Anda di halaman 1dari 76

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Umum


Perencanaan struktur suatu gedung secara rinci membutuhkan suatu
rangkaian proses analisis dan perhitungan yang panjang serta rumit, yang
didasarkan pada asumsi dan pertimbangan teknis tertentu. Dengan kecanggihan
perangkat lunak yang ada pada saat ini memungkinkan para teknisi untuk
merencanakan segala sesuatunya dari berbagai sudut pandang dengan sangat rinci
dengan tingkat ketelitian yang tinggi.
Perencanaan adalah suatu proses untuk mendapatkan suatu hasil yang
optimum. Suatu struktur dikatakan optimum apabila memenuhi kriteria-kriteria
berikut:
1. Biaya minimum
2. Berat minimum
3. Waktu konstruksi minimum
4. Tenaga kerja minimum
5. Biaya manufaktur minimum
6. Manfaat maksimum pada masa layan
Perhitungan yang melibatkan prinsip-prinsip ilmiah harus dijadikan dasar
dalam pengambilan keputusan, namun tidak diikuti secara membabi buta.
Pengalaman dan intuisi seorang ahli struktur digabungkan dengan hasil-hasil
perhitungan ilmiah akan menjadi suatu dasar proses pengambilan keputusan yang
baik.
Salah satu tahapan penting dalam perencanaan suatu struktur bangunan
adalah pemilihan jenis material yang akan digunakan. Salah satu material yang
selama ini digunakan dalam dunia konstruksi adalah baja. Material baja sebagai
bahan konstruksi telah digunakan sejak lama mengingat beberapa keunggulannya
disbanding material yang lain. Beberapa keunggulan baja sebagai material
konstruksi :

5
1. Menpunyai kekuatan yang tinggi, sehingga dapat mengurangi ukuran
struktur serta berat struktur. Hal ini cukup menguntungkan bagi
struktur-struktur gedung yang tinggi atau juga bangunan-bangunan
yang berada pada kondisi tanah yang buruk.
2. Keseragaman dan keawetan yang tinggi, tidak seperti halnya material
beton bertulang yang terdiri dari berbagai macam penyusun. Material
baja jauh lebih seragam/homogeny serta mempunyai tingkat keawetan
yang jauh lebih tinggi jika prosedur perawatan dilakukan secara
semetinya.
3. Sifat elastis, baja mempunyai perilaku yang cukup dengan asumsi-
asumsi yang digunakan untuk melakukan analisis, sebab baja dapat
berprilaku elastis hingga tegangan yang cukup tinggi mengikuti
Hukum Hooke.
4. Daktalitas baja cukup tinggi. Suatu batang baja yang menerima
tegangan tarik yang tinggi akan mengalami regangan cukup besar
sebelum terjadi keruntuhan.
5. Kecepatan pelaksanaan konstruksi baja juga menjadi salah satu
keunggulan material baja.

2.2. Konsep Perencanaan Struktur


Pemilihan jenis struktur atas (upper structure) mempunyai hubungan
yang erat dengan sistem fungsional gedung. Dalam proses desain struktur perlu
dicari kedekatan antara jenis struktur dengan masalah-masalah seperti arsitektural,
efisiensi, service ability, kemudahan pelaksanaan dan juga biaya yang diperlukan.
Ada beberapa aspek yang menentukan dalam pemilihan sistem struktur,
yaitu:
1. Aspek arsitektural
Hal ini berkaitan dengan denah dan bentuk struktur yang dipilih,
ditinjau dari segi arsitektur.

6
2. Aspek fungsional
Berkaitan dengan penggunaan ruang yang biasanya akan
mempengaruhi penggunaan bentang dari elemen struktur yang
digunakan.
3. Aspek kekuatan dan stabilitas struktur
Hal ini mencakup kemampuan struktur dalam menerima beban-beban
yang bekerja baik beban vertikal maupun beban lateral yang
disebabkan oleh gempa serta kestabilan struktur dalam kedua hal
tersebut.
4. Aspek ekonomi dan kemudahan pelaksanaan
Biasanya pada suatu gedung digunakan beberapa macam sistem
struktur. Oleh sebab itu faktor ekonomi dan kemudahan dalam
pelaksanaan pekerjaan merupakan faktor yang mempengaruhi sistem
struktur yang akan dipilih.
5. Faktor kemampuan gedung mengakomodasi sitem layanan gedung
Pemilihan sistem struktur juga harus mempertimbangkan kemampuan
struktur dalam mengakomodasi sistem pelayanan yang ada, yaitu
menyangkut pekerjaan mekanikal dan elektrikal.

Sistem struktur yang digunakan pada perencanaan gedung struktur baja


ini adalah Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus. Sedangkan pemilihan jenis
pondasi (sub structure) yang digunakan menurut (Suyono, 1984) didasarkan
kepada beberapa pertimbangan, yaitu :
1. Keadaan tanah pondasi
Jenis tanah, daya dukung tanah, kedalaman tanah keras, dan beberapa
hal yang menyangkut keadaan tanah erat kaitannya dengan jenis
pondasi yang dipilih.
2. Batasan-batasan akibat konstruksi diatasnya.
Keadaan struktur atas sangat mempengaruhi pemilihan jenis pondasi.
Hal ini meliputi kondisi beban (besar beban, arah beban, dan

7
penyebaran beban) dan sifat dinamis bangunan diatasnya (statis
tertentu atau tak tentu, kekakuan dan sebagainya).
3. Batasan-batasan dilingkungan sekelilingnya.
Hal ini menyangkut lokasi proyek, pekerjaan pondasi tidak boleh
mengganggu atau membahayakan bangunan dan lingkungan yang ada
disekitarnya.
4. Waktu dan biaya pelaksanaan pekerjaan
Suatu proyek pembangunan akan sangat memperhatikan aspek waktu
dan biaya pelaksanaan pekerjaan, karena hal ini sangat erat
hubungannya dengan tujuan pencapaian kondisi ekonomis dalam
pembangunan.

2.3. Perencanaan Pembebanan


Beban adalah gaya luar yang bekerja pada suatu struktur. Penentuan
secara pasti besarnya beban yang bekerja pada suatu struktur selama umur
layannya merupakan salah satu pekerjaan yang cukup sulit, dan pada umumnya
penentuan besarnya beban hanya merupakan suatu estimasi saja. Meskipun beban
yang bekerja pada suatu lokasi dari struktur dapat diketahui secara pasti, namun
distribusi beban dari elemen ke elemen dalam suatu struktur umumnya
memerlukan asumsi dan pendekatan. Jika beban-beban yang bekerja pada suatu
struktur telah diestimasi, maka masalah berikutnya adalah menentukan
kombinasi-kombinasi beban yang paling dominan yang mungkin bekerja pada
struktur tersebut. Besar beban yang bekerja pada sutau struktur diatur oleh
peraturan pembebanan yang berlaku yaitu SNI 1727-3013 sedangkan masalah
kombinasi dari beban-beban yang bekerja telah diatur dalam SNI 1729-2015.
Beberapa jenis beban yang sering dijumpai adalah :
1. Beban Mati, adalah berat dari semua bagian suatu struktur
gedung/bangunan yang bersifat tetap selama masa layan struktur,
termasuk unsur-unsur tambahan, finishing, mesin-mesin serta
peralatan tetap yang merupakan bagian tak terpisahkan dari
gedung/bangunan tersebut. Termasuk dalam beban ini adalah berat

8
struktur, pipa-pipa, saluran listrik, AC, lampu-lampu, penutup lantai
dan plafond.
2. Beban Hidup, adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian
atau penggunaan suatu gedung, dan ke dalamnya termasuk beban-
beban pada lantai yang berasal dari barang-barang yang dapat
berpindah, mesin-mesin serta peralatan yang tidak merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa
hidup dari gedung itu, sehingga mengakibatkan perubahan dalam
pembebanan lantai dan atap tersebut. Khusus pada atap, beban hidup
dapat termasuk beban air hujan, baik akibat genangan maupun akibat
tekanan jatuh (energi kinetik) butiran air.
3. Beban Gempa, adalah semua beban statik ekuivalen yang bekerja
pada struktur akibat adanya pergerakan tanah oleh gempa bumi, baik
pergerakan arah vertikal maupun horizontal. Namun pada umumnya
percepatan tanah arah horizontal lebih besar dari pada arah
vertikalnya, sehingga pengaruh gempa horizontal jauh lebih
menentukan daripada gempa vertikal. Besarnya gaya geser dasar
𝐶×𝐼
(statik ekuivalen) ditentukan berdasarkan persamaan 𝑉 = 𝑊𝑡
𝑅

dengan C adalah factor respon gempa yang ditentukan berdasarkan


lokasi bangunan dan jenis tanahnya, I adalah factor keutamaan
gedung, R adalah factor reduksi gempa yang tergantung pada jenis
struktur yang bersangkutan, sedangkan Wt adalah berat total bangunan
termasuk beban hidup yang bersesuaian.
4. Beban Angin, adalah semua beban yang bekerja pada gedung atau
bagian gedung yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara.
5. Beban Khusus, adalah semua beban yanng bekerja pada gedung atau
bagian gedung yang terjadi akibat selisih suhu, pengangkatan dan
pemasangan, penurunan fondasi, susut, gaya-gaya tambahan yang
berasal dari beban hidup seperti gaya rem yang berasal dari keran, dan
gaya sentrifugal.

9
2.4. Perencanaan Terhadap Gempa
Menurut Kusuma dan Vis (1993) struktur beban di daerah gempa dirancang
dengan capacity design yang artinya ragam keruntuhan struktur akibat gempa yang
besar ditentukan lebih dahulu dengan elemen-elemen kritisnya dipilih sedemikian
rupa agar mekanisme keruntuhannya dapat mengeluarkan energi sebesar-besarnya.
Filsafat yang dikenal dalam perencanaan capacity design adalah strong colomn, weak
beam yang berarti elemen kolom harus selalu dibuat lebih kuat daripada elemen
struktur balok yang merangka padanya, karena pada dasarnya plastifikasi balok
menghasilkan perilaku yang lebih daktil dibandingkan dengan perilaku plastifikasi
pada kolom. Konsep tersebut bertujuan untuk mencegah terjadinya leleh pada kolom
yang pada dasarnya dirancang sebagai komponen pemikul beban lateral. Jika kolom
dirancang tidak lebih kuat dari balok, maka terjadi perilaku plasifikasi pada ujung-
ujung kolom. Besarnya beban aksial yang bekerja pada kolom mengakibatkan lebih
rendahnya tingkat daktilitas kolom dibandingkan dengan daktilitas balok (Imran,
Hendrik, 2010).
Faktor yang perlu diperhitungkan dalam perencanaan struktur di daerah
gempa, agar gaya-gaya gempa yang diperhitungkan tidak terlalu besar, antara lain:
1. Sistem struktur yang akan digunakan disesuaikan dengan lokasi dan
tingkat kerawanan gempa dimana struktur bangunan akan dibangun.
2. Pendetailan struktur dan sambungan agar bangunan menjadi satu
kesatuan.
3. Material yang digunakan memenuhi syarat material untuk struktur
bangunan tahan gempa.
4. Desain perancangan sesuai dengan pelaksanaan di lapangan.

Syarat perencanaan struktur tahan gempa telah diatur dalam pasal 21 SNI
2847:2013, yang mana disesuaikan dengan kategori resiko dan kategori desain
seismik suatu bangunan.

2.4.1. Menentukan Kategori Resiko Dan Faktor Keutamaan


Menentukan kategori resiko berdasarkan jenis pemanfaatan dari
bangunan. Kategori resiko tersebut dapat dilihat pada tabel 2.1.

10
Tabel 2.1Kategori Resiko Bangunan Gedung & Non Gedung untuk Beban Gempa
Jenis Pemanfaatan Kategori
Resiko
Gedung dan non gedung yang memiliki resiko rendah terhadap jiwa
manusia pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi
untuk, antara lain:
- Fasilitas pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan I
- Fasilitas sementara
- Gudang penyimpanan
- Rumah jaga dan struktur lainnya
Semua gedung dan struktur lain, kecuali yang termasuk dalam
kategori resiko I,III,IV, termasuk, tetapi tidak diabtasi untuk:
- Perumahan
- Rumah toko dan rumah kantor
- Pasar II
- Gedung perkantoran
- Gedung apartemen/ rumah susun
- Pusat perbelanjaan/ mall
- Bangunan industri
- Pabrik
Gedung dan non gedung yang memiliki resiko tinggi terhadap jiwa
manusia saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
- Bioskop
- Gedung pertemuan
- Stadion
- Fasilitas kesehatan yang tidak memiliki unit bedah dan unit
gawat darurat
- Fasilitas penitipan anak
- Penjara
- Bangunan untuk orang jompo
Gedung dan non gedung, tidak termasuk ke dalam kategori resiko IV,
yang memiliki potensi untuk menyebabkan dampak ekonomi yang
besar dan/atau gangguan massal terhadap kehidupan masyarakat III
sehari-hari bila terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
- Pusat pembangkit listrik biasa
- Fasilitas penanganan air
- Fasilitas penanganan limbah
- Pusat telekomunikasi
Gedung dan non gedung yang tidak termasuk dalam kategori resiko
IV, (termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk fasilitas manufaktur,
proses, penanganan, penggunaan atau tempat pembuangan bahan
bakar berbahaya, bahan kimia berbahaya, limbah berbahaya, bahan
yang mudah meledak) yang mengandung bahan beracun atau peledak
dimana jumlah kandungan bahannya melebihi nilai batas yang
disyaratkan instansi yang berwenang & cukup menimbulkan bahaya
bagi masyarakat jika terjadi kebocoran.

11
(Lanjutan)
Jenis Pemanfaatan Kategori
Resiko
Gedung dan non gedung yang ditunjukkan sebagai fasilitas yang
penting, termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk:
- Bangunan-bangunan monumental
- Gedung sekolah dan fasilitas pendidikan
- Rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya yang memiliki
fasilitas bedah dan unit gawat darurat
- Fasilitas pemadam kebakaran, ambulans, dan kantor polisi,
serta garasi kendaraan darurat
- Tempat perlindungan terhadap gempa bumi, angin badai, dan
tempat perlindungan darurat lainnya
- Fasilitas kesiapan darurat, komunikasi, pusat operasi dan
fasilitas lainnya untuk tanggap darurat IV
- Pusat pembangkit energi dan fasilitas publik lainnya yang
dibutuhkan pada saat keadaan darurat.
- Struktur tambahan (termasuk menara telekomunikasi, tangki
penyimpanan bahan bakar, menara pendingin, struktur stasiun
listrik, tangki air pemadam kebakaran atau struktur rumah atau
struktur pendukung air atau material atau peralatan pemadam
kebakaran) yang diisyaratkan untuk beroperasi pada saat
keadaan darurat
Gedung dan non gedung yang dibutuhkan untuk mempertahankan
fungsi struktur bangunan lain yang masuk ke dalam kategori resiko
IV.
(Sumber : Tabel 1 SNI 1726:2012, hal 14-15)
Tabel 2.2 Faktor Keutamaan Gempa
Kategori Resiko Faktor Keutamaan Gempa, Ie
I atau II 1,0
III 1,25
IV 1,50
(Sumber : Tabel 2 SNI 1726:2012, hal 15)

2.4.2. Menentukan Klasifikasi Situs


Prosedur klasifikasi bertujuan untuk memberikan kriteria desain seismik
berupa faktor-faktor amplifikasi pada bangunan. Dalam perumusan kriteria desain
seismik suatu bangunan di permukaan tanah atau penentuan amplifikasi besaran
percepatan gempa puncak dari batuan dasar ke permukaan tanah untuk suatu situs.
Klasifikasi situs dapat dilihat di tabel 2.3.

12
Tabel 2.3 Klasifikasi Situs
Kelas Situs 𝑣̅𝑠 (m/dtk) 𝑁̅ atau ̅̅̅̅̅
𝑁𝑐ℎ 𝑠̅𝑢 kPa
SA (batuan keras) >1500 N/A N/A
SB (batuan) 750 sampai 1500 N/A N/A
SC (tanah keras, sangat 350 sampai 750 >50 ≥100
padat dan batuan lunak)
SD (tanah sedang) 175 sampai 350 15 sampai 50 50 sampai 100
SE (tanah lunak) <175 <15 <50
Atau setiap profil tanah yang mengandung lebih dari 3
m tanah dengan karakterisitk sebagai berikut:
1. Indeks plastisitas, PI >20,
2. Kadar air, w≥40%,
3. Kuat geser niralir 𝑠̅𝑢 <25 kPa
SF (tanah khusus, yang Setiap profil lapisan tanah yang memiliki salah satu
membutuhkan atau lebih
investigasi geoteknik dari karakteristik berikut:
spesifik dan analisis - Rawan dan berpotensi gagal atau runtuh akibat
respons spesifik-situs beban gempa seperti mudah likuifaksi, lempung
yang mengikuti 6.10.1) sangat sensitif, tanah tersementasi lemah
- Lempung sangat organik dan/atau gambut
(ketebalan H>3m)
- Lempung berplastisitas sangat tinggi (ketebalan
H>7,5 m dengan Indeks Plastisitas PI>75)
Lapisan lempung lunak/ setengah teguh dengan
ketebalan H > 35
m dengan 𝑠̅𝑢 < 50 kPa
(Sumber: Tabel SNI 1726:2012, hal 15) catatan : N/A = tidak dapat dipakai.
Keterangan :
𝑣̅𝑠 : kecepatan rata-rata gelombang geser
̅ atau ̅̅̅̅̅
𝑁 𝑁𝑐ℎ : tanah non kohesif dan tanah non kohesif
𝑠̅𝑢 : kuat geser niralir rata-rata
Profil tanah di situs harus diklasifikasikan sesuai dengan tabel 3 dan
diperhitungkan terhadap tanah lapisan 30 m paling atas (kedalaman 30meter).
Profil tanah yang mengandung beberapa lapisan tanah dan/atau batuan yang
berbeda perlu dibagi menjadi beberapa lapisan. Pembagian tersebut dimulai
dengan lapisan dibawahnya (SNI 1726:2012 pasal 5.4).

13
2.4.3. Menentukan Parameter Percepatan Terpetakan
Parameter percepatan terpetakan untuk periode pendek Ss dan periode
satu detik S1 ditentukan melalui website desain spectra Indonesia.
(http://puskim.pu.go.id/Aplikasi/desain_spektra_indonesia_2011/)

2.4.4. Menentukan Koefisien Fa dan Fv


Menentukan koefisien Fa dan Fv berdasarkan nilai parameter percepatan
terpetakan untuk periode pendek dan periode satu detik. Koefisian dedapat dengan
cara interpolasi linier dari tabel
Tabel 2.4 Koefisien situs, Fa
Parameter respons spectral percepatan gempa (MCER)
Kelas situs terpetakan pada perioda pendek, T=0,2 detik, Ss
Ss ≤ 0,25 Ss = 0,5 Ss = 0,75 Ss = 1,0 Ss ≥ 1,25
SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
SB 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
SC 1,2 1,2 1,1 1,0 1,0
SD 1,6 1,4 1,2 1,1 1,0
SE 2,5 1,7 1,2 0,9 0,9
b
SF SS
(Sumber : Tabel 4 SNI 1726:2012, hal 22)

Tabel 2.5 Koefisien situs, Fv


Parameter respons spectral percepatan gempa (MCER)
Kelas situs terpetakan pada perioda satu detik, T=1 detik, S1
S1 ≤ 0,1 S1 = 0,2 S1 = 0,3 S1 = 0,4 S1 ≥ 0,5
SA 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8
SB 1,0 1,0 1,0 1,0 1,0
SC 1,7 1,6 1,5 1,4 1,3
SD 2,4 2 1,8 1,6 1,5
SE 3,5 3,2 2,8 2,4 2,4
b
SF SS
(Sumber : Tabel 5 SNI 1726:2012, hal 22)
Catatan : SS = Situs yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan
analisis respons situs spesifik.

14
2.4.5. Menentukan SMS dan SM1
Parameter spectrum respons percepatan pada periode pendek (SMS) dan
periode satu detik (SM1) yang disesuaikan dengan pengaruh klasifikasi situs,
ditentukan dengan rumus sebagai berikut :
SMs =Fa SS .............................................................................................. (2.1)
SM1 =Fv S1 .............................................................................................. (2.2)
Keterangan:
SS = parameter respons spektral percepatan gempa MCER
terpetakan untuk periode pendek
S1 = parameter respons spektral percepatan gempa MCER
terpetakan untuk periode satu detik
Fa = faktor amplifikasi periode pendek
F1 = faktor amplifikasi periode satu detik

2.4.6. Menentukan Parameter Percepatan Spektral Desain


Parameter percepatan spektral desain untuk periode pendek, SDS dan
periode satu detik, SD1 dapat ditentukan dengan rumus dibawah :
2
SDS = 3 SMS ........................................................................................... (2.3)
2
SD1 = 3 SM1 ............................................................................................ (2.4)
Keterangan:
SMS = parameter respons spektral percepatan gempa MCER
terpetakan untuk periode pendek
SM1 = parameter respons spektral percepatan gempa MCER
terpetakan untuk periode satu detik

2.4.7. Menentukan Kategori Desain Seismik (KDS)


Kategori desain seismik ditentukan berdasarkan kategori resiko pada
tabel 2.2 dan nilai parameter percepatan spektral desain untuk perioda pendek
(SDS) dan perioda satu detik (SD1). Golongan kategori desain seismic dapat dilihat
pada tabel 2.6 dan tabel 2.7.

15
Tabel 2.6 Kategori Desain Seismik Berdasarkan Parameter Respons Percepatan
pada Period Pendek
Kategori Resiko
Nilai SDS
I atau II atau III IV
SDS < 0,167 A A
0,167 ≤ SDS ≤ 0,33 B C
0,33 ≤ SDS ≤ 0,50 C D
0,50 ≤ SDS D D
(Sumber : Tabel 6 SNI 1726:2012, hal 24)

Tabel 2.7 Kategori Desain Seismik Berdasarkan Parameter Respons Percepatan


pada Period 1 Detik
Kategori Resiko
Nilai SDS
I atau II atau III IV
SD1 < 0,067 A A
0,067 ≤ SD1 ≤ 0,133 B C
0,133 ≤ SD1 ≤ 0,20 C D
0,20 ≤ SD1 D D
(Sumber : Tabel 7 SNI 1726:2012, hal 25)

2.4.8. Struktur Penahan Gempa


Sistem penahan gaya gempa yang digunakan harus sesuai dengan batasan
sistem struktur dan batasan ketinggian struktur yang ditunjukkan dalam tabel di
bawah. Koefisien modifikasi respons yang sesuai, R, faktor kuat lebih sistem, Ω0,
dan koefisien amplifikasi defleksi, Cd, sebagaimana ditunjukkan tabel 9 di SNI
1726:2012 harus digunakan dalam penentuan geser dasar, gaya desain elemen,
simpangan antar lantai tingkat desain (SNI 1726:2012 subpasal 7.2.1).

2.4.9. Periode Fundamental


Berdasarkan SNI 1726:2012 sub pasal 7.8.2 perioda fundamental
pendekatan (Ta) dalam detik harus ditentukan dari persamaan berikut :
𝑇𝑎 = 𝐶𝑡 ℎ𝑛 𝑥 ........................................................................................... (2.5)
Keterangan
Ta = perioda fundamental struktur (detik)
hn = ketinggian struktur (m), diatas dasar sampai tingkat tertinggi
struktur Ct dan x merupakan nilai koefisien ditentukan tabel 2.8

16
Tabel 2.8 Nilai Parameter Perioda Pendekatan Ct dan x
Tipe Struktur Ct x
Sistem rangka pemikul momen dimana rangka memikul 100% gaya gempa yang
disyaratkan dan tidak dilingkupi atau dihubungkan dengan komponen yang lebih kaku
dan akan mencegah rangka dari defleksi jika dikenai gaya gempa
Rangka baja pemikul momen 0,0724a 0,8
a
Rangka beton pemikul momen 0,0466 0,9
Rangka baja dengan bresing eksentris 0,0731a 0,75
Rangka baja dengan bresing terkekang terhadap tekuk 0,0731a 0,75
Semua system struktur lainnya 0,0488a 0,75
(Sumber : Tabel 15 SNI 1726:2012, hal 56)

2.4.10. Spektrum Respons Desain


Spektrum respons desain mengacu pada beberapa ketentuan berikut :
1. Untuk perioda yang lebih kecil dari T0, spectrum respons percepatan
desain (Sa) harus diambil dari persamaan :
𝑇
𝑆𝑎 = 𝑆𝐷𝑆 (0,4 + 0,6 𝑇 ) .................................................................. (2.6)
0

2. Untuk Perioda lebih besar dari atau sama dengan T0 dan lebih kecil
dari atau sama dengan TS, spektrum respons percepatan desain (Sa)
sama dengan SDS.
3. Untuk perioda lebih besar dari TS, spektrum respons percepatan
desain (Sa) diambil berdasarkan persamaan :
SDS
Sa = T
............................................................................................. (2.7)
S
T0 =0,2 SD1 ....................................................................................... (2.8)
DS
S
TS = SD1 ............................................................................................ (2.9)
DS

Keterangan
SDS = parameter respons spectral percepatan desain pada periode
pendek
SD1 = parameter respons spectral percepatan desain pada periode
satu detik
T = periode getar fundamental struktur

17
Gambar 2.1 Spektrum Respons Desain
(Sumber: Gambar 1 SNI 1726:2012, halaman 23)

2.4.11. Koefisien Respon Gempa


Koefisien respons seismic (CS) ditentukan dengan persamaan dibawah :
SDS
CS = R ................................................................................................ (2.10)
( )
Ie

Keterangan
SDS = parameter respons spectral percepatan desain pada
periode pendek
R = faktor modifikasi respons
Ie = faktor keutamaan gempa

Nilai CS yang dihitung tidak boleh melebihi persamaan berikut ini :


SD1
CS = R .............................................................................................. (2.11)
𝑇( )
Ie

CS tidak boleh kurang dari :


𝐶𝑠 = 0,044 𝑆𝐷𝑆 𝐼𝑒 ≥ 0,01
Untuk struktur yang berlokasi di daerah dimana S1 sama dengan atau
lebih besar dari 0,6g maka CS harus tidak kurang dari persamaan dibawah :
0,5𝑆1
𝐶𝑠 = 𝑅 ............................................................................................ (2.12)
( )
𝐼𝑒

18
Keterangan
SD1 = parameter respons spectral percepatan desain pada periode
pendek
T = periode fundamental struktur
S1 = parameter percepatan spectrum respons maksimum
R = faktor modifikasi respons
Ie = faktor keutamaan gempa

2.4.12. Gaya Geser Dasar


Gaya Geser dasar seismic ditentukan dari persamaan dibawah :
𝑉 = 𝐶𝑆 𝑊 ............................................................................................ (2.13)
Keterangan
CS = koefisien respons seismik
W = Berat seismik efektif

2.4.13. Distribusi Vertikal Gaya Gempa


Gaya gempa lateral, Fx (kN) yang timbul disemua tingkat harus
ditentukan dari persamaan berikut ini :
𝐹𝑥 = 𝐶𝑣𝑥 𝑉 .......................................................................................... (2.14)
Dengan
𝑤𝑥 ℎ𝑥𝑘
𝐶𝑣𝑥 = ∑𝑛 𝑘 ................................................................................... (2.15)
𝑖=1 𝑤𝑖 ℎ𝑖

Keterangan
Cvx = faktor distribusi vertikal
V = gaya lateral desain total atau geser di dasar struktur
wi dan wx = bagian berat seismik efektif total struktur (W) yang
ditempatkan atau dikenakan pada tingkat i atau x
hi dan hx = tinggi dari dasar sampai tingkat i atau x (m)
k = eksponen yang terkait dengan periode sebesar 0,5
detik atau kurang, k=1, untuk struktur dengan periode
2,5 detik atau lebih, k=2, untuk struktur dengan
periode 0,5 dan 2,5 detik, harus sebesar 2 atau harus
ditentukan dengan interpolasi linear 1dan 2

19
2.5. Material Baja
Bahan material baja unggul jika ditinjau dari segi kekuatan, kekakuan dan
daktalitasnya. Kelebihan material baja dibandingkan dengan material beton atau
kayu adalah karena material tersebut buatan pabrik, yang tentunya mempunyai
kontrol produksi yang baik dan sebagai akibatnya mutu produknya terjaga. Oleh
karena itu dapat dipahami mengapa kualitas material baja yang dihasilkan relatif
homogen dan konsisten dibanding material lain, yang berarti juga lebih dapat
diandalkan mutunya. Jika dilihat dari tabel profil baja yang ada, terlihat banyak
sekali profil yang tersedia tetapi sesungguhnya tidak semua profil baja pada tabel
dapat dipilih karena sebagian sudah tidak diproduksi lagi, hanya profil tertentu
yang umum digunakan saja yang terus diproduksi. Hal ini tentu perlu diketahui
para insinyur perencana konstruksi baja

2.5.1. Proses Pembuatan Baja


Kapasitas produksi baja pada suatu Negara dapat menjadi indikasi dari
kemajuan ekonominya. Proses pembuatan material baja relative kompleks
dibanding material lain yaitu beton dan kayu. Oleh sebab itu industrinya perlu
dukungan dana, teknologi serta ilmu pengetahuan yang tidak sederhana. Besi
kasar atau pig iron, cair (logam panas) hasil pengolahan bijih besi, batu kapur dan
kokas pada blast furnace (tanur tinggi) masih mengandung silikon (S), mangan
(Mn), karbon (C), dan bahan lain secara berlebihan. Untuk itu bersama-sama besi
bekas (scrap) dan agen fluks (fluxing agents) diproses lagi dengan tungku
konverter untuk dimurnikan dengan oksigen agar mineral yang berlebihan
menjadi berkurang.
Adanya besi bekas yang dapat diolah lagi menjadi material baja baru,
menunjukan bahwa material baja ramah lingkungan karena relatif dapat didaur
ulang lagi secara sempurna. Bandingkan dengan kayu atau beton yang tidak
mudah didaur ulang lagi. Berkaitan dengan komposisi kimiawi, besi tempa
(wrought iron) merupakan bentuk campuran besi yang relatif paling murni, hasil
pengolahan besi gubal di tungku konverter. Kandungan karbonnya 0,02%, cukup
keras, daktail, dengan tegangan leleh 210 MPa dan kuat tarik 350 MPa. Jenis ini

20
awalnya dipakai sebagai elemen tarik (kalau tekan pakai besi cor atau cast iron).
Saat ini banyak dipakai untuk ornamen atau elemen non-struktural.
Adapun baja dasarnya adalah logam alloy (campuran) antara besi dan
karbon yang menyatu akibat peleburan pada suhu tinggi. Prosentasi kandungan
karbon sampai 1,7% atau 85 kali lipat dibanding kandungan karbon pada besi
tempa. Meskipun telah diusahakan semurni mungkin, masih dijumpai logam alloy
lain yang mempengaruhi karakter baja, umunya adalah sulfur (S), phospor (P),
mangan (Mn). Kandungan S dan P akan meningkatkan kegetasan, hal buruk.
Sehingga jumlahnya harus dibatasi. Selanjutnya dari hasil pengecoran menerus
dibuatlah baja padat dalam bentuk yang khas, bloom (batang), billet (bulat) dan
slab (pelat). Itu untuk memudahkan proses selanjutnya, proses penggilingan (rol).
Jika proses pengolahan baja cair dalam tungku peleburan sangat mempengaruhi
komposisi kimiawi, maka proses pengolahan baja padat (panas) dengan cara
penggilingan (rolledd) akan mempengaruhi tingkat kepresisian geometri profil
baja yang dihasilkannya. Baik dalam dimensi penampang maupun ketidak-lurusan
batang. Kondisi tersebut umumnya telah diantisipasi keberadaanya oleh code atau
peraturan dengan memberikan toleransi ijin.

2.5.2. Pengaruh Suhu Terhadap Material Baja


Material baja tidak terbakar, tetapi perilakunya yang menyerap dan
menyalurkan panas pada seluruh bagian, perlu diperhatikan karena kekuatan
material baja dipengaruhi oleh suhu. Untuk mencegah kenaikan suhu baja secara
ekstrim, yang mengakibatkan keruntuhan bangunan maka langkah efektif
mengatasinya adalah mengisolasi dari kebakaran (sumber panas). Salah satu
upaya pengendalian dampak kebakaran yang bersifat pasif adalah pemasangan
lapisan pelindung (isolator) langsung ke elemen baja. Maksudnya agar lapisan
pelindung dapat berfungsi sebagai penghambat panas ke material baja saat terjadi
kebakaran sehingga tersedia waktu mencukupi agar upaya aktif pemadaman dapat
bekerja baik dan kebakaran diakhiri.

21
Jenis-jenis pelindung elemen baja yang banyak digunakan untuk
menghindari kerusakan akibat kebakaran adalah :
1. Pelapis yang disemprot (spray)
Terdiri dari dua kelompok yang berbahan dasar vermiculite / perlite
dengan semen dan yang berbahan dasar mineral alam (rockwool).

elemen struktur

pelindung api
yang disemprot

Gambar 2.2. Pelindung api yang disemprot

2. Pembungkusan (wraps)
Lapisan rockwool atau keramik-wool atau serat fiber inorganik yang
dibungkuskan pada profil baja pada kondisi kering dengan pengikat,
seperti baut atau sekrup.

3. Intumescent coatings
Jenis bahan pelapis yang pada suhu ruang sepintas seperti cat biasa,
tetapi jika kenaikan suhu (saat kebakaran) akan mengembang
beberapa kali lipat dari tebal awalnya sehingga dapat berfungsi
sebagai penyekat panas.
Pengikat ketahanan terhadap api menentukan ketebalan bahan pelapis
pelindung yang harus dipakai. Periode waktu yang diperlukan antara 1-4 jam,
yang diukur sesuai ketentuan ASTM E 119 (standard Test Method for Fire Tests
of Building Construction and Materials). Alternatif perlindungan baja terhadap
api yang cukup sederhana tetapi efektif adalah membenamkannya pada beton
bertulang.

22
Istilah baja tahan api atau fire restraint steel merujuk pada sejenis baja
khusus yang dibuat dengan menambahkan logam campuran (alloy), yaitu Mo, Nb
dan Cr, juga proses pengaturan pengolahan panas yang tertentu, sehingga
mempunyai ketahanan yang baik terhadap temperatur yang tinggi (CFPFR). Baja
jenis seperti ini mempunyai ciri-ciri keunggulan sebagai berikut :
1. Kekuatan pada temperatur tinggi sangat baik yaitu mampu
mempertahankan kuat leleh pada suhu 600°C (0,2% offset) tidak
kurang dari 2/3 kuat leleh pada temperatur ruang.
2. Properti mekanik pada temperatur ruang, kurang lebih sama seperti
properti mekanik baja biasa, termasuk juga perilakunya ketika dilas
yang minimal sama atau bahkan lebih baik.

2.5.3. Sifat Mekanis Baja


Dalam perencanaan struktur baja, standar di Indonesia mengambil
beberapa sifat-sifat mekanik dari material baja adalah sebagai berikut :
Modulus Elastisitas, E = 200.000 MPa
Modulus Geser, G = 80.000 MPa
Angka Poisson, v = 0,30
Koefisian pemuaian, 𝛼 = 12 × 10-6 per °C
Sedangkan berdasarkan tegangan leleh dan tegangan putusnya
mengklasifikasikan mutu dan material baja menjadi lima kelas mutu sebagai
berikut :
Tabel 2.9. Sifat-sifat mekanis baja struktural (SNI)
Kuat Leleh Kuat Tarik Elongasi
Tipe
min. (MPa) min. (MPa) min (%)
BJ 34 210 340 22
BJ 37 240 370 20
BJ 41 250 410 18
BJ 50 290 500 16
BJ 55 410 550 13
Catatan : SNI 03-1729-2002s

23
2.5.4. Ketentuan Perencanaan
Ketentuan AISC 2010 atau adopsi penuh versi Indonesia SNI 1729:2015
memiliki ketentuan perencanaan struktur baja yaitu LRFD (Load Resistance
Factor Design) yang menurut SNI disebut Desain Faktor Beban dan Ketahanan
(DFBK). Perencanaan DFBK dianggap memenuhi syarat jika kuat perlu Ru lebih
kecil dari kuat rencana ∅Rn dengan ∅ adalah factor tahanan yang nilainya
bervariasi tergantung perilaku aksi komponen yang ditinjau. Jadi konsep dasar
ketentuan DFBK adalah sebagai berikut :
Ru ≤ ∅Rn
Keterangan :
Ru = kekuatan perlu menggunakan kombinasi beban DFBK
Rn = kekuatan nominal
∅ = faktor tahanan
Kuat perlu, Ru adalah nilai maksimum dari berbagai kombinasi beban
terfaktor yang dicari dengan bantuan analisis struktur. Faktor beban dan
kombinasi yang digunakan yaitu pada tabel berikut :

Tabel 2.10. tabel kombinasi pembebanan


Kombinasi Pembebanan
1,4 D
1,2 D + 1,6 L + 0,5(Lr atau R)
Catatan
1,2 D ± 1,6 (Lr atau R) + (L atau 0,5W)
D : beban mati
1,2 D ± 1,0 W + L + 0,5 (Lr atau R) L : beban hidup
1,2 D ± 1,0 E + L W : beban angin
0,9 D ± 1,0 W R : beban hujan
0,9 D ± 1,0 E E : beban gempa

Hasil analisa struktur secara menyeluruh (global) untuk Ru selanjutnya


digunakan untuk mengevaluasi elemen per-elemen dan dibandingkan dengan kuat
rencana ∅Rn yang ditinjau per-elemen juga, sesuai dengan gaya internal yang
terjadi. Tinjauan per-elemen diperlukan kerena karakter untuk setiap aksi dan
keruntuhannya bisa berbeda-beda. Berikut adalah faktor tahanan ∅ yang akan
digunakan :

24
Tabel 2.11. Faktor tahanan ∅
Komponen Struktur Faktor Tahanan Ø
Lentur 0,90
Tekan aksial 0,90
Tarik aksial
- tarik leleh 0,90
- tarik fraktur 0,75
Geser 0,90
Sambungan baut
- Baut geser 0,75
- Baut tarik 0,75
- Kombinasi geser dan tarik 0,75
- Baut tumpu 0,75
Sambungan las
- Las tumpul penetrasi penuh 0,90
- Las sudut / tumpul penetrasi sebagian 0,75
- Las pengisi 0,75

2.5.5. Batang Tarik


Material baja mempunyai kemampuan sama dalam memikul gaya tarik
atau gaya tekan. Mutu bahannya juga relatif tinggi sehingga dimensinya relatif
langsing. Untuk elemen struktur seperti itu maka pemakaian material baja hanya
efisien terhadap tarik. Untuk batang tekan maka kapasitasnya ditentukan oleh
tekuk (buckling), suatu masalah stabilitas yang tergantung konfigurasi geometri
struktur dan penampang, dan tidak hanya oleh materialnya saja.
Karena mutu material baja relatif tinggi maka dimensi batang tariknya
bisa sangat langsing. Secara teoritis, kondisi kelangsingannya hanya
diperhitungkan untuk elemen tekan, agar mengantisipasi tekuk. Dalam merancang
suatu batang tarik, selain kriteria kekuatan perlu juga diperhatikan kekakuan dari
baang tersebut. Hal ini karena pada batang tarik yang terlalu panjang, selain akan
melendut karena berat batang tarik itu sendiri, batang tersebut mungkin juga akan
bergetar karena angin atau bila memikul peralatan-peralatan yang bergetar.
Bagaimanapun juga untuk elemen struktur yang terlalu langsing maka saat
mendapat gaya tekan akan mengalami tekuk (buckling). Hal itu akan
menyebabkan kekakuan struktur menjadi hilang atau tidak berfungsi.

25
Untuk membayangkan bagaimana resiko itu bisa terjadi maka dapat
dilihat pada ilustrasi gambar.

(+) (-)

qatap qangin

(a) kondisi rencana (b) kondisi tak terduga

Gambar 2.3. Resiko pemakaian elemen yang terlalu langsing


Untuk mengurangi permasalahan tersebut, maka kriteria kekakuan batang
tarik diakomodir dalam desain, yaitu menyarankan L/r ≤ 300, dimana r adalah
jari-jari girasi terkecil. Adapun jari-jari girasi r = √𝐼/𝐴 dengan I adalah momen
inersia batang tarik pada arah yang ditinjau dan A adalah luas penampang batang
tarik. Saran didasarkan pengalaman praktis segi ekonomis, kemudahan
pembuatan, dan resiko rusak yang kecil selama kostruksi.

2.5.6. Batang Tekan


Batang tekan merupakan elemen struktur yang memikul gaya tekan.
Umumnya batang tekan jarang memikul gaya tekan aksial saja. Tetapi bila
pembebanan disusun sedemikian rupa sehingga tahanan rotasional ujung dapat
diabaikan dan pembebanan diatur secara simetrik. Kapasitas pikul-beban batas
pada elemen struktur tekan bergantung pada panjang relatif dan karakteristik
dimensional penampang melintang elemen tersebut. Selain itu, kapasitas pikul-
beban batas ini tergantung pula pada sifat-sifat material yang digunakan.
Khususnya mengenai kolom berdasarkan panjangnya dapat dibedakan menjadi
dua jenis, yaitu (Schodek, 1998) :
1. Kolom pendek, adalah elemen struktur kolom yang mempunyai nilai
perbandingan antara panjangnya dengan dimensi penampang
melintang relatif kecil. Kapasitas pikul beban kolom pendek tidak

26
bergantung pada panjang kolom, dan apabila mengalami beban
berlebihan, kolom pendek pada umumnya akan mengalami kegagalan
karena hancurnya material. Dengam demikian kapasitas pikul beban
batas bergantung pada kekuatan material yang digunakan.
2. Kolom panjang, adalah kolom yang kegagalannya disebabkan oleh
tekuk (buckling), sehingga kegagalanya merupakan kegagalan karena
ketidakstabilan bukan karena kekuatan material. Pada kolom panjang
ini, dimensi dalam arah memanjang jauh lebih besar dibandingkan
dengan dimensi arah lateral, sehingga kolom ini memiliki potensi
untuk menekuk sehingga kapasitas pikul bebannya lebih kecil.
Elemen batang tekan yang telah mengalami tekuk tidak mempunyai
kemampuan lagi untuk menerima beban tambahan ,sehingga apabila
penambahan beban walaupun sedikit saja, maka elemen tersebut akan
mengalami keruntuhan. Dengan demikian, untuk perencanaan batang
tekan dalam struktur baja diperlukan pengetahuan yang mendalam
tentang stabilitas batang tekan.

2.5.6.1. Klasifikasi Penampang dan Tekuk Lokal


Perilaku tekuk dibedakan menjadi dua, yaitu tekuk lokal dan tekuk
global. Itu terjadi karena tempat terjadinya tekuk dan solusi penyelesaianny untuk
kedua fenomena itu ternyata berbeda. Penyelesaian masalah tekuk lokal lebih
kompleks dibanding tekuk global. Agar struktur optimal, maka resiko tekuk lokal
harus dihindari. Untuk itu dibuat klasifikasi untuk memisahkan penampang tidak
langsing dan langsing. Itu dilakukan dengan cara menevaluasi rasio lebar-tebal
(b/t) tiap-tiap elemen dari penampang selanjutnya dibandingkan nilai batas rasio
(b/t). masing-masing elemen penampang perlu ditinjau, jika semua elemen tidak
melebihi nilai batas rasio (b/t), maka penampang diklasifiksikan sebagai
penampang tidak langsing (ideal) dan sebaliknya sebagai penampang langsing.
Batas rasio (b/t) masing-masing elemen tiap penampang akan ditampilkan pada
tabel 2.12

27
Tabel 2.12. Klasifikasi elemen pada batang tekan aksial
λr
Rasio
batas
No Elemen lebar Deskripsi Penampang
tidak
tebal
langsing
Sayap profil gilas b b
t t
IWF, UNP, dan Tee b
atau siku ganda tanpa 𝑏 𝐸 t h
1 0,56√
spasi, juga pelat 𝑡 𝐹𝑦
pengaku pada profil b b
t t
gilas

Sayap profil Built-Up b


IWF simetri ganda 𝑏 𝑘𝑐 𝐸 t
2 0,64√ b
dan pelat pengakunya. 𝑡 𝐹𝑦 t

Lengan profil siku b b


tunggal atau ganda 𝐸
t t
𝑏 b
3 dengan pemisah, atau 0,45√ t
𝑡 𝐹𝑦 b
pelat pengaku bebas t
lainnya.

𝑑 𝐸 t
4 Lengan profil Tee 0,75√ d
𝑡 𝐹𝑦

Badan profil I simetri ℎ 𝐸 tw tw


5 1,49√ h h
ganda dan UNP 𝑡𝑤 𝐹𝑦

t
Sayap profil kotak ℎ 𝐸
6 1,40√
ketebalan sama 𝑡 𝐹𝑦 b

b b
Cover-Plate/pelat t t
𝑏 𝐸
7 diaphragm antar alat 1,40√
sambung 𝑡 𝐹𝑦

Elemen profil yang 𝑏 𝐸


8 1,49√ t
tertahan secara umum 𝑡 𝐹𝑦

𝑏 𝐸 D
9 Pipa 0,11√
𝑡 𝐹𝑦
t

Sumber : Tabel B4.1a SNI 1729:2015

28
2.5.6.2. Kuat Tekan Nominal
Tekuk global ditentukan oleh kelangsingan elemen penampang dan
bentuknya. Ada tiga perilaku tekuk yaitu tekuk lentur, tekuk torsi dan tekuk
lentur-torsi. Berdasarkan bentuk dan klasifikasi penampang kolom, dapatlah
disusun peta pemakaian rumus untuk perencanaan batang tekan aksial, sebagai
berikut

Tabel 2.13. Klasifikasi elemen pada batang tekan aksial


Penampang tidak langsing Penampang langsing
Bentuk geometri
Bagian Kondisi Bagian Kondisi
penempang
Bab E batas Bab E batas
LB
E3 FB
E7 FB
E4 TB
TB
y y y y LB
E3 FB
E7 FB
E4 FTB
TB
LB
E3 FB E7
FB
LB
E3 FB E7
FB
x LB
E3 FB
E7 FB
E4 FTB
y FTB
E6 LB
x x x
FB
y y E3 E7 FB
y FTB
E4 FTB
E5 E5

E3 FB N/A N/A
tidak simetri
LB
E4 FTB E7
FTB
Catatan : FB tekuk lentur
TB tekuk torsi
FTB tekuk lentur-torsi
LB tekuk lokal
N/A tidak ketentuan yang dimaksud (Not Applicable)

29
1. Tekuk Lentur (E3)
Kuat nominal batang tekan dengan ketentuan E3 adalah :
𝑃𝑛 = 𝐹𝑐𝑟 . 𝐴𝑔 ........................................................................................ (2.16)
𝐹𝑐𝑟 adalah tegangan kritis yang dihitung berdasarkan syarat berikut :
𝐾𝐿 𝐹𝑦
(a) ≤ 4,71√𝐸/𝐹𝑦 atau 𝐹 ≤ 2,25 adalah :
𝑟 𝑒
𝐹𝑦
𝐹𝑐𝑟 = (0,658 𝐹𝑒 )𝐹𝑦 ....................................................................... (2.17)
𝐾𝐿 𝐹𝑦
(b) > 4,71√𝐸/𝐹𝑦 atau 𝐹 > 2,25 adalah :
𝑟 𝑒

𝐹𝑐𝑟 = 0,877 𝐹𝑒 .............................................................................. (2.18)


Dimana Fe = tegangan tekuk Euler (elastis)
𝜋2 𝐸
𝐹𝑒 = 𝐾𝐿 2
...................................................................................... (2.19)
( )
𝑟

2. Tekuk Torsi dan Tekuk Lentur-Torsi (E4)


Kuat nominal batang tekan dengan ketentuan E4 adalah :
𝑃𝑛 = 𝐹𝑐𝑟 . 𝐴𝑔 .................................................................................. (2.20)
Untuk kolom sumbu simetri ganda 𝐹𝑐𝑟 tetap dengan rumus tekuk lentur,
tetapi tegangan tekuk elastis Fe dihitung dengan memasukkan pengaruh
kekakuan torsi batangnya sebagai berikut :
𝜋 2 𝐸𝐶𝑤 1
𝐹𝑒 = [ (𝐾 2
+ 𝐺𝐽] 𝐼 ................................................................ (2.21)
𝑧 𝐿) 𝑥 +𝐼𝑦

Dimana
E : modulus elastis = 200.000 MPa
Cw : konstanta warping, penampang terbuka, mm4
KzL : panjang tekuk efektif terhadap torsi, mm
G : modulus geser
J : konstanta torsi penampang terbuka, mm4
Ix,Iy : momen inersia, mm4

30
y

x x d' d
w
t
y
b
1
𝐽 = 3 (2𝑏𝑡 3 + 𝑑 ′ 𝑤 3 )
1
𝐶𝑤 = 24 (𝑑 ′ )2 𝑏 3 𝑡

Gambar 2.4. Parameter torsi profil simetri ganda

3. Kolom Dengan Elemen Langsing


Kuat nominal batang tekan dengan ketentuan E& adalah :
𝑃𝑛 = 𝐹𝑐𝑟 . 𝐴𝑔 .................................................................................. (2.22)
𝐹𝑐𝑟 adalah tegangan kritis yang dihitung berdasarkan syarat berikut :
𝐾𝐿 𝐸 𝑄𝐹𝑦
(a) ≤ 4,71√𝑄𝐹 atau ≤ 2,25 adalah :
𝑟 𝑦 𝐹𝑒

𝑄𝐹𝑦
𝐹𝑐𝑟 = 𝑄(0,658 𝐹𝑒 )𝐹𝑦 .................................................................. (2.23)
𝐾𝐿 𝐸 𝑄𝐹𝑦
(b) > 4,71√𝑄𝐹 atau > 2,25 adalah :
𝑟 𝑦 𝐹𝑒

𝐹𝑐𝑟 = 0,877 𝐹𝑒 .............................................................................. (2.24)


Dimana Fe = tegangan tekuk Euler (elastis)
𝜋2 𝐸
𝐹𝑒 = 𝐾𝐿 2
...................................................................................... (2.25)
( )
𝑟

Q adalah faktor reduksi karena elemen langsing, Q = Qs.Qa


Faktor reduksi Qs dihitung berdasarkan :
𝑏 𝐸𝐾
(a) ≤ 0,64√ 𝐹 𝑐 maka
𝑡 𝑦

Qs = 1,0 ......................................................................................... (2.26)

31
𝐸𝐾 𝑏 𝐸𝐾
(b) 0,64√ 𝐹 𝑐 ≤ ≤ 1,17√ 𝐹 𝑐 maka
𝑦 𝑡 𝑦

𝑏 𝐹𝑦
Qs = 1,415 − 0,65 ( 𝑡 ) √𝐸𝐾 ....................................................... (2.27)
𝑐

𝑏 𝐸𝐾
(c) > 1,17√ 𝐹 𝑐 maka
𝑡 𝑦

0,9 𝐸𝐾𝑐
Qs = 𝑏 2
.................................................................................... (2.28)
𝐹𝑦 ( )
𝑡

Dimana
b = panjang elemen tidak terkekang atau 0,5 bf
t = tebal elemen tidak terkekang atau tf
4
𝐾𝑐 =

√(
𝑡𝑤 )

2.5.7. Balok Lentur


Istilah balok lentur umumnya merujuk struktur yang ditempatkan secara
horizontal, dan dibebaniapada arah vertikal, tegak lurusnya. Untuk analisa struktur
dapat dibuat model dengan elemen garis, dimana dianggap perilaku lentur yang
dominan. Jika pembebanan relatif kecil, mekanisme lentur tidak mengubah
konfigurasi bentuk balok secara permanen. Jika ketika bebannya hilang, balok
akan kembali pada kondisinya semula. Jika itu terjadi maka perilaku yang
dimaksud disebut elastis.
Struktur baja menggunakan produk hasil industri, yang terbatas dalam
menentukan dimensi profilnya. Ini memang kelemahannya dibanding struktur
beton yang reatif bebas dalam menetapkan ukuran atau dimensi. Pada stuktur
beton, membuat balok (biasa) atau balok-tinggi (deep-beam) tidaklah ditemukan
kesulitan yang berarti. Sedangkan di struktur baja dimensi penampang umumnya
adalah tertentu, mengikuti standarisasi yang telah ditetapkan.

32
2.5.7.1. Pemilihan Bentuk Penampang
Umum diketahui bahwa penampang balok baja terdiri dari profil terbuka
dan elemennya relatif tipis. Mutu bahan yang tinggi menghasilkan dimensi strutur
baja yang relatif langsing dibandingkan struktur beton. Oleh sebab itu pada
perencanaan struktur balok baja tidak hanya evaluasi kondisi tegangan, tetapi juga
perlu evaluasi stabilitasnya juga. Masalah stabilitas adalah permasalahan non-
linear geometri maka parameter penampang, pertambatan lateral, dan kondisi
tumpuan sangat menentukan sehingga perlu dievaluasi sekaligus. Langkah awal
dalam perencanaan balok adalah memilih bentuk penampang yang sesuai terhadap
kondisi beban dan pertambatan lateral yang ada Berikut adalah bentuk profil baja
yang umum digunakan sebagai balok :

(a) (b) (c) (d) (e) (f)

Gambar 2.5. Konfigurasi penampang baja untuk struktur balok

Profil I atau profil dengan sumbu simetri ganda, baik hasil proses canai
panas atau profil tersusun buatan, jika dipakai sebagai balok lentur adalah paling
efisien ditinjau dari sisi material. Itu terjadi karena sebagian besar volume
material ditempatkan pada sisi-sisi luar (pelat sayap) sejauh-jauhnya. Dengan
demikian pelat sayap atas dan bawah dapat bekerja sebagai kopel gaya yang
menahan momen lentur. Adapun gaya geser ditahan oleh pelat badan. Agar
kekuatan material menentukan, maka balok harus dipasang pertambatan lateral
yang cukup. Bilamana pertambatan lateral khusunya pada pelat sayap tekan tidak
mencukupi, maka persyaratan stabilitas akan menentukan. Kapasitas dukung pelat
tekan jadi lebih kecil daripada pelat tarik, akibatnya kapasitas balok secara
keseluruhan juga menurun.

33
1. Rasio Lebar-Tebal dan Klasifikasi
Klasifikasi merupakan tahapan awal proses perencanaan struktur baja
yang dipakai untuk antisipasi terhadap bahaya tekuk lokal (local
buckling) dari elemen-elemen penyusun profil. Caranya dengan
menghitung rasio lebar terhadap tebal (b/t) menunjukan kelangsingan
elemen pelat sayap dan badan (web), yang kemudian akan dievaluasi
berdasarkan kondisi kekangannya (restraint). Elemen-elemen
penyusun profil diklasifikasi sebagai [1] Kompak. [2] non-kompak,
[3] langsing. Klasifikasi elemen pelat penyusun profil sangat penting
karena menentukan langkah hitungan dan formulasi yang dipakai.
Profil balok disebut kompak jika b/t dari keseluruhan elemen (pelat
sayap dan pelat badan) memenuhi klasifikasi kompak.
Tabel 2.14. Klasifikasi elemen tekan batang memikul lentur
Rasio
Elemen lebar kompak/ kompak/ Deskripsi Penampang
tebal nonkompak nonkompak
sayap profil b b
t t b
I-WF, UNP 𝑏 𝐸 𝐸 t
0,38 1,0
dan Tee 𝑡 𝐹𝑦 𝐹𝑦

sayap profil b b
a b t t
tersusun 𝑏 𝐸 𝐾𝑐𝐸
0,38 0,95
I-WF simetri 𝑡 𝐹𝑦 𝐹𝐿 h
ganda & tunggal
lengan profil b t
𝑏 𝐸 𝐸
siku tunggal 0,54 0,91 t b
𝑡 𝐹𝑦 𝐹𝑦

sayap profil t
t
I-WF, UNP 𝑏 𝐸 𝐸 b
0,38 1,0 b
momen 𝑡 𝐹𝑦 𝐹𝑦
sumbu lemah
lengan profil 𝑑 𝐸 𝐸 t b
Tee 0,84 1,03
𝑡 𝐹𝑦 𝐹𝑦

Catatan : [a]
kc = 4/√ℎ/𝑡𝑤 tetapi 0,35 ≤ kc ≤ 0,76
[b]
FL = 0,7 Fy → web non-langsing dan Sxt / Sxc ≥ 0,7
𝑆
FL = Fy . 𝑆𝑥𝑡 ≥ 0,5 Fy → web non-langsing dan Sxt / Sxc ≤ 0,7
𝑥𝑐

34
Tabel 2.14. Klasifikasi elemen tekan batang memikul lentur (lanjutan)
Rasio 𝑟
Elemen lebar kompak/ kompak/ Deskripsi Penampang
tebal nonkompak nonkompak
badan profil
I simetri ganda ℎ 𝐸 𝐸 tw tw
3,76 5,70 h h
dan UNP 𝑡𝑤 𝐹𝑦 𝐹𝑦

c
badan profil ℎ 𝐸 hc hp
I simetri tunggal ℎ 𝑡𝑤 𝐹𝑦 𝐸 2 2
≤ 5,70 CG CG
PNA
𝑡𝑤 2 𝑟 𝐹𝑦 PNA

0,54 − 0,09 hc hp tw
𝑦 2 2

sayap profil t
kotak 𝑏 1,12
𝐸 𝐸 b
𝐹𝑦 1,4
ketebalan 𝑡 𝐹𝑦

sama
sayap pelat b b
𝑏 𝐸 t t
penutup/diaphragm 1,12 𝐸
𝑡 𝐹𝑦 1,4
antar alat 𝐹𝑦

sambung
badan profil
kotak ℎ 𝐸 𝐸 t
2,42 5,7 h
ketebalan 𝑡 𝐹𝑦 𝐹𝑦

sama

pipa 𝐸 𝐸 D
0,07 0,31
𝑡 𝐹𝑦 𝐹𝑦
t
Catatan : My adalah momen leleh pada serat terluar
Mp adalah momen penampang plastis

Tabel disalin dari tabel B4.1b (SNI 1729:2015) dipakai untuk


menetapkan klasifikasi elemen profil balok apakah kompak, non-
kompak, atau langsing.

2. Klasifikasi dan Perhitungan Kuat Batas


Dari perilaku keruntuhan penampang terhadap lentur yang telah
diketahui berdasarkan klasifikasi kompak, non-kompak, dan langsing
maka dapat dipilih prosedur perencanaan yang sesuai. Bab F dari SNI
1729:2015 menyajikan prosedur lengkap desain profil baja sesuai
klasifikasi Tabel berikut :

35
Tabel 2.15. Prosedur desain balok lentur menurut SNI 1729:2015

Bagian pada Bentuk Klasifikasi kelangsingan Kondisi batas yang


Chapter F Penampang sayap badan perlu dievaluasi

F2 C C Y, LTB

F3 NC, S C LTB, FLB

Y, LTB
F4 C, NC, S C, NC
FLB, TFY
Y, LTB
F5 C, NC, S S
FLB, TFY

F6 C, NC, S N/A Y, FLB

F7 C, NC, S C, NC Y, FLB, WLB

F8 N/A N/A Y, LB

F9 C, NC, S N/A Y, LTB, FLB

F10 N/A N/A Y, LTB, FLB

F11 N/A N/A Y, LTB


Pofil non-simetri semua kondisi batas
F12 N/A N/A
selain siku tunggal yang ada

Catatan : C Klasifikasi kelangsingan elemen kompak


NC Klasifikasi kelangsingan elemen non-kompak
S Klasifikasi kelangsingan elemen langsing
N/A tidak diberi syarat kelangsingan elemen secara khusus
Y kondisi batas terhadap Yielding (leleh)
LB kondisi batas terhadap Local Buckling
LTB kondisi batas terhadap Lateral Torsional Buckling
FLB kondisi batas terhadap Flange Local Buckling
LLB kondisi batas terhadap Leg Local Buckling
WLB kondisi batas terhadap Web Local Buckling
TFY kondisi batas terhadap Tension Flange Yielding

36
2.5.7.2. Kuat Lentur Nominal
Secara umum dapat dinyatakan bahwa kuat lentur rencana balok (lentur)
memenuhi persyaratan jika :
Mu ≤ ∅𝑏 Mn
Dimana :
Mu = kuat lentur perlu atau momen maksimum hasil kombinasi
beban sesuai ketentuan DFBK
∅𝑏 = faktor tahanan lentur, sebesar 0,9
Mn = kuat lentur nominal balok ditinjau terhadap berbagai kondisi
batas (material atau geometri) sesuai prosedur ketentuan F2-F8

1. Profil I dan U Kompak (F2)


Ketentuan ini berlaku untuk profil kompak I-simetri ganda dan UNP,
kuat lentur nominal Mn diambil dari nilai terkecil yang dihasilkan
kondisi batas antara material leleh (momen plastis) dan tekuk torsi
lateral.
a) Material Leleh (Momen Plastis)
Kondisi batas leleh ( Y = yielding )
Mn = Mp = Fy . Zx .................................................................. (2.29)
Dimana
Mn : kuat lentur nominal balok, Nm
Mp : momen lentur penampang plastis
Fy : kuat leleh minimum, MPa
Zx : modulus plastis penampang, mm3

b) Tekuk Torsi Lateral


Langkah pertama dimulai dengan mencari Lp atau jarak
pertambatan lateral maksimum untuk menghindari tekuk torsi
lateral sebelum penampang plastis terbentuk sempurna, dapat
dihitung sebagai berikut.

37
𝐸
Lp = 1,76 ry √𝐹 ...................................................................... (2.30)
𝑦

Dimana
E : modulus elastisitas baja = 200.000 MPa
Fy : kuat leleh minimum, MPa
ry : radius girasi balok terhadap sumbu lemah
Jika Lb adalah jarak pertambatan lateral yang di pasang pada
balok, maka untuk Lb ≤ Lp diperoleh :
Mn = Mp
Bila Lb ˃ Lp maka ditetapkan batasan Lr yaitu jarak pertambatan
maksimum sehingga serat terluar penampang (sayap) bisa
mencapai leleh. Lr dihitung sebagai berikut :

𝐸 𝐽𝑐 2 0,7𝐹𝑦 2
𝐿𝑟 = 1,95 𝑟𝑡𝑠 √ 𝐽𝑐 + √( ) + 6,76 ( ) ....................(2.31)
0,7𝐹𝑦 𝑆𝑥 ℎ𝑜 𝑆𝑥 ℎ𝑜 𝐸

Dimana
J : konstanta torsi, mm4
Sx : modulus elastis penampang terhadap sumbu kuat
ho : jarak antara titik berat elemen sayap, mm
untuk profil I atau WF simetri ganda, c = 1
2 √𝐼𝑦 𝐶𝑤
𝑟𝑡𝑠 = .......................................................................................(2.32)
𝑆𝑥

Jika Lp ˂ Lb ˂ Lr maka kapasitas lentur penampang nominal


berbanding lurus 0,7 Sx Fy ˂ Mn ˂ Mp dihitung dengan interpolasi
sederhana berikut :
𝐿𝑏 −𝐿𝑝
𝑛 = 𝐶𝑏 [ −( − 0,7𝐹𝑦 𝑆𝑥 ). (𝐿 )] ≤ ...........................(2.33)
𝑟 −𝐿𝑝

Jika Lb > Lr maka kapasitas balok adalah sebagai berikut :


𝑛 = 𝐹𝑐𝑟 . 𝑆𝑥 ≤ ........................................................................(2.34)

𝐶𝑏 𝜋 2 𝐸 2
𝐹𝑐𝑟 = √1 + 0,078 𝐽𝑐 ( 𝐿𝑏 ) .................................................(2.35)
𝐿 2 𝑆 ℎ 𝑟
( 𝑏) 𝑥 𝑜 𝑡𝑠
𝑟𝑡𝑠

Dimana Cb = 1

38
2. Profil Badan Kompak (F3)
Ketentuan F3 adalah untuk melengkapi ketentuan F2, digunakan
untuk kondisi penampang yang sama, yaitu profil I-simetri ganda dan
dibebani pada sumbu kuat. Perbedaan pada F3 adalah rasio lebar-tebal
pelat sayap pada klasifikasi non-kompak atau langsing. Kuat lentur
nominal Mn diambil nilai terkecil antara tekuk torsi lateral dan tekuk
lokal elemen sayap tekan.
a) Tekuk Torsi Lateral
(tekuk torsi lateral mengikuti ketentuan F2)

b) Tekuk Lokal Elemen Sayap Tekan


 Penampang dengan profil sayap non-kompak
𝜆−𝜆𝑝𝑓
𝑛 =[ −( − 0,7𝐹𝑦 𝑆𝑥 ). (𝜆 )] ................................(2.36)
𝑟𝑓 −𝜆𝑝𝑓

 Penampang dengan profil sayap langsing


0,9𝐸𝑘𝑐 𝑆𝑥
𝑛 = 𝜆2
.............................................................................(2.37)

Dimana
: ½ bf /tf
pf : λp batas kelangsingan syap kompak
rf : λr batas kelangsingan sayap non-kompak
kc : 4/√ℎ/𝑡𝑤 dan 0,35 ≤ kc ≤ 0,76

3. Profil Badan Non-Langsing (F4)


Untuk ukuran profil I yang memenuhi ketentuan F4, maka kuat lentur
nominal penampang Mn diambil dari nilai terkecil antara :
a) Elemen Sayap Tekan Leleh
Mn = Rpc .Myc = Rpc.Fy.Sxc ....................................................... (2.38)
Dimana
Myc : momen leleh di sayap tertekan, N-mm

39
Untuk pelat sayap tekan kecil, nilai Rpc = 1~1,6, untuk hasil
konserfatif maka nilai Rpc = 1, untuk pelat sayap tekan yang besar
maka nilai Rpc < 1.
b) Tekuk Torsi Lateral
Jika Lb ≤ Lp maka tidak ada tekuk torsi lateral
Jika Lp ≤ Lb ≤ Lr maka
𝐿 −𝐿𝑝
𝑛 = 𝐶𝑏 [𝑅 𝑐 𝑦𝑐 − (𝑅 𝑐 𝑦𝑐 − 𝐹𝐿 𝑆𝑥𝑐 ) (𝐿𝑏−𝐿 )] ................. (2.39)
𝑟 𝑝

𝑛 ≤𝑅 𝑐 𝑦𝑐

Jika Lb > Lr maka


Mn = Fcr . Sxc ≤ 𝑅 𝑐 𝑦𝑐 .......................................................... (2.40)
Dimana
Myc = Fy.Sxc ............................................................................ (2.41)
𝐶𝑏 𝜋 2 𝐸 𝐽 𝐿 2
𝐹𝑐𝑟 = 2 √1 + 0,078 ( 𝑟𝑏) ........................................ (2.42)
𝐿 𝑆𝑥 ℎ𝑜
( 𝑏) 𝑡
𝑟𝑡

Jika Iyc / Iy ≤ 0,23 maka J = 0


Dimana
Iyc = momen inersia sayap tekan terhadap sb.Y (mm4)
Besarnya tegangan FL untuk Sxt / Sxc ≥ 0,7 maka
FL = 0,7 Fy .............................................................................. (2.43)
Untuk Sxt / Sxc ≤ 0,7 maka
𝑆
𝐹𝐿 = 𝐹𝑦 𝑆𝑥𝑡 ≥ 0,5 𝐹𝑦 ............................................................... (2.44)
𝑥𝑐

Jarak pertambatan lateral Lp kondisi batas leleh,


𝐿 = 1,1𝑟𝑡 √𝐸/𝐹𝑦 ................................................................... (2.45)
Jarak pertambatan lateral Lr kondisi batas elastis,

𝐸 𝐽 𝐽 𝐹 2 2
𝐿𝑟 = 1,95 𝑟𝑡 𝐹 √𝑆 ℎ + √(𝑆 ℎ ) + 6,76 ( 𝐸𝐿 ) .................... (2.46)
𝐿 𝑥 𝑜 𝑥 𝑜

Radius girasi efektif untuk tekuk torsi lateral :


Profil I-WF dengan sayap tekan berbentuk persegi

40
𝑏𝑓𝑐
𝑟𝑡 = ℎ𝑜 1 ℎ2
............................................................... (2.47)
√12( + 𝑎𝑤 )
𝑑 6 ℎ𝑜 𝑑

Dimana
ℎ𝑐 𝑡𝑤
𝑎𝑤 = .............................................................................. (2.48)
𝑏𝑓𝑐 𝑡𝑓𝑐

𝑏𝑓𝑐 : lebar sayap tekan, mm


𝑡𝑓𝑐 : tebal sayap tekan, mm
ho : jarak antara titik berat elemen sayap, mm
ℎ𝑐 : dua kali jarak dari sumbu netral ke permukaan sebelah
dalam pelat sayap yang mengalami tekan pada penampang built-
up

c) Tekuk Lokal Elemen Sayap Tekan


 Penampang dengan profil sayap non-kompak
𝜆−𝜆𝑝𝑓
𝑛 = [𝑅 𝑐 𝑦𝑐 − (𝑅 𝑐 𝑦𝑐 − 𝐹𝐿 𝑆𝑥𝑐 ). (𝜆 )] ............ (2.49)
𝑟𝑓 −𝜆𝑝𝑓

Faktor plastifikasi pelat badan Rpc ditentukan dari :


𝐼𝑦𝑐 ℎ
Jika > 0,23 dan 𝑡 𝑐 ≤ λpw maka
𝐼𝑦 𝑤

𝑀𝑝
𝑅 𝑐 =𝑀 ........................................................................ (2.50)
𝑦𝑐

𝐼𝑦𝑐 ℎ
Jika > 0,23 dan 𝑡 𝑐 > λpw maka
𝐼𝑦 𝑤

𝑀𝑝 𝑀𝑝 𝜆−𝜆𝑝𝑤
𝑅 𝑐 = [𝑀 − (𝑀 − 1) (𝜆 )] ................................ (2.51)
𝑦𝑐 𝑦𝑐 𝑟𝑤 −𝜆𝑝𝑤

Iyc
Jika ≤ 0,23 maka
Iy

Rpc = 1,0 ......................................................................... (2.52)


 Penampang dengan profil sayap langsing
0,9𝐸𝑘𝑐 𝑆𝑥𝑐
𝑛 = ................................................................. (2.53)
𝜆2

Dimana
4
𝑘𝑐 = dan 0,35 ≤ Kc ≤ 0,76
√ℎ/𝑡𝑤

𝑏
𝜆 = 2𝑡𝑓
𝑓

41
𝜆 𝑓 = 𝜆 batas kelangsingan sayap kompak
𝜆𝑟𝑓 = 𝜆𝑟 batas kelangsingan sayap non-kompak
d) Elemen Sayap Tarik Leleh
 Jika Sxt ≥ Sxc kondisi batas tarik leleh tidak berlaku.
 Jika Sxt < Sxc maka
Mn = Rpt.Myt = Rpt.Fy.Sxt .................................................... (2.54)
Jika hc / tw ≤ λpw maka Rpt = Mp / Myt
Jika hc / tw > λpw maka
𝑀𝑝 𝑀𝑝 𝜆−𝜆𝑝𝑤
𝑅 𝑡 = [𝑀 − (𝑀 − 1) (𝜆 )] .......................................(2.55)
𝑦𝑡 𝑦𝑡 𝑟𝑤 −𝜆𝑝𝑤

Dimana

𝜆 = 𝑡𝑐
𝑤

𝜆 𝑤 = 𝜆 batas kelangsingan sayap kompak


𝜆𝑟𝑤 = 𝜆𝑟 batas kelangsingan sayap non-kompak
𝐼 𝐼
𝑆𝑥𝑡 = 𝑦𝑥 dan 𝑆𝑥𝑐 = 𝑦𝑥
𝑡 𝑐

4. Profil Badan Langsing (F5)


Kuat lentur Mn diambil nilai terkecil dari kondisi batas :
a) Elemen Sayap Tekan Leleh
Mn = Rpg.Fy.Sxc ....................................................................... (2.56)
Dimana
𝑅 𝑔 = faktor reduksi kuat lentur ditentukan dari

𝑤 𝑎 ℎ 𝐸
𝑅 𝑔 = 1 − 1200+300𝑎 (𝑡 𝑐 − 5,7√𝐹 ) ≤ 1,0 ....................... (2.57)
𝑤 𝑤 𝑦

b) Tekuk Torsi Lateral


jika Lb ≤ Lp pengaruh tekuk torsi lateral adalah :
𝑛 = 𝑅 𝑔 . 𝐹𝑐𝑟 . 𝑆𝑥𝑐 ................................................................ (2.58)
Jika Lp ≤ Lb ≤ Lr
𝐿 −𝐿𝑝
𝐹𝑐𝑟 = 𝐶𝑏 [𝐹𝑦 − (0,3𝐹𝑦 ). (𝐿𝑏−𝐿 )] ≤ 𝐹𝑦 .................................. (2.59)
𝑟 𝑝

42
Sedangkan jika Lb ≥ Lr maka
𝐶𝑏 𝜋 2 𝐸
𝐹𝑐𝑟 = 𝐿 2 ≤ 𝐹𝑦 .................................................................... (2.60)
( 𝑏)
𝑟𝑡

Dimana
𝑏𝑓𝑐
𝑟𝑡 = ℎ 1 ℎ2
................................................................ (2.61)
√12( 𝑜 + 𝑎𝑤 )
𝑑 6 ℎ𝑜 𝑑

ℎ 𝑡
𝑎𝑤 = 𝑏 𝑐 𝑡𝑤 ≤ 10,0 ................................................................. (2.62)
𝑓𝑐 𝑓𝑐

𝐸
𝐿 = 1,1𝑟𝑡 √𝐹 ........................................................................ (2.63)
𝑦

𝐸
𝐿𝑟 = 𝜋. 𝑟𝑡 √0,7𝐹 ..................................................................... (2.64)
𝑦

c) Tekuk Lokal Elemen Sayap Tekan


𝑛 = 𝑅 𝑔 . 𝐹𝑐𝑟 . 𝑆𝑥𝑐 ................................................................. (2.65)
 Penampang dengan profil sayap non-kompak
𝜆−𝜆𝑝𝑓
𝐹𝑐𝑟 = [𝐹𝑦 − (0,3𝐹𝑦 ). (𝜆 )] ....................................... (2.66)
𝑟𝑓 −𝜆𝑝𝑓

Dimana
𝑏
𝜆 = 2𝑡𝑓
𝑓

𝜆 𝑓 = 𝜆 = batas kelangsingan sayap kompak


𝜆𝑟𝑓 = 𝜆𝑟 = batas kelangsingan sayap non-kompak

 Penampang dengan profil sayap langsing


0,9.𝐸.𝐾𝑐
𝐹𝑐𝑟 = 2 ...................................................................... (2.67)
𝑏𝑓
( )
2𝑡𝑓

Dimana
kc = 4/√ℎ/𝑡𝑤 dan 0,35 ≤ kc ≤ 0,76
d) Elemen Sayap Tarik Leleh
 Jika Sxt ≥ Sxc kondisi batas tarik leleh tidak berlaku
 Jika Sxt ≤ Sxc maka
Mn = Fy .Sxt ....................................................................... (2.68)

43
5. Profil I dan U pada Sumbu Lemah (F6)
Ketentuan ini dipakai untuk perencanaan profil I dan UNP yang
dibebani pada arah sumbu lemahnya. Kuat lentur nominal Mn diambil
dari nilai terkecil antara :
a) Material Leleh (Momen Plastis)
Mn = Mp = Fy.Zy ≤ 1,6 Fy.Sy ................................................... (2.69)
b) Tekuk Lokal Pelat Sayap
 Jika elemen sayap kompak maka tekuk lokal tidak terjadi.
 Untuk elemen sayap non-kompak maka
𝜆−𝜆𝑝𝑓
𝑛 =[ −( − 0,7𝐹𝑦 𝑆𝑦 ). (𝜆 )] ....................... (2.70)
𝑟𝑓 −𝜆𝑝𝑓

 untuk elemen sayapnya langsing maka


𝑛 = 𝐹𝑐𝑟 𝑆𝑦 ....................................................................... (2.71)
Dimana
0,69𝐸
𝐹𝑐𝑟 =
𝑏 2
(𝑡 )
𝑓

𝑏
𝜆=
𝑡𝑓
𝜆 𝑓 = 𝜆𝑃 = batas kelangsingan sayap kompak
𝜆𝑟𝑓 = 𝜆𝑟 = batas kelangsingan sayap non-kompak
𝑏 = lebar elemen sayap
𝑡𝑓 = tebal elemen sayap
𝑆𝑦 = modulus penampang elastis terhadap
sumbu lemah

2.5.7.3. Kuat Geser Nominal


Setelah kapasitas momen lentur memenuhi ketentuan chapter F, maka
pelat badan (web) harus dievalusi juga untuk memenuhi ketentuan Chapter G –
Desain Komponen Struktur Untuk Geser.
Secara umum kuat geser rencana memenuhi persyaratan jika :
Vu ≤ ØvVn

44
Dimana
Vu : gaya geser terfaktor maksimum
Øv : faktor tahanan geser = 0,9
Vn : kuat geser nominal balok sesuai ketentuan G2 dan G3

Kuat geser nominal Vn pelat badan dari profil simetri tunggal atau ganda,
atau profil UNP, yang direncanakan tanpa memanfaatkan kekuatan pasca-tekuk,
ditentukan dari kondisi batas akibat leleh dan tekuk akibat geser sebagai berikut :
Vn = 0,6 Fy.Aw.Cv ............................................................................. (2.72)
Dimana
Aw = d.tw adalah luas total pelat badan.
Cv = faktor reduksi untuk tekuk dipelat badan

1. Pelat badan profil I hot-rolled jika h/tw ≤ 2,24 (E/Fy)1/2


Øv = 1,0 dan Cv = 1,0 .................................................................... (2.73)

2. Profil yang tidak memenuhi persyaratan diatas, tapi simetri ganda dan
tunggal maka Cv ditentukan dari kelangsingan pelat badan atau rasio
h/tw dalam tiga kategori.

jika h/tw ≤ 1,10 (kvE/Fy)1/2 maka


Cv = 1,0 ......................................................................................... (2.74)
Jika 1,10 (kvE/Fy)1/2 < h/tw ≤ 1,37 (kvE/Fy)1/2 maka
Cv = 1,10(kvE/Fy)1/2 ÷ (h/tw) ......................................................... (2.75)
Jika h/tw > 1,37 (kvE/Fy)1/2 maka
1,51𝑘𝑣 𝐸
Cv = ℎ 2
................................................................................ (2.76)
( ) 𝐹𝑦
𝑡𝑤

45
2.5.7.4. Lendutan Balok
Meskipun ketentuan batas kekuatan untuk perencanaan balok telah
terpenuhi, yang berarti segi keamanan telah memuaskan, tetapi struktur masih
perlu dievaluasi terhadap kondisi batas layan (limit state of servicebility). Ini tidak
terkait faktor keselamatan, tetapi untuk menjamin bahwa pada kondisi beban
rencaca struktur tidak menimbulkan permasalahan dan bisa berfungsi sesuai
rencana. Besar lendutan yang terjadi pada balok ditentukan oleh detail dan
maksud pemakaian struktur tersebut. Secara historis batas lendutan balok dibatasi
lebih kecil dari L/360 terhadap kondisi beban hidup nominal (tanpa beban
terfaktor). Untuk balo atap syaratnya L/240, dimana L adalah panjang balok.
Pembatasan ini dimaksudkan agar balok memberikan kemampulayan yang
terbaik.

2.6. Metode Analisis Langsung Desain


Rekayasa struktur bangunan baja di Indonesia mulai berkembang dengan
disusunnya draft SNI baja yang baru isinya mengadopsi penuh standar Amerika
yaitu AISC 2010. Materi utamanya adalah dipilihnya Metode Analisis Langsung
sebagai analisis stabilitas yang utama pada struktur baja. Strategi perencanaan
struktur baja dengan Metode Analisis Langsung memerlukan komputer untuk
mengimplementasikannya.
1. Persyaratan Stabilitas umum
Stabilitas harus disediakan untuk struktur secara keseluruhan dan
untuk setiap elemennya. Efek terhadap stabilitas struktur dan elemen-
elemennya harus memperhitungkan hal-hal berikut :
 Lentur, geser dan deformasi komponen struktur aksial dan semua
deformasi lainnya yang memberi kontribusi terhadap perpindahan
struktur.
 Efek orde ke-2 (P-∆ dan P-δ)
 Ketidak sempurnaan geometri
 Reduksi kekakuan inelastisitas
 Ketidakpastian dalam kekakuan dan kekuatan

46
2. Perhitungan Kekuatan Perlu
untuk mencari kuat tekan dan lentur perlu memasukan pengaruh efek
orde-kedua (P-∆ dan P-δ). Pengaruh efek orde-kedua tersebut
umumnya terkait dengan momen tambahan akibat deformasi (∆ dan
δ) yang terjadi dan gaya aksial (P) yang cukup signifikan. Pada sisi
lain mempengaruhi kekuatan lentur itu sendiri.
 Persyaratan Analisis Umum
Dalam hal ini akurasi Metode Analisis Langsung Desain dapat
diandalkan karena memakai komputer, dan mensyaratkan
program analisis struktur yang dipakai seperti:
- Dapat memperhitungkan deformasi komponen-komponen
struktur dan sambungannya.
- Dapat menghitung Pengaruh orde ke-2 (P-∆ dan P-δ) dalam
mencari gaya internal batang.

P = Pengaruh beban terhadap titik


nodal struktur yang bertlanslasi
P = Pengaruh beban terhadap deformasi
elemen antara dua titik nodal

Gambar 2.6. Pengaruh orde ke-2

 Pertimbangan ketertidaksempurnaan awal


Adanya cacat bawaan yang mengakibatkan efek destabilize dalam
hal ini dapat diatasi dengan memberikan beban national (beban

47
lateral ekivalen). Beban national harus ditambahkan bersama-
sama beban lateral lain.
Ni = 0,002 Yi ........................................................................... (2.77)
Dimana :
Ni = beban national di level i
Yi = beban gravitasi di level i hasil beban kombinasi LRFD

 Penyesuaian terhadap kekakuan


EI* = 0,8𝜏𝑏 EI ......................................................................... (2.78)
EA* = 0,8 EA ........................................................................ (2.79)
Dimana:
- 0,8 merupakan suatu faktor yang harus digunakan pada semua kekakuan
yang berkontribusi terhadap struktur.
- 𝜏𝑏 adalah suatu faktor penambah
Untuk kondisi Pr ≤ 0,5Py maka
τb = 1,0 ............................................................................. (2.80)
Untuk kondisi Pr ≥ 0,5Py maka
𝑃 𝑃
𝜏𝑏 = 4 𝑃𝑟 (1 − 𝑃𝑟 ) ............................................................. (2.81)
𝑦 𝑦

Dimana :
Pr = kekuatan tekan aksial perlu kombinasi DFBK
Py = kekuatan leleh aksial (Ag.Fy)

3. Perhitungan Kekuatan Tersedia


Untuk metode analisis langsung desain, kekuatan tersedia dari komponen
struktur dan sambungan harus dihitung menurut ketentuan BAB D, E, F,
G, H, I, J, K pada SNI 1729:2015 yang telah dijelaskan pada Sub Bab
2.4.4 dan Sub Bab 2.4.5.

48
2.7. Perenacanaan Komponen Struktur
2.7.1. Perencanaan Pelat Lantai
Pelat adalah struktur planar kaku yang terbuat dari material monolit
dengan tinggi yang kecil dibandingkan dengan dimensi-dimensi lainnya. Untuk
merencanakan pelat beton bertulang perlu mempertimbangkan faktor pembebanan
dan ukuran serta syarat-syarat dari peraturan yang ada. Pada perencanaan ini
digunakan tumpuan jepit penuh untuk mencegah pelat berotasi dan relatif sangat
kaku terhadap momen puntir.
Pelat merupakan panel-panel beton bertulang yang mungkin bertulangan
dua atau satu arah saja tergantung sistem strukturnya. Apabila pada struktur pelat
perbandingan bentang panjang terhadap lebar kurang dari tiga, maka akan
mengalami lendutan pada kedua arah sumbu. Beban pelat dipikul pada kedua arah
oleh balok pendukung sekeliling panel pelat, dengan demikian pelat akan
melentur pada kedua arah. Dengan sendirinya pula penulangan untuk pelat
tersebut harus menyesuaikan. Apabila panjang pelat sama dengan lebarnya,
perilaku keempat balok keliling dalam menopang pelat akan sama. Sedangkan
bila panjang tidak sama dengan lebar, balok yang lebih panjang akan memikul
beban lebih besar dari balok yang pendek (penulangan satu arah).

Y
X

M11
c d
3
M22
1
2

a b
``
Gambar 2.7. Arah sumbu lokal dan sumbu global elemen pelat lantai.

49
Langkah langkah perencanaan penulangan pelat adalah sebagai berikut :
1. Menentukan syarat-syarat batas, tumpuan dan panjang bentang.
2. Menentukan tebal pelat
Tabel 2.16. Tinggi minimum pelat satu arah bila
lendutan tidak dihitung
Tebal Minimum, h
Komponen Tertumpu Satu ujung Kedua ujung Kantilever
Struktur sederhana menerus menerus
Komponen struktur tidak menumpu atau tidak
dihubungkan dengan partisi atau konstruksi lainnya
yang mungkin rusak oleh lendutan yang besar
Pelat massif
l/20 l/24 l/28 l/10
Satu arah
Balok atau
pelat rusuk l/16 l/18,5 l/21 l/8
satu arah
(Sumber: Tabel 9.5(a) SNI 2847:2013, halaman 70)
3. Perhitungan kebutuhan tulangan
 Menetapkan diameter tulangan utama yang direncanakan dalam
arah x dan y.
 Mencari tinggi efektif pelat
 Menghitung nilai 𝜌𝑚𝑖𝑛 dan 𝜌𝑚𝑎𝑥
1,4
𝜌𝑚𝑖𝑛 = ................................................................................. (2.82)
𝑓𝑦

𝜌𝑚𝑎𝑥 = 0,75 𝜌𝛽 ........................................................................ (2.83)


0,85×𝛽1 ×𝑓𝑐′ 600
𝜌𝛽 = × 600+𝑓 .......................................................... (2.84)
400 𝑦

 Mencari ratio tulangan yang dibutuhkan


𝑓′
𝜌 = 𝑓𝑐 × [0,85 − √(0,85)2 − 𝑄 .............................................. (2.85)
𝑦

1,7
𝑄 = ∅𝑓′ × 𝑅𝑢 ............................................................................ (2.86)
𝑐

 Memeriksa syarat ratio penulangan 𝜌𝑚𝑖𝑛 ≤ 𝜌 ≤ 𝜌𝑚𝑎𝑥


 Mencari luas tulangan yang dibutuhkan
𝐴𝑠 = 𝜌𝑏𝑑 ................................................................................. (2.87)

50
Dimana
As = luas tulangan perlu
𝜌 = rasio tulangan
b = lebar pelat ( untuk perhitungan pelat = 1m)
d = ( tinggi balok – selimut beton – 1/2Ø tulangan)
f’c = mutu kuat tekan beton
Ø = faktor reduksi sebesar 0,9

4. Cek Deck Slab


𝑀𝑢
𝜎 terjadi = ≤ 𝜎.......................................................................... (2.89)
𝑊

Dimana
Mu = Momen maksimum
W = Momen tahanan deck slab

2.7.2. Perencanaan Tangga


Struktur tangga digunakan untuk melayani aksebilitas antar lantai pada
gedung yang mempunyai tingkat lebih dari satu. Tangga merupakan komponen
yang harus ada pada bangunan berlantai banyak walaupun sudah ada peralatan
transportasi vertikal lainnya, karena tangga tidak memerlukan tenaga mesin.
Adapun parameter yang pelu diperhatikan pada perencanaan struktur tangga
adalah
sebagai berikut:
1. Penentuan denah ruang tangga
Penentuan denah ruang tangga perlu memperhatikan beberapa hal,
antara lain lebar bordes, tinggi optrade (Op) antara 150 – 200 mm,
antrede (An) antara 280 – 300 mm.

 Syarat kenyamanan tangga


600 < (2Op + An) < 650

51
 Jumlah anak tangga

𝑛𝑡𝑔 = (𝑂𝑙𝑡 ) − 1 ........................................................................ (2.90)

 Sudut kemiringan tangga


𝑂
𝛼 = tan−1 𝐴𝑛 ............................................................................ (2.91)

Keterangan:

hlt = tinggi lantai


Op = optrede
An = antrede
ntg = jumlah anak tangga
Ltg = lebar tangga

2. Perencanaan Beban Tangga


Beban tangga antara lain beban hidup dan beban mati. Beban mati
dalam hal ini Baja kanal sebagai induk tangga dan pelat baja sebagai
anak tangga dan alat penyambung sebesar 10%. Beban anak tangga
dianggap beban persegi seperti pada gambar.

1
𝑡 ′ = (√𝑂𝑝2 + 𝐴𝑛2 ) = 𝑂𝑝. 𝐴𝑛
2

An

Op

Gambar 2.8. Beban Ekivalen Anak Tangga


Beban-beban tersebut dikalikan dengan koefisien 1,2 untuk beban
mati dan 1,6 untuk beban hidup. Perencanaan Induk tangga
menggunakan baja kanal dihitung berdasarkan momen terfaktor yang
terjadi serta gaya geser terfaktor yang terjadi.

52
2.7.3. Perencanaan Balok Komposit
Balok merupakan elemen struktur yang berperan menopang lantai atas
dan sekaligus sebagai penyalur momen ke kolom-kolom yang menopangnya.
Sebuah balok komposit (composite beam) adalah sebuah balok yang kekuatannya
bergantung pada interaksi mekanis diantara dua atau lebih bahan (Bowles, 1980).
Keduanya akan dihubungkan oleh shear stud atau shear connector. Terhadap
momen positif, maka kopel gaya tekan akan dipikul oleh beton dan kopel gaya
terik akan dipikul oleh baja. Pada kondisi seperti itu, semua luas profil penampang
baja menerima tegangan tarik, sehingga tidak ada masalah stabilitas.

shear stud

pelat beton

deck baja
tulangan

Baja profil I

Gambar 2.9. Komponen-komponen balok komposit

Shear stud atau shear connector sangat penting agar sistem dapat
berprilaku sebagai balok komposit yang berfungsi untuk menahan gaya geser
yang menyebabkan pelat beton diatas profil baja tidak bergeser satu sama lain.
Adapun deck baja (steel-deck) dibagian bawah pelat bersifat opsional. Deck baja
itu sendiri adalah lembaran baja tipis cold-formed bergelombang (berusuk) untuk
struktur lantai maupun struktur atap. Deck baja umumnya dipakai karena dapat
berfungsi sebagai bekisting permanen untuk pengecoran beton, sekaligus menjadi
tulangan positif pelat beton itu sendiri. Dan sastem pelat seperti ini perilakunya
adalah satu arah.

53
13 mm (min)

50mm (min)
Hs hr 75mm
Wr 38 mm
50 mm (min) (min)

13 mm (min)

50mm (min)
Hs hr 75mm
Wr 38 mm
50 mm (min) (min)

13 mm (min)

50mm (min)
Hs hr 75mm
Wr 38 mm
50 mm (min) (min)

Gambar 2.10. Persyaratan pendetailan shear stud dengan deck baja (AISC 2010)

Penentuan diameter stud yang dapat dipakai tergantung dari tebal pelat
dasar yaitu Østud ≤ (2,5 × tebal pelat dasar) untuk pengelasannya. Boleh lebih
besar dari batasan tersebut jika stud dipasangnya pada bagian pelat sayap yang
tepat diatas pelat badannya. Batasan Panjang stud dari pelat dasar sampai
ujungnya Lstud ≥ 4 × Østud.
1. Kekuatan balok komposit dengan pengaruh geser
a. Kuat lentur positif rencana ditentukan sebagai berikut :
ℎ 1680
 Untuk 𝑡 ≤
𝑤 √𝐹𝑦

ØMn dihitung berdasarkan distribusi tegangan plastis pada


penampang komposit
ℎ 1680
 Untuk 𝑡 ≥
𝑤 √𝐹𝑦

ØMn dihitung berdasarkan distribusi tegangan elastis pada


penampang komposit
b. Kuat lentur negatif rencana ØMn harus dihitung untuk penampang baja
saja.

54
2. Lebar efektif pelat
a. Untuk balok interior :
𝐿
𝑏𝑒 ≤
4
𝑏𝑒 ≤ 𝑏0 (untuk jarak balok yang sama)
b. Untuk balok eksterior
𝐿
𝑏𝑒 ≤ 8 + (jarak pusat balok ke tepi pelat)
1
𝑏𝑒 ≤ 2 𝑏0 + (jarak pusat balok ke tepi pelat)

Dimana
L : bentang balok
b0 : bentang antar balok

3. Menghitung momen nominal


a. Perhitungan Mn berdasarkan distribusi tegangan plastis yang
tergantung proporsi C dan T.
 Menghitung momen nominal positif
Resultan gaya tekan maksimum C = 0,85.f’c.Ac
Resultan gaya tarik maksimum T = Fy.As
- Case-a : jika T ≤ C sumbu netral plastis didalam pelat beton
be a/2 0,85fc

a C
Yc y/2
d/2 garis netral plastis
T=T*
d/2
Fy

Gambar 2.11. Distribusi tegngan plastis case-a

Tinggi blok tegangan tekan pada pelat beton (a) dapat dihitung
sebagai berikut :
𝐹𝑦 .𝐴𝑠
𝑎= ....................................................................... (2.92)
0,85.𝑓𝑐′ .𝑏𝑒

Yc = t (pelat beton solid) ........................................................ (2.93)

55
Yc = hr + tc (pelat komposit dengan deck baja) ..................... (2.94)
Y2 = Yc – 1/2a ........................................................................ (2.95)
Maka dapat dihitung kapasitas momen plastis dari penampang
balok komposit untuk case a sebagai berikut :
𝑛 = = 𝐹𝑦 . 𝐴𝑠 (𝑌2 + 1⁄2 𝑑) ........................................... (2.96)

- Case-b : jika T > C sumbu netral plastis di baja → pelat sayap


be t/2 0,85fc

t C
y Yc Cs
d/2 garis netral plastis
pada pelat sayap T
d/2 profil
Fy Fy

Gambar 2.12. Distribusi tegngan plastis case-b

Kondisi case-b terjadi jika luasan pelat beton relative lebih kecil
dibanding kopel tarik profil baja. Oleh sebab itu ketika terjadi
momen positif maka profil baja juga masih mengalami desak. Itu
terjadi jika tf > y > 0 yang dihitung dengan rumus berikut :
T = Yy.As ................................................................................ (2.97)
C = 0,85.f’c.be.t ..................................................................... (2.98)
𝑇−𝐶
𝑦=𝑏 ≤ 𝑡𝑓 ........................................................................ (2.99)
𝑓 .𝐹𝑦

Jika y > tf maka kondisi case-c yang mungkin terjadi jika


persyaratan terpenuhi maka kuat lentur penampang komposit
dapat dihitung sebagai berikut:
𝐶𝑠𝑚 = 2𝐹𝑦 . 𝑦 ....................................................................... (2.100)

𝑛 = = 𝐶(𝑌2 + 1⁄2 𝑑) + 𝐶𝑠𝑚 (𝑑 − 𝑦)1/2 ................. (2.101)

56
- Case-c : jika T > C sumbu netral plastis di baja → pelat badan

be t/2 0,85fc

t C
Yc
y d/2 garis netral plastis Cs
pada pelat badan T
d/2 profil
Fy Fy

Gambar 2.13. Distribusi tegangan plastis case-c

Kondisi case-c terjadi jika luas pelat beton relatif kecil dibanding
luas profil baja. Untuk keseimbangan gaya, akibatnya bagian
pelat badan dari profil baja juga masih mengalami tekan. Kondisi
ini dapat terjadi jika T – C – Csf ≥ 0. Adapun nilai-nilainya
dihitung sebagai berikut :
T = Fy.As.............................................................................. (2.102)
C = 0,85.f’c.be.t ................................................................... (2.103)
Csf = 𝑏𝑓 . 𝑡𝑓 . 2𝐹𝑦 .................................................................... (2.104)
𝑇−𝐶−𝐶𝑠𝑓
𝑦= ......................................................................... (2.105)
𝑡𝑤 .𝐹𝑦

𝐶𝑠𝑤 = 𝑡𝑤 . 𝑦. 2𝐹𝑦 .................................................................. (2.106)


𝑦𝑓 = 1⁄2(d – tf) .................................................................. (2.107)
𝑦𝑤 = 1⁄2 (𝑑 + 𝑦) − 𝑡𝑓 ....................................................... (2.108)
Selanjutnya dapat dicari kapasitas momen plastis sebagai berikut.
𝑛 = = 𝐶(𝑌2 + 1⁄2𝑑) + 𝐶𝑠𝑓 . 𝑦𝑓 + 𝐶𝑠𝑤 . 𝑦𝑤 ................ (2.109)

57
b. Perhitungan Mn berdasarkan distribusi tegangan elastis
be

t
y
Yc yt
d/2
yb
d/2 garis netral transformasi

(a). Potongan real (b). Potongan transformasi

Gambar 2.14. Konversi menjadi penampang balok biasa


 Menghitung nilai transformasi beton ke baja.
𝐸
𝑛 = 𝐸𝑠 ..................................................................................... (2.110)
𝑐

𝑏𝑒𝑓𝑓
𝑏𝑡𝑟 = ................................................................................ (2.111)
𝑛

𝐴𝑡𝑟 = 𝑏𝑡𝑟 . 𝑡𝑠 ............................................................................ (2.112)

 Menentukan letak garis netral penampang transformasi


∑ 𝐴𝑦𝑖
𝑦𝑜 = ∑ 𝐴𝑖
................................................................................ (2.113)

 Menghitung momen inersia penampang transformasi


𝐼𝑡𝑟 = ∑ 𝐼𝑜 + ∑ 𝐴𝑖 (𝑦𝑜 − 𝑦𝑖 )2 .................................................. (2.114)

 Menghitung momen lentur positif balok komposit


Berdasarkan penampang transformasi dapat dihitung momen
positif yang menghasilkan tegangan maksimum sama dengan
tegangan leleh (Fy). Yang terkecil yang menentukan.
𝑓𝑠𝑡
𝐼 = 𝐼 .............................................................................. (2.115)
𝑦𝑡 𝑡𝑟
𝑓𝑠𝑏
𝐼𝐼 = 𝐼 ............................................................................ (2.116)
𝑦𝑏 𝑡𝑟

58
4. Penghubung Geser
Kuat geser nominal shear stud tunggal, Qn yang tertanam pada pelat
beton solid atau pelat beton komposit dengan deck baja dapat dihitung
memakai rumus baru SNI 1729:2015 sebagai berikut :
Qn = 0,5.Asa√𝑓𝑐′ 𝐸𝑐 ≤ 𝑅𝑔 𝑅 𝐴𝑠𝑎 𝐹𝑢 .................................................... (2.117)
Dimana
Asa = luas penampang shear stud (mm2)
Ec = modulus elastisitas beton sebesar 4700√𝑓𝑐′
Fu = kuat tarik minimum shear stud (MPa)
f’c = mutu kuat tekan beton

Rg dan Rp adalah parameter untuk memasukan pengaruh pelat beton


komposit dengan deck baja, yang diatur agar hasil desainnya setara dengan
code internasional lain.

Tabel 2.17. Bantuan praktis menentukan Rg dan Rp


Kondisi Rg Rp
Tanpa deck baja 1,0 0,75
Memakai deck baja yang rusuknya pararel
dengan profil arah balok.
 wr/ hr ≥ 1,5 1,0 0,75
 wr/ hr ≤ 1,5 0,85** 0,75
Memakai deck baja yang rusuknya tegak
lurus profil balok. Jumlah shear stud pada
setiap rusuknya.
 1 (satu) 1,0 0,6+
 2 (dua) 0,85 0,6+
 3 (tiga) 0,7 0,6+
Catatan : (**) shear stud tunggal
(+) jika emid-ht ≥ 50mm maka Rp = 0,75

59
5. Kontrol Lendutan
Lendutan yang terlalu besar akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi
penghuni bangunan tersebut. Perhitungan lendutan pada balok
berdasarkan beban kerja yang dipakai didalam perhitungan struktur,
bukan berdasarkan beban terfaktor. Besar lendutan dapat dihitung dengan
rumus :
Untuk beban merata
5 𝑞.𝐿4
∆ = 384 ....................................................................................... (2.118)
𝐸𝐼

Kontrol lendutan sebelum beton mengeras.


1 𝑃.𝐿3
∆= 48 ......................................................................................... (2.119)
𝐸𝐼

a. Kontrol lendutan sebelum beton mengeras.


Tahapan pembebanan perlu dievaluasi pada perencanaan balok
komposit. Struktur baja unggul karena siap dipakai setelah dirakit,
sedangkan struktur beton sebaliknya, yaitu perlu waktu mengeras. Atas
dasar itu balok baja sebelum jadi komposit dapat dipakai terlebih
dahulu sebagai bekisting sampai betonnya mencapai kekuatan tertentu,
ini disebut unshored construction. Perhitungan lendutan menggunakan
kedua rumus diatas dengan menggunakan nilai I adalah momen inersia
penampang baja.

b. Kontrol lendutan penampang komposit


Setelah beton mengeras maka kondisi komposit telah beroperasi.
Perhitungan lendutan menggunakan kedua rumus diatas dengan
menggunakan nilai Itr adalah momen inersia penampang elastis
transformasi. Agar hasilnya realistik maka di pakai Ieff = Itr × 0,75 .

60
2.7.4. Perencanaan Kolom
Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka struktur yang memikul
beban dari balok. Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang memegang
peranan penting dari suatu bangunan, sehingga keruntuhan dari suatu kolom
merupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya (collapse) lantai yang
bersangkutan dan juga runtuh total (total collapse) pada seluruh struktur
(Sudarmoko, 1996).
Kolom juga dapat dibagi menjadi dua berdasarkan posisi beban terhadap
tampang melintang. Kolom sentris merupakan kolom yang tidak mengalami
momen lentur. Kolom eksentris merupakan kolom yang mengalami gaya aksial
dan momen lentur. Namun dalam perancangan hendaknya dirancang terhadap
eksentrisitas yang diakibatkan oleh hal-hal tak terduga.
Gambar dibawah merupakan kurva interaksi 3D yang merupakan respons
balok-kolom terhadap gaya aksial (P), momen sumbu kuat (Mx), dan momen
sumbu lemah (My).
P

Mx

My

Gambar 2.15. Kurva kapasitas batang terhadap kombinasi gaya-momen

Jika terdapat kombinasi beban yang nilainya berada dibawah payung


kurva batas kapasitas diatas, maka dianggap memenuhi syarat perencanaan yaitu
Ru/ØRn ≤ 1,0. Selanjutnya dapatlah disusun kurva interaksi sederhana dengan cara
mengkombinasikan kekuatan perlu terhadap kekuatan rencana. Untuk
perencanaan suatu kolom harus diperhitungkan dari beberapa keadaan berikut ini :

61
1. Kuat lentur penampang tekuk lateral
(perhitungan mengikuti ketentuan pada Sub bab 2.5.7)
2. Kuat tekan Kolom
(perhitungan mengikuti ketentuan pada Sub bab 2.5.6)
3. Cek penampang terhadap beban kombinasi
Komponen struktur yang mengalami momen lentur dan gaya aksial
harus direncanakanmemenuhi ketentuan sebagai berikut :
𝑃
 Jika 𝑃𝑟 ≥ 0,2 maka :
𝑐

𝑃𝑟 8 𝑟𝑥 𝑟𝑦
+ ( + ) ≤ 1,0
𝑃𝑐 9 𝑐𝑥 𝑐𝑦

𝑃
 Jika 𝑃𝑟 ≤ 0,2 maka :
𝑐

𝑃𝑟 𝑟𝑥 𝑟𝑦
+( + ) ≤ 1,0
2𝑃𝑐 𝑐𝑥 𝑐𝑦

Dimana
Pr = Pu kuat aksial perlu memperhitungkan efek P-∆
P c = ØP n kuat rencana elemen struktur untuk aksial.
Mr = Mu kuat lentur perlu yang memperhitungkan efek P-∆
Mc = ØMn kuat rencana elemen struktur sebagai balok lentur
x subskrip symbol untuk momen lentur sumbu kuat
y subskrip symbol untuk momen lentur sumbu lemah
Pr
Pc
1,0
P r M rx
P c + M cx =1,0

P r M ry
P c + M cy =1,0
1,0
M rx
M cx
M rx M ry
1,0 M cx + M cy =1,0
M ry
M cy

Gambar 2.16. Kurva interaksi kombinasi gaya-momen sederhana

62
2.7.5. Sambungan Struktur
Fungsi sambungan adalah mengalihkan gaya-momen internal dari satu
komponen struktur ke komponen lain sehingga pembebanan dapat diteruskan ke
pondasi. SNI 1729:2015 tidak memberi ketentuan bahwa sambungan harus
direncanakan sekuat profil. Hanya untuk system struktur yang direncanakan
berprilaku inelastis, seperti portal daktail struktur tahan gempa, maka kekuatan
sambungan tidak boleh lebih lemah dari batang yang disambungnya.

2.7.5.1. Sambungan Balok Induk Dengan Balok Anak


1. Menghitung tahanan nominal baut
Suatu baut yang memikul beban terfaktor Ru sesuai persyaratan LRFD
harus memenuhi persyaratan :
Ru ≤ ØRn
Dengan Rn adalah tahanan nominal baut sedangkan Ø adalah faktor
reduksi yang diambil sebesar 0,75. Besarnya Rn berbeda-beda untuk
masing-masing tipe sambungan.

 Tahanan Geser Baut


Tahanan nominal satu buah baut yang memikul gaya geser
memenuhi persamaan :
Rn = m.r1.fub.Ab ...................................................................... (2.120)
Dengan
r1 : 0,50 untuk baut tanpa ulir pada bidang geser
r1 : 0,40 untuk baut dengan ulir pada bidang geser
fub : kuat tarik baut (MPa)
Ab : luas bruto penampang baut pada daerah tak berulir
m : jumlah bidang geser

 Tahanan Tarik Baut


Baut yang memikul gaya tarik tahanan nominalnya dihitung
menurut :
Rn = 0,75..fub.Ab ..................................................................... (2.121)
Dengan
fub : kuat tarik baut (MPa)
Ab : luas bruto penampang baut pada daerah tak berulir

63
 Tahanan Tumpu Baut
Tahanan tumpu nominal tergantung kondisi yang terlemah dari
baut atau komponen pelat yang disambung. besarnya ditentukan
sebagai berikut :
Rn = 2,4. db. tp . fu ................................................................... (2.122)
Dengan
db : diameter baut pada daerah tak berulir
tp : tebal pelat
fu : kuat tarik putus terendah dari baut atau pelat

2. Menghitung jumlah baut


𝑃
𝑛 = Ø𝑅 ........................................................................................ (2.123)
𝑛

Dengan
n : jumlah baut yang diperlukan
P : reaksi terfaktor balok anak
ØRn : tahanan nominal baut terkecil

3. Menghitung keruntuhan geser blok pada pelat balok berdasarkan


Geser leleh – tarik fraktur (fu.Ant ≥ 0,6.fu.Anv)
Tn = 0,6.fy.Agv + fu.Ant .................................................................. (2.124)
Geser fraktur – tarik leleh (fu.Ant < 0,6.fu.Anv)
Tn = 0,6.fy.Anv + fy.Agt .................................................................. (2.125)

2.7.5.2. Sambungan Momen End-Plate Balok-Kolom


Perilaku sambungan momen struktur baja dapat dibagi dua yaitu Fully
Restrained (sambungan rigid) dan Partially Restrained (semi-rigid). Implementasi
sambungan end-plate pada bangunan portal baja relatif sederhana, baik untuk
kolom kuat maupun sisi lemahnya. Sambungan tipe FR tidak perlu pemodelan
khusus untuk analisis strukturnya, karena dapat dianggap sebagai penampang utuh
yang meneruskan momen sekaligus gaya geser dan gaya aksial. Sambungan tipe
FR tidak memerlukan pengelasan dilapangan. Karena itu untuk pemasangannya
relatif cepat dan tidak terpengaruh oleh kondisi cuaca.

64
Fully Restrained Partially Restrained
relatif tidak ada rotasi relatif ada rotasi

(a). FR (b). PR

Gambar 2.17. Perilaku sambungan momen pada struktur baja

Kapasitas sambungan end-plate tergantung tebal pelat ujung dan baut


tariknya. Untuk menghitung kapasitas pelat akan menggunakan teori garis leleh
(Zoetemeijer 1974, Murray et.al. 2003). Teori ini merupakan hasil penelitian
terkini sehingga dipilih juga sebagai acuan dasar perencanaan sambungan
prakualifikasi pada struktur baja tahan gempa. Pola garis leleh tergantung pada
bentuk geometri elemen yang akan disambung.

1. Perencanaan Pelat Ujung


Kapasitas momen sambungan end-plate berdasarkan terjadinya leleh
pada pelat ujung adalah sebagai berikut :
∅b Mn = ∅b Mpl = ∅b Fpy t p2 Yp ........................................................ (2.126)
Dimana
∅b : faktor ketahanan lentur terhadap leleh = 0,9
Mpl : besar momen pada sambungan agar penampang pelat ujung
mencapai pelasti
Fpy : tegangan leleh dari material pelat ujung
tp : tebal pelat ujung
Yp : perameter kuat batas pelat berdasarkan pola garis leleh
yang bisa berbeda untuk tiap-tiap konfigurasi geometri.
Parameter Yp disusun mengacu konfigurasi geometri sambungan end-
plate, dapat dilihat pada gambar.

65
a. Extended-End-Plate enam baut
bp

Pext
Pfo
Pfi
Pb
s
h h0
tw tf
h1
h2

(a). Dimensi (b). Pola garis leleh

Gambar 2.18. Tipe extended-end-plate enam baut


2 g
X0 = g [h1 (Pfi +0,75Pb )+h2 (s+0,25Pb )]+ 2 ............... (2.127)
bp 1 1 1 1
Yp = [h1 (P ) +h2 ( s ) +h0 (P ) - 2] +X0 .................. (2.128)
2 fi f0

1
Catatan : s = 2 √𝑏 𝑔 jika Pfi > s maka Pfi = s

b. Extended-End-Plate delapan baut


bp

Pext
Pfo
Pfi
Pb
Pb
h h0
s
h1
tw tf h2
h3

(a). Dimensi (b). Pola garis leleh

Gambar 2.19. Tipe extended-end-plate delapan baut


2 g
X0 = g [h1 (Pfi +0,75Pb )+h2 (s+0,25Pb )]+ 2 ............... (2.129)
bp 1 1 1 1
Yp = [h1 (P ) +h2 ( s ) +h0 (P ) - 2] +X0 ................. (2.130)
2 fi f0

1
Catatan : s = 2 √𝑏 𝑔 jika Pfi > s maka Pfi = s

66
Tebal pelat ujung dapat dikatakan memenuhi kriteria bila :

𝛾𝑟 𝑢
𝑡 = √1,111
∅𝑏 𝐹 𝑦 𝑌

Dimana
tp : tebal pelat ujung
𝛾𝑟 : faktor peningkatan kapasitas sambungan untuk memenuhi
syarat sebagai sambungan rigid (FR)
= 1,25 sambungan flush-end-plate
= 1,00 untuk sambungan extended-end-plate
∅b : faktor ketahanan lentur terhadap leleh = 0,9
Mu : momen terfaktor perlu
Fpy : tegangan leleh dari material pelat ujung
Yp : perameter kuat batas pelat berdasarkan pola garis leleh

2. Perencanaan Baut tarik


Tabel 2.18. Kuat nominal baut dan batang berulir
Baut atau Alat Tarik, Fnt Geser, Fnv
Keterangan
Sambung Berulir (MPa) (MPa)
A 307 188
310 Non-struktur
(baut mutu biasa) (165)
372 Geser pada ulir
A325 (330) drat
620
(baut mutu tinggi) 457 Geser pada
(414) Grid polos
457 Geser pada ulir
A490 (414) drat
780
(baut mutu tinggi) 579 Geser pada
(520) Grid polos
0,45 Fu Geser pada ulir
Alat sambung dengan
(0,40 Fu) drat
ulir 0,75 Fu
0,563 Fu Geser pada
(missal:baut angkur)
(0,50 Fu) Grid polos
(sumber : Tabel J3.2 SNI 1729:2015)

67
Jika tebal pelat telah memenuhi syarat, maka diameter baut yang
diperlukan dapat dihitung dengan :

2 𝑢
𝑑𝑏 ≥ √
𝜋∅𝐹𝑛𝑡 ∑𝑖=𝑛
𝑖=1 𝑑𝑖

Dimana
db : diameter baut tarik
𝑑𝑖 : jarak baris ke-I baut tarik terhadap titik berat pelat sayap
profil di zona tekan
∅b : faktor ketahanan lentur terhadap leleh = 0,9
Fnt : kuat tarik baut, (Tabel 2.14)

2.7.5.3. Base Plate – Sambungan Baja ke Beton


Struktur baja umumnya untuk bangunan dibagian atas, dibagian bawah
khususnya pondasi mengandalkan struktur beton. Untuk menghubungkan
keduanya perlu sambungan, yaitu base-plate. Detail baes-plate tergantung gaya
yang dialihkan. Jika hanya gaya tekan maka cukup terdiri dari pelat landasan saja.
Ukuran dipilih sedemikian sehingga besarnya tegangan yang terjadi pada beton
tidak menimbulkan kerusakan.

f f
x
d

B
bf 0,8 bf

n
m 0,95 d m
N

Gambar 2.20. Penampang base plate dan notasi

68
Dimana
B : lebar base-plate
𝑁 : panjang base-plate
bf : lebar sayap kolom
d : tinggi kolom
f : jarak angkur kesumbu base-plate dan sumbu kolom
(𝑁−0,95 𝑑)
m : 2
𝐵−0,8 𝑏𝑓
n : 2
𝑑 𝑡𝑓
x :𝑓 − 2 + 2

berkaitan dengan momen lentur yang bekerja pada base-plate, maka


tinjauan desain untuk suatu struktur base plate dapat dibagi menjadi empat
kategori, yaitu :
1. Kategori A, adalah struktur base-plate tanpa beban momen lentur.
2. Kategori B, adalah struktur memikul gaya aksial, gaya geser dan
momen lentur dalam intensitas yang cukup kecil.
3. Kategori C, adalah dimana intensitas momen kian meningkat.
4. Kategori D, adalah dimana eksentrisitas yang terjadi sudah melebihi
N/6.

Perencanaan base-plate akan mengacu pada kategori D. Dalam kasus ini


ada dua variable yang harus dihitung yaitu panjang Y dan gaya tarik pada angkur,
Tu.
1. Menghitung tegangan tumpu pada beton
𝐴
𝑞 = ∅𝑐 0,85. 𝐹𝑐′ . 𝐵√𝐴2 ................................................................ (2.131)
1

Dimana
A1 : luas penampang baja yang secara konsentris menumpu
pada permukaan

69
𝐴2 : luas maksimum bagian permukaan beton yang secara
geometris sama dengan dan konsentris dengan daerah
yang dibebani, mm2
bf : lebar sayap kolom
f’c : mutu kuat tekan beton
𝑁 𝑁 2 2𝑃𝑢 (𝑓+𝑒)
𝑌 = (𝑓 + 2 ) ± √[− (𝑓 + 2 )] − ........................ (2.132)
𝑞

maka
𝑇𝑢 = 𝑞. 𝑌 − 𝑃𝑢
2. Perhitungan angkur
𝑉𝑢𝑏 ≤ ∅. 𝐹𝑣 . 𝐴𝑏
𝑇𝑢𝑏 ≤ ∅. 𝐹𝑡 . 𝐴𝑏
Dimana
Vub : gaya geser terfaktor pada angkur
Tub : gaya tarik terfaktor pada angkur
Ab : luas penampang angkur
Ft : kuat tarik nominal angkur

2.8. Perencanaan Struktur Bawah


Struktur bawah merupakan struktur yang berfungsi untuk meneruskan
beban dari struktur diatasnya kedalam lapisan tanah. Analisis-analisis kapasitas
dukung dilakukan dengan cara pendekatan untuk memudahkan hitungan. Dalam
menentukan jenis pondasi yang sesuai perlu dipertimbangkan beberapa hal antara
lain :
1. Keadaan tanah, seperti parameter tanah, daya dukung tanah, dan lain-
lain
2. Jenis struktur atas (fungsi bangunan)
3. Anggaran biaya yang dibutuhkan
4. Waktu pelaksanaan yang direncanakan
5. Keadaan lingkungan sekitar

70
2.8.1. Parameter Tanah
Kondisi tanah selalu mempunyai peranan penting pada suatu lokasi
pekerjaan konstruksi. Tanah adalah landasan pendukung suatu bangunan. Untuk
dapat mengetahui susunan lapisan tanah yang ada, serta sifat - sifatnya secara
mendetail dalam perencanaan suatu bangunan yang akan dibangun maka
dilakukan penyelidikan dan penelitian. Pekerjaan penyelidikan dan penelitian
tanah ini merupakan penyelidikan yang dilakukan di laboratorium dan lapangan.
Maksud dari penyelidikan dan penelitian tanah adalah melakukan investigasi
pondasi rencana bangunan untuk dapat mempelajari susunan lapisan tanah yang
ada, serta sifat-sifatnya yang berkaitan dengan jenis bangunan yang akan
dibangun di atasnya (seperti struktur dan penyebaran tanah serta batuan, sifat
fisis/teknis tanah, kapasitas dukung tanah terhadap pondasi, dan lain-lain ).
Analisis Daya dukung mempelajari kemampuan tanah dalam mendukung
beban pondasi struktur yang terletak di atasnya. Daya dukung tanah ( Bearing
Capacity ) adalah kemampuan tanah untuk mendukung beban baik dan segi
struktur pondasi maupun bangunan di atasnya tanpa terjadi keruntuhan geser.
Daya dukung batas (ultimate bearing capacity) adalah daya dukung terbesar dan
tanah dan biasanya diberi simbol q ult. Daya dukung ini merupakan kemampuan
tanah mendukung beban, dan diasumsikan pada tanah mulai terjadi keruntuhan.

2.8.2. Perencanaan Pondasi


Dalam pemilihan pondasi yang memadai, perlu diperhatikan apakah
kondisi pondasi tersebut cocok dengan keadaan dilapangan dan memungkinkan
untuk diselesaikan secara ekonomis sesuai dengan jadwal kerjanya. Pondasi
merupakan suatu konstruksi yang berfungsi untuk memindahkan beban-beban dari
struktur atas ke dalam dasar tanah yang cukup kuat mendukungnya. Fungsi ini
dapat berlaku secara baik apabila kestabilan pondasi terhadap efek guling, geser,
penurunan dan daya dukung tanah terpenuhi, walaupun kondisi lapisan tanah
sangat bervariasi yang memerlukan suatu perencanaan lebih baik.
Menurut jenisnya terdapat beberapa macam pondasi antara lain: pondasi
menerus, pondasi telapak, pondasi kaki bangunan, pondasi pelat, pondasi

71
sumuran, pondasi pancang/kolom. Sedangkan dari bahan yang digunakan pondasi
dapat dikenal antara lain: pondasi beton, pondasi pasangan batu kali, ponadasi
kayu, pondasi baja, kombinasi beton dengan pasangan batu kali.

2.8.2.1. Pondasi Tiang Pancang


Pondasi tiang pancang digunakan apabila letak tanah keras sangat dalam
mencapai 10 meter dan dapat memikul beban yang sangat besar. Umumnya
digunakan pada struktur gedung bertingkat, pondasi jembatan dibawah abutmen,
bendungan, jalan raya pada tanah labil dan dermaga pelabuhan. Pondasi tiang
pancang digunakan untuk beberapa maksud, antara lain :
1. Untuk meneruskan beban bangunan yang terletak diatas air atau tanah
lunak, ke tanah pendukung yang kuat.
2. Untuk meneruskan beban ketanah yang relatif lunak sampai
kedalaman tertentu sehingga pondasi bangunan mampu memberikan
dukungan yang cukup untuk mendukung beban tersebut oleh gesekan
sisi tiang dengan tanah disekitarnya.
3. Untuk mengangker bangunan yang dipengaruhi oleh gaya angkat
keatas akibat tekanan hidrostatis atau momen penggulingan.
4. Untuk menahan gaya-gaya horizontal dan gaya yang arahnya miring.
5. Untuk memadatkan tanah pasir, sehingga kapasitas dukung tanah
tersebut bertambah.
6. Untuk mendukung pondasi bangunan yang permukaan tanahnya
mudah tergerus air.
Ada dua macam pondasi tiang yaitu tiang pancang dan tiang sumuran.
Tiang merupakan struktur bagian dari struktur dengan penampang melintang yang
kecil dibanding tingginya dan dipancang dengan menggunakan hammer atau
vibrator. Tiang sering digabungkan menjadi satu dengan menjadi kelompok tiang
untuk mendukung beban. Sedangkan pondasi sumuran pada umumnya memiliki
penampang melintang lebih besar, tiap sumuran mampu mendukung seluruh
beban setiap kolom kelapisan pendukung.

72
2.8.2.2. Jenis-Jenis Pondasi Tiang Pancang
Pada saat ini telah banyak digunakan berbagai tipe pondasi dalam.
Penggunaan disesuaikan dengan besarnya beban, kodisi lokasi/lingkungan dan
lapisan tanah. Pondasi tiang pancang terdiri dari berbagai bentuk dan ukuran,
sedangkan dari bahan yang digunakan pondasi tiang pancang terdiri dari :
1. Tiang pancang kayu
2. Tiang pancang beton
3. Tiang pancang pipa
4. Tiang pancang cor dalam selubung
5. Tiang pancang beton pracetak
6. Tiang pancang pipa disi
7. Tiang pancang baja profil H
8. Tiang pancang prategang

30 ton 60 ton 50 ton 80 ton 80 ton 80 ton 100 ton 100 ton

20 m 20 m
27 m 27 m 27 m
30 m 30 m
40 m

Tiang kayu Cor ditempat


Tiang pipa Cor dalam Beton pracetak
selubung
Tiang pipa disi Profil H

Silinder prategang

Gambar 2.21. panjang dan beban maksimum untuk berbagai macam tipe tiang
yang umum dipakai dalam praktek (Carson, 1965)

73
2.8.2.3. Daya Dukung Tiang Pancang Dalam Kelompok Tiang
Untuk menentukan dayang dukung suatu tiang dapat dihitung
berdasarkan:
1. Data-data penyelidikan tanah
Untuk mentaksir daya dukung pondasi tiang adalah dengan
menggunakan test sondir (cone penestratian test) atau dengan SPT
(Standard Penestration Test). Dengan alat tersebut kita dapat
menentukan kedalaman tiang yang akan dipancang dan daya dukung
tiang, baik tahanan ujung maupun tahanan geseran.
2. Cara kalender
Cara ini dilakukan dengan mengadakan pencatatan besarnya
penurunan tiang pada waktu pemancangan (minimal sepuluh pukulan
terakhir)
3. Test pembebanan (loading test) pada kepala tiang
Dilakukan dengan cara memberi beban di atas kepala tiang, kemudian
besar penurunan yang terakhir diukur dan dibuat grafik ”Tegangan
Penurunan”. Test pembebanan ini dapat mendapatkan hasil yang
cukup teliti jika pengukuran besar penurunan juga dilakukan dengan
teliti. Cara ini memerlukan waktu dan biaya yang sangat
besar,sehingga hanya dipakai pada konstruksi yang besar. Dalam
keadaan statis sebuah tiang pancang dapat menyalurkan beban
melalui:
a. Bagian tahanan ujung (Bearing Pile)
Tiang ini menyalurkan beban melalui tahan tiang ke lapisan tanah
pendukung yang mampu memikul beban di atasnya. Lapisan
tanah ini bisa berupa lapisan lempung yang keras sampai pada
batu-batuan yang sangat keras.
Daya dukung tiang dihitung berdasarkan pada tahanan ujung tiang
(konus) qc.
A qc
P= ............................................................................ (2.133)
3

74
Dimana : P = daya dukung tiang
qc = perlawanan konus
A = luas penampang tiang
3 = angka keamanan (beban tetap/statis)
b. Bagian Tahanan Gesekan (Friction Pile)
Tiang ini menyalurkan beban ke tanah melalui tahanan gesekan
selimut tiang karena lapisan tanah keras letaknya sangat dalam,
sehingga pemancangan tiang sampai pada tanah keras sangat sulit
dilakukan. Hal ini sering terjadi pada lapisan lempung lunak, yang
tahanan ujung tiang lebih kecil dari pada tahanan geseran kulit
tiang. Daya dukung tiang ini dihitung berdasarkan pelekaan antara
tiang dengan tanah (hambatan lekat) qf.
O  qf
P= ............................................................................ (2.134)
5
Dimana: P = daya dukung tiang
O = keliling tiang
qf = hambatan lekat
5 = angka keamanan (beban tetap/statis)

Gambar. 2.22. Friction Pile

75
c. Gabungan antara Bearing Pile dan Friction Pile
Apabila pemancangan tiang sampai pada tanah keras melalui
lapisan tanah lempung maka kekuatan tanah berdasarkan beban
tetap/statis.
A  qc O  qf
P=  .............................................................. (2.135)
3 5

Gambar 2.23. Gabungan Antara Bearing Pile dan Friction Pile


2.8.2.4. Efisiensi Tiang Pancang
Pada kenyataan di lapangan tiang pancang selalu berada dalam kelompok
tiang, maka perlu diatur jarak antara tiang agar tidak rapat. Jarak tiang terlalu
rapat dapat mengurangi efisiensi tiang pancang. Untuk itu perlu diatur jarak antara
tiang dengan syarat jarak minimal, yaitu :
S ≥ 2,5 D – 3 D

Gambar 2.24. Efisiensi Tiang Pancang


Umumnya syarat jarak tersebut dibatasi berdasarkan diameter tiang yang
bersangkutan. Dari beberapa penelitan disarankan agar jarak minimal 0,6 meter
dan jarak maksimal 2,0 meter.

76
Ketentuan tersebut di atas berdasarkan pertimbangan sebagai berikut:
1. Bila S < 2,5 D
Tanah di sekitar kelompok tiang akan naik terlalu berlebihan karena
terdesak oleh tiang yang dipancang berdekatan
Tiang yang dipancang terlebih dahulu di sekitarnya kemungkinan
akan terangkat.
2. Bila S > 3,0 D
Tidak ekonomis karena akan memperbesar ukuran atau dimensi dari
poor (footing).
Rumus efisiensi tiang pancang (pile group) terdapat 4 (empat) cara
antara lain.
a. Metode Feld

A B A

B C B

A B A

Gambar 2.25. Kelompok Tiang Pancang Dengan Metode Feld

Disini kelompok tiang pancang terdiri dari 9 tiang dimana:


 Tiang A dipengaruhi oleh 3 tiang yang berada di
sekelilingnya, maka efisiensi tiang A sebagai berikut
3 6
EF = 1-  tiang
9 9
 Tiang B dipengruhi oleh 5 tiang yang berada di
sekelilingnya, maka efisiensi tiang B sebagai berikut:
5 4
EF = 1 -  tiang
9 9

77
 Tiang C dipengruhi oleh 8 tiang yang berada di
sekelilingnya,dengan efisiensinya sebagai berikut:
8 1
EF = 1 -  tiang
9 9

b. Berdasarkan Rumus Converse – Labare

Gambar 2.26 Kelompok Tiang Pancang Berdasarkan Rumus


Converse-Labare
 n  1m  m  1n 
EF = 1 – θ   ...................................... (2.136)
 90.m.n 
d 
Dimana: θ = arc tg  
s
m = jumlah baris
n = jumlah tiang dalam satu baris
d = diameter tiang
s = jarak tiang As - As

c. Berdasarkan Los Angeles Group – Action Formula

EF = 1 -
d
 .s.m.n
 
mn  1  nm  1  2 m  1n  1 ....... (2.137)

78
d. Berdasarkan Rumusan Seiter Keeny
mn2
 1 11s
  0,3
EF =
 
7 s 1 m  n 1
2
mn
............................. (2.138)

Dari keempat rumus tersebut diambil nilai terkecil dan


dikalikan dengan daya dukung tiang (P ultimit),sebagai daya
dukung satu tiang atau P (ijin) untuk dibandingkan dengan beban P
dan akibat momen.

2.8.2.5. Pembebanan Pada Pondasi Kelompok Tiang Pancang


1. Beban Vertikal Sentris
Beban ini merupakan beban (V) per satuan panjang yang bekerja
melalui pusat berat kelompok tiang (O), sehingga beban (V) akan
diteruskan ke tanah dasar pondasi melalui pile cap dan tiang – tiang
tersebut secara terbagi rata. Bila jumlah tiang yang mendukung
fondasi tersebut (n) maka setiap tiang akan menerima beban sebesar :
V
P
n ........................................................................................ (2.139)

Gambar 2.27. Beban Vertikal Sentris

79
2.8.2.6. Beban Vertikal dan Momen

Gambar 2.28. Beban Vertikal dan Momen


Gaya luar yang bekerja pada kepala tiang (kolom) didistribusikan pada
pile cap dan kelompok tiang fondasi berdasarkan rumus elastisitas dengan
menganggap bahwa pile cap kaku sempurna (pelat fondasi cukup tebal), sehingga
pengaruh gaya yang bekerja tidak menyebabkan pile cap melengkung atau
deformasi. Maka rumus yang dipakai adalah sebagai berikut :
V Myx Mxy
P  
n  x2  y2
................................................................. (2.140)
Dimana :
Mx, My = Momen masing – masing di sumbu X dan Y
x, y = Jarak dari sumbu x dan y ke tiang
∑x2, ∑y2 = Jumlah kuadrat absis dan ordinat dari kelompok tiang
V = Jumlah beban vertikal
n = Jumlah tiang kelompok
P = Reaksi tiang atau beban axial tiang

80