Anda di halaman 1dari 11

TUGAS HUKUM KELUARGA DAN HARTA PERKAWINAN (HKHP)

Tentang :

ANALISA PENETAPAN No. 277/Pdt.P/2010/PN.Tng TENTANG


PEMBATALAN AKTA PERJANJIAN KAWIN PASCA PERKAWINAN

1. HERU PUTRA DEWANTARA


2. ZAHWA SALIE APRILI
3. KM MEDI WAHYUDI PUTRA (1806276593)
4. NIDYA INDAH Y. (1806276763)
5. SYARAH IZZATI D.

MAGISTER KENOTARIATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK 2019
ANALISA PENETAPAN NO. 277/Pdt.P/2010/PN.Tng TENTANG
PEMBATALAN AKTA PERJANJIAN KAWIN PASCA PERKAWINAN

I. PENDAHULUAN.

Sebelumnya perlu kami jelaskan terlebih dahulu, bahwa Analisa


Penetapan No. 277/Pdt.P/2010/PN.Tng (terlampir) tentang Pembatalan Akta
Perjanjian Kawin Pasca Perkawinan yang kami buat sebagian merupakan
Kutipan dari Tesis yang pernah dibuat sebelumnya oleh Mahasiswa
Kenotariatan Universitas Indonesia dengan nama Errica Sujana (NPM :
1006828136) pada tahun 2013.

Pada dasarnya Perjanjian Kawin yang dibuat sebelum perkawinan


dilangsungkan tidak dapat diubah, fungsi dari perjanjian tersebut adalah
memisahkan harta antara harta milik suami dan harta yang menjadi milik istri
yang dilaksanakan dengan berbagai pertimbangan, motif, serta tujuan
diadakannya perjanjian kawin tersebut.

Hal sebagaimana tersebut pada alinea sebelumnya tidak sejalan dengan


Penetapan Hakim tunggal pada Pengadilan Negeri Tangerang yang
menetapkan untuk membatalkan perjanjian kawin atas permohonan suami
dan istri sebagaimana termuat dalam Register Perkara Permohonan No.
277/Pdt.P/2010/PN.Tng.

II. ANALISA PENETAPAN NO. 277/Pdt.P/2010/PN.Tng


II.1 Subjek Permohonan
- Nama : Djaya
Pekerjaan : Wiraswasta
TTL : Jakarta, 02 Januari 1968
Agama : Katolik
- Nama : Lianna Setiawan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
TTL : Jakarta, 03 Desember 1977
Agama : Kristen

Keduanya dalam Putusan disebut sebagai Pemohon dan merupakan


pasangan Suami-Istri yang sah berdasarkan Kutipan Akta perkawinan
No. 81/1/PP/2002 tertanggal 11 Maret 2002

II.2 Objek Permohonan


- Akta Perjanjian Pernikahan Nomor 9, tertanggal 6 Maret 2002 yang
dibuat dihadapan Notaris Slamet Suryono Hadi, S.H. di Tangerang

II.3 Kasus Posisi.


- Bahwa Permohonan atas Penetapan No. 277/Pdt.P/2010/PN.Tng
diajukan oleh pasangan suami istri yang bernama Djaya dan Lianna
Setiawan, keduanya tinggal di Jl. Kelapa Sawit XV BG.14 No.9, Kel.
Pakulon Barat, Kec. Kelapa Dua, Kab. Tangerang – Jawa Barat;
- Bahwa keduanya menikah dihadapan pemuka agama Kristen
bernama Jonatan subiato pada tanggal 9 Maret 2002 di Gereja
Kristen Indonesia Samanhudi – Jakarta, dan telah dicatatkan pada
Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi DKI Jakarta,
sesuai dengan Kutipan Akta Perkawinan No. 81/1/PP/2002
tertanggal 11 Maret 2002;
- Bahwa sebelum melaksanakan perkawinannya Djaya dan Lianna
telah membuat Akta Perjanjian Kawin No. 9 dihadapan Notaris
Slamet Suryono Hadi, S.H. dibuat di Tangerang pada tanggal 6 Maret
2002 dan juga telah tercatat dalam daftar pengesahan di Kantor
Catatan Sipil Jakarta dengan Nomor pengesahan 61/I/PPP/2002;
- Bahwa selama 8 tahun pernikahannya Djaya dan Lianna dikaruniai 4
orang anak yaitu, Haxeld Divant Djaya, Andrew Btrand Djaya, Vegand
Lfrant Djaya, dan Evelyn Audrey Djaya. Keduanya hidup bahagia dan
harmonis;
- Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut Djaya dan Lianna beranggapan
bahwa Akta Perjanjian Kawin No. 9 yang dahulu pernah dibuat
sebelum menikah sudah tidak diperlukan lagi, oleh karenanya Djaya
dan Lianna ingin mengajukan permohonan pembatalan perjanjian
kawin No. 9 tersebut di Pengadilan Negeri Tangerang.

II.4 Kutipan Pertimbangan Hakim.


- Menimbang bahwa maksud dan tujuan permohonan para pemohon
adalah sebagaimana diuraikan tersebut diataas;
- Menimbang bahwa alasan permohonan para pemohon tersebut pada
pokoknya oleh karena pemohon telah dikaruniai 4 (empat) orang
anak dan perkawinan para pemohon sudah berjalan selama lebih
kurang 8 (delapan) tahun, dimana hubungan perkawinan dalam
membina rumah tangga para pemohon tersebut cukup harmonis,
rukun dan bahagia, karena pada dasarnya para pemohon saling cinta
dan menyayangi serta mempunyai pengertian yang tinggi satu sama
lain, dengan dilandasi itikad baik para pemohon demi kelangsungan
perkawinan para pemohon dan kehidupan anak-anak dimasa
mendatang, maka para pemohon bermaksud mengajukan
pembatalan akta perjanjian pernikahan yang dibuat di Tangerang,
dihadapan notaris slamer suryono hadi, s.h., sebagaimana tertuang
dalam akta perjanjian pernikahan nomor 9 tanggal 6 maret 2002
tersebut;
- Menimbang, bahwa selanjutnya para pemohon menerangkan pula
permohonan pembatalan perjanjian pernikahan ini dilandasi dengan
itikad baik dan atas kesepakatan bersama antara para pemohon;
- Menimbang bahwa untuk menguatkan dalil permohonannya, para
pemohon telah mengajukan surat-surat bukti bertanda P-1 sampai
dengan P-9 dan 2 orang saksi bernama lim pie tjis dan tjitra,
sebagaimana telah diuraikan tersebut diatas;
- Menimbang bahwa dalam mengajukan permohonan pembatalan
perjanjian pernikahan para permohon tersebut terlenih dahulu harus
mendapat ijin atau penetapan dari pengadilan negeri;
- Menimbang bahwa sesuai dengan bukti P-7 dan P-8 berupa kartu
tanda penduduk dan kartu keluarga atas nama para pemohon dari
kecamatan kelapa dua, kabupaten Tangerang, maka hakim
berpendapat bahwa pengadilan negeri Tangerang berwenang untuk
memeriksa/menyidangkan serta memberikan penetapan dalam
permohonan ini;
- Menimbang bahwa para pemohon bermaksud agar perjanjian
pernikahan yang dibuat di Tangerang dihadapan Notaris Slamet
Suryono Hadi, s.h. nomor 9 tanggal 6 maret 2002 tersebut
dinyatakan batal demi hukum;
- Menimbang bahwa selain dari pada itu para pemohon menginginkan
pula agar Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil propinsi DKI
Jakarta mencatat atau memberi catatan pinggir tentang pembatalan
perjanjian pernikahan tersebut pada kutipan akta perkawinan para
pemohon nomor 81I/PP/2002 tanggal 11 Maret 2002;
- Menimbang bahwa setelah majelis hakim mempelajari permohonan
para pemohon yang dipersidanngan, maka hakim memperoleh fakta
dan keadaan sehingga dapat menarik kesimpulan pada pokoknya
sebagai berikut :
 Bahwa para pemohon dalam posita permohonannya mendalilkan
telah melangsungkan perkawinan dihadapan pemuka agama
Kristen bernama jonathan subianto pada tanggal 9 Maret 2002
di gereja Kristen Indonesia sinode wilayah jawa barat,
samanhudi – Jakarta;
 Bahwa perkawinan para pemohon tersebut telah dicatatkan
dikantor dinas kependudukan dan catatan sipil proponsi DKI
Jakarta, sesuai dengan kutipan akta perkawinan nomor
81/I/PP/2002 tanggal 11 Maret 2002;
 Bahwa pada akta perkawinan para pemohon tersebut telah
disahkan perjanjian pernikahan yang dibuat ditangerang
dihadapan notaris slamet suryono hadi, s.h. nomor 9 pada
tanggal 6 maret 2002;
 Bahwa dalam perkawinan para pemohon telah dikaruniai 4
(empat) orang anak, masing-masing bernama
a. Haxeld Divant Djaya;
b. Andrew Btrand Djaya;
c. Vegand Lfrant Djaya;
d. Evelyn Audrey Djaya.
- Bahwa oleh karena para pemohon telah dikaruniai 4 orang anak dan
perkawinan pemohon sudah berjalan lebih kurang 8 tahun dimana
hubungan perkawinan dalam membina rumah tangga para pemohon
tersebut cukup harmonis, rukun dan bahagia, karena pada dasarnya
pemohon saling cinta dan menyayangi serta mempunyai pengertian
tinggi satu sama lain dengan dilandasi itikad baik para pemohon
demi kelangsungan perkawinan para pemohon dan kehidupan anak-
anak dimasa mendatang maka para pemohon bermaksud
mengajukan pembatalan akta perjanjian pernikahan yang dibuat
ditangerang, dihadapan notaris slamet suryono hadi, s.h.,
sebagaimana tertuang dalam akta perjanjian pernikahan nomor 9
tanggal 6 maret 2002 tersebut;
- Menimbang bahwa berdasarkan uraian fakta dan pertimbangan
tersebut diatas hakim berpendapat bahwa permohonan para
pemohon tersebut cukup beralasan dan tidak bertentangan dengan
undang-undang karenanya dapat dikabulkan;
- Menimbang bahwa oleh karena permohonan para pemohon
dikabulkan, hakim memandang perlu untuk memerintahkan panitera
pengadilan negeri Tangerang atau pejabat ditunujuk untuk
mengirimkan sehelai Salinan penetapan ini kepada pegawau Kantor
dinas kependudukan dan catatan sipil propinsi DKI Jakarta dan
kabupaten Tangerang untuk mencatat dan atau memberi catatan
pinggir tentang pembatalan perjanjian pernikahan para pemohon
para kutipan akta perkawinan nomor 81/I/PP/2002 tanggal 11 maret
2002;
- Menimbang bahwa karena permohonan ini adalah untuk kepentingan
para pemohon sendiri maka biaya perkara yang timbul dalam perkara
ini dibebankan kepada para pemohon;
- Menimbang bahwa berdasarkan hal-hal tersebut diatas maka
permohonan pemohon beralasan menurut hukum sehingga dapat
dikabulkan untuk seluruhnya
- Memperhatikan Pasal 1338 KUHPerdata serta peraturan hukum yang
berkenaan dengan masalah itu

II.5 Amar Putusan


“MENETAPKAN
1. Mengabulkan permohonan para pemohon tersebut;
2. Menyatakan Akta perjanjian pernikahan yang dibuat
ditangerang, dihadapan notaris Slamet suryono hadi, s.h.
sebagaimana tertuang dalam akta perjanjian pernikahan nomor
9 tanggal 6 maret 2002 tersebut, batal demi hukum;
3. Memerintahkan seperlunya kepada kantor dinas kependudukan
dan catatan sipil propinsi DKI Jakarta dan Kantor dinas
kependudukan dan catatan sipil kabupaten Tangerang untuk
mencatat dan atau memberi catatan pinggit tentang pembatalan
akta perjanjian pernikahan pada kutipan akta nomor
81/I/PP/2002 tanggal 11 maret 2002;
4. Membebankan biaya perkara ini kepada para pemohon sebesar
Rp. 141.000,- (serratus empat puluh satu ribu rupiah)

II.6 Analisa Hukum


Pada dasarnya hukum perikatan yang berlaku di Indonesia menganut
asaz kebebasan berkontrak sebagaimana yang tertuang dalam Pasal
1338 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata), sebagai
berikut :

“Pasal 1338 KUHPerdata


Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-
undang bagi mereka yang membuatnya. Suatu perjanjian tidak
dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak,
atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan
cukup untuk itu. Suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan
itikad baik.”

Jika asaz kebebasan berkontrak yang tertanam dalam Pasal 1338


KUHPerdata tersebut diaplikasikan dalam perjanjian pernikahan
sebagaimana disebutkan dalam kasus posisi aquo, maka pembatalan
perjanjian pernikahan nomor 9 tertanggal 6 maret 2002 tersebut hanya
dapat ditarik kembali dan/atau dibatalkan hanya berdasarkan
kesepakatan kedua belah pihak dan itikad baik antara suami dan istri
incasu Djaya dan Lianna.

Namun jika dianalisa lebih lanjut, Perjanjian Pernikahan tersebut


merupakan perjanjian bernama yang diatur dalam Undang-undang No.
1 tahun 1974 tentan Perkawinan (UU Perkawinan) secara spesifik,
khususnya pada Bab V Pasal 29 UU Perkawinan, sebagai berikut :

“Pasal 29 UU Perkawinan
(1) Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, kedua pihak
atas persetujuan bersama dapat mengadakan perjanjian tertulis yang
disahkan oleh Pegawai pencatat perkawinan, setelah mana isinya
berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut.
(2) Perjanjian tersebut tidak dapat disahkan bilamana melanggar batas-
batas hukum, agama dan kesusilaan.

(3) Perjanjian tersebut mulai berlaku sejak perkawinan dilangsungkan.

(4) Selama perkawinan berlangsung perjanjian tersebut tidak dapat


dirubah, kecuali bila dari kedua belah pihak ada persetujuan untuk
merubah dan perubahan tidak merugikan pihak ketiga.”

Bahwa perlu ditegaskan kembali suatu perubahan dalam


perjanjian perkawinan berdasarkan Pasal 29 UU Perkawinan
dimungkinkan dengan 2 syarat yaitu, sepakat antar suami dan istri
serta perubahan tersebut tidak merugikan pihak ketiga yang kedua
syarat tersebut bersifat akumulatif bukan alternative, sehingga kedua
syarat tersebut mutlak harus dipenuhi oleh Para Pemohon untuk
melakukan perubahan atas perjanjian pernikahannya incasu Akta
Perjanjian Pernikahan No. 9 tertanggal 6 Maret 2002.

Sedangkan fakta yang terungkap dalam persidangan, Para


Pemohon tidak memberikan dalil-dalil terkait hubungan harta
perkawinan mereka dengan pihak ketiga, semisal ada bagian dari harta
suami incasu Djaya yang sedang dijaminkan atau digadaikan atau
disewakan kepada pihak ketiga maupun sebalikanya sebagian harta
milik istri incasu Lianna, sehingga Hakim memberikan pertimbangan
hanya berdasarkan kesepakatan antar Suami-Istri, hubungan harmonis,
4 orang anak, itikad baik dsb. Tanpa memperhatikan hubungan harta
perkawinan Para Pemohon dengan pihak ketiga, atau setidak-
tidaknya Para pemohon dapat memastikan dan/atau membuktikan
bahwa harta perkawinan mereka tidak sedang dalam perikatan dengan
pihak ketiga.

III. KESIMPULAN
Bahwa seharusnya Hakim Pengadilan Negeri Tangerang dalam Perkara
Permohonan No. 277/Pdt.P/2010/PN.Tng tidak serta merta menerima
permohonan para pemohon hanya didasarkan pada kesepakatan antar Suami-
Istri sebagaimana tertuang dalam pasal 1338 KUHPerdata bahwa suatu
perjanjian dapat ditarik kembali berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak
yang membuat perjanjian.

Perjanjian pernikahan merupakan perjanjian yang diatur secara khusus


dalam UU Perkawinan, sehingga jelas Hakim Pengadilan Negeri Tangerang
dalam memeriksa dan memutus perkara permohonan aquo wajib
mendasarkan pertimbangan serta putusannya kepada Undang-undang No. 1
tahun 1974 tentang perkawinan bukan hanya berdasarkan Pasal 1338
KUHPerdata.

Bahwa jelas jika dikemudian hari muncul pihak ketiga yang merasa
dirugikan atas pembatalan perjanjian Perkawinan antara Djaya dan Lianna
maka akan muncul perkara baru dan hal tersebut sangat bertentangan
dengan asaz dan fungsi penetapan hakim yaitu untuk memberikan kepastian
hukum kepada pihak Pemohon dalam penetapannya.