Anda di halaman 1dari 16

DAFTAR ISI

Hal

Sampul i

Daftar Isi ii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1
1.2 Tujuan Penulisan
2
1.3 Batasan Masalah
2
1.4 Metode Penulisan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
3
2.2 Etiologi
3
2.3 Epidemiologi
4
2.4 Patogenesis
4
2.5 Gejala Klinis
7
2.7 Diagnosis
8

BAB 3 PENUTUP 15

Daftar Pustaka 16
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman


Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis (TB) sampai dengan saat ini masih
merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di dunia walaupun upaya
penanggulangan TB telah dilaksanakan di banyak negara sejak tahun 1995.

Menurut laporan WHO tahun 2015, ditingkat global diperkirakan 9,6 juta kasus
TB baru dengan 3,2 juta kasus diantaranya adalah perempuan. Dengan 1,5 juta
kematian karena TB dimana 480.000 kasus adalah perempuan. Dari kasus TB
tersebut ditemukan 1,1 juta (12%) HIV positif dengan kematian 320.000 orang
(140.000 orang adalah perempuan) dan 480.000 TB Resistan Obat (TB-RO) dengan
kematian 190.000 orang.

Jumlah kasus TB di Indonesia menurut Laporan WHO tahun 2015, diperkirakan


ada 1 juta kasus TB baru pertahun (399 per 100.000 penduduk) dengan 100.000
kematian pertahun (41 per 100.000 penduduk). Diperkirakan 63.000 kasus TB dengan
HIV positif (25 per 100.000 penduduk). Secara nasional perkiraan prevalensi HIV
diantara pasien TB diperkirakan sebesar 6,2%. Jumlah kasus TB-RO diperkirakan
sebanyak 6700 kasus yang berasal dari 1,9% kasus TBRO dari kasus baru TB dan ada
12% kasus TB-RO dari TB dengan pengobatan ulang.

Diagnosis merupakan ujung tombak penatalaksanaan TB. Diagnosis yang akurat


akan diikuti oleh penatalaksanaan yang tepat. Dengan penatalaksanaan yang tepat,
angka morbiditas dan mortalitas akibat TB bisa ditekan, begitupun dapat mencegah
penularan angka TB. Kegagalan dalam menegakkan diagnosis TB secara dini dapat
meningkatkan derajat keparahan penyakit pasien dan lebih besarnya kemungkinan
penularan terhadap keluarga dan komunitas.

1
Dalam makalah ini, akan dibahas mengenai cara mendiagnosis TB secara tepat
dan komprehensif, sehingga penegakan dan deteksi dini kasus TB dapat berjalan
dengan baik serta dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat TB.

1.2 Tujuan Penulisan

Penulisan makalah workshop ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan


pengetahuan mengenai diagnosis TB

1.3 Batasan Masalah

Makalah ini membahas mengenai diagnosis TB

1.4 Metode Penulisan

Makalah ini dibuat dengan metode tinjauan pustaka dari berbagai sumber

2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Tuberkulosis

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman


Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman Mycobacterium tuberculosis
menyerang paru tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Penularan kuman
Mycobacterium tuberculosis melalui udara ketika seseorang yang terinfeksi kuman
TB bersin, batuk, dan berbicara.1

2.2 Etiologi Tuberkulosis

Mycobacterium tuberculosis merupakan suatu bakteri berbentuk basil non


spora berukuran 0.5-3 μm. Gram negatif dan bersifat tahan asam. Sifat tahan asamnya
disebabkan oleh banyaknya kandungan asam mikolik, asam lemak rantai panjang dan
beberapa unsur lemak lainnya. Asam mikolik tersebut terikat dalam struktur
arabinogalactan dan peptidoglikan yang menyebabkan permeabilitas dinding sel
bakteri sangat rapat sehingga menurunkan kerja antibiotik. Lipoarabinomannan juga
merupakan suatu struktur bakteri yang berperan dalam proses interaksi dan
pertahanan diri dalam makrofag. Oleh sebab itu bakteri ini dapat diwarnai dengan
carbol fuchsin dan dipanaskan. Mycobacterium tuberculosis biasanya ditemukan di
udara, tanah, bahkan air. Mycobacterium tuberculosis tumbuh lambat dan
berkembang biak dalam 18-24 jam. Mycobacteriun tuberculosis biasanya akan
tampak membentuk koloni dalam agar sekitar 2-5 minggu.2,3

Mycobacterium tuberculosis dan varian Mycobacterium lainnya tampak


serupa namun berbeda dalam tes biokimia. Mycobacterium bovis biasanya terdapat
pada susu basi dan varian Mycobacterium lainnya menyerang hewan pengerat.
Biasanya varian lain lebih sering ditemukan di Afrika.4

Kultur Agar yang biasa digunakan untuk kultur M. tuberculosis dapat berupa
kultur pada atau kultur cair yang may berbasis telur seperti Löwenstein–Jensen,
BACTEC, Middlebrook 7H10/ 7H11. Kultur M. Tuberculosis pada medium cair

3
tergolong lebih cepat. 4

2.3 Epidemiologi Tuberkulosis

Tuberkulosis (TB) sampai dengan saat ini masih merupakan salah satu
masalah kesehatan masyarakat di dunia walaupun upaya penanggulangan TB telah
dilaksanakan di banyak negara sejak tahun 1995.

Menurut laporan WHO tahun 2015, ditingkat global diperkirakan 9,6 juta
kasus TB baru dengan 3,2 juta kasus diantaranya adalah perempuan dan dengan 1,5
juta kematian karena TB dimana 480.000 kasus adalah perempuan. Dari kasus TB
tersebut ditemukan 1,1 juta (12%) HIV positif dengan kematian 320.000 orang
(140.000 orang adalah perempuan) dan 480.000 TB Resistan Obat (TB-RO) dengan
kematian 190.000 orang. Dari 9,6 juta kasus TB baru, diperkirakan 1 juta kasus TB
Anak (di bawah usia 15 tahun) dan 140.000 kematian/tahun.

Jumlah kasus TB di Indonesia menurut Laporan WHO tahun 2015,


diperkirakan ada 1 juta kasus TB baru pertahun (399 per 100.000 penduduk) dengan
100.000 kematian pertahun (41 per 100.000 penduduk). Diperkirakan 63.000 kasus
TB dengan HIV positif (25 per 100.000 penduduk). Angka Notifikasi Kasus (Case
Notification Rate/CNR) dari semua kasus, dilaporkan sebanyak 129 per 100.000
penduduk. Jumlah seluruh kasus 324.539 kasus, diantaranya 314.965 adalah kasus
baru. Secara nasional perkiraan prevalensi HIV diantara pasien TB diperkirakan
sebesar 6,2%. Jumlah kasus TB-RO diperkirakan sebanyak 6700 kasus yang berasal
dari 1,9% kasus TBRO dari kasus baru TB dan ada 12% kasus TB-RO dari TB
dengan pengobatan ulang.5

2.4 Patogenesis Tuberkulosis

M. tuberculosis ditularkan melalui udara dalam bentuk aerosolisasi ±3000


droplet nukleus berukuran 5-10 µm yang dapat dikeluarkan pada saat batuk, bersin
bahkan saat bercakap-cakap, terutama pada pasien dengan tuberkulosis saluran
pernapasan. Droplet tersebut mengering dengan cepat, bertahan di udara selama
beberapa jam dan masuk kedalam saluran nafas. Selain melalui udara, penularan

4
melalui kulit dan plasenta juga dapat terjadi walaupun sangat tidak umum. Resiko
terjangkitnya M. Tuberculosis tergantung pada jumlah M. Tuberculosis yang masih
bertahan hidup di udara. Penularan secara outdoor biasanya lebih rendah daripada
diruangan tertutup dimana pertukaran udara diluar ruangan berlangsung baik dan
ekspose trehadap sinar ultraviolet jauh lebih tinggi. Penularan juga dapat terjadi
melalui alat-alat intervensi seperti bronchoscopy atau intubasi endotracheal. Selain
melalui udara, penularan juga dapat terjadi melalui abses yang mengandung M.
Tuberculosis. Faktor yang mempengaruhi kerentanan tertularnya Mycobacterium
tuberculosis adalah lamanya kontak dengan penderita, dan derajat keparahan
penyakit. Pasien dengan smear negatif cenderung lebih aman terutama pasien dengan
TB ekstra paru.2,4

Dropet nukleus cukup kecil untuk masuk kedalam saluran nafas dan mampu
bertahan dari proses filtrasi di saluran nafas atas. Sekali terhirup, droplet nukleus
dapat mencapai alveoli untuk melakukan invasi dan menimbulkan infeksi. Pada
sekitar 5 % pasien yang terinfeksi, M. Tuberculosis mampu berkembang biak dalam
jangka waktu mingguan hingga bulanan dan dapat memberikan pembesaran
limfonodus perihilar dan peritracheal serta dapat memberikan gambaran pneumonia
lobaris dan merangsang terjadinya reaksi serosa serta efusi pleura. 2,4

M. tuberculosis kemudian ditelan oleh makrofag alveolar melalui proses


introduksi yang melibatkan aktivasi komplemen C3b. Liporabinomannan yang
terdapat dalam dinding M. Tuberculosis mampu menghambat peningkatan ion Ca2+
yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada jalur calmodulin yang akan
menimbulkan gangguan fusi phagosom dan lisosom sehingga tidak ada percampuran
antara bakteri dengan lisosom yang menyebabkan bakteri dapat bertahan dan
berkembang biak didalam makrofag. Selain itu faktor yang dapat mendukung
pertumbuhan M. Tuberculosis didalam makrofag adalah adanya gen protektif antara
lain katG yang memproduksi enzim katalase/peroksidase yang dapat melindungi
M.tuberkulosis dari proses oksidatif, gen rpoV yang merupakan gen “induk” dari
beberapa protein penting M. Tuberculosis. Dua gen ini merupakan gen yang penting

5
dalam proses virulensi M. Tuberculosis. Selain itu gen lain seperti erp membantu
proses pembentukan protein untuk multiplikasi. 2,4

Makrofag yang terinfeksi mengeluarkan sitokin seperti TNF α dan IL-1 serta
sitokin lainnya untuk merangsang Monosit dan Limfosit T terutama CD4+ yang akan
membentuk IFN γ yang akan mengaktivasi makrofag lainnya. Proses ini dikenal
sebagai Macrophage Activating response sedangkan sel CD4+ Th2 akan
memproduksi IL 4, IL 5, IL 10 dan IL 13 dan merangsang sistem imun humoral. Sel
Dendritik juga berperan dalam mempresentasikan antigen dan merangsang proses
imun lebih jauh didalam limfonodus. Tahapan ini dikenal sebagai proses Cell
Mediated Immunity. Pada tahapan ini pasien dapat menunjukkan gambaran delayed-
type-hypersensitivity terhadap protein tuberkulin. Reaksi ini dapat timbul 48-96 jam
setelah injeksi tuberkulin dan bertahan hingga 6 minggu namun sekitar 20 % pasien
tidak bereaksi terhadap tes tuberkulin. 2,4

Pada jaringan, Makrofag tersebut dapat membentuk sel raksasa berinti banyak
dan akan membentuk granuloma yang dikelilingi oleh limfosit dan makrofag yang
teraktifasi. Pada granuloma, pertumbuhan M. Tuberculosis dapat terhambat karena
lingkungan yang rendah oksigen dan derajat keasaman yang rendah. Ketika
mengalami proses penyembuhan dapat terbentuk fibrosis. Proses ini dikenal sebagai
Tissue Damaging Reponse. Dalam jangka waktu tahunan, granuloma dapat meluas
dan membentuk kalsifikasi dan akan tampak dalam gambaran radiologi sebagai
densitas radioopaque pada lapangan paru atas, apex paru (fokus Simon), atau
limfonodus perihilar. Focus granuloma juga dapat ditemukan pada jaringan lainnya
tergantung seberapa luas penyebaran M. Tuberculosis.2,4

Pada kasus tertentu, pada pusat lesi, material kaseosa mencair, dinding
bronchial dan pembuluh darah menjadi rusak dan terbentuklah kavitas. Pada materi
caseosa yang mencair terdapat basil M. Tuberculosis dalam jumlah besar yang dapat
menyebar ke jaringan paru lainnya dan dapat keluar saluran nafas melalui batuk dan
berbicara. 1,2,4

Bila tidak timbul penyakit, maka telah terjadi keseimbangan antara sistem

6
imun dan reaksi patologis dari M. Tuberculosis. Faktor yang dapat menimbulkan
terjadinya aktivasi M. Tuberculosis adalah kekuatan sistem imun. Sekitar 10% pasien
dengan imunokompeten biasanya akan menderita tuberculosis. 2,4

Pada pasien dengan infeksi laten, infeksi dapat teraktivasi dalam jangka waktu
beberapa tahun, aktivasi dapat terjadi pada hampir semua jaringan karena M.
Tuberculosis menyebar secara limfogen. Lokasi tertentu yang lebih sering terjadi
reaktivasi adalah jaringan paru. Rekativasi muncul pada fokus granuloma terutama
pada apeks paru. Fokus kaseosa yang besar dapat membentuk kavitas pada parenkim
paru. 2,4

Semakin banyak jumlah basil M. Tuberculosis yang ditularkan maka semakin


infeksius. Hal ini dapat dilihat dari jumlah M. Tuberculosis pada sediaan tahan asam.
M. tuberculosis dapat dideteksi pada sputum yang mengandung sedikitnya 104 M.
Tuberculosis. Pada pasien dengan TB paru berkavitas biasanya lebih infeksius.2

2.5 Manifetasi Klinis

Gejala yang muncul awalnya bersifat non spesifik, biasanya ditandai dengan
demam baik subfebris hingga febris dan keringat malam, berat badan yang menurun,
anoreksia, dan merasa lemas. Pada 80 % kasus ditemukan demam dan tidak adanya
demam bukan berati tuberculosis dapat dihilangkan. Dalam sebagian besar kasus,
batuk non produktif biasanya muncul minimal selama 2 minggu dan selanjutnya
diikuti oleh batuk produktif dengan sputum yang purulen bahkan diikuti bercak
darah. Hemoptisis yang masif biasanya muncul sebagai destruksi pembuluh darah
pada kavitas terutama pembuluh darah yang berdilatasi pada dinding kavitas
(Rasmussen's aneurysm). Nyeri dada biasa juga dirasakan terutama pada pasien
dengan lesi pada pleura. Lebih lanjut biasanya pasien akan sesak nafas dan diikuti
dengan adult respiratory distress syndrome (ARDS). 2,3,4

Temuan pemeriksaan fisis cukup terbatas pada TB paru. Terkadang


abnormalitas tidak ditemukan pada pemeriksaan thorax. Bunyhi ronkhi biasa
ditemukan terutama karena peningkatan produksi sputum. Bunyi wheezing juga

7
terkadang ditemukan akibat obstruksi parsial bronkus dan bunyi amphoric klasik pada
kavitas. Terkadang bunyi pernafasan terdengar redup yang berarti menunjukkan ada
proses abnormalitas yang cukup parah sebagai komplikasi dari infeksi tuberculosis.
Pada keadaan tertentu pasien juga dapat menunjukkan wajah yang pucat serta
clubbing finger. 3.

2.6 Diagnosis

Diagnosis TB ditetapkan berdasarkan keluhan, hasil anamnesis, pemeriksaan


klinis, pemeriksaan labotarorium dan pemeriksaan penunjang lainnya.

1. Keluhan dan hasil anamnesis meliputi:

a. Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2 minggu atau
lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur
darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat
badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam
meriang lebih dari satu bulan. Pada pasien dengan HIV positif, batuk sering
kali bukan merupakan gejala TB yang khas, sehingga gejala batuk tidak harus
selalu selama 2 minggu atau lebih.

b. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain
TB, seperti bronkiektasis, bronchitis kronis, asma, kanker paru, dan lain-lain.
Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap
orang yang datang ke fasyankes dengan gejala tersebut diatas, dianggap
sebagai seorang terduga pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak
secara mikroskopis langsung.

c. Selain gejala tersebut, perlu dipertimbangkan pemeriksaan pada orang dengan


faktor risiko, seperti : kontak erat dengan pasien TB, tinggal di daerah padat
penduduk, wilayah kumuh, daerah pengungsian, dan orang yang bekerja
dengan bahan kimia yang berrisiko menimbulkan paparan infeksi paru.5

2. Pemeriksaan fisik

8
Pada pemeriksaan jasmani gejala yang ditemukan tergantung pada organ yang
terlibat. Pada tuberkulosis paru umumnya terletak pada lobus superior terutama
daerah apeks dan segmen posterior serta daerah apeks lobus inferior. Pada
pemeriksaan ditemukan antara lain : suara napas bronkial, amforik,melemah, ronki
basah, tanda-tanda penarikan paru, diafragma, dan mediastinum. Bila terjadi
sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan
kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara "mengi", suara nafas
melemah yang disertai sesak.3
3. Pemeriksaan Bakteriologis
a. Pemeriksaan dahak mikroskopis langsung
Pemeriksaan dahak selain berfungsi untuk menegakkan diagnosis, juga untuk
menentukan potensi penularan dan menilai keberhasilan pengobatan. Pemeriksaan
dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 2 contoh uji
dahak yang dikumpulkan berupa dahak Sewaktu-Pagi (SP):
1) S (Sewaktu): dahak ditampung di fasyankes.
2) P (Pagi): dahak ditampung pada pagi segera setelah bangun tidur. Dapat
dilakukan dirumah pasien atau di bangsal rawat inap bilamana pasien
menjalani rawat inap.
b. Pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) TB
Pemeriksaan tes cepat molekuler dengan metode Xpert MTB/RIF. TCM
merupakan sarana untuk penegakan diagnosis, namun tidak dapat dimanfaatkan untuk
evaluasi hasil pengobatan.
c. Pemeriksaan Biakan
Pemeriksaan biakan dapat dilakukan dengan media padat (Lowenstein-Jensen)
dan media cair (Mycobacteria Growth Indicator Tube) untuk identifikasi
Mycobacterium tuberkulosis (M.tb).5

4. Rontgen Thoraks

Pemeriksaan foto thoraks PA merupakan pemeriksaan yang rutin dilakukan untuk


evaluasi tuberkulosis paru. Gambaran yang biasanya muncul adalah bercak infiltrat
terutama kavitas yang biasanya dapat ditemukan pada 19% hingga 50%. Gambaran
lainnya yang biasa muncul adalah infiltrat lobus dan interstitial serta limfadenopati.
Pada segmen apeks paru biasa ditemukan gambaran densitas radiopak yang

9
menandakan terbentuknya fibronodular. Pada tahap lanjut lesi ini dapat menjadi
kavitas dengan gambaran radiologi kavitas yang berdinding tipis. Pada TB paru
rekativasi, daerah yang paling sering tampak kelainan yakni, apeks dan segmen
posterior lobus kanan, apeks dan segmen posterior lobus kiri, dan segemen superior
lobus bawah Lesi pada daerah ini lebih sering terlihat pada pasien dengan diabetes.
Efusi pleura pada tuberculosis paru tahap dini juga dapat terlihat terutama pada
perkembangan penyakit yang progresif. 6

10
Prinsip penegakan diagnosis TB

Diagnosis TB Paru pada orang dewasa harus ditegakkan terlebih dahulu dengan
pemeriksaan bakteriologis. Pemeriksaan bakteriologis yang dimaksud adalah
pemeriksaan mikroskopis, tes cepat molekuler TB dan biakan. Pemeriksaan TCM
digunakan untuk penegakan diagnosis TB, sedangkan pemantauan kemajuan
pengobatan tetap dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopis.

Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks


saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang spesifik pada TB paru,
sehingga dapat menyebabkan terjadi overdiagnosis ataupun underdiagnosis. Tidak
dibenarkan mendiagnosis TB dengan pemeriksaan serologis.5

a. Faskes yang mempunyai Alat Tes Cepat Molukuler (TCM) TB

Faskes yang mempunyai akses pemeriksaan TCM, penegakan diagnosis TB pada


terduga TB dilakukan dengan pemeriksaan TCM. Pada kondisi dimana pemeriksaan
TCM tidak memungkinkan (misalnya alat TCM melampui kapasitas pemeriksaan,
alat TCM mengalami kerusakan, dll), penegakan diagnosis TB dilakukan dengan
pemeriksaan mikroskopis.

Jika terduga TB adalah kelompok terduga TB RO dan terduga TB dengan HIV


positif, harus tetap diupayakan untuk dilakukan penegakan diagnosis TB dengan
TCM TB, dengan cara melakukan rujukan ke layanan tes cepat molekuler terdekat,
baik dengan cara rujukan pasien atau rujukan contoh uji.

Jumlah contoh uji dahak yang diperlukan untuk pemeriksaan TCM sebanyak 2
(dua) dengan kualitas yang bagus. Satu contoh uji untuk diperiksa TCM, satu contoh
uji untuk disimpan sementara dan akan diperiksa jika diperlukan (misalnya pada hasil
indeterminate, pada hasil Rif Resistan pada terduga TB yang bukan kriteria terduga
TB RO, pada hasil Rif Resistan untuk selanjutnya dahak dikirim ke Laboratorium
LPA untuk pemeriksaan uji kepekaan Lini- 2 dengan metode cepat)

11
Contoh uji non-dahak yang dapat diperiksa dengan MTB/RIF terdiri atas cairan
serebrospinal (Cerebro Spinal Fluid/CSF), jaringan biopsi, bilasan lambung (gastric
lavage), dan aspirasi cairan lambung (gastric aspirate).

Pasien dengan hasil Mtb Resistan Rifampisin tetapi bukan berasal dari kriteria
terduga TB RO harus dilakukan pemeriksaan TCM ulang. Jika terdapat perbedaan
hasil, maka hasil pemeriksaan TCM yang terakhir yang menjadi acuan tindakan
selanjutnya.

Jika hasil TCM indeterminate, lakukan pemeriksaan TCM ulang. Jika hasil tetap
sama, berikan pengobatan TB Lini 1, lakukan biakan dan uji kepekaan.

Pengobatan standar TB MDR segera diberikan kepada semua pasien TB RR,


tanpa menunggu hasil pemeriksaan uji kepekaan OAT lini 1 dan lini 2 keluar. Jika
hasil resistensi menunjukkan MDR, lanjutkan pengobatan TB MDR. Bila ada
tambahan resistensi terhadap OAT lainnya, pengobatan harus disesuaikan dengan
hasil uji kepekaan OAT.

Pemeriksaan uji kepekaan menggunakan metode LPA (Line Probe Assay) Lini-2
atau dengan metode konvensional.

Pengobatan TB pre XDR/ TB XDR menggunakan paduan standar TB pre XDR


atau TB XDR atau menggunakan paduan obat baru.

Pasien dengan hasil TCM M.tb negatif, lakukan pemeriksaan foto toraks. Jika
gambaran foto toraks mendukung TB dan atas pertimbangan dokter, pasien dapat
didiagnosis sebagai pasien TB terkonfirmasi klinis. Jika gambaran foto toraks tidak
mendukung TB kemungkinan bukan TB, dicari kemungkinan penyebab lain.5

b. Faskes yang tidak mempunyai Alat Tes Cepat Molukuler (TCM) TB

Faskes yang tidak mempunyai alat TCM dan kesulitan mengakses TCM,
penegakan diagnosis TB tetap menggunakan mikroskop.

Jumlah contoh uji dahak untuk pemeriksaan mikroskop sebanyak 2 (dua) dengan
kualitas yang bagus. Contoh uji dapat berasal dari dahak Sewaktu-Sewaktu atau

12
Sewaktu-Pagi. BTA (+) adalah jika salah satu atau kedua contoh uji dahak
menunjukkan hasil pemeriksaan BTA positif. Pasien yang menunjukkan hasil BTA
(+) pada pemeriksaan dahak pertama, pasien dapat segera ditegakkan sebagai pasien
dengan BTA (+). BTA (-) adalah jika kedua contoh uji dahak menunjukkan hasil BTA
negatif. Apabila pemeriksaan secara mikroskopis hasilnya negatif, maka penegakan
diagnosis TB dapat dilakukan secara klinis menggunakan hasil pemeriksaan klinis
dan penunjang (setidak-tidaknya pemeriksaan foto toraks) yang sesuai dan ditetapkan
oleh dokter. Apabila pemeriksaan secara mikroskopis hasilnya

negatif dan tidak memilki akses rujukan (radiologi/TCM/biakan) maka dilakukan


pemberian terapi antibiotika spektrum luas (Non OAT dan Non kuinolon) terlebih
dahulu selama 1-2 minggu. Jika tidak ada perbaikan klinis setelah pemberian
antibiotik, pasien perlu dikaji faktor risiko TB. Pasien dengan faktor risiko TB tinggi
maka pasien dapat didiagnosis sebagai TB Klinis. Faktor risiko TB yang dimaksud
antara lain:

a) Terbukti ada kontak dengan pasien TB

b) Ada penyakit komorbid: HIV, DM

c) Tinggal di wilayah berisiko TB: Lapas/Rutan, tempat penampungan


pengungsi, daerah kumuh, dll.5

13
BAB 3
KENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pasien yang datang dengan gejala batuk 2-3 minggu dan gejala-gejala lain yang
ditemukan dalam anamnesis dan pemeriksaan fisik yang merupakan gejala-gejala
khas pada tuberkulosis dapat dicurigai sebagai tuberkulosis dan harus segera
dievaluasi melalui pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan bakteriologis ataupun
pemeriksaan radiologi. Penemuan Mycobacterium tuberculosis dalam pemeriksaan
bakterilogis merupakan baku emas penegakan diagnosis TB. Pasien dengan klinis dan
Rontgen yang juga menunjukkan TB namun pemeriksaan bakteriologis didapatkan
MTB negatif, diagnosis TB tetap dapat ditegakkan sebagai TB terdiagnosis klinis.

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Darmanto D. Respirologi (Respiratory Medicine). Jakarta: EGC; 2009.


2. Iseman, Michael D. Chapter 345 Tuberculosis in: Goldman, Lee. Ausiello,
Dennis. Cecil medicine 23rd edition. Philadelphia: Elsevier Saunders. 2008.
3. Baliga, Ragavendra. Hough, Rachel. Haq, Iftikhar. Crash course internal
medicine. United Kingdom: Elsevier Mosby. 2007.
4. Fitzpatrick, Lisa K. Braden, Christopher. Chapter 294 Tuberculosis in: Humes,
David. Dupont, Herbert L. Kelley textbook of medicine USA: Lippincott
Williams & Wilkins 2000.
5. Kementrian Kesehatan RI. 2016. Penaggulangan TB. Jakarta.
6. Eastman et all. Getting started in clinical radiology from image to diagnosis.
Germany:Thieme. 2006

15