Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN TUTORIAL

MANAJEMEN KEPERAWATAN
KASUS II

Disusun Oleh :

Dosen Pembimbing :

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MUHAMMADIYAH PALEMBANG
TAHUN AKADEMIK 2018 - 2019
DAFTAR PUSTAKA

2
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala yang


senantiasa memberikan kemudahan dalam menyelesaikan segala urusan,
sehingga memberikan kemudahan dalam menyelesaikan laporan tutorial
Keperawatan Manajemen.

Laporan ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran bagi


mahasiswa keperawatan dan dapat dimanfaatkan sebagai acuan dalam
menerapkan asuhan keperawatan.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini jauh dari


sempurna, baik dari segi penyusunan, bahasan, ataupun penulisannya.
Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun, khususnya dari dosen mata kuliah ini, guna menjadi acuan
dalam bekal pengalaman bagi kami untuk lebih baik di masa yang akan
datang.

Palembang, 8
Juli

Penyusun

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kepemimpinan berasal dari bahasa ingrris yaitu Leadership
yang berasal dari kata Lead yang berarti “pergi”. Secara umum,
pemimpin mempunyai gambaran kemana akan “pergi” , suatu arah
dengan adanya seseorang yang dipengaruhi untuk mengikuti.
Tapen (1995) dalam Sitorus dan Pandjaitan (2011)
menyatakan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi
orang lain untuk bekerja sama secara produktif dan dalam kondisi
yang menyenangkan.
Kuntoro (2010) menyatakan terlalu banyak definisi tentang
kepemimpinan, namun dapat dsimpulkan bahwa kepemimpinan
adalah suatu seni dan proses untuk mempengaruhi dan
mengarahkan orang lain agar mereka termotivasi untuk mencapai
tujuan yang diharapkan dalam situasi tertentu.
Kepemimpinan gaya demokratis adalah kemampuan
mempengaruhi orang lain agar mau bekerja sama untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang
akan dilakukan ditentukan bersamaan cara pimpinan dan bawahan.
Gaya Kepemimpinan Demokratis, yaitu gaya seorang
pemimpin yang menghargai karakteristik dan kemampuan yang
dimiliki oleh setiap anggota organisasi (Prima, A, 2013).
Pemimpin yang demokratis menggunakan kekuatan jabatan dan
kekuatan pribadi untuk menggali dan mengolah gagasan bawahan
dan memotivasi mereka untuk mencapai tujuan bersama.
Kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan
berdasarkan demokrasi yang pelaksanaannya disebut pemimpin
partisipasi (partisipative leadership). Kepemimpinan partisipasia

4
dalah suatu cara pemimpin yang kekuatannya terletak pada
partisipasiaktif dari setiap warga kelompok.

B. Tujuan Penulisan
1. Mahasiswa dapat mengetahui apa itu kepemimpinan demokrasi
2. Mahasiswa dapat mengetahui dan paham mengenai perhitungan
tenaga kesehatan menurut douglas
3. Mahasiswa dapat mengetahui metode dalam asuhan keperawatan
4. Mahasiswa dapat mengetahui fungsi manajemen keperawatan
5. Mahasiswa dapat mengetahui peran-peran dalam manajemen
keperawatan

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Skenario

Di Rumah Sakit X pada ruang penyakit dalam memiliki tenaga perawat


dengan jumlah tenaga keperawatan sebanyak 20 orang. Dengan 7 orang
nurse, 13 orang D3 keperawatan denagn kapasitas 24 TT. BOR 72% dengan
jumlah pasien 22 orang dan tingkat ketergantungan yaitu ( 3 klien dgn
perawatan minimal, 14 klien dgn perawatan parsial, dan 5 orang dengan
perawatan total ). Head Nurse menghitung jumlah perawat yang dibutuhkan
di shift pagi, siang, dan malam Head Nurse ingin menerapkan metode
asuhan keperawatan yang tepat untuk diruangan tersebut. Head Nurse dalam
memimpin menggunakan kepemimpinan demokrasi, Head Nurse
menjalankan fungsi menejemen dalam mengelola ruangan penyakit dalam.
Fungsi menjemen yang dijalankan Head Nurse yaitu planning, organizing,
staffing, actuating. Untuk fungsi organizing dan staffing seperti membagi
shift kerja perawat berdasarkan perhitungan douglas. Staff nurse dalam
menjalankan ttugasnya sesuai arahan dari Head Nurse mengharapkan
semuaanggotanya memiliki peran aktif dan kreatif dalam melaksanakan
tugas dengan sebaik-baiknya.

6
STEP 1

1. Staffing (Indah) : tenaga kerja (vina), fungsi manajemen untuk merekrut


tenaga kerja(Indri)

Jawaban Sumber : salah satu fungsi manajemen berupa penyusunan


personalia pada suatu organisasi sejak dari merekrut tenaga kerja,
pengembangannya sampai dengan usaha agar setiap tenaga petugas
memberi daya guna maksimal kepada organisasi.
Sumber : Setiadi.2016.Buku Manajemen dan Kepemimpinan dalam
Keperawatan,Yogyakarta.Indomedia Pustaka.

2. Actuating (Ulia): Penggerak / Pengarahan (Fera)


Jawaban Sumber : proses memberikan bimbingan kepada staff agar
mereka mampu bekerja secara optiman dalam melaksanakan tugas-
tugasnya sesuai dengan keterampilan yang mereka miliki.
Sumber : Setiadi.2016.Buku Manajemen dan Kepemimpinan dalam
Keperawatan,Yogyakarta.Indomedia Pustaka.

3. BOR (Dewi) :angka penggunaan tempat tidur diruangan (Dina Ulya)


Sumber : Setiadi.2016.Buku Manajemen dan Kepemimpinan dalam
Keperawatan,Yogyakarta.Indomedia Pustaka.

4. Head nurse (Indri) :ketua tim (Indah)


Sumber : Setiadi.2016.Buku Manajemen dan Kepemimpinan dalam
Keperawatan,Yogyakarta.Indomedia Pustaka.

7
STEP 2

1. Adakah hubungan gaya kepemimpinan dengan perawat ? (dina eo)


2. ada berapa macam fungsi manajemen dan bedanya (dewi)
3. metode yang digunakan di ruangan ? (dina ul)
4. bagaiman peran head nurse dalam manajemen keperawatan ? (annisa)
5. hubungan antara beban kerja perawat dengan jumlah pasien rawat inap ?
(indah)
6. jenis jenis kepemimpinan dalam keperawatan ? (indri)

STEP 3

no pertanyaan Jawaban sementara dan klarifikasi sumber

1 Dina ekadasi O Fera


ada hubungan dan sangat berpengaruh.
Adakah hubungan gaya
Gaya kepemimpinan yang demikrasi
kepemimpinan dengan perawat
yang lebih efisien
?
Klarifikasi
Berdasarkan teori kepemimpinan gaya
kepemimpinan sangat berpengaruh
terhadap kinerja perawat. Gaya
kepemimpinan yang paling baik adalah
gaya kepemimpinan demokrasi, gaya
kepemimpinan demokrasi merupakan
kepemimpinan yang bersedia
memberikan bimbingan yang efisien
kepada bawahannya, bersedia
mendengarkan pendapat , ide saran, dan
kritikan dari bawahan (kelompok),
sangat memperhatikan kepentingan dan

8
kesejahteraan bawahannya. Berdasarkan
hal tersebut perawat menginginkan
pekerjaan yang bervariasi, kondisi yang
mendukung diberikan kebebasan seluas-
luasnya untuk menggunakan
keteramppilan dan kemampuan ketika
melaksanakan kerja. Hal itu menunjukan
gaya kepemimpinan demokrasilah yang
paling cocok.
Sumber : maryanto, pujiyanto, setyono.
2013 . Hubungan Gaya Kepemimpinan
Kepala Ruangan Dengan Kepuasan
Kerja perawat Di Rumah Sakit Swasta
Di Demak. Jurnal Menejemen
Keperawatan. Vol 1 No. 2 November
2013 146-153

2 dewi Annisa
Planning (perencanaan), Organizing
ada berapa macam fungsi
(pengorganisasian), Actuating
manajemen dan bedanya?
(pengarahan), Controlling (mengontrol)

Klarifikasi
a. Planing (fungsi perencanaan )
b. Organizing (pengorganisasian)
rangkaian kegiatan untuk menghimpun
semua sumber data
c. Acuating (directing, commanding,

9
coordinating) proses memberikan
bimbingan kepada staf
d. Controling (pengawasan
monitoring) proses untuk mengamati
pelaksanaan rencana kerja yang sudah di
susun (marquis huston,2000)

3 Dina ulya
Dewi
metode yang digunakan di metode tim
ruangan ? indri
berfungsi dalam memudahkan
komunikasi antar kelompok perawat)

Klarifikasi
Metode tim, karena memungkinkan
pelayanan keperawatan yang
menyeluruh, mendukung pelaksanaan
proses keperawatan memungkinkan
komunikasi antar tim sehingga konflik
mudah di atasi dan memberi kepuasan
setiap anggota tim (Nursalam, 2002)

10
4 Annisa Ulia
menyusun rencana kegiatan tahunan
bagaiman peran head nurse
dalam manajemen keperawatan Vina Pu
?
(bertanggung jawab atas ruang yang
dipimpin dan menjamin mutu pelayanan
ruangan tersebut)

Klarifikasi
Tugas kepala ruangan menurut DepKes
RI,2005
Kegiatan menyusun rencana kegiatan
tahunan, yang meliputi kebutuhan
sumber daya (tenaga, fasilitas, alat, dan
dana), menyusu jadwal dinas dan cuti,
menyusun rencana pengembangan staf,
pengendalian pengembangan mutu,
bimbingan dan pembinaan staff,
koordinasi pelayanan, melaksanakan
program orientasi, mengelola paraktik
klinik, serta melakukan penilaian
kinerja dan mutu pelayanan
keperawatan.

5 Indah ms Annisa
ada hubungan, semakin banyak pasien

11
hubungan antara beban kerja rawat inap, beban kerja perawatn
perawat dengan jumlah pasien semakin bertambah
rawat inap ?
Klarifikasi
Hubungan antara beban kerja dengan
jumlah pasien menyebabkan mnurunnya
moral dan motivasi perawat sehingga hal
ini dapat menjadi salah satu pnyebab
kelelahan saat bekerja. Untuk
mengetahui tingkat keseimbanagn antara
beban kerja dan jumlah SDM, dapat
dilakukan perhitungan melalui rumus
douglas yang sperti diatas. Maka
upayang yang dapat dilakukan untuk
mengatasi ketidakseimbangan tersebut
adalah dengan memberdayakan SDM
(pendidikan/pelatihan, promosi, mutasi,
demosi) dan rekruitmen perawat.
Sumber : haryono, suryani, wulandari .
2009. Hubungan Antara Beban Kerja,
Stres Kerja, dan Tingkat Konflik Dengan
Kelelahan Kerja Perawat Di Rumah
Sakit Islam Yogyakarta PDHI Kota
Yogyakarta. Kes`Mas Vol 3 No 3
september 2009

6 indri Dina Ulya


Jenis-jenis kepemimpinan partisipasif, demokratis, bebas tindakan,
dalam keperawatan ? otoriter

12
Klarifikasi
1. Otoriter
2. Demokratis
3. bebas tindakan
4. partisipasif
Sumber : Suni, Arsad.2018. Ken.
Jakarta : Bumi Medika

STEP 4

KARU

Type equation here.

13
STEP 5
Learning Objective :
1. Gaya kepemimpinan Demokratis
2. perhitungan tenaga perawat douglas
3. metode dalam askep
4. fungsi manajemen keperawatan
5. peran (uraian tugas) masing-masing dari bagan step 4
6. cari jurnal yang berhubungan dengan kasus

STEP 6 ( Self study, mahasiswa belajar mandiri dengan mencari sumber


berdasarkan tujuan belajar yang sudah disepakati kelompok )

STEP 7 ( Hasil Reporting berdasarkan Lerning Objective )

1. Definisi Kepemimpinan Gaya Demokratis


Kepemimpinan gaya demokratis adalah kemampuan mempengaruhi
orang lain agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan ditentukan
bersamaan cara pimpinan dan bawahan.
Gaya Kepemimpinan Demokratis, yaitu gaya seorang pemimpin
yang menghargai karakteristik dan kemampuan yang dimiliki oleh setiap
anggota organisasi (Prima, A, 2013). Pemimpin yang demokratis
menggunakan kekuatan jabatan dan kekuatan pribadi untuk menggali dan

14
mengolah gagasan bawahan dan memotivasi mereka untuk mencapai
tujuan bersama.
Kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan berdasarkan
demokrasi yang pelaksanaannya disebut pemimpin partisipasi
(partisipative leadership). Kepemimpinan partisipasia dalah suatu cara
pemimpin yang kekuatannya terletak pada partisipasiaktif dari setiap
warga kelompok.

A. Wewenang
1. Wewenang pimpinan tidak mutlak
Yaitu keputusan pimpinan bisa dipengaruhi oleh masukan dari
bawahan, bukan sebagai bentuk interferensi, dalam hal ini lebih
ditekankan dari asas musyawarah.
2. Pimpinan melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan
Tidak semua keputusan bergantung pada pimpinan semata.
Bawahan memiliki wewenang untuk membuat keputusan, namun
masih berada dalam batas sewajarnya.
3. Keputusan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan
Setiapkeputusan yang diambil tidak hanya berasal dari pimpinan
mutlak, namun telah dimusyawarah kan terlebih dahulu bersama
bawahannya.
4. Kebijakan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan
5. Komunikasi berlangsung timbal balik
Komunikasi antara pimpinan dan bawahan berlangsung dengan
baik, tanpa adanya rasa takut atau canggung karena jabatan.
6. Pengawasan dilakukan secara wajar
Pemimpin tidak melakukan pengawasan kegiatan secara over atau
over protective, sehingga tidak ada tekanan pada bawahan saat
melakukan kegiatannya, bawahan pun menjunjung tinggi
kepercayaan yang diberikan atasannya.
7. Prakarsa datang dari pimpinan maupun bawahan

15
Ide suatu kegiatan bukan hanya berasal dari pimpinan saja
melainkan juga bawahan, asalkan ide tersebut dapat membawa
organisasi kearah yang lebih baik dan berkembang.
8. Banyak kesempatan bagi bawahan untuk mengeluarkan pendapat
Bawahan bebas untuk berpendapat sesuai dengan asas demokrasi.
9. Tugas diberikan bersifat permintaan
Tugas yang diberikan pimpinan bisa berasal dari permintaan
bawahan yang tentunya berdampak positif bagi organisasi tersebut.
10. Pujian dan kritik seimbang
Pimpinan dan bawahan tidak selalu saling memuji atau mengkritik,
kedua-duanya berjalan seimbang sesuai dengan kebutuhan
organisasi tersebut.
11. Pimpinan mendorong prestasi bawahan
12. Kesetiaan bawahan secara wajar
Bawahan tidak bersifat sebagai budak yang selalu taat pada
atasannya, namun bawahan tetap memiliki rasa hormat yang tinggi
pada atasannya.
13. Memperhatikan perasaan bawahan
Pemimpin bersikap mengayomi kepada bawahan, sehingga
pemimpin menger tiap amasalah yang ada pada bawahan, sehingga
pemimpin bisa mengambil kebijakan dengan segera.
14. Suasana saling percaya, menghormati dan menghargai
Suasana yang selalu harmonis dalam lingkungan organisasi.
15. Tanggung jawab dipikul bersama
Kelebihan yang paling utama, yaitu saling bekerja sama dalam
mencapai tujuan organisasi.

16
B. Kelebihan Gaya Kepemimpinan Demokratis
a. Kelebihan gaya kepemimpinan demokratis
1. Lebih memperhatikan bawahan untuk mencapai tujuan organisasi.
2. Semua kebijaksanaan terjadi pada kelompok diskusi dan keputusan
diambil dengan dorongan dan bantuan dari pemimpin.
3. Kegiatan-kegiatan didiskusikan, langkah-langkah umum untuk tujuan
kelompok dibuat, dan jika dibutuhkan petunjuk-petunjuk teknis
pemimpin menyarankan dua atau lebih alternatif prosedur yang dapat
dipilih.
4. Para anggota bebas bekerja dengan siapa saja yang mereka pilih dan
pembagian tugas ditentukan oleh kelompok.
5. Menekan kan dua hal yaitu bawahan dan tugas.
6. Pemimpin adalah obyektif atau fact - minded dalam pujian dan
kecaman nya dan mencoba menjadi seorang anggota kelompok biasa
dalam jiwa dan semangat tanpa melakukan banyak pekerjaan.

b. Kelemahangayakepemimpinandemokratis
1. Proses pengambilan keputusan akan memakan waktu yang lebih
banyak
2. Sulitnya pencapaian kesepakatan

C. Penerapan Gaya Kepemimpinan Demokratis


Kepemimipinan demokratis ini sangat cocok diterap kan pada karyawan yang
mempunyai inisiatif atau kreatifitas yang tinggi sehingga tanpa komando dari
pimpinan akan selalu muncul ide-ide yang brilian dari karyawan guna
pengembangan organisasi tersebut. Selain itu juga cocok diterapkan pada
karyawan yang mempunyai tanggung jawab yang tinggi, karyawan yang
patuh pada aturan, tidak suka berbuat onar, mempunyai rasa toleransi yang
tinggi, dan yang paling penting mampu bekerja sama dalam satu tim.

17
2. Perhitungan tenaga kesehatan menurut Douglas
Untuk pasien rawat inap, Douglas (1984) menyampaikan standar waktu
pelayanan pasien rawat inap sebagai berikut :
a. Perawatan minimal memerlukan waktu : 1 – 2 jam/24
jam
b. . Perawatan intermediet/parsial memerlukan waktu : 3 – 4 jam/24
jam
c. Perawatan maksimal/total memerlukan waktu : 5 – 6 jam/24
jam

Dalam penerapan sistem klasifikasi pasien dengan tiga kategori tersebut


di atas adalah sebagai berikut :
Kategori I : Self Care / Perawatan Mandiri (Minimal)
Kegiatan sehari-hari dapat dilakukan sendiri, penampilan secara umum baik,
tidak ada reaksi emosional, pasien memerlukan orientasi waktu, tempat dan
pergantian shift, tindakan pengobatan biasanya ringan dan simpel.
Asuhan keperawatan minimal mempunyai kriteria sebagai berikut :
1. Kebersihan diri, mandi ganti pakaian dilakukan sendiri
2. Makan dan minum dilakukan sendiri
3. Ambulansi dengan pengawasan
4. Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap jaga (shift)
5. Pengobatan minimal dengan status psikologis stabil
6. Persiapan prosedur memerlukan pengobatan

18
Kategori II : Intermediet Care / Perawatan Sedang(Partial)
Kegiatan sehari-hari untuk makan dibantu, mengatur posisi waktu makan.
memberi dorogan agar mau makan,eliminasi dan kebutuhan diri juga
dibantu atau menyiapkan alat untuk ke kamar mandi.Penampilan pasien
sakit sedang.Tindakan perawatan pada pasien ini monitor tanda-tanda
vital,periksa urine reduksi,fungsi fisiologis,status emosinal,kelancaran
drainage atau infus.Pasien memerlukan bantuan pendidikan kesehatan untuk
support emosi 5-10 menit/shift atau 30-60 menit/shiftdengan mengobservasi
side efek obat atau reaksi alergi.
Asuhan keperawatan parsial mempunyai kriteria sebagai berikut :
Kebersihan diri dibantu, makan dan minum dibantu
1. Observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali
2. Ambulansi dibantu, pengobatan lebih dari sekali
3. Pasien dengan kateter urine, pemasukan dan pengeluaran intake
output cairan dicatat / dihitung.
4. Pasien dengan infus, persiapan pengobatan yang memerlukan
prosedur

Kategori III : Intensive Care / Perawatan Total


Kebutuhan sehari-hari tidak bisa dilaksanakan sendiri,semua dibantu oleh
perawat penampian sakit berat.pasien memerlukan observasi terus-menerus.
Asuhan keperawatan total mempunyai kriteria sebagai berikut :
1. Semua keperluan pasien dibantu
2. Perubahan posisi, observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap 2
jam
3. Makan melalui slang ( NGT / pipa lambung ), terapi intravena
4. Dilakukan penghisapan lender (suction)
5. Gelisah / disorientasi.

19
Berdasarkan kategori tersebut, didapatkan jumlah perawat yang dibutuhkan
pada pagi,sore dan malam sesuai dengan tingkat ketergantungan pasien :

3. Metode Pemberian Asuhan Keperawatan


Gillies (1996) menyebutkan bahwa terdapat beberapa metode pemberian
asuhan keperawatan, yaitu metode kasus (total), metode fungsional,
metode tim, dan metode keperawatan primer.

20
1. Metode kasus
Metode kasus merupakande pemberian asuhan yang pertama
digunakan. Pada metode ini, satu perawat akan memberikan asuha
keperawatan kepada seorang klien secara total dalam satu peiode
dinas. Metode ini tidak lepas dari kelebihan dan kekurangan.
Adapun kelebihannya adalah perawat lebih memahami kasus
perkasus dan sistem evaluasi dapat dilakukan secara terus menerus.
Sementara kekanganya adalah peraat penanggung jawab belum
apat diidentifikasi, serta dan perlu tenaga yang cukup
banyakdengan kemampuan dasar yang sama.

2. Metode fungsional
Kelebihan metode ini :

a. Lebih efisien karena dapat menyelesaikan banyak pekerjaan


dalam waktu singkat dengan embagian tugas yang jelas dan
pengawasan yang baik.
b. Sangat baik untuk rumah sakit yang kekurangan tenaga
c. Perawat akan rampil untuk pekerjaan tertentu
d. Memperoleh kepuasan kerja bagi perawat sete;ah selesai
kerja
e. Kekurangan tenaga ahli dapat diganti dengan tenaga yang
kurang berpengalaman untuk tugas sederhana
f. Memudahkan kepala ruangan untuk mengawasi staf atau
peserta didik yang melakukan praktik untuk keterampilan
tertentu

: Kekurangan metode ini :


a. Pelayanan keperawatan terpisah-pisah atau tidak total sehingga
kesulitan dalam penerapan proses keperawatan.

21
b. Perawat cenderung meninggalkan klien setelah melakkan tugas
atau pekerjaannya.
c. Persepsi perawat cenderung kepada tindakan yang berkaitan
dengan keterampilan saja
d. Tidak memberikan kepuasan pada klien atau perawat lainnya
e. Menurunkan tanggung jawab dan tanggung gugat perawat
f. Hubugan perawat dan klien sulit terbentuk

3. Metode tim
Douglas (1992) dalam Sitorus dan Panjaian 2011 menyatakan
bahwa metode tim merupakan metode pemberian asuhan
keperawatan, dengan seorang perawat profesional memimpin
sekelompok tenaga keperawatan dalam memberikan asuhan
keperawatan pada sekelompo klien, melalui upaya koopratif dan
kolaboratif. Metode tim didasari pada keyakinan bahwasetiap
anggota kelompok mempunyai kontribusi dalam merencanakan
dan membeikan asuhan keperawatan sehingga pada peawat tibul
motivasi dan rasa tanggung jawab yang tinggi, yang berdampak
pada peningkatan mutu asuhan keperawatan.
Kelebihan metode ini :

a. Dapat mempasilitasi pelayanan keperawatan secara


komprehensif
b. Memungkinkan pelaksanaan proses keperawatan
c. Konflik antar staf dapat dikendalikan melaui rapat dan
efektif untuk belajar
d. Memberi kepuasan anggota tim dalam hubungan
interpersonal
e. Memungkinkan peningkatan kemampuan anggota im yang
berbeda-beda secara efektif

22
f. Peningkatan kerja sama dan komunikasi diantara anggota
tim dapat menghasilkan sikap moral yang tinggi,
memperbaiki fungsi staf ecara keseluruhan, serta
memberikan perasaan bahwa ia memiliki kontribusi
terhadap hasil asuhan keperawatan yang diberikan
g. Menghasilkan kualitas asuhan keperawatan yang dapat
dipertanggung jawabkan
h. Memberikan motivasi perawat untuk selalu bersama klien
selama bertugas.
Kekurangan metode ini :

a. Ketua tim menghabiskan banyak waktu untuk melakukan


koordinasi dan supervisi anggota tim, serta harus memiliki
keterampilan yang tinggi baik sebagai perawat manager
maupun perawat klinik.
b. Keperawatan tim menimbulkan fragmentasi keperawatan
bila konsepnya tidak diimplementasikan dengan total
c. Rapat tim membutuhakan aktu sehingga pada situasi sibuk
rapat tim ditiadakan, sehingga komunikasi antar anggota
tim terganggu
d. Perawat yang belum trampil dan belum berpengalaman
selalu tergantung atau berlindung kepada anggota tim yang
mampu
e. Akuntabilitas dari tim menjadi kabur
f. Tidak efisien bila dibandingkan dengan model fungsional
karena membutuhkan tenaga yang memiliki keerampilan
tinggi.

4. Metode Primer
Keperawatan Primer merupakan suatu metode pemberian
asuhan keperawatan, dengan perawatan primer (PP) bertanggung

23
jawab selama 24 jam atas pelaksanaa keperawatan secara holistik,
mulai dari tahap pengkajian sampai dengan evaluasi hasil asuhan
terhadap satu atau beberapa klien, yang dimulai sejak klien masuk
rumah sakit sampai klien dinyatakan pulang.
Kelebihan metode ini :
a. Perawat primer mendapat akuntabilitas yang tinggi terhadap
hasil dan memungkin untuk pengembangan diri
b. Memberikan peningkatan otoni pada pihak perawat,
sehingga dapat meningkatan motivasi, tanggung jawab, dan
tanggung gugat
c. Bersifat kontinuitas dan komprehensif sesuai dengan arahan
perawat primer dalam memberikan atau mengarahkan
perawatan sepanjang hospitalisasi.
d. Membebaskan manajer perawat klinis untuk melakukan
peran manajer operasional dan administrasi
e. Kepuasan kerja perawat tinggi karena dapt memberikan
asuhan keperawatan secara holistik. Kepuasan yang
dirasakan oleh perawat primer memungkinkan
pengembangan diri melalui penerapan ilmu pengetahuan
f. Staf medik juga merasakan kepuasan karena senantiasa
informasi tentang kondisi klien selalu mutahir dan
komprehensif, serta informasi dapat diperoleh dari satu
perawat yang benar-benar mengetahui keadaan klien
g. Perawat ditantang untuk bekerja total sesuai dengan
kapasitas mereka
h. Waktu yang digunakan lebih sedikit dalam aktifitas
koordinasi dan supervisi, serta lebih banyak waktu untuk
aktifitas langsung kepada klien
i. Lebih dihargai oleh klien dan klien lebih merasa di
manusiakan karena terpenuhi kebutuhannya secara individu
j. Asuhan keperawatan berfokus pada kebutuhan klien

24
k. Lebih dihargai oleh profesi lain karena dapat berkonsultasi
dengan perawat yang mengetahui semua tentang kliennya
l. Menjamin kontinuitas asuhan keperawatan
m. Meningkatkan hubungan antara perawat dengan klien
n. Metode ini mendukung pelayanan profesional
o. Rumah sakit tidak harus memperkerjakan terlalu banyak
tenaga keperawatan, tetapi harus memiliki kualitas yang
tinggi

Kekurangan metode ini :


a. Hanya dapat dilakukan oleh perawat profesional
b. Tidak semua perawat merasa siap untuk bertindak mandiri,
memiliki akuntabilitas dan kemampuan untuk mengkaji
serta merencanakan asuhan keperawatan untuk klien
c. Akuntabilitas yang total dapat membuat jenuh
d. Perlu tenaga cukup banyak dan kemampuan dasar yang
sama
e. Biaya relatif tinggi dibandingkan metode penugasan yang
lain.

4. Fungsi Manajemen
Fungsi manajemen keperawatan dalam organisasi adalah
mengembangkan seseorang. Hal tersebut berjalan bilamana
perawat mau belajar dan menggunakan ilmu yang ditunjukkan
oleh pengalaman dan penelitian yang dikembangkan agar fungsi
organisasi dalam manajemen keperawatan semakin berkembang.

25
Perawat manajer perlu bekerja untuk struktur organisasi ideal.
Mereka harus membangun, menguji, mengakui kesalahan,
berkompromi, dan menerima. Mereka harus merancang organisasi
yang sederhana untuk menyelesaikan pekerjaan. Organisasi adalah
produktif jika orang memberikan perhatian yang memenuhi
kebutuhan klien dan setiap karyawan merasakan kepuasan.
Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada klien
tidak dapat bekerja sendiri, tetapi harus bekerja sama dengan tim
kesehatan lain untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang
dihadapi klien. Kerja sama antar perawat dengan tim kesehatan
tersebut harus ditata sehingga menghasilkan pelayanan kesehatan
yang berkualitas, penataan yang dimaksud adalah pengorganisasian
segala sumber yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan
pelayanan keperawatan.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

26
Tapen (1995) dalam Sitorus dan Pandjaitan (2011) menyatakan
bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk
bekerja sama secara produktif dan dalam kondisi yang menyenangkan.
Gaya Kepemimpinan Demokratis, yaitu gaya seorang pemimpin
yang menghargai karakteristik dan kemampuan yang dimiliki oleh setiap
anggota organisasi (Prima, A, 2013). Pemimpin yang demokratis
menggunakan kekuatan jabatan dan kekuatan pribadi untuk menggali
dan mengolah gagasan bawahan dan memotivasi mereka untuk
mencapai tujuan bersama

B. Saran

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih


banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik
dan saran yang membangun. Dalam pembuatan makalah ini kami tidak
luput dari kesalahan.Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman. Amin .

27
DAFTAR PUSTAKA

Kouzes, James M dan Posner, Barry Z. 2004. Leadership The Challenge:


TantanganKepemimpinan. AlihBahasaWisnu Chandra Kristiaji.
EdisiKetiga. Jakarta: Erlangga
Nawawi, Hadari. 2003. Kepemimpinan Mengefektifkan Organisasi. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press.
Rivai, Veithzal. 2004. Kepemimpinan Dan Perilaku Organisasi. Jakarta : Raja
GrafindoPersada
Robbins P. Stephen. 2003. Essentials of Organizational Behavior. New Jersey:
Prentice-Hall, Inc.
Thoha, Muhammad. 2007. PerilakuOrganisasi: KonsepdanAplikasinya. Jakarta:
Raja GrafindoPersada
Winardi, J. 2000. Teori Organisasi dan Pengorganisasian. Jakarta: Raja
GrafindoPersada
http://justwanttosay-stephanie.blogspot.co.id/2011/09/mpkpmodel-praktek-
keperawatan.html
http://ayuningnurse.blogspot.co.id/2011/11/mpkp.html
http://edyria.blogspot.co.id/2011/12/model-pelayanan-keperawatan-
profesional.html
Setiadi. 2016. Manajemen dan Kepemimpinan dalam Keperawatan. Jakarta :
Indomedia Pustaka.
Tjandra Yoga. 2004. MANAJEMEN ADMINISTRASI RUMAH SAKIT. Jakarta :
UIP

Nursalam. 2011. Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam Praktik Keperawatan


Profesional. Jakarta : Salemba Medika

Agus Kuntoro. 2010. Buku Ajar Menejemen Keperawatan. Yogyakarta : Nusa


Medika

28
29