Anda di halaman 1dari 27

MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

IGM. Subiksa1), F. Agus1), Wahyunto1), dan E. Eko Ananto2)


1)
Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian
2)
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Berdasarkan interpretasi citra satelit, Indonesia memiliki lahan gambut tropis terluas
di dunia yaitu sekitar 21 juta ha, tersebar terutama di Sumatera, Kalimantan dan Papua
(Wahyunto et al., 2003, 2004, 2007). Walaupun secara fisik terlihat hampir sama, namun
sejatinya gambut memiliki variabilitas sangat tinggi baik dari segi ketebalan, kematangan
maupun kesuburannya. Oleh karenanya, tidak semua lahan gambut layak untuk pertanian
karena berbagai kendala fisik dan kimia. Dari 18,3 juta ha lahan gambut, hanya sekitar
6 juta ha yang layak bersyarat untuk pertanian (Tabel 1). Namun karena keterbatasan
lahan produktif, akhirnya lahan gambut yang dulunya dianggap sebagai “lahan sisa” (waste
land) dan tidak layak, juga dimanfaatkan untuk ekstensifikasi pertanian terutama untuk
perkebunan kelapa sawit dan karet.
Dalam keadaan alami, ekosistem hutan gambut merupakan ekosistem yang stabil.
Ketebalannya bisa bertambah karena proses deposisi bahan organik lebih besar dibandingkan
proses dekomposisi. Namun bila kondisi alami terganggu, maka terjadi sebaliknya, lahan
mengalami degradasi, sehingga dikatakan bahwa lahan gambut adalah ekosistem yang
rapuh. Lahan gambut juga merupakan lahan marginal karena secara inheren (sifat asli)
tanahnya bereaksi masam, miskin hara dan mineral yang dibutuhkan tanaman. Oleh
karenanya, pemanfaatan lahan harus diawali dengan pembenah tanah dan penambahan
input produksi agar tanaman tumbuh optimal.
Sampai saat ini sebagian lahan gambut telah dibuka dan dimanfaatkan untuk lahan
pertanian baik melalui program pemerintah, swasta, maupun swadaya masyarakat. Dari
areal yang dibuka ini, di samping ada yang berhasil secara lestari, namun banyak juga yang
menjadi lahan terlantar dan rusak. Kecenderungan perluasan pemanfaatan lahan gambut
sangat signifikan terjadi di beberapa provinsi yang memiliki areal gambut yang luas, seperti
Riau, Jambi, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Hasil penelitian dari WWF (2007)
menunjukkan laju deforestasi hutan gambut di Riau yang sangat tinggi, yaitu dari 50 ribu
ha pada tahun 1982-1988 menjadi 180 ribu ha pada tahun 2005-2006. Deforestasi hutan
gambut dalam skala luas yang mengakibatkan kerusakan lahan telah terjadi di Kalimantan
Tengah pada proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) dicanangkan pemerintah pada
pertengahan tahun sembilan puluhan.
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

Tabel 1. Luas dan Sebaran Lahan Gambut dan yang Layak untuk Pertanian di Indonesia
(Wahyunto, et al., 2004)

Pulau / Provinsi Luas Total (ha) Layak untuk Pertanian (ha)

Sumatra 6.244.101 2.253.733


Riau 4.043.600 774.946
Jambi 716.839 333.936
Sumatera Selatan l 1.483.662 1.144.851
Kalimantan 5.072.249 1.485.259
Kalimantan Tengah 3.010,640 672.723
Kalimantan Barat 1.729.980 694.714
Kalimantan Selatan 331.629 162.819
Papua dan Papua Barat 7.001.239 2.273.160
Total 18.317.589 6.012.142

Sejak pembukaan mega proyek pengembangan lahan gambut (PLG) 1 juta ha di


Kalimantan Tengah, pemanfaatan lahan gambut menjadi kontroversi antara pandangan
dari aspek ekonomi dan aspek lingkungan. Dari aspek ekonomi, lahan gambut adalah
potensi sumber daya lahan yang dapat dikembangkan untuk pertanian tanaman pangan,
hortikultura maupun perkebunan, sedangkan pandangan dari aspek lingkungan, lahan
gambut merupakan ekosistem yang memiliki fungsi sangat vital sebagai pengatur hidrologi,
iklim global, biodiversity flora dan fauna yang spesifik dan tempat pemijahan dan nursery
bagi ikan tertentu. Ekosistem lahan gambut sangat penting dalam sistem hidrologi kawasan
hilir DAS karena kemampuannya menyerap air sampai 13 kali lipat dari bobotnya. Selain
itu, kawasan gambut juga merupakan penyimpan cadangan karbon sangat besar, terutama
di bawah permukaan tanah, selain pada biomassa tanaman yang tumbuh diatasnya. Oleh
karenanya penggunaan lahan gambut harus sedemikian rupa sehingga ekosistem ini
terlindungi dari kerusakan yang berpengaruh besar terhadap pada lingkungan gambut itu
sendiri, maupun pada lingkungan sekitarnya dan iklim global.
Hasil investigasi menunjukkan bahwa ketergantungan penduduk terhadap lahan
gambut seperti di Riau dan Kalimantan Barat sangat tinggi (Subiksa et al., 2009).
Pemanfaatan lahan gambut sebagai sumber perekonomian masyarakat adalah keniscayaan.
Lahan yang sudah dikonversi menjadi lahan pertanian produktif tidak mungkin untuk
dikembalikan menjadi hutan untuk memenuhi tuntutan masyarakat global. Namun
demikian, dua kepentingan yang berbeda ini perlu diusahakan titik temu yang saling
menguntungkan. Beberapa upaya dapat ditempuh antara lain membatasi area yang dibuka
melalui regulasi, perbaikan budidaya dan pemilihan komoditas yang rendah emisi.

114
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

Dengan meningkatnya kebutuhan untuk penggunaan lahan gambut maka diperlukan


suatu pemahaman tentang sifat dan cara pengelolaan lahan gambut secara lestari, dengan
meminimalkan dampak kerusakan lingkungan. Bab ini membahas tentang karakteristik
lahan gambut, pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian, degradasi lahan gambut serta
pendekatan untuk pengelolaan lahan gambut secara lestari.

Karakteristik Lahan Gambut


Pilihan untuk memanfaatkan lahan gambut untuk pertanian atau tindakan konservasi
untuk menjaga lingkungan, harus didasarkan pada pemahaman yang benar terhadap
karakteristik lahan gambut. Hal ini untuk mencegah kerusakan lahan yang masif seperti
PLG 1 juta ha. Tanah gambut tersusun dari bahan organik yang belum melapuk sempurna
sehingga sangat berbeda dengan tanah mineral, baik sifat fisik maupun kimia. Oleh
karenanya, teknologi pengelolaan dan konservasi lahan sangat berbeda dengan tanah
mineral dan spesifik lokasi.

Karakteristik Fisik
Gambut terbentuk di lingkungan yang jenuh air sehingga kadar air tanah gambut
di lapangan berkisar antara 100 – 1300 persen dari berat kering gambut (Mutalib et al.,
1991). Artinya bahwa gambut mampu menyerap air sampai 13 kali dari bobotnya. Karena
kadar air yang tinggi, maka secara fisik tanah menjadi lembek dan dayanya menahan beban
(bearing capasity) menjadi rendah (Nugroho et al., 1995; Widjaja Adhi, 1995) serta berat
volume (BD)-nya rendah. BD tanah gambut lapisan atas bervariasi antara 0,1 sampai 0,3
g/cm3 tergantung pada tingkat dekomposisi gambut dan kadar mineral. Gambut fibrik
(gambut yang tidak matang) yang umumnya berada di lapisan bawah memiliki BD lebih
rendah dari 0,2 g/cm3, tapi gambut pantai dan gambut di jalur aliran sungai yang mendapat
pengayaan mineral, bisa memiliki BD > 0,2 g/cm3 (Tie and Lim, 1991; Agus et al., 2010).
Volume gambut akan menyusut bila lahan gambut didrainase, sehingga terjadi penurunan
permukaan tanah (subsiden). Selain karena penyusutan volume, subsiden juga disebabkan
oleh adanya proses dekomposisi dan erosi. Dalam 2 tahun pertama setelah lahan gambut
didrainase, laju subsiden bisa mencapai 50 cm. Pada tahun berikutnya laju subsiden sekitar
2 – 6 cm per tahun tergantung kematangan gambut dan kedalaman saluran drainase.
Adanya subsiden bisa dilihat dari akar pohon yang muncul dan menggantung di atas
permukaan tanah.
Rendahnya daya menahan atau menyangga beban (bearing capasity) lahan gambut
menyulitkan beroperasinya peralatan mekanisasi karena tanahnya yang empuk. Gambut
juga tidak bisa menahan pokok tanaman tahunan untuk berdiri tegak. Tanaman perkebunan
seperti karet, kelapa sawit atau kelapa seringkali doyong atau bahkan roboh.

115
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

Gambar 1. Tanaman Doyong dan Akar Menggantung


Gambut memiliki sifat mengering tidak balik. Gambut yang telah sangat mengering
tidak bisa menyerap air lagi kalau diberi air (hidrofobik). Gambut yang mengering ini
sifatnya sama dengan kayu kering yang mudah hanyut dibawa aliran air dan mudah
terbakar serta tidak berfungsi sebagai tanah (Widjaja Adhi, 1988). Gambut yang terbakar
menghasilkan energi panas yang lebih besar dari kayu/arang terbakar dan sulit dipadamkan.
Api yang membakar gambut bisa merambat di bawah permukaan, sehingga seringkali
kebakaran lahan gambut bisa meluas tidak terkendali.

Karakteristik Kimia
Gambut mengandung asam-asam organik yang tinggi sehingga tingkat kemasamannya
tergolong tinggi dengan nilai pH berkisar antara 3 - 5. Gambut pedalaman yang oligotropik
dan memiliki substratum pasir kuarsa di Berengbengkel Kalimantan Tengah atau di
Sepucuk Sumatera Selatan memiliki kisaran pH 3,25 – 3,75 (Halim, 1987; Salampak,
1999; Subiksa et al., 2009). Sementara itu gambut peralihan di sekitar Air Sugihan Kiri
Sumatera Selatan memiliki kisaran pH H2O yang lebih tinggi yaitu antara 4,1 sampai 4,3
(Hartatik et al., 2004).
Tidak seperti tanah mineral yang muatannya pada fase padat, muatan tanah gambut
bersumber dari fase cairnya yang berupa asam organik. Oleh karenanya gambut tidak
boleh kering karena akan kehilangan seluruh muatannya dan tidak berfungsi sebagai
tanah. Muatan negatif (yang menentukan Kapasitas Tukar Kation, KTK) pada tanah
gambut seluruhnya adalah muatan tergantung pH, dimana KTK akan naik bila pH
gambut ditingkatkan. Muatan negatif yang terbentuk adalah hasil disasosiasi hidroksil pada
gugus karboksilat atau fenol. Oleh karenanya penetapan KTK menggunakan pengekstrak

116
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

amonium acetat pH 7 akan menghasilkan nilai KTK yang lebih tinggi dibandingkan KTK
yang sebenarnya. Hal ini disebabkan karena proses deprotonisasi pada gugus karboksil
dan fenol menghasilkan muatan negatif. Oleh karenanya penetapan KTK sebaiknya
menggunakan pengekstrak amonium klorida untuk mendapatkan nilai KTK yang sesuai
dengan keadaan di lapangan KTK tinggi menunjukkan kapasitas jerapan (sorption capacity)
gambut tinggi, namun kekuatan jerapan (sorption power) lemah, sehingga kation-kation K,
Ca, Mg dan Na yang tidak membentuk ikatan koordinasi akan mudah tercuci.
Karena sebagian besar merupakan gambut oligotropik, maka gambut di Indonesia
memiliki kandungan kation basa-basa seperti Ca, Mg, K, dan Na umumnya sangat rendah
terutama pada gambut tebal. Semakin tebal gambut, basa-basa semakin rendah dan reaksi
tanah menjadi semakin masam (Driessen dan Soepraptohardjo, 1974). Di sisi lain kapasitas
tukar kation (KTK) gambut tergolong tinggi, sehingga kejenuhan basa (KB) menjadi sangat
rendah. Tim Institut Pertanian Bogor, 1974 melaporkan, tanah gambut pedalaman di
Kalampangan Kalimantan Tengah mempunyai nilai KB kurang dari 10 persen, demikian
juga gambut di pantai Timur Riau (Suhardjo dan Widjaja-Adhi, 1976).
Secara alamiah lahan gambut memiliki tingkat kesuburan rendah. Selain karena
kandungan unsur haranya rendah, lahan gambut juga mengandung beragam asam-asam
organik yang sebagian bersifat racun. Asam organik yang bersifat racun bagi tanaman adalah
dari golongan asam fenolat, seperti asam hidroxybenzoat, asam vanilat, asam siringat, asam
p-kumarat, dan asam ferulat. Namun demikian asam-asam tersebut merupakan bagian
aktif dari tanah yang menentukan kemampuan gambut untuk menahan unsur hara.
Karakteristik dari asam-asam organik ini akan menentukan sifat kimia dari gambut.
Untuk mengurangi pengaruh buruk asam-asam organik beracun dapat dilakukan
dengan menambahkan bahan-bahan yang banyak mengandung kation polivalen seperti
Fe, Al, Cu dan Zn. Kation-kation tersebut membentuk ikatan koordinasi dengan ligan
organik membentuk senyawa komplek/khelat. Oleh karenanya bahan-bahan yang
mengandung kation tersebut bisa dimanfaatkan sebagai bahan amelioran (Supiandi et al.,
1997; Saragih, 1994)
Tanah gambut juga mengandung unsur mikro yang sangat rendah dan diikat cukup
kuat oleh bahan organik membentuk khelat, sehingga tidak tersedia bagi tanaman
(Kanapathy, 1972). Selain itu, adanya kondisi reduksi yang kuat menyebabkan unsur
mikro direduksi menjadi bentuk logamnya yang tidak bermuatan. Kandungan unsur
mikro pada tanah gambut dapat ditingkatkan dengan menambahkan tanah mineral atau
menambahkan pupuk mikro.
Karena terbentuk dari pohon berkayu, maka gambut di Indonesia mempunyai
kandungan lignin yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanah-tanah gambut yang berada
di daerah yang beriklim sedang (Driessen dan Suhardjo, 1976). Lignin yang mengalami
proses degradasi dalam keadaan anaerob akan terurai menjadi senyawa humat dan asam-

117
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

asam fenolat (Kononova, 1968). Asam-asam fenolat bersifat fitotoksik dan menyebabkan
pertumbuhan tanaman terhambat (Driessen, 1978; Stevenson, 1994; Rachim, 1995).
Asam fenolat merusak sel akar tanaman, sehingga asam-asam amino dan bahan lain
mengalir keluar dari sel, menghambat pertumbuhan akar dan serapan hara sehingga
pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, daun mengalami klorosis (menguning) dan pada
akhirnya tanaman akan mati.

Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian


Sesuai dengan Keppres No. 32/1990 gambut dengan ketebalan >3 m diperuntukkan
buat kawasan konservasi. Selanjutnya Permentan No. 14/2009 mengatur pemanfaatan
lahan gambut untuk perkebunan, khususnya kelapa sawit. Menurut Djaenuddin (2003)
lahan dengan ketebalan gambut antara 0-3 m sesuai marginal untuk beberapa tanaman
tahunan seperti karet dan kelapa sawit. Hal ini disebabkan karena makin tebal lapisan
gambut maka gambut tersebut semakin rapuh (fragile). Dengan mempertahankannya
sebagai kawasan konservasi maka fungsinya sebagai penyangga hidrologi tetap terjaga.
Lebih lanjut Departemen Pertanian merekomendasikan untuk tanaman pangan dan
hortikultura diarahkan pada gambut dangkal (< 100 cm) dan untuk tanaman tahunan
dapat diusahakan pada gambut dengan ketebalan 2 – 3 m (Sabiham et al., 2008). Dasar
pertimbangannya adalah gambut dangkal memiliki tingkat kesuburan relatif lebih tinggi
dan risiko lingkungan lebih rendah dibandingkan gambut dalam.
Umumnya lahan gambut tergolong sesuai marginal (tingkat kesesuaian rendah) untuk
berbagai jenis tanaman pangan dengan faktor pembatas utama media perakaran yang
masam dan mengandung asam organik yang beracun, unsur hara rendah dan drainase
yang tidak mendukung pertumbuhan tanaman. Dengan perbaikan kondisi lingkungan
perakaran maka beberapa tanaman pangan mampu tumbuh dan beradaptasi antara lain
padi, jagung, kedelai, ubikayu, ubijalar, talas dan sebagainya.
Pembuatan saluran drainase mikro sedalam 50 - 100 cm mutlak diperlukan, kecuali
untuk tanaman padi sawah cukup dengan kemalir 20-30 cm. Fungsi drainase adalah
untuk membuang kelebihan air, menciptakan keadaan tidak jenuh untuk pernapasan akar
tanaman, dan mengurangi kadar asam-asam organik. Semakin pendek interval/jarak antar
parit drainase lapang maka hasil padi, jagung, kedelai dan kacang tanah yang diperoleh
makin baik. Teknologi ameliorasi dan pemupukan dapat mengatasi kendala kemasaman
tanah, unsur beracun dan kahat unsur hara. Ameliorasi diperlukan untuk mengatasi
kendala reaksi tanah masam dan keberadaan asam organik beracun sehingga media
perakaran tanaman menjadi lebih baik. Kapur, tanah mineral, pupuk kandang dan abu
sisa pembakaran dapat diberikan sebagai bahan amelioran untuk meningkatkan pH dan
basa-basa tanah (Subiksa et al., 1997; Mario, 2002; Salampak, 1999). Namun tidak seperti
tanah mineral, pH tanah gambut cukup ditingkatkan sampai pH 5,0 karena gambut tidak

118
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

memiliki potensi Al yang beracun. Peningkatan pH terlalu tinggi justru berdampak buruk
karena laju dekomposisi gambut menjadi terlalu cepat. Pengaruh buruk asam-asam organik
beracun juga dapat dikurangi dengan menambahkan bahan-bahan amelioran yang banyak
mengandung kation polivalen seperti terak baja, tanah mineral laterit atau lumpur sungai
(Salampak, 1999; Supiandi et al., 1995). Pemberian tanah mineral berkadar besi tinggi
dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi (Mario, 2002; Salampak
1999; Suastika, 2004; Subiksa et al., 1997).
Pemupukan diperlukan karena secara inheren tanah gambut sangat miskin
mineral dan hara yang diperlukan tanaman. Jenis pupuk yang diperlukan adalah yang
mengandung N, P, K, Ca dan Mg. Pemupukan harus dilakukan secara bertahap dan
dosis rendah karena daya pegang (sorption power) hara tanah gambut rendah sehingga
pupuk mudah tercuci. Penggunaan pupuk yang tersedianya lambat seperti fosfat alam
akan lebih baik dibandingkan dengan SP36, karena akan lebih efisien, harganya murah
dan dapat meningkatkan pH tanah (Subiksa et al., 1991). Penambahan kation polivalen
seperti Fe dan Al akan menciptakan tapak jerapan bagi ion fosfat sehingga bisa mengurangi
kehilangan hara P melalui pencucian (Rachim, 1995).
Tanah gambut juga diketahui kahat unsur mikro karena dikhelat (diikat) oleh bahan
organik (Rachim, 1995). Oleh karenanya diperlukan pemupukan unsur mikro seperti terusi,
dan seng sulfat masing-masing 15 kg/ha/tahun, mangan sulfat 7 kg/ha, sodium molibdat
dan boraks masing-masing 0,5 kg/ha/th. Kekurangan unsur mikro dapat menyebabkan
kehampaan pada tanaman padi, tongkol kosong pada jagung atau polong hampa pada
kacang tanah. Pemanfaatan lahan gambut untuk perkebunan dan HTI meningkat sangat
cepat, terutama di Riau, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Gambar 2. Tanaman Sayuran dan Buah-buahan Tumbuh Baik di Lahan Gambut

119
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

Tabel 2. Dosis anjuran dan Manfaat Pemberian Amelioran pada Tanah Gambut.
Jenis amelioran Jumlah (t/ha/tahun) Kegunaan
Kapur 1-2 Meningkatkan basa-basa dan pH tanah
Pupuk kandang 5 - 10 Memperkaya unsur hara makro/mikro
Terak baja 2-5 Mengurangi fitotoksik asam organik, meningkatkan
efisiensi pupuk P
Tanah mineral 10 - 20 Mengurangi fitotoksik asam organik, meningkatkan
kadar hara makro/mikro
Abu 10 - 20 Meningkatkan basa-basa, dan pH tanah
Lumpur sungai 10 - 20 Mengurangi fitotoksik asam organik, meningkatkan
basa-basa, unsur hara
Sumber ; F. Agus dan IGM. Subiksa (2008)

Tanaman tahunan memerlukan saluran drainase dengan kedalaman berbeda-beda.


Tanaman sagu dan nipah tidak memerlukan drainase. Tanaman karet memerlukan saluran
drainase mikro sedalam 20-40 cm, tanaman kelapa sedalam 50 cm sedangkan tanaman
kelapa sawit memerlukan saluran drainase sedalam 50-80 cm. Gambut yang relatif tipis
(<100 cm) dan subur juga dapat ditanami dengan tanaman kopi dan kakao dengan saluran
drainase sedalam 50 cm. Semakin dalam saluran drainase semakin cepat terjadi penurunan
permukaan (subsiden) dan dekomposisi gambut, sehingga ketebalan gambut menciut dan
daya sangganya terhadap lingkungan menjadi menurun. Penurunan permukaan gambut
dengan mudah dapat diamati dengan munculnya akar tanaman di permukaan tanah.

Gambar 3. Kelapa Sawit di Lahan Gambut Kalbar (kiri)


dan Akasia di Lahan Gambut Sumsel (kanan)
Agar pertumbuhan tanaman tetap optimal dan produktif, tanaman perkebunan,
khususnya yang menghasilkan buah seperti kelapa sawit, kopi atau kakao, memerlukan
pemupukan yang teratur. Unsur hara utama yang perlu ditambahkan adalah unsur N,
P, K dan unsur mikro. Tanpa unsur tersebut pertumbuhan tanaman perkebunan sangat

120
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

merana dan hasil tanaman yang diperoleh sangat rendah. Untuk hutan tanaman industri,
pemupukan tidak mutlak diperlukan atau hanya diperlukan dalam dosis rendah pada saat
tanaman masih muda.

Degradasi Lahan dan Aspek Lingkungan


Degradasi Lahan Pertanian
Lahan gambut yang terbentuk dari akumulasi bahan organik, tergolong ekosistem yang
marginal dan rapuh. Pemanfaatan lahan ini untuk pertanian akan merubah keseimbangan
emisi GRK ke arah negatif, yang potensial berakibat terjadinya kerusakan lahan. Faktor
pendorong terjadinya kerusakan lahan pertanian di lahan gambut antara lain adalah
kebakaran lahan, pembuatan saluran drainase dan pengelolaan lahan. Kebakaran lahan bisa
terjadi saat pembukaan hutan gambut, persiapan lahan sebelum musim tanam atau musim
kemarau ekstrim. Kebakaran yang terjadi pada waktu pembukaan hutan dan persiapan
lahan seringkali terjadi karena kesengajaan, sedangkan kebakaran di saat tanaman sudah
ditanam bisa terjadi karena keadaan kemarau panjang atau karena kecelakaan. Kasus di
Kalimantan Barat, berdasarkan wawancara dengan petani, pembakaran lahan sebelum
musim tanam bisa menghabiskan 3 – 5 cm lapisan gambut (Subiksa et al., 2009). Hal
ini dilakukan petani untuk mendapatkan abu yang memperbaiki pH dan kejenuhan basa
tanah.
Reklamasi gambut untuk pertanian memerlukan jaringan drainase untuk menurunkan
permukaan air tanah. Kedalaman drainase disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Drainase
berlebihan akan mempercepat kerusakan lahan gambut melalui proses dekomposisi dan
pengeringan. Hooijer (2006) membuat persamaan empiris yang menunjukkan hubungan
antara kedalaman saluran dengan laju emisi CO2. Proses ini juga menyebabkan lapisan
tanah gambut menjadi lebih tipis. Bila substratumnya adalah tanah pasir kuarsa atau lapisan
pirit, maka tanah menjadi lebih masam dan potensial mengalami keracunan besi dan Al.
Kerusakan ekosistem gambut berdampak besar terhadap lingkungan setempat (in situ)
maupun lingkungan sekitarnya (ex situ). Kejadian banjir di hilir DAS atau meningkatnya
suhu udara merupakan dampak dari rusaknya ekosistem gambut.
Contoh kasus kerusakan lahan gambut terjadi di Delta Pulau Petak Kalimantan Selatan
dan KalimantanTengah dimana pada tahun 1952 masih tercatat sekitar 51.360 hektar
lahan gambut. Pada tahun 1972 kawasan gambut di daerah tersebut menjadi 26.400 ha
dan penelitian terakhir pada tahun 1992 kawasan gambut tersebut hanya tersisa 9.600 ha
(Sarwani dan Widjaja Adhi 1994). Hal ini menunjukkan bahwa laju kerusakan gambut
berjalan sangat cepat. Selain hilangnya fungsi hidrologis lahan gambut, ada bahaya lain bila
tanah mineral di bawah lapisan gambut adalah tanah mineral berpirit. Saat ini sebagian
besar dari bekas kawasan gambut tersebut menjadi lahan sulfat masam aktual terlantar dan
menjadi sumber pencemaran lingkungan perairan di daerah tersebut.

121
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

Deforestasi hutan di lahan gambut disebut-sebut menyumbang emisi karbon paling


tinggi di Indonesia yang bisa mempengaruhi iklim global. WWF (2008) menyatakan bahwa
antara 1982 – 2007 Provinsi Riau yang memiliki 3,2 juta ha lahan gambut telah kehilangan
57 persen hutan gambut karena alih fungsi menjadi perkebunan dan penggunaan lainnya.
Lebih lanjut dikemukakan bahwa kerusakan lahan gambut di wilayah Tesso Nilo – Bukit
Tigapuluh Riau telah terjadi dengan intensitas ringan sampai berat dalam luasan cukup
besar. Kerusakan lahan disebabkan karena kebakaran gambut dan dekomposisi yang terlalu
cepat setelah lahan didrainase.
Tabel 3. Laju Degradasi Lahan Gambut di Wilayah Tesso Nilo – Bukit Tigapuluh Riau
1990 1995 2000 2005 2007
Lahan Hutan 1.283.273 1.116.447 794.346 757.131 542.824
Degradasi ringan 128.327 252.804 279.793 256.654
Degradasi berat 2.566 38.498 39.781 32.082
Total 1.247.340 1.085.648 1.076.705
Sumber: Diolah dari WWF (2008)

Gambar 4. Perubahan Penggunaan Lahan dari Hutan ke Pertanian,


Potensial Menyebabkan Degradasi Lahan (foto: courtesy of WWF, 2008)

122
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

Sumber : WWF (2008)

Gambar 5.Kondisi Tutupan Lahan Gambut di Provinsi Riau pada Tahun 1982 dan
2007 (WWF 2008)
Kerusakan lahan juga bisa terjadi karena keterbatasan kemampuan untuk mendapatkan
pupuk dan bahan ameliorasi. Untuk meningkatkan kesuburan tanah petani di berbagai
tempat seperti Kalimantan Barat, Sumatera Selatan dan Jambi membakar serasah tanaman
in-situ dan sebagian lapisan gambut kering sebelum bertanam. Hasil wawancara dengan
petani di Kalimantan Barat mengatakan bahwa lapisan gambut yang terbakar sekitar 3 – 5
cm tiap musim. Kasus di Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat yang memiliki 60 persen
lahan gambut dari total wilayahnya telah menunjukkan terjadi kerusakan lahan cukup luas
(Tabel 4). Lahan gambut yang dibuka sebagian berubah menjadi belukar dan semak-semak.
Lahan tanaman semusim juga sebagian tidak diusahakan karena kesuburan yang rendah dan
keterbatasan modal.

Tabel 4. Penggunaan Lahan Gambut di Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat


(Wahyunto et al., 2009)
Ketebalan Gambut (cm) Total
No. Penggunaan Lahan
<100 100-300 300-500 500-700 >700 Luas (ha)
1 Hutan 1.453 33.854 109.513 88.478 54.413 287.711
2 Belukar 688 5.270 15.647 1.250 91 22.946
3 Semak 214 - - - - 214
4 Mangrove 1.273 - 3.564 1.069 - 5.906
5 Kebun campuran 113 12.370 9.105 - - 21.588
6 Perairan/rawa 4 75 205 405 - 689
7 Kelapa sawit 691 2.331 5.172 - - 8.194
8 Karet 610 4.732 3.914 - - 9.256

123
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

Tabel 4. Penggunaan Lahan Gambut di Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat


(Wahyunto et al., 2009) (lanjutan)
Ketebalan Gambut (cm) Total
No. Penggunaan Lahan
<100 100-300 300-500 500-700 >700 Luas (ha)
9 Tanaman semusim-nanas 1.700 2.322 1.729 - - 5.751
10 Tanaman semusim-sayuran 123 190 178 - - 491
11 Tanaman semusim- jagung 430 362 848 - - 1.640
12 Tegalan 114 2.500 5.500 328 - 8.442
13 Sawah 20.528 13.342 1.671 - - 35.541
Jumlah (lahan gambut) 27.941 77.348 157.046 91.530 54.504 408.369
Lahan non Gambut 290.151
Total Kab. Kubu Raya 698.520

Aspek Lingkungan Lahan Gambut


Ekosistem gambut merupakan penyangga hidrologi dan cadangan karbon yang sangat
penting artinya bagi lingkungan hidup. Oleh karenanya, ekosistem ini harus dilindungi
agar fungsinya dapat dipertahankan sampai generasi mendatang. Sebagai penyangga
hidrologi, gambut dikaitkan dengan kemampuannya menyerap air sampai 13 kali bobotnya
(Mutalib et al., 1991). Oleh karenanya gambut mampu menyimpan air saat musim hujan
sehingga tidak terjadi banjir dan melepaskannya saat musim kemarau sehingga tidak terjadi
kekeringan.
Lahan gambut menyimpan cadangan karbon sangat besar yaitu 550 Gt CO2e, setara
dengan 75 persen karbon di atmosfer atau setara dengan 2 kali simpanan karbon semua
hutan di seluruh dunia (Joosten, 2007). Untuk Indonesia, hasil perhitungan Wahyunto
et al., (2007), total stok karbon dari seluruh lahan gambut di Indonesia sekitar 37 Gt
CO2e. Tergantung ketebalan gambut, simpanan karbon gambut bisa 10 kali lebih tinggi
dibandingkan dengan simpanan karbon tanah mineral (Tabel 5 ). Mempertahankan karbon
dalam tanah dan tanaman menjadi isu lingkungan sangat penting karena konsentrasi
karbon di udara berpengaruh terhadap pemanasan global.
Tabel 5. Perbandingan Kandungan Karbon di Atas Permukaan (biomassa tanaman) dan
di Bawah Permukaan Tanah pada Hutan Gambut dan Hutan Tanah Mineral (t/
ha)
Komponen Hutan gambut Hutan primer tanah mineral
Atas permukaan tanah 150-200 200-350
Bawah permukaan tanah 300-6.000 30-300
Sumber: Agus dan Subiksa (2008)

124
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

Gambar 6 . Air Mengalir dari Kubah Gambut


Cadangan karbon lahan gambut telah tersimpan dalam waktu yang sangat lama.
Berdasarkan analisis penanggalan karbon (carbon dating), gambut tropis di Indonesia
berumur 3.500 – 9.000 tahun (Tie and Esterle, 1991). Gambut tropika di Muara Kaman
Kalimantan Timur umurnya relatif muda antara 3.850 sampai 4.400 tahun (Diemont and
Pons, 1991). Sedangkan gambut di Kalimantan Tengah umurnya lebih lama yaitu 6230
tahun pada kedalaman 100 cm sampai 8.260 tahun pada kedalaman 5 meter (Rieley,
1991), bahkan Page et al., (2002) menunjukkan bahwa gambut di Kalimantan Tengah
umurnya antara 13.000 – 26.000 pada kedalaman gambut 8 – 10 m. Karbon yang sudah
terendap sangat lama semestinya harus dipertahankan agar konsentrasi karbon di udara
tidak meningkat dengan cepat yang bisa memicu pemanasan global. Pelepasan (emisi)
karbon dari lahan gambut bisa terjadi karena kebakaran gambut dan proses dekomposisi.
Dalam lingkungan alami yaitu hutan, tanah gambut tetap mengalami proses
dekomposisi yang menghasilkan gas CO2 dan metan. Namun secara simultan, tanaman yang
tumbuh juga menyerap CO2 dan menghasilkan biomassa dan serasah yang terakumulasi di
permukaan tanah. Proses ini berjalan seimbang, bahkan seringkali menghasilkan akumulasi
bersih yang positif sehingga ketebalan gambut bisa bertambah antara 0 – 3 mm/tahun.
Di Barambai Delta Pulau Petak, laju penimbunan gambut sekitar 0,05 m dalam seratus
tahun. Sedangkan di Pontianak sekitar 0,13 m dalam periode waktu yang sama. Di Serawak
Malaysia, laju akumulasi berjalan lebih cepat yaitu sekitar 0,22 – 0,48 m dalam waktu 100
tahun (Noor, 2001, dari berbagai sumber). Bila lahan gambut dibuka dan didrainase,
proses dekomposisi gambut akan mengalami percepatan, sehingga meningkatkan emisi gas
CO2 sebagai gas rumah kaca (GRK) dan ketebalan gambut akan terus menyusut.

125
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

Gambar 7 . Kebakaran Lahan Mengemisi Karbon ke Udara (WWF, 2008)


Pemanfaatan lahan gambut yang diawali dengan pembuatan saluran drainase
menyebabkan kesimbangan tersebut di atas terganggu dan mengarah pada net emisi yang
besar. Tingkat emisi yang terjadi tergantung dari karakteristik gambut, kedalaman saluran
dan kebakaran. Berbagai sistem pertanian yang diterapkan petani di lahan gambut, akan
menghasilkan emisi yang berbeda, tergantung pada teknologi budidaya yang diterapkan.
Semua sistem budidaya yang di terapkan di gambut akan mempunyai andil yang cukup
nyata dalam meningkatkan emisi gas rumah kaca, penyebab pemanasan global.
Drainase dan sistem pengelolaan air di suatu lahan gambut dapat dilihat dari perubahan
kondisi hidrologi areal secara menyeluruh. Wosten dalam Hooijer et al., (2006) dan Agus
et al., (2010) mengatakan bahwa beberapa sistem drainase jelas mempengaruhi emisi CO2
(Gambar 8).
Pengaruh drainase ini yang mencerminkan kondisi hidrologi di lahan gambut,
mempengaruhi perubahan tinggi muka air tanah dan juga kandungan air tanah (Nugroho
,2005). Dengan menghitung luapan atau kondisi air pada tiap waktu, maka kondisi air di
suatu areal dapat diperhitungkan, dengan demikian salah satu parameter dari emisi dapat
diperhitungkan menurut tahapan waktu dan hidrologi setempat.

126
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

60,000

y=4246.7Ln(x)+7359.6
50,000
R 2=0.3945

C O 2  flux  (m g /m 2/da y )
40,000

30,000

20,000

10,000

0
0 20 40 60 80 100

Watertable(cm)

Gambar 8. Kurva Empiris Hubungan antara Kedalaman Drainase dan Laju Emisi CO2
di Lahan Gambut Menurut Hooijer et al., 2006 (kiri) dan Agus et al., 2009 (kanan)

Mitigasi Laju Degradasi Lahan Gambut


Sesuai hasil konvensi perubahan iklim dan COP 15 di Kopenhagen, pemerintah
Indonesia telah sepakat untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 26persen
pada tahun 2020 dari proyeksi 3 Gt/tahun. Untuk mencapai angka tersebut maka berbagai
upaya harus dilakukan termasuk mengurangi laju emisi dari lahan gambut. Mengurangi
emisi di lahan gambut sama artinya dengan mengurangi laju kerusakan lahan pertanian
yang sudah eksis di lahan gambut. Upaya untuk mengurangi laju degradasi lahan pertanian
di gambut harus dilakukan dengan mengidentifikasi penyebab terjadinya degradasi, serta
tindakan multi strata mengurangi dekomposisi. Degradasi bisa terjadi karena kebakaran
gambut, proses dekomposisi yang cepat, dan dehidrasi. Proses kebakaran dan dekomposisi
menghasilkan emisi CO2 yang tinggi. Dekomposisi terjadi bila rantai karbon yang panjang
mengalami degradasi menjadi senyawa dengan rantai karbon lebih pendek. Proses ini
terutama dipicu oleh pembuatan saluran drainase yang menyebabkan meningkatnya redok
potensial tanah. Lebih lanjut, kondisi aerob memicu aktivitas mikroba perombak yang
memanfaatkan gambut sebagai energi untuk proses metabolismenya.

127
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

Gambar 9 . CO2 Tahunan Antara Tahun 1985 sampai 1999 dan Prediksi Emisi antara
tahun 2010 sampai 2035 Berdasarkan Beberapa Skenario business as usual
(BAU) dan Beberapa Skenario Penurunan Emisi (sumber : Agus et al., 2009)
Emisi CO2 dari lahan gambut bisa dijadikan sebagai indikator adanya proses menuju
kerusakan lahan pertanian, karena CO2 dihasilkan dari proses pembakaran dan dekomposisi
bahan organik. Agus et al., 2009 menunjukkan bahwa laju emisi CO2 menunjukkan trend
yang terus meningkat apabila tidak dilakukan langkah-langkah pengurangan laju emisi
(skenario BAU, bussiness as usual). Mitigasi laju kerusakan gambut dapat diupayakan melalui
penerapan Permentan 14/2009, penggunaan amelioran, kebijakan tidak membakar dan
kebijakan moratorium pemanfaatan lahan. Selain itu, Permentan 14/2009 sebenarnya juga
bertujuan untuk mengurangi kerusakan lahan gambut dengan membatasi dan mengatur
pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian dengan berbagai persyaratan dan mekanisme
pengawasan yang sangat ketat.
Keempat upaya tersebut dapat membelokkan turun arah trend laju emisi CO2 sehingga
langkah ini dapat dijadikan sebagai acuan mengurangi tingkat kerusakan lahan (Gambar
9). Sementara itu, untuk lahan gambut yang telah dimanfaatakan untuk pertanian,
diperlukan pengendalian muka air tanah, ameliorasi/kompleksasi, penyiapan lahan tanpa
membakar dan zonasi pemanfaatan lahan.

Pengendalian Muka Air Tanah


Lahan gambut memiliki daya hantar hidrolik yang tinggi, baik secara vertikal maupun
horizontal. Oleh karena itu, saluran drainase sangat menentukan kondisi muka air tanah.
Kunci pengendalian muka air tanah adalah mengatur dimensi saluran drainase, terutama

128
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

kedalamannya, dan mengatur pintu air. Menurunkan muka air tanah sangat diperlukan
untuk menjaga kondisi media perakaran tetap dalam kondisi aerob. Namun penurunan
yang terlalu besar menyebabkan gambut mengalami kerusakan. Mengatur tinggi air di
saluran drainase dengan mengatur pintu air adalah salah satu tindakan mitigasi emisi CO2
yang terjadi dan pada akhirnya bisa mengurangi laju degradasi lahan.
Hasil penelitian Wosten dalam Hooijer et al., (2006) menunjukkan bahwa laju
emisi berbanding lurus dengan kedalaman saluran drainase sedangkan dan Agus et al.
(2009) menunjukkan bahwa laju emisi meningkat dengan pola logaritmik dengan makin
meningkatnya kedalaman muka air tanah. Oleh karenanya mengatur muka air tanah pada
tingkat yang aman untuk tanaman dan minimal emisinya merupakan tindakan mitigasi
kerusakan lahan yang sangat efektif. Setiap 10 cm pengurangan kedalaman muka air tanah
akan mampu menurunkan 9,1 ton CO2/ha/tahun. Salah satu komponen penting dalam
pengatur tata air lahan gambut adalah bangunan pengendali berupa pintu air atau canal
blocking di setiap saluran. Pintu air berfungsi untuk mengatur muka air tanah, disesuaikan
dengan kebutuhan tanaman.
Drainase berlebihan akan menyebabkan gambut mengering atau dekomposisi aerobik
yang menghasilkan emisi gas CO2 dan gambut kering tak balik. Lahan gambut yang kering
ini berisiko terbakar yang sulit dipadamkan dan menghasilkan emisi gas CO2 yang lebih
banyak lagi. Dari hasil pengembangan usaha pertanian yang dilakukan oleh Badan Litbang
Pertanian di 11 lokasi lahan rawa pasang surut Sumatera Selatan (Ananto et al., 2000)
yang mencakup areal seluas 30.800 ha, dimana sebagian merupakan lahan rawa bergambut
sampai dengan gambut sedang, menunjukkan bahwa perbaikan jaringan tata air sangat
penting dan mutlak mendapatkan perhatian dalam upaya peningkatan produktivitas
lahan pasang surut. Penataan jaringan tata air lahan rawa khususnya di lahan rawa pasang
surut yang semata-mata hanya untuk tujuan drainase hanya akan menyebabkan muka
air tanah akan turun dan menimbulkan overdrain. Kondisi ini sangat berbahaya bagi
lahan rawa gambut dan lahan rawa yang mempunyai lapisan pirit dangkal. Oleh karena
itu harus diubah menjadi irigasi-drainase sesuai dengan kebutuhan pertanian. Karena
dengan penataan jaringan tata air yang benar, pencucian senyawa-senyawa beracun yang
terjadi akibat oksidasi pirit dapat berjalan dengan lancar, sehingga produktivitas lahan
meningkat.

Kompleksasi
Emisi GRK adalah hasil dari proses dekomposisi gambut menjadi senyawa karbon
dengan rantai pendek. Proses dekomposisi lebih lanjut dapat ditekan dengan proses
kompleksasi senyawa organik sederhana menjadi senyawa komplek. Kompleksasi dapat
dilakukan dengan menambahkan bahan-bahan amelioran yang kaya dengan kation
polivalen. Kation polivalen memiliki energi afinitas yang tinggi terhadap gugus fungsional
bahan organik membentuk jembatan kation yang merangkai senyawa organik. Senyawa

129
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

kompleks yang terbentuk sangat tahan terhadap dekomposisi sehingga emisi karbon bisa
ditekan. Hasil penelitian Agus et al., (2009) menunjukkan bahwa pemberian amelioran
gambut seperti 5-10 t/ha (sekitar 5-10 m3) tanah liat halus yang kaya besi (tanah laterit)
untuk semua tanah pertanian dan perkebunan di lahan gambut diharapkan dapat
mengurangi emisi CO2 kumulatif sebanyak 15,5±5,5 persen dibandingkan dengan petani
membakar lahan.
Bila program ameliorasi dilengkapi dengan penyediaan pupuk untuk menggantikan
teknik pembakaran tradisional, diharapkan dapat mengurangi emisi sebesar 19±7 persen.
Hasil ini masih bisa ditingkatkan dengan menggunakan pupuk khusus yang rendah emisi.
Hasil penelitian Subiksa et al., (2009) menunjukkan bahwa pemupukan dengan pupuk
khusus lahan gambut “Pugam” mampu menurunkan emisi GRK hingga 47 persen dan
meningkatkan produksi biomass lebih dari 30 kali lipat (Gambar 10). Hasil penelitian
Salampak, 1999; Mario, 2002; Hartatik, 2003 menunjukkan bahwa penambahan senyawa
berkadar besi tinggi mampu menekan pengaruh buruk asam-asam fenolat yang beracun
sehingga pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik.
Penurunan asam-asam fenolat ini disebabkan oleh adanya interaksi antara kation
Fe dari bahan amelioran sebagai jembatan kation dan asam-asam fenolat melalui proses
kompleksasi. Kation Fe bereaksi dengan ligan organik membentuk ikatan kompleks.
Asam-asam organik berperan sebagai penyumbang pasangan elektron (donor), sedangkan
kation Fe berperan sebagai penerima elektron (aseptor) (Tan, 1993).

130
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

Emisi CO2
6.00

5.00
Emisi CO2 (mg/m2/menit)

4.00

3.00

2.00

1.00

0.00
Pugam A Pugam Q Pugam R Pugam D Pugam T Kontrol P. kontrol
Perlakuan

Gambar 10. Pemupukan dengan Pupuk Khusus Lahan Gambut “Pugam” Mengurangi
Laju Emisi CO2 (kiri) dan Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman (kanan)
Proses kompleksasi mampu memecahkan beberapa permasalahan yang dihadapi
dalam usahatani di lahan gambut yaitu : (1) mengurangi emisi GRK sehingga stabilitas
gambut meningkat, (2) menetralisir asam-asam fenolat beracun sehingga perkembangan
akar tanaman tidak terganggu, (3) mengurangi pencucian hara karena adanya tapak jerapan
positif yang terbentuk dari kation polivalen dan (4) mencegah adanya lahan terlantar
karena produktivitas lahan meningkat.

Persiapan Lahan Tanpa Bakar


Emisi karbon paling masif terjadi saat kebakaran gambut, baik karena kesengajaan
maupun tidak sengaja. Penyiapan lahan dengan sistem membakar menyebabkan terjadinya
subsiden dan mengarah pada habisnya lapisan gambut. Penelitian Subiksa et al., (2009)
menunjukkan bahwa petani di Kalimantan Barat selalu melakukan pembakaran lahan
sebelum tanam tanaman pangan, khususnya jagung. Setiap musim terbakar sekitar 3 - 5 cm
lapisan gambut. Dari gambut yang terbakar selama 2 kali tanam/tahun dapat diperkirakan
besarnya emisi karbon yaitu sekitar 110,1 t CO2/ha/th (dengan asumsi karbon density
gambut sekitar 50 kg/m3 atau 0.05 t/m3).
Adanya pembakaran lahan dan hutan di suatu daerah dapat dipantau melalui satelit
yang ditunjukkan oleh adanya hot spot. Jumlah hot spot yang dipantau di beberapa daerah
rawan kebakaran lahan menunjukkan bahwa antara bulan Januari – Mei 2010, provinsi
Riau dan Kalimantan Timur memiliki hot spot paling banyak. Jumlah hot spot terbanyak
terpantau puncaknya pada bulan Februari sampai Maret. Hal ini menunjukkan aktivitas
pembakaran untuk pembukaan lahan masih menjadi pilihan masyarakat. Kebiasaan
masyarakat ini harus diubah dengan terus menerus melakukan sosialisasi pembukaan lahan
tanpa bakar (PLTB) serta peraturan perundang-undangannya. Pelatihan dan sosialisasi
harus disertai dengan pengenalan alternatif lain dalam pembukaan lahan seperti penggunaan
mulcher dan traktor. Selain itu fasilitas pemantauan dan pengendalian kebakaran lahan
harus disediakan di daerah rawan kebakaran.

131
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

Pembakaran lahan, baik yang disengaja maupun tidak, menyebabkan lapisan gambut
semakin tipis bahkan habis. Bila lapisan substratum merupakan lapisan mineral berpirit
atau pasir kwarsa maka akan terjadi kemerosotan kesuburan tanah. Membakar gambut
terkadang sengaja dilakukan petani untuk memperoleh abu yang untuk sementara bisa
memperbaiki kesuburan tanah. Abu sisa pembakaran memberikan efek ameliorasi dengan
meningkatnya pH dan kandungan basa-basa tanah sehingga tanaman tumbuh lebih baik
(Subiksa et al., 1998).
Proses ini harus dihindari dengan mempertahankan kelembaban gambut agar tidak
mudah terbakar dan menerapkan sistem pengelolaan zero burning. Pembakaran serasah
tanaman secara terkendali di rumah abu adalah salah satu usaha mencegah kebakaran
gambut meluas. Tempat khusus ini dibuat berupa lubang yang dilapisi dengan tanah
mineral sehingga api tidak sampai membakar gambut. Cara ini diterapkan dengan sangat
baik oleh petani sayur di lahan gambut Pontianak Kalbar. Bila pembakaran serasah harus
dilakukan langsung di lapang, maka harus dipastikan bahwa gambut dibawahnya jenuh air
supaya gambutnya tidak ikut terbakar.
Pengalihan dari cara tradisional dengan cara membakar kepada metode tanpa
membakar, diperlukan cara alternatif lain yang bisa diterima masyarakat. Pembukaan
lahan baru menggunakan mulcher adalah salah satu alternatif yang baik. Sementara
untuk lahan pertanian yang sudah eksis, diperlukan upaya ameliorasi dan pemupukan
agar pertumbuhan tanaman bisa optimum. Oleh karenanya penting untuk mengeluarkan
kebijakan subsidi pupuk dan amelioran untuk petani di lahan gambut agar kebiasaan
membakar yang menghasilkan emisi CO2 tinggi bisa dihindari. Ditjen Perkebunan (2010)
memprediksikan bahwa upaya mencegah pembakaran lahan dapat mengurangi emisi CO2
sampai 0,284 Gt CO2 atau 25 persen dari proyeksi BAU 2025.

Zonasi Pemanfaatan Lahan Gambut


Karena fungsinya yang sangat vital, ekosistem gambut harus dilindungi dari kerusakan.
Pemanfaatan lahan gambut harus dilakukan dengan cermat berdasarkan hasil karakterisasi
dan evaluasi lahan yang mendalam. Lahan gambut yang boleh dikembangkan untuk
pertanian hanya lahan gambut yang subur dengan kedalaman < 3 m, tidak memiliki
substratum pasir kuarsa dan tingkat kematangan bukan fibrik.
Widjaja Adhi (1991) menyarankan agar wilayah ekosistem lahan gambut dibagi menjadi
2 kawasan yaitu: kawasan non budidaya dan kawasan budidaya. Kawasan non budidaya
terdiri dari (a) jalur hijau sepanjang pantai dan tanggul sungai dan (b) areal tampung hujan
yang mencakup area minimal 1/3 dari seluruh kawasan. Kawasan yang dijadikan sebagai
areal tampung hujan adalah bagian kubah gambut (peat dome) sehingga harus menjadi
kawasan konservasi. Kubah gambut berfungsi sebagai penyimpan air (resevoir) yang bisa
mensuplai air bagi wilayah di sekitarnya, terutama pada musim kemarau, baik untuk air
minum maupun usaha tani (Ong dan Yogeswaran, 1991). Sedangkan pada musim hujan

132
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

berfungsi sebagai penampung air yang berlebih agar wilayah sekitarnya tidak kebanjiran.
Hal ini dimungkinkan karena gambut memiliki daya memegang air sangat besar yaitu
sampai 10 kali bobotnya. Perlindungan terhadap kawasan tampung hujan akan menjamin
kawasan sekitarnya menjadi lebih produktif.
Aspek legal pemanfaatan lahan gambut diatur dalam Kepres No. 32/1990. Selanjutnya
karena maraknya pemanfaatan gambut untuk kelapa sawit, pemerintah mengeluarkan
Permentan No. 14/2009. Dengan pembatasan pemanfaatan lahan gambut diharapkan
emisi karbon dari kawasan gambut bisa ditekan. Agus et al., (2009) menyatakan bahwa
kepatuhan kepada Permentan No. 14/2009, untuk tidak ada izin penggunaan lahan
pertanian pada lahan gambut yang ketebalannya >3m dan lahan yang bukan berstatus
APL (areal penggunaan lain) diharapkan dapat mengurangi 5,5±3,5 persen dari emisi CO2
kumulatif antara tahun 2010-2035 sebesar 127±42 juta ton pada skenario business as usual
(BAU). Pengurangan emisi CO2 merupakan indikasi melambatnya laju kerusakan lahan
gambut.
Sosialisasi dan law enforcement tentang peraturan dan perundang-undangan, yang
menyangkut ketentuan tentang pelestarian lingkungan di lahan gambut perlu terus menerus
dilakukan kepada seluruh stakeholders. Pentaatan oleh para pihak terhadap peraturan yang
ada (penggunaan lahan gambut <3m dan perbaikan sistem pengelolaan lahan dan tata air)
dapat mengurangi emisi 0,144 Gt CO2 atau 13persen dari proyeksi BAU tahun 2025.

Implementasi CDM dan REDD


Akibat salah perencanaan dalam pemanfaatan lahan, lahan gambut yang dibuka untuk
pertanian banyak yang berubah menjadi lahan terlantar. Tingkat kesesuaian lahan yang
rendah serta minimnya pengetahuan petani tentang gambut menyebabkan produktivitas
lahan merosot dengan cepat sehingga tidak menguntungkan lagi untuk usaha tani. Lahan
terlantar dapat dihijaukan kembali dengan tanaman hutan dengan mendapat imbalan dari
program CDM (clean development mechanism). Imbalan jasa karbon dari program CDM
disediakan oleh negara-negara industri maju yang terdaftar daftar Anneks 1 dalam Kyoto
Protocol yang diberlakukan sampai tahun 2012.
Pasca Kyoto Protocol telah dirancang sistem baru perdagangan karbon yang disebut
mekanisme REDD (Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation). Dalam
mekanisme REDD tersebut, negara atau perorangan bisa mendapatkan imbalan jasa
karbon dengan mengurangi emisi CO2 dari deforestasi dan degradasi hutan, termasuk
hutan gambut. Jasa karbon yang diberikan tersebut bisa mendapat imbalan dengan
berbagai ketentuan. Harga resmi jasa mempertahankan karbon (Certified Emission
Reduction, CER) yang berlaku dewasa ini berkisar antara US$15 - 25 /t CO2. Untuk
sektor kehutanan di negara berkembang kemungkinan harga yang diberlakukan adalah
antara US$ 5 sampai 10 per CO2. Lebih rendahnya imbalan pengurangan emisi yang
berhubungan dengan sektor kehutanan (dan perubahan penggunaan lahan) disebabkan

133
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

tingginya angka ketidakpastian dan variasi pengelolaan dan sifat lahan. Untuk mengurang
ketidak pastian tersebut, diperlukan upaya karakterisasi lahan gambut secara lebih detil
baik spatial maupun temporal. Data hasil karakterisasi dapat digunakan sebagai tolok
ukur untuk mengetahui keberlanjutan pertanian di lahan gambut. Selain itu kemampuan
monitoring dan perhitungan neraca karbon sangat penting dalam menghadapi sistem
perdagangan karbon melalui mekanisme REDD.
Agus (2009) menyatakan bahwa pilihan apakah negara kita akan memasuki
perdagangan karbon atau tidak perlu memperhitungkan hal berikut:
t Apakah nilai imbalan jasa karbon melebihi harapan keuntungan (opportunity cost) dan
biaya transaksi perdagangan karbon
t Apakah pemerintah pusat, PEMDA dan masyarakat lokal dapat menjaga komitment
jangka panjang (dalam contoh ini 25 tahun) untuk tidak menebang dan mendrainase
hutan gambut
t Apakah dengan mengendalikan penebangan hutan pada lokasi yang ada kontraknya/
perjanjiannya tidak akan menyebabkan penggelembungan penebangan hutan pada
areal sekelilingnya (leakage)
t Apakah lembaga pada tingkat lokal mampu melakukan monitoring neraca karbon.
Apabila salah satu dari pertanyaan di atas dijawab dengan ”tidak” maka lebih baik
tidak membuat komitmen jangka panjang untuk perdagangan karbon.

Kesimpulan dan Implikasi Kebijakan


Kesimpulan
1. Lahan gambut adalah sumber daya lahan yang harus diarahkan pemanfaatannya
secara bijak dan hati-hati, baik untuk tujuan konservasi maupun budidaya dengan
memperhatikan karakteristik lahan untuk mendapatkan hasil optimal dan menghindari
kerusakan lahan dan lingkungan.
2. Lahan gambut memiliki karakteristik khas yang sangat berbeda dengan tanah mineral.
Secara fisik gambut memiliki bearing capacity yang rendah, mengalami subsiden yang
tinggi dan mengering tidak balik. Secara kimia bersifat masam, mengandung asam
organik beracun dan kandungan hara rendah.
3. Lahan gambut memiliki fungsi kendali hidrologi kawasan DAS dan lingkungan
yang sangat penting karena mampu menyerap air 13 kali bobotnya dan menyimpan
cadangan karbon sangat besar. Bila cadangan karbon ini teremisi ke udara bebas,
sangat potensial menyebabkan percepatan pemanasan global.
4. Dengan pengelolaan yang baik melalui pengelolaan air, ameliorasi dan pemupukan,
lahan gambut dengan karakteristik tertentu dapat diusahakan untuk pertanian secara

134
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

optimal dengan tetap berpedoman pada kaidah konservasi. Sebaliknya pengelolaan


lahan yang tidak baik menyebabkan lahan mengalami degradasi dan menjadi sumber
pencemar lingkungan.
5. Dalam rangka mitigasi laju kerusakan lahan pertanian dan dampaknya terhadap
lingkungan, diperlukan upaya multistrata yang meliputi pengendalian muka air
tanah, kompleksasi ligan organik, pemanfaatan amlioran, zero burning, dan zonasi
pemanfaatan lahan.

Implikasi Kebijakan
Sesuai komitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 26 persen
tahun 2020 mendatang perlu diambil langkah-langkah konkrit pemanfaatan lahan gambut
untuk pertanian dengan berbagai kebijakan yang mengarah pada pengurangan emisi untuk
mencegah kerusakan lahan pertanian dan pencemaran lingkungan global antara lain:
1. Lahan gambut perlu dipetakan secara menyeluruh dan detail untuk menghindari
adanya ketidakpastian data dan memperkuat posisi tawar dalam mekanisme Reducing
Emission from Degradation and Forest Deforestation (REDD).
2. Perlu dibuat payung hukum yang jelas agar ada kepastian dalam pemanfaatan lahan
gambut, baik untuk tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan hutan tanaman
industri, disertai proteksi hutan lindung yang ketat dengan berpedoman pada asas
manfaat secara ekonomi dan mempertimbangkan aspek lingkungan lahan gambut.
3. Dalam memenuhi kebutuhan lahan pertanian, terutama untuk perluasan perkebunan,
Peraturan Menterai Pertanian No. 14/2007 harus dijadikan salah satu acuan dalam
pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian secara selektif dan terkendali
4. Perlu digalakkan program rehabilitasi lahan, saluran, pintu air dan canal blocking
di lahan gambut untuk menghindari perubahan kondisi lahan yang drastis, seperti
pengeringan. Pintu air harus berfungsi secara optimal agar permukaan air tanah dijaga
stabil.
5. Memberlakukan kebijakan subsidi pupuk dan amelioran yang mampu menekan
emisi GRK sebagai imbalan untuk melakukan zero burning oleh petani. Kebijakan
melarang penggunaan lahan gambut secara total kurang tepat karena masyarakat di
lahan gambut memiliki ketergantungan tinggi terhadap lahan gambut.

Daftar Pustaka
Agus, F. 2009. Cadangan Karbon, Emisi Gas Rumah Kaca dan Konservasi Lahan
Gambut. Prosiding Seminar Dies Natalis Universitas Brawijaya ke 46. 31 Januari
2009, Malang.
Agus, F. 2009. Panduan Metode Pengukuran Karbon Tersimpan di Lahan Gambut. Balai
Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (un-publish).

135
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

Agus, F. dan I.G.M. Subiksa. 2008. Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek
Lingkungan. Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre (ICRAFT)
Bogor, Indonesia.
Agus, F., Wahyunto, A. Dariah, P. Setyanto, I.G.M. Subiksa, E. Runtunuwu, E. Susanti,
W. Supriatna. Carbon Budget and Management Strategies for Conserving Carbon
in Peatland: Case study in Kubu Raya and Pontianak Districts, West Kalimantan,
Indonesia. Pp. 217-233 Dalam Proceedings, International Workshop on Evaluation
and Sustainable Management of Soil Carbon Sequestration in Asian Countries, Bogor,
Indonesia, September 28-29, 2010.
Ananto, E.E., Agus S., Soentoro, Hermanto, Yoyo Sulaeman, I Wayan S. dan Bambang
Nuryanto. 2000. Pengembangan Usaha Pertanian Lahan Pasang Surut Sumatera
Selatan: Mendukung Ketahanan Pangan dan Pengembangan Agribisnis. Badan
Litbang Pertanian. 166 p.
Diemont, W.H. and L.J. Pons. 1991. A Preliminary Note on Peat Formation and Gleying
in Mahakam Inland Floodplain, East kalimantan, Indonesia. Proc. International
Symposium on tropical peatland. 6-10 May 1991, Kuching, Serawak, Malaysia.
Ditjen Perkebunan. 2010. Arah dan Strategi Pengembangan Perkebunan Rakyat
Menghadapi Fenomena Iklim. Paper disampaikan pada Rapat Kerja Balai Besar
Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BB SDLP), Semarang, 2010.
Djaenuddin, D., Marwan H., Subagyo H. dan A. Hidayat. 2003. Petunjuk Teknis Evaluasi
Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Pertanian. Balai Penelitian tanah Bogor.
Driessen, P.M. 1978. Peat Soils. pp: 763-779. In: IRRI. Soil and rice. IRRI. Los Banos.
Philippines.
Driessen, P.M. and H. Suhardjo. 1976. On the Defective Grain Formation of Sawah Rice
on Peat. Soil Res. Inst. Bull. 3: 20 – 44. Bogor.
Halim, A. 1987. Pengaruh Pencampuran Tanah Mineral dan Basa dengan Tanah Gambut
Pedalaman Kalimantan Tengah dalam budidaya tanaman kedelai. Disertasi Fakultas
Pascasarjana, IPB. Bogor.
Hartatik, W., K. Idris, S. Sabiham, S. Djuniwati, dan J.S. Adiningsih. 2004. Pengaruh
Pemberian Fosfat Alam dan SP-36 pada Tanah Gambut yang Diberi Bahan Amelioran
Tanah Mineral terhadap Serapan P dan Efisiensi Pemupukan P. Prosiding Kongres
Nasional VIII HITI. Universitas Andalas. Padang.
Hooijer, A., Silvius M., Wösten H. and Page S. 2006. PEAT-CO2, Assessment of CO2
Emissions from Drained Peatlands in SE Asia. Delft Hydraulics report Q3943
(2006).

136
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

Joosten, H. 2007. Peatland and carbon. pp. 99-117 In. Parish, F., Siri, A., Chapman, D.,
Joosten H., Minayeva, T., and Silvius M (eds.) Assessment on Peatland, Biodiversity
and Climate Change.Global Environmental Centre, Kuala Lumpur and Wetand
International, Wageningen.
Kononova, M.M. 1968. Transformation of Organic Matter and Their Relation to Soil
Fertility. Sov. Soil. Sci. 8:1047-1056.
Mario, M.D. 2002. Peningkatan Produktivitas dan Stabilitas Tanah Gambut dengan
Pemberian Tanah Mineral yang Diperkaya oleh Bahan Berkadar Besi Tinggi. Disertasi
Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Mutalib, A.A., J.S. Lim, M.H. Wong and L. Koonvai. 1991. Characterization, Distribution
and Utilization of Peat in Malaysia. Proc. International Symposium on tropical
peatland. 6-10 May 1991, Kuching, Serawak, Malaysia.
Nugroho, K., G. Gianinazzi and I.P.G. Widjaja Adhi. 1997. Soil idraulic properties of
Indonesian peat. In: Rieley and Page (Eds.). pp. 147-156. Biodiversity and sustainability
of tropical peat and peatland. Samara Publishing Ltd. Cardigan. UK.
Noor, M. 2001. Pertanian Lahan Gambut: Potensi dan Kendala. Penerbit Kanisius.
Page, S.E., F. Siegert, J.O Rieley, H.D.V. Boehm, A. Jaya and S.H. Limin. 2002. The
amount of Carbon Released from Peat and Forest Fires in Indonesia during 1997.
Nature 420: 61-65.
Rachim, A. 1995. Penggunaan Kation-Kation Polivalen dalam Kaitannya dengan
Ketersediaan Fosfat untuk Meningkatkan Produksi Jagung pada Tanah Gambut.
Disertasi. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Rieley, J. 1991. The Ecology of Tropical Peatswamp Forest – a South-East Asean
Perspective. Proc. International Symposium on tropical peatland. 6-10 May 1991,
Kuching, Serawak, Malaysia.
Sabiham, S., Wahyunto, Nugroho, Subiksa dan Sukarman. 2008. Laporan tahunan 2008.
Balai Pesar Penelitian dan Pengembangan Sumber daya Lahan Pertanian, Bogor.
Sabiham, S., T.B. Prasetyo dan S. Dohong. 1997. Phenolic Acid in Indonesian Peat. In
Rieley and Page (Eds). Pp. 289-292. Biodiversity and Sustainability of Tropical Peat
and Peatland. Samara Publishing Ltd. Cardigan. UK.
Salampak. 1999. Peningkatan Produktivitas Tanah Gambut yang Disawahkan dengan
Pemberian Bahan Amelioran Tanah Mineral Berkadar Besi Tinggi. Disertasi Program
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Saragih, E.S. 1996. Pengendalian Asam-Asam Organik Meracun dengan Penambatan Fe
(III) pada Tanah Gambut Jambi, Sumatera. Tesis S2, Program Pascasarjana, Institut
Prtanian Bogor.

137
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

Sarwani, M. dan I.P.G. Widjaja Adhi. 1994. Penyusutan Lahan Gambut dan Dampaknya
terhadap Produktivitas lahan pertanian di sekitarnya. Kasus Delta Pulau Petak,
Kalimantan Selatan. Prosiding Seminar Nasional 25 tahun Pemanfaatan Lahan
Gambut dan Pengembangan Kawasan Pasang Surut. Jakarta, 14-15 Desember 1994.
Stevenson, F.J. 1994. Humus Chemistry. Genesis, Composition, and Reactions. John
Wiley and Sons. Inc. New York. 443 p.
Suastika, I.W. 2004. Efektivitas Amelioran Tanah Mineral Berpirit yang Telah Diturunkan
Kadar Sulfatnya pada Peningkatan Produktivitas Tanah Gambut. Tesis S2. Program
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Subiksa, I.G.M., D. Ardi dan I.PG. Widjaja Adhi. 1991. Pembandingan Pengaruh P-alam
dan TSP pada Tanah Sulfat Masam (Typic Sulfaquent) Karang Agung Ulu Sumatera
Selatan. Prosiding Pertemuan Pembahasan Hasil Penelitian Tanah, Cipayung 3-5
Juni 1991.
Subiksa, I.G.M. Sulaeman, dan I.P.G.Widjaja Adhi. 1998. Pembandingan pengaruh
bahan amelioran untuk meningkatkan produktivitas lahan gambut. Dalam Prosiding
Pertemuan Pembahasan dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat.
Bogor, 10-12 Februari 1998.
Subiksa, I.G.M., K. Nugroho, Sholeh and I.P.G Widjaja Adhi. 1997. The effect of
ameliorants on the chemical properties and productivity of peat soil. In: Rieley and
Page (Eds). Pp:321-326. Biodiversity and Sustainability of Tropical Peatlands.Samara
Publishing Limited, UK.
Subiksa I.G.M., Ai Dariah dan F. Agus. 2009. Sistem Pengelolaan Lahan Eksisting di
Kalimantan Barat serta Implikasinya terhadap Siak Kimia Tanah Gambut dan Emisi
GRK. Laporan Penelitian Kerjasama Balai Penelitian tanah dengan Kementrian
Ristek.
Subiksa IG.M., Husein Suganda dan Joko Purnomo. 2009. Pengembangan Formula
Pupuk untuk Lahan Gambut sebagai Penyedia Hara dan Menekan Emisi Gas Rumah
kaca (GRK). Laporan Penelitian Kerja Sama antara balai Penelitian tanah dengan
Departemen Pendidikan Nasional, 2009.
Suhardjo, H. and I.P.G. Widjaja-Adhi. 1976. Chemical characteristics of the upper 30
cms of peat soils from Riau. ATA 106. Bull. 3: 74-92. Soil Res. Inst. Bogor.
Tadano, T., K. Yonebayashi, and N. Saito. 1992 Effect of phenolic acids on the growth
and occurrence of sterility in cnop plants. pp: 358-369. In: K. Kyuma, P. Vijarnsorn,
and A. Zakaria (Eds). Coastal lowland ecosystems in southern Thailand and Malaysia.
Showado-printing Co. Skyoku. Kyoto.

138
MITIGASI DEGRADASI LAHAN GAMBUT

Tie, Y.L. and J.S. Esterle. 1991. Formation of Lowland Peat Domes in Serawak, Malaysia.
Proc. International Symposium on tropical peatland. 6-10 May 1991, Kuching,
Serawak, Malaysia.
Tie, Y.L. and J.S. Lim. 1991. Characteristics and Classification of Organic Soils in
Malaysia. Proc. International Symposium on tropical peatland. 6-10 May 1991,
Kuching, Serawak, Malaysia.
Tim Institut Pertanian Bogor 1974. Laporan Survai Produktivitas Tanah dan Pengembangan
Pertanian Daerah Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Bogor.
Wahyunto, Sofyan R., Suparto dan Subagyo H. 2004. Sebaran dan Kandungan Karbon
Lahan Gambut di Sumatera dan Kalimantan. Wetland International Indonesia
Program.
Wahyunto, Wahyu Supriatna and Fahmuddin Agus. 2009. Future Sustainable
Development for Peatland Agriculture Landuse in Kubu Raya and Pontianak District,
West Kalimantan.
Widjaja, Adhi. 1997. Developing tropical peatlands for agriculture. In: J.O. Rieley and
S.E. Page (Eds.). pp. 45-54. Biodiversity and sustainability of tropical peat and
peatland. Proceedings of the International Symposium on Biodiversity, environmental
importance and sustainability of tropical peat and peatlands, Palangka Raya, Central
Kalimantan 4-8 September 1999. Samara Publishing Ltd. Cardigan. UK.
Widjaja-Adhi, I.P.G. 1988. Physical and Chemical Characteristic of Peat Soil of Indonesia.
IARD J. 10:59-64.
WWF, 2008. Deforestation, Forest Degradation, Biodiversity Loss and CO2 Emision in
Riau, Sumatera, Indonesia: one Indonesian Propinve’s Forest and Peat Soil Carbon
Loss Over a Quarter Century and it’s Plans for the Future. WWF Indonesia Tecnical
Report. www.wwf.or.id.

139