Anda di halaman 1dari 31

ABSTRAK

(A) Dawat Christian (01012115)

(B) Kajian Yuridis Penangkapan Ikan Tanpa Surat Izin Usaha Perikanan
(SIUP), ditinjau dari Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31
Tahun 2004 tentang Perikanan (Studi Kasus Putusan Mahkamah
Agung Nomor 2382 K/Pid.Sus/2016)

(C) Kata Kunci: Hukum Air dan Perikanan, penangkapan ikan tanpa
memiliki SIUP

(D) Penangkapan ikan tanpa memiliki SIUP merupakan suatu


pelanggaran dan dapat dikenakan sanksi pidana dan denda,
meskipun telah ada ancaman tersebut masih saja ada pihak-pihak
tertentu yang melanggar peraturan tersebut, seperti halnya dalam
kasus KM. Barakah 5 yang melakukan penangkapan ikan tanpa
SIUP. Pokok permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah
bagaimanakah kesesuaian prosedur penangkapan ikan oleh KM.
Barakah 5 dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 2382
K/Pid.Sus/2016 dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 dan
bagaimana sanksi atas penangkapan ikan KM. Barakah 5 dalam
Putusan Mahkamah Agung Nomor 2382 K/Pid.Sus/2016 berdasarkan
Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009. Untuk menjawab
permasalahan tersebut dilakukan penelitian dengan tipe hukum
normatif dengan sifat penelitian yang digunakan deskriptif, data yang
digunakan adalah data sekunder, kemudian pengelolaan dilakukan
secara kualitatif, pengambilan kesimpulan menggunakan logika
deduktif. Hasil penelitian meunjukan bahwa kegiatan penangkapan
ikan yang dilakukan oleh KM. Barakah 5 tidak sesuai dengan aturan
dalam Perundang-Undangan, karena pelaku melakukan
penangkapan ikan tanpa SIUP. Sanksi Hukum atas penangkapan
ikan tanpa SIUP diatur dalam Pasal 92 Undang-Undang Nomor 45
Tahun 2009 yang berisi tentang sanksi pidana penjara dan denda.
Pelaku dijatuhi hukuman pidana penjara selama 4 (empat) tahun dan
denda Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia sering disebut negara bahari dikarenakan sebagian
besar wilayahnya terdiri dari laut. Menurut catatan Wahana
Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Indonesia adalah negara
kepulauan terbesar di dunia, yang memiliki 18.110 pulau dengan garis
pantai sepanjang 108.000 km. Berdasarkan Konvensi Hukum Laut
UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the Sea) tahun
1982, Indonesia memiliki kedaulatan atas wilayah perairan seluas 3,2
juta km2 yang terdiri dari perairan kepulauan seluas 2,9 juta km2 dan
laut teritorial seluas 0,3 juta km2.1
Luas wilayah Indonesia mencapai 5,9 juta km2, yang terdiri dari 2,9
juta km2 laut Nusantara, 0,3 juta km2 laut teritorial dan 2,7 km2 Zona
Ekonomi Eksklusif (ZEE), sedangkan luas daratan Indonesia hanya
mencapai 1,9 juta km2.2
Sejak awal dikumandangkan Deklarasi Djoeanda tahun 1957 telah
memberikan keteguhan atas konsepsi Indonesia sebagai negara
kelautan yang besar, berdaulat, dan sejahtera. Laut tidak hanya dilihat
sebagai media juang negara, tetapi turut sebagai ruang penghidupan
rakyat Indonesia, namun tidak memberikan sesuatu yang cukup
berarti bagi mereka yang menggantungkan hidupnya pada
pengelolaan sumber daya pesisir dan laut Indonesia, seperti nelayan
dan petambak tradisional, menjadi komunitas masyarakat yang rapuh
secara ekonomis, pendidikan, kesehatan, dan hal-hal mendasar
lainnya.3

1
“Potret advokasi ekologis vis a vis kejahatan korporasi (WALHI, 2009)” (On-Line),
tersedia di: http://www.walhi.or.id (4 Desember 2018).
2
Witjaksono, Reborn Maritim Indonesia Perspektif Sistem Ekonomi Kelautan
Terintegras (Jakarta : PT Adhi Kreasi Pratama Komunikasi, 2017), h. 179.
3
“Tahun kinerja pemerintahan Sby-Jk di sektor kelautan & perikanan, pandangan
bersama ornop dan ormas nelayan” (On-Line), tersedia di: http://nttonlinenews.com (4
Desember 2018).
Perikanan di Indonesia adalah salah satu sumber daya alam yang
merupakan karunia dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang dikelola untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat, sesuai dengan ketentuan Pasal
33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945, yang berbunyi “Bumi dan air
dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh
Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat”.4 Amanat ini yang menjadikan arah bagi pengaturan berbagai
hal yang berkaitan dengan sumber daya ikan.
Sejak zaman kolonial sudah dibentuk lima peraturan hukum
nasional, meliputi STAATSBLAD Tahun 1916 Nomor 157,
STAATSBLAD Tahun 1920 Nomor 396, STAATSBLAD Tahun 1927
Nomor 145, STAATSBLAD Tahun 1939 Nomor 442, setelah Indonesia
merdeka peraturan-peraturan tersebut masih tetap diberlakukan
berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar 1945,
karena selama peraturan yang baru belum dibentuk peraturan yang
lama tetap berlaku. Setelah Negara Indonesia merdeka dalam
masa waktu 40 tahun dibentuk Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1985
tentang Perikanan yang diundangkan dalam Lembaran Negara tahun
1985 Nomor 46 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299,
berjalan kurang lebih delapan tahun Undang-Undang tersebut diganti
dengan Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.
Penggantian Undang-Undang tersebut tidak ada maksud lain,
dilakukan dengan dasar bahwa Undang-Undang yang lama belum
dapat menampung semua aspek pengelolaan sumber daya ikan dan
kurang mampu mengantisipasi perkembangan kebutuhan hukum
serta perkembangan tekhnologi dalam rangka pengelolaan sumber
daya ikan. Umur dari pada Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004
juga tidak bertahan lama, karena pada tahun 2009 kemudian

4
Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat (3).
mengalami revisi, penambahan beberapa pasal melalui terbentuknya
Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan. 5
Pemanfaatan sumber daya ikan harus dapat dilakukan secara
terus-menerus bagi kemakmuran rakyat, sejalan dengan itu sudah
semestinya bila pengelola dan pemanfaatannya diatur secara tepat,
sehingga mampu menjamin arah dan kelangsungan serta kelestarian
pemanfaatannya dapat berlangsung sesuai dengan tujuan
pembangunan nasional.
Di dalam konsiderans Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009
tentang Perubahan atas Undang- Undang Republik Indonesia Nomor
31 Tahun 2004 tentang Perikanan (selanjutnya disebut dengan UU
Perikanan) ditegaskan bahwa dalam rangka pelaksanaan
pembangunan nasional dengan wawasan nusantara, maka sumber
daya perikanan harus dikelola sebaik-baiknya berdasarkan keadilan.
Menurut Pasal 26 ayat (1) UU Perikanan, setiap orang yang
melakukan usaha perikanan di bidang penangkapan, pembudidayaan,
pengangkutan, pengolahan, dan pemasaran ikan di wilayah
pengelolaan perikanan Republik Indonesia wajib memiliki Surat Izin
Usaha Perikanan (SIUP).6
Pengaturan SIUP di Indonesia sangat penting, karena jika
penangkapan ikan diperairan laut Indonesia tidak diatur, dikhawatirkan
akan adanya penangkapan ikan yang berlebihan, sehingga ikan yang
hidup diperairan laut Indonesia akan berkurang drastis dan bagi
generasi yang akan datang akan mengalami kekurangan pasokan
ikan dari perairan laut Indonesia.
Perairan laut Indonesia sangatlah luas, karena luasnya perairan
laut Indonesia itulah pengaturan SIUP dalam penangkapan ikan di
perairan laut Indonesia sangatlah penting bukan hanya bagi Warga

5
“Sejarah Hukum Perikanan”(On-line), tersedia di : http ://www.negarahukum.com/
hukum/ sejarah-hukum-perikanan.html ( 3 Desember 2018).
6
Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 31Tahun 2004 Tentang Perikanan Pasal 26 ayat (1).
Negara Indonesia saja, karena perairan laut Indonesia yang sangat
kaya akan sumber daya laut khususnya ikan membuat Warga Negara
Asing juga ingin mengambil ikan yang ada di perairan laut Indonesia.
Sehingga sangat penting adanya SIUP untuk mengatur hal-hal
mengenai penangkapan ikan, karena jika tidak diatur maka Warga
Negara Asing akan banyak berdatangan keperairan laut Indonesia
untuk menangkap ikan tanpa memerlukan syarat-syarat penangkapan
ikan yang ada di Indonesia.
Pengaturan cara penangkapan ikan yang tepat juga sangat
penting, dikhawatirkan bila cara penangkapan ikan yang tidak sesuai
dapat mengakibatkan rusaknya habitat laut tempat ikan berkembang
biak, sehingga ikan tidak dapat menghasilkan bibit ikan yang baru.
Penangkapan ikan oleh Warga Negara Asing sebagian besar terjadi
di Exclusive Economic Zone atau Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) dan
juga cukup banyak terjadi di perairan kepulauan, contoh kasus
penangkapan yang dilakukan oleh Kapal Pengawasan Perikanan (KP)
HIU 04 Indonesia pada Kapal Ikan Asing (KIA) berbendera Vietnam di
perairan ZEE laut Natuna Utara, Kepulauan Riau, tanggal 14 Mei
2018.7 Tindak pidana perikanan juga dilakukan oleh warga Negara
Indonesia tidak hanya dilakukan oleh Warga Negara Asing. Beberapa
modus/jenis kegiatan illegal yang sering dilakukan warga negara
Indonesia, antara lain: penangkapan ikan tanpa izin, memiliki izin tapi
melanggar ketentuan sebagaimana ditetapkan oleh Perundang-
Undangan yang berkaitan dengan perikanan, pemalsuan/manipulasi
dokumen, transshipment di laut, tidak mengaktifkan transmitter, dan
penangkapan ikan yang merusak dengan menggunakan bahan kimia,
bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau cara, dan/atau
bangunan yang membahayakan melestarikan sumberdaya ikan. 8

7
“Mongabay” (On-Line), tersedia di: http://www.mongbay.co.id (6 Desember 2018).
8
Rohmin Dahuri. Aspek Hukum Penanganan Tindak Pidana Perikanan. Makalah
Diklat Teknis Penanganan Tindak Pidana Perikanan Angkatan II (Pusdiklat Kejagung RI,
2013). h.2.
Secara garis besar faktor penyebab penangkapan ikan ilegal oleh
orang asing dapat dikategorikan menjadi 7 (tujuh) faktor, sebagaimana
diuraikan berikut:9
1. Kebutuhan ikan dunia (demand) meningkat, disisi lain pasokan ikan
dunia menurun, terjadi overdemand terutama jenis ikan dari laut
seperti Tuna. Hal ini mendorong armada perikanan dunia berburu
ikan di manapun dengan cara legal atau illegal.
2. Disparitas (perbedaan) harga ikan segar utuh (whole fish) di negara
lain dibandingkan di Indonesia cukup tinggi sehingga membuat
masih adanya surplus pendapatan.
3. Fishing ground di negara-negara lain sudah mulai habis, sementara
di Indonesia masih menjanjikan, padahal mereka harus
mempertahankan pasokan ikan untuk konsumsi mereka dan harus
mempertahankan produksi pengolahan di negara tersebut tetap
bertahan.
4. Laut Indonesia sangat luas dan terbuka, di sisi lain kemampuan
pengawasan khususnya armada pengawasan nasional (kapal
pengawas) masih sangat terbatas dibandingkan kebutuhan untuk
mengawasai daerah rawan. Luasnya wilayah laut yang menjadi
yurisdiksi Indonesia dan kenyataan masih sangat terbukanya ZEE
Indonesia yang berbatasan dengan laut lepas (High Seas) telah
menjadi magnet penarik masuknya kapal-kapal ikan asing maupun
lokal untuk melakukan tindak pidana perikanan.
5. Sistem pengelolaan perikanan dalam bentuk sistem perizinan saat
ini bersifat terbuka (open acces), pembatasannya hanya terbatas
pada alat tangkap (input restriction). Hal ini kurang cocok jika
dihadapkan pada kondisi faktual geografi ZEE Indonesia yang
berbatasan dengan laut lepas.

9
Rohmin Dahuri. Petunjuk Teknis Penyelesaian Perkara Tindak Pidana Perikanan
(Pusdiklat Kejagung RI, 2012). h.4.
6. Masih terbatasnya sarana dan prasarana pengawasan serta
Sumber Daya Manusia pengawasan khususnya dari sisi kuantitas
dibandingkan dengan luas wilayah perairan yang harus diawasi.
Hal ini ditambah lagi dengan keterbatasan sarana dan prasarana
pengawasan.
7. Persepsi dan langkah kerjasama aparat penegak hukum masih
dalam penanganan perkara tindak pidana perikanan masih belum
terorganisasi dengan optimal, terutama dalam hal pemahaman
tindakan hukum, dan komitmen operasi kapal pengawas di ZEE.
Sudah banyak produk Perundang-Undangan yang dikeluarkan oleh
Pemerintah untuk mengatur masalah perikanan di Indonesia. Dengan
Perundang-Undang yang mengatur perikanan yang ada diharapkan
dapat meminimalkan kejahatan di bidang perikanan serta dapat
memaksimalkan pemanfaatan dan perlindungan sumber daya laut,
khususnya sumber daya ikan di Indonesia.
Namun, dalam pemanfaatan sumber daya ikan di laut masih
banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh
oknum–oknum atau pihak–pihak tertentu, demi keuntungan dan
kepentingan pribadi masing-masing yang salah satunya melakukan
usaha perikanan di bidang penangkapan ikan, yang tidak memiliki
Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP), sehingga banyaknya kerugian di
bidang perikanan.
Salah satu contoh tindakan yang melanggar aturan penangkapan
ikan yang tidak memiliki Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) adalah
yang terjadi di perairan laut Sulawesi. Kasus tersebut telah diputus
oleh Mahkamah Agung Nomor 2382 K/Pid.Sus/2016. Kronologi
Kasusnya, pada hari rabu tanggal 18 maret 2015 sekitar jam 22.30
WITA atau setidak-tidaknya pada waktu-waktu lain dalam bulan Maret
tahun dua ribu lima belas bertempat di Wilayah Perairan Laut
Sulawesi pada posisi koordinat 03°35’00”U - 119°26’00”T atau setidak
– tidaknya pada tempat-tempat lain dimana Pengadilan Negeri Palu
berwenang memeriksa dan mengadili perkaranya, pelaku bernama
JESSIE D. CASTURICO dengan sengaja melakukan usaha perikanan
di bidang penangkapan, pembudidayaan, pengangkutan, pengolahan,
dan pemasaran ikan, yang tidak memiliki SIUP Sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 26 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 45 Tahun
2009 tentang Perubahan atas Undang- Undang Republik Indonesia
Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.
Pelaku JESSIE D. CASTURICO selaku Nakhoda KM. Barakah 5
telah mengoperasikan Kapal Ikan berbendera asing yaitu berbendera
Malaysia dengan alat bantu lampu (kapal lampu) yang berperan
sebagai kapal bantu penangkapan ikan dengan dilengkapi 3 (tiga)
buah alat tangkap hand line (pancing ulur) dan 2 (dua) unit lampu
sorot (pengumpul ikan) di Wilayah Perairan Laut Sulawesi yang
termasuk Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia 716
yaitu di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) tanpa dilengkapi
dengan Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) yang diterbitkan oleh
Pemerintah Republik Indonesia.
Perbuatan pelaku tersebut diatur dan diancam pidana dalam Pasal
92 Juncto Pasal 26 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009
tentang Perubahan atas Undang- Undang Republik Indonesia Nomor
31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Dengan kasus tersebut dapat
dilihat telah terjadi pelanggaran terhadap Pasal 26 Ayat (1) Undang-
Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.
Dengan mengacu pada uraian diatas, penulis bermaksud
membahas tentang “Kajian Yuridis Penangkapan Ikan Tanpa Surat
Izin Usaha Perikanan (SIUP), ditinjau dari Undang-Undang Nomor 45
Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Studi Kasus
Putusan Mahkamah Agung Nomor 2382 K/Pid.Sus/2016)”
B. Pokok Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka
dapat dirumuskan untuk menjadi pokok permasalahan dalam skripsi
ini adalah:
1. Bagaimanakah kesesuaian prosedur penangkapan ikan oleh KM.
Barakah 5 dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 2382
K/Pid.Sus/2016 dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 ?
2. Bagaimana sanksi atas penangkapan ikan KM. Barakah 5 dalam
Putusan Mahkamah Agung Nomor 2382 K/Pid.Sus/2016
berdasarkan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 ?
METODE PENELITIAN

1. Tipe Penelitian
Penelitian tentang “Kajian Yuridis Penangkapan Ikan Tanpa
Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP), ditinjau dari Undang-Undang
Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Studi
Kasus Putusan Mahkamah Agung Nomor 2382 K/Pid.Sus/2016)”
merupakan penelitian hukum normatif yaitu penelitian hukum yang
mencakup penelitian terhadap asas-asas hukum, sistematika
hukum, taraf sinkronisasi hukum dan perbandingan hukum. 10
Dengan mempelajari dan meneliti serta menganalisis
masalah dengan menggunakan berbagai macam literatur, baik
berupa peraturan Perundang-Undangan, serta dokumen-dokumen
artikel lainnya. Dalam hal ini yaitu Undang-Undang Dasar 1945,
Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960, Undang-
Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dan Peraturan
Menteri Perikanan dan Kelautan Nomor 30 Tahun 2012 tentang
Usaha Perikanan Tangkap Di Laut Lepas.

2. Sifat Penelitian
Berdasarkan sifatnya penelitian ini menggunakan metode
deskriptif analitis ,yaitu suatu penelitian yang dimaksud untuk
memberikan gambaran data dengan seteliti mungkin tentang
ketentuan dan peraturan Perundang-Undangan yang berlaku untuk
kemudian dianalisis dan mencari jawaban atas permasalahan yang
diajukan pada pokok permasalahan.11

10
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum (Jakarta: UI-Press, 2007), h. 51.
11
Ibid., h. 10.
3. Data dan Sumber Data
Dalam penelitian ini hanya menggunakan data sekunder.
Data sekunder yaitu data yang diperoleh melalui peraturan-
peraturan yang ada hubungannya dengan pokok permasalahan.
Data sekunder digolongkan dalam dua bahan hukum, yaitu : 12
a. Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer ialah bahan hukum yang mempunyai
kekuatan hukum mengikat antara lain adalah Peraturan
Perundang-undangan. Dalam penelitian ini menggunakan:
1) Undang-Undang Dasar 1945.
2) Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960.
3) Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004
tentang Perikanan.
4) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik
Indonesia Nomor 57/PERMEN-KP/2014 tentang Perubahan
Kedua Atas Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nmor
PER.30/MEN/2012 tentang Usaha Perikanan Tangkap Di
Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.
b. Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang menjelaskan
bahan hukum primer, yakni berupa buku-buku tentang Hukum
Perikanan.

4. Pengumpulan Data
Kegiatan pengumpulan data dilakukan studi dokumen
terhadap data sekunder, dengan membaca buku-buku, referensi-
referensi dan peraturan Perundang-undangan yang berhubungan
dengan materi yang dibahas dalam skripsi ini.

12
Ibid., h. 52.
5. Analisis Data
Data hasil penelitian ini dianalisis secara kualitatif, artinya
data kepustakaan dan hasil wawancara dianalisis secara
mendalam. Penggunaan metode analisis secara kualitatif
didasarkan pada pertimbangan, yaitu pertama data yang dianalisis
beragam, memiliki sifat dasar yang berbeda antara satu dengan
yang lainnya, serta tidak mudah untuk dikuantitatifkan. Kedua sifat
dasar data yang dianalisis adalah menyeluruh dan merupakan satu
kesatuan bulat. Hal ini ditandai dengan keanekaragaman datanya
serta memerlukaninformasi yang mendalam.13

6. Cara Penarikan Kesimpulan


Penarikan kesimpulan dilakukan dengan menggunakan
logika deduktif. Metode deduktif adalah metode menarik
kesimpulan yang bersifat khusus dari pernyataan-pernyataan yang
bersifat umum. Metode ini dilakukan dengan cara menganalisis
pengertian atau konsep-konsep umum.14 Adapun tinjauan terhadap
konsep yang sifatnya umum tersebut akan dianalisis secara khusus
dari aspek Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang
Perikanan.
E. Kerangka Konsepsi
Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya
dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat15, demi tercapainya tujuan ini maka Negara harus
mengatur pengelolaan sumber daya yang ada di Indonesia.

13
Ibid., h. 32.
14
“Metode Deduksi” (On-Line), tersedia di: https://id.m.wikipedia.org (6 Desember
2018).
15
Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945.
Bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan yang terkandung
didalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara, sebagai
organisasi kekuasaan seluruh rakyat. 16
Indonesia mempunyai wilayah perairan laut yang luas, dimana
didalamnya terdapat sumber daya ikan yang melimpah, sehingga
perikanan di Indonesia perlu diatur dengan tepat. Perikanan adalah
semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaat
sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi,
pengolahan sampai dengan pemasaran yang dilaksanakan dalam suatu
sistem bisnis perikanan.17
Sumber daya ikan adalah potensi semua jenis ikan. 18 Ikan adalah
segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya
berada di dalam lingkungan perairan19.
Penangkapan ikan adalah kegiatan untuk memperoleh ikan yang
tidak dalam keadaan keadaan dibudayakan dengan alat atau cara
apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan untuk memuat,
mengangkut, menyimpan, mendinginkan, menangani, mengolah, dan/atau
mengawetkannya.20
Penangkapan sumber daya ikan oleh Warga Negara Indonesia dan
juga Warga Negara Asing dilakukan dengan berbagai cara, karena itu
salah satu untuk menanggulangi agar tidak terjadi penangkapan ikan
secara berlebihan dan dengan cara yang dapat merusak ekosistem laut
perlu dilakukan pengaturan lebih lanjut khususnya dalam hal ini dibahas
tentang Surat Izin Usaha Perikanan, yang selanjutnya disebut SIUP,
adalah izin tertulis yang harus dimiliki perusahaan perikanan untuk
melakukan usaha perikanan dengan menggunakan sarana produksi yang
tercantum dalam izin tersebut.21
16
Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960.
17
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.
18
Ibid,. Pasal 1 angka 2.
19
Ibid., Pasal 1 angka 4.
20
Ibid., Pasal 1 angka 5.
21
Ibid., Pasal 1 angka 16.
Setiap orang yang melakukan usaha perikanan di bidang
penangkapan, pembudidayaan, pengangkutan, pengolahan, dan
pemasaran ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia
wajib memiliki SIUP.22
Usaha perikanan di wilayah pengelolaan perikanan Republik
Indonesia hanya boleh dilakukan oleh warga negara Republik Indonesia
atau badan hukum Indonesia.23Pengecualian, kepada orang atau badan
hukum asing yang melakukan usaha penangkapan ikan di ZEEI,
sepanjang hal tersebut menyangkut kewajiban Negara Republik Indonesia
berdasarkan persetujuan internasional atau ketentuan hukum
internasional yang berlaku.24
Setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan
perikanan Republik Indonesia melakukan usaha perikanan di bidang
penangkapan, pembudidayaan, pengangkutan, pengolahan, dan
pemasaran ikan, yang tidak memiliki SIUP sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 26 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 8
(delapan) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu
miliar lima ratus juta rupiah).25

22
Ibid., Pasal 26 ayat (1).
23
Ibid., Pasal 29 ayat (1).
24
Ibid., Pasal 29 ayat (2).
25
Ibid., Pasal 92.
Adapun gambar kerangka konsepsi dalam penelitian ini :
PEMBAHASAN

A. Analisis Mengenai Kesesuaian Prosedur Penangkapan Ikan Oleh KM.


Barakah 5 dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 2382 K/Pid.Sus/2016
dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009

Setiap orang yang melakukan usaha perikanan di bidang


penangkapan, pembudidayaan, pengangkutan, pengolahan, dan
pemasaran ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia
wajib memiliki Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP). Sebagaimana yang
telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang
Perubahan atas Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan,
yakni Pasal 26 yang berbunyi :

(1) Setiap orang yang melakukan usaha perikanan di bidang


penangkapan, pembudidayaan, pengangkutan, pengolahan, dan
pemasaran ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia
wajib memiliki SIUP.
(2) Kewajiban memiliki SIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tidak
berlaku bagi nelayan kecil dan/atau pembudi daya-ikan kecil. 26
Bagi nelayan, petani ikan kecil dan perorangan lainnya yang usaha
perikanannya hanya sebagai mata pencaharian untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari tidak diwajibkan untuk memiliki surat izin
dalam melakukan penangkapan ikan, mereka mempunyai kewajiban wajib
daftar atau ada pencatatan usahanya.27

26
Pasal 26 Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.
27
H.Djoko Triwabono, Hukum Perikanan Indonesia, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti,
2002, h.170.

81
Pengaturan lebih lanjut lagi diatur dalam Pasal 29 Undang-Undang
Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31
Tahun 2004 tentang Perikanan yaitu:

(1) Usaha perikanan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia


hanya boleh dilakukan oleh warga negara Republik Indonesia atau
badan hukum Indonesia.
(2) Pengecualian terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diberikan kepada orang atau badan hukum asing yang melakukan
usaha penangkapan ikan di ZEEI, sepanjang hal tersebut menyangkut
kewajiban Negara Republik Indonesia berdasarkan persetujuan
internasional atau ketentuan hukum internasional yang berlaku. 28

Pengelolaan sumber daya hayati ZEEI tidak hanya terbatas dikelola


nelayan Indonesia, tetapi nalayan asing juga dapat ikut memanfaatkan
sesuai dengan peraturan yang berlaku, sebagaimana Pasal 30:
(1) Pemberian surat izin usaha perikanan kepada orang dan/atau badan
hukum asing yang beroperasi di ZEEI harus didahului dengan
perjanjian perikanan, pengaturan akses, atau pengaturan lainnya
antara Pemerintah Republik Indonesia dan pemerintah negara
bendera kapal.
(2) Perjanjian perikanan yang dibuat antara Pemerintah Republik
Indonesia dan pemerintah negara bendera kapal sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), harus mencantumkan kewajiban pemerintah
negara bendera kapal untuk bertanggung jawab atas kepatuhan orang
atau badan hukum negara bendera kapal untuk mematuhi perjanjian
perikanan tersebut.
(3) Pemerintah menetapkan pengaturan mengenai pemberian izin usaha
perikanan kepada orang dan/atau badan hukum asing yang beroperasi
di ZEEI, perjanjian perikanan, pengaturan akses, atau pengaturan
lainnya antara Pemerintah Republik Indonesia dan pemerintah negara
bendera kapal.29
SIUP dapat berlaku juga untuk kegiatan penangkapan ikan dan/atau
kegiatan pengangkutan ikan yang rencana usahanya meliputi Wilayah
Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI),
sebagaimana telah diatur dalam Pasal 7 Peraturan Menteri Kelautan dan
28
Ibid., Pasal 29.
29
Ibid., Pasal 20.
Perikanan Nomor 57 Tahun 2014 tentang perubahan kedua atas Peraturan
Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 30 Tahun 2012 tentang Usaha
Perikanan Tangkap.30

Berikut ini merupakan gambar yang termaksud Wilayah Pengelolaan


Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI):

Titik merah pada gambar menandakan daerah WPPNRI 716 tempat


dimana terdakwa JESSIE D. CASTURICO melakukan perbuatannya.

SIUP tidak dibatasi seberapa lama jangka waktunya berlaku. Dalam


pengaturannya dalam Pasal 5 ayat (2) Peraturan Menteri Kelautan dan

30
Ibid., Pasal 7.
Perikanan Nomor 57 Tahun 2014 tentang perubahan kedua atas Peraturan
Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 30 Tahun 2012 tentang Usaha
Perikanan Tangkap, SIUP berlaku selama orang melakukan kegiatan
usaha perikanan.31

Seperti yang tercantum dalam Pasal 3 Peraturan Menteri Kelautan


Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 71/PERMEN-KP/2016 tentang
Jalur Penangkapan Ikan Dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan Di
Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia, dibagi
menjadi tiga jalur penngkapan ikan, yaitu:

Jalur penangkapan ikan I (Pasal 4) jalur penangkapan ikan I, dibagi dua


meliputi:

1. Perairan pantai sampai dengan 2 (dua) mil laut yang diukur dari
permukaan air laut pada surut terendah

2. Perairan pantai di luar 2 (dua) mil laut sampai dengan 4 (empat) mil laut.

a. Jalur penangkapan ikan II (Pasal 4) meliputi, perairan di luar jalur


penangkapan ikan I sampai dengan 12 (dua belas) mil laut diukur dari
permukaan air laut pada surut terendah.

b. Jalur penangkapan ikan III (Pasal 4) meliputi, meliputi ZEEI dan


perairan di luar jalur penangkapan ikan II.

Seperti yang telah diatur dalam Pasal 6 Peraturan Menteri Kelautan


Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 71/PERMEN-KP/2016 tentang
Jalur Penangkapan Ikan Dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan Di
Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia. Alat
penangkapan ikan di WPPNRI menurut jenisnya terdiri dari 10 (sepuluh)
kelompok, yaitu:
31
Ibid., Pasal 5 ayat (2).
a. jaring lingkar (surrounding nets);
b. pukat tarik (seine nets);
c. pukat hela (trawls);
d. penggaruk (dredges);
e. jaring angkat (lift nets);
f. alat yang dijatuhkan (falling gears);
g. jaring insang (gillnets and entangling nets);
h. perangkap (traps);
i. pancing (hooks and lines); dan
j. alat penjepit dan melukai (grappling and wounding).32

32
Pasal 6 Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor
71/PERMEN-KP/2016 tentang Jalur Penangkapan Ikan Dan Penempatan Alat Penangkapan
Ikan Di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.
Cantrang33
Titik merah pada gambar di atas merupakan alat penangkapan ikan yang
ditemukan pada KM. Barakah 5.
Dalam kasus Putusan Mahkamah Agung Nomor 2382
K/PID.SUS/2016 JESSIE D. CASTURICO seorang berkebangsaan
Philipina menangkap dan mengoperasikan Kapal Ikan berbendera asing
yaitu berbendera Malaysia di Wilayah Perairan Laut Sulawesi yang
termasuk Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia 716 yaitu di
Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) tanpa dilengkapi dengan Surat
Izin Usaha Perikanan (SIUP) dan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) yang
diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Terkait dengan penjelasan
di atas, menurut pendapat penulis JESSIE D. CASTURICO selaku

33
Tim Kementerian Kelautan dan Perikanan, Laut Masa Depan Bangsa-Kedaulatan,
Keberlanjutan, Kesejahteraan, Jakarta: Kompas, 2018, h. 55.
Nahkoda KM. Barakah 5 tidak memenuhi prosedur dalam melakukan
penangkapan ikan diperairan laut Indonesia. Telah ditentukan dalam Pasal
26 Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas
Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan bahwa setiap
orang yang melakukan usaha perikanan di bidang penangkapan,
pembudidayaan, pengangkutan, pengolahan, dan pemasaran ikan di
wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia wajib memiliki Surat
Izin Usaha Perikanan (SIUP) dalam kasus ini JESSIE D. CASTURICO
terbukti tidak memiliki SIUP.

Apabila ia ingin melakukan penangkapan ikan di Indonesia terlebih


dahulu harus memenuhi ketentuan yang telah diatur dalam Pasal 29 dan
Pasal 30 Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

Dalam kasus ini JESSIE D. CASTURICO telah melanggar prosedur


peraturan penangkapan ikan di Indonesia dengan melakukan kegiatan
penangkapan ikan di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI)
tanpa dilengkapi dengan Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP).

B. Sanksi Hukum Atas Penangkapan Ikan KM. Barakah 5 dalam Putusan


Mahkamah Agung Nomor 2382 K/Pid.Sus/2016

Dalam Pasal 26 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 diwajibkan


setiap orang untuk memiliki Surat Izin Usaha Perikan (SIUP) dalam
melakukan penangkapan ikan, agar peraturan tersebut ditaati maka diatur
sanksi pidananya, dan bagi yang melanggar dikenai Pasal 92 Undang-
Undang Nomor 31 Tahun 2009, yang berbunyi sebagai berikut: “Setiap
orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik
Indonesia melakukan usaha perikanan di bidang penangkapan,
pembudidayaan, pengangkutan, pengolahan, dan pemasaran ikan, yang
tidak memiliki SIUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1),
dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan denda
paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).”

Rabu tanggal 18 Maret 2015 sekitar jam 22.15 WITA pada saat sedang
melakukan operasi pengawasan di perairan Laut Sulawesi, Kapal Patroli
BC 30003 melakukan penangkapan terhadap Kapal Barakah 5, pada saat
ditangkap pada posisi 03°35"U- 119°26’00”T Kapal tersebut akan
melakukan kegiatan penangkapan ikan dengan memasang lampu di
rumpon, dilakukan pemeriksaan terhadap kapal Barakah 5 atas nama
nahkoda JESSIE D. CASTURICO (Warga Negara Philipina) bersama 2
(dua) ABK seluruhnya berjumlah 3 (tiga) orang berkewarganegaraan
Philipina tidak dapat menunjukkan dokumen kapal dan dokumen perijinan
untuk melakukan penangkapan ikan di perairan Indonesia, sehingga kapal
tersebut ditarik ke Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Cukai Tipe B
Pantoloan.

Perbuatan yang dilakukan Nakhoda Barakah 5 memasuki Perairan


Indonesia dan melakukan kegiatan penangkapan tanpa dilengkapi dengan
dokumen perijinan (SIUP, SIPI, SLO dan SPB) dari Pemerintah Indonesia
sebagai perbuatan yang melanggar peraturan perundang-undangan
dibidang perikanan, karena perbuatan yang dilakukan nakhoda JESSIE D.
Costurico bersama awak kapal Barakah 5 telah melanggar Pasal 92
Juncto Pasal 26 Ayat (1) dan Pasal 93 Ayat (2) Juncto Pasal 27 Ayat (2),
Juncto Pasal 76A Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 2004 tentang
Perikanan sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-
Undang RI Nomor 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas Undang-
Undang Rl Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan.
JESSIE D. CASTURICO, sebagai nakhoda dan awak kapal Barakah 5
yang telah melakukan kegiatan usaha perikanan di perairan WPP RI
menggunakan kapal ikan asing asal Malaysia bernama Barakah 5 tidak
dilengkapi Surat Ijin Usaha Perikanan (SIUP) sebagaimana dimaksud
Pasal 92 Juncto Pasal 26 Ayat (1) dapat dikenakan sanksi pidana penjara
paling lama 8 (delapan) tahun dan denda paling banyak
Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah). Barakah 5 sebagai
Kapal ikan asing yang melakukan penangkapan ikan di WPP RI tanpa
dilengkapi dengan dokumen Surat Ijin Penangkapan Ikan (SIPI)
sebagaimana dimaksud Pasal 93 Ayat (2) Juncto Pasal 27 Ayat (2) dapat
dikenakan sanksi pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda
paling banyak Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah).

Dalam Putusan Pengadilan Negeri Palu Nomor 127/Pid.Sus/


2015/PN.Pal. tanggal 13 Mei 2015 menyatakan Terdakwa JESSIE D.
CASTURICO tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah
melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan
Kumulatif Pertama dan Dakwaan Kumulatif Kedua Penuntut Umum.
Hakim membebaskan Terdakwa JESSIE D. CASTURICO.

Kemudian Jakasa Penuntut Umum mengajukan permohonan Kasasi


dengan alasan Majelis Hakim tidak menerapkan atau menerapkan Hukum
tidak sebagaimana mestinya, Majelis Hakim mendalilkan sendiri
kesimpulan dalam perkara a quo, cara mengadili tidak dilaksanakan
menurut ketentuan Undang-Undang dalam hal penerapan Hukum acara.

Dalam Putusan Mahkamah Agung:

A. M E N G A D I L I

Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon


Kasasi/Jaksa/Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Palu tersebut;
Membatalkan putusan Pengadilan Negeri Palu Nomor 127/Pid.Sus/
2015/PN.Pal. tanggal 13 Mei 2015;

B. M EN G A D I L I S E N D I R I

1. Menyatakan Terdakwa JESSIE D. CASTURICO telah terbukti secara


sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “dengan
sengaja menangkap ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik
Indonesia tanpa memiliki SIUP” dan “mengoperasikan kapal
penangkap ikan berbendera asing menangkap ikan di wilayah
pengelolaan perikanan Republik Indonesia tanpa memiliki SIPI” ;

2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa JESSIE D. CASTURICO


oleh karena itu dengan pidana penjara selama 4 (empat) tahun dan
pidana denda sebesar Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah)
dengan ketentuan jika denda tersebut tidak dibayar diganti dengan
kurungan selama 6 (enam) bulan ;

3. Menetapkan barang bukti berupa :

1. 1 (satu) unit kapal KM Barakah 5;

2. 1 (satu) unit radio Ric Icon HF Marine IC-M304;

3. 3 (tiga) buah alat tangkap Hand Line;

4. 1 (satu) unit GPS Furuno GP-32;

5. 1 (satu) buah kompas Mawar Pedoman merek Daico;

6. 2 (dua) unit lampu sorot (pengumpul ikan);

7. 1 (satu) bundel dokumen Kapal Barokah 5, Negara Malaysia;

8. 1 (satu) bundel dokumen Kapal Barokah 5, Negara Philipina;


9. 1 (satu) Roll Book;

10. 1 (satu) pasport atas nama Arnel Rojas Cabesas yang


dikeluarkan oleh Pemerintah Philipina ;

Dirampas untuk dimusnahkan ;

Membebankan Terdakwa tersebut untuk membayar biaya perkara


pada tingkat kasasi sebesar Rp2.500,00 (dua ribu lima ratus rupiah).

Berdasarkan fakta-fakta dan bukti dipersidangan, Putusan Mahkamah


Agung sudah tepat dalam menerapkan Hukum sesusai dengan yang telah
dilakukan JESSIE D. CASTURICO melakukan kegiatan usaha perikanan
di perairan Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia (WPPRI)
menggunakan kapal ikan asing asal Malaysia bernama KM. Barakah 5
tidak dilengkapi Surat Ijin Usaha Perikanan (SIUP) sebagaimana dimaksud
Pasal 92 Juncto Pasal 26 Ayat (1) dapat dikenakan sanksi pidana penjara
paling lama 8 (delapan) tahun dan denda paling banyak
Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).

Dan melakukan penangkapan ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan


Indonesia (WPPRI) tanpa dilengkapi dengan dokumen Surat Ijin
Penangkapan Ikan (SIPI) sebagaimana dimaksud Pasal 93 Ayat (2) Juncto
Pasal 27 Ayat (2) dapat dikenakan sanksi pidana penjara paling lama 6
(enam) tahun dan denda paling banyak Rp20.000.000.000,00 (dua puluh
miliar rupiah).
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan masalah yang telah penulis uraikan
dari bab-bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat penulis berikan
yakni:
1. Kegiatan yang dilakukan oleh KM. Barakah 5 merupakan kegiatan
penangkapan ikan secara tidak sah atau tidak sesuai dengan peraturan
Perundang-Undangan. Dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 2382
K/Pid.Sus/2016 dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang
perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang
Perikanan, sebagaimana yang dicantumkan dalam Pasal 26, setiap orang
yang melakukan usaha perikanan di bidang penangkapan,
pembudidayaan, pengangkutan, pengolahan, dan pemasaran ikan di
wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia wajib memiliki SIUP,
penangkapan ikan yang dilakukan oleh KM. Barakah 5 yang di Nakhodai
oleh JESSIE D. CASTURICO merupakan kegiatan penangkapan ikan
yang tidak sesuai dengan aturan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009,
karena pelaku telah melanggar prosedur peraturan penangkapan ikan di
Indonesia dengan melakukan kegiatan penangkapan ikan di wilayah Zona
Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) tanpa dilengkapi dengan Surat Izin
Usaha Perikanan (SIUP).
2. Sanksi Hukum atas kegiatan usaha perikanan tanpa Surat Izin Usaha
Perikanan (SIUP) telah diatur dalam Pasal 92 jo. Pasal 26 Undang-
Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas Undang-Undang
Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan adalah pidana penjara dan
denda, agar tercapai tujuan untuk menciptakan ketertiban dan keteraturan
dalam melaksanakan usaha perikanan. Namun dalam pelaksanaannya,

93
peraturan sanksi hukum tersebut belum memberikan hasil yang maksimal
salah satu faktornya adalah lemahnya pengawasan dan sarana yang
masih kurang memadai, sehingga masih sering terjadi kegiatan
penangkapan ikan tanpa memiliki Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP).
Sebagai salah satu contohnya adalah sebagaimana yang telah dilakukan
oleh pelaku yang bernama JESSIE D. CASTURICO selaku nahkoda KM.
Barakah 5 yang melakukan penangkapan ikan di Wilayah Pengelolaan
Perikanan Indonesia tanpa Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP). Dalam
melakukan kegiatan penangkapan ikan harus memiliki SIUP sebagaimana
yang diatur dalam Pasal 26 Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009
tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang
Perikanan, karena itu kegiatan yang dilakukan JESSIE D. CASTURICO
tersebut dapat dikenakan Pasal 92 Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009
tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang
Perikanan. JESSIE D. CASTURICO juga menggunakan kapal ikan asing
tanpa dilengkapi Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI), karena itu JESSIE D.
CASTURICO dijatuhi hukuman pidana penjara selama 4 (empat) tahun
dan pidana denda sebesar Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah)
dengan ketentuan jika denda tersebut tidak dibayar diganti dengan
kurungan selama 6 (enam) bulan atas perbuatannya yang melakukan
penangkapan ikan tanpa memiliki SIUP dan SIPI.

B. Saran
Berdasarkan dari kesimpulan di atas maka penulis mempunyai saran,
sebagai berikut:
1. Diharapkan ketentuan yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor
45 Tahun 2009 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31
Tahun 2004 tentang Perikanan mengenai pelanggaran dalam kegiatan
penangkapan ikan, dapat terus diterapkan dengan maksimal dengan
penambahan unit patroli, sehingga kegiatan penangkapan ikan tetap
terkendali dari kegiatan usaha perikanan tidak memiliki Surat Izin Usaha
Perikanan (SIUP).
2. Pengawasan di wilayah pengelolaan perikanan Indonesia masih perlu
ditingkatkan, serta perlunya penambahan sarana prasarana
pengawasan berupa armada kapal yang baru. Karena praktik illegal
fishing di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia
(WPPNRI) sebagian besar dilakukan oleh kapal perikanan berbendera
asing atau kapal eks asing berkapasitas di atas 30 GT. Jumlahnya
mencapai 20 persen dari jumlah total kapal ikan di atas 30 GT yang
beroperasi di WPPNRI atau sekitar 1.605 kapal eks asing. Jumlah kapal
yang melakukan illegal fishing diyakini lebih banyak mengingat satu izin
kapal eks asing bisa digandakan hingga lima kali.34

34
Tim Kementerian Kelautan dan Perikanan, Laut Masa Depan Bangsa-Kedaulatan,
Keberlanjutan, Kesejahteraan, Jakarta: Kompas, 2018, h. 54,
DAFTAR PUSTAKA

BUKU :

Dahuri, Rohmin. Aspek Hukum Penanganan Tindak Pidana Perikanan.


Makalah Diklat Teknis Penanganan Tindak Pidana Perikanan
Angkatan II . Jakarta: Pusdiklat Kejagung RI, 2013.

—. Petunjuk Teknis Penyelesaian Perkara Tindak Pidana Perikanan. Jakarta:


Pusdiklat Kejagung RI, 2012.

Perikanan, Tim Kementerian Kelautan dan. Laut Masa Depan Bangsa.


Jakarta: Kompas, 2018.

Soekanto, Soerjono. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: UI-Press, 2007.

Tribwono, H. Djoko. Hukum Perikanan Indonesia edisi kedua (revisi).


Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2013.

Triwabono, H. Djoko. Hukum Perikanan Indonesia . Bandung: PT. Citra Aditya


Bakti, 2002.

Witjaksono. Reborn Maritim Indonesia Prespektif Sistem Ekonnomi Kelautan


Terintegras. Jakarta: OT Adhi Kreasi Pratama Komunikasi, 2017.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN :

Undang-Undang Nomor 45 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor


31 Tahun 2004 tentang Perikanan

INTERNET ONLINE :

Potret advokasi ekologis vis a vis kejahatan korporasi (WALHI, 2009)” (On-
Line), tersedia di: http://www.walhi.or.id (4 Desember 2018)
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 57 Tahun 2014
tentang perubahan kedua atas Peraturan Menteri Kelautan dan
Perikanan Nomor 30 Tahun 2012 tentang Usaha Perikanan Tangkap