Anda di halaman 1dari 25

BAGIAN ILMU KESEHATAN THT-KL REFARAT

FAKULTAS KEDOKTERAN MEI, 2019

UNIVERSITAS TADULAKO

POLA KASUS OPERASI EMERGENCY BEDAH MULUT PADA


OK NON ELEKTIF RSUD UNDATA PALU PERIODE JANUARI
2017-APRIL 2019

Disusun Oleh :
Nama : I Made Andi Saputra
Nim : N 111 17 101

Pembimbing Klinik :
drg. Moh. Ghazali Sp.BM, (MARS)

DIBUAT DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG DAN
TENGGOROKAN-KEPALA LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang

Gawat darurat berasal dari bahasa Latin yaitu “Mergere” yang diartikan
sebagai mencelupkan, terjun, membanjiri, menguasai atau mengubur. Menurut
Miles dari Medical Council New Zealand, kegawatdaruratan medis adalah
keadaan tiba-tiba yang terjadi dan membutuhkan perawatan segera untuk
menyelamatkan nyawa atau mencegah kecacatan atau rasa sakit pada pasien.1
Gawat darurat adalah suatu kondisi yang bisa membahayakan nyawa
seseorang. Kondisi gawat darurat dapat terjadi kapanpun dan biasanya datang
tanpa peringatan. Kasus kegawatdaruratan tidak hanya mencakup kasus umum
namun juga kegawatdaruratan dental. Instalasi gawat darurat adalah bagian dari
rumah sakit yang menampung dan melayani kasus kegawatdaruratan. Rumah
Sakit Umum Daerah Undata adalah satu-satunya rumah sakit di kota palu yang
memiliki bagian gawat darurat yang memiliki dokter yang kompeten dalam
menangani kasus emergensi bedah mulut.2

Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab dengan persentase yang tinggi


terjadinya kecacatan dan kematian pada orang dewasa secara umum dibawah
usia 50 tahun dan angka terbesar biasanya mengenai batas usia 21-30 tahun.
Berdasarkan studi yang dilakukan, 72% kematian oleh fraktur maksilofasial
paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas1

Trauma meliputi 9% dari kematian di dunia, salah satunya adalah


trauma maksilofasial dan 12% dari beban penyakit di dunia pada tahun 2015.
Lebih dari 90% kematian di dunia akibat trauma terjadi di negara berkembang.
Trauma merupakan urutan keempat penyebab kematian, dapat terjadi pada
semua usia terutama 1-37 tahun. Hampir 50% di Amerika Serikat disebabkan
oleh kecelakaan lalu lintas.3
Tidak hanya kasus trauma, kasus kegawatdaruratan lain seperti resiko
infeksi berat dan resiko usia pasien juga menjadi masalah yang sering ditemui
pada kasus bedah mulut yang masuk di ruang emergensi.4

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian


tentang pola kasus operasi emergency bedah mulut pada ok non elektif Rsud
Undata Palu periode januari 2017-april 2019.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka dapat dirumuskan


masalah penelitian yaitu Bagaimana pola kasus operasi emergency bedah mulut
pada ok non elektif Rsud Undata Palu periode januari 2017-april 2019.

1.3 Tujuan Penelitian

A. Tujuan Umum
Untuk mengetahui karakteristik pasien operasi emergency bedah mulut
pada ok non elektif Rsud Undata Palu periode januari 2017-april 2019
B. Tujuan Khusus
1) Untuk mengetahui pola kasus operasi emergency bedah mulut pada ok
non elektif Rsud Undata Palu periode januari 2017-april 2019
2) Untuk mengetahui pola kasus operasi emergency bedah mulut pada ok
non elektif Rsud Undata Palu periode januari 2017-april 2019
3) Untuk mengetahui pola kasus operasi emergency bedah mulut pada ok
non elektif Rsud Undata Palu periode januari 2017-april 2019
1.4 Manfaat Penelitian
A. Aspek Pendidikan
Penelitian ini dapat menjadi sarana untuk mengaplikasikan konsep
teori yang dipelajari secara khusus untuk mengembangkan pemahaman dan
penalaran ilmu terkait kasus operasi emergensi bedah mulut
B. Aspek Pengembangan Penelitian
Penelitian ini dapat menjadi langkah awal dan dasar untuk
mengembangkan penelitian lainnya serta sebagai pembanding dengan studi
lain yang telah dilakuan sebelumnya.
C. Aspek Pelayanan Masyarakat
Hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan dan evaluasi
untuk pelayanan dan penanganan pasien emergensi gigi dan mulut
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi
Pertumbuhan kranium terjadi sangat cepat pada tahun pertama dan kedua
setelah lahir dan lambat laun akan menurun kecepatannya. Pada anak usia 4-5
tahun, besar kranium sudah mencapai 90% cranium dewasa. Maksilofasial
tergabung dalam tulang wajah yang tersusun secara baik dalam membentuk
wajah manusia. 4
Secara umum tulang tengkorak/kraniofasial terbagi menjadi dua bagian
yaitu Neurocranium adalah tulang-tulang yang membungkus otak dan
Viscerocranium adalah tulang tualng yang membentuk wajah/maksilofasial.4
Neurocranium dibentuk oleh Os. Frontale, Os. Parietale, Os. Temporale,
Os. Sphenoidale, Os. Occipitalis6. Os. Ethmoidalis. Viscerocranium dibentuk
oleh : Os. Maksilare, Os. Palatinum, Os. Nasale, Os. Lacrimale, Os.
Zygomatikum, Os. Concha nasalis inferior, Vomer, Os. Mandibulare4

Gambar 2.1 Anatomi Maksilofasial


Tulang-tulang kraniofasial terdiri atas tulang yang memiliki ketebalan
berbeda. Tulang dengan struktur yang tebal disebut sebagai 'buttress' yang
menopang/penyangga proporsi kraniofasial dalam ukuran tinggi, lebar dan
proyeksiantero-posterior. Buttress pada maksila meliputi tulang nasomaksilaris
pada medial, tulang zigomatikomaksilaris pada lateral dan tulang
pterygomaksilaris pada posterior. Ketiga buttress ini menghasilkan suatu sistem
penyangga unit-unit fungsi pada oral, nasal dan orbital4

Gambar 2.2 Butters vertical dan horizontal


Daerah maksilofasial dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah
wajah bagian atas, di mana patah tulang melibatkan daerah frontal dan sinus.
Bagian kedua adalah midface. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bawah.
Para midface atas adalah di rahang atas dimana fraktur Le Fort II dan III terjadi.
Bagian ketiga dari daerah maksilofasial adalah wajah yang lebih rendah, di
mana patah tulang yang terisolasi ke rahang bawah4
Tulang pembentuk wajah pada manusia bentuknya lebih kecil dari
tengkorak otak. Didalam tulang wajah terdapat rongga-rongga yang membentuk
rongga mulut (cavum oris), dan rongga hidung (cavum nasi) dan rongga mata
(orbita).4
2.2 Kegawatdaruratan Bedah Gigi dan Mulut
Kegawatdaruratan adalah suatu kondisi yang mendesak yang
membutuhkan penanganan dengan segera untuk mempertahankan hidup dan
mengurangi resiko kematian dan kecacatan. Kegawatdaruratan medis dapat dan
memang terjadi dalam praktek dokter gigi. Dokter gigi memiliki tanggung
jawab untuk mengenalinya dan memulai prosedur pertama manajemen
kegawatdaruratan dalam upaya untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas
ketika kejadian tersebut terjadi.1
Kasus – kasus yang masuk di instalasi gawat darurat harus digali dengan
baik karena diantaranya mungkin memerlukan penanganan cepat sebelum
prognosis memburuk. Apabila memerlukan penanganan yang segera dan cepat
maka pasien akan dibawa ke ruangan bedah non-elektif untuk segera ditangani.
Kasus-kasus yang memerlukan tindakan operasi segera ini bervariasi dilihat dari
faktor-faktor resiko yang ada pada pasien yang dapat memperburuk prognosis
dari penyakit. Kasus mulai dari trauma yang dapat mengakibatkan perdarahan
yang masive hingga infeksi yang dapat mengakibatkan sepsis sering muncul
pada layanan gawat darurat bedah gigi dan mulut. Selain itu, faktor usia dan hal
lainnya juga menjadi pertimbangan bagi dokter untuk melakukan tindakan
pembedahan emergensi.

Abses adalah salah satu kasus yang sering dipertimbangkan untuk

dilakukannya tindakan operasi emergensi. Abses adalah infeksi kulit dan

subkutis dengan gejalaberupa kantong berisi nanah5. Sedangkan abses yang

paling sering terjadi adalah infeksi pada ruang submandibula atau abses

submandibula.6 Abses mandibula adalah abses yang terjadi di mandibula. Abses

dapat terbentuk di ruang submandibula atau salah satu komponennya sebagai

kelanjutan infeksi dari daerah leher7. Pada infeksi ini dapat terjadi komplikasi-
komplikasi yang dapat menimbulkan kematian karena mudahnya penyebaran

abses ke ruang-ruang leher yang lain. Dilaporkan satu kasus abses

submandibula dengan komplikasi mediastinitis yang disebabkan oleh infeksi

gigi.6

Adapula kasus lain seperti trauma juga merupakan salah satu kasus
yang sering dianjurkan untuk dilakukan untuk pembedahan emergensi. Salah
satu kasus trauma yang sering ditemukan adalah fraktur maksilofasial. Fraktur
maksilofasial atau fraktur wajah adalah putusnya kontinuitas tulang, tulang
epifisis atau tulang rawan sendi. Menurut Reksoprodjo fraktur adalah suatu
keadaan dimana tulang retak, pecah, atau patah, baik tulang maupun tulang
rawan. Bentuk dari patah tulang bisa hanya retakan saja, sampai hancur
berkeping-keping 1. Trauma meliputi 9% dari kematian di dunia, salah satunya
adalah trauma maksilofasial dan 12% dari beban penyakit di dunia pada tahun
2000. Lebih dari 90% kematian di dunia akibat trauma terjadi di negara
berkembang.8,5 Pasien pria merupakan pasien dengan trauma maksilofasial
tersering yaitu sebanyak 75,9% di India. Hasil serupa juga didapatkan dari
penelitian di Israel sebanyak 74,2% dan Iran dengan proporsi 4,5 banding 1
untuk pria. Usia dekade ketiga mendominasi pasien dengan trauma
maksilokranial. Di Indonesia, pasien trauma maksilofasial dengan jenis kelamin
pria sebanyak 81,73% dari jumlah kasus.8
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif retrospektif. Penelitian


ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk menganalisis pola
kasus operasi emergency bedah mulut pada ok non elektif Rsud Undata Palu periode
januari 2017-april 2019. Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
data sekunder yang berasal dari buku register pasien ok non –elektif RSUD Undata.

B. Lokasi dan Waktu

1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di ok non-elektif RSUD Undata Palu.
2. Waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2019.

C.Populasi dan Sampel serta Tehnik Pengambilan Sampel

1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian atau obyek yang di teliti.
Dalam penelitian ini populasi adalah semua pasien yang termasuk dalam operasi
bedah gigi dan mulut yang dilakukan di ok non-elektif RSUD Undata Palu
Periode Januari 2017-April 2019 yang berjumlah 11 pasien.
2. Sampel
Sampel penelitian ini menggunakan total sampling, sehingga pengambilan
sampel diambil dari keseluruhan jumlah populasi yang termasuk dalam operasi
bedah gigi dan mulut yang dilakukan di ok non-elektif RSUD Undata Palu
Periode Januari 2017-April 2019 yang mana pengambilan sampel berdasarkan
kriteria inkuli dan eksklusi
3. Kriteria Inklusi dan Eklusi
a. Kriteria Inklusi
Semua pasien yang termasuk dalam operasi bedah gigi dan mulut yang
dilakukan di ok non-elektif RSUD Undata Palu Periode Januari 2017-April
2019
b. Kriteria Eksklusi
1) Pasien dengan data yang tidak lengkap atau tidak jelas pada buku register
pasien ok non-elektif RSUD Undata selama periode Januari 2017-april
2019

D. Definisi Operasional Variabel dan Pengukurannya

1. Variabel Penelitian
a. Variabel bebas
Variabel bebas pada penelitian ini jenis kelamin dan usia
b. Variabel terikat
Variabel terikat pada penelitian ini adalah seluruh pasien yang termasuk
dalam operasi bedah gigi dan mulut yang dilakukan di ok non-elektif RSUD
Undata Palu Periode Januari 2017-April 2019.
No Variabel Definisi Alat Kriteria Skala
Operasional ukur Objektif Ukur
1 Pasien Semua pasien Buku 0=bukan Nominal
Operasi yang termasuk Register kasus Bedah
bedah gigi dalam operasi Mulut
dan mulut di bedah gigi dan 1=kasus
ok non- mulut yang Bedah gigi
elektif dilakukan di ok dan mulut
non-elektif
RSUD Undata
Palu Periode
Januari 2017-
April 2019.
2 Usia Satuan waktu Buku 1.Masa balita Ordinal
yang mengukur Register (0-5 Tahun)
waktu 2.Masa
keberadaan kanak-kanak
benda atau (6-11 tahun)
makhluk hidup 3.Masa
menurut Depkes remaja
RI Tahun 2009 (12-25 tahun)
4.Masa
dewasa
(26-45 tahun)
5.Masa lansia
(46-55 tahun)
6.Masa
manula
(>65 tahun)
3 Jenis Identitas sebagai Buku 1=Laki-laki
kelamin laki-laki atau Register 2=Perempuan
perempuan

E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah perangkat atau alat yang digunakan untuk
pengumpulan data. Adapun instrumen yang digunakan adalah buku register pasien di
ok non-elektif RSUD Undata selama Tahun 2017-2019 yang berisi data berupa
identitas pasien (nomor rekam medis, nama, jenis kelamin, umur) serta diagnosis
pasien.

F. Metode Pengumpulan Data


Data dari penelitian akan dikumpulkan dengan cara sebagai berikut
1. Pengumpulan Data
Karakteristik responden berupa nama, umur, jenis kelamin, dan diagnosis
pasien yang menjadi sampel penelitian dicatat berdasarkan data yang tercantum
pada buku register pasien ok non-elektif RSUD Undata selama Januari 2017-
April 2019.
2. Pengolahan Data
Data yang telah diperoleh dari data sekunder berupa buku register pasien ok
non-elektif RSUD Undata selama Tahun 2017-2019 digunakan sebagai dasar
untuk mendeskripsikan Karakteristik Pasien dalam operasi bedah gigi dan mulut
yang dilakukan di ok non-elektif RSUD Undata Palu Periode Januari 2017-April
2019.

G.Tehnik Penyajian dan Analisis Data

a. Penyajian Data
1. Editing, ialah memriksa data yang telah terkumpulkan
2. Coding, ialah pemberian kode tertentu pada tiap-tiap data berbentuk kalimat
atau huruf menjadi data angka atau bilangan
3. Entry data, adalah memasukkan data dari lembaran data ke dalam computer
4. Tabulating, ialah mengelompokkan data yang diperoleh ke dalam suatu tabel
tertentu menurut sifat-sifat yang dimilikinya.
b. Analisis data
Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan menganalisis secara
univariat. Analisis univariat (analisis persentase) dilakukan untuk
menggambarkan distribusi frekuensi masing-masing, baik variabel bebas
(independen), variabel terikat (dependen) maupun deskripsi karakteristik
responden. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa analisis univariat adalah
analisis yang dilakukan dengan menganalisis tiap variabel dari hasil penelitian.
Cara analisis ini dengan mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah
terkumpul sebagaimana adanya tanpa membuat kesimpulan yang berlaku untuk
umum atau generalisasi.

H. Alur Penelitian
Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap yang secara umum terbagi
dalam 3 tahap, yaitu :
a. Tahap Awal
 Survey pendahuluan dan pengumpulan data awal
 Menentukan dan merumuskan masalah
b. Penatalaksanaan Penelitian
 Pengumpulan data populasi yang akan diteliti
 Penentuan sampel penelitian secara nonprobability sampling
 Pengumpulan data dengan cara mencatat dari berdasarkan sumber data
sekunder yang berisi identitas atau karakteristik responden beserta diagnosis
pasien yang tergolong sebagai sampel penelitian
c. Tahap Akhir
Menyusun laporan hasil penelitian yang meliputi interpretasi data dan
pembahasan hasil penelitian berdasarkan data yang ada dihubungkan dengan
teori-teori terkait. Pada tahapan ini juga berisi kesimpulan dan saran berdasaran
penelitain yang telah dilakukan.
I. Etika Penelitian
Penelitian menggunakan etika sebagai berikut
a. Menghormati harkat dan martabat manusia (respect for human dignity)
Peneliti mempertimbangkan hak-hak subyek untuk mendapatkan informasi
yang terbuka berkaitan dengan jalannya penelitian serta memiliki kebebasan
menentukan pilihan dan bebas dari paksaan untuk berpartisipasi dalam kegiatan
penelitian (autonomy).
b. Menghormati privasi dan kerahasiaan subyek penelitian (respect for privacy and
confidentiality)
Pada dasarnya penelitian akan memberikan akibat terbukanya informasi
individu termasuk informasi yang bersifat pribadi, sehingga peneliti
memperhatikan hak-hak dasar individu tersebut.
c. Keadilan dan inklusivitas (respect for justice and inclusiveness)
Penelitian dilakukan secara jujur, hati-hati, profesional, berperikemanusiaan,
dan memperhatikan faktor-faktor ketepatan, keseksamaan, kecermatan, intimitas,
psikologis serta perasaan religius subyek penelitian. Peneliti mempertimbangkan
aspek keadilan jenis kelamin dan hak subyek untuk mendapatkan perlakuan yang
sama baik sebelum, selama, maupun sesudah berpartisipasi dalam penelitian.
d. Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan (balancing harms and
benefits)
Peneliti melaksanakan penelitian sesuai dengan prosedur penelitian guna
mendapatkan hasil yang bennanfaat semaksimal mungkin bagi subyek penelitian
dan dapat digeneralisasikan di tingkat populasi (beneficence). Peneliti
meminimalisasi dampak yang merugikan bagi subyek (nonmaleficence).
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah UNDATA pada
tahun 2019. Data yang didapatkan sebanyak 11 pasien. Data diperoleh dari data
sekunder melalui buku register pasien yang termasuk dalam operasi bedah gigi dan
mulut yang dilakukan di ok non-elektif RSUD Undata Palu Periode Januari 2017-
April 2019 untuk mengetahui karakteristik berdasarkan variabel diagnosis dari
pasien. Adapun hasil penelitian sebagai berikut:

Distribusi kasus
Abses mandibula dan
submandibula
18% Flegmon mandibula
28%

Fraktur Dentoalveolar
9%
Fraktur dentalokdus
9% 9%
Fraktur mandibula

27% Vulnus laseratum

Gambar 4.1 Grafik distribusi kasus


Frekuensi Persent
Abses mandibula dan 3 27.3 %
submandibula
Flegmon mandibula 1 9.1 %
Fraktur Dentoalveolar 3 27.3 %
Fraktur dentalokdus 1 9.1 %
Fraktur mandibula 1 9.1 %
Vulnus laseratum 2 18.1 %
Total 11 100 %
Tabel 4.1 distribusi kasus

Ditemukan 27.3 % pasien mengalami abses mandibula, 9.% Flegmon


mandibula, 27.3 % Fraktur Dentoalveolar, 9.1 % Fraktur dentalokdus, 9.1 % Fraktur
mandibula, dan 18.1 % Vulnus laseratum.

Trauma vs Non Trauma

27%

Trauma
Non Taruma

73%

Gambar 4.2 grafik distribusi kasus berdasarkan kategori trauma dan non trauma
Kasus Frekuensi Percent

Trauma 7 64 %

Non Trauma 4 36 %

Tabel 4.2 distribusi kasus berdasarkan kategori trauma dan non trauma

Pada distribusi kasus berdasarkan trauma dan non trauma didapatkan kasus
trauma sebanyak 64% dari keseluruhan kasus, sedangkan kasus non trauma sebanyak
36%.

Jenis Kelamin
Laki-laki Perempuan

46%

54%

Gambar 4.3 grafik jenis kelamin


Frekuensi Persent
Laki-Laki 6 54%
Perempuan 5 46%
Total 11 100 %
Tabel 4.3 jenis kelamim

Ditemukan jumlah kasus terbanyak berdasarkan jenis kelamin operasi


emergensi Bedah Mulut tertinggi laki-laki yaitu 54 % dan perempuan 46 %.

Distribusi Usia

Masa Lansia Masa balita


45-65 (0-5 tahun)
tahun) 9%
9%

Masa kanak-kanak
(6-11 tahun)
18%
Masa dewasa (26-
45 tahun)
37%
Masa remaja (12-25
tahun)
27%

Gambar 4.4 grafik usia


Frekuensi Persen
Masa balita (0-5 tahun) 1 9.1 %
Masa kanak-kanak (6-11 tahun) 2 18.1 %
Masa remaja (12-25 tahun) 3 27.3 %
Masa dewasa (26-45 tahun) 4 36.4 %
Masa Lansia 45-65 tahun) 1 9.1 %
Total 11 100 %
Tabel 4.4 usia

Ditemukan jumlah operasi emergensi Bedah Mulut 36.4 % mencakup usia


26-45 tahun, 27.3 % pada usia 12-25 tahun, 18.1 % pada usia 6-11 tahun, usia 0-5
tahun, 9.1 %, dan 9.1 % pada usia 45-65 tahun.

4.2 Pembahasan
Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Undata pada
tahun 2019. Data yang didapatkan sebanyak 11 pasien. Data diperoleh dari data
sekunder melalui rekam medis pasien yang termasuk dalam operasi bedah gigi
dan mulut yang dilakukan di ok non-elektif RSUD Undata Palu Periode Januari
2017-April 2019 untuk mengetahui karakteristik berdasarkan kasus terbanyak,
berdasarkan jenis kelamin dan berdasarkan usia. Adapun hasil penelitian sebagai
berikut :
Berdasarkan data diatas didapatkan hasil bahwa karakteristik kasus
terbanyak yaitu fraktur dentoalveolar dan abses mandibula sama-sama sebanyak
27.3% kasus ditangani di ok-nonelektif RSUD Undata periode 2017-2019.
Sedangkan berdasarkan Jenis kelamin bahwa jumlah laki-laki lebih banyak
dibandingkan dengan jumlah perempuan yaitu pada laki-laki sebanyak 8 pasien
(54%) dan pada perempuan sebanyak 3 pasien( 46%) dari 11 pasien. Hal ini
terlihat tidak terlalu signifikan.
Distribusi kasus dalam kategori trauma terlihat cukup signifikan dengan
frekuensi 73 % (7 kasus) sedangkan kasus non trauma hanya sebesar 27 % (4
kasus). Jika dilihat dalam kasus trauma bahwa pasien laki-laki disini hanya
memiliki frekuensi sebanyak 42 % (3 dari 7 kasus) hal ini terlihat tidak sesuai
teori dimana kasus trauma lebih sering pada laki-laki dikarenakan laki-laki lebih
sering beraktivitas di luar. Distribusi kasus trauma yang terbanyak terlihat pada
kasus Fraktur dentoalveolar dengan frekuensi sebanyak 42 %. fraktur
dentoalveolar adalah kerusakan atau putusnya kontinuitas jaringan keras pada
stuktur gigi dan alveolusnya yang disebabkan oleh trauma. Fraktur dentoalveolar
didefinisikan sebagai fraktur yang meliputi avulsi, subluksasi, atau fraktur gigi
yang berkaitan dengan fraktur tulang alveolar. Fraktur dentoalveolar dapat
terjadi tanpa atau disertai dengan fraktur bagian tubuh lainnya, biasanya terjadi
akibat kecelakaan ringan seperti jatuh, benturan saat bermain, berolahraga atau
iatrogenik. Perawatan fraktur dentoalveolar sebaiknya dilakukan sesegera
mungkin, karena penundaan perawatan akan mempengaruhi prognosis gigi
geligi. Bila fraktur dentoalveolar merupakan bagian dari fraktur wajah yang
lebih serius, perawatan dapat dilakukan secara efektif untuk menstabilkan
keadaan umum pasien terlebih dahulu. Tujuan perawatan fraktur dentoalveolar
adalah mengembalikan bentuk dan fungsi organ pengunyahan senormal
mungkin. Prognosis fraktur dentoalveolar dipengaruhi oleh keadaan umum dan
usia pasien serta kompleksitas fraktur.

Sedangkan pada kasus non trauma, prevalensi terbanyak adalah abses


mandibula, kasus abses ditemukan sebanyak 75% dari kasus non trauma. Abses
di ruang submandibula adalah salah satu abses leher dalam yang sering
ditemukan. Ruang submandibula merupakan suatu ruang potensial pada leher
yang terdiri dari ruang sublingual dan submaksila yang dipisahkan oleh otot
milohioid.4 Selain disebabkan oleh infeksi gigi, infeksi di ruang submandibula
bisa disebabkan oleh sialadenitis kelenjar submandibula, limfadenitis, trauma
atau pembedahan dan bisa juga sebagai kelanjutan infeksi ruang leher dalam
lain. Penyebab infeksi dapat disebabkan oleh kuman aerob, anaerob atau
campuran. Infeksi di ruang submandibula biasanya ditandai dengan
pembengkakan di bawah rahang, baik unilateral atau bilateral. Penilaian keadaan
umum pasien penting dalam penatalaksanaan abses leher dalam. Prioritas utama
adalah stabilisasi jalan napas, pernafasan dan sirkulasi. Karena abses leher dalam
memiliki potensi untuk mengancam nyawa maka pasien harus dirawat di rumah
sakit. Penatalaksanaan abses submandibula dapat 12 dilakukan dengan
memberikan terapi antibiotik yang adekuat dan drainase abses.1,14 Drainase
abses dapat dilakukan dengan aspirasi abses yang kemudian dilanjutkan dengan
insisi dan eksplorasi, tergantung pada luasnya abses dan komplikasi yang
ditimbulkannya.4,8,9 Evakuasi abses dapat dilakukan dengan anestesi lokal
maupun dengan anestesi umum.4 Insisi abses submandibula untuk drainase
dibuat pada tempat yang paling berfluktuasi atau setinggi os hyoid, tergantung
letak dan luas abses. Insisi tersebut sedapat mungkin sejajar dengan garis lipatan
kulit alamiah menembus jaringan subkutan, muskulus platisma sampai ke fasia
servikal profunda. Diseseksi tumpul dengan hemostat dilakukan sampai ke
dalam rongga abses dan kemudian dilakukan drainase abses. Setelah itu rongga
abses diirigasi dengan larutan garam fisiologis dan dipasang drain.4,12 Perlu
diperhatikan, dalam 4 sampai 8 jam pertama sebaiknya dilakukan observasi dan
penatalaksanaan awal dengan pemberian antibiotik intravena dan hidrasi. Hal ini
dilakukan sambil mengawasi perkembangan keadaan pasien jika diperlukan
sebaiknya dilakukan drainase. Perkembangan gejala yang menunjukkan perlunya
dilakukan drainase adalah apabila terjadi demam persisten, nyeri, bengkak dan
peningkatan WBC (white blood cell). Indikasi lainnya untuk dilakukan drainase
meliputi potensi kompromi jalan napas, kondisi kritis karena komplikasi atau
septikemia.
Berdasarkan data distribusi usia, ditemukan jumlah operasi emergensi
Bedah Mulut 36.4 % mencakup usia 26-45 tahun, 27.3 % pada usia 12-25 tahun,
18.1 % pada usia 6-11 tahun, usia 0-5 tahun, 9.1 %, dan 9.1 % pada usia 45-65
tahun. Pada pasien dewasa didominasi oleh pasien Trauma dengan frekuensi
75%, begitu pula pada pasien remaja sebanyak 66%. Hal yang menarik adalah
57% dari pasien trauma adalah pasien yang masih dalam kategori balita dan
anak-anak, hal ini dapat dikarenakan kurangnya pengawasan terhadap aktivitas
anak-anak oleh orangtuanya dan keaktifan dimasa kanak-kanak.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian selama periode Tahun 2017-2019, di Bagian Bedah
Mulut RSUD UNDATA ditemukan bahwa:
1. Kasus terbanyak yaitu fraktur dentoalveolar dan abses mandibula sama-sama
sebanyak 27.3% kasus
2. Berdasarkan Jenis kelamin bahwa jumlah laki-laki lebih banyak
dibandingkan dengan jumlah perempuan yaitu pada laki-laki sebanyak 8
pasien (54%) dan pada perempuan sebanyak 3 pasien( 46%) dari 11 pasien.
3. Distribusi kasus dalam kategori trauma terlihat cukup signifikan dengan
frekuensi 73 % (7 kasus) sedangkan kasus non trauma hanya sebesar 27 % (4
kasus).
4. Distribusi kasus trauma yang terbanyak terlihat pada kasus Fraktur
dentoalveolar dengan frekuensi sebanyak 42 %.
5. pada kasus non trauma, prevalensi terbanyak adalah abses mandibula, kasus
abses ditemukan sebanyak 75% dari kasus non trauma.
6. Berdasarkan data distribusi usia 36.4 % mencakup usia 26-45 tahun, 27.3 %
pada usia 12-25 tahun, 18.1 % pada usia 6-11 tahun, usia 0-5 tahun, 9.1 %,
dan 9.1 % pada usia 45-65 tahun.
7. 57% dari pasien trauma adalah pasien yang masih dalam kategori balita dan
anak-anak.

5.2 Saran
1. Diharapkan bagi penelitian lain ke depannya dapat mengembangkan
penelitian ini untuk mengetahui jenis operasi apa yang sering dilakukan serta
teknik yang paling baik digunakan di RSUD Undata dan SMF Bedah Mulut
FK Universitas Tadulako.
DAFTAR PUSTAKA

1. Yamamoto, 2014. Clinical Analysis of Midfacial Fractures. Department of Oral


and Maxillofacial Surgery, Nara Medical University, Nara, Japan, 840 Shijo-cho,
Kashihara, Nara 634-8522, Japan. Viewed 1 agustus 2018
2. Baek, H.J, et al., 2013. Identification of Nasal Bone Fractures on Conventional
Radiography and Facial CT: Comparison of the Diagnostic Accuracy in Different
Imaging Modalities and Analysis of Interobserver Reliability. Iran Journal of
Radiology 10: 140-147.
3. Haraldson, S.J., 2013. Nasal Fracture. Available From:
http://emedicine.medscape.com/article/84829-overview
4. Hiatt James L.& Gartner Leslie P. 2010. Textbook of Head and Neck Anatomy,
4th Edition. Lippincott Williams & Wilkins.
5. Zargar, M., et al., 2004. Epidemiology Study of Facial Injuries during a 13 Month
of Trauma Registry in Tehran. Indian Journal of Medical Sciences 58: 109-114
6. Singh V, et al, 2012, The Maxillofacial Injuries, Departments of Oral and
Maxillofacial Surgery, Anaesthesia, K.G. Medical University, Lucknow, India,
National Journal of Maxillofacial Surgery Vol 3.
7. Ykeda, R.B.A., et al., 2012. Epidemiological Profile of 277 Patients with Facial
Fractures Treated at the Emergency Room at the EN Department of Hospital do
Trabalhador in Curitiba/PR in 2010. International Archives of
Otorhinolaryngology
8. Mabrouk, T., et al., 2014. Incidence, Etiology, and Patterns of Maxillofacial
Fractures in Ain-Shams University, Cairo, Egypt: A 4-Year Retrospective
Department of Plastic Surgery, Ain Shams University, Cairo, Egypt
Craniomaxillofac Trauma Reconstruction 2014;7:224–232
9. Samman,Mahmood, et al.2017. Incidence and Pattern of Mandible Fractures in
the
Madinah Region: A Retrospective StudySaudi Arabia: A 5-Year Retrospective
Study. College of Dentistry, Al Jouf University, Sakaka, Aljouf, Saudi Arabia.J
Oral Maxillofac Surg.14:10-14.
10. Eddy,2017. Prevalensi fraktur dentoalveolar akibat trauma berdasarkan usia dan
jenis fraktur di RSUP H.Adam malik medan 2013-2016. FKG USU