Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam rangka mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang tertuang
dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun
1945, Aparatur Sipil Negara diwajibkan turut serta mengambil peranan penting
dengan menjalankan implementasi kebijakan-kebijakan pemerintah dalam
berbagai sektor dan memberikan kualitas pelayanan publik terbaik untuk
masyarakat. Pembentukan karakter Aparatur Sipil Negara yang berkualitas ini
di perlukan diklat dasar penanaman karakter Aparatur Sipil Negara yang
bermoral, berintegritas, akuntabel, anti korupsi, inovatif, dan memiliki
semangat kerja yang tingggi. Berbagai karakter ini tidak hanya diberikan dalam
bentuk materi saja namun harus di praktekkan dalam proses habituasi yang
diatur dalam Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara (PERKALAN)
RI nomor 38 dan 39 tahun 2014 tentang Pedoman Penyelenggaraan Prajabatan
Golongan III, serta Golongan I dan II, melakukan Penyelenggaraan Pendidikan
dan Pelatihan (DIKLAT) Prajabatan yang dilaksanakan dengan Pola Baru.
Pelatihan dilakukan dengan inovatif dan terintegrasi, yaitu penyelenggaraan
pelatihan yang memadukan pembelajaran klasikal dan non-klasikal di tempat
pelatihan dan di tempat kerja sehingga memungkinkan peserta mampu
menerapkan dan mengaktualisasikan serta menjadi kebiasaan (habituasi), dan
merasakan manfaatnya, sehingga terpatri dalam dirinya sebagai karakter ASN .
sesuai amanat UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN)
dan merujuk pada pasal 63 ayat 3 dan 4 tentang calon PNS.

Di dalam pendidikan dan pelatihan, peserta akan mengikuti pola


pendidikan secara klasikal dengan pemberian materi nilai-nilai dasar profesi
ASN yakni Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan
Anti Korupsi (ANEKA) dengan sistem dinamika kelompok dimana para peserta
diwajibkan untuk aktif di dalam setiap kegiatan pembelajaran. Penerapan nilai
dasar ANEKA ini lebih mengutamakan peningkatan mutu kerja ASN yang
masih dianggap kurang oleh masyarakat. ANEKA merupakan niai-nilai dasar

1
yang diharapkan mampu membentuk pribadi ASN yang lebih baik, membentuk
ASN yang berkompeten, bertanggung jawab, dan bersih dari korupsi. Dalam
rangka menerapkan pembiasaan (habituasi) dan penerapan (aktualisasi) di
lingkungan kerja pemasyarakatan, maka penting bagi seluruh pegawai
pemasyarakatan untuk memegang teguh dan mengimplementasikan nilai dasar
ANEKA.

Dengan pelaksanaan diklat dasar yang berintegritas di harapkan output


Aparatur Sipil Negara di lingkup Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum
dan HAM memiliki nilai-nilai Dasar di dalam PERMENKUMHAM Nomor 20
Tahun 2017 Tentang Kode Etik dan Kode Perilaku Pegawai Kementerian
Hukum dan HAM yakni PASTI ( Profesional, Akuntabel, Sinergi, Transparan,
Inovatif ) dan SMART yaitu ( Serious, Minded, Active, Responsive, dan Talk)
serta dapat bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi secara maksimal, serta
memenuhi penilaian standar kinerja pegawai yang telah ditentukan oleh unit
kerja Dirjen Pemasyarakatan khususnya Lembaga Pemasyarakatan.
Dewasa ini Lembaga Pemasyarakatan menjadi sorotan publik dan
kredibilitas menurun akibat berbagai masalah. Di dalam Lembaga
Pemasyarakatan terdiri dari berbagai macam karakteristik orang bermasalah
yang digabungkan di beberapa blok hunian dengan larangan yang biasa kita
sebut zero halinar khususnya alat komunikasi. Hal ini akan menimbulkan
dampak penuhnya fasilitas wartelsus karena situasi di dalam lapas antara
jumlah penghuni dan tempat tinggal berbanding terbalik (over capasity),
dengan fakta kapasitas 164 penghuni dan isi setiap kamar ±7 orang , saat ini
jumlah penghuni 600 orang dan isi setiap kamar ±27 orang. Sehingga ruang
gerak warga binaan pemasyarakatan semakin sempit. Hal ini memudahkan
terjadi gesekan antar WBP yang mengakibatkan konflik perkelahian di lembaga
pemasyarakatan karena WBP menginginkan haknya terpenuhi untuk
berkomunikasi dengan keluarganya namun belum bisa tertib dan kondusif
sehingga di perlukan pengamanan yang ketat dan optimal oleh petugas
pengamanan di seluruh area Lembaga Pemasyarakatan yang merujuk pada
peraturan tata tertib yang tertuang dalam PERMENKUMHAM Nomor 6 tahun
2013 tentang Tata Tertib Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan

2
Negara dan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia Nomor 33 Tahun 2015 Tentang Pengamanan pada Lembaga
Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan Negara, Pengamanan Lapas atau Rutan.
Berdasarkan syarat kelulusan diklat prajabatan ASN, pemenuhan Nilai-Nilai Dasar
Kementerian Hukum dan HAM dan pengoptimalan kinerja sesuai tupoksi jabatan
petugas pengamanan, penulis bermaksud mengangkat judul “Pembatasan Jumlah
Pengguna Layanan Wartelsus Melalui Pengadaan “Permission Id” Dalam
Rangka Peningkatan Pengawasan Dan Penjagaan Warga Binaan
Pemasyarakatan Lapas Perempuan Klas II A Malang”.
Gagasan solusi yang di tawarkan diharapkan dapat menjawab manajemen area
perubahan menurut Permenpan-RB yaitu penguatan akuntabilitas kinerja.

1.2 Tujuan dan Manfaat


1.2.1. Tujuan
Adapun tujuan disusunnya rancangan rencana aktualisasi diri ini
yakni untuk meningkatkan tugas pokok dan fungsi petugas pengamanan
lapas dalam menjaga ketertiban, mengamankan, dan mengawasi Warga
Binaan Pemasyarakatan (WBP) dan lingkungan Lembaga
Pemasyarakatan khususnya dengan menggunakan “Permission Id for
Wartelsus”.
1.2.2. Manfaat
Pengoptimalan tugas pokok dan fungsi petugas pengamanan lapas dalam
menjaga, mengamankan, dan mengawasi Warga Binaan Pemasyarakatan
(WBP) dan lingkungan Lembaga Pemasyarakatan dengan pengadaan
“Permission Id for Wartelsus” secara terintegrasi dapat memberikan
manfaat berupa:

1. Memenuhi penilaian standar kinerja pegawai sesuai tugas pokok dan


fungsi petugas pengamanan
2. Menyediakan sarana pengoptimalan pengamanan, penjagaan dan
pengawasan warga binaan dan lingkungan Lembaga
Pemasyarakatan khususnya area Wartel dengan adanya suatu
inovasi “Permission Id for Wartelsus”

3
3. Menjadikan kegiatan telepon WBP di wartelsus tertib, kondusif dan
berjalan sesuai dengan tata tertib
4. Meningkatkan kesadaran WBP mengenai budaya antre.

1.3 Ruang Lingkup Aktualisasi

Rancangan aktualisasi ini merupakan suatu gagasan atau usulan untuk


memecahkan permasalahan di area wartelsus. Rancangan aktualisasi ini
adalah implementasi dari nilai-nilai dasar ASN dalam tugas di unit kerja
terutama di bagian regu pengamanan dan juga hal – hal yang terkait
dengan waktu dan tata tertib penggunaan wartelsus kepada warga binaan
pemasyarakatan.