Anda di halaman 1dari 170

BAB II

TINJAUAN KASUS

Kasus :

Tn.R dan Ny.A masing masing berusia 26 tahun dan 24 tahun,memiliki

seorang putri bernama An.D berusia 5 tahun dan seorang putra bernama An.T

berusia 4 bulan.tipe keluarga Tn.R adalah keluarga inti yang terdiri dari ayah,ibu dan

2 oarng anak.pada saat pengkajian secara umum kondisi anggota keluarga dalam

keadaan sehat.

Pada usia memasuki 4 bulan,An.D pernah memiliki riwayat penyakit diare,

kmudian DBD sehingga harus dirawat inap d puskesmas selama 12 hari.pada saat

An.D berusia 2,5 tahun ,anak kembali dirawat di puskesmas selama 23 hari,tetapi

karena tidak sembuh sembuh sehingga orang tua membawa ke dokter praktek dan

dokter mendiagnosis anak mengalami radang yang menyebabkan anak

panas.setelah usia 4 tahun,hingga sekarang(5 tahun),klien tidak pernah kambuh

lagi,namun demikian orang tua tetap khawatir kondisi anaknya memburuk lagi.

Riwayat imunisasi An.D lengkap.pada saat ini An.D bersekolah di TK 0

kecil.orang tua mengatakan klien sangat hiperaktif layaknya anak seusianya,suka

bermain sepeda meskipun kadang dilarang oleh ibunya.orang tua juga mengatakan

An.D malas makan dikarenakan sering mengkonsumsi jajanan.

1) Pengkajian

A. Data umum

1. Nama KK : Tn.R

2. Umur : 26 tahun
3. Alamat : buton

4. Pekerjaan KK : supir

5. Pendidikan : SMA

6. Komposisi keluarga

a) Istri

1) Nama : Ny. A

2) Umur : 24 tahun

3) Pendidikan : SMA

4) Pekerjaan : Wiraswasta

b) Anak

Na
No Jenis Hubungan Umur Pendidikan Status imunisasi Ket

Nam Kelamin dgn KK BCG Polio DPT Hepatitis Campak

1. An.D Pr Anak 5 thn TK 0 kecilü ü ü ü ü Saa

kandung ini/s

pen

ana

dal

kea

seh

Anak -

2. An. Lk kandung 4 bln ü ü ü ü - Saa

T ini/s

pen

ana
dal

kea

seh

7. Genogram

keterangan:

: Laki-laki X : Meniggal : Garis keturunan


: Perempuan : klien : Garis perkawinan

: tinggal serumah

Tn.A adalah anak ke 8 dari 8 bersaudara dan ny.A adalah anak pertama dari 2

bersaudara.mereka mempunyai 2 orang anak yaitu An.D yang sekarang berusia 5

tahun Dan An.T yang masih berusia 4 bulan.

8. Tipe keluarga : Tradisional Nuclear, yaitu terdiri dari bapak, ibu, dan anak (2 orang),

keluarga termasuk dalam keluarga sejahtera tahap 2.

9. Suku/Bangsa : Tn. R dan Ny. A sama-sama berasal dari suku buton. Mereka bisa

menerima kebiaasaan mereka satu sama lain dan mempunyai kebiasaan yang

hampir sama jadi tidak ada kesulitan-kesulitan yang mereka rasakan terhadap

perbedaan.

10. Agama : Agama yang dianut oleh keluarga Tn. R adalah agama Islam. Keluarga Tn.

B biasa melakkan shalat 5 waktu di rumah .Agama adalah sumber kekuatan

keluarga.

11. Status Sosial Ekonomi

a. Penghasilan Keluarga

penghasilan keluarga ± Rp.1.000.000,- perbulan yang didapat dari hasil menyupir

oleh Tn.R dan usaha dagang oleh Ny. A.

b. Pemanfaatan Dana Keluarga

Penghasilan keluarga selain untuk membiayai hidup sehari-hari juga untuk

membantu membiayai kuliah adik sang istri.


c. Sosial keluarga

Dengan penghasilan yang didapat,kebutuhan keluarga terpenuhi.

12. Aktifitas rekreasi keluarga

Keluarga menjadikan hari minggu sebagai hari santai dan berekreasi ke pantai.

A. Riwayat Tahap Perkembangan Keluarga

1. Tahap Perkembangan Keluarga saat ini

Tahap perkembangan keluarga yaitu keluarga dengan anak prasekolah karena usia

anak tertua pada keluarga Tn. A adalah 5 tahun.

2. Tahap Perkembangan Keluarga yang Belum Terpenuhi

3. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi adalah Keluarga dengan

anak sekolah, Keluarga dengan anak remaja, Keluarga dengan anak dewasa

(pelepasan), Keluarga usia pertengahan, Keluarga usia lanjut karena keluarga elum

melewati tahapan-tahapan tersebut.

4. Riwayat Keluarga inti

Dalam keluarga, tidak ada riwayat penyakit menular, menahun dan menurun.

Riwayat kesehatan masing – masing anggota keluarga adalah sebagai berikut:

a) Kepala keluarga

Tidak ada riwayat sakit yang mengharuskan untuk dirawat inap di rumah sakit.

b) Istri

Orang tua ( ibu ) mempunyai riwayat penyakit malaria, tetapi tidak pernah dirawat di

rumah sakit, hanya berobat di puskesmas.

c) Anak D (anak ke I)

Klien pernah mempunyai riwayat penyakit DBD kemudian diare pada saat usia mulai

memasuki 4 bulan dikarenakan berhenti minum ASI dan disambung minum susu

formula hingga harus dirawat inap di puskesmas selama 12 hari.


Pada usia 2,5 anak pernah kambuh kembali dan dirawat di puskesmas, tetapi

karena anak tidak sembuh – sembuh sehingga orang tua cemas dan membawa ke

dokter praktek dan dokter mendiagnosis anak mengalami radang yang

menyebabkan anak panas. Setelah usia 4 tahun hingga sekarang ( 5 tahun ) klien

tidak pernah kambuh lagi penyakit tersebut.

d) Anak T (anak ke 2)

Tidak ada riwayat sakit yang mengharuskan klien untuk berobat dan rawat inap di

Rumah Sakit.

5. Riwayat Kesehatan Keluarga Sebelumnya

Tn. R mengatakan tidak mempunyai penyakit keturunan . Saat dikaji Tn.R dalam

keadaan sehat.Begitupun dengan Ny.A saat didata dalam keadaan sehat.

An.D saat dilakukan pengkajian dalam keadaan sehat, namun pernah memiliki

riwayat dirawat di puskesmas dengan diagnose diare dikarenakan Ny.A mengganti

ASI dengan susu formula dan demam berdarah.Keluarga mengatakan anak

mendapat perawatan di puskesmas kurang lebih 23 hari.anak sering kambuh

dengan penyakit tersebut sampai anak berumur 3 tahun.

6. Kebiasaan diet

Pola makan keluarga Tn. R sehari-harinya 2 kali sehari dengan komposisi makanan

nasi, tahu/ tempe, kadang–kadang dengan sayur. Keluarga Tn. R jarang makan ikan

sebab harga ikan cukup mahal baginya. An. D malas makan dikarenakan lebih

senang bermain sehingga lupa untu makan dan lebih memilih jajan.

7. Kebiasaan istirahat tidur

Waktu Tidur

Anggota Keluarga Siang Malam


Tn R - 22.00-05.00

Ny. A - 22.00-05.00

An. D - 21.00-06.30

An. T 11.00-13.00 20.00-05.30

B. Lingkungan

1. Karakteristik rumah

Luas rumah yang ditempati ±24 meter/kubik (lebar , panjang ) terdiri dari ruang

tamu, ruang tengah, ruang keluarga, 4 kamar tidur,dapur, kamar mandi dan WC.

Tipe bangunan adalah permanen. Keadaan lantai terbuat dari plaster,

penerangan/cahaya cukup, sinar matahari masuk melalui jendela dan ventilasi.

Sumber air minum yang digunakan dari sumur. Air yang digunakan untuk air minum

juga dari sumur. WC-nya tidak memiliki septik tank (WC cemplung). Status rumah

adalah milik pribadi. Ventilasi rumah cukup, atap rumah terbuat dari seng.

Penerangan pada malam hari menggunakan listrik, cara memasak makanan dan air

minum menggunakan kompor. Tempat pembuangan sampah dipekarangan rumah

kemudian dibakar. Keadaan halaman rumah banyak ditumbuhi rumput .

denah

3
4
8

7
6

10
11

Keterangan Denah :

1. Ruang tamu

2. Ruang tengah

3. Kamar 1

4. Kamar 2

5. Ruang keluarga

6. Kamar 3

7. Ruang makan

8. Kamar 4 ( ruang shalat keluarga )

9. Dapur

10. Kamar mandi

11. WC
2. Karakteristik tetangga dan komunitas RW

Jarak rumah dengan tetangga berdekatan. Hubungan keluarga Tn. R dengan

tetangga sangat baik. Selain itu Ny. N juga aktif dalam kegiatan arisan dengan

tetangga. Sebagian besar komunitas RW adalah warga pendatang yang umumnya

berprofesi sebagai pegawai negeri atau swasta. Sedangkan sarana transportasi

yang digunakan oleh warga adalah angkot, ojek, motor dan mobil pribadi.

3. Mobilitas geografis Keluarga

Keluarga ini tidak pernah berpindah tempat tinggal sejak menikah.Tn.R bekerja dari

pagi sampai jam 16.00 wit sebagai supir.Sedangkan Ny.A membantu suaminya

berjualan.

4. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat

Keluarga ini rajin melakukan ibadah sholat, ibu sering mengikuti pengajian. Anaknya

juga rajin mengaji.

5. Sistem pendukung keluarga

Saudara dan khususnya orang tua merupakan pendukung dalam pembentukan

keluarga dan dalam pemecahan masalah.

C. Struktur Keluarga

1. Pola Komunikasi Keluarga

Keluarga mengatakan komunikasi dilakukan secara diskusi untuk menyelesaikan

masalah anaknya.Namun terkadang Ny.A menegur dengan keras apabila anaknya

tidak mau sekolah dan bermain sepeda dijalan.

Bahasa yang digunakan orang tua dalam berkomunikasi kepada anak memakai

bahasa Indonesia.

2. Struktur Kekuatan Keluarga


Tn.R bertanggung jawab berperan sebagai kepala keluarga yang harus bertanggung

jawab terhadap keluarga.Ny.A berperan sebagai ibu rumah tangga yang juga

mengurus anak-anaknya.

3. Struktur Peran ( formal/informal)

a) Tn. R

1) Formal

Menjadi kepala keluarga, suami, ayah dan menantu.

2) Informal

Sebagai anggota masyarakat, mencari nafkah dengan pekerjaan menjadi supir

mobil.

b) Ny. A

1) Formal

Sebagai ibu rumah tangga, istri, dan anak.

2) Informal

Masih aktif menjadi anggota masyarakat, sering mengikuti acara pengajian ibu – ibu

di lingkungan tempat tinggal.

c) An. D

1) Formal

Sebagai anak, kakak, dan cucu

2) Informal

Sebagai siswa TK, murid dalam mengaji.

d) An. T

1) Formal
Sebagai anak, adik, dan cucu.

2) Informal

Belum ada.

4. Nilai dan Norma Keluarga

Nilai dan norma yang berlaku di keluarga menyesuaikan dengan nilai agama yang di

anut dan norma yang berlaku dilingkungannya.

D. Fungsi Keluarga

1. Fungsi afektif

Tn.R dan Ny.A selalu memberikan teguran apabila anaknya melakukan kesalahan.

2. Fungsi sosial

Keluarga selalu mengajarkan pada anak cara menghargai orang yang lebih tua dari

dia,seperti cara memanggil kakak, paman, bibi, tante, dan teman sebayanya. Baik di

lingkungan tempat tinggal maupun di sekolah.

3. Fungsi perawatan kesehatan

Orang tua / keluarga selalu membawa anak ke pelayanan kesehatan atau

puskesmas, jika anak mengalami panas tinggi, karena menurut orang tua anak

mempunyai riwayat demam berdarah.

4. Fungsi reproduksi

Keluarga sudah memiliki 2 orang anak. Anak pertama perempuan berusia 5 tahun,

sedangkan anak kedua laki-laki berusia 4 bulan. Ny.A mengatakan menggunakan

KB,yang awalnya menggunakan KB jenis pil namun karena tidak cocok diganti

dengan KB jenis implant sampai saat ini.

5. Fungsi ekonomi
Menurut pengakuan keluarga, penghasilan saat ini cukup untuk memenuhi

kebutuhan keluarga. Bahkan dapat sedikit membantu kebutuhan kuliah adiknya.

Tetapi keluarga juga belajar menghemat keuangan karena mempunyai keinginan

untuk bisa memasukkan anaknya les privat.

E. Stress dan Koping Keluarga

1. Stressor jangka pendek dan jangka panjang

a) Jangka pendek

Orang tua selalu waspada setiap saat untuk mencegah agar anaknya tidak

mengalami kekambuhan penyakitnya seperti yang pernah dialami sebelumnya.

b) Jangka panjang

Keluarga ingin memasukkan anaknya ke les privat bahasa inggris, tetapi keluarga

masih mengumpulkan biaya.

2. Kemampuan berespon terhadap situasi/stressor

Keluarga selalu berantisipasi khususnya pada kesehatan anaknya, karena takut

penyakit yang pernah diderita anaknya masa lalu dapat kambuh kembali.

3. Strategi koping yang digunakan

Jika anaknya sakit, orang tua selalu membawa anaknya ke puskesmas. Dan jika ada

masalah dalam keluarga suami dan istri selalu mendiskusikan masalah tanpa

melibatkan anak-anak.

4. Strategi adaptasi disfungsional

Ny. A sering menegur dan melarang anaknya karena anaknya selalu ingin bermain

sepeda di jalan raya.


F. Pemeriksaan Fisik

1 Vital sign

a) Tn. R

TD : 120/70

ND : 86x/m

RR : 20x/m

S : 37,1

b) Ny. A

TD :100/60

ND :72x/m

RR :20x/m

S :37,0

c) An. D

ND : 94x/m

S : 36,5

RR : 22x/m

d) An. T

ND : 96x/m

S : 36,5

RR : 24x/m

2 Head to toe

a) Tn.R (kepala keluarga)

1) Kepala
Rambut dan kulit kepala

Inspeksi:rambut ikal,kulit bersih

Mata

Inspeksi:kudua mata simetris,konjungtiva tidak pucat,sclera tidak icterik.

Palpasi:tidak ada nyeri tekan,tekanan bola mata tidak tinggi.

Hidung

Inspeksi:hidung simetris,tidak ada secret,tidak ada korpal,tidak ada pembesaran

polip.

Palpasi:tidak ada nyeri tekan

Mulut dan faring

Inspeksi:tidak ada stomatis,tidak ada karies gigi,tidak ada gigi palsu,tidak ada

faringitis,lidah tidak kotor.

Palpasi:lidah teraba lunak,tidak ada nyeri tekan.

Telinga

Inspeksi:kedua telinga simetris,tidak ada korpal.

Palpasi:tidak ada nyeri tekan.

2) Leher

Inspeksi:tidak ada sikatrik,tidak ada nodul

Palpasi:tidak ada pembesaran vena jugularis dan kelenjar tiroid.

3) Dada

Inspeksi:bentuk normochest,tidak ada nodul tidak ada sikatrik.

Palpasi:tidak ada nyeri tekan,tidak ada fraktur pada tulang iga

Perkusi:terdengar resonan pada paru dan redup pada jantung.

Auskultasi:terdengar vesikuler

4) Abdomen
Inspeksi tidak ada nodul,tidak acites.

Auskultasi:suara peristaltic terdengar

Perkusi:terdengar timpani pada usus,dan redup pada hati dan ginjal.

Palpasi:tidak ada nyeri tekan,tidak ada pembesaran hati dan limpa.

5) Ekstermitas

Inspeksi:anggota gerak lengkap,tidak ada luka,bekas jahitan,tidak ada kelainan pada

jari tangan dan kaki.

Palpasi:tidak ada nyeri tekan,tidak ada fraktur.

b) Ny A

1) Kepala

Rambut dan kulit kepala

Inspeksi:Rambut lurus,tidak ada uban,kulit bersih.

Mata

Inspeksi:kedua mata simetris,konjungtiva tidak pucat,sclera tidak icterik.

Palpasi:tidak ada nyeri tekan,tekanan bola mata tidak tinggi.

- Hidung

Inspeksi : hidung simetris, tidak ada secret, tidak ada korpal, tidak ada pembesaran

polip.

Palpasi : tidak ada nyeri tekan.

- Mulut dan Faring

Inspeksi : tidak ada stomatitis, tidak ada caries gigi, tidak ada gigi palsu, tidak ada

faringitis, lidah tidak kotor.

Palpasi : lidah teraba lunak, tidak ada nyeri tekan.

- Telinga

Inspeksi : kedua telinga simetris, tidak ada korpal.


Palpasi : tidak ada nyeri tekan.

2) Leher

Inspeksi : tidak ada sikartrik, tidak ada nodul.

Palpasi : tidak ada pembesaran vena jugularis dan kelenjar tiroid.

3) Dada

Inspeksi : bentuk normochest, tidak ada nodul,tidak ada sikatrik.

Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada fraktur pada tulang iga.

Perkusi : terdengar resonan pada paru dan redup pada jantung.

Auskultasi : terdengar vesikuler.

4) Abdomen

Inspeksi : tidak ada nodul, tidak acites.

Auskultasi : suara peristaltic terdengar 25x/menit

Perkusi : terdengar tympani pada usus, dan redup pada hati dan ginjal.

Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran hati dan ginjal.

5) Ekstremitas

Inspeksi : anggota gerak lengkap, tidak ada luka, bekas jahitan, tidak ada kelainan

pada jari tangan dan kaki.

Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada fraktur.

c) An. D

1) Kepala

- Rambut dan Kulit kepala

Inspeksi : rambut lurus, kulit bersih.

- Mata
Inspeksi : kedua mata simetris, konjungtiva tidak pucat, sclera tidak ikterik.

Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tekanan bola mata tidak tinggi.

- Hidung

Inspeksi : hidung simetris, tidak ada secret, tidak ada pembesaran polip.

Palpasi : tidak ada nyeri tekan.

- Mulut dan Faring

Inspeksi : tidak ada stomatitis, tidak ada caries gigi, tidak ada gigi palsu, tidak ada

faringitis, lidah tidak kotor.

Palpasi : lidah teraba lunak, tidak ada nyeri tekan.

- Telinga

Inspeksi : kedua telinga simetris, tidak ada korpal.

Palpasi : tidak ada nyeri tekan.

2) Leher

Inspeksi : tidak ada sikatrik, tidak ada nodul.

Palpasi : tidak ada pembesaran vena jugularis dan kelenjar tiroid.

3) Dada

Inspeksi : bentuk normochest, tidak ad nodul, tidak sikatrik.

Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada fraktur pada tulang iga.

Perkusi : terdengar resonan pada paru dan redup pada jantung

Auskultasi : terdengar vesikuler.

4) Abdomen

Inspeksi : tidak ada nodul, tidak acites.

Auskultasi : suara peristaltic terdengar 25x/menit

Perkusi : terdengar tympani pada usus, dan redup pada hati dan ginjal.

Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran hati dan ginjal.
Genetalia

Tidak ada keluhan.

5) Ekstremitas

Inspeksi : anggota gerak lengkap, tidak ada luka, bekas jahitan, tidak ada kelainan

pada jari tangan dan kaki.

Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada fraktur.

Berat badan klien 16 kg dan tinggi badan 110 cm.

d) An. T

1) Kepala

- Rambut dan Kulit kepala

Inspeksi : rambut lurus, kulit bersih.

- Mata

Inspeksi : kedua mata simetris, konjungtiva tidak pucat, sclera tidak ikterik.

- Hidung

Inspeksi : hidung simetris, tidak ada secret, tidak ada korpal, tidak ada pembesaran

polip.

- Mulut dan Faring

Inspeksi : tidak ada stomatitis, tidak ada caries gigi, tidak ada gigi palsu, tidak ada

faringitis, lidah tidak kotor.

- Telinga

Inspeksi : kedua telinga simetris, tidak ada korpal.

2) Leher

Inspeksi : tidak ada sikatrik, tidak ada nodul.

Palpasi : tidak ada pembesaran vena jugularis dan kelenjar tiroid.

3) Dada
Inspeksi : bentuk normochest, tidak ada nodul.

4) Abdomen

Inspeksi : tidak ada nodul, tidak acites.

Auskultasi : suara peristaltic terdengar 5x/menit

Perkusi : terdengar tympani pada usus, dan redup pada hati dan ginjal.

5) Ekstremitas

Inspeksi : anggota gerak lengkap, tidak ada luka, bekas jahitan, tidak ada kelainan

pada jari tangan dan kaki.

G. Harapan Keluarga

1. Persepsi Terhadap Masalah

Keluarga memandang masalah sebagai sesuatu yang wajar dalam sebuah rumah

tangga, namun dalam kesehatan anak, keluarga sangat memperhatikan hal

tersebut.

Keluarga mengerti perubahan kesehatan anak misalnya anak panas tinggi karena

menurut keluarga anak pernah menderita sakit DBD. Jadi keluarga selalu waspada.

2. Harapan Terhadap Masalah

Tn. R dan Ny. A menginginkan agar kesehatan anaknya tetap terjaga dan sehingga

anaknya tidak kambuh dengan penyakit yang pernah diderita, dan anaknya dapat

tumbuh kembang dengan yang diharapkan.

H. Pengkajian Fokus

1 Stimulasi yang diberikan oleh keluarga terhadap anak

Ny.A memberikan stimulus pada An.D dengan memperingatkan waktu sesuai jam

dan kegiatan yang telah diberikan agar bisa dibiasakan dalam kebiasaan sehari-

hari. Orang tua memberikan gambar-gambar, angka dan huruf – huruf yang ditempel
di dinding untuk belajar anak, serta di belikan sepeda, anak sudah dapat

mengendarainya.

2 Sudahkan anak mengikuti Play Group

An.D tidak mengikuti play group dan langsung dimasukkan di taman kanak-kanak

(TK). Karena orang tua beralasan tempat play group jaraknya jauh dari tempat

tinggal, sedangkan orang tua harus bekerja.

3 waktu dimiliki orang tua untuk berkumpul dengan anak

Ny. A selalu memiliki waktu dengan anaknya/selalu bersama dengan anaknya,

kecuali Tn R hanya memiliki waktu setelah pulang dari kerja jam 16.00 hingga pagi

sampai anaknya berangkat ke sekolah.

4 orang yang setiap hari bersama anak

Yang setiap hari mendampingi anak yaitu orang tua dan tidak pernah menitipkan

anak pada orang lain ataupun memiliki pengasuh selain orang tua.

5 Kemampuan yang telah dimiliki anak saat ini

a) Personal / sosial

1) Anak sering meniru meniru gaya seperti ibunya seperti berdandan,

2) Sering ikut – ikut ibunya saat mencuci piring atau baju,

3) Selalu mengikuti perintah yang diberikan oleh ayah dan ibunya,

4) Mudah akrab dengan semua orang, baik yang sudah dikenal maupun yang baru

dikenalnya.

b) Motorik

1) Motorik kasar

(a) Anak sudah dapat mengendarai sepeda roda dua


(b) Dapat melompati benda yang agak tinggi

(c) Anak dapat melempar bola

2) Motorik halus

(a) Anak bisa menggambar bentuk orang,

(b) Dapat memakai baju dan celana sendiri

(c) Anak dapat menulis angka 1-10

(d) Anak dapat mengenal dan menghafal abjad

c) Bahasa dan Kognitif

1) Ketrampilan bahasa sudah bagus

2) Sering bertanya pada ibunya khususnya saat melihat ibu sedang memasak,

3) Anak lebih sering berteriak jika dia tidak bisa melakukan sesuatu,

4) Anak sudah bisa mengenal warna,

d) Ketakutan

Anak trauma atau menangis jika melihat orang jatuh atau kecelakaan, karena anak

pernah mengalami hal tersebut.

6 harapan keluarga saat ini

Orang tua menginginkan anaknya bisa masuk ke les privat bahasa inggris, tetapi

keluarga masih mengumpulkan biaya.

7 pelaksanaan tugas dan fungsi keluarga

Keluarga menginginkan jumlah anaknya cukup dua, dalam pembagian tugas

keluarga antara ayah dan ibu saling bekerja sama saat salah satu membutuhkan

untuk menjaga anaknya.

I. Analisa Data
Simptom Masalah Penyebab

DS: kecemasan Ketidakmampuan


· Pasien (orang tua)
orang tua keluarga memberi
mengatakan
(keluarga) perawatan pada
mencemaskan
perubahan yang
kekambuhan penyakit
akan terjadi pada
anaknya.
status kesehatan
Jika anak panas tinggi,
anaknya
ibu mengatakan langsung

membawa anaknya ke

puskesmas.

DO :

· Pasien (orang tua)

nampak berantusias

dalam menanggapi

keadaan kesehatan

anaknya.

DS : Resiko ketidakmampuan

· Ny. A mengatakan kalau terjadinya keluarga


An. D nafsu makannya gangguan mengenal

kadang menjadi kebutuhan masalah nutrisi

berkurang nutrisi kurang yang dibutuhkan

· Ny. A mengatakan An. D dari kebutuhan pada anak

suka jajan makanan tubuh pada An. prasekolah

ringan D

· Ny. A mengatakan nutrisi

adalah makanan yang

kita makan sehari-hari

DO

· An.D Tampak malas


makan

DS Resiko cedera Ketidakmampuan


· Ny A mengatakan
fisik pada keluarga
anaknya suka bermain
anak memodifikasi
sepeda
lingkungan yang
· Ny A mengatakan anak
aman untuk anak
susah dilarang jika ingin
prasekolah
bersepeda di jalanan

· Ny A mengatakan anak

suka mengikuti ibu saat

memasak, dan anak suka


menggunakan alat dapur

DO

· An D sudah dapat
mengendarai sepeda
sendiri
· Tempat kerja Ny A dekat
dengan jalan raya
· Tidak terdapat pembatas
atau pagar di depan
rumah

J. Skoring

1. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kitidakmampuan keluarga memberi

perawatan pada perubahan yang akan terjadi pada status kesehatan anaknya

No Kriteria Perhitungan Skor Pembenaran


1. Sifat masalah 2/3 x 1 = 2/3 Keluarga
2/3
Skala: mencemaskan

Krisis tentang

kekambuhan

penyakit anak

namun tidak

menjadi masalah

keluarga

2. Kemungkinan 2/2 x 2 = 2 2 Kecemasan klien

masalah dapat dapat menghilang

diubah jika tidak terlalu

Skala : memfokuskan
Mudah masalah, keluarga

akan membawa

anaknya ke

puskesmas jika

terjadi perubahan

kesehatan pada

anaknya(panas

tinggi)

3. Potensial masalah 2/3 x 1= 2/3 2/3 Masalah yang

dapat dicegah dialami dapat

Skala : dicegah atau diatasi

Cukup oleh klien, dan

keluarga Nampak

antusias dalam

menanggapi

kesehatan anaknya.

4. Menonjolnya 1/2 x 1 = 1/2 Kebiasaan dalam


1/2
masalah mengatasi masalah,

Skala : menyebabkan

Masalah ada tetapi masalah tidak

tidak perlu ditangani dianggap serius.

Keluarga

mencemaskan

kekambuhan
anaknya.
2. Resiko
∑ = 3
5/6 terjadin

ya gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada An. D b/d

ketidakmampuan keluarga mengenali masalah nutrisi yang dibutuhkan pada anak

prasekolah.

No. Perhitungan Kriteria Skor Pembenaran


1. Sifat Masalah 2/3 x 1 = 2/3 Sifat masalah
Skala : 2/3
Ancaman kesehatan merupakan

ancaman karena

kadang nafsu

makan An. D

menjadi berkurang

dan jika itu tidak

ditanggulangi akan

menjadi aktual dan

dapat menyebabkan

penurunan pada

status kesehatannya

yaitu gangguan

nutrisi.

2. Kemungkinan Skala 1/2 x 2 = 1 1 Masalah sebagian


Dapat Diubah
Skala : dapat diubah karena
Sebagian
Ny. A dapat

memberikan

makanan-makanan
lain kepada An. D

3. Potensial Masalah 2/3 x 1 = 2/3 Potensial masalah


Untuk Dicegah 2/3
Skala : untuk dicegah cukup
Cukup
karena dapat

dilakukan dengan

mengajarkan cara

pengolahan

makanan yang

menarik untuk An. Z

dengan penurunan

pemasukan nutrisi.

4. Menonjolnya 1/2 x 1 = 1/2 Keluarga menyadari


Masalah 1/2
Skala : ada masalah tapi
Ada masalah tapi
tidak perlu ditangani tidak perlu ditangani

dengan segera.

∑ = 2
5/6

3. Resiko cedera fisik pada anak D b/d ketidakmampuan keluarga memodifikasi

lingkungan yang aman untuk anak prasekolah

No Perhitungan Kriteria skor Pembenaran

1 Sifat masalah 2/3 x 1 = 2/3 Bahaya fisik


Skala: 2/3 mungkin dapat
Ancaman kesehatan terjadi, Ny V
mengatakan anak
susah dilarang jika
ingin bersepeda di
jalanan

2 Kemungkinan ½x2=1 1 Ny A menegur dan


memberikan contoh
masalah dapat
pada anak
diubah

Skala:

Sebagian

3 Potensial masalah 2/3 x 1 = 2/3 Pemberian


lingkungan dan
dapat dicegah 2/3
tempat bermain
Skala:
yang aman untuk
Cukup anak

4 Mononjolnya 2/2 x 1 = 1 1 An D sering


masalah mengendarai
Skala: sepeda di jalan dan
Masalah harus bermain alat-alat
segera ditangani dapur, oramg tua
sulit untuk
memberitahu
∑= 3

1/3

K. Prioritas Masalah

1. Kecemasan orang tua anak D berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga

memberi perawatan pada perubahan yang akan terjadi pada status kesehatan

anaknya.
2. Resiko cedera fisik pada anak D b/d ketidakmampuan keluarga memodifikasi

lingkungan yang aman untuk anak prasekolah.

3. Resiko terjadinya gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada

anak D b/d ketidakmampuan keluarga mengenali masalah nutrisi yang dibutuhkan

pada anak prasekolah

L. Perencanaan Asuhan Keperawatan Keluarga

No. Tgl Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional


Keperawatan

1. 01-
12- Kecemasan Tujuan umum: 1. Anjurkan1. Dengan
2011
orang tua anak Setelah keluarga untuk pengungkapa

D berhubungan dilakukan mengungkapka n apa yang

dengan pengkajian n dirasakan

ketidakmampuan kecemasan kecemasannya kepada

keluarga keluarga dapat perawat,

memberikan berkurang dapat

perawatan pada Tujuan khusus: mengurangi

perubahan yanga. Keluarga beban yang


akan terjadi mampu dirasakan.

pada status mengenali 2. Anjurkan

kesehatan masalah keluarga untuk2. Mekanisme

anaknya. b. Keluarga tetap koping

mampu mempertahank keluarga yang

memutuskan an mekanisme adekuat dapat

tindakan yang koping keluarga mencegah

tepat untuk dalam trauma yang

mengatasi menghadapi berlebih

kecemasan. masalah

3. Anjurkan3. Dengan cara

keluarga untuk mencegah

mengurangi dan tidak

stresor yang selalu

menyebabkan memikirkan

kecemasan masalah

4. Anjurkan

keluarga untuk4. Pelayanan

meminta kesehatan

bantuan dari merupakan

tenaga salah

kesehatan satubentuk

dalam upaya sumber daya

mengurangi yang ada di


masalah masyarakat

kesehatan

1. Anjurkan

orang tua atau1.

keluarga untuk Mengantisipa

selalu si agar anak

Resiko cedera mengawasi terhindar dari

fisik pada anak kegiatan anak cedera fisik.

D b/d Keluarga dapat khususnya

2. 01- ketidakmampuan mengetahui bermain yang


12-11
keluarga berbagai resiko dapat

memodifikasi yang membahayakan

lingkungan yang berhubungan fisik.

aman untuk dengan anak


2. Anjurkan

anak prasekolah prasekolah keluarga untuk

memberikan 2. Anak lebih

tempat mudah

tersendiri untuk diawasi.

bermain anak.

3. Anjurkan

keluarga

menjauhkan

atau

menyimpan
peralatan yang3. Meminimalisir

dapat cedera pada

membahayakan anak.

anak

4. Anjurkan

keluarga

membuat

pembatas atau

pagar depan

rumah agar
4. Anak tidak

anak lebih keluar dari

leluasa dalam halaman

bermain. rumah

1. Anjurkan

keluarga

menyediakan

makanan yang

menarik namun

memiliki

kandungan gizi1. Makanan

yang baik pada tidak

anak. merupakan

Resiko 2. Berikan focus anak


terjadinya lingkungan melainkan

gangguan nutrisi yang nyaman bermain.

dan kebutuhan Kebutuhan dan menarik

3. 01- tubuh pada anak nutrisi anak pada saat anak


12-11
D b/d terpenuhi makan.

ketidakmampuan dengan kriteria

keluarga khususnya

mengenali terjadi 3. Anjurkan untuk

masalah nutrisi peningkatan perhatikan 2. Agar anak

yang dibutuhkan berat badan waktu makan lebih

anak anak meningkat

nafsu

4. Anjurkan makannya

keluarga agar dan tidak

anak mencoba terfokus pada

makanan yang bermain.

baru dan masih3. Biasanya

memenuhi gizi anak lebih

seimbang asyik bermain

hingga lupa

makan.

4. Anak

cenderung

bosan dengan

makanan
yang biasa ia

makan.

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN ANAK PRA SEKOLAH

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

A. PENGKAJIAN
I. Data Umum
1. Kepala Keluarga (KK) : Tn S (umur 35 tahun)
2. Alamat dan Telpon : Magersari, Sidoarjo
3. Pekerjaan KK : Pedagang
4. Pendidikan KK : SMP
5. Komposisi Keluarga :

No Nama J kelmn Hub Dengan KK Umur Pendidikan Pekerjaan Status Kesehatan


1

2
3
4
5 Tn S

Ny R
AS
Sm
Ny T L

P
L
P
P Suami

Istri
Anak
Anak
Ibu 35 th

30 th
5 th
1 th
55 th SMP

SMP
Pra - Sekolah
-
SD pedagang

buruh pabrik
-
-
- Sehat

Sehat
Sehat
Sehat
Sakit

2. Genogram

th.1990 th.1988
th.1989 th.1989

445 th.2002

Keterangan :
: Laki –laki
: Perepuan
: Menikah
: Anak kandung
: Tinggal Dalam Satu rumah
: prioritas masalah
6. Tipe Keluarga : Extended family
7. kewarganegaraan /Suku Bangsa : Indonesia / Madura
8. Agama : Islam,
keluarga Tn S sangat taat beribadah mereka sering sholat berjamaah dimasjid dekat
rumah, namun Ny T lebih senang sholat dirumah. anak AS juga mengikuti rutinitas
mengaji di TPA Alma’hadus Al Ulumus Salafiyah, yang letaknya dekat dengan
rumah. Tn S selalu menekankan prinsip agama yang kuat terhadap anak-anaknya
dari kecil.
9. Status Ekonomi Keluarga :
Penghasilan keluarga ± Rp 500.000 /Bln yang diperoleh dari hasil kerja Tn S
sebagai pedagang saat sehat dan hasil kerjanya Ny R sebagai buruh pabrik dengan
penghasilan Rp 75.000 per minggu. Tn S sebagai pedagang sate keliling biasanya
menjajakan satenya mulai sore sampai malam hari sedangkan Ny R bekerja pagi
hari hingga sore hari sebagai buruh pabrik pada industri kecil milik seseorang di
dekat rumahnya. Menurut pengakuan keluarga, penghasilan yang ada hanya cukup
untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan membiayai anaknya yang masih
dalam kelas nol besar.

10. Aktifitas Rekreasi Keluarga


kegiatan yang dilakukan anak-anaknya disekitar halaman rumah bersama dengan
anak tetangga yang lain, menonton TV, terkadang nenek juga menemani cucunya
saat mereka bermain. Tn S juga sering berbincang – bincang dengan tetangga
disekitar rumahnya, pada saat waktu luang.
II Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
11. Tahap Perkembangan keluarga Saat Ini
Tahap perkembangan keluarga saat ini adalah keluarga yang memiliki anak pra
sekolah. Tugas perkembangan saat ini yaitu Memenuhi kebutuhan anggota keluarga
seperti rumah, ruang bermain, privasi, dan keamanan,tugas yang selanjutnya
Mensosialisasikan anak, Mengintregasikan anak yang baru, sementara tetap
memenuhi kebutuhan anak yang lain, Mempertahankan hubungan yang sehat dalam
keluarga ( hubungan perkawinan dan hubungan orang tua dengan anak dan dengan
diluar keluarga )
12. Tugas Perkembagan Keluarga Yang Belum Terpenuhi
Tahap perkembangan yang belum terpenuhi adalah keluarga belum bisa
mensosialisasikan anak dan keluarga juga belum mengintegrasikan anak yang baru,
sementara tetap memenuhi kebutuhan anak yang lain
13. Riwayat Kesehatan Keluarga Inti
Tn S mengatakan tidak pernah menderita penyakit yang serius, hanya pernah sakit
batuk pilek saja dan biasanya cepat sembuh hanya dengan minum obat yang
dibelinya dari toko. Saat ini Tn S dalam keadaan sehat. Setiap harinya Tn S
merokok 2 – 3 batang perhari, hal ini sudah dilakukannya pada saat muda. Ny R
saat ini juga dalam keadaan sehat. Anak-anaknya juga dalam keadaan sehat, status
imunisasi saat balita lengkap semua dengan memanfaatkan fasilitas posyandu yang
ada dikawasan desanya. Dalam keluarga Tn S. selain istri dan kedua anaknya ada
Ny T yaitu ibu dari Ny R yang tinggal bersama keluarga Tn S. Ny T ini mempunyai
riwayat penyakit DM sejak 3 tahun yang lalu dan sampai sekarang Ny T tidak pernah
memeriksakan penyakitnya sejak sakitnya dirasa tidak kambuh lagi
14. Riwaya Keluarga Sebelumnya
Pada keluarga Tn S tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit menurun,
sedangkan pada kelauarga Ny R ada yaitu Ny T (ibu Ny R) yang menderita riwayat
DM dan pernah dirawat di RS 3 tahun yang lalu.
III. Data Lingkugan
15. Karakteristik Rumah
Luas rumah ± 40 m² (lebar 4m panjang 10m) terdiri dari 2 kamar tidur, ruang makan,
ruang tamu, kamar mandi dan WC, dapur memanfaatkan ruang yang kosong. Tipe
bangunan adalah permanen, keadaan lantai terbuat dari ubin pada ruang tamu dan
teras sedangkan pada kamar tidur terbuat dari plester. Sinar matahari masuk malalui
genting kaca di dapur, jumlah jendela samping 2 buah pada masing-masing kamar
tidur dengan ukuran 0,75 m x 1 m. sumber air minum yang digunakan berasal dari
PAM yang dibeli secra eceran sesuai kebutuhan. Untuk keperluan sehari-hari
menggunakan air sumur gali milik sendiri WC yang dimiliki ada septic tank.
Kebiasaan memasak pada keluarga menggunakan kompor minyak tanah.
Denah Rumah

dapur Ruang makan


R. tamu 4 m

Kamar mandi K. tidur K. Tidur


T WC

10 meter
16. Karakteristi tetangga dan komunitasnya
Tetangga sekitar rumah kurang memperhatikan keadaan lingkungan tempat
tinggalnya. Ini disebabkan karena masing-masing keluarga sibuk dengan
aktivitasnya masing-masing keluarga Tn S bukan asli warga di llingkungan tempat
tinggal dan kurang lebih 6 tahun menempati rumah tersebut
17. Mobilisasi Geografis Keluarga
Setelah menikah keluarga ini langsung pindah dari daerah asalnya yaitu madura
bertempat tinggal sekarang. Jika sehat Tn S berdagang sejak sore (16.00) sampai
malam(21.30) istrinya bekerja sebagai buruh pabrik sejak pagi (08.00) sampai sore
(16.00). anaknya yang peratama tiap pagi berangkat sekolah (pra sekolah) sendiri
karena tempat sekolah dekat dengan rumah sekitar 100 meter, sedangkan yang
kedua dirawat oleh Ny T (ibu Ny R) saat Ny R bekerja.
18. Perkumpulan Keluarga Dan Interaksi Dengan Masyarakat
Keluarga ini tidak aktif dalam kegiatan yang ada di masyarakat karena kesibukannya
bekerja dan membagi waktu untuk keluarga. Anaknya mengikuti kegiatan mengaji di
musholla dekat rumahnya setiap sore.
19. Sistem Pendukung Keluarga
Pada saat ada anggota keluarga yang sakit Ny R yang merawat Tn S mengatakan
tidak mempunyai banyak tabungan untuk biaya berobat ke puskesmas apabila ada
keluarga yang sakit. Saat ini saja Ny T (ibu Ny R) tidak pernah memeriksakan
penyakitnya.

IV. Struktur keluarga


20. Pola Komunikasi Keluarga
Keluarga mengatakan komunikasi dilakukan secara musyawarah untuk
menyelesaikan berbagai macam masalah. Namun, terkadang Tn S menegur
anaknya dengan keras dan marah apabila anaknya pada saat bermain bersikap
nakal. Saat ini waktu bertemu dengan keluarga cukup, karena kedua orang tua (Tn
S dan Ny R) sama-sama bekerja.
21. Nilai Dan Norma Keluaga
Nilai dan norma yang berlaku di keluarga menyesuaikan nilai agama yang dianut
dan norma yang berlaku di lingkungan.
22. Struktur Peran Keluarga
Tn S tetap merasa sebagai kapala keluarga yang harus bertanggung jawab terhadap
kehidupan keluarganya, meskipun ia bekerja hanya sebagai pedagang saja. Istrinya
selain berperan sebagi ibu rumah tangga ia juga berusaha membantu ekonomi
keluarga dengan bekerja sebagai buruh pabrik di industri kecil milik tetangga dekat
rumah berjarak ±500 m. sebagai ibu rumah tangga Ny R berusaha untuk mndidik
anak dengan baik

23. Struktur kekuatan Keluarga


Ny R selalu mengingatkan Tn S agar selalu mengurangi merokoknya atau agar
berhenti merokok demi kesehatan

V. Fungsi Keluarga
24. Fungsi Ekonomi
menurut pengakuan keluarga, penghasilan akan menurun apabila Tn S tidak
berdagang oleh karena itu mereka harus pintar mengatur anggaran rumah tangga
seefisien mungkin
25. Fungsi Sosial
Keluarga selalu mengajarkan bagaimana berperilaku yang baik sesuai dengan
ajaran agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari dirumah dan lingkungan
tempat tingganya
26. Fungsi Perawatan keluarga
Keluarga mendefinisikan sehat apabila semua anggota keluarganya tidak ada
keluhan dan tidak punya penyakit tertentu. Definisi sakit adalah apabila anggota
keluarga mempunyai keluhan sakit dan hasil pemeriksaan dokter menderita sakit.
Sumber informasi kesehatan bagi keluarga adalah televisi dan petugas kesehatan
apabila ke Puskesmas.
Keluarga dapat mengidentifikasi penyakit yang diderita oleh Ny T yaitu menderita
sakit kencing manis sejak tahun 2002. bulan Oktober 2006 Ny T pernah periksa
kepuskesmas. Menurut Ny T dia tidak sakit, tapi tangannya sering kesemutan, dan
pandangannya sering kabur. Setelah dilakukan tes gula darah hasilnya 267 mg/dl.
Keluarga baru mengetahui Ny T ternyata menderita kencing manis. Persepsi
keluarga sakit kencing manis dapat disembuhkan apabila minum obat secara rutin.
Keluarga belum mengetahui tentang pengertian penyakit kencing manis,
penyebabnya, tanda-tanda, dan perawatannya. Keluarga belum pernah mendapat
informasi tentang hal tersebut. Menurut keluarga tanda-tanda kencing manis adalah
kesemutan, luka yang tidak sembuh-sembuh dan badan lemas. Penyebab dari
kencing manis adalah karena terlalu banyak makanan yang manis-manis dan
Perawatan kencing manis adalah minum obat, menghindari makanan yang manis-
manis.
Praktik diet keluarga : Menurut keluarga makanan yang dapat disediakan sesuai
kemampuannya. Komposisinya adalah nasi, sayur, tahu atau tempe saja. Keluarga
belum mengerti tentang diet DM. Keluarga belum pernah mendapat informasi
tentang diet DM. Menurut keluarga, kalau sakit kencing manis perlu mengurangi
makan gula dan manis-manis saja. Menurut keluarga selama ini sudah diet karena
makanan yang dimakan sudah terbatas. Hasil dari data ahli gizi puskesmas
makanan yang dimakan oleh keluarga belum mencukupi dari kebutuhan gizi yang
dibutuhkan oleh tubuh . Tapi Menurut pendapat keluarga, makanan yang di makan
sudah cukup untuk keperluan masing-masing.
keluarga memperhatikan dan berupaya untuk mencari bantuan pelayanan
kesehatan bila ada anggota keluarga yang sakit. Pemanfaatan sarana kesehatan
saat ini kurang karena penghasilan yang diperoleh keluarga Tn S hanya cukup untuk
biaya hidup sehari-hari
27. Fungsi reproduksi
keluarga mengatakan tidak ingin mempunyai anak lagi, setelah melahirkan anaknya
keduanya Ny R langsung mengikuti program KB suntik. Menurut Tn S meskipun
sudah mempunyai 2 anak tetap berhubungan suami istri
28. Fungsi Afektif
Tn S mengatakan dirinya masih mampu mendidik anaknya yang masih dalam usia
pra sekolah meskipun ia sibuk mencari nafkah, tetapi sewaktu-waktu memberikan
teguran pada anaknya apabila berbuat salah. Keluarga juga mengajarkan pada
anaknya agar selalu menghormati antar anggota keluarga dan orang lain

VI. Stres Dan Koping Keluarga


29. Stress jangka panjang dan jangka pendek
Keluarga Tn S tidak mampu membiayai dengan cukup ekonomi keluarganya sehari-
hari, sedangkan anak-anaknya mambutuhkan biaya untuk sekolah dan juga
kebutuhan yang lainnya
30. kemampuan keluarga terhadap stresor
Keluarga merasa pasrah dan berharap selalu supaya dia Tn S dan istrinya Ny R
diberikan keadaan yang sehat selalu supaya dapat mencari nafkah bersama untuk
kebutuhan keluarga setiap hari
31. Strategi Koping yang digunakan
Keluaga menerima keadaan ini dengan seadanya dan saat mengambil keputusan
untuk keluarganya selalu melibatkan seluruh keluarganya (anggota) demi keputusan
bersama
32. Strategi Adaptasi disfungsional
Terkadang Tn S dalam mendidik anaknya selain sabar dan ramah, ia juga
memberikan teguran langsung pada anaknya apabila berbuat salah.

VII. Pemeriksaan Kesehatan Pada Tiap Individu Anggota Keluarga


Pemeriksaan fisik pada Tn S, Ny R dan anak-anaknya dalam keadaan sehat
Pemeriksaan Ny T
1. Keadaan umum
2. Kesadaran
3. TTV : T
S
N
RR
4. Head To Toe
Kepala

Mata
Hidung
Mulut

Telinga

5. Leher

6. Dada (Thorak)
Inspeksi

Palpasi
Perkusi
Auskultasi

7. Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Perkusi
Palapasi

8. Ektermitas
Atas

Bawah
Baik
Composmetis
140/100 mmHg
37 °C
80x/Menit
18x/Menit

simetris, Bersih, tidak ada ketombe, tidak ada bekas luka, Beruban sebagian
Kedua mata simetris, tidak memakai kaca mata, rabun jauh, pupil,isokor, konjungtiva
merah muda, tidak anemis
Tidak ada sekret, fungsi pembauan baik, simetris
Tidak ada stomatitis, gigi berjumlah 28 buah, tidak sianosis, fungsi pengecapan baik
Kedua telinga simetris, sedikit kurang mendegar

Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada pebesaran limfe, fungsi menelan
baik, tidak kaku kuduk

Tidak ada bekas luka, simetris, tarikan intercostalis simetris


Tidak ada nyeri tekan
Suara paru sonor
S1 S2 tunggal, tidak ada ronchi maupun wheezing

Tidak ada bekls luka, tidak acites / oedem


Bising usus normal 12x/mnt
Tympani
Tidak ada nyeri tekan

Fungsi pergerakan baik, tidak ada bekas, luka tidak ada oedem, tidak ada nyeri
tekan
Fungsi pergerakan baik, ada bekas luka, tidak ada oedem, tidak ada nyeri tekan

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA


I. Analisa dan Sintesa data
NO DATA MASALAH PENYEBAB
1. Data subyektif :
- Tn S mengatakan selama saya dan Ny R bekerja dan anak-anaknya dirawat oleh
Ny T
Data obyektif :
- anaknya berangkat ke sekolah sendiri
- Tinggi badan anak AS : 5 cm
- Berat badan anak AS: 12 kg
- Kondisi Anak AS kurus, pucat,lebih suka diam
- Anak AS belum bisa berbicara secara lancar
Resiko tinggi terjadinya gangguan tumbuh kembang pada anak AS
Ketidakmampuan keluarga Tn S mengenal masalah perkembangan anak

2. Data subyektif :
- Tn S mengatakan bahwa keluarga dari Ny R ada yang menderita riwayat penyakit
Dm yaitu Ny T
Data obyektif :
- sejak 3 tahun yang lalu sampai sekarang Ny T tidak pernah memeriksa
penyakitnya
- Ny T pernah periksa kepuskesmas bulan oktober tahun 2006
- Dari h asil pemeriksaan, gula darah Ny T 267 mg/dl

Resiko tinggi kambuhnya penyakit DM pada Ny T -ketidakmampuan keluarga


mengenal masalah kencing manis
-Ketidakmampuan keluarg memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada di
Puskesmas.

VI. Prioritas diagnosa keperawatan


PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN SKOR
1. Resiko tinggi terjadinya gangguan tumbuh kembang pada anak AS keluarga Tn S
berhubungan dengan Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah perkembangan
anak. 3 1/3
2. Resiko tinggi kambuhnya penyakit DM pada Ny T keluarga Tn S berhubungan
dengan Ketidakmampuan keluarga Tn S memanfaatkan pelayanan kesehatan yang
ada di Puskesmas. 2 1/3
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Dx TUJUAN KRITERIA HASIL / STANDAR INTERVENSI
1.
2 TUM :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi gangguan tumbuh kembang
pada anak
TUK :
Setelah dilakukan pertemuan 5x30 menit keluarga dapat mencapai :
TUK 1 :
Keluarga mampu mengenal masalah perkembangan anak dengan :
a) menyebutkan pengertian tentang masalah tumbuh kembang anak.

b) Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi gangguan tumbuh kembang


pada anak.

TUM :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi serangan berulang pada Ny T
TUK :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 5x30 menit menit keluarga dapat
mencapai:
a) Menguraikan masalah penyakit DM dengan spesifik.
b) Melakukan perawatan secara mendiri

verbal

Sikap
Verbal

Perilaku

- keluarga dapat mengetahui tumbuh kembang yang normal pada anak


- Keluarga mengerti cara mengidentifikasi tumbuh kembang anak
- Keluarga dapat memutuskan tindakan bila terjadi keterlambatan tumbuh kembang
pada anak
- keluarga dapat menyediakan mainan yang dapat menstimulasi tumbuh kembang
- anak ikut serta dalam permainan yang dilaksanakan keluarga
- Keluarga dapat menggunakan mainan yang diberikan kepadanya
- Keluarga dapat mengambil tindakan bila terjadi keterlambatan tumbuh kembang

- keluarga dapat menyebutkan tanda dan gejala penyakit DM


- keluarga dapat mengidentifikasi kapan akan terjadi serangan
- keluarga dapt memutuskan tindakan yang harus dilakukan bila terjadi serangan

- keluarga dapat menyediakan sarabna perawatan yang diperlukan Ny T


- Ny T akan meminum obatnya secara rutin sesuai dengan anjuran dokter yang
memberikan obat
- keluarga dapt mengupayakan memberikan makanan yang sesuai dengan penyakit
Ny T
1. kaji pengetahuan keluarga
2. kaji cara keluarga untuk mengetahui tumbuh kembang pada anak
3. kaji tindakan yang diambil keluarga bila terjadi keterlambatan tumbuh kembang
4. diskusikan dengan keluarga cara mengidentifikasi tumbuh kembang pada anak
5. diskusikan dengan keluarga cara menstimulasi tumbuh kembang
6. berikan penjelasan kepada keluarga bila ada penjelasan yang kurang dimengerti
7. evaluasi secara singkat topik yang telah di bicarakan dengan keluarga
8. berikan pujian terhadap kemampuan keluarga yang berdiskusi

1. kaji kemampuan keluarga untuk menyediakan mainan yang dibutuhkan


2. kaji ketertarikan anak terhadap mainan yang disediakan
3. kaji ketertarikan anak terhadap permainan yang dilaksanakan
4. kaji ke ikutsertaan anak dalam permainan
5. kaji kemampuan anak dalam menggunakan mainan yang diberikan
6. kaji kemampuan anak dalam melakukan permainan yang dilaksanakan
7. berikan pijian pada anak pada saat melakukan permainan

1. kaji pengetahuan keluarga


2. kaji kemampuan keluarga yang telah dilakukan pada Ny T
3. kaji tindakan keluarga yang pernah dilakukan bila Ny T mengalami serangan
4. diskusikan dengan keluarga tentang tanda dan gejala penyakit DM
5. diskusikan dengan keluarga cara mengidentifikasi serangan
6. berikan penjelasan ulang bila ada penjelasan yang belum dimengerti

1. kaji kemampuan keluarga untuk menyediakan sarana yang dibutuhkan


2. anjurkan Ny T meminum obat sesuai dengan aturan
3. anjurkan keluarga untuk memberikan makanan sesuai dengan penyakit Ny T
4. lakukan kunjungan secara mendadak (tanpa kesepakatan dahulu untuk
mengetahui keluarga Ny T setelah di berikan pendidikan kesehatan)
5. berikan pujian terhadap perilaku yang dapat dilakukan oleh Ny T
6. berikan penguatan terhadap perilkau yang telah dilakukan untuk dipertahankan
setiap hari

Askep Keluarga Pada Anak Usia Prasekolah

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pada usia prasekolah anak mengalami lompatan kemajuan yang
menakjubkan. Tidak hanya kemajuan fisik tetapi juga secara sosial dan emosional.
Anak usia prasekolah ini sedang dalam proses awal pencarian jati dirinya. Beberapa
prilaku yang dulunya tidak ada, sekarang muncul. Secara fisik dan psikis usia ini
adalah usia yang rentan berbagai penyakit yang akan mudah menyerang anak usia
ini dan menimbulkan masalah yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang jika
kondisi kesehatan anak tidak ditangani secara baik oleh para praktisi kesehatan
yang juga usaha-usaha pencegahan adalah usaha yang tetap paling baik dilakukan.
Berkaitan dengan uraian diatas maka dalam makalah ini penulis
menguraikan beberapa masalah kesehatan yang banyak dijumpai pada anak usia ini
serta usaha pencegahan dan penanganannya terutama yang berkaitan dengan
tindakan keperawatan dan menyangkut satu masalah yang paling menonjol
sehingga muncul satu diagnosa keperawatan.

Tujuan
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk :
1. Mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan anak usia prasekolah
2. Mempelajari asuhan kerperawatan keluarga pada anak usia prasekolah
3. Untuk menamba pengetahuan tentang asuhan keperawatan keluarga khusunya
pada anak usia prasekolah

Manfaat
Penyusun mengharapkan makalah ini bermanfaat :
1. Bagi mahasiswa agar sebagai perawat nantinya bisa mengaplikasikan ilmu
tersebut atau menerapkannya dalam memberikan asuhan keperawatan keluarga
dengan baik dan benar.
2. Bagi para pembaca, sebagai bahan bacaan dan referensi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi keluarga
1. Friedman (1998)

Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan
keterikatan aturan dan emosional serta individual memepunyai peran masing-
masing yang merupakan bagian dari keluarga.
2. Sayekti (1994)
Keluarga adalah suatu ikatan atau persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara
orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau
seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak, baik anaknya
sendiri atau adopsi, dan tinggal dalamsebuah rumah tangga.
Keluarga adalah sekelompok manusia yang para warganya ter ikat dengan jalur
keturunan.

1. Peraturan Pemerintah no.21 tahun 1994 tentang penyelenggaraan


pembangunan keluarga sejahtera

Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-istri, atau
suami, istri dan anaknya, suami dan anaknya, atau istri dengan anaknya.

3. Burgess dan Locke (1992)


Keluarga adalah unit sosial terkecil dari individu-individu yang diikat oleh perkawinan
(suami-istri), darah atau adopsi (orang tua-anak), dan dalam kasus keluarga luas
terlihat adanya nenek atau kakek dengan cucu.

B. Tahap tumbuh kembang anak usia prasekolah


1. Definisi tumbuh kembang pada anak

a) Pertumbuhan (Growth)
Berkembangan dengan perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat
sel, organ maupun individu yang bisa diukur dengan ukuran berat (kg/gr) atau
ukuran panjang (meter/centimeter)(Soetjiningsih : 1998).

Perubahan ukuran atau nilai-nilai yang memberikan ukuran tertentu dalam


kedewasaan

Menurut Whaley dan Wong, pertumbuhan sebagai suatu peningkatan jumlah atau
ukuran sel tubuh yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan ukuran dan berat
seluruh bagian tubuh (Supartini, Yupi : 2004).
b) Perkembangan (Development)
Menurut Whaley dan Wong, perkembangan manitik beratkan pada perubahan yang
terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi
dan kompleks melalui proses maturasi dan pembelajaran ( Supartini, Yupi: 2004).

Perkembangan adalah pertambahan kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang


lebih komleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari
proses pematangan ( Soetjiningsih : 1998).

2. Pertumbuhan dan perkembangan anak prasekolah

a) Pertumbuhan

Beberapa aspek pertumbuhan fisik terus menjadi stabil dalam tahun prasekolah.
Waktu rata-rata denyut jantung dan pernapasan menurun hanya sedikit mendekati
90x/menit dan pernapasan 22-24x/menit. TD meningkat sedikit ke nilai rata-rata
95/58mmH. Berat badan anak meningkat kira-kira 2,5 kg per tahun, berat rata-rata
pada usia 5 tahun adalah kira-kira 21 kg, hampir 6 kali berat badan lahir. Prasekolah
bertumbuh 2-3 inci per tahun, panjang mereka menjadi dua kali lipat panjang lahir
pada usia 4 tahun,dan berada pada tinggi rata-rata 43 inci pada ulang tahun kelima
mereka. Perpanjangan tungkai kaki menghasilkan penampilan yang lebih kurus.
Kepala sudah mencapai 90% dari ukuran orang dewasa pada ulang tahun ke enam.
Perbedaan kecil terjadi antara jenis kelamin, walaupun anak laki-laki sedikit lebih
besar dengan lebih banyak otot dan kurang jaringan lemak. Kekurangan nutrisi
umunya terjadi pada anak-anak berusia dibawah 6 tahun adalah kekurangan vitamin
A dan C serta zat besi. Konsumsi karbohidrat dan lemak dalam jumlah yang sangat
besar dari makanan yang berlemak bisa menimbulkan kegemukan dan menjadikan
anak prasekolah dalm kondisi sangat lapar. Orang tua dan penberi pelayanan perlu
membuat asaha secara sadar untuk membantu anak prasekolah mengembangkan
kebiasaan makan yang sehat dan mencegah defisiensi dan kelebihan.
b.) Perkembangan
1. Rasa keingintahuan tentang hal-hal yang berada dilingkungan semakin besar dan
dapat mengembangkan pola sosialisasinya.

2. Anak sudah mulai mandiri dalam merawat diri sendiri, seperti mandi, makan,
minum, menggosok gigi, BAK, dan BAB.

3. Mulai memahami waktu.


4. Penggunaan tangan primer terbentuk.

Perkembangan psikoseksual ( Sigmund Freud )

Fase berkembangan psikoseksual untuk anak usia sekolah masuk pada fase falik.
Selama fase ini, genitalia menjadi area yang menarik dan area tubuh yang sensitif.
Anak mulai mengetahui perbedaan jenis kelamin dengan mengetahui adanya
perbedaan jenis kelamin.
Negatif : Memegang genetalia
Oedipus compleks
Positif : Egosentris: sosial interaksi
Mempertahankan keinginan
Perkembangan psikososial ( Eric Ericson )

Fase perkembangan psikososial pada anak usia prasekolah adalah inisiatf vs rasa
bersalah. Perkembangan ini diperoleh dengan cara mengkaji lingkungan melalui
kemampuan bereksplorasi terhadap lingkungannya. Anak belajar mengendalikan diri
dan memanipulasi lingkungan. Inisiatif berkembang dengan teman sekelilingnya.
Kemampuan anak berbahasa meningkat. Anak mulai menuntut untuk melakukan
tugas. Hasil akhir yang diperoleh adalah menghasilkan suatu prestasinya.
Perasaan bersalah akan timbul pada anak jika anak tidak mampu berpretasi. Rasa
bersalah dapat menyebabkan anak kurang bersosialisasi, lebih marah, mengalami
regresi, yaitu kembali ke perkembangan sebelumnya, misalnya mengompol dan
menghisap jempol.
Perkembangan kognitif ( Jean Piaget )

Fase berkembangan kognitif anak usia prasekolah adalah fase praoperasional.


Karakteristik utama perkembangan intelektual tahap ini didasari sifat egosentris.
Pemikiran di dominasi oleh apa yang dilihat, dirasakan dan dengan pengalaman
lainnya.
Fase ini dibagi menjadi 2 yaitu:

a) Prokonseptual ( 2- 4 tahun )
Anak mengembangkan kemampuan berbahasa untuk berkomunikasi dan
bermasyarakat. Anak mulai mengembangkan sebab-akibat, trial dan error dan
menginterpretasikan benda/kejadian. Anak mulai menggunakan sinbulkata-kata,
mengingat masa lalu, sekarang dan yang akan datang.
b) Intuitive thuoght ( 4-7 tahun )
Anak mampu bermasyarakat namun masih belum mampu berpikir timbal balik. Anak
biasanya banyak meniru perilaku orangdewasa tetapi sudah bisa memberi alasan
pada tindakan yang dilakukan.

C. Tugas perkembangan anak usia prasekolah

1. Personal / sosial
1. Upaya untuk menciptakan diri sendiri seperti orang tuanya,
tetapi mandiri
2. Menggali lingkungan atas hasil prakarsanya
3. Membanggakan, mempunyai perasaan yang tidak dapat dirusak
4. Keluarga merupakan kelompok utama
5. Kelompok meningkat kepentingannya
6. Menerima peran sesuai jenis kelaminnya
7. agrsif
8. Motorik
1. Meningkatnya kemampuan bergerak dan koordinasi jadi
lebih mudah
2. Mengendarai sepeda dengan dua atau tiga
3. Melempar bola, tetapi silit uintuk menangkapnya
9. Bahasa dan kognitif

1. Egosentrik
2. Ketrampilan bahsa makin baik
3. Mengajukan banyak pertanyaan; bagaimana, apa, dan
mengapa?
4. Pemecahan masalah sedarhana; menggunakan fantasi
untuk memahami, mengatasi masalah.
10. Ketakutan

1. Pengrusakan diri
2. Dikebiri
3. Gelap
4. Ketidaktahuan
5. Objek bayangan, tak dikenal.

D. Tugas perkembangan keluarga dengan anak usia prasekolah

1. Membantu anak untuk bersosialis


2. Beradaptasi dengan anak yang baru lahir sementara kebutuhan anak
yang lain (tua) juga harus dipenuhi.
3. Mempertahankan hubungan yang sehat baik di dalam atau luar
keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar)
4. Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak
5. Pembagian tanggung jawab anggota keluarga
6. Merencanakan kegiatan dan waktu untuk menstimulasi pertumbuhan
dan perkembangan anak.

E. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang

Pola pertumbuhan dan perkembangan secara normal antara anak yang satu dengan
yang lainnya pada akhirnya tidak selalu sama, karena dipengaruhi oleh interaksi
banyak faktor. Menurut Soetjiningsih (2002), faktor yang mempengaruhi tumbuh
kembang, yaitu:

1. Faktor dalam (internal):

1. Genetika
o Perbedaan ras, etnis, atau bangsa
Tinggi badan orang Eropa akan berbeda dengan orang Indonesiaatau bangsa
lainnya, dengan demikian postur tubuh tiap bangsa berlainan.
o Keluarga
Ada keluarga yang cenderung mempunyai tubuh gemuk atau perawakan pendek
o Umur
Masa prenatal, masa bayi, dan masa remaja merupakan tahap yang mengalami
pertumbuhan cepat dibandingkan dengan masa lainnya.
o Jenis kelamin
Wanita akan mengalami pubertas lebih dahulu dibandingkan laki-laki
o Kelainan kromosom
Dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan, misalnya sindrom down.
2. Pengaruh hormon
Pengaruh hormon sudah terjadi sejak masa prenatal, yaitu saat janin berumur empat
bulan. Pada saat itu terjadi pertumbuhan yang cepat. Hormon yang berpengaruh
terutama adalah hormon pertumbuhan somatotropin yang dikeluarkan oleh kelenjar
pituitari. Selain itukelenjar tiroid juga menghasilkan kelenjar tiroksin yang berguna
untuk metabolisme serta maturasi tulang, gigi, dan otak.
2. Faktor lingkungan
Faktor kelompok yang dapat berpengaruh dikelompokkan menjadi tiga, yaitu
pranatal, kelahiran, dan pascanatal.

1. Faktor pranatal

Gizi, nutrisi ibu hamil akan mempengaruhi pertumbuhan janin, terutama selama
trimester akhir kehamilan
Mekanis, posisi janin yang abnormal dalam kandungan dapat menyebabkan
kelainan conginetal, misalnya club foot
Toksin, zat kimia, radiasi
Kelainan endokrin
Infeksi TORCH atau penyakit menular sesksual
Kelainan imunologi
Psikologis ibu
2. Faktor kelahiran

Riwayat kelahiran dengan vakum ekstraksi atau forcep dapat menyebabkan


trauma kepala pada bayi sehingga beresiko terjadinya kerusakan jaringan otak.
3. Faktor pascanatal

Seperti lainnya pada masa prenatal, faktor yang berpengaruh terhadap


TUMBANG anak adalah gizi, penyakit kronis/ kelainan konginetal, lingkungan fisik
dan kimia, psikologis, endokrin, sosioekonomi, lingkungan pengasuhan, stimulasi,
dan obat-obatan

BAB III
TINJAUAN KASUS
Masalah-masalah Kesehatan Yang Timbul Pada Anak Usia Prasekolah, seperti
:
Diare (Gastroenterologi)
Agen pembuka : Bakteri dan virus.

Sumber :
Makanan basi,
beracun, alergi
terhadap makanan

Masa Inkubasi :
Bayi : BAB ≥ 3x / 24 jam
Anak : BAB ≥ 3x / 24 jam

Manifestasi Klinis :
Bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh meninggi cair dan
mungkin
disertai dengan lendir atau darah.
Variacela (cacar air)
Agen pembawa :
Variacell Zooster

Sumber : Sekresi primer saluran pernafasan dan organ terinfeksi, pada


tingkatan lesi kulit yang lebih rendah.

Transmisi :
Kontak langsung terkontaminasi oleh objek penularan.

Masa Inkubasi :
2 –3 minggu biasanya 13-17 hari.
Masa Penularan :
Biasanya 1 hari setelah erupsi lesi (masa awal) sampai 6 hari setelah
banyak muncul vesikel ketika kerak kulit terbentuk.
Manifestasi Klinis :
Tahap Awal :
Demam ringan, malaise, anorexia, pertama kali 24 jam,
ruam dan gatal sekali, mulai muncul makula, dengan cepat
berkembang menjadi papula dan menjadi vesikel (dikelilingi oleh dasar
eritematosus menjadi gelembung,mudah pecah dan membentuk (kerak).
Ketiga
tahapan (Papula, vesikel dan kerak kulit) hadir dalam tingkatan berbeda
dalam waktu yang sama.

Distribusi :
Sentripetal, menyebar ke wajah dan tubuh tapi jarang pada tungkai dan
lengan.
Gejala :
Elevasi suhu dari limfadenopaty, iritasi dari gatal-gatal.
Difhteria
Manifestasi Klinis :
Bervariasi menurut lokasi anatomi
Pseudomembran.

Nasal :
Menyerupai flu, nasal
mengeluarkan serosanguineous mukous
purulent tanpa gejala-gejala
pokok: tampak seperti epistaksis.
Tonsilar/pharyingeal :
Malaise, anorexia, tenggorokan sakit, sedikit demam, pulse meningkat dari
yang diharapkan selama 24 jam, membran melembut, putih atau abu-abu;
timbulnya limfadenitis jika penyakitnya parah timbul toximea, septik syok, dan
meninggal dalam 6-10 hari.
Lharyngeal :
Demam : serak, batuk, tanpa ada tanda awal, potensial penghambatan
jalan udara, gelisah, cyanosis, retraksi, dyspnieu.
Rubeola (campak)
Agent pembawa : Virus

Sumber :
Sekresi saluran nafas,darah dan urine dari orang yang terinfeksi.

Transmisi :
Kontak langsung dengan orang yang terinfeksi.
Masa inkubasi : 10 – 20 hari.
Periode penularan :
Dari 4- 5 hari setelah ruam-ruam muncul tetapi terutama selama tahapan
awal (catharal).
Manifestasi klinis :
Fase prodromal :
Tidak dijumpai pada anak-anak, namun dijumpai pada remaja dan
dewasa yang ditandai dengan demam ringan, sakit kepala, malaise,
anorexia, konjungtivitis ringan, coryza, sakit
kerongkongan, batuk dan limfadenopaty. Paling sedikit 1-5 hari,
menghilang 1 hari setelah terjadinya ruam.

Ruam :
Pertama kali muncul di wajah dan dengan segera menyebar keleher,
lengan batang tubuh dan kaki.
Diakhiri hari pertama ditutupi dengan bercak-bercak kemerahan
makulo pupalar, biasanya hilang pada hari ketiga.

Tanda dan gejala :


Demam ringan yang muncul kadangkadang, sakit kepala, malaise dan
limfadenopaty.
Pertusis
Agent :
Bordettela pertusis
Sumber :
Masuknya dari saluran pernafasan dari seseorang yang terinfeksi.

Penularan :
Kontak langsung dan droplet.

Masa inkubasi :
5-21 hari, biasanya 10hari.

Perkembangan :
Yang paling besar selama catharal (radang selaput lendir)
sebelum munculnya (kambuhnya kembali dan menghilang pada minggu
ke 4 setelah munculnya kembali gejala penyakit).

Manifestasi klinik :
Stadium kataralis
Batuk ringan pada malam hari, anorexia
Stadium spasmodik
Batuk bertambah berat dan terjadi paroximal berupa batuk-batuk khas,
keringat, dilatasi pembuluh darah leher dan muka, muka merah, sianosis.

Stadium konvalensi
Pada minggu ke-4 beratnya serangan batuk berkurang nafsu makan timbul
kembali,
ronchi difus mulai menghilang.

BAB IV
PEMBAHASAN

Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Anak Prasekolah yang Menderita Diare


A. Pengkajian
Pengkajian (Anak Usia 3 Tahun)
o Keluhan Utama : Buang air berkali-kali dengan konsistensi encer
o Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada umumnya anak mengeluh buang air cair berkali-kali baik disertai atau tanpa
dengan muntah, tinja dapat bercampur lendir dan darah, keluhan lain yang mungkin
didapatkan adalah nafsu makan menurun, suhu badan meningkat, volume diuresis
menurun dan gejala penurunan kesadaran
o Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Meliputi pengkajian riwayat :
- Prenatal
- Natal
- Post natal
- Imunisasi
- Feeding
- Penyakit sebelumnya
- Alergi
- Obat–obat terakhir yang didapat
- Tumbuh kembang
o Riwayat Psikososial
Anak sangat menyukai mainannya, anak sangat bergantung kepada kedua orang
tuanya dan sangat histeris jika dipisahkan dengan orang tuanya. Usia 3 tahun
(toddlers) sudah belajar bermain dengan teman sebaya.
o Aktivitas Sehari-Hari
Pada usia 3 tahun sudah diajarkan toilet training.
o Pemeriksaan Tingkat Perkembangan
Motorik Kasar
Sudah bisa naik/turun tangga tanpa dibantu, mamakai baju dengan bantuan,
mulai bisa bersepeda roda tiga.
Motorik Halus
Menggambat lingkaran, mencuci tangan sendiri dan menggosok gigi
Personal Sosial
Sudah belajar bermain dengan teman sebayanya.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah
serta intake terbatas (mual).
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d gangguan absorbsi nutrien dan
peningkatan peristaltik usus.
3. Kecemasan keluarga b.d perubahan status kesehatan anaknya
4. Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi
b.d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau
keterbatasan kognitif.

C. Rencana Keperawatan
Dx.1 Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan
muntah serta intake terbatas (mual)
Tujuan : Kebutuhan cairan akan terpenuhi dengan kriteria tidak ada tanda-tanda dehidrasi
Intervensi
1. Berikan cairan oral dan parenteral sesuai dengan program rehidrasi.
2. Pantau intake dan output.
3. Kaji tanda vital, tanda/gejala dehidrasi dan hasil pemeriksaan laboratorium
4. Kolaborasi pelaksanaan terapi definitif
Rasional
1. Sebagai upaya rehidrasi untuk mengganti cairan yang keluar bersama feses.
2. Memberikan informasi status keseimbangan cairan untuk menetapkan
kebutuhan cairan pengganti.
3. Menilai status hidrasi, elektrolit dan keseimbangan asam basa
4. Pemberian obat-obatan secara kausal penting setelah penyebab diare diketahui

Dx.2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien
dan peningkatan peristaltik usus.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria terjadi peningkatan berat badan
Intervensi
1. Pertahankan tirah baring dan pembatasan aktivitas selama fase akut.
2. Pertahankan status puasa selama fase akut (sesuai program terapi) dan segera mulai
pemberian makanan per oral setelah kondisi klien mengizinkan.
3. Bantu pelaksanaan pemberian makanan sesuai dengan program diet
4. Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi
Rasional
1. Menurunkan kebutuhan metabolic
2. Pembatasan diet per oral mungkin ditetapkan selama fase akut untuk menurunkan
peristaltik sehingga terjadi kekurangan nutrisi.
3. Pemberian makanan sesegera mungkin penting setelah keadaan klinis klien
memungkinkan.
4. Memenuhi kebutuhan nutrisi klien
5. Mengistirahatkan kerja gastrointestinal dan mengatasi/mencegah kekurangan nutrisi
lebih lanjut

Dx.3 : Kecemasan keluarga b/d perubahan status kesehatan anaknya.


Tujuan : Keluarga mengungkapkan kecemasan berkurang.
Intervensi
1. Dorong keluarga klien untuk membicarakan kecemasan dan berikan umpan balik
tentang mekanisme koping yang tepat.
2. Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang umum terjadi pada orang tua
klien yang anaknya mengalami masalah yang sama
3. Ciptakan lingkungan yang tenang, tunjukkan sikap ramah tamah dan tulus dalam
membantu klien.
Rasional
1. Membantu mengidentifikasi penyebab kecemasan dan alternatif pemecahan
masalah
2. Membantu menurunkan stres dengan mengetahui bahwa klien bukan satu-satunya
orang yang mengalami masalah yang demikian.
3. Mengurangi rangsang eksternal yang dapat memicu peningkatan kecemasan

Dx.4 : Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan


terapi b/d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau
keterbatasan kognitif.
Tujuan : Keluarga akan mengerti tentang penyakit dan pengobatan anaknya, serta mampu
mendemonstrasikan perawatan anak di rumah.
Intervensi
1. Kaji kesiapan keluarga klien mengikuti pembelajaran, termasuk pengetahuan
tentang penyakit dan perawatan anaknya.
2. Jelaskan tentang proses penyakit anaknya, penyebab dan akibatnya terhadap
gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari aktivitas sehari-hari.
3. Jelaskan tentang tujuan pemberian obat, dosis, frekuensi dan cara pemberian
serta efek samping yang mungkin timbul
4. Jelaskan dan tunjukkan cara perawatan perineal setelah defekasi
Rasional
1. Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental serta latar
belakang pengetahuan sebelumnya.
2. Pemahaman tentang masalah ini penting untuk meningkatkan partisipasi keluarga
klien dan keluarga dalam proses perawatan klien
3. Meningkatkan pemahaman dan partisipasi keluarga klien dalam pengobatan.
4. Meningkatkan kemandirian dan kontrol keluarga klien terhadap kebutuhan
perawatan diri anaknya

D. Implementasi
Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana tindakan yang telah
direncanakan sebelumnya
E. Evaluasi
Evaluasi merupakan pengukuran keberhasilan sejauh mana tujuan tersebut tercapai.
Bila ada yang belum tercapai maka dilakukan pengkajian ulang, kemudian disusun
rencana, kemudian dilaksanakan dalam implementasi keperawatan lalau dievaluasi,
bila dalam evaluasi belum teratasi maka dilakukan langkah awal lagi dan seterusnya
sampai tujuan tercapai.

BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
Asuhan keperawatan keluarga merupakan salah satu bentuk dari asuhan
keperawatan yang bersifat komprehensip karena yang dikaji adalah semua anggota
keluarga dalam satu rumah. Asuhan keperawatan keluarga pada anak usia
prasekolah lebih mengkhususkan pengkajian pada anak usia prasekolah. Anak usia
prasekolah adalah usia yang rentan berbagai macam penyakit. Untuk itu
pengawasan pada anak usia prasekolah sangat penting agar anak tidak terkena
penyakit

Saran
Bagi mahasiswa, sebagai perawat nantinya bisa mengaplikasikan ilmu ini
atau menerapkannya dalam memberikan asuhan keperawatan keluarga dengan baik
dan benar.

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TAHAP PRASEKOLAH

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keperawatan kesehatan keluarga adalah tingkat keperawatan kesehatan


masyarakat yang di pusatkan pada keluarga sebagai unit satu kesatuan yang di
rawat dengan sehat sebagai tujuan pelayanan dan perawatan sebagai upaya (Bailon
& Maglaya, 1978). Keluarga adalah sekumpulan orang dengan perkawinan,
kelahiran dan adopsi yang bertujuan untuk mencipyakan, mempertahankan budaya
dan meningkatkan perkembanan fisik, mental, emosional, serta sosial dari anggota
keluarga (Duvval & Logan, 1986).

Keluarga adalah unit pelayanan kesehatan dan merupakan kumpulan dua orang
atau lebih yang ada dan tidak ada hubungan darah atau hubungan secara hukum
akan tetapi berperan sebagai keluarga atau siapapun yang di katakan klien sebagai
keluarganya (Friedman, 1998).

Pada tahap anak usia sekolah, tahap ini dimulai ketika anak pertama telah berusia 6
tahun dan mulai masuk sekolah dasar dan berakhir pada usia 12 tahun, awal dari
masa remaja. Keluarga biasanya mencapai usia maksimum, dan hubungan keluarga
di akhir. Lagi-lagi tahun-tahun pada masa ini merupakan tahun-tahun yang sibuk.
Kini, anak-anak mempunyai keinginan dan kegiatan-kegiatan masing-masing, di
samping kegiatan-kegiatan wajib dari sekolah dan dalam hidup, serta kegiatan-
kegiatan orangtua sendiri. Setiap orang menjalani tugas-tugas perkembangannya
sendiri-sendiri, sama seperti keluarga berupaya memenuhi tugas-tugas
perkembangannya sendiri.

Sekolah dan lingkungan rumah mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan


anak sehingga membutuhkan penyesuaian antara anak dan orangtua. Saat anak
membutuhkan penyesuaian ini perawat membantu meningkatkan kesehatannya. Hal
ini dilakukan dengan membantu orangtua dan anak mengidentifikasikan stressor
potensial dan merancang intervensi untuk meminimalkan stress dan respon anak.
1. B. Tujuan

1. Mengetahui konsep dasar keluarga

2. Mengetahui tahap perkembangan anak usia sekolah

3. Mengetahui asuhan keperawatan pada anak usia sekolah

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. A. Konsep keluarga
1. 1. Pengertian Keluarga

Banyak ahli menguraikan tentang keluarga sesuai dengan perkembangan


masyarakat. Beberapa ahli mengemukakan pengertian keluarga:

a. Duvall, 1986

Sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran


yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum,
meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional da sosial dari tiap anggota.

1. WHO,1969

Keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian
darah, adopsi dan perkawinan.

1. Bergess, 1962

Yang dimaksud keluarga adalah:

 Terdiri dari kelompok orang yang mempunyai ikatan perkawinan, keturunan


atau hubungan sedarah atau hasil adopsi
 Anggota tinggal bersama dalam satu rumah
 Anggota berinteraksi dan berkomunikasi dalam peran sosial
 Mempunyai kebisaan atau kebudayaan dari masyarakat tetapi mempunyai
keunikan tersendiri.

1. Helvie, 1981

Keluarga adalah sekelompok anusia yang tinggal dalam satu rumah tangga dalam
kedekatan yang konsisten dan berhubungan erat

1. Salvicion G. Bailon dan Aracelis Maglaya, 1989

Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan
darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam satu
rumah tangga, berinteraksi antara satu sama lain dan didalam perannya masing-
masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan.

1. Departemen kesehatan R.I, 1998

Keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga
dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal disuatu tempat dibawah satu atap
dalam keaadaan saling ketergantungan.

Dari pengertian tersebut diatas tentang keluarga maka dapat disimpulkan bahw
karakteristik keluarga adalah :

(1) Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah,
perkawinan atau adopsi.

(2) Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap
memperhtikan satu sama lain.

(3) Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai
peran sosial : suami, istri, anak, kakak, adik.

(4) Mempunyai tujuan yaitu : menciptakan dan mempertahankan budaya dan


meningkatkan perkembangan fisik, psikologis dan sosial anggota.

Dari uraian diatas menunjukkan bahwa keluarga juga merupakan suatu sistem.
Sebagai sistem keluarga mempunyai anggota keluarga yaitu: ayah, ibu, dan anak
atau semua individu yang tinggal didalam rumah tangga tersebut. Anggota keluarga
tersebut saling berinteraksi, interelasi dan interdependensi untuk mencapai tujuan
bersama. Keluarga merupakan sistem yang terbuka sehingga dapat dipengaruhi
oleh supra sistemnya yaitu : lingkungan atau masyarakat dan sebaliknya sebagai
subsistem dari lingkungan atau masyarakat, keluarga dapat mempengarhi
masyarakat ( supra sistem). Oleh karena itu betapa pentingnya peran dan fungsi
keluarga dan membentuk manusia sebagai anggota masyarakat yang sehat bio-
psiko-sosial dan spiritual. Jadi sangatlah tepat bila keluarga sebagai titik sentral
pelayanan keperawatan. Diyakini bahwa keluarga yang sehat akan mempunyai
anggota yang sehat dan mewujudkan masyarakat yang sehat.

2. Struktur keluarga

Struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam diantaranya adalah :

 Patrilineal

Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara dalam beberapa generasi,
dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.

 Matrilineal

Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa
generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
 Matrilokal

Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah saudara istri.

 Patrilolal

Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga suami.

 Keluarga kawinan

Adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga dan beberapa
sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya bagian dari suami istri.

Ciri-ciri struktur keluarga:

ü Terorganisasi

ü Saling berhubungan, saling berketergantungan antara anggota keuarga.

ü Ada keterbatasan

ü Setiap anggota memiliki keterbatasan tetapi mereka juga mempunyai


keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya masing-masing.

ü Ada perbedaan dan kekhususan

ü Setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan fungsi masing-masing.


(Anderson Carter).

3. Tipe keluarga

Keluarga yang memerlukan pelayanan kesehatan berasal dari berbagai macam pola
kehidupan. Sesuai dengan perkembangan sosial maka tipe keluarga berkembang
mengikutinya. Agar dapat mengupayakan peran serta keluarga dalam meningkatkan
derajat kesehatan maka perawat perlu memahami dan mengetahui berbagi tipe
keluarga.

a. Keluarga Tradisional

ü Nuclear Family (Keluarga inti) yang terdiri dari : ayah, ibu dan anak yang tinggal
dalam satu rumah ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan
perkawinan, satu/keduanya dapat bekerja di luar rumah.

ü Extended family

Adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara misalnya : nenek, kakek,
keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan lain sebagainya.

ü Resconstituted Nuclear
Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali suami/istri, tinggal
dalam pembentukan satu rumah dengan anak-anaknya, baik itu bawaan dari
perkawinan lama maupun hasil dari perkawinan baru. Satu atau keduanya, dapat
bekerja luar rumah.

ü Niddle Age/Aging Couple

Suami sebagai pencari uang, istri di rumah/kedua-duanya bekerja di ruma anak-


anak sudah meninggalkan rumah karena sekolah/perkawinan/meniti karier.

ü Dyadic Nuclear

Suami istri yang sudah berumur dan tidak mempunyai anak, keduanya/salah satu
bekerja di luar rumah.

ü Single Parent

Satu orang tua sebagai akibat perceraian/ kematian pasangannya dan anak-
anaknya dapat tinggal di rumah/ di luar rumah.

ü Dual Carrier

Suami istri atau keduanya orang karier dan tanpa anak.

ü Commuter Married

Suami istri/ keduanya orang karier dan tinggal terpisah pada jarak tertentu,
keduanya saling mencari pada waktu-waktu tertentu.

b. Keluarga Non Traditional

ü Single Adult

Wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak adanya keinginan untuk
kawin.

ü Three Generation

Tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu rumah.

ü Institusional

Anak-anak atau orang-orang dewasa tinggal dalam suatu panti-panti.

ü Comunal

Satu rumah terdiri dari dua/lebih pasangan yang monogami dengan anak-anaknya
dan bersama-sama dalam penyediaan fasilitas.

ü Group Marriage
Satu perumahan terdiri dari orang tua dan keturunannya di dalam satu kesatuan
keluarga dan tiap individu adalah kawin dengan yang lain dan semua adalah orang
tua dari anak-anak.

ü Unmaried Parent and Child

Ibu dan anak dimana perkawinan tidak dikehendaki, anaknya doadopsi.

ü Cohibing Couple

Dua orang/satu pasangan yang tinggal bersama tanpa kawin.

Maka secara umum di negara Indonesia dikenal dua type keluarga yaitu type
keluarga tradisional dan type keluarga non tradisional. Yang termasuk type keluarga
tradisional : keluarga inti, extended family, single parent, keluarga usila dan single
adult. Sedangkan yang termasuk dalam type keluarga extended family adalah :
commune family yaitu : lebih satu keluarga tanpa pertalian darah hidup serumah,
orang tua atau ayah ibu yang tidak ada ikatan perkawinan dan anak hidup bersama
dalam satu rumah tangga. Di indonesia dalam Undang-Undang No. 10 tahun 1992
disebutkan bahwa keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat, yang terdiri dari
suami istri dan anak atau ayah/ibu dan anak. Dalam konteks pembangunan, di
Indonesia bertujuan menciptakan keluarga yang bahagia dan sejahtera. Keluarga
sejahtera dalam UU No.10 disebut sebagai keluarga yang dibentuk berdasarkan
atas perkawinan yang sah, dan mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan
materiil, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi,
selaras dan seimbang antar anggota, dan dengan masyarakat.

1. Fungsi keluarga

a. Fungsi afektif

Fungsi afektif berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga, yang


merupakan basis kekuatan keluarga. Fungsi afektif berguna untuk pemenuhan
kebutuhan psikososial. Keberhasilan melaksanakan fungsi afektif tampak pada
kebahagiaan dan kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Tiap anggota
keluarga saling memprtahankan iklim yang positif. Hal tersebut dapat dipelajari dan
dikembangkan melalui interaksi dan hubungan dalam keluarga. Dengan demikian,
keluarga yang berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh anggota keluarga dapat
mengembangkan konsep diri positif.

Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga dalam melaksanakan fungsi afektif
adalah :

 Saling mengasuh
o Cinta kasih
o Kehangatan
o Saling menerima
 Saling mendukung antar anggota keluarga
 Mendapat kasih sayang dan dukungan dari anggota yang lain
Fungsi afektif merupakan ”sumber energi” yang menentukan kebahagiaan keluarga.
Kerekatan keluarga, kenakalan anak atau masalah keluarga, timbul karena fungsi
afektif di dalam keluarga tidak dapat terpenuhi.

b. Fungsi sosialisasi

Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu, yang
menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam lingkungan sosial
(Fiedmann, 1986). Keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai
melalui interaksi atau hubungan antar anggota keluarga yang diwujudkan dalam
sosialisasi anggota keluarga belajar disiplin, belajar norma-norma, budaya dan
perilaku melalui hubungan dan interaksi keluarga.

c. Fungsi reproduksi

Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber daya


manusia. Maka dengan ikatan suatu perkawinan yang sah, selain untuk memenuhi
kebutuhan biologis pada pasangan tujuan untuk membentuk keluarga adalah untuk
meneruskan keturunan.

d. Fungsi ekonomi

Fungsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan seluruh


anggota keluarga seperti memenuhi kebutuhan akan makanan, pakaian, dan tempat
tinggal. Banyak sekarang pasangan yang kita lihat dengan penghasilan yang tidak
seimbang antara suami dan istri, hal ini menjadikan permasalahan yang berujung
pada perceraian.

e. Fungsi perawatan kesehatan

Keluarga juga berperan atau berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan


kesehatan, yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan atau merawat
anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan
kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga. Kesanggupan keluarga
melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga
yang dilaksanakan. Keluarga yang dapat melaksanakan tugas kesehatan berarti
sanggup menyelesaikan masalah kesehatan.

Tugas kesehatan keluarga adalah sebagai berikut :

1. Mengenal masalah kesehatan

2. Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat

3. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit

4. Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat

5. Mempertahankan hubungan dengan (menggunakan) fasilitas kesehatan


masyarakat.
1. KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN ANAK USIA SEKOLAH (
FAMILIES WITH SCHOOL CHILDREN)

Tahap ini dimulai pada saat anak yang tertua memasuki sekolah pada usia 6 tahun
dan berakhir pada usia 12 tahun. Pada fase ini umumnya keluarga mencapai jumlah
anggota keluarga maksimal, sehingga keluarga sangat sibuk. Selain aktivitas di
sekolah, masing-masing anak memiliki aktivitas dan minat sendiri. Demikian pula
orang tua yang mempunyai aktivitas yang berbeda dengan anak. Unuk itu keluarga
perlu bekerjasama untuk mencapai tugas perkembangan. Pada saat ini keluarga
(orang tua) perlu belajar berpisah dengan anak, memberi kesempatan pada anak
untuk bersosialisasi baik aktivitas disekolah mapun diluar sekolah.

Lagi-lagi tahun-tahun pada masa ini merupakan tahun-tahun yang sibuk. Kini,anak-
anak mempunyai keinginan dan kegiatan-kegiatan masing-masing, disamping
kegiatan-kegiatan wajib dari sekolah dan dalam hidup, serta kegiatan-kegiatan orang
tua sendiri. Setiap orang menjalani tugas-tugas perkembangan nya sendiri, sama
seperti keluarga berupaya memenuhi tugas-tugas perkembangannya sendiri.
Menurut Erikson (1950), orangtua berjuang dengen tuntutan ganda yaitu berupaya
mencari kepuasan dalam mengasuh generasi berikutnya (tugas perkembangan
genereletivitas) dan memperhatikan perkembangan mereka sendiri; sementara
anak-anak usia sekolah bekerja untuk mengembangkan sense of industry yaitu
kapasitas untuk menikmati pekerjaan dan mencoba mengurangi atau menangkis
perasaan rendah diri.

Tugas orangtua pada tahap ini adalah untuk belajar mengahadapi pisah dengan,
atau lebih sederhana, membiarkan anak pergi. Lama kelamaan hubungan dengan
teman sebaya dan kegiatan-kegiatan diluar rumah akan memainkan peranan yang
lebih besar dalam kehidupan anak usia sekolah tersebut. Tahun-tahun ini dipenuhi
oleh kegiatan-kegiatan keluarga, tapi ada juga kekuatan-kekuatan yang secara
perlahan-lahan mendorong anak tersebut pisah dari keluarga sebagai persiapan
menuju masa remaja. Orangtua yang mempunyai perhatian diluar anak mereka
akan merasa lebih mudah membuat perpisahan yang perlahan-lahan. Akn tetapi,
dalam contoh-contoh dimana peran ibu merupakan sentral dan satu-satunya peran
yang signifikan dalam kehidupan wanita, maka proses pisah ini merupakan sesuatu
yang menyakitkan dan dipertahankan mati-matian.

Selama tahap ini orangtua merasakan tekanan yang luar biasa dari komunitas di luar
rumah melalui sistem sekolah dan berbagai asosiasi diluar keluarga yang
menghruskan anak-anak mereka menyesuaikan diri dengan standar-standar bagi
anak. Kecacatan pada anak akan ketauan selama priode kehidupan anak ini. Para
perawat sekolah dan guruakan mendeteksi banyaknya defek penglihatan,
pendengaran, bicara, selain kesulitan belajar, gangguan tingkah laku, dan
perawatan gigi yang tidak adekuat, penganiayaan anak, penyalah gunaan zat, dan
penyakit-penyakit menular.

Ada banyak keadaan cacat yang terdeteksi selama tahun-tahun sekolah,termasuk


epilepsi, serebral pasi, retardasi mental, kanker, kondisi ortopedik. Fungsi utama
perawat kesehatan disini adalah di samping sebagai fungsi rujukan, mengajar, dan
memberikan konselingkepada orangtua mengenai hal tersebut, akan membantu
keluarga melakukan koping sehingga pengaruh merugikan dari cacat tersebut pada
keluarga dapat di minimalkan. Jika orangtua dapat menata kembali masalah tingkah
laku anak sebagai sebuah masalah keluarga dan berusa mencari resolusi dengan
fokus baru tersebut, akan tercapai banyak fungsi-fungsi kluarga dan tingkah
lakuanak yang sehat.

1. 6. Tugas-tugas perkembangan keluarga

Salah satu tugas orangtua yang sangat penting dalam mensosialisasikan anak pada
saat ini meliputi meningkatkan prestasi anak di sekolah. Tugas keluarga yang
signifikan lainnya adalah mempertahankan hubungan perkawinan yang bahagia.
Sekali lagi dilaporkan bahwa kebahagiaan perkawinan selama tahap ini menurun.

A). PERKEMBANGAN PRILAKU ANAK USIA SEKOLAH

 Hubungan dengan keluarga

Anak mempelajari secara bertahap bahwa orangtua kurang sempurna; mereka


dapat dikecewakan oleh orangtuanya dan berharap teman orangtuanya adalah
teman mereka. Kadang mereka percaya bahwa mereka pasti diadopsi. Mereka
mengendalikan orantuanya untuk memberi kasih sayang, keamanan, bimbingan dan
asuhan yang mutlak.

 Hubungan dengan saudara kandung

Usia sekolah tampak saling merasa asing dengan saudaranya dirumah; meskipun
mereka adalah pembela saudaranya yang paling baik diluar rumah. Anak yang lebih
kecil kadang mengidolakan saudara kandungnya yang lebih besar, dan akhirnya
sering terjadi persaingan. Anak yang lebih besar mungkin iri pada perhatian yang di
berikan pada saudara kandungnya yang lebih kecil dan sedikit merayu dan kadang-
kadang kasar.

 Hubungan dengan kawan sebaya

Selama tahap primer ( 6-7 tahun) anak laki-laki dan perempuan bermain bersama,
bergantung pada siapa yang bersedia dan tertarik. Sekitar usia 8 tahun, kelompok
sosial dengan kawan sebaya berjenis kelamin sama mulai berbentuk. ”Geng” ini
membuat anak menyatakan kemandirian mereka dari peran orangtua dan membuat
kode atau bahasa rahasia dan prilaku mreka sendri. Periode sering kali mengarhkan
pada masyarakat rahasia dimasa kanak-kanak. Persahabatan adolesens (10-12
tahun ) dikarakterisasikan dengan memiliki sahabat dengan jenis kelamin yang
sama. Hubungan ini mungkin sementara, tetapi hubungan mereka sangat erat dan
tercipta diskusi yang menyangkut seluruh area kehidupannya. Beberapa teknik
membentuk hubungan heteroseksual tetapi biasanya mereka tidak saling timbal
balik.

 Konsep diri

Perasaan anak terahadap kemampuan penguasaan tugas merupakan elemen kunci


dalam membentuk harga diri. Anak perlu mendapatkan umpan balik positiff dari guru
dan orangtua terhadap usahanya. Sangat penting bagi anak untuk mengembangkan
keterampilan sedikitnya dalam satu area seperti membaca, musik atau berenang.
Hewan peliharaan yang membutuhkan perawatan dan perhatian anak menimbulkan
kasih sayang mutlak dan meninggalkan perasaan harga diri mereka.

 Ketakutan

Terdapat penurunan rasa takut yang berkaitan dengan keamanan tubuh seperti,
kilat, anjing, kegelapan, suara luka, dan goresan. Takut terhadap supernatural
seperti hantu dan penyihir menetap dan menurun secara perlahan. Terjadi ketakutan
baru yang berkaitan dengan sekolah dan keluarga. Ketakutan mereka terhadapguru
dan teman-temannya dan ketiak setujuan dan penolakan orangtua. Mereka juga
menjadi takut tentang kematian dan hal-hal yang mereka dengar dalam berita
seperti perang dan pengrusakan lingkungan.

 Pola koping

Untuk mengatasi stes, usia sekolah menggunakan mekanisme pemecahan


masalahdan pertahanan meliputi regresi, penolakan, agresi, dan suspresi. Beberapa
katagori prilaku koping anak usia sekolah yang mengalami hospitalisasi meliputi
ketidakaktifan (diam total, kurang beraktifitas, dan apatis). Orientasi pra-kopping
(melihat dan mendengar, berjalan berkeliling dan mengamati, dan menanyakan
pertanyaan ), kooperasi (kepatuhan terhadap perawatan), resistensi (berusaha
menghindari situasi dengan menolak dan membuat serangan fisik atau verbal) dan
mengendalikan (memikultanggung jawab terhadap perawatan mandiri dan
menyarankan bagaimana suatu hal dapat diselesaikan).

 Moral

Anak belajar peraturan dan orangtua, tetapi pemahaman terhadap atyran dan alasan
terbatas sampai usia sepuluhtahunan. Sebelumnya mereka memperhatikan
kebutuhan mereka lebih dahulu dan dapatberbuat curang untuk memenangkannya
setelah 10 th, keadilan berdasarkan pada ”mata untuk mata” dan hukuman pada
situasi yang benar (mmisalnya jika anak memecahkan sesuatu, meka harus
membayar untuk membetulkannya).

 Aktivitas pengalih

Usia sekolah bermain secara kooperatif dalam aktivitas kelompok seperti lompat tali,
sepak bola, dan bola kasti. Permainan menjadi kompetitif dan anak yang memiliki
kesulitan belajar akan kalah. Karakteristik usia ini adalah saling mengejek,
menghina, menantang, takhayul, dan meningkatkan sensitivitas.

 Nutrisi

Anak pasti memiliki kesukaan dan ketidaksukaan. Pada kelompok ini terjadi sedikit
devisensi nutrisi. Anak memiliki nafsu makan yang besar setelah pulang sekolah dan
memerlukan makanan kecilyang berkualitas seperti buah dan roti lapis untuk
menghindari makanan berkaloi seperti keripik dan permen.

g
a untuk memberi kasih sayang, keamanan, bimbingan dan asuhan yang
mutlak.

b). Perkembangan motorik pada anak usia sekolah

 Pada usia 6-7 tahun

Keterampilan motorik halus

- Menggunakan pisau untuk mengoles mentega pada roti dan belajar


memotong danging lunak.

- Menggunting, melipat, dan memotong kertas.

- Menulis dengan pensil.

- Menggambar orang dengan 12-16 rincian

- Mencontoh segitiga pada usia 6 tahun dan wajib pada usia 7 tahun

- Mewarnai gambar dalam garisnya

- Membutuhkan bantuan untuk membersihkan gigi dengan seksama.

Keterampilan motorik kasar

- Mempertahankan gerak spontan

- Bergeraklebih hati-hati pada usia 7 tahun dari pada 6 tahun.

- Melompat dan meloncat ke dalam kotak kecil

- Berjalan bermain roller skate, lompat tali, mengendarai sepeda dan


berenang.

Perawatan diri

- Mandi tanpa mengawasan

- Sering kembali menggunakan tangan saat makan

- Belajar menyikat dan menyisir rambut dengan mode yang bisa tanpa
bantuan.

- Memakai seluruh baju, tetapi membutuhkan bantuan pada bagian bawah


kemeja, ikat pinggang dan penyesuaian terakhir.

 Pada usia 8-10 tahun

Keterampilan motorik halus


- Menggunakan pisau dan garpu secara bersamaan

- Belajar memasukkan benang kedalam jarum dan menyimpulkan dasi.

- Menggunakan palu, gergaji dan obeng.

- Menjadi ahli dalam kursif.

- Mengunakan simbol saat menggambar (misalnya burung binatang).

- Membuat model sederhana mobilan dan pesawat terbang serta membuat -


kerajinan tangan sederhana.

- Belajar bermain donkrak dan kelereng.

- Belajar membersihkan gigi dengan flossing secara efektif dan mandiri


melakukan perawatan gigi

Keterampilan motorik kasar

- Dapat menangkap atau melempar (70 kaki ), dan memukul bola kasti.

- Melakukan loncat ritmik dengan pola 2-2,2-3 atau 3-3.

- Melakukan bermacam-macam gaya lompat tali disertai menyanyikan lagu


atau upacara lain.

Perawatan diri

- Belajar membersihkan kamar mandi setelah mandi.

- Menikmati membuat makanan ringan dan menyusun makan siang sendiri.

- Belajar mengatur rambut dan menyisipkan pita rambut dan hiasan lainnya.

- Memakai baju sendiri dengan lengkap dan dapat membantu saudaranya -


yang lebih kecil untuk berpakaian.

- Dapat merapikan tempat tidur sendiri.

 Usia 11-12 tahun

- Keterampilan motorik halus

- Belajar mengupas apel dan kentang

- Menjahit bahan sederhana dengan mesin.

- Membangun objek sederhana seperti rumah burung.


- Menikmati menggunakan tulisan degan koratif.

- Mulai menggunakan bakat kreatif dan artistik

- Membangun model komplek mobil dan pesawat da membuat kerajinan


tangan yang rumit.

- Belajar memainkan instrumen musik

- Menjadi ahli dalam merawat kawat gigi dan alat lain.

Keterampilan motorik kasar

- Dapat melakukan lompat jauh sejauh 1,5 meter.

- Dapat melakukan lompat tinggi berdiri sejauh 90 cm.

- Melakukan permainan yang melibatkan penggunaan dua atau lebih -


keterampilan motorik komplek seperti roller skate, hoki es atau dance skate.

Perawatan diri

- Membersihkan debu, membersihka dengan vakum, dan membersihkan


ruangan sendiri.

- Belajar memasak makanan siap saji yang sederhana.

- Mencuci, mengeringkan, menjalin , mengeriting dan menguncir rambutnya


sendiri.

- Belajar memilih, mencuci, mengeringkan, dan menyetrika pakaiannya


sendiri.

- Belajar merawat kuku jari tangan dan kaki

c). Tugas perkembangan keluarga anak usia sekolah

 Memberi perhatian tentang kegiatan sosial anak, pendidikan, semangat


belajar.
o Tetap mempertahankan hubungan harmonis dalam perkawinan
o Mendorong anak untuk mencapai pengembangan daya intelektual.
o Menyediakan aktifitas untuk anak.
o Menyesuaikan pada aktivitas komuniti dengan mengikut sertakan
anak.

Sedangkan menurut carter dan mc. Goldrink,1988, duval dan miller, 1985 tugas
perkembangan keluarga meliputi :

 Mensosialisasikan anak-anak termasuk meningkatkan prestasi sekolah dan


mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sehat.
 Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan.
 Memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga.

d). Fungsi perawat

Melakukan perawatan dan konsultasi baik dalam keluarga maupun disekolah,


misalnya : pada anak yang mengalami gangguan kesehatan. Perawat bekerja sama
dengan guru sekolah dan orangtua anak.

e). Tahap-tahap kehidupan keluarga dalam menghadapi anak usia sekolah

Dalam tahap ini tugas keluarga adalah :

 Bagaimana mendidik anak.


 Mengajari anak untuk mempersiapkan masa depannya
 Membiasakan anak belajar teratur
 Menngontrol tugas-tugas sekolah anak
 Meningkatkan pengetahuan anak

Pada usia 7-8 tahun anak pandai menentukan makanan yang disukai karena
mereka suda mengenal lingkungan. Untuk itu perlu pengwasan dari orangtua
supaya tidak salah memilih makanan karena pengaruh lingkungan. Disini anak
masih daam tahap pertumbuhan sehingga kebutuhan gizinya harus tetap seimbang.
Banyak makanan yang dijual dipinggir jalan atau tempat umum hanya mengandung
karbohidrat dan garam yang hanya dapat membuat cepat kenyang dan banyak
disukai anak, sayangnya hal ini hanya dapat mengganggu nafsu makan anak dan
jika hal ini dibiarkan di biarkan berlarut-larut akan dapat mengganggu atau
menghambat pertumbuhan tumbuhnya. Sedangkan pada anak usia 10-12 tahun
sudah harus dibagi dalam jenis kelaminnya mengingat kebutuhannya yang berbeda.
Anak laki-laki lebih banyak melakukan aktivitas fisik sehingga memerlukan kalori
yang lebih banyak dibandingkan anak perempuan. Pada usia ini biasanya anak
perempuan sudah mengalami masa haid sehingga memerlukan lebih banyak
protein, zat besi dari usia sebelumnya. Dan yang perlu diperhatikan pula adalah
pentingnya sarapan pagi supaya konsentrasi belajar tidak terganggu.

B. Konsep Retardasi Mental

1. Definisi Retardasi Mental

Menurut WHO (dikutip dari Menkes 1990), retardasi mental adalah kemampuan
mental yang tidak mencukupi.

Carter CH (dikutip dari Toback C) mengatakan retardasi mental adalah suatu kondisi
yang ditandai oleh intelegensi yang rendah yang menyebabkan ketidakmampuan
individu untuk belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atas
kemampuan yang dianggap normal.

Menurut Crocker Ac 1983, retardasi mental adalah apabila jelas terdapat fugsi
intelegensi yang rendah, disertai adanya kendala dalam penyesuaian perilaku dan
gejalanya timbul pada masa perkembangan.
Menurut Melly Budhiman, seseorang dikatakan retardasi mental bila memenuhi
kriteria sebagai berikut:

 Fungsi intelektual umum dibawah normal


 Terdapat kendala dalam perilaku adaptif social
 Gejalanya timbul dalam masa perkembangan yaitu dibawah usia 18 tahun.

Retardasi mental adalah fungsi intelektual dibawah rata-rata yang muncul


bersamaan dengan kurangnya perilaku adaptif, awitannya sebelum usia 18 tahun (
Donna L. wong, 1996).

2. Klasifikasi Retardasi Mental

1. Retardasi mental ringan (IQ 50-70)

Dinilai mampu dididik. Mereka biasanya dikenali saat masuk sekolah dan
membutuhkan pendidikan khusus. Kebanyakan dapat membantu diri sendiri, dengan
bantuan, walaupun mereka mempunyai pertimbangan, sensitivitas social, dan tilikan
yang terbatas.

1. Retardasi Mental sedang (IQ 35-40)

Merupakan 10% dari seluruh jumlah penderita retardasi mental. Biasanya sudah
dikenali saat tahun-tahun prasekolah. Mereka dinilai mampu dilatih, dapat
mempelajari ketrampilan kerja yang sederhana, dapat membaca setingkat kelas 2
selkolah dasar dan berbicara sederhana, dan dapat secara sebagian membantu diri
sendiri di dalam lingkungan panti. Mereka cenderung terlihat kikuk dan tidak
terkoordinasi

1. Retardasi Mental Berat (IQ 25-30)

Mereka termasuk penderita retardasi yang dependen, mampu berbicara yang paling
sederhana, tetapi membutuhkan suatu institusi atau pengasuhan suportif yang
intens. Sering ditemukan malformasi dan cacat fisik yang berat.

1. Retardasi Mental Sangat Berat ( IQ dibawah 20)

Mereka bergantung secara total kepada orang lain dan biasanya mempunyai
kerusakan neurology yang bermakna, tidak dapat berjalan atau berbicara.

3. Etiologi

Penyebab dari retardasi mental meliputi:

1.
o Kelainan kromosom

Banyak jenisnya termasuk syndrome down ( mongolisme, trisomi 21, merupakan


kelainan terbanyak, fragile X syndrome, syndrome klinefelter (XXY), syndrome Cri-
du-chat, dan syndrome turner (X0/ XX).
 Pewarisan factor genetic yang dominan

Neurofibromatosis ( penyakit Von Recklinghausen), Khorea Huntington (dengan


awitan masa kanak-kanak), syndrome Sturge-Weber, tuberous sclerosis.

 Gangguan metabolic

Fenilketonuria (PKU), penyakit Hartnup, intoleransi fruktosa, galaktosemia, penyakit


Wilson, sejenis gangguan lipid, hipotiroidisme, hipoglikemia.

 Gangguan prenatal

Rubella maternal (terutama pada trimester pertama), sifilis, toksoplasmosis,


diabetes, penyalahgunaan alcohol pada ibu (syndrome fetal alcohol), penggunaan
beberapa obat (mis: talidomid), toksemia pada kehamilan, eritoblastosis fetalis, dan
malnutrisis pada ibu.

 Trauma kelahiran

Proses kelahiran yang sulit dengan trauma fisik atau amoksia, prematuritas.

 Trauma otak

Tumor, infeksi (terutama ensefalitis, meningitis neonatal), kecelakaan, toksin (misal:


plumbum, merkuri), hidrocefalus, bermacam-macam jenis kelainan kranial lainnya.

4. Penatalaksanaan dan Prognosis

Retardasi mental ringan masih dapat berkembangsering tidak terduga tetapi lebih
lambat,dengan pendidikan (terutama memperlakukan penderita dengan hati-hati)
dan lingkungan yang suportif. Mereka mempunyai resiko untuk timbulnya reaksi
penyesuaian, hiperaktifitas, depresi, (agresif serta melukai diri-sendiri, reaksi
psikotik, dan gangguan perilaku sekunder akibat suatu citra diri yang negatif pada
suatu waktu).

Terapi pasien dengan psikoterapi suportif yang berorientasi pada realitas. Tentukan
cara klien menghadapi sesuatu dan kekuatan temperamental dan semangati
mereka, tetapi jangan menuntut terlalu banyak .

Orang retardasi mental berat mungkin membutuhkan beberapa bentuk perawatan,


serta pelatihan, di dalam suasana asramaharus dipertimbangkan jika
memungkinkan. Jika klien tinggal bersama keluarganya,terapi juga keluarganya.
Orang tua dan saudara-saudaranya seringkali menunjukkan kemarahan, penolakan,
perlindungan berlebihan, control yang berlebihan, penyangkalan, atau perasaan
bersalah.

BAB III

STUDI KASUS
Bapak Imran dan Ibu Isna masing-masing berusia 35 tahun dan 33 tahun, memiliki
seorang putra bernama Angga berusia 11 tahun dan seorang putrid bernama Anggi
6 tahun. Angga memiliki prestasi yang tnggi di sekolahnya dan selalu mendapat
juara kelas. Sedangkan Anggi mengalami retardasi mental sehingga ibunya
menganggap anaknya tidak perlu masuk sekolah.

Pada saat Anggi berusia 4 tahun, Ibu Isna sudah merasakan hal yang beda dalam
diri Anggi. Melihat anak-anak seumuran Anggi begitu aktif, sedangkan Anggi
perkembangannya agak lambat dibandingkan teman seusianya seperti lambat
berbicara, lambat berespon terhadap lingkungan sekitar. Namun ibunya tidak begitu
resah karena tingkah Anggi tidak terlalu mencolok. Jika ibunya meminta tolong
dalam hal sederhana seperti menyuruh mengambil barang-barang kecil yang
dikenalnya, Anggi mau mengambilkannya.

Ibu Isna merasa bahwa Anggi tidak perlu diperiksa ke rumah sakit karena anaknya
mungkin bisa mengejar keterlambatannya. Walaupun Anggi sering berperilaku
hiperaktif, ketidakstabilan afektif bahkan suka berperilaku agresif, tapi orang tuanya
selalu memberikan kasih sayang dan tidak pernah memarahi Anggi. Begitu juga
dengan Angga yang selalu sayang pada Anggi. Jika keinginannya tidak tercapai
misalnya tanpa sepengetahuan orang tuanya, ia ingin mengambil sesuatu di rak
lemari yang lebih tinggi darinya. Dia mengacak-acakkan semua isi lemari dan
menyerakkan ke lantai karena ia tidak dapat meraih barang-barang yang
diinginkannya. Ketika ibunya melihat kejadian ini, ibunya tidak memarahinya
melainkan ia memberi pengertian dan melarang anaknya untuk tidak melakukan itu
lagi. Karena tidak banyak tetangga, ibunya jarang mengizinkan Anggi untuk bermain
diluar tapi dia bermain dirumah tetangga yang ia kenal dan Anggi berperilaku baik
serta tidak mengganggu orang lain.

Akhir-akhir ini Anggi sering berperilaku agresif dan tidak seperti biasanya. Ia lebih
sering meminta untuk bermain di rumah tetangganya, tapi ibunya tidak mengizinkan
karena takut menyusahkan orang lain. Namun Anggi tetap memaksa untuk bermain
dirumah tetangganya, bahkan di melempar barang-barang yang ada dihadapannyaa
agar ibunya mengizinkan dia untuk bermain di rumah tetangga. Karena sudah tidak
sanggup lagi mrnahannya, akhirnya si ibu mengizinkannya.

Melihat keadaan Anggi yang berbeda dibandingkan dengan anka yang seusia
dengannya, maka orang tuanya memutuskan untuk memeriksa konisi Anggi ke
rumah sakit.

Pada kunjungan pertama, Ibu Isna terlihat lelah dan dia mengatakan bahwa dia
kurang tidur.Tampak Anggi sedang bermain dengan bantalnya dan dia berbicara
sendiri, tersenyum, dan bertingkah seolah-olah bantal itu adalah temannya.

BAB IV

PROSES KEPERAWATAN KELUARGA

1. A. Pengkajian
Identitas keluarga

Nama keluarga : Bapak Imran

Alamat : Lamtheun, Aceh Besar

Komposisi keluarga

Nama Gender Hubungan Usia Tempat Pekerjaan Pendidikan


lahir

Imran L Bapak 40th Aceh Guru S1


Besar

Isna P Ibu 33th Aceh IRT SMA


Besar

Angga L Anak laki- 11th Aceh Pelajar -


laki Besar

AnggigadikanirAceh P Anak 8th Aceh - -MAajarsar


Besar perempuan Besar

Tipe bentuk keluarga : keluarga inti dengan Bapak, Ibu, Anak 2 orang

Latar belakang budaya : keluarga ini merupakan keluarga asli Aceh Besar.

Identifikasi religius : terlibat secara aktif di mesjid setempat dan istrinya juga
mengikuti pengajian di mesjid. Bapak Imran selalu shalat berjamaah. Kepercayaan
kepada keluarga dan anak-anaknya ditekankan.

Status kelas sosial : ayah merupakan stu-satunya pencari nafkah

Status ekonomi : pendapatan mencukupi, jika ada yang sakit ada simpanan

Aktifitas rekreasi : mereka sering nonton, makan & berkumpul bersama-sama.


Kadang mereka saling mengunjungi keluarga besar.

Tahap perkembangan Keluarga saat ini : keluarga dalam tahap keluarga dengan
anak usia sekolah, dengan anak usia 11th

Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi : nampaknya keluarga


memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga dalam perumahan,kamar, ruang dan
privasi serta keamaan. Ibu merasa tertekan dengan dengan prilakuan anaknya yang
RM saat ini karena kesulitan dalam mengendalikan prilaku anaknya, yang semakin
sering berprilaku agresif. Pemeliharaan hubungan-hubungan orangtua-anak
memuaskan.
Riwayat keluarga :kedua orangtua hidup dalam lingkungan yang sama. Kedua
orang tua menerima kekurangan anaknya dengan hangat dan menyayanginya.

Riwayat keluarga asal :dari kedua belak pihak keluarga tidak ada riwayat retardasi
mental

Karakteristik rumah : sebuah rumah berlantai 1 dengan 4 kamar tidu yang dibeli
ketika Imran berumur 25th. Diluar rumah : kondisinya terawat dengan baik,
penerangan diluar bagus. Didalam rumah : di lengkapi dengan perabot minimal.
Diruang tamu ada sebuah televisi berwarna. Orang tua memiliki kamar tidur sendri
dan bergabung dengan Anggi. Angga memiliki kamar tidur sendiri. Didapur ada
lemari es dan kompor gas dilengkapi dangan lemari. Bahaya-bahaya keamaan :
tidak ada pagar.

Karakteristik lingkungan dan komunitas

Yang lebih luas : lingkungan merupakan daerah komplek perumahan, yang


terdiri dari berbagai etnis. Lingkungan ini agak jauh dari jalan raya. Keluarga
menyukai keramah-tamahan dari lingkungan, namun tetap cemas dengan tingkah
laku yang mungkinn timbul dari anaknya. Keluarga menggunakan pasar tradisional
dan pusat perbelanjaan yang sangat jauh dari rumah ( 2 km jauhnya) untuk hampir
semua kebutuhan-kebutuhan berbelanja. Mesjid hanya berjarak 300 M dari rumah.
Tidak ada transportasi umum yang masuk ke komplek perumahan tersebut, tapi Isna
dapat menggunakan kendaraan mlikiknya jika pergi melakukan aktifitas sehari-hari

1. B. Diagnosa keperawatan

1) Perubahan dalam proses keluarga pada keluarga Bapak Imran terutama Ibu Isna
berhubungan dengan KMK merawat anggota keluarga dengan anak retardasi
mental.

2) Gangguan penyesuaian diri pada keluarga Bapak Imran terutama Anggi


berhubungan dengan KMK merawat anggota keluarga dengan anak retardasi
mental.

3) Gangguan pertumbuhan & perkembangan pada keluarga Bapak Imran terutama


Anggi berhubungan dengan KMK merawat anggota keluarga dengan retardasi
mental.

1. C. Analisa Data

No. Data Etiologi Masalah keperawatan

1. DS: Inadekuat pola Perubahan dalam


koping keluarga proses keluarga
Ibu mengatakan Anggi suka
berperilaku agresif,
ketidakstabilan afektif dan
terkadang hiperaktif.
ibu mengatakan saat ini Anggi
suka melempar barang yang
ada dihadapannya bila
keinginannya tidak dipenuhi.

Ibu mengatakan kurang tidur

DO:

Pada kunjungan pertama


perawat melihat Anggi sedang
bermain dengan bantalnya dan
dia berbicara sendiri,
tersenyum dan bertingkah
seolah-olah bantal itu
temannya

Ibu terlihat lelah.


2. DS: Ketidakmampuan Gangguan
mengadakan penyesuaian diri
Ibu mengatakan Anggi tidak perubahan pola
diperbolehkan bermain di hidup
rumah tetangga karena takut
menyusahkan orang lain.

Ibu mengatakan bila tidak


mampu mengambil barang
yang diinginkan maka dia akan
menyerakkan barang-barang
yang ada di sekitarnya
3. DS: Kurangnya Gangguan
rangsangan dan pertumbuhan dan
Ibu mengatakan Anggi lambat lingkungan perkembangan
berbicara

Ibu mengatakan Anggi lambat


berespon terhadap lingkungan
sekitar

Ibu mengatakan
perkembangan Anggi lebih
lambat daripada anak
seusianya.

1. D. Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA


No. Diagnosa Tujuan Kriteria evaluasi Interven
Keperawatan
Jangka Jangka Kriteria Standar
panjang pendek

1. Perubahan dalam Selama 4×60 Selama 1×60 Respon Retardasi mental adalah v Kaji
proses keluarga kunjungan kunjungan verbal suatu kondisi yang ansietas
pada Ibu Isna keluarga keluarga ditandai oleh intelegensi muncul
dikeluarga Bapak mampu mampu yang rendah yang keluarga
Imran mengenal cara mengenal menyebabkan terdekat.
berhubungan merawat dan cara merawat ketidakmampuan individu
dengan KMK menstimulasi anak dengan untuk belajar dan v
dalam merawat perkembangan retardasi beradaptasi terhadap hubunga
akui k
anggota keluarga anak dengan mental usia 6 tuntutan masyarakat atas
situasi
terutama Anggi retardasi tahun kemampuan yang keluarga
(anak kedua mental pada dianggap normal.
bapak Imran) usia 6 tahun. Dengan cara: v Kaji
karena retardasi sebelum
mental. 1.1 tingkah
menyebutkan saat in
pengertian menggan
retardasi
mental
1.2 Respon Menyebutkan 2 dari 4 v Te
menyebutkan verbal klasifikasi anak retardasi pengetah
klasifikasi mental yaitu: akan
sekarang
anak dengan
retardasi 1. Retardasi mental
v Kaji t
mental ringan (IQ 50-70)
keluarga
2. Retardasi Mental
sekarang
sedang (IQ 35-40)
dan bag
3. Retardasi Mental
mereka d
Berat (IQ 25-30)
oleh pas
4. Retardasi Mental
Sangat Berat ( IQ
v Ikuts
dibawah 20)
keluarga
pemberia
informas
pemecah
masalah
perawata
pasien
kemungk
1.3 Repon Menyebutkan 1 dari 6
menyebutkan verbal penyebab retardasi
apa penyebab mental.
retardasi 1. Kelainan
mental kromosom
2. Pewarisan factor
genetic yang
dominan
3. Gangguan
metabolic
4. Gangguan prenatal
5. sifilis,
6. toksoplasmosis,
7. diabetes,
penyalahgunaan
alcohol pada ibu
(syndrome fetal
alcohol),
penggunaan
beberapa obat
(mis: talidomid),
toksemia pada
kehamilan,
eritoblastosis
fetalis, dan
malnutrisi pada
ibu, dll.

BAB V

PENUTUP

1. A. Kesimpulan

1. B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

ROLE PLAY

Cerita awal :

Hari sabtu ketika keluarga Imran berkumpul, dirumah keluarga, datang 2 orang
perawat dengan pak kepala desa kemudian :
Pak lurah : assalamualaikum

Bu isna : walaalaikum salam

Bu isna membuka pintu dan bersamaan dengan mereka

Bu isna : Eh pak Lurah,Pa ada pak lurah ni.

Pak Imran : iya ma,pak lurah apa kabar pak, ada apa ni pak?

Pak lurah : alhamdulillah sehat pak, begini lho Pak, bu, saya kesini dengan
perawat-perawat dari puskesmas disini. Mereka ingin mengkaji tentang
Anggi.(sambil memperkenalkan perawat-perawat yang datang bersamanya), jadi
bagaimana pak Imran?Bu Isna?

Pak imran : boleh pak, tapi sebelumnya kami minta maaf kalau tiba-tiba
Anggi berubah sikap,soalnya anggi suka kasar, apalagi sama orang yang baru dia
kenal pak.jadi kalau tiba-tiba anggi kasar harap adek-adek maklum ya.

Perawat 1 : oh ya, gak apa apa pak . . .

Pak lurah : pak, bu kalau begitu saya permisi pamit dulu karena ada
pekerjaan yang penting. Semoga adik-adik perawat bisa mebantu ibu & bapak.
Assalamualaikum…

Pak imran, bu isna, perawat : walaikum salam

Bu isna mempersilahkan perawat masuk kerumah, dan ikut duduk diruang keluarga
agar mudah mengawasi anggi.

Tampak Anggi sedang bermain dengan bantalnya, dan dia berbicara sendiri,
senyum dan bertingkah seolah-olah bantal itu adalah temannya.

Bu isna membuat minuman untuk perawat tersebut.

Perawat : Pak ,bu, anak bapak dan ibu yang sedang bermain itu anak yang
keberapa ya?

Bu isna : itu Anggi, anak saya yang ke-2 dek.

Perawat I : umurnya berapa bu?

Bu isna : 6 tahun

Perawat I : Boleh gak bu kami berkenalan denga anggi?

Bu Isna : Oh boleh kok dek, Anggi,Anggi sini nak sebentar, ada kakak-
kakak yang mau kenalan ni..sini sayang..

Anggi : Ada apa mama..Anggi lagi nonton…..


Pak Imran : Sini nak,ni ada kakak-kakak yang mau kenalan sama
Anggi,salam nak sama kakak ini.

Perawat I : Halo Anggi, nama kakak mila ini teman kakak Susi.

(Anggi kurang merespon,dan seperti tidak memperdulikan perkataan perawat, lalu


berlalu begitu saja melanjutkan nonton tv, perawat melanjutkan berbicara dengan
bapak dan ibu).

Pak Imran : maaf ya dek,memang sering seperti itu sama orang yang baru
dikenalnya.

Perawat II : gak apa-apa kok pak,kami maklum.

Perawat II : ibu dan bapak merasa gk, kalau Anggi berbeda dengan yang lain

Bu isna : iya…saya merasakannya dek..

Perawat II : sejak kapan ibu merasakannya?

Bu isna : sejak ia berumur 4 tahun. Awalnya saya dan suami tidak tau,
tapi melihat anak-anak seumuran Anggi begitu aktif, tidak seperti Anggi yang lambat
perkembangannya, saya jadi aneh juga.

Perawat II ; apakah ibu dan bapak mencari bantuan ke rumah sakit atau ke
puskesmas terdekat untuk memeriksa kesehatan anggi?

Pak Imran : Iya ada, kerumah sakit umum waktu Anggi berumur 4 tahun. Disitu
lah saya dan istri tau kalau Anggi mengalami keterbelakangan mental.

Perawat I : bagaimana perasaan ibu dan bapak waktu mendengar diagnosa


dokter?

Pak Imran : saya dan istri sedih sekali, kenapa anak saya bisa begini.
Padahal abangnya Angga juara kelas.

Perawat II : ibu tau gak apa itu keterbelakangan mental atau retardasi
mental?

Bu Isna : setahu saya keterbelakangan mental itu anaknya lambat dalam


segala hal.

Perawat II : ibu, anak retardasi mental itu adalah bila memenuhi kriteria
sebagai berikut: fungsi intelektual umum dibawah normal, terdapat kendala dalam
perilaku adaptif social, gejalanya timbul dalam masa perkembangan yaitu dibawah
usia 18 tahun.

Bu Isna : oh..gitu ya dek

Perawat I : menurut ibu apa penyebab anak keterbelakangan mental?


Bu Isna : apa ya.. Waktu pemeriksaan dulu dokter bertanya pada saya
dan suami saya mengenai riwayat kesehatan kami berdua. Dan terakhir dokter
bilang Anggi seperti ini karena kebiasaan saya yang suka mengkonsumsi obat-
obatan pada saat mengandung Anggi.

Perawat I : benar sekali bu…penyebab dari retardasi mental itu banyak,


seperti: kelainan kromosom, pewarisan factor keturunan yang dominan, gangguan
metabolik, penyakit sifilis, toksoplasmosis, diabetes, penyalahgunaan alkohol pada
ibu (syndrome fetal alcohol), penggunaan beberapa obat (mis: talidomid), toksemia
pada kehamilan, eritoblastosis fetalis, dan malnutrisi pada ibu.

Perawat II : obat-obat apa yang ibu konsumsi?

Bu isna : saya sakit sering sakit demam dek, trus ya minum obat-obatan,
ntah kenapa waktu hamil ke-2 sering sekali sakit. Padal waktu hamil pertama saya
sehat-sehat saja.

Perawat I : oh begitu ya buk..Gimana cara ibu mengatur Anggi?

Bu isna : gak terlalu susah, tapi awal-awal saya tau dia mengalami
keterbelakangan mental saya sring kewalahan dan tidak sabar. Tapi saya dan suami
berusaha untuk lebih sabar sampai sekarang ini

Pak imran : Iya, kami semua sangat sayang anggi. Gk pernah sekalipun
kami memarahi anggi. Dan anggi pun sangat manja dengan kami., si abangnya juga
sangat sayang sekali sama anggi

Perawat II : pernah gk ibu & bapak merasa kesulitan menghadapi anggi?

Bu isna : pernah, terutama akhitr-akhir ini, kami sangat sulit


mengghadapinya

Perawat II : memangnya apa yang dilakukan Anggi akhir-akhir inii?

Bu isna : dia sering minta tuk berain dirumah tetangga, tapi saya tidak
mengizinkannya karena saya takut menyusahkan orang lain.ntar dia ngamuk lagi, itu
yang saya takutkan dek. Tapi dia tetap memaksa dan marah-marah. Bahkan
barang-barang yang ada di depannya di lempar

Perawat II : Terus apa yang ibu lakukan?

Bu isna : awalnya saya berusaha untuk menenangkan dia tapi tidak


mempan, saya uda capek begini terus cuma suami sering menasehati supaya saya
bisa lebih sabar lagi.

Perawat I : pernah gak bu kejadian yang lebih parah dari ini?

Bu isna : dulu pernah, tanpa sepengetahuan orangtuanya, ia ingin


mengambil sesuatu di rak lemari yang lebih tinggi, dan ia mengacak-acak semua isi
lemari dan menyerakkan kelantai karena tidak dapat meraih barang-barang yang di
inginkan

Perawat I : terus ibu atau bapak memarahinya gk?

Bu isna : saya tidak marah, tapi saya bantu dia mengambil barang
tersebut, dan merapikannya kembali

Perawat I : kenapa anggi tidak disekolahkan?

Bu isna : tuk apa?

Yang ada malah buat orang repot

Perawat II : bukan sekolah SD biasa bu,

Tetapi SDLB. Disitu nanti anggi akan dididik dan dilatih sesuai dengan kemampuan
dia bisa berprilaku yang lebih baik. Dan keahlian-keahlian khusus dari dia yang bisa
di kembangkan. Bagaimana pak?buk?

Bu isna : gimana ya?

Rumah saya jauh dari SDLB, dan saya kerepotan mengantar mengantar dia, suami
kan kerja.

Perawat II : dari pada anggi sikapnya gak ter kontrol. Alangkah lebih baik
anggi disekolahkan. Kalau masalah jauh, lama-kelamaan jadi terbiasa,gk jadi
masalah lagi. Ini demi kemajuan anggi bu,pak

Bu isna : gimana ya?gimana dong pa?

Pak Imran : Papa sih terserah mama saja.

Bu Isna : Nanti saya pikirkan lagi. Saya bicarakan dengan suami saya
dulu

Perawat I : Semua ini manfaatnya tuk anggi dan keluarga bapak juga

Pak imran : baiklah kalau begitu

Akan kami pertimbangkan dulu.

Tiba-tiba anggi mendekatkan wajahnya ke layar televisi

Perawat II : bu, apa anggi sering seperti itu bu?

Bu isna : oh sering, setiap nonton pasti seperti itu

Perawat II : ibu, kalau anggi sering nonton seperti itu, nanti penglihatannya
bisa rusak. Kan kasiahan..
Apalagi dia masih kecil, mungkin kalau anggi disekolahkan pelan-pelan kebiasaan
buruk anggi akan hilang

Bu isna : iya ya..

Saya juga sulit tuk melarangnya, tapi ya mau gimana lagi dek memang sudah
seperti itu,susah dibilangin.

Perawat II : Baiklah bu nanti kami akan mengunjungi anggi lagi, sekarang


bu,pak kami pamit dulu ya..

Mudah-mudahan apa yang kami sampaikan bisa bapak dan ibu pertimbangkan, itu
juga demi anggi, dan anggi juga bisa lebih mandiri

Bu isna : terimakasih ya dek…. kami akan mempertimbangkannya.

Perawat I dan II : assalamualaikum.

Pertemuan Kedua

aas ian

ATAN KELUARGA

Selasa sore keluarga Pak Imran sedang bersantai di ruang keluarga, tiba- tiba ada
yang mengetuk pintu.

Pak Imran : Ma, tu ada yang ngetuk-ngetuk pintu.

Ibu Isna : Sebentar ya pa,mama bukain pintu dulu.

Perawat1 : Assalamualaikum bu.

Ibu Isna : eh adek –adek yang waktu itu ya, mari silahkan masuk dek.

Perawat 2 : Maaf ganggu waktu ibu dan bapak.

Pak Imran : Mari dek silahkan duduk, gak kok kami Cuma lagi santai aja kok

Perawat 1 : Anggi nya mana ya buk, kok gak kelihatan.

Bu Isna : Ada di ruang tv kok, baru selesai mandi, tu lagi asik dengan
mainannya, anggi kesini sebentar nak, ni ada kakak-kakak yang waktu itu, ayo ni
kakaknya pingin ketemu anggi..

Anggi datang cepat sambil berlari-lari,tertawa-tawa..

Pak Imran : Jangan lari-lari nak, nanti jatuh, sini salam sama kakaknya.
Bu isna : Anggi suka begitu dek, lari-lari sendiri, kadang-kadang kami kuatir
juga takut dia jatuh.

Perawat I : Anggi apa kabarnya? Masih ingat sama kakak?

Anggi tidak memperdulikan pertanyaan perawat.

Bu Isna : Anggi, jawab dong nak pertanyaan kakak nya. Memang separti ini
dek, senangnya nonton, main.

Perawat II : ya gak apa-apa buk, mungkin Anggi mau melanjutkan main.

Bu Isna : Anggi main lagi sanan nak, mama dan papa mau ngomong sama
kakak ini.

Perawat I : Begini pak, buk, setelah kita melihat keadaan Anggi, menurut kami
ada baiknya jika Anggi di sekolahkan di sekolah luar biasa, itu dapat membantu
membina hubungan sosialnya dengan orang lain.

Perawat II : di sana Anggi bisa bertemu dengan teman-teman sebaya yang sama
dengannya, dan ada guru-guru khusus yang bisa mengajari Anggi.

Pak Imran : Iya, saya dan istri juga sudah mendiskusikan mengenai masalah
ini,dan kami memutuskan untuk menyekolahkan Anggi di sekolah luar biasa yang
agak dekat dengan daerah rumah kami.

Bu Isna : Mudah-mudahan dapat membantu perkembangan Anggi


selanjutnya, trimakasih ya dek atas saran da bantuan dari adek-adek ini.

Perawat I : Ya buk, sama – sama, sudah menjadi kewajiban kami untuk


membantu mayarakat yang membutuhkan bantuan kami sebagai perawat.

Perawat II : Pak, bu, kami pamit dulu ya.. semoga dengan bersekolah di sekolah
luar biasa keadaan Anggi bisa lebh baik.

Pak Imran : Iya, Amin, trimakasih sekali lagi atas bantuan adek-adek.

Perawat I dan II: mari pak, buk, Assalamualaikum..

Pak Imran dan Bu isna : waalaikum salam.

Pada pertemuan selanjutnya, Ibu Isna menceritakan perilaku Anggi yang sudah
mulai berubah lebih baik. Dan pada waktu itu, Anggi lebih berespon ketika diajak
ngobrol. Ibu Isna juga mengatakan bahwa Anggi sekarang udah bisa dilatih
membaca, gak suka marah2 lagi kayak dulu, dan sikapnya lebih baik.

Tahap tumbuh kembang anak usia prasekolah

y
Definisi tumbuh kembang pada anak

1. Pertumbuhan (Growth)Berkembangan dengan perubahan dalam besar, jumlah,


ukuran atau dimensitingkat sel, organ maupun individu yang bisa diukur dengan
ukuran berat (kg/gr) atauukuran panjang (meter/centimeter)(Soetjiningsih :
1998).Perubahan ukuran atau nilai-nilai yang memberikan ukuran tertentu
dalamkedewasaanMenurut Whaley dan Wong, pertumbuhan sebagai suatu
peningkatan jumlah atauukuran sel tubuh yang ditunjukkan dengan adanya
peningkatan ukuran dan berat seluruh bagian tubuh (Supartini, Yupi : 2004).2.
Perkembangan (Development)Menurut Whaley dan Wong, perkembangan menitik
beratkan pada perubahanyang terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling
rendah ke tingkat yang paling tinggidan kompleks melalui proses maturasi dan
pembelajaran ( Supartini, Yupi: 2004).Perkembangan adalah pertambahan
kemampuan struktur dan fungsi tubuh yanglebih kompleks dalam pola yang teratur
dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan ( Soetjiningsih : 1998)
Mencakup aspek-aspek lain dari deferensiasi bentuk termasuk perubahan
emosiatau sosial yang sangat ditentukan oleh interaksi dengan lingkungan
y

Pertumbuhan dan perkembangan anak prasekolah

1. PertumbuhanBeberapa aspek pertumbuhan fisik terus menjadi stabil dalam tahun


prasekolah.Waktu rata-rata denyut jantung dan pernapasan menurun hanya sedikit
mendekati90x/menit dan pernapasan 22-24x/menit. TD meningkat sedikit ke nilai
rata-rata95/58mmH. Berat badan anak meningkat kira-kira 2,5 kg per tahun, berat
rata-rata padausia 5 tahun adalah kira-kira 21 kg, hampir 6 kali berat badan lahir.
Prasekolah bertumbuh 2-3 inci per tahun, panjang mereka menjadi dua kali lipat
panjang lahir padausia 4 tahun,dan berada pada tinggi rata-rata 43 inci pada ulang
tahun kelima mereka.Perpanjangan tungkai kaki menghasilkan penampilan yang
lebih kurus. Kepala sudahmencapai 90% dari ukuran orang dewasa pada ulang
tahun ke enam.Perbedaan kecil terjadi antara jenis kelamin, walaupun anak laki-laki
sedikit lebih besar dengan lebih banyak otot dan kurang jaringan lemak. Kekurangan
nutrisi umunyaterjadi pada anak-anak berusia dibawah 6 tahun adalah kekurangan
vitamin A dan C sertazat besi. Konsumsi karbohidrat dan lemak dalam jumlah yang
sangat besar dari makananyang berlemak bisa menimbulkan kegemukan dan
menjadikan anak prasekolah dalamkondisi sangat lapar. Orang tua dan penberi
pelayanan perlu membuat asaha secara sadar untuk membantu anak prasekolah
mengembangkan kebiasaan makan yang sehat danmencegah defisiensi dan
kelebihan.

2. Perkembangan1.

Rasa keingintahuan tentang hal-hal yang berada dilingkungan semakin besar dan
dapat mengembangkan pola sosialisasinya.2.

Anak sudah mulai mandiri dalam merawat diri sendiri, seperti mandi,makan, minum,
menggosok gigi, BAK, dan BAB.3.

Mulai memahami waktu


94.

Penggunaan tangan primer terbentuk.3. Perkembangan psikoseksual ( Sigmund


Freud )Fase berkembangan psikoseksual untuk anak usia sekolah masuk pada fase
falik.Selama fase ini, genitalia menjadi area yang menarik dan area tubuh yang
sensitif. Anak mulai mengetahui perbedaan jenis kelamin dengan mengetahui
adanya perbedaan jeniskelamin. Negatif : Memegang genetaliaOedipus
compleksPositif : Egosentris: sosial interaksiMempertahankan keinginan4.
Perkembangan psikososial ( Eric Ericson )

Fase perkembangan psikososial pada anak usia prasekolah adalah inisiatif vs


rasa bersalah. Perkembangan ini diperoleh dengan cara mengkaji lingkungan
melaluikemampuan bereksplorasi terhadap lingkungannya. Anak belajar
mengendalikan diri danmemanipulasi lingkungan. Inisiatif berkembang dengan
teman sekelilingnya.Kemampuan anak berbahasa meningkat. Anak mulai menuntut
untuk melakukan tugas.Hasil akhir yang diperoleh adalah menghasilkan suatu
prestasinya.Perasaan bersalah akan timbul pada anak jika anak tidak mampu
berpretasi. Rasa bersalah dapat menyebabkan anak kurang bersosialisasi, lebih
marah, mengalami regresi,yaitu kembali ke perkembangan sebelumnya, misalnya
mengompol dan menghisap jempol
5. Perkembangan kognitif ( Jean Piaget )

Fase berkembangan kognitif anak usia prasekolah adalah fase


praoperasional.Karakteristik utama perkembangan intelektual tahap ini didasari sifat
egosentris.Pemikiran di dominasi oleh apa yang dilihat, dirasakan dan dengan
pengalaman lainnya.Fase ini dibagi menjadi 2 yaitu:1.

Prokonseptual ( 2- 4 tahun )

Anak mengembangkan kemampuan berbahasa untuk berkomunikasi


dan bermasyarakat. Anak mulai mengembangkan sebab-akibat, trial dan error
danmenginterpretasikan benda/kejadian. Anak mulai menggunakan sinbulkata-
kata,mengingat masa lalu, sekarang dan yang akan datang.2. Intuitive thuoght ( 4-7
tahun )

Anak mampu bermasyarakat namun masih belum mampu berpikir timbal balik.Anak
biasanya banyak meniru perilaku orangdewasa tetapi sudah bisa memberi
alasan pada tindakan yang dilakukan.

3. Perkembangan Moral ( Kahlberg )

Fase perkembangan moral pada anak usia prasekolah memasuki


fase prekonvensional. Anak belajar baik dan buruk, benar dan salah melalui budaya
sebagaidasra peletakan nilai moral.Fase ini terdiri dari 3 tahapan yaitu:1.

Didasari adanya rasa egosentris pada anak, yaitu kebaikan

2.

Orientasi hukuman dan ketaatan


Baik dan buruk sebagai konsekuensi dari tindakan. Jika anka berbuat salah,
orangtua memberikan hukuman dan jika anak berbuat benar maka orang tua
memberikanhukuman
Anak berfokus pad motif yang menyenangkan sebagai suatu kebaikan

Anak menjalankan aturan sebagai sesuatu yang memuaskan mereka sendiri.


2.1. 3. Tugas perkembangan anak usia prasekolah
1. Personal / sosial

1.

Upaya untuk menciptakan diri sendiri seperti orang tuanya, tetapi mandiri2.

Menggali lingkungan atas hasil prakarsanya3.

Membanggakan, mempunyai perasaan yang tidak dapat dirusak 4.

Keluarga merupakan kelompok utama5.

Kelompok meningkatkan kepentingannya6.

Menerima peran sesuai jenis kelaminnya7.

agresif 8.

Motorik 1.

Meningkatnya kemampuan bergerak dan koordinasi jadi lebihmudah2.

Mengendarai sepeda dengan dua atau tiga3.

Melempar bola, tetapi silit uintuk menangkapnya9.

Bahasa dan kognitif 1.

Egosentrik 2.

Ketrampilan bahsa makin baik 3.

Mengajukan banyak pertanyaan; bagaimana, apa, dan mengapa?4.

Pemecahan masalah sedarhana; menggunakan fantasi untuk memahami,


mengatasi masalah.10.

Ketakutan1.

Pengrusakan diri2.

Gelap3.
Ketidaktahuan4.

Objek bayangan, tak dikenal


y

Tugas perkembangan keluarga dengan anak usia prasekolah


1.

Membantu anak untuk bersosialis2.

Beradaptasi dengan anak yang baru lahir sementara kebutuhan anak yanglain (tua)
juga harus dipenuhi.3.

Mempertahankan hubungan yang sehat baik di dalam atau luar keluarga(keluarga


lain dan lingkungan sekitar)4.

Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak 5.

Pembagian tanggung jawab anggota keluarga6.

Merencanakan kegiatan dan waktu untuk menstimulasi pertumbuhan


dan perkembangan anak.
y

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang


Pola pertumbuhan dan perkembangan secara normal antara anak yang satu
denganyang lainnya pada akhirnya tidak selalu sama, karena dipengaruhi oleh
interaksi banyak faktor. Menurut Soetjiningsih (2002), faktor yang mempengaruhi
tumbuh kembang,yaitu:1. Faktor dalam (internal):1.1 Genetikaa. Perbedaan ras,
etnis, atau bangsaTinggi badan orang Eropa akan berbeda dengan orang Indonesia
atau bangsalainnya, dengan demikian postur tubuh tiap bangsa berlainan. b.
KeluargaAda keluarga yang cenderung mempunyai tubuh gemuk atau perawakan
pendek c. Umur
Masa prenatal, masa bayi, dan masa remaja merupakan tahap yang
mengalami pertumbuhan cepat dibandingkan dengan masa lainnya.2d. Jenis
kelaminWanita akan mengalami pubertas lebih dahulu dibandingkan laki-lakie.
Kelainan kromosomDapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan, misalnya sindrom
down.2. Pengaruh hormonPengaruh hormon sudah terjadi sejak masa prenatal,
yaitu saat janin berumur empat bulan. Pada saat itu terjadi pertumbuhan yang cepat.
Hormon yang berpengaruhterutama adalah hormon pertumbuhan somatotropin yang
dikeluarkan oleh kelenjar pituitari. Selain itukelenjar tiroid juga menghasilkan
kelenjar tiroksin yang berguna untuk metabolisme serta maturasi tulang, gigi, dan
otak.3. Faktor lingkunganFaktor kelompok yang dapat berpengaruh dikelompokkan
menjadi tiga, yaitu pranatal, kelahiran, dan pascanatal.4. Faktor pranatal1) Gizi,
nutrisi ibu hamil akan mempengaruhi pertumbuhan janin, terutamaselama trimester
akhir kehamilan2) Mekanis, posisi janin yang abnormal dalam kandungan
dapatmenyebabkan kelainan conginetal, misalnya club foot3) Toksin, zat kimia,
radiasi4) Kelainan endokrin5) Infeksi TORCH atau penyakit menular sesksual6)
Kelainan imunologi7) Psikologis ibu5. Faktor kelahiranRiwayat kelahiran dengan
vakum ekstraksi atau forcep dapat menyebabkantrauma kepala pada bayi sehingga
beresiko terjadinya kerusakan jaringan otak.6. Faktor pascanatalSeperti lainnya
pada masa prenatal, faktor yang berpengaruh terhadapTUMBANG anak adalah gizi,
penyakit kronis/ kelainan konginetal, lingkungan fisik dankimia, psikologis, endokrin,
sosioekonomi, lingkungan pengasuhan, stimulasi, dan obat-obatan

2. 1.4. Masalah-masalah pada anak usia prasekolah

Masalah kesehatanMasalah kesehatan yang sering muncul pada anak prasekolah


seperti; diare, cacar air, difteri, dan campak.
Diare (Gastroenterologi)

Agen pembuka:
bakteridan virus.
Sumber:
makanan basi, beracun, alergi terhadap

Komplikasi:
y

Dehidrasi
y

Renjatan hipovolemik
y

Hypocalanta
y

Intoleransi laktosasekunde
Memberikan cairanó Diatetik (pemberianmakanan)

2.4.2 Hubungan keluargaPada usia prasekolah biasanya anak merasa cemburu


dengan kehadiran anggotakeluarga baru (adik). Anak merasa tidak diperhatikan lagi
oleh orang tua sehingga anak sering membuat olah untuk mendapatkan perhatian
orang tua.
y

Bahaya fisik 1. KecelakaanKecelakaan terjadi akibat keinginan anak untuk bermain


yang menghasilkanketrampilan tertentu. Meskipun tidak meninggalkan bekas fisik
namunkecelakaandianggap sebagai kegagalan dan anak lebih bersikap hati-hati
akan berbahaya bagi psikologisnya sehingga anak akan takut terhadap kegiatan
fisik. Jika hal ini terjadi bisa berkembang menjadi masa malu.2. KeracunanPada
dasarnya usia prasekolah suka mencoba segala sesuatu yang dia lihat
tanpamengetahui apakah itu berbahaya atau tidak.
y

Bahaya PsikologisPerasaan bersalah akan timbul pada anak jika anak tidak mampu
berprestasi. Rasa bersalah dapat menyebabkan anak kurang bersosialisasi, lebih
pemarah, mengalamiregresi, yaitu kembali ke perkembangan sebelumnya, misalnya
mengompol danmenghisap jempol.

21
y

Gangguan tidur Mimpi buruk adalah mimpi menakutkan yang terjadi selama tidur
REM (rapideye movement). Seorang anak yang mengalami mimpi buruk biasanya
akan benar-benar terbangun dan dapat mengingat kembalimimpinya secara
terperinci. Mimpi buruk yangterjadi sewaktu-waktu adalah hal yang normal, dan satu-
satunya tindakan yang perludilakukan orang tua adalah menenangkan anak. Tetapi
mimpi buruk yang sering terjadiadalah abnormal dan bisa menunjukkan masalah
psikis.Pengalamam yang menakutkan (termasuk cerita menakutkan atau film
tentangkekerasan di televisi) bisa menyebabkan terjadinya mimpi buruk. Hal ini
terutama seringditemukan pada anak-anak yang berumur 3-4 th, karena mereka
belum bisa membedakanantara khayalan dan kenyataan. Teror dimalam hari adalah
suatu keadaan dimana sesaatsetelah tertidur anak setengah terbangun dengan
kecemasan yang luar biasa. Anak tidak dapat mengingat kembali apa yang atelah
dialaminya.Tidur sambil berjalan adalah suatu keadaan dimana dalam keadaan
tertidur anak bengkit dsari tempat tidurnya dan berjalan-jalan. Teror dimalam hari
dan tidur sambil berjalan biasanya berlangsung selama tidur dalam (Non REM) dan
terjadi dalam 3 jam pertama setelah anak tertidur. Tiap episode berlangsung dari
beberapa detik sampai beberapa menit. Teror dimalam hari sifatnya dramatis karena
nak menjerit-jerit dan panik, keadaan ini paling sering ditemukan pada anak yang
berumur 3-8 th.Untuk anak yang susah tidur bisa dilakukan beberapa tindakan
berikut:1.

Ajak anak kembali ketempat tidurnya.2.

Berikan cerita yang pendek.3.

Tawari untuk ditemani oleh boneka atau selimut kesayangannya.4.

Gunakan lampu redup.5.

Masalah Pelatihan Buang Air (


Toileting
)Pelatihan buang air besar biasanya mulai dilakukan pada saat anak berumur 2-
3tahun, sedangkan pelatihan buang air kecil dilakukan pada umur 3-4 tahun. Pada
umur 5
ahun, kebanyakan anak sudah dapat melakukan buang air sendiri; melepas
pakaiandalamnya sendiri, membersihkan dan mengeringkan penis, vulva maupun
anusnya sendiriserta kembali memakai pakaian dalamnya sendiri. Tetapi sekitar
30% anak berusia 4 thdan 10% anak berusia 6 th masih mengompol pada malam
hari.Cara terbaik untuk menghindari masalah pelatihan buang air (toilet
training)adalah dengan mengenali kesiapan anak.Adapun tanda dari kesiapan anak
adalah:1.

Selama beberapa jam pakaian dalamnya masih kering.2.

Anak menginginkan pakaian dalamnya diganti jika basah.3.

Anak menunjukkan ketertarikannya untuk duduk di atas Potty Chair (pispotkhusus


untuk anak-anak) atau diatas toilet (jamban, kakus).4.

Anak mampu mengikuti petunjuk atau aturan lesan yang sederhana.Kesiapan anak
biasanya terjadi pada usia 24-36 bln.Metode toilet training yang banyak digunakan
adalah metode timing. Anak yangtampaknya sudah siap diperkenalkan kepada potty
chair dan secara bertahap dimintauntuk duduk diatasnya sebentar saja dalam
keadaan berpakaian lengkap. Kemudian anak diminta untuk melepaskan pakaian
dalamnya sendiri, lalu duduk di atas potty chair selama tidak lebih dari 5-10 mnt. Hal
itu dilakukan sambil ibu memberikan penjelasan bahwa swkarang sudah saatnya
anak untuk melakukan BAB/BAK ditempatnya(maksudnya pada potty chair/kloset)
buka di pakaian dalam atau popok. Jika Anak sudah bisa melakukannya, ibu boleh
memberikan pujian ataupu hadiah. Tetapi jika anak belum bisa melakukannya, ibu
sebaiknya tidak memarahi ataupun menghukum anak. Metodetiming efektif untuk
anak-anak yang memiliki jadwal BAB/BAK yang teratur.Metode toilet training lainnya
menggunakan boneka sebagai alat bantu. Kepadaanak yang sudah siap diajarkan
cara-cara toilet training dengan menggunakan bonekasebagai model. Ibu
memberikan pujian kepada boneka karena pakaian dalamnya keringdan telah
berhasil melewati setiap proses toilet training. Kemudian ibu meminta anak
untuk menirukan proses toliet training dengan bonekanya secara berulang-ulang,
anak juga diajari untuk memuji bunekanya. Selanjutnya anak menirukan apa yang
telahdilakukan oleh bonekanya dan ibu memberikan pujian kepada anak. Jika anak
tetap bertahan duduk di toilet sebaiknya diangkat dan toilet training dicoba kembali
setelahanak makan. Tetepi jika hal ini berlangsung selama beberapa hari sebaiknya
tolet traingditunda selama beberapa minggu.Sangat penting untuk memberika pujian
kepada anak yang telah berhasilmelakukan toilet training. Setelah pola BAB/BAK
stabil secara perlahan pujian mulaidikurangi. Memaksa anak untuk BAB/BAK di toilet
dengan kekerasan tidak efektif dan bisa menyebabkan ketegangan pada hubungan
ibu-anak.
2. 1.5. Alternatif tindakan Dalam Pemecahan Masalah TumBang Anak Pra Sekolah
y

Bimbingan selama fase prasekolah


1. Usia 3 tahun1.

Persiapkan orang tua untuk peningkatan ketertarikan anak dalamhubungan yang


lebih luas.2.

Anjurkan orang tua untuk mendaftarkan anak ke play group atau TK.3.

Tekankan tentang pentingnya pengaturan waktu.4.


Anjurkan orang tua untuk menawarkan pilihan-pilihan ketika anak
sedangragu/bimbang.5.

Perubahan pada anak usia 3.5 th : anak akan menjadi kurang koordinasi,gelisah dan
menunjukkan perubahan tingkah laku, seperti bicara gagap.6.

Orang tua harus memberikan perhatioan yang ekstra sebagai refleksi


darikegelisahan emosi anak dan rasa takut anak kehilangan kasih sayang
orangtua.7.

Ingatkan orang tua tentang keseimbangan yang telah dicapai pada usia 3 thakan
berubah menjadi tingkah laku yang agresif pada usia 4 th.8.

Antisipasi tentang adanya perubahan nafsu makan, seleksi makanan anak

249.

Tekankan tentang perlunya perlindungan dan pendidikan untuk mencegahcedera.2.


Usia 4 tahun1.

Persiapkan pada tingkah laku anak yang lebih agresif, termasuk aktifitasmotorik dan
penggunaan bahasa-bahasa yang mengejutkan.2.

Eksplorasi perasaan oreng tua berkenaan dengan tingkah laku anak.3.

Masukkan anak ke TK 4.

Persiapkan untuk peningkatan keingintahuan anak tentang seks5.

Tekankan tentang pentingnya menanamkan disiplin pada anak 6.

Anjurkan orang tua untuk melatih anak berenang jika belum dilakukandiusia
sebelumnya3. Usia 5 tahun1. Masa tenang pada anak 2. Siapkan anak untuk
memasuki lingkungan sekolah3. Pastikan kelengkapan imunisasi lingkungan sekolah
y

Stimulasi bermain untuk tumbuh kembang anak


1. Definisi bermain

Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarelauntuk


memperolehkesenangan/ kepuasan. Bermain merupakan cermin kemampuan fisik,
intelektual,emosional, dan sosial. Bermain merupakan media yang baik untuk belajar
karena bermain, anak akan berkata-kata (berkomunikasi), belajar menyesuaikan diri
denganlingkungan, melakukan apa yang dapat dilakukannya, dan mengenalwaktu,
jarak, sertasuara. (Wong, 2000)

2. Fungsi permainan pada anak


Fungsi utama bermain adalah menstimulasi perkembangan anak, antara lain:1.

Perkembangan sensori-motorik 2.
Perkembangan intelektual3.

Perkembangan sosial4.

Perkembangan kreativitas5.

Perkembangan kreasi diri6.

Perkembangan moral7.

Bermain sebagai terapi8.

Tujuan bermainMelalui fungsi yang terurai diatas pada prinsipnya bermain


mempunyai tujuansebagai berikut:1) Untuk melanjutkan tumbang yang normal pada
saat sakit anak mengalamigangguan dalam tumbang.2) Mengekspresikan perasaan,
keinginan dan fantasi serta idenya.3) Mengembangkan kreatrifitas dan kemampuan
menyelesaikan masalah.Permainan akan menstimulasi daya pikir, imajinasi, dan
fantasinya untuk menciptakan sesuatu seperti yang ada dalam pikirannya pada saat
melakukan permainan anak akan dihadapkan pada masalah dalam konteks
permainannya,semakin lama ia bermain dan semakin tertantang untuk dapat
menyelesaikannyadengan baik.4) Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stress
karena sakit dan dirawat di RS.Stress yang dialami anak di RS tidak dapat
dihindarkan sebagai mana juga yangdialami orang tuanya untuk itu yang penting
adalah bagaimana menyiapkananak dan orang tua untuk dapat beradaptasi denga
stresor yang dialaminya diRS secara efektif.1.

Alat dan jenis permainan yang cocok untuk anak usia prasekolah (>3-6 th)
Sejalan denga tumbangnya anak prasekolah mempunyai kemampuan motorik kasar
dan halus yang lebih matang daripada anak usia toddler. Anak sudah lebih
aktif,kreatif dan imajinatif. Demikian juga kemampuan berbicara dan berhubungan
sosialdengan temannya semakin meningkat.Oleh karena itu jenis permainan yang
sesuai adalah asosiatif play, dramatik playdan skill play. Anak melakukan permainan
bersama-sama dengan temannya dengakomunikasi yang sesuai dengan
kemampuan bahasanya. Anak juga sudah mampumemainkan peran orang tertentu
yang diidentifikasikannya seperti ayah, ibu dan bapak atau ibu gurunya. Permainan
yang menggunakan kemampuan motorik (skill play) banyak dipilih anak prasekolah.
Untuk itu jenis alat pewrmainan yang diberikan pada anak,misal: sepeda, mobil-
mobilan, alat olah raga, berenang dan permainan balok-balok besar,dll.
2.2 Teori proses keperawatan keluarga2.2.1. Pengkajian Pada Keluarga Dengan anak Pra
sekolah
Pengkajian adalah tahapan seorang perawat mengumpulkan informasi secara
terusmenerus terhadap anggota keluarga yang di binanya. Secara garis besar data
dasar yangdipergunakan mengkaji status keluarga adalah :1.

struktur dan karakteristik keluarga2.

sosial, ekonomi dan budaya3.

faktor lingkungan4.
riwayat kesehatan dan medis dari setiap anggota keluarga5.

psikososial keluargaRiwayat tahap perkembangan keluargaTahap perkembangan


keluarga adalah pengkajian keluarga berdasarkan tahap kehidupankeluarga.
Menurut Duvall, tahap perkembangan keluarga ditentukan dengan anak tertuadari
keluarga inti dan mengkaji sejauh mana keluarga mana keluarga melaksanakan
tugas
tahapan perkembangan keluarga. Sedangkan riwayat keluarga adalah mengkaji
kesehatankeluarga inti dan riwayat kesehatan keluarga.a.

Tahap perkembangan keluarga saat ini, ditentukan oleh anak terua dari
keluargainti b.

Tahap perkembangan yang belum terpenuhi, menjelaskan bagaimana


tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh keluarga serta kendalanya.c.

Riwayat keluarga inti, menjelaskan riwayat kesehatan pada keluarga inti,


meliputiriwayat penyakit ketururnan, riwayat kesehatan masing-masing anggota,
dansemuber pelayanan yang digunakan keluarga seperti perceraian, kematian
dankeluarga yang hilang.d.

Riwayat keluarga sebelumnya, keluarga asal kedua orang tua (seperti apakehidupan
keluarga asalnya), hubungan masa silam dan saat dengan orang tuadari kedua
orang tua.
2.2.2. Diagnosis Keperawatan
Perumusan diagnosis keperawatan keluargaDiagnosis keperawatan adalah
keputusan finish mengenai individu, keluarga, ataumasyarakat yang diperoleh
melalui suatu proses pengumpulan data dan analisis datasecara cermat,
memberikan dasar untuk menetapkan tindakan-tindakan dimana
perawat bertanggung jawab untuk melaksanakannnya. Diagnosis keperawatan
keluarga di analisisdari hasil pengkajian terhadap masalah dalam tahap
perkembangan keluarga, lingkungankeluarga, struktur keluarga, fungsi-fungsi
keluarga, koping keluarga, baik yang bersifataktual, risiko, maupun sejahtera dimana
perawat memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk mealkukan tindakan
keperawatan bersama-sama dnegan keluarga, berdasarkan kemampuan dan
sumber daya keluarga.Diagnosis keperawatan keluarga dirumuskan berdasarkan
data yang didaptakan pada pengkajian. Komponen diagnosis keperawatan
meliputi:a.

Problem atau masalah (P)


b.

Etiologi atau penyebab (E)c.

Sign atau tanda (S)


2.2.3. Rencana Tindakan Keperawatan
Tahap perencanaan keperawatan keluargaApabila masalah kesehatan maupun
masalah keperawatan telah teridentifikasi,maka langkah selanjutnya adalah
menyusun rencana keperawatan sesuai dengan urutan prioritas masalahnya.
Rencana keprawatan keluarga merupakan kumpulan tindakan yangdirencanakan
oleh perawat ubtuk dilaksanakan dalam menyelesaikan atau mengatasimasalah
kesehatan atau masalah kpereawatan yang telah diidentifikasi.
Rencanakeperawatan yang berkualitas akan menjamin keberhasilan dalam mencapi
tujuan serta penyelesaian masalah. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
mengembangkankepreawatan keluarga diantaranya:a.

Rencana keperawatan harus didasarkan atas analisis yang menyeluruh


tentangmasalah atau situasi keluarga. b.

Rencana yang baik hsrus realistis, artinya dapat dilaksanakan dan


dapatmenghasilkan apa yang diharapkanc.

Rencana keperawatan harus sesuai dengan tujuan dan falsafah instansi


kesehatan.Misalnya bila instansi kesehatan pada daerah tersebut tidak
memungkinkan pemberian pelayanan cuma-cuma, maka perawat harus
mempertimbangkan haltersebut dalam menyusun perencanaan.d.

Renacana keperawatan dibuaty bersama keluarga. Hal ini sesuai dnegan


prinsip bahwa perawat bekerja bersama keluarga. Bukan untuk keluarga.e.

Rencana asuhan keperawatan sebaiknya secara tertulis. Hal ini selain bergunauntuk
perawat juga akan berguna bagi anggota tim kesehatan lainnya,
khususnya perencanaan yang telah disusun untuk keluarga tersebut. Selain itu,
denganmembuat askep secara tertulis akan membantu mengevaluasi
perkembanganmasalah keluarga
2.2.4. Implementasi Keperawatan
Tahap pelaksanaan keperawatan keluargaPelaksanaan merupakan salah satu tahap
dari proses keperawatan keluargadimana perawat mendapatkan kesempatan untuk
membangkitkan minat keluarga dalammengadakan perbaikan ke arah perilaku hidup
sehat. Adanya kesulitan, kebingungan,serta ketidakmampuan yang dihadapi
keluarga harus dijadikan perhatian. Oleh karena itu,di harapkan perawat dapat
memberikan kekuatan dan membantu mengembangkan potensi-potensi yang ada,
sehingga keluarga mempunyai kepercayaan diri dan mandiridalam menyelesaikan
masalah.Guna membangkitkan minat keluarga dalam berperilaku hidup sehat,
maka perawat harus memahami teknik motivasi. Tindakan keperawatan keluarga
mencakuphal-hal di bawah ini.a.

Menstimulasi kesadaran atau penerimaan keluarga mengenai masalah


dankebutuhan kesehatan dengan cara memberikan informasi,
mengidentifikasikebutuhan dan harapan tentang kesehatan,serta mendorong sikap
emosi yangsehat terhadap masalah. b.

Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat dengan


caramengidentifikasi konsekuensi untuk tidak melakukan tindakan,
mengidentifikasisumber-sumber yang dimiliki keluarga, mendiskusikan konsekuensi
setiaptindakan.c.
Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota keluarga yang sakit
dengancara mendemonstrasikan cara perawatan, menggunakan alat dan fasilistas
yangada di rumah dan mengawasi keluarga melakukan perawatand.

Membantu keluarga untuk menemukan cara membuat lingkungan menjadi


sehatdengan menemukn sumber-sumber yang dapat digunakan keluarga
danmelakukan perubahan lingkungan keluarga seoptimal mungkin
e.

Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehtan dnegan


caramengenalkan fasilitas kesehatan yang ada di lingkungan keluarga dan
membantukeluarga cara menggunakan fasilitas tersebut.
2.2.5. Evaluasi Keperawatan
Tahap evaluasiSesuai dengan rencana tindakan yang telah diberikan, tahap
penilaian dilakukanuntuk melihat keberhasilannya. Bila tidak/ belum berhasil, maka
perlu disusun rencana baru yang sesuai. Semua tindakan keperwatan mungkin tidak
dapat dilakukan dalam satukali kunjungan ke keluarga. Oleh karena itu, kunjungan
dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan waktu dan kesediaan keluarga.
Langkah-langkah dalammengevaluasi pelayanan keperawatan yang diberikan, baik
kepada individu maupunkeluarga adalah sebagai berikut.1. Tentukan garis besar
masalah kesehatan yang dihadapi dan bagaimana keluargamengatasi masalah
tersebut.2. Tentukan bagaimana rumusan tujuan perawatan yang akan dicapai.3.
Tentukan kriteria dan standar untuk evaluasi. Kriteria dapat berhubungan
dengansumber-sumber proses atau hasil, bergantung kepada dimensi evalusi yang
diinginkan.4. Tentukan metode atau teknik evalusi yang sesuai serta sumber-sumber
data yangdiperlukan.5. Bandingkan keaadaan yang nyata (sesudah perawatan)
dengan kriteria dan standar untuk evaluasi.6. Identifikasi penyebab atau alasan
penampilan yang tidak optimal atau pelaksanaanyang kurang memuaskan
8. Perbaiki tujuan berikutnya. Bila tujuan tidak tercapai, perlu ditentukan
alasankemungkinan tidak reaalistis, tindakan tidak tepat, atau kemungkinan
ada faktor lingkungan yang tidak dapat diatasi.
9. BAB III
10.
11. TINJAUAN KASUS3.1. Pengkajian
12. 1.
13.
14. Pengkajian yang berhubungan dengan keluarga
15. y
16.
17. Identitas1.
18.
19. Nama pasienDimaksudkan agar dapat mengenali klien sehingga mengurangi
kekeliruan dengan pasienlain.1.
20.
21. Umur Mengetahui umur pasien sehingga dapat mengklarifikasi adanya faktor
resiko padaepilepsi karena faktor umur dapat dijadikan bahan pertimbangan
dalam penatalaksanaanuntuk epilepsi.1.
22.
23. Agama dan suku bangsaMengetahui kepercayaan dan adat istiadat pasien
dan keluarga sehingga dapatmempermudah dalam melaksanakan tindakan
sesuai dengan agama dan kepercayaan dari pasien dan keluarganya.1.
24.
25. PendidikanUntuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman dari
anggota keluarga terutamaorang tua dalam memberi informasi perencanaan
pulang bagi anak sekolah denganmasalah kesehatan epilepsi.1.
26.
27. Komposisi keluarga
28. Dimaksudkan untuk mengetahui silsilah dari beberapa generasi, apakah
terdapat anggotakeluarga yang terkena penyakit yang serupa/penyakit
turunan.1.
29.
30. Tipe keluargaPengkajian tipe keluarga dimaksudkan untuk mengetahui
seberapa besar perhatian dan peraswatan yang diberikan pada anggota atau
anak yang mengalami sakit.1.
31.
32. PekerjaanMengetahui tingkat ekonomi keluarga pasien. Hal ini perlu dikaji
untuk mengetahuikesanggupan keluarga untuk memodifikasi proses
penyembuhan penyakit pada anak dan pemanfaatan sarana kesehatan bagi
anak yang sakit.1.
33.
34. AlamatUntuk megetahui pasien tinggal dimana dan untuk menghindari
kekeliruan bila ada duaorang pasien dengan nama yang sama serta untuk
keperluan kunjungan rumah biladiperlukan.1.
35.
36. Aktivitas rekreasi keluargaUntuk mengetahui seberapa jauh keluarga
memenfaatkan aktifitas rekreasi keluarga yangdigunakan untuk
menghilangkan kepenatan dalam kehidupan sehari-harinya.
37. y
38.
39. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga1.
40.
41. Tahap perkembangan keluarga saat ini.2.
42.
43. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi.3.
44.
45. Riwayat keluarga inti.4.
46.
47. Riwayat keluarga sebelumnya.
48.
49. y
50.
51. Lingkungan1.
52.
53. Karakteristik rumah
54. 2.
55.
56. Karakteristik lingkungan.3.
57.
58. Mobilitas keluarga.4.
59.
60. Hubungan keluarga dengan lingkungan.5.
61.
62. Sistem sosisl yang mendukung.
63. y
64.
65. Struktur keluarga1.
66.
67. Pola komunikasi.2.
68.
69. Pengambilan keputusan.3.
70.
71. Peran anggota keluarga.4.
72.
73. Nilai-nilai yang berlaku di keluarga.5.
74.
75. Pengkajian yang berhubungan dengan anak usia sekolah1.
76.
77. Identitas anak.2.
78.
79. Riwayat kehamilan sampai kelahiran.3.
80.
81. Riwayat kesehatan bayi sampai saat ini.4.
82.
83. Kebiasaan saat ini (pola perilaku dan kegiatan sehari-hari).5.
84.
85. Tumbang saat ini (termasuk kemampuan yang dicapai).6.
86.
87. Pemeriksaan fisik.Pengkajian data fokus meliputi:1.
88.
89. Bagaimana karakteristik teman bermain.2.
90.
91. Bagaimana lingkungan bermain.3.
92.
93. Berapa lama anak menghabiskan waktunya di sekolah.4.
94.
95. Bagaimana stimulasi terhadap tumbang anak dan adakah sarana yang
dimiliki.5.
96.
97. Bagaimana temperamen anak saat ini.6.
98.
99. Bagaimana pola anak jika menginginkan suatu barang.7.
100.
101. Bagaimana pola orang tua menghadapi permintaan anak.8.
102.
103. Bagaimana prestasi yang dicapai anak saat ini.9.
104.
105. Kegiatan apa yang diikuti anak selain di sekolah.10.
106.
107. Sudahkah anak memperoleh imunisasi ulangan selain di sekolah.11.
108.
109. Pernahkah mendapat kecelakaan selama di sekolah atau di rumah
saat bermain
110. 12.
111.
112. Adakah penyakit yang muncul dan dialami anak selama masa ini.13.
113.
114. Adakah sumber bacaan lain selain buku sekolah, apa jenisnya.14.
115.
116. Bagaimana pola anak memanfaatkan waktu luang.15.
117.
118. Bagaimana pelaksanaan tugas dan fungsi keluarganya.
119. KASUS
120. Seorang ibu membawa anaknya (An. T) yang berusia 5 tahun ke
puskesmas dengankeluhan anak BAB encer dan buang air besar lebih dari 8
kali dalam 10 jam terakhir dandi sertai gatal gatal anak lemas dan tidak mau
makan dari hasil pemeriksaan di dapatTTV anak tidak normal /kurang dari
normal dan pada kulit anak di temukan bercak putih,jamur pada kulit
punggung .dari penuturan ibu,bahwa anaknya hipeeraktif
dalam beraktivitas,dan lingukungan rumah dari ibu berada dekat dengan
sungai yaitu 50 meter sehingga sebagian besar aktifitas warga di sekitar
termasuk ibu penderita d lakukan disungai tersebut seperti menycuci,mandi
dll
121. ntervensi Keperawatan
122.
123. Diagnosa
124.
125. Intervensi
126. Gangguan keseimbangancairan dan elektrolit padaanak b/d
ketidakmampuankeluarga dalam mengenalmasalah diare.1.
127.
128. Memberikan penjelasan tentang diarekepada keluarga2.
129.
130. Membantu keluarga dalam mengenalmasalah diare3.
131.
132. Membantu keluarga untuk mengambiltindakan terhadap penanganan
diare4.
133.
134. Membantu keluarga dalam menciptakanlingkungan yang dapat
meningkatkankesehatan untuk mencegah diare5.
135.
136. Membantu keluarga memanfaatkan fasilitaskesehatan di lingkungan
setempat untuk pengobatan diareGangguan tumbuh kembang pada An. T
berhubungandengan ketidak mampuankeluarga mengenal
dampak hospitalisasi1.
137.
138. Memberikan penjelasan tentanghospitalisasi kepada keluarga2.
139.
140. Membantu keluarga dalam mengenalmasalah hospitalisasi3.
141.
142. Membantu keluarga untuk mengambiltindakan terhadap penanganan
hospitalisasi4.
143.
144. Membantu keluarga dalam menciptakanlingkungan yang dapat
meningkatkankesehatan untuk mengatasi dampak hospitalisasi

145.
146. 3.4. Evaluasi Keperawatan
147.
148. Intervensi
149.
150. Evaluasi
151. 1. Memberikan penjelasan tentangdiare kepada keluarga2. Membantu
keluarga dalammengenal masalah diare3. Membantu keluarga
untuk mengambil tindakan terhadap penanganan diare4. Membantu keluarga
dalammenciptakan lingkungan yang dapatmeningkatkan kesehatan
untuk mencegah diare5. Membantu keluargamemanfaatkan fasilitas
kesehatan dilingkungan setempat untuk pengobatan diare6. Keluarga
memahami tentang diare1.
152.
153. Keluarga mampu mengenal masalah diare1.
154.
155. Keluarga mampu untuk mengambiltindakan terhadap penanganan
diare1.
156.
157. Keluarga mampu dalam menciptakanlingkungan yang dapat
meningkatkankesehatan untuk mencegah diare1.
158.
159. Keluarga mampu memanfaatkan fasilitaskesehatan di lingkungan
setempat untuk pengobatan diare2.
160.
161. 1. Memberikan penjelasan tentanghospitalisasi kepada keluarga3.
162.
163. 2. Membantu keluarga dalam mengenalmasalah hospitalisasi4.
164.
165. 3. Membantu keluarga untuk mengambiltindakan terhadap
penanganan hospitalisasi5.
166.
167. Membantu keluarga dalam menciptakanlingkungan yang dapat
meningkatkankesehatan untuk mengatasi dampak hospitalisasi1.
168.
169. Keluarga memahami tentanghospitalisasi1.
170.
171. Keluarga mampu mengenal masalahhospitalisasi1.
172.
173. Keluarga mampu mengambil tindakan
174.
175.
176. 40terhadap penanganan hospitalisasi1.
177.
178. Keluarga mampu menciptakan lingkunganyang dapat meningkatkan
kesehatan untuk mengatasi dampak hospitalisasi

179.
15makanan.
Masa inkubasi
: BAB > 3x 24
jamMK: anak
menangis,gelisah,
suhu
tubuhmeninggi,
BAB cair kadang
disertai darah
danlender
y

Kejang
y

Malnutrisi
energi proteinOba
t:
y
Anti sekresi
y

Anti spasmolitik
y

Pengeras tinja
y

Antibiotik 2.
Varicela (cacar
air)
Agen pembawa:
Variacell
Zooster
Sumber:
sekresi
primer saluran
pernafasan
danorgan
terinfeksi,
padatingkatan lesi
kulit yanglebih
rendah
Transmisi:
terkontaminasi
oleh
objek penularan.
Masa inkubasi:
2-3minggu/ 13-17
hari
Masa penularan:
biasanya 1 hari
setelaherupsi lesi
(masa
awal)sampai 5
hari setelah
Kekhususan:
biasanya tidak ada
agen anti viral
(ecyclovir)untuk
resiko tinggi
anak terinfeksi,
Varicella
Zooster imonoglo
bin (VZIG)
setelah pembukaa
n pada anak
yang beresiko
tinggi.
Obat:
Diphenhidramin,h
ydoklorida, atau
antihistamin
untuk menghilang
kan
gatalPerawatan
kulit
untuk pencegaha
n infeksi
bakterikedua.
Komplikasi:
y

Infeksi pada
tahapkedua (bisu,
selulitis, pnemoni,
sepsis)ó Lakukan
isolasi ketatdi
RSó Isolasi anak
di rumahsampai
vasikelmengering
(biasanya
1minggu
setelahterinfeksi)
dan isolasianak
yang beresiko
tinggiinfeksió
Beri perawatan
kulit:mandi dan
berganti pakaian
setisp hari,oleskan
lation .ó
Mengurangi
gatal-gataló
Hindari
mengupaskulit
kerak
yangmenggosok
dan
membuatiritasi.
16 banyak muncul
vesikelketika
kerak
kulitterbentuk.
MK:Tahap awal:
demamringan,
malaise,
anoreksia, pertam
a kali ruam
dangatal, muncul
makula,dengan
cepat
berkembangmenja
di papula
danmenjadi
vesikel(dikelilingi
oleh
dasar eritematosu
s
menjadigelembun
g, mudah
pecahdan
membentuk
kerak).Ketiga
tahapan
(papula,vesikel,
dan kerak
kulit)hadir dalam
tingkatan berbeda
dalam waktu
yangsama.
Distribusi:
sentrifetal,menye
bar ke wajah
dantubuh, tapi
jarang
padatungkai dan
lengan.
Gejala:
elevasi suhu
darilimfade
nopaty, iritasi
darigatal-gatal.
y

Encephalitis
y
Varicela pnemoni
y

Peredaran
varicela
y

Kronik atau
tranesientrombosi
topenia3
Difhteria
y

Antitoksin
(biasanya ó
Lakukan isolasi
ketat
17
Manifestasi klinis:
Bervariasi
menurut
lokasianatomi
Pseudomembran
Nasal :
Menyerupai flu,
nasalmengeluarka
n serosanguineous
mukous
purulenttanpa
gejala-gejala
pokok:tampak
seperti epitaksis.
Tonsilar
pharingeal :
Malaise,
anorexia,tenggoro
kan sakit,
sedikitdemam,
pulse
meningkatdari
yang
diharapkanselama
24 jam,
membranmelemb
ut, putih atau abu-
abu;
timbulnyalimfade
nitis
jika penyakitnya
parah
timbultoximea,
septik syok,
danmeninggal
dalam 6-10hari.
Lharyngeal :
Demam : serak,
batuk,tanpa ada
tanda
awal,melalui
intravenadiawali
dengan testkulit
dan
konjungtivauntuk
mengetessensitifit
as terhadapserum)
y

Antibiotik
(penisillinatau
erythromycin).
y
Bedrest
total(pencegahan
miokarditis)
y

Tracheostomy
untuk penahamba
tan jalanudara.
y
Perawatan carrier
dankontak
terhadap
orangyang
terinfeksi.Kompli
kasi :Miokarditis
(minggu ke
2) Neuritisdi
rumah sakitó
Berpartisipasi
pada
testsensitifitas;
beri epineprinika
adaó Beri
antibiotik,
amatisensitifitas
terhadap penisilin
ó Gunakan
suction
jika perluó Beri
perawatankomplit
untuk memperole
h bedrestó Atur
kelembabanuntuk
pencairan
optimumsekresi.ó
Amati respirasi
untuk tanda-
tanda penghambat
an
18 potensial
penghambatanala
n udara,
gelisah,cyanosis,
retraksidyspniec.4
. Rubeola
(campak)Agen
pembawa :Virus
Sumber :
Sekresi saluran
nafas,darah dan
urine dari
orangyang
terinfeksi.
Transisi :
Kontak langsung
denganorang yang
terinfeksi.
Masa inkubasi :
10-20 hari
Periode penularan
:
Dari 4-5 hari
setelahruam-ruam
muncul
tetapiterutama
selama
tahapanawal
(catharal).
Manifestasi klinis :
Tidak ada
perawatan lain
yang perlu kecuali
antipiretik
untuk demam dan
analgesik
untuk nyeri.
Komplikasi :
Jarang terjadi
(arthritis,enchepal
itis, atau
purpura); penyaki
t-panyakit
menular yang
sering dijumpai
padamasa anak-
anak;
bahayaterbesar
adalah
efek teratogenik
pada janin.ó
Yakinkan
orangtua bahwa
vesikel-
vesikeladalah
suatu
proses panyakit
yang alami
padaanak-anak
yangterinfeksi.ó
Gunakan
sentuhanlembut
jika diperlukan.ó
Jauhkan anak
dariwanita hamil
19Fase
prodromal:Tidak
dijumpai pada
anak-anak, namun
dijumpai pada
orang remaja
dandewasa yang
ditandaidengan
demam
ringan,sakit
kepala,
malaise,anorexia,
konjungtivitisring
an, coryza,
sakitkerongkonga
n, batuk,
danlimfadenofaty.
Palingsedikit 1-5
hari,menghilang 1
hari
setelahterjadinya
ruam.
Ruam :
Pertama kali
muncul diwajah
dan dengan
segeramenyebar
ke leher,
lengan batang
tubuh dan
kaki.diakhiri dari
pertamaditutupi
dengan bercak-
bercak
kemerahan
makulo pupalar,
biasanya
hilang pada hari
ketiga
Tanda dan gejala :
Demam ringan
yangmuncul
kadang-kadang,
20sakit kepala,
malaise
danlimfadenopaty
D. MASALAH KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL

a. Motivasi belajar menurun

Pencegahan :

 Sesuaikan harapan dan sikap dengan anak

 Berikan penguatan yang efektif

 Ajarkan belajar yang tepat

b. Sulit makan

Pencegahan :

 Jangan memaksa

 Fokuskan perhatian anak saat makan

 Berikan porsi yang sesuai

 Jangan memarahi anak di meja makan

c. Fobia sekolah

Pencegahan :

 Orang tua mengajak anak ke sekolah

 Orang tua bercerita tentang suasana sekolah

d. Berbohong

Pencegahan :

 Berikan umpan balik realistis

 Ajarkan nilai moral

 Dorong kesadaran diri

 Tetapkan hubungan yang seimbang

 Cari penyebab

e. Kebersihan kulit kurang

Pencegahan :
 Ajarkan anak untuk kebersihan secara dini

 Pengawasan

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL

a. Bersihan jalan nafas tidak efektif


b. Resiko Cidera
c. Resiko Trauma
d. Resiko Keracunan
e. Resiko Infeksi
f. Gangguan Penanganan Pemeliharaan Rumah / Penatalaksanaan Rumah
g. Gangguan Pemenuhan Nutrisi
h. Perubahan Menjadi Orang Tua
i. Perubahan / Gangguan Tumbuh Kembang
j. Gangguan Komunikasi Verbal
k. Gangguan Proses Keluarga
l. Isolasi Sosial
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

A. PENGKAJIAN

Data umum

Pengkajian terhadap data umum keluarga meliputi :

1. Nama kepala keluarga : Tn. B


2. Usia : 30 Tahun
3. Pendidikan : STM
4. Pekerjaan : Wiraswasta
5. Alamat : Jln. Wirasakti V No. 50 Siteba Padang
6. Komposisi keluarga

N Na L/ Hubung Um Pddk Pekerja Status Imunisasi Ke


o. ma P an ur an an BC Poli DP Hepati Camp t
G o T tis ak

1. Ny. P Istri 28 SI IRT - - - - -


N th
2. An. L Anak 3 th - - √ √ √ √ √
Z

7. Genogram

Keterangan :
: Laki-laki

: Perempuan

: anggota keluarga yang meninggal

- - - - - - : tinggal serumah

Tn. B adalah anak pertama dari dua bersaudara, dan menikah dengan Ny. N
yang merupakan anak ke lima dari tujuh bersaudara. Mereka mempunyai satu orang
anak Z yang berumur 3 tahun.

8. Tipe keluarga

Tipe keluarga Tn. B adalah tipe keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan
satu orang anak. Tn. B sebagai kepala keluarga, Ny. N sebagai Istri dan An. Z sebagai
anak.

9. Suku / bangsa

Keluarga Tn. B bersuku minang dan tradisinya mengikuti garis keturunan ibu
atau matrilineal. Keluarga Tn. B sangat menyukai makanan yang pedas dan bersantan.

10. Agama

Agama yang dianut oleh keluarga Tn. B adalah agama Islam. Keluarga Tn. B
biasa melakkan shalat 5 waktu di rumah. Ny. N tidak aktif mengikuti pengajian atau
wirid di mesjid dekat rumahnya karena Ny. N menjaga anaknya (An. Z) dirumah.
Agama adalah sumber kekuatan keluarga.

11. Status sosial ekonomi

Tn. B adalah seorang wiraswasta yangberpenghasilan Rp. 2.000.000/bulan


untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari berdasarkan penghasilan Tn. B. Sedangkan
pengeluarannya Rp. 1.500.000/bulan. Keluarga Tn. B memiliki TV 21 inchi, lemari,
kursi tamu, meja, dispenser, tape dan peralatan rumah tangga lainnya. Keluarga Tn. B
menabung ± Rp. 500.000/bulan yang disisihkan untuk dana pendidikan anaknya untuk
masa yang akan datang dan untuk dana perawatan kesehatan.

12. Aktivitas rekreasi keluarga

Keluarga Tn. B mempunyai aktivitas rekreasi yang tidak terjadwal. Aktivitas


rekreasi biasanya berupa berkumpul dengan keluarga yang lain dan jalan-jalan keluar
kota. Biasanya setiap sore Tn. B mengajak An. Z jalan-jalan dengan sepeda motor,
dan kadang Ny. N yang mengiringi An. Z bermain sepeda dengan teman-temannya.

B. RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA

1. Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini

 Tahap perkembangan keluarga yaitu keluarga dengan anak prasekolah karena usia
anak tertua pada keluarga Tn. B adalah 3 tahun.

 Tugas perkembangan keluarga yang harus dipenuhi pada saat ini adalah :

a) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga : sandang, pangan dan papan, serta


privasi, keamanan dan kasih sayang.

b) Mensosialisasikan anak.

c) Mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga (hubungan perkawinan,


hubungan orang tua dengan anak, hubungan dengan lingkungan sekitarnya).

d) Pembagian waktu individu, pasangan dan anak serta untuk intervensi dengan
lingkungan.

e) Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.

f) Kegiatan dan usaha-usaha untuk menstimulasi tumbuh kembang anak.

2. Tahap Perkembangan Keluarga Yang Belum Terpenuhi

Ny. N merasa belum mampu menjadi seorang Ibu rumah tangga yang baik,
karena belum mampu merawat anaknya dengan baik. Menurut Ny. N, An. Z bandel
dan kadang susah diatur. Apalagi An. Z kalau setiap menginginkan sesuatu misalnya
minta dibelikan mainan harus segera dipenuhi jika tidak ia akan selalu menagihnya.

3. Riwayat Keluarga Inti

 Tn. B dan Ny. N menikah atas dasar cinta, tanpa paksaan dari pihak lain. Mereka
menikah dengan usia yang berbeda, dan direstui oleh keluarga dari kedua belah
pihak. Ny. N mengatakan bahwa ia merasa bahagia dengan perkawinannya.

 Saat dilakukan pengkajian kondisi kesehatan Tn. B sehat-sehat saja, tidak memilki
gangguan maupun kelainan kesehatan.
 Saat dilakukan pengkajian kondisi kesehatan Ny. N sehat-sehat saja, tidak memiliki
gangguan maupun kelainan kesehatan.

 Saat dilakukan pengkajian, kondisi An. Z sedang mengalami ISPA, disebabkan


karena sering membeli jajanan seperti es krim, coklat, permen dan juga
perubahan cuaca.

 Keluarga Tn. B menggunakan jasa pelayanan kesehatan seperti PUSKESMAS,


Praktek Dokter, Bidan jika ada masalah kesehatan. Dalam keluarga Tn. B tidak
ada anggapan negatif terhadap pelayanan-pelayanan kesehatan.

4. Riwayat Keluarga Sebelumnya

Dalam keluarga Tn. B maupun Ny. N tidak terdapat penyakit keturunan


seperti : Jantung, Hipertensi, Diabetes Melitus, dan lain-lain.

C. LINGKUNGAN

1. Karakteristik Rumah

a) Tipe Rumah

Rumah yang dimiliki Tn. B merupakan rumah permanen dan milik pribadi,
terdiri dari 3 kamar tidur, 2 kamar mandi/WC, 1 dapur, 1 ruang tamu dan 1 ruang
makan. Rumah tersebut berlantaikan semen dan dindingnya terbuat dari batu bata
yang sudah dilapisi semen dan sudah dicat.

Denah Rumah :
Keterangan :

KT : Kamar Tidur

RT : Ruang Tamu

RK : Ruang Keluarga

RM : Ruang Makan

DPR : Dapur

KM : Kamar Mandi

WC : WC

: Jendela

: Pintu

b) Ventilasi

Ventilasi kurang, Penerangan rumah Tn. B pada pagi, siang dan sore hari dari
cahaya matahari kurang, dan malamnya menggunakan lampu listrik sebagai
penerangan.

2. Persediaan Air

Sumber persediaan air dirumah Tn. B dari air sumur yang digunakan oleh
keluarga untuk mandi, mencuci, memasak serta untuk BAB/BAK. Sumber air minum
kelurga Tn. B biasa dari air sumur yang sudah dimasak dan kadang dari air galon isi
ulang.

3. Pembuangan Sampah, BAB/MCK

Pembuangan sampah dikeluarga Tn. B ditumpuk pada satu karung atau kantong
plastik dan diletakkan didepan rumah yang nantinya akan diambil oleh petugas sampah.
Sedangkan pembuangan limbah disalurkan dari kamar mandi ke got kecil dibelakang
rumah. Jarak kamar mandi ke septictank ± 10 m.

4. Karakteristik Tetangga / Komunitas RT / RW

Jarak rumah dengan tetangga berdekatan. Hubungan keluarga Tn. B dengan


tetangga sangat baik. Kebiasaan Ny. N tiap sore berkumpul-kumpul dengan tetangga
sambil mengawasi An. Z bermain dengan tema-temannya. Selain itu Ny. N juga aktif
dalam kegiatan arisan dengan tetangga. Sebagian besar komunitas RW adalah warga
pendatang yang umumnya berprofesi sebagai pegawai negeri atau swasta. Sedangkan
sarana transportasi yang digunakan oleh warga adalah angkot, ojek, motor dan mobil
pribadi.
5. Mobilitas Geografis Keluarga

Tn. B tinggal di rumah istri. Ny. N dari dulu tinggal disini bersama keluarganya.
Tapi sekarang orang tua dan adik bungsu Ny. N sudah pindah ke kampung halamannya di
batusangkar dan sejak itu Tn. B sekeluarga menempati rumah ini sampai sekarang, karena
Tn. B bekerja sebagai seorang wiraswasta di kota padang.

6. Perkumpulan Keluarga Dan Interaksi Dengan Masyarakat

Keluarga Tn. B lebih sering berkumpul biasanya pada malam hari. karena
berhubung dengan kesibukan Tn. B yang berangkat kerja pagi dan pulangnya pada sore
bahkan menjelang magrib jadi waktu berkumpul yang paling efektif adalah pada malam
hari. Sedangkan interaksi dengan masyarakat, Tn. B biasanya berkumpul setelah pulang
shalat magrib jika ia shalat magrib ke mesjid. Sedangkan Ny. N dengan mengikuti arisan-
arisan komplek dan juga berkumpul diteras rumah pada sore hari.

7. Sistem Pendukung Keluarga

Pada umumnya anggota keluarga Tn. B dalam keadaan sehat. Tapi terkadang An.
Z sering mengalami Batuk dan influenza jika sudah terjadi pergantian cuaca apalagi pada
musim hujan dan An. Z juga sering memakan makanan yang manis-manis dan yang
dingin. Biasanya bila ada anggota keluarga yang sakit, dibawa berobat ke PUSKESMAS
tedekat atau ke bidan bahkan ke praktek dokter.

D. STRUKTUR KELUARGA

1. Pola Komunikasi Keluarga

Keluarga Tn. B mempunyai pola komunikasi yang baik satu sama lain. Antara
Tn. B dan Ny. N berbahasa minang sedangkan kepada An. Z mereka berbahasa
indonesia. Komunikasi terbuka dan dua arah. Anggota keluarga mengutarakan
keinginan-keinginan dan perasaan secara terbuka. Bila timbul masalah, keluarga
berusaha mendiskusikan dan memberikan umpan balik yang tepat. Tidak ada pola
komunikasi yang disfungsional dalam keluarga.

2. Struktur Kekuatan Keluarga

Apabila ada permasalahan yang mendesak yang terjadi dalam keluarga


biasanya Ny. N membicarakan ke suami. Tapi bila masalah antara suami istri
biasanya dibicarakan dahulu antara meeka saja, tapi bila tidak bisa diselesaikan Ny. N
menceritakan kepada orang tuanya untuk meminta pendapat. Sedangkan dalam
mengambil keputusan dalam setiap masalah keluarga disepakati berdua oleh Tn. B
dan Ny. N.

3. Struktur Peran

- Tn. B sebagai Kepala Keluarga yang berperan sebagai pencari nafkah utama dalam
keluarganya. Bertanggung jawab terhadap semua kebutuhan keluarganya. Jika
sedang dirumah, Tn. B ikut mengasuh anaknya dan membantu pekerjaan rumah
tangga seperti menyiram tanaman,menyapu rumah, memandikan anaknya, dan
lain-lain.

- Ny. N adalah istri dari Tn. B yang bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga yang berperan
sehari-harinya mengasuh anaknya dan melaksanakan tugas-tugas lainnya seperti
memasak, mencuci, menyapu, membersihkan rumah dan lain-lain.

- An. Z adalah anak dari Tn. B dan Ny. N yang berperan sebagai anak yang patuh
terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh kedua orang tuanya dan sangat
menyayangi orang tuanya.

4. Nilai Atau Norma Keluarga

Nilai dan norma yang di anut oleh keluarga Tn. B sesuai dengan yang ada
dimasyarakat pada umumnya, seperti tidak boleh pulang terlalu malam, jam tamu
sampai jam 21.00 WIB. Tn. B dan Ny. N sudah menanamkan nilai dan norma agama
kepada anaknya seperti mengajarkan membaca basmalah sebelum makan, dan lain-
lain.

E. FUNGSI KELUARGA

1) Fungsi Afektif

Tn. B dan Ny. N menikah atas dasar cinta yang diawali dari perkenalan dan
kemudian mereka berpacaran lebih kurang 3 tahun, akhirnya berlanjut sampai ke
jenjang pernikahan.

Semua anggota keluarga saling menyayangi, menghormati dan saling


mengahargai, seperti antara suami dan istri, menantu dan anaknya, ayah, ibu dan
anak.

2) Fungsi Sosialisasi

- Semua anggota keluarga dapat bersosialisasi dengan baik antara anggota keluarga
lainnya, namun untuk bersosialisasi dengan di luar rumah lebih sedikit karena
keluarga Tn. B lebih banyak berada di dalam rumah.

- Ny. N sering mengajak anaknya berjalan ke luar rumah seperti : ke warung, main ke
rumah tetangga, ikut dalam acara kemasyarakatan bahkan ke acara pernikahan.

3) Fungsi Perawatan Kesehatan

- Tn. B

Setelah dilakukan pengkajian terhadap Tn. B tidak mengalami gangguan


kesehatan dan kondisi kesehatan sekarang baik-baik saja.

- Ny. N
Setelah dilakukan pengkajian terhadap Ny. N tidak mengalami gangguan
kesehatan dan kondisi kesehatan sekarang baik-baik saja.

- An. Z

Setelah dilakukan pengkajian terhadap An. Z sedang mengalami batuk dan flu.

4) Fungsi Reproduksi

Keluarga Tn. B dan Ny. N baru memiliki satu orang anak yaitu An. Z. Dan
mereka berencana ingin mempunyai satu anak lagi. Ny. N dan Tn. B tidak
menggunakan alat kontrasepsi.

Tn. B dan Ny. N mengatakan tidak mengalami gangguan dan perubahan


dalam hubungan seksual.

5) Fungsi Ekonomi

Keluarga Tn. B mampu memenuhi kebutuhan sandang, papan dan pangan


sesuai dengan kebutuhan yang bersumber dari penghasilan Tn. B. Dimana
penghasilan Tn. B Rp. 2.000.000/bulan dab pengeluaran perbulan yang dikeluarkan
untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari lebih kurang Rp. 1.500.000 sedangkan
sisanya di tabung untuk biaya pendidikan anaknya di masa yang akan datang dan juga
untuk dana perawatan kesehatan.

F. STRESS DAN KOPING KELUARGA

1) Stressor Jangka Pendek Dan Jangka Panjang

 Stressor Jangka Pendek

Tn. B dan Ny. N khawatir dengan masalah kesehatan anaknya yang rentan
terkena flu dan batuk apabila anaknya memakan makanan yang dapat merangsang
terjadinya ISPA, aeperti : es, makanan yang manis-manis, dan juga pengaruh
cuaca.

 Stressor Jangka Panjang

Tn. B dan Ny. N mengatakan tidak ada masalah yang begitu berarti untuk
masa yang akan datang. Tn. B dan Ny. N ingin anaknya kelak menyelesaikan
sekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak serta dapat bekerja dan
membantu perekonomian keluarga.

2) Kemampuan Keluarga Berespon Terhadap Situasi / Stressor

Ny. N mengatakan tidak tahu cara mengobati anak yang terserang ISPA di
rumah dan cara meningkatkan nafsu makan anaknya dengan cara membujuk anaknya
supaya mau makan seperti makan sambil jalan-jalan keliling komplek dan berusaha
mencari makanan pengganti.
3) Strategi Adaptasi Disfungsional

Keluarga Tn. B mengatakan bila ada masalah dalam keluarga akan


dibicarakan bersama dan dicari cara pemecahannya.

G. RIWAYAT KESEHATAN DAN PEMERIKSAAN FISIK

1. Riwayat Kesehatan

Setelah dilakukan pengkajian pada masing-masing anggota keluarga Tn. B,


didapatkan hasil bahwa Tn. B dan Ny. N tidak mengalami gangguan kesehatan dan
tidak ada riwayat penyakit keturunan. Sedangkan An. Z sering batuk dan flu dan
menyebabkan kurang nafsu makan, An. Z lebih suka bermain dan jajan di luar.

2. Pemeriksaan Fisik

Dilampirkan

H. PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG KESEHATAN

Bagi keluarga Tn. B sehat adalah apabila keluarga dapat melaksanakan seluruh
aktivitas sehari-hari dengan baik tanpa ada gangguan seperti demam, flu, dan sakit kepala.
Sedangkan sakit adalah suatu keadaan dimana seluruh kegiatan tidak dapat dilaksanakan
atau seluruh kegiatan tidak dapat dilaksanakan atau seluruh aktivitas sehari-hari tidak
dapat dilakukan dengan baik.

I. HARAPAN KELUARGA

Harapan keluarga terhadap amsalah kesehatan yang dihadapi adalah agar masalah
tersebut dapat di atasi dan keluarga dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa gangguan
kesehatan.

Harapan keluarga terhadap kunjungan perawat keluarga adalah perawat keluarga


dapat memberikan solusi yang tepat terhadap masalah yang dihadapi keluarga dan
membantu keluarga mengatasi masalah tersebut. Selain itu dengan adanya kunjungan
rumah tersebut keluarga berharap dapat menambah pengetahuan mereka tentang
kesehatan.
ANALISA DATA

No. Data Penunjang Masalah Diagnosa


Keperawatan Keperawatan
1. Data Subjektif : Bersihan jalan nafas Bersihan jalan nafas
tidak efektif pada tidak efektif pada An.
- Ny. N mengatakan bahwa An. Z An. Z keluarga Tn. Z keluarga Tn. B
sering mengalami flu dan batuk. B berhubungan dengan
ketidakmampuan
- Ny. N mengatakan An. Z terkena flu keluarga merawat
dan batuk sejak 3 hari yang lalu. anggota keluarga
dengan masalah ISPA.
- Ny. N mengatakan bahwa An. Z
sering flu dan batuk, kering pada
siang hari.

- Ny. N mengatakan gejala yang


dirasakan oleh An. Z adalah bersin-
bersin dipagi hari dan
tenggorokannya terasa panas dan
kering.

- Ny. N mengatakan hidung An.


Zsering mengeluarkan lendir dipagi
hari.

- Ny. N mengatakan kalau An. Z flu /


batuk, dibawa berobat ke Bidan atau
ke PUSKESMAS terdekat.

Data Objektif :

- BB : 12 kg, TB : 95 cm

- Bunyi nafas ronchi

- Concha nasal tampak merah


2. Data Subjektif : Resiko terjadinya Resiko terjadinya
gangguan kebutuhan gangguan kebutuhan
- Ny. N mengatakan kalau An. Z nutrisi dan nutrisi dan kebutuhan
sedang flu atau batuk nafsu kebutuhan tubuh tubuhpada An. Z
makannya kadang menjadi pada An. Z keluarga Tn. B b/d
berkurang ketidakmampuan
merawat anggota
- Ny. N mengatakan An. Z suka jajan keluarga dengan
makanan ringan (coklat, roti, es penurunan pemasukan
krim, permen dan lain-lain) nutrisi oral.

- Ny. N mengatakan nutrisi adalah


makanan yang kita makan sehari-
hari

- Ny. N mengatakan jika tidak sedang


batuk atau flu An. Z sangat
bersemangat kalau makan

Data Objektif :

- Anak berumur 3 tahun

- BB : 12 kg, TB : 95 cm

- Anak makan nasi + lauk, habis ½


porsi jika sedang flu atau batuk
SKORING ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

Diagnosa Keperawatan

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif pada An. Z keluarga Tn. B berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan masalah ISPA.

No. Kriteria Nilai Bobot Skor Pembenaran


1. Sifat Masalah 3 1 3/3 x 1 = 1 Masalah bersifat aktual dan
sangat mengganggu An. Z
Skala : setiap hari dalam melakukan
aktivitas walaupun dapat
Tidak / Kurang hilang pada siang harinya.
Mengancam
2. Kemungkinan Skala 1 2 ½x2=1 Sering makan ice krim dan
Dapat Diubah makanan yang manis seperti
coklat dll, sering terjadi pada
Skala : anak-anak. Keluarga
merasakan masalah ini belum
Sebagian ditindaklanjuti. Perawat
Komunitas dapat memberikan
cara memodifikasi lingkungan
sehingga tingkat kekambuhan
alergi menjadi minimal.
3. Potensial Masalah 2 1 2/3 x 1 = Sering makan makanan yang
Untuk Dicegah 2/3 manis dan dingin yang dialami
An. Z dapat diatasi dengan
Skala : menghindari makanan seperti
ice krim dan menggantinya
Cukup dengan buah-buahan.
4. Menonjolnya 2 1 2/2 x 1 = 1 Walaupun keluarga belum
Masalah mencoba menindaklanjutinya,
masalah ini harus diatasi jika
Skala : tidak bisa mengganggu
aktivitas dan bermain An. Z
Masalah berat harus begitu juga kesehatan An. Z.
segera ditangani
Total : 3 2/3

2. Resiko terjadinya gangguan kebutuhan nutrisi dan kebutuhan tubuh pada An. Z
keluarga Tn.

No. Kriteria Nilai Bobot Skor Pembenaran


1. Sifat Masalah 2 1 2/3 x 1 = Sifat masalah merupakan
2/3 ancaman karena pada saat flu
Skala : atau pilek kadang nafsu
makan An. Z menjadi
Ancaman kesehatan berkurang dan jika itu tidak
ditanggulangi akan menjadi
aktual dan dapat
menyebabkan penurunan pada
status kesehatannya yaitu
gangguan nutrisi.
2. Kemungkinan Skala 1 2 ½x2=1 Masalah sebagian dapat
Dapat Diubah diubah karena Ny. N dapat
memberikan makanan-
Skala : makanan lain kepada An. Z
seperti sate, ayam goreng,
Sebagian snack, dan lain-lain.
3. Potensial Masalah 2 1 2/3 x 1 = Potensial masalah untuk
Untuk Dicegah 2/3 dicegah cukup karena dapat
dilakukan dengan
Skala : mengajarkan cara perawatan
An. Z dengan penurunan
Cukup pemasukan nutrisi.
4. Menonjolnya 1 1 1/2 x 1 = Keluarga menyadari ada
Masalah ½ masalah tapi tidak perlu
ditangani dengan segera.
Skala :

Ada masalah tapi


tidak perlu ditangani
Total : 2 5/6

Diagnosa Keperawatan berdasarkan Prioritas Masalah :

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif pada An. Z keluarga Tn. B berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan masalah ISPA
2. Resiko terjadinya gangguan kebutuhan nutrisi dan kebutuhan tubuhpada An. Z
keluarga Tn. B b/d ketidakmampuan merawat anggota keluarga dengan penurunan
pemasukan nutrisi oral.\