Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap orang dilahirkan berbeda. Tidak ada manusia yang benar-benar sama meskipun
mereka kembar. Perbedaan tersebut dapat terjadi pada kondisi fisik dan non fisik.
Merupakan hal wajar jika setiap orang berbeda dalam banyak hal seperti warna kulit,
bentuk jasmani, minat, potensi atau kecerdasan. Oleh karena itu dalam kehidupan sehari-
hari disamping individu yang secara fisik normal sering kita jumpai, ada pula individu
yang memiliki fisik tidak normal,yang sering dikenal sebagai penyandang cacat. Masalah
penyandang cacat bukan merupakan masalah yang kecil, terutama di negara seperti
Indonesia. Karena permasalahan yang dihadapi meliputi segala aspek hidup dan
kehidupan seperti pendidikan, kesehatan, dan ketenagakerjaan.
Penyandang cacat tubuh sebagai salah satu penyandang masalah kesejahteraan social
perlu mendapat perhatian agar mereka dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Penyandang
cacat tubuh adalah mereka yang tubuhnya tidak normal sehingga menghambat
kemampuannya untuk melaksanakan fungsi sosialnya di masyarakat. Mereka masih bisa
berpikir normal, dapat melihat, mendengar, beraktivitas dan berbuat sesuatu.
Penyandang cacat tubuh secara psikis akan mengalami rasa rendah diri dan kesulitan
dalam menyesuaikan diri di masyarakat, karena perlakukan masyarakat/lingkungan
sekitar berupa celaan atau belas kasihan ketika memandang mereka.
Pada saat memberikan pelayanan kesehatan, perawat komunitas harus
mempertimbangkan beberapa prinsip, yaitu kemanfaatan dimana semua tindakan dalam
asuhan keperawatan harus memberikan manfaat yang besar bagi komunitas, pelayanan
keperawatan kesehatan komunitas dilakukan bekerjasama dengan klien dalam waktu
yang panjang dan bersifat berkelanjutan serta melakukan kerjasama lintas program dan
lintas sektoral, asuhan keperawatan diberikan secara langsung mengkaji dan intervensi,
klien dan, lingkungannya termasuk lingkungan sosial, ekonomi serta fisik mempunyai
tujuan utama peningkatan kesehatan, pelayanan keperawatan komunitas juga harus
memperhatikan prinsip keadilan dimana tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan
kemampuan atau kapasitas dari komunitas itu sendiri.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep medis kebutaan?
2. Bagaimana proses keperawatan kmunitas pada kebutaan?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui konsep medis kebutaan.
2. Mengetahui proses keperawatan kmunitas pada kebutaan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Penyandang cacat tubuh adalah keadaan yang terjadi sebagai akibat lanjut proses
penyakit yang mengakibatkan kerusakan jasmani atau rohani yang tidak reversible dan
dalam hal ini terdapat suatu kelainan fungsi dari alat-alat yang bersangkutan.
Penyandang cacat merupakan bagian masyarakat Indonesia yang memiliki
kedudukan, hak, kewajiban dan kesempatan serta peran yang sama dalam segala aspek
kehidupan maupun penghidupan seperti halnya WNI lain.
Penyandang cacat tubuh adalah seseorang yang mempunyai kelainan tubuh pada alat
gerak yang meliputi tulang, otot dan persendian baik dalam struktur atau fungsinya yang
dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan
kegiatan secara layak.
penyandang cacat berarti setiap orang yang tidak mampu menjamin oleh dirinya
sendiri, seluruh atau sebagian, kebutuhan individual normal dan/atau kehidupan sosial,
sebagai hasil dari kecatatan mereka, baik yang bersifat bawaan maupun tidak, dalam hal
kemampuan fisik atau mentalnya.

B. Klasifikasi Penyandang Cacat/Disabilitas


Pasal 1 ayat (1) UU No 4 Tahun 1997 mengatur bahwa penyandang cacat adalah
orang yang berkelainan fisik dan/atau mental. Secara khusus pasal ini menegaskan bahwa
kelainan tersebut dapat diklasifikasi menjadi 3 golongan yaitu: cacat fisik, cacat mental
serta cacat fisik dan mental. Adapun penjelasan tiap golongan menurut ketentuan Dinas
Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta adalah sebagai berikut:
1. Cacat fisik
Cacat fisik adalah kelainan fisik, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan
dan hambatan bagi penyandangnya untuk melakukan kegiatan secara selayaknya.
Jenis-jenis cacat fisik meliputi:
a. Cacat tubuh
b. Cacat rungu wicara
c. Cacat netra
2. Cacat Mental
a. Cacat mental retardasi adalah kecacatan karena seseorang yang perkembangan
mentalnya (IQ) tidak sejalan dengan pertumbuhan usia biologisnya.
b. Eks psikotik adalah kecacatan seseorang yang pernah mengalami gangguan jiwa.
3. Cacat Fisik dan Mental
Cacat ini juga disebut cacat ganda. Artinya seseorang memiliki kelainan pada fisik
dan mentalnya
C. Derajat Kecacatan
Berdasar derajat kecacatannya dibedakan:
1. Cacat tubuh ringan
Yaitu mereka yang menderita cacat tubuh dimana kebutuhan aktifitas hidup seharihari
(ADL)nya t idak memerlukan pertolongan orang lain. Termasuk dalam golongan
cacat ini adalah amputasi tangan atau kaki salah satu, cerebral palcy ringan, layuh
salah satu kaki, tangan/kaki bengkok dan sebagainya.
2. Cacat tubuh sedang
Yaitu mereka yang menderita cacat tubuh, dimana kebutuhan aktivitas hidup sehari
hari (ADL)nya Harus dilatih terlebih dahulu, sehingga untuk seterusnya dapat
dilakukan tanpa pertolongan. Termasuk Golongan ini adalah cerebral palcy sedang,
amputee dua tangan atas siku, muscle destrophy sedang, scoliosis dan seterusnya.
3. Cacat tubuh berat
Yaitu mereka yang untuk kebutuhan aktivitas hidup sehari-hari (ADL)nya selalu
memerlukan pertolongan orang lain, antara lain amputee dua kaki atas lutut dan dua
tangan atas siku, cerebral palcy berat, layuh dua kaki dan dua tangan, paraplegia berat
dan sebagainya. (Departemen Sosial, 2008).

Pasal 7 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:


104/MENKES/PER/II/1999 tentang Rehabilitasi Medik mengatur bahwa derajat
kecacatan dinilai berdasarkan keterbatasan kemampuan seseorang dalam melaksanakan
kegiatan sehari-hari yang dapat dikelompokan dalam :
1. Derajat cacat 1: mampu melaksanakan aktifitas atau mempertahankan sikap dengan
kesulitan.
2. Derajat cacat 2: mampu melaksanakan kegiatan atau mempertahankan sikap dengan
bantuan alat bantu.
3. Derajat cacat 3: dalam melaksanakan aktifitas, sebagian memerlukan bantuan orang
lain dengan atau tanpa alat bantu.
4. Derajat cacat 4: dalam melaksanakan aktifitas tergantung penuh terhadap pengawasan
orang lain.
5. Derajat cacat 5: tidak mampu melakukan aktifitas tanpa bantuan penuh orang lain dan
tersedianya lingkungan khusus.
6. Derajat cacat 6: tidak mampu penuh melaksanakan kegiatan sehari-hari meskipun
dibantu penuh orang lain.

D. Hak-hak Penyandang Cacat/Disabilitas

Hak adalah segala sesuatu yang harus diberikan pada sesorang. Hak boleh digunakan atau
tidak digunakan. Hak asasi adalah manusia diatur dalam UU No 39 Tahun 1999 tentang
Hak Asasi Manusia.
Hak-hak penyandang cacat/disabilitas dalam Deklarasi diatur dalam Pasal 3 sampai
13. Hak-hak tersebut meliputi :
1. hak yang melekat untuk menghormati martabat manusia
2. hak sipil dan politik
3. hak atas kemandirian
4. hak atas pelayanan jasa
5. hak atas jaminan ekonomi
6. hak atas pertimbangankebutuhannya yang khusus
7. hak untuk berpartisipasi dalam semua kegiatan sosial, kreatif, atau rekreasi
8. hak atas perlindungan terhadap perlakuan eksploitatif atau merendahkan martabat
9. hak atas bantuan hukum
10. hak atas konsultasi
11. hak atas informasi hak-haknya dalam Deklarasi
Hak penyandang cacat/disabilitas yang diatur dalam Konvensi Mengenai Hak-hak
Penyandang Disabilitas yang telah disahkan dengan UU No 11 Tahun 2009 meliputi:
1. hak atas aksesibilitas
2. hak untuk hidup
3. hak memperoleh jaminan perlindungan dan keselamatan penyandang disabilitas
dalam situasi berisiko, termasuk situasi konflik bersenjata, darurat kemanusiaan, dan
terjadinya bencana alam
4. hak atas kesetaraan pengakuan di hadapan hokum
5. hak atas akses terhadap keadilan
6. hak atas kebebasan dan keamanan
7. hak atas kebebasan dari penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman lain yang
kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan martabat manusia
8. hak atas kebebasan dari eksploitasi, kekerasan, dan pelecehan
9. hak untuk mendapatkan penghormatan atas integritas mental dan fisiknya atas dasar
kesetaraan dengan yang lainnya
10. hak untuk memperoleh dan mengubah kewarganegaraan
11. hak untuk hidup secara mandiri dan dilibatkan dalam masyarakat
12. hak atas mobilitas pribadi
13. hak atas kebebasan berekspresi dan berpendapat serta akses terhadap informasi
14. hak memperoleh penghormatan terhadap keleluasaan pribadi
15. hak memperoleh penghormatan terhadap rumah dan keluarga
16. hak atas pendidikan, kesehatan, habilitasi dan rehabilitasi hak atas pekerjaan dan
lapanga kerja
17. hak untuk mendapatkan standar kehidupan dan perlindungan sosial yang layak bagi
mereka sendiri dan keluarganya
18. hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik dan publik
19. hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan budaya, rekreasi, hiburan dan olah raga
20. hak untuk memperoleh jaminan hak asasi manusia dan kebebasan fundamental untuk
penyandang disabilitas perempuan dan anak-anak Menurut Pasal 5 UU No 4 Tahun
1997 dikatakan bahwa setiap penyandang cacat/disabilitas mempunyai hak dan
kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan.
Lebih lanjut dalam Pasal 6 UU No 4 Tahun 1997 ditegaskan bahwa setiap
penyandang cacat/disabilitas berhak memperoleh:
1. pendidikan pada semua satuan, jalur, jenis, dan jenjang pendidikan;
2. pekerjaan dan penghidupan yang layak sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan,
pendidikan, dan kemampuannya;
3. perlakuan yang sama untuk berperan dalam pembangunan dan menikmati hasil-
hasilnya;
4. aksesibilitas dalam rangka kemandiriannya;
5. rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial; dan
6. hak yang sama untuk menumbuhkembangkan bakat, kemampu-an, dan kehidupan
sosialnya, terutama bagi penyandang cacat anak dalam lingkungan keluarga dan
masyarakat.

E. Penatalaksanaan
1. Mendengarkan dengan penuh perhatian
Berusaha mendengarkan klien menyampaikan pesan non-verbal bahwa perawat
perhatian terhadap kebutuhan dan masalah klien. Mendengarkan dengan penuh
perhatian merupakan upaya untuk mengerti seluruh pesan verbal dan non-verbal yang
sedang dikomunikasikan. Ketrampilan mendengarkan sepenuh perhatian adalah
dengan:
a) Pandang klien ketika sedang bicara
b) Pertahankan kontak mata yang memancarkan keinginan untuk mendengarkan
c) Condongkan tubuh ke arah lawan bicara.
2. Menunjukkan penerimaan
Menerima tidak berarti menyetujui. Menerima berarti bersedia untuk mendengarkan
orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau tidak setuju. Berikut ini menunjukkan
sikap perawat yang menerima :
a) Mendengarkan tanpa memutuskan pembicaraan
b) Memberikan umpan balik verbal yang menapakkan pengertian
c) Memastikan bahwa isyarat non-verbal cocok dengan komunikasi verbal
d) Menghindarkan untuk berdebat, mengekspresikan keraguan, atau mencoba untuk
mengubah pikiran klien.
F. Pencegahan
Pelayanan yang diberikan oleh keperawatan komunitas mencakup kesehatan komunitas
yang luas dan berfokus pada pencegahan yang terdiri dari tiga tingkat yaitu:
1. Pencegahan primer
Pelayanan pencegahan primer ditunjukkan kepada penghentian penyakit sebelum
terjadi karena itu pencegahan primer mencakup peningkatan derajat kesehatan secara
umum dan perlindungan spesifik. Promosi kesehatan secara umum mencakup
pendidikan kesehatan baik pada individu maupun kelompok. Pencegahan primer juga
mencakup tindakan spesifik yang melindungi individu melawan agen-agen spesifik
misalnya tindakan perlindungan yang paling umum yaitu memberikan imunisasi pada
bayi, anak balita dan ibu hamil, penyuluhan gizi bayi dan balita.
2. Pencegahan sekunder
Pelayanan pencegahan sekunder dibuat untuk menditeksi penyakit lebih awal dengan
mengobati secara tepat. Kegiatan-kegiatan yang mengurangi faktor resiko
dikalifikasikansebagai pencegahan sekunder misalnya memotivasi keluarga untuk
melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala melalui posyandu dan puskesmas.
3. Pencegahan tersier
Yang mencakup pembatasan kecacatan kelemahan pada seseorang dengan stadium
dini dan rehabilitasi pada orang yang mengalami kecacatan agar dapat secara optimal
berfungsi sesuai dengan kemampuannya, misalnya mengajarkan latihan fisik pada
penderita patah tulang.

G. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian komunitas terdiri dari :
A. Inti komunitas yang meliputi :
a. Identitas
b. Demografi
c. Populasi
d. Nilai-nilai keyakinan
e. Riwayat individu
f. Riwayat kesehatan.
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi :
a. Lingkungan fisik
b. Pendidikan
c. Keamanan dan transportasi
d. Politik dan pemerintah
e. Pelayanan kesehatan dan sosial
f. Komunikasi
g. Ekonomi dan rekreasi.
Semua aspek ini dikaji melalui pengamatan langsung, penggunaan data statistik,
angket, wawancara dengan tokoh masyarakat, tokoh agama dan aparat
pemerintah.
2. Diagnosis Keperawatan
1. Gangguan perkembangan berhubungan dengan kelainan yang dialami klien
2. Perubahan fungsi sosial berhubungan dengan keterbatasan klien
3. Ketidakmampuan koping berhubungan dengan kesulitan dalam menyesuaikan diri
4. Rendahnya tingkat pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi dan
keterbatasan pemikiran

3. Intervensi
No Diagnosa Intervensi
1 Gangguan perkembangan 1. Kaji perkembangan klien
berhubungan dengan 2. Diskusikan tentang perkembangan klien
kelainan yang dialami klien 3. Berikan penjelasan tahap-tahap
perkembangan
4. Evaluasi penjelasan
5. Beri pujian positif pada klien atas usahanya
6. Berikan motivasi atau dukungan
2 Perubahan fungsi sosial 1. Kaji fungsi sosial klian
berhubungan dengan 2. Diskusikan tentang perubahan yang dialami
keterbatasan klien klien
3. Diskusikan dengan keluarga tentang
lingkungan yang baik
4. Jelaskan tentang fungsi dan peran klien
5. Berikan motivasi atau dukungan pada klien
3 Ketidakmampuan koping 1. Kaji koping klien
berhubungan dengan 2. Diskusikan cara mengatasi masalah yang
kesulitan dalam dialami klien
menyesuaikan diri 3. Diskusikan dengan keluarga untuk
memotivasi klien
4. Berikan motivasi penguatan spiritual
4 Rendahnya tingkat 1. Kaji pengetahuan klien
pengetahuan berhubungan 2. Diskusikan dengan keluarga tentang
dengan kurangnya keterbatasan klien
informasi dan keterbatasan 3. Diskusikan mengenai penyebab
pemikiran keterbatasan klien
4. Berikan informasi tentang keterbatasan
yang dimiliki klien
5. Diskusikan alternatif yang dapat dilakukan
untuk mencegah dan pengobatannya
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Buta adalah suatu keadaan dimana seorang tidak dapat menjalankan
pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan penglihatannya sebagai hal esensial sebagai
mana orang sehat. Kebutaan disebabkan oleh cataract adalah penyebab utama dari
kebutaan, dengan trakoma, lepra, onkonserkahasis, dan xeroftalmia dimana keadaan
selaput ikat mata yang kering karena kekurangan vitamin A kadang-kadang sampai
selaput bening rusak. Kebutaan adalah suatu hal yang tidak dapat diperbaiki secara
medis, namun terdapat 2 tipe alat bantu yang memperbaiki penglihatan untuk dapat
melakukan pekerjaan yaitu optikal dan nonoptikal.

B. Saran

1. Diharapkan kepada mahasiswa/i agar dapat meningkatkan ilmu pengetahuan dan


wawasan tentang kesehatan mata.
2. Diharapkan kepada seluruh instansi kesehatan dapat memberikan penyuluhan
tentang kesehatan mata atau kebutaan, kepada seluruh lapisan masyarakat.
3. Diharapkan kepada seluruh masyarakat umum agar dapat menerapkan pola hidup
sehat sejak dini dimulai dari Individu itu sendiri.
4. Untuk membina hubungan saling percaya perawat harus bersikap terbuka, jujur,
ihklas, menerima klien apa danya, menepati janji, dan menghargai klien dan
melayani sepenuh hati.
DAFTAR PUSTAKA

Dorland, 2006, Kamus Kedokteran, Penerbit Buku Kedoteran EGC Jakarta.

Hidayat, A. Azis Alimun, 2004. Kebutaan Dasar Manusia EGC, Jakarta.

Marilyne E, 1999, Doengus. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Mubarak, Wahit Iqbal, dkk. (2009). Ilmu Keperawatan Komunitas; Konsep dan Aplikasi.
Jakarta : Salemba Medika

Riyadi. Sugeng (2007), Keperawatan Kesehatan Masyarakat, retieved may 12nd.

Smeltzer, & Bare, 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal. Bedah Brunner dan Suddarth.
Jakarta : EGC
R, Fallen. Catatan Kuliah Keperawatan Komunitas. (2010). Yogyakarta: Nuha Medika

Vaughan, 2000, General Oftamology, Jakarta.