Anda di halaman 1dari 9

PEDOMAN

PENYELENGGARAAN
DAN PENERAPAN DOKTER
PENANGGUNG JAWAB
PELAYANAN (DPJP) DI RUMAH
SAKIT NAHDLATUL ULAMA’
JOMBANG

Penulis Dokumen : Komite Medik RSNU Jombang


Tanggal : 25 MEI 2017

Jl. KH. Hasyim Asy’ari No. 211 Jombang


T. (0321) 878700 F. (0321) 877700 rsnujombang@yahoo.co.id
BAB I
PENDAHULUAN

1. Pengertian Umum
a. Pelayanan kesehatan di rumah sakit bertujuan untuk menyelamatkan /
menyembuhkan pasien dari penyakitnya dengan menekan berbagai risiko klinis
maupun non klinis yang mungkin terjadi selama proses tersebut.
b. Keselamatan pasien merupakan faktor yang sangat penting dan menjadi prioritas
utama. Dalam rangka melaksanakan pelayanan yang aman, efektif dan efisien
diperlukan komitmen dan tanggung jawab yang tinggi dari para personel rumah
sakit, sesuai dengan wewenang dan kompetensinya. Kerjasama tim dan
komunikasi yang baik merupakan kunci utama untuk mencapai keberhasilan.

2. Maksud dan Tujuan


a. Maksud.
Buku Pedoman ini dimaksudkan untuk memberikan petunjuk dan penjelasan
tentang tata cara penentuan dan pelaksanaan Dokter Penanggung Jawab
Pelayanan (DPJP) di setiap lini pelayanan di Rumah Sakit, demi tercapainya
kwalitas pelayanan yang tinggi, meningkatnya kepuasan pasien dan mencegah
serta mengurangi angka kejadian yang tidak diharapkan (KTD), kejadian nyaris
cedera dan sentinel.
b. Tujuan.
1) Agar dapat dijadikan sebagai pedoman bagi para dokter dan petugas
kesehatan lainnya dalam menentukan Dokter Penanggung Jawab Pelayanan
(DPJP) di setiap lini pelayanan di Rumah Sakit, sehingga diperoleh kesamaan
pengertian, keseragaman dalam pelaksanaan, dan pencatatan dan pelaporan.
2) Agar pengelolaan asuhan medis pasien oleh DPJP terlaksana dengan baik
sesuai dengan standar pelayanan dan standar keselamatan pasien.

3. Ruang Lingkup dan Tata Urut


a. Ruang Lingkup.
Buku Pedoman ini menjelaskan tentang pengertian DPJP, tata cara penerapan
DPJP di berbagai lini pelayanan seperti: UGD, Poli klinik, Ruangan perawatan,
ICU / Intermediate care, dan kamar operasi, serta menjelaskan tentang tata cara
penentuan DPJP dalam perawatan bersama.
b. Tata Urut.
Buku pedoman ini disusun dengan tata urut sebagai berikut :
1) Bab I Pendahuluan
2) Bab II Ketentuan Umum Pelaksanaan
3) Bab III Penutup

4. Landasan :
a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004, tentang Praktik
Kedokteran.
b. Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
c. Undang – Undang nomor 36 tahun 2014 tentang tenaga kesahatan.
d. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor
755/MENKES/PER/IV/2011 tentang Penyelenggaraan Komite Medik di Rumah
Sakit.

5. Pengertian :
a. Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP)
adalah dokter yang bertanggung jawab atas pengelolaan asuhan medis seorang
pasien.
b. DPJP Utama adalah :
1) Dokter koordinator pada kasus perawatan bersama antar berbagai disiplin
ilmu terhadap seorang pasien.
2) Dokter yang menangani penyakit yang dinilai terberat dan mengancam
nyawa serta pengelolaan paling kompleks.
3) Pada kondisi tertentu setelah ada kesepakatan bersama antar DPJP dan
atau atas keinginan pasien, DPJP utama dapat dipegang oleh dokter yang
pertama kali memeriksa / menerima atau DPJP lain yang diminta pasien.
4) Pada kasus sulit atau kasus luar biasa, DPJP utama dapat ditentukan oleh
Direktur Rumah Sakit / Ketua Komite Medik setelah melalui Rapat
Komite Medik.
c. DPJP tambahan
adalah dokter konsultan yang ikut merawat pasien pada kasus perawatan
bersama setelah dikonsulkan oleh DPJP sebelumnya. DPJP tambahan ditulis
langsung sesuai bidang yang didalaminya, misalnya DPJP Bedah Plastik, DPJP
Urology, DPJP Bedah Saraf, DPJP THT, DPJP Gastroenterology IPD, DPJP
Endokrinology IPD, DPJP Tumbuh Kembang anak, dll.

6. Tugas DPJP
a. Mengelola asuhan medis seorang pasien sesuai dengan standar pelayanan medis
yang meliputi: anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang,
perencanaan pemberian terapi, tindak lanjut / follow up (evaluasi asuhan medis)
sampai rehabilitasi.
b. Melakukan konsultasi dengan disiplin terkait lain untuk meminta pendapat atau
perawatan bersama.
c. Membuat rencana pelayanan dalam berkas rekam medis yang memuat segala
aspek asuhan medis yang akan dilakukan termasuk pemeriksaan konsultasi,
rehabilitasi pasien dan sebagainya.
d. Memberikan penjelasan secara rinci kepada pasien dan keluarga tentang rencana
dan hasil pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk kejadian
yang tidak diharapkan.
e. Memberikan pendidikan / edukasi kepada pasien tentang kewajibannya terhadap
rumah sakit dan bila diperlukan dibantu oleh staf dokter/perawat/staf
administrasi.
f. Pemberian pendidikan / edukasi harus dicatat dalam rekam medis, bahwa DPJP
telah memberikan penjelasan.
g. DPJP harus memberikan penjelasan mengenai kewajiban pasien, yaitu:
1) Pasien dan keluarganya wajib memberi informasi yang jelas, benar, dan
jujur tentang penyakit dan kondisi lain.
2) Pasien dan keluarganya wajib mengetahui kewajiban dan tanggung
jawabnya.
3) Pasien dan keluarganya wajib mengajukan pertanyaan untuk hal-hal yang
tidak dimengerti.
4) Pasien dan keluarganya wajib memahami dan menerima konsekuensi
pelayanan.
5) Pasien dan keluarganya wajib mengikuti instruksi dan menghormati
peraturan rumah sakit.
6) Pasien dan keluarganya wajib memperlihatkan sikap menghormati dan
tenggang rasa.
7) Pasien dan keluarganya wajib memenuhi kewajiban finansial yang
disepakati.
BAB II
KETENTUAN UMUM PELAKSANAAN

1. Kebijakan pelayanan pasien .


Setiap pasien yang dirawat harus memiliki seorang DPJP yaitu Dokter Penanggung
Jawab Pelayanan yang merawat pasien tersebut dan memberikan asuhan medis sesuai
SPO DPJP. Bila pasien dirawat bersama oleh beberapa dokter dari berbagai disiplin
ilmu harus segera ditunjuk seorang DPJP utama dan satu atau lebih DPJP tambahan
sesuai dengan bidang penyakit yang terkait menangani pasien tersebut.

2. Penentuan DPJP.
Penentuan DPJP harus dilakukan sejak pertama pasien masuk rumah sakit baik dari
UGD maupun Poliklinik dengan mempergunakan cap stempel pada halaman tersendiri
dalam catatan medis, yaitu:
a. Cap Stempel ”DPJP” bila pasien hanya dirawat oleh seorang dokter (terlampir).
b. Cap Stempel ”RAWAT BERSAMA” bila sejak awal sudah diketahui bahwa
pasien dirawat bersama oleh beberapa dokter (terlampir).

3. Klarifikasi DPJP di ruang perawatan.


Apabila dari UGD maupun poliklinik DPJP belum ditentukan, maka petugas ruangan
diwajibkan segera melakukan klarifikasi tentang siapa DPJP pasien tersebut, termasuk
melakukan klarifikasi DPJP utama dan DPJP tambahan bila pasien sejak awal telah
dirawat bersama oleh beberapa dokter sesuai dengan bidang terkait yang menangani
pasien tersebut.

4. Penentuan DPJP pasien baru di masing-masing SMF.


Kebijakan penentuan dan pengaturan DPJP di masing-masing KSM berdasarkan antara
lain:
a. Jadwal dokter jaga.
Dokter jaga hari itu menjadi DPJP pasien baru, kecuali kasus rujukan yang
ditujukan langsung kepada salah seorang konsulen .
b. Surat Rujukan langsung kepada salah satu dokter spesialis terkait.
Dokter spesialis yang dituju otomatis menjadi DPJP pasien yang dimaksud,
kecuali bila dokter tersebut berhalangan karena sesuatu hal, maka pelimpahan
DPJP beralih kepada konsulen jaga pada hari itu.
c. Atas permintaan pasien/keluarga.
Pasien dan keluarga berhak meminta salah seorang dokter sebagai DPJP apabila
ada relefansinya dengan bidang spesialisasi dokter yang bersangkutan. Bila tidak
ada relefansinya, hendaknya diberikan penjelasan dan diberikan alternatif DPJP
lain sesuai SPO yang berlaku. Penjelasan sebaiknya dilakukan oleh dokter
tersebut dan dilimpahkan kepada dokter lain yang lebih berkompeten dalam
bidangnya.
d. Hasil rapat Komite Medik pada kasus tertentu.
Pada kasus yang sangat kompleks atau jarang, penentuan DPJP / DPJP utama
dapat ditentukan berdasarkan rapat komite medik.

5. Pola Operasional DPJP Rawat Bersama.


Seorang DPJP hanya memberikan pelayanan dibidang kompetensi dan keahliannya
saja. Bila ditemukan penyakit yang memerlukan penanganan disiplin profesi lain harus
dikonsulkan dan ditunjuk DPJP tambahan sesuai kebutuhan, bila diperlukan perawatan
bersama maka dipergunakan cap stempel ”RAWAT BERSAMA” dan akan ditentukan
siapa DPJP utama sebagai koordinator dan DPJP tambahannya. Dalam hal Rawat
Bersama lebih dari dua DPJP harus ada pertemuan bersama para DPJP minimal satu
kali dan dicatat dalam rekam medis pasien.

6. Penentuan DPJP Utama.


Untuk efektifitas dan efisiensi pelayanan, bila diperlukan dapat terjadi perubahan
DPJP utama dalam Rawat Bersama. Kriteria penentuan DPJP utama berdasarkan:
a. Penyakit terberat pada penderita tersebut.
b. Atas keinginan keluarga/penderita.
c. DPJP pertama yang memberi asuhan kepada pasien tersebut
Perubahan DPJP utama harus mencantumkan tanggal mulai berlaku dan alasannya.

7. DPJP di HCU.
Bila pasien dirawat di ICU maka harus ditentukan DPJP ICU pasien tersebut sesuai
dengan jadwal konsulen ICU yang berlaku saat itu, atau ditunjuk seorang konsulen ICU
lain atas permintaan penderita / keluarga maupun berdasarkan rapat Komite Medik
pada kasus tertentu. DPJP ICU berwenang memberikan berbagai tindakan medis yang
diperlukan dan selalu berkoordinasi dengan DPJP pasien atau DPJP utama pasien pada
kasus Rawat Bersama.
8. Wewenang Residen / peserta pendidikan dokter spesialis (PPDS).
Seorang Peserta Pendidikan Dokter Spesialis / Residen yang ditunjuk dapat
melaksanakan kewenangan melakukan tindakan medis tertentu atas nama Konsulen
DPJP yang bersangkutan atau sepengetahuan / izin Konsulen tersebut melalui jalur
pelaporan yang berlaku di masing-masing SMF / Sub SMF.

9. Wewenang Dokter Interensip


Dokter Internsip adalah dokter yang ditugaskan kemenkes untuk melaksanankan
program dokter internsip yang telah memiliki STR dan SIP sementara yang hanya
berlaku disatu wahana pelayanan kesehatan dan masa berlaku satu tahun.
Kewenangannya sama dengan dokter umum namun setiap tindakan medisnya masih
dalam pendampingan oleh seorang dokter pendamping yang telah ditunjuk oleh
direktur Rumah Sakit.

10. Pengalihan DPJP di UGD.


Dalam pelayanan di UGD, demi keselamatan pasien, apabila dokter DPJP / konsulen
Jaga SMF / Sub SMF tidak dapat dihubungi secara mendesak, dapat dilakukan
pengalihan konsultasi kepada konsulen lain sesuai dengan SPO di UGD dan masing-
masing KSM / Sub KSM.

11. DPJP Utama di kamar operasi.


Adalah dokter operator yang melakukan operasi, dan bertanggung jawab terhadap
seluruh kegiatan operasi serta permasalahan yang berkaitan dengan tindakan operasi.
Dokter Anestesi yang melakukan tindakan pembiusan merupakan DPJP Anestesi pasien
tersebut dan bertanggung jawab terhadap permasalahan yang berkaitan dengan
tindakan anestesi bahkan sampai pasien kembali ke ruangan atau ICU / Ruang
Intermediate. Sebelum operasi dilaksanakan, dokter operator dan dokter anestesi harus
ikut melakukan prosedur time out dan menandatangani formulir panduan time out
(terlampir), sesuai dengan SPO time out di kamar operasi.

12. Koordinasi dan Transfer Informasi antar DPJP


a. Koordinasi antara DPJP tentang rencana dan pengelolaan pasien harus
dilaksanakan secara komprehensif, terpadu dan efektif dengan berpedoman
kepada SPM dan standar keselamatan pasien.
b. Koordinasi dan transfer informasi (komunikasi dan konsultasi) antar DPJP harus
dilaksanakan secara tertulis dengan menyampaikan beberapa aspek antara lain
diagnosis, hasil pemeriksaaan, permasalahan dan keperluan konsultasi yang
diperlukan.
c. Bila secara tertulis baik dengan formulir maupun dalam berkas rekam medis belum
optimal harus dilakukan koordinasi langsung baik dalam komunikasi pribadi
(langsung atau telepon) maupun pertemuan formal dalam penatalaksanaan kasus
tersebut.
d. Koordinasi dan transfer informasi DPJP didalam lingkup satu departemen / SMF
yang sama bisa dibuat tertulis dalam status rekam medis penderita, sedang antar
departemen / SMF harus dalam formulir konsultasi khusus.
e. Konsultasi yang dituju bisa secara khusus kepada disiplin ilmu (sub disiplin / sub
SMF) ataupun kepada konsultan secara perorangan.
f. Konsultasi bisa bersifat biasa maupun segera atau emergency (cito).
g. Penyampaian adanya konsultasi bisa dengan menyampaikan / membawa berkas
rekam medis dan formulir dengan atau tanpa pasien (pada kasus tertentu) atau per
telepon untuk kasus emergency seperti UGD atau kasus di atas meja operasi.
h. Proses konsultasi di UGD dan kamar operasi sesuai SPO yang berlaku di UGD dan
kamar operasi.
i. Dalam hal konsultan pribadi yang dituju berhalangan / tidak di tempat dapat
dialihkan kepada konsultan jaga harian disiplin yang sama dengan melaporkan
terlebih dahulu kepada DPJP yang mengkonsulkan.
j. Konsultasi yang dibuat oleh dokter residen kepada disiplin lain harus
sepengetahuan konsulen DPJP yang bertanggung jawab.
k. Konsultasi di UGD kepada konsultan jaga dilakukan oleh dokter umum jaga UGD
bisa dilakukan dengan lisan per telepon dalam melakukan pengobatan emergency
kepada pasien di bidang disiplin terkait. Jawaban konsulen harus ditulis di dalam
berkas rekam medis setelah dilakukan klarifikasi ulang.
BAB III
PENUTUP

Buku Pedoman ini dimaksudkan untuk memberikan petunjuk dan penjelasan tentang
tata cara penentuan dan pelaksanaan DPJP dalam mengelola asuhan medis pasien,
melakukan konsultasi dengan disiplin terkait, membuat rencana pelayanan dalam berkas
rekam medis, memberi pendidikan / edukasi kepada pasien serta memberi penjelasan
tentang hak dan kewajiban pasien selama dalam perawatan di rumah sakit.
Masukan saran dalam upaya penyempurnaan buku pedoman ini sangat diharapkan
demi tercapainya tugas pokok dan kwalitas pelayanan sesuai standar perkembangan ilmu
kedokteran dan teknologi, serta keselamatan pasien di setiap lini pelayanan di Rumah
Sakit.
Demikian Buku Pedoman ini disusun untuk dijadikan pedoman dan disosialisasikan
agar tercapai kesamaan pengertian, keseragaman dalam pelaksanaan pencatatan dan
pelaporan serta pengawasan dan pengendalian DPJP.