Anda di halaman 1dari 27

Telaah Kasus

Hipertiroid: Manajemen
Penatalaksanaan Perawatan Dental

Oleh :
Ovy Prima Damara 1311411002
Atika 1311412

Pembimbing:
drg. Surya Nelis, Sp.PM

Departemen Ilmu Penyakit Mulut


Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Andalas
2019
A. Data Pasien
Nama : RO
Umur : 23 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Nomor RM : 14032

B. Pemeriksaan subjektif
Pasien datang dengan keluhan adanya rasa kesat pada bagian lingual gigi anterior
rahang bawah dan ingin dibersihkan.
Pasien merupakan seorang penderita hipertiroid terdiagnosis sejak tahun september
2017 setelah pasien melahirkan anak pertama. Saat ini pasien rutin kontrol ke dokter
spesialis penyakit dalam 1 x 2 bulan dan meminum obat dari dokter spesialis penyakit
dalam, yaitu; Thyrozol 2 x 1 pada pagi hari jam 8 pagi dan malam hari jam 20.00 lalu
propanolol 2 x 1 pada pagi hari jam 8 pagi dan malam hari jam 20.00. Pasien konsul ke
dokter spesialis penyakit dalam 1 bulan yang lalu, pasien kontrol ke dokter mata 1 minggu
yang lalu karena mata kiri pasien bengkak dan kedua mata seperti keluar. Berat badan
pasien turun dari awalnya tahun 2017 sebelum terdiagnosis 44 kg menjadi 38 kg, mudah
lelah (+), sering cemas (+), dada berdebar (+), tremor (+), mudah berkeringat (+) saat
aktifitas normal.
Pasien merasakan keluhan adanya karang gigi sejak 1 tahun yang lalu. Diobati (-),
gusi berdarah saat menyikat gigi (+) (Terakir kali 1 minggu yang lalu), perdarahan ringan
dan sedikit serta cepat berhenti, gusi berdarah spontan (-), bau mulut (+), mulut terasa
kering (-). Pasien semakin terasa kurang nyaman, serta nafas yang kurang segar. Pasien
sebelmnya belum pernah membersihkan karang giginya. Pasien menyikat gigi 1 kali sehari
(pagi hari saat mandi), menggosok gigi di malam hari sebelum tidur (-) (karena pasien
mengaku setiap malam merasa cemas, banyak pikiran, stress, sering gelisah sehingga tidak
melakukan aktifitas tersebut). Pada saat menyikat gigi pasien jarang menyikat bagian
dalam gigi rahang bawah dan pasien mengaku jarang menyikat gigi bagian belakang
rahang atas karena sulit untuk dijangkau. mengonsumsi teh (+) (rutin setiap pagi dan sore),
mengonsumsi kopi (+) (rutin setiap malam), saat ini nafsu makan meningkat (+) makan
nasi 5 x sehari, berkumur sesudah makan (-), mengonsumsi biskuit (+) (setiap malam).
Pasien tidak pernah menyadari gusinya berwarna hitam pada seluruh gigi rahangg atas
dan bawah. Merokok (-), tinggal dilingkungan perokok (+) (sejak 3 tahun yang lalu, suami
pasien seorang perokok), sakit (-), aktifitas luar ruangan (-).
Pasien memiliki riwayat ranap di RS tahun 2017 saat melahirkan anak pertama, dan
saat itu pasien didiagnosis hipertiroid. Pasien masih rutin minum obat dari resep dokter,
serta kontrol rutin dengan dokter spesialis penyakit dalam 2 bulan sekali. Konsumsi
suplemen atau obat herbal tertentu (-). Riwayat penyakit sistemik lain (-). Siklus
mentsruasi normal (-) (terakir kali pasien menstruasi 1 bulan yang lalu,setelah tidak
menstruasi selama 4 bulan).
Pasien belum pernah datang dan memeriksakan gigi ke dokter gigi. menyikat gigi 1
kali sehari saat mandi pagi dengan teknik horizontal, bulu sikat medium, tekanan sedang.
Penggunaan obat kumur rutin (-), benang gigi (-), menyikat lidah (+) (pengakuan pasien
pasien menyikat lidah 3 x sebulan). Keluhan lain di rongga mulut; sakit gigi (-), gigi
berlubang (+) (gigi posterior rahang bawah kiri dan kanan), sariawan (+) (pada bagian
distal mukosa bukal gigi 18), riwayat luka berulang (-), riwayat adanya sensasi panas (-).
Pasien cenderung mengunyah pada sisi kiri.
Ayah pasien dicurigai tidak memiliki riwayat penyakit sistemik. Ibu pasien
mempunyai riwayat penyakit hipertiroid sejak tahun 1998. Ibu dari ibu memiliki riwayat
penyakit hipertiroid. Saudara sekandung tidak memiliki penyakit sistemik.
Pasien adalah Ibu rumah tangga, sehari-hari tinggal bersama suami dan 1 anak
perempuan (usia 2 tahun). istirahat cukup, alkohol (+) (dulu tahun 2012, saat ini tidak
perna), rutin berolahraga (-). Pasien makan 5 kali sehari dengan pola gizi yang seimbang
dan sayur serta buah rutin. Diet lunak rutin (-). Minum air 6- 8 gelas/hari. Pasien saat ini
beraktifitas normal, namun tiba tiba pasien cemas dan gelisah terutama saat malam hari.
C. Pemeriksaan objektif
Keadaan umum pasien saat ini baik. Pengukuran tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi
75x per menit, pernafasan 18x per menit, berat badan 40 kg, tinggi badan 149 cm, wajah
tidak simetris, mata exopthalmus pada bagian kiri dan kanan, edema pada mata kiri dan
konjungtiva normal, bibir kompeten, bukaan deviasi ke kanan, clicking kanan dan kiri.

D. Pemeriksaan Ektra Oral


Kelenjer limfe submentalis, subamndibularis kanan dan kiri tidak teraba dan tidak
sakit, kelenjer limfe servikal kanan sedikit teraba kenyal dan tidak sakit dan kelenjer limfe
servikal kiri teraba kenyal dan tidak sakit. Kelenjer Tiroid diperiksa dan terlihat kelenjer
tidoir tingkat II ( Pembesaran terlihat saat posisi normal)
Foto Extra Oral
Mata kanan dan kiri pasien eksoptalmus, wajah asimetris, bibir
kompeten dan ditemukan pigmentasi kehitaman pada bibir atas dan bawah.
Pembengkakan kelenjar tiroid tingkat II

E. Pemeriksaan intra oral


Dari pemeriksaan intraoral ditemukan kebersihan mulut sedang (indeks 5,3), plak (+),
stain (+), dan kalkulus (+). Ditemukan kalkulus supragingiva pada bagian palatal gigi
posterior kiri dan kanan rahang atas dan labial dan lingual gigi anterior rahang bawah.
Kalkulus subgingiva ditemukan pada bukal dan palatal gigi posterior kanan rahang atas,
serta bagian lingual gigi pada rahang bawah. gingival indeks 0,84 terkategori gingivitis
ringan.

 Odontogram
KE KE Rdx

KP miss KE Rdx KP
Keterangan

16 : karies superfisial oklusal 36 : Radiks


15 : karies superfisial oklusal 37 : karies profunda oklusal
26 : Radiks 46 : missing
35 : karies superfisial oklusal 47 : karies profunda oklusal

Foto Intra Oral


Gambar 1. Foto Klinis Rahang Atas Gambar 1. Foto Klinis Rahang Bawah
Mukosa Labial : TAK
Mukosa Bukal :

- Ditemukan ulser pada bagian bukal arah ke distal gigi 18


Dorsal lidah : TAK
Lateral lidah : TAK
Ventral lidah : TAK
Dasar mulut : TAK
Palatum durum : TAK
Palatum molle :

Ditemukan papula multipel berwarna putih kekuningan di bagian


1/3 posterior palatum mole
Gingiva :

Ditemukannya garis hitam berbentuk pita memanjang dari regio gigi 18-28
dan regio gigi 37-37

Lain-lain :
- Terdapat genangan saliva, mukosa basah, konsistensi saliva cair mukosa berwarna
coral pink. gigi anterior depan rahang atas crowding ringan
F. Diagnosa
- Pigmentasi gingiva ec graves disease hipertiroid
- Ulkus traumatikus ec trauma mekanis cups distal gigi 18 yang tajam
- Gingivitis ringan
G. Rencana perawatan
1. Menginstruksikan pada pasien untuk tetap menjaga pola konsumsi obat rutin untuk
menjaga keadaan tiroid yang terkontol dari pasien (euthyroid).
2. Menginformasikan pada pasien bahwa gusi berdarah, bau mulut kemungkinan
disebabkan karang gigi yang belum pernah dibersihkan. Pasien diinstruksikan untuk
menyikat gigi 2x sehari pada setelah makan pagi dan sebelum tidur.
3. Sebelum dilakukannya tindakan, pastikan kondisi klinis pasien dengan
mempertimbangkan dengan perawatan. Pada pasien dengan kondisi klinis terkontrol
managemen dental yang dilaksanakan sama dengan pasien sehat, namun tetap harus
dilakukan managemen stres dan kontrol infeksi pada pasien, menghindari situasi stres
dan rasa tidak nyaman baik dari operator dan lingkungan. Pastikan TD pasien dan
apakah ada gejala aktif tiroid yang ditemukan. Jika ditemukan gejala aktif tiroid bisa
dilakukan konsultasi dengan dokter penyakit dalam terlebih dahulu.
4. Saat tindakan:
- Membuat lingkungan stress-free. suhu ruangan disesuaikan pada pasien.
Instruksikan pasien untuk memberitahu operator jika ada gejala yang dirasakan.
- Mengurangi trauma, perdarahan, dan kontrol infeksi.
- Tindakan jangan terlalu lama.
- Pada pasien ini lakukan tindakan pada posisi 45%
- Selalu monitoring klinis pasien.
5. Setelah dilakukan tindakan pasien diinstruksikan untuk tetap melanjutkan obatnya
dengan rutin untuk menjaga kondisi klinis pasien
6. Menginformasikan kepada pasien untuk menyikat giginya 2 x sehari pada waktu pagi
setelah sarapan dan malam sebelum tidur, dengan gerakan vertikal serta pada bagian
gusi, miringkan kepala sikat gigi sebanyak 45° ke arah gusi, dan membersihkan
bagian dalam gigi dengan gerakan seperti mencangkul, menggunakan bulu sikat lunak
tekanan ringan.
7. Menginstruksikan pasien untuk selalu menyikat lidahnya serta membersihkan sela-
sela giginya dengan benang gigi, terutama bagian depan atas karena posisi giginya
yang berjejal. Serta edukasi pasien untuk mengunyah pada kedua sisi.
8. Menginstruksikan pasien untuk selalu cukup minum air mineral minimal 8 gelas/hari
atau 2 liter
9. Instruksikan pasien untuk dapat rutin kontrol ke dokter gigi 6 bulan sekali..
Pro Scaling and root planing

10. Menginformasikan kepada pasien bahwa rasa kesat pada seluruh permukaan gigi, gusi
yang kadang-kadang berdarah, bau nafas yang kurang segar; disebabkan oleh adanya
karang gigi pada rongga mulut pasien yang belum pernah dibersihkan sebelumnya.
Pasien direncanakan untuk dilakukan perawatan scalling – root planning / SRP.
11. Perawatan SRP akan dilaksanakan pada pukul 10.00, dengan durasi kunjungan
singkat; pengerjaan akan dilakukan secara efektif dan efisien waktu. Lingkungan
kerja dibuat bebas stress serta nyaman untuk pasien. Pada proses pengerjaan akan
digunakan bite block untuk menghindari pasien lelah dan atau kesulitan dalam
membuka mulutnya.
a. Pukul 10.00 pagi dijadwalkan karena waktu tersebut merupakan jam
kunjungan yang dianjurkan dan terbaik untuk meminimalisir dampak stress
pada pasien hipertensi. Selain itu, dikarenakan pasien yang mengonsumsi obat
rutin dengan kandungan aspirin yaitu Aptor pada malam harinya sekitar pukul
22.00. Aspirin diketahui memiliki efek menghambat pembekuan darah;
dengan durasi kerja efektif obat 4 – 6 jam.
b. Sebelum perawatan dimulai, akan dijelaskan prosedur yang akan dilakukan
serta efek dan dampak positif yang akan diterima pasien. Hal ini bertujuan
untuk meningkatkan kepercayaan diri pasien sebagai bentuk manajemen stress
untuk mengurangi kemungkinan naiknya tekanan darah selama prosedur
perawatan.
12. Melakukan pemeriksaan tekanan darah pada sebelum, selama (secara periodic), dan
sesudah perawatan dalam rangka monitoring kestabilan tekanan darah pasien.
13. Menginstruksikan pasien untuk memberitahu operator apabila pasien mulai
merasakan adanya gejala seperti pusing, kepala dan leher terasa berat, nyeri dada,
badan yang terasa berat, atau pandangan kabur, dsb.
14. Jika terdapat kemunculan gejala seperti tersebut diatas, atau terjadi peningkatan
tekanan darah, hentikan perawatan yang dilakukan saat itu kemudian posisikan pasien
ke posisi duduk yang nyaman. Kemudian dapat dilakukan evaluasi apakah perawatan
dapat dilanjutkan atau ditunda.
15. Pada akhir kunjungan, pasien diistirahatkan terlebih dahulu selama beberapa menit,
dan bantu pasien untuk berdiri sampai dengan pasien stabil untuk berdiri tegap secara
mandiri.
16. Menginformasikan kepada pasien untuk menyikat giginya 2 x sehari pada waktu pagi
setelah sarapan dan malam sebelum tidur, dengan gerakan vertikal serta pada bagian
gusi, miringkan kepala sikat gigi sebanyak 45° ke arah gusi, dan membersihkan
bagian dalam gigi dengan gerakan seperti mencangkul, menggunakan bulu sikat lunak
tekanan ringan.
17. Menginstruksikan pasien untuk selalu menyikat lidahnya serta membersihkan sela-
sela giginya dengan benang gigi, terutama bagian depan bawah karena posisi giginya
yang berjejal. Serta edukasi pasien untuk mengunyah pada kedua sisi.
18. Menginstruksikan pasien untuk selalu cukup minum air mineral minimal 8 gelas/hari
atau 2 liter
19. Menginformasikan kepada pasien bahwa obat Candesartan cilexetil memiliki
kemungkinan efek samping pada rongga mulut berupa mulut kering dan berkurangnya
sensasi rasa. Amlodipin memiliki kemungkinan efek samping pembesaran gusi serta
mulut kering, dan perubahan sensasi rasa. Pasien diinstruksikan untuk
mengonsultasikan apabila keluhan tersebut muncul ke dokter gigi dan dokter yang
merawatnya.
20. Instruksikan pasien untuk dapat rutin kontrol ke dokter gigi 6 bulan sekali.

Pro. Scaling and root planing


G. Pembahasan

Pasien Ny. LY, merupakan seorang penderita hipertensi primer, yang terdiagnosis pasca
serangan stroke bagian kiri akibat tingginya tekanan darah pasien saat itu yaitu 210/117
mmHg. Diketahui pasien tidak pernah melakukan pemeriksaan tekanan darah sebelumnya,
dan tidak pernah mengetahui bahwa memiliki kecenderungan tekanan darah yang meningkat.
Faktor resiko yang terdapat pada Ny. LY atas hipertensi primer yang dideritanya ialah faktor
genetik dari saudara sedarah dan aging.1,2
Resiko tinggi terjadinya stroke sekunder terjadi selama 90 hari pertama pasca serangan. Oleh
karena itu manajemen dental berupa tindakan perawatan elektif, untuk pasien dengan riwayat
stroke seharusnya dilakukan minimal 6 bulan pasca serangan. Serangan stroke pasien terjadi
pada ± 8 bulan yang lalu. Diperkirakan, Ny. LY sudah dikategorikan aman untuk dapat
menerima perawatan dental pada saat ini, dengan berbagai pertimbangan dan perhatian
khusus terkait penyakit dan medikasi yang dipergunakannya.1
Selama 8 bulan terakhir sampai dengan saat ini, pasien rutin diresepkan obat dengan merk
dagang Aptor (acetosal) 100 mg sebanyak 1 x 1, dengan anjuran pakai oleh dokter pada
malam hari. Diketahui, aptor merupakan merk dagang obat yang memiliki kandungan utama
asam asetilsalisilat atau yang lebih umum dikenal dengan aspirin. aspirin merupakan
senyawa yang memiliki khasiat sebagai analgesik, antipiretik, dan anti inflamasi pada
penggunaan dosis besar. Khasiat lain yang dimiliki asetosal pada penggunaan dosis kecil
jangka panjang adalah sebagai anti platelet yang dapat mengurangi kemungkinan terjadinya
infark miokard pada orang dengan resiko tinggi stroke atau ischemia cerebral, sehingga
asetosal diproduksi dengan dosis sediaan 80 dan 160 mg/tablet dengan aturan pakai 1
tablet/hari.15
Aktivitas antiplatelet dari aspirin ialah melalui penghambatan proses dari agregrasi
komponen platelet. Penggunaan aspirin secara terus menerus diasumsikan pada berbagai
kajian ilmiah dapat meningkatkan tendensi komplikasi perdarahan pasca/selama prosedur
dental. Pada beberapa kasus banyak ditemukan pasien dental yang sedang dalam terapi
aspirin, diinstruksikan untuk mengentikan pemakaian aspirin nya secara sepihak oleh praktisi
dokter gigi, tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter yang merespkan obat pasien.
Hal ini merupakan hal yang beresiko bagi kesehatan pasien secara umum. Karena dengan
pengehentian terapi antiplatelet diketahui meningkatkan resiko komplikasi trombotik.16
Penelitian oleh Lillis et al, melaporkan bahwa pasien dengan terapi antiplatelet dosis tunggal
memiliki tendensi perdarahan hanya sebesar 2,6% pasca ekstraksi. Resiko yang besar yaitu
sebanyak 66,7% terjadi pada pasien dengan dosis antipalatelet ganda. Selain itu, perdarahan
yang terjadi diketahui berhasil dikontrol dengan penggunakan hemostatic lokal, tanpa diikuti
perdarahan lebih lanjut. Penelitian lain oleh Cardona – Tortajada et all, menyatakan bahwa
pasien dengan terapi antiplatelet yang menjalani prosedur bedah (ekstraksi dental) hanya
mengalami perdarahan minor yang dapat dikontrol dengan hemostat lokal. Penelitian oleh
Madan et al, pada pasien dengan terapi aspirin 75 -100 mg / hari, diketahui tidak terdapat
perdarahan post operatif.16
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pasien Ny. LY dikategorikan cukup
aman untuk mendapatkan terapi bedah minor, termasuk prosedur scalling root planning. Akan
tetapi selama prosedur operatif, operator harus menyiapkan berbagai pilihan hemostat lokal,
yang sekiranya perlu dipergunakan apabila terjadi komplikasi perdarahan intra-operatif.
Untuk kasus pasien Ny. LY dapat diberikan larurtan asam traneksmat 4,8%, yang terbukti
efektif untuk mengurangi komplikasi perdarahan melalui mekanisme penghambatan
degradasi proteolitik dari fibrin, dengan mencegah melekatnya plasminogen dan plasmin.16
Selain obat Aptor, pasien juga mengonsumsi obat lain (penanggulangan hipertensi) yaitu
Candesartan cilexetil dan Amlodipine. Candesartan cilexetil merupakan angiotensin receptor
blockers. Diketahui angiotensin antagonis memiliki efek samping berupa hypotension,
hyperkalemia, headache, dan fetopathic potential. Komplikasi manifestasi oral berupa
angioedema (jarang), mulut kering, kehilangan sensasi rasa, dan sinusitis. Amlodpin
merupakan jenis calcium channel blocker, yang memiliki manifestasi oral berupa mulut
kering, perubahan sensasi rasa, dan pembesaran gingiva. Pada kajian literature, diketahui
insidensi pembesaran gingiva berkurang pada individu dengan oral hyigine yang baik. Mulut
yang kering dapat meningkatnya tendensi terjadinya karies, penyakit periodontal, infeksi
fungal, dan kehilangan sensasi rasa. Oleh karena itu, penting bagi operator untuk dapat
menginformasikan kepada pasien terkait kemungkinan komplikasi oral yang terjadi, serta
bagaimana tindakan pencegahan yang dapat dilakukan oleh pasien, seperti cara menjaga OH
dengan baik dan kontrol rutin ke dokter gigi 6 bulan sekali.6,9,12,17
H. Penatalaksanaan
Tindakan scalling root planning (SRP)
1. Manajemen pra-operatif
 Pasien diinstruksikan untuk tetap mengonsumsi obat-obatan antihipertensi nya
seperti biasa dengan rutin. Satu hari sebelum perawatan, pasien harus meminum
obat malamnya yaitu, Aptor tidak lebih dari pukul 22.00. 15
 Pasien tidak boleh meminum kopi atau teh setidaknya 30 menit sebelum terapi.14
 Waktu kunjungan pasien dijadwalkan pada pukul 10.00, dikarenakan jam 10
adalah waktu terbaik untuk melakukan tindakan dental bagi pasien dengan
hipertensi.14
 Operator sudah menyiapkan alat dan bahan yang akan dipergunakan sebelum
pukul 10.00 untuk meminimalisir waktu kunjungan.14
 Operator sudah menyaiapkan sol. Tranexamic acid 4,8% untuk penatalaksanaan
apabila terjadi perdarahan intraoperative.12,16
 Dilakukan pengecekan tekanan darah sebelum perawatan, serta evaluasi keadaan
medis terkini.6,13
 Pengukuran tekanan darah dilakukan minimal 2 kali sebelum perawatan dengan
interfal minimal 5 menit. Lakukan penghitungan tekanan darah, dan hasilnya
dirata-ratakan.14
 Setelah dilakukan pengukuran tekanan darah, pasien diisttirahatkan selama lima
menit terlebih dahulu sebelum memulai prosedur.14
 Reduksi stress dan kecemasan: Pasien diberi penjelasan mengenai kondisi pasien,
bagaimana prosedur perawatan, dengan memperlihatkan empati.12
 Menyiapkan jenis musik yang menenangkan; seperti bunyi gemericik air, yang
bertujuan untuk meminimalisir stress.20
 Berikan kesempatan pasien untuk bertanya sebelum perawatan dimulai.14

2. Manajemen intra-operatif
 Lakukan pengecekan tekanan selama perawatan secara periodic, minimal interval
5 menit sekali.10,14
 Manset spignomanometer terus dipergunakanan selama prosedur, untuk
mempermudah pengukuran tekanan darah yang berulang14
 Reduksi tingkatan stress dan kecemasan: ciptakan lingkungan kerja dan situasi
perawatan yang bebas stress, suhu ruangan diatur sesuai kenyamanan pasien,
menginstruksikan pasien untuk mendengarkan music yang lembut dan
menenangkan6,20
 Mendorong pasien untuk dapat bersikap komunikatif apabila terdapat
ketidaknyamanan yang dirasakan selama perawatan14
 Apabila terjadi kenaikan atau penuruan tekanan darah drastis, operator harus
mempertimbangkan untuk menghentikan perawatan, dan atau memberikan terapi
suportif14
 Apabila terdapat tanda-tanda komplikasi intraoperative, hentikan perawatan dan
posisikan pasien pada posisi duduk yang nyaman dan rileks: pasien duduk dengan
punggung menyandar dan terdukung dengan baik, kaki menyentuh lantai dan kaki
tidak disilangkan, lengan berada pada posisi yang sama tinggi dengan jantung,
lingkungan sekitar dibuat tenang.6,12,18
 Pada keadaan krisis hipertensi, posisikan pasien pada posisi semisupine. Dapat
diberikan oksigen bila diperlukan. Apabila hal ini tidak membantu, pasien dapat
diberikan diazepam dosis rendah. Apabila hal ini tidak dapat mengatasi, pasien
dapat segera dilakukan perawatan dibawah pengawasan dokter (medis).6
 Apabila terjadi perdarahan intraopeatif, pasien disiapkan dan diberikan sol.
tranexamic acid 4,8% untuk mengontrol perdarahan.12.16

3. Manajemen post-operatif
 Pada akhir kunjungan pasien diposisikan duduk secara tegak pada kursi gigi
selama beberapa menit, dan pasien dapat dibantu untuk berdiri, sampai dengan
pasien merasa stabil untuk dapat berdiri tegap. Hal ini bertujuan untuk
menghindari orthostatic hypotension.2
 Lakukan pengukuran tekanan darah pasca tindakan, untuk mengevaluasi dan
monitoring naik/turunnya tekanan darah pasien.2,10
 Dapat terjadi perdarahan beberapa hari pasca tindakan bedah periodontal pada
pasien yang tidak rutin meminum obat antihipertensi nya, penting untuk
mengedukasi pasien untuk selalu rutin minum obat14
 Pasien diresepkan obat kumur clorheksidine gluconate bertujuan untuk
mempercepat penyembuhan, mencegah infeksi serta manjemen rasa sakit post-
operatif.19
I. Tinjauan Pustaka
a) Deskripsi Umum, Etiologi dan Insidensi (ebook gangguan kelenjar tiroid)
Hipertiroid adalah hipersekresi produksi hormon tiroid oleh kelenjar tiroid. Dikenal
juga sebagai tiroiksikosis, hipertiroidisme dapat didefinisikan sebagai respons jaringan
jaringan tubuh terhadap pengaruh metabolik hormon tiroid yang berlebihan. Dapat terjadi
pada semua umur, sering ditemukan pada perempuan dari pada laki-laki. Enam puluh persen
kasus hipertiroid disebabkan oleh penyakit Graves, empat puluh persen sisanya karena sebab
sebab lain yang meliputi tiroiditis, adenoma toksik, tumor hipofise yang mensekresikan TSH,
dtrauma ovari. Keadaan hipertiroid ini dapat timbul secara spontan atau akibat asupan
hormon tiroid secara berlebihan. Terdapat dua tipe hipertiroid spontan yang paling sering
dijumpai yaitu Penyakit Graves dan Goiter nodular toksik.

1. Penyakit Graves
Penyakit graves biasanya terjadi pada usia sekitar 30 - 40 tahun dan lebih
sering ditemukan pada wanita daripada laki-laki. Terdapat pengaruh lain yaitu familial
terhadap penyakit ini. Pada penyakit graves terdapat dua kelompok gambaran utama
yaitu tiroidal dan ektra tiroidal dan keduanya mungkin tidak tampak.Ciri-ciri tiroidal
berupa goiter dan hipertiroid akibat sekresi hormon tiroid yang berlebihan.
Manifestasi ektratiroidal penyakit Graves dapat diikuti dengan gejala klinis yang
berbanding terbalik dengan beratnya hipertiroidsime. Penyakit graves biasanya timbul
sebagai manifestasi auto imun.
2. Goiter nodular toksik
Goiter nodular toksik paling sering ditemukan pada pasien lanjut usia sebagai
komplikasi goiter nodular kronik. Pada pasien ini hipertiroidisme timbul secara
lambat dan manifestasi klinisnya lebih ringan daripada penyakit graves. Pada kasus
ini pasien mungkin mengalami aritmia dan gagal jantung yang resisten terhadap terapi
digitalis, pasien juga mengalami penurunan berat badan, lemah dan pengecilan otot.

Tabel 1. Berbagai penyebab hipertiroidisme

b) Gambaran klinis dan diagnosis


Gejala gejala hipertiroid berupa manifestasi hipermetabolisme dan aktifitas
aktifitis simpatis yang berlebihan.
Gambaran klinis penyakit hipertiroid : (ebook tiroid dan hipertiroid)
 Tremor, penurunan berat badan kendati selera makan tetap baik, iritabilitas, kegelisahan,
insomnia, intoleransi terhadap hawa panas, peningkatan frekuensi defekasi, diare atau
palpitasi.
 Tanda tanda oftalmologi meliputi tatapan mata yang membengkak (eksoftalmus) dan
kelumpuhan kelopak mata atas untuk menutup mata (lid lag).
 Kulit yang hangat dan basah akibat vasodilatasi perifer dan perspitasi yang berlebihan.
 Peningkatan risiko fibrilasi atrium dan hipertensi sistolik tersendiri.
Diagnosis hipertiroid :
1. Peningkatan kadar T3 dan T4
2. Penurunan kadar TSH (kecuali pada tumor yang mensekresikan TSH)
3. Antibodi atau anti-reseptor TSH untuk penyakit Graves.
4. Pemeriksaan scan ambilan iodium radioaktif (RAIU). Ambilan yang bersifat lokal
(adenoma toksik, penyakit tiroid multinodular), ambilan yang bersifat menyeluruh
(penyakit graves) atau tidak ada ambilan (tiroiditis, strauma ovarii)
c) Manajemen Hipertensi
Modifikasi gaya hidup bertujuan untuk mengeliminasi faktor resiko, penurunan berat
badan, modifikasi diet dan penggunaan obat-obatan merupakan modalitas utama
untuk perawatan hipertensi. Tujuan klinisi adalah untuk dapat selalu mempertahankan
tekanan darah pasien dibawah 140/90 mmHg; sesuai rekomendasi American Diabetes
Association (ADA) pada seluruh pasien hipertensi, kecuali pada pasien dengan gagal
ginjal kronis (dibawah 130/80 mmHg) dan beberapa kasus khusus diabetes.2
Sejumlah jenis dari agent/obat-obatan yang diindikasikan untuk pengobatan hipertensi
diantaranya; diuretic, β-blockers, calcium channel blockers, angiotensin-converting
enzyme inhibitors (ACEIs), angiotensin II receptor blockers, direct vasodilator, dan
centrally acting agents. Masing-masing dari agen anti-hipertensi tersebut diketahui
sama-sama efektif, serta dapat menghasilkan respon anti-hipertensif pada 40 – 60 %
kasus. Oleh karena itu pemilihan agen anti hipertensi dilakukan bukan berdasarkan
keefektifannya secara umum, melainkan variasi antar pasien yang cukup luas terkait
respon medis. Pada saat ini, belum terdapat consensus mengenai dosis terapi inisial
yang optimal untuk kasus hipertensi, hal ini berkaitan dengan 4 golongan utama obat
hipertensi (diuretic, β-blockers, calcium channel blockers, ACEIs) memberikan
manfaat yang sama besar pada kontrol tekanan darah, Banyak praktisi kesehatan yang
menyarankan terapi dengan dosis rendah untuk memaksimalkan efektifitas terapi dan
meminimalisir efek samping. 1
d) Medikasi Antihipertensi dan Efek Samping Oral
Kesehatan rongga mulut dapat dipengaruhi oleh efek samping dari penggunaan obat
anti hipertensi ataupun interaksinya dengan obat-obatan yang lain. Suatu literature
menyatakan bahwa, banyak ditemukan kasus pembesaran gingiva pada pasien yang
menggunakan obat antihipertensi Nifedipine (Calcium channel blokers). Obat anti
hipertensi yang lain seperti Thiazides, Methyldopa, Propranolol,dll dilaporkan dapat
menyebabkan reaksi lichenoid pada rongga mulut. ACE inhibitors (angiotensin
converting enzyme) diketahui dapat menyebabkan masalah pada proses pengecapan,
sensasi mulut terbakar yang biasa disebut Scalded mouth syndrome. Selain hal
tersebut xerostomia juga dilaporkan dapat terjadi akibat obat-obatan anti hipertensi.6
1) Xerostomia
Banyak jenis dari agen anti hipertensi seperti ACEIs, Thiazide diuretics, loop
diuretics, dan Clonidine diketahui berhubungan dengan terjadinya
xerostomia. Xerostomia mengakibatkan berbagai masalah pada rongga mulut
diantaranya karies gigi, kesulitan mengunyah, kesulitan menelan, gangguan
berbicara, infeksi jamur, dan sensasi mulut terbakar. Pada beberapa kondisi,
diperlukan pergantian obat antihipertensi untuk mengatasinya. Selain itu,
dapat digunakan agent parasimpatomimetik seperti Pilocarpine atau
Cevimeline. Anjuran berupa meningkatkan frekuensi minum air, mengunyah
permen non-gula, pengurangan konsumsi kopi, menghindari obat kumur
berbahan dasar alcohol juga dapat diinstuksikan pada pasien.9
2) Gingival Hyperplasia

Obat anti hipertensi berjenis calcium channel blocker diketahui dapat


menyebabkan efek berupa gingival hyperplasia pada 6 – 38 % kasus.
Kebanyakan kasus berhubungan dengan pemakaian Nifedipine. Efek yang
dihasilkan dapat dipengaruhi oleh dosis. Manifestasi gingival hyperplasia pada
rongga mulut dapat berupa rasa sakit, perdarahan pada gusi, dan kesulitan
mastikasi. Insidensi dilaporkan berkurang pada individu dengan oral hygine
yang baik. Hyperplasia dapat teratasi dengan pergantian obat anti hipertensi
yang digunakan.9
3) Lichenoid Reaction

Banyak jenis dari agen anti hipertensi seperi; Thiazide diuretics, Methyldopa,
Propranolol, Captopril, Furosemide, Spironolactone, dan Labetalol dilaporkan
memiliki hubungan dengan terjadinya reaksi lichenoid. Gambaran klinis
biasanya tidak serupa dengan lichen planus oral. Penatalaksanaan yang paling
mudah ialah dengan menghentikan obat-obatan antihipertensi yang memicu.
Reaksi lichenoid umumnya akan sembuh setelah pergantian obat penyebab.
Apabila pada keadaan tertentu, obat-obatab tidak diganti, reaksi lichenoid
dapat diberikan manajemen berupa obat kortikosteroid topikal.9
4) Efek Lainnya
ACE Inhibitors dilaporkan dapat menyebabkan efek samping berupa batuk
dan hilangnya sensasi rasa (ageusia), atau perubahan pada pengecapan
(dysgeusia). Dysgeusia juga dilaporkan disebabkan oleh obat antihipertensi
lainnya seperti �-blockers, acetazolamide, dan diltiazem. 9
e) Pertimbangan Dental Pasien Hipertensi

Pasien dengan kondisi medis hipertensi memerlukan perhatian khusus dari praktisi
kedokteran gigi terkait hal pertimbangan-pertimbangan dalam manajemen dental.
Dalam merumuskan rencana perawatan, tingginya tekanan darah pada pasien dental
merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam menformulasikan rencana
perawatan, premedikasi, pemilihan dari anastesi dan menentukan durasi dan tahapan
prosedur operatif. Praktek dokter gigi juga harus memiliki alat yang tersedia pada
untuk pengukuran tekanan darah.6,13
Pengukuran tekanan darah dan evaluasi keadaan sistemik merupakan suatu kewajiban
yang harus dilakukan secara rutin pada seluruh pasien, khususnya pada pasien yang
sudah diketahui mengalami hipertensi. Pasien dengan hipertensi terkontrol atau Stage
1 hypertension merupakan kandidat untuk seluruh jenis perawatan dental. Beberapa
studi menyatakan bahwa; tekanan darah sistolik antara ≥ 140 dan ≤ 180 mm Hg serta
diastolic antara ≥ 90 dan ≤ 110 mm Hg, bukan merupakan suatu faktor resiko
independen yang dapat meyebabkan komplikasi perioperative kardiovaskular.6,13
Pasien dengan hipertensi yang tidak terkontrol atau terkontrol secara kurang baik,
tidak dianjurkan untuk mendapatkan perawatan dental yang dirasa dapat
menimbulkan stress sampai hipertensinya dapat dikontrol dengan baik. Perawatan
dental elektif juga sebaiknya dihindari apabila tekanan darah secara signifikan berada
diatas rata-rata. Apabila pasien memiliki tekanan darah yang tinggi, pasien harus
dirujuk ke dokter untuk observasi lebih lanjut dan penggunaan obat antihipertensi. 6,10
Waktu kunjungan yang direkomendasikan untuk pasien dengan hipertensi adalah pada
menjelang siang hari, hal ini berkaitan dengan terdapat indikasi peningkatan tekanan
darah pada penderita hipertensi beberapa jam setelah bangun tidur dan memuncak
pada pertengahan pagi. Fluktuasi tekanan darah juga cenderung lebih stabil pada siang
hari. Hindari kunjungan dengan durasi yang panjang14
1) Manajemen pra-operatif
- Pasien tidak boleh merokok atau meminum kopi setidaknya 30 menit
sebelum terapi.14
- Selalu lakukan pengecekan tekanan darah sebelum perawatan. Seluruh
pasien, khususnya pasien yang diketahui memiliki riwayat hipertensi harus
dilakukan pengecekan tekanan darah setiap awal kunjungan, serta evaluasi
keadaan medis terkini.6,10,13
- Pengukuran tekanan darah harus dilakukan minimal 2 kali sebelum
perawatan dengan interfal minimal 5 menit. Lakukan penghitungan
tekanan darah, dan hasilnya dirata-ratakan. Tekanan darah tersebut dicatat
sebagai tekanan darah ‘base line’14
- Setelah dilakukan pengukuran tekanan darah pada pasien, khusunya pasien
usia tua, pasien sebaiknya beristirahat selama lima menit terlebih dahulu
sebelum memulai prosedur.14
- Reduksi stress dan kecemasan: membangun hubungan antara dokter gigi
dan pasien yang jujur serta suportif. Beri penjelasan mengenai kondisi
pasien, bagaimana prosedur perawatan, dan memperlihatkan empati
terhadap ketakutan pasien. Berikan kesempatan pasien untuk bertanya
sebelum perawatan dimulai.14
- Untuk meminimalisir resiko yang terjadi dari prosedur dental yang penuh
tekanan/stress. Pasien yang sangat cemas dapat diberikan obat diazepam
dengan dosis 5 mg atau oxazepam 30 mg, malam sebelum dilakukan
perawatan, dan satu jam sebelum kunjungan dental.6

2) Manajemen intra-operatif
- Selalu lakukan pengecekan tekanan selama perawatan secara periodic,
minimal interval 5 menit sekali.10,14
- Manset spignomanometer terus dipergunakanan selama prosedur, untuk
mempermudah pengukuran tekanan darah yang berulang14
- Reduksi tingkatan stress dan kecemasan: peningkatan dari tekanan darah
disebabkan oleh rasa gugup atau situasi yang penuh tekanan harus
diminimalisir pada pasien dengan hipertensi, ciptakan lingkungan kerja
dan situasi perawatan yang bebas stress dan nyaman.6
- Kontrol rasa sakit yang efektif selama proses operatif dan pasca tindakan
harus dilakukan pasca prosedur dental.6
- Mendorong pasien untuk dapat bersikap komunikatif apabila terdapat
ketidaknyamanan yang dirasakan selama perawatan14
- Dokter gigi harus sigap dengn perubahan tekanan darah yang terjadi.
Apabila terjadi kenaikan atau penuruan tekanan darah, operator harus
melakukan terapi suportif dan atau mempertimbangkan untuk
menghentikan perawatan14
- Apabila terdapat tanda-tanda komplikasi intraoperative, hentikan
perawatan dan posisikan pasien pada posisi duduk yang nyaman dan
rileks: pasien duduk dengan punggung menyandar dan terdukung dengan
baik, kaki menyentuh lantai dan kaki tidak disilangkan, lengan berada pada
posisi yang sama tinggi dengan jantung, lingkungan sekitar dibuat
tenang.6,12,18
- Pada keadaan krisis hipertensi, posisikan pasien pada posisi semisupine.
Dapat diberikan oksigen bila diperlukan. Apabila hal ini tidak membantu,
pasien dapat diberikan diazepam dosis rendah. Apabila hal ini tidak dapat
mengatasi, pasien dapat segera dilakukan perawatan dibawah pengawasan
dokter (medis).6
- Perawatan yang dilakukan harus secara efektif dan efisien, sehingga
meminimalisir waktu kunjungan yang panjang.14

- Tindakan bedah:
i. Pasien harus dalam keadaan yang nyaman apabila dilakukan
anastesi dengan prosedur inhalasi ataupun anastesi umum.
Selain itu dapat dilakukan presedasi oral dan parenteral.6
ii. Epinephrine dipergunakan secara terbatas pada pasien dengan
hipertensi. Penggunaan epinephrine akan menyebabkan
terjadinya vasokonstriksi pada pasien.6
iii. Aspirasi merupakan tindakan yang penting ketika akan
dilakukan injeksi dengan anastesi lokal bervasokonstriktor.
Apabila terdapat darah saat aspirasi, tarik kembali jarum dan
posisikan ditempat yang berbeda sampai tidak terdapat darah
pada karpul.10
iv. Hal yang penting untuk diketahui bahwa, pasien dengan
hipertensi dapat mengalami penuruan pada tekanan darahnya
setelah dilakukan anastesi lokal.10
v. Ekstraksi darurat: ketika ekstraksi dibutuhkan pada keadaan
tertentu, pasien hipertensi sebaiknya dilakukan rawat jalan dan
pengukuran homeostatis lokal harus dilakukan untuk mencegah
terjad pendarahan yang tidak diinginkan. Pada pasien ini,
premedikasi yang adekuat harus diberikan.6
vi. Sedasi oral atau intravena dapat dipertimbangkan dan hindari
penggunaan vasokonstriktor. Hal ini dapat dilakukan pada
pembedahan karena trauma atau prosedur eksodonsia akibat
odontalgia sekunder karena pulpitis atau periodontitis, dimana
gigi sudah tidak dapat dipertahankan lagi11
vii. Apabila terjadi perdarahan intraopeatif, beberapa agen
hemostatis dapat digunakan untuk mengontrol pendarahan.
Aplikasi dari anastesi lokal dengan vasokonstriktor, produk
berbasis chitosan, bone wax, fibrin sealant, epsilon-
aminocaproic acid, tranexamic acid, oxidized cellulose,
0aluminum chloride, ferric sulfate, aluminum potassium
sulfate, zinc chloride, trichloroacetic acid, dan tannic acid,
dapat membantu untuk mengontrol perdarahan.12

- Tindakan restorasi / prostodonsia:


i. Krisis hipertensi sering terjadi pada prosedur preparasi crown
yang menggunakan benang retraksi dengan epinephrine.
Terdapat alternative lain jenis benang retraksi dengan senyawa
garam yang memberikan efek vasokonstriktor lokal tanpa
mempengaruhi tekanan darah.
ii. Selain itu electrocautery dan ablasi laser pada epithelium
superfisial gingiva adalah metode yang efektif untuk
mendapatkan efek yang serupa tanpa menyebabkan kerusakan
permanen pada jaringan periodontium11

- Tindakan scalling dan root planning:


i. Terdapat resiko peningkatan tendensi perdarahan apabila terjadi
peningkatan tekan darah14
ii. Beberapa agen hemostatis dapat digunakan untuk mengontrol
pendarahan. Aplikasi dari anastesi lokal dengan
vasokonstriktor, produk berbasis chitosan, bone wax, fibrin
sealant, epsilon-aminocaproic acid, tranexamic acid, oxidized
cellulose, aluminum chloride, ferric sulfate, aluminum
potassium sulfate, zinc chloride, trichloroacetic acid, dan tannic
acid, dapat membantu untuk mengontrol perdarahan.12
iii. Studi: dapat terjadi perdarahan beberapa hari pasca tindakan
bedah periodontal pada pasien yang tidak rutin meminum obat
antihipertensi nya, penting untuk mengedukasi pasien untuk
selalu rutin minum obat14

3) Manajemen post-operatif
- Pada akhir kunjungan pasien diposisikan duduk secara tegak pada kursi
gigi selama beberapa menit, dan pasien dapat dibantu untuk berdiri,
sampai dengan pasien merasa stabil untuk dapat berdiri tegap. Hal ini
bertujuan untuk menghindari orthostatic hypotension.2
- Lakukan pengukuran tekanan darah pasca tindakan, untuk mengevaluasi
dan monitoring naik/turunnya tekanan darah pasien.2,10
- Hindari interaksi obat: banyak dari obat golongan NSAID berinteraksi
dengan ACEIs, dan berakibat menurunnya efektifitas dari agen
antihipertensi. Obat vasopressor dapat berinteraksi dengan non selective
beta blockers dan menginduksi terjadinya episode hipertensi6
- Pasien memerlukan dukungan positif mengenai pentingnya obat-obatan
dan manajemen hipertensi untuk mencegah masalah pada sistem
kardiovaskular khusunya serta kesehatan umum secara keseluruhan10

Pengunaan Vasokonstiktor
Salah satu hal yang menjadi perhatian ialah penggunaan larutan anastesi
dengan vasokonstriktor. Masalah pertama dan utama ialah luasnya
penggunaan anastesi selama prosedur dental operatif dan pembedahan pada
ronga mulut. Vasokonstriktor memberikan efek yang optimal bagi anastesi
dengan mencegah klirens dari vena daripada anastesi lokal. Apabila
dipergunakan anastesi tanpa penggunaan vasokonstiktor, terdapat
kemungkinan bahwa anastesi yang dilakukan tidak cukup adekuat dan pasien
dapat merasakan sakit. 11
Beberapa studi klinis menyatakan bahwa dengan menghindari penggunaan
vasokonstriktor dapat menyebabkan naiknya tekanan darah selama prosedur
dental sebagai konsekuensi dari anastesi yang tidak sempurna. Rasa sakit dan
kecemasan dapat menyebabkan meningkatnya sekresi endogenous
catechoalamines dari medulla adrenal, dengan konsekuensi terjadinya
peningkatan tekanan darah. 11
Pada semua pasien, khususnya pasien hipertensi, aspirasi merupakan tindakan
yang penting ketika akan dilakukan injeksi dengan anastesi lokal
bervasokonstriktor. Injeksi intra-arterial dapat menyebabkan terjadinya
takikardi yang parah dan hipertensi sistolik, sebuah respon yang dapat
menyebabkan angina, myocardial infarction, atau cerebrovascular accident.
Oleh karena hal tersebut, direkomendasikan pasien dengan hipertensi tahap
mild atau borderline (tekanan diastolic dibawah 100 mmHg) dapat menerima
anastesi injeksi dengan vasokonstriktor dengan aspirasi yang dilakukan secara
rutin. Apabila pada saat aspirasi terdapat darah, jarum harus ditarik kembali
dan dimasukan kembali, serta dipastikan tidak ada darah yang masuk ke dalam
karpul. 10
Penggunaan epinephrine pada pasien dengan hipertensi masih merupakan hal
yang kontroversial. Akan tetapi, diketahui bahwa manfaat dari penggunaan
anastesi lebih besar daripada efek sistemik yang diakibatkanya (misalnya;
peningkatan tekanan darah dan aritmia). Hal yang perlu diperhatikan ialah
jangan menggunakan epinephrine dengan konsentrasi lebih dari 1:100,000.
Selain itu, diperhatikan untuk selalu melakukan aspirasi sebelum injeksi
dengan jarum suntik, untuk menghindari injeksi secara intravascular yang
tidak diharapkan10
Penggunaan Benang Retraksi dengan Epinephrine
Hal lain yang perlu diperhatikan pada pasien dengan hipertensi adalah
penggunakan benang retraksi yang dipergunakan untuk mendapatkan cetakan
yang akurat untuk margins restorasi inlay, onlay, atau preparasi mahkota.
Beberapa benang retraksi umumnya direndam dalam epinephrine untuk
mendapatkan efek hemostatis melalui vasokonstiksi mikrokapiler. Benang
retraksi direndam pada epinephrine yang diencerkan 1:1000, atau 100 kali
lipat lebih banyak dari larutan anastesi lokal. Dapat terjadi transfuse
Epinephrine melalui epithelium sulkular.11
Krisis hipertensi sering terjadi pada prosedur preparasi crown yang
menggunakan benang retraksi dengan epinephrine. Terdapat alternative lain
jenis benang retraksi dengan senyawa garam yang memberikan efek
vasokonstriktor lokal tanpa mempengaruhi tekanan darah. Selain itu prosedur
electrocautery dan ablasi laser pada epithelium superfisial gingiva adalah
metode yang efektif untuk mendapatkan efek yang serupa tanpa menyebabkan
kerusakan permanen pada jaringan periodontium.11

f) Resiko Medis
1) Hipotensi Ortostatik
Dalam keadaan normal, ketika seseorang berdiri dari posisi duduk atau
berbaring, respon vasokonstriksi akan menjaga aliran darah cerebral. Pada
pasien lansia, pada umumnya akan lebih mudah terjadi orthostatic hypotension
(OH), hal ini dikarenakan vasokonstriktor yang dikeluarkan bekerja secara
lebih lambat pada saat posisi berdiri. Pasien dengan obat-obatan antihipertensi
umumnya sering mengalami hal tersebut sebagai efek samping dari obat-
obatan. OH tidak memiliki gejala pendahulu. Umumnya pasien normal sampai
akhirnya terjadi sinkop. Tekanan darah menurun secara drastis, dengan denyut
nadi yang normal atau sedikit naik dari batas normal. Pasien akan kembali
mendapatkan kesadaran ketika berada pada posisi horizontal, seiring dengan
terperbaikinya sirkulasi ke otak.2
OH Pretreatment diagnosis: dapat dilakukan pemeriksaan pada kasus pasien
yang dicurigai OH, lakukan pemeriksaan tekanaan darah dan nadi pada saat
posisi berbaring dan berdiri (secara tiba-tiba). Diagnosis OH dapat ditegakan
apabila tekanan sistolik turun sebanyak 20 – 30 mmHg dan diastolic sebanyak
10 – 15 mmHg pada saat berdiri, dan denyut nadi naik rata-rata sebanyak 10 –
15 denyut/menit. Strategi tindakan pencegahan: pada akhir kunjungan pasien
diposisikan duduk secara tegak pada kursi gigi selama beberapa menit, dan
pasien dapat dibantu untuk berdiri, sampai dengan pasien merasa stabil untuk
dapat berdiri tegap.2
2) Perdarahan Intra Operatif
Naiknya tekanan darah dapat menyebabkan terjadinya perdarahan
intraoperative yang berlebihan selama prosedur bedah. Mengetahui riwayat
pasien merupakan hal yang penting untuk dapat menghindari hal tersebut dan
dalam mempertimbangkan tindakan medis yang akan dilakukan. Pasien yang
sedang dalam medikasi anti-koagulan akibat berbagai kondisi medis tertentu,
dapat dijadikan perhatian. Secara umum, direkomendasikan untuk pasien yang
menggunakan antikoagulan dengan nilai international normalized ratio <4
dapat dilakukan operasi bedah yang bersifat minor. Untuk penggunaan aspirin
dan obat antiplatelet lainnya, direkomendasikan untuk dapat tetap
menggunakan medikasinya apabila dilakukan pembedahan secara minor tanpa
perlu interupsi.12
Beberapa agen hemostatis dapat digunakan untuk mengontrol pendarahan.
Aplikasi dari anastesi lokal dengan vasokonstriktor, produk berbasis chitosan,
bone wax, fibrin sealant, epsilon-aminocaproic acid, tranexamic acid, oxidized
cellulose, aluminum chloride, ferric sulfate, aluminum potassium sulfate, zinc
chloride, trichloroacetic acid, dan tannic acid, dapat membantu untuk
mengontrol perdarahan ketika sedng melakukan prosedur pembedahan
ataupun restorasi.12
3) Krisis Hipertensi
Pada pasien usia tua yang didiagnosis hipertensi, insidensi terjadinya krisis
hipertensi adalah sebanyak 1 %. Walaupun kejadian ini cukup jarang, terdapat
sekitar 500.000 kasus yang tercata terjadi setiap tahunnya di Amerika. Krisis
hipertensi atau hipertensi akut dapat diklasifikasi menjadi kasus gawat ataupun
kasus darurat. Kenaikan tekanan darah yang signifikan dengan tekanan darah
sistolik ≥ 180 mmHg dan atau diastolic ≥ 120 mmHg tanpa asosiasi keruskan
end-organ dikategorikan sebagai kasus gawat/urgency. Hipertensi kategori
darurat/emergency didefinisikan sebagai kenaikan tekanan darah yang
berasosiasi dengan kerusakan pada organ target. Terdapat banyak faktor resiko
dari krisis hipertensi, yang paling umum ialah ketidak patuhan pada obat.
Anamnesis riwayat medis yang lengkap harus dilakukan pada saat
pemeriksaan klinis. Masalah yang dapat timbul akibat dari kenaikan akut dari
tekanan darah ialah; deficit neurologi yang berhubungan dengan strok iskemik
ataupun hemoragik, rasa mual dan muntah yang berhubungan dengan
hipertensi encephalopathy dan peningkatan tekanan intracranial, rasa sesak
pada dada akibat miokardial iskemia dan diseksi aortic, sakit pada punggung /
tengkuk akibat aortic dissection, dan dyspnea akibat edema pulmonary.
Kehamilan dapat mengeksaserbasi hipertensi yang parah, dengan akibat
preeclampsia dan resiko eclampsia, yang dapat mebahayakan nyawa. Agen
farmakologis yang dapat menyebabkan keadaan hyperadrenergic seperti
kokain, amphetamine, phencyclidine, atau monoamine oxidase inhibitors,
harus dicatat dan dihentikan pemakaiannya.12
Postoperative hypertension pada usia tua dilaporkan terjadi pada 4 – 35 %
pasien setelah dilakukan prosedur bedah.
Apabila hal ini terjadi intra operatif, pasien harus diistirahatkan pada posisi
semi supine, dapat diberikan penggunaan oksigen. Apabila hal ini tidak
membantu, pasien dapat diberikan diazepam dosis rendah. Apabila hal ini
tidak dapat mengatasi, pasien dapat segera dilakukan perawatan dibawah
pengawasan dokter (medis). Dilakukan injeksi frusemide secara intravena dan
10 ml kapsul dari nifedipine yang dapat dipergunakan secara sublingual untuk
menurunkan tekanan darah. Postoperative hypertension pada usia tua
dilaporkan terjadi pada 4 – 35 % pasien setelah dilakukan prosedur bedah. 6,14.
KEPUSTAKAAN

1. Burket, et. al.. Oral Medicine. 12 Ed. USA: PMPH


2. Kanchan M. Ganda. Dentist’s Guide to Medical Conditions, Medications, and
Complications 2nd edition, 2013. Willey, Blackwell.
3. Sartik. Faktor – Faktor Risiko Dan Angka Kejadian Hipertensi Pada Penduduk
Palembang. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, November 2017, 8(3):180-191
4. PUSDATIN Kementrian Kesehatan RI. INFODATIN: Hipertensi.
http://www.depkes.go.id/download.php?
file=download/pusdatin/infodatin/infodatin-hipertensi.pdf. Diakses tanggal 16
Juni 2019,
5. Granados-Gámez, G., Roales-Nieto, J. G., Gil-Luciano, A., Moreno-San Pedro, E.,
& Márquez-Hernández, V. V. (2015). A longitudinal study of symptoms beliefs in
hypertension. International Journal of Clinical and Health Psychology, 15(3),
200–207.doi:10.1016/j.ijchp.2015.07.001
6. Ghom, A.G. Textbook Of Oral Medicine. Edisi 2. India: Jaypee Bothers Medical
Publisher. 2010
7. Schwartz CL, McManus RJ. What is the evidence base for diagnosing
hypertension and for subsequent blood pressure treatment targets in the prevention
of cardiovascular disease?. BMC Med. 2015;13:256. Published 2015 Oct 12.
doi:10.1186/s12916-015-0502-5
8. Kumar P, Mastan K, Chowdhary R, Shanmugam K. Oral manifestations in
hypertensive patients: A clinical study. J Oral Maxillofac Pathol. 2012;16(2):215–
221. doi:10.4103/0973-029X.99069
9. Popescu, S. M., Scrieciu, M., Mercuţ, V., Ţuculina, M., & Dascălu, I. (2013).
Hypertensive Patients and Their Management in Dentistry. ISRN Hypertension,
2013, 1–8. doi:10.5402/2013/410740
10. Lockheart, Peter B. Oral Medicine and Medically Complex Patients Sixth Edition.
Willey – Blackwell. 2013.
11. Silverman, Sol. Essentials of Oral Medicine. Canada: BC Decker. 2002
12. Southerland JH, Gill DG, Gangula PR, Halpern LR, Cardona CY, Mouton CP.
Dental management in patients with hypertension: challenges and solutions. Clin
Cosmet Investig Dent. 2016;8:111–120. Published 2016 Oct 17.
doi:10.2147/CCIDE.S99446
13. Herman, W. W., Konzelman, J. L., & Prisant, L. M. (2004). New National
Guidelines On Hypertension. The Journal Of The American Dental Association,
135(5), 576–584. Doi:10.14219/Jada.Archive.2004.0244
14. Patcharaphol Samnieng. Management Of Hypertensive Elderly In Clinical
Dentistry. International Journal Of Clinical Preventive Dentistry Volume 8,
Number 1, March 2012
15. Sweetman C.S (editor), Martindale The Complete Drug Reference, 33th edition,
Pharmaceutical Press, London, UK, 2002, p. 14-18
16. Atanaska Dinkova. Dental Management and Bleeding Complication of Patients on
Long-Term Oral Antiplatelet Therapy. Review of Existing Studies and Guidelines.
Journal of IMAB, 2013. Vol 19. Issue 2: p 298 -304
17. Ouanounou A. Xerostomia in the Geriatric Patient: Causes, Oral Manifestations,
and Treatment. Compend Contin Educ Dent. 2016 May;37(5):306-311
18. Blood Pressure Training Curriculum for the Dental Team. Community and
Clinical Connections for Prevention and Health Branch (2016). North Carolina,
Division of Public Health.
19. Indian health service division of Oral Health (IHS). Recommendarions for
Management Acute Dental Pain.
https://www.ihs.gov/doh/documents/Recommendations%20for%20Acute
%20Dental%20Pain%20Management.pdf diakses tanggal 11 Juli 2019.