Anda di halaman 1dari 3

B.

Perkembangan Suku Aborigin Di Australia


Suku Aborigin kerap dianggap memiliki kedudukan yang lebih rendah dari
manusia. Padahal suku Aborigin adalah penduduk asli dari bangsa Australia sebelum
bangsa kulit putih masuk. Ketika Inggris datang pada 1788, jumlah aborigin yang
hidup sekitar 300.000 jiwa. Menurut William Dampier, masyarakat abrigin adalah
masyarakat yang paling menyedihkan di dunia, warga aborigin tidak berkeinginan
untuk melakukan perubahan dari masyarakat barbar ke masa peradaban. Tidak pernah
ada hubungan baik yang terjalin antara masyarakat aborigin dengan bangsa barat
dimana aborigin tidak siap dengan modernisasi yang dibawa oleh bangsa barat dan
menganggap itu semua akan merusak wilayah mereka, keduanya pun saling
berperang untuk mendapatkan wilayah.1
Semenjak orang-orang Eropa datang ke Australia, masyarakat Aborigin sering
kali mendapat perlakuan diskriminatif, mereka tidak dianggap sebagai pemilik
kekuasaan wilayah Australia. Perlakuan buruk yang dialami oleh Aborigin seperti
halnya dalam konstitusi Australia yang disebutkan bahwa penduduk Aborigin tidak
terhitung sebagai bagian dari penduduk Australia. Akan tetapi pada federasi
menetapkan bahwa Pribumi Australia merupakan kontrol dan tanggung jawab negara
bagian dan teritori Australia. Hal yang terjadi justru perundang-undangan yang dibuat
dan ditetapkan oleh masing-masing negara bagian Australia tidak memihak dan
melindungi Aborigin, justru semakin mendiskriminasi. Contohnya yaitu ketetapan
perundang-undangan Australia Barat, The WA Aborigin Act 1905 yang menyebutkan
bahwa keturunan yang merupakan setengah kasta Aborigin harus dihapus dari
keluarga Aborigin. 2
Pada tahun 1967 adalah referendum hak Aborigin. Masyarakat Aborigin boleh
untuk mengikuti pemilihan disemua koloni kecuali Quessland dan Australia Barat.

1Anna Yulia Hartati dan Aileyas Kabo, Jurnal Pengakuan Indigenous People di Australia, Hal

2 Ibid hal 10-11


Sejak referendum 1967 ada banyak perubahan-perubahan yang terjadi . Pada 1968
untuk pertama kali dibangun kantor Commonwealth hubungan Aborigin untuk sarana
rekomendasi kebijakan dan koordinasi program. Pemerintah Australia yang
selanjutnya sangat mendukung upaya pengakuan dan rekonsiliasi masyarakat
Aborigin kedalam konstitusi Australia. Kevin Rudd, Julia Giliard, dan Tonny Abbot
merupakan perdana menteri yang sangat mengupayakan pengakuan status masyarakat
Aborigin.
Pada tahun 1970-an , pemerintah Australia mulai memberikan peluang kepada
orang aborigin, utamanya di bidang politik serta pendidikan. Ada beberapa tokoh
suku Aborigin yang berhasil tampil di panggung politik. Pertama yaitu Neville
Bonner yang dikenal atas pencapaiannya sebagai aborigin pertama yang terpilih
sebagai anggota parlemen federal Australia , disusul dengan Douglas Nichols
Aborigin pertama yang terpilih sebagai senator mewakili negara bagian Queensland.3
Pada masa pemerintahan Julia Gillard di tahun 2013, Majelis Rendah
Parlemen Australia berhasil meloloskan RUU yang mengakui masyarakat Aborigin
dan Kepulauan Selat Tores sebagai penduduk pertama Australia. Perdana Menteri
yang menjabat selanjutnya Tonny Abbot juga mendeklarasikan bahwa dirinya siap
berjuang untuk meraih pengakuan konstitusional bagi penduduk Aborigin dan
Kepulauan Selat Torres sampai pada 2017.4

3 Rifai Shodiq Fathoni, 2017, Sejarah Suku Aborigin, wawasansejarah.com/sejarah-suku-

aborigin/ diakses pada 17 Februari 2019.

4 Anton Setiawan, Australia Akui Aborigin Secara Hukum, Jurnal Nasional,

http://www.jurnas.com/emobile/13/2013-02-14/234399,