Anda di halaman 1dari 34

ECONOMY PAPER

REGIONAL REVENUE AND

EXPENDITURE BUDGET OF CENTRAL JAVA AREA

ARRANGED BY GROUP 3

AYU RATNA SARI 02


JENIFER DJJINGGA 06
JIMMY GUNAWAN 07
ROY MAHENDRI L. 11

SENIOR HIGH SCHOOL XI SOCIAL

MUTIARA BANGSA 3 SCHOOL

JELAMBAR BARAT III STREET NO. 5B, WEST JAKARTA

2018/2019 STUDY PERIOD

0
FOREWORD

Terima kasih atas kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas semua berkah, sehingga
makalah ekonomi yang berjudul "Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Jawa
Tengah" dapat diselesaikan secara maksimal tanpa hambatan yang berarti. Makalah ini
disusun untuk memenuhi tugas awal mata pelajaran Sejarah Indonesia di semester 2 yang
dibina oleh Pak Denny.

Penulisan makalah ini didasarkan pada pembelajaran tentang Anggaran Pendapatan


dan Belanja Daerah dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional di kelas. Diharapkan
dengan penulisan makalah ini, pembaca dapat mengetahui lebih dalam tentang Pendapatan
Daerah dan Pengeluaran Anggaran dan dapat memberikan inspirasi pembaca yang diperoleh
dari bagaimana perand an penyusunan APBD oleh pemmerintah.

Makalah ini tidak dapat diselesaikan tepat waktu tanpa bantuan dan dukungan dari
berbagai pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Untuk alasan ini, kami
mengucapkan terima kasih kepada mereka yang mendukung dan menginspirasi kami dan
kami juga menyampaikan rasa terima kasih kami yang terdalam kepada pembina ekonomi,
karena memberi kami kesempatan untuk mengatur makalah ini untuk memenuhi penilaian
pada semester kedua ini dan pada saat yang sama membuat kita memahami materi Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah, yang mencakup konsep, kompilasi, komponen dan fungsi.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kesalahan dalam penyusunan makalah ini,
baik dari segi sistematika penulisan makalah, kosakata, tata bahasa, etika dan konten serta
materi yang terkandung dalam makalah ini. Oleh karena itu, tim penulis menantikan kritik
konstruktif dan saran dari semua pembaca untuk menjadikannya sebagai bahan evaluasi,
terutama dari pengawas mata pelajaran Ekonomi.

Dengan demikian, semoga makalah ini dapat diterima sebagai sarana memahami
APBD yang disiapkan oleh pemerintah dan menambah wawasan pembaca tentang anggaran
pemerintah daerah.

2
Jakarta, 15th January 2019

Writer Team

3
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................................... 3

DAFTAR ISI .................................................................................................................... 4

BAB I . PEMBUKAAN .................................................................................................. 6

1.1 Latar Belakang ....................................................................................................... 6


1.2 Perumusan Masalah ............................................................................................... 7
1.3 Tujuan .................................................................................................................... 7
1.4 Manfaat ................................................................................................................. 7

BAB II. PEMBAHASAN ................................................................................................. 9

2.1 Pengertian .............................................................................................................. 9

2.2 Tujuan dan Fungsi ................................................................................................. 10

2.3 Komponen APBD .................................................................................................. 11

2.3.1 Sumber-Sumber Penerimaan .......................................................................... 11

2.3.2 Jenis-jenis Belanja Daerah ............................................................................. 17

2.4 Penyusunan APBD ................................................................................................ 19

2.4.1 Prinsip Penyusunan APDB ............................................................................ 19

2.4.2 Proses Pembuatan .......................................................................................... 19

2.4.3 Perubahan APDB ........................................................................................... 22

2.4.4 Penetapan APDB............................................................................................ 22

2.4.5 Pengesahan APDB ......................................................................................... 24

2.4.6 Masalah – masalah dalam penyusunanan APBD ........................................... 24

2.4.5 Data APDB Provinsi Jawa Tengah 2017-2018 .............................................. 27

BAB III. PENUTUP ......................................................................................................... 32

4
3.1 Kesimpulan ....................................................................................................... 32

3.2 Saran ...................................................................................................................... 32

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 34

5
BAB 1

PEMBUKAAN

1.1 LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan salah satu Negara yang sedang giat-giatanya melakukan


pembangunan. Hal ini taklepas dari kenaytaan bahwa Indonesia masih tertinggal dalam hal
infrastruktur dan juga layanan sosial dalam rangka mencapai tujuan Indonesia yang merdeka serta
masyarakat Indonesia dapat hidup sejahtera dan adil. Untuk mencapai tujuan nasional,
pembangunan nasional harus dilaksanakan di segala sector kehidupan bangsa. Sektor-sektor
pembangunan tersebut antara lain sektor politik, sector ekonomi, sektor budaya, sektor hukum,
sektor ilmu pengetahuan dan teknologi serta sektor keamanan. Dalam proses pembangunan
tersebut tentu membutuhkan dana dan biaya yang cukup besar. Dengan anggaran yang sangat
besar tersebut tentu harus membutuhkan perencanaan dan pengelolaan yang ketat dan juga hati-
hati dalam mengelola dana tersebut.

Dengan demikian, dibutuhkanlah perencanaan yang matang dalam merumuskan


anggaran dana yang akan dipakai dalam melakukan pembangunan. Perencanaan – perencanaan
tersebut dituangkan dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Pembelanjaan Negara yang akan
disahkan menjadi Anggaran Pendapatan dan Pembelajaan Negara yang harus direalisasikan
secara tepat. Hal tersebut dilakukan, baik oleh pemerintah pusart sendiri, maupun pemerintah
daerah mengingat Negara Indonesia menganut sistem desentralisasi yang memberikan
wewenang otonomi atau mengatur pelaksanaan pembangunan di setiap daerah di Indonesia.
Untuk di tingkatr daerah seperti provinsi, anggaran kegiatan pemerintah termasuk pembangunan
sendiri tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

Penganggaran disektor pemerintahan merupakan suatu proses yang kompleks dan


panjang serta tidak dapat dilepaskan dari sektor politis. Kompleksitas disebabkan karena belum
adanya kesempatan yang dapat diterima semua pihak tentang bagaimana pengalokasian sumber
dana pemerintah secara tertib. Ketidak kesepakatan tersebut antara lain disebabkan masalah
politis, adanya nilai-nilai kepemimpinan yang berbeda diantara pengambil keputusan, serta
adanya perdebatan tentang bangaimana suatu sistem penganggaran dapat memuaskan semua
pihak yang terkait maka alokasi anggaran sekarang didasarkan kepada target kinerja. Perubahan
pendekatan ini tentunya menuntut adanya perubahan paradigma dari aparat pemerintah baik
yang pusat maupun daerah, karena setiap dana yang dialokasikan dalam APBN maupun APBD
harus dapat terukur kinerjanya, dengan kata lain tidak ada alokasi anggaran apabila tidak jelas
kinerjanya.

Dari hal-hal diatas, kita bisa simpulkan bahwa APBD merupakan suatu komponen yang
turut mendorong kelancaran dalam melakukan pembanguanan infrastruktur dalam mencapai
kesejahteraan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah adalah rencana keuangan tahunan
pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD,

6
dan ditetapkan dengan peraturan daerah. APBD merupakan wujud pengelolaan keuangan daerah
yang ditetapkan setiap tahun dengan peraturan daerah. Suatu daerah tidak akan dapat
menjalankan kegiatan pemerintahan tanpa adanya anggaran, oleh karena itu setiap tahunnya
APBD ditetapkan guna meningkatkan efektifitas dan efisiensi perekonomian daerah berdasarkan
fungsi alokasi APBD.

1.2 PERUMUSAN MASALAH


1. Apa yang dimaksud dengan APBD?
2. Bagaimana APBD dapat berfungsi dalam sistem penganggaran daerah di Indonesia?
3. Apa komponen-komponen yang membentuk suatu APBD?
4. Dari mana saja sumber-sumber pendapatan dan belanja daerah yang tertuang dalam APBD
Jawa Tengah?
5. Bagaimana proses dan cara menyusun APBD ?
6. Bagaimana susunan APBD Daerah Jawa Tengah?

1.3 TUJUAN

Following are the objectives of the writing of this paper:

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan APBD?


2. Untuk mengetahui bagaimana APBD dapat berfungsi dalam sistem penganggaran daerah di
Indonesia?
3. Untuk mengetahui komponen-komponen yang membentuk suatu APBD?
4. Untuk mengetahui sumber-sumber pendapatan dan belanja daerah yang tertuang dalam
APBD Jawa Tengah?
5. Untuk mengetahui proses dan cara menyusun APBD ?
6. Untuk mengetahui susunan APBD Daerah Jawa Tengah?

1.4 MANFAAT

The benefits of writing this paper are:

1. Bagi Pembaca, dapat menambah wawasan mengenai Anggaran Pendapatan dan


Belanja Negara yang disusun oleh pemerintah.
2. Bagi Pembaca, dapat mengerti bagaimana sistematika penyusunan APBD yang
divisualisasikan melalui data APBD daerah Jawa Tengah pada tahun 2017-2018
3. Bagi Penulis, dapat memenuhi penilaian yang diberikan oleh guru pembimbing
mata pelajaran ekonomi mengenai materi APBD dan APBN.

7
4. Bagi Penulis, dapat memahami lebih jauh mengenai materi APBN dan APBD
melalui proses pembelajaran eksplorasi dan aktif

8
CHAPTER II

DISCUSSION

2.1 PENGERTIAN
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan wujud
pengelolaan keuangan daerah yang ditetapkan setiap tahun dengan peraturan
daerah. Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 Tentang
Perubahan Kedua Atas Perayuran Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006
Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, dikatakan bahwa APBD
adalah rencanan keuangan tahunan pemerintah daerah yang dibahasa dan disetujui
bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan peraturan
daerah. APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri atas pendapatan daerah,
belanja daerah, dan pembiayaan daerah. Tahun Anggaran APBD meliputi masa
satu tahun, mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah selanjutnya disingkat APBD
adalah suatu rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang disetujui oleh
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (UU No. 17 Tahun 2003 pasal 1 butir 8 tentang
Keuangan Negara) . Semua Penerimaan Daerah dan Pengeluaran Daerah harus
dicatat dan dikelola dalam APBD. Penerimaan dan pengeluaran daerah tersebut
adalah dalam rangka pelaksanaan tugas – tugas desentralisasi. Sedangkan
penerimaan dan pengeluaran yang berkaitan dengan pelaksanaan Dekonsentrasi
atau tugas Pembantuan tidak dicatat dalam APBD.
APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam satu tahun
anggaran. APBD merupakan rencana pelaksanaan semua Pendapatan Daerah dan
semua Belanja Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi dalam tahun
anggaran tertentu. Pemungutan semua penerimaan Daerah bertujuan untuk
memenuhi target yang ditetapkan dalam APBD. Demikian pula semua
pengeluaran daerah dan ikatan yang membebani daerah dalam rangka pelaksanaan
desentralisasi dilakukan sesuai jumlah dan sasaran yang ditetapkan dalam APBD.
Karena APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah, maka APBD

9
menjadi dasar pula bagi kegiatan pengendalian, pemeriksaan dan pengawasan
keuangan daerah.

2.2 TUJUAN DAN FUNGSI

APBD disusun sebagai pedoman pendapatan dan belanja dalam melaksanakan


kegiatan pemerintah daerah. Dengan APBD, pemerintah daerah sudah memiliki
gambaran jells tentang pendapatan dan pengeluaran selama satu tahun. Dengan adanya
APBD, kesalahan, pemborosan, dan penyelewengan yang merugikan dapat dihindari.

Adapun tujuan APBD yang lain antara lain..

1. Membantu pemerintah dalam hal ini pemerintah daerah mencapai tujuan fiskal
2. Meningkatkan pengaturan atau kordinasi setiap bagian-bagian yang berada pada
lingkungan pemerintah daerah.
3. Membantu menghadirkan dan menciptakan efisensi dan keadilan terhadap
penyediaan barang dan jasa publik dan umum.
4. Menciptakan perioritas belanja atau keutaman belanja pemerintahan daerah.
5. Menghadirkan dan Meningkatkan transparansi pemerintah daerah terhadap
masyarakat luas dan pemerintah daerah dapat mempertanggungjawabkan kepada
Dewan Perwakila Rakyat (DPRD)

Setiap tahun pemerintah daerah menyusun APBD. Tujuan penyusunan APBD


pada hakikatnya adalah sebagai pedoman pengeluaran dan penerimaan daerah agar
terjadi keseimbangan yang dinamis, dalam rangka melaksanakan kegiatan-kegiatan di
daerah demi tercapainya peningkatan produksi, peningkatan kesempatan kerja, dan
pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.

Pada akhirnya, semua itu ditujukan untuk tercapainya masyarakat adil dan
makmur, baik material maupun spiritual bedasarkan Pancasila dan UUD 1945, serta
untuk mengatur pembelanjaan daerah dan penerimaan daerah agar tercapai
kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi daerah secara merata.

Selain tujuan disusunnya APBD, Adapaun APBD memiliki fungsi-fungsi tertentu.


Fungsi APBD jika ditinjau dari kebijakan fiskal yaitu:

1. Fungsi otorisasi yaitu bahwa anggaran daerah menjadi dasar untuk melaksanakan
pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan.

2. Fungsi perencanaan mengandung arti bahwa anggaran daerah menjadi pedoman bagi
manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.

3. Fungsi pengawasan mengandung arti bahwa anggaran daerah menjadi pedoman untuk
menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan
ketentuan yang telah ditetapkan.

10
4. Fungsi alokasi mengandung arti bahwa anggaran daerah harus diarahkan untuk
menciptakan lapangan kerja/ mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber
daya, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian.

5. Fungsi distribusi mengandung arti bahwa kebijakan anggaran daerah harus


memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.

6. Fungsi stabilisasi mengandung arti bahwa anggaran pemerintah daerah menjadi alat
untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian
daerah.

2.3 KOMPONEN APDB

Penyusunan APBD terdiri dari berbagai unsur yang mmebnetuk APBD.


APBD terdiri dari sumber-sumber penerimaan daerah dan juga jenis-jnenis
belanja daerah yang dilakukan. Dengan demikian, pemerintah dapat mengetahui
keseimbangan antara pegeluaran dan penerimaan.

2.3.1 SUMBER-SUMBER PENERIMAAN DAERAH

Sumber-sumber penerimaan daerah dalam pelaksanaan


desentralisasi terdiri dari :

1) Pendapatan asli daerah (PAD).

Adalah penerimaan yang diperoleh dari pungutan-pungutan


daerah berupa :

1. Pajak daerah.
Dasar hukum yang mengatur tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah adalah Undang-undang No.34 tahun 2000 tentang Perubahan
atas Undang-undang RI No.18 tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah.
Jenis Pajak dan Retribusi Daerah adalah sebagai berikut:
1. Pajak Daerah
Jenis pajak propinsi terdiri atas:
-Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air, dengan tarif
maksimum 5%.

11
- Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor di Atas Air, dengan tarif
maksimum 10%.
- Pajak bahan bakar Kendaraan Bermotor, dengan tarif maksimum 5%.
- Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air
Permukaan, dengan tarif maksimum 20%.

Hasil penerimaan pajak propinsi sebagian diperuntukkan bagi


Daerah Kabupaten/Kota di wilayah propinsi yang bersangkutan dengan
ketentuan sebagai berikut:
- Hasil penerimaan Pajak kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air
dan Bea Balik nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air
diserahkan kepada Daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 30%;
- Hasil penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan bermotor diserahkan
kepada Daerah kabupaten/Kota paling sedikit 70%;
- Hasil penerimaan pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah
Tanah dan Air Permukaan diserahkan kepada Kabupaten/Kota paling
sedikit 70 %.
Jenis pajak Kabupaten/Kota terdiri atas:
- Pajak Hotel, dengan tarif maksimum 10%
- Pajak Restoran, dengan tarif maksimum 10%
- Pajak Hiburan, dengan tarif maksimum 35%
- Pajak Reklame, dengan tarif maksimum 25%
- Pajak Penerangan Jalan, dengan tarif maksimum 10%
- Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C, dengan tarif maksimum
20%
- Pajak Parkir, dengan tarif maksimum 20%.
Hasil penerimaan pajak kabupaten diperuntukkan paling sedikit 10%
bagi desa di wilayah daerah kabupaten yang bersangkutan.
2. Retribusi daerah.
Retribusi dibagi atas tiga golongan:
- Retribusi Jasa Umum

12
- Retribusi Jasa Usaha
- Retribusi Perijinan Tertentu.
Jenis-jenis retribusi ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan
kriteria-kriteria sebagai berikut:
a. Retribusi Jasa Umum
Jasa tersebut merupakan kewenangan daerah dalam rangka pelaksanaan
desentralisasi. Jasa tersebut memberi manfaat khusus bagi pihak yang
membayar retribusi disamping untuk melayani kepentingan dan
kemanfaatan umum. Pemungutan retribusi dapat meningkatkan kualitas
penyediaan jasa dengan lebih baik.
b. Retribusi Jasa Usaha
Jasa bersifat komersial yang seyogyanya disediakan oleh sektor swasta
tetapi belum memadai atau terdapat harta yang dimiliki daerah yang
belum dimanfaatkan secara penuh oleh pemerintah daerah.
c. Retribusi Perijinan Tertentu
Perizinan tersebut benar-benar diperlukan guna melindungi
kepentingan umum. Perizinan tersebut merupakan kewenangan
pemerintah yang diserahkan pada pemerintah daerah dalam rangka asas
desentralisasi; dan Biaya yang menjadi beban daerah dalam
penyelenggaraan ijin tersebut dan biaya untuk menanggulangi dampak
negatif dari pemberian ijin tersebut cukup besar sehingga layak dibiayai
dari retribusi perijinan.
Prinsip dan sasaran penetapan tarif retribusi:
a. Retribusi Jasa Umum
Berdasarkan kebijakan daerah dengan mempertimbangkan biaya
penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat dan
keadilan.
b. Retribusi Jasa Usaha
Berdasarkan tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak
c. Retribusi perjinan Tertentu

13
Berdasarkan tujuan untuk menutup sebagian atau seluruh biaya
penyelenggaraan pemberian ijin yang bersangkutan. Hasil penerimaan
jenis retribusi kabupaten sebagian diperuntukkan bagi desa dan
ditetapkan dengan peraturan daerah berdasarkan keterlibatan desa
dalam menyediakan pelayanan.

3. Hasil pengolahan kekayaan daerah yang sudah dipisahkan

4. Keuntungan dari perusahaan-perusahaan milik daerah.

5. Lain-lain PAD ( Penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahhkan, jasa


giro, pendapatan bunga, keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap
mata uang asing, dan komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai
akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh
daerah .

2) Dana perimbangan.

Dana Perimbangan dalah dana yang dialokasikan dari APBN


untuk daerah sebagai pengeluaran pemerintah pusat untuk belanja
daerah, yang meliputi :

1. Dana bagi hasil.

Dana Bagi Hasil adalah dana yang berasal dari APBN yang
dialokasikan kepada daerah sebagai hasil dari pengelolaan sumber
daya alam didaerah oleh pemerintah pusat. Dana Bagi hasil terdiri
dari atas pajak Bumi Bangunan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan ( BPHTB) dan Pajak Penghasilan (PPh).

Pembagian Hasil penerimaan Pajak Bumi dan


Bangunan diatur dalam pasal 18 UU PBB, Peraturan Pemerinntah
No. 16 Tahun 2000 tentang pembaagian Hasil Penerapan Pajak
Bumi dan Bangunan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah

14
Daerah dan Peraturan Menteri Keuangan No. 34/PMK.03/2005
tanggal 23 Mei 2005. Adapunn hasil penerimaan PBB dibagi untuk
Pemerintah Pusat dan Daerah dengan imbangan sebagai berikut.

a. 10% untuk pemerintah pusat (65% untuk seluruh daerah


kabupaten dan kota yang realisasi penerimaan PBB tahun
sebelumnya untuk sektor pedesaan dan perkotaan mencapai
atau melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan.

b. 90% untuk pemerintah daerah ( 16,2% untuk Daerah Provinsi


yang disalurkan ke Rekening Kas Umum, 6.48% untuk
Daerah Kabupaten/Kota yang disalurkan ke Rekening Kas
Umu, dan 9% untuk Biaya Pemungutan yang dibagikan di
antara Direktorat Jenderal Pajak dan Pemerintah Daerah).

Dana Bagi Hasil yang bersumber dari sumber daya alam


berasal dari kehutanan, perambangan, umum, perikanan,
pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi, dan
pertambangan panas bumi.

2. Dana alokasi umum.

Dana alokasi umum adalah dana yang berasal dari


APBN yang dialokasikan kepada daerah dengan tujuan
sebagai wujud dari pemerataan kemampuan keuangan
antara daerah. Dana ini dimaksudkan untuk mengurangi
ketimpangan kemampuan keuangan antar daerah melalui
penerapan formula dengan mempertimbangkan kebutuhan
dan potensi daerah. Jumlah keseluruhan Dana Alokasi
Umum ditetapkan sekurang-kurangnya 26% dari
Pendapatan Dalam Negeri Neto yang ditetapkan dalam
APBN. DAU untuk suatu daerah dialokasikan atas dasar
celah fiskal dan alokasi dasar. Celah fiskal adalah
kebutuhan fiskal dikurangi kapasitas fiskal daerah .

15
Kebutuhan fiskal daerah merupakan kebutuhan pendanaan
daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum.
Setiap kebutuhan pendanaan diukur secara berturut-turut
dengan jumlah penduduk, luas wilayah, Indeks Kemahalan
Konstruksi, Produk Domestik Regional Bruto per Kapita
dan Indeks pembangunan Manusia. Kapasitas Fiskal daerah
merupakan sumber pendanaan daerah yang berasal dari
Pendapatan Asli Daerah. Dan Dana Bagi Hasil. Alokasi
dasar dihitung berdasarkan jummlah gaji Pegawai Negeri
Sipil Daerah. Proposi Dana Alokasi Umum (DAU) anatar
daerah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan berdasarkan
imbangan kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota.

3. Dana alokasi khusus

Yaitu dana yang bersumber dari APBN yang


dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk
mendanai kegiatan khusus daerah yang disesuaikan dengan
prioritas nasional. Dana alokasi khusus mendanai kegiatan
khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai denngan
fungsi yang telah ditetapkan dalam APBN.tujuan untuk
mendanai kegiatan khusus daerah yang disesuaikan dengan
prioritas nasional.

3) Pinjaman daerah.

Berdasarkan UU No.25 tahun 1999 pemerintah


daerah dapat melakukan pinjaman dari sumber dalam negeri
atau sumber luar negeri dengan persetujuan pemerintah pusat
untuk membiayai sebagian anggarannya. Pinjaman dalam
negeri dapat bersumber dari pemerintah pusat dan/atau
lembaga komersial, atau melalui penerbitan obligasi daerah.
Pinjaman luar negeri dimungkinkan dilakukan daerah,

16
namun mekanismenya harus melalui pemerintah pusat.
Ketentuan mengenai pinjaman daerah selanjutnya diatur
dalam Peraturan Pemerintah No.107 tahun 2000 tentang
Pinjaman Daerah.

4) Penerimaan lain-lain yang sah, berupa:

1. Penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan, jasa giro


dan pendapatan bunga.

2. Keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang


asing.

3. Komisi, penjualan, ataupun bentuk lain sebagai akibat


dari penjualan dan pengadaan barang atau jasa oleh
daerah.

2.3.2 JENIS-JENIS BELANJA DAERAH

Belanja daerah meliputi semua pengeluaran uang dari Rekening


Kas Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana, yang merupakan
kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh
pembayarannya kembali oleh daerah. Pasal 26 dan 27 dari Peraturan
Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah tidak merinci tentang klasifikasi belanja menurut urusan wajib,
urusan pilihan, dan klasifikasi menurut organisasi, fungsi, program
kegiatan, serta jenis belanja. Sedangkan Permendagri Nomor 13 Tahun
2006 Pasal 31 ayat (1), memberikan secara rinci klasifikasi belanja
daerah berdasarkan urusan wajib, urusan pilihan atau klasifikasi menurut
organisasi, fungsi, program kegiatan, serta jenis belanja.

Pengeluaran atau Belanja Daera dipergunakan dalam rangka


mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan
provinsi atau kabupaten/kota yang terdiri dari urusanyang

17
penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu yang dapat
dilaksanakan bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah atau
antarpemerintah daerah yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-
undangan.

Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk


melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam
peningkatan peayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial, dan
fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial.

Klasifikasi belanja menurut urusan pemerintah terdiri dari belanja


urusan wajib dan belanja urusan pilihan. Klasifikasi belanja menurut
urusan wajib antara lain mencakup pendidikan, kesehatan, pekerjaan
umum, dan perumahan rakyat. Klasifikasi belanja menurut urusan pilihan
antara lain mencakup pertanian, kehutanan, energi, dan sumber daya
mineral. Penanganan dari bbelanja negara ini dapat dilakukan bersama
antara pemerintah daerah yang ditetapkan dengan ketentuan peundang-
undangan.

Klasifikasi belanja menurut fungsi yang digunakan untuk tujuan


keselarasan dan keterpaduan penegelolaan keuangan negara antara lain
terdiri dari pelayanan umum, ketertiban, ketenteraman, ekonomi dan
lingkunngan hidup. Klasifikasi belaja menurut organisasi disesuaikan
dengan struktur organisasi pada masing-masing pemerintah daerah.
Klasifikasi belanja menurut proggram dan kegiatan yang disesuaikan
denngan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah .

Belanja menurut kelompok belanja terdiri dari belanja tidak


langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara
langsung dnegan pelaksanaan program dan kegiatan. Kelompok belanja
tidak langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara
langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Kelompok belanja
tidak langsung terdiri terdiri dari belanja pegawai, bunga, subsidi, hibah,

18
bantuuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan, dan belanja tidak
terduga. Sementara itu, kelompok belanja langsung merupakan belanja
yang dianggarkan terkait scara langsung dengan pelaksanaan program
dan kegiatan.

2.4 PENYUSUNAN APBD


2.4.1 PRINSIP PENYUSUNAN APBD
Penyusunan APBD Tahun Anggaran 2015 didasarkan prinsip
sebagai berikut :
1. Sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan daerah
berdasarkan urusan dan kewenangannya;
2. Tepat waktu, sesuai dengan tahapan dan jadwal yang telah ditetapkan
dalam peraturan perundang-undangan;
3. Transparan, untuk memudahkan masyarakat mengetahui dan
mendapatkan akses informasi seluas-luasnya tentang APBD;
4. Partisipatif, dengan melibatkan masyarakat;
5. Memperhatikan asas keadilan dan kepatutan; dan
6. Tidak bertentangan dengan kepentingan umum, peraturan yang lebih
tinggi dan peraturan daerah lainnya.

2.4.2 PROSES PEMBUATAN


Sebelum sebuah APBD disusun, sebelumnya pemerintah daerah
dengan DPRD menyusun sebuah rancangan anggaran yang biasa disebut
dengan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. ecara tehnis
tahapan dan prosedur penyusunan APBD diatur dalam Peraturan Menteri
Dalam Negeri (Permendagri) No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah. Selain itu melalui undang-undang nomer 23
tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, juga mengatur tentang tahapan
perencanaan dan penganggaran. Berdasarkan undang-undang tersebut,
APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam masa 1 tahun
anggaran.
Sebelum penyusunan dokumen APBD, pemerintah daerah terlebih
dahulu menyusun dokumen perencanaan pembangunan tahunan, yaitu
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). Dokumen RKPD disusun

19
berdasarkan hasil-hasil Musyawarah rencana Pembangunan
(Musrenbang)yang dilaksanakan mulai bulan januari-april, dan dimulai dari
tingkat desa, kecamatan sampai musrenbang Kabupaten/Kota. Selain
berdasarkan hasil musrenbang, RKPD juga disusun dengan mengacu
dokumen perencanaan lainnya yaitu Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) yang disusun lima tahun, yang merupakan
dokumen berisi visi dan misi daerah yang rencana strategis selama lima
tahun.
Setelah menyusun dokumen RKPD, selanjutnya mulai menyusun
dokumen penganggaran yaitu dimulai dengan penyusunan dokumen
Kebijakan Umum Anggaran (KUA), dokumen KUA tersebut oleh
pememrintah daerah (eksekutif) disampaikan kepada legislatif untuk
dibahas dan disepakati bersama yang akhirnya menjadi nota kesepakatan
bersama antara eksekutif dan legislatif. Setelah dokumen KUA disepakati,
maka pemerintah daerah melalui masing-masing OPD (Organisasi
Pemerintah Daerah) menyusun draf RKA SKPD yang disusun berdasarkan
rencana kerja (Renja) OPD yang penyusunannya berpedoman pada RKPD.
Dari dokumen RKA OPD pemerintah daerah melalui TAPD (Tim
Anggaran Pemerintah daerah) mulai menyusun draf atau rancangan APBD
yang kemudian disampaikan kepada DPRD khususnya Badan Anggaran,
untuk kemudian dibahas. Rancangan peraturan daerah tentang APBD
dilengkapi dengan lampiran yang terdiri dari:
a. Ringkasan APBD;
b. Ringkasan APBD menurut urusan pemerintahan daerah dan
organisasi;
c. Rincian APBD menurut urusan pemerintahan daerah, organisasi,
pendapatan, belanja dan pembiayaan;
d. Rekapitulasi belanja menurut urusan pemerintahan daerah,
organisasi, program dan kegiatan;
e. Rekapitulasi belanja daerah untuk keselarasan dan keterpaduan
urusan pemerintahan daerah dan fungsi dalam kerangka pengelolaan
keuangan negara;
f. Daftar jumlah pegawai per golongan dan per jabatan;
g. Daftar piutang daerah;
h. Daftar penyertaan modal (investasi) daerah;
i. Daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset tetap daerah;

20
j. Daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset lain-lain;
k. Daftar kegiatan-kegiatan tahun anggaran sebelumnya yang belum
diselesaikan dan dianggarkan kembali dalam tahun anggaran ini;
l. Daftar dana cadangan daerah; dan
m. Daftar pinjaman daerah.
Bersamaan dengan penyusunan rancangan Perda APBD, disusun
rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. Rancangan
peraturan kepala daerah tersebut dilengkapi dengan lampiran yang terdiri
dari:
a. Ringkasan penjabaran APBD;
b. Penjabaran APBD menurut urusan pemerintahan daerah,
organisasi, program, kegiatan, kelompok, jenis, obyek, rincian obyek
pendapatan, belanja dan pembiayaan.
Rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD wajib
memuat penjelasan sebagai berikut:
a. Untuk pendapatan mencakup dasar hukum, target/volume yang
direncanakan, tarif pungutan/harga;
b. Untuk belanja mencakup dasar hukum, satuan volume/tolok ukur,
harga satuan, lokasi kegiatan dan sumber pendanaan kegiatan;
c. Untuk pembiayaan mencakup dasar hukum, sasaran, sumber
penerimaan pembiayaan dan tujuan pengeluaran pembiayaan.
Rancangan peraturan daerah tentang APBD yang telah disusun oleh
PPKD disampaikan kepada kepala daerah. Selanjutnya rancangan peraturan
daerah tentang APBD sebelum disampaikan kepada DPRD disosialisasikan
kepada masyarakat. Sosialisasi rancangan peraturan daerah tentang APBD
tersebut bersifat memberikan informasi mengenai hak dan kewajiban
pemerintah daerah serta masyarakat dalam pelaksanaan APBD tahun
anggaran yang direncanakan. Penyebarluasan rancangan peraturan daerah
tentang APBD dilaksanakan oleh sekretaris daerah selaku koordinator
pengelolaan keuangan daerah.
Berdasarkan aturan (Permendagri) penyerahan Rancangan APBD
kepada DPRD paling lambat bulan September, hal ini dimaksudkan supaya
DPRD memiliki waktu yang cukup untuk melakukan kajian dan
pembahasan sebelum diajukan kepada Gubernur untuk dilakukan evaluasi
terhadap RAPBD hasil pembahasan antara eksekutif dan legislatif.

21
Setelah Gubernur melakukan evaluasi, hasil evaluasi tersebut kemudian
dibahas kembali antara esksekutif dan legislatif selanjutnya disahkan
menjadi Peraturan daerah (PERDA) APBD. Hasil evaluasi oleh Mendagri
kepada Gubernur selamabat-lambatnya adalah 15 hari terhitung sejak
rancangan diterima, guubernur dapat menetapkan rancangan peraturan
daerah APBD menjadi peraturan daerah APBD. Apabila bertentangan
dengan kepentingan umum dan peraturan yang lebih tinggi, gubernur dan
DPRD melakukan penyempurnaan selambat-lambanya 7 hari seja diterima
hasil evaluasi. Bila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti, Mendagri
membatalkan sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun
sebelumnya. Setelah APBD ditetapkan dengan peraturan daerah,
pelaksanaannya dituangkan lebih lanjut dengan keputusan
gubernur/bupati//walikota.
Batas akhir pengesahan Raperda APBD menjadi Perda APBD adalah
31 desember, karena kalau melewati batas waktu tersebut pemerintah daerah
terancam sanksi dari pemerintah pusat yaitu berupa peniadaan gaji dan
tunjangan kepada pejabat daerah dan pegawai negeri.

2.4.3 PERUBAHAN APBD


Penyesuaian APBD dengan perkembangan dan/atau perubahan
keadaan, dibahas bersama DPRD dengan pemerintah daerah dalam rangka
penyusunan prakiraan perubahan atas APBD tahun anggaran yang bersangkutan,
apabila terjadi:
a. Perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi KUA;
b. Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar
unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja;
c. Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran Iebih tahun sebelumnya harus
digunakan dalam tahun berjalan;
d. Keadaan darurat; dan
e. Keadaan luar biasa.

2.4.4 PENETAPAN APBD

Penetapan anggaran merupakan tahapan yang dimulai ketika pihak


eksekutif menyerahkan usulan anggaran kepada pihak legislatif, selanjutnya
DPRD akan melakukan pembahasan untuk beberapa waktu. Selama masa
pembahasan akan terjadi diskusi antara pihak Panitia Anggaran Legislatif dengan

22
Tim Anggaran Eksekutif dimana pada kesempatan ini pihak legislatif
berkesempatan untuk menanyakan dasar-dasar kebijakan eksekutif dalam
membahas usulan anggaran tersebut.
Penetapan APBD dilaksanakan dengan melalui tiga tahap sebagai berikut:
1. Penyampaian dan Pembahasan Raperda tentang APBD.
Menurut ketentuan dari Pasal 104 Permendagri No. 13 Tahun 2006,
Raperda beserta lampiran-lampirannya yang telah disusun dan
disosialisasikan kepada masyarakat untuk selanjutnya disampaikan oleh
kepala daerah kepada DPRD paling lambat pada minggu pertama bulan
Oktober tahun anggaran sebelumnya dari tahun anggaran yang direncanakan
untuk mendapatkan persetujuan bersama. Pengambilan keputusan bersama
ini harus sudah terlaksana paling lama 1 (satu) bulan sebelum tahun anggaran
yang bersangkutan dimulai. Atas dasar persetujuan bersama tersebut, kepala
daerah menyiapkan rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD yang
harus disertai dengan nota keuangan. Raperda APBD tersebut antara lain
memuat rencana pengeluaran yang telah disepakati bersama. Raperda APBD
ini baru dapat dilaksanakan oleh pemerintahan kabupaten/kota setelah
mendapatpengesahan dari Gubernur terkait.

2. Evaluasi Raperda tentang APBD dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah


tentang Penjabaran APBD.
Raperda APBD pemerintahan kabupaten/kota yang telah disetujui dan
rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD sebelum
ditetapkan oleh Bupati.Walikota harus disampaikan kepada Gubernur untuk
di-evaluasi dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja. Evaluasi ini bertujuan
demi tercapainya keserasian antara kebijakan daerah dan kebijakan nasional,
keserasian antara kepentingan publik dan kepentingan aparatur, serta untuk
meneliti sejauh mana APBD kabupaten/kota tidak bertentangan dengan
kepentingan umum, peraturan yang lebih tinggi dan/atau peraturan daerah
lainnya. Hasil evaluasi ini sudah harus dituangkan dalam keputusan gubernur
dan disampaikan kepada bupati/walikota paling lama 15 (lima belas) hari
kerja terhitung sejak diterimanaya Raperda APBD tersebut.

3. Penetapan Perda tentang APBD dan Peraturan Kepala Daerah tentang


Penjabaran APBD.
Tahapan terakhir inidilaksanakan paling lambat tanggal 31 Desember
tahun anggaran sebelumnya. Setelah itu Perda dan Peraturan Kepala Daerah

23
tentang penjabaran APBD ini disampaikan oleh Bupati/Walikota kepada
Gubernur terkait paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah tanggal ditetapkan.

2.4.5 PENGESAHAN APBD


Kepala Daerah menyampaikan Rancangan Peraturan Daerah tentang
APBD kepada DPRD untuk mendapatkan persetujuan. Termasuk dalam Draft
Anggaran adalah Nota Keuangan. Pembahasan Draft Anggaran didasarkan
pada Kebijakan Umum Anggaran dan Plafon Anggaran disepakati.
Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dapat dilaksanakan hanya
setelah divalidasi oleh Menteri Dalam Negeri untuk anggaran provinsi dan oleh
Gubernur untuk anggaran / Kota a Kabupaten ini. Evaluasi tersebut
dimaksudkan untuk menjaga koherensi antara kebijakan daerah dan nasional,
antara kepentingan publik dan kepentingan pemerintah daerah, dan untuk
menilai apakah anggaran yang direncanakan tidak bertentangan dengan
kepentingan umum, peraturan yang lebih tinggi, dan / atau peraturan daerah
lain yang ditetapkan. Oleh karena itu, sebelum ditetapkan oleh Gubernur,
rancangan Peraturan Daerah tentang APBD yang telah disetujui oleh DPRD
serta draft Peraturan Gubernur tentang Detailization dari APBD harus
diserahkan kepada Menteri Dalam Negeri untuk evaluasi. Konsekuensi,
sebelum ditetapkan oleh Bupati / Walikota, rancangan Peraturan Daerah
tentang APBD yang telah disetujui oleh Kabupaten / Kota Parlemen dan
rancangan Kepala Badan / Peraturan Walikota tentang Detailization dari APBD
harus disampaikan kepada Gubernur untuk dievaluasi.
Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD yang telah divalidasi
kemudian akan ditetapkan oleh Kepala Daerah sebagai Peraturan Daerah
tentang APBD. Kepala Daerah juga menetapkan Peraturan tentang
Detailization dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Tanggal terbaru
dari diberlakukannya kedua Peraturan Daerah tentang APBD dan Peraturan
Kepala Daerah tentang Detailization dari APBD adalah 31 Desember.

2.4.6 MASALAH DALAM PENYUSUNAN APBD


Masalah – masalah pokok yang sering timbul dalam penyusunan APBD yaitu:
1. Anggaran belanja cenderung ditetapkan lebih tinggi. Alasannya adalah
karena usulan belanja kegiatan cenderung di mark – up, dibesarkan atau
ditinggikan diatas perkiraan yang sewajarnya (sebenarnya). Bila usulan
belanja selalu wajar dan sesuai dengan kebutuhan yang sebenarnya, maka
urgensi dan relevansi analisis standar belanja menjadi rendah.

24
2. Anggaran pendapatan cenderung ditetapkan lebih rendah. Bila usulan
belanja cenderung dimark – up, sebaliknya usulan pendapatan/penerimaan
cenderung dimark – down; ditetapkan lebih rendah dari target sebenarnya.
3. Kurangnya keterpaduan, konsistensi dan sinkronisasi perencanaan dengan
penganggaran. Tanpa perencanaan SKPD cenderung tidak fokus serta
cenderung bersifat reaktif yang pada akhirnya bermuara pada inefisiensi
dan inefektifitas.
4. Kurangnya keterpaduan, konsistensi dan sinkronisasi perencanaan antar
SKPD. Keterpaduan, konsistensi dan sinkronisasi tidak hanya antara aspek
perencanaan dengan penganggaran, tetapi juga antar SKPD. Hal ini perlu
diperhatikan karena target capaian program dan atau target hasil (outcome)
sebuah kegiatan dan atau visi daerah dapat dicapai melalui sinergi program
dan kegiatan antar SKPD.
5. Relevansi Program / Kegiatan : kurang responsif dengan permasalahan dan
/ atau kurang relevan dengan peluang yang dihadapi. Peningkatan
relevansi dan responsifitas program adalah agenda utama perencanaan.
Relevansi dan responsifitas akan sangat menentukan kemampuan daerah
dalam mewujudkan kewajibannya. Rendahnya relevansi ini terutama
karena rendahnya kemampuan perencanaan program dan kegiatan serta
ketersediaan data dan informasi.
6. Pertanggungjawaban kinerja kegiatan masih tetap cenderung fokus pada
pelaporan penggunaan dana. Tanpa pertanggungjawaban tersebut,
perbaikan kinerja SKPD tidak dapat berlanjut secara berkesinambungan.
Pada titik ekstrimnya, tanpa pertanggungjawaban kinerja, pola
penganggaran pada dasarnya masih belum berubah kecuali istilah dan
nomenklatur semata.
7. Spesifikasi indikator kinerja dan target kinerja masih relatif lemah.
Penetapan besaran belanja tidak didasarkan pada target kinerja keluaran
(output) atau hasil (outcome). Volume output diubah, tetapi total belanja
tidak berubah. Selain itu, indikator kinerja untuk Belanja Administrasi
Umum ( dahulu disebut sebagai Belanja Rutin ) masih tetap belum jelas.
8. Rendahnya inovasi pendanaan kesejahteraan rakyat. Hingga saat ini,
inovasi pendanaan kesejahteraan rakyat masih relatif rendah.

Solusi Mengatasi Masalah dalam Penyusunan APBD diatas adalah:


1. Perlu dilakukan inovasi – inovasi dalam proses perencanaan partisipatif
sedemikian rupa sehingga aspirasi – aspirasi politik diyakini benar – benar
terserap dalam dokumen perencanaan. Dengan demikian, pembahasan

25
rancangan APBD dapat lebih terfokus pada besaran dana yang seharusnya
dialokasikan dan tidak lagi terbebani dengan transaksi – transaksi politik.
2. Perlu dikembangkan strategi berupa dialog ataupun sosialisasi mengenai
perencanaan dan penganggaran berbasis kinerja. Tujuan utama dilakukan
langkah ini adalah untuk mengubah paradigma tradisional yang berfokus
pada penganggaran uang menjadi paradigma yang berbasis kinerja yang
menitikberatkan pada perencanaan kegiatan yang menjawab akar
permasalahan dimasyarakat.
3. Perlu penguatan kapasitas dan komitmen, baik bagi kalangan Pemda maupun
DPRD. Pada umumnya Pemda yang mengalami keterlambatan APBD
adalah daerah tertinggal, sehingga perlu fasilitasi dan pengawasan lebih
intensif dari Pemprov maupun Pemerintah Pusat. Namun sebenarnya yang
utama adalah komitmen dan inilah yang paling sulit. Proses politik
berbiaya tinggi barangkali menjadi akar masalah kenapa seringkali
anggota dewan ( begitu pula Kepala Daeraah ) bernafsu besar ingin
menguasai anggaran.
4. Pemberian sanksi sesuai aturan harus tetap dijalankan namun dengan sanksi
yang lebih spesifik. Pemda wajib menyampaikan Perda kepada Menteri
Keuangan maksimal tanggal 20 Maret. Bagi yang terlambat penyaluran
Dana Alokasi Umum (DAU) ditunda 25% perbulan. Atau sanksi
penghentian pemberian DAU dirubah dengan sanksi penundaan
pembayaran tunjangan pejabat pemerintah dan anggota DPRD.
5. Proses politik dalam penyusunan APBD jangan hanya menjadi arena
interaksi antara DPRD dan pemerintah, tapi juga sebagai arena publik
dimana ada transparansi dan akses bagi masyarakat untuk memperoleh
informasi, berpartisipasi, dan mengkritisi proses tersebut.
6. Para pembuat keputusan yang terlibat dalam proses legislasi APBD ( DPRD
dan Pemda) harus mempunyai sistem evaluasi untuk membandingkan dan
memprioritaskan proposal anggaran.
7. Selain memahami proses pengelolaan keuangan daerah, pemerintah daerah
dan DPRD perlu memahami berbagai standar yang digunakan dalam
akuntansi, misalnya standar biaya agar dapat memperhitungkan besaran
anggaran yang diperlukan untuk suatu kegiatan. Melalui penerapan standar
ini, praktik – praktik manipulasi atau mark – up anggaran dapat
diminimalkan.
8. Perlu dilakukan penguatan pada masyarakat sipil misalnya dengan cara
mengadvokasikan berbagai instrumen hukum dan kelembagaan yang
memberikan peluang bagi masyarakat untuk berpartisipasi, mengakses
informasi, dan mengontrol akuntabilitas pemerintahan. Selain itu juga

26
perlu ditingkatkan kualitas pendidikan, pengorganisasian, dan
pendampingan masyarakat agar masyarakat dapat mengartikulasikan
aspirasi dan kepentingan mereka.

2.5 DATA APBD PROVINSI JAWA TENGAH

PEMERINTAHAN PROVINSI JAWA TENGAH

DINAS DINAS PEKERJAAN UMUM SUMBER DAYA AIR DAN PENATAAN RUANG

LAPORAN REALISASI ANGGARAN TAHUN 2017

Untuk Tahun ya Untuk Tahun yng Berakhir 31 Desember 2017

ALASAN
REALISASI
2016 REALISASI
URAIAN 2017 TIDAK
2017
TERSERAP
<95%
ANGGARAN REALISASI
PENDAPATAN
PENDAPATAN ASLI DAERAH - - 4.090.328.708,00

Pajak Daerah - - -

RETRIBUSI DAERAH - - 4.090.328.708,00

Retribusi Jasa Umum


Retribus Jasa Usaha 4.090.328.708

Retribusi Perizinan Tertentu


Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah
- - -
Yang Dipisahkan
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang
- - -
Sah
Hasil Penjualan Aset Daerah yang Tidak
- - -
Dipisahkan
Penerimaan Jasa Giro - - -

TGR - - -

Pendapatan Denda Keterlambatan - - -


Pendapatan Denda Pajak - - -
Pendapatan Denda Retribusi - - -
Pendapatan Denda Pelanggaran Perda - - -
Pendapatan Bunga - - -
Pendapatan dari Pengembalian - - -
Pendapatan Fasum dan Fasos - - -
Pendapatan dari Penyelenggaraan - - -
Sekolah/Pendidikan dan Latihan

27
Penerimaan Lain-Lain - - -
Pendapatan BLUD

PENDAPATAN TRANSFER - - -
TRANSFER PEMERINTAH PUSAT- - - -
DANA PERIMBANGAN
Dana Bagi Hasil Pajak - - -
Dana Bagi Hasil Bukan Pajak - - -
Dana Alokasi Umum - - -
Dana Alokasi Khusus - - -
TRANSFER PEMERINTAH PUSAT- - - -
LAINNYA
Dana Penyesuaian - - -
Dana Insentif Daerah - - -

LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH - - -


Pendapatan Hibah - - -
Dana Bagi Hasil Pajak dari Pemda Lainnya - - -

JUMLAH PENDAPATAN - - 4.090.328.708,00

BELANJA
BELANJA OPERASI 114.247.037.00 - 169.245.690.599,0
0,00 0
Belanja Pegawai 67.947.397.000, - 97.044.015.230,00
00
Gaji dan Tunjangan 27.503.597.000, 36.793.276.170
00
Tambahan Penghasilan PNS 36.196.000.000, 38.590.978.060
00
Belanja Penunjandfg Ops.
Belanja insentif Pemungut Pajak
Belanja insentif Pemungut Retribusi
Honorarium PNS 2.624.546.000
Honorarium Non PNS 41.000.000,00 19.035.215.000
Uang Lembur
Belanja Pegawai BLUD 4.206.800.000,0
0
Belanja Barang dan Jasa 46.299.640.000, - 72.201.675.369,00 (19.627.000)
00
Belanja Bahan Pakai Habis 4.430.318.881
Belanja Bahan/Material 4.023.728.000,0 6.581.501.116
0
Belanja Jasa Kantor 2.652.921.671
Belanja Premi Asuransi 50.475.000,00 84.866.000
Belanja Perawatan Kendaraan Bermotor 2.367.344.973
Belanja Cetak dan Penggandaan 1.545.259.481
Belanja Sewa 237.180.000
Rumah/Gedung/Gudang/Parkir
Belanja Sewa Sarana Mobilitas 138.720.000
Belanja Sewa Alat Berat 317.764.250
Belanja Sewa Perlengkapan dan Peralatan 204.350.000
Kantor
Belanja Makanan dan Minuman 3.225.000.000,0 1.707.350.600
0
Belanja Pakaian Dinas dan Atributnya 19.500.000
Belanja Pakaian Kerja Lapangan
Belanja Pakaian Kerja
Belanja Pakaian Khusus dan Hari Teretntu
Belanja Perjalanan Dinas 12.185.387.247
Belanja Beasiswa Pendidikan PNS
Belanja kursus, pelatihan, sosialisasi dan 150.000.000,00 30.000.000
bimbingan teknis PNS

28
Belanja Pemeliharaan 3.596.848.000,0 36.014.962.150
0
Belanja Jasa Konsultansi 3.486.869.000
Belanja Pengadaan Jasa Lainnya
Belanja Bantuan Sosial Barang yang akan
Diserahkan kepada Pihak Ketiga/Masyarakat
Belanja Hibah Barang yang Akan
Diserahkan kepada Pihak Ketiga
Belanja Uang yang Diberikan Kepada Pihak 173.540.000
Ketiga/Masy
Belanja Hadiah Uang
Belanja Hadiah Barang 23.840.000
Belanja Publikasi
Belanja Barang dan Jasa BLUD 35.253.589.000,
00
Belanja Hibah - - -
Belanja Bantuan Sosial - - -

BELANJA MODAL 17.472.748.000, - 143.870.379.762,0


00 0
Belanja Modal Pengadaan Tanah - - 6.756.238.648,00
Tanah 6.756.238.648

Belanja Modal Pengadaan Peralatan dan 16.857.748.000, - 5.082.046.345,00


Mesin 00
Alat-alat Besar
Alat-alat Angkutan 1.232.356.045
Alat-alat Bengkel 953.800.000
Alat-alat Pertanian / Peternakan
Alat-alat Kantor dan Rumah Tangga 3.654.924.000,0 2.634.750.300,00
0
Alat-alat Studio dan Komunikasi 51.700.000,00 261.140.000
Alat-alat Kedokteran 13.151.124.000,
00
Alat-alat Laboratorium
Alat-alat Keamanan

Belanja Modal Pengadaan Gedung dan 600.000.000,00 - 2.575.967.000,00


Bangunan
Bangunan Gedung 600.000.000,00 2.575.967.000
Bangunan Monumen

Belanja Modal Pengadaan Jalan, Irigasi - - 129.456.127.769,0


dan Jaringan 0
Jalan dan Jembatan
Bangunan Air / Irigasi 129.434.611.769,0
0
Instalasi 21.516.000
Jaringan

Belanja Modal Pengadaan Aset Tetap 15.000.000,00 - -


Lainnya
Buku Perpustakaan
Barang Bercorak Kesenian/Kebudayaan 15.000.000,00
Hewan Ternak dan Tumbuhan

BELANJA TIDAK TERDUGA - - -


Belanja Tidak Terduga - - -

BELANJA TRANSFER/BAGI HASIL - - -


KABUPATEN/KOTA
Belanja Bagi Hasil Pajak Daerah kepada - - -
Kab/Kota
Belanja Bagi Hasil Retribusi Daerah kepada - - -
Kab/Kota
Belanja Bantuan Keuangan kepada - - -
Kab/Kota
Belanja Bantuan Keuangan kepada Desa - - -

29
Belanja Bantuan Kepada Partai Politik - - -
Belanja bantuan Keuangan Kepada Pemda - - -
Lain

JUMLAH BELANJA 131.719.785.00 - 313.116.070.361,0


0,00 0

SURPLUS/DEFISIT (131.719.785.0 - (309.025.741.653,


00,00) 00)

PEMBIAYAAN
Penerimaan Pembiayaan Daerah - - -
Penggunaan SILPA - - -
Pencairan Dana Cadangan - - -
Penerimaan Pinjaman Pokok Dana Talangan - - -
Pengadaan Pangan
Penerimaan Pinjaman Pokok Dana Bergulir - - -

Pengeluaran Daerah - - -
Penyertaan Modal ( Investasi ) Pemerintah - - -
Daerah
Pembentukan Dana Cadangan - - -

PEMBIAYAAN NETTO - - -

SISA LEBIH PEMBIAYAAN (131.719.785. - (309.025.741.65


ANGGARAN 000,00) 3,00)

Semarang, 31 Desember 2017


PENGGUNA ANGGARAN

PRASETYO BUDIE YUWONO, ME


NIP. 1958 0905 198302 1 001

30
LAPORAN APBD
PROVINSI JAWA TENGAH
TAHUN 2018
[[

Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2018 mendapatkan alokasi anggaran dari pusat
melalui APBN sebesar Rp 104,45 triliyun. Jumlah ini sedikit meningkat dari tahun
2017 ini yakni Rp 104,42 triliyun.

31
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
APBD merupakan rencana pelaksanaan semua Pendapatan Daerah dan semua
Belanja Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi dalam tahun anggaran tertentu.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah selanjutnya disingkat APBD adalah suatu
rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang disetujui oleh Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah (UU No. 17 Tahun 2003 pasal 1 butir 8 tentang Keuangan Negara).
Struktur APBD terdiri dari pendapatan daerah, belanja daerah dan pembiayaan.
Penyusunan APBD harus sistematis sesuai dengan jadwal dan penyusunan yang telah
terlampir dalam Undang – Undang.
Pemerintah dan DPRD merupakan pemegang tanggung jawab dalam
proses penyusunan RAPBD hingga penetapannya menjadi Perda APBD. Keterlambatan
naskah APBD diserahkan kepada DPRD oleh pemerintah, dimana idealnya hal ini
berimplikasi pada pembahasan yang tidak efektif dan terkesan terburu-buru.APBD pun
berperan penting dalam mendukung terlaksanany kebijakan fiskal dalam perekonomian
dan pembangunan. Keterkkaitan antara kebijakan fiskal dengan APBD satu sama lainnya
tergantung dengan keadaan yang menentukan akan digunakannya kebijakan apa.

3.1 SARAN
Sebagai faktor utama pembangunan para aktor dalam APBD harus benar
– benar bertindak jujur , adil, dan kreatif agar dapat mengimplementasikan manfaat dari
APBD dengan baik. Tuntutan dan kebutuhan era globalisasi seperti sekarang ini, perlu
adanya good governance dalam upaya pemulihan ekonomi nasional dan daerah, serta
pemulihan kepercayaan baik secara lokal, nasional maupun oleh dunia internasional
terhadap Pemerintah Indonesia, mengharuskan Pemerintah untuk mengambil langkah –
langka strategis dalam pengelolaan dan penyusunan APBD terutama pada sektor
kekayaan sumber daya alam.

32
Bagi Siswapun, diharapakan dapat ikut membantu pemerintah dalam
mengatur APBD dengan baik dengan turut memberikan aspirasi dan psaran dalam
pembangunan. Karena pembangunan yang dilakukan akan membawa manfaat bagi
masyarakat Indonesia. Demikian pula masyarakat hendaknya tidak hhanya berkomentar
saja, namun turut membantu pemrintah malui mmenyumbangkan tenanga, memberikan
saran, dan juga bekerja dengan giat untuk meningkatkan perekonomian daerahd an pusat..

33
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2017. “Makalah APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah)”,


http://papermakalah.blogspot.com/2017/10/makalah-apbd-anggaran-pendapatan-
dan.html
Anonim. 2017. “MAKALAH APBD & APBN”,
http://iqbalgamers007.blogspot.com/2016/10/makalah-apbd-apbn.html
Anonim. 2018. “Transparansi Anggaran APBD”,
https://bpkad.jatengprov.go.id/transparasi/anggaran-apbd
Anonim. 2017. “Laporan Realisasi Anggaran Tahun 2017” ,
http://data.jatengprov.go.id/dataset/laporan-realisasi-anggaran-tahun
2017/resource/e989a32c-bda4-49b2-92d1-a8d4d4449fe9
Alam. 2014. Buku Paket Ekonommi untuk SMA.MA Kelas XI Kurikulum 2013 yang
Disempurnakan. Jakarta: Penerbit Erlangga

34