Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saat ini listrik tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Listrik sangat
berperan penting dalam berbagai aktivitas manusia, misalnya listrikyang dialiri ke
rumah-rumah, perkotaan, dan industri-industri besar, sehingga kebutuhan akan energi
listrik meningkat seiring perkembangan zaman.

Perkembangan teknologi mendorong beberapa produsen untuk menciptakan


eneergi listrik yang dapat disimpan dan digunakan berulang kali. Contohnya adalah
battre dan aki. Sebelumnya baterai hanya dapat digunakan sekali saja. Seiring
perkembangan zaman baterai dapat diisi ulang, sehingga dapat di gunakan berulang
kali.

Pada praktikum Elektrokimia ini, dimana reaksi yang terjadi antara Cu ,Zn
dengan CuSo4 (Larutan elektrolit) yang dapat menghasilkan energi listrik dan begitu
juga sebaliknya dari energi listrik dapat diubah menjadi reaksi kimia.

1.2 Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah agar praktikan dapat menyusun dan
mengukur GGL sel Elektrokimia dan untuk menguji Persamaan Nerst.

1
BAB ll

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Elektrokimia

Elektrokimia merupakan salah satu cabang dari ilmu kimia yang mempelajari
hubungan antara reaksi kimia dengan arus listrik. Secara Umum Elektrokimia ini
dibagi dalam 2 macam, yaitu :

a. Sel Elektrolisis

Elektrolisi merupakan peristiwa penguraian suatu larutann elektrolit oleh arus


listrik. Berbeda dengan sel Volta dimana energi kimia diubah menjadi listrik, maka
pada elektrolisi yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu energi listrik diubah menjadi
energi kimia dengan cara mengalirkan arus listrik ke dalam suatu larutan dan akan
terjadi reaksi reduksi dalam elektrolisis (Anshary,1984).

Sel elektrolisi yaitu sel yang didasarkan pada reaksi kimia yang memerlukan
arus listrik, Contoh penggunaan elektrolisi yaitu (Riyanto, 2013).

 Elektrodeposisi adalah pengendapan logam dipermukaan elektroda. Teknik ini


digunakan untuk pembuatan bahan nanoteknologi,elektroplating dan pencegah
korosi.
 Elektrosintesis adalah sintesis senyawa organik dan anorganik dengan cara
elektrolisis.
 Elektrodegradasi adalah penguraian limbah organik. Penguraian limbah dengan
teknik ini lebih efisien dan hemat energi. Hasil akhir dari penguiraian limbah
organik adalah air dan gas.

2
b. Sel Volta.

Sel Volta adalah suatu peristiwa reaksi kimia yang terjadi karena yang terjadi
karena perbedaan potensial listrik antara dua elektrolit. Jika kedua elektrolit tersebut di
hubungkan terhadapsuatu peralatan luar seperti kabel maka dapat dihasilkan aliran arus
yang dapat mengakibatkan terjadinya kerja mekanik sehingga sel elektrokia mengubah
energi kimia menjadi energi listrik (Raymond, 2005).

Sel volta tidak terlepas dari reaksi reduksi. Setiap reaksi redoks dapat
dinyatakan sebagai jumlah dua setengah reaksi, yaitu reaksi konsepsi yang
memperlihatkan kehilangan dan perolehan elektron (Atkins, 1990).

Reduksi CU2+ = CU2 + 2e- Cu


Oksidasi Zn2+ = Zn Zn2+ + 2e-

2.2 Daya Gerak Listrik (DGL)

Dalam sebuah sel elektrokimia, energi listrik di hasilkan dengan cara pelepasan
elektron pada sebuah elektroda dan penerimaan elektron pada elektroda lainnya.
Setengah reaksi oksidasi akan berlangsung di anoda dan setengah lainnya akan
berlangsung di katoda. Pada sel elektrokimia kedua reaksi reduksi akan dipisah agar
aliran listrik yang ditimbulkan dapat dipergunakan, salah satu faktor yang mencirikan
sebuah elektrokimia adalah daya gerak listrik atau perbedaan potensial listrik antara
anoda dan katoda (Syukri, 1999).

Pengukuran daya gerak listrik suatu sel elektrokimia dalam jangkauan suhu
tertentu dapat digunakan untuk menentukan nilai-nilai termodinamika reaksi yang
berlangsung serta efisiensi aktifitas dari elektrolit yang terlibat (Carbony, 1998).

3
2.3 Persamaan Nerst

Beda potensial antara elektroda kanan (reduksi) dan elektroda kiri (oksidasi) di
tentukan dengan perhitungan (Esel). Secara umum dapat ditulis

ΔG = -nFEsel dan ΔGo = -nFEosel

Bila nilai DGL sel positif, maka ΔG negative dan reaksi berlangsung secara spontan,
sedangkan bila DGL sel negative, ΔG positif dan reaksi tidak spontan. Menurut
kesetimbangan kimia

ΔG = ΔGo + RT Ln Q

Maka

Esel = Eosel + RT Ln K

Hubungan antara Esel dan Eosel ini di sebut persamaan Nerst, dimana K adalah tetapan
kesetimbangan yang nilainya sama dengan perbandingan aktifitas spesi teroksidasi
terhadap spesi tereduksi (Riyanto, 2013).

4
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
 Gelas ukur 100 ml 1 buah
 Gelas piala 200 ml 2 buah
 Multitester 1 buah
 Kabel dan penjepit 2 buah
 Tembaga batangan 1 batang
 Tissue 2 lembar
 Aluminium 3 x 2 cm
 Kertas amplas 4 x 4 cm
 Timbangan

3.1.2 Bahan
 CuSo4 .5H2
 Al2(SO4) . 18 H2O
 NH4NO3 atau KNO3
 Aquadest

3.2 Prosedur Kerja


1. Disiapkan potongan logam aluminium dan tembaga dengan ukuran 3 x 2 cm, di
bersihkan permukaannya dengan kertas amplas.
2. Disiapkan larutan jenuh ammonium nitrat atau kalium nitrat sebanyak 50 ml
sebagai jembatan garam. Ambil selembar tissue gulung dan direkatkan dengan
selotip pada bagian tegahnya untuk mencegah gulungan terbuka.

5
3. Disiapkan 2 gelas piala 200 ml yang 1 diisi dengan 50 ml CuSO4 M dan satu lagi
dengan 100 ml Al2(SO4)3 M. Dicelupkan elektroda Cu kedalam larutan CuSO4
dan elektroda Zn ke dalam larutan Al2(SO4)3 dan dihubungkan dengan kabel ke
multitester.
4. Ditetesi tissue yang telah digulung tadi dengan larutan jenuh kalium nitrat.
Diamati nilai GGL pada multi tester.
5. Diganti larutan CuSO4 0,1 M dengan 0,2 M dan 0,5 M sedangkan larutan
Al2(SO4)3 tetap 0,5 M. Setiap konsentrasi menggunakan variasi suhu yaitu 30, 50,
dan 70oC .
6. Dicuci dan dibersihkan kembali kedua elektroda dengan kertas amplas, diganti
jembatan garam dengan yang baru dan diukur nilai GGL dengan multitester.

6
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengolahan Data

Tabel 4.1 Tabel perbandingan antara Esel percobaan dengan Esel teoritis pada
konsentrasi Al2(SO4)3 0,5 M

Esel percobaan Esel teoritis


Suhu (K) Konsentrasi CuSO4 (M)
(volt) (volt)
0,5 0,595 1,997
303 0,2 0,620 1,985
0,1 0,453 1,976
0,5 0,628 1,997
323 0,2 0,636 1,984
0,1 0,625 1,974
0,5 0,625 1,997
343 0,2 0,615 1,983
0,1 0,628 1,972

4.2 Pembahasan
4.2.1 Pengaruh konsentrasi larutan elektrolit CuSO4 terhadap Esel

Pada percobaan ini digunakan variasi konsentrasi larutan elektrolit CuSO4 0,5
M ; 0,2 M ; 0,1 M. Variasi konsentrasi tersebut disebut variasi uji. Dimana variasi
tersebut di uji pada suhu 303 K,323 K, dan 343 K. Hubungan konsentrasi dengan Esel
dapat dilihat pada Gambar 4.1

7
Gambar 4.1 Hubungan konsentrasi CuSO4 terhadap Esel

Berdasarkan Gambar 4.1 Esel pada suhu 303 K mengalami kenaikan dari0,453
V menjadi 0,62 V, namun kembali turun pada 0,62 Vmenjadi 0,59 V. Pada suhu 323
K Esel naik dari 0,625 V menjadi 0,636 V dan turun kembali menjadi 0,628 V. Pada
suhu 343 K Esel turun dari 0,628 V menjadi 0,615 V dan naik menjadi 0,625 V. Namun
menurut data teoritis semakin besar konsentrasi CuSO4, maka nilai Esel yang di peroleh
juga semakin besar (Keenan,1992). Penyimpangan pada grafik Esel dari percobaan
dapat terjadi karena pembuatan larutan yang kurang tepat.

4.2.2 Hubungan suhu dengan konsentrasi Esel

Pada percobaan ini variasi suhu yang dilakukan adalah 303 K, 323 K, dan 343 K.
Hubungan suhu dengan Esel dapat di lihat pada Gambar 4.2

8
Gambar 4.2 Hubungan antara perubahan Esel terhadap suhu

Berdasarkan Gambar 4.2 pada suhu 323 K Esel dari 0,595 V menjadi 0,628 V
pada 0,5 M CuSO4 dan naik pada 0,2 M CuSO4 dari 0,62 V menjadi 0,636 V. Pada
suhu 343 K dari 0,628 V menjadi 0,625 V dam 0,636 V menjadi 0,615 V. Pada CuSO4
0,1 M Esel tetap naik dari 0,625 V menjadi 0,628 V. Pergerakan partikel yang
berbanding lurus dengan peniungkatan suhu, membuat pergerakan partikel semakin
cepat yang menyebabkan tumbukan antara partikel semakin besar dan laju reaksi
meningkat, sehingga pergerakan electron semakin cepat (Achmad,1992).
Penyimpangan pada Grafik Esel disebabkan karena pengaturan suhu yang kurang tepat
dimana pada waktu praktikum terjadi penurunan suhu yang drastis setelah di pindahkan
dari hot plate.

4.2.3 Hubungan waktu dengan Esel

Pada percobaan ini esel dicatat pada 0, 2, 4, 6, 8, dan 10 menit. Hubungan waktu
terhadap Esel di tunjukan pada Gambar 4.3

9
0.655
0.65 CuSO4 0,1M pada 343K
0.645
0.64
E Sel (Volt)

0.635
0.63
0.625
0.62
0.615
0 2 4 6 8 10 12
Waktu (menit)

Gambar 4.3 Pengaruh waktu terhadap Esel

Berdasarkan Gambar 4.3 dapat dilihat pada grafik terjadi penurunan Eosel
seiring dengan bertambahnya waktu. dimana pada suhu 343 K, pada 0 menit Esel
sebesar 0,65 V, kemudian pada menit kedua terjadi lagi penurunan menjadi 0,64 V,
pada menit keempat nilai Esel 0,64 V, pada menit keenam nilai Esel menjadi 0,63 V,
pada menit kedelapan nilai Esel tetap 0,63 V, dan pada menit kesepuluh nilai Esel
menjadi 0,62 V. Namun secara teoritis pada persamaan Nerst, waktu tidak
mempengaruhi Esel (Suryanta, 2013)

RT 𝑜𝑘𝑠𝑖𝑑𝑎𝑛
Esel = Eosel - 𝑛.𝐹 Ln 𝑟𝑒𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖

Dimana R adalah ketetapan Gas ideal, T adalah suhu dan F hukum Faraday

4.2.1 Hubungan Esel aktual dan Esel teoritis

Esel yang diperoleh Pada percobaan ini dibandingkan dengan Esel teoritis yang
diperoleh dengan persamaan Nerst (Petrucci, 1993).

10
RT [𝑜𝑘𝑠𝑖𝑑𝑎𝑛]
Esel = Eosel - 𝑛.𝐹 Ln [𝑟𝑒𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖]

Pada percobaan ini,perbandingan antara Esel actual dan Esel teoritis dapat di lihat pada
Gambar 4.4

2.5 E sel aktual pada 303 K


E sel teoritis pada 303 K
2 E sel aktual pada 323 K
E sel teoritis pada 323 K
E sel aktual pada 343 K
1.5 E sel teoritis pada 343 K
E Sel (Volt)

0.5

0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
Konsentrasi CuSO4 (M)

Gambar 4.4 Hubungan antara Esel actual dan Esel teoritis

Berdasarkan Gambar 4.4 dapat dilihat bahwa Esel teoritis relative sama untuk
ketiga variasi suhu 303 K,323 K,dan 343 K. Esel aktual sedikit berbeda pada suhu 303
K dengan konsentrasi CuSO4 0,1 M. Esel aktual dengan Esel teoritis memiliki selisih
lebih dari 1 V. Penyimpangan tersebut dapat terjadi karena kesalahan dalam
pengaturan suhu dan pembuatan larutan.

11
BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Pengaruh suhu pada Esel berbanding terbalik pada suhu 343 K untuk konsentrasi
CuSO4 0,5 M dan 0,2 M.
2. Konsentrasi berbanding lurus dengan Esel pada konsentrasi 0,2 M CuSO4 untuk
suhu 303 K dan 323 K.
3. Waktu tidak berpengaruh pada Esel.
4. Selisih Esel aktual dengan Esel teoritis lebih dari 1V.
5. Penyimpangan terjadi dikarenakan kesalahan pengaturan suhu serta pembuatan
larutan yg kurang tepat.

12
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, H. 1992. Elektrokimia dan Kinematika Kimia. Cipta Aditya Bakti:


Bandung.

Anshary, I. 1984. Kimia. Ganesha Exact: Bandung.

Atkins. 1999. Kimia Fisika. Erlangga: Jakarta.

Carbony, G. 1998. Experimental in Electrochemistry. Oxford University press:


England.

Keenan, C.W. dan Donald. 1992. Kimia untuk Universitas. Erlangga: Jakarta.

Petrucci dan Suminar. 1993. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. Erlangga:
Jakarta.

Raymond, C. 2005. Kimia dasar Konsep-Konsep Inti. Erlangga: Jakarta.

Riyanto. 2013. Elektrokimia dan Aplikasinya. Erlangga : Jakarta.

Suryanta. 2013. Redoks dan elektrokimia. UPI Bandung: Bandung.

Syukri, S. 1999. Kimia Fisika. Erlangga : Jakarta.

13
LAMPIRAN A

DATA PENGAMATAN

Tabel A.1 Data pengamatan Esel pada konsentrasi Al2(SO4)3 0,5 M

Esel (Volt)
Suhu Konsentrasi
NO 0 2 4 6 8 10
(oC) CuSO4 (M)
menit menit menit menit menit menit
0,5 0,6 0,6 0,60 0,59 0,59 0,59
1 30 0,2 0,62 0,62 0,62 0,62 0,62 0,62
0,1 0,57 0,57 0,56 0,40 0,40 0,41
0,5 0,61 0,64 0,64 0,63 0,63 0,61
2 50 0,2 0,64 0,64 0,64 0,64 0,63 0,63
0,1 0,62 0,63 0,63 0,63 0,63 0,61
0,5 0,64 0,62 0,62 0,63 0,62 0,63
3 70 0,2 0,64 0,63 0,63 0,63 0,63 0,63
0,1 0,65 0,64 0,64 0,63 0,63 0,62

14
LAMPIRAN B
CONTOH PERHITUNGAN

B.1 Perhitungan massa CuSO4 0,5M

𝐺𝑟𝑎𝑚 1000
M = ×
𝑀𝑟 𝑉

𝑀.𝑀𝑟.𝑉
Gram =
1000

0,5 𝑥 159,5 𝑥 50
Gram =
1000

Gram = 3,9875 gram

𝐺𝑟 𝐶𝑢𝑆𝑜4.5𝐻2𝑂 𝐺𝑟 𝐶𝑢𝑆𝑂4
=
𝑀𝑟 𝑚𝑟

3,9875 𝑥 249,5
Gr CuSO4.5H2O = 159,5

= 6,2375 gram

B.2 Perhitungan Massa Al2(SO4)3

𝐺𝑟𝑎𝑚 1000
M = ×
𝑀𝑟 50

0,5 𝑥 345 𝑥 50
Gram =
1000

Gram = 8,55 gram

15
𝐺𝑟 𝐴𝑙2(𝑆𝑂4)3.18𝐻20 𝐺𝑟 𝐴𝑙2(𝑆𝑂4)3
=
𝑀𝑟 𝑚𝑟

666 𝑥 8,55
Gr Al2(SO4)3 = 342

= 16,65 gram

B.3 Perhitungan pengenceran Larutan CuSO4 0,2M

M1 x V1 = M2 x V2

0,5V1 = 0,2 x 30

V1 = 12 ml

B.4 Perhitungan Esel

Al3+ + 3e- → Al Eosel =-1,66V

Cu2+ + 2e-→ Cu Eosel = 0,34V

Eosel = Eokatoda - Eoanoda

=0,34V + 1,66V

=2Volt

16
A.5 Perhitungan esel secara Teoritis pada larutan elektrolit

1. Pada suhu 30oC

Al2(SO4)3 0,5M dan CuS04 0,5M

𝑅𝑇 [Al3+]2
Eosel = Eosel - 𝑛𝐹 Ln
[Cu2+]3

8,314 𝑥 303 [0,5]2


=2V- Ln
6.96500
[0,5]3

=1,997V

Al2(SO4)3 0,5M dan CuS04 0,2M

𝑅𝑇 [Al3+]2
Eosel = Eosel - 𝑛𝐹 Ln
[Cu2+]3

8,314 𝑥 303 [0,5]2


=2V- Ln
6.96500
[0,2]3

=1,985V

Al2(SO4)3 0,5M dan CuS04 0,1M

𝑅𝑇 [Al3+]2
Eosel = Eosel - Ln
𝑛𝐹
[Cu2+]3

8,314 𝑥 303 [0,5]2


=2V- Ln
6.96500
[0,1]3

=1,976V

17
2. Pada suhu 50oC

Al2(SO4)3 0,5M dan CuS04 0,5M

𝑅𝑇 [Al3+]2
Eosel = Eosel - 𝑛𝐹 Ln
[Cu2+]3

8,314 𝑥 323 [0,5]2


=2V- Ln
6.96500
[0,5]3
=1,997V

Al2(SO4)3 0,5M dan CuS04 0,2M

𝑅𝑇 [Al3+]2
Eosel = Eosel - 𝑛𝐹 Ln
[Cu2+]3

8,314 𝑥 323 [0,5]2


=2V- Ln
6.96500
[0,2]3

=1,984V

Al2(SO4)3 0,5M dan CuS04 0,1M

𝑅𝑇 [Al3+]2
Eosel = Eosel - 𝑛𝐹 Ln
[Cu2+]3

8,314 𝑥 323 [0,5]2


=2V- Ln
6.96500
[0,1]3

=1,974V

18
3. Pada suhu 70oC
Al2(SO4)3 0,5M dan CuS04 0,5M
𝑅𝑇 [Al3+]2
Eosel = Eosel - 𝑛𝐹 Ln
[Cu2+]3

[0,5]2
8,314 𝑥 343
=2V- Ln
6.96500 [0,5]3

=1,997V

Al2(SO4)3 0,5M dan CuS04 0,2M

𝑅𝑇 [Al3+]2
Eosel = Eosel - 𝑛𝐹 Ln
[Cu2+]3

8,314 𝑥 343 [0,5]2


=2V- Ln
6.96500
[0,2]3

=1,983V

Al2(SO4)3 0,5M dan CuS04 0,5M

𝑅𝑇 [Al3+]2
Eosel = Eosel - 𝑛𝐹 Ln
[Cu2+]3

8,314 𝑥 343 [0,5]2


=2V- Ln
6.96500
[0,1]3

=1,972V

19
LAMPIRAN C

GAMBAR

Gambar C.1 Hubungan konsentrasi CuSO4 terhadap Esel

20
Gambar C.2 Hubungan antara perubahan Esel terhadap suhu

0.655
0.65 CuSO4 0,1M pada 343K
0.645
0.64
E Sel (Volt)

0.635
0.63
0.625
0.62
0.615
0 2 4 6 8 10 12
Waktu (menit)

Gambar C.3 Pengaruh waktu terhadap Esel

21
2.5 E sel aktual pada 303 K
E sel teoritis pada 303 K
2 E sel aktual pada 323 K
E sel teoritis pada 323 K
E sel aktual pada 343 K
1.5 E sel teoritis pada 343 K
E Sel (Volt)

0.5

0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
Konsentrasi CuSO4 (M)

Gambar 4.4 Hubungan antara Esel actual dan Esel teoritis

22