Anda di halaman 1dari 4

TUGAS METODE PENELITIAN

PENGARUH KEKASARAN PERMUKAAN BAJA HASIL PROSES BUBUT


TERHADAP LAJU KOROSI DI LINGKUNGAN PANTAI

Semester Ganjil 2018/2019

ILHAM PURWANDI

160481100014

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK MESIN


JURUSAN TEKNIK INDUSTRI DAN MESIN
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
BANGKALAN 2019
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap pekerjaan mesin mempunyai persyaratan kualitas permukaan (kekasaran


permukaan) yang berbeda-beda, tergantung dari fungsinya. Karakteristik suatu kekasaran
permukaan memegang peranan penting dalam perancangan komponen mesin. Hal tersebut
perlu dinyatakan dengan jelas misalnya dalam kaitannya dengan gesekan, keausan,
pelumasan, ketahanan kelelahan, perekatan dua atau lebih komponen-komponen mesin.
Kualitas permukaan hasil pemesinan bubut dapat dilihat dari kekasaran permukaannya. Makin
halus permukaannya makin baik pula kualitasnya, sehingga cukup beralasan apabila
kekasaran permukaan hasil pemesinan bubut diperhatikan dan dicari solusi untuk
mendapatkan yang sehalus mungkin. Ada beberapa factor yang mempengaruhi kekasaran
permukaan pada pengerjaan logam dengan menggunakan mesin bubut, antara lain kecepatan
potong, ketebalan pemakanan, kondisi mesin, bahan benda kerja, bentuk ujung pahat mata
potong, permukaan potong tergantung kepada kondisi pemotongan (cutting condition),
adapun yang dimaksud dengan kondisi pemotongan di sini antara lain adalah besarnya
kecepatan potong (cutting speed), ketebalan pemakanan (feeding) dan kedalaman pemakanan
(depth of cut). Proses pemesinan bubut terhadap material baja, dilakukan dengan cara
membubut bagian atas material dengan perlakuan yang sama. Sehingga pada proses bubut
tersebut jika diberikan variabel kecepatan potong dan langkah pemakanan yang berbeda maka
akan didapat kekasaran yang berbeda. Pembubutan pada permukaan material akan
mengakibatkan terkikisnya lapisan pasif (mempunyai sifat keras dan tidak mudah mengikat
oksigen) menjadi berkurang pada saat pembubutan.
Kerusakan logam yang disebabkan oleh lingkungan udara untuk negara beriklim tropis
seperti indonesia, merupakan masalah yang sangat serius dan perlu ditangani dengan
sungguh-sungguh. Adapun dilingkungan pantai yang korosif terdapat banyak konstruksi yang
menggunakan baja, sehingga pasti akan mengalami korosi. Di dunia industri terutama pada
dunia material, korosi merupakan permasalahan yang serius. Korosi atau pengkaratan
merupakan suatu peristiwa kerusakan atau penurunan kualitas suatu bahan logam yang
disebabkan oleh terjadinya reaksi terhadap linkungan. Beberapa pakar pendapat definisi hanya
berlaku pada logam saja, tetapi para insinyur korosi juga ada yang mendefinisikan istilah
korosi berlaku juga untuk material non logam, seperti keramik, plastik, karet. Sebagai contoh
rusaknya cat karet karena sinar matahari atau karena bahan kimia, mencairnya lapisan tungku
pembuatan baja, serangan logam yang solid oleh logam yang cair (liquid metal corrosion)
Dam pak yang ditimbulkan korosi dapat berupa kerugian langsung dan kerugian tidak
langsung, kerugian langsung adalah berupa terjadinya kerusakan pada peralatan, pemesinan
atau struktur bangunan. Sedangkan kerugian tidak langsung berupa terhentinya aktifitas
produksi karena terjadinya penggntian peralatan yang rusak akibat korosi. Bahkan kerugian
tidak langsung dapat berupa terjadinya kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa, seperti
kejadian runtuhnya jembatan akibat korosi. Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu yang berasal dari bahan itu sendiri dan dari lingkungan. Faktor
dari bahan meliputi kemurnian bahan, bentuk kristal, teknik pencampuran bahan dan
sebagainya.
Dari beberapa kesimpulan diatas penulis merasa perlu mengadakan penelitian lebih lanjut
tentang korosi pada baja karbon sedang, tetapi dengan variasi atau parameter yang berbeda,
variasi yang dimaksud disini antara lain jenis pemesinannya, dan lokasi pemaparannya
sehingga dapat menambah pengetahuan tentang korosi dengan berbagai variasi, karena pada
kenyataannya kebanyakan kerusakan pada peralatan dan struktur bangunan disebabkan korosi
yang terjadi dilingkungan. Provinsi jawa timur terletak di pulau madura daerah madura
umumnya terdiri dari tanah pegunungan dan daratan rendah serta diapit dengan dua laut serta
identik daerah pantai dan pelabuhan. Dengan kondisi geografis tersebut keadaan atmosfer di
daerah madura seperti, iklim, cuaca, temperatur dan kelembaban dapat berubah setiap saat
karena pengaruh dari darat dan dari laut. Maka dari itu peneliti memilih di tiga daerah di
madura yaitu daerah industri, pantai, dan pegunungan

B. Tujuan penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk:

a. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
tingkat kekasaran permukaan baja hasil proses bubut terhadap laju korosi di lingkungan
pantai
b. Mengetahui pengaruh lingkungan pantai terhadap kekuatan tarik baja tahan karat
c. Mengetahui cacat pada baja dengan memberikan cairan penetrant terhadap laju korosi di
lingkungan pantai
d. Mengetahui pengaruh lingkungan pantai terhadap sifat fisis dan mekanis plat baja tahan
karat
e. Mengetahui pengaruh lingkungan pantai terhadap struktur mikro baja tahan karat

C. Masalah penelitian

Adapun masalah penelitian ini adalah untuk:

Bagaimana pengaruh tingkat kekasaran permukaan baja hasil proses bubut terhadap laju
korosi di lingkungan pantai ?

Untuk mengetahui pengaruh tingkat kekasaran permukaan baja hasil proses bubut terhadap
laju korosi di lingkungan pantai khususnya baja tahan karat. Penelitian dilakukan dengan
dua perlakuan, yaitu perlakuan air laut dan udara pantai. Sampel penelitian direndam dan
digantung sesuai perlakuan selama 100 hari, setiap 20 hari diambil dan di lakukan
pengujian sebanyak 5 kali pengujian. Setelah pengujian tersebut dilakukan untuk
mengetahui cacat pada baja dengan memberikan cairan penetrant apabila baja tersebut
mengalami bercak merah pada permukaan baja tersebut mengalami cacat atau terkena
korosi. Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah baja AISI 1045 dengan variasi
kekasaran permukaan dari hasil pembubutan menggunakan mesin CNC dengan ukuran
spesimen sesuai standar alat uji. Kualitas permukaan hasil proses bubut rata-rata dapat
dilihat dari kekasaran permukaannya. Cukup beralasan juga apabila kekasaran permukaan
hasil proses bubut diperhatikan dan dicari solusi untuk mendapatkan yang halus mungkin.
Tingkat kekasaran suatu permukaan material adalah variable yang digunakan untuk
mengukur nilai laju korosi yang terjadi disamping berat material tersebut pada waktu
pemaparan. Waktu pemaparan harus dipertimbangkan ketika menginterpretasi data kupon
korosi. Waktu pemaparan pendek (15 hingga 45 hari) sudah dapat menunjukkan kecepatan
korosi. Untuk waktu pemaparan yang panjang (60 hingga 90 hari) sering digunakan untuk
mendeteksi serangan pitting. Setelah pemaparan, pembersihan dan penghilangan produk
korosi dan semua yang terekspos dipermukaan harus harus dilakukan dengan hati-hati.

D. Manfaat penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai untuk:

a. Mengetahui kekuatan tarik pelat baja tahan karat terhadap pengaruh lingkungan pantai
b. Menambah pengetahuan tentang ilmu bahan logam, khususnya perpatahan dan kelelahan
c. Mengetahui struktur mikro pada baja
d. Dapat menjadi referensi pada penelitian berikutnya
e. Dapat menentukan hasil dari uji tarik dan laju korosi untuk bahan baja
f. Memberi input atau data untuk pengembangan pembangunan di daerah pantai