Anda di halaman 1dari 29

BETON SERAT

PENDAHULUAN

Beton serat perbaikan sifat beton pada beton serat antara


Beton merupakan batu buatan yang lain baja, plastik, kaca, karbon serta serat dari
memiliki kuat tekan cukup tinggi, dibuat dari bahan alami seperti ijuk, rami maupun serat
campuran semen, pasir, krikil dan air. dari tumbuhan lain (ACI, 1982).
Perbaikan kualitas serta sifat beton dapat Pendekatan teori untuk menjelaskan
dilakukan dengan berbagai cara antara lain mekanisme kerja serat beton sehingga dapat
dengan mengganti maupun menambah memperbaiki sifat beton adalah sebagai
material pokok semen dan agregat, sehingga berikut (Soroushian, 1987):
dihasilkan beton dengan sifat-sifat spesifik a. Spacing concept
seperti beton ringan, beton berat, beton tahan Teori tersebut menyatakan bahwa dengan
bahan kimia tertentu dan sebagainya. Beton mendekatkan jarak antar serat dalam
serat (fibre reinorced concrete) merupakan campuran beton, akan membuat beton lebih
modifikasi beton konvensional dengan mampu membatasi ukuran retak dan
menambahkan serat pada adukannya. Serat mencegah berkembangnya retak menjadi
yang digunakan dapat dibuat dari berbagai lebih besar. Kerja serat akan lebih efektif jika
jenis bahan antara lain kawat, plastik, limbah diletakkan berjajar dan seragam tidak
kain dan bambu. tumpang tindih (overlapping). Pada kondisi
Beton serat didefinisikan sebagai beton sebenarnya, penyebaran serat di dalam
yang terbuat dari campuran semen, agregat adukan beton sulit untuk dibuat beraturan dan
halus, agregat kasar dan sejumlah kecil serat/ saling menindih, sehingga volume efektif
fibre (ACI Cocommitte 544, 1982). Bahan- potongan serat hanya dapat dianggap 41%
bahan serat yang dapat digunakan untuk dari volume sebenarnya.
b. Composit material concept
Merupakan satu konsep pendekatan
adalah dengan memperkecil ukuran
untuk memperkirakan kuat tarik dan lentur
maksimum agregat. ACI Committee (1982)
beton, dengan asumsi bahan penyusun beton
mengisyaratkan ukuran maksimum agregat
saling melekat sempurna, dengan
memperkirakan kekuatan material komposit sebesar 19 mm, untuk memudahkan
saat timbul retak pertama (first crack pengadukan dan tersedianya ruang untuk
strength). serat. Teknik pencampurannya dilakukan
Pada beton serat, hal-hal yang perlu dengan menaburkan serat sedikit demi
mendapatkan perhatian adalah: sedikit, ke dalam adukan yang sudah
a. Kelecakan adukan beton tercampur saat proses pengadukan masih
Kelecakan adukan yang sering diukur berlangsung.
dengan nilai slump, berpengaruh besar
Bambu
terhadap sifat dapat dikerjakan (workability)
Bambu merupakan tanaman ordo
campuran beton segar. Penambahan serat ke
Bambooidae yang pertumbuhannya cepat dan
campuran beton akan menurunkan kelecakan
dapat dipanen pada umur sekitar 3 tahun.
campuran, yang dipengaruhi oleh:
Pada masa pertumbuhan, bambu dapat
1. Aspek rasio serat (fiber aspect ratio),
tumtuh vertikal 5 cm per jam atau 120 cm
yaitu nilai banding antara panjang
perhari (Morisco,1996). Umur panen yang
dengan diameter serat. Batas maksimal
relatif singkat tersebut memberikan
aspek rasio serat yang masih
optimisme bahwa pemakaian bambu untuk
memungkinkan pengadukan dapat secara
berbagai keperluan dapat dengan mudah
mudah dilakukan adalah lf/df < 100 tercukupi. Morisco (1996) menyatakan,
dengan lf dan df adalah panjang dan adanya serabut sklerenkin di dalam batang
diameter serat. Aspek rasio yang tinggi bambu menyebabkan bambu mempunyai
menyebabkan kecenderungan serat kekuatan dan dapat digunakan untuk
menggumpal (balling effect) dan sulit keperluan bahan bangunan. Kekuatan bambu
menyebar merata (Sudarmoko, 1991). umumnya dipengaruhi oleh jumlah serat
Dari hasil penelitiannya Firman (1998) sklerenkin dan selulosa di dalam bambu.
menyimpulkan bahwa penambahan serat Kekuatan bambu bagian luar jauh lebih tinggi
bambu ke dalam campuran beton segar dibanding bambu bagian dalam. Penelitian
menurunkan kelecakan beton, bervariasi Morisco (1999) pada bambu ori kering
tergantung dari konsentrasi serat. tungku menunjukkan kuat tarik sebesar 4170
Semakin tinggi konsentrasi serat, nilai kg/cm2 pada bambu bagian luar dan 1640
kelecakan dan sifat dapat dikerjakan kg/cm2 pada bambu bagian dalam, dengan
beton segarnya berkurang.
mengambil benda uji bambu tanpa buku
2. Prosen jumlah serat yang ditambahkan untuk memperoleh serat yang lurus.
pada adukan beton segarnya (fiber
Penggunaan kulit bambu ori sebagai
volume friction). Dari hasil penelitiannya
bahan serat beton didasarkan pada
Firman (1998) membuktikan bahwa
pertimbangan bahwa kuat tariknya cukup
penambahan jumlah serat bambu ke
tinggi, pembuatan dari bahan baku menjadi
dalam campuran beton segar menurunkan
serat cukup mudah dan tidak perlu peralatan
kelecakan beton, bervariasi tergantung
khusus, serta populasi bambu yang cukup
dari prosentase jumlah serat yang
banyak dan tersebar sehingga mudah
ditambahkan. Semakin tinggi prosentase
diperoleh. Bambu ori sebagai salah satu jenis
jumlah serat, semakin berkurang nilai
bambu di Indonesia, meskipun jarang
kelecakan dan sifat dapat
dibudidayakan secara khusus, namun banyak
dikerjakan beton segarnya.
tumbuh di lahan-lahan liar seperti di tepi
b. Teknik pencampuran serat (fiber-
sungai, tebing-tebing dan sebagainya. Bambu
dispersion)
jenis tersebut juga jarang dimanfaatkan
Teknik pencampuran serat merupakan
sebagai bahan pokok bangunan, sehingga
teknik dan upaya pencampuran agar serat
harga di pasaran relatih murah dibanding
yang ditambahkan ke dalam adukan beton bambu jenis lain.
segar dapat tersebar merata. Salah satu cara Serat-serat untuk campuran beton dalam
pengatasan agar serat lebih tersebar merata
penelitian ini dibuat dari bahan bambu ori
bagian luar tanpa buku, yang diserut menjadi sampai 15% dari kuat tekannya (Istimawan,
ukuran sekitar 2 cm x 1mm x 1mm. Serat- 1994)
serat tersebut kemudian direndam 6 hari
dalam air, dan kemudian dikeringkan. Penelitian dilakukan untuk
Kuat tekan dan kuat tarik beton mengetahui pengaruh penambahan serat
Untuk menguji kuat tekan dan kuat tarik bambu ori terhadap kuat tarik dan kuat tekan
beton, digunakan benda uji berbentuk silinder beton. Perubahan kuat tekan akan
15 x 30 cm yang diuji pada umur 28 hari, berpengaruh terhadap mutu betonnya, sedang
sedang proporsi campurannya dirancang perubahan kuat tarik akan berpengaruh
berdasarkan perancangan adukan menurut terhadap retak beton pada daerah tarik.
American Concrete Institute (ACI).
a. Kuat tekan beton. METODE PENELITIAN
Pengujian kuat tekan beton dilakukan Pelaksanaan penelitian dilakukan di
dengan mesin uji tekan. Kuat tekan yang Laboratorium Bahan Bangunan Universitas
tinggi merupakan sifat karakteristik yang Janabadra Yogyakarta, dengan tahapan
dimiliki beton, dan dipakai sebagai ukuran penelitian sebagai berikut:
kualitas beton. Kuat tekan beton dipengaruhi a. Penyiapan bahan, meliputi pembuatan
oleh proporsi campuran, kualitas bahan susun serat bambu dan persiapan bahan susun
serta kualitas pengerjaannya. Kuat tekan beton
beton dihitung dengan rumus: b. Pemeriksaan material bahan susun beton
fc’ = F/ A ............................. c. Perancangan campuran beton,
1) d. Pembuatan benda uji, meliputi
Keterangan : fc’ = kuat tekan beton pengadukan, uji kelecakan adukan
2 dengan pengujian slump, pencetakan
(kg/cm )
F = beban tekan (kg) serta perawatannya.
A = luas tampang beton (cm2) e. Pengujian kuat tekan dan kuat tarik. Pada
b. Pengujian kuat tarik pembuatan serat dari kulit luar
Pengujian kuat tarik beton lebih sulit bambu ori, bambu diserut menjadi serat
dibanding dengan pengujian kuat tekan berukuran sekitar 2 cm x 0,5 mm x 0,5 mm.
beton. Tersedia beberapa metode, dan yang Serat bambu kemudian direndam di dalam air
paling sering digunakan untuk pengujian ini selama 6 hari dan kemudian diangin-
adalah pengujian belah silinder (Nawy, anginkan selama 3 hari di tempat terlindung.
1990). Menurut ASTM C496, pengujian Pembuatan benda uji beton dilakukan
tersebut dilakukan dengan memberikan dengan rencana campuran berdasarkan
pembebanan pada sisi silinder sampai pecah ketentuan American Concrete Institute (ACI).
atau terbelah. Tegangan tarik yang timbul Benda uji berupa silinder beton tinggi 30 cm
sesaat benda uji terbelah disebut split dan diameter 15 cm, sebanyak 3 benda uji
cylinder strength, dihitung dengan rumus untuk setiap jenis pengujian.
sebagai berikut: Digunakan 3 varian prosentase jumlah
fct = (2P)/ (πLD) ....... . 2) serat untuk pengujian desak maupun tarik
Keterangan : fct = kuat tarik silinder beton serat, yaitu varian A1%, varian B1,5%
P = pembebanan dan varian C2%. Sebagai pembanding dibuat
Π = 3,14 pula benda uji beton normal. Varian A1%
L = panjang silinder beton berarti varian beton serat bernama A dengan
D = diameter silinder berat serat sebanyak 1% dari berat semennya.
Menurut Wang dan Salmon (1993), kuat Dari rancangan tersebut dibutuhkan 12 buah
tarik silinder untuk uji tekan dan 12 buah silinder
belah fct dianggap sebanding dengan (fc’)½ untuk uji tarik. Silinder beton dirawat dengan
sedemikian hingga diperoleh: cara direndam selama 3 hari dan diletakkan
fct = 0,5 (fc’)0.5sampai 0,6 (fc’)0.5 ,
untuk beton berbobot normal, ................ 3)
fct = 0,4(fc’)0.5sampai 0,5 (fc’)0.5,
untuk beton berbobot ringan, ................. 4)
Dibanding kuat tekannya, kuat tarik
beton relatif kecil, dengan besaran sekitar 9%
pada tempat lembab sampai saat dilakukan b. Pasir : Asal kali Progo
pengujian pada umur 28 hari. Jenis varian, c. Krikil : Batu pecah asal kali Progo
kode dan jumlah benda uji dapat dilihat pada d. Air : Asal sumur dalam Lab.
Tabel 1.
Sedang bahan penelitian berupa semen, pasir, e. Serat bambu : Kulit bambu ori asal
krikil, air dan serat bambu berasal dari: Ngaglik Sleman
a. Semen : Portland Pozzoland Cement Bahan Bangunan UJB
merek Nusantara kemasan 40 kg.
Tabel 1. Jenis varian, kode dan jumlah benda uji
Pengujian tekan beton Pengujian tarik beton
Varian
Kode benda uji Jumlah benda uji Kode benda uji Jumlah benda uji
Beton normal BNd 3 BNt 3
A1% BS1,0%d 3 BS1,0%t 3
B1,5% BS1,5%d 3 BS1,5%t 3
C2% BS2,0%d 3 BS2,0%t 3
Jumlah benda uji 12 12
HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Agregat.
Hasil pemeriksaan agregat meliputi dan agregat halus yang dipakai memenuhi
pemeriksaan agregat kasar ukuran maksimum persyaratan untuk dipakai sebagai bahan
butir 20 mm dan agregat halus, yang hasilnya susun beton. Untuk semen dan air
dapat dilihat pada Tabel 2. Dari hasil pemeriksaan hanya dilakukan secara visual
pemeriksaan dapat disimpulkan, agregat kasar dan memenuhi syarat untuk pembuatan
beton.
Tabel 2: Hasil pemeriksaan agregat halus dan agregat kasar

Hasil Pemeriksaan
No Nama Pemeriksaan
Agregat halus Agregat Kasar
1 Nama dan asal bahan Pasir kali Progo Split kali Progo
2 Kadar Air 0,50% 1,68%
3 Berat Jenis Kondisi SSD 2,57 gram/cm2 2,74 gram/cm2
4 Penyerapan 1,03% 5,01%
5 Berat isi 1,58 gram/cm2 1,15 gram/cm2
6 Nilai keausan -- 38,56%
7 Kandungan Lumpur 0,45% 0,63
8 Modulus Halus Butir 1,81 7,90
2. Pemeriksaan Beton segar Dari tabel dan grafik pengujian slump
tersebut terlihat adanya penurunan nilai slump
Kelecakan adukan beton segar diukur seiring dengan bertambahnya konsentrasi serat
dengan pengujian slump yang hasilnya berupa pada adukan. Hal tersebut sesuai dengan
nilai slump dapat dilihat pada Tabel 3, sedang ketentuan yang termuat pada ACI, bahwa
grafiknya ditampilkan pada Gambar 1. penambahan serat pada campuran beton akan
menurunkan kelecakan dan workability beton.
Tabel 3. Hasil pemeriksaan nilai slump Kuat Tekan Beton
Pengujian kuat tekan beton dilakukan
Nilai
No Kode benda uji dengan menggunakan mesin uji tekan pada
Slump umur 28 hari dengan perawatan normal.
1 BNd dan BNt 6 Hasil pengujian tersebut dapat dilihat pada
2 BS1,0%d dan BS1,0%t 4,5 Tabel 4 dan grafiknya ditampilkan pada
3 BS1,5%d dan BS1,5%t 4 Gambar 2.
4 BS2,0%d dan BS2,0%t 2,5

25
7 24.36
24.07
24
6
23
5

KUAT TEKAN
22
21.32
NILAISLUMP

4
21 20.67
3 6
20
4.5
2 4
19
2.5
1
18

0 BN BS1.0% BS1.5% BS2%


BN BS1,0% BS1,5% BS2,0% JENIS BETON
JENIS BETON

Gambar 2.: Grafik kuat tekan beton 28 hari


Gambar 1. Grafik Nilai Slump
Tabel 4. Hasil Pengujian Kuat Tekan Beton Umur 28 Hari
Luas Kuat tekan (fc’)
Jenis beton Kode Berat tampang Beban 2 Rata-rata
benda uji (kg) (cm2) (Lbs) Kg/ cm MPa (Mpa)
BNd1 12,07 180,27 83000 208,851 20,85
Beton
BNd2 11,89 177,42 81500 208,364 20,84 20,67
Normal
BNd3 11,89 176,24 79000 203,322 20,32
BS1,0%d1 12,44 180,50 95000 238,731 23,87
Beton
BS1,0%d2 12,59 178,60 96500 245,080 24,51 24,36
Serat 1%
BS1,0%d3 12,61 179,08 97500 246,964 24,70
BS1,5%d1 12,26 180,74 95000 238,416 23,90
Beton
BS1,5%d2 12,15 175,77 93000 239,996 24,00 24,067
Serat1,5%
BS1,5%d3 12,04 175,77 94000 242,576 24.30
BS2,0%d1 12,03 175,07 84000 217,642 21,76
Beton
BS2,0%d2 12,11 175,54 76000 196,388 19,64 21,32
Serat 2%
BS2,0%d3 12,01 174,83 87000 225,717 22,57
Dari hasil tersebut dapat dilihat nilai rata-rata
25
24.36 kuat tekan beton normal, beton konsentrasi
24.07 serat 1%, 1,5% dan 2% diperoleh berturut-
24 turut sebesar 20,67 Mpa, 24,36 Mpa, 24,07
Mpa dan 21,32 Mpa.
23 Penambahan serat pada campuran beton
terbukti menambah kekuatan beton dibanding
22 beton normal.
KUAT TEKAN

21.32 Penambahan kuat tekan pada setiap jumlah


21 20.67 penambahan serat dapat dilihat pada Tabel 5.
Penambahan 1% dan 2% jumlah serat pada
20
campuran normal meningkatkan kekuatan
cukup tinggi, karena beton masih cukup
mudah dikerjakan sehingga dihasilkan beton
19
dengan kepadatan cukup baik, sedang beton
dengan tambahan serat 2% masih mampu
18 meningkatkan kuat tekan pada beton normal
BN BS1.0% BS1.5% BS2% walaupun prosen kenaikannya relatif kecil.
JENIS BETON Hal tersebut terjadi karena adukan beton
sudah mulai sulit dikerjakan, akibat kelecakan
yang terlalu rendah
Tabel 5: Penambahan kuat tekan setiap prosen penambahan jumlah serat
Prosen penambahan Penambahan kuat tekan
Kode benda uji Kuat tekan (MPa)
serat MPa %
BNd 0 20,67 - -
BS1,0%d 1,00 24,36 3,69 17,85
BS1,5%d 1,50 24,07 3,40 16,45
BS2,0%d 2,00 21,52 0,65 3,14
4. Kuat Tarik Beton
3
Hasil pengujian kuat tarik beton yang
dilaksanakan dengan uji belah ditampilkan 2.69
pada Tabel 6 dan grafiknya dapat dilihat pada 2.5
2.46
Gambar 3. Untuk mengetahui prosentase

KUAT TARIK (MPa)


perubahan kuat tarik, dilakukan perbandingan 2 2.06
2.16

kuat tarik terhadap beton normal, yang


hasilnya dapat dilihat pada Tabel 7. 1.5
Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa
1
penambahan serat mampu meningkatkan kuat
tarik beton, dengan peningkatan kuat tarik
beton tertinggi pada penambahan serat 0.5
sebanyak 1,5% dari berat semennya. Pada
penambahan serat sebanyak 2%, peningkatan 0
kekuatan mulai menurun karena beton BN BS1,0% BS1,5% BS2,0%
JENIS BETON
semakin sulit dikerjakan akibat kelecakannya
menurun
Gambar 3. Grafik kuat tarik beton
Tabel 6 : Hasil pengujian dan hitungan kuat tarik beton umur 28 hari

Jenis Kode Diameter Tinggi Berat Beban Kuat Tarik (fc)


2
beton benda uji (cm) (cm) (kg) (Lbs) kg/cm MPa Ratarata
(Mpa)
BNt1 15,05 29,82 11,89 35000 22,520 2,25
Beton
BNt2 15,05 29,62 11,89 22500 19,427 1,94 2,06
Normal
BNt3 14,68 29,80 11,96 30000 19,803 1,98
Beton BS1,0%t1 15,03 29,87 12,39 35000 22,513 2,25
Serat BS1,0%t2 14,98 29,92 12,37 30000 19,329 1,93 2,16
1,0% BS1,0%t3 15,02 29,37 12,36 35000 22,911 2,29
Beton BS1,5%t1 15,07 29,90 11,99 40000 25,635 2,26
Serat BS1,5%t2 15,03 29,52 11,97 45000 29,278 2,93 2,69
1,5% BS1,5%t3 15,05 29,83 12,12 45000 28,945 2,89
Beton BS2,0%t1 15,05 29,77 12,03 40000 25,781 2,58
Serat BS2,0%t2 15,00 30,00 11,99 35000 22,460 2,25 2,46
2,0% BS2,0%t3 15,03 29,98 12,17 40000 25,634 2,56

Tabel 7: Penambahan kuat tarik setiap prosen penambahan jumlah serat


Prosen penambahan Penambahan kuat tarik
Kode benda uji Kuat tarik (MPa)
serat MPa %
BNd 0 2,06 - -
BS1,0%d 1,00 2,16 0,10 4,85
BS1,5%d 1,50 2,69 0,63 30,58
BS2,0%d 2,00 2,46 0,40 19,42
5. Posisi serat di dalam beton
Posisi serat di dalam beton diamati
dengan memecah benda uji setelah dilakukan
pengujian, yang hasil fotonya dapat dilihat
pada Gambar 4. Dari hasil foto terlihat:
1. Posisi serat menyebar secara acak ke
seluruh bagian beton dan tidak
menggumpal. Dengan kondisi tersebut,
diharapkan terjadi pengaruh yang
seragam di seluruh volume beton, oleh
penambahan serat pada adukan betonnya. 2.
Arah serat yang tidak seragam atau tidak
beraturan dimungkinkan berpengaruh
terhadap kekuatan beton ke berbagai arah
yang berbeda.

Gambar 4. Foto posisi serat dalam beton


KESIMPULAN
1. Penambahan serat bambu ori pada
campuran beton sampai sejumlah 2%
dari berat semen, mampu meningkatkan
kuat tekan maupun kuat tarik beton tanpa
serat.

2. Pada penambahan serat sebanyak 2%,


kelecakan beton menurun cukup besar,
sehingga pelaksanaan pencampuran,
pencetakan dan pemampatannya agak
mengalami kesulitan.