Anda di halaman 1dari 2

Nama : Zaki Zihar Muammar Kadafi

Kelas : PAI 6 D
Nim : 1611136
Dosen Pengampu : Citra Fragini, M.Psi.

Analisis Kepribadian Diri dari Tokoh Kepribdian

Ketika berbicara analisis diri sendiri, sempat saya berpikir apakah analisis yang akan saya
buat ini jujur atau tidak berdasarkan beberapa pertimbangan.

Pertama, seseorang akan lebih mudah menilai orang lain namun sulit menilai dirinya sendiri.
Ketika menilai orang lain penilaian biasanya akan sangat objektif, blak blak an, tanpa penambahan
dan pengurangan . Tetapi lain halnya ketika yang dinilai adalah diri akan ada harapan dan penyesalan
didalamnya. Sangat sulit untuk menghasilkan penilaian yang objektif.

Kedua, bagaimana jika seseorang telah mempelajari teori psikologi sebelumnya, akankah
orang tersebut bisa bersifat objektif dalam penilaian dirinya sendiri. Bagaimana jika penilaian tersebut
merupakan perbaikan dari kepribadian sebelumnya. Misalnya, ketika seseorang mempelajari body
language ketika berbohong, maka orang akan lebih memperbaiki body language tersebut ketika
berbohong.

Ketiga, bagaimana kalau ternyata kepribadian yang dinilai itu bukanlah dirinya sendiri
melainkan bentuk idealnya. Misalkan, ketika membaca komik biasanya anak-anak akan
memvisualisasikan dirinya sebagai tokoh di dalam komik. Ketika saya membaca ketiga teori
bagaimana kalau saya terhanyut dalam salah satu teori tersebut sehingga menganggap teori tersebut
mencerminkan kepribadian saya.

Terlepas dari beberapa pertimbangan tersebut saya akan berusaha untuk menggambarkan
kepribadian yang saya memiliki sesuai dengan ketiga teori melalui beberapa pandangan saya
mengenai beberapa hal yang saya paparkan.

Manusia ialah makhluk yang dapat beradaptasi di berbagai kondisi. Baik secara lingkungan
maupun sosial. Manusia akan belajar dari pengalamannya. Mengutip perkataan Kelly “manusia adalah
ilmuan”. Jika Kelly menekankan kepada pendekatan idiographic maka saya dapat dikatakan orang
seperti itu. Memaknai sesuatu berdasarkan ideologi, suatu nilai yang dianggap sebagai standarisasi
setiap perbuatan, peristiwa, kemudian bertindak dengan nilai tersebut. Namun ideologi tersebut juga
dibangun ketika saya telah mengenal eksistensi diri saya sendiri. Ketika kesadaran diri muncul maka
kecendrungan akan suatu nilai pun akan mengikutinya. Jadi secara tidak langsung teori Kelly tersebut
bersinggungan juga dengan teori humanistik.
Ketika seseorang menyadari tentang hakikat dirinya sendiri maka ia akan dapat memahami
alam semesta serta tujuan penciptaannya serta kaitan antara keduanya. Namun disamping hubungan
manusia dengan dirinya serta alam semesta. Manusia juga adalah makhluk sosial. Manusia
membutuhkan individu lain untuk hidup, Manusia akan beradaptasi dengan lingkungannya untuk
mencapai tujuannya. Misalnya, ketika manusia satu dan manusia lainnya berbeda nilai. Maka
munculah sifat toleransi terhadap perbedaan tersebut sebagai bentuk adaptasi sosial tersebut. Manusia
akan menganalisis keadan sekitarnya kemudian bertindak berdasarkan analisis tersebut. Sehingga
dapat dikatakan juga manusia ialah produk dari lingkungannya. Jadi dapat dikatakan juga bahwa
kepribadian saya berkaitan juga dengan teori social kognitifnya Bandura.

Menurut saya, kita tidak bisa memandang sesuatu sebagai satu persatu melainkan sebagai satu
kesatuan. Sama halnya dengan teori kepribadian, tidak bisa juga hanya menggunakan satu teori saja.
Karena terkadang ada beberapa hal yang tidak dalam satu teori namun dijelaskan dalam teori
lainnya.Jika berbicara mengenai manusia maka akan ada banyak faktor yang terlibat didalamnya.
Manusia itu sendiri, nilai yang ada dalam manusianya, serta kehidupan manusia.

Kelly menggunakan pendekatan idiographic yang berfokus pada nilai makna, James Bugental
membahas dari segi manusianya. Sedangkan Bandura membahas lingkungannya. Jika dilihat,
ketiganya memiliki hungan satu sama lain yang tidak dapat dipisahkan.

Dalam Islam kita diajarkan untuk mengenal diri sendiri, hakikat manusia, tujuan penciptaan
manusia agar kita paham mkana kehidupan itu sendiri. Kita juga memiliki nilai – nilai yang kita
pegang yang dari Al Quran sebagai pedoman hidup kita. Dalam Al Quran itu sendiri diatur juga
bagaiamana cara berinteraksi dengan lingkungan kita. Kita tidak diajarkan untuk bersifat individualis.

Manusia juga makhluk pembelajar, manusia memiliki kecendrungan untuk suatu perubahan,
dan perubahan tersebut memiliki kemungkinan yang tak terbatas. Jika saya hanya membatasi diri saya
akan satu teori. Maka itu berarti saya membatasi potensi yang ada dalam diri saya.