Anda di halaman 1dari 8

Latar Belakang Terjadinya Demokrasi Terpimpin dan

Kebijakan-Kebijakan pada Masa Demokrasi


Terpimpin

Latar Belakang sejarah diberlakukannya Demokrasi Terpimpin.

Di awali dari maklumat Hatta sebagai wakil presiden waktu itu, di mana dalam
maklumat tersebut menganjurkan perlunya pembentukan partai-partai, yang ternyata
mendapat sambutan luas hingga pada waktu itu lebih kurang 40 partai telah lahir di
Indonesia, tetapi pada kenyataannya dalam kondisi yang sedemikian, bukannya
menambah suburnya sistem Demokrasi di Indonesia. Buktinya kabinet-kabinet yang ada
pada waktu itu tidak pernah bertahan sampai 2 tahun penuh dan terjadi perombakan-
perombakan dengan kabinet yang baru, dan bahkan menurut penilayan presiden
Soekarno banyaknya partai hanya memperunyam masalah dan hanya menjadi penyebab
gotok- gotokan, penyebab perpecahan bahkan dalam nada pidatonya dia menilai partai
itu adalah semacam pertunjukan adu kambing yang tidak bakalan berpengaruh baik bagi
Bangsa dan negara.
Menurut pengamatan Soekarno Demokrasi Liberal tidak semakin mendorong
Indonesia mendekati tujuan revolusi yang dicita-citakan, yakni berupa masrakat adil dan
makmur, sehingga pada gilirannya pembangunan ekonomi sulit untuk di majukan,
karena setiap fihak baik pegawai negeri dan parpol juga militer saling berebut
keuntungan dengan mengorban kan yang lain.
Keinginan presiden Soekarno untuk mengubur partai-partai yang ada pada waktu itu
tidak jadi dilakukan, namun pembatasan terhadap partai di berlakukan, dengan
membiarkan partai politik sebanyak 10 partai tetap bertahan. Yang akhirnya menambah
besarnya gejolak baik dari internal partai yang di bubarkan maupun para tokoh-tokoh
yang memperjuangkan “Demokrasi liberal” juga daerah-daerah tidak ketinggalan. Dan
keadaan yang demikian, akhirnya meaksa Soekarno untuk menerapkan “Demokrasi
terpimpin” dengan dukungan militer untuk mengambil alih kekuasaan.

Demokrasi Terpimpin

Pada masa demokrasi liberal, Indonesia dihadapkan dengan permasalahan


pemerintahan dalam negeri, baik pemberontakan daerah maupun permasalahan politik
dengan jatuh bangunnya kabinet serta perdebatanyang sengit di dalam Dewan Konstituante
yang akhirnya membawa dampak terhadap kehidupan politik di Indonesia. itulah muncul
gagasan “Demokrasi Terpimpin” yang di lontarkan Presiden Soekarno pada bulan
februari 1957. mula mula pandangan ini dicetuskan oleh partai Murba, serta Chaerul
saleh dan Ahmadi.
Namun gagasan tanpa perbuatan tidak terlalu berarti dibanding gagasan dan perbuatan
langsung dalam usaha mewujudkan gagasan itu dan inilah yang di lakukan soekarno .
Konsep Demokrasi terpimpin yang hendak membawa PKI masuk kedalam kabinet ini
juga menyebut-nyebut akan di bentuknya lembaga negara baru yang ekstra
konstitusional yaitu ( Dewan Nasional), yang akan di ketuai oleh soekarno sendiri yang
bertugas memberi nasehat kepada kabinet maka untuk itu harus di bentuk kabinet baru
yang melibatkan semua partai termasuk PKI serta di bentuk Dewan penasehat tertinggi
dengan nama “Dewan Nasional” yang beranggotakan wakil-wakil seluruh golongan
fungsional.
Menurut Yusril Ihza mahendra, sebelum “Dewan Nasional” ini dibentuk gagasan awal
tentang namanya adalah “Dewan Revolusi” (DR), namun akhirnya dinamai dengan
“Dewan nasional” (DN). Dewan ini diketuai oleh presiden, namun dalam prakteknya
sehari-hari diserahkan kepada Roeslan abdul gani, walaupun Dewan Nasional ini tidak
ada dasarnya dalam konstitusi.-,, Artinya “Dewan Nasional ini tidak sejalan dengan
konstitusi yang ada pada waktu itu. Dan peranannya memang cukup menentukan yaitu
sebagai “penasihat” pemerintah yang dalam praktiknya telah menjadi semacam DPR
bayangan di samping DPR hasil pemilu 1955. dan adapun Dewan Nasional yang di
sebutkan diatas adalah hasil bentukan kabinet juanda yang segera terbentuk setelah
sebelumnya kabinet Ali sastro amidjoyo tidak mampu bertahan lagi. sehingga akhirnya
mendorong Presiden Soekarno untuk sampai kepada kesimpulan bahwa telah muncul suatu
keadaan kacau yang membahayakan kehidupan negara. Atas kesimpulannya tersebut,
Presiden Soekarno pada tanggal 5 Juli 1959, dalam suatu acara resmi di Istana Merdeka,
mengumumkan Dekrit Presiden mengenai pembubaran Konstituante dan berlakunya kembali
UUD 1945 dalam kerangka sebuah sistem demokrasi yakni Demokrasi Terpimpin.

Munculnya Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 ini pun bisa dilihat sebagai akibat dari
beberapa latar belakang masalah:

1. Undang-Undang Dasar yang menjadi pelaksanaan pemerintahan negara


belum berhasil dibuat sedangkan Undang-undang Dasar Sementara (UUDS
1950) dengan sistem pemerintahan Demokrasi Liberal dianggap tidak sesuai
dengan kondisi kehidupan masyarakat Indonesia.
2. Anggapan kegagalan Dewan Konstituante dalam menetapkan Undang-
Undang Dasar sehingga membawa Indonesia ke jurang kehancuran sebab
Indonesia tidak mempunyai pijakan hukum yang mantap.
3. Situasi politik yang kacau dan semakin buruk.
4. Terjadinya sejumlah pemberontakan di dalam negeri yang semakin
bertambah gawat bahkan menjurus menuju gerakan separatisme.
5. Konflik antar partai politik yang mengganggu stabilitas nasional.
6. Banyaknya partai dalam parlemen yang saling berbeda pendapat sementara
sulit sekali untuk mempertemukannya.
7. Masing-masing partai politik selalu berusaha untuk menghalalkan segala cara
agar tujuan partainya tercapai.

Jadi, atas dasar latar belakang tersebut, Prseiden Soekarno menge-luarkan Dekrit
Presiden 5 Juli 1959 yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah negara yang semakin tidak
menentu dan untuk menyelamatkan negara. Isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959 adalah:

1. Pembubaran Dewan Konstituante


2. Tidak berlakunya UUDS 1950 dan berlakunya kembali UUD 1945.
3. Pembentukan MPRS dan DPAS

Setelah dekrit presiden 5 juli 1959 kabinet Juanda menyerahkan mandatnya


kepada presiden melalui pemberlakuan kembali proklamasi dan UUD 1945, presiden
Soekarno langsung memimpin pemerintahan bahkan bukan saja kepala negara tetapi
juga kepala pemeritahan yang membentuk kabinet yang mentri-mentrinya tidak
terikat kepada partai. Dan pada waktu-waktu inilah Dewan Nasional itu mulai di
gagas.
Pembentukan Dewan Nasional ini, berdasarkan atas (SOB) atau amanat keadaan
darurat dan bahaya perang yang di umumkan oleh presiden soekarno sebelum
terbentuknya kabinet Juanda itu, mengingat Indonesia di hari-hari itu memang
dalam keadaan genting dan potensi kionflik yang lebih besar segera mengancam
keutuhan NKRI. Salah satunya dengan terjadinya gejolak ingin memisahkan diri
beberapa Daerah dari NKRI.
Dalam kurun waktu yang kian genting pada kenyataan sejarah waktu-waktu itu, dan
dengan terbentyknya PRRI di Padang di tambah dengan pulangnya pimpinan-
pimpinan Masyumi dari jakarta menuju padang, karena waktu itu di jakarta mereka
merasa kurang aman dari fihak-fihak yang kontra dengan mereka serta sekaligus
berencana memantapkan pemerintahan revolusioner yang mereka cita-citakan
dengan mengangkat “Syafruddin parawiranegara” sebagai mentrinya,(beliau juga
pernah menjadi pemangku jabatan Pemimpin pemerintahan darurat Republik
indonesia (PDRI) bi bukit tinggi, beliau sebenarnya putera kelahiran Banten tapi
ayahnya berasal dari Sumatera Barat)Pen. Dan PRRI ini segera mendapat sambutan
hangat di indonesia bagian timur, aceh, dan Indonesia tengah yang telah terlebih
dahulu mengusahakan perjuangan melalui DI/TII yang terkenal itu. Walaupun pada
akhirnya usaha ingin memisahkan diri, yang di upayakan berbagai daerah ini berhasil
ditumpas.
Sementara kegentingan demi kegentingan yang terjadi, sukarno sebagai seorang
organisator dan sekaligus pengagum persatuan dan kesatuan, tidak tinggal diam dan
tidak kehabisan akal.
Soekarno melakukan upaya dengan menggandeng 2 kekuatan besar dan yang paling
bagus organisasinya dan paling potensial di indonesia pada waktu itu, yaitu PKI dan
AD atau militer. Walaupun pada kenyataannya kedua kekuatan ini selalu prodan
kontra antara satu sama lain, namun bisajinak ditangan seorang politikus kaliber
soekarno.
Mula-mula 2 kekuatan ini di manfaatkannya pada isu imperialisme dan kapitalisme
yang masih mengancam Indonesia, berhubung pada waktu itu Irian Barat masih
dikuasai oleh penjajah dan isu ini di pakai soekarno untuk mengamanatkan agar
Irian barat selekas-lekasnya dapat di bebaskan serta upaya untuk mengembalikan
indonesia dalam posisi pemerintahan secara utuh.
Dalam teorinya dapat kita baca bahwa: soekarno, membutuhkan PKI kasrena merasa
terancam akan Kudeta yang di lakukan Militer padawaktu itu atau AD pada
khususnya sebagai kekuatan potensial yang sewaktu-waktu dapat merong-rong
Soekarno dari tampuk pimpinan. Dan di samping itu menurut Afan ghafar soekarno
memiliki agenda sendiri.
Dalam hubungannya dengan PNI, yang merupakan partai binaannya sejak awal,
untuk sementara waktu soekarno keluar dari PNIdahulu, Karaena beliau tahu pasti
kalau pengikut PNI sesungguhnya sudah ditangannya. Dan dia merangkul kekuatan
PKI sebagai kekuatan yang menentukan massanya di Indonesia pada waktu itu,
ketika soekarno telah mendapatkan PKI sebagai kekuatan besar, maka otomatis
kekuatan yang lain dari PNI partainya yang disebutkan diatas menggabungkan diri
dengan PKI walaupun ada juga yang tidak bergabung. Namun pada akhirnya
gabungan kedua partai tersebut terbentuk menjadi masa yang besar dan siap untuk
di mobilisasi.
Sedangkan apabila kita lanjutkan analisisnya, antara PKI dan AD yang sering
berbeda pendapat sewaktu-waktu dapat di adu kekuatannya dan soekarno jadi
wasitnya.
Sementara itu menurut keterangan yusril Ihza Mahendra, sejalan dengan gagasan
“Demokrasi Terpimpin” Kalangan tentara di bawah pimpinan Mayjend Abdul Haris
Nasution, aktif berkampanye tentang perlunya kembali ke undang-undang 1945.
nilai-nilai dan semangat demiukian menurut A.H. Nasution akan tetap terpelihara jika
negara kembali kepada UUD dan dan proklamasi, yakni UUD 1945. ide soekarno ini
tampaknya bertemu dengan Ide soekarno dalam rangka menerapkan demokrasi
Terpimpin. Sebab menurut Yusril, demokrasi semacam itu memang menghendaki
adanya pemusatan kekuasaan di tangan presiden, sementara UUD 1945
memungkinkan perwujudan hal itu, (maksudnya sebelum di amandemen karena
buku yang penulis kutip dari buku karangan 1996.) sebaliknya, jika menunggu
konstituante menyelesaikan tugasnya memnyusun Undang-Undang yang baru belum
tentu isinya sama dengan gagasan demokrasi terpimpin tadi. Dan gabungan ide
Soekarno dan A.H. Nasution ini disampaikan kesidang Dewan Nasional dan dewan
berpendapat bahwa gagasan Demokrasi terpimpin dapat terlaksana jika
dikembalikan kepada UUD 1945. kemudian di bawa kerapat kabinet dan didalam
rapat itu juga disetujui tentang Gagasan Demokrasi Terpimpin tersebut. Dalam
sidang kabinet tesebut di hadiri oleh Idcham Chalid seorang tokoh NU, beliau tidak
memberikan komentar apa-apa terhadap usulan Dewan Nasional sehingga perdana
mentri Juanda padawaktu itu mengira bahwa NU setuju dengan gagasan itu.
Keputusan Dewan Mentri tersebut disampaikan perdana mentri Juanda, kepada
sidang paripurna DPR, yang berjudul “ Putusan Dewan Mentri mengenai pelaksanaan
Demokrasi Terpimpin dalam rangka kembali ke UUD 1945”.
Dalam keterangan itu PM. Juanda mengatakan sbb: untuk mendekati hasrat
golongan Islam, berhubung dengan penyelesayan dan pemeliharaan keamanan, di
akui adanya piagam Jakarta tertanggal 22 juni 1945 sebagai dokumen historis.
Dengan kembali ke UUD 1945, tambahnya , pelaksanaan Demokrasi Terpimpin akan
lebih terjamin, disamping akan mampu mengembalikan seluruh ptensi nasional”
termasuk golongan Islam”. Guna” di putuskan kepada penyelesayan keamanan dan
pembangunan di seluruh bidang.”

Kebijakan pada masa Demokrasi Terpimpin

Kebijakan politik yang dilakukan Soekarno pada masa demokrasi terpimpin terkesan
otoriter atau bisa dikatakan sudah otoriter. Banyak kebijakan yang ditetapkan bertentangan
dengan konstitusi mulai dibubarkannya DPR hasil Pemilu tahun 1955 hingga penetapan
Soekarno sebagai presiden seumur hidup. Bahkan Soekarno membuat poros tersendiri dengan
menjauh dari politik luar negeri bebas aktif.

Politik atau kebijakan luar negeri pada hakikatnya merupakan “perpanjangan tangan”
dari politik dalam negeri sebuah negara. Politik luar negeri suatu negara sedikitnya
dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu kondisi politik dalam negeri, pengambil keputusan,
kemampuan ekonomi dan militer, dan lingkungan internasionalnya (Coplin 1992, 165-175;
dan Sihbudi 2002). Sejak Bung Hatta menyampaikan pidatonya berjudul “Mendajung Antara
Dua Karang” (1948), Indonesia menganut politik luar negeri bebas-aktif yang dipahami
sebagai sikap dasar Indonesia yang menolak masuk dalam salah satu blok negara-
negarasuper power, menentang pembangunan pangkalan militer asing di dalam negeri, serta
menolak terlibat dalam pakta pertahanan negara-negara besar. Namun, Indonesia tetap
berusaha aktif terlibat dalam setiap upaya meredakan ketegangan di dunia internasional
(Pembukaan UUD 1945).

Seperti diamanatkan dalam konstitusi, Indonesia juga menentang segala bentuk


penjajahan di atas muka bumi ini, dan menegaskan bahwa politik luar negeri harus diabdikan
untuk kepentingan nasional. Oleh sebab itu, pelaksanaan politik bebas-aktif dapat bergerak ke
kiri dan ke kanan, sesuai dengan kepentingan nasional pada masa-masa tertentu. Dengan kata
lain, kebijakan luar negeri merupakan cerminan dari politik dalam negeri dan dipengaruhi
perubahan dalam tata hubungan internasional baik dalam bentuk regional maupun global.

Namun, pada masa Demokrasi Terpimpin terlihat ada beberapa penyimpangan dari
politik luar negeri bebas-aktif yang menjadi cenderung condong pada salah satu poros. Saat
itu Indonesia memberlakukan politik konfrontasi yang lebih mengarah pada negara-negara
kapitalis seperti negara Eropa Barat dan Amerika Serikat. Politik Konfrontasi tersebut
dilandasi oleh pandangan tentang Nefo (New Emerging Forces) dan Oldefo (Old Established
Forces). Nefo merupakan kekuatan baru yang sedang muncul yaitu negara-negara progresif
revolusioner (termasuk Indonesia dan negara-negara komunis pada umumnya) yang anti-
imperialisme dan kolonialisme, sedangkan Oldefo merupakan kekuatan lama yang telah
mapan, yakni negara-negara kapitalis yang neokolonialis dan imperialis (Nekolim). Untuk
mewujudkan Nefo tersebut maka dibentuklah poros Jakarta-Phnom Penh-Hanoi-Peking-
Pyong Yang. Dampaknya ruang gerak Indonesia di forum internasional menjadi sempit sebab
hanya berpedoman ke negara-negara komunis.

Selain itu, Indonesia juga menjalankan politik konfrontasi dengan Malaysia. Hal ini
disebabkan karena pemerintah tidak setuju dengan pembentukan negara federasi Malaysia
yang dianggap sebagai proyek neo-kolonialisme Inggris yang membahayakan Indonesia dan
negara-negara blok Nefo. Dalam rangka konfrontasi tersebut Presiden mengumumkan Dwi
Komando Rakyat (Dwikora) pada tanggal 3 Mei 1964, yang isinya adalah perhebat ketahanan
revolusi Indonesia dan bantu perjuangan rakyat Malaysia untuk membebaskan diri dari
Nekolim Inggris. Pelaksanaan Dwikora dengan mengirimkan sukarelawan ke Malaysia Timur
dan Barat menunjukkan adanya campur tangan Indonesia pada masalah dalam negeri
Malaysia.

Hal berikutnya adalah Politik Mercusuar. Politik Mercusuar dijalankan oleh presiden
sebab beliau menganggap bahwa Indonesia merupakan mercusuar yang dapat menerangi
jalan bagi Nefo di seluruh dunia. Untuk mewujudkannya maka diselenggarakan proyek-
proyek besar dan spektakuler yang diharapkan dapat menempatkan Indonesia pada
kedudukan yang ter-kemuka di kalangan Nefo. Proyek-proyek tersebut membutuhkan biaya
yang sangat besar mencapai milyaran rupiah diantaranya diselenggarakannya GANEFO
(Games of the New Emerging Forces) yang membutuhkan pembangunan kompleks Olahraga
Senayan (Gelora Bung Karno), serta biaya perjalanan bagi delegasi asing.

Kemudian pada tanggal 7 Januari 1965, Indonesia keluar dari keanggotaan PBB sebab
Malaysia diangkat menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.

Tampak bahwa politik luar negeri bebas-aktif Indonesia pada masa Soekarno condong
ke blok Sosialis dan lebih pada isu-isu high politic dan perjuangan bangsa Indonesia dalam
membangun image sebagai negara besar dan berpengaruh di level baik regional maupun
internasional untuk setara dengan negara-negara lain. Hal ini tak lepas dari kondisi bangsa
Indonesia yang saat itu baru merdeka dan sedang membangun nation- dan state-building-nya.
Kesatuan politik lebih penting bagi Soekarno pada waktu itu daripada membangun basis
ekonomi rakyat. Tak heran, semua itu telah tercermin dalam aksi dan reaksi serta interaksi
politik luar negeri Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno.

Namun, kebijakan-kebijakan politik luar negeri Indonesia yang sema-kin


menyimpang pun semakin berdampak pada kondisi di dalam negeri. Salah satu dampak
dalam hal ekonomi adalah kenaikan laju inflasi yang disebabkan oleh penghasilan negara
berupa devisa dan penghasilan lainnya mengalami kemerosotan, nilai mata uang rupiah
mengalami kemerosotan, anggaran belanja mengalami defisit yang semakin besar, pinjaman
luar negeri tidak mampu mengatasi masalah yang ada, upaya likuidasi semua sektor
pemerintah maupun swasta guna penghematan dan pengawasan terhadap pelaksanaan
anggaran belanja tidak berhasil, penertiban adminis-trasi dan manajemen perusahaan guna
mencapai keseimbangan keuangan tak memberikan banyak pengaruh, dan penyaluran kredit
baru pada usaha-usaha yang dianggap penting bagi kesejahteraan rakyat dan pembangunan
me-ngalami kegagalan. Dari sisi politik, inflasi pun terjadi karena pemerintah tidak
mempunyai kemauan politik untuk menahan diri dalam melakukan pengeluaran, serta karena
pemerintah menyelenggarakan proyek-proyek mercusuar seperti GANEFO (Games of the
New Emerging Forces) dan CONEFO (Conference of the New Emerging Forces) yang
memaksa pemerintah untuk memperbesar pengeluarannya pada setiap tahunnya. Hal ini
berdampak bagi kehidupan di dalam negeri. Inflasi semakin bertambah tinggi, harga-harga
semakin bertambah tinggi, kehidupan masyarakat semakin terjepit, Indonesia pada tahun
1961 secara terus menerus harus membiayai kekeurangan neraca pembayaran dari cadangan
emas dan devisa, ekspor semakin buruk dan pembatasan impor karena lemahnya devisa, dan
pada tahun 1965, cadangan emas dan devisa telah habis bahkan menunjuk-kan saldo negatif
sebesar US$ 3 juta sebagai dampak politik konfrontasi dengan Malaysia dan negara-negara
barat.
Penyimpangan dalam Demokrasi Terpimpin
Beberapa penyimpangan yang terlihat pada demokrasi terpimpin yaitu:
1. Kedudukan Presiden
Berdasarkan UUD 1945, kedudukan Presiden berada di bawah MPR. Namun,
kenyataannya bertentangan dengan UUD 1945, sebab MPRS tunduk kepada Presiden.
Presiden menentukan apa yang harus diputuskan oleh MPRS. Hal tersebut tampak dengan
adanya tindakan presiden untuk mengangkat Ketua MPRS dirangkap oleh Wakil Perdana
Menteri III serta pengangkatan wakil ketua MPRS yang dipilih dan dipimpin oleh partai-
partai besar
2. Pembentukan MPRS
Presiden juga membentuk MPRS berdasarkan Penetapan Presiden No. 2 Tahun 1959.
Tindakan tersebut bertentangan dengan UUD 1945, seharusnya pengangkatan anggota MPRS
sebagai lembaga tertinggi negara dilakukan melalui pemilihan umum sehingga partai-partai
yang terpilih oleh rakyat memiliki anggota-anggota yang duduk di MPR.
3. Pembubaran DPR dan Pembentukan DPR-GR
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hasil pemilu tahun 1955 dibubarkan karena pada
tahun 1960 DPR menolak RAPBN yang diajukan pemerintah. Presiden menyatakan
pembubaran DPR dan sebagai gantinya presiden membentuk Dewan Perwakilan Rakyat
Gotong Royong (DPR-GR), dimana semua anggotanya ditunjuk oleh presiden. Peraturan
DPR-GR juga ditentukan oleh presiden, sehingga DPR-GR harus mengikuti kehendak serta
kebijakan pemerintah. Tindakan presiden tersebut bertentangan dengan UUD 1945 sebab
berdasarkan UUD 1945 presiden tidak dapat membubarkan DPR.
4.Pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara
Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS) dibentuk berdasarkan Penetapan
Presiden No.3 tahun 1959. Lembaga ini diketuai oleh Presiden sendiri. Keanggotaan
DPAS terdiri atas satu orang wakil ketua, 12 orang wakil partai politik, 8 orang utusan
daerah, dan 24 orang wakil golongan. Tugas DPAS adalah memberi jawaban atas
pertanyaan presiden dan mengajukan usul kepada pemerintah.
5. Pembentukan Front Nasional
Front Nasional dibentuk berdasarkan Penetapan Presiden No.13 Tahun 1959. Front
Nasional merupakan sebuah organisasi massa yang memperjuangkan cita-cita proklamasi dan
cita-cita yang terkandung dalam UUD 1945. Tujuannya adalah menyatukan segala bentuk
potensi nasional menjadi kekuatan untuk menyukseskan pembangunan. Front Nasional
dipimpin oleh Presiden Soekarno.
6. Pembentukan Kabinet Kerja
Pada tanggal 9 Juli 1959, presiden membentuk Kabinet Kerja. Sebagai wakil presiden
diangkatlah Ir. Djuanda. Hingga pada tahun 1964 Kabinet Kerja mengalami tiga kali
perombakan (re-shuffle). Program kabinet antara lain: mencukupi kebutuhan sandang
pangan; menciptakan keamanan negara; serta mengembalikan Irian Barat
7. Keterlibatan PKI dalam Ajaran Nasakom
Perbedaan ideologi dari partai-partai yang berkembang pada masa demokrasi
parlementer menimbulkan perbedaan pemahaman mengenai kehidupan berbangsa dan
bernegara. Hal ini berdampak pada terancamnya persatuan di Indonesia. Pada masa
demokrasi terpimpin pemerintah mengambil langkah untuk menyamakan pemahaman
mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara dengan menyampaikan ajaran NASAKOM
(Nasionalis, Agama, dan Komunis). Tujuannya untuk menggalang persatuan bangsa. Bagi
presiden NASAKOM merupakan cerminan paham berbagai golongan dalam masyarakat.
Presiden yakin bahwa dengan menerima dan melaksanakan Nasakom maka persatuan
Indonesia akan terwujud.
Kelompok yang kritis terhadap ajaran Nasakom adalah kalangan cendekiawan dan
ABRI. Upaya penyebarluasan ajaran Nasakom dimanfaatkan oleh PKI dengan
mengemukakan bahwa PKI merupakan barisan terdepan pembela NASAKOM. Keterlibatan
PKI tersebut menyebabkan ajaran Nasakom menyimpang dari ajaran kehidupan berbangsa
dan bernegara serta menggeser kedudukan Pancasila dan UUD 1945 menjadi Komunis.
Selain itu, PKI juga mengambil alih kedudukan dan kekuasaan pemerintahan yang sah.
8. Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
TNI dan Polri disatukan menjadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang
terdiri atas 4 angkatan yaitu TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara,
dan Angkatan Kepolisian.
9. Penataan Kehidupan Partai Politik
Pada masa demokrasi parlementer, partai dapat melakukan kegiatan politik secara
leluasa. Sedangkan pada masa demokrasi terpimpin, kedudukan partai dibatasi oleh
penetapan presiden No. 7 tahun 1959. Partai yang tidak memenuhi syarat akan dibubarkan
(dibatasi). Tindakan pemerintah ini dikenal dengan penyederhanaan kepartaian. Pembatasan
gerak-gerik partai semakin memperkuat kedudukan pemerintah terutama presiden.
10. Arah Politik Luar Negeri
Pada awalnya, politik luar negeri Indonesia adalah politik bebas aktif yang mengabdi
pada kepentingan nasional. Bebas berarti tidak memihak, sedangkan aktif berarti ikut
memelihara perdamaian dunia. Pada masa demokrasi terpimpin, pelaksanaan politik luar
negeri cenderung mendekati negara-negara blok Timur dan konfrontasi terhadap negara-
negara blok Barat.
Perubahan arah ini disebabkan oleh:
a. Faktor dalam negeri: dominasi PKI dalam kehidupan politik
b. Faktor luar negeri: sikap negara-negara Barat yang kurang simpatik dan tidak mendukung
perjuangan bangsa Indonesia

Terdapat beberapa penyimpangan politik pada masa demokrasi terpimpin, yaitu:


a. Politik Konfrontasi Nefo dan Oldefo
b. Politik Konfrontasi Malaysia
c. Politik Mercusuar
d. Politik Gerakan Non-Blok
Kesimpulan:
Demokrasi terpimpin adalah sebuah demokrasi yang sempat ada di Indonesia, dimana
seluruh keputusan serta pemikirannya berpusat pada pemimpin.
Pada tanggal 5 Juli 1959, parlemen dibubarkan dan Presiden Soekarno menetapkan
konstitusi di bawah Dekrit Presiden. Soekarno juga membubarkan Konstituante sebagai
penyusun Undang-Undang Dasar yang baru, dan menyatakan diberlakukannya kembali UUD
1945. Soekarno memperkuat Angkatan Bersenjata dengan mengangkat para jendral militer ke
posisi-posisi yang penting.
PKI menyambut “demokrasi terpimpin” Soekarno dengan hangat dan anggapan
bahwa PKI mempunyai kekuasaan untuk persekutuan konsepsi, yaitu antara nasionalisme,
agama dan komunisme yang dinamakan NASAKOM. Di tahun 1962, perebutan Irian Barat
secara militer oleh Indonesia mendapat dukungan penuh dari kepemimpinan PKI, mereka
juga mendukung penekanan terhadap perlawanan penduduk adat.
Era 'demokrasi terpimpin' merupakan kolaborasi antara kepemimpinan PKI dan kaum
borjuis nasional dalam menekan pergerakan-pergerakan independen kaum buruh dan petani,
dan gagal dalam memecahkan masalah-masalah politik dan ekonomi yang mendesak.
Pendapatan ekspor menurun, cadangan devisa menurun, inflasi terus menaik dan korupsi
birokrat dan militer terus berkembang.
Pada pelaksanaannya, demokrasi terpimpin mengalami berbagai bentuk
penyimpangan. Penyimpangan tersebut diakibatkan oleh terpusatnya kekuatan politik hanya
pada presiden. Era tahun 1959-1966 merupakan era Soekarno, yaitu ketika kebijakan-
kebijakan presiden sangat mempengaruhi kondisi politik Indonesia.