Anda di halaman 1dari 5

MATERI PENGANTAR FILOLOGI

Pengertian
Secara etimologi, filologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Philos dan Philein yang berarti cinta dan logos
berarti kata. Pada kedua kata itu membentuk arti cinta kata atau senang bertutur. Makna ini kemudian
berkembang menjadi senang belajar atau senang kebudayaan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia,
Filologi berarti ilmu tentang perkembangan ilmu kerohanian suatu bangsa dan kekhususannya atau
tentang kebudayaan berdasarkan bahasa dan sastranya.

Secara terminologis disebut sebagai ilmu yang mempelajari bahasa, budaya dan sejarah suatu bangsa
melalui bahan tertulis. Dewasa ini istilah filologi diartikan sebagai ilmu yang menyelidiki masa kuno dari
nilai berdasarkan naskah-naskah tertulis, walaupun ahli filologi akhir-akhir ini mulai menyadari bahwa
sedikit pengetahuan tentang linguistik umum, sudah bermanfaat bagi usaha mereka.
Ilmu filologi tidak sama dengan ilmu linguistik. Jadi ahli bahasa Jawa kuno misalnya atau ahli bahasa
Melayu klasik, tak perlu menjadi spesialis linguistik umum. Demi untuk penelitian filologi, sedikit
pengetahuan tentang linguistik umum sudah memadai.

Dari sini filologi dipergunakan pula sebagai sebutan untuk ilmu bahasa sebelum De Saussure dan juga
sesudahnya, terutama di Inggris poada abad ke 19, para ahli bahasa sering menyelidiki masa lalu bahasa
tertentu dengan tujuan untuk menafsirkan naskah kuno. Dalam menafsirkan naskah kuno tersebut,
dilakukan pula penyelidikan berbagai hubungan antara bangsa yang serumpun.

A. Pengertian Filologi

Kita ketahui bahwa sejarah perjalanan umat manusia telah dimulai sejak lama, secara pasti tidak
diketahui berapa ribu atau berapa juta tahun yang lalu umur sejarah manusia di muka bumi ini dimulai.
Bukti-bukti sejarah kehidupan manusia di masa lampau itu dapat kita temukan di masa kini . Banyak
peninggalan nenek moyang yang bisa kita jumpai, baik dalam bentuk benda fisik seperti candi, prasasti,
senjata, alat-alat rumah tangga, atau naskah, maupun dalam bentuk nonfisik seperti tradisi, budaya,
pola pikir, dan sejenisnya. Sebagai manusia dan bangsa yang menghargai peninggalan nenek
moyangnya, upaya mempelajari, melestarikan, dan menumbuhkembangkan warisan leluhur itu Kita
lakukan.

Naskah-naskah klasik sebagai salah satu jenis produk budaya pada masa lampau cukup penting
keberadaannya. Penting karena dalam naskah-naskah tersebut terkandung banyak hasil pemikiran pada
cendikiawan pendahulu kita yang kini kita warisi. Karya-karya tersebut harus kita pelajari agar hormat kita
kepada nenek moyang kita bertambah karena perkenalan kita dengan karya-karya mereka yang
berkualitas.

Beragamnya warisan sastra klasik bangsa kita oleh para pakar disebutnya dengan beberapa istilah. Akan
tetapi, yang dimaksud tetap sama, mengacu kepda karya-karya tradisional dari daerah-daerah nusantara.
Keragaman yang ditandai bahasa yang digunakan, beragama karena budaya yang mereka kenalkan lewat
karya-karyanya, beragam karena pemikiran yang mereka lontarkan. Keseragaman pada satu hal, yakni
hampir semua karya mereka tidak pernah dimilikinya sebagai karya sendiri. Jarang yang mencantumkan
penulis dalam karya klasik. Penulis atau mungkin penyalin beranggapan bahwa karya itu milik bersama.

Keragaman karyaklasik itu dapat ditinjau dari berbagai segi yang umum, yakni (1) naskah-naskah yang
berisi teks sejarah, (2) naskah-naskah keagamaan, (3) naskah-naskah sains, dan (4) naskah-naskah
kesusastraan.
Naskah yang sangat berharga itu berserakan tempatnya. Banyak yang belum dikenal masyarakat.
Kekhawatiran atas kepunahan nasakah ituharus diwaspadai, harus ada yang mencoba mlestarikannya,
harus ada yang mengenalkannya dalam bahasa sekarang. Oleh karena itu, salahsatu studi keilmuan
mengarahkan pandangannya ke sana, pada naskah-naskah, yaitu filologi. Filologi merupakan salah satu
bentuk usaha manusia menggali ‘harta’ terpendam itu. Lebih khusus lagi, Filologi merupakan ilmu
yang bidang kajiannya adalah meneliti naskah-naskah klasik peninggalan masa lalu.
Kajian atau studi yang dilakukan dalam filoogi merupakan kajian kritis karena di dalamnya ada proses
memilah dan memilih dengan tingkat kehati-hatian yang sangat tinggi. Segala sesuatu dilakukan untuk
mendapat naskah asli atau setidaknya mendekati keaslian. Dalam filologi, naskah yang demikian disebut
naskah yang autoritatif.

Penelitian naskah dalam filologi tidak hanya meneliti bentuk fisik naskah tetapi juga sampai kandungan
terdalam yang ada di dalamnya. Ada upaya untuk merekonstruksi atau ‘menghadirkan kembali’ ide-
ide, pola pikir, atau rumusan-rumusan hikmah kehidupan yang telah dicapai para pendahulu kita. Dengan
demikian filologi merupakan ilmu yang menghubungkan kita dangan landasan kokoh masa lalu agar
maksimal meningkatkan kualitas kita (sebagai bangsa yang memiliki sejarah yang demikian panjang) di
masa kini dan masa yang akan datang.

B. Tujuan Filologi

Secara umum, filologi bertujuan mengungkapkan hasil pemikiran, pengalaman, dan budaya yang hidup
pada masa lalu. Dengan cara seperti itu muncul juga manfaatnya, yakni terkodifikasinya nilai-nilai budaya
klasik, melestarikan budaya yang terkandung dalam naskah itu dan memperkenalkannya kepada
masyarkat.

Selain itu, kalau kita amati tujuan-tujuan penelitian yang dilakukan 8 mahasiswa pascasarjana UNPAD
tersebut, bisa kita rumuskan tujuan-tujuan khusus yang menjadi ciri khas flologi sebagai berikut :

1.mengungkapkan gambaran naskah dari segi fisik dan isinya;


2.mengemukakan persamaan dan perbedaan antarnaskah yang berbeda;
3.menjelaskan pertalian antarnaskah;
4.menguraikan fungsi isi, cerita dan fungsi teksnya;
5.Menyajikan suntingan teks yang mendekati teks asli, autoritatif, bersih dari kesalahan untuk keperluan
penelitian dalam berbagai bidang ilmu (sastra, bahasa, filsafat)
6.Menyajikan terjemahan hasil suntingan teks dan tulisan dan bahasa yang mudah dipahami masyarakat
luas (misalnya dalam tulisan dan bahasa Indonesia)
C. Cara Kerja Filologi

Cara kerja penelitian ini secara garis besar bisa dikelompokkan pada tiga kegiatan besar.
Pertama, melakukan studi pustaka dan penelitian lapangan untuk mencari dan mengumpulkan naskah baik
yang berupa naskah koleksi pribadi, keluarga, kelompok, atau lembaga. Hasil kegiatan pertama ini adalah
data susunan / daftar naskah.

Kedua, melakukan pengolahan dengan mendeskripsikan semua naskah dengan pola yang sama dari sisi
nomor, ukuran ,keadaan, tulisan, bahasa, jumlah halaman, kolofon, dan garis besar isi cerita. Sebelumnya
dilakukan dulu transliterasi. Hasil kegiatan di atas dimanfaatkan untuk penyusunan urutan episode naskah.
Setelah itu dilakukan kolasi (colatio) yaitu memperbandingkan naskah. Dari hasil perbandingan itu
dilakukan pertimbagan atas naskah (recentio) sehingga bisa ditentukan mana naskah yang salinan
langsung dan mana yang berupa cuplikan atau naskah yang berbeda versi. Pada kegiatan ini biasanya
didapat temuan/kasus varian korup, serta penyimpangan berupa : lakuna, ditografi, haplografi, transposisi,
interpolasi, metatesis, dsb. Naskah yang berupa salinan langsung dijadikan objek penelitian.
Ketiga, penentuan naskah yang akan disunting atau kritik teks. Inti kegiatan ini adalah menentukan teks
yang autoritatif dengan menggunakan metode objektif. Tiap naskah diteliti secara sistematis hubungan
kekeluargaannya atas dasar sifat-sifat khusus naskah itu (jumlah episode, urutan, umur, dan bacaan). Tiap
naskah dibandingkan satu dengan yang lain pada bagian awal, tengah, dan akhir. Naskah yang dinilai
autoritatif akan didisajikan suntingan teksnya

D. Objek Studi

Dilihat dari media bahasanya objek studi filologi adalah naskah klasik, dengan demikian menggunakan
media bahasa tulis. Meskipun demikian ada pendapat bahwa studi filologi juga bisa mencakup
peninggalan/ karya dalam bentuk lisan. Pendapat ini didasari pemikiran bahwa tradisi bersastra bahkan
berbudaya sudah dimulai sejak manusia belum mengenal tulisan. Bentuk pengawetan/pelestarian pada
masa sebelum dikenal bahasa tulis adalah dengan penghafalan secara lisan dengan penyebaran secara
leluri. Walaupun demikian, dalam studi filologis, peninggalan teks yang dikemas dalam bahasa lisan secara
teknis akan melalui proses transkripsi ke dalam bentuk naskah atau bahasa tulis.

Adanya pendapat di atas berdampak pada adanya persinggungan antara objek kajian filologi dengan objek
kajian foklor. Sastra lisan, cerita rakyat, upacara-upacara adat memang merupakan objek kajian utama
Foklor. Pembeda kedua ilmu ini adalah penekanan fokus kajiannya, filologi menekankan pada tradisi
naskah, sedangkan foklor mengkaji tradisi lisan.

Dilihat dari bentuk fisik, objek kajian filologi adalah tulisan tangan (handschrift). Dalam perkembangannya,
sentuhan teknologi menghasilkan ragam bentuk fisik beraneka seperti tulisan di daun lontar, kulit, kertas,
tulisan cetakan pada kertas, dan microfilm. Adanya bentuk cetakan dan microfilm merupakan usaha
manusia mengawetkan naskah lama dengan teknologi modern. Naskah Serat Magamulya misalnya
sekarang ini terdiri dari dua jenis naskah yaitu tulisan tangan dan cetakan. Tetapi naskah Syair Nasuha
sudah ada yang disimpan dalam bentuk microfilm.
Istilah atau definisi klasik pada objek studi filologi, pada masa sekarang ini tampaknya perlu ditinjau ulang.
Makna klasik yang mengacu pada masa lalu memang sangat relatif. Kriteria jarak waktu lampau dalam
makna klasik tidak bisa ditentukan dengan tegas. Fenomena sekarang menunjukkan adanya upaya
beberapa ahli yang melakukan studi terhadap keaslian suatu karya modern (abad 19, awal abad 20)
dengan membandingkan karya tersebut dengan karya lain. Usaha itu antara lain dilakukan Panuti Sujiman
dalam meneliti keaslian puisi-puisi Chairil Anwar. Demikian pula A Teuw yang meneliti bagaimana
terjadinya perubahan novel-nevel terbitan Balai Pustaka sebelum dan sesudah kemerdekaan.

Keragaman karya klasik itu dapat ditinjau dari sisi bidang ilmu, yakni naskah-naskah yang berisi teks
sejarah, naskah-naskah keagamaan, naskah-naskah bersisi ajaran moral, naskah-naskah sains, dan
naskah-naskah kesusastraan. Sebagai contoh, Naskah Serat Margamulya bisa dikategorikan naskah
sejarah dan serat piwulang (ajaran moral), Naskah Tinilo Paita, Geguritan I Ketut Bagus termasuk naskah
sejarah agama, Naskah Isro Mikraj, dan Serat Suluh Resi Driya berisi ajaran agama/ Tasauf.

Dilihat dari jenis pengungkapannya, naskah klasik itu ada yang berisi prosa, drama, maupun puisi. Dari
delapan naskah klasik yang dijadikan objek studi proposal yang kami baca, semuanya berbentuk puisi.
Naskah Syair Nasuha berbentuk syair; Naskah I Ketut Bagus berbentuk Geguritan; Serat Margamulya, Isro
Mikraj, dan Babad Kanjeng ratu Beruk berbentuk tembang mocopat; dan naskah Serat Resi Driya
berbentuk suluk.

Kandungan tiap naskah pun beraneka macam. Salah satu contohnya adalah guguritan. Guguritan menurut
kandungan isinya dibedakan menjadi 5 kelompok, yaitu (1) kelompok wariga, “nasakah yang memuat
ajaran tentang dewasa’,yaitu hari-hari yang baik atau buruk untuk melakukan sesuatu, (2) kelompok
cerita (kisahan) yang meliputi (a) cerita magis, (b) cerita percintaan, (c) cerita jenaka, (d) cerita tentang
kritik sosial, (3) kelompok niti, yaitu ilmu tentang kepemimpinan, (4) kelompok ilmu bahasa, dan (5)
kelompok uwug.

Ragam objek filologi bisa pula dilihat dari jenis bahasanya. Sesuai dengan asal daerahnya, tiap naskah
menggunakan bahasa daerah di mana naskah itu berasal. Naskah Jauhara Molabi diungkapkan dalam
bahasa Wolio (Sulawesi Tenggara) dengan aksara Arab-Melayu. Syair Nasuha menggunakan bahasa
Minangkabau, Geguritan I Ketut Bagus menggunakan bahasa Bali Kuno. Serat Margamulya, Serat Resi
Driya, Isro Mikraj, dan Babad Kanjeng ratu Beruk berbahasa Jawa.

Bentuk tulisan ada yang beraksara latin, arab melayu, maupun Jawa. Variasi bentuk tulisan beraneka pula,
antara lain ada yang ngetumbar (bulat miring) dan ada yang mboto sarimbat (segi empat tegak).

E.Hasil Filologi

Hasil kerja filologi adalah tersedianya naskah-naskah yang autoritatif sebagai bahan kajian untuk
masyarakat dari berbagai bidang ilmu. Sekarang ini naskah-naskah hasil kerja para filolog telah banyak
diterbitkan. Sebagai contoh, Hikayat Indranata merupakan karya sastra Indonesia lama berbahasa melayu
setelah memalui proses pengkajian filologis oleh Mohamad Fanani, Nikmah Sunardjo, dan Dr. Nafron
Hasjim telah diterbitkan oleh Pusat Bahasa dalam bentuk buku.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Departemen Pendidikan Nasional) telah banyak
menerbitkan naskah-naskah tersebut, khususnya naskah-naskah yang berasal dari daerah-daerah di
nusantara. Selain pemerintah Indonesia, penerbitan hasil penelitian filologis naskah klasik nusantara juga
telah lama dilakukan oleh pemerintahan Hindia Belanda.

F.Manfaat Filologi

Secara umum manfaat filologi adalah menjaga kelestarian warisan luhur nenek moyang yang terkanding
dalam naskah-naskah klasik. Dengan filologi naskah-naskah yang diambang kerusakan bisa diselamatkan.
Lebih jauh dari itu hasil kerja filologi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dari berbagai bidang pekerjaan
dan cabang ilmu untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan mereka di bidangnya masing-masing.

Dilihat dari pelestarian dan pengembangan budaya dan sastra daerah, filologi bernilai strategis. Objek studi
filologi berasal dari berbagai daerah di nusantara yang dengan sendirinya membantu pelestarian dan
pengembangan budaya dan sastra daerah. Rekonstruksi historis jadi mungkin dilakukan karena hasil kerja
filologi. Selain rekonstruksi historis, adanya hasil kerja filologi bisa dijadikan dasar pemahaman akan
kebudayaan bangsa Indonesia sebagai suatu pemahaman yang bisa dipertanggung jawabkan secara
moral karena ditunjang oleh akar argemen yang kuat secara historis.

Kajian naskah lama bermanfaat bagi sumbangan kesusastraan Indonesia khususnya dan kesusastraan
dunia umumnya baik dalam kajian sejarah sastranya maupun teori sastranya. Dengan ditemukannya
naskah-naskah lama dan masih dalam keadaan baik dan terawat akan menjadikan khasanah sastra
nusantara semakin kaya, menambah kekuatan sejarah kesusastraan di Indonesia dan mengaitkan pada
adanya sumbangan pemikiran melalui bidang sastra dalam penyebaran dan identitas keagamaan di
Indonesia serta memperkenalkan kekayaan budaya dan kesustraan berbagai daerah di Nusantara yang
pernah berkembang di Indonesia.

Hasil filologi juga sangat bermanfaat para peneliti. Hasil penelitian filologi bisa dimanfaatkan untuk
penelitian di bidang sastra, bahasa, filsafat, atau bidang ilmu lain. Dari sisi pengembagan budaya,
penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk pengembagan budaya daerah yang pada akhirnya akan
mengembangkan budaya nasional.

Manfaat-manfaat khusus yang dapat dinikmati dari hasil kerja filologi antara lain:

a.Untuk bidang bahasa, memperkaya perbendaharaan kata (istilah) dalam rangka penyusunan kamus;
b.Untuk Bidang Sastra, mengenal, mempelajari, dan menikmati karya sastra Lama yang ada di nusantara;
c.Untuk Bidang Sejarah, dapat digunakan sebagai sumber data sejarah masa lalu, terutama tentang
sejarah kerajaan-kerajaan di nusantara;

d.Untuk Bidang Pendidikan, isi cerita dapat dijadikan suri teladan yang baik dan bermanfaat bagi
kehidupan masyarakat sekarang.