Anda di halaman 1dari 7

KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohiim, alhamdulillahirrobil’alamiin, penulis panjatkan puji syukur kehadhirath


Allah SWT yang telah memberikan nikmat, rahmat, dan hidayah kepada penulis sehingga tugas
makalah matakuliah “Etika Profesi” dengan tema profesi “Sopir” bisa terselesaikan dengan baik.
Makalah yang berjudul “Profesi Sopir” ini dibuat untuk memenuhi tugas matakuliah Etika Profesi,
Tulisan dalam makalah ini sebagian diambil dari internet dan diolah dari berbagai sumber, dalam
penulisan ini masih banyak terdapat kekurangan dan hal-hal yang perlu diperbaiki, semoga tulisan ini
menjadi bermanfaat menambah wawasan, informasi dan ilmu yang bermanfaat.
SOPIR

APA DAN SIAPA SOPIR ITU….?

Sopir menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah : “pengemudi kendaraan……bisa mobil, bemo
dan lainnya”. Sedangkan menurut ensiklopedia Wikipedia (id.wikipedia.org) Sopir mempunyai
pengertian : “Sopir atau supir (dari bahasa Perancis: chauffeur) adalah pengemudi profesional yang
dibayar oleh majikan untuk mengemudi kendaraan bermotor. Sopir dibagi dalam dua kelompok
yaitu sopir pribadi yang menjalankan kendaraan pribadi dan yang kedua adalah sopir perusahaan
yang bekerja untuk perusahaan angkutan penumpang umum seperti taksi, bus, ataupun angkutan
barang”. Sopir adalah orang yang bisa diibaratkan sebagai “Perdana Menteri” dalam sebuah
pemerintahan kabinet parlementer, karena dialah yang berwenang untuk menggerakan,
mengarahkan, dan menentukan harus bagaimana dan melalui jalan mana yang akan ditempuh. Sopir
itu laksana “Presiden” seperti yang ada dinegara ini yang mempunyai wewenang bagaimana dan
kemana negara ini dibawa, sopir tidak jauh berbeda dengan “Direktur”, “Manajer”, atau bahkan
“Komisaris” yang jelas bertanggung jawab terhadap selama perjalanan, apapun yang terjadi “sang
sopirlah” yang akan dimintai pertanggung jawaban. Sopir mampu membuat orang-orang bernafas
lega, senang, gembira, dan bersorak sorai tatkala rem telah diinjak dan gas dilepas ketika tepat
berada ditempat parkir tujuan. Sebaliknya sang sopir juga mampu memacu andrenalin orang-orang,
membuat jantung seakan mau copot, perut mual bahkan muntah, juga bisa meledakkan emosi dan
mengacau mood atau suasana hati seseorang. Tidak sedikit sopir yang disanjung-sanjung karena
berhasil dan sukses menjalankan sebuah misi atau pekerjaan sebagaimana diiklankan oleh “Coca-
Cola”, bahkan menerima medali bergengsi dengan gemuruh tepuk tangan hadirin sebagaimana yang
diterima oleh “Sang Sopir” balap Formula 1, atau kibaran bendera dan iringan lagu kebangsaan
sebagaimana yang dirasakan oleh “Sang Sopir” Rally Paris-Dakar.

Sopirlah orang yang mengantar kita ketempat yang kita inginkan, sopir pula yang membawa barang-
barang dari tempat yang jauh disana berada dirumah kita, dan juga sang sopir juga yang
mengantarkan barang-barang kita ketempat yang kita tuju, sopir ada usaha kita bisa jalan, sopir ada
kita bisa ke pasar, sekolah, kantor, rekreasi atau kemana saja. Sopirlah yang menjadikan dunia ini
berputar, menjadikan dunia ini lebih sempit daripada saat jaman baheula, juga sopirlah yang
menjadikan jalanan sebagai ladang pembantaian, menjadikan jalan sebagai penjara penyiksaan
tempat orang mengerang kesakitan.

KAPAN SOPIR MULAI ADA DAN DIKENAL…?

Jika sopir lebih ditekan pada pengertian yang dibawa oleh Wikipedia, maka sopir telah ada
bersamaan dengan perkembangan kendaraan bermotor khususnya mobil. Kilas balik perkembangan
kendaraan bermotor mengambil dari sejarah Nicolas-Joseph Cugnot yang telah sukses
mendemonstrasikan kendaraan bermotor roda tiga dengan mesin uap pada tahun 1769.
Perkembangan pesat berikutnya melahirkan produsen besar mobil seperti Mercedez-Benz (Karl

Benz 1886) atau Daimler-Benz (Gottlieb Daimler – sekarang menjadi Daimler-Chrysler). Kemudian di
Amerika Serikat ada Ford (Henry Ford), dan lainnya. Mobil diproduksi yang berarti sopirpun juga
“diproduksi”, karena sesuai logika sederhana, siapakah yang akan mengoperasikan atau
menjalankan kendaraan tersebut?jawabnya adalah “Sopir”.
SOPIR MASA LALU VS SOPIR MASA KINI

Pada masa-masa awal penggunaan mesin untuk kendaraan, seorang sopir tidak dituntut untuk
mematuhi suatu undang-undang dengan syarat-syarat mengikat yang diiringi rincian sanksi-sanksi,
seorang sopir atau calon sopir hanya dituntut menguasai dan mampu mengoperasikan kendaraan
dengan baik secara teknis dan nilai etis dimasyarakat pada masa itu. Sopir pada masa ini memegang
peranan penting karena umumnya sopirlah yang lebih memahami kondisi kendaraannya dan
permasalahan yang mungkin timbul selama pemakaian kendaraan. Sedangkan sopir pada masa kini,
selain dituntut untuk menguasai teknis seperti sopir masa lampau, juga diwajibkan mengikuti dan
mematuhi deretan aturan yang sudah ditetapkan dalam sebuah Undang-Undang atau Peraturan
Pemerintah, sanksi selalu mengikuti setiap aturan ini dengan tujuan sopir atau calon sopir tidak
menimbulkan kerugian dalam bentuk apapun selama pemakaian kendaraan. Dimulai dari kewajiban
memiliki SIM (Surat Ijin Mengemudi), sebuah penanda yang menyatakan bahwa pemilik tanda ini
(SIM) adalah sah dan diijinkan untuk menjalankan atau mengoperasikan kendaraan bermotor sesuai
dengan kategori SIM yang dimiliki. Wajib mematuhi aturan berlalu-lintas yaitu mengerti, memahami
dan mengetahui rambu-rambu jalan adalah hal kedua yang tidak dapat ditinggalkan oleh sopir, atas
aturan ini juga diiringi sanksi kepada para pelanggarnya. Dan aturan-aturan lain yang akan dibahas
pada bab-bab selanjutnya.

SOPIR PRIBADI VS SOPIR ANGKUTAN UMUM

Sopir pribadi Sebenarnya tidak banyak yang dipersyaratkan bagi kendaraan pribadi, biasanya yang
dipersyaratkan antara lain adalah:

. Surat Izin Mengemudi yang masih berlaku

. Kemahiran dalam mengemudikan kendaraan

. Pengetahuan mengenai jalatn dan tempat-tempat penting

. Tata krama dalam memberikan pelayanan kepada majikan.

Sopir angkutan umum Sopir angkutan umum membutuhkan persyaratan yang lebih kompleks karena
menyangkut jumlah penumpang yang lebih banyak dan waktu mengemudi yang lebih panjang.
Untuk itu persyaratan sopir adalah:

. Surat Izin Mengemudi Umum sesuai dengan golongan kendaraan yang digunakan.

. Waktu kerja dan istirahat

. Tata krama dalam memberikan pelayanan kepada penumpang

. Kesehatan yang prima.


PROFESI SOPIR

SOPIR SEBAGAI SEBUAH PROFESI

Profesi merupakan kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan kegiatan yang memerlukan
ketrampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi kebutuhan HIDUP manusia, ketrampilan dan
keahlian tsb harus dipakai dengan cara yang benar, dan hanya dapat dicapai dengan memiliki
pengetahuan dan latihan. Profesi merupakan bidang usaha manusia berdasarkan pengetahuan,
dimana keahlian dan pengalaman sangat diperlukan (Gilley dan Eggland, 1989). Profesi merupkan
suatu pekerjaan yang mengandalkan keterampilan atau keahlian khusus yang tidak didapatkan pada
pekerjaan-pekerjaan pada umumnya. Profesi merupakan pekerjaan yang dilakukan sebagai sumber
utama nafkah hidup dengan keterlibatan pribadi yang mendalam. Profesi merupakan pekerjaan yang
menuntut pengembangan untuk terus memperbaharui keterampilannya sesuai perkembangan
teknologi. Profesi pada bidang tertentu yang melibatkan hajat hidup orang banyak, gelar
keprofesionalannya harus didapatkan melalui pengujian oleh organisasi profesional yang diakui
secara nasional dan atau internasional. (Sumber slide materi Etika Profesi episode Kode Etik dan
Profesionalisme) Sopir adalah sebuah profesi yang area operasinya hanya didarat (jalan raya) yaitu
mengemudikan suatu kendaraan bermotor yang juga memerlukan keterampilan dan keahlian dalam
menjalankan pekerjaannya. Keterampilan dan keahlian sebagai sopir hanya dapat diperoleh melalui
pelatihan-pelatihan (kursus) yang terus meningkat sesuai dengan pengalaman. Keterampilan dan
keahlian sebagai sopir ini harus dibuktikan dengan sebuah tanda yang disebut dengan SIM (Surat Ijin
Mengemudi) yang diakui secara resmi dan sah menurut peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

ETIKA PROFESI SOPIR, ORGANISASI DAN CONTOH KASUS

Saat menjalankan tugas profesinya, seorang sopir dipastikan dihadapkan pada deretan aturan baik
tertulis maupun tidak tertulis, dan semua peraturan tersebut ada untuk memastikan kelancaran,
keselamatan, keamanan, dan kenyamanan selama menjalankan tugas. Dalam aturan tertulis, sudah
secara jelas disebutkan dalam peraturan baku yang berupa undang-undang dan peraturan
pemerintah atau daerah, sedangkan peraturan tidak tertulis dapat berwujud kesepakatan
masyarakat tentang bagaimana seharusnya untuk melakukan atau tidak melakukan hal-hal tertentu.

ETIKA PROFESI SOPIR

Etika adalah sebuah ilmu dan bukan sebuah ajaran, yang melakukan refleksi kritis atas norma atau
moral, dengan kata lain etika adalah perwujudan dan pengejawantahan/implementasi secara kritis
dan rasional ajaran moral yang siap pakai. Diantara teori tentang etika, yang relevan dengan profesi
sopir adalah teori Etika Deontologis. Istilah “doentologi” berasal dari kata Yunani yang berarti
“kewajiban” (duty). Menurut etika ini suatu tindakan itu baik, bukan dinilai dan dibenarkan
berdasarkan akibat atau tujuan baik dari tindakan itu, melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri
sebagai baik pada dirinya sendiri. Maka tindakan itu bernilai moral karena tindakan itu dilaksanakan
berdasarkan kewajiban. Misal memberikan pelayanan prima kepada pelanggan sebagai kewajiban
bukan karena akibat yang ditimbulkannya, mengembalikan utang sesuai dengan janji, dsb. Etika ini
menekankan pentingnya motivasi, kemauan yang baik dan watak yang kuat dari pelaku, terlepas dari
akibat yang timbul. Berikut beberapa etika profesi sopir atau pengemudi yang baik :

1. Mematuhi segala rambu-rambu dan peraturan lalu lintas yang berlaku.

2. Memiliki kemampuan mengemudi yang baik.

3. Memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap profesinya.

4. Memiliki pengetahuan dan perilaku berkendara yang aman dan nyaman. Sedangkan sopir yang
melanggar aturan tertulis akan mendapatkan sanksi yang sesuai dengan pelanggarannya.

ORGANISASI PROFESI SOPIR

Sebagai sebuah profesi yang sudah diakui negara, profesi sopir juga memiliki organisasi-organisasi
yang tujuan umumnya adalah bagaimana anggota (sopir) mampu menjalankan tugas profesinya
dengan baik dan benar sekaligus melindungi kelangsungan profesi itu sendiri. Di negara manapun,
organisasi profesi sopir ini sudah ditetapkan secara nasional, yaitu melalui mekanisme Surat Izin
Mengemudi (SIM) yang artinya setiap pemilik SIM yang sah dan sesuai dengan kriteria SIM untuk
profesi sopir.

KASUS-KASUS YANG TERKAIT PROFESI SOPIR

Profesi sopir adalah profesi jalanan yang penuh dengan resiko, baik harta maupun nyawa. Hanya
orang-orang tertentu yang mampu menjalani profesi ini. Berbagai aturan baik tertulis maupun tidak
tertulis dibuat, berbagai rambu-rambu dipasang, berbagai sarana dan fasilitas disediakan untuk
kelancaran. Tapi bagaimanapun juga, profesi ini tetap memilik resiko tinggi dibanding dengan profesi
lainnya. Kasus-kasus yang jamak menyertai profesi sopir ini adalah : kecelakaan dan kejahatan
(kriminalitas).

KECELAKAAN LALU-LINTAS

Kecelakaan lalu-lintas adalah kejadian di mana suatu keadaan terganggunya pengguna jalan secara
ekstrim sehingga menimbulkan kerugian apapun pada para korbannya seperti terluka, kehilangan
nyawa, kerusakan, kehancuran, dan kerugian lahir batin lainnya. Kejadian ini umumya dialami
pengguna jalan atau kawasan disekitar jalan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecelakaan
KASUS KRIMINALITAS (KEJAHATAN)

Jalanan adalah tempat apapun bisa terjadi diwaktu kapanpun, salah satu hal negatif yang terjadi
adalah adanya kriminalitas atau kejahatan dijalanan, dan profesi sopir adalah salah satu yang turut
terkena imbas daripada kejadian ini. Dan beberapa kejadian lain yang langsung maupun tidak
langsung melibatkan oknum sopir dalam tindak kejahatan. Menurut teori polisi, kejahatan terjadi
karena adanya niat dan kesempatan, niat muncul karena oknum sopir tersebut tidak mempunyai
etika dalam berprofesi, sedangkan kesempatan muncul karena situasi atau karena adanya “umpan”.

RESIKO PROFESI SOPIR

Sebagai profesi jalanan, tentunya sopir menyandang resiko yang tidak ringan, mulai dari kerugian
harta sampai kehilangan nyawa. Resiko terbesar yang dihadapi oleh profesi sebagai sopir adalah
kecelakaan, yang bisa disebabkan kesalahan manusia (human error), faktor kendaraan, jalan dan
cuaca. Resiko lainnya adalah kerugian materi, seperti pembengkakan biaya diluar estimasi,
kurangnya setoran karena sepi penumpang, harga bahan bakar yang terkadang berbeda disuatu
tempat atau waktu tertentu. Resiko yang juga tidak kalah besarnya adalah “godaan” kemaksiatan
sebagaimana dicontohkan diatas, sedangkan godaan emosi tak terkendali adalah yang paling besar,
karena berpangkal dari emosi inilah timbul kejadian lain yang lebih besar, contohnya merasa “panas
hati” karena didahului bus lain, akhirnya ngebut untuk mengejar rivalnya, jika terkena naas,
kecelakaan tak terhindarkan yang kemungkinan menjatuhkan korban lebih banyak termasuk dirinya
sendiri. Selain beresiko diatas, profesi sopir juga merupakan sasaran tindak kejahatan. Masih banyak
contoh kasus yang merupakan resiko dari profesi sopir, dan bagaimanapun juga profesi ini tetap ada
dan terus ada selama ada mobil atau kendaraan yang beroperasi dijalan raya.
PENUTUP

Profesi sebagai sopir adalah luhur karena disana berisi tindakan bagus membantu orang lain,
mengantarkan penumpang, mengantarkan barang, dan lainnya. Juga profesi yang halal jika dilakukan
dengan benar dan jujur, karena jasa mereka diberikan imbalan upah atau gaji yang dapat digunakan
untuk kebutuhan sendiri atau memberi nafkah keluarga. Profesi sopir meskipun sangat penting
tetapi sering dipandang sebelah mata, tidak ada anak kecil yang jika ditanya tentang cita-cita akan
menjadi seorang “Sopir”, para sopir antar kota lebih senang tidur dikendaraan daripada tidur di
hotel atau penginapan bahkan sopir angkot lebih sering tidur di terminal demi mengejar waktu
keesokan harinya. Untuk menjadi seorang dengan profesi sopir, tidak mudah tetapi juga tidak susah,
tolok ukur dan aturan baku sudah ada dan ditetapkan dalam undang-undang, yaitu UU No. 22 tahun
2009 tentang Angkutan Jalan yang diantaranya berisi segala hal yang berhubungan dengan profesi
sopir. Isu-isu yang menyertai profesi sebagai sopir seperti kecelakaan dan tindak kriminalitas tidak
terlepas dari aktivitas saat menjalankan tugas profesinya. Beberapa sopir dianggap sebagai
penyebab kecelakaan lalu-lintas yang biasa disebut dengan human error, dan beberapa oknum sopir
juga ditengarai sebagai pelaku atau pembantu pelaku kejahatan. Sopir termasuk profesi yang
mengandung resiko, baik kerugian harta atau kehilangan nyawa, resiko lainnya adalah kerugian
materi yang bisa disebabkan karena menjadi korban kecelakaan atau kejahatan selama menjalankan
kewajibannya. Dengan segala kondisi yang ada, profesi sebagai sopir tetap dan masih terus
dibutuhkan oleh masyarakat.