Anda di halaman 1dari 12

KOMUNIKASI ANTAR PROFESI DAN TENAGA

KESEHATAN

KELOMPOK 2
DESIMILNASARI PURBA 1813462128
DEYA AYU CAHYANI MANURUNG 1813462129
DANIEL ELVANDO MARPAUNG 1813462130
ENDANG FLORENTINA LAHAGU 1813462131
ENMIATI CIBRO 1813462132
FEBRI DHAMAYANTI 1813462133
DOSEN : JOHANA CRISTY, MKM

MATA KULIAH : KOMUNIKASI EFEKTIF

KELAS : I-D PEREKAM MEDIK DAN INFOKES

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN IMELDA

D-III APIKES

T.A 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke-hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat dan hidayah-Nya. Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk
memberikan wawasan mengenai mata kuliah Komunikasi Efektif dengan judul “
KOMUNIKASI ANTAR PROFESI DAN TENAGA KESEHATAN ”.

Dengan tulisan ini kami diharapkan pembaca mampu untuk memahami


bagaimna komunikasi antar profesi dan tenaga kesehatan. Kami sadar materi kuliah ini
terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan adanya kritik dan
saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak, agar bisa menjadi lebih baik lagi.

Kami berharap semoga tulisan ini dapat memberi informasi yang berguna bagi
pembacanya, terutama mahasiswa kesehatan supaya memahami bagaimana komunikasi
antar profesi dan tenaga kesehatan yang baik.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan dan Manfaat

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Komunikasi Efektif


2.2 Teknik Komunikasi Efektif Di Rumah Sakit Dan Hubungan Interpersonal
2.3 Komunikasi Antara Perawat Dengan Tenaga Kesehatan

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Di Indonesia ada berbagai macam profesi dalam kesehatan. Profesi tersebut juga
mengakibatkan banyaknya institusi kesehatan, diantaranya dokter, bidan, ahli gizi,
kesehatan masyarakat, radiologi, teknobiomedik, farmasi, analis kesehatan, dan
perawat. Semua profesi tadi diwajibkan saling bekerjasama dalam menjalankan
profesionalitas profesinya masing-masing.
Perawat merupakan satu dari banyaknya profesi kesehatan yang ada. Semua profesi
kesehatan yang ada tentu memiliki visi yang sama yakni terwujudnya pelayanan
kesehatan yang prima. Namun dalam pelaksanaannya perawat tidak sendirian. Perawat
ditemani oleh dokter, analis kesehatan, tim kesehatan masyarakat, analis kesehatan, ahli
gizi, radiologi dan lainnya.
Kemudian bagaimana caranya supaya tugas antar profesi keperawatan dapat
berjalan secara harmonis dan pelayanan kesehatan menjadi maksimal? Kolaborasi
pendidikan dan praktik antar profesi kesehatan tentunya sangat dibutuhkan. Semua jenis
profesi harus mempunyai keinginan untuk berkolaborasi. Perawat, bidan, dokter, dan
semua profesi lain merencanakan dan mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya di
bangku pelajar.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan komunikasi efektif ?
2. Bagaimana teknik komunikasi efektif di rumah sakit dan hubungan
interpersonal?
3. Bagaimana komunikasi efektif antara perawat dengan tenaga kesehatan lainnya?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian komunikasi efektif
2. Untuk mengetahui teknik komunikasi efektif sakit dan hubungan interpersonal.
3. Untuk mengetahui komunikasi efektif antara perawat dengan tenaga kesehatan
lainnya.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Komunikasi Efektif

Komunikasi merupakan hal mendasar yang menjadi salah satu faktor


keselamatan pasien dan kepuasan pelanggan. Berbeda dengan komunikasi lainnya
seperti komunikasi di bidang pendidikan, bisnis dan lain sebagainya, komunikasi efektif
dalam bidang pelayanan rumah sakit memiliki tingkat kompleksitas yang cukup tinggi.
Hal ini disebabkan komunikasi yang terlibat sangat banyak, informasi yang dibutuhkan
sangat banyak, serta menyangkut dengan emosi pasien/keluarga pasien, dan petugas
kesehatan yang cukup tinggi.Tingginya kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan
informasi dan komunikasi yang efektif di rumah sakit menjadi hal menarik untuk
dibahas.

Komunikasi efektif adalah komunikasi yang mampu menghasilkan perubahan


sikap (attitude change) pada orang yang terlibat dalam komunikasi. proses komunikasi
efektif artinya proses dimana komunikator dan komunikan saling bertukar informasi,
ide, kepercayaan, perasaan dan sikap antara dua orang atau kelompok yang hasilnya
sesuai dengan harapan. Sederhananya, komunikasi efektif adalah proses
komunikasi dimana komunikan mengerti apa yang di sampaikan dan melakukan apa
yang komunikator inginkan.

2.2 Teknik Komunikasi Efektif Di Rumah Sakit Dan Hubungan Interpersonal

Penatalaksanaan komunikasi efektif dilakukan dengan singkat, akurat, lengkap,


jelas dan mudah dimengerti oleh penerima pesan akan mengurangi kesalahan sehingga
meningkatkan keselamatan pasien. Komunikasi dapat berupa elektronik, lisan, atau
tertulis. Pelayanan pasien dapat dipengaruhi oleh komunikasi yang tidak baik termasuk
perintah lisan atau telepon untuk tata laksana pasien, atau komunikasi via telepon untuk
nilai kritis pemeriksaan, dan komunikasi serah terima.
Pelaporan nilai kritis dari suatu uji diagnostik merupakan suatu issue dalam
keselamatan pasien. Untuk itu The Joint Commission Journal On Quality And Patient
Safety pada tahun 2010 menyatakan bahwa petugas kesehatan yang menerima hasil
nilai kritis secara verbal dari petugas kesehatan lain harus menuliskan informasi
hasil/nilai kritis tersebut dan membacakan kembali informasi tersebut ke pemberi
informasi dan pemberi pesan mengkonfirmasi bahwa yang ditulis dan di baca ulang oleh
penerima pesan adalah benar. Informasi nilai kritis seringkali ditransmisikan melalui
tulisan tangan, email, atau pesan teks yang dapat menimbulkan akibat serius jika terjadi
kesalahan komunikasi, sehingga proses penyampaian pesan/instruksi/pelaporan hasil
nilai kritis harus menggunakan komunikasi efektif secara verbal (lisan atau telepon)
dengan Metode TBaK. Komunikasi harus dilaksanakan dengan terencana, terpola,
efektif dan sistematis agar terhindar dari kesalahpahaman yang dapat menimbulkan
masalah. Salah satu metode komunikasi yang dapat digunakan saat serah terima pasien
antar petugas kesehatan adalah SBAR. Metode SBAR memberikan kesempatan bagi
para petugas kesehatan untuk bertanya dan berespon terhadap isi komunikasi yang
terjadi.

Hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan


sekedar menyampainkan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan
interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content
melainkan juga menentukan relationship.

Dari segi psikolog komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik
hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya; makin
cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya; sehingga semakin efektif
komunikasi yang berlangsung diantara komunikan.

1. Tahap perkembangan hubungan interpersonal

a. Tahap pembentukan / perkenalan

Proses komunikasi dimana individu mengirimkan (secara sadar) atau


menyampaikan (kadang-kadang tidak sengaja) informasi tentang struktur dan isi
kepribadiannya kepada bakal sahabatnya.
b. Tahap peneguhan

Hubungan interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah. Untuk


memlihara dan memperteguh hubunggan interpersonal, perubahan memerlukan
tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan. Ada 4 faktorpenting
dalam memelihara keseimbangan, yaitu :

o Keakraban, merupakan pemenuhan kebutuhhan akan kasih saying. Hubungan


interpersonal akan terpelihara apabila kedua belah pihak sepakat tentang tingkat
keakraban yang diperlukan.
o Kesepakatan, yaitu kesepakan tentang siapa yang akan mengontrol siapa,
dan bagaimana.
o Ketepatan respons, respon A harus diikuti respon B yang sesuai. Seperti
pertanyaa yang harus dijawab dengan jawaban, lelucon dengan tertawa.
o Nada emosional yang tepat, yaitu keserasian suasana emosional ketika
berkomunikasi. Walaupun mungkin saja terjadi dua orang berinteraksi dengan
suasana emosional yang berbeda, teapi interaksi itu tidak akan stabil. Besar
kemungkinan salah satu pihak akan mengakhiri interaksi atau mengubah suasana
emosi.

c. Tahap pemutusan

Meski kita dapat menyimpulkan jika empat faktor diatas (keakraban,


kesepakatan, ketepatan respon, dan nada emosional yang tepat) tidak ada, hubungan
interpersonal akan diakhiri, penelitian tentang pemutusan hubungan masih jarang sekali
dilakukan. Meski begitu, kita dapat mengambil analisis R.D Nye (1973) dalam bukunya
Conflict among humans, menyebut lima sumber konflik, yaitu :

 Kompetisi : salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan


mengorbankan orang lain.
 Dominasi : salah satu pihak berusaha mengendalikan pihak lain sehingga
orang itu merasa hak-haknya dilanggar.
 Kegagalan : masing-masing berusaha menyalahkan yang lain apabila tujuan
bersama tidak tercapai.
 Provokasi : salah satu pihak terus menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui
menyinggung perasaan yang lain.
 Perbedaan nilai : kedua belah pihak tidak sepakat dengan nilai-nilai yang mereka
anut.

2.3 Komunikasi Antara Perawat Dengan Tenaga Kesehatan


1. Komunikasi..antara..Perawat..dengan..Dokter

Hubungan perawat-dokter adalah satu bentuk hubungan interaksi yang telah cukup
lama dikenal ketika memberikan bantuan kepada pasien. Perawat bekerja sama dangan
dokter dalam berbagai bentuk. Perawat mungkin bekerja di lingkungan di mana
kebanyakan asuhan keperawatan bergantung pada instruksi medis. Perawat diruang
perawatan intensif dapat mengikuti standar prosedur yang telah ditetapkan yang
mengizinkan perawat bertindak lebih mandiri.Perawat dapat bekerja dalam bentuk
kolaborasi dengan dokter.

Contoh : Ketika perawat menyiapkan pasien yang baru saja didiagnosa diabetes
pulangkerumah,perawat dan dokter bersama sama mengajarkan klien dan keluarga
begaimana perawatan. diabetes di rumah.. Selain itu komunikasi antara perawat dengan
dokter dapat terbentuk saat visit dokter terhadap pasien, disitu peran perawat adalah
memberikan data pasien meliputi TTV, anamnesa, serta keluhan-keluhan dari
pasien,dan data penunjang seperti hasil laboraturium sehingga dokter dapat
mendiagnosa secara pasti mengenai penyakit pasien. Pada saat perawat berkomunikasi
dengan dokter pastilah menggunakan istilah-istilah medis, disinilah perawat dituntut
untuk belajar istilah-istilah medis sehingga tidak terjadi kebingungan saat
berkomunikasi dan komunikasi dapat berjalan dengan baik serta mencapai tujuan yang
diinginkan.

Komuniaksi antara perawat dengan dokter dapat berjalan dengan baik apabila dari
kedua pihak dapat saling berkolaborasi dan bukan hanya menjalankan tugas secara
individu, perawat dan dokter sendiri adalah kesatuan tenaga medis yang tidak bisa
dipisahkan. Dokter membutuhkan bantuan perawat dalam memberikan data-data asuhan
keperawatan, dan perawat sendiri membutuhkan bantuan dokter untuk mendiagnosa
secara pasti penyakit pasien serta memberikan penanganan lebih lanjut kepada pasien.
Semua itu dapat terwujud dengan baik berawal dari komunikasi yang baik pula
antara perawat dengan dokter.

2. Komunikasi..antara..Perawat..dengan..Perawat

Dalam memberikan pelayanan keperawatan pada klien komunikasi antar tenaga


kesehatan terutama sesama perawat sangatlah penting. Kesinambungan informasi
tentang klien dan rencana tindakan yang telah, sedang dan akan dilakukan perawat
dapat tersampaikan apabila hubungan atau komunikasi antar perawat
berjalan..dengan..baik. Hubungan perawat dengan perawat dalam memberikan
pelayanan keperawatan dapat diklasifikasikan menjadi hubungan profesional,
hubungan..struktural..dan..hubungan..intrapersonal.

Hubungan profesional antara perawat dengan perawat merupakan hubungan yang


terjadi karena adanya hubungan kerja dan tanggung jawab yang sama dalam
memberikan..pelayanan..keperawatan. Hubungan sturktural merupakan hubungan yang
terjadi berdasarkan jabatan atau struktur masing- masing perawat dalam menjalankan
tugas berdasarkan wewenang dan tanggungjawabnya dalam memberikan pelayanan
keperawatan.

Laporan perawat pelaksana tentang kondisi klien kepada perawat primer, laporan
perawat primer atau ketua tim kepada kepala ruang tentang perkembangan kondisi
klien,dan supervise yang.dilakukan..kepala..ruang..kepada..perawat..pelaksan
merupakan contoh..hubungan..strubktural. Hubungan interpersonal perawat dengan
perawat merupakan hubungan yang lazim dan terjadi secara alamiah. Umumnya, isi
komunikasi dalam hubungan ini adalah hal- hal yang tidak terkait dengan pekerjaan dan
tidak membawa pengaruh dalam pelaksanaan tugas dan wewenangnya.

3. Komunikasi..antara..perawat..dengan..Ahli..terapi..respiratorik

Ahli terapi respiratorik ditugaskan untuk memberikan pengobatan yang dirancang


untuk peningkatan fungsi ventilasi atau oksigena siklien. Perawat bekerja dengan
pemberi terapi respiratorik dalam bentuk kolaborasi. Asuhan dimulai oleh ahli terapi
(fisioterapis) lalu dilanjutrkan dengan dievaluasi oleh perawat.
Perawat dan fisioterapis menilai kemajuan klien secara bersama-sama dan
mengembangkan tujuan dan rencana pulang yang melibatkan klien dan keluarga. Selain
itu, perawat merujuk klien ke fisioterapis untuk perawatan lebih jauh.

Contoh. Perawat merawat seseorang yang mengalamai penyakit paru berat dan
merujuk klien tersebut pada ahli terapis respiratorik untuk belajar latihan untuk
menguatkaan otot-otot lengan atas, untuk belajar bagaimana menghemat energi dalam
melakukan aktivitas sehari-hari, dan belajar teknik untuk mempertahankan bersihan
jalan nafas.

4. Komunikasi..antara..Perawat..dengan..Ahli..Farmasi

Seorang ahli farmasi adalah seorang profesional yang mendapat izin untuk
merumuskan dan mendistribusikan obat-obatan. Ahli farmasi dapat bekerja hanya di
ruang farmasi atau mungkin juga terlibat dalam konferensi perawatan klien
atau..dalam..pengembangan..sistem..pemberian..obat.

Perawat memiliki peran yang utama dalam meningkatkan dan mempertahankan


dengan mendorong klien untuk proaktif jika membutuhkan pengobatan. Dengan
demikian, perawat membantu klien membangun pengertian yang benar dan jelas tentang
pengobatan, mengkonsultasikan setiap obat yang dipesankan, dan turut bertanggung
jawab dalam pengambilan keputusan tentang pengobatan bersama
tenaga..kesehatan..lainnya.

Perawat harus selalu mengetahui kerja, efek yang dituju, dosis yang tepat dan efek
smaping dari semua obat-obatan yang diberikan. Bila informasi ini tidak tersedia dalam
buku referensi standar seperti buku-teks atau formula rumah sakit, maka
perawat..harus..berkonsultasi..pada..ahli..farmasi.

Saat komunikasi terjadi maka ahli farmasi memberikan informasi tentang obat-
obatan mana yang sesuai dan dapat dicampur atau yang dapat diberikan secara
bersamaan. Kesalahan pemberian dosis obat dapat dihindari bila baik perawat dan
apoteker sama-sama mengetahui dosis yang diberikan. Perawat dapat melakukan
pengecekkan ulang dengan tim medis bila terdapat keraguan dengan kesesuaian dosis
obat.
Selain itu, ahli farmasi dapat menyampaikan pada perawat tentang obat yang dijual
bebas yang bila dicampur dengan obat-obatan yang diresepkan dapat berinteraksi
merugikan, sehingga informasinini dapat dimasukkan dalam rencana persiapan pulang.
Seorang ahli farmasi adalah seorang profesional yang mendapat izin untuk merumuskan
dan mendistribusikan obat-obatan. Ahli farmasi dapat bekerja hanya di ruang farmasi
atau mungkin juga terlibat dalam konferensi perawatan klien atau dalam pengembangan
sistem pemberian obat.

5. Komunikasi..antara..Perawat..dengan..Ahli..Gizi

Kesehatan dan gizi merupakan faktor penting karena secara langsung berpengaruh
terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM). Pelayanan gizi di RS merupakan hak
setiap orang dan memerlukan pedoman agar tercapai pelayanan yang bermutu. Agar
pemenuhan gizi pasien dapat sesuai dengan yang diharapkan maka perawat harus
mengkonsultasikan kepada ahli gizi tentang – obatan yang digunakan pasien, jika
perawat tidak mengkomunikasikannya maka dapat terjadi pemilihan makanan oleh ahli
gizi yang bisa saja menghambat absorbsi dari obat tersebut. Jadi diperlukanlah
komunikasi dua arah yang baik antara perawat dengan ahli gizi.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dalam melaksanakan tugasnya, perawat tidak dapat bekerja tanpa berkolaborasi
dengan profesi lain. Profesi lain tersebut diantaranya adalah dokter, ahli gizi, apoteker
dsb. Setiap tenaga profesi tersebut mempunyai tanggung jawab terhadap kesehatan
pasien. Bila setiap profesi telah dapat saling menghargai, maka hubungan kerja sama
akan dapat terjalin dengan baik. Selain itu perawat juga mempunyai tanggung jawab
dan memiliki untuk senantiasa memelihara hubungan baik antara sesama perawat dan
dengan tenaga kesehatan lainnya, baik dalam memelihara kerahasiaan suasana
lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara
menyeluruh.

3.2 Saran
Demikianlah makalah yang kami buat ini, mudah – mudahan apa yang saya
paparkan bisa menjadi tambahan pengetahuan bagi kita semua untuk lebih mengenal
mengenai komunikasi efektif dalam hubungan interpersonal. Kami menyadari apa yang
kami paparkan dalam makalah ini tentu masih belum sesuai apa yang di harapkan
dengan ini saya berharap masukan yang lebih banyak lagi dari guru pembimbing dan
teman – teman semua.