Anda di halaman 1dari 12

TUGAS PRIBADI

PERKEMBANGAN ARSITEKTUR 1

“BANGUNAN KOLONIAL MODERN DI INDONESIA”

NAMA : GADIES MOLANA

NIM : 5201170004

NAMA DOSEN : KIKI MARIA ST.,MT.

FAKULTAK TEKNIK

UNIVERSITAS BUNG KARNO

JAKARTA, 2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa saya juga mengucapkan banyak
terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan
sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya, saya yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Jakarta, 2019

Gadies Molana

2
DAFTAR ISI
JUDUL ............................................................................................................................................................ 1
KATA PENGANTAR......................................................................................................................................... 2
DAFTAR ISI..................................................................................................................................................... 3
BAB I .............................................................................................................................................................. 4
PENDAHULUAN ......................................................................................................................................... 4
1.1. Latar Belakang ........................................................................................................................... 4
1.2. Ruang Lingkup Survey ............................................................................................................... 4
1.3. Tujuan dan Manfaat .................................................................................................................. 4
BAB II ............................................................................................................................................................. 5
PEMBAHASAN ........................................................................................................................................... 5
2.1. Pengertian Arsitektur Kolonial Modern ......................................................................................... 5
2.2. Masuknya Arsitektur Kolonial Modern (Transisi) Di Indonesia...................................................... 5
2.3 Ciri ciri Arsitektur Kolonial Modern ................................................................................................ 6
2.4. Bangunan Koloonial Modern Di Indonesia .................................................................................... 8
BAB III .......................................................................................................................................................... 12
PENUTUP ................................................................................................................................................. 12
3.1 Kesimpulan .................................................................................................................................... 12
3.2 Saran ............................................................................................................................................. 12

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Perubahan bentuk dan gaya dalam dunia arsitektur, sering didahului dengan perubahan sosial
yang terjadi dalam masyarakatnya. Peralihan dari abad 19 ke abad 20 di Hindia Belanda dipenuhi oleh
banyak perubahan dalam masyarakatnya. Modernisasi dengan penemuan baru dalam bidang teknologi
dan perubahan sosial akibat dari kebijakan politik pemerintah kolonial waktu itu juga mengakibatkan
perubahan bentuk dan gaya dalam bidang arsitektur. Perubahan gaya arsitektur pada jaman transisi atau
peralihan (antara th. 1890 sampai 1915), dari gaya arsitektur “Indische Empire” (abad 18 dan 19) menuju
arsitektur “Kolonial Modern” (setelah th. 1915) sering terlupakan. Mungkin karena waktunya relatif
singkat (1890-1915), maka sering dilupakan orang. Hal yang sama terjadi pada arsitektur di Indonesia
setelah kemerdekaan, antara th. 1950 an sampai th. 1960 an, timbul bentuk atau gaya yang disebut
sebagai “arsitektur jengki”, yang relatif kurang dikenal dalam perjalanan arsitektur Indonesia setelah
kemerdekaan.

Gaya arsitektur pada jaman transisi (th.1890-1915), sangat sedikit sekali terdokumentasi. Buku
‘Kromoblanda” merupakan salah satu buku yang paling banyak mendokumentasikan arsitektur dari jaman
peralihan (abad 19 ke 20) tersebut. Sedangkan pembahasan secara sekilas terdapat pada disertasi Dr.
Charles Thomas Nix (1949), yang berjudul ”Bijdragen Tot Vormleer Van De Stedebouw In Het Bijzonder
Voor Indonesia” (Sumbangan Tentang Pengetahuan Bentuk Dalam Perancangan Kota Terutama di
Indonesia). Nix (1949), bahkan menyebut gaya arsitektur transisi (1890-1915), itu sebagai jiplakan gaya
arsitektur Romatiek di Eropa.

1.2. Ruang Lingkup Survey

1. Apa yang dimaksud dengan arsitektur Klonial modern?


2. Apa saja ciri dari arsitektur colonial modern?
3. Bagaimana proses masuknya arsitektur ckolonial modern (transisi) di Indonesia?
4. Apa saja perbedaan yang menonjol dari Arsitektur Indische Empire (Abad 18-19), Arsitektur
Peralihan (1890-1915), Arsitektur Kolonial Modern (1915-1940)?

1.3. Tujuan dan Manfaat

1. Untuk mengetahui Bangunan Kolonial Modern.


2. Untuk memberi wawasan mengenai perbedaan Arsitektur Kolonial dan Arsitektur Transisi
(Kolonial Modern).
3. Untuk mengetahui ciri ciri Arsitektur Kolonial Modern.
4. Untuk mengetahui sejarah masuknya Arsitektur Kolonial Modern di Indonesia.

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Arsitektur Kolonial Modern

Arsitektur Kolonial Modern atau sering disebut sebagai Arsitektur transisi pada hakekatnya
merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah perkembangan arsitektur secara keseluruhan, Pada
tahun 1920 an muncul suatu gaya arsitektur yang disebut sebagai arsitektur Indo Eropa (Indo Europeesche
Stijl). Bentuk arsitektur ini merupakan perpaduan antara arsitektur modern Eropa dan arsitektur setempat
. Arsitektur transisi biasanya berlangsung sangat singkat, sehingga sering terlupakan dalam catatan
sejarah (arsitektur). Meskipun demikian bentuk arsitektur transisi yang berlangsung cukup singkat
tersebut sangat menarik untuk dipelajari, karena arsitektur transisi pada hakekatnya merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari sejarah perkembangan arsitektur secara keseluruhan. Bentuk arsitektur transisi
yang dibahas kali ini adalah bentuk arsitektur di Hindia Belanda dari akhir abad 19 sampai awal abad ke
20. Pada abad ke 18 dan 19, Arsitektur di Hindia Belanda didominasi oleh gaya yang disebut sebagai
“Indische Empire”, “Indische Empire” merupakan Gaya arsitektur di Hindia Belanda sepanjang abad ke 19,
Perlu diketahui disini bahwa perkembangan gaya arsitektur pada akhir abad ke 18 di Jawa sudah menjurus
kearah model-model rumah bangsawan Jawa dengan atap joglo yang lebih terbuka dan nyaman untuk
hunian di daerah tropis lembab seperti di Jawa. Tapi Daendels datang dengan keangkuhannya, serta
memperkenalkan arsitektur gaya “Empire” Perancis dari daratan Eropa. Sebelum munculnya gaya
arsitektur yang sering disebut sebagai ‘”kolonial modern‟ sesudah tahun 1915, terdapat apa yang disebut
sebagai gaya arsitektur transisi.

Menurut Nix(1949) dalam Hartono dan Handinoto, Arsitektur Transisi mempunyai ciriciri seperti
adanya teras depan (voor galerij) dan teras belakang (achter galerij) serta ruang utama (central room),
masih mendominasi denahdenah arsitektur peralihan ini. Pada rumahrumah yang berukuran besar, juga
masih terdapat bangunan samping yang sering disebut sebagai „paviliun‟. Semangat perubahan justru
terletak pada tampak bangunannya. Pada arsitektur transisi ini sudah tidak tampak kolomkolom atau pilar
dengan gaya Yunani atau Romawi.

2.2. Masuknya Arsitektur Kolonial Modern (Transisi) Di Indonesia

Peralihan dari abad 19 ke abad 20 di Hindia Belanda dipenuhi oleh banyak perubahan dalam
masyarakatnya. Modernisasi dengan penemuan baru dalam bidang teknologi dan perubahan sosial akibat
dari kebijakan politik pemerintah kolonial waktu itu juga mengakibatkan perubahan bentuk dan gaya
dalam bidang arsitektur. Perubahan gaya arsitektur pada jaman transisi atau peralihan antara tahun 1890-
1915 dari gaya arsitektur “Indische Empire” diabad 18 dan 19 menuju arsitektur “Kolonial Modern”
setelah tahun 1915. Nix (1949) dalam bukunya yang berjudul Bijdragen Tot Vormleer Van De Stedebouw
In Het Bijzonder Voor Indonesia” menyebutkan gaya Arsitektur Transisi (1890-1915), itu sebagai jiplakan
dari gaya Arsitektur Romatiek di Eropa.

5
2.3 Ciri ciri Arsitektur Kolonial Modern

Berikut merupakan perbedaan ciri ciri pada Arsitektur Kolonial abad 18 sampai abad 20 :

Indische Empire (Abad Arsitektur Peralihan Arsitektur Kolonial


18-19) (1890-1915) Modern (1915-1940)

Denah Susunan ruangnya khas Denah masih mengikuti Denah lebih bervariasi,
merupakan tipologi gaya ‘Indischee sesuai dengan anjuran
“Indische empire” yang Empire’, simetri penuh . kreatifitas dalam
ditandai dengan Pemakaian teras arsitektur modern.
denahnya berbentuk keliling pada denahnya Bentuk simetri banyak
simetri penuh. masih dipakai dihindari. Pemakaian
Ditengah terdapat apa teras keliling bangunan
yang disebut sebagai sudah tidak dipakai lagi.
“Central Room” yang Sebagai gantinya sering
terdiri dari kamar tidur dipakai elemen
utama dan kamar tidur penahan sinar.
lainnya. “Central
Room” tersebut
berhubungan langsung
teras depan dan teras
belakang (Voor Galerij
dan Achter Galerij). .
Adanya teras yang
mengelilingi denah
bangunan, untuk
menghindari masuknya
sinar matahari langsung
dan tampiasnya air
hujan. .
Tampak . Didominir oleh tampak Ada usaha untuk Berusaha untuk
barisan kolom gaya menghilangkan kolom menghilangkan kesan
Yunani dengan teras gaya Yunani pada tampak arsitektur gaya
depan (voor galerij) dan tampaknya. . Gevel- “indische empire”.
teras belakang (achter gevel pada arsitektur Tampak tidak symetri
galerij). Bentuk tampak Belanda yang terletak lagi
yang simetri ditepi sungai muncul
merupakan ciri khas kembali. Ada usaha . Tampak bangunan
arsitektur pada jaman untuk memberikan lebih mencerminkan
ini. kesan romantis pada “Form Follow Function”

6
tampak.. . Juga ada (bentuk mengikuti
usaha untuk membuat fungsi) atau “Clean
menara (tower) pada Design”
pintu masuk utama ,
seperti yang terdapat
pada banyak gereja
calvinist di Belanda.
Pemakaian Bahan . Bahan bangunan Pemakaian bahan Bahan bangunan beton
Bangunan konstruksi utamanya bangunan utama masih mulai diperkenalkan
adalah batu bata (baik seperti sebelumnya, terutama pada
kolom maupun yaitu bata dan kayu. bangunan bertingkat.
tembok) dan kayu, Pemakaian kaca Demikian juga dengan
terutama pada kuda- (terutama pada pemakaian bahan
kudanya, kosen jendela) juga masih bangunan kaca yang
maupun pintunya. sangat terbatas cukup lebar (terutama
Pemakaian bahan kaca untuk jendela)
belum banyak dipakai
Sistim Konstruksi dan Sistim konstruksi : Sistim konstruksi: Sistim konstruksi:
Atap Dinding pemikul, Dinding Adanya bahan beton
dengan barisan kolom pemikul.,dengan gevel- memungkinkan sistim
di teras depan dan gevel depan yang konstruksi rangka,
belakang,menggunakan mencolok. sehongga dinding
sistim konstruksi kolom Atap: bentuk atap hanya berfungsi
dan balok. pelana dan perisai sebagai penutup.
Atap: Konstruksi atap dengan menutup Atap: Masih didominasi
Perisai, dengan genting masih banyak oleh atap Pelana atau
penutup atap genting dipakai. Ada usaha perisai, dengan bahan
untuk memakai penutup genting atau
konstruksi tambahan sirap. Tapi sebagian
sebagai ventilasi pada bangunan dengan
atap. konstruksi beton,
memakai atap datar
dari bahan beton. Yang
belum pernah ada pada
jaman sebelumnya.
Lain-Lain Hampir tidak ada .Ada kesan untuk . Ada perbedaan yang
perbedaan dalam membuat tampak mencolok dalam denah
denah atau tampak kelihatan lebih maupun tampak dari
pada bangunan rumah romantis, dengan cara- bangunan rumah
tinggal atau bangunan cara membuat gevel tinggal dan bangunan
fasilitas umum . Hampir fasilitas umum. Hal ini

7
tidak dikenal bangunan dengan hiasan serta disebabkan karena
bertingkat (maksimum atap pelana arsitektur kolonial
berlantai dua itupun modern dirancang
jarang). Mayoritas berdasarkan fungsi
bangunan hanya ruang yang akhirnya
berlantai satu. mempengaruhi
bentuknya

2.4. Bangunan Koloonial Modern Di Indonesia

2.4.1. Metropole

 Lokasi :

Bangunan ini berada di Komplek


Megaria, Jalan Pegangsaan No.21, Pegangsaan,
Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah khusus
Ibukota Jakarta 10320.

 Sejarah :

Bangunan yang dibangun pada tahun


1932 dengan nama Bioscoop Metropool yang berkapasitas 1700 penonton ini merupakan bioskop
terbesar dan tertua yang masih ada sampai sekarang. Dengan arsitektur bergaya Art Deco dan dengan
luas 11.632 𝑚2

Pada tahun 1951 bioskop ini dimiliki oleh PT. Bioskop Metropole. Pada tahun 1960, Presiden
Soekarno memerintahkan pergantian nama menjadi Bioskop Megaria.

Pada tahun 1984, konsep Cineplex (membagi satu gedung menjadi beberapa kompleks teater)
mulai dikenal di Indonesia, pertama kali diterapkan oleh Teater Kartika Chandra. Bioskop Megari
mengikuti strategi ini dan menambah satu teater tambahan di belakang gedung utama. Namun strategi
ini tak sesukses bioskop Kartika Chandra, dan akhirnya Bioskop ini Bangkrut.

Kemudian Pada tahun 1989 gedung bioskop ini disewakan oleh PT Bioskop Metropole kepada
jaringan 21 Cineplex, yang juga mengubah rancangan dalam (interior) gedung itu dengan membagi ruang
Bioskop utama menjadi 3 Bioskop mini dan satu teater di gedung tambahan, dengan kapasitas kurang dari
170 kursi tiap ruangannya. Namanya pun berganti menjadi Megaria 21. Gedung ini dinyatakan sebagai
Cagar Budaya kelas A yang dilindungi dan tidak boleh dibongkar oleh Gubernur DKI Jakarta pada tahun
1993.

8
 Detail bangunan

-Tampak Depan -Tampak Samping

Bangunan Metropole ini menggunakan Bukaan yang cukup lebar sesuai dengan
salah satu ciri Arsitektur Kolonial Modern.

9
2.4.2. Toko Roti Victoria Blok M

 Lokasi :
Jl. Sultan Hasanuddin dalam, RT.3/RW.1, Melawai Kebayoran Baru,
Kota Jakarta Selatan, daerah khusus Ibu Kota Jakarta 12160.
 Sejarah :
Bangunan yang dulunya menjadi tempat nongkrong anak remaja di
abad 19 an di daerah blook M ini, dibangun sebua toko roti bernama Toko
Roti Victoria yang di rancang oleh Arsitektur Belanda. Namun tidak ada data
yang jelas mengenai bangunan ini. Bangunan took roti ini sekarang menjadi
terbengkalai dengan adanya beberapa penjual kopi dan makanan ringan
yang berjualan di depan bangunan tersebut.

 Detail Bangunan

Tampak Depan Tampak Samping

10
11
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Bangunan Kolonial Modern sering disebut juga sebagai Arsitektur Transisi. Dimana Arsitektur
Kolonial Modern berkembang pada zaman peralihan di abad 19 sampai abad 20. Beberapa ciri Arsitektur
Kolonial Modern yaitu Denah lebih bervariasi, sesuai dengan anjuran kreatifitas dalam arsitektur modern,
bentuk simetri banyak dihindari, pemakaian teras keliling bangunan sudah tidak dipakai lagi. Sebagai
gantinya sering dipakai elemen penahan sinar.

Banyak sekali contoh bangunan Kolonial modern di Indonesia seperti contohnya bangunan yang
telah diteliti (survey) dalam makalah ini yaitu bangunan Metropole Cikini, Blok M Square, dan took roti
Victoria.

3.2 Saran

Dengan masih banyaknya Bangunan Kolonial Modern yang masih berdiri hingga saat ini, patutlah
sebagai masyarakat dapat menjaga serta melestarikannya. Seperti menjadikan bangunan tersebut
sebagai Cagar Budaya sehingga bangunan tersebut tidak punah atau tidak dirobohkan untuk kepentingan
tertentu.

12