alat tulis untuk mencatat hasil

4. Petunjuk Pelaksanaan :

1) Testi siap dengan membawa bola tangan di belakang garis batas

dengan jarak 4 meter dari dinding (sasaran/target) dan kesamping

tak terbatas.
2) Setelah aba-aba "Ya", Testi secepat mungkin melakukan gerakan

melempar, menangkap, dan menendang bola ke arah sasaran/target

(dinding) yang diberi skor 4, 3, 2, dan 1 secara terus menerus selama

30 detik.

3) Bola yang memantul dari hasil lemparan maupun tendangan harus

melewati garis batas yang sudah ditentukan.

4) Setiap Testi disediakan 2 (dua) buah bola. Jika bola pertama yang

dilempar atau ditendang pantulannya tidak melewati garis batas atau

keluar garis batas (luncas), Testee diperbolehkan mengambil bola

kedua (cadangan) dan selanjutnya kembali di belakang garis untuk

melanjutkan gerakan berikutnya sampai waktu yang ditentukan

habis.

5) Jika bola kedua yang dilempar atau ditendang pantulannya tidak

melewati garis batas atau keluar garis batas (luncas), Testee

secepatnya dapat mengambil bola tersebut tanpa bantuan dari

siapapun, selanjutnya kembali di belakang garis untuk melakukan

gerakan berikutnya sampai waktu yang ditentukan habis.

5. Penilaian :

1) Skor yang dihitung adalah, jumlah target yang berhasil disentuh

bola hasil dari lemparan atau tendangan.

2) Apabila bola yang dilempar atau ditendang mengenai garis sasaran,

maka skor tertinggi yang dihitung.


3) Apabila hasil lemparan atau tendangan tidak mengenai sasaran

diberi skor "0"

4) Tes dilakukan sebanyak 1 (satu) kali kesempatan, kemudian di ambil

nilai yang diperoleh.

6. Petugas :

1) 1 orang pengambil waktu.

2) 1 orang pengamat

3) 1 orang pencatat hasil

Tabel 2.3.4.2.4. Tabulasi Hasil Penilaian Koordinasi Mata, Tangan, dan

Kaki

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
No Nama Nomor Tes Jumlah
Peserta Retes L T L T L T L T L T

1 1

2 1

3) Tes Koordinasi Kemampuan Tendangan dan Pukulan

1. Tujuan : Untuk Mengetahui Kemampuan Koordinasi Tendangan Dan

Pukulan Pencak Silat atlet.

2. Peralatan:

1) Sandsack (diharapkan 50 Kg)/target (Hand Box).

2) Meteran
3) Stop Watch

3. Petugas:

1) Pengukur ketinggian sandsack/target.

2) Pencatat waktu

3) Penjaga sandsack

4. Pelaksanaan: Atlet bersiap-siap berdiri di belakang sandsack/target dengan

kedua kaki berada ditengah-tengah garis. Pada saat aba-aba ‘ya’ Atlet

melakukan tendangan dan pukulan ke arah sandsack/target pada sasaran

bidang setinggi 15 cm, selama 30 detik sebanyak-banyaknya. Pelaksanaan

dilakukan 3 kali dan diambil waktu yang terbaik dengan ketinggian

sandsack dengan ketinggian 75 cm (putri) dan 100 cm (putra).

5. Penilaian: Skor berdasarkan jumlah serangan tangan dan kaki selama 30

detik yang mengenai sasaran.

Formulir Penilaian Koordinasi tendangan dan pukulan.

Nama : …………………………………..

Umur : …………………………………..

Jenis Kelamin : Laki-laki/Perempuan

Penampilan/teknik Serangan Tangan Serangan Tungkai/kaki


Penampilan 1
Penampilan 2
Penampilan 3
Jumlah
Tabel 2.3.4.2.5. Penilaian Koordinasi Tendangan dan Pukulan Ketrampilan Atlet

Katagori Putri Putra


Baik Sekali > 40 > 50
Baik 35 – 39 40 - 49
Cukup 29 - 34 36 - 39
Kurang 23 - 28 30 - 35
Kurang Sekali < 22 < 39

3.5. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis

korelasi. Sebelum dilakukan analisis korelasi, maka terlebih dahulu dilakukan uji

prasyarat analisis yang meliputi uji normalitas dan uji linieritas.

3.5.1. Uji Prasyarat Analisis

a. Uji Normalitas

Uji normalitas ini digunakan untuk mengetahui apakah data yang

akan dianalisis tersebut berdistribusi normal atau tidak. Pengujian

normalitas sebaran data tingkat kemampuan tendangan dan pukulan,

kelentukan dan koordinasi mata tangan kaki yang digunakan dalam

penelitian ini adalah dengan menggunakan bantuan komputer program

SPSS 16.

b. Uji Linieritas

Tujuan dilakukan uji linieritas adalah untuk mengetahui apakah

variabel bebas yang dijadikan prediktor mempunyai hubungan yang

linier atau tidak dengan variabel terikatnya. Uji linieritas dilakukan


untuk mengetahui apakah hubungan antara variabel bebas dengan

variabel terikat bersifat linier (garis lurus). Uji linier ini dengan

menggunakan bantuan komputer program SPSS 16.

3.5.2. Uji Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan

penelitian. Analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis yang diajukan

yaitu ada hubungan dari variabel bebas (X1,X2) dengan variabel terikat (Y).

Adapun untuk menguji hipotesis pertama, kedua menggunakan bantuan

computer program SPSS 16.

Sebelum dilakukan analisis statistik untuk membuktikan hipotesis:

ada hubungan yang diberikan antara variabel bebas yaitu kelentukan,

koordinasi mata tangan kaki terhadap kemampuan koordinasi tendangan

dan pukulan.