Anda di halaman 1dari 17

Jenis-jenis digital marketing, antara lain :

1. DIGITAL PROFILE

Industri Asuransi Harus Berubah

Tantangan besar mengubah image asuransi di mata masyarakat, dijawab dengan perjuangan
keras dan strategi yang dipelajari dari bermacam bidang pekerjaan di beragam industri.

Ditengah maraknya industri asuransi dan naiknya kesadaran masyarakat Indonesia


untuk berasuransi terselip nama Jagadiri, sebuah layanan asuransi digital yang mengusung
konsep supermarket asuransi. Perkembangan perusahaan yang mulai beroperasi sejak 2015 ini
cukup pesat. Selama kuartal 1-2018 saja peningkatan permintaan data yang masuk ke website
Jagadiri mencapai 124 % dibanding tahun sebelumnya. Hadir dalam format digital, sebanyak
59 % dari total konsumen Jagadiri adalah generasi Milenial.
Perubahan Butuh Perjuangan Berada di industri asuransi selama lebih dari empat tahun
menyadarkan bahwa industri ini harus berubah. Image asuransi yang kurang baik di mata
masyarakat menjadi tantangan tersendiri untuk mengubahnya. Selain itu, industri asuransi
perlu beradaptasi pula dengan pesatnya perkembangan dunia digital melalui penyediaan
produk yang relevan, distribusi yang mudah, dan pelayanan yang cepat. "Miris melihat industri
asuransi di Indonesia, dari 250 juta orang dalam jangka waktu 100 tahun setelah konsep
asuransi diperkenalkan pertama kali , penetrasinya baru 6 % . Masih kecil. Apa yang salah?
Persepsi masyarakat bahwa asuransi itu bukan kebutuhan utama dengan alasan sehat, kematian
takdir dan lainnya.
Asuransi dianggap tak begitu penting. Padahal asuransi itu soal mengalihkan risiko".
Inilah tantangan besar yang dihadapi Jagadiri, yaitu mengubah persepsi masyarakat dengan
mengembangkan produk-produk yang inovatif dan relevan.

2. DIGITAL FOCUS

Sindrom Berita Palsu

Mulai era Milenial sampai generasi Z saat ini, kita semakin banyak mengalami sindrom berita
palsu. Adapun berita palsu ini sering kali menyebar lewat aktivitas sharing konten di berbagai
media sosial. Tak jarang merek perusahaan pun terlibat di dalamnya. Bagaimana pengaruh
sindrom berita palsu ini terhadap merek, media, dan netizen?

Pada umumnya hanya ada dua hal yang bisa dipegang dari seorang manusia yaitu
perkataan dan tindakannya. Bila perkataan tidak sesuai dengan tindakan, maka kredibilitas dan
kualitas suatu individu maupun entitas akan diragukan. Jika kita kerap memberikan opini yang
tak sesuai atau tidak didukung dengan fakta yang valid, semua opini kita tak akan ada bedanya
dengan berita palsu. Merek pun sebagai entitas tak berbeda dari manusia sebagai individu. Jika
merek sering mengumbar janji palsu, image-nya pun akan menjadi buruk di benak konsumen.
Dari semua kategori, berita palsu adalah yang paling buruk. Ini adalah berita yang
dianggap bohong, dan bahkan menyesatkan. Tak jarang berita palsu menimbulkan banyak efek
buruk pada masyarakat atau lingkungan, seperti perselisihan, kerugian, serta terbuangnya
waktu dan sumber daya secara percuma. Jauh lebih baik kita menciptakan konten yang kurang
menarik, jarang dilirik, dan kurang direspons, daripada menyebarkan konten yang ternyata
bohong, bahkan menimbulkan kerugian di pihak lain .

UJIAN BESAR BAGI MEDIA

Salah satu penyebab berita palsu menjadi tren yang meluas adalah saat ini kita jauh
lebih suka membagikan (share) daripada menciptakan (create) konten. Jadi, content sharing
lebih banyak daripada content creation. Parahnya lagi, budaya ini pun menular ke media-media
yang semestinya lebih punya otoritas sekaligus kredibilitas dalam menciptakan berita. Sekali
lagi kredibilitas media mengalami ujian besar karena terlalu banyak aktivitas copy paste berita
atau "daur ulang" konten darı tempat lain-bahkan dari konten yang terkesan sudah "basi".
Sering kali media terjebak untuk lebih sering melakukan sharing konten daripada menciptakan
konten yang otentik. Banyak media tertular penyakit "latah".Mereka seakan merasa rugi jika
tidak cepat-cepat menuliskan suatu news yang dianggap sedang hot. Sebenarnya ini tak lebih
dari sekadar daur ulang ide ata konten saja.
Fenomena ini terjadi terutama pada momen media yang banyak beralih ke digital saat
ini, ketika kecepatan lebih dihargai daripada ketepatan. Yang paling penting adalah menjadi
yang pertama memberitakan sesuatu, tak peduli konten yang diberitakan itu sudah divalidası
dulu kepada sumber yang berwenang atau sumber yang seharusnya ini bisa menjadi bumerang
bagi industri media sebab lama-kelamaan audiens cepat menjadi jenuh, karena menemukan
berita yang sama pada semua media.
Kecepatan memang menjadi syarat mutlak untuk dapat bersaing di era digital. Tapi
ketika lebih mementingkan aktivitas pembagian dan daur ulang, maka media pun akan
kehilangar esensi yang sebenarnya, yaitu sebagai sumber inspirasi, edukasi, sekaligus
informasi. Kebanyakan media hanya mementingkan unsur informasi dan belum mencapai
edukasi, apalagi inspirasi.
Media pun sesuai fungsi seharusnya dibedakan menjadi dua macam, yaitu media
pencipta konten dan media penerus konten. Media seperti televisi, radio, koran, majalah (meski
mereka bertransformasi ke wujud online) adalah media yang masuk dalam kategori pencipta
konten. Sementara itu media seperti Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, dan kebanyakan
media sosial lain memang cenderung didesain dan difungsikan sebagai penerus berita.
Itulah mengapa berbagai konten yang otentik, menginspirasi, mengedukasi, sekaligus
informatif dituntut datang dari kategori media pencipta konten (bukan dari media penerus
konten). Barulah dari sana bisa diteruskan lewat media penerus konten sambil mencantumkan
sumber berita diambil.
Ini karena berbagai media sosial memang difungsikan untuk konten yang sifatnya user
generated content (UGC), dimana semua kontennya dibuat dari audiens pemakai, dan bukan
dari si penyedia media. Sedangkan user di sini adalah publik atau masyarakat umum yang tidak
mempunyai keahlian atau kemampuarn media, jurnalistik, reportase, dan lainnya.
Jadi, wajar saja berbagai berita yang berseliweran di media sosial harus benar-benar
diperiksa kebenarannya dengan mengacu pada sumber berita. Celakanya bila media yang
seharusnya menjadi sumber, juga berperilaku layaknya user publik yang hanya mendaur ulang
konten dari tempat lain. Jika demikian, potensi penyebaran berita palsu pun akan semakin besar
ia Inilah ujlan sebenarnya bagi media pencipta konten, untuk kembali pada keahliannya
semula, yaitu menjadi pencipta konten yang informatif, edukatif, sekaligus inspiratif.
Lagipula biasanya hanya konten berkualitaslah yang akan disebarkan oleh publik yang
smort. Demikian pula sebaliknya.

PERAN SERTA PEMILIK MEREK

Lewat berbagai pilihan media/channel yang tersedia di era digital ini, merek lebih
punya kebebasan dalam menciptakan sekaligus membagikan konten pemasarannya. Mengingat
banyaknya pilihan media saat ini, perusahaan pun dituntut untuk semakin mendayagunakan
bagian humas (public relations-PR).
Bagian humas perusahaan cenderung lebih menyasar media-media pencipta konten,
karena bagian PR diharapkan bisa menciptakan konten berkenaan dengan komunikasi
perusahaan yang lebih mempunyai nilai berita (news value), nilai edukasi sekaligus inspirasi
bagi para konsumennya Inilah mengapa PR harus memiliki kemampuan media relations dan
komunikasi yang mumpuni agar bisa bekerja sama dengan berbagai media pencipta konten
yang berkualitas beritanya.
Semua itu bertujuan agar perusahaan bisa menyebarkan awareness sekaligus
membangun relasi yang mendalam dengan pihak yang hendak dituju-seperti konsumen, media,
investor, pemerintah, atau lainnya. PR dituntut untuk menjadi corong merek dalam
mengomunikasikan segala pesan yang ingin disampaikan kepada publik dan memastikan pesan
tersebut diterima dengan baik tampil sebagai berita yang positit disebarkan sebanyak mungkin,
dan menimbulkan efek positf.
Tapi sayangnya, berbagai hal yang diberitakan di luar sana tidak semuanya berada
dalam kendali perusahaan. Sering kali ada pihak yang sengaja-ataupun tidak membelokkan
fakta, sehingga menimbulkan berita yang salah. Suatu konten berita pun, ketika terlalu sering
dibagikan lintas media oleh banyak user, cenderung berpotensi lebih besar menyimpang dari
maksud semulanya.
Di sinilah peran PR menjadi semakin penting untuk meluruskan segala isu menyimpang
yang menerpa merek hingga mengancam reputasi merek. PR diharapkan bisa mengedukasi
publik untuk meluruskan segala opini yang menyimpang, didukung fakta-fakta aktual dan bisa
dibuktikan kebenarannya.

3. DIGITAL E- COMMERCE

Solusi Terpadu Pencarian Properti Online

Tak hanya memudahkan pencarian properti, aplikasi CloseBuy mampu memberikan solusi
bagi pelaku bisnis properti melakukan pemasaran dan transaksi properti lintas batas.

Era digital telah mengubah dunia pemasaran dan bisnis disejumlah sektor industri di
Indonesia, termasuk sektor properti. Ini terlihat dengan semakin meningkatnya tren pencarian
produk properti secara daring, juga bermunculan situs dan aplikasi properti online dengan
ragam keuntungan yang ditawarkan.
Tidak hanya jumlahnya yang bertambah, situs dan aplikasi properti online pun semakin
berkembang, baik dari sisi fitur cakupan area, akurasi, dan kecepatan data, hingga kemudahan
transaksi. Tengok saja CloseBuy Asia Pacific yang melakukan terobosan baru dengan
menghadirkan "CloseBuy", platform aplikasi digital properti lintas batas berbasis peta. Setelah
perdana diluncurkan di pasar properti Singapura pada Agustus 2018 lalu, kini CloseBuy turut
meramaikan industri properti di Tanah Air. "Setelah Indonesia dan Malaysia, selanjutnya akan
dikembangkan di negara-negara di kawasan Asia Pasifik lainnya, Vietnam, Thailand, China,
hingga Australia,"Pendiri CloseBuy Asia Pacific.
CloseBuy mengusung konsep one stop marketplace untuk jual-beli dan sewa baik di
pasar primer dan sekunder yang melibatkan semua pelaku bisnis properti, yakni pemilik
properti, pengembang properti, agen properti, dan bankir yang bergerak di sektor residensial
komersial, dan industri. Aplikasi yang dapat diakses langsung melalui Android dan iOS ini
memberikan solusi terpadu bag pelaku dan praktisi properti dengan segala jenis kebutuhan
properti di mana pun lokasi mereka.
Yang menarik, CloseBuy hanya menawarkan satu aplikasi mobile dan akses back end
internet (khusus pengembang di properti) untuk mancanegara dan semua pengguna. Selain itu,
aplikasi ini juga menerapkan sistem pencarian berbasis lokasi da terdekat serta dilengkapi peta
digital untuk mencari alamat properti.

INTERAKSI DUA ARAH

Situs dan aplikasi properti yang ada di pasar hanya berfungsi dengan sistem komunikasi satu
arah secara pasif. Sebaliknya, CloseBuy menawarkan fitur-fitur yang baru dan berbeda,
sehingga memungkinkan pelaku bisnis properti untuk berinteraksi dua arah secara aman,
mudah, dan terpercaya.
Melalui fitur "Wanted" pembeli bukan hanya bisa mencari listing properti yang
ditawarkan di dalam aplikasi, namun secara aktif juga mengirim listing sesuai kebutuhan.
Nantinya, secara otomatis akan dilakukan pencocokan (matchmaking) apabila ada listing yang
sesuai dengan kriteria yang diinginkan.
Dari sisi penjual atau agen properti, mereka dapat menawarkan listing lain, di luar
aplikasi CloseBuy, dengan mengunggah listing dan mendapat persetujuan melalui proses
validasi dan prosedur verifikasi terlebih dahulu.
Di dalam aplikasi ini tersedia l pula fitur "Live Chat Box". Sistem d chatting tersebut
menjadi sarana komunikasi atau percakapan pengguna terlebih dahulu tanpa harus memberikan
detail informasi kontak sebelum terjadi persetujuan di antara pihak pengguna, sehingga
keamanan dan privasi tetap terjaga.
Sistem chatting juga berfungsi sebagai pencatatan bukti komunikasi terkait transaksi.
Sementara guna memberikan rasa aman kepada pengguna terkait metode pembayaran, tersedia
fitur "Trust Account" untuk memudahkan pembayaran awal transaksi atau tanda jadi dengan
menggunakan rekening khusus dari bank terpercaya sebagai pihak ketiga.
Saat ini CloseBuy telah bekerja sama dengan Bank UO8 sebagai penyedia layanan
Trust Account untuk menjembatani pembeli dan penjual properti dalam hal pembayaran tanda
jadi. Bagi pengguna aplikasi ini, Bank UOB juga menawarkan kemudahan KPR yang dapat
dicicil hingga 360 kali dengan bunga tetap selama tiga tahun sebesar 5,99 %.
Untuk memudahkan pengguna atau calon debitur, aplikasi ini juga telah dilengkapi fitur
"One Click Mortgage" dimana pihak panel bank sudah melakukan pra kualifikasi untuk
properti yang akan diajukan pinjaman kreditnya. Cukup mengklik tombol "hubungi bank",
calon debitur akan segera dihubungi.
Listing properti yang ada di CloseBuy sudah di-review oleh mitra panel perbankan
terkait partisipasi pihak bank yang bersedia memberikan pinjaman. Semakin banyak bank yang
bersedia memberikan pinjaman terhadap satu properti menunjukkan secara tidak langsung
properti tersebut diminati dan layak (marketable).

4. DIGITAL LIFE

Ketika Kantor Cabang Tak lagi Jadi Channel Favorit

Riset menunjukkan kantor cabang tidak lagi menjadi channel utama bagi nadabah. Itu sebabnya
banyak bank sekarang agresif mempromosikan digital banking channel mereka. seperti OCBC
NISP dengan ONe Mobile-nya.

Beberapa waktu lalu seorang teman datang ke kantor cabang salah satu bank besar. Dia
berniat membuka rekening tabungan haji. Belum sampai di meja customer service, seseorang
satpam menahannya dan menanyaka maksud kedatangannya. Singkat cerita, karena alamat
domisili dia tidak dalam satu zona dengan kantor cabang tersebut, satpa menyarankan
kepadanya agar membawa surat keterangan yang menyatakan bekerja di suatu perusahaan.
Kebetulan kantor dia bekerja berdekatan dengan kantor cabang itu.
Kejadian di atas tentu tidak sesuai dengan semangat era digital. Seperti kita mahfum di
era digital konsumen menuntut pelayanan yang serba cepat, sederhana (tidak birokratis), tidak
mengenal jarak (borderless), dan serba terkoneksi.
Jika bercermin pada negara-negara maju, peran kantor cabang sudah berkurang. Tahun
2011 misalnya, Bank of America telah menutup lebih dari 10 % jumlah cabangnya. Menurut
data British Bankers Association, sejak tahun 1990 tiap hari ada kantor cabang yang ditutup
atau lebih dari 7.000 kantor cabang dalam 20 tahun terakhir.
Australia tidak jauh berbeda Jumlah kantor cabang di negeri Kanguru mencapai
puncaknya pada tahun 2007, yakni mencapai 13.648 kantor cabang. Empat tahun kemudian-
tahun 2011, jumlah kantor cabang di Australia menyusut 7 % menjadi 12 828. Demikian data
Australian Prudential Regulatory Authority, Statistics, ADI Points of Presence.
Brett King, dalam bukunya Bank 3.0 menulis, menurunnya peran kantor cabang bank
di beberapa negara disebabkan beberapa hal. Selain tidak efisien dan sulit dijangkau-butuh
waktu untuk mencapai kantor cabang-kantor cabang juga tidak relevan dengan hiruk-pikuk
kehidupan masa kini. Hal lain, kantor cabang tidak sesuai dengan kondisi dunia yang sangat
terkoneksi (hyperconnected world), dimana sebuah nilai (value) diukur kecepatan dan
responsivitas.
Sikap para bankir tradisional yang masih meyakini bahwa keputusan customer dalam
memilih bank dikarenakan kantor cabangnya berdekatan dengan rumah atau tempat kerja
mereka Kemudian, survei online terhadap nasabah Standard Chatered di 40 negara, hasilnya
menyatakan internet menjadi channel utama dan menjadi faktor pendorong mereka dalam
memilih bank. Hanya 12 % responden yang menyatakan kantor cabang menjadi channel utama
mereka.
Hasil studi Alix Partner pada Februari 2012 menyebutkan, sekitar 50 % nasabah di
Amerika Serikat (AS) akan memanfaatkan mobile banking sebagai channel utama mereka di
tahun 2016. Bertumbuh pesat, karena di tahun 2012 baru sekitar 32 % nasabah yang beralih ke
mobile banking channel atau internet banking Ironisnya, mereka datang ke kantor cabang
hanya 2 sampai 3 kali dalam setahun Bagaimana dengan Indonesia? Kita memang belum
mendapatkan data berapa banyak kantor cabang yang ditutup sebagai dampak dari digitalisasi
serta berapa persen nasabah yang memilih internet atau mobile banking sebagai channel utama
mereka. Namun yang pasti, bank-bank di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir agresif
memperkenalkan mobile banking channel dan internet banking.

DEPOSITO DAN INVESTASI ONLINE


Sebagai salah satu bank yang beroperasi di Indonesia, OCBC NISP juga tak mau
tertinggal dalam arus besar digitalisasi perbankan di Tanah Air. Bank ini sudah memiliki ONe
Mobile layanan digital banking berbasis mobile. ONe Mobile sebenarnya sudah hadir sejak
tiga tahun lalu, namun OCBC NISP mulai fokus mengembangkannya sejak April tahun lalu.
Hampir mirip dengan aplikasi mobile banking, calon nasabah yang ingin membuka
rekening ONe Mobile terlebih dahulu mesti mengunduh aplikasinya dan mengikuti berbagai
persyaratan yang diminta. Semua proses berlangsung secara online, termasuk melengkapi
dokumen pendukung sepert KTP dan NPWP. Anda cukup memfoto dokumen tersebut dengan
kamera ponsel lalu unggah ke aplikasi ONe Mobile. Nasabah bertatap muka dengan petugas
bank hanya saat kartu debit diantarkan kepada yang bersangkutan.
Berbagai transaksı bisa dilakukan dengan ONe Mobile seperti pembayaran dengan QR
Code, transfer dana ke luar negeri, dan jual-beli valuta asing.
Nasabah pun dapat membuka deposito online di aplikasi ONe Mobile. Belum banyak
bank yang membuka layanan pembukaan rekening deposito secara online. Hal ini, menjadi
salah satu daya saing ONe Mobile dibandingkan aplikasi sejenis.
Selain menabung dan mendepositokan uang, nasabah juga bisa menginvestasikan dana
mereka ke beberapa portofolio reksadana. Investasi reksadana juga dilakukan secara daring.
Adopsi digitol banking di OCBC NISP mulai menampakkan hasil. Transaksi di ONe
Mobile dilaporkan meningkat 40 % year on year (yoy) dan mendorong pertumbuhan fee
sebesar 46 % yoy. Deposito berjangka yang dibuka melalui ONe Mobile juga meningkat
delapan kali lipat dibandingkan channel tradisional. Total deposito yang dibuka di channel
digital naik 62,75 % yoy. Ke depan, OCBC NISP akan terus memperbarui aplikasi ONe
Mobile, antara lain menggunakan video untuk proses KYC (know your customer).
Bahwa saat ini total nasabah ONe Mobile ada sekitar 218 ribu, di mana 60 % merupakan
nasabah aktif. "Ukuran nasabah aktif jika dalam tiga bulan minimal melakukan sekali
transaksi".
Sekarang total transaksi melalut digital banking di OCBC NISP sudah lebih dari 50 %
dibandingkan transaksi di kantor cabang. Kendati demikian, kehadiran digital banking bukan
untuk mengurangi transaksi di cabang. Kita mau semakin banyak transaksi yang bisa dilakukan
melalui aplikasi tanpa harus ke kantor cabang.
Meskipun pemanfaatan digital bonking makin tren di kalangan nasabah, bank bank di
Indonesia sepertnya belum berniat mengerem ekspansi kantor cabang. Untuk daerah-daerah di
luar Jawa, perbankan masih aktif membuka kantor cabang. Hal ini juga disebabkan oleh
karakter konsumen Indonesia yang masth menganggap penting kehadiran i kantor cabang.
Mereka akan merasa yakin menggunakan digital banking suatu bank, jika representasi kantor
cabangnya tesebar di mana-mana.

5. DIGITAL TREND

Fokus di End-to-End e-Commerce Enabler

Egogohub menawarkan end-to-end solution mulai dari teknologi, pemasaran,


pemenuhan logistik, dan pengiriman yang terintegrasi bagi pelaku bisnis online.
Sebagai negara berkembang yang menjadi pusat inovasi digital, bisnis e-commerce di
Indonesia terus mengalami pertumbuhan pesat. Dalam 5 tahun saja, angka penjualan dari e-
commerce diperkirakab meningkat 8 kali lipat hingga US$65 miliar, atau sekitar Rp910 triliun.
Besarnya pasar e-commerce di Tanah Air tak terlepas dari antusiasme masyarakat
mengadopsi pendekatan gaya hidup digital dan perubahan sosial yang dipicu oleh penetrasi
internet dan penggunaan ponsel pintar yang terus meningkat. Hal ini didukung oleh proses
transformasi digital yang semakin diusung oleh pemerintah.
Selain itu, perkembangan bisnis e-commerce juga didorong oleh pelaku industri terkait
seperti perbankan dan perusahaan pendukung aktivitas jual-beli online tersebut. Misalnya,
perusahaan e-commerce enabler yang memberikan layanan seperti rantai pasokan dan
pemenuhan melalui layanan teknis seperti pengembangan situs web dan pemasaran.
Menariknya, bisnis e-commerce enabler tidak digarap perusahaan lokal saja, tetapi
sudah diramaikan oleh kehadiran perusahaan asing. Adalah Egogohub, perusahaan brand and
e-commerce enabler asal Hong Kong yang telah berekspansi ke Indonesia, setelah sebelumnya
merambah Hong Kong, Taiwan, dan Singapura "Egogohub Indonesia merupakan brand enabler
company atau perusahaan yang memberikan jasa end-to-end solution pada suatu merek,
khususnya pada industri e-commerce (digital marketing).
Secara khusus Egogohub menargetkan para pemilik bisnis, mulai dari UKM hingga
perusahaan dan merek besar. Sampai saat ini Egogohub Indonesia telah menjalin kemitraan
dengan sejumlah marketplace terkemuka di Indonesia, meliputi Tokopedia, Lazada,
Bukalapak, Shopee Blibli, JD.id, dan lainnya.
Kehadiran Egogohub di pasar e-commerce seiring dengan kebutuhan pasar dan
perubahan yang terjadi dalam dunia pemasaran. Pasalnya, saat ini suatu merek tidak hanya
menjua suatu produk atau barang.
Sejatinya, suatu merek harus menjadi penggerak atau identitas pelanggan dengan
mengajak mereka berpartisipası di dalam merek tersebut dan memberikan kesempatan untuk
merasakan pengalaman sesuai cara yang diinginkan.
Masih banyak perusahaan yang kesulitan untuk mengembangkan perusahaan sekaligus
membina relasi dengan pelanggan Egogohub ingin memberikan solusi terpadu untuk
perusahaan mempercepat pertumbuhan bisnis mereka.
Sebagai e-commerce enabler, ada tiga layanan yang jadi fokus Egogohub, meliputi
strategi CRM, warehouse, dan fulfillment untuk memastikan terjadinya transaksi dan retensi
pelanggan, serta layanan solusi untuk menjaga citra merek tersebut.
Egogohub didukung gudang pengemasan, dan 3PL system connection yang bisa
dimonitor secara real-time pengirimannya. Termasuk dukungan tenaga layanan pelanggan
yang bisa dimanfaatkan pemilik toko online untuk mempercepat respons kepada calon pembeli.
Tak hanya itu, Egogohub juga mempunyai layanan media sosial, layanan SEO, digital
design, content marketing, e-mail marketing, website design, dan pay-per-click (PPC) untuk
membantu pemilik bisnis meningkatkan pertumbuhan bisnis secara nyata. Tidak lagi hanya
fokus tentang brand awareness, tetapi bagaimana meraih pendapatan yang lebih baik.
Egogohub menjadi opsi yang sangat penting dalam menjalankan bisnis e-commerce Ini
berbeda dari agensi lain yang hanya memiliki bagian-bagian tertentu saja "Solusi end-to-end
dan metode growth hacking yang ditawarkan dapat dipastikan berjalan sesuai yang dibutuhkan,
dan memberikan nilai tambah yang terus bertumbuh pada hasil yang diberikan,".

6. DIGITAL APPS

Mengelola Gedung Lewat Aplikasi

Honeywell, pemimpin pasar global sistem pengelolaan gedung terintegrasi, meluncurkan


solusi terbarunya yakni Honeywell Outcome Based Service. Apa saja keunggulannya?

Kenyamanan dan efisiensi merupakan dua kata kunci yang sangat diperhatikan oleh
pemilik atau pengelola gedung. Mereka akan berupaya memberikan kenyamanan kepada
seluruh penghuni, namun tetap memerhati kan efisiensi biaya. Misalnya menekan biaya energi
listrik untuk chiller (pendingin) atau lighting (pencahayaan). Karena sebagai pengelola gedung,
mereka ingin mendapatkan profit yang maksimal.
Namun, mengelola gedung bukanlah pekerjaan sederhana. Apalagi jika gedungnya
menjulang tingei dengan puluhan atau ratusan lantai. Sistem kerja manual jelas tidak
memungkinkan. Bagaimana pengelola gedung memantau kinerja ratusan chiller atau ribuan
titik lampu? Karena itu, diperlukan sistem teknologi informasi untuk memantau ratusan atau
ribuan peralatan di dalam gedung, seperti chiller, AC, lampu, keran air, CCTV, elevator, alarm
kebakaran, dan akses masuk.
Untuk memudahkan pengelola gedung mengontrol kinerja berbagai peralatan tersebut,
Honeywell meluncurkan aplikasi "Honeywell Outcome Based Service" (OBS). Honeywell
OBS merupakan layanan manajemen gedung berbasis awan (cloud) untuk mengidentifikasi
kesalahan konfigurasi yang lebih cepat dibanding sistem konvensional.
Dengan aplikasi tersebut pengelola gedung dapat memperoleh lebih banyak informasi
yang akan membantu operasional gedung sekaligus menjaga kenyamanan penghuni. Di saat
bersamaan, Honeywell OBS akan membantu pengoptimalan biaya operasional.
President Director Honeywell Indonesia, mengatakan aplikasi Honeywell O8S cocok
digunakan oleh grup perusahaan besar yang memiliki atau mengelola banyak gedung pencakar
langit. Penggunaannya mudah karena bisa diakses melalui smartphone, tablet, laptop, atau
komputer.
General Manager Honeywell Indonesia, menambahkan bahwa Honeywell OBS fokus
pada penguatan integrasi manajemen gedung. Contohnya pemilik gedung mengintegrasikan
pendingin ruangan, elevator, acces control, dan public addres announcement.
Kemampuan Honeywell OBS berada di atas integrasi building management system.
Disebut demikiarn karena Honeywell OBS sudah memanfaatkan big data dan Al (ortificial
intelligence). Dengan Al, big dota diolah sesuai keinginan dan kebutuhan setiap customer.
Honeywell OBS juga bisa memantau tingkat kenyamanan (comfort performance) di dalam
gedung.

OPEN SYSTEM

Banyak perusahaan global yang menawarkan solusi integrasi pengelolaan gedung.


Namun yang membedakan Honeywell OBS dari kompetitor yakni sifatnya yang open system.
Dalam pengertiarn Honeywell OBS compatible dengan sensor perusahaan lain, tidak harus
sistem pengelolaan gedung buatan Honeywell.
Masalah keamanan aplikasi juga sangat diperhatikan. Maklum saja, jika bicara sistem
teknologi informasi, konsumen biasanya akan bertanya soal ketahanan teknologinya dari
serangan peretas (hacker). Bagaimana jika peretas membobol aplikasi tersebut, lalu malah
melumpuhkan sistem pengelolaan gedung.
Untuk mengantisipasi kemungkinan di atas, imbuh Sigit, Honeywell memiliki tim
cyber security guna memastikan 99,9 % aplikasinya aman. Honeywell global memiliki empat
security cyber center masing-masing berlokasi di Amerika Serikat, Eropa, Singapura, dan
India.
Sementara aplikasi Honeywell OBS lebih ditujukan untuk gedung yang sudah jadi dan
sudah ada penghuninya, namun belum memiliki 1BMS. Harapannya, gedung-gedung yang
sudah mengaplikasikan dan memanfaatkan Honeywell OBS bisa ditingkatkan sistem
pengelolaan gedungnya dengan menggunakan IBMS.
Tidak ada patokan biaya bagi pemilik gedung yang ingin mengadopsi Honeywell OBS
karena dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Namun bercermin dari adopsi
sistem ini di luar negeri, biayanya berkisar ribuan hingga jutaan dolar AS.
Di luar negeri gedung-gedung yang sudah menggunakan solusi Honeywell antara lain
Marina Bay Sand dan Asia Square (Singapura) dan Burj Khalifa (Dubai). Menara KL118,
gedung tertinggi di Malaysia, dalam waktu dekat akan mengadopsinya. Di Indonesia,
Honeywell sedang gencar menawarkan Honeywell OBS dan IBMS kepada pemilik dan
pengelola gedung.

7. DIGITAL INSIGHT

Cash Back Jadi Primadona

Pemberian reward dalam bentuk cashback menduduki peringkat teratas kebutuhan pasad bagi
perusahaan untuk menarik hati pelanggan.

Daya beli masyarakat Indonesia terbilang masib stabil di tengah melemahnya nilai tukar
rupiah terhadap dolar. Hal ini terbukti dari peningkatan transaksi penjualan di berbagai
platform e-commerce dalam beberapa bulan terakhir. Peningkatan volume transaksi tidak lepas
dari beragam promo, cashback reward serta loyalty program yang ditawarkan platform e-
commerce untuk menarik minat belanja masyarakat.
Berdasarkan laporan dari Nielsen pada 2016, pemberian reward dalam bentuk cashback
menduduki peringkat teratas kebutuhan pasar bagi perusahaan untuk menarik hati pelanggan.
Sementara itu, survei yang baru-baru ini dilakukan Shopback terhadap lebih dari 5.600
responden di lima kota besar di Indonesia (Jabodetabek, Bandung, Medan, Surabaya, dan
Makassar), menunjukkan diskon atau potongan harga menjadi promo yang paling disukai dan
dipercaya oleh masyarakat Indonesia dengan persentase 41 % , diikuti cashback ( 37 % ) , buy
1 get 1 ( 13 % ) , dan hadiah langsung ( 8 % ) . Data dari Shopback juga menunjukkan bahwa
reward cashback menjadi alasan utama yang memengaruhi masyarakat Indonesia untuk
berbelanja di platform online, diikuti potongan harga di urutan kedua dan promo bebas ongkos
kirim di urutan ketiga ,tidak hanya di platform online, promo cashback hingga 30 % juga
menjadi promo restorant paling menarik bagi responden dibanding promo buy 1 get 1 dan
voucer potongan harga hingga 50 % di pembelian selanjutnya. Berdasarkan data survei yang
sama , setidaknya 70,2 % responden mengaku dalam satu bulan terakhir mereka melakukan
transaksi 1-10 kali di platform e-commerce karena tertarik dengan reward cashback yang
diberikan , dan 19,1 % melakukan transaksi sebanyak 10-20 kali. Jika dilihat berdasarkan
gender, pria lebih tertarik dengan promo cashback reward sedangkan wanita lebih tertarik
dengan promo diskon. Namun di balik ketertarikan tersebut, ternyata ada beberapa hal yang
menjadi kekurangan reward cashback di mata responden yakni tidak dapat ditarik tunai ( 52,7
% ) , hanya bisa digunakan untuk pembelanjaan berikutnya di platform yang sama ( 32 % )
serta proses verifikasi yang terlalu lama ( 19,8 % ) . Shopback, sebagai platform gaya hidup
yang mendorong masyarakat untuk berbelanja online dengan cara hemat dan cermat, menjawab
keluhan masyarakat dengan memberikan cashback hingga 30 % kepada pengguna yang
melakukan transaksi pembelanjaan di Shopback. Cashback yang didapat bisa ditransfer ke
rekening bank pengguna atau dikonversi menjadi pulsa.
Dalam ajang Hari Cashback Nasional pada 10 Oktober lalu beberapa platform e-
commerce pun turut memberikan beragam nominal cashback dan potongan harga kepada
masyarakat Indonesia Shopback pun mencoba merangkum semua promo cashback tersebut di
dalam platform dan aplikasinya. Hal ini guna mempermudah masyarakat mengetahui promo
yang sedang berjalan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Seperti diketahui, Hari
Cashback Nasional ini juga merupakan rangkaian ShopFest 2018 yang resmi digelar dari 5
September 2018 hingga 3 Januari 2019.
Tidak hanya platform e-commerce yang gencar memberikan cashback reward,
beberapa digital payment di Indonesia pun memanfaatkan cashback untuk menarik minat
masyarakat menggunakan platform mereka. Terbukti, pada survei Shopback, lebih dari
setengah responden ( 51,6 % ) mengaku menggunakan aplikasi digital payment saat ada promo
cashback berlangsung.
Tercatat ada banyak digital payment di Indonesua, namun berdasarkan hasil survei, Go-
Pay dan OVO menjadi aplikasi digital payment yang paling banyak digunakan responden,
dengan persentase masing - masing 41,6 % dan 29,7 % .

8. DIGITAL WEB REVIEW

Digitalisasi Lewat Virtual Stock

Bukan hanya sekerdar berjualan kebutuhan pangan via onlinr, pesansembako.com


menawarkan nilai lebih yakni peluang usaha menarik bagi para konsumennya.

Bukan rahasia pasar sembilan bahan pokok (sembako) adalah salah satu ceruk yang
paling digemari karena hampir tidak pernah sepi demand. Karakter bisnis ini dinilai
menguntungkan dan tidak ada matinya. Terang saja, meskipun marginnya cenderung kecil,
sembako memiliki pangsa pasar yang besar. Sebagai penunjang utama kebutuhan hidup,
sembako selalu dicari entah saat harganya stabil ataupun kala melambung tinggi . Apalagi rata
- rata 46 % dari pendapatan setiap orang di Indonesia dihabiskan untuk membeli sembako.
Namun seiring perkembangan teknologi yang dibarengi dengan penetrasi internet serta
smartphone, pola perilaku konsumen khusus di kategori ini sedikit berubah. Menjamurnya e-
commerce maupun marketplace menjadi salah satu pemicunya. Belakangan bukan hanya
fashion dan gadget, berbelanja beras, terigu ataupun gula pasir via online pun menjadi hal yang
lumrah.
Peluang ini juga ditang PT Khalifa Sembako Agro Mitra, sebuah
perusahaanperdagangan bahan pangan dan pertanian berbasis daring dengan merek
Pesansembako.com.
Layaknya e-commerce, untuk membeli sembako di Pesansembako.com, user hanya
perlu membuka laman www.pesansembako.com, memilih produk dari lima kategori produk
yaitu aneka sembako, aneka minuman, kebutuhan rumah tangga seperti detergern dan toiletries,
aneka bumbu serta paket hemat. Setelah produk dipilih, user lantas bisa melakukan
pembayaran melalui sales@pesansembako. com. Semua stok produk pesansembako.com
disimpan pada aset berupa warehouse ala butik seluas 3.000 meter persegi di bilangan Pejaten,
Jakarta Selatan.
Pesansembako.com, membidik target market B2C antara lain ibu rumah tangga,
koperasi, pemililk restoran, warteg ataupun kafe serta UMKM lokal. Berbeda dari e-commerce
ritel pangan sejenis, pesansembako.com menetapkan minimal pembelian. Hal ini dilakukan
sebagai aplikasi nyata dari konsep digitalisasi pangan lewar virtual stock.
Konsep virtual stock ini juga melatih kemampuan entrepreneurship target market
pesansembako.com. Pasalnya setiap pelanggan yang berbelanja minimal Rp5 juta akan
mendapat user ID dan : menikmati cash back reward hingga 2,5 % yang menjadikan harga
sembako lebih kompetitif baik untuk dipakai sendiri, belanja berkelompok, ataupun untuk
dijual lagi.
Pesansembako.com lebih mengutamakan personalisasi layanan dan ketersediaan
supply ketimbang terjebak dalam perang harga yang saat ini mulai marak terjadi dalam dunia
perdagangan sembako baik online maupun offline. Meski enggan berkomentar perihal jumlah
transaksi dan member based yang dimiliki, bahwa konsumern yang dibidiknya memiliki
karakteristik unik.
Untuk itu sejumlah strategi telah ia siapkan guna memaintain konsumen sekaligus
meningkatkan angka sales, yakni Bazaar Sembako Murah (aktivitas dukungan untuk
membantu menurunkan harga pangan dalam upaya mengalihkan sebagian hasil pendapatan
masyarakat Indonesia agar tidak melulu habis untuk makanan, tapi didorong untuk bisa
ditabung atau untuk kebutuhan pendidikan dan kesehatan keluarga). Kedua, yaitu Ekonomi
Kerakyatan (program digitalisasi pangan untuk menyeimbangkan harga sembako dengarn
moto "Sembako Satu Harga Seluruh Indonesia") yang akan diluncurkan saat ulang tahun
pertama PesanSembako com pada 15 Maret 2019.

9. DIGITAL TIPS

Dorong UMKM Go Digital

Paper.id merupakan platform invoicing pertama di Indonesia yang terintegrasi dengan laporan
manajemen arus kas dan laporan keuangan untuk memudahkan operasional bisnis para pelaku
usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

UMKM merupakan kelompok palaku ekonomi terbesar dalam perekonomian


Indonesia. selain menjadi sektor usaha yang paling besar kontribusinya terhadap pembangunan
nasional, UMKM juga menciptakan peluang kerja yang cukup besar dan membantu upaya
mengurangi pengangguran.
CEO Paper id, menilai meski jumlahnya sangat besar, sejatinya banyak problematika
yang dihadapi UMKM di Tanah Air, sehingga menghambat perkembanga usaha mereka. Salah
satunyc pelaku usaha masih minim pemahaman terhadap dasar dasar akuntansi.
Faktanya, sekarang ini masih sedikit UMKM yang menggunakan sistem invoicing.
Mereka lebih memilih menggunakan invoicing manual yang merepotkan dan sulit dilacak.
Pertimbangan memilih invoicing manual ketimbang sistem invoicing dikarenakan
umumnya software yang ditawarkan adalah accounting software yang kurang dipaham oleh
UMKM, dan harganya pun terbilang mahal. Pertimbangarn klasiknya, mereka sudah merasa
kompatibel dengan invoicing yang ada.
Paper.id mencoba mengambil kesempatan dengan menjadi platform invoicing bagi
UMKM di Indonesia. Platform ini memungkinkan pelaku usaha menelusuri semua tagihan dan
penjualan serta melihat laporan keuangan yang komprehensif. Paper. id adalah cloud-based
software yang dapat diakses mulai dari web browser pada laptop dan mobile di smartphone
Android Dengan platform ini pelaku usaha dapat membuat invoice dan laporan keuangan
secara mudah dalam waktu yang cepat.
Sering kali di tengah kesibukannya, pelaku usaha lupa untuk mengirimkan tagihan
kepada pelanggan. Yang menarik, di dalam aplikasi Paper.id terdapat fitur pengingat untuk
membantu mereka melakukan pengiriman tagihan atau menerima pembayaran dari pelanggan
secara tepat waktu. Apalagi aplikasi ini menyediakan solusi pembayaran yang memungkinkan
usaha tradisional untuk membayar invoice dengan pilihan metode pembayaran yang aman dan
terpercaya, mulai dari transfer bank, virtual account, kartu kredit, m-banking, dan e-wallet.
Pengguna tidak perlu ke bank untuk menyetor cek atau giro karena pembayarannya
langsung masuk ke rekening pengguna dan seluruh invoice yang dimasukkan pelaku usaha dan
transaksinya akan tercatat dan disimpan dalam cloud, sehingga dapat diakses kapan saja,".
CTO Paper.id, menambahkan aplikasi ini sudah terintegrasi dengan payment gateway,
yakni MidTrans dan Yap! aplikasi besutan BNI yang memungkinkan pembayaran invoice
dengan cara memindai QR code untuk memudahkarn pelaku usaha melakukan pembayaran.
Aplikasi Paper.id bisa digunakan gratis untuk mengirim berapa banyak pun faktur
selama pengguna dalam sebuah bisnis masih satu orang, jumlah pelanggan dan produk di
bawah 50. Di luar itu, pengguna dianjurkan untuk meningkatkan layanan ke basic bagi UMKM
dan layanan premium untuk korporasi dengan harga yang terjangkau.
Dari sisi pendanaan, Paper.id pun sudah didukung modal ventura Golden Gate Ventures
berupa pendanaan tahap awal (seed funding). Sementara dari sisi jumlah pengguna, sampai
saat ini Paper. id digunakan oleh lebih 8.000 UMKM, serta mengirim invoice secara digital
yang jumlahnya telah lebih dari 40.000 invoice.