Anda di halaman 1dari 53

REFERAT

EFUSI PLEURA

Disusun oleh :
Thea Indah
1361050173

Pembimbing :
dr. Tri Harjanto, Sp.Rad., MSc.

KEPANITERAAN KLINIK ILMU RADIOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
PERIODE 22 JANUARI – 24 FEBRUARI 2018
JAKARTA
2018

0
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Efusi pleura adalah penimbunan cairan di dalam rongga pleura


akibat transudasi atau eksudasi yang berlebihan dari permukaan pleura.
Efusi pleura bukan merupakan suatu penyakit, akan tetapi merupakan
tanda suatu penyakit. Akibat adanya carian yang cukup banyak dalam
rongga pleura, maka kapasitas paru akan berkurang dan di samping itu
juga menyebabkan pendorongan organ-organ mediastinum, termasuk
jantung. Hal ini mengakibatkan insufisiensi pernafasan dan juga dapat
mengakibatkan gangguan pada jantung dan sirkulasi darah.
Di negara-negara barat, efusi pleura terutama disebabkan oleh gagal
jantung kongestif, sirosis hati, keganasan, dan pneumonia bakteri,
sementara di negara-negara yang sedang berkembang, seperti Indonesia,
lazim diakibatkan oleh infeksi tuberkulosis. Efusi pleura keganasan
merupakan salah satu komplikasi yang biasa ditemukan pada penderita
keganasan dan terutama disebabkan oleh kanker paru dan kanker
payudara.
Efusi pleura merupakan manifestasi klinik yang dapat dijumpai
pada sekitar 50-60% penderita keganasan pleura primer atau metastatik.
Sementara 5% kasus mesotelioma (keganasan pleura primer) dapat disertai
efusi pleura dan sekitar 50% penderita kanker payudara akhirnya akan
mengalami efusi pleura. Diperlukan penatalaksanaan yang baik dalam
menanggulangi efusi pleura ini, yaitu pengeluaran cairan dengan segera
serta pengobatan terhadap penyebabnya sehingga hasilnya akan
memuaskan.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka penulis berkeinginan
menyajikan informasi mengenai efusi pleura agar dapat menjadi bahan
masukan kepada diri penulis dan kita semua dapat mendiagnosis serta
memberikan terapi yang tepat pada penderita efusi pleura.

1
Anatomi dan Fisiologi
Pleura
Pleura terletak
dibagian terluar
dari paru-paru dan
mengelilingi paru.
Pleura
disusun oleh jaringan
ikat fibrosa yang
didalamnya terdapat
banyak kapiler limfa
dan kapiler darah
serta serat saraf
kecil. Pleura disusun
juga oleh sel-sel
(terutama
2
fibroblast dan
makrofag). Pleura
paru ini juga dilapisi
oleh selapis mesotel.
Pleura
merupakan membran
tipis, halus, dan licin
yang membungkus
dinding anterior
toraks dan
permukaan superior
diafragma. Lapisan
tipis ini mengandung
kolagen
dan jaringan elastis
(Sylvia Anderson
3
Price dan Lorraine M,
2005: 739).
Ada 2 macam pleura
yaitu pleura parietalis
dan pleura viseralis.
Pleura parietalis
melapisi toraks atau
rongga dada
sedangkan pleura
viseralis melapisi
paru-paru.
Kedua pleura ini
bersatu pada hilus
paru. Dalam
beberapa hal
terdapat perbedaan
4
antara kedua pleura
ini yaitu pleura
viseralis bagian
permukaan luarnya
terdiri dari
selapis sel mesotelial
yang tipis (tebalnya
tidak lebih dari 30
µm). Diantara celah-
celah sel ini terdapat
beberapa sel limfosit.
Di bawah sel-sel
mesotelia ini terdapat
endopleura yang
berisi fibrosit dan
histiosit. Seterusnya
5
dibawah ini
(dinamakan
lapisan tengah)
terdapat jaringan
kolagen dan serat-
serat elastik. Pada
lapisan
terbawah terdapat
jaringan intertitial
subpleura yang
sangat banyak
mengandung
pembuluh darah
kapiler dari A.
Pulmonalis dan A.

6
Brankialis serta
pembuluh
getah bening.
Keseluruhan jaringan
pleura viseralis ini
menempel dengan
kuat
pada jaringan
parenkim paru.
Pleura parietalis
mempunyai lapisan
jaringan lebih
tebal dan terdiri dari
sel-sel mesotelial
juga dan jaringan ikat
(jaringan kolagen
7
dan serat-serat
elastik). Dalam
jaringan ikat,
terdapat pembuluh
kapiler dari A.
Interkostalis dan A.
Mammaria interna,
pembuluh getah
bening dan banyak
reseptor saraf-saraf
sensorik yang peka
terhadap rasa sakit
dan perbedaan
temperatur. Sistem
persarafan ini berasal
dari nervus
8
intercostalis dinding
dada.
Keseluruhan
jaringan pleura
parietalis ini
menempel dengan
mudah, tapi juga
mudah dilepaskan
dari dinding dada di
atasnya. Di antara
pleura terdapat
ruangan
yang disebut
spasium pleura,
yang mengandung

9
sejumlah kecil
cairan yang
Anatomi dan Fisiologi
Pleura
Pleura terletak
dibagian terluar
dari paru-paru dan
mengelilingi paru.
Pleura
disusun oleh jaringan
ikat fibrosa yang
didalamnya terdapat
banyak kapiler limfa
dan kapiler darah
serta serat saraf
kecil. Pleura disusun
10
juga oleh sel-sel
(terutama
fibroblast dan
makrofag). Pleura
paru ini juga dilapisi
oleh selapis mesotel.
Pleura
merupakan membran
tipis, halus, dan licin
yang membungkus
dinding anterior
toraks dan
permukaan superior
diafragma. Lapisan
tipis ini mengandung
kolagen
11
dan jaringan elastis
(Sylvia Anderson
Price dan Lorraine M,
2005: 739).
Ada 2 macam pleura
yaitu pleura parietalis
dan pleura viseralis.
Pleura parietalis
melapisi toraks atau
rongga dada
sedangkan pleura
viseralis melapisi
paru-paru.
Kedua pleura ini
bersatu pada hilus
paru. Dalam
12
beberapa hal
terdapat perbedaan
antara kedua pleura
ini yaitu pleura
viseralis bagian
permukaan luarnya
terdiri dari
selapis sel mesotelial
yang tipis (tebalnya
tidak lebih dari 30
µm). Diantara celah-
celah sel ini terdapat
beberapa sel limfosit.
Di bawah sel-sel
mesotelia ini terdapat

13
endopleura yang
berisi fibrosit dan
histiosit. Seterusnya
dibawah ini
(dinamakan
lapisan tengah)
terdapat jaringan
kolagen dan serat-
serat elastik. Pada
lapisan
terbawah terdapat
jaringan intertitial
subpleura yang
sangat banyak
mengandung

14
pembuluh darah
kapiler dari A.
Pulmonalis dan A.
Brankialis serta
pembuluh
getah bening.
Keseluruhan jaringan
pleura viseralis ini
menempel dengan
kuat
pada jaringan
parenkim paru.
Pleura parietalis
mempunyai lapisan
jaringan lebih

15
tebal dan terdiri dari
sel-sel mesotelial
juga dan jaringan ikat
(jaringan kolagen
dan serat-serat
elastik). Dalam
jaringan ikat,
terdapat pembuluh
kapiler dari A.
Interkostalis dan A.
Mammaria interna,
pembuluh getah
bening dan banyak
reseptor saraf-saraf
sensorik yang peka

16
terhadap rasa sakit
dan perbedaan
temperatur. Sistem
persarafan ini berasal
dari nervus
intercostalis dinding
dada.
Keseluruhan
jaringan pleura
parietalis ini
menempel dengan
mudah, tapi juga
mudah dilepaskan
dari dinding dada di
atasnya. Di antara

17
pleura terdapat
ruangan
yang disebut
spasium pleura,
yang mengandung
sejumlah kecil
cairan yang
Anatomi dan Fisiologi
Pleura
Pleura terletak
dibagian terluar
dari paru-paru dan
mengelilingi paru.
Pleura
disusun oleh jaringan
ikat fibrosa yang
18
didalamnya terdapat
banyak kapiler limfa
dan kapiler darah
serta serat saraf
kecil. Pleura disusun
juga oleh sel-sel
(terutama
fibroblast dan
makrofag). Pleura
paru ini juga dilapisi
oleh selapis mesotel.
Pleura
merupakan membran
tipis, halus, dan licin
yang membungkus
dinding anterior
19
toraks dan
permukaan superior
diafragma. Lapisan
tipis ini mengandung
kolagen
dan jaringan elastis
(Sylvia Anderson
Price dan Lorraine M,
2005: 739).
Ada 2 macam pleura
yaitu pleura parietalis
dan pleura viseralis.
Pleura parietalis
melapisi toraks atau
rongga dada
sedangkan pleura
20
viseralis melapisi
paru-paru.
Kedua pleura ini
bersatu pada hilus
paru. Dalam
beberapa hal
terdapat perbedaan
antara kedua pleura
ini yaitu pleura
viseralis bagian
permukaan luarnya
terdiri dari
selapis sel mesotelial
yang tipis (tebalnya
tidak lebih dari 30
µm). Diantara celah-
21
celah sel ini terdapat
beberapa sel limfosit.
Di bawah sel-sel
mesotelia ini terdapat
endopleura yang
berisi fibrosit dan
histiosit. Seterusnya
dibawah ini
(dinamakan
lapisan tengah)
terdapat jaringan
kolagen dan serat-
serat elastik. Pada
lapisan
terbawah terdapat
jaringan intertitial
22
subpleura yang
sangat banyak
mengandung
pembuluh darah
kapiler dari A.
Pulmonalis dan A.
Brankialis serta
pembuluh
getah bening.
Keseluruhan jaringan
pleura viseralis ini
menempel dengan
kuat
pada jaringan
parenkim paru.
Pleura parietalis
23
mempunyai lapisan
jaringan lebih
tebal dan terdiri dari
sel-sel mesotelial
juga dan jaringan ikat
(jaringan kolagen
dan serat-serat
elastik). Dalam
jaringan ikat,
terdapat pembuluh
kapiler dari A.
Interkostalis dan A.
Mammaria interna,
pembuluh getah
bening dan banyak

24
reseptor saraf-saraf
sensorik yang peka
terhadap rasa sakit
dan perbedaan
temperatur. Sistem
persarafan ini berasal
dari nervus
intercostalis dinding
dada.
Keseluruhan
jaringan pleura
parietalis ini
menempel dengan
mudah, tapi juga
mudah dilepaskan
dari dinding dada di
25
atasnya. Di antara
pleura terdapat
ruangan
yang disebut
spasium pleura,
yang mengandung
sejumlah kecil
cairan yang
Anatomi dan Fisiologi
Pleura
Pleura terletak
dibagian terluar
dari paru-paru dan
mengelilingi paru.
Pleura

26
disusun oleh jaringan
ikat fibrosa yang
didalamnya terdapat
banyak kapiler limfa
dan kapiler darah
serta serat saraf
kecil. Pleura disusun
juga oleh sel-sel
(terutama
fibroblast dan
makrofag). Pleura
paru ini juga dilapisi
oleh selapis mesotel.
Pleura
merupakan membran
tipis, halus, dan licin
27
yang membungkus
dinding anterior
toraks dan
permukaan superior
diafragma. Lapisan
tipis ini mengandung
kolagen
dan jaringan elastis
(Sylvia Anderson
Price dan Lorraine M,
2005: 739).
Ada 2 macam pleura
yaitu pleura parietalis
dan pleura viseralis.
Pleura parietalis

28
melapisi toraks atau
rongga dada
sedangkan pleura
viseralis melapisi
paru-paru.
Kedua pleura ini
bersatu pada hilus
paru. Dalam
beberapa hal
terdapat perbedaan
antara kedua pleura
ini yaitu pleura
viseralis bagian
permukaan luarnya
terdiri dari

29
selapis sel mesotelial
yang tipis (tebalnya
tidak lebih dari 30
µm). Diantara celah-
celah sel ini terdapat
beberapa sel limfosit.
Di bawah sel-sel
mesotelia ini terdapat
endopleura yang
berisi fibrosit dan
histiosit. Seterusnya
dibawah ini
(dinamakan
lapisan tengah)
terdapat jaringan
kolagen dan serat-
30
serat elastik. Pada
lapisan
terbawah terdapat
jaringan intertitial
subpleura yang
sangat banyak
mengandung
pembuluh darah
kapiler dari A.
Pulmonalis dan A.
Brankialis serta
pembuluh
getah bening.
Keseluruhan jaringan
pleura viseralis ini

31
menempel dengan
kuat
pada jaringan
parenkim paru.
Pleura parietalis
mempunyai lapisan
jaringan lebih
tebal dan terdiri dari
sel-sel mesotelial
juga dan jaringan ikat
(jaringan kolagen
dan serat-serat
elastik). Dalam
jaringan ikat,
terdapat pembuluh
kapiler dari A.
32
Interkostalis dan A.
Mammaria interna,
pembuluh getah
bening dan banyak
reseptor saraf-saraf
sensorik yang peka
terhadap rasa sakit
dan perbedaan
temperatur. Sistem
persarafan ini berasal
dari nervus
intercostalis dinding
dada.
Keseluruhan
jaringan pleura
parietalis ini
33
menempel dengan
mudah, tapi juga
mudah dilepaskan
dari dinding dada di
atasnya. Di antara
pleura terdapat
ruangan
yang disebut
spasium pleura,
yang mengandung
sejumlah kecil
cairan yang
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi


Pleura terletak dibagian terluar dari paru-paru dan mengelilingi
paru. Pleura disusun oleh jaringan ikat fibrosa yang didalamnya terdapat
banyak kapiler limfa dan kapiler darah serta serat saraf kecil. Pleura

34
disusun juga oleh sel-sel (terutama fibroblast dan makrofag). Pleura paru
ini juga dilapisi oleh selapis mesotel.
Pleura merupakan membran tipis, halus, dan licin yang
membungkus dinding anterior toraks dan permukaan superior diafragma.
Lapisan tipis ini mengandung kolagen dan jaringan elastis.
Ada 2 macam pleura yaitu pleura parietalis dan pleura viseralis.
Pleura parietalis melapisi toraks atau rongga dada sedangkan pleura
viseralis melapisi paru-paru. Kedua pleura ini bersatu pada hilus paru.
Dalam beberapa hal terdapat perbedaan antara kedua pleura ini yaitu
pleura viseralis bagian permukaan luarnya terdiri dari selapis sel
mesotelial yang tipis (tebalnya tidak lebih dari 30 µm). Diantara celah-
celah sel ini terdapat beberapa sel limfosit. Di bawah sel-sel mesotelia ini
terdapat endopleura yang berisi fibrosit dan histiosit. Seterusnya dibawah
ini (dinamakan lapisan tengah) terdapat jaringan kolagen dan serat-serat
elastik.
Pada lapisan terbawah terdapat jaringan intertitial subpleura yang
sangat banyak mengandung pembuluh darah kapiler dari A. Pulmonalis
dan A. Brankialis serta pembuluh getah bening. Keseluruhan jaringan
pleura viseralis ini menempel dengan kuat pada jaringan parenkim paru.
Pleura parietalis mempunyai lapisan jaringan lebih tebal dan terdiri
dari sel-sel mesotelial juga dan jaringan ikat (jaringan kolagen dan serat-
serat elastik). Dalam jaringan ikat, terdapat pembuluh kapiler dari A.
Interkostalis dan A. Mammaria interna, pembuluh getah bening dan
banyak reseptor saraf-saraf sensorik yang peka terhadap rasa sakit dan
perbedaan temperatur.
Sistem persarafan ini berasal dari nervus intercostalis dinding dada.
Keseluruhan jaringan pleura parietalis ini menempel dengan mudah, tapi
juga mudah dilepaskan dari dinding dada di atasnya. Di antara pleura
terdapat ruangan yang disebut spasium pleura, yang mengandung sejumlah
kecil cairan yang melicinkan permukaan dan memungkinkan keduanya
bergeser secara bebas pada saat ventilasi. Cairan tersebut dinamakan
cairan pleura. Cairan ini terletak antara paru dan thoraks.

35
Tidak ada ruangan yang sesungguhnya memisahkan pleura
parietalis dengan pleura viseralis sehingga apa yang disebut sebagai
rongga pleura atau kavitas pleura hanyalah suatu ruangan potensial.
Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah daripada tekanan atmosfer
sehingga mencegah kolaps paru. Jumlah normal cairan pleura adalah 10-
20 cc.
Cairan pleura berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan
pleura parietalis dan pleura viseralis bergerak selama pernapasan dan
untuk mencegah pemisahan toraks dan paru yang dapat dianalogkan
seperti dua buah kaca objek yang akan saling melekat jika ada air. Kedua
kaca objek tersebut dapat bergeseran satu dengan yang lain tetapi
keduanya sulit dipisahkan.
Cairan pleura dalam keadaan normal akan bergerak dari kapiler di
dalam pleura parietalis ke ruang pleura kemudian diserap kembali melalui
pleura viseralis. Hal ini disebabkan karena perbedaan tekanan antara
tekanan hidrostatik darah yang cenderung mendorong cairan keluar dan
tekanan onkotik dari protein plasma yang cenderung menahan cairan agar
tetap di dalam.
Selisih perbedaan absorpsi cairan pleura melalui pleura viseralis
lebih besar daripada selisih perbedaan pembentukan cairan oleh pleura
parietalis dan permukaan pleura viseralis lebih besar dari pada pleura
parietalis sehingga dalam keadaan normal hanya ada beberapa mililiter
cairan di dalam rongga.
Volume cairan pleura selalu konstan, akibat dari:
a. P. hidrostatik : 9 mmHg, produksi oleh pleura parietalis
b. P. koloid osmotik : 10 mmHg, absorbsi oleh pleura viseralis

36
Gambar 2.1 Gambaran Anatomi Pleura (dikutip dari Poslal medicina,
2007: www.google.com)

2.2 Definisi
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan
cairan dari dalam kavum pleura diantara pleura parietalis dan pleura
viseralis dapat berupa cairan transudat atau cairan eksudat. Cairan pada
efusi pleura dapat bebas yg generalized atau setempat (circumscribed) dan
encapsulated (terbungkus kapsul).
Rongga pleura adalah rongga yang terletak diantara selaput yang
melapisi paru-paru dan rongga dada, diantara permukaan viseral dan
parietal. Dalam keadaan normal, rongga pleura hanya mengandung sedikit
cairan sebanyak 10-20 ml yang membentuk lapisan tipis pada pleura
parietalis dan viseralis, dengan fungsi utama sebagai pelicin gesekan
antara permukaan kedua pleura pada waktu pernafasan. Jenis cairan
lainnya yang bisa terkumpul di dalam rongga pleura adalah darah, nanah,
cairan seperti susu dan cairan yang mengandung kolesterol tinggi.
Efusi pleura bukan merupakan suatu penyakit, akan tetapi
merupakan tanda suatu penyakit. Pada gangguan tertentu, cairan dapat
berkumpul dalam ruang pleural pada titik dimana penumpukan ini akan
menjadi bukti klinis, dan hampir selalu merupakan signifikasi patologi.
Efusi dapat terdiri dari cairan yang relatif jernih, yang mungkin
merupakan cairan transudat atau eksudat, atau dapat mengandung darah
dan purulen.

37
Transudat (filtrasi plasma yang mengalir menembus dinding
kapiler yang utuh) terjadi jika faktor-faktor yang mempengaruhi
pembentukan dan reabsorpsi cairan pleural terganggu. Biasanya oleh
ketidakseimbangan tekanan hidrostatik atau onkotik. Transudat
menandakan bahwa kondisi seperti asites atau gagal ginjal mendasari
penumpukan cairan. Eksudat (ekstravasasi cairan ke dalam jaringan atau
kavitas). Biasanya terjadi akibat inflamasi oleh produk bakteri atau tumor
yang mengenai permukaan pleural.
Efusi yang mengandung darah disebut dengan efusi hemoragis.
Pada keadaan ini kadar eritrosit di dalam cairan pleural meningkat antara
5.000-10.000 mm3. Keadaan ini sering dijumpai pada keganasan
pneumonia.
Berdasarkan lokasi cairan yang terbentuk, efusi pleura dibagi
menjadi unilateral dan bilateral. Efusi yang unilateral tidak mempunyai
kaitan yang spesifik dengan penyakit penyebabnya, akan tetapi efusi yang
bilateral seringkali ditemukan pada penyakit : kegagalan jantung
kongestif, sindroma nefrotik, asites, infark paru, lupus eritematosis
sistemik, tumor dan tuberkulosis.
Pada keadaan normal rongga pleura hanya mengandung cairan
sebanyak 10-20 ml, cairan pleura komposisinya sama dengan cairan
plasma, kecuali pada cairan pleura mempunyai kadar protein lebih rendah
yaitu < 1,5 gr/dl.

2.3 Etiologi
Pembentukan cairan dalam rongga pleura dapat disebabkan oleh
banyak keadaan yang berasal dari :
a. Kelaian paru : infeksi, baik oleh bakteri maupun virus aau jamur,
tumor paru, tumor mediastinum, metastase.

38
b. Kelainan sistemik : penyakit-penyakit yang mengakibatkan hambatan
aliran getah bening, hipoproteinemia pada penyakit ginjal, hati, dan
kegagalan jantung.
c. Trauma kecelakaan atau tindakan pembedahan.
d. Ideopatik.

Cairan pada efusi pleura dapat berupa :


a. Cairan transudat
Terdiri atas cairan yang bening, biasanya ditemukan pada kegagalan
jantung, kegagalan ginjal akut atau kronik, keadaan hipoproteinemia
pada kegagalan fungsi hati, pemberian cairan infuse yang berlebihan,
dan fibroma ovarii (meig’s syndrome).
b. Cairan eksudat
Berisi cairan kekeruhan, paling sering ditemukan pada infeksi
tuberculosa, atau nanah (empiema) dan penyakit-penyakit kolagen
(SLE, RA)
c. Cairan darah
Dapat disebabkan trauma tertutup atau terbuka, infark paru dan
karsinoma paru
d. Cairan getah bening
Meskipun jarang terjadi tetapi dapat diakibatkan oleh sumbatan aliran
getah bening thoraks, misalnya pada filiariasis atau metastasis pada
kelenjar getah bening dari suatu keganasan.

2.4 Manifestasi Klinis


Gejala-gejala timbul jika cairan bersifat inflamatoris atau jika
mekanika paru terganggu. Gejala yang paling sering timbul adalah sesak,
berupa rasa penuh dalam dada atau dispneu. Nyeri bisa timbul akibat efusi
yang banyak, berupa nyeri dada pleuritik atau nyeri tumpul.

39
Pada efusi unilateral, biasanya penderita mengeluh lebih nyaman
tidur miring kearah bagian paru yang mengalami efusi. Adanya gejala-
gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil, dan nyeri dada
pleuritis (pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril (tuberkulosisi),
banyak keringat, batuk, banyak riak. Deviasi trachea menjauhi tempat
yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleural yang
signifikan

2.5 Pemeriksaan Fisik


a. Inspeksi : pengembangan paru menurun, gerakan dada sisi sakit
tertinggal, tampak lebih cembung
b. Palpasi : penurunan fremitus vocal atau taktil, gerak dada sisi sakit
tertinggal
c. Perkusi : perkusi pada sisi yang sakit redup pada bagian bawah garis
Ellis Damoiseu
d. Auskultasi : penurunan bunyi napas Jika terjadi inflamasi, maka dapat
terjadi friction rub.

Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan,


karena cairan akan berpindah tempat.

2.6 Pemeriksaan Penunjang


2.6.1 Pemeriksaan Radiologi
a. Rontgen Thorax
Jumlah cairan minimal yang terdapat pada thoraks tegak adalah 250-
300ml. bila cairan kurang dari 250ml (100-200ml), dapat ditemukan
pengisian cairan di sudut costofrenikus posterior pada foto thorak
lateral tegak. Cairan yang kurang dari 100ml (50-100ml), dapat
diperlihatkan dengan posisi lateral dekubitus dan arah sinar horizontal
dimana cairan akan berkumpul disisi samping bawah.

1. Posisi tegak posteroanterior (PA)


Pada pemeriksaan foto thorak rutin tegak, cairan pleura
tampak berupa perselubungan homogeny menutupi struktur paru
bawah yang biasanya relatif radioopak dengan permukaan atas
cekung berjalan dari lateral atas ke medial bawah. Karena cairan
mengisi ruang hemithorak sehingga jaringan paru akan terdorong

40
kearah sentral / hilus, dan kadang-kadang mendorong mediastinum
kearah kontralateral.

Gambar 1. Efusi pleura sinistra. Sudut Costophrenicus yang tumpul karena


efusi pleura

Gambar 2.2 Efusi pleura dextra

41
Gambar 2.3 Efusi pleura sinistra massif. Tampak mediastinum terdorong
kontralateral

Gambar 2.4 Efusi pleura bilateral

Gambar 2.5 Loculated pleural effusion. Tampak berbatas cukup tegas dan biconvex.
Sering disebabkan oleh empiema dengan perlekatan pleura

2. Posisi lateral
Bila cairan kurang dari 250ml (100-200ml), dapat
ditemukan pengisian cairan di sudut costofrenikus posterior pada
foto thorak lateral tegak. Pada penelitian mengenai model rontgen
patologi Collins menunjukkan bahwa sedikitnya 25ml dari cairan
pleura ( cairan saline yang disuntikkan ) pada radiogram dada
lateral tegak lurus dapat dideteksi sebagai akumulasi cairan
subpulmonic di posterior sulcus costophrenic, tetapi hanya dengan
adanya pneumoperitoneum yang terjadi sebelumnya.

42
Gambar 2.6 Gambaran efusi pleura pada foto posisi lateral
3. Posisi Lateral Decubitus
Radiografi dada lateral decubitus digunakan selama
bertahun-tahun untuk mendiagnosis efusi pleura yang sedikit.
Cairan yang kurang dari 100ml (50-100ml), dapat diperlihatkan
dengan posisi lateral dekubitus dan arah sinar horizontal dimana
caran akan berkumpul disisi samping bawah.

Gambar 2.7 Efusi pleura pada posisi right lateral decubitus (penumpukan
cairan yang ditunjukkan dengan panah biru).

Gambar 2.8 Efusi pleura pada posisi left lateral decubitus

b. Computed Tomography Scan


CT scan dada akan terlihat adanya perbedaan densitas cairan
dengan jaringan sekitarnya. Pada CT scan, efusi pleura bebas
diperlihatkan sebagai daerah berbentuk bulan sabit di bagian yang
tergantung dari hemithorax yang terkena. Permukaan efusi pleura
memiliki gambaran cekung ke atas karena tendensi recoil dari paru-

43
paru. Karena kebanyakan CT pemeriksaan dilakukan dalam posisi
terlentang, cairan mulai menumpuk di posterior sulkus kostofrenikus.
Pada efusi pleuran yang banyak, cairan meluas ke aspek apikal dan
anterior dada dan kadang-kadang ke fisura tersebut. Dalam posisi
tengkurap atau lateral, cairan bergeser ke aspek yang tergantung dari
rongga pleura. Pergeseran ini menegaskan sifat bebas dari efusi
tersebut.

Gambar 2.9 CT Scan pada efusi pleura (kiri atas : foto rontgen thoraks PA)

Gambar 2.10 CT Scan thorak pada seorang pria 50-tahun dengan limfoma
non-Hodgkin dan efusi pleura yang ditunjukan tanda panah

c. Ultrasonografi
Penampilan khas dari efusi pleura merupakan lapisan anechoic
antara pleura visceral dan pleura parietal. Bentuk efusi dapat bervariasi
dengan respirasi dan posisi. Para peneliti memperkenalkan metode
pemeriksaan USG dengan apa yang disebut sebagai “elbow position”.

44
Pemeriksaan ini dimulai dengan pasien diletakkan pada posisi
lateral decubitus selama 5 menit ( serupa dengan radiografi dada posisi
lateral decubitus) kemudian pemeriksaan USG dilakukan dengan
pasien bertumpu pada siku (gambar 2.11). Maneuver ini
memungkinkan kita untuk mendeteksi efusi subpulmonal yang sedikit,
karena cairan cenderung akan terakumulasi dalam pleura
diaphragmatic pada posisi tegak lurus.

Gambar 2.11 Menunjukkan posisi siku dengan meletakaan transduser


selama pemeriksaan untuk melihat keadaan rongga pleura kanan.
Ultrasonografi pada pleura dapat menentukan adanya cairan
ronggapleura. Pada dekade terakhir ultrasonografi (USG) dari
rongga pleura menjadi metode utama untuk mendemonstrasikan
adanya efusi pleura yang sedikit. Kriteria USG untuk menentukan
efusi pleura adalah : setidaknya zona anechogenic memiliki
ketebalan 3mm diantara pleura parietal dan visceral dan atau
perubahan ketebalan lapisan cairan antara ekspirasi dan inspirasi,
dan juga perbedaan letak posisi pasien. Karena USG adalah metode
utama maka sangatlah penting untuk melakukan pengukuran
sonografi dengan pemeriksaan tegak lurus terhadap dinding dada.

45
Gambar 2.12 Sonogram pada pasien dengan kanker paru lobus kanan atas. Gambar
menunjukkan adanya akumulasi cairan selama inspirasi (setebal 6 mm; berbentuk
kurva,-gambar kiri) dimana gambar tersebut lebih jelas dibanding selamaekspirasi
( setebal 11 mm ; berbentuk kurva-gambar kanan).

Gambar 2.13 Ultrasonogram dari kiri dada bagian bawah pada pasien laki-
laki dengan penyebaran lymphangitic dari adenokarsinoma. Ini studi sagital
dan pemeriksaan dilakukan dengan pasien duduk. Cairan Echogenic (E)
dapat dilihat pada hemithorax kiri. Perhatikan diafragma lengkung
Echogenic (panah). The pleura cairan positif untuk sel-sel ganas (efusi
pleura ganas)

Gambar 2.14 Ultrasonogram dari kiri dada bagian bawah pada wanita 47
tahun dengan efusi pleura metastasis. Ini studi sagital dan pemeriksaan
dilakukan dengan pasien duduk. Cairan anechoic (E) dapat dilihat pada
hemithorax kiri. Perhatikan diafragma lengkung Echogenic (panah)

46
Gambaran anechoic terutama diamati pada transudat.
Dalam sebuah penelitian terhadap 320 pasien dengan efusi,
transudat memberikan gambaran anechoic, sedangkan efusi
anechoic dapat transudat atau eksudat. Adanya penebalan pleura
dan lesi parenkim di paru-paru menunjukkan adanya eksudat.
Cairan pleura yang memberikan gambaran echoic dapat dilihat
pada efusi hemoragik atau empiema.
Doppler berwarna ultrasonografi dapat membantu dalam
membedakan efusi kecil dari penebalan pleura dengan
menunjukkan tanda-warna cairan (yaitu, adanya sinyal warna
dalam pengumpulan cairan).

2.7 Penatalaksanaan
2.7.1 Torakosentesis.
Aspirasi cairan pleura (torakosentesis) sebagai sarana diagnostik
maupun terapeutik. Pelaksanaannya sebaiknya dengan posisi duduk.
Aspirasi dilakukan pada bagian bawah paru sela iga garis aksilaris
posterior dengan jarum abbocath nomor 14 atau 16. Pengeluaran cairan
pleura sebaiknya tidak melebihi 1000-1500 cc pada setiap aspirasi.
Aspirasi cairan pleura selain bermanfaat untuk memastikan
diagnosis, aspirasi juga dapat dikerjakan dengan tujuan terapetik.
Torakosentesis dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Penderita dalam posisi duduk dengan kedua lengan merangkul atau
diletakkan diatas bantal; jika tidak mungkin duduk, aspirasi dapat
dilakukan pada penderita dalam posisi tidur terlentang.
2. Lokasi penusukan jarum dapat didasarkan pada hasil foto toraks,
atau di daerah sedikit medial dari ujung scapula, atau pada linea
aksilaris media di bawah batas suara sonor dan redup.
3. Setelah dilakukan anastesi secara memadai, dilakukan penusukan
dengan jarum berukuran besar, misalnya nomor 18. Kegagalan
aspirasi biasanya disebabkan karena penusukan jarum terlampaui
rendah sehingga mengenai diafragma atau terlalu dalam sehingga

47
mengenai jaringan paru, atau jarum tidak mencapai rongga pleura
oleh karena jaringan subkutis atau pleura parietalis tebal.

Gambar 16. Metode torakosentesis


4. Pengeluaran cairan pleura sebaiknya tidak melebihi 1000-1500 cc
pada setiap aspirasi. Untuk mencegah terjadinya edema paru akibat
pengembangan paru secara mendadak. Selain itu pengambilan
cairan dalam jumlah besar secara mendadak menimbulkan reflex
vagal, berupa batuk, bradikardi, aritmi yang berat, dan hipotensi.

2.7.2 Pemasangan WSD


Jika jumlah cairan cukup banyak, sebaiknya dipasang selang toraks
dihubungkan dengan WSD, sehingga cairan dapat dikeluarkan secara
lambat dan aman. Pemasangan WSD dilakukan sebagai berikut:
1. Tentukan tempat pemasangan, biasanya pada sela iga ke IV dan V, di
linea aksillaris anterior dan media.
2. Lakukan analgesia / anestesia pada tempat yang telah ditentukan.
3. Buat insisi kulit dan sub kutis searah dengan pinggir iga, perdalam
sampai muskulus interkostalis.
4. Masukkan Kelly klemp melalui pleura parietalis kemudian dilebarkan.
Masukkan jari melalui lubang tersebut untuk memastikan sudah
sampai rongga pleura / menyentuh paru.
5. Masukkan selang ( chest tube ) melalui lubang yang telah dibuat
dengan menggunakan Kelly forceps
6. Selang ( Chest tube ) yang telah terpasang, difiksasi dengan jahitan ke
dinding dada
7. Selang ( chest tube ) disambung ke WSD yang telah disiapkan.
8. Foto X- rays dada untuk menilai posisi selang yang telah dimasukkan.

48
Gambar 2.17 Pemasangan jarum WSD

WSD perlu diawasi tiap hari dan jika sudah tidak terlihat undulasi
pada selang, kemungkinan cairan sudah habis dan jaringan paru
mengembang. Untuk memastikan dilakukan foto toraks. Selang torak
dapat dicabut jika produksi cairan/hari <100ml dan jaringan paru telah
mengembang. Selang dicabut pada saat ekspirasi maksimum.

2.7.3 Pleurodesis.
Bertujuan melekatkan pleura viseralis dengan pleura parietalis,
merupakan penanganan terpilih pada efusi pleura keganasan. Bahan yang
digunakan adalah sitostatika seperti tiotepa, bleomisin, nitrogen mustard,
5-fluorourasil, adramisin, dan doksorubisin. Setelah cairan efusi dapat
dikeluarkan sbanyak-banyaknya, obat sitostatika (misal; tiotepa 45 mg)
diberikan selang waktu 7 - 10 hari; pemberian obat tidak perlu
pemasangan WSD. Setelah 13 hari, jika berhasil, akan terjadi pleuritis
obliteratif yang menghilangkan rongga pleura, sehingga mencegah
penimbunan kembali cairan dalam rongga tersebut.
Obat lain adalah tetrasiklin. Pada pemberian obat ini WSD harus
dipasang dan paru dalam keadaan mengembang. Tetrasiklin 500 mg
dilarutkan dalam 3050 ml larutan garram faal, kemudian dimasukkan ke

49
dalam rongga pleura melalui selang toraks, ditambah dengan larutan
garam faal 1030 ml larutan garam faal untuk membilas selang serta 10 ml
lidokain 2% untuk mengurangi rasa nyeri yang ditimbulkan obat ini.
Analgetik narkotik diberikan 11,5 jam sebelum pemberian
tetrasiklin juga berguna mengurangi rasa nyeri tersebut. Selang toraks
diklem selama 6 jam dan posisi penderita diubah-ubah agar penyebaran
tetrasiklin merata di seluruh bagian rongga pleura. Apabila dalam waktu
24 jam - 48 jam cairan tidak keluar, selang toreaks dapat dicabut.

BAB III
KESIMPULAN

Efusi pleura adalah penimbunan cairan didalam rongga pleura akibat


transudasi atau eksudasi yang berlebihan dari permukaan pleura. Efusi pleura
bukan merupakan suatu penyakit, akan tetapi merupakan tanda suatu penyakit.
Akibat adanya carian yang cukup banyak dalam rongga pleura, maka kapasitas
paru akan berkurang dan di samping itu juga menyebabkan pendorongan organ-
organ mediastinum, termasuk jantung. Hal ini mengakibatkan insufisiensi
pernafasan dan juga dapat mengakibatkan gangguan pada jantung dan sirkulasi
darah.
Biasanya manifestasi klinisnya adalah yang disebabkan oleh penyakit
dasar. Pneumonia akan menyebabkan demam, menggigil, dan nyeri dada pleuritis,
sementara efusi malignan dapat mengakibatkan dispnea dan batuk. Ukuran efusi
akan menentukan keparahan gejala. Pada kebanyakan penderita umumnya
asimptomatis atau memberikan gejala demam, ringan, dan berat badan yang
menurun seperti pada efusi yang lain

50
Efusi pleura harus segera mendapatkan tindakan pengobatan karena cairan
pleura akan menekan organ-organ vital dalam rongga dada. Ada beberapa macam
pengobatan atau tindakan yang dapat dilakukan pada efusi pleura masif.

DAFTAR PUSTAKA

1. Firdaus, Denny. 2012. Efusi Pleura. RSUD Dr.H.Abdul Moeloek. Bandar


Lampung.
2. Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit.Vol 2. Ed. 6. Jakarta EGC.
3. Alsagaff, Hood dan H. Abdul Mukty. 2002. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit
Paru. Surabaya: Airlangga University Press.
4. Ewingsa. 2009. Efusi Pleura. Diakses dari
http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/efusipleura.pdf
5. Halim, Hadi. Penyakit Penyakit Pleura. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid
II. 2007. Balai Penerbit FK UI Jakarta.
6. Haryadi. 2010. Thorax ppt. Lampung : RSUAM Lampung
7. Maryani. 2008. Efusi Pleura. Diakses dari
http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/pleura.pdf
8. Omar Lababede, dkk. 2011. Pleural Effsion Imaging,
www.emedicine.medscape.com
Rasad, Sjahriar.2009. Radiologi Diagnostik Edisi Kedua. Jakarta : FKUI

51
52