Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Al-Qur’an adalah firman Allah yang berfungsi sebagai mukjizat (bukti


kebenaran atas kenabian muhammad) yang diturunkan kepada nabi Muhammad yang
tertulis di dalam mushaf-mushaf, yang diriwayatkan dengan jalan mutawātir, dan
yang membacanya dipandang beribadah. Al-Qur’an diturunkan Allah kepada
manusia untuk dibaca dan diamalkan. Ia telah terbukti menjadi pelita agung dalam
memimpin manusia mengurangi perjalanan hidupnya. Tanpa membaca manusia
tidak akan mengerti akan isinya dan tanpa mengamalkannya manusia tidak akan
dapat merasakan kebaikan dan keutamaan petunjuk Allah dalam Al-Qur’an.Di
eraglobalisasi ini, banyak sekali pergeseran nilai dalam kehidupan masyarakat
dikarenakan para generasi kita masih banyak yang belum mampu untuk membaca
Al-Qur’an secara baik apalagi memahaminya.

Secara etimologi kata dakwah sebagai bentuk masdar dari kata yang
artinya adalah memanggil, mengundang, mengajak, menyeru, mendorong dan
memohon. Secara terminologi, menurut Muhammad Nasir, dakwah adalah usaha
menyerukan dan menyampaikan kepada perorangan manusia dan seluruh umat
tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia ini yang meliputi amar
ma’ruf nahi munkar, dengan berbagai macam media dan cara yang diperoleh akhlak
dan membimbing pengalamannya dalam perikehidupan perseorangan, berumah
tangga, bermasyarakat dan bernegara.

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai kenyataan bahwa tata cara
memberikan sesuatu lebih penting dari sesuatu yang diberikan itu sendiri. Yang
mana kita ibaratkan bagaikan semangkok teh pahit dan sepotong ubi goreng yang
disajikan dengan cara sopan,ramah dan tanpa sikap yang dibuat-buat,akan lebih
terasa enak disantap ketimbang seporsi makanan lezat,mewah dan mahal
harganya,tetapi disajikan dengan cara kurang ajar,tidak sopan dan menyakitkan hati
orang yang menerimanya. Gambaran diatas membersitkan ungkapan bahwa tata

1
cara atau metode lebih penting dari materi,yang dalam bahasa arab dikenal dengan
“Al-Thariqah abammu min al-maddah”. Aktivitas dakwah pada awalnya hanyalah
merupakan tugas sederhana yakni kewajiban untuk menyampaikan apa yang
diterima dari rasullullah SAW,walaupun hanya satu ayat.

B. Rumusan Masalah

1. Apa sajakah surat yang terkandung dalam seruan untuk menyebarkan ilmu ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui surat apa saja yang terkandung dalam seruan untuk
menyebarkan ilmu.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Seruan Untuk Menyebarkan Ilmu


Secara bahasa ‫( العلم‬al-ilmu) adalah lawan dari ‫( الجهل‬al-jahl atau kebodohan,
yaitu mengetahui sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, dengan
pengetahuan yang pasti. Secara istilah dijelaskan oleh sebagian ulama bwhwa ilmu
adalah ma’rifah (pengetahuan) sebagai lawan dari al-jahl(kebodohan). Menurut
ulama lainya, ilmu adalah sesuatu yang sudah jelas, sehingga tidak perlu untuk di
berikan definisi atau pengertian lagi. Ilmu adalah pengetahuan yang sudah
dikelompokkan, disistematisasi, dan diinterpretasikan sehingga menghasilkan suatu
kebenaran objektif serta sudah diuji kebenarannya secara ilmiah.

Dari Abu Umamah al-Baahili radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu


‘alaihi wa sallam bersabda,

ِ ‫ت َواأل َ ْر‬
‫ َحتَّى النَّ ْملَةَ فِى ُج ْح ِرهَا‬،‫ض‬ َّ ‫َّللاَ َو َمالَئِ َكتَهُ َوأ َ ْه َل ال‬
ِ ‫س َم َوا‬ َّ ‫ِإ َّن‬
‫اس ْال َخي َْر‬
ِ َّ‫صلُّونَ َعلَى ُمعَ ِلِّ ِم الن‬ َ ‫َو َحتَّى ْال ُح‬
َ ُ‫ لَي‬،‫وت‬

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat, serta semua makhluk di langit dan di
bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar
bershalawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu
agama) kepada manusia” (HR at-Tirmidzi dan Ath-Thabrani).
Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan seorang yang
mempelajari ilmu agama yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian menyebarkannya kepada umat manusia.
Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata, “Aku tidak mengetahui
setelah (tingkatan) kenabian, kedudukan yang lebih utama dari menyebarkan ilmu
(agama)”.
Dalam hadist lain yang semakna dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang

3
memahami ilmu (agama dan mengajarkannya kepada manusia) akan selalu
dimohonkan (kepada Allah Ta’ala) pengampunan (dosa-dosanya) oleh semua
makhluk yang ada di langit dan di bumi, termasuk ikan-ikan di lautan”.
Orang yang mengajarkan ilmu agama kepada manusia berarti telah
menyebarkan petunjuk Allah Ta’ala yang merupakan sebab utama terwujudnya
kemakmuran dan kesejahteraan alam semesta beserta semua isinya, oleh karena
itu semua makhluk di alam semesta berterima kasih kepadanya dan mendoakan
kebaikan baginya, sebagai balasan kebaikan yang sesuai dengan perbuatannya.
Para ulama yang menyebarkan ilmu agama adalah pewaris para Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam, karena merekalah yang menggantikan tugas para Nabi dan
Rasul ‘alaihis salam, yaitu menyebarkan petunjuk Allah Ta’ala dan menyeru
manusia ke jalan yang diridhai-Nya, serta bersabar dalam menjalankan semua itu,
maka merekalah orang-orang yang paling mulia kedudukannya di sisi Allah
Ta’ala setelah para Nabi dan Rasul ‘alaihis salam.

Intinya, ajarkanlah ilmu yang dimiliki walau satu ayat. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫بَ ِلِّغُوا َعنِِّى َولَ ْو آيَة‬

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari no. 3461).

B. Surat yang terkandung mengenai seruan untuk menyebarkan ilmu


1. Q.S. At-Taubah: 122

‫َو َما َكانَ ْال ُمؤْ ِمنُونَ ِليَ ْن ِف ُروا َكافَّة ۚ فَلَ ْو ََل نَفَ َر ِم ْن ُك ِِّل فِ ْر َق ٍة‬
ِ ِّ‫طائِفَةٌ ِليَتَفَقَّ ُهوا فِي الد‬
‫ِين َو ِليُ ْنذ ُِروا قَ ْو َم ُه ْم إِذَا َر َجعُوا‬ َ ‫ِم ْن ُه ْم‬
َ‫ِإلَ ْي ِه ْم لَ َعلَّ ُه ْم َي ْحذَ ُرون‬
Artinya: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang).
Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk
memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan

4
kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat
menjaga dirinya.” (Q.S. At-Taubah: 122).

Dalam ayat ini, Allah swt. menerangkan bahwa tidak perlu semua orang
mukmin berangkat ke medan perang, bila peperangan itu dapat dilakukan oleh
sebagian kaum muslimin saja. Tetapi harus ada pembagian tugas dalam masyarakat,
sebagian berangkat ke medan perang, dan sebagian lagi bertekun menuntut ilmu
dan mendalami ilmu-ilmu agama Islam supaya ajaran-ajaran agama itu dapat
diajarkan secara merata, dan dakwah dapat dilakukan dengan cara yang lebih efektif
dan bermanfaat serta kecerdasan umat Islam dapat ditingkatkan.

Sehubungan dengan ayat ini, Al-Aufi meriwayatkan dari dari Ibnu Abbas, dia
berkata: Dari setiap penduduk Arab, ada sekelompok orang yang menemui
Rasululloh sholallohu ‘alaihi wasallam. Mereka menanyakan kepada beliau
berbagai persoalan agama yang mereka kehendaki dan mendalaminya. Mereka
berkata,” Wahai Rasululloh , apa yang engkau perintahkan kepada kami yang harus
kami lakukan dan bertahukan kepada keluarga kami yang bila kami kembali?” Ibnu
Abbas berkata: maka Nabi, menyuruh mereka menaati Rasululloh, menyampaikan
berita kepada kaumnya ihwal kewajiban mendirikan sholat dan zakat. Jika golongan
ini telah sampai kepada kaumnya, mereka berkata: “ Barangsiapa masuk Islam,
maka dia termasuk kelompok kami.” Mereka memberi peringatan sehingga ada
seseorang yang berpisah dengan ayah dan ibunya. Nabi Muhammad sholallohu
‘alaihi wasallam memberitahukan kaumnya jika mereka telah kembali ke kampung
halamannya: memperingtkan dengan neraka dan menggembirakan dengan surga.

2. QS. An-Nahl:43

ِ ُ‫س ْلنَا ِم ْن قَ ْب ِل َك ِإ ََّل ِر َجاَل ن‬


‫وحي ِإلَ ْي ِه ْم فَا ْسأَلُوا أ َ ْه َل ال ِذِّ ْك ِر ِإ ْن ُك ْنت ُ ْم ََل‬ َ ‫َو َما أ َ ْر‬
َ‫ت َ ْعلَ ُمون‬
Artinya : “Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki
yang kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang
mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” ( QS. An-Nahl : 43).

5
Isi Kandungan : Dan tidaklah kami mengutus di tengah orang-orang
terdahulu sebelummu (wahai rasul), kecuali utusan-utusan dari kaum lelaki bangsa
manusia, bukan dari kalangan malaikat, yang kami berikan wahyu kepada mreka.
Dan bila kalian (wahai kaum musyrikin quraisy), tidak mengimaninya, maka
tanyakanlah kepada umat-umat terdahulu yang diberi kitab suci, supaya mereka
mengabarkan kepada kalian bahwa sesungguhnya nabi-nabi terdahulu berwujud
manusia-manusia biasa juga, jika kalian tidak mengetahui bahwasanya mereka itu
manusia. Ayat ini bersifat umum pada setiap masalah-masalah agama, jika seorang
manusia tidak memiliki pengetahuan tentangnya, hendaknya ia bertanya kepada
orang yang mengetahuinya dari ulama-ulama yang berilmu mendalam.

3. QS. Al-Anbiya : 7

ِ ُ‫س ْلنَا قَ ْبلَ َك ِإ ََّل ِر َجاَل ن‬


‫وحي ِإلَ ْي ِه ْم ۖ فَا ْسأَلُوا أ َ ْه َل ال ِذِّ ْك ِر ِإ ْن ُك ْنت ُ ْم ََل‬ َ ‫َو َما أ َ ْر‬
َ‫ت َ ْع َل ُمون‬
Artinya : “Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan
beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah
olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui”.
Isi Kandungan :
Dan Kami tidak mengutus rasul sebelummu (wahai rasul) kecuali orang-orang
lelaki dari bangsa manusia. Kami wahyukan kepada mereka wahyu. Kami tidak
pernah mengutus malaikat. Maka bertanyalah kalian (wahai orang-orang kafir
Makkah) kepada orang-orang yang berilmu terhadap kitab-kitab terdahulu yang
telah diturunkan, jika kalian memang tidak mengetahuinya.
Ayat ini juga menjelaskan bahwa meskipun ayat ini sebabnya khusus, yakni untuk
bertanya keadaan para rasul kepada orang yang berpengetahuan (ahli ilmu), akan
tetapi ia umum, sehingga apabila seseorang tidak memiliki ilmu tentang masalah
agama yang ushul (dasar) maupun yang furu’ (cabang), maka ia diperintahkan
untuk bertanya kepada orang yang mengetahuinya. Dalam ayat ini tedapat perintah
belajar dan bertanya kepada ahlinya. Kita tidak diperintahkan bertanya kepada ahli
ilmu, kecuali karena ahli ilmu berkewajiban mengajarkan dan menjawab sesuai
yang mereka ketahui. Diperintahkan bertanya kepada ahli ilmu menunjukkan

6
dilarangnya bertanya kepada orang yang terkenal kebodohannya dan tidak berilmu,
dan larangan baginya untuk maju menjawab pertanyaan.

4. QS. Al- Baqarah : 146

َ َ ‫الَّذِينَ آت َ ْينَا ُه ُم ْال ِكت‬


‫اب يَ ْع ِرفُونَهُ َك َما يَ ْع ِرفُونَ أَ ْبنَا َء ُه ْم ۖ َو ِإ َّن فَ ِريقا ِم ْن ُه ْم‬
َ‫لَيَ ْكت ُ ُمونَ ْال َح َّق َو ُه ْم يَ ْعلَ ُمون‬

Artinya : “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab
(Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya
sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan
kebenaran, padahal mereka mengetahui.

Isi Kandungan :
Orang-orang yang kami berikan kepada mereka Taurat dan Injil dari kalangan para
ulama Yahudi dan para ulama Nasrani mereka mengenal Muhammad Shallallahu
Alaihi Wasallam sebagai utusan Allah dengan sifat-sifat yang tertuang dalam kitab-
kitab suci mereka layaknya mereka mengenal anak-anak mereka sendiri, dan
sesungguhnya sebagian dari mereka benar-benar menyembunyikan kebenaran
sedangkan mereka itu tahu kebenarannya dan kepastian sifat-sifatnya.

QS. Al- Baqarah : 159

ِ َّ‫ت َو ْال ُهدَ ٰى ِم ْن بَ ْع ِد َما بَيَّنَّاهُ ِللن‬


‫اس فِي‬ ِ ‫إِ َّن الَّذِينَ يَ ْكت ُ ُمونَ َما أ َ ْنزَ ْلنَا ِمنَ ْالبَيِِّنَا‬
َ‫الال ِعنُون‬ َّ ‫ب ۙ أُو ٰلَ ِئ َك َي ْل َعنُ ُه ُم‬
َّ ‫َّللاُ َو َي ْل َعنُ ُه ُم‬ ِ ‫ْال ِكتَا‬
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami
turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami
menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan
dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati
Isi Kandungan :

7
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang kami turunkan berupa
ayat-ayat yang nyata lagi menunjukkan tentang kenabian Muhammad Shalallahu
Wassalam dan apa yang dibawanya, yaitu para ulama Yahudi dan ulama Nasrani
dan orang-orang selain mereka yang menutup-nutupi apa yang Allah turunkan
sesudah Allah memperlihatkan kepada sekalian manusia di dalam Kitab Taurat dan
Injil, mereka itulah orang-orang yang diusir oleh Allah dari rahmat Nya, dan seluruh
makhluk berdoa supaya laknat ditimpakan kepada mereka itu.

5. Surat ali imran Qs 3: 187

َ ‫ّٰللاُ ِم ۡیثَاقَ الَّذ ِۡینَ ا ُ ۡوتُوا ۡال ِک ٰت‬


ِ َّ‫ب لَتُبَ ِینُنَّ ٗہ ِللن‬
‫اس َو ََل‬ ‫َو ا ِۡذ اَ َخذَ ہ‬
ُ ‫تَ ۡکت ُ ُم ۡون َٗہ ۫ فَنَبَذُ ۡوہُ َو َرآ َء‬
ۡ ‫ظ ُہ ۡو ِرہِ ۡم َو‬
ؕ‫اشت َ َر ۡوا بِ ٖہ ثَ َمنًا قَ ِل ۡی ًًل‬
َ ‫فَ ِب ۡئ‬
َ‫س َما یَ ۡشت َ ُر ۡون‬
Artinya: Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah
diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia,
dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke
belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit.
Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.
Isi Kandungan :
Dalam ayat ini Allah menegaskan kembali tentang perilaku orang-orang ahli kitab.
Allah telah mengambil perjanjian dari mereka agar mereka menerangkan isi kitab
tersebut kepada manusia, termasuk Rasulullah saw. Pada waktu itu, Rasulullah
menanyakan kepada mereka tentang isi kitab mereka. Sebenarnya Rasulullah tahu,
tetapi ini hanya untuk membuktikan sejauh mana mereka mau menerima kebenaran.
Mereka tidak mau mengatakan yang sebenarnya, seperti tentang sifat-sifat atau
kabar gembira tentang kedatangan Rasulullah Saw. Mereka tutup rapat semuanya,
padahal mereka tahu persis tentang hal itu. Pengetahuan mereka tentang hal itu jauh
melebihi pengetahuan mereka terhadap anak-anak mereka. Akan tetapi mereka
melemparkan -bukan sekedar menaruhkannya- apa yang mereka ketahui di
belakang mereka. Dan ini mereka lakukan hanya karena kepentingan duniawi.
Sungguh amat buruk apa yang mereka pertukarkan itu. Karena seharusnya orang

8
yang berakal sehat, yang berhati jernih tahu bahwa ini adalah barang yang benar,
barang yang baik, kenapa ditukar dengan barang yang jelek. Ini adalah bisnis,
transaksi yang sangat rugi.

6. Surat An Nisa:37

‫اس ِب ۡالبُ ۡخ ِل َو یَ ۡکت ُ ُم ۡونَ َم ۤا ٰا ٰت ُہ ُم ہ‬


‫ّٰللاُ ِم ۡن‬ َ َّ‫الَّذ ِۡینَ یَ ۡب َخلُ ۡونَ َو یَ ۡا ُم ُر ۡونَ الن‬
َ َ‫ض ِل ٖہؕ َو اَ ۡعتَ ۡدنَا ِل ۡل ٰک ِف ِر ۡین‬
‫عذَابًا ُّم ِہ ۡینًا‬ ۡ َ‫ف‬
Artinya: (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan
menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. dan
Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.
Isi Kandungan :
Orang Bani Israil bakhil terhadap ilmu yang mereka ketahui. Mereka (Yahudi dan
Nashara) lebih dulu mendapatkan wahyu dari Allah berupa Taurat dan Injil. Dalam
kitab mereka sudah disebutkan karakter dan sifat-sifat Rasulullah dengan jelas,
sebagaimana pengakuan Abdullah bin Salam setelah masuk Islam, dia mengatakan:
“Sungguh kami sudah mengetahui sifat atau ciri-ciri Rasulullah saw dengan sangat
jelas dan jeli pada kitab kami lebih dari kami mengenali anak-anak kami.” Akan
tetapi mereka tidak mau mejelaskan karekter Rasulullah saw tersebut dengan jujur.
Mereka tidak mau menyampaikan kepada orang-orang, bahkan cenderung
menutupi, dengan tujuan mempertahankan status mereka, mempertahankan posisi
mereka dalam masyarakat.

Surat An nissa Qs 4: 44

ِ ‫َص ۡيبا ِ ِّمنَ ۡال ِک ٰت‬


‫ب يَ ۡشت َ ُر ۡونَ الض َّٰللَ َۃ َو يُ ِر ۡيد ُۡونَ ا َ ۡن‬ ِ ‫اَلَ ۡم ت َ َر اِلَی الَّذ ِۡينَ ا ُ ۡوت ُ ۡوا ن‬
َّ ‫ضلُّوا ال‬
‫س ِب ۡي َل‬ ِ َ‫ت‬
Artinya : Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bahagian dari
Al Kitab (Taurat)? Mereka membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk) dan
mereka bermaksud supaya kamu tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar).
Isi Kandungan :

9
Allah menceritakan perihal orang-orang Yahudi semoga laknat Allah terus-
menerus menimpa mereka sampai hari kiamat, bahwa mereka membeli kesesatan
dengan petunjuk, yakni menukar petunjuk dengan kesesatan; dan berpaling dari
wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya, serta menyembunyikan
pengetahuan yang ada di tangan mereka dari para nabi terdahulu mengenai sifat-
sifat Nabi Muhammad Saw. dengan tujuan memperoleh imbalan harga yang sedikit
berupa harta duniawi yang fana.

7. Surat Al Araf Qs 7: 169

‫ض ٰہذَا ۡاَلَ ۡد ٰنی َو‬ َ ‫ب َی ۡا ُخذُ ۡونَ َع َر‬ َ ‫ف َّو ِرثُوا ۡال ِک ٰت‬ ٌ ‫ف ِم ۡۢۡن َبعۡ دِہ ِ ۡم خ َۡل‬
َ َ‫فَ َخل‬
‫ض ِم ۡثلُ ٗہ َی ۡا ُخذُ ۡوہُؕ ا َ َل ۡم یُ ۡؤخ َۡذ‬
ٌ ‫سیُ ۡغفَ ُر لَنَا ۚ َو ا ِۡن ی َّۡاتِ ِہ ۡم َع َر‬
َ َ‫َیقُ ۡولُ ۡون‬
ِ ‫اق ۡال ِک ٰت‬
‫ب ا َ ۡن‬ ُ َ ‫س ۡوا َما فِ ۡی ِہؕ َو َعلَ ۡی ِہ ۡم ِم ۡیث‬ ُ ‫ّٰللاِ ا ََِّل ۡال َح َّق َو دَ َر‬‫ََّل یَقُ ۡولُ ۡوا َعلَی ہ‬
ٰ ۡ ‫َّار‬
َ‫اَل ِخ َرۃ ُ خ َۡی ٌر ِللَّذ ِۡینَ یَتَّقُ ۡونَ ؕ اَفَ ًَل ت َعۡ ِقلُ ۡون‬ ُ ‫الد‬
Artinya: Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi
Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata:“Kami
akan diberi ampun”.Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia
sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga).Bukankah
perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan
mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari
apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih bagi mereka yang
bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?
Isi Kandungan:
Dalam ayat ini Allah swt. menerangkan suatu angkatan dari Yahudi yang
menggantikan golongan bangsa Yahudi tersebut di atas. Mereka adalah bangsa
Yahudi yang hidup di zaman Nabi Muhammad saw. mereka mendapati Kitab
Taurat dari nenek moyang mereka dan menerima begitu saja segala apa yang
tercantum di dalamnya. Hukum halal dan haram, perintah dan larangan dalam kitab
itu mereka ketahui, tetapi mereka tidak mengamalkannya. Mereka mengutamakan
kepentingan duniawi dengan segala kemegahan yang akan lenyap itu. Mereka
mencari harta benda dengan usaha-usaha yang lepas dari hukum moral dan agama,

10
mengembangkan riba, makan suap, pilih kasih dalam hukum dan lain-lain
sebagainya, karena mereka berpendapat bahwa Allah swt. kelak akan mengampuni
dosa perbuatan mereka itu.
Orang-orang Yahudi itu menganggap dirinya kekasih Allah dan bangsa
pilihan. Anggapan demikian yang menyesatkan pikiran mereka. Maka setiap ada
kesempatan untuk memperoleh keuntungan duniawi seperti uang suap, riba dan
sebagainya, tidaklah mereka biarkan luput dari mereka. Allah swt. kemudian
menegaskan kesalahan pendapat dan anggapan mereka. Mereka berkepanjangan
dalam kesesatan dan tenggelam dalam nafsu kebendaan. Allah mengungkapkan
adanya ikatan perjanjian antara mereka dengan Tuhan yang tercantum dalam
Taurat, bahwa mereka itu tidak akan mengatakan terhadap Tuhan kecuali
kebenaran. Tetapi mereka memutarbalikkan isi Taurat, karena didorong oleh
keinginan untuk memperoleh keuntungan duniawi padahal mereka telah memahami
dengan baik isi Taurat itu dan sadar akan kesalahan perbuatan itu. Seharusnya
mereka lebih mengutamakan kepentingan ukhrawi dengan berbuat sesuai petunjuk
Tuhan dan Taurat daripada keuntungan duniawi. Bagi orang yang takwa,
kebahagiaan di akhirat adalah tujuan terakhir dari kehidupannya, karena
kebahagiaan akhirat lebih baik daripada kebahagiaan duniawi yang terbatas itu.
Mengapa mereka tidak merenungkan hal yang demikian?

Ayat ini menjelaskan bahwa kecenderungan kepada materi dan hidup kebendaan
merupakan faktor yang menyebabkan kecurangan orang Yahudi sebagai suatu
bangsa yang punya negara. Karena kecintaan yang besar kepada kehidupan
duniawi, mereka kehilangan petunjuk agama serta ketinggalan dalam kehidupan
kerohanian.

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Al--Qur’an adalah firman Allah yang berfungsi sebagai mukjizat (bukti
kebenaran atas kenabian muhammad) yang diturunkan kepada nabi Muhammad
yang tertulis di dalam mushaf-mushaf, yang diriwayatkan dengan jalan mutawātir,
dan yang membacanya dipandang beribadah. Al-Qur’an diturunkan Allah kepada
manusia untuk dibaca dan diamal Orang yang mengajarkan ilmu agama kepada
manusia berarti telah menyebarkan petunjuk Allah Ta’ala yang merupakan sebab
utama terwujudnya kemakmuran dan kesejahteraan alam semesta beserta semua
isinya, oleh karena itu semua makhluk di alam semesta berterima kasih kepadanya
dan mendoakan kebaikan baginya, sebagai balasan kebaikan yang sesuai dengan
perbuatannya. Para ulama yang menyebarkan ilmu agama adalah pewaris para Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena merekalah yang menggantikan tugas para
Nabi dan Rasul ‘alaihis salam, yaitu menyebarkan petunjuk Allah Ta’ala dan
menyeru manusia ke jalan yang diridhai-Nya, serta bersabar dalam menjalankan
semua itu, maka merekalah orang-orang yang paling mulia kedudukannya di sisi
Allah Ta’ala setelah para Nabi dan Rasul ‘alaihis salam.kan.

12
DAFTAR PUSTAKA

http://viperclass.blogspot.co.id/2015/05/mufradat-dan-isi-kandungan-qs-at-
taubah.html

https://tafsirweb.com/4391-surat-an-nahl-ayat-43.html

https://tafsirweb.com/5519-surat-al-anbiya-ayat-7.html
https://tafsirweb.com/606-surat-al-baqarah-ayat-146.html
https://tafsirweb.com/632-surat-al-baqarah-ayat-159.html

https://muslim.or.id/4703-keutamaan-menyebarkan-ilmu-agama.html

13