Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH PENGANTAR TEKNIK KIMIA & SISTEM SATUAN

TEKNIK KIMIA

“ PROSES PEMBUATAN TABLET DALAM INDUSTRI FARMASI ”


Dosen Pengampu: Ir. Parulian Leonard Marpaung, MM

NOVI WDIYANTI

1516053

TEKNIK KIMIA POLIMER 02

POLITEKNIK STMI JAKARTA

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAAN RI

2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pengertian obat secara umum, obat adalah semua bahan tunggal/campuran


yang dipergunakan oleh semua makhluk untuk bagian dalam maupun luar guna
mencegah, meringankan ataupun menyembuhkan penyakit.Obat adalah bahan
atau paduan bahan-bahan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan
diagnosa,mencegah, mengurangi, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau
gejala penyakit, luka atau untuk memperelok badan atau bagian badan manusia .

Tablet merupakan sediaan padat kompak, dibuat secara kempa di bawah


tekanan beberapa ratus kilogram per cm2, dalam bentuk tabung pipih atau
sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat
atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan.

Lebih dari 90% obat yang bekerja sistemik diberikan secara oral. Bila suatu
obat baru ditemukan, perusahaan farmasi mula-mula akan meneliti apakah obat
tersebut dapat efektif seperti yang diharapkan bila diberikan secara oral. Dari
obat-obat yang diberikan secara oral, maka sediaan padat (misalnya tablet/kaplet
atau kapsul) merupakan bentuk yang lebih disenangi. Keunggulan bentuk sediaan
obat padat antara lain lebih stabil dibandingkan bentuk larutan atau semipadat,
lebih mudah dibawa dan lebih efisien penggunaannya karena tidak membutuhkan
alat bantu jika akan digunakan.

Tablet adalah bentuk sediaan yang paling banyak beredar karena secara fisik
stabil, mudah dibuat, lebih menjamin kestabilan bahan aktif dibandingkan bentuk
cair, mudah dikemas, praktis, mudah digunakan, homogen, dan reprodusibel.
Massa tablet harus mengalir dengan lancar agar dapat menjamin homogenitas dan
reprodusibilitas sediaan dan harus dapat terkompresi dengan baik agar diperoleh
tablet yang kuat, kompak, dan stabil selama penyimpanan dan distribusi.
1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana proses pembuatan obat sediaan tablet dalam cangkupan


industri dan alat-alat apa saja yang dipergunakaan dalam proses tersebut?
2. Bagaimana penggolongan dalam wujud produk dalam sediaan tablet dalam
industri?
3. Apa saja hal-hal yang perlu dievaluasi sebelum proses pembuatan tablet
dapat dikatakan selesai atau sudah menjadi tablet?

1.3 TUJUAN

1. Mengetahui bagamaina proses suatu obat yang akan mencetak atau akan
berbentu menjadi tablet.
2. Mengetahui prinsip kerja alat yang digunakan dalam proses pembuatan
sediaan tablet.
3. Mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum produk dipasarkan
atau mengevaluasi sediaan tablet yang telah diproduksi siap untuk
diproduksi.
4. Memberikan informasi kepada pembaca tentang proses obat yang berawal
hanya dari bahan-bahan hingga membentuk menjadi sediaan tablet.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 SEDIAAN TABLET

Tablet adalah bentuk sediaan padat farmasetik yang mengandung satu atau
lebih bahan obat dengan atau tanpa zat tambahan yang cocok dalam bentuk pipih,
sirkuer, permukaannya datar atau cembung, yang dibuat dengan metode
pengempaan atau pencetakan atau dengan cara lain sesuai dengan punch dan die.
Tablet memiliki perbedaan dalam ukuran, bentuk, berat, kekerasan, ketebalan.
Kebanyakan tipe atau jenis tablet dimaksudkan untuk ditelan dan kemudian
dihancurkan dan melepaskan bahan obat ke dalam saluran pencernaan. Suatu
tablet harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

1. Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan
2. Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil
3. Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik
4. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan
5. Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan
6. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan
7. Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan
8. Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku

Keuntungan Sediaan Tablet


Sediaan tablet banyak digunakan karena memiliki beberapa keuntungan, yaitu:
1. Tablet dapat bekerja pada rute oral yang paling banyak dipilih
2. Tablet memberikan ketepatan yang tinggi dalam dosis
3. Tablet dapat mengandung dosis zat aktif dengan volume yang kecil
sehingga memudahkan proses pembuatan, pengemasan, pengangkutan,
dan penyimpanan
4. Bebas dari air, sehingga potensi adanya hidrolisis dapat dicegah/diperkecil
Dibandingkan dengan bentuk sediaan lain, sediaan tablet mempunyai keuntungan,
antara lain :
1. Tablet merupakan sediaan yang kering sehingga zat aktif lebih stabil;
2. Tablet sangat cocok untuk zat aktif yang sulit larut dalam air;
3. Zat aktif yang rasanya tidak enak akan berkurang rasanya dalam tablet;
4. Pemberian tanda pengenal produk pada tablet paling mudah dan murah;
tidak memerlukan langkah pekerjaan tambahan
5. Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal di
tenggorokan, terutama bila bersalut yang memungkinkan pecah/hancurnya
tablet tidak segera terjadi;
6. Dapat diproduksi besar-besaran, sederhana, cepat, sehingga biaya
produksinya lebih rendah;
7. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran
kimia, mekanik, dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik.

Kerugian Sediaan Tablet


Di samping keuntungan di atas, sediaan tablet juga mempunyai kerugian, yaitu:
1. Ada orang tertentu yang tidak dapat menelan tablet (dalam keadaan tidak
sadar/pingsan);
2. Formulasi tablet cukup rumit, antara lain :
• Beberapa zat aktif sulit dikempa menjadi kompak padat, karena sifat
amorfnya, flokulasi, atau rendahnya berat jenis;
• Zat aktif yang sulit terbasahi (hidrofob), lambat melarut, dosisnya
cukup besar atau tinggi, absorbsi optimumnya tinggi melalui saluran
cerna, atau kombinasi dari sifat tersebut, akan sulit untuk diformulasi
(harus diformulasi sedemikian rupa);
• Zat aktif yang rasanya pahit, tidak enak, atau bau yang tidak disenangi,
atau zat aktif yang peka terhadap oksigen, atmosfer, dan kelembaban
udara, memerlukan enkapsulasi sebelum dikempa. Dalam hal ini
sediaan kapsul menjadi lebih baik daripada tablet.

Tetapi jika dibandingkan dengan keuntungannya, kerugian sediaan tablet jauh


lebih sedikit sehingga sediaan tablet merupakan sediaan yang paling banyak
dijumpai di perdagangan.
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 PROSES PEMBUATAN TABLET

Pada proses pembuatan tablet, terdapat banyak proses yang terlibat,


misalnya penentuan bahan baku, proses granulasi, proses pengeringan, proses
pencampuran, dan proses pengempaan tablet. Semua proses yang terjadi akan
memberikan pengaruh pada mutu tablet yang akan dihasilkan, baik pengaruh
besar maupun kecil.

3.1.a Bahan Baku


 Zat aktif
Secara luas obat atau bahan aktif yang diberikan secara oral dalam bentuk
tablet dikelompokkan menjadi :
• Zat Aktif Tidak Larut Air (Insoluble Drugs)
Zat ini cenderung digunakan untuk memberikan efek lokal pada
saluran pencernaan (seperti antasida dan adsorben).
• Zat Aktif Larut Air (Suluble Drugs)
Zat ini cenderung digunakan untuk memberikan efek sistemik
dengan terdisolusi dan terabsorpsi pada usus.
3.1.b. Bahan Penolong

 Eksipien atau zat tambahan


Zat inert yang tidak aktif secara farmakologi berfungsi sebagai zat
pembantu dalam formulasi tablet untuk membentuk tablet dan untuk
mempermudah teknik pembuatan tablet. Dalam pemilihan bahan
tambahan untuk pembuatan tablet harus diperhatikan sifat fisika dan sifat
kimianya, begitu juga dengan stabilitas dan zat tambahan yang digunakan.
Bahan tambahan tablet antara lain adalah :
• Zat pengisi dimasukkan untuk memperbesar volume tablet.
Biasanya digunakan Sacharum Lactis, Amylum Manihot, Calcii
Phoshas, Calcii Carbonas dan zat lain yang cocok.
• Zat pengikat dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak,
dapat merekat. Biasanys yang digunakan adalah mucilago
gummi arabici 10-20 % (panas), solutio Methylcellulosum 5 %.
a. Pengikat kering (binder), pengikat kering ditambahkan
kedalam massa kering. Contoh, bahan kering yang sering
digunakan:
- Acasia 2 – 5 %
- Derivat selulosa 1 – 5 %
b. Pengikat Basah ( Adhesive), ditambahkan dalam bentuk
larutanatau suspensi, contoh pengikat basah yang sering
digunakan:
- Gelatin 1 – 5 %
- Pasta amylum 1 – 5 %
- Natrium Alginat 2 – 5 %
• Zat penghancur, dimaksudkan agar tablet dapat hancur dalam
perut. Biasanya yang digunakan adalah Amylum Manihot
kering, Gelatinum, Agar-agar, Natrium Alginat.
Mekanisme kerja dari bahan penghancur adalah :
- jika kontak degan air akan mengembang sehingga volume tablet
membesar dan akhirnya pecah, contoh: golongan selulosa.
- Memecah ikatan partikel tablet sehingga akan pecah.
• Zat pelicin, dimaksudkan agar tablet tidak lekat pada cetakan.
Biasanya digunakan Talcum 5 %, Magnesii Stearas, Acidum
Stearinicum. Bahan pelicin dalam pembuatan tablet dapat
berfungsi sebagai :
1) Lubricant, yaitu untuk mengurangi gesekan yang terjadi
antara dinding ruang cetak dengan tepi tablet selama
penabletan. Contohnya, talk (kadar sampai dengan 5%), metalic
(Mg, As, Ca), stearat (kadar maksimum 1%)

2) Glidant, yaitu memperbaiki sifat alir serbuk atau granul,


sehingga lebih mudah mengalir.
3) Anti adherent, untuk mencegah melekatnya tablet pada die dan
pada permukaan punch.

• Zat Warna, Pemberi Rasa dan Pemanis


Penggunaan zat warna dalam preparat farmasi untuk tujuan
estetika, sebagai pembantu sensori untuk pemberi rasa yang
digunakan, dan untuk tujuan kekhasan produk. Ada beberapa
keuntungan penggunaan zat warna dalam tablet yaitu :
1) Dapat menutupi warna obat yang kurang baik.
2) Membantu identifikasi hasil produksi.
3) Membuat suatu produk menjadi lebih menarik.
Zat inert secara faarmakologi yang ditambahkan kedalam
formulasi tablet dalam jumlah kecil yang bertujuaan memperbaiki
rasa atau bau tablet, zat pemanis biasanya adalah gula buatan yang
ditambahkan kedalam formula tablet effervescent. Cara
penambahanya dapat ditambahkan dalam bentuk granul semprot
kering atau sebagai minyak atsiri.
• Bahan penyerap ( Adsorben )
Adsorben adalah zat inert secara farmakologi yang ditambahkan
kedalam formulasi tablet yang bertujuan mengadsorpsi cairan yang
ada atau yang akan terjadi dalam massa tablet.
Penambahan adsorben dapat ditambahkan sebagai fasa luar. Jika
akan terjadi campuran yang menyebabkan cairan, maka sebaiknya
ditambahkan adsorben fasa luar dan fasa dalam. Contohnya,
golongan silika gel seperti aerosil, kaolin, veegum, dan lain-lain.

Zat tambahan atau eksipiens harus memenuhi persayaratan di bawah (menurut


Farmakope Indonesia) :

1. Tidak boleh berbahaya dalam jumlah yang digunakan


2. Tidak melebihi jumlah minimum yang diperlukan untuk memberikan
efek yang diharapkan.
3. Tidak mengurangi ketersediaan hayati
4. Tidak mengurangi efek terapi
5. Tidak mengurangi keamanan sediaan
6. Tidak boleh menggangu dalam pengujian dan penetapan kadar

3.1.c Proses Pembuatan Tablet

Sediaan tablet ini dapat dibuat melalui tiga macam metode, yaitu granulasi
basah, granulasi kering, dan kempa langsung. Pemilihan metode pembuatan
sediaan tablet ini biasanya disesuaikan dengan karakteristik zat aktif yang akan
dibuat tablet, apakah zat tersebut tahan terhadap panas atau lembab,
kestabilannya, besar kecilnya dosis, dan lain sebagainya. Bagan metode
pembuatan tablet.

METODE CETAK LANGSUNG METODE GRANULASI KERING METODE GRANULASI BASAH

 Metode Granulasi Basah (Wet Granulation)

Metode granulasi merupakan metode tertua yang paling luas dan


palingbanyak digunakan dalam proses pembuatan tablet. Metode yang
dilakukan dengan cara membasahi massa tablet menggunakan larutan pengikat
sampai diperoleh tingkat kebasahan tertentu, lalu digranulasi Tujuan granulasi
adalah untuk meningkatkan waktu aliran campuran dan atau kemampuan
kempa. Proses-proses pokok dalam granulasi basah:
a. Penimbangan bahan aktif f. Pengeringan granul lembab,
dna bahan tambahan. pada oven dengan suhu 50-
b. Pencampuran bahan aktif 55°C.
dengan bahan pengisi dan g. Pengayakan granul kering
penghancur (sebagian). dengan ayakan 14-20 mesh.
c. Penyiapan larutan pengikat. h. Penimbangan granul kering
d. Pembasahan campuran yang diperoleh.
serbuk dengan larutan i. Pencampuran granul kering
pengikat untuk membentuk dengan lubrikan sebagian
massa basah. bahan penghancur).
e. Pengayakan kasar massa j. Kompresi tablet.
basah dengan ayakan 6-12
mesh.
 Keuntungan metode granulasi basah:
a. Terbentuknya granul sehingga akan memperbaiki sifat alir dan
kompresibilitas, proses kompaksasi lebih mudah karena pecahnya
granul membentuk permukaan baru yang lebih aktif
b. Obat-obat dosis tinggi yang mempunyai sifat alir dan kompresibilitas
jelek maka dengan proses granulasi basah hanya perlu sedikit bahan
pengikat
c. Untuk bahan dengan dosis rendah dengan pewarna, maka distribusi
lebih baik dan menjamin keseragaman isi zat aktif
d. Granulasi basah mencegah segregasi componen-komponen campuran
yang sudah homogen
 Kelemahan Metode Granulasi Basah :

a. Proses lebih panjang dibanding dengan dua metode lanilla sehinga


secara ekonomis lebih mahal
b. Tidak bisa digunakan untuk obat-obat yang sensitif terhadap
kelembaban dan pemanasan
c. Pada tablet berwarna dapat terjadi peristiwa migrasi dan
ketidakhomogenan sehingga tablet berbintik-bintik
d. Incompabilitas antar komponen didalam formulasi akan diperbesar,
terutama untuk obat-obat campuran (multivitamin dan lain-lain).

Proses pembuatan tablet dengan metode granulasi basah memerlukan


persiapan-persiapan dan langkah-langkah yang cukup panjang. Pada prinsipnya,
granul dibentuk dengan jalan mengikat serbuk dengan suatu pengikat.
Cara penambahan bahan pengikat sangat tergantung pada kelarutannya
dan komponen campuran. Larutan harus bisa terdispersi dengan mudah ke dalam
campuran serbuk. Cairan (pelarut) memegang peranan yang sangat penting. Ikatan
ini akan meningkat bila jumalah cairan yang ditambahkan meningkat. Gaya
tegangan permukaan dan tekanan kapiler merupakan faktor yang sangat penting
pada awal pembentukan granul serta berpengarug terhadap kekuatan granul.
Setelah cairan pengikat ditambahkan, pencampuran dilanjutkan sampai
dispersi yang merata tercapai dan semua bahan pengikat bekerja dengan
sempurna. Selama proses granulasi (pembasahan), partikel-pertikel dan
gumpalan-gumpalan akan mendapat tekanan/ gaya konsolidasi oleh aksi berbagai
bagian mesin dan tenaga antar partikel. Lamanya waktu granulasi tergantung sifat
pembasahan dari campuran serbuk dan cairan pengikat, serta alat/ mesin
prengaduk (mixer) yang digunakan. Cara termudah untuk menentukan titik akhir
adalah dengan menekan (menggenggam) massa granul pada telapak tangan, bila
remuk dengan tekanan yang sedang maka campuran massa granul tersebut sudah
jadi (siap).

Mesin pengaduk granul (mixer granulator) dibedakan menjadi dua jenis,


yaitu mesin granulator kecepatan tinggi (high-shear granulator) dan mesin
granulator kecepatan lamabat (low-shear granulator). Masing-masing mesin
memiliki sifat dan karakteristik serta mekanisme kerja yang berbeda.

Mesin high-shear granulator terdiri dari tiga bagian, yaitu bowl sebagai
tempat serbuk/ granul, pengaduk (blade mixer/ impeller) dan pemotong (chupper).
Impeller berfungsi untuk memotong massa granul menjadi bentuk partikel granul.
Bentuk bowl umumnya berbentuk mangkuk atau cylindric atau conical.
Umumnya impeller dapat berputar pada kecepatan 100-500 rpm, sedangkan
chupper dapat berputar mencapai kecepatan 1000-3000 rpm.

Gambar 1.

Bowl dan Impeller

Atau pengaduk
Keuntungan mesin ini dibandingkan dengan low-shear granulator antara
lain, waktu pengerjaan lebih cepat, penggunaan bahan pengikat yang lebih sedikit,
granul yang dihasilkan lebih kompak, granul yang dihasilkan memiliki ukuran
partikel yang lebih seragam, serta waktu akhir granulasi lebih bisa diprediksi jika
dibanding dengan low-shear granulator.

Mesin granulasi tipe low-shear granulator (mesin granulator berkecepatan


lambat, dibedakan menjadi 4 macam sesuai dengan jenis pengaduknya, yaitu
ribbon/ paddle blender, planetary mixer, orbitas screw, orbitas crew blender dan
sigma blade granulator. Ribbon blender umumnya digunakan untuk mengaduk
kering (dry mixer), namun demikian sedikit bahan pengikat dapat ditambahkan
dalam mesin granulator jenis ini, misalnya untuk granulasi tablet effervescen.

(a)

Gambar 2. (a) Ribbon Blender, Planetary Mixer, dan Orbiting Srew


granulator ( low-shear granulator)
Planetary mixer, terdiri dari bowl dan agitador (alat/ lengan pencampur).
Lengan pencampur yang besar membentuk menyerupai bulatan mangkuk dan
memungkinkan gerakan pengadukan serbuk dalam jumlah besar.
Orbiting screw granulator, berfungsi untuk menyemprotkan cairan
pengikat pada campuran serbuk.

Sigma blade granulator merupakan compressive granulator umunya


digunakan untuk membuat granul dimana larutan pengikat berbentuk pasta kental
dan membutuhkan tenaga yang besar supaya bisa digranul.

Selain cara tersebut diatas, terdapat pula proses granulasi basah dengan
penyemprotan larutan pengikat pada campuran serbuk atau yang sering disebut
dengan fluid bed spray granulation.

Gambar 3. Fluid Bed Spray Granulation

Keuntungan dari metode ini aglomerasi dan pengeringan di dalam satu


unit sehingga massa granul lebih cepat dicapai. Sedangkan kesulitannya ialah
kecendrungan terjadi pemisahan bila ada ketidaksesuaian dalam ukuran atau berat
jenis partikel dalam bahan yang sedang diolah.
 Metode Granulasi Kering (Dry Granulation)

Metode granulasi kering merupakan salah satu metode pembuatan tablet


yang efektif terutama pada dosis efektif terlalu tinggi untuk pencetakan
langsung, dan obatnya peka terhadap pemanasan, kelembaban, atau keduanya.
Metode ini banyak digunakan untuk membuat tablet aspirin atau vitamin. Pada
proses ini, komponen tablet dikompakkan dengan mesin cetak tablet atau
mesin khusus (roller comactor).

Setelah serbuk dicampur, campuran serbuk ditekan ke dalam die, yang


besar dan dikompakkan dengan punch berpermukaan datar. Massa yang
diperoleh disebut slugh dan prosesnya disebut slugging. Slugh kemudian
diayak dan diaduk untuk mendapatkan bentuk granul yang daya mengalirnya
lebih seragam dibandingkan serbuk (bahan) awal.

Slugging merupakan suatu usaha untuk meningkatkan waktu pencetakan.


Bahan yang mengalami dua kali atau lebih tekanan pengompakan
menyebabkan lebih kuatnya ikatan yang mengikat tablet bersama-sama.
Granul yang dihasilkan juga meningkatkan kemampuan alirnya bila
dibandingkan dengan serbuk itu sendiri.

Pelaksanaan metode granulasi kering juga dapat dilakukan dengan


menggunakan mesin roller compactor. Mesin ini dapat membuat lebih dari
500 kg bahan seperti pita dalam waktu 1 jam. Dengan bantuan tekanan
hidroulik pada salah satu penggiling, mesin ini mampu menggiling pada
tekanan tertentu pada bahan serbuk apa saja yang mengalir di antara
penggiling. Serbuk dimasukkan ke penggiling, bentuknya berubah menjadi
”pita” tipis. Ini mirip slug yang dihasilkan melalui proses slugging.
Selanjutnya ”pita granul” tersebut diayak dengan ayakan yang sesuai,
kemudian dicampur dengan bahan-bahan tambahan lain, selanjutnya bisa
langsung dicetak (dikempa).
Gambar 4. Roller Compactor

 Keuntungan metode granulasi kering :


a. Alat dan ruangan lebih sedikit daripada granulasi basah.
b. Tidak memerlukan bahan pengikat.
c. Prosesnya lebih cepat, tidak memerlukan proses pemanasan
sehingga biaya produksi dapat ditekan.
d. Untuk obat-obat yang sensitif terhadap kelembaban dan
pemanasan, misal vitamin E akan menghasilkan produk yang stabil
e. Memperbaiki waktu hancur, karena serbuk tidak terikat oleh
adanya bahan pengikat.
f. Memperbaiki kelarutan dan bioaviabilitas.
g. Memperbaiki homogenitas, karena tidak terjadi peristiwa migrasi
obat atau bahan pewarna.
 Kerugian metode granulasi kering

a. Memerlukan mesin heavy duty (harganya mahal)


b. Zat warna sukar homogen (tidak terdispersi merata)
c. Cenderung menghasilkan partikel-partikel halus (fines) yang lebih
banyak dibanding dengan metode granulasi basah, sehingga tablet
sering rapuh atau kurang kuat dan resiko kontaminasi lebih tinggi.
 Metode Cetak Langsung (Direct Compress)

Terdapat beberapa bahan yang memiliki sifat kompabilitas atau


kompresibilitas (kemampuan untuk bisa dicetak) yang tinggi serta memiliki sifat
alir yang baik. Pada bahan dengan sifat-sifat demikian, maka pembuatan granul
tidak diperlukan lagi, artinya bahan bisa dicetak langsung atau yang sering disebut
dengan metode pembuatan tablet cetak langsung (direct compress). Pada proses
ini campuran obat dan semua bahan tambahan (pengisi, penghancur, pelincir)
dicampur kemudian dicetak. Syarat agar campuran tersebut dapat dicetak, antara
lain : mempunyai sifat alir yang baik, kompressibilitas tinggi dan mempunyai
efeklubricant yang baik.

 Keuntungan metode cetak langsung:


a. Lebih ekonomis dibanding kedua metode yang lain
b. Tidak terpengaruh oleh panas dan kelembaban
c. Stabilitas produk terjamin
d. Ukuran patikel seragam
 Kerugian metode cetak langsung:
a. Perbedaan ukuran partikel dan kerapatan bulk antara obat dengan
pengisi dapat menimbulkan stratifikasi diantara granul yang
selanjutnya dapat menimbulkan tidak seragamnya isi obat dalam tablet
b. Pada obat dosis besar, perlu tambahan bahan pengisi sehingga tablet
menjadi besar
c. Bahan pengisi yang bisa dicetak langsung, biasanya harganya mahal

Masalah yang sering dihadapi dalam metode cetak langsung antara lain :

1. Masalah teknis, yaitu sulitnya menemukan bahan dengan sifat alir dan
kompressibilitas yang baik
2. Masalah ekonomis, dimana bahan-bahan dengan sifat alir dan
kompressibilitas yang baik tersebut biasanya harganya mahal, bahkan bisa
beberapa kali lipat.
Gambar 5. Resume Proses Sediaan Tablet

 PENCETAKAN TABLET

Seperti dijelaskan sebelumnya, tablet di buat dengan jalan mengempa


campuran zat aktiv dan eksipien, baik yang dibuat menjadi granul terlebih
dahulu maupun tidak, pada mesin pencetak tablet. Secara umum komponen
dasar mesin pencetak tablet adalah sebagai berikut :

1. Hopper, tempat untuk menyimpan granul dan yang mengalirkan granul


untuk di kempa.
2. Die, tempat granul akan di cetak, menentukan ukuran dan bentuk tablet.
3. Punch atas, alat untuk mengempa granul yang telah berada di die.
4. Punch bawah, alat untuk mengeluarkan tablet yang telah di cetak.

Gambar 6. Hopper dan Die


Gambar 7. Proses keseluruhan pencetakan

Tahapan-tahapan dalam proses pencetakan:

Tahap 1. Pengisian die dengan granul.

Serbuk atau granul2 dialirkan dri hopper masuk kedalam DIE (aliran sesuai
grafitasi). Volume granul ditentukan oleh posisi punch bawah dan lempeng
die.. untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar 8.1

Gambar 8.1

Tahap 2. Pencetakan Granul

Pada tahap ini, Hopper akan kembali pada tempatnya dan punch atas akan
turun mengempa granul menjadi tablet. Selama tahapan ini ada beberapa
tahapan yang terjadi sehinggqa granul menjadi tablet;

1. Penyusunan ulang dari struktur granul. Ketika Punch atas mengempa


granul maka distribusi granul akan tersusun ulang diantara punch atas
dan punch bawah.
2. Perubahan bentuk granul dan pembentukan ikatan. Pada tahap ini akan
terjadi perubahan bentuk granul krena penekanan, pada awalnya terjadi
deformasi elastis kemudian plastik.
3. Pembentukan ikatan intergranul. Hasil dari penekanan, granul
termampatkan dan terjadi ikatan antar granul sehingga menjadi tablet.

Gambar 8.2

Tahap 3. Pengeluaran Tablet

Setelah Tablet dikempa, punch atas akan kembali ket4 aslinya kemudian punch
bawah akan bergerak keatas membawa tablet sejajar dengan die. Setelah itu
hopper akan bergerak untuk mengisi granul kedalam die sehingga tablet akan
tergeser oleh hopper. lihat gambar berikut.

Gambar 8.3

Ada dua tipe mesin pencetak tablet yaitu pencetak tunggal dan pencetak
ganda berputar. Proses mesin pencetak tunggal sama persis seperti
diatas. Pencetak ganda berputar, umumnya digunakan untuk produksi besar,
kapasitas produksi bisa sampai 10.000 tablet permenit. Seperti Mesin pencetak
tunggal tablet dimampatkan diantara punch atas dan bawah, akan tetapi prosesnya
sedikit berbeda. Pada Pencetak ganda berputar disusun dalam 1 rangkaian punch
atas dan punch bawah (sampai 60 permesin) yang ditempatkan dalam lingkaran
die yang dapat berputar. Kedua Punch digerakkan (baik diturunkan dan di
naikkan) oleh gerakan Roller atas dan Roller bawah. Lihat gambar 8.4

Gambar 8.4

Gambar 9. Tablet Compression Machine

3.2 Penggolongan Produk Tablet


 Berdasarkan Distribusi Obat dalam Tubuh
Berdasarkan distribusi obat dalam tubuh, tablet dibedakan menjadi dua
kelompok, yaitu:
 Untuk pengobatan local
1. Tablet untuk vagina (ovula), digunakan sebagai anti infeksi, anti fungi,
hormon local.
2. Tablet hisap (lozenges) untuk mulut dan tenggorokan
 Untuk pengobatan sistemik, per oral. Tablet yang bekerja sistemik dapat
dibedakan menjadi:
1. Short acting/ jangka pendek: dalam satu hari memerlukan beberapa
kali menelan obat. Obat bekerja tidak lebih dari 8 jam
2. Long acting/ jangka panjang: dalam satu hari cukup menelan satu
tablet. Obat bekerja tidak lebih dari 8 jam.

 Berdasarkan Jenis Bahan Penyalut


1. Tablet salut biasa / salut gula (dragee), tablet kempa yang disalut
dengan beberapa lapisan gula baik berwarna maupun tidak. Seperti
pati, kalsium karbonat, talk, atau titanium dioksida yang disuspensikan
dengan gom akasia atau gelatin.
2. Tablet salut selaput (film-coated tablet), tablet kempa yang disalut
dengan salut tipis, bewarna atau tidak dari bahan polimer yang larut
dalam air yang hancur cepat di dalam saluran cerna. Disalut dengan
hidroksi propil metil selulosa, Na-CMC, dan campuran selulosa asetat
ftalat dengan PEG yang tidak mengandung air atau mengandung air.
3. Tablet salut kempa adalah tablet yang disalut secara kempa cetak
dengan massa granulat yang terdiri atas laktosa, kalsium fosfat, dan zat
lain yang cocok. Tablet ini sering di gunakan untuk pengobatan secara
repeat action.
4. Tablet salut enteric (enteric-coated tablet) atau lepas tunda, tablet
yang dikempa yang disalut dengan suatu zat yang tahan terhadap
cairan lambung, reaksi asam, tetapi terlarut dalam usus halus. Bahan
yang sering digunakan adalah alol, keratin, selulosa acetat phtalat.
5. Tablet lepas lambat, tablet yang pelepasan zat aktifnya dimodifikasi
sehingga tablet tersebut melepaskan dosis awal yang cukup untuk efek
terapi yang kemudian disusul dengan dosis pemeliharaan sehingga
jumlah zat aktif atau konsentrasi zat aktif dalam darah cukup untuk
beberapa waktu tertentu. (misal tablet lepas lambat 6 jam, 12 jam,
dsb).
6. Tablet berlapis, tablet yang disiapkan dengan pengempaan granuler
tablet pada granulasi yang baru dikempa. Proses ini dapat diulangi
untuk menghasilkan tablet berlapis banyak dari 2 atau 3 lapisan.

 Berdasarkan Cara Pemakaian


1. Tablet biasa / tablet telan.
Dibuat tanpa penyalut, digunakan per oral dengan cara ditelan, pecah
di lambung.
2. Tablet kunyah (chewable tablet)
Bentuknya seperti tablet biasa, cara pakainya dikunyah dulu dalam
mulut kemudian ditelan, umumnya tidak pahit. Diformulasikan untuk
anak-anak, antasida dan antibiotic tertentu. Dibuat dengan cara
dikempa biasanya digunakan manitol, sorbitol dan sukrosa sebagai
pengikat dan pengisi. Tablet kempa yang mengandung zat aktif dan
eksipien yang harus dikunyah sebelum ditelan.
3. Tablet hisap (lozenges, trochisi, pastiles)
Tablet ini dibuat dengan cara tuang disebut pastilles atau dengan cara
kempa tablet menggunakan bahan dasar gula disebuttrochisi.
Umumnya mengandung antibiotic, antiseptic, adstringensia.
4. Tablet larut (effervescent tablet)
Dibuat dengan cara dikempa. Diberi wadah yang tertutup rapat dan
terlindung dari lembab, di etiket diberi tanda “bukan untuk ditelan”.
Tablet ini harus dilarutkan dalam air baru diminum .Contohnya Ca-D-
Redoxon, tablet efervesen Supradin.
5. Tablet Implantasi (Pelet)
Tablet kecil, bulat atau oval putih, steril, dan berisi hormon steroid,
dimasukkan ke bawah kulit dengan cara merobek kulit sedikit,
kemudian tablet dimasukkan, dan kulit dijahit kembali. Zat khasiat
akan dilepas perlahan-lahan. Dibuat berdasarkan teknik aseptik, mesin
tablet harus steril. Dimaksudkan untuk implantasi subkutan (Untuk
KB, 3-6 bulan, mencegah kehamilan).

6. Tablet hipodermik (hypodermic tablet)


Tablet cetak/kempa yang dibuat dari bahan mudah larut/melarut
sempurna dalam air. Umumnya digunakan untuk membuat sediaan
injeksi steril dalam ampul dengan menambahkan pelarut steril (FI IV).
Dilarutkan lebih dahulu sebelum dijadikan injeksi hipodermik.
7. Tablet bukal (buccal tablet)
Tablet biasanya berbentuk oval, keras dan berisi hormon. Bekerja
sistemik, tererosi atau terdisolusi di tempat tersebut dalam waktu yang
lama (secara perlahan).
8. Tablet sublingual
Yaitu tablet yang disisipkan dipipi dan dibawah lidah. Tujuannya agar
obat dapat diabsorpsi dengan cepat. Biasanya untuk obat penyempitan
pembuluh darah ke jantung (angina pectoris) sehingga harus cepat
terlarut agar dapat segera memberi efek terapi.
9. Tablet Rektal
Tablet kempa yang mengandung zat aktif yang digunakan secara
rektal (dubur) yang tujuannya untuk kerja lokal atau sistemik.

 Berdasarkan Bentuk Tablet

1. Bentuk silinder 8. Bentuk oval


2. Bentuk kubus 9. Bentuk cincin
3. Bentuk cakram 10. Bentuk segitiga,segi
4. Bentuk bundar empat,segi lima, banyak
5. Bentuk batang segi, segiempat panjang,
6. Bentuk telur/peluru bentuk hati
7. Bentuk pipih/sirkuler
3.3 Pengujian Tablet

A. Evaluasi (Kontrol Kualitas) Granul


Adanya berbagai variabel formulasi dan proses dapat mempengaruhi
langkah-langkah pembuatan granul. Oleh karenanya perlu dilakukan metode
evaluasi untuk mengukur karakter-karakter granul dalam upaya memantau
kesesuaian granul yang akan dipakai dalam membuat tablet. Hal-hal yang perlu
dievaluasi untuk menentukan karakter granul, antara lain :

 Ukuran dan bentuk partikel


ukuran partikel granul dapat mempengaruhi berat rata-rat tablet, variasi
berat tablet, waktu hancur, kerenyahan granul, daya mengalir granul serta
kinetika kecepatan pengeringan dari granulasi basah.

 Luas permukaan
Pengukuran luas permukaan berbagai serbuk obat yang telah dihaluskan
merupakan faktor penting terutama bagi obat-obat yang kelarutannya
dalam air terbatas. Ukuran partikel dan terutama luas permukaan, sangat
mempengaruhi kecepatan pelarutan.

 Kerapatan (density)
kecepatan granul dapat mempengaruhi kompressibilitas, porositas tablet,
kelarutan dan sifat-sifat lainnya. Ada dua metode untuk menentukan
kerapatan granul, keduanya menggunkan alat piknometer. Metode yang
lebih dikenal adalah kerapatan bulk. Kerapatan bulk adalah ukuran yang
digunakan untuk menyatakan segumpalan partikel atau granul. Persamaan
untuk menentukan kerapatan bulk adalah :
Kerapatan bulk = Massa partikel
 Volume granul

 Sifat-sifat mengalir (waktu alir), sifat alir suatu bahan dihasilkan dari
banyak gaya.
 Sudut diam (sudut baring).
Metode corong tegak dan kerucut yang berdiri bebas memakai corong yang
dijaga agar ujungnya berada pada sustu ketinggian tertentu (H) di atas kertas
grafik yang terletak pada bidang horizontal. Granul dituang berlahan-lahan
sampai ke ujung corong. Jari-jari (R) dari atas tumpukan bubuk yang
berbentuk kerucut kemudian di ukur.

tan α = H/R atau α = arctan H/R

α adalah sudut baring. Bila sudut baring lebih kecil atau sama dengan 300
biasanya menunjukkan bahwa bahan dapat mengalir bebas, bila sudutnya
lebih besar atau sama dengan 400 maka biasanya daya mengalirnya kurang
baik.

 Evaluasi (Kontrol Kualitas) Tablet


Untuk memantau kualitas produk obat, evaluasi secara kualitatif serta
penetapan sifat kimia, fisika dan bioavailabilitas tablet harus dibuat. Hal-hal
yang perlu dilakukan evaluasi (kontrol kualitas) selama dan setelah proses
pencetakan antara lain: penampilan umum, ukuran dan bentuk pengenalan
tanda-tanda khusus, keseragaman bobot, waktu hancur (disintegrasi), karena
kekerasan dan kerenyahan, kandungan obat (zat aktif) dan disolusi.

 Kekerasan dan Kerenyahan (Friability )


Tablet harus mempunyai kekuatan atau kekerasan tertentu serta tahan atas
kerenyahan dapat bertahan terhadap berbagai guncangan mekanik pada saat
pembuatan,pengepakan dan distribusi. Selain itu tablet juga harus tahan
terhadap perlakuan berlebihan oleh konsumen, seperti guncangan dalam tas,
dan lain sebagainya.

 Keseragaman Bobot dan Keseragaman kandungan zat Aktif


Untuk evaluasi keanjuran suatu tablet, jumlah kandungan zat aktif terdapat
didalamnya harus terus dipantau pada setiap tablet atau batc. Uji
penyimpangan bobot dilakukan dengan cara menimbang 20 tablet satu persatu
kemudian dihitung berat rata-rata dan penyimpangan baku standar (RSD =
Relative standard Deviation ) dan prosentase penyimpangannya.
 Waktu Hancur
Bagi tablet langkah penting pertama sebelum melarut agar segera bisa siap
untuk diabsorpsi adalah pecahnya menjadi partikel-partikel kecil atau granul.
Waktu yang diperlukan oleh tablet untuk dapat hancur (melarut) tersebut
disebut dengan waktu hancur . Alat yang digunakan untuk pengujian waktu
hancur disebut dengan disintegratian tester.

 Kecepatan Kelarutan (Dissolution)


Pengujian waktu hancur hanyalah menyatakan waktu yang diperlukan oleh
tablet untuk hancur dibawa kondisi yang ditetapkan, dan lewatnya pertikel
melalui saringan berukuran Mesh-10. Uji ini tidak memberi jaminan bahwa
partikel-partikel itu akan melepaskan bahan obat dalam kecepatan kelarutan
yang sebenarnya. Oleh karena laju kelarutan dapat berhubungan langsung
dengan eficacy (kemanjuran) suatu obat maka uji disolusi (kecepatan pelarut)
menjadi uji yang angat krusial dalam evaluasi suatu tablet.

Contoh Produksi Sediaan Tablet:


DAFTAR PUSTAKA

The Theory & Practice of Industrial Pharmacy, Lachman Hal 294


http://jurnalmakalahfarmasi.blogspot.co.id/2014/09/pembuatan-tablet-metode-
granulasi.html
https://andayana.wordpress.com/bisnis/pembuatan-tablet/
http://www.pharmasindo.com/2016/09/metode-pembuatan-tablet.html
https://nuniksites.wordpress.com/2014/01/28/makalah-tablet-dunia-farmasi/
http://pharmacy-zone.blogspot.co.id/2013/01/proses-pembuatan-tablet-salut.html
http://syariefsimboro.blogspot.co.id/2012/11/makalah-farmasetika-tablet.html
http://maulachela.blogspot.co.id/2010/07/tablet.html
http://medicafarma.blogspot.co.id/2008/09/tablet.html
https://www.scribd.com/doc/242655825/Alat-Alat-Pembuat-Tablet

https://www.scribd.com/doc/294123852/Makalah-Tablet

https://www.scribd.com/document/333038928/Makalah-Tugas-Metode-
Pembuatan-Tablet