Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN INDIVIDU

Manajemen Bayi Baru Lahir dan Resusitasi Neonatus

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners Departemen Anak


di RS Wava Husada Kepanjen, Malang

Oleh:
Mh. Aunur Riski Mubarok
185070200111006

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2019
LAPORAN INDIVIDU

Manajemen Bayi Baru Lahir dan Resusitasi Neonatus

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners Departemen Anak


di RS Wava Husada Kepanjen, Malang

Oleh:
Vera Dwi Anjani
185070200111017

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2019

LAPORAN INDIVIDU
Manajemen Bayi Baru Lahir dan Resusitasi Neonatus

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners Departemen Anak


di RS Wava Husada Kepanjen, Malang

Oleh:
Akhmad Arifinar Arrois
185070200111017

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2019
BAYI BARU LAHIR

1. DEFINISI
Bayi baru lahir adalah bayi yang pada usia kehamilan 37-42 minggu dan beraat
badan 2500 – 4000 gram (Vivian N.L.D., 2010). Bayi baru lahir (neonatus) adalah bayi
yang baru lahir sampai usia 4 minggu, lahir biasanya dengan umur gestasi 38 minggu
sampai 42 minggu ( Wong, D.L., 2003).Neonatus merupakan masa bayi baru lahir
sampai usia 28 hari (wewenang maternitas adalah 0-40 hari). Periode neonatal atau
neonatus adalah bulan pertama kehidupan. Selama periode neonatal bayi mengalami
pertumbuhan dan perubahan yang amat manakjubkan.( Mary Hamilton, 1995).

2. ETIOLOGI
1. Respirasi
Perubahan yang penting pada neonatus adalah respirasi.Pada saat intarauterin,
paru-paru berisi ± 20 cc/KgBB. Pada saat lahir, cairan tersebut digantikan dengan
udara.Dengan kelahiran pervaginam, cairan tersebut dikeluarkan melalui trakea dan
paru-paru.Nafas yang pertama merupakan reflek dari perubahan tekanan,
perubahan suhu, suara dan sensasi fisik pada saat kelahiran dengan permukaan
yang relative kasar.Disisi lain, kemoreseptor di aorta berespon terhadap penurunan
PO2 (dari 80 mmHg ke 15 mmHg), peningkatan CO2 (dari 40 mmHg ke 70 mmHg)
dan penurunan pH arteri.Depresi pernafasan tersebut terjadi karena terputusnya tali
pusat.Nafas pertama bersifat dangkal dan tidak teratur ± 30-60 x/menit disertai
periode apnea pendek (<15”).Bayi baru lahir lebih menyukai bernafas melalui
hidung. Saat mengalami pembuntuan, reflek yang digunakan adalah membuka
mulut, tetapi kemampuan tersebut baru dimiliki setelah usia 3 minggu, oleh karena
itu bayi mudah mengalami cyanosis jika mengalami obstruksi hidung.
2. Sirkulasi
System sirkulasi mengalami perubahan saat lahir, foramen ovale, duktus arteriosus
dan duktus venosus menutup.Arteri dan vena umbilical serta arteri hepatica menjadi
ligament.Tekanan arteri pulmonal menurun menyebabkan penurunan tekanan
artrium kanan.Peningkatan aliran darah yang kembali kesisi kiri jantung
meningkatkan tekanan atrium kiri.Perubahan tekanan ini menyebabkan penutupan
foramen ovale.Selama beberapa hari, menangis menyebabkan pengembalian aliran
darah melalui foramen ovale dan menyebabkan cyanosis.Saat level PO2 arteri
mendekati 50 mmHg, duktus arteriosus menutup kemudian duktus tersebut menjadi
ligament.Dengan pematangan tali pusat, arteri dan vena umbilical serta duktus
venosus menutup cepat dan menjadi ligament.
3. Termoregulasi
Pengendalian panas adalah cara kedua untuk menstabilkan fungsi pernafasan dan
sirkulasi bayi. Termoregulasi adalah upaya mempertahankan keseimbangan antara
produksi dan pengeluaran panas.Bayi bersifat homeothemic yang artinya berusaha
menstabilkan suhu badan internal dalam rentang yang pendek.Hipotermi dan
kehilangan panas yang berlebihan merupakan kejadian yang membahayakan.
Termogenesis pada bayi dipenuhi oleh brown fat dan meningkatkan aktifitas
metabolisme otak, jantung dan liver. Brown fat terletak pada antara kedua scapula
dan axila, serta didalam pintu masuk dada, sekitar ginjal dan vertebra. Lemak
tersebut mengandung banyak pembuluh darah dan saraf daripada lemak biasa.
Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuh mereka, sehingga akan
mengalami stres dengan adanya perubahan-perubahan lingkungan.
Mekanisme kehilangan panas pada bayi baru lahir menurut Depkes (2000) dapat
melalui:
a. Evaporasi, adalah cara kehilangan panas utama pada tubuh bayi. Kehilangan
panas terjadi karena menguapnya cairan ketuban pada permukaan tubuh bayi
setelah lahir karena bayi tidak langsung dikeringkan atau terjadi setelah bayi
dimandikan.
b. Konduksi, adalah kehilangan panas melalui kontak langsung antara tubuh bayi
dengan permukaan yang dingin, misal bayi yang diletakkan diatas meja, tempat
tidur atau timbangan yang dingin cepat mengalami kehilangan panas tubuh
melalui konduksi.
c. Konveksi, adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayi terpapar dengan
udara disekitar yang relatif dingin (25oC atau kurang), bayi yang dilahirkan
diruangan yang dingin cepat mengaami kehilangan panas. Kehilangan panas
terjadi jika ada tiupan kipas angin, aliran udara atau penyejuk ruangan.
d. Radiasi, adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayi ditempatkan dekat
tempat yang mempunyai temperatur tubuh lebih rendah dari temperatur tubuh
bayi, bayi akan kehilangan panas melalui cara ini. Benda yang lebih dingin
tersebut tidak bersentuhan langsung dengan panas bayi.
4. Hematologi
Hb bayi lebih banyak dari orang dewasa yaitu 14,5-22,5 g/dl, tetapi merupakan HbF
yaitu Hb yang usianya lebih pendek dari orang dewasa (40-90 hari). Dengan
simpanan Fe selama dalam kandungan, bayi akan membuat Hb yang baru.
Simpanan Fe dapat dipertahankan sampai usia 5 bulan.
5. Sistem Renal
Pada usia khamilan empat bulan, ginjal bayi sudah terbentuk dan sudah bisa
memproduksi urine. Urin akan dikeluarkan kedalam cairan amnion. Fungsi renal
seperti orang dewasa baru bisa dipenuhi saat bayi berusia 2 bulan.Cairan yang
diberikan pada hari 1 sebanyak 60 ml/kg BB setiap hari ditambah sehingga pada
hari ke 14 dicapai 200 ml/kg BB sehari.Saat lahir biasanya bayi akan BAK sedikit
dan kemudian tidak BAK selam 12-24 jam, kemudian akan BAK 6-10 x/menit. Urin
berwarna kuning, berjumlah 15-60 cc/KgBB.
6. Gastrointestinal
Bayi aterm sudah bisa menelan, mencerna dan mengolah serta menyerap protein
dan karbohidrat sederhana serta mengemulsi lemak sederhana. Bayi yang
hidrasinya baik, mukosa mulutnya basah, merah muda. Setelah lahir ada sedikit
mucus yang tersisa dimulut bayi. Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk
menelan dan mencerna makanan masih terbatas, juga hubungan antara osephagus
bawah dan lambung masih belum sempurna yang mengakibatkan gumoh pada bayi
baru lahir dan bayi muda. Kapasitas lambung sendiri sangat terbatas kurang dari 30
cc. Faeces pertama bayi adalah hitam kehijauan, tidak berbau, substansi yang
kental disebut mekonium. Faeces ini mengandung sejumlah cairan amnion, verniks,
sekresi saluran pencernaan, empedu, dan zat sisa dari jaringan tubuh. Pengeluaran
ini akan berlangsung sampai hari ke 2-3. pada hari ke 4-5 warna tinja menjadi
coklat kehijauan.Dalam hari-hari pertama berat badan akan turun oleh karena
pengeluaran (meconium, urine, keringat) dan masuknya cairan belum mencukupi.
Turunnya berat badan tidak lebih dari 10%. Berat badan akan naik lagi pada hari ke
4 sampai hari ke 10.
7. Sistem Hepatika
Liver dan gall blader dibentuk usia kehamilan 4 bulan. Liver dapat diraba pada bayi
baru lahir 1 cm dibawah costa kanan karena liver memenuhi ± 40 % kavitas
abdomen.50 % bayi aterm mengalami hyperbilirubinemia yang fisiologis sebagai
akibat dari frekuensi produksi bilirubin yang tinggi dari pemecahan RBC yang lebih
banyak dari dewasa, selain itu ada sejumlah bilirubin yang diserap kembali dari
usus halus.
8. Sistem Imunologi
System imunologi pada bayi baru berkembang pada fase awal ekstrauterin dan
belum aktif sampai dengan beberapa bulan.Selam tiga bulan pertama, bayi
dilindungi oleh imunitas pasif dari ibu.
9. Sistem integument
Vernix caseosa, suatu lapisan putih seperti keju, menutupi bayi saat lahir, fungsinya
masih belum jelas. Dalam 24 jam vernix caseosa akan diabsorsi kulit dan hilang
seluruhnya, jadi tidak perlu dibersihkan.
10. Sistem Reproduksi
Perempuan :
a. Ovarium sudah berisi ribuan sel-sel primitive (folikel primordial).
b. Peningkatan estrogen selama kehamilan didikuti dengan penurunan yang tiba-
tiba saat kelahiran menyebabkan terjadinya pengeluaran darah atau mucus
dari vagina disebut pseudomenstruasi.
c. Genetalia eksterna edema dan hiperpigmentasi.
d. Labia mayor dan minor sudah menutupi vestibulum.
e. Vernix caseosa terdapat dikedua labia.
Laki-laki :
a. Testis sudah turun kedalam scrotum pada 90 % bayi.
b. Spermatogenesis belum terjadi, baru terjadi saat pubertas.
c. Sering terjadi hidriceles yaitu akumulasi cairan disekitar testis, bisa sembuh
sendiri.
11. Sistem Muskuloskeletal
Pertumbuhan tulang terjadi cephalocaudal.Kepala mempunyai panjang ¼ dari
panjang badan bayi, dengan lengan lebih panjang sedikit dari kaki.Ukuran dan
bentuk kepala dapat sedikit berubah akibat penyesuaian dengan jalan lahir disebut
molding.

3. PENATALAKSANAAN BAYI BARU LAHIR


Menurut Prawirohardjo (2005) tujuan utama perawatan bayi baru lahir adalah :
1) Membersihkan jalan nafas.
Bayi normal akan menangis spontan segera setelah dilahirkan. Apabila bayi tidak
langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan nafas dengan cara
sebagai berikut :
a. Letakkkan bayi pada posisi telentang ditempat yang keras dan hangat.
b. Gulung sepotong kain dan letakkan dibawah bahu sehingga leher bayi lebih
bayi lebih lurus dan kepala tidak menekuk. Posisi kepala diatur lurus sedikit
tengadah ke belakang.
c. Bersihkan rongga hidung, rongga mulut dan tenggorokan bayi dengan jari
tangan yang dibungkus kasa steril.
d. Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2 – 3 kali atau gosok kulit bayi dengan
kain kering dan kasar. Dengan rangsangan ini biasanya bayi akan segera
menangis.
e. Kekurangan zat asam pada bayi baru lahir dapat menyebabkan kerusakan
otak. Oleh karena itu segera bersihkan mulut dan hidung bayi baru lahir.
Observasi warna kulit, adanya meconium dalam hidung atau mulut.
f. Bantuan untuk memulai pernafasan diperlukan untuk mewujudkan ventilasi
yang adekuat.
g. Dokter atau tenaga medis hendaknya melakukan pemompaan setelah 1 menit
bayi tidak menangis.
2) Penilaian bayi waktu lahir (assessmant at birth)
Keadaan umum bayi dimulai 1 menit setelah lahir dengan penggunaan nilai
APGAR. Penilaian ini perlu untuk mengetahui apakah bayi menderita asfiksia atau
tidak. Setiap penilaian diberi angka 0,1 dan 2 dari hasil penilaian tersebut apakah
bayi normal (vigorous baby = nilai apgar 7-10), asfiksia sedang-ringan (nilai apgar
4-6) atau asfiksia berat (nilai apgar 0-3). Bila nilai apgar dalam 2 menit belum
mencpai nilai 7, maka harus dilakukan tindakan resasitasi lebih lanjut. Oleh karena
bila bayi menderita asfiksia lebih dari 5 menit, kemungkinan terjadi gejala-gejala
neurologik lanjutan kemudian hari lebih besar. Berhubungan dengan itu, menurut
apgar dilakukan selain pada umur 1 menit juga pada umur 5 menit.
Tabel 3.1 Nilai APGAR
0 1 2
Apperance Badan merah, Seluruh tubuh
Pucat
(Warna Kulit) ekstremitas biru kemerah-merahan
Pulse Rate
Tidak ada Kurang dari 100 Lebih dari 100
(Frek. Nadi)
Grimance
Sedikit gerakan mimik
(Reaksi Tidak ada Batuk/bersih
(grimance)
Rangsangan)
Activity Ekstrimitas dalam
Tidak ada Garakan aktif
(Tonus Otot) sedikit flexi
Respiration
Tidak ada Lemah/tidak teratur Baik/menangis
(Pernafasan)
Jumlah

3) Memotong dan merawat tali pusat.


Tali pusat dipotong sebelum atau sesudah plasenta lahir tidak menentukan dan
mempengaruhi bayi, kecuali bayi kurang bulan. Apabila bayi lahir tidak menangis
maka tali pusat segera dipotong untuk memudahkan melakukan tindakan resusitasi
pada bayi. Tali pusat dipotong 5 cm dari dinding perut bayi dengan gunting steril
dan diikat dengan pengikat steril. Apabila masih terjadi perdarahan dapat dibuat
ikatan baru. Luka tali pusat dibersihkan dan dirawat dengan alkohol 70 % atau
povidon iodin 10 % serta dibalut kasa steril. Pembalut tersebut diganti setiap hari
dan setiap basah atau kotor. Sebelum memotong tali pusat . pastikan bahwa tali
pusat sudah diklem dengan baik untuk mencegah terjadinya perdarahan.
4) Mempertahankan suhu tubuh bayi.
Pada waktu bayi baru lahir, bayi belum mampu mengatur tetap suhu badannya dan
membutuhkan pengaturan dari luar untuk membuatnya tetap hangat. Bayi baru lahir
di bungkus hangat. Suhu tubuh bayi merupakan tolok ukur kebutuhan akan tempat
tidur yang hangat sampai suhu tubuhnya stabil. Suhu tubuh bayi harus dicatat.
5) Memberikan vitamin K.
Pemberian vitamin K dilakukan untuk mencegah terjadinya perdarahan karena
defisiensi vitamin K. Vitamin K diberikan peroral 1 mg/ hari selama 3 hari,
sedangkan bayi yang beresiko tinggi diberi vitamin K parenteral dengan dosis 0,5 –
1 mg I.M.
6) Memberikan obat tetes atau salep mata.
Setiap bayi lahir perlu diberikan tetes mata atau salep mata setelah 5 jam bayi lahir
untuk mencegah terjadinya penyakit mata karena klamidia. Tetes atau salep mata
yang diberikan adalah eritromisin 0,5 % atau tetrasiklin 1 %.
7) Identifikasi bayi baru lahir.
Peralatan identifikasi bayi baru lahir harus selalu tersedia ditempat penerimaan
klien. Kamar bersalin dan ruang rawat bayi. Peralatan yang digunakan hendaknya
kebal air dengan tepi yang halus dan tidak melukai, tidak mudah robek dan tidak
mudah lepas. Pada gelang atau alat identifikasi harus tercantum :
a. Nama ( bayi, nyonya )
b. Tanggal lahir.
c. Nomor bayi.
d. Jenis kelamin.
e. Unit.
f. Nama lengkap ibu. Disetiap tempat tidur harus diberi tanda dengan
mencantumkan nama, tanggal lahir, nomor identifikasi. Ukurlah berat lahir,
panjang bayi, lingkar kepala, lingkar perut dan catat dalam rekam medik.
8) Mencegah terjadinya infeksi.
Dapat dilakukan dengan perawatan tali pusat yang aseptik dan antiseptik.
Pemberian tetes atau salep mata untuk mencegah infeksi pada mata.

4. PEMANTAUAN BAYI BARU LAHIR


Bayi baru lahir dilakukan untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak dan
identifikasi masalah kesehatan bayi baru lahir yang memerlukan perhatian. Yang perlu
dipantau pada bayi baru lahir adalah :
1. Suhu badan dan lingkungan.
Suhu badan bayi perlu diukur dan dicatat secara teratur untuk mengetahui
adanya peningkatan suhu tubuh sehingga dapat segera dilakukan tindakan yang
tepat dan cepat.
2. Tanda – tanda vital.
a. Suhu tubuh bayi diukur melalui ketiak atau dubur bayi.
b. Nadi dapat dipantau di semua titik – titik nadi perifer.
c. Pernafasan yang normal pada bayi baru lahir adalah perut dan dada
bergerakbersamaan tanpa adanya retraksi, tanpa terdengar adanya suara
pada waktu inspirasi maupun ekspirasi. Gerak pernafasan 30 – 50 kali
permenit.
d. Tekanan darah dipantau bila ada indikasi.
3. Mandi dan perawatan kulit.
Dalam keadaan normal kulit bayi baru lahir adalah kemerahan dan terjadi
pengelupasan ringan. Mandi pada bayi baru lahir sangat diperlukan untuk
merawat kebersihan kulit dan menjaga kelembaban kulit dan suhu tubuh.
4. Pakaian.
Pakaian pada bayi dapat menjaga kehangatan suhu tubuh bayi. Sehingga bayi
tidak jatuh pada keadaan hipotermia. Pakaian juga dapat melindungi kulit bayi dari
resiko cidera atau tergores.
5. Perawatan tali pusat.
Perawatan tali pusat dilakukan secara aseptik dan antiseptik untuk mencegah
terjadinya infeksi pada tali pusat

5. PENILAIAN BAYI UNTUK TANDA-TANDA KEGAWATAN


Semua bayi baru lahir harus dinilai adanya tanda –tanda kegawatan/ kelainan yang
menunjukkan suatu penyakit.
1. Bayi baru lahir dinyatakan sakit apabila mempunyai salah satu atau beberapa
tanda – tanda berikut :
a. Sesak nafas.
b. Frekuensi pernafasan 60 X/mnt.
c. Gerak retraksi dada.
d. Malas minum.
e. Panas atau suhu badan bayi rendah.
f. Bayi kurang aktif.
g. Berat lahir rendah ( 1500 – 2500 gram ).
2. Tanda – tanda bayi sakit berat.
Apabila terdapat salah satu atau lebih tanda – tanda berikut ini :
a. Sulit minum.
b. Sianosis sentral ( lidah biru ).
c. Perut kembung.
d. Periode apneu.
e. Kejang atau periode kejang – kejang kecil.
f. Merintih.
g. Perdarahan.
h. Sangat kuning.
i. Berat badan lahir < 1500 gram.

6. PERIODE TRANSISIONAL PADA NEONATUS


Periode transisi dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama adalah periode pertama
reaktifitas dimulai pada saat bayi baru lahir dan berlangsung selama 30 menit. Tahap
kedua periode tidur berlangsung sekitar 30 menit setelah kelahiran bayi sampai 2 jam.
Tahap ketiga periode kedua reaktivitas dari usia sekitar 2 jam sampai 6 jam.
1. Periode Pertama Reaktifitas
Periode yang berakhir kira-kira 30 menit setelah bayi lahir.
Karakteristik bayi sebagai berikut :
a. Tanda-tanda vital : frekuensi nadi apikal yang cepat dengan irama yang tidak
teratur, frekuensi pernafasan mencapai 80 kali / menit, irama tidak teratur,
ekspirasi mendengkur serta adanya retraksi.
b. Fluktuasi warna kulit merah muda pucat ke sianosis. Bising usus belum ada
atau pergerakan usus, bayi belum berkemih.
c. Bayi masih dengan sedikit mukus, menangis kuat, reflek menghisap yang kuat.
d. Mata bayi terbuka lebih lama dari pada hari selanjutnya.
Saat ini adalah waktu yang paling baik untuk memulai proses periode interaksi
antara ibu dan bayi.

Asuhan :
a. Kaji dan pantau frekuensi jantung dan pernafasan, setiap 30 menit pada 4 jam
pertama setelah kelahiran.
b. Jaga bayi agar tetap hangat (suhu aksila 36,5 0c – 37 0c) dengan penggunaan
selimut hangat diatas kepala.
c. Tempatkan ibu dan bayi bersama-sama kulit ke kulit, untuk memfasilitasi
interaksi ibu dan bayi.
2. Periode Tidur
Setelah periode pertama dan berakhir 2 - 4 jam.
Karakteristik bayi sebagai berikut :
a. Bayi dalam keadaan tidur, frekuensi jantung dan pernafasan menurun.
b. Kestabilan warna kulit terdapat beberapa akrosianosis.
c. Bising usus bisa didengar.
Asuhan :
Fase tidur ini bayi tidak berespon terhadap stimulus eksternal, orang tua dapat
memeluk dan mengendongnya.

3. Periode Kedua Reaktifitas


Periode kedua reaktivitas berakhir sekitar 4 - 6 jam.
Karakteristik bayi sebagai berikut :
a. Bayi mempunyai tingkat sensivitas tinggi terhadap stimulus internal dan
lingkungan. Kisaran frekuensi nadi apikal dari 120 sampai 160 kali / menit dan
dapat bervariasi mulai (< 120 kali / menit) hingga takikardia (> 160 kali / menit).
Frekuensi pernafasannya berkisar dari 30 sampai 60 kali / menit, dengan
periode pernafasan yang lebih cepat, tetapi pernafasan tetap stabil (tidak ada
pernafasan cuping hidung ataupun retraksi).
b. Fluktuasi warna kulit dari warna merah jambu atau kebiruan ke sianotik ringan
disertai dengan bercak-bercak.
c. Bayi kerap kali berkemih dan mengeluarkan mekonium selama periode ini.
d. Peningkatan sekresi mukus dan bayi tersedak saat sekresi.
e. Reflek menghisap sangat kuat dan bayi sangat aktif.
Asuhan :
a. Observasi bayi terhadap kemungkinan tersedak saat pengeluaran mukus.
b. Observasi kemungkinan apnue dan stimulasi segera jika diperlukan misalnya,
masase punggung bayi, miringkan bayi.
c. Kaji kebutuhan bayi untuk memberikan ASI.
G. NEUROGICAL REFLEXES IN NEWBORN

1. REFLEK SUCKING
a) Cara Menstimulasi
Terjadi ketika bayi yang baru lahir secara otomatis menghisap benda yang
ditempatkan di mulut mereka. Refleks ini merupakan rute bayi menuju pengenalan
akan makanan. Kemampuan menghisap bayi yang baru lahir berbeda beda.
Sebagian bayi yang baru lahir menghisap dengan efisien dan bertenaga untuk
memperoleh susu, sementara bayi bayi lain tidak begitu terampil dan kelelahan
bahkan sebelum mereka kenyang. Kebanyakan bayi yang baru lahir memerlukan
waktu beberapa minggu untuk mengembangkan suatu gaya menghisap yang
dikoordinasikan dengan cara ibu memegang bayi, cara susu keluar dari botol atau
payudara, serta dengan kecepatan dan temperamen bayi waktu menghisap. Ada
dua tahapan dari reflek ini, yaitu:
- Tahap expression : dilakukan pada saat puting susu diletakkan diantara bibir
bayi dan disentuhkan di permukaan langit-langitnya. Bayi akan secara
langsung menekan (mengenyot) puting dengan menggunakan lidah dan
langit-langitnya untuk mengeluarkan air susunya.
- Tahap milking : saat lidah bergerak dari areola menuju puting, mendorong air
susu dari payudara ibu untuk ditelan oleh bayi.

b) Kapan Refleks Muncul dan Hilang


Reflek ini muncul 20-30 menit setelah kelahiran dan secara umum ada pada
semua jenis mamalia dan dimulai sejak lahir. Reflek ini berhubungan dengan
reflek rooting dan menyusui, dan menyebabkan bayi untuk secara langsung
mengisap apapun yang disentuhkan di mulutnya. Refleks ini belum timbul bila
kelahiran terjadi sebelum minggu ke 32 dan belum akan sempurna bila bayi lahir
sebelum usia 36 minggu, sehingga sering kita temui bayi-bayi prematur dengan
kemampuan menghisap yang lemah. Bayi pun memiliki refleks untuk
mendekatkan jari ke mulutnya dan menghisapnya.Reflek ini dapat tidak muncul
pada bayi dengan kelainan saluran pernapasan dan kelainan pada mulut
termasuk langit-langit mulut. Refleks yang lemah atau tidak ada refleks,
menunjukkan kelambatan perkembangan atau keadaan neurologi yang abnormal
.Reflek ini harus tetap ada selama masa bayi, bahkan tanpa rangsangan
sekalipun, seperti pada saat tidur.Reflek ini kemudian akan menghilang seiring
dengan usia bayi.

2. REFLEK ROOTING

a) Cara Menstimulasi
Seorang bayi baru lahir akan menggerakkan kepalanya menuju sesuatu yang
menyentuh pipi atau mulutnya dengan mulut terbuka serta mencari obyek tersebut
dengan menggerakkan kepalanya terus – menerus hingga ia berhasil menemukan
obyek tersebut. Bila pipinya bersentuhan dengan payudara ibu, ia akan langsung
memiringkan kepalanya dan mengarahkan mulutnya untuk mendapatkan ASI.
Setelah merespon rangsang ini (jika menyusui, kira-kira selama tiga minggu setelah
kelahiran) bayi akan langsung menggerakkan kepalanya lebih cepat dan tepat
untuk menemukan obyek tanpa harus mencari-cari. Tidak adanya refleks ini
menunjukkan adanya gangguan neurologi berat. Respon yang lemah atau tidak
ada respon terjadi pada prematuritas, penurunan atau cedera neurologis, atau
depresi sisterm saraf pusat

b) Kapan Reflek Muncul Dan Hilang


Reflek ini ditunjukkan pada saat kelahiran dan akan membantu proses
menyusui. Bisa jadi reflek ini tidak ada pada bayi kurang bulan (prematur) atau
kemungkinan adanya kelainan sensorik. Reflek ini akan mulai terhambat pada usia
sekitar empat bulan dan berangsur-angsur akan terbawa di bawah sadar. Refleks
ini menghilang pada usia 3-4 bulan tetapi bisa menetap sampai usia 12 bulan
khususnya selama tidur.

3. REFLEK GRASPING
a) Cara Menstimulasi
Letakkan jari di telapak tangan bayi dari sisi ulnar atau sebuah benda diletakkan di
tangan bayi dan menyentuh telapak tangannya, maka jari-jari tangan akan menutup
dan menggenggam benda tersebut. Jika menyentuh telapak kaki bayi maka akan
fleksi jari kaki bayi. Genggaman bayi dapat dikurangi kekuatannya dengan
menggosok punggung atau bagian samping tangan bayi. Fleksi yang tidak simetris
menunjukkan adanya paralisis, refleks menggenggam yang menetap menunjukkan
gangguan serebral. Respon ini berkurang pada bayi prematur.

b) Kapan Reflek Muncul Dan Hilang


Reflek ini muncul pada saat kelahiran dan akan menetap hingga usia 5 sampai 6
bulan.Kelainan pada saraf otak bila respon ini menetap.

4. REFLEK EXTRUSION
a) Cara Menstimulasi
Bila lidah disentuh/ditekan bayi akan mendorong lidah ke luar. Cara
mengetahui respon ini dengan menyentuh lidah dengan ujung spatel-lidah atau
sendok. Normalnya lidah akan ekstensi (menjulur) ke arah luar bila disentuh
(dengan jari, puting atau benda lain), dijumpai pada usia 4 bulan. Ekstensi lidah
yang persisten menunjukkan adanya sindrom down. Ekstrusi lidah secara kontinu
atau menjulurkan lidah yang berulang-ulang terjadi pada kelainan sistem saraf
pusat dan kejang.
b) Kapan Reflek Muncul Dan Hilang
Muncul pada saat lahir atau pada usia 4 bulan dan menghilang seiring
pertumbuhan/pertambahan usia bayi.

5. REFLEK TONIC NECK (disebut juga posisi menengadah)


a) Cara Menstimulasi
Saat kepala bayi digerakkan ke samping, lengan pada sisi tersebut akan lurus
dan lengan yang berlawanan akan menekuk (kadang-kadang pergerakan akan
sangat halus atau lemah). Contoh: Baringkan sekecil , lalu miringkan kekiri lalu
tangan kiri bayi akan merentang lurus keluar dan tangan kanannya akan menekuk
kearah kepala atau muka. Jika bayi baru lahir tidak mampu untuk melakukan posisi
ini atau jika reflek ini terus menetap hingga lewat usia 6 bulan, bayi dimungkinkan
mengalami gangguan pada neuron motorik atas. Berdasarkan penelitian, reflek
tonick neck merupakan suatu tanda awal koordinasi mata dan kepala bayi yang
akan menyiapkan bayi untuk mencapai gerak sadar.
b) Kapan Reflek Muncul Dan Hilang
Muncul pada usia satu bulan, Refleks ini sangat nyata pada 2 atau 3 bulan dan
akan menghilang pada sekitar usia lima bulan.Bila menetap setelah usia 7 bulan
kemungkinan ada kelainan otak atau adanya kerusakan serebral mayor.

6. REFLEK MORO
a) Cara Menstimulasi
Reflek ini terjadi jika kepala bayi tiba-tiba terangkat, suhu tubuh bayi berubah
secara drastis atau pada saat bayi dikagetkan oleh suara yang keras. Tetapi paling
baik dengan cara memegang dan meletakkan lengan pemeriksa sepanjang
punggung dan kepala bayi. Kemudian, jika tiba-tiba kepala bayi dijatuhkan sesaat
beberapa centimeter ke belakang. Kaki dan tangan akan melakukan gerakan
ekstensi dan lengan akan tersentak ke atas dengan telapak tangan ke atas dan ibu
jarinya bergerak fleksi. Siingkatnya, kedua lengan akan terangkat dan tangan
seperti ingin mencengkeram atau memeluk tubuh dan bayi menangis sangat keras.
Tidak adanya reflek ini pada kedua sisi tubuh atau bilateral (kanan dan kiri)
menandakan adanya kerusakan pada sistem saraf pusat bayi, sementara tidak
adanya reflek moro unilateral (pada satu sisi saja) dapat menandakan adanya
trauma persalinan seperti fraktur klavikula atau perlukaan pada pleksus brakhialis.
Erb’s palsy atau beberapa jenis paralysis kadang juga timbul pada beberapa kasus.
Sebuah cara untuk memeriksa keadaan reflek adalah dengan melatakkan bayi
secara horizontal dan meluruskan punggungnya dan biarkan kepala bayi turun
secara pelan-pelan atau kagetkan bayi dengan suara yang keras dan tiba-tiba.
Reflek moro ini akan membantu bayi untuk memeluk ibunya saat ibu menggendong
bayinya sepanjang hari. Jika bayi kehilangan keseimbangan, reflek ini akan
menyebabkan bayi memeluk ibunya dan bergantung pada tubuh ibunya.
b) Kapan Reflek Muncul Dan Hilang
Reflek ini muncul sejak lahir (1-2 minggu) , paling kuat pada usia satu bulan dan
akan mulai menghilang pada usia dua bulan. Reflek ini normalnya akan menghilang
pada usia tiga sampai empat bulan, meskipun terkadang akan menetap hingga usia
enam bulan.

7. REFLEK STEPPING
A. Cara Menstimulasi
Walaupun bayi tidak dapat menahan berat tubuhnya, namun saat tumit kakinya
disentuhkan pada suatu permukaan yang rata, bayi akan terdorong untuk berjalan
dengan menempatkan satu kakinya di depan kaki yang lain. Refleks ini juga dapat
ditimbulkan dengan cara memegang bayi pada ketiaknya seperti posisi berdiri. Bayi
akan mengerakkan kakinya seperti gerak berjalan.
B. Kapan Reflek Muncul Dan Hilang
Reflek ini dijumpai pertama pada usia 4-8 minggu setelah lahir. Reflek ini akan
menghilang sebagai sebuah respon otomatis dan muncul kembali sebagai kebiasaan
secara sadar pada sekitar usia delapan bulan hingga satu tahun untuk persiapan
kemampuan berjalan. Proses belajar berjalan yang sesungguhnya baru muncul di
usia 10-12 bulan.
8. REFLEK CRAWLING
A. Cara Menstimulasi
Jika ditengkurapkan ,bayi maju dengan pelan. Jika ibu atau seseorang menelungkupkan
bayi baru lahir, ia membentuk posisi merangkak dengan ke dua tangan dan kaki karena saat di
dalam rahim kakinya tertekuk kearah tubuhnya. Apabila gerakan tidak simetris ini
menunjukkan adanya kelainan neurologi atau fraktur tulang panjang
B. Kapan Reflek Muncul Dan Hilang
Muncul pada saat lahir danhilang usia 6 minggu.

9. REFLEK BABINSKY
A. Cara Menstimulasi
Reflek ini ditunjukkan pada saat bagian samping telapak kaki digosok, dan
menyebabkan jari-jari kaki menyebar dan jempol kaki ekstensi. Reflek
disebabkan oleh kurangnya myelinasi traktus corticospinal pada bayi. Reflek
babinsky juga merupakan tanda abnormalitas saraf seperti lesi neuromotorik
atas pada orang dewasa.
B. Kapan Reflek Muncul Dan Hilang
Reflek babinsky muncul sejak lahir dan berlangsung hingga kira-kira dua
tahun. Bila masih terdapat pengembangan jari kaki dorsofleksi setelah usia 2
tahun, hal ini menunjukkan adanya lesi ekstrapiramidal

10. REFLEK BLINKING


A. Cara Menstimulasi
Bayi akanmengedipkan mata/menutup matanya bila ada cahaya, hembusan
udara atau pengetukan batang hidung saat mata bayi terbuka. Bayi berkedip
pada pemunculan sinar terang yang tiba – tiba atau pada pandel atau obyek
kearah kornea, harus menetapkan sepanjang hidup. Bayi akan berkedip bila
dilakukan 4 sampai 5 kali ketukan pertama pada batang hidung. Jika bayi terus
berkedip menandakan kemungkinan gangguan neurologis. Jika reflek ini tidak
ada maka menunjukkan adanya kerusakan pada saraf cranial.
B. Kapan Reflek Muncul Dan Hilang
Reflek ini muncul sejak lahir dan pola perkembangannya menetap
(permanen)/sepanjang hidup

H. KOMPLIKASI YANG SERING TERJADI PADA BAYI BARU LAHIR


Komplikasi pada bayi baru lahir dan neonates,antara lain:
1. Prematuritas Dan BBLR
BBLR Bayi Berat Lahir Rendah dibedakan menjadi :
a. BBLSR Bayi Berat Lahir Sangat Rendah bila lahir berat lahir kurang dari 1.500
gram,
b. BBLR Bayi Berat Lahir Rendah bila berat lahir antara 1.501-2.499 gram.
Sedangkan bayi prematur adalah bayi yang dilahirkan kurang dari usia
kehamilan 37 minggu.
Penyebab BBLR dan kelahiran prematur sangatlah multifaktorial, antara lain
asupan gizi ibu sangat kurang pada masa kehamilan, gangguan pertumbuhan
dalam kandungan (janin tumbuh lambat), faktor plasenta, infeksi, kelainan rahim
ibu, trauma, dan lainnya
Faktor Resiko BBLR
- asfiksia atau gagal untuk bernapas secara spontan dan teratur saat atau
beberapa menit setelah lahir.
- Sindrom Gawat Napas salah satu disebabkan karena faktor paru yang belum
matang tau TRDN sesak sementara pada bayi baru lahir karena cairan paru
yang berlebihan.
- hiportemia (suhu tubuh 6,5 167 C).
Penanganan umum perawatan BBLR atau prematur setelah lahir adalah
mempertahankan suhu bayi agar tetap normal, pemberian minum, dan
pencegahan infeksi. Bayi dengan BBLR juga sangat rentan terjadinya hiportemia,
karena tipisnya cadangan lemak di bawah kulit dan masih belum matangnya pusat
pengatur panas di otak. Untuk itu, BBLR harus selalu dijaga kehangatan
tubuhnya. Upaya yang paling efektif mempertahankan suhu tubuh normal adalah
sering memeluk dan menggendong bayi. Ada suatu cara yang disebut metode
kangguru atau perawatan bayi lekat, yaitu bayi selalu didekap ibu atau orang lain
dengan kontak langsung kulit bayi dengan kulit ibu atau pengasuhnya dengan
cara selalu menggendongnya. Cara lain, bayi jangan segera dimandikan sebelum
berusia enam jam sesudah lahir , bayi selalu diselimuti dan ditutup kepalanya,
serta menggunakan lampu penghangat atau alat pemancar panas
BBLR dan bayi prematur sangat rentan terhadap terjadinya infeksi sesudah
lahir. Karena itu, tangan harus dicuci bersih sebelum dan sesudah memegang
bayi, segera membersihkan bayi bila kencing atau buang air besar, tidak
mengizinkan menjenguk bayi bila sedang menderita sakit, terutama infeksi saluran
pernapasan akut (ISPA), dan pemberian imunisasi sesuai dengan jadwal.Untuk
tumbuh dan berkembang sempurna bayi BBLR dan prematur harus mendapat
asupan nutrien berupa minuman mengandung karbohidrat, protein, lemak, serta
vitamin yang lebih dari bayi bukan BBLR. Penting dipertahikan agar zat tersebut
betul-betul dapat digunakan hanya untuk tumbuh, tidak dipakai untuk melawan
infeksi. Biasanya BBLR dapat mengejar ketinggalannya paling lambat dalam
enam bulan pertama.
2. Asfiksi
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas
secara spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir,
umumnya akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat
hubungannya dengan gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau
masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesudah
persalinan.
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera
bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh
hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor
yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir. Akibat-
akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan
secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan pada bayi bertujuan
mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut
yang mungkin timbul.
3. Kejang
Kejang, spasme, atau tidak sadar dapat di sebabkan oleh asfiksia
neonatorum, hipoglikemi atau merupakan tanda meningitis atau masalah pada
susunan syaraf. Diantara episode kejang yang terjadi, bayi mungkin tidak sadar,
letargi, rewel atau masih normal. Spasme pada tetanus neonatorum hamper mirip
dengan kejang, tetapi kedua hal tersebut harus dibedakan karena manajemen
keduanya berbeda.
4. Ikterus
Ikterus adalah warna kuning yang ditemukan pada hari ke-3 sampai ke-14, tidak
disertai tanda dan gejala ikterus patologis (Muslihatun, 2010). Ikterus adalah
keadaan transisional normal yang mempengaruhi hingga 50% bayi aterm yang
mengalami peningkatan progresif pada kadar bilirubin tak terkonjugasi dan ikterus
pada hari ketiga (Myles, 2009). Ikterus adalah kadar bilirubin yang tak terkonjugasi
pada minggu pertama > 2 mg/dl (Kosim, 2008).
5. Hipotermi
Hipotermi pada bayi baru lahir adalah suhu tubuh dibawh 36,5oC pengukuran
dilakukan pada ketiak selama 3-5 menit.
Hipotermi disebabkan oleh :
1. Evaporasi, terjadi apabila bayi lahir tidak segera dikeringkan.
2. Konduksi, terjadi apabila bayi diletakkan ditempat dengan alas yang dingin,
seperti pada waktu menimbang bayi.
3. Radiasi, terjadi apabila bayi diletakkan diudara lingkungan dingin.
4. Konveksi, terjadi apabila bayi berada dalam ruangan ada aliran udara karena
pintu, jendela terbuka.
Cara Mengatasi Hipotermi
 Ganti pakain yang dingin dan basah dengan pakain yang hangat dan kering,
memakai topi dan selimut yang hangat.
 Bila ada ibu/ pengganti ibu anjurkan menghangatkan bayi dengan
melakukankontak kulit dengan kulit.
 Periksa ulang suhu bayi 1 jam kemudian, bila suhu naik pada batas normal
(36,5 -37,5o C), berarti usaha meenghangatkan berhasil.
 Anjurkan ibu untuk menyusui lebih sering. Bila bayi tidak dapat menyusu,
berikan ASI peras.
Rujuk apabila terdapat salah satu keadaan :
a. Jika setelah menghangatkan selama 1 jam tidak ada kenaikan suhu
(membaik).
b. Bila bayi tidak dapat minum
c. Terdapat gangguaan nafas atau kejang.
d. Bila disertai salah satu tanda tanpak mengantuk/ letargis atau ada bagian
tubuh, bayi yang mengeras.
Bila suhu tetap dalam batas normal dan bayi dapat minum dengan baik
serta tidak ada masalah lain yang memerlukan pengawasan, bayi tidak perlu
dirujuk. Nasihati ibu cara merawat bayi lekat/ metode Kanguru dirumah.

6. Tetanus Neonatorum
Tetanus Neonatorum Adalah penyakit yang dideritaolehbayibarulahir
(neonatus). Tetanus neonatorum penyebabkejang yang seringdijumpaipada BBL
yang bukan karena trauma Kelahiran atauasfiksia, tetapi disebabkan
infeksiselama masa neonatal, yang antara lain terjadi akibat pemotongan tali
pusat atau perawatan tidak aseptic (IlmuKesehatanAnak, 1985)

7. Sindroma Gangguan Pernafasan Nafas


Merupakan kumpulan gejala yang terdiri dispnea, frekuensi pernafasan
yang lebih dari 60 kali per menit ,adanya sianosis, adanya rintihan bayi saat
ekspirasi serta adanya retraksi suprasternal,interkostal,epigastrium saat
inspirasi.Penyakit ini merupakan penyakit membrane hialin,dimana terjadi
perubahan atau kurangnya komponen surfaktan pulmoner komponen ini
merupakan suatu zat aktif pada alveoli yang dapat mencegah kolapnya paru.
Fungsi surfaktan itu sendiri adalah merendahkan tegangan permukaan
alveolus sehingga tidak terjadi kolaps dan mampu menahan sisa udara pada akhir
ekspirasi. Penyakit ini terjadi pada bayi mengingat produksi surfaktan yang kurang
. Pada penyakit ini kemampuan paru untuk mempertahankan stabilitas menjadi
terganggu dan alveolus akan kembali kolaps pada setiap akhir ekspirasi dan pada
pernafasan selanjutnya dibutuhkan tekanan negative intra thorak yang lebih besar
dengan cara inspirasi yang lebih kuat . Keadaan kolapsnya paru dapat
menyebabkan gangguan pentilasi yang akan menyebabkan hipoksia dan asidosis.
Gangguan pernapasan pada bayi baru lahir dapat terjadi oleh beberapa
sebab,apabila gangguan pernapasan tersebut disertai dengan tanda-tanda
hipoksia (kekurangan oksigen),maka proknosisnya buruk dan merupakan
penyebab kematian bayi baru lahir. Kalau seandainya bayi selamat dan tetap
hidup akan beresiko tinggi dan terjadi kelainan neorologis dikemudian hari.
Penyebab Gangguan Pernafasan
a. penyakit parenkim paru-paru, misalnya penyakit membran hialin atelektatis
b. kelainan perkembangan organ misalnya agenesis paru – paru ,hemia
diafragmatika
c. obstruksi jalan nafas , misalnya trakeomalasia , makrolasia .

Penilaian
Tanda – tanda gangguan pernafasan pada bayi baru lahir dapat diketahui dengan
cara menghitung frekuensi pernafasan dan melihat tarikan dinding iga serta warna
kulit bayi.
Ciri – Ciri Bayi Yang Mengalami Gangguan Pernafasan
a. Nafas bayi berhenti lebih 20 detik
b. Bayi dengan sianosis sentral ( biru pada lidah dan bibir )
c. Frekuensi nafas bayi kurang 30 kali / menit
d. Frekuensi nafas bayi lebih 60 kali /menit , mungkin menunjukan tanda
tambahan gangguan nafas.
Penatalaksanaan
Tindakan Yang Harus Dilakukan Pada Bayi Yang Mengalami Gangguan
Pernafasan Antara Lain:
1. Beri oksigen dengan kecepatan sedang
2. Jika bayi mengalami apnea :
a. Bayi dirangsang dengan mengusap dada atau punggung bayi
b. Bila bayi tidak mulai bernafas atau mengalami sianosis sentral , nafas
megap – megap atau bunyi jantung menetap kurang dari 100 kali
/menit,lakukan resusitasi dengan memakai balon dan sungkup.
3. Kaji ulang temuan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik
4. Periksa kadar glukosa darah.Bila kadar glukosa kurang dari 40 mg, tangani
sebagai hipoglikemia
5. Berikan perawatan selanjutnya dan tentukan gangguan nafas berat manejemen
spesifik menurut jenis gangguan nafasnya
6. Tentukan apakah gangguan nafas berat,sedang atau ringan
Cara Mencegah Terjadinya Gangguan Pernafasan:
Jadi untuk mencegah terjadinya ganguan pernapasan Segera lakukan
resusitasi pada bayi baru lahir, apabila bayi :
- tidak bernapas sama sekali / bernapas dengan megap-megap
- bernapas kurang dari 20 kali per menit.

8. Icterus neonatorum
Kira-kira 1/3 dari bayi yang baru lahir , memperlihatkan icterus antara Hari ke 2
dan ke 5 yang dinamakan icterus fisiologis yang ditimbulkan oleh
hyperbilirubinaemia yang disebabkan oleh :
a. Penghancuran erytrocyt yang hebat.
Kehidupan intra uterin terdapat polycytaemia untuk mengimbangi kadar O2
yang rendah. Sedangkan untuk kehidupan diluar tidak diperlukan sedemikian
banyak erythrocyt
b. Hati bayi belum berfaal baik, sehingga tidak dapat mengubah Bilirubin
Imenjadi bilirubin II.Pada anak premature icterus biasanya lebih hebat dan
lebih lama lagi karena faal hati masih sangat kurang.

9. Kehilangan Berat Badan


Selama 3 atau 4 hari yang pertama bayi boleh dikatakan hampir tidak
kemasukan cairan (ASI belum lancar).Sedangkan bayi mengeluarkan faeces,
urine dan peluh dengan cukup banyak maka BB bayi turun.Kehilangan BB tidak
boleh lebih dari 10%.
PATHWAY
Adaptasi Bayi Baru Lahir

Respirasi Kardiovaskular Endokrin GIT Termoregulasi Pemotongan tali


Proses kehilangan pusat
Teknis mekanis Ekspansi paru Sisa Produksi Enzim lipase Adaptasi panas (konduksi,
di thoraks saat hormone ADH << kurang hangat ke evaporasi, Diskontinuitas
melahirkan Alveolus terisi estrogen dari dingin kenveksi, radiasi) jaringan
O2 ibu Sering Membatasi
PaO2 menurun, berkemih penyerapan Meningkatkan Kegagalan Port de entry
PaCO2 Resistensi Pembesaran asam lemak panas peningkatan kuman
meningkat vascular paru kelenjar air Dehidrasi panas
menurun susu Gangguan Resiko
Merangsang Deficit absorbsi Metabolisme infeksi
kemoreseptor di Darah paru volume Aktivitas otot Nonshivering
sinus karotikus mengalir cairan Inflamasi usus Oksidasi metabolik thermogenesis
Menangis, dari glukosa,
Rangsangan Tekanan arteri Gangguan menggigil lemak, protein Pembakaran
dingin pada kulit pulmonalis sekresi lemak
menurun Kebutuhan asupan
Merangsang Sekresi air & gizi meningkat Menghangat-
saraf nafas Tekanan atrium elektrolit dalam kan tubuh Ketidak
Secret pada kanan menurun Tekanan Percampuran usus meningkat Pengeluaran ASI efektifan
jalan nafas Gerakan atrium kiri darah yg kaya belum maksimal termoregulasi
pernafasan Aliran darah tidak adekuat O2 dan CO2 Feses cair
Ketidak paru masuk Bayi tidak dapat
efektifan jantung Foramen Diare minum banyak ASI
bersihan oval tidak Defek septum
jalan nafas Ekspansi paru Tekanan atrium menutup atrium Ketidakefektifan
tidak maksimal kiri meningkat Hipoksia Gangguan pemberian ASI
jaringan perfusi
Gangguan pola Penutupan jaringan
nafas perifer
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Vivian Nanny Lia. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: Salemba
Medika
Dochterman, dkk. 2008. Nursing Intervension Classification sixth edition. Philadelphia :
Elseiver
Doengoes E. Marylin. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran, EGC.
Doengoes E. Marylin. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan Maternal atau Bayi.
Jakarta:EGC.
Herdman, T. Heather. 2012. Diagnosis Keperawatan : Edisi dan Klasifikasi 2012-2014.
Jakarta : EGC
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2010. Panduan Pelayanan Kesehatan Bayi
Baru Lahir Berbasis Perlindungan Anak.
Manuaba,dkk. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta : EGC.
Maryunani, Anik. 2008. Buku Saku Asuhan Bayi Baru Lahir Normal. Jakarta : Trans Info
Media.
Moorhead, dkk. 2008. Nursing Outcomes Classification sixth edition.Philadelphia :
Elseiver
Prawirohardjo, Sarwono. 2007. Ilmu kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Warih BP,Abubakar M.1992.Fisiologi pada neonates.Surabaya.
Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan
Kriteria Hasil NOC.Diterjemahkan oleh: Widyawati, dkk. Jakarta : EGC.
Wong, Donna L.2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC