Anda di halaman 1dari 3

STUDI KASUS 4: ATONIA UTERI

Arahan
Bacalah kasus dibawah ini secara seksama dan setelah dipahami maka jawablah pertanyaan-
pertanyaan berikut ini:

Studi Kasus
Ny. B., P6A1, usia 36 tahun, melahirkan di Puskesmas Hamadi, bayi cukup bulan dengan
berat lahir 4200 gram. Setelah bayi lahir, ibu diberi oksitosin 10 IU i.m. dan 15 menit
kemudian plasenta lahir lengkap. Lima menit setelah plasenta lahir, terjadi perdarahan per
vaginam yang hebat sehingga bidan memberikan oksitosin 10 IU i.m. tambahan dan
kompresi aorta abdominalis. Ny. B. Segera di rujuk ke RSUD Jayapura.

Keadaan Umum

Kesadaran: Kompos Mentis


Kondisi ibu lemah, kulit muka dan konjungtiva palpebrae terlihat pucat
TD: 100/60 mmHg, Nadi: 98x/mnt, Respirasi: 28 x/mnt, Temperatur: 36C karena kulit
ibu basah dan dingin (aksiler) tetapi secara oral, temperaturnya adalah 37 C. Tinggi
fundus uteri 2 jari diatas pusat dan kontraksinya lemah. Kompresi aorta abdominalis
dapat mengurangi jumlah darah yang ke luar per vaginam hingga 50% (hasil anamnesis
dari bidan) dan perasat/manouver ini tetap diaplikasikan hingga pasien ditangani oleh
Tim OBGYN RSUD Jayapura.

Penilaian (Anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium)


1. Sebutkan langkah-langkah tindakan yang harus diambil.
 Sapa ibu apabila hal tersebut memungkinkan dan segera buat rencana untuk
menangani perdarahan yang terjadi pada tahapan pascakompresi (siapkan untuk
B-Lynch atau ligasi arteri uterina atau hipogastrika apabila kasus ini adalah
intractable uterine atony) dan lakukan tindakan konservatif (kompresi bimanual
interna atau tampon kondom-kateter).
 Ibu harus diberitahu apa yang akan dilakukan dan beritahukan bahwa RSUD ini
akan menggunakan SOP yang sesuai dan mengantisipasi komplikasi atau efek
samping yang telah diduga atau tidak diduga sebelumnya.
 Bila tekanan darah 100/70 mmHg atau 90/60 mmHg maka estimasi simptomatik
menunjukkan ibu telah kehilangan darah sejumlah 1250 ml atau 2500 ml dan nadi
> 100 x/menit, ibu berkeringat dingin, takhipnea, dan kesadaran menurun maka
perlu dilakukan tindakan resusitasi dan stabilisasi.
2. Sebutkan pemeriksaan fisik khusus terkait dengan terjadinya kondisi gawat-darurat
akibat perdarahan segera pascapersalinan dan diagnosis.
 Pemeriksaan kualitas kontraksi uterus karena faktor predisposisi grande multi,
makrosomia, dan penanganan yang kurang adekuat (Puskesmas) menjurus pada
atonia uteri. Upaya resusitasi dan stabilisasi harus mengiringi upaya pembuatan
diagnosis agar ibu B dapat diselamatkan dari kondisi gawat-darurat ini.
 Tanyakan tentang kelengkapan plasenta yang dilahirkan.
 Lakukan pemeriksaan sekilas untuk menyingkirkan kemungkinan adanya laserasi
pada perineum, vagina dan serviks.
3. Sebutkan pemeriksaan laboratorium yang harus dilakukan.
 Minta petugas lain untuk melakukan pemeriksaan konsentrasi Hb. Bila Hb > 6g%
maka berikan transfusi hingga Hb > 8g% (1 labu darah akan menaikkan 0,5 g% Hb
apabila kondisi ibu stabil/tidak ada perdarahan lagi sehingga untuk mencapai Hb
8 g% diperlukan sekitar 4-5 labu darah)

Diagnosis (Identifikasi masalah / kebutuhan)

Saudara telah menyelesaikan penilaian Ny. B, dan melakukan resusitasi dan stabilisasi
dengan hasil sebagai berikut: Nadi 88 x/menit, tekanan darah 110/70, pernafasan 24 kali/
menit dan suhu 370 C. Kontraksi uterus baik, plasenta lengkap. Tidak dijumpai robekan
perineum. dan diagnosisnya adalah P6A1 dengan Atonia Uteri (telah dilakukan pertolongan
awal di Puskesmas yaitu Kompresi Aorta dan pemberian Uterotonika)

4. Berdasarkan temuan diatas apa diagnosis (masalah) Ny. B. , mengapa ?


Gejala dan tanda klinis yang didapatkan (perdarahan segera setelah persalinan,
plasenta lengkap, uterus tidak berkontraksi baik) sehingga diagnosisnya adalah P6A1
dengan Atonia Uteri (telah dilakukan pertolongan awal di Puskesmas yaitu Kompresi
Aorta dan pemberian Uterotonika)

Penatalaksanaan/ Intervensi
5. Berdasarkan diagnosis Saudara apa rencana tindakan yang akan dilakukan, mengapa ?
 Pasang infus dengan jarum besar untuk restorasi cairan. Pertama, gunakan cairan
kristaloid yaitu Ringer laktat atau NaCl 0.9%. Setelah itu tambahkan cairan koloid
(misalnya, Hidroxy Ethyl Starch atau HES) dan transfusi darah hanya diberikan
apabila konsentrasi HB < 6g%.
 Pastikan uterus berkontrasi dengan baik (keadaan umum yang jelek menyebabkan
uterotonika tidak dapat segera mencapai target organ (oksitosin target organnya
adalah uterus). Oksitosin drips dipertahankan hingga 24 jam postpartum
 Pastikan semua obat yang digunakan masih berfungsi baik (cara penyimpanan
oksitosin yang salah akan meyebabkan efektifitasnya menurun atau hilang) karena
hasil penanganan gawat-darurat sangat tergantung dengan efektifitas obat.
 Bila ditemukan laserasi jalan lahir, segera lakukan penjahitan.
 Lakukan pemantauan tanda vital dan keseimbangan cairan.
 Lakukan pemeriksaan hemoglobin dan cross-matching, segera sediakan darah
untuk transfusi, apabila sewaktu-waktu diperlukan.
 Langkah pencegahan komplikasi ini harus dijelaskan pada ibu A dan kekhawatiran
yang ada harus didengarkan dengan baik serta diberikan dukungan emosional dan
jaminan pengobatan.

Evaluasi
Dua jam setelah melahirkan, temperatur tubuh ibu menjadi 38C dan mengingat kondisi ibu
yang lemah dan mengalami anemia akut karena perdarahan serta tindakan kompresi uterus
maka:
6. Apa tindakan selanjutnya ?
 Tindakan manipulatif pada ibu yang mengalami penurunan daya tahan tubuh dan
anemia dapat menyebabkan terjadinya infeksi. Untuk kasus demikian maka pasien
ini harus diberikan triple drugs dan oksitosin drips untuk menghindarkan
penyebaran infeksi ke jaringan dalam dan sirkulasi
 Ibu B harus dipantau secara ketat, setiap 15 menit pada 1 jam pertama, setiap 30
menit pada 1 jam selanjutnya, setiap 1 jam untuk 3 jam berikutnya dan setiap 4 jam
selama 24 jam. Temperatur tubuh, nyeri tekan uterus, dan kontraksi uterus harus
selalu dipantau dan ibu B dianjurkan untuk menyusui bayinya selama perawatan.
 Dua puluh empat jam setelah perdarahan berhenti, dilakukan pemeriksaan
hemoglobin atau hematokrit untuk menilai terapi anemia akut dan keseimbangan
cairan.
 Bila kadar hemoglobin ibu B dibawah 6 g% atau hematokrit dibawah 20% (sesuai
dengan anemia berat), maka berikan transfusi darah hingga Hb > 8g%. Pastikan
tidak adanya perdarahan baru.
 Bila kadar hemoglobin ibu B diantara 7–11 g/dL, harus diberikan sulfas ferosus
atau ferrous fumarate 60 mg peroral ditambah dengan asam folat 400 µg setiap
hari selama 6 bulan.
 Langkah pencegahan komplikasi ini harus dijelaskan pada ibu A dan kekhawatiran
yang ada harus didengarkan dengan baik serta diberikan dukungan emosional dan
jaminan pengobatan.
 Waktu perawatan Ibu B dilanjutkan selama 24 jam. Sebelum meninggalkan rumah
sakit, harus diberikan konseling tentang tanda bahaya pada periode pasca
persalinan (perdarahan, nyeri perut hebat, demam, pusing, limbung atau lemah)
dan segera kembali ke RS bila tanda bahaya didapatkan. Ibu A diberikan konseling
tentang kepentingan pemberian suplemen Fe dan asam folat serta konsumsi
makanan yang banyak mengandung Fe.
 Cara pemberian ASI dan perawatan bayi baru lahir harus didiskusikan dengan
ibu, jawab pertanyaan yang diajukan dan berikan dukungan emosional.
 Rencanakan kunjungan ulang pasca persalinan untuk ibu dan bayinya 1 minggu
yang akan datang.

Anda mungkin juga menyukai