Anda di halaman 1dari 2

Pada variabel usia melahirkan anak per-tama > 30 tahun, hasil penelitian tersebut se-laras

dengan pernyataan Caleste yang dikutip oleh Harianto (2005), bahwa usia melahirkan anak
pertama di atas 30 tahun dilaporkan dapat meningkatkan risiko perkembangan kanker
payudara. Hal ini dikarenakan periode diantara usia menarche dan usia kehamilan pertama
terjadi ketidakseimbangan hormon dan jaringan payudara sangat peka terhadap hal
tersebut, sehingga periode ini merupakan permulaan dari perkembangan kanker payudara
(Chlebowski, 2009).

Hasil penelitian riwayat pemberian ASI selaras dengan Harianto (2005) yang menyatakan
bahwa risiko wanita yang tidak menyusui akan lebih besar terserang kanker. Kondisi ini
dipengaruhi oleh mekanisme hormonal. Wanita menyusui akan mengeluarkan hormon yang
disebut prolaktin. Di dalam tubuh, hormon prolaktin tersebut akan menekan paparan
hormon estrogen dalam jumlah banyak dan waktu yang lama yang dapat memicu terjadinya
kanker payudara (Anothaisintawee dkk, 2013). Kebiasaan menyusui berhubungan dengan
siklus hormonal (Nani, 2009). Segera setelah proses melahirkan kadar hormon estrogen dan
hormon progesteron yang tinggi selama masa kehamilan akan menurun dengan tajam.
Kadar hormon estrogen dan hormon progesteron akan tetap rendah selama masa menyusui
(Bambang BR, 2006). Menurunnya kadar hormon estrogen dan hormon progesteron dalam
darah selama menyusui akan mengurangi pengaruh hormon tersebut terhadap proses
proliferasi jaringan termasuk jaringan payudara yang memicu terjadinya kanker payudara.
(Tjindarbumi, 2002)

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMK N 1 Teluk Kuantan didapat bahwa ada
hubungan pengetahuan dengan pelaksanaan SADARI sebanyak 32 responden dengan persen
(64%) yang memiliki pengetahuan kurang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Tri Viviawati (2014) dengan judul pengaruh pedidikan kesehatan tentang
pemeriksaan SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara terhadap pengetahuan dan sikap
remaja putri di SMK N 1 Karanganyar bedasarkan hasil penelitiannya didapatkan hubungan
yang signifikan antara pengetahuan remaja putri dengan pelaksanaan pemeriksaan SADARI
dengan p value 0,05 dengan pengetahuan cukup sebesar 26 responden (84%) dan dalam
kategori kurang yaitu sebesar 5 responden (16%) dari 31 responden dimana responden yang
berpengetahuan cukup sebagian besar kurang mengetahui manfaat dan cara pemeriksaan
SADARI.

Pemeriksaan SADARI akan menurunkan tingkat kematian akibat kanker payudara sampai
20% namun sayangnya wanita yang melakukan SADARI masih rendah (25% - 30%) (Petersen
& Celis, 2007).

Dilihat dari karakteristik jenis kelamin penderita kanker di Indonesia, perempuan sebesar 2,2
per 1.000 penduduk dan laki-laki sebesar 0,6 per 1.000 penduduk.

Kejadian keterlambatan penderita kanker payudara dalam pemeriksaan pertama kali ke


pelayanan kesehatan di Indonesia mencapai lebih dari 80% sehingga ditemukan pada kondisi
stadium lanjut. Hasil analisis faktor yang berhubungan dengan keterlambatan penderita
kanker payudara dalam melakukan pemeriksaan awal ke pelayanan kesehatan dapat dilihat
pada tabel 2. Diantara sembilan variabel, terdapat enam variabel yang ada hubungan
bermakna dengan keterlambatan penderita kanker payudara dalam melakukan pemeriksaan
awal ke pelayanan kesehatan yaitu tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, keterjangkauan
biaya, keterpaparan informasi/media massa, dukungan suami/keluarga, dan perilaku deteksi
dini. Variabel yang tidak bermakna yaitu riwayat kanker payudara pada keluarga,
keterjangkauan jarak, dan dukungan teman.