Anda di halaman 1dari 13

Diklat Teknisi Bengkel

PENGELOLAAN AKTIVITAS BENGKEL


( Penataan dan Pemakaian Peralatan serta Pemeliharaan dan Perbaikan Peralatan )

A. KONSEP 5S DALAM PENGELOLAAN BENGKEL/LABORATORIUM


Istilah “5S” sangat sering kita dengar terutama bagi mereka yang berprofesi sebagai karyawan
industri manufaktur. Secara harfiah “5S” berasal dari 5 kata dalam bahasa jepang yaitu, Seiri,
Seiton, Seisou, Seiketsu, dan Shitsuke. Jika kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia ia akan
menjadi Pemilahan, Penataan, Pembersihan, Pembiasaan, Pendisiplinan. Sehingga dalam
beberapa pabrik, kosa kata 5S ini sudah diubah ke dalam bahasa Indonesia menjadi “5P” atau
dalam konteks lain ia berubah menjadi 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin) walaupun
untuk yang terakhir ini terkesan sedikit memaksa, tetapi masih memiliki semangat yang sama
dengan 5S.

Secara umum orang mengenal 5S sebagai sebuah cara atau filosofi yang merupakan cara me-
manage, cara mengelola area kerja baik dari pola kerja yang efisien dan efektif, pola melakukan
perbaikan terus-menerus dengan mengikis segala bentuk pemborosan, memperbaiki alur kerja,
serta memangkas proses-proses yang tidak perlu dan tidak rasional, selain itu 5S juga
mengajarkan kepada kita tentang pola kedisiplinan yang tidak pernah mengenal lelah apalagi
menyerah.

Semangat 5S dan sekaligus target sasaran 5S adalah perubahan moralitas kerja ketika kita berada
diarea kerja kita, keselamatan kerja, dan efisiensi dalam setiap hal pekerjaan yang kita lakukan.
Sebab dengan pelaksanaan 5S, kita bisa dengan mudah melihat perbedaan setiap jenis barang di
tempat dan lokasi yang berbeda pula, lebih mudah mengakses dan menemukan sesuatu yang
kita cari karena petunjuk lokasi dan tempat yang sudah jelas, lebih hemat waktu dalam
mengerjakan sesuatu karena petunjuk yang jelas dan standar kerja yang sudah baku disesuaikan
dengan kebutuhan kerja, lebih merasa aman dan nyaman dalam bekerja karena semua karyawan
telah melakukan hal yang sama dan standar.

Berikut ini secara singkat pengertian satu persatu dari 5 kata S di atas.
a. Seiri (Pemilahan)
Pastikan setiap barang yang berbeda jenis dan keperluannya terpisah. Tidak
mencampurkan jenis produk yang sama dalam satu keranjang atau karton box yang sama
sebab hal ini berpotensi terkirim sampai ke pelanggan. Pisahkan pula produk yang
dinyatakan “OK” dengan produk yang dinyatakan “BS” demikian juga dengan produk yang
belum diperiksa, semuanya harus benar-benar jelas memiliki tanda dan terpisah. Pastikan
tools, alat-alat yang bisasa digunakan untuk bekerja tidak tercampur dengan alat-alat yang
sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi.

b. Seiton (Penataan)
Setelah kita memilah barang yang berbeda jenis, berbeda keperluannya, dan berbeda
tujuan, maka langkah berikutnya adalah menata setiap barang tersebut dengan
pemberian identitas yang jelas agar benar-benar tidak tercampur, menatanya dengan pola
penyimpanan yang rapi, dari warna box yang dibedakan, misalnya warna biru untuk box
produk “OK” warna merah untuk produk “BS” dan warna kuning untuk produk yang belum
diperiksa. Atau kita tata alat ukur yang biasa digunakan di lapangan produksi dengan
gelang berwarna untuk setiap periode kalibrasi yang kita tetapkan, misalnya gelang kuning
untuk alat ukur yang sudah dikalibrasi pada periode semester genap dan gelang warna
hijau untuk alat ukur yang dikalibrasi pada periode semester ganjil. Jika masa kerja kita
telah memasuki semester ganjil sementara masih ada alat ukur yang menggunakan gelang

pppptk bmti 2016 1


Diklat Teknisi Bengkel

warna kuning, maka hal ini dengan mudah bisa dideteksi dan segera dilakukan perbaikan
dengan melakukan kalibrasi atas alat ukur tersebut.

c. Seisou (Pembersihan)
Aktifitas bersih-bersih bukanlah merupakan aktifitas khusus dalam pekerjaan kita,
melainkan menyatu dengan keseharian jadwal kerja. Dengan seisou, kita pastikan bahwa
area kerja kita tetap bersih setelah pekerjaan selesai sama seperti ketika memulai
pekerjaan, hal ini bertujuan agar jika terjadi kesalahan atau hal-hal aneh selama bekerja
bisa terdeteksi pada saat akhir bekerja, misalnya setiap selesai bekerja semua tools
dikembalikan ke kotaknya dan dibersihkan dari kotoran jika ditemukan tools yang sudah
rompal dan tidak bisa digunakan, maka dengan segera kita tahu bahwa tools yang
dimaksud harus diganti. Selanjutnya perlu segera dilakukan order untuk penjagaan level
stock. Dalam hal lain, kita bersihkan meja kerja kita setiap selesai pekerjaan,
mengembalikan file-file yang digunakan kepada tempatnya dimana kita pertama kali
mengambil. Merapikan meja kerja dan sekelilingnya dari kerja dari dokumen-dokumen
yang berceceran dan sampah-sampah lain lalu membuang sampah ke tong sampah dan
menyimpan dokumen pada tray dokumen sesuai kebutuhannya. Kegiatan ini menyatu
dalam keseharian jadwal kerja kita kapanpun dan dimanapun. Jika hal ini dilakukan maka
dengan mudah kita bisa menemukan dokumen yang kita perlukan karena tinggal
mengambil di tempat yang sudah ditetapkan bersama, demikian pula halnya dengan tools
yang kita butuhkan akan selalu pasti tersedia dalam level stock yang aman untuk
digunakan dan dalam kondisi yang bisa pakai. Dalam keseharian habits orang jepang
sering kita dengar istilah junbi (Ed: jumbi: persiapan) dan katazuke (rapi-rapi) setiap
mereka selesai bekerja, hal ini tidak lain adalah proses seisou yang telah menjadi karakter
pribadi setiap orang jepang. Dalam kondisi normal, mereka tidak akan mungkin
meninggalkan meja kerjanya berantakan tanpa berusaha melakukan katazuke sebelum
meninggalkan tempat kerjanya

d. Seiketsu (Pembiasaan)
Istilah seiketsu ini sering kali diterjemahkan sebagai pembiasaan walaupun maknanya
lebih dekat pada Standarisasi. Bahwa setiap kita dituntut untuk melaksanakan 3S di atas
dalam proses sehari-hari, bukan lagi sebagai aktifitas dadakan yang menyita waktu dan
energi tetapi tidak memberikan dampak berarti dalam pekerjaan. Rangkaian aktifitas 4S
dilaksanakan dengan konsisten dalam keseharian kerja kita, dilaksanakan oleh semua
orang tanpa kecuali sebagai sebuah standar baku yang menyatu dengan pekerjaan inti.

e. Shitsuke (Pendisiplinan)
Ini adalah fase terakhir dari rangkaian “Pilah-Tata-Bersihkan-Biasakan”. Penetapan
pendisiplinan diri merujuk pada proses panjang yang berkelanjutan. Maka Seiketsu sebagai
S ke-5 menjadi penyempurnaan dari 4S sebelumnya. Pada konsep pendisiplinan ini
diharapkan pula bukan sekedar mempertahankan kondisi yang ada tetap rapih, bersih, dan
standar saja melainkan perlu ada perbaikan berkelanjutan tanpa perubahan berhenti
berinovasi. Sebab hanya dengan cara itulah perusahaan dapat mempertahankan
kondisinya untuk tetap survive ditengah era persaingan global saat ini.

Tabel berikut menjelaskan tentang 5S tersebut.


JEPANG INDONESIA PENGERTIAN
PILAH yang diperlukan dengan yang tidak diperlukan
PILAH barang yang OK (Bisa Pakai) dengan NG (Tidak
SEIRI PEMILAHAN
bisa pakai)
PILAH setiap barang yang berbeda jenisnya
pppptk bmti 2016 2
Diklat Teknisi Bengkel

TATA setiap barang agar mudah dicari


SEITON PENATAAN TATA setiap barang sesuai keperluannya
TATA setiap barang agar indah dilihat
BERSIH-kan tempat kerjamu agar jika ada hal aneh
mudah dideteksi
SEISOU PEMBERSIHAN
BERSIH-kan setiap barang agar selalu terawat
BERSIH-kan sekelilingmu agar tetap BERSIH
BIASA-kan dirimu bekerja sesuai STANDAR
SEIKETSU PEMBIASAAN BIASA berlaku benar adalah STANDAR
BIASA berbuat sesuai STANDAR adalah BENAR
DISIPLIN-kan Kebiasaan 3S pada keseharianmu
SHITSUKE PENDISIPLINAN DISIPLIN-kan Kebiasaan baik agar menjadi KARAKTER
DISIPLIN-kan Berperilaku sesuai Standard

B. PENATAAN DAN PEMAKAIAN PERALATAN


1. Penataan Peralatan Mesin”Stationer”
Peralatan mesin yang bersifat “stationer”, langsung ditempatkan di area kerja bengkel (work
stations), karena peralatan ini cenderung bersifat sebagai working station bagi siswa dalam
mempelajari suatu kompetensi. Untuk itu penataan atau tata letak peralatan ini (lay out)
perlu diatur sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik.

Tata Letak (Lay-Out) peralatan adalah suatu bentuk usaha pengaturan penempatan peralatan
di bengkel/laboratorium, sehingga bengkel/laboratorium tersebut berwujud dan memenuhi
persyaratan-persyaratan untuk beroperasi. Kata pengaturan dalam kalimat di atas
mengandung makna yang sangat luas, yaitu bahwa dalam mewujudkan suatu
bengkel/laboratorium yang layak operasi diperlukan penempatan peralatan yang tersusun
rapih yang berdasar kepada proses dan langkah-langkah penggunaan / aktifitas dalam
bengkel/laboratorium yang diharapkan, begitu pula dengan daerah kerja (work stations)
harus memiliki luas yang memungkinkan pekerja/operator dapat bergerak bebas, aman dan
nyaman, di samping lalu lintas bahan yang akan digunakan dapat sampai ke tempat kerja
dengan mudah/lancar.

Tata letak (lay out) peralatan di bengkel bertujuan untuk mendapatkan suatu keuntungan
yang maksimal dengan cara mengatur peralatan/penempatan semua fasilitas pada
tempat/lokasi yang strategis dan posisi yang terbaik sehingga dapat mencapai pemanfaatan
yang berimbang dari faktor-faktor manusia, bahan, peralatan/mesin dan pendanaan akan
merupakan sesuatu yang sangat dominan dan selalu harus menjadi perhatian dalam
menyelenggarakan suatu kegiatan, tidak terkecuali dalam kegiatan penataan dengan maksud
agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Dengan perkataan lain bahwa penataan
peralatan dalam bengkel, laboratorium merupakan suatu usaha untuk meningkatkan
kelancaran di dalam berproduksi dalam hal ini adalah kelancaran kegiatan belajar mengajar.

Lebih terinci lagi bahwa penataan memiliki tujuan sebagai berikut :


a. Mengurangi hambatan dalam upaya melaksanakan suatu pekerjaan yang menjadi
tanggung jawabnya
b. Memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pekerja/operator
c. Memaksimalkan penggunaan peralatan
d. Memberikan hasil yang maksimal dengan pendanaan yang minimal
e. Mempermudah pengawasan

pppptk bmti 2016 3


Diklat Teknisi Bengkel

Banyak diantara para pengelola bengkel/laboratorium yang melaksanakan penataan


bengkelnya di sekolah, mengabaikan prinsip – prinsip penting penataan bengkel, dan
menganggapnya tidak begitu penting untuk diperhatikan. Beberapa prinsip penataan yang
sering terabaikan diantaranya :
a. Anak – anak yang melakukan kegiatan sama sekali jangan diberikan keleluasaan
mencampuri kegiatan anak yang lainnya yang juga sedang melaksanakan kegiatan,
terkecuali diinstruksikan oleh guru prakteknya seperti kerja berkelompok.
b. Alur lalu lintas di dalam bengkel harus ditentukan sejalan dengan pelaksanaan
perencanaan tata letak peralatan.
c. Peralatan harus disusun dan diatur dengan berpedoman pada aturan- aturan
keselamatan/kesehatan kerja dan dapat memperlancar lalu lintas barang.
d. Daerah bengkel/laboratorium yang gelap dapat digunakan, tapi hanya untuk tujuan-
tujuan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar praktek/materi
pelajaran praktek.

Prinsip pertama dengan prinsip yang kedua sangat erat hubungannya, mungkin dapat
direncanakan secara bersamaan. Berikut ini akan dijelaskan prinsip pengaturan daerah kerja
dan lalulintas atau biasa disebut work station (daerah kerja) dan garis kerja. Peralatan yang
ditata di bengkel, laboratorium meliputi alat-alat utama, alat-alat kelengkapan, alat-alat
penunjang, bahan praktek dan sebagainya. Penyusunan tata letak peralatan tidak ada
ketentuan yang baku, tapi disarankan agar hal-hal berikut diperhatikan :
 Memberikan kemudahan untuk bergerak
 Menjamin keselamatan kerja
 Mempertimbangkan alur atau proses produksi atau pengerjaan produk
 Memberikan peluang untuk pemeliharaan
 Memanfaatkan penerangan alami semaksimal mungkin
 Peralatan atau mesin terlihat rapi dalam penataan letak peralatan atau mesin ada
beberapa sistem antara lain penataan berdasarkan alur proses kerja atau pengerjaan
suatu jenis pearalatan
 Penataan berdasarkan jenis, ukuran, maupun keseragaman peralatan

Disamping itu penempatan ruang alat (tool room) agar mudah dan dekat dijangkau dari
segala penjuru bengkel, laboratorium , misalnya tool room agak ditengah-tengah bengkel,
laboratorium, demikian juga gudang bahan perlu ditempatkan dilokasi yang aman tetapi
mudah dijangkau.

2. Penataan Peralatan Tangan dan Mesin ”Portable”


Pada dasarnya semua peralatan yang ada di bengkel/laboratorium adalah milik negara /
milik yayasan yang dipercayakan ke sekolah untuk dikelola dan dipergunakan sesuai dengan
program yang telah dibakukan, di dalam hal ini kegiatan belajar mengajar.
Oleh karena peralatan/mesin-mesin itu harta negara maka keberadaannya harus
dipertanggungjawabkan dan dikelola sesuai dengan aturan atau kebijakan yang berlaku.

Berdasarkan hal di atas maka sebagai pengelola laboratorium dituntut untuk selalu
mengetahui dengan pasti semua peralatan, yang berada dalam tanggung jawabnya tanpa
harus melihat dulu dokumen -dokumennya terutama peralatan portable dan peralatan multi
fungsi yang dalam pemakainnya bisa dipindah-pindah, sesuai keinginan si pemakai. Agar
semua peralatan mudah didteksi banyak cara yang dapat dilakukan. Salah satu diantaranya
ialah dengan menata semua peralatan pada tempat-tempat tertentu, dengan prinsip :
 Mudah dilihat
 Mudah dijangkau

pppptk bmti 2016 4


Diklat Teknisi Bengkel

 Aman untuk alatnya


 Aman untuk pemakainya

Dengan berpegang kepada prinsip – prinsip penyimpanan peralatan sebagaimana


dikemukankan sebelumnya, ada berbagai cara dapat dilakukan dalam penataan atau
penempatan peralatan di bengkel/laboratorium, khususnya peralatan tangan danb mesin
portable, yaitu:
a. Peralatan ditempatkan, ditata dalam satu ruang khusus, biasa disebut tool room,
penataannya dapat dilakukan dengan menggunakan panel, rak, lemari besi, shadow
board.
b. Peralatan disimpan dan ditata di dalam kabinet. Kabinet ditempatkan didalam maupun
di luar tool room.
c. Peralatan disimpan dan ditata di dalam kabinet. Kabinet ditempatkan didalam atau
diluar tool room.
d. Lemari khusus yang dapat diatur temperaturnya.

Disamping cara penataan di atas, ada beberapa hal yang perlu juga diperhatikan bagi
pengelola peralatan di bengkel/laboratorium :
a. Semua peralatan dipusatkan di suatu ruang dan semua siswa tahu kemana mereka
harus mencari untuk mendapatkannya.
b. Bengkel, laboratorium/ tempat alat harus selalu dikunci, tetapi jangan sampai kuncinya
hilang/ lupa sehingga terpaksa harus didobrak.
c. Setiap pelajaran praktek bengkel, perlu ditunjuk salah satu siswa secara bergantian
sesuai (dengan jadwal pembagian tugas) untuk menjadi toolman, yang diberi tanggung
jawab melayani dan pengembalian alat sehingga selesai jam praktek.
d. Dalam situasi sehari –hari , ruang alat juga berfungsi melindungi peralatan yang
dipinjam secara tidak sah oleh staf laboratorium (staf pemeliharaan).
e. Ruang alat hanya digunakan untuk keperluan kegiatan belejar mengajar praktek.
f. Pengecekan extra perlu dilakukan untuk peralatan khusus yang dilakukan sewaktu –
waktu , untuk pekerjaan tertentu seperti alat – alat instrumen.
g. Bila diperlukan dapat mengangkat orang seperti penjaga ruang yang bertanggung
jawab tidak hanya dalam hal pelayanan keluar masuk peralatan tetapi juga untuk
perawatan.
h. Sebaiknya peralatan ditata secara kelompok menurut jenis dan fungsinya.
i. Brosur – brosur atau katalog sebaiknya disimpan baik diruang alat pada tempat khusus.

3. Pemakaian Peralatan
Salah satu prinsip pokok dari keberadaan peralatan di bengkel/laboratorium sekolah, dimana
peralatan tersebut harus siap atau dapat digunakan pada saat diperlukan dalam proses
pembelajaran. Pemakai utama dari peralatan ini adalah siswa dan guru yang sedang
melaksanakan proses pembelajaran. Namun juga tidak tertutup kemungkinan bahwa
peralatan tersebut juga dipakai oleh siswa dan guru atau pihak lain diluar jam proses
pembelajaran.
Oleh karena itu, pemakaian peralatan ini perlu dikendalikan oleh pengelola
bengkel/laboratorium. Pengelola bengkel/laboratorium perlu tahu atau punya data tentang
peralatan apa dipakai oleh siapa dan untuk keperluan apa. Data ini diperlukan untuk
pengecekan bilamana terjadi kerusakan atau kehilangan. Disamping itu, data tentang
pemakaian peralatan ini juga bisa digunakan untuk pengaturan agar memastikan peralatan
selalu siap dan ada saat diperlukan dalam proses pembelajaran.

pppptk bmti 2016 5


Diklat Teknisi Bengkel

Untuk keperluan pemakaian peralatan ini, pengelola bengkel/laboratorium perlu memiliki


aturan dan administrasi yang berkaitan dengan pemakaian ini, yaitu antara lain:
a. Sistem dan administrasi pemakaian atau peminjaman peralatan dalam pelaksanaan
proses pembelajaran.
Minimal ada 3 bentuk sistem peminjaman peralatan (terutama paralatan tangan dan
mesin portabel, yaitu:
1) Sistem swalayan, dimana sipemakai bebas mengambil peralatan yuang dia perlukan
di ruang atau lemari alat, dan kemudian mengembalikannya ketempat semula.
2) Sistem bon, dimana sipemakai peralatan menulis bon pinjaman, kemudian
berdasarkan bon peminjaman tersebut Teknisi bengkel/laboratorium atau Toolman
menyerahkan peralatan sesuai dengan yang tertulis dalam bon pinjaman. Untuk
keperluaqn ini pengelola bengkel perlu menyiapkan Kartu Bon Peminjaman Alat.
3) Sistem Coin, dimana sipeminjam yang telah dibekali coin pinjaman yang berbentuk
mata uang logam yang diberi lobang ditengahnya. Menyerahkan coin kepada
Teknisi/Toolman untuk ditukar dengan alat yang akan dia pinjam.
b. Buku Bon Peminjaman Alat
Dokumen ini digunakan untuk mengadministrasikan/mancatat peralatan yang dipinjam
untuk keperluan diluar jam pembelajaran atau keperluan lain yang diizinkan oleh
manajemen sekolah.
c. Kartu Pemakaian Peralatan
Kartu ini disiapkan untuk setiap peralatan terutama yang bersifat mesin stationare.
Kartu ini mencatat data pemakaian dari setiap pengguna mesin tersebut, seperti nama
pengguna, tanggal digunakan dan berapa lama di pakai.
d. Tata Tertip Pemakaian Bengkel/Laboratorium
Tata tertib penggunaan bengkel/laboratorium ini minimal berisikan ketentuan-
ketentuan yang berkaitan dengan Kewajiban dan Larangan yang harus ditaati oleh
terutama siswa pada saat belajar/bekerja d bengkel/laboratorium.

4. Tugas Kerja Kelompok


Untuk keperluan pengelolaan bengkel/laboratorium yang berkenaan dengan kegiatan
Penataan dan Pemakaian Peralatan, kerjakanlah tugas-tugas berikut ini:
a. Rancanglah tata letak atau lay out peralatan yang terdapat dalam area kerja bengkel
b. Identifikasi dan diskusikan format administrasi yang digunakan dalam pelaksanaan
pembelajaran praktik berikut ini:
 Kartu Peminjaman Peralatan
 Buku Peminjaman Peralatan
 Kartu Pemakaian Alat
c. Susunlah Tata Tertib Peminjaman peralatan di Toolroom.

Hasil dari tugas tersebut di atas akan menjadi salah satu dokumen atau evidence (bukti fisik
yang otentik) terhadap keberadaan sebuah bengkel/laboratorium yang dikelola dengan baik.

C. TATA LETAK GUDANG BAHAN PRAKTIK


1. Menentukan Lokasi Gudang Bahan.
Gudang bahan adalah suatu tempat atau ruang yang berfungsi khusus untuk menyimpan
segala sesuatu yang digunakan untuk suatu keperluan atau dapat diproses menjadi barang
/hasil yang relatif lebih bermanfaat daripada sebelumnya.

Kalimat diatas memiliki makna bahwa bahan yang akan diproses didalam kegiatan belajar
mengajar terdiri dari bermacam – macam jenisnya , dan dalam jumlah yang bervariasi. Agar
bahan tersebut dapat diproses dan dapat menghasilkan sesuatu yang berguna diperlukan
pppptk bmti 2016 6
Diklat Teknisi Bengkel

suatu penanganan yang sungguh – sungguh dalam penempatannya. Untuk penempatan


bahan dipilih satu lokasi yang sekiranya dapat menjamin bahwa bahan yang disimpan / ditata
dalam gudang tidak berubah kualitas maupun kuantitasnya.

Beberapa faktor penting yang dapat dijadikan dalam penentuan lokasi gudang yaitu :
 Tempat mudah dicapai oleh alat pengangkut.
 Tempat bebas dari banjir dan tidak mudah terbakar.
 Memungkin tersedia fasilitas yang diperlukan seperti : Listrik , air dan telepon.

2. Macam – macam Gudang


Macam gudang dibedakan atas :
a. Gudang pusat : ialah gudang utama yang menyimpan barang – barang yang akan
disalurkan kepada gudang khusus,dan gudang pemakai.
b. Gudang pemakai: ialah guang yang digunakan untuk menyiapkan barang – barang yang
langsung dipakai.
c. Gudang khusus : ialah gudang yang digunakan untuk menyimpan barang – barang khusus
baik jenisnya maupun sifatnya seperti bahan kimia, bahan peledak, obat – obatan dan
lain – lain.

3. Tata Letak Bahan


Begitu banyak jenis dan jumlah barang yang biasa digunakan dalam proses belajar mengajar,
sehingga di dalam penyimpanannya perlu penataan yang teratur. Dalam pengaturan
penyimpanan/peralatan bahan hendaknya diperhatikan sifat-sifat barang, misalnya :
 Barang-barang berat
 Barang-barang mudah pecah
 Berupa bahan kimia
 Bahan mudah terbakar
 Berupa butiran/lempengan/komponen

Penempatan bahan praktek di dalam gudang bahan pada dasarnya perlu memperhatikan
karakteristik dari bahan itu sendiri. Ada beberapa cara dalam penyimpanan bahan praktek
yang biasa dilakukan di bengkel, yaitu:
a. Menggunakan rak bahan
Bahan praktek yang berukuran panjang dan berat sebaiknya disimpan menggunakan
rak penyimpanan bahan. Bahan yang berukuran lebih panjang dan lebih berat disimpan
dibagian bawah. Disamping itu, bahan-bahan lainnya dengan aneka bentuk dan berat
juga bisa ditata berkelompok dengan rapi di atasrak bahan. Setiap jenis bahan diberi
nomor atau nama agar mudah ditemukan saat dibutuhkan.
b. Menggunakan kotak bahan
Bahan praktek yang berukuran kecil seperti komponen elektronika, baut, paku dll.
sebaiknya disimpan dalam wadah berbentuk kotak/bok. Setiap kotak juga perlu diberi
label dalam bentuk nomor atau nama bahan. Kemudian kotak/bok bahan ini bisa
ditempatkan dengan rapi di atas rak atau lemari bahan.
c. Menggunakan lemari bahan
Disamping rak dan kotak, bahan praktek juga bisa disimpan di dalam lemari bahan.
Biasanya bahan yang disimpan dalam lemari ini adalah bahan yang dari segi ukuran
relatif kecil dan tidak terlalu berat, serta dari sisi harga relatif mahal. Bahan semacam
ini memang lebih aman untuk disimpan dalam lemari yang bisa dikunci.

Disamping menata dan menyimpan bahan praktek dari hasil pengadaan bahan, pengelola
bengkel juga perlu menyediakan tempat penyimpanan bahan-bahan sisa berupa potongan-

pppptk bmti 2016 7


Diklat Teknisi Bengkel

potongan yang masih bisa dimanfaatkan. Penyimpanan bahan sisa ini biasa berupa bok/kotak
bahan yang khusus diperuntukan untuk bermacam-macam bahan sisa.
4. Pemakaian Bahan
Keberadaan bahan dalam jumlah yang cukup baik jenis maupun jumlahnya ikut
mempengaruhi ketercapaian kompetensi yang dipelajari siswa. Untuk itu, disamping
perencanaan kebutuhan, dan proses pengadaannya, maka pemakaiannyapun perlu
dikendalikan oleh pengelola bengkel/ laboratorium.
Dalam kontek pengelolaan pemakaian bahan untuk keperluan proses pembelajaran, minimal
pengelola bengkel perlu melakukan atau menyiapkan hal-hal sebagai berikut:
a. Menyiapkan ukuran bahan
Bahan praktik yang diperoleh melalui proses pengadaan, umumnya memiliki ukuran
standar sesuai ukuran dalam perdagangan. Sedangkan ukuran bahan untuk keperluan
praktek siswa, baik perorangan atau kelompok pada umumnya lebih kecil dari ukuran
bahan dalam perdagangan. Oleh sebab itu, pengelola bengkel/laboratorium melalui
Teknisi perlu menyiapkan bahan mendekati ukuran yang siswa perlukan dalam
mengerjakan suatu job sheet atau pekerjaan.
b. Bon Pengambilan Bahan
Agar siswa dapat memperoleh bahan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan
pekerjaannya, pengelola bengkel/laboratorium perlu mengatur proses pengambilan bahan
di gudang. Salah satu bentuknya bisa melalui sistem bon pemakaian bahan. Untuk
keperluan ini pengelola bengkel/laboratorium perlu menyiapkan Kartu Bon Pengambilan
Bahan. Disamping itu pengelola bengkel/laboratorium juga perlu memiliki standar jumlah
dan ukuran bahan untuk setiap jenis pekerjaan atau Job sheet.
c. Kartu Stok Bahan
Untuk mengetahui jumlah bahan yang masih tersedia di gudang bahan, pengelola
bengkel/laboratorium dapat melihat data-data yang ada pada Kartu Stok Bahan. Kartu ini
diisi berdasarkan kartu bon pengambilan bahan.

5. Tugas Kelompok
Untuk keperluan pengelolaan bengkel/laboratorium yang berkenaan dengan kegiatan
Penataan dan Pemakaian Bahan, kerjakanlah tugas-tugas berikut ini:
a. Identifikasi dan diskusikan Kartu Pemakaian Bahan dan Kartu Stok Bahan yang tersedia.
b. Buat kesimpulan dari hasil diskusi Anda tentang kedua jenis kartu tersebut.

Hasil dari tugas tersebut di atas akan menjadi salah satu dokumen atau evidence (bukti fisik
yang otentik) terhadap keberadaan sebuah bengkel/laboratorium yang dikelola dengan baik.

D. PEMELIHARAAN DAN PERBAIKAN PERALATAN


1. Pengertian dan Tujuan Pemeliharaan
Tujuan dilaksanakannya pemeliharaan antara lain :
 Untuk memperpanjang usia pakai peralatan
 Untuk menjamin daya guna dan hasil guna
 Untuk menjamin kesiapan operasi atau siap pakainya peralatan
 Untuk menjamin keselamatan orang yang menggunakan peralatan

Pemeliharaan adalah suatu usaha yang dilakukan secara sengaja dan sistematis terhadap
peralatan hingga mencapai hasil/kondisi yang dapat diterima dan diinginkan. Yang dimaksud
dengan pemeliharaan disini meliputi kegiatan perawatan (service) dan perbaikan (repair).

pppptk bmti 2016 8


Diklat Teknisi Bengkel

Dari pengertian di atas jelas bahwa kegiatan pemeliharaan itu adalah kegiatan yang
terprogram mengikuti cara tertentu untuk mendapatkan hasil/kondisi yang disepakati.
Pemeliharaan hendaknya merupakan usaha/kegiatan yang dilakukan secara rutin/terus
menerus agar peralatan atau sistem selalu dalam keadaan siap pakai.
Kegiatan pemeliharaan dapat dibedakan menjadi dua bagian besar yaitu pemeliharaan
berencana dan pemeliharaan tak terencana (darurat).
Beberapa istilah tentang pemeliharaan, antara lain :
 Pemeliharaan pencegahan (preventive)
Pemeliharaan yang dilakukan terhadap peralatan untuk mencegah terjadinya kerusakan.
 Pemeliharaan dengan cara perbaikan (corrective)
pemeliharaan yang dilakukan dengan cara memperbaiki dari peralatan (mengganti,
menyetel) untuk memenuhi kondisi standard peralatan tersebut.
 Pemeliharaan jalan (running)
Pemeliharaan yang dilakukan selama peralatan dipakai
 Pemeliharaa dalam keadaan berhenti (shut-down)
Pemeliharaan yang dilakukan pada saat peralatan tidak sedang dipakai.

Kegiatan pemeliharaan pada suatu alat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
pengadaan, pemakaian dan pemeliharaan alat tersebut yang didukung oleh organisasi
pengelolaan dan mekanisme kerja pemeliharaan. Unsur-unsur di atas satu sama lain saling
berkaitan, seperti ditunjukkan pada diagram berikut ini.

PENGHAPUSAN KEBUTUHAN

PERBAIKAN

PENGADAAN
PERAWATAN
KERUSAKAN

PEMAKAIAN

Dalam pelaksanaan kegiatan pemeliharaan dapat mengikuti sistematika seperti digambarkan


berikut ini.

PEMELIHARAAN

PEMELIHARAAN PEMELIHARAAN
TERPROGRAM TAK TERPROGRAM

PEMELIHARAAN PEMELIHARAAN PEMELIHARAAN


(PENCEGAHAN) (PERBAIKAN) PERBAIKAN (DARURAT)

pppptk bmti 2016 9


Diklat Teknisi Bengkel

Diagram pemeliharaan di atas menjelaskan bahwa kegiatan pemeliharaan diutamakan pada


pemeliharaan pencegahan (Preventive) melalui kegiatan pemeliharaan terprogram. Kegiatan
pemeliharaan terprogram merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan dengan pemikiran
berorientasi ke masa depan, pengendalian dan pendataan sesuai dengan rencana yang telah
ditetapkan sebelumnya. Kegiatan pemeliharaan terprogram meliputi pemeliharaan
pencegahan dan pemeliharaan perbaikan.

Kegiatan pemeliharaan pencegahan dilaksanakan secara terencana dan periodeik dalam


bentuk penjadwalan. Hal ini bertujuan untuk mengatasi gangguan, mengurangi kemungkinan
terjadinya kerusakan, dan menjaga fasilitas dalam kondisi standar.
Kegiatan pemeliharaan (perbaikan) akan membawa fasilitas ke kondisi standar melalui
pelaksanaan perbaikan dari keadaan rusak sebelumnya. Kegiatan ini dapat dilakukan dalam
pemeliharaan terprogram maupun pemeliharaan tak terprogram.
Kegiatan pemeliharaan tak terprogram dilakukan pada saat terjadi kerusakan di luar
perencanaan (tidak terduga) dan tidak termasuk dalam anggaran biaya. Dengan demikian
kegiatan pemeliharaan ini masuk dalam kategori pemeliharaan perbaikan darurat.

Keberhasilan pelaksanaan pemeliharaan diukur berdasarkan sedikitnya frekwensi gangguan


atau kerusakan dan lamanya peralatan tidak berfungsi (down time/shut down). Oleh karena
itu kejadian ini sedapat mungkin harus dihindari melalui pelaksanaan pemeliharaan
pencegahan.

2. Jenis Pemeliharaan Peralatan


Dalam prakteknya pemeliharaan peralatan dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu pra
pemeliharaan dan pemeliharaan pencegahan.
a. Pemeliharaan sebelum dioperasikan (pra- pemeliharaan)
Pemeliharaan peralatan sebelum dioperasikan bertujuan untuk menjamin peralatan agar
dapat beroperasi dengan efektif. Untuk memudahkan pengecekan maka dibuat rencana
pemeliharaannya.
Pemeliharaan dapat berupa jadwal pembersihan, penggantian pelumasan dan uji coba
peralatan tanpa beban. Peralatan yang baru dihidupkan hendaknya tidak langsung
dibebani. Peralatan dibiarkan hidup beberapa menit, sementara itu diadakan pengecekan
pada bagian-bagian tertentu. Apabila tidak ada kelainan, barulah peralatan dapat
dibebani sedikit demi sedikit sampai pada beban yang diharapkan.

b. Pemeliharaan Pencegahan.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa pemeliharaan pencegahan bertujuan untuk
mencegah terjadinya kerusakan yang lebih serius. Tentu saja tidak semata-mata
mencegah terjadinya kerusakan, tetapi pemeliharaan pencegahan ini justru merupakan
kegiatan rutin dalam pelaksanaan perawatan agar peralatan senantiasa siap pakai.
Pemeliharaan pencegahan ini meliputi :
1) Perawatan harian
Perawatan harian ialah kegiatan perawatan yang dilaksanakan setiap/selama
peralatan dioperasikan. Kegiatan ini umumnya dilaksanakan oleh pemakai peralatan.
Jenis-jenis kegiatan perawatan harian diuraikan sebagai berikut:
a) Selama peralatan bekerja maka pemakai harus selalu memeriksa/mengganti situasi
kerjanya, bahkan sejak peralatan mulai bekerja.
Cara memeriksa/mengamati yaitu dengan cara :
 Lihat, maksudnya memperhatikan cara kerja peralatan dari kemungkinan
adanya sesuatu yang kelihatan tidak semestinya.

pppptk bmti 2016 10


Diklat Teknisi Bengkel

 Rasa, maksudnya selama mesin bekerja perlu dirasakan dari kemungkinan


adanya getaran abnormal, suhu meningkat, bau yang aneh dan sebagainya.
 Dengar, maksudnya selama mesin atau peralatan bekerja, dengarkan dari
kemungkinan adanya suara-suara asing yang menandakan kelainan.
b) Pencegahan Beban Lebih
Setiap peralatan yang dioperasikan harus dijaga agar bebannya tidak melebihi
kapasitas/kemampuan dari peralatan tersebut.
Misalnya : Putaran peralatan terlalu tinggi, muatan terlalu berat, suhu terlalu tinggi,
dan sebagainya.
c) Pelumasan
Semua peralatan yang berputar atau bergerak bergesekan perlu diberi pelumas.
Pelumasan ini berfungsi untuk mengurangi gesekan, mencegah keausan dan
berfungsi juga untuk mendinginkan.
Dalam kegiatan pelumasan ini perlu dipilih bahan pelumas yang cocok dengan
komponen yang dilumas.
d) Pendinginan.
Umumnya peralatan yang bekerja pada suhu tinggi dan bergerak memerlukan
pendinginan, dengan pendinginan berarti suhu terkendali hingga laju kerusakan
terkendali pula.
e) Pencegahan Korosi.
Pada umumnya peralatan yang bagian-bagiannya terbuat dari logam/baja ada
kecenderungan berkarat (korosi). Proses korosi akan terjadi bila logam bereaksi
dengan oksigen, air atau bermacam-macam asam. Korosi sangat merugikan karena
cepat merusak peralatan. Oleh sebab itu korosi harus dicegah.
Pencegahan korosi dapat dilakukan dengan cara :
 Kebersihan, yaitu menjaga peralatan tetap bersih, oleh karena itu peralatan
harus selalu dibersihkan sehabis dipakai.
 Melindungi logam agar tidak terkena zat-zat penyebab korosi antara lain
dengan mengoleskan oli, mengecat, atau melapisi dengan anti karat.
2) Perawatan Berkala
Yang dimaksud dengan perawatan berkala adalah perawatan yang dilaksanakan secara
berkala sesuai dengan jadwal yang diprogramkan.
Jenis-jenis kegiatan perawatan berkala antara lain :
a) Pemeriksaan secara periodik
Maksudnya ialah memeriksa peralatan terhadap bagian-bagiannya untuk dilakukan
perawatan pencegahan. Pemeriksaan dapat dilakukan tiap bulan, 6 bulanan atau
tahunan.
b) Penyetelan bagian-bagian/komponen.
Selama peralatan beroperasi, dimungkinkan komponen-komponen berubah posisi
karena adanya getaran, perubahan suhu, keausan dan sebagainya, sehingga baut-
baut kendor atau posisi komponen bergeser. Untuk itu perlu dilakukan penyetelan
agar kondisi alat kembali seperti semula.
c) Penggantian komponen
Dari hasil inspeksi, mungkin ditemukan ada komponen-komponen yang perlu
diganti karena aus, patah atau bengkok hingga tak dapat berfungsi dengan baik.
Untuk itu perlu penggantian komponen. Kegiatan perawatan berkala harus
dilaksanakan berdasarkan petunjuk perawatan.

pppptk bmti 2016 11


Diklat Teknisi Bengkel

c. Alat/Bahan Keperluan Perawatan dan Perbaikan


Jenis maupun jumlah alat/bahan yang diperlukan untuk kegiatan perawatan dan
perbaikan sangat tergantung pada jenis peralatan yang memerlukan perawatan dan
perbaikan.
Misalnya diperlukan sejumlah kunci pas atau ring dari bermacam-macam ukuran, atau
obeng dari bermacam jenis dan ukuran atau pelumas dari jenis tertentu.
Jenis alat-alat untuk keperluan perawatan dan perbaikan peralatan rumah tangga antara
lain :
 Alat-alat tangan seperti : palu plastik, tang, obeng, kunci pas, kunci ring, pisau, solder,
kwas dan sebagainya
 Alat-alat ukur dan tester seperti multimeter, tang amper, tespen dan lainnya-lainnya.
 Power supply AC/DC untuk pengetesan.
Sedangkan bahan-bahan keperluan perawatan dan perbaikan antara lain:
 Bahan pembersih seperti :detergen, karosen, tinner, alkohol, dan sebagainya
 Bahan pelumas seperti : oli dan grease (gemuk)
 Bahan pencegah korosi seperti : lak, cat, dll
 Bahan suku cadang, mulai dari peralatan penunjang sampai dengan suku cadang
peralatan utama seperti : mur, baut, self-tapping, selongsong asbes, kabel, zekering
dan sebagainya.
3. Pemeliharaan Perbaikan
Pemeliharaan perbaikan (Breakdown Maintenance) adalah suatu kegiatan pemeliharaan
untuk mengembalikan peralatan pada posisi standar. Kegiatan pemeliharaan perbaikan
sedapat mungkin dihindarkan, atau paling tidak kejadiannya diminimalisir.
Salah satu ciri keberhasilan instisuti/perusahaan adalah jarang terjadinya atau rendahnya
frekwensi kerusakan peralatan. Kerusakan yang terjadi dapat mempengaruhi kinerja institusi,
antara lain:
 Waktu terbuang selama peralatan breakdown
 Menambah biaya operasional
 Minyita waktu proses produksi
 Mengurangi usia peralatan.
Bila terjadi kerusakan peralatan, maka harus segera dilakukan perbaikan agar aktivitas yang
menggunakan peralatan tersebut dapat kembali dilaksanakan.
Sebelum melaksanakan perbaikan perlu terlebih dahulu menganalisis kerusakan yang terjadi
agar mengetahu penyebab terjadinya kerusakan. Data hasil analisis dapat digunakan sebagai
acuan untuk pemeliharaan pencegahan yang terprogram untuk peralatan tersebut di masa
yang akan datang.
4. Diagnosis Gangguan
Yang dimaksud dengan diagnosis untuk mencari kerusakan ialah menganalisis peralatan
dalam keadaan rusak ataupun mengalami gangguan untuk diketahui pada bagian mana
terjadinya kerusakan dan apa penyebabnya. Keahlian dan pengalaman mendiagnosis
memungkinkan dapat menemukan kesalahan/kerusakan dengan cepat dan tepat.
Agar hasil diagnosis dan pencarian kesalahan dapat lebih cepat dan tepat, diperlukan pula
pengetahuan tentang peralatan yang didiagnosa, antara lain :
 Cara kerja peralatan
 Petunjuk pengoperasian peralatan (operation manual)
 Petunjuk perawatan (maintenance manual)

Meskipun kegiatan perawatan pencegahan sudah dilakukan, kemungkinan terjadinya


kerusakan tetap ada selama peralatan atau mesin digunakan. Beberapa penyebab terjadinya
kerusakan antara lain:
pppptk bmti 2016 12
Diklat Teknisi Bengkel

 Kesalahan pengoperasian
 Pembebanan terhadap mesin di atas kapasitasnya, baik beban produksi maupun
beban waktu
 Kualitas mesin (spare part) rendah
 Kesalahan pelayanan seperti pelumasan
 Inspection tidak akurat
 Penyetelan tidak tepat (periode corrective maintenance sebelumnya)
Beberapa kemungkinan di atas bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk merancang program
kerja pemeliharaan pencegahan.
Untuk melaksanakan diagnosis gangguan pada peralatan dapat dilakukan langkah-langkah
sebagai berikut:
a. Periksa peralatan secara visual
b. Periksa rangkaian/hubungan kelistrikan mulai dari sumber masukan sampai ke bagian
yang memungkinkan untuk diperiksa
c. Periksa komponen-komponen mekanik yang bergerak secara teliti
d. Hidupkan peralatan secara berurutan sesuai dengan langkah kerjanya
e. Perhatikan dan catat setiap kelaianan yang ditemukan dari peralatan
f. Lihat catatan dari data peralatan tentang kerusakan dan langkah perbaikan yang
pernah dilakukan (bila ada)
g. Analisis dan tentukan langkah perbaikannya dengan tepat.
5. Indiktor Keberhasilan Pemeliharaan
Keberhasilan program kerja pemeliharaan pada suatu institusi atau perusahaan merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi efektifitas dan kualitas kelancaran proses produksi dan
keandalan kerja fasilitas yang ada.
Indikator-indikator yang mendukung kegiatan pemeliharaan harus ditunjang oleh beberapa
hal sebagai berikut.
a. Organisasi pemeliharaan dengan mekanisme kerja yang jelas yang didukung tenaga
kerja (man powerI) yang terampil.
b. Tersedia dana pemeliharaan fasilitas.
c. Alat dan peralatan pemeliharaan serta suku cadang (spare part) cukup tersedia.
d. Administrasi pemeliharaan terkelola dengan baik, diantaranya data-data fasilitas,
riwayat pemeliharaan setiap fasilitas, buku manual, jadwal kegiatan pemeliharaan dan
lain sebagainya.
e. Ketertiban dan kebersihan lingkungan kerja akan memberikan jaminan keamanan dan
kesehatan bagi lingkungan. Peralatan kegiatan pemeliharaan tertata dengan rapi dan
mudah menjangkaunya saat dibutuhkan.
6. Tugas Kerja Kelompok
Untuk keperluan pengelolaan bengkel/laboratorium yang berkenaan dengan kegiatan
Pemeliaharaan dan Perbaikan Peralatan, kerjakanlah tugas-tugas berikut ini:
a. Susunlah Buku Pemeliharaan Peralatan
b. Rancanglah bentuk Kartu Riwayat Mesin
c. Rancanglah bentuk Kartu Laporan Kerusakan dan Perbaikan Alat/Mesin
Hasil dari tugas tersebut di atas akan menjadi salah satu dokumen atau evidence (bukti fisik
yang otentik) terhadap keberadaan sebuah bengkel/laboratorium yang dikelola dengan baik.

pppptk bmti 2016 13