Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOREMEDIASI DAN PENGELOLAHAN LIMBAH


Analisis Sifat Fisik dan Sifat Kimia Air Sungai Daerah Merjosari Malang

Disusun Oleh:
Slivia Eka Safitri (21601061003)
Riyan Riyadlun Najih (21601061022)
Linda Purwanti (21601061029)
Siti Rahmawati W (21601061030)
Abel Nabila A (21601061036)
Rina Alfi Hafiana (21601061047)
Tanwirul Munawaroh (21601061048)
Durrotul Choiroh (21601061057)
Tsubetul Aslamiyah (21601061065)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat diperlukan dalam
kehidupan ini. Sumber daya air secara garis besar meliputi air permukaan dan air
tanah. Air permukaan akan lebih mudah tercemar dibandingkan dengan air tanah,
karena air permukaan lebih mudah terkontaminasi dengan sumber-sumber
pencemaran.
Dengan semakin meningkatnya kegiatan pembangunan di berbagai bidang dan
adanya pertambahan penduduk dari tahun ke tahun, maka kebutuhan air sesuai
dengan penggunaannya pun juga semakin meningkat. Pembangunan yang semakin
meningkat diikuti dengan peningkatan pencemaran lingkungan yang berasal dari
buangan limbah industri, rumah tangga dan kegiatan pertanian, yang mengandung
bahan-bahan/zat yang dapat membahayakan kehidupan manusia serta mengganggu
kelestarian lingkungan. Pencemaran lingkungan khususnya pencemaran air pada
saat ini sudah sangat besar dan peningkatannya relatif tinggi. Peningkatan
pencemaran air dari sumber buangan limbah, menyebabkan sumber daya air sungai
yang penting untuk irigasi cenderung menurun, baik dari segi kuantitas maupun
kualitasnya.
Menurut Janie dan Rahayu (1993) dalam Winarsih (2002), pencemaran
lingkungan dapat menyebabkan berbagai dampak pada lingkungan perairan, yang
menyebabkan tercemarnya suatu badan air misalnya limbah industri pengolahan
pangan. Komponen limbah cair industri pangan sebagian besar adalah bahan
organik antara lain karbohidrat, protein, lemak, garam-garam mineral serta sisa-
sisa bahan kimia yang digunkan dalam proses pengolahan dan pembersihan.
Kandungan bahan organiknya yang tinggi dapat bertindak sebagai sumber makanan
bagi organisme yang akan berkembangbiak dengan cepat dan mereduksi oksigen
yang terlarut dalam air. Bila oksigen terlarut dalam air rendah dan kadar bahan
organiknya tinggi, maka akan timbul bau busuk dan warna air menjadi gelap.
1.2 Tujuan Praktkum
Adapun tujuan dilakukannya praktikum analisis sifat fisika air di sungai Kranji
adalah:
1. Mengetahui teknik pengambilan sampel air dalam pengukuran parameter
kimia di tengah sungai daerah Merjosari.
2. Mengetahui teknik analisis dan perbandingan hasil pengukuran parameter
kimia air pada masing-masing stasiun pengambilan sampel di Sungai
daerah Merjosari.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
2.1.1 Kualitas Air
Didalam manajemen kualitas air adalah merupakan suatu upaya memanipulasi
kondisi lingkungan sehingga mereka berada dalam kisaran yang sesuai untuk
kehidupan dan pertumbuhan ikan. Di dalam usaha perikanan, diperlukan untuk
mencegah aktivitas manusia yang mempunyai pengaruh merugikan terhadap
kualitas air dan produksi ikan (Widjanarko, 2005). Air yang baik idealnya tidak
berbau, tidak berwarna, tidak memiliki rasa/ tawar dan suhu untuk air minum
idealnya ±30˚C. Padatan terlarut total (TDS) dengan bahan terlarut diameter <10-6
dan koloid (diameter 10-6-10-3 mm) yang berupa senyawa kimia dan bahan- bahan
lain (Effendi, 2003).
Air untuk minum umumnya berasal dari Air Permukaan (Surface Water)
seperti danau, sungai dan cadangan air lainnya di permukaan Bumi atau dari Air
Tanah (Ground Water ) atau air yang di pompa (melalui pengeboran) dari dalam
tanah yang umumnya bebas dari kandungan zat berbahaya, namun tidak selalu
bersih (Krisnandi, 2009). Kualitas air yang baik ini minimal mengandung oksigen
terlarut sebanyak lebih 5 mg/l. Oksigen terlarut ini dapat ditingkatkan dengan
menambah oksigen ke dalam air dengan menggunakan aerator atau air yang terus
mengalir. Kelebihan plankton dapat menyebabkan kandungan oksigen didalam air
menjadi berkurang. Maka dengan itu plankton dalam kolam harus selalu dipantau
(Ansori, 2008).
Pengukuran kualitas air dapat dilakukan dengan dua cara, yang pertama adalah
pengukuran kualitas air dengan parameter fisika dan kimia (suhu, O2 terlarut, CO2
bebas, pH, konduktivitas, kecerahan, alkalinitas ), sedangkan yang kedua adalah
pengukuran kualitas air dengan parameter biologi (plankton dan benthos)
(Sihotang, 2006). Dalam pengukuran kualitas air secara umum, menggunakan
metode purposive sampling, yaitu pengambilan sampel dilakukan dengaan
memperhatikan berbagai pertimbangan kondisi serta keadaan daerah pengamatan
(Fajri, 2013). Pola temparatur ekosistem air dipengaruhi oleh berbagai faktor
seperti intensitas cahaya matahari, pertukaran panas antara air dengan udara
sekelilingnya, ketinggihan geografis dan juga oleh faktor kanopi (penutupan oleh
vegetasi) dari pepohonan yang tumbuh di tepi. Di samping itu pola temperatur
perairan dapat di pengaruhi oleh faktor-faktor anthropogen (faktor yang di
akibatkan oleh aktivitas manusia) seperti limbah panas yang berasal dari air
pendingin pabrik, penggundulan DAS yang menyebabkan hilangnya perlindungan,
sehingga badan air terkena cahaya matahari secara langsung (Barus, 2003).
Kecerahan suatu perairan menentukan sejauh mana cahaya matahari dapat
menembus suatu perairan dan sampai kedalaman berapa proses fotosintesis dapat
berlangsung sempurna. Kecerahan yang mendukung adalah apabila pinggan secchi
disk mencapai 20-40 cm dari permukaan. (Chakroff dalam Syukur, 2002). Suhu air
merupakan factor yang banyak mendapatkan perhatian dalam pengkajian-
pengkajian. Data suhu air dapat dimanfaatkan bukan saja hanya untuk mempelajari
gejala-gejala fisika dalam laut tetapi juga dalam kaitannya dengan kehidupan
hewan atau tumbuhan, bahkan dapat juaga dimanfaatkan untuk mengkaji
metodologi (Notji, 1989).
Oksigen terlarut merupakan salah satu parameter penting dalam penentuan
kualitas air. Oksigen terlarut akan langsung berpengaruh pada kemampuan
organisme untuk bertahan di perairan tercemar. Pada perairan yang jenuh biasanya
mengandung oksigen dalam rentang 8-15 mg / l. Tergantung pada salinitas dan
tempertur bagi organisme-organisme akuatik biasanya membutuhkan dengan
konsentrasi 5-8 mg/l untuk dapat hidup secara normal ( Naster,1991 dalam
Wibowo, 2004).
2.1.2 Parameter Fisik Sungai
1. Suhu
Suhu udara adalah derajat panas dan dingin udara di atmofer. Berdasarkan
penyebarannya di muka bumi suhu udara dapat dibedakan menjadi dua, yakni
sebaran secara horisontal dan vertikal.air sebagai lingkungan hidup organisme
air relatif tidak begitu banyak mengalami fluktuasi suhu dibandingkan dengan
udara, hal ini disebabkan panas jenis air lebih tinggi daripada udara. Artinya
untuk naik 1oC, setiap satuan Volume air memerlukan sejumlah panas yang
lebih banyak daripada udara. Pada perairan dangkal akan menunjukan fluktuasi
suhu air yang lebih besar daripada perairan yang dalam. Sedangkan organisme
memerlukan suhu yang stabil atau fluktuasi sushu yang rendah. Agar suhu air
suatu perairan berfluktuasi rendah maka perlu adanya penyebaran suhu. Hal
tersebut tercapai secara sifat alam antara lain :
1. Penyerapan (Absorpsi) panas matahari pada bagian permukaan air.
2. Angin, sebagai penggerak pemindahan massa air.
3. Aliran vertikal dari air itu sendiri, terjadi bila disuatu perairan terdapat
lapisan air yang bersuhu rendah akan turun mendesak lapisan air yang
bersuhu tinggi naik ke permukaan perairan.
Suhu air yang ideal bagii organisme air yang dibudidayakan sebaiknya
adalah tidak terjadi perbedaan suhu yang tidak mencolok antara siang dan
malam (tidak lebih dari 5˚C). Pada perairan yang tergenang yag mempunyai
kedalaman minimal 1,5 meter biasanya akan terjadi pelapisan (strasifikasi)
suhu. Pelapisan ini terjadi karena suhu permukaan air lebih tinggi dibanding
dengan suhu air dibagian bawahnya. Strasifikasi suhu terjadi karena masuknya
panas dari cahaya matahari kedalam kolam air yang mengakibatkan terjadinya
gradien suhu yang vertikal. Pada kolam yang kedalaman airnya kurang dari dua
meter biasanya terjadi strasifikasi suhu yang tidak stabil. Oleh karena itu bagi
para pembudidaya ikan yang melakukan kegiatan budidaya ikan kedalaman air
tidak boleh lebiih dari 2 meter. Selain itu untuk memecah strasifikasi suhu pada
wadah budidaya ikan perlu iperhatikan dan harus menggunakan alat bantu
untuk pengukurannya (Azwir, 2006)
2. Kecerahan
Kecerahan air merupakan ukuran transparansi perairan dan pengukuran
cahaya sinar matahari didalam air dapat dilakukan dengan menggunakan
lempengan/kepingan Secchi disk. Satuan untuk nilai kecerahan dari suatu
perairan dengan alat tersebut adalah satuan meter. Jumlah cahaya yang diterima
oleh phytoplankton diperairan asli bergantung pada intensitas cahaya matahari
yang masuk kedalam permukaan air dan daya perambatan cahaya didalam air.
Masuknya cahaya matahari kedalam air dipengaruhi juga oleh kekeruhan air
(turbidity). Sedangkan kekeruhan air menggambarkan tentang sifat optik yang
ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh
bahan-bahan yang terdapat didalam perairan. Faktor-faktor kekeruhan air
ditentukan oleh:
a. Benda-benda halus yang disuspensikan (seperti lumpur dsb)
b. Jasad-jasad renik yang merupakan plankton.
c. Warna air (yang antara lain ditimbulkan oleh zat-zat koloid berasal dari
daun-daun tumbuhan yang terektrak) (Yuliastuti, 2011).
3. Bau
Pada kolam budidaya ikan, air pada kolam ikan harus selalu di buang atau
diganti, agar tidak akan menimbulkan bau yang menyengat pada air. Faktor
yang menyebabkan air pada kolam berbau tidak sedap yaitu diantaranya; Pakan
ikan yang tidak sempat termakan oleh ikan, menjadi racun bagi kolam dengan
amoniak yang muncul, Feses dari kotoran ikan yang dibudidayakan dan terjadi
dekomposisi di air yang menghasilkan amoniak. Material dalam air dapat
berupa jumlah zat tersuspensi (TDS).
4. Warna
Kriteria warna air tambak yang dapat dijadikan acuan standar dalam
pengelolaan kualitas air adalah seperti di bawah ini:
1. Warna air tambak hijau tua yang berarti menunjukkan adanya dominansi
chlorophyceae dengan sifat lebih stabil terhadap perubahan lingkungan
dan cuaca karena mempunyai waktu mortalitas yang relatif panjang.
Tingkat pertumbuhan dan perkembangannya yang relatif cepat sangat
berpotensi terjadinya booming plankton di perairan tersebut.
2. Warna air tambak kecoklatan yang berarti menunjukkan adanya
dominansi diatomae. Jenis plankton ini merupakan salah satu penyuplai
pakan alami bagi udang, sehingga tingkat pertumbuhan dan
perkembangan udang relatif lebih cepat. Tingkat kestabilan plankton ini
relatif kurang terutama pada kondisi musim dengan tingkat curah hujan
yang tinggi, sehingga berpotensi terjadinya plankton collaps dan jika
pengelolaannya tidak cermat kestabilan kualitas perairan akan bersifat
fluktuatif dan akan mengganggu tingkat kenyamanan udang di dalam
tambak.
3. Warna air tambak hijau kecoklatan yang berarti menunjukkan
dominansi yang terjadi merupakan perpaduan antara chlorophyceae dan
diatomae yang bersifat stabil yang didukung dengan ketersediaan pakan
alami bagi udang.
2.1.3 Parameter Kimia Sungai
1. pH (Derajat Keasaman)
Nilai pH pada suatu perairan mempunyai pengaruh yang besar terhadap
organisme perairan sehingga seringkali dijadikan petunjuk untuk menyatakan
baik buruknya suatu perairan. Pengaruh pH terhadap toksisitas bagi
mikroorganisme menunjukkan bahwa toksisitasnya meningkat sejalan dengan
kenaikkan pH. Derajat keasaman merupakan gambaran jumlah atau aktivitas ion
hidrogen dalam perairan. Secara umum nilai pH menggambarkan seberapa besar
tingkat keasaman atau kebasaan suatu perairan. Perairan dengan nilai pH = 7
adalah netral, pH < 7 dikatakan kondisi perairan bersifatasam, sedangkan pH > 7
dikatakan kondisi perairan bersifat basa (Effendi, 2003 dalam Mukarromah,
2016).
Adanya karbonat, bikarbonat dan hidroksida akan menaikkan kebasaan air.
Sementara itu, adanya asam pada mineral bebas dan asam karbonat akan
menaikkan keasaman suatu perairan. Menurut Rahayu (2009) bahwa pH 6,5-8,2
merupakan kondisioptimum untuk makhluk hidup. pH yang terlalu asam atau
terlalu basa akanmematikan makhluk hidup. pH dapat berubah antar musim,
bahkan antar jam dalam satu hari
2. DO (O2 terlarut)
Oksigen terlarut (dissolved oxygen) merupakan parameter mutu air yang
sangat penting, karena nilai oksigen terlarut dapat menunjukkan tingkat
pencemaran di perairan atau tingkat pengolahan air limbah. Besarnya nilai
oksigen terlarut dalam suatu perairan akan menentukan kesesuaian kualitas air
sebagai sumber kehidupan (Sunu, 2001 dalam Dewi, 2014). Banyaknya oksigen
terlarut menunjukkan kemampuan badan perairan di dalam mengelola kadar
minimal oksigen. Oksigen terlarut dalam air dapat berasal dari atmosfer, atau
proses fotosintesis tumbuhan air. Jumlah oksigen terlarut dalam air tergantung
pada suhu, tekanan atmosfer dan kadar mineral dalam air (Miller, 2007 dalam
Dewi, 2014).
3. CO2 Bebas
Karbondioksida akan selalu berreaksi dengan air hingga menghasilkan asam
karbonat (H2CO3). Sumber utama CO2 dalam perairan dapat berasal dari atmosfir
dan hasil respirasi organisme perairan. Udara yang selalu bersentuhan dengan air
akan mengakibatkan terjadinya proses difusi CO2 ke dalam air. Peningkatan kadar
CO2 diikuti oleh penurunan kadar oksigen terlarut. Pada kondisi demikian, maka
akan terjadi keracunan CO2, sehingga daya serap oksigen oleh hemoglobin akan
terganggu yang disebut dengan methemoglobinemia Keadaan ini dapat
mengakibatkan organisme mati lemas karena sesak nafas. Kadar CO2 jenuh biasa
terjadi diperairan tropis, terutama jika dekat dengan lahan gambut, sumber
geogenic juga memberikan kontribusi CO2 jenuh dalam sistem perairan (Johnson
et al ., 2010). 2.2.4.
4. COD (Chemical Oxygen Demand)
COD menggambarkan jumlah oksigen yang dibutuhkan agar bahan buangan
yang ada dalam air dapat teroksidasi secara kimiawi. Bahan buangan organik akan
dioksidasi oleh Kalium Bichromat menjadi gas CO2 dan H2O menjadi ion Chrom.
Kalium Bichromat digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent). Jumlah
oksigen yang diperlukan untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan organik
sama dengan jumlah Kalium Bichromat yang dipakai pada reaksi oksidasi
(Wardhana, 2004 dalam Agustiningsih, 2012).
Chemical Oxygen Demand atau kebutuhan oksigen kimia adalah jumlah
oksigen yang diperlukan agar bahan buangan yang ada di dalam air dapat
teroksidasi melalui reaksi kimia. Sumber COD berasal dari kegiatan industri
kertas, penyamakan kulit, gula, pemotongan daging, pengalengan
ikan,pembekuan udang, roti, susu, keju, dan mentega, limbah domestik dan lain-
lain. Keberadaan COD di lingkungan akan memberikan dampak pada manusia
dan lingkungan, diantaranya adalah banyaknya biota air yang mati karena
konsentrasi oksigen terlarut dalam air terlalu sedikit dan semakin sulitnya
mendapatkan air sungai yang memenuhi kriteria sebagai bahan baku air minum
(Lumaela, 2013).
5. BOD (Biological Oxygen Demand)
BOD merupakan banyaknya oksigen dalam mg/l yang dibutuhkan oleh bakteri
aerobik untuk menguraikan dan menstabilkan banyaknya senyawa organik dalam
air melalui proses oksidasi biologis aerobik. Menurut Ferdiaz (1992) dalam
Romanto (2013) nilai BOD tidak menunjukan jumlah bahan organik yang
sebenarnya, akan tetapi hanya untuk mengukur secara relatif jumlah oksigen yang
dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan buangan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi besarnya BOD adalah pH, suhu, jenis mikroorganisme dan jenis
bahan organik dan inorganik di dalam air. Sumber BOD daun-daun dan potongan
kayu pada air tergenang,tumbuhan atau hewan yang sudah mati, kotoran hewan,
dan lain-lainSemakin tinggi BOD, semakin cepat oksigen di dalam air habis,
sehingga akan membawa dampak negatif bagi perkembangan makhluk hidup
yang ada di dalam air (Rahayu, 2009).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari kamis 11 April 2019, Bertempat di
Sungai Metro Merjosari dan Laboratorium Pusat Unisma.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
 Ph meter  Turbidimeter
 Refraktrometer  DO meter
 Tali Rafia  Gelas beaker
 Bola  Magnetik Stirer
 Keramik  Hot plate
 Bambu  Alat titrasi
 Botol/ jurigen  Erlenmeyer
 Alat Titrasi  Jurigen plastik
3.2.2 Bahan
- Air sungai - H2SO4
- Indikator pp - Na2CO3
3.3 Langkah Kerja
3.3.1 Parameter fisik air sungai
1. Warna dengan melihat warna air sungai.
2. Bau dengan mencium aroma sungai.
3. Rasa dengan menggunakan Ph meter.
4. Suhu dengan menggunakan Termometer.
5. Ph dengan menggunakan Ph meter.
6. Kedalaman dengan menggunakan Bambu.
7. Kekeruhan dengan menggunakan keramik yang di ikat dengan tali rafia
kemudian di masukkan kedalam air sampai tidak terlhat/ samar-samar.
8. Kecepatan dengan menggunakan bola yang di lepas di aliran sungai
kemudian di lihat berapa m/s dan diulangi sebanyak 3 kali.
3.3.2 Parameter Kimia Air Sungai
1. BOD dengan mengukur Do hari ke 1 dan hari ke 5 (Do hari ke 5 – Do hari
ke 1)
2. TSS (Total Suspen Solid) dengan langkah sebagai berikut:
Pertama menimbang kertas saring sebelum digunakan menyaring,
kemudian disaring air sampel 1L (dikocok dulu sebelum disaring), setelah
disaring hasil seimen diangin-anginkan sampai kering dan kertas ditimbang
lagi , (hasil penimbangan setelah diaring – sebelum disaring).
3. TDS (Total Disolved Solid) dengan air bekas saringan TSS diambil 100 mL
dan diuapkan menggunakan gelas beaker 50 mL (Ditimbang gelas beaker),
penguapan dilakukan sampai air habis, dalam penguapan dikasih keramik
(Keramik sebelum dimasukkan ditimbang). Setelah penguapan selesai
ditimbang lagi gelas beaker dan gelas beacker. (Setelah penguapan –
Sebelum penguapan).
4. CO² terlarut dalam air
a. karbondioksida terikat
Memasukkan sebanyak 50 ml air ke dalam labu Erlenmeyer dengan
hati-hati untuk menghindari pengaruh aerasi atau difusi CO2. Kemudian
meneteskan 5 tetes indikator PP dan putar labu erlenmeyer dengan
tenang serta teratur agar Indikator PP tersebar merata. Apabila warnanya
berubah menjadi pink, maka larutan tersebut termasuk karbondioksida
terikat. Dan tetrasi dengan menggunakan larutan H2SO4 untuk
mengubah warna pink menjadi bening. Selanjutnya tulis volume peniter
yang di dapat.
b. Karbondioksida bebas
Memasukkan sebanyak 50 ml air ke dalam labu Erlenmeyer dengan
hati-hati untuk menghindari pengaruh aerasi atau difusi CO2. Kemudian
meneteskan 5 tetes indikator PP dan putar labu dengan tenang serta
teratur agar Indikator PP tersebar merata. Apabila warnanya berubah
menjadi bening (tidak berwarna), maka larutan tersebut termasuk
karbondioksida bebas. Dan tetrasi dengan menggunakan larutan
Na2CO3 untuk mengubah warna pink menjadi tetap pink. Selanjutnya
tulis volume peniter yang di dapat.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Tabel Hasil Pengamatan
1. Hasil Parameter Fisik Air Sungai
Parameter Hasil Pengamatan
Warna Coklat kehijauan
Bau Amis
Rasa Basa
Kedalaman 6,1 m
Kecepatan arus 0,936 m/s
Suhu 25,5 ˚C
2. Hasil Parameter Kimia Air Sungai
Parameter Hasil Pengamatan
BOD 2,42
TSS 0,49 gr
Ph 7,3
Salinitas 10 % Brix
TDS Gelas beaker : -0.02 keramik : -0,5
CO2 bebas 2 ppm
Co2 terikat 2,3 ppm

4.2 Pembahasan
Data hasil praktikum menunjukan bahwa diketahui bahwa pada hasil
pemeriksaan suhu disepanjang aliran sungai daerah merjosari antara lain
25,5oC. Besarnya suhu pada semuia lokasi menunjukan kriteria mutu air masih
dalam batas yang ditetapkan yaitu maksimum 30oC. Selain itu kondisi tersebut
tidak melebihi baku mutu yang terapkan berdasarkan PP. No. 82 Th 2001 untuk
air sungai yang masuk pengolahan kelas 1.
Suhu sangat berperan dalam pertumbuhan dan metabolisme tubuh ikan.
Tahap tersebut mendukung pernyataan Hendrata (2004), bahwa kondisi suhu
air optimal bagi pertumbuhan ikan adalah 25 – 30 oC. hal serupa juga
dinyatakan Trimartuti (2002), bahwa suhu sangat berpengaruh dalam proses
metabolisme tubuh ikan. Secara umum, peningkatan suhu dapat menurunkan
daya tahan tubuh ikan terhadap racun. Akumulasi logam berat Cd pada tubuh
ikan selain dipengaruhi oleh faktor biologis ikan dan sifat fisika kimia logam
berat tersebut, juga dipengaruhi faktor lingkungan seperti suhu. Sastrawijaya
(2009), juga menyatakah bahwa suhu mempunyai pengaruh besar terhadap
kelarutan oksigen. Populasi termal pada organisme air terjadi pada suhu tinggi.
Setiap sepesies mempunyai suhu optimumnya. Ada ikan yang mempunyai
suhu opyimum 15 oC, ada yang 24 oC dan ada yang 32 oC.
Nilai oksigen di perairan dapat menjadi faktor pembatas bagi organisme
makrozoobentos, oleh karena itu ketersediaan oksigen terlarut sangat
berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dan keberadaan dari
makrozoobenthos. Kandungan oksigen terlarut dipengaruhi oleh aktivitias
fotosintesis, respirasi, dan limbah yang masuk ke badan air (effendi, 2003
dalam Effendi, 2015). Nilai DO yang dimiliki air sampel sungai yaitu memiliki
rata-rata 2,47 pada hari pertama dan pada hari ke 5 DO air adalah 0,05
sehinggan nilai BOD air sampel sungai adalah 2,42.
Kenaikan suhu pada air biasanya menyebabkan meningkatnya kandungan
logam berat pada ikan yang hidup diperairan tersebut, meningkatkannya
kandungan logam berat pada tubuh ikan tersebut berhubungan dengan proses
metabolism ikan yang juga meningkatkan seiring naiknya suhu perairan.
Peningkatan suhu diperairan menyebabkan BOD (Biochemical Oxigen
Demam). Hal tersebut mendukung pertanyaan Sastarawijaya (2009), bahwa
kenaikan suhu air menyebabkan suhu badan hewan berdarah dingin dalam air
itu naik. Hal ini akan menyebabkan laju metabolisme naik dalam ikan, dan
selanjutnya kenaikan kebutuhan suhu oksigen
Ph perairan sungai merjosari berkisaran 7,3 . Besarnya Ph pada perairan
sungai merjosari tersebut tidak melebihi baku mutu yang ditetapkan PP. No.
82 Th 2001, untuk air sungai yang masuk penggolongan kelas I. Besarnya
derajat keasaman disungai merjosari sangat mendukung kehidupan ikan yang
ada didalamnya. Pernyataan tersebut sesuai dengan Hendrata (2004), bahwa
ikan sangat cocok hidup pada kisaran Ph 6-8,5 dan optimal pada Ph 7-8. Hal
yang sama dinyatakan oleh Sastrawijaya (2009) bahwa air yang mempunyai
Ph 6,7-8,6 mendukung populasi ikan dalam kolam. Dalam jangkauan Ph itu
pertumbuhan dan pembiakan ikan tidak terganggu. Ada ikan yang mampu
hidup pada Ph 5-9.
Pada aliran sungai daerah merjosari memiliki warna coklat kehijauan,
memiliki bau amis, untuk rasa memiliki rasa basa. Pada kedalaman sungai
memiliki kedalaman 6,1 m, kecepatan arus 0,936 m/s dan suhu yang dicapainya
yaitu 2,5 oC. Pada hasil parameter kimia air sungai merjosari mempunyai
parameter TTS 0,49g, salinitas 10% Brix, dan parameter TDS pada gelas
beaker sebanyak -0,02 dan pada keramik -0,5.
Karbondioksida bebas dalam perairan berasal dari proses respirasi oleh
organisme dalam air serta dekomposisi hewan akuatik. Keberadaan
karbondiosida memegang peranan penting bagi kehidupan fitoplankton di
dalam perairan, karena fitoplankton memerlukan karbondioksida bebas dalam
jumlah yang cukup untuk proses fotosintesis. Kelarutan karbondioksida bebas
dalam air dapat berasal dari proses respirasi, proses dekomposisi bahan
organik, garam-garam bikarbonat serta atmosfir (Johan dan Ediwarman, 2011).
Pada hasil pengamatan didapatkan pada air sampel setelah dititrasi sebesar 2
ppm.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada praktikum kali ini dengan judul “Analisis sifat fisik dan kimia air Sungai
daerah Merjosari Malang” dapat disimupulkan sebagai berikut:
1. Sifat fisik dan kimia pada air digunakan sebagai indikator kualitas air
tersebut dikategorikan sesuai dengan peraturan pemerintah.
2. Air sampel termasuk dalam air golongan C yaitu air yang digunakan sebagai
perikanan atau peternakan.
3. Air sungai tersebut telah terkontaminasi limbah dari limpah rumah tangga
bahkan pabrik peternakan di hulu sungai tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Astrini, A.D.R., M. Yusuf., A. Santoso. 2013. Kondisi perairan terhadap struktur
komunitas makrozoobentos di muara sungai karanganyar dan tapa,
kecamatan tugu, semarang. Jurnal penelitian kelautan. 1(1) : 1-10.
Dewi, N. K., R. Prabowo., N. K. Trimartuti. 2014. Analisis Kualitas Fisiko Kimia
dan Kadar Logam Berat pada Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) dan Ikan Nila
(Oreochromis niloticus L.) di Perairan Kaligarang Semarang. Biosaintifika.
6(2): 134-140.
Effendi, H., A.A. Kristianiarso, E.M. Adiwilaga. 2013. Krarakteristik Kualitas Air
Sungai Cihideung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ecolab.7 (2): 49-108.
Effendi, H., A.A. Kristianiarso, E.M. Adiwilaga. 2013. Krarakteristik Kualitas Air
Sungai Cihideung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ecolab.7 (2): 49-108.
Effendi, H., Y. Wardianto, Y. M. Anzani. 2015. Makrozoobenthos sebagai
bioindikator kualitas perairan sungai ciambulawung, Lebak, Banten. Jurnal
Lingkungan dan Pembangunan. 1(1) :45-59.
Jhonatan, F., T.R. Setyawati., R. Linda. 2016. Keanekaragaman Makrozoobentos
di Aliran Sungai Rombok Banangar Kabupaten Landak Kalimantan Barat.
Protobiont. 5(1): 39-45.
Rahayu, S., R.H. Widodo., M.V. Noordwijk., I. Suryadi., B. Verbist. 2009.
Monitoring air di daerah aliran sungai. World Agroforestry Centre. Bogor.